Two Sides Girl's Butler

Chapter 8: It's Time for Tell The Truth

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: SasuXFemnaru

Rated: T

Warning: Gaje,aneh,typo(s),OOC stadium akhir(khususnya Sai),de-el-el.

Genre: Apa yah? Humornya sedikit,sih. Tentuin sendiri aja, deh!

Summary: Bagaimanakah jika Naruto,seorang gadis otaku tomboy dikutuk menjadi gadis berkepribadian ganda? Lalu apa yang terjadi jika seorang butler tampan nan perfect diutus untuk melayani hidupnya?

DON'T LIKE,DON'T READ!

Thanks To:

Meg chan

Kiriya Diciannove

Utau no Hana

Kyu's Neli chan

Uchiha cucHan clyne

Higurashi Cherryblossom

Tsuzuka 'Aita

Uchiha Hikari

.

.

.

Festival Kembang Api Konoha ke-13...

Suasana di halaman belakang KIHS berbeda dari biasanya. Sangat ramai dan meriah. Lampu kelap-kelip, lampion, hiasan dari kertas origami, dan ratusan pohon sakura yang sedang mekar menghiasi hampir seluruh tempat di festival ini. Suara terompet dan musik tradisional juga memenuhi festival yang di nanti-nanti tak hanya penghuni KIHS itu sendiri, namun juga warga Konoha.

Tempat yang biasanya sepi pada malam hari itu kini dipadati oleh ribuan pengunjung yang kebanyakan memakai pakaian tradisional seperti yukata dan hakama, namun tak sedikit juga yang mengenakan pakaian bebas. Keceriaan menguar jelas dari kedai atau stand yang didirikan murid KIHS di sepanjang jalan, terlebih saat mereka mencium bau uang. Ya, semuanya berjalan baik, sampai 2 makhluk pengacau datang...

Sasuke berjalan tenang melewati kerumunan pengunjung yang memandang dirinya dan Naruto dengan terpesona, tampak sangat tak acuh dengan orang-orang yang mimisan dan pingsan di tempat-tempat yang dilewatinya.

"Kyaaa! Mereka tampan sekali!"

"KEREN!"

"Jangan-jangan mereka kloningnya Robert Pattinson?"

"Sekseh banget!"

"Berisik." Kata Sasuke cool seraya mengalihkan pandangannya dari segerombolan gadis yang menunjuk-nunjuk dirinya dan Naruto.

'Hn, inilah resiko jadi orang tampan.' Batin Sasuke narsis dengan tangan menyisir rambutnya sendiri, yang disusul oleh suara bedebum jatuh dari arah kerumunan orang yang sedari tadi memperhatikan dirinya.

"Eh, yang berambut pirang itu tampan sekali, ya! Lebih tampan dari pria emo di sebelahnya itu."

"Yang benar? Mungkin karena dia manis, kali ya."

Mendengar itu otak Sasuke yang memang sudah terprogram dengan tingkat narsisme yang tinggi langsung membeku.

Pemuda itu melirik Naruto yang berjalan tenang disampingnya. Anak itu mengenakan hakama biru muda beraksen biru tua yang sesuai dengan warna matanya. Rambut kuningnya disisir seadanya, namun malah membuatnya semakin tampan. Ternyata rambut Naruto sudah lebih panjang, hampir mencapai pundaknya. Dan entah bagaimana ceritanya, sekarang rambutnya persis seperti rambut Minato.

Dan yang membuatnya lebih menarik adalah matanya itu. Matanya menjadi lebih sipit dan walaupun sudah memakai lensa kontak untuk menutupi matanya yang seperti mayat itu, sorot matanya tetap kelam seperti Darknaru. Jadi kalau diumpamakan dengan hiperbolis, dia itu seperti pangeran tampan yang menyimpan rasa kesepian di dalam kedua matanya.

Dengan berat hati Sasuke mengakui kalau gadis ini memang 'tampan'.

Alias hermafrodit.

'Cih! Seharusnya aku tidak berlebihan.' Batin Sasuke mendecih pelan. Kepalanya memutar kembali memori kejadian tadi sore, dimana DarkNaru muncul begitu saja bak sadako dan memberondonginya dengan berbagai pertanyaan soal festival. Awalnya Sasuke heran mengapa DarkNaru yang seharusnya tak mengetahui apapun bisa tahu soal itu. Namun begitu dia menyodorkan kertas pengingat Naruto yang hampir semuanya berisi tentang festival, Sasuke jadi paham.

"Hakama ini nyaman." Komentar Naruto datar tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. Lagi-lagi Sasuke hanya bisa mendecih. Mau tak mau dia teringat lagi ketika DarkNaru langsung pergi ke kamarnya begitu mengerti soal festival ini dan menenteng sebuah hakama di pundaknya, memaksa Sasuke untuk membantunya memakai hakama.

'Semoga kami tidak ditangkap polisi dengan tuduhan pemalsuan gender.' Batin Sasuke seraya mengalihkan pandangannya dari Naruto.

"Siapa mereka?" tanya Naruto, menunjuk segerombolan orang yang melambai-lambai pada dirinya dan Naruto. Sasuke memicingkan matanya, dan langsung mengenali bahwa mereka adalah teman sekelasnya.

"Teman Anda." Jawab Sasuke singkat namun waspada. Ini dia yang menjadi ancaman utama.

"Begitu. Lalu kenapa aku tidak pernah mengingat mereka?" tanya Naruto lagi sambil terus berjalan tenang menghampiri mereka.

"Karena tidak ada gunanya mengingat-ingat keberadaan orang yang tidak menguntungkan Anda." Sahut Sasuke tak acuh. Dia berusaha bersikap setenang mungkin walau tak bisa dipungkiri kalau sekarang dia merasa amat tegang.

"Hei, Sasuke! Kenapa lama sekali kau datang?" sembur Kiba begitu jarak mereka mulai memendek. "Lalu dimana si pirang itu? Apa dia sudah-hah?" omelan Kiba langsung berganti dengan bisikan tak percaya. Matanya membesar begitu melihat sosok pirang yang sedang menatapnya dingin sambil bersedekap.

