-_ Ui Present _-

000 SUBTITUTE LOVE 000

Pairing : SasuNaru, GaaNaru

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : Genreswitch, AU, OOC maybe, serta kekurangan kekurangan lain yang tak bisa dihindarkan

Rated : T aja

Summary :Naruto menatap kembali tempat itu sekali lagi, namun matanya hanya bisa menatap tak percaya. Meski setiap lirik masih dinyanyikan secara apik oleh Naruto namun matanya seolah terkunci. Terkunci pada sosok yang tengah duduk lemah diatas kursi roda, dengan Sasuke dibelakangnya.

Diharapkan mendengarkan lagu : Super Junior – In My Dream

READ N RIVIEW PLEASE

DON'T LIKE READ

..

.

.

Udara dingin diakhir tahun ini bertiup kencang membawa hawa beku yang menusuk ke dalam tulang, membawa serpihan-serpihan kapas putih yang mulai nampak menghiasi langit yang gelap tanpa sang bintang. Awal musim dingin yang berat terasa jelas dirasakan seorang gadis yang nampak diam menatap butiran salju dibalik kaca jendela yang cukup besar tempat ia menginap selama di Suna.

Tiga hari sudah ia menapakkan kakinya di Suna bersama sang ayah dan kakak laki-lakinya, sang ayah memang menepati janjinya dengan mengajaknya ke Suna sekaligus melakukan pertemuan bisnis dengan beberapa koleganya. Naruto sama sekali tak keberatan dengan hal itu selama masih ada Kyuubi yang menemaninya mencari keberadaan Sasuke di Suna. Ya, selama tiga hari penuh mereka mencoba mencari jejak Sasuke dengan mengunjungi sekolah Sasuke sebelum ia pindah ke Konoha tapi tak ada hasil, pihak sekolah menolak memberikan alamat dan keterangan mengenai Sasuke meski bagaimanapun Kyuubi memaksa. Mereka juga telah mengelilingi kawasan perumahan elit di Suna sesuai dengan pengakuan Sasuke pada Neji ketika ia bertanya mengenai alamat Sasuke pada Neji yang merupakan teman lamanya, namun rumah itu sudah kosong tanpa penghuni.

Naruto mendesah perlahan mengingat waktunya di Suna hanya tersisa dua hari saja dan hal itu bukanlah sesuatu yang baik, jangankan menemukan informasi mengenai Gaara, menemukan Sasuke saja tak pernah ia bayangkan akan sesulit ini. Naruto memandang sedih butiran salju yang nampak tak ingin membiarkan hatinya menghangat, dan semakin membekukannya dalam sebuah keputusasaan.

'tok tok tok'

Suara ketukan pintu menyadarkan Naruto dari lamunannya, segara ia meninggalkan kursi malas tempatnya menghabiskan waktu memandangi butiran salju tadi. Ia membuka pintunya perlahan hingga menampakkan sosok sang ayah yang berdiri dhadapannya, memberikan sebuah senyuman menenangkan yang sampai saat ini masih tak dapat ia percaya ia dapatkan kembali setelah sekian lama.

"Tou-san."

"Boleh Tou-san masuk?" Izin Minato pada Naruto bagaimana pun juga ia bisa mengerti jika Naruto belum terbiasa dengan kehadirannya.

"Tentu." jawab Naruto seraya bergeser memberikan ruang yang cukup untuk sang Tou-san masuk kedalam kamarnya. Mereka berjalan menuju sofa sedang yang berada dikamar Naruto dan mendudukan diri disana. Minato segera memandang wajah Naruto yang tengah duduk disebelahnya.

"Tou-san ingin mengajakmu datang ke pesta kolega Tou-san, Kyuubi juga sudah setuju untuk pergi. Jadi, apa kau mau pergi bersama kami?" tanya Minato to the point dengan apa yang ingin ia sampaikan saat ini.

