Alkisah seorang pangeran berhati budiman

Parasnya elok bagaikan rupawan

Aromanya menggambarkan dedaunan yang berguguran

Cintanya besar bagaikan lautan awan

Pangeran pergi berperang, melepas tanah jajahan

Pria yang berdiri di sampingnya adalah dewa perang

Tak terkalahkan, bagaikan kutukan Tuhan

Jendral jendral, kami memanggil jendral

Tuan dengan zirah abadi yang akan melindungi sang penyelamat.

Lantunan lagu dendangan para ibu untuk menidurkan sang anak. Lagu yang penuh doa sepenuh hati mereka agar melindungi pangeran yang mereka cintai dan pendeskripsian jendral besar yang selalu melindungi pangeran mereka. Lagu itu, entah siapa penciptanya. Mengalun lembut terbawa angin, membawa berita tentang hebatnya Kyuhyun.

"Aku suka lagu itu" mereka tengah beristirahat di salah satu kota yang telah mereka rebut. Kyuhyun mendudukkan dirinya di dekat jendela, mendengarkan nyanyian anak anak di sekitar api anggun. Bernyanyi dengan senyuman dan tawa, menari dengan ceria—menegaskan bahwa mereka tengah gembira. Dia melirik pada Suho yang tengah memeriksa nadinya. "Tapi tidak ada dirimu di dalam lagu itu, Suho"

Suho hanya terkekeh. Dia menggeser sebuah kursi, memilih duduk di samping Kyuhyun. Dia di tugaskan melindungi dan menemani sang pangeran. Kibum tengah berada di ruangan lain untuk mendiskusikan langkah mereka selanjutnya. "Penghianat, aku rasa Jifan berpikir terlalu banyak tentang itu" ucapnya Kyuhyun menerawang. Matanya berkaca, entah sejak kapan hatinya serapuh ini. "Sepertinya dia tak mencurigaimu. Dia membiarkanmu berada di sampingku"

Tersenyum. Suho ikut menatap langit di luar sana yang sudah menggelap. "Dia sudah mengetahui penghianatnya" Suho kenal sang kakak. Mungkin mengenalnya lebih baik di banding Kyuhyun mengenalnya. Dia tumbuh atas bayang bayang kokoh Kibum. Kenyataan pahit bahwa ia tak punya masa lalu kecuali Kibum kadang membuatnya merasa bersyukur.

"Jifan, dia sebenarnya orang seperti apa? Sepertinya orang diluar sana sangat mengenalnya dibanding aku"

Suho menerawang. Mengingat tokoh yang menjadi tambatan hatinya untuk terus hidup dan berjuang. "Da Se Siu itu—"

Ika. Zordick

Musim panas.

Suho masih sangat kecil ketika itu. Tubuhnya kurus dan dirinya tak berdaya terjerumus di dalam lubang yang besar dan dalam. Dia masuk dalam perangkap pemburu, sayangnya perangkap itu terlalu lama di tinggalkan dan menjadi sarang ular. Suho menangis, sekuat tenaganya meminta pertolongan. Ular ular besar seolah menantangnya untuk melawan, tapi ia memilih memeluk lututnya karena takut.

"Kau baik baik saja?" suara itu dari bocah lain. Wajahnya terkesan dingin tapi senyum tipisnya terlihat meneduhkan. Dia lebih tua dari Suho, badannya juga lebih tinggi. Dia mengulurkan tangannya tapi Suho terlalu takut untuk bergerak, lagipula walaupun berdiri Suho tidak yakin bisa menggapai uluran tangan itu. "Jika kau tak bisa menggapaiku dengan berdiri maka melompatlah!"

"Aku takut!" Suho menangis lagi. "Tinggalkan aku!"

"Lalu kau akan membiarkan mayat ibu dan ayahmu membusuk begitu saja. Kau harusnya menguburkan mereka jika kau adalah anak yang berbakti" membuat Suho mencelos. Ia ingat mengapa ia berada di lubang ini. Dia melarikan diri bersama ayah dan ibunya karena di serang oleh beruang liar. Dia selamat karena terjerumus di dalam lubang ini.