'Sudah kuduga.' Batin Sasuke.

"Ada apa Kiba? Kenapa kau mematung seperti itu?" tanya Sakura tak sabaran seraya berlari kearah mereka. Dia sudah menunggu Sasuke dari tadi. Nona pink itu telah berdandan dan memakai yukata terbaiknya, berharap kalau Sasuke akan terpikat. Tapi ternyata sia-sia saja, menunggu Sasuke datang sambil mengomel membuat bedaknya luntur.

Sakura membeku di tempatnya begitu dia melihat Naruto.

"Na-Na-Naru... to?" katanya terbata-bata. Nada tak percaya terdengar jelas dari suaranya.

"Nama?" bisik Naruto pada Sasuke yang berada disebelahnya sambil menunjuk Sakura.

"Sakura."

"Anjing ini?"

"Kiba." Jawab Sasuke datar. Naruto menyipitkan matanya.

"Payah." komentar Naruto tanpa intonasi sambil melemparkan pandangan terdinginnya pada kedua makhluk itu. Mendengar itu Sakura langsung tersadar dari rasa takjubnya, sementara Kiba masih bengong sendiri.

"A-apa katamu?" desahnya heran. Kenapa nada bicara Naruto bisa sedingin itu?

"Kau sudah mendengarku." Balasnya datar dengan wajah tak acuh, tanpa sadar bahwa itu membuatnya semakin keren.

"KYAAA!" teriak Sakura histeris. Darah mengucur deras dari hidungnya. Lalu tak berapa lama dia ambruk.

"Kenapa?" seru teman-teman yang lain seraya berlari kearah mereka. Tampak Ino, Ten-Ten, Neji, Shikamaru, Shino, dan Lee.

"Sakura!" seru Ino begitu melihat Sakura terkapar dengan darah mengucur dimana-mana. "Ada apa? Hei, Sakura! Kenapa kau ping-" ucapannya langsung terhenti begitu matanya menangkap sosok Naruto yang melihatnya dengan pandangan sedingin es. Yang lain juga seketika membeku.

"Si-siapa kau?" tanya Ino terbata-bata sambil menunjuk wajah Naruto. Mendengar itu, Naruto hanya menaikkan alisnya dan sebelum dia sempat menjawab, angin yang datang untuk mendramatisasikan suasana berhembus. Akibatnya rambutnya yang pirang seperempat panjang itu melambai-lambai ditiup angin malam, membuat beberapa helai rambut menutupi matanya. Kemudian saat Naruto menyibakkan rambutnya, tragedi itu pun terjadi.

"KYAAA!"

.

.

.

"Anda mau pesan apa, Nona?" tanya Sasuke sopan seraya menyunggingkan senyumnya yang paling memesona. Wajah wanita di depannya langsung merona.

"Umm... eh, i-itu..." gagapnya sambil memainkan jari-jarinya. Sasuke menghembuskan napasnya bosan.

"Bagaimana dengan sweet capuccino? Minuman itu sangat pas untuk Nona." Tawar Sasuke lagi, tetap dengan senyum manisnya walau dalam hati dia menyumpah-nyumpah.

"Ah! Ide yang bagus. Aku pesan itu saja." Ujar wanita itu akhirnya.

"Terima kasih. Mohon tunggu sebentar lagi." kata Sasuke dengan keeleganan tingkat tinggi sembari membungkuk sopan. Lalu dia menegakkan dirinya, tersenyum tipis, lalu berbalik.

'Dasar. Menyusahkan saja.' Rutuknya kesal. "Hei, Ino! Sweet Capuccino satu!" seru Sasuke setelah berada di dapur. Mendengar itu Ino yang sedang menuangkan teh di cangkir mengangkat jempolnya tanda ia mengerti.

'Hah... sampai kapan hal ini akan berlangsung?' batin Sasuke sambil memandangi pohon sakura yang berguguran. Bukankah setiap kelas hanya diwajibkan untuk mendirikan satu stand saja? Namun kenapa mereka harus membuat cafe?

'Kelas sialan.' Rutuk Sasuke dengan otot wajah berkedut.

"Sasuke... ini pesanannya!" seru Ino membuyarkan kutukan Sasuke. Dengan malas dia mengambil secangkir capuccino dan meletakkannya diatas nampan, lalu keluar.

"Wah, Sasuke hebat sekali, ya?" komentar Sakura yang lagi menganggur. Matanya sibuk memperhatikan Sasuke yang sedang melayani tamu.

"Benar-benar berbakat jadi pembokat." Tambah Ten-Ten cuek seraya berlalu. Mendengar itu Sakura langsung mengerucutkan bibir.

"Dimana Naruto?" seru Kiba tiba-tiba menerobos masuk. "Dia sama sekali tidak melayani tamu!" lanjutnya geram sambil menggebrak nampan yang dibawanya.

"Untuk apa aku melakukan itu?" sahut Naruto yang ternyata sedang anteng meminum teh di belakang dapur. Urat darah langsung bertonjolan di dahi Kiba.

"Untuk apa? Tentu saja untuk memenuhi tanggung jawabmu!"

"Bukankah aku hanya bertanggung jawab untuk menjadi ketua keamanan?" balas Naruto tenang setelah menyeruput tehnya.

"Itu kan-"

"Aku sudah meminta Lee untuk menggantikanmu," tiba-tiba Sasuke masuk. "Sekarang tugasmu adalah melayani tamu, hanya itu." lanjutnya sambil menarik tangan Naruto dan memaksa gadis itu keluar.

"Untuk apa aku melakukannya?"tanya Naruto tajam.

"Apa Anda pikir sekolah akan mengizinkan orang yang telah membuat separuh dari pengunjung mimisan untuk menjadi ketua keamanan?" balas Sasuke balik. Naruto terdiam.