"Baik Tou-san." Jawab Naruto, sebenarnya ia sangat berat menerima permintaa sang Tou-san. Karena bagaimanapun juga tujuan Naruto ke Suna untuk mencari Sasuke dan menanyakan tentang alasan sebenarnya kepergian Gaara, namun ia tak ingin menyakiti hati sang Tou-san dengan menolak permintaan Minato.

Minato tersenyum puas mendengar jawaban Naruto, ini adalah saat dimana ia akan menghabiskan waktunya sebanyak mungkin bersama kedua buah hatinya.

"Ah satu lagi, Uchiha Fugaku sangat ingin mendengarmu bernyanyi. Jadi ia berharap kau mau menyanyi di pestanya besok, bagaimana?" Tanya Minato.

Naruto terdiam mendengar perkataan Minato, bukan karena ia lagi-lagi diminta untuk bernyanyi tapi karena nama yang familiar.

"Uchiha Fugaku?"

"Ya, Uchiha Fugaku. Ah apa kau ingat saat anak Uchiha Fugaku mengajakmu mengantarkan berkas pada kami? Dia adalah Uchiha Fugaku." Jelas Minato

Seberkas ingatan saat Sasuke mengajaknya mengantarkan sebuah berkas di sebuah hotel, dan saat dimana ia kembali bertatap muka dengan Tou-sannya setelah sekian lama.

"Tapi kalau kau menolak Tou-san tidak keberatan, Tou-san tidak akan memaksamu." Ucap Minato saat melihat anaknya terdiam tanpa jawaban, ia takut membangkitkan ketakutan anaknya untuk bernyanyi kembali. Keadaan sudah jauh lebih baik sekarang dan ia tak ingin merusaknya lagi.

"Tidak, aku akan pergi bersama Tou-san dan bernyanyi disana." Ucap Naruto tegas, Minato menatap bahagia pada putrinya yang kini tengah tersenyum tipis kearahnya.

"Baiklah, ini sudah larut dan sebaiknya kau segera istirahat." Ucap Minato seraya meninggalkan kamar putrinya, diambang pinyu ia berbalik menatap putrinya yang balas menatapnya.

"Oyasumi." Ucap Minato sebelum kembali menutup pintu kamar Naruto.

Naruto tersenyum setidaknya ada kesempatan ia menemui Sasuke di pesta itu, bagaimana pun juga itu adalah pesta keluarga Sasuke. Naruto menuju kasurnya, membaringkan tubuh lelahnya dan mematikan kamar tempat tidurnya. Dengan begini ia kembali memiliki semangat untuk menemukan Gaaranya.

/.

/.

/.

/.

/.

Disebuah ruangan serba putih dengan bau obat nampak hening tanpa suara yang ada hanya bunyi alat pendeteksi detak jantung yang berbunyi secara konstan menandakan masih adanya kehidupan pada sosok yang terbaring lemah disatu-satunya ranjang diruangan itu. Disekitar ranjang nampak beberapa alat medis yang tadinya melekat pada tubuhnya, mencoba menyokong kehidupannya yang bagaikan daun kerning yang bisa hancur jika tersentuh. Sementara disampingnya nampak pemuda lain yang terduduk di kursi seraya menatap pemuda yang terbaring itu dalam diam.

Pemuda itu, Sasuke menatap lekat kakak sepupunya yang nampak terlelap dalam tidur tenangnya, mengabaikan dirinya yang terus terjaga. Bukan hal ini bukanlah salah pemuda itu, pemuda itu harus kembali terlelap setelah sadar dari komanya karena obat yang diberikan oleh dokter yang memeriksanya beberapa jam yang lalu. Membawa sebuah harapan pada keluarga mereka yang pasrah akan keadaan koma berkepanjangan yang dialami pemuda itu.