"Yifan!" bocah itu berteriak. Memanggil seorang anak lagi. Anak yang memiliki kulit yang lebih putih dan rambut yang berwarna terang. Terlihat sangat asing. "Aku akan masuk"

"GE! Jika kau masuk aku akan mengadukanmu kepada kepala suku. Itu berbahaya" anak itu mencoba melarang si bocah yang akan menolong. Yifan mencoba bernegosiasi, ia akan memanggil orang dewasa tapi si bocah yang lebih tua dari Suho itu berkata tegas bahwa mereka akan terlambat. Ular ular itu akan membunuh Suho.

Anak itu memenangkan negosiasinya akhirnya. Ia mengambil belati dan memanjat turun dengan tubuhnya yang mungil. Dia menginjak kepala salah satu ular. Membunuh ular ular lainnya tanpa balas kasihan, menusuk kepala mereka satu persatu dengan cepat tanpa membiarkan ular ular itu menyerangnya. "Kita seseorang yang berada di puncak rantai makanan, kenapa kau takut dengan makananmu" itu kata kata mengerikan yang dikatakan oleh seseorang yang memenuhi pisaunya dengan ular ular berbisa. Tapi Suho merasa bocah dihadapannya ini sangat keren.

"Pegang tanganku!" dia mengulurkan tangannya. "Yifan! Tali!" dia memerintah lagi membuat Yifan, bocah asing itu mendengus. Dia cepat mengulurkan tali. Dia menyuruh Suho memegang talinya dan dia mendorong Suho untuk naik ke atas dengan Yifan menarik si bocah dari atas.

"Dia masih di bawah" ujar Suho pada Yifan. Yifan tersenyum miring.

"Dia itu tak perlu kau khawatirkan" ucap Yifan dan benar saja, dengan lincahnya bocah yang tadi menyelamatkannya sudah memanjat naik dan berada di sampingnya.

"Dia terluka" dia menunjuk kaki Suho dan bekas gigitan ular.

Yifan mengambil belati di pinggangnya. Menyayat kaki Suho tepat pada lukanya, dia kemudian menghisap darah pada luka itu dan memuntahkannya. "Kau tidak bisa sembarangan menghisap seperti itu, kau bisa ikut keracunan"

"Siapa namamu? Aku Jifan dan dia Yifan"

"Aku Suho, kalian memiliki nama yang hampir sama. Apa kalian adik beradik? Kalian tidak mirip" Suho mencoba tersenyum. Yifan menggeleng.

"Aku akan sangat bersyukur jika aku menjadi adiknya. Sialnya aku hanya terlahir sedikit lebih muda darinya. Aku memiliki nama orang asing, dan aku tidak suka itu. Dia memberikan nama itu untukku" Yifan berujar. "Dan aku bersumpah aku akan sepertinya"

"Jangan terlalu memandang tinggi aku!" Kibum berbicara enteng. Dia kemudian menunduk, bermaksud menggendong Suho. Suho hanya menuruti. Kakinya terasa mati rasa. Hingga ia dapat melihat mayat ibu dan ayahnya yang mengenaskan.

"Aku tidak bisa membunuh beruangnya dengan cepat, hingga anggota tubuh mereka tidak lengkap" Kibum berbicara.

"Terima kasih" Suho meraih ayah dan ibunya. Ia mulai menggali tanah dengan jemari kecilnya. Kibum dan Yifan menatap iba. Tapi mereka melakukan hal yang sama, mereka menggali tanah dengan jemari mereka. Hingga malam menjemput mereka akhirnya berhasil mengubur orang tua Suho.

BRUUUKKK—

"Yifan, kau kenapa?" Suho melotot menatap bibir Yifan yang membesar. Kibum mendesis.

"Idenya bagus sekali mengeluarkan racun dan kini aku harus menggendong kalian berdua" dia menggerutu. Dia memikul Yifan di pundak kanannya. Kemudian menyangga tubuh Suho dengan tangan kirinya di belakang punggungnya. Di hati Suho, Kibum itu kakak yang sangat hebat. Dia takkan meninggalkan satupun diantara mereka.

Hingga mereka sampai di sebuah pemukiman. Dan kemudian Kibum ambruk.

Dia terluka, tergigit ular juga di lengannya saat menyelamatkan Suho. Di saat itulah, Suho bertekat untuk bisa membuat obat agar bisa membalas kebaikan dua orang yang menolongnya itu.