"Sekarang layani tamu di sebelah sana itu." perintah Sasuke sambil menunjuk seorang gadis berambut cokelat yang sedang mengobrol bersama temannya. Naruto memandang Sasuke dangan pandangan kosong.

"Perubahan yang drastis." Komentarnya datar.

"Maaf, Tuan. Saya harus menyesuaikan kondisi. Mohon dimengerti kalau saya bersikap agak kurang sopan." Ucap Sasuke pelan. Naruto menaikkan alisnya.

"Sangat. Sangat kurang ajar." Ucap Naruto tanpa ekspresi, membuat Sasuke tercekat.

"Tapi aku lebih tertarik dengan dirimu yang seperti itu." lanjutnya seraya berlalu, meninggalkan Sasuke yang berdiri terpaku dengan mata membesar. Kemudian setelah beberapa lama, dia tersenyum pahit.

'Ternyata kau benar-benar mirip dengan 'dia', Naruto...'

"Anda mau pesan apa?" tanya Naruto sedingin nitrogen cair. Wajahnya yang tanpa ekspresi itu lebih mengerikan dibanding biasanya. Dia lebih tampak seperti ingin memutilasi orang dari pada melayani tamu.

"A-e... se-sepertinya ak...aku..." kata gadis itu tergagap ngeri, dan langsung mengkeret ketakutan begitu Naruto melempar deathglarenya.

"Sebaiknya Anda belajar bicara dulu, baru setelah itu Anda kemari. Permisi." Cetusnya pendek. Kemudian dia segera berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan gadis itu syok sendiri.

"Kau ini, Naruto! Kau pikir ini dojo karate, apa?" hardik Kiba kesal begitu Naruto tiba di dapur. Yang lain mengangguk setuju. Sikap Naruto tadi mengerikan sekali.

"Lagipula sebenarnya apa yang terjadi padamu, Naruto? Kenapa kau begitu aneh hari ini?" tanya Ino hati-hati.

"Apa mak-"

"Ini demi kepentingan stand kita," Sasuke menjawab cepat. "Kelas kita kekurangan stok orang keren, padahal itu adalah hal yang paling mempengaruhi kesuksesan stand. Walaupun aku sangat tampan dan keren, tapi akan sulit mengalahkan stand lain hanya dengan keberadaanku saja. Dan itu bukan lagi masalah jika Naruto bersikap sedikit cool, kan? Lagipula dia juga tidak bisa banyak bicara;dia kurang sehat hari ini." jelas Sasuke dengan(terpaksa)panjang lebar, berbohong habis-habisan agar rahasia Naruto tak ketahuan.

Mendengar itu, Naruto menatap Sasuke seram. Apa yang sedang dibicarakan ayam ini?

Sakura dan Ino manggut-manggut. Benar juga kata Sasuke.

"Namun tetap saja, sikapnya itu tidak bisa dibenarkan, apapun alasannya." Ujar Neji tegas dengan clipboard ditangannya.

"Tenanglah. Akan kuajarkan." Kata Sasuke, berusaha melunakkan Neji. Kemudian dia berbalik dan menatap Naruto dengan angkuh.

"Kau itu harus bersikap lebih lembut. Tatap mata para tamu dan bicara dengan sopan walaupun kau merasa muak dan ingin sekali menendang mereka dari sini. Pasang senyum palsu atau kebohongan apapun kalau perlu. Intinya, buat mereka terpesona." Tambah Sasuke datar, tidak sadar kalau kini dirinya menjadi sasaran deathglare Kiba dan yang lainnya.

"Begitu," tiba-tiba Naruto bangkit berdiri dan membersihkan hakamanya. "Aku mengerti."

.

.

.

"Maaf atas kelancangan saya tadi, Nona," ujar Naruto yang sudah kembali ke tempat gadis itu sambil membungkuk sopan. "Saya hanya tidak tahu harus berbuat apa dengan orang seperti Anda." Lanjutnya setelah mengangkat wajahnya. Gadis yang tadinya nyaris pingsan karena syok itu sekarang memandang Naruto dengan kesal.

"Apa maksudmu dengan 'orang seperti Anda'?" hardiknya seraya membuang muka.

"Apa menurut Nona, wajah Nona itu tidak cukup untuk membuat seorang pemuda seperti saya merasa gugup?" Naruto bertanya balik, membuat gadis itu memutar kepalanya dengan cepat.

"Ma-maksudmu?"

Naruto tidak menjawab, dia hanya menatap lekat-lekat kedua mata gadis itu. Permata sapphire nya itu seolah menyelami bola mata di depannya dan itu membuat wajah gadis itu merona.

"Jangan paksa saya untuk menjelaskannya, Nona. Lebih baik... Anda saja yang menjelaskan pada saya, arti dari darah seorang pemuda tak berdosa yang kini berdesir-desir penuh gejolak seperti yang saya rasakan sekarang ini." Ujar Naruto gombal dengan penuh penghayatan buaya darat. Muka gadis itu semakin memerah.

"Eh-i-itu..."

"Atau tentang hawa panas yang merambati wajah saya saat melihat Nona?"

"Mak...maksudnya mung-"

"Debaran jantung yang tak tertahankan ini?"

"A-apa yang sedang kau bicarakan?" tanya gadis itu terbata-bata dengan wajah seperti kepiting rebus. Melihat Naruto sedang berlutut di hadapannya sambil mengumbar rayuan-rayuan gombal membuat jantungnya berdetak tak keruan.

"Bukan apa-apa," Naruto mengulurkan tangannya. "Hanya ingin mengatakan betapa menderitanya saya jika Nona tidak menikmati Autumn Cake yang saya buat dengan sepenuh hati untuk Aphrodite yang tersesat di bumi ini." Lanjutnya seraya menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah gadis itu.

"Ba...baiklah!" seru gadis itu dengan suara putus-putus. Blushing berat. "Ya, itu saja. Terima kasih... umm..."