Sasuke menghela napas sejenak bukan karena rasa bosan yang melingkupi dirinya karena ia harus menjaga sepupunya sendiri malam ini melainkan desahan kelegaan. Ia sangat mengerti Paman dan Bibinya serta keluarganya membutuhkan waktu untuk istirahat setelah luapan emosi kelegaan mendera mereka beberapa jam lalu saat pemuda dihadapannya akhirnya sadar setelah koma selama 5 bulan lamanya.

"Gaara, mungkinkah kau mengetahui kau akan segera bertemu dengannya sehingga kau kembali sadar?" tanya Sasuke yang tentu saja tak akan mendapatkan jawaban dari sosok yang terlelap dihadapannya.

"Kau akan bertemu dengannya besok Gaara, apa kau bahagia?" tanya Sasuke seraya menggenggam tangan pemuda dihadapannya yang kini telah terbebas dari alat yang kemarin masih melekat.

"Aku harap kau bisa bahagia dan memiliki semangat untuk sembuh Gaara."

"Aku sudah menepati janjiku padamu, aku sudah membuatnya kembali bernyanyi." Setetes air mata jatuh membasahi genggaman tangan yang nampak mengerat karena gejolak emosi yang terasa sesak didada Sasuke.

"Kau harus sembuh, Kau harus kembali seperti Gaara yang dulu." Sebuah kalimat permintaan tulus itu meluncur serak karena tangis yang entah bagaimana semakin deras mengalir dalam diri Sasuke, ia hanya ingin kakak sepupunya ini sembuh dan kembali seperti dulu meski itu tandanya ia benar-benar harus merelakan Naruto tapi itu bukanlah masalah besar untuknya yang terpenting adalah sebongkah kebahagiaan yang akan membangkitkan Gaara dari semua kesakitan yang selama ini ia rasakan.

/.

/.

/.

/.

/.

Naruto nampak cantik dalam balutan dress coklat yang senada dengan rambut indahnya yang ia biarkan tergerai bebas tanpa hiasan berarti. Disampingnya nampak Kyuubi yang mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja coklat serasi dengan dress yang dikenakan Naruto, penampilan rapinya nampak sedikit nakal dengan kemeja coklat yang dibiarkan keluar dengan dua kancing teratas yang dibiarkan terbuka.

Hampir satu jam mereka berada dalam hingar bingar pesta mewah yang diselenggarakan oleh keluarga Uchiha, berbaur dengan orang-orang yang nampak asing dimata mereka namun itu bukanlah sebuah masalah bagi mereka. Naruto menatap hampa apa yang dihadapannya, minuman yang nampak ia pegang pun belum ia minum seteguk pun. Sudah hampir satu jam ia dan Kyuubi mencoba mencari keberadaan Sasuke dalam pesta dan sekitar kediaman Uchiha namun hanya nihil. Sosok itu tak pernah terlihat sama sekali dalam pesta ini, hal itu membuat Naruto frustasi.

Kyuubi hanya menatap dalam diam sosok Naruto yang nampak frustasi dan putus asa disampingnya, jujur ia juga sudah sangat putus asa bukan putus asa karena belum menemukan bocah brengsek bernama Uchiha Sasuke itu, karena sejujurnya ia tak pernah berniat mencari Sasuke ataupun Gaara karena baginya mereka hanyalah perusak kehidupan Naruto dengan memberikan kebahagiaan semu yang membuatnya putus asa menghadapi segala sikap Naruto yang tak juga putus asa dengan perasaannya kepada Gaara.

Padahal ia sudah mencoba untuk menyadarkan Naruto bahwa Gaaranya telah pergi dan meninggalkannya sendiri dengan penderitaan, setidaknya dulu Naruto masih mendengarkannya dengan berhenti mencari Gaara meski dengan sebuah perubahan besar dalam sikap sang adik. Namun kini semua pencarian itu kembali dimulai karena pemuda brengsek bernama Uchiha Sasuke, seharusnya sejak awal ia tak pernah mempercayai ucapan Sasuke padanya harusnya ia telah belajar dari kepergian Gaara dan menjauhkan adiknya dari semua hal yang membuat adiknya terpuruk, persetan dengan perkataan Hinata yang mengatakan jika Naruto berubah menjadi terbuka dan kembali bernyanyi karena Sasuke.