Ika. Zordick

"Dia terdengar seperti seorang pahlawan sejak terlahir di dunia ini" Kyuhyun tersenyum. Dia menepuk bahu Suho, memberikan ketegaran tentang orang tuanya yang telah tiada karena ulah binatang buas. Suho itu seseorang yang selalu bersyukur dalam hidupnya, meski orang tuanya telah tewas mengenaskan.

"Dia memang seorang pahlawan. Dia pahlawan bagiku, bagi Yifan dan bagi seluruh anggota Xiang Ri Kui saat ini"

Kyuhyun menatap Suho sedikit penasaran. "Bukankah kau mengatakan anggota Xiang Ri Kui dapat membuat sebuah pemukiman? Dimana mereka semua?"

Suho meneteskan air matanya, ia buru buru menghapusnya. "Mereka mati" matanya memerah dan genangan air itu kembali mengalir di pipinya. Seorang jendral juga memiliki hati dan masa lalu. Mereka dapat bersedih dan kecewa. "Da Se Siu membunuh mereka"

Berdiri. Kyuhyun terlihat tak percaya mendengar itu. "Ke—kenapa?" dia tahu Kibum seorang yang kejam. Tapi dia tak menyangka Kibum dapat membunuh keluarganya sendiri. Menghancurkan perkumpulan yang membesarkannya.

"Janji" Suho mendengar nyanyian tentang jendral hebat sang dewa perang di telinganya. "Xiang Ri Kui itu seperti pisau bermata dua. Dan hanya dialah yang mampu mengadili ketika usianya masih belia. Kami harus mengabdi pada aliran Wu, dan aliran Wu membelot. Xiang Ri Kui adalah perkumpulan yang selalu memegang kesetiaan dan salah satu diantara mereka harus siap menjadi si eksekutor ketika aliansi itu mulai tak berada pada jalurnya. Menyengsarakan rakyat. Jifan ge, melakukan tugasnya dengan membunuh meski pisau dan anak panah memenuhi tubuhnya"

Kyuhyun hanya tak menyangka Kibum terlalu banyak membawa duka. "Dia banyak membunuh, tapi prioritas utamanya adalah rakyat. Terdengar mengecewakan tapi dia sering menjadi jendral, di elu elukan sebagai dewa perang dan kemudian membunuh majikannya"

Tubuh Kyuhyun bergetar. Dia menatap Suho yang kini tengah tersenyum menatapnya. "Kau takkan menghianati rakyatkan, pangeran? Kau takkan membuat kakak kami terluka dan membunuhmu kan? Karena aku tahu kesepakatannya dengan Zitao untuk membunuh dirinya jika dia melakukan hal itu"

Di saat itu Kyuhyun sadar. Hati Kibum, bukan sederhana seperti hatinya. Dia hanya perlu menatap lurus ke depan dan Kibum tak berada di depannya. Kibum menopangnya dari belakang. Tapi Kibum melihat jalan lain. Tetap menjaganya dan menjaga tradisi yang mengalir di darahnya.

Tanggung jawab.

Kyuhyun bisa dengan begitu mudah mengatakan bahwa ia ingin mundur dan mati tapi tak memikirkan Kibum di sisinya. Bukankah dia keterlaluan?

"Aku takkan melakukannya. Di dalam mimpi Jifan, ada mimpiku di sana"

Ika. Zordick

"Terjadi pemberontakan di ibukota" Yifan menatap Kibum yang masih betah memperhatikan salju yang turun satu per satu dari jendela kamarnya. Mereka tengah berdiskusi, hanya mereka berdua. "Aku mendapatkan pesan dari keluarga istri pangeran"

Kibum menatap Yifan. "Kita hentikan saja!"

"Dan membiarkan Zitao membunuhmu, tidak ge" Kibum menghela nafas. Dia mengulurkan tangannya, dan buruk elang peliharaannya tepat mendarat di atas lengannya. "Pangeran seharusnya mengerti, bukan kudeta seperti itu yang kita maksudkan. Kaisar bahkan berada dalam bahaya dalam istananya"

Kibum mengerti. Bahkan sangat mengerti. Putra mahkota sudah kehilangan segalanya. Dia tidak mempunyai suara lagi agar dirinyalah yang duduk di tahta. Kaisar sakit dan ini adalah waktu kudeta yang tepat. Dia akan membunuh ayahnya yang pasti memberikan surat wasiat tentang pangeran yang memiliki 'kekuatan' terbesar yang akan naik tahta. Itu jelas bukan putra mahkota.