"Naruto. Panggil saja saya Naruto, Tuan Puteri." Kata Naruto seraya bangkit berdiri dan mengecup punggung tangan gadis itu.

BLUSSHH

"I-iya..." ujar gadis itu nyaris pingsan. Naruto mengangguk sedikit, lalu beranjak pergi.

"Autumn Cake satu." Kata Naruto datar pada Sakura. Mendengar itu Sakura melongo.

"Hah? Dia memesan itu? Bukankah itu menu kita yang paling mahal?" tanya Sakura kaget. Memangnya ada yang mau membeli puding dengan harga yang setara dengan sebuah I-pad?

"Tenang saja. Dia kaya." Jawab Naruto tak acuh sambil duduk di kursi dan mulai memainkan game di handphonenya.

"Di... dia hebat." Ujar Kiba terbata-bata seraya terus memperhatikan Naruto. Dan harus diakui, anak itu benar-benar playboy cap jempol! Bisa-bisanya dia merayu cewek sehebat itu! Padahal dia perempuan tulen!

'Dasar menyebalkan...' batin Sasuke yang harga dirinya hancur berkeping-keping karena merasa dikalahkan oleh Naruto.

"Hn, tak sia-sia aku menonton Marimar setiap malam." gumam Naruto seraya terus memainkan game di handphonenya.

.

.

.

"Bagus," gumam Neji puas dengan sempoa di tangannya. "Penghasilan kita melebihi target penjualan."

"Stand kita juga meraup lebih dari 80 persen total pengunjung." Tambah Ten-Ten seraya mengusap peluh di dahinya dan mengamati daftar nama pengunjung di clibboardnya.

"Dan laba kelas kita adalah yang terbanyak selama 3 tahun terakhir." Sahut gadis berambut pirang ekor kuda senang.

"Benar. Tapi..."

Dalam sekejap ekspresi semua orang di ruangan itu menjadi muram.

"Pengunjung yang datang pasti kehabisan darah..."

"Bahkan ada yang langsung pingsan..."

"Kita juga terpaksa menyediakan ambulans..."

"Polisi sampai mencurigai kita bekerja sama dengan sekte pemuja Jashin yang suka menelan darah para gadis muda itu..."

Lalu tanpa komando, semua kepala yang ada di ruangan itu menoleh ke arah seorang gadis bertampang datar yang sedang membuat menara kartu.

"Aku tak tahu harus berterimakasih padanya atau malah harus menyumpahinya." Gumam Kiba pelan. Yang lain mengangguk lemah.

"Oi, Naruto! Sedang apa kau? Bukannya kau harus bersiap-siap?" seru Neji gusar. Naruto terpilih untuk mengikuti lomba 'Dionisos KIHS'. Kata Dionisos sendiri diambil dari nama dewa Yunani yang notabene adalah dewa pesta, festival, dan kesenangan. Dan sesuai namanya, lomba ini bertujuan untuk memilih peserta festival terbaik yang sebelumnya dipilih berdasarkan voting dari pengunjung. Disini para konsestan harus menunjukkan bakat atau apapun yang dapat membuat para penonton tergila-gila dan memilih mereka sebagai 'The Next Dionisos KIHS'.

"Aku tidak tertarik." Sahut Naruto cuek tanpa mengalihkan pandangannya dari menara kartunya.

"Tapi kau harus." Tegas Sasuke yang tiba-tiba nongol dan langsung menyeret Naruto keluar dari dapur dan membawanya ke tempat lomba diadakan.

.

.

.

Sasuke berdiri diatas panggung dengan wajah cool nan angkuh khas Uchihanya, tak tampak risih dengan ratusan blitz kamera dan spanduk bertuliskan 'LOVE SASUKE, LOVE CHICKEN!' yang terus-menerus dikibarkan oleh Sasuke FG.

Disampingnya berdiri Akasuna no Sasori, anak kelas XII IPA B bertampang cute yang dikabarkan memiliki obsesi menyeramkan pada Barbie. Lalu diikuti dengan Deidara, uke senior KIHS yang sampai sekarang masih dicurigai sebagai spesies primata hermafrodit pertama di dunia. Kemudian yang terakhir, tak lain tak bukan adalah Naruto, satu-satunya 'hawa' yang berdiri diatas panggung ini, namun berdandan seperti laki-laki yang membuatnya terlihat jauh lebih tampan dari pria tulen.

"Selamat datang di acara lomba 'Dionisos KIHS' yang ke-13! Nah, langsung saja, kita perkenalkan keempat konsestan kita!" teriak Izumo, sang pembawa acara sok semangat.

"WHOAA!"

"Yang pertama ada Uchiha Sasuke dari kelas XI IPA A, yang meraih 3895 suara!" seru Izumo seraya menunjuk Sasuke dengan kelima jarinya.

"KYAA! Sasuke-kun!"

"LOVE YOU!"

"Menang, ya!" terdengar teriakan-teriakan histeris dari Sasuke FG.

"Hn." Balas Sasuke cool, namun cukup membuat anggota Sasuke FG tepar seketika.

Izumo sweatdrop. "Dan kemudian dilanjutkan dengan Akasuna no Sasori dari kelas XII IPA B yang meraih total 1468 suara!"

"CUTE BANGET!"

"KYAA! Sasori-sama! Berjuanglah!"

"Lalu disebelahnya, Deidara dari kelas XII IPS A yang meraih total 1298 suara!"

"Suit... suit..."

"Manisnya..."

"Godain kita dong!"

"BERISIK!" bentak Deidara yang moodnya sedang jelek karena sang Seme ogah datang ke festival ini. Seketika suasana yang tadinya meriah kini sunyi bak kuburan.

"Ehem! Yah, sekarang mari kita lanjutkan! Yang terakhir adalah Namikaze Naruto dari kelas XI IPA A, yang meraih total 8532 suara!" teriak Izumo sekeras mungkin demi membangkitkan semangat masa muda yang sempat hilang gara-gara Deidara.

"..."

Krikkrikrik...