Suara panggilan untuk Naruto mengalihkan semua pemikiran Kyuubi yang telah dipenuhi sumpah serapah yang ditujukan untuk seorang pemuda bernama Uchiha Sasuke itu. Kyuubi menatap Naruto yang berjalan perlahan kearah panggung sederhana yang ada dipesta dengan tepuk tangan yang mengiringi setiap langkahnya. Untuk kedua kalinya ia akan melihat adiknya kembali mengeluarkan suara indahnya, Kyuubi sangat bahagia melihat perubahan besar adiknya yang harus ia akui karena kedatangan monster muda yang kini mereka cari. Tapi ia juga tak bisa berterima kasih pada Sasuke karena pada akhirnya pemuda itu meninggalkan Naruto seperti yang Gaara lakukan dulu.

Naruto berjalan perlahan menuju panggung membisikkan sesuatu kepada pengiring yang disambut sebuah anggukan mengerti. Naruto menatap orang-orang yang mengalihkan perhatian mereka padanya, hingga pandangannya terkunci pada sepasang mata yang sangat ia kenal. Mata seseorang yang ia cari sejak tadi, Sasuke. Naruto hendak meninggalkan panggung namun dicegah gelengan kepala Sasuke.

'Menyanyilah.' Naruto dapat membaca pergerakan samar bibir Sasuke yang menyuruhnya untuk menyanyi membuatnya urung dan melanjutkan lagu yang mulai terdengar merdu.

He comes back
He says he's sorry
The skilled hands that I missed caress my own
The apologetic eyes that look at me, the voice I want to hear
Tenderly telling me not to cry

Naruto mulai menyanyikan bait demi bait sebuah lagu yang selalu menemtidak mimpinya, mimpi ketika suatu saat ia bisa kembali bertemu dengan Gaaranya. Merasakan setiap belaian hangat yang ia rindukan, mendengar suara bass merdu yang selalu membuatnya tenang.

If I hold you in my arms you disappear and
The tears flow and my pillow becomes wet
At last I wake up from my sleep
Morning is always like this… My Love

Namun saat itu Naruto akan tahu bahwa semua hanya ada dalam mimpinya, mimpi yang akan menghilang saat fajar datang membuatnya membuka mata dan menatap sebuah kekosongan dengan lelehan basah masih meninggalkan jejak dipipinya.

I hope I fall asleep forever like this
I wake up with his presence still…
Although I hope I don't dream again,
Today too it seems I fall asleep with his presence

Naruto memejamkan matanya, meneriakan suara hatinya pada lagu ini. Terkadang Naruto berharap ia bisa tidur selamanya, jika itu bisa membuatnya bersama Gaara dalam mimpi. Membuat sebuah rangkaian mimpi tanpa akhir , meskipun itu artinya selamanya ia harus bermimpi.

He's smiling
It's really been too long
I've missed that expression, he's my boy isn't he
He's walking away
Embracing anothis person
My chest feels like it's being cruhed under a heavy weight

Kyuubi menatap kosong adiknya yang nampak menyanyi dengan indah dipanggung, namun baginya adiknya sedang bercerita, menceritakan setiap kesakitan yang ia alami setiap hari. Kesakitan karena sebuah rasa bernama kehilangan, kehilangan sebuah cinta.

I'm dreaming again, right?
Cold sweat runs down me
It's hurts, it's a dream of things I hate to even remember
I can't do anything all day long
We'll spend time togethis, right my Love

Kyuubi hanya bisa tersenyum aneh menatap setiap penonton yang terpukau akan suara indah Naruto, bahkan Tou-sannya menatap anaknya dengan pandangan rasa bangga. Ya, memang hanya dia yang tahu, hanya dia yang mengerti setiap luka yang dirasakan adiknya.