"Kita akan membunuh, membunuh salah satu diantara kita"

"DIA PENGHIANAT!" teriak Yifan menampar kelemahan hati Kibum. "Kau bukan seseorang yang akan membiarkan penghianatan da se siu. Kau yang mengetahui penghianatan ini terlebih dahulu di banding siapapun. Bahkan sebelum dia yakin dia berhianat"

"Aku hanya mengira dia akan tergerak dengan kebaikan hati Kui Xian"

"Nyatanya tidak. Darah itu lebih kental dibanding air, da se siu. Dia adalah keturunan dinasti terdahulu, dia memegang dendam seluruh rakyatnya, bagaimana ia bisa melupakannya. DAN KAULAH YANG MEMBUNUH AYAHNYA KETIKA KUDETA ITU HAMPIR DI LAKUKAN" terdiam. Kibum menatap Yifan dengan mata sekelam malamnya. "Aku juga memiliki dendam dan seandainya kau mengabdi pada kekaisaran roma, tentunya akulah yang menjadi penghianat di sini."

"Kita harus menghentikan dendam"

"Membunuhnya adalah jalan satu satunya"

"KUI XIAN AKAN MEMBENCIKU!" Kibum berteriak. "Dia akan menangis. Dan aku merasa diriku hancur karena air matanya. Mengapa tombak yang menancap di tubuhku, melubangi dadaku, aku yakin takkan lebih sakit dari saat ia menangis dan meminta pertolongan dariku"

"Maafkan aku da se siu" Yifan membuang wajahnya. Dia menatap lantai yang tengah ia pijak. Ia tak berpikir untuk bagian itu. Bagian seorang yang ia anggap kakak, tumbuh besar dan menjadi penyelamatnya yang tengah jatuh cinta. Berkali kali kehilangan dan mencampakkan sesuatu yang harusnya ia bela. Ketika ia mendapatkan seseorang bukankah harusnya Yifan ikut untuk melindunginya juga. "Aku menghormati keputusanmu"

"Berhentilah memikirkan tentangku!" suara itu membuat Kibum dan Yifan menatap pada pintu yang terbuka. Di sana ada Kyuhyun. Dia melangkah menghampiri Yifan. Menampar lelaki itu keras membuat Yifan terkejut tentu saja. Yifan buru buru bersujud di kaki Kyuhyun. Meminta maaf atas kelancangannya. "Kau harusnya tetap mendesaknya untuk melakukan apa yang harus ia lakukan. Kau penasihatku, kau sejajar dengannya dalam pangkat!"

Yifan melongo. Dia menatap punggung Kyuhyun yang kini menghampiri Kibum. Tangan Kyuhyun terulur dan Kibum cukup siap untuk menerima tamparan dari Kyuhyun. Walaupun akan sedikit menyakiti harga dirinya sebagai suami tapi itu cukup pantas jika dia seorang bawahan.

Tapi bukan sebuah pukulan menyakitkan yang ia terima. Melainkan sebuah pelukan hangat. "Seandainya aku bisa bertukar posisi dengan dirimu sekali saja, akupun yakin bahwa kaulah yang tetap melindungiku" Kyuhyun mengeratkan pelukannya ketika Kibum hanya diam. "Lakukanlah yang harus kau lakukan. Aku mencintaimu bagaimanapun bentuk dirimu. Karena aku yakin kau tidak akan membelot dari tujuanku"

"Penghianat itu—" Kyuhyun merapatkan tubuhnya, berbisik pada Kibum dan Kibum hanya mengangguk. Kyuhyun mengetahuinya. "Bunuh dia" dan itu adalah keputusan Kyuhyun. Dia hanya ingin membuat Kibum lepas dari dosa itu. Dia ingin bahwa keputusan kali ini, keputusan untuk melindunginya adalah keputusan dirinya sendiri. Dia akan mendapatkan tahta dan dia memang harus membunuh saudaranya.

Dia harusnya menjadi kuat. Bukan wakutnya memikirkan bagaimana salju menjadi merah. Dia harus tetap mempertahankan salju yang putih di tahun tahun selanjutnya.