Hening.

Naruto yang sedari tadi memejamkan matanya sambil bersedekap perlahan mendongakkan kepalanya dan membuka matanya sedikit, menampakkan permata secerah langit namun kelam yang mampu memesona sekaligus menakut-nakuti orang hanya dengan sekali tatap.

"..."

"..."

"..."

Masih tak ada respon.

Kemudian Naruto tersenyum tipis.

"KKKYYYYAAAAAAAAAAAAAAAA!"

.

.

.

Ok, kita skip saja insiden mimisan massal tadi. Sekarang acara dilanjutkan dengan unjuk bakat dimana para konsestan wajib menampilkan bakat mereka. Sasori, yang dapat nomor undian pertama memilih untuk menampilkan teater boneka yang mengambil tema 'Pertengkaran Menantu dan Ibu Mertua' dengan memadukan Barbie dan boneka sadako. Deidara menampilkan tarian balet yang amat fantastis dengan wajah muram. Sedangkan Sasuke, yang memang dilahirkan dengan tingkat harga diri dan kejaim-an kelewat tinggi lebih memilih untuk dance hip-hop dengan coolnya, dan menyebabkan para Sasuke FG menggila dengan sukses.

"Wah, sungguh menakjubkan! Nah, sekarang konsestan terakhir, Namikaze Naruto!" seru Izumo heboh.

Suasana kembali gegap gempita.

Naruto maju dengan tenang. Dia mengenggam sebuah biola di tangannya.

"Nah, Namikaze, apa yang ingin Anda tampilkan pada acara terakhir ini?" tanya Izumo berbasa-basi. Naruto menjawab datar.

"Fur Elise karya Beethoven."

"Wah, luar biasa! Apakah ada alasan tertentu kenapa Anda memilih lagu ini?" tanya Izumo lagi.

Mendengar itu, kepala Naruto langsung tertunduk dalam.

"Ini adalah lagu yang selalu ingin kuperdengarkan kepada seseorang..." ujar Naruto pelan, namun ajaibnya dapat terdengar oleh semua orang.

"Orang yang aku cintai..."

Keheningan menyelimuti tempat itu.

"Oh, maaf," sesal Izumo. "Tapi, kalau Anda merasa..."

"Tak apa. Lagipula, dia tidak akan pernah bisa mendengarkan lagu ini. Selalu seperti itu, jadi ini bukan masalah lagi untukku." Ujar Naruto berusaha tersenyum(palsu), namun tak bertahan lama.

"Kenapa... kenapa bisa seperti itu?" tanya Izumo lupa daratan. Dia tidak ingat kalau dia masih berada diatas panggung dan dia belum juga mempersilakan Naruto memulai aksinya. Tapi sepertinya penonton tidak keberatan; mereka diam dan mendengarkan penuturan Naruto dengan penuh perhatian.

"Tak keberatan aku bercerita?"

"Tentu saja."

Naruto mengangkat kedua sudut bibirnya lagi, sebelum akhirnya melanjutkan.

"Dia adalah orang yang sejak dulu sering menceritakan dongeng padaku. Dia bercerita tentang apa saja, tentang dunia ajaib, kegelapan, dan yang lainnya. Dia sangat berarti bagiku dan aku berharap bisa bersama dengannya kelak..."

"..."

"Aku rela melakukan apapun untuknya. Aku tahu dia suka dengan biola, jadi kuputuskan untuk berlatih bermain biola setiap harinya. Dan lagi pertamaku adalah Fur Elise, atau yang kusebut juga dengan lagu kematian..."

"..."

"Aku sampai rela membunuh satu nyawa yang tidak bersalah demi menguasai lagu ini. Aku bahkan mengorbankan diriku sendiri, harta dan hal yang amat berharga bagiku. Semua itu kulakukan agar dia merasa bangga padaku, bangga pada orang yang selalu mengikutinya bak bayangan..."

"Aku tidak tahu apa itu cinta. Aku tidak pernah peduli tentang hal itu. Yang aku tahu hanya, aku merasa senang kalau berada di dekatnya. Dialah yang bermain biola, dan juga apa artinya cinta..."

'Naruto...'

Naruto berhenti sejenak dan mengusap matanya. Sungai mengalir deras dari kedua matanya.

"Namun aku tahu, kami tak akan bisa bersama. Dia pergi dari sisiku tanpa mengatakan apapun, meninggalkan aku sendiri yang baru saja ingin memperdengarkan Fur Elise padanya."

Sasuke yang berada di backstage terperangah. Naruto, bukan, DarkNaru... menangis?

Seketika suasana menjadi hening, seolah terdiam melihat sungai mengalir dari mata Naruto.

Izumolah yang pertama kali memecahkan keheningan itu.

"Lalu... jika seandainya dia ada disini, diantara ribuan orang yang akan mendengarkan lagumu, apa yang akan kau katakan padanya?" tanya Izumo dengan suara bergetar dan air mata yang nyaris tumpah. Mendengar itu Naruto hanya mengangkat biolanya di pundaknya dan memegang busur dalam posisi siap.

"Aku tidak akan mengatakan apapun." Jawabnya cuek.

"Hah?"

"Tapi tolong katakan padanya bahwa aku akan tetap menunggu. Katakan padanya kalau aku akan menghajarnya karena dia telah meninggalkanku. Dan katakan padanya, bahwa aku akan selalu menjadi bayangannya, sehingga kemana pun dia pergi, suatu hari nanti aku pasti akan menemukannya..."

Wushh...

Tiba-tiba angin berhembus kencang, membawa ratusan kelopak sakura yang kini mengelilingi sosok Naruto.

"Dan cerita kami pun berakhir bahagia..."

Lalu lagu yang dimainkan Naruto menjadi lagu paling indah yang pernah didengar masyarakat Konoha...

.

.