I hope I sleep forever like this
I wake up with his presence still…
Although I hope I don't dream again,
Today too it seems I fall asleep with his presence

Naruto menatap tempat Sasuke berdiri namun kosong, tak ada sosok Sasuke diantara puluhan tamu undangan yang menatapnya penuh minat. Naruto hanya bisa menunduk, menghalau sebuah rasa kehilangan entah kehilangan untuk apa Naruto tak mengerti.

Everything is becoming cloudy but his image is getting stronger
Like in yesterday's dream, today he comes to me
Now I don't sleep alone

Naruto menatap kembali tempat itu sekali lagi, namun matanya hanya bisa menatap tak percaya. Meski setiap lirik masih dinyanyikan secara apik oleh Naruto namun matanya seolah terkunci. Terkunci pada sosok yang tengah duduk lemah diatas kursi roda, dengan Sasuke dibelakangnya.

I hope I sleep forever like this
I wake up with his presence still…
Although I hope I don't dream again,
Today too it seems I fall asleep with his presence

Naruto kembali menyanyikan lagu itu dengan sepenuh hatinya namun kali ini matanya tak pernah lepas dari sosok itu, sosok Gaaranya yang terduduk di atas kursi roda. Mencoba mengatakan setiap rasa rindunya meski air matanya tak bisa berhenti untuk mengalir.

If I could only see you again today, if I could do it again, if you came back again….
If you slept by my side just once more, if it happened again…

Naruto berjalan lurus menuju cintanya, ia bahkan tak bertidak berkedip meskipun matanya perih karena air mata. Ia takut jika saat berkedip sosok itu akan pegi dari hadapannya, meninggalkannya kembali sendirian.

I wouldn't want to wake up
If I could fall sleep…

Naruto duduk berlutut didepan Gaara, menatap nyata sosok yang ia rindukan. Menggenggam telapak tangan mungil yang selalu melindunginya selama ini, Naruto segera memeluk sosok yang ia rindukan selama ini setelah menyelesaikan lirik lagunya. Menghiraukan setiap tepuk tangan dan pandangan tak mengerti padanya, yang ia tahu saat ini ia telah bersama Gaara. Merasakan lagi dekapan hangat yang begitu ia rindukan.

"Gaara."

/.

/.

/.

/.

/.

Naruto menatap miris sosok yang terbaring dihadapannya, sosok yang selalu ia cari selama 2 tahun ini, sosok yang selalu ia rindukan dalam hidupnya. Setelah pesta selesai Gaara harus segera kembali ke rumah sakit membuatnya tak mengerti apapun yang terjadi hingga sebuah tangan yang begitu ia kenal menarik tangannya ketika dokter memeriksa Gaara. Sosok yang tak pernah ia sangka keberadaannya.

FLASHBACK

"Shikamaru." Naruto begitu terkejut akan keberadaan Shikamaru yang sejak tadi tak ia sadari.

"Ayo ikut aku." Shikamaru menarik tangan Naruto perlahan membawanya menjauh dari rumah sakit menuju sebuah taman yang nampak sepi karena pengaruh musim dingin yang mulai datang.

Shikamaru segera melepas jas yang ia pakai, menyelimutkannya pada tubuh Naruto yang hanya memakai dress tanpa lengan. Shikamaru mendudukkan dirinya disamping Naruto namun tak juga berkata, ia hanya menatap lelah guguran daun yang semakin berjatuhan.

"Bagimana kau bisa berada disini?" Tanya Naruto membuka pembicaraan yang juga pertanyaan yang menggelayutinya selama beberapa menit yang lalu.

"Gaara menderita kanker getah bening." Ucap Shikamaru tak menjawab pertanyaan Naruto, namun kata-katanya mampu membuat Naruto menatap tak percaya.

"Sejak dua tahun lalu. Maaf aku merahasiakan darimu.."

