Mistake

*

*

*

Aku seharusnya khawatir akan kondisi Luhan saat ini. Tetapi entah mengapa aku malah berbunga-bunga di lain sisi. Aku tahu aku jahat pada Luhan, menyukai pria lain tanpa dia ketahui.

Mau bagaimana lagi? Namanya masih tersimpan di hatiku. Jauh di lubuk hatiku.

"Chanyeol? Bagaimana jika aku pergi?""Apa? Kau mau pergi ke mana?""Mm... aku tidak tahu. Tapi, apa yang kamu lakukan jika aku pergi?""Aku akan mengejarmu,""Jika kamu tidak tahu ke mana arahku pergi?""Aku akan tahu... Jangan pergi, oke?""Apa kamu tahu segalanya tentangku? Apa yang kamu lihat dariku?""Tentu aku tahu. Kamu sempurna di mataku. Nanti aku akan melamarmu di atas gunung. Akan kuteriakkan namamu dengan sangat kencang.""N-ne?""Aku akan melamarmu. Pastikan kamu menerimaku, kalau tidak aku akan langsung terjun ke jurang.""C-chan, a-aku... bagaimana kalau kita sudahi hubungan ini?""Ne?! Maksudmu apa?""Aku... maafkan aku Chanyeol...""Baek! Baek! Tunggu!"Terlambat Chanyeol. Kau bodoh. Idiot.

*

Kurebahkan tubuhku di atas kursi sebelah Baekhyun. Para orang tua sedang mencari makan malam di luar menggunakan mobil. Sedangkan Kyungsoo masih tidak terlihat batang hidungnya, entah dia pergi ke mana. Dan Baekhyun, dia tepat berada di sampingku sambil bermain game.

"Baek?" panggilku pelan. Bukan karena mencegah Luhan untuk tidak mendengarku, toh Luhan sedang tidur saat ini. Tapi karena aku hanya tidak—

"YA! INI GARA-GARA KAU! AKU GAME OVER!"

Oke, aku mungkin telat menjelaskannya. Dia sudah keburu game over duluan. "Maaf..." gumamku.

Astaga... kebiasaannya bermain game ini tidak berubah sejak dulu. Masih saja ngambek ketika diganggu—ralat, diajak bicara.

"Kamu lucu..." ungkapku.

Hell, apa yang kukatakan barusan?!

Oh, lihat! Pipinya memerah. Ya Tuhan, ia sungguh manis...

Ya! Apa kau sudah gila?!

Lihatlah, dia bagaikan malaikat! Matanya, hidungnya, dan jangan lupakan bibirnya yang berwarna pink tipis...

Dan ternyata aku benar-benar tidak waras. Tanganku terangkat untuk mengelus pipinya yang lembut. Bibirku terulas senyuman yang kuyakin akan membuat semua orang jatuh cinta padaku.

"Manis..." kataku. Dia menengok sambil membulatkan matanya yang justru makin terlihat imut di depanku.

Sedetik kemudian ia bergeser menjauhiku. "Kenapa?" tanyaku. Tanganku bahkan masih menggantung di udara.

Ia menggeleng pelan. "Aku bisa game over lagi." Jawabnya tak kalah pelan.

Aku terdiam atas jawabannya barusan. Detik demi detik kami lalui dengan keheningan sampai pada menit kelima setelah ia meletakkan ponselnya untuk mengistirahatkan jari-jemarinya, aku mendekat dan tanpa kusadari aku memeluknya erat.

"C-cha—"

"Ssttt..." selaku cepat. "Aku merindukanmu, Baek. Sangat merindukanmu..."

"Tidak, Chan. Lepaskan, Luhan bisa melihat." Peringatan Baekhyun membuatku semakin mengeratkan pelukanku padanya.

"Apa kamu tidak merindukanku?"

"A-apa?"

"Jangan mengelak. Aku bisa mengetahui dengan sorot matamu. Aku merindukan saat-saat berdua denganmu, aku merindukan saat kita makan es krim berdua, aku juga merindukan saat kita liburan bersama... aku tahu kamu juga merindukan masa-masa itu." Ujarku panjang membuatnya bungkam.

Lagi-lagi ia menggeleng. "Sekarang berbeda. Sudah kubilang bukan, jangan kaitkan kejadian lalu dengan sekarang."

"Apa kamu ingat permohonan saat first snow beberapa tahun lalu?" responku tidak sesuai dengan alur pembicaraan.

Baekhyun terdiam. "A-aku..." ia bergerak gelisah dan mau tidak mau aku melepaskan pelukanku itu. "Aku permisi, mau ke kamar mandi."

Lalu dia pergi meninggalkanku yang kecewa dengan tindakannya. Tapi mungkin aku yang salah.

*

"Maafkan aku, Sayang."

Aku mengelus lembut rambut kekasihku yang sedang bermimpi indah sepertinya. Bagaimana jika ia tahu kalau kekasihnya tadi sedang berpelukan dengan pria lain? Memeluk sebenarnya, karena kalau berpelukan pasti pihak yang dipeluk akan memeluk balik, kalau ini tidak.

"Aku pasti sudah gila, Lu. Maafkan aku..." ujarku lagi.

Idiot. Ya, aku sangat idiot.

Tak lama setelah aku berbaring di samping Luhan, aku pun ikut tertidur.

*

*

*

TBC

*

*