Sesuai dengan dugaan, Naruto terpilih menjadi Dionisos KIHS dengan telak. Itu membuatnya menjadi populer dalam sekejap. Lihat saja bendera bergambar mukanya yang terus dikibarkan, ratusan kamera yang memotret dirinya, dan pembentukan Naruto FC 4ever dalam waktu 15 menit.

Dan Naruto, yang sedang dalam mode DarkNaru, tentu saja memilih untuk bersembunyi di balik semak.

"Sasuke." Desisnya pelan begitu dia melihat seseorang di sebuah bangku kecil di balik semak belukar. Hanya melihat punggung dan rambutnya yang mencuat ke belakang itu Naruto sudah tahu siapa orang yang duduk di tempat tersembunyi seperti ini.

"Ada yang ingin kubicarakan." Ujar Naruto saat dia sudah berdiri di hadapan Sasuke yang langsung beranjak dari kursinya, memutuskan untuk pergi begitu menyadari kehadiran Naruto.

"Bukankah sudah kubilang kalau ada hal yang ingin kubicarakan?" kata Naruto dingin. Tangannya menahan lengan Sasuke yang hendak pergi.

"Maaf, Tuan. Ini sudah terlalu malam. Jika ada yang ingin Anda bicarakan-"

"Aku ingin berterimakasih padamu."

"Eh?"

Sasuke cengo.

Naruto menatap Sasuke dengan pandangan misterius yang sulit diartikan. Tangannya yang dingin itu perlahan menyentuh puncak kepala Sasuke dan mengacak-acaknya.

"Kau sudah mengajariku cara melayani tamu dengan baik tadi, dan itu memberikan pengalaman yang berharga bagiku. Jadi, terima kasih." Ucapnya datar dan cepat.

Pemuda itu terperangah melihat sikap yang sangat berbeda dengan DarkNaru selama ini;dingin, pendiam, dan tak banyak bicara. Sorot matanya pun tak semengerikan kemarin. Kini agak lebih normal dan... manusiawi.

'Apa mungkin… karena dia teringat dengan orang yang suka bercerita padanya itu?' pikir Sasuke bingung, dan menjadi tambah bingung ketika dadanya mendadak terasa amat sesak.

"Dan aku juga berterimakasih pada benda ini." Sambung Naruto seraya mengangkat sebuah botol kecil bewarna hijau di depan muka Sasuke. Pemuda itu terbelalak.

Obat tetes mata.

"Jadi itu bukan air mata, Tuan?" Tanya Sasuke dengan suara tertahan.

"Tentu saja. Mana mungkin aku menangis hanya karena hal sepele seperti itu," Jawab Naruto tak acuh setelah menyimpan obat tetes mata di sakunya. "Lagipula bukankah kau yang mengajariku untuk melakukan kebohongan apa saja agar menarik perhatian orang?"

"Maaf sudah mengajarimu, kalau begitu." Tukas Sasuke kesal. Dia tidak menyebutkan embel-embel 'Tuan' saking kesalnya. Seharusnya dia sudah menduganya, mana mungkin orang yang kehilangan jiwanya bisa menangis? Bodoh!

"Sudahlah, ini hanya hal kecil." Hibur Naruto sambil tersenyum dan menepuk-nepuk bahu Sasuke tanda simpati. Sasuke mendongak dan memberikan deathglare terbaiknya.

"Tak perlu tersenyum palsu seperti itu." Tukasnya seraya menepis tangan Naruto cepat. Masih dendam soal obat tetes mata, rupanya.

"Hehe... maaf." Serunya tanpa intonasi, datar, dan sangat monoton. Benar-benar tak seimbang dengan cengiran lima jari yang dipakainya.

"Dan jangan berekspresi terpaksa." Tegas Sasuke lagi.

"Kenapa, Sasuke? Apakah kau tidak suka dengan wajah yang selama ini merindukanmu bak pungguk merindukan-"

"Aku tidak akan termakan gombalan buaya daratmu itu." Ucap Sasuke ilfil. Kenapa sih, DarkNaru jadi OOC begini? Bukankah harusnya dia itu orang yang tanpa ekspresi, bicara irit, dan selalu mengeluarkan aura kegelapan?

Mendengar itu Naruto terdiam cukup lama, sebelum kembali mengacak-acak rambut Sasuke.

"Sudah kuduga," lirihnya di telinga Sasuke. "Kau memang orang yang paling mengerti aku." Sambungnya datar. Jemarinya kini beralih ke pipi Sasuke yang bewarna putih cerah.

"Huh, lalu bagaimana dengan orang yang kau cintai itu?" tanya Sasuke yang tanpa sadar mulai menggunakan 'aku' dan 'kau' pada Naruto.

Kepala Naruto tertunduk dalam.

"Dia... orang yang baik. Selalu menyampaikan cerita untuk mengusir kesepianku. Tapi harus kuakui, dia lebih mengerti cerita yang dibacakannya dari pada aku." Ujar Naruto pelan dengan suara yang semakin lama semakin mengecil.

BUM! BUM!

"Kembang api..." desah Sasuke menatap bunga-bunga api yang meledak di angkasa. Indah sekali. Suara ledakan terdengar bersahut-sahutan, namun tak mengurangi keindahan bunga besar di angkasa itu.

"Kau itu seperti kembang api," tiba-tiba Naruto angkat suara, membuat Sasuke menoleh kearahnya. "Kau memiliki bakat dan kemampuan yang dapat mencengangkan orang-orang di sekitarmu. Sangat besar dan penuh potensi. Namun kau juga amat rapuh. Kau dengan mudah dapat terpuruk dan menghilang, tentunya setelah membuat orang lain tertarik pada kesempurnaanmu. Sama... seperti kembang api itu." Tunjuk Naruto pada sebuah kembang api yang perlahan menghilang dari angkasa. Padahal kembang api itu merupakan kembang api yang terbesar.

Sasuke terdiam. Mata onyxnya menatap tanah di bawahnya, seakan dia bisa menemukan emas dari sana. Sungguh, ucapan Naruto tadi sangat menghantam jiwanya.