"Jadi kau sudah tahu sejak dulu, dan kau hanya diam." Ucap Naruto setengah berteriak, ia mencoba untuk tidak percaya jika sosok kakak keduanya ini melakukan semua ini.

"Maaf Naru, aku tak bisa mengatakan semuanya padamu."

"Kenapa Shika? Apa kau tak bisa melihat aku begitu menderita" tanya Naruto parau, suaranya tak dapat lagi ia control karena airmata yang membuatnya sesak.

"Aku mengerti kau menderita Naru, tapi Gaara juga menderita. Ia tak ingin berada disisimu dengan keadaannya yang pesakitan."

"Dan Aku juga berjanji pada Gaara tak akan memberitahumu hingga Gaara siap." Ucap Shikamaru.

"Maaf Naruto, Aku sungguh minta Maaf." Direngkuhnya sosok yang ia sadari telah terluka karenanya, terluka karena kediamannya. Tapi Shikamaru tak punya pilihan, ia mengerti perasaan Gaara yang tidak ingin memberatkan Naruto dengan penyakitnya. Disisi lain ia harus rela melihat adiknya menderita karena kehilangan Gaara.

END OF FLASHBACK

Naruto mengeratkan pegangannya pada jari jemari selama ini menggandengnya hangat penuh cinta namun kini ia rasakan dingin. Ia tak pernah menyangka semuanya akan menjadi seperti ini, menemukan orang yang ia cintai dalam sebuah ketidak berdayaan. Naruto menyusuri wajah yang nampak pucat itu, masih segar diingatannya wajah Gaara yang chubby dan menggemaskan harus menjadi tirus pucat seakan tanpa kehidupan. Sejujurnya ia ingin berteriak pada Gaara yang meninggalkannya karena penyakit yang dideritanya, apa ia tak percaya akan cinta yang dimiliki Naruto hingga memilih untuk menjauh dari kehidupannya.

Tetes demi tetes airmata dingin itu terjatuh membasahi pipinya yang memerah karena semua emosi yang menyatu dalam hatinya. Tapi semua hal telah terjadi dan tak bisa kembali, yang terpenting kini ia akan selalu bersama Gaara. Menemtidak setiap kesakitannya hingga ia bisa kembali sembuh, dan mereka akan bersama seperti dulu bahagia dalam cinta mereka.

/.

/.

/.

/.

/.

Sasuke menutup kembali pintu kamar rawat Gaara secara perlahan, ia tidak ingin mengganggu Naruto saat ini. Pasti semua yang terjadi sangat sulit untuk Naruto lewati dan ia mengerti hal itu.

Sasuke berjalan perlahan menyusuri koridor rumah sakit yang nampak sepi, tentu saja karena hari memang sudah sangat larut malam. Sasuke menyandarkan tubuhnya pada tembok koridor rumah sakit, berusaha menopang perasaannya yang terasa sakit. Ia mengerti pada akhirnya semua akan seperti ini, dan haruskah ia mengutuk dirinya karena telah jatuh cinta pada orang yang salah.

Sasuke meremas dadanya perlahan, ia tak boleh seperti ini. Naruto akan bahagia saat bersama Gaara, begitu pula dengan kakak sepupunya itu. Ia tak boleh egois dengan mementingkan perasaannya, sebuah perasaan yang merupakan kesalahan yang tak seharusnya ia lakukan dalam misinya.

Sebuah tepukan halus menyadarkan Sasuke dalam pikirannya, di tatapnya sang kakak Itachi yang memandangnya dengan khawatir.

"Aku baik-baik saja, misi telah terpenuhi dan Gaara akan bahagia." Ucap Sasuke seraya melanjutkan langkahnya, meninggalkan Itachi yang berdiri ditempat semula.

"Tapi aku tahu kau tidak bahagia sepenuhnya Sasuke." Ucap Itachi lirih saat punggung tegap Sasuke semakin menjauh dari tempat mereka berdiri.

TBC_-

Lirik lagu : Super Junior In My Dream - English Translate yang dirubah untuk pria.