Kibum melingkarkan lengannya di pinggang Kyuhyun. Memeluknya semakin erat. "Terima kasih"

"Bisakah aku meminta agar aku yang membunuhnya?" Yifan bertanya.

"Lakukan!" Kyuhyun takkan membiarkan perintah itu ada Kibum di dalamnya. Ini perintah mutlak yang berasal darinya. "Antek yang menjadi biang kudeta di ibukota hari ini, harus ku bawakan ke hadapan ayah bersama dengan kepala raja Mongol"

"Laksanakan yang mulia" Yifan segera mundur dari ruangan tersebut.

"Dan Yifan, bisakah kau menutup pintunya?" Kyuhyun memerintah lagi. "Aku ingin berbicara banyak pada suamiku malam ini."

Yifan membungkuk. Dia cepat menutup pintu ruangan yang digunakan oleh Kibum. Kyuhyun menatap mata Kibum. "Kau merasa berdosa padaku?" Tanya Kyuhyun seolah menghakimi Kibum. "Agar kau tahu Kibum, dosamu yang paling besar padaku adalah kesetianmu"

Kyuhyun menghela nafas. Dia tahu Kibum pasti takkan mau menatapnya balik. Dia membuka satu persatu pakaiannya. "Bahkan kau tak bernafsu lagi padaku?" Kyuhyun tersenyum ketika Kibum kini menatapnya. Sedikit terkejut.

"Ceritakan padaku tentang dirimu, karena aku tahu kau mengetahui segalanya tentangku" Kyuhyun menyatukan bibir mereka. Kibum meresponnya, mengajak lidah Kyuhyun bertarung dan mulai mengangkat tubuh ramping sang pangeran. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jadi biarkan aku berpikir tentang bagianmu juga" Kyuhyun membuka ikatan rambut Kibum. Mengangkat wajah tampan dingin yang minim ekspresi itu untuk balik menatapnya. Dia tahu jendral perkasanya itu takkan kehilangan keseimbangan meskipun ia melakukan sesuatu di gendongan Kibum.

Kyuhyun kembali lagi mengecup bibir Kibum. Menyalurkan cinta dan keputusasaan. "Gagahi aku malam ini, terserah kau menganggap ini permintaan atau perintahku. Aku menginginkanmu"

Ika. Zordick

"Lupakan dendam itu!" itu perintah mutlak yang dikatakan oleh kepala suku mereka. Yifan berdecih, dia baru saja habis di pukuli karena masih begitu membenci kekaisaran Roma yang telah membuangnya. Menjadikannya sebagai seseorang yang harus dibunuh karena membahayakan tahta. Dia menatap Suho, Kai, Chanyeol dan Zitao yang meliriknya takut takut.

"Kau baik baik saja?" Tanya Suho, mencoba meraih wajahnya dan memberikan suatu tumbuhan.

"Aku baik baik saja" Yifan menepis tangan Suho. Membuat Suho menggigit bibir bawahnya, mencoba menyuarakan hatinya tentang berhentilah membalas dendam. Tapi ia tak mampu.

"BERHENTILAH MEMBAHAS DENDAMMU, ER SE SIU" itu suara si kecil Kai. Chanyeol mencoba menarik Kai. Memaksanya untuk diam. "TIDAK! CHAN LIE, DIAMLAH!" Kai yang dulu dipenuhi keegoisan. Yifan paham. Karena si kecil itu seperti dirinya dahulu. Kai adalah garis keturunan kerajaan Han yang di deplak. Ayahnya di bunuh agar tak ada kemungkinan dia atau keturunannya untuk melakukan kudeta memperebutkan tahta. "Da Se Siu tiap malam di pukuli karenamu. Apa kau tahu?"

Hening—

Kai menangis. "Dia tiap malam selalu menyelimuti kita, dan mengucapkan selamat malam. Dia di pukuli oleh kepala suku karena tak bisa meredam keinginanmu untuk membalas dendam. Dia tak pernah mengeluh seperti yang kau lakukan! Dia membiarkanmu ataupun aku mendendam tapi dendam itu digantikan dengan kesakitan da se siu. Itu untuk apa?" Kai seorang yang bijak. Tapi ia tak ingin menjadi raja lagi. Hidup dengan dekapan kakak kakaknya yang sekarang lebih dari cukup untuknya. Dia ingin bersenang senang dan membuat Kibum bangga padanya.