Ucapan yang mirip dengan apa yang 'dia' katakan...

"Tapi..." Naruto mendadak bangkit dan menarik tangan Sasuke yang kaget dengan tingkahnya. "Apa kau tahu apa kelebihan kembang api, Sasuke?" tanyanya setelah Sasuke berdiri tegap.

"Mereka sangat susah dilupakan, terlebih 'kembang api' yang istimewa..." bisik Naruto di telinga Sasuke penuh arti.

Dan setelah mendengar kata-kata itu, Sasuke terpaksa mengakui kalau DarkNaru memiliki kemampuan menggombal yang tak bisa diremehkan...

.

.

.

Pagi yang cerah di KIHS...

BRUAKKK!

Sebuah suara dentuman yang cukup keras menjatuhkan tumpukan buku yang ada di mejanya.

"SASUKEE!" teriak Naruto setelah menerjang pintu kelasnya seperti banteng dan sukses mengejutkan semua makhluk di kelas itu. "KENAPA KAU TIDAK MEMBANGUNKANKU KEMARIN MALAM, SIALAN! APA YANG HARUS KUKATAKAN PADA KAKASHI!" teriaknya sembari berlari kearah Sasuke dan menarik kerahnya kasar.

"KENAPA KAU HANYA DIAM SAJA, TEME! APA KAU TAK TAHU SI GURU NISTA ITU BISA SAJA MENCINCANGKU KALAU DIA MENYADARI KALAU AKU TAK DATANG, HAH?" bentaknya lagi seraya mengguncang-guncangkan tubuh Sasuke yang terayun-ayun kedepan dan ke belakang.

Mendengar itu Sasuke hanya mengangkat bahunya cuek.

"Hn." Respon Sasuke irit banget.

"KAU!" lengkingnya geram. Tangannya sudah bersiap-siap untuk menonjok wajah mulus di depannya ketika ada sebuah tangan menepuk bahunya.

"Apa?" bentak Naruto sewot seraya memutar kepalanya dengan cepat.

DEG.

"Ka-Kakashi-sensei..." cicit Naruto tergagap. Sial, gara-gara terlalu bernafsu menghajar Sasuke, dia lupa kalau saat ini Kakashi sedang mengajar.

"Namikaze..." desis Kakashi menakutkan, membuat Naruto memejamkan mata dan bersiap menerima sindiran pedas Kakashi plus hujan lokalnya.

GYUTT...

"Hyaa! Apa yang Anda lakukan, Sensei!" seru Naruto bergidik ngeri karena Kakashi memeluknya begitu saja.

"Hiks, Namikaze... kau tak perlu takut begitu. Aku tidak akan menghukummu. Aku mengerti perasaanmu yang selalu merindukan orang yang tak tahu kapan ia akan kembali, jadi sebenarnya kita ini senasib." isak Kakashi tersedu-sedu di pundak Naruto.

"Hah? Sensei, apa yang Anda bicara-"

"NARUTO!" teriak Lee seraya berdiri dari tempat duduknya dan menghampirinya dengan berlinang air mata. "Aku tahu pasti hal itu sangat berat bagimu, tapi kau tetap harus menyongsong matahati dengan semangat masa muda yang berkobar!" lanjutnya lebay, membuat Naruto merasa ngeri karena dia baru saja melihat background inti matahari berkobar di belakang Lee.

"Kami turut berduka atas pengalaman hidupmu yang mengenaskan itu, Naru-HOAHMM..." Timpal Shikamaru sambil menguap dan tidak mengindikasikan adanya tanda-tanda simpati yang diucapkannya itu.

"Naru... kau tak usah memendam isi hatimu yang sebenarnya lagi. Kami sudah tahu semuanya." Sahut Ino yang ikut bergabung dengan mereka. Tak lupa mengelus-ngelus lengan Naruto sok prihatin.

"HII... APA-APAAN INI?" teriak Naruto merinding ngeri. Cepat-cepat di dorongnya Kakashi dan dipasangnya posisi bertahan yang sempurna.

Keberatan untuk menjelaskan?" lanjutnya tajam dengan nada menuntut. Ruangan langsung sunyi senyap.

"Memangnya apa yang harus kami jelaskan, Naruto?" tanya Sakura tak mengerti. Bukankah dia sendiri yang menceritakan pengalaman pahit hidupnya di depan orang banyak?

"Semuanya, apa yang sedang kalian bicarakan, dan kenapa sikap kalian jadi aneh seperti ini." Tegas Naruto. Dia benar-benar bingung. Bukankah tadi dia hanya ingin menghajar Sasuke yang membuatnya tidak datang ke festival? Lalu kenapa ceritanya jadi seperti ini?

"Kau sudah lupa?" tanya Neji ikutan nimbrung.

"Tahu pun tidak," Jawab Naruto sungguh-sungguh. "Jangan-jangan kalian sedang mengerjaiku, lagi." Sambungnya curiga. Kemudian dia bisa mendengar Neji menghela napas.

"Baiklah, kalau kau tak percaya. Tapi... harus kuakui permainan biolamu sangat mengesankan." Balas Neji singkat, namun mampu membuat Naruto melompat mundur.

"APA?" seru Naruto dengan wajah memerah, malu. Da-darimana mereka tahu kalau dia pernah belajar bermain biola?

"Itu benar, Naruto. Tapi aku tidak menyangka kau bahkan sampai rela membunuh seseorang hanya agar bisa bermain biola. Suatu keajaiban kau belum jadi narapidana." Sahut Kiba mengerucutkan bibir. Mendengar itu Naruto cuma bisa cengo.

"Heh? Aku? Membunuh?" tanya Naruto seraya menunjuk dirinya sendiri dengan bingung.

"Ya, waktu kau berlatih biola dulu."

Naruto terdiam sejenak, nampak berpikir. Kemudian dia memukulkan tangannya ke telapak tangannya sendiri.