Dia akan buktikan bahwa ia bisa hidup tanpa Chanyeol harus melindunginya.

"Er se siu, berhentilah mendendam! Bukankah lebih baik hidup seperti ini? Tidak ada yang lebih hangat di banding kalian di dunia ini. Aku tak ingin satu pun diantara kita terluka" Chanyeol memeluk Kai yang menangis. Melindungi kewajibannya.

"Ada apa ini?" Kibum masuk ke dalam tenda mereka. Menatap Kai yang menangis. "Siapa yang membuatnya menangis?" dia bertanya.

"Aku" dengan berani Chanyeol mengangkat tangannya. Kibum menghela nafas.

"Jika kau berbohong, aku akan menghukum lebih keras yang sungguh membuatnya menangis"

"Aku, da se siu" Yifan berdiri. Dia menunduk di depan Kibum.

"Siapa yang memukulmu?"

"Kepala suku" ucap Yifan dan Kibum mengeram karenanya.

"Si tua Bangka itu sudah ku katakan untuk tak menyentuh kalian. Aku akan bicara dengannya. Jaga dirimu dan yang lain lain. Aku akan membuat perhitungan dengan si tua Bangka itu"

Yifan sadar. Kakak tertua yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya itu melakukan terlalu banyak. Mengelus kepalanya, menyelimutinya ketika tidur dan memastikan segalanya baik baik saja. Membunuh dan memberikan makan untuk mereka. Kibum itu seperti ayah sekaligus ibu untuk mereka. Dia itu terlalu baik untuk menderita.

Tapi kenapa—

Kenapa—

Yifan rasanya ingin menangis mengingat senyuman polos Kai padanya. Ia ingin menghapus air mata dari adik termudanya itu.

Mengapa?

Ika. Zordick

"Chan Lie adalah pengawal yang hebat. Tapi Chan Lie aku ingin kau menjadi bagian dari kami. Kau adalah kakakku, bukan bawahanku" Yifan mengutuk. Mengutuk keputusan kakak tertuanya untuk tidak membunuh si bocah laknat yang begitu setia itu.

"Aku mencintaimu dan aku harus mengakhiri kesetiaan orang itu. Apakah kau akan membenciku, Kai?" Yifan bertanya. Gumaman kecil untuk udara musim dingin yang menuntunnya menuju hutan.

"Er Se Siu!" itu Zitao, dia memanggil.

Tapi Yifan tak menggubrisnya. Dia menatap langit gelap yang tengah menurunkan salju. "Sudah berakhir ya?" dia berbisik. "Aku harus menghibur adik kecil setelah ini. Maafkan aku dan selamat tinggal"

Yifan masuk ke dalam hutan. Semakin lama semakin dalam. Ia bisa mencium aroma targetnya di dalam hutan. Dia terlatih untuk lingkungan bertarung sejenis hutan. Dia menghentikan langkahnya ketika mendapati dua orang adiknya. Saling berciuman di sana.

Dia kecewa.

Hatinya teriris. Bukan karena dia jatuh cinta pada salah satunya dan dia sadar cintanya tak berbalas. Melainkan, dia akan mengakhiri hidup salah satunya. Dia harus mengundang tangis yang lainnya. "MENJAUH DARINYA KAI!" teriak Yifan.

Kai mendorong tubuh Chanyeol menjauh. Menatap tak percaya pada kakak keduanya yang menatapnya nyalang. "Er se siu, aku bisa jelaskan. Jangan—"

Srriinngg—

Suara pedang yang bergesekan dengan sarungnya. Kai melotot tak percaya dengan reaksi berlebihan yang tak seharusnya di tunjukkan oleh Yifan hanya karena dia dan Chanyeol tertangkap saling mencintai. Chanyeol adalah pengawalnya sedari kecil. Antara dia dan Chanyeol bukankah seharusnya menjadi rahasia umum.

"Aku di perintahkan oleh—" Yifan menjilat bibirnya. Dia tak bisa berkata bahwa ini perintah Kyuhyun. "Da Se Siu untuk membunuh penghianat diantara kita."