"Aha! Maksudmu ketika aku tidak sengaja menyodok ulat bulu dengan busur biolaku sampai mati itu?" serunya ceria dengan mata berbinar-binar, seolah menemukan pencerahan.

Semuanya cengo.

"A-apa?" desah Kiba dengan suara tertahan. "Ulat bulu? Bukannya kau-"

"Lalu bagaimana dengan kau yang nyaris mati ketika berlatih lagu Fur Elise?" potong Sakura cepat. Naruto menaikkan alis matanya.

"Oh, mungkin ketika aku diuber-uber Kaasan karena tak sengaja menginjak biolanya sampai remuk, ya?" tanya Naruto innocent. Yang lain cuma bisa ternganga.

"Kalau soal kehilangan barangmu yang sangat berharga itu?" tanya Sakura lagi.

"Ngg... saat aku ketinggalan nonton Gundam karena terlalu semangat berlatih biola itu?"

"Cerita tentang penyesalanmu yang meninggalkan satu-satunya cahaya dalam hidupmu?"

"Maksudmu saat aku tidak sempat mengikuti cosplay di Oto?"

"La-lalu... bagaimana soal orang yang kau cintai itu? Orang yang tak akan pernah bisa bersatu denganmu walau kau ingin?" tanya Sakura dalam geraman. Ternyata semua yang dikatakan anak itu semalam adalah omong kosong!

Reaksi Naruto di luar dugaan. Dia langsung menunduk dalam-dalam dengan bahu terguncang, membuat Sakura merasa amat bersalah.

"Na-Naruto..."

"Hiks! Kau benar, aku memang tak akan bisa bersamanya..." gumam Naruto lirih seraya mengusap mata dengan lengan bajunya.

"Tidak apa-apa, Naruto. Masih banyak pemuda lain di luar sana." Hibur Ten-Ten dengan hati perih. Dia sudah terbiasa melihat Naruto yang tegar dan penuh semangat. Jadi kalau dia melihat Naruto menjadi rapuh seperti ini rasanya sangat menyakitkan.

"Tidak... tidak akan ada yang bisa menggantikannya..." gumam Naruto lagi seraya merogoh sesuatu dalam saku celananya, dan mengambil selembar foto yang langsung didekapnya kuat-kuat.

"Naruto, kau jangan-"

"HUWAA! Sesshomaru! Kenapa kita tidak bisa bersama, Sayang? Padahal aku begitu ingin bersamamu, tapi kita dipisahkan oleh dimensi yang berbeda! Oh, SESSHOMARU!" seru Naruto menangis bombay sambil meluk-meluk foto yang rupanya foto anime itu gaje.

"..."

"..."

BRUAGHH!

"Aduh! KALIAN KENAPA MEMUKULKU?" seru Naruto meringis kesakitan. Mendadak-padahal sebelumnya mereka begitu bersimpati padanya-mereka semua memukul kepalanya dengan keras.

"Dasar kau ini! Tega-teganya menipu teman sendiri dengan kata-kata sedih!" maki Sakura dengan otot berkedut. Mendengar itu Naruto mengerenyitkan dahinya.

"Maksud?"

"Kau bercanda," desahnya pelan. "Mana mungkin kau melupakan kejadian semalam."

'Eh? Bukannya semalam aku ketiduran?' batin Naruto bingung.

'Jangan-jangan...'

"Maksudmu, semalam aku pergi ke festival, begitu?" tanyanya ragu-ragu. Dapat dilihatnya Temari mengerutkan alis.

"Kenapa kau bertanya hal yang aneh seperti itu? Bukankah sudah jelas?" Temari bertanya balik, membuat Naruto tercekat.

"A-aku..." Naruto berusaha mencari alasan yang tepat. Tak mungkin dia mengatakan kalau dia ketiduran semalam dan tidak mengingat kejadian apapun. "Hanya ingin memastikan saja."

Temari menaikkan sebelah alisnya cukup lama.

"Kiba," panggilnya pada Kiba yang memutuskan untuk tutup mulut dari tadi. "Kau merekamnya, kan?" tanyanya tajam, dan dijawab dengan anggukan dari Kiba. Kemudian pemuda itu mengambil handphonenya, memencet beberapa tombol sedikit, dan menyerahkannya pada Naruto.

"Ini rekaman penampilanmu kemarin, Dionisos."

Naruto menekan tombol 'play' dan mulai menyaksikan.

"..."

"..."

"..."

Mata Naruto membulat sempurna begitu dia melihat video itu.

"Naruto? Kau baik-baik saja?" tanya Sakura khawatir sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka Naruto. Kelihatannya anak itu syok sekali.

"Na-ru-to?" ulangnya begitu gadis itu tak menunjukkan respon apapun. Sekejap Sakura mengira kalau saraf anak itu ada yang terlepas. Namun betapa kagetnya dia ketika melihat Naruto memutar kepalanya secepat kilat sehingga otot lehernya berderak.

"Sasuke..." desisnya menatap tajam Sasuke yang ternyata sedang melempar deathglare terbaiknya pada Kiba.

Sasuke menghela napas.

"Aku tahu," ujarnya seraya bangkit berdiri dan menarik tangan Naruto. "Ikut aku. Akan kujelaskan semuanya."

.

.

.

To Be Continued.

HIYAA! Rei balik lagi setelah berhibernasi selama 3 bulan! (readers: Ni dah lewat dari 3 bulan, Baka!)

Gomenasai, minna... Rei molor dari tenggat waktu yang dijanjikan. Habisnya tugas nggak selese2. Baru aja siap ujian semester, udh disuruh ikut pidato bahasa inggris dan cerdas cermat! Kebayang nggak gimana erornya otak Rei? Jadi harap dimaklumi kalo fic ini ngaco banget. Dan Rei masih berharap kritik, saran, dan komentarnya. Jadi jangan mikir 2 kali buat ngereview, ya!

Oh ya, sekali lagi gomen, kali ini Rei nggak bisa bales review. Tp insyaallah chap depan bakal Rei bales semuanya..ok, CU at next chap!