"CHAN LIE!" Kai berteriak. Menatap nyalang pria tinggi yang memiliki wajah ramah itu. Chanyeol membuka pedangnya. Menunjukkan tanda tanda dia akan bertarung. Dia tak mengelak, atau mengatakan bahwa tuduhan itu palsu. Dia sangat tahu, bukan waktu yang sebentar Kibum menyembunyikan dirinya. Setiap diantara mereka pasti tahu penghianatan itu. Xiang Ri Kui itu terlalu pintar dan mereka terlalu peka dengan kesetiaan.

Kai mengeluarkan belati dari tubuhnya. Sorot kekecewaan dan air mata terlihat di matanya. "Aku yang akan menyelesaikan ini, Er se siu" ini sudah konsekuensi. Prioritas mereka adalah prinsip hidup yang sudah diajarkan oleh kakak tertuanya. Mereka semua berhutang nyawa dan penghianatan adalah sesuatu yang harus di bayar nyawa.

Meski cinta. Meski selalu di lindungi oleh pria ini sedari ia terlahir ke dunia. Kai sangat sadar satu hal. Tanpa Kibum dia takkan bisa berada di tempat ini. Menghianati dan hampir mencelakakan kakak ipar mereka adalah sesuatu yang fatal. Kebaikan hati pria itu sudah sangat cukup membuktikan betapa pantasnya ia menjadi kaisar. Sementara dia, dia sudah lama melupakan tahta itu. Chanyeol pun harusnya begitu.

"Kau—" Kai mengeram.

"Mundurlah Kai! Akulah yang akan membunuhnya" Yifan berbicara. Dia harus menghalangi keraguan. Dia ingin melindungi perasaan Kai. Sekali saja menggantikan posisi Chanyeol selama ini.

"Maafkan aku! Tapi aku tak ingin penglihatanku itu menjadi kenyataan" Chanyeol merasa dia tak asing dengan di sekitarnya. Yifan maju ketika dia lengah ketika matanya tertuju pada Kai. Di saat itulah—dia kehilangan lengannya yang tengah memegang pedang. Dia tahu ini. Ternyata yang memutus tangannya adalah—

Pria roma itu. Seseorang yang selalu mengalah padanya. Yang memberikan apapun untuknya dan yang mengajari apapun padanya. Dan yang merelakan Kai untuknya. Dia kira itu Zitao, mungkin juga itu Kibum.

Chanyeol berteriak. Rasanya sakit. Kai berdiri di sana. Menangis meraung dan mencoba menghentikan Yifan yang hendak memenggal kepalanya. Tidak. Tidak. Jangan biarkan Kai yang membunuhnya. Chanyeol tak suka melihat luka di wajah itu. Dia merangkak dengan sisa tenaganya. "Er se siu" memeluk pinggang Yifan sekuat tenaganya. Dia tak mampu meskipun ia harus.

Dan—

"Kau tahu aku melakukannya ini bukan demi dirimu. Ini hanya karena janji, janji leluhurku dengan leluhurmu." Chanyeol tersenyum. Seperti dirinya. Dimanapun dan kapanpun dia akan selalu tersenyum. Memberikan sesuatu yang positif meski mereka harus menanam dan mencari jamur setiap harinya ketika menjadi petani.

"Tidak ada siapapun yang memerintahkanku untuk mati. Akulah yang menginginkannya" Chanyeol mengambil pedang di tangannya yang telah terpisah dari tubuhnya. Mengarahkan mata pedang itu kelehernya sendiri. "Jangan terikat dengan janji dan dendam sepertiku, yang mulia. Hiduplah seperti kau yang saat ini. Perjuangkan apa yang kau inginkan!"

Chanyeol bisa kabur. Dia bisa lari kemanapun dan bertahan hidup. Hanya saja. Dia terlalu takut dengan kenyataan bahwa di dalam penglihatannya Kai akan mengejarnya dan membunuhnya. Dia tak mampu.

Oleh karenanya—

Biarkan dia yang mengakhiri

CRASHHHH

Kai bahkan tak bisa menyuarakan tangisnya lagi. Dia hancur. Sungguh benar benar hancur. Yifan memeluknya. Memeluknya sekuat yang ia mampu untuk meredam tangis Kai. Meskipun begitu, ia juga menangis. Chanyeol itu adiknya. Kenapa persaudaraan diantara mereka begitu menyakitkan?

Ika. Zordick

"REBUT IBU KOTA!" suara perintah itu berasal dari Kyuhyun. Mereka menyerbu dan memasuki gerbang ibu kota. Tak ada ketakutan dari para prajurit. Kematian Chanyeol—salah satu jendral yang melatih mereka tak menjadikan mereka gentar. Jendral mereka yang lain menangis, meraung kemarahan mereka atas kematian seseorang yang mereka cintai tetap dengan pedang di tangan mereka. Chanyeol mati dengan kehormatan—itulah yang ditekankan oleh sang jendral besar. Meskipun mereka tahu Chanyeol mati meninggalkan kehormatan sebagai seorang penghianat.

Tidak perlu waktu yang lama, pasukan Kyuhyun yang jelas berjumlah seratus ribu pasukan dengan gampang mengambil alih ibukota. Selain terlatih dan setia jumlah mereka tak main main. Mongol jelas sudah di tangannya, tidak ada ketakutan untuk memanggil pasukan sebanyak yang ia mau dari pos penjagaan di tanah jajahan yang ia ambil. Yifan pun memberikan rencana yang teliti meski matanya terlihat membengkak ketika menjelaskan.

Sekarang Kyuhyun berada di istana utama, Kibum telah mengambil alih kekuasaan dengan menangkap putra mahkota. Yifan mengganti semua prajurit istana dengan prajurit yang berada di sisi Kyuhyun. Suho memeriksa sang kaisar dan membawanya duduk di kursi tahtanya. Dengan mulutnya yang terus terbatuk. "Anakku, kau kembali" Kyuhyun benci dengan sanjungan ayahnya.

Ia jelas tahu dari DongHae, pangeran kedua yang membantunya melancarkan perebutan kembali ibukota. Sang ratu telah tiada, Donghae terpukul dengan itu. Begitu pula dengan selir Yue, wanita yang merupakan ibu kandung Kyuhyun juga di bunuh bersama dengan sang ratu. Beruntung, Kangin dan Sungmin mengamankan permainsuri Kyuhyun dan anaknya. Zitao kini menjemput keduanya, bersama dengan kasim Shindong.

"Selir Yue telah tiada, begitu pula dengan ibunda ratu" Kyuhyun menatap ayahnya. Tatapan mengadili yang kuat, membuat sang kaisar merasa anaknya menakutkan. Kyuhyun kecil sungguh tumbuh menjadi dewasa. Dialah yang mengasingkan Kyuhyun karena terlalu menyayangi putra mahkota. Dia tak menduga anak kesayangannya akan memperlakukannya seperti ini.

Donghae menunduk. Dia mencoba menenangkan Kyuhyun yang mungkin bisa meledak kapan saja tentang berita duka itu. "Tapi aku bersyukur ayahanda baik baik saja" Kyuhyun meletakkan dua bungkusan diatas meja ayahnya—dibantu oleh kasim setia sang ayah.

"Hadiah untuk ayah" ujarnya.

Dua bungkusan itu membuat sang kaisar terkejut. Salah satunya berisi kepala raja mongol dan satunya lagi adalah kepala putra mahkota. "Aku membunuh putra mahkota, aku tak ingin melakukan hal seperti itu lagi pada keluargaku" Kyuhyun bersujud. Menumpahkan tangisnya. Meski sedari kecil ia membenci putra mahkota yang selalu mengejeknya tentang ketidakberdayaan. Dia sadar, ia tumbuh kuat karena motivasi itu.

Donghae menepuk bahu sang adik. "Jadikan Kui Xian sebagai penerusmu ayah" Donghae merasa taka da yang lebih pantas dari Kyuhyun untuk tahta. Dia tak pernah berubah pikiran untuk tahta yang harusnya berada di tangannya. Ia sama sekali tak tertarik.

"DongHai!" sang ayah membentak. Dia berharap Kyuhyun harus menyingkirkan kakaknya yang lain untuk menjadi lebih pantas.

"AKU TAK INGIN MEMBUNUH SAUDARAKU LAGI!" teriak Kyuhyun dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Ia tak ingin ada pertumpahan darah lagi. Dia cukup melihat betapa menderitanya jendral jendralnya karena kematian salah satu jendralnya yang ramah. Rasanya ia juga cukup tertekan dengan kehilangan putra mahkota. Dia tak ingin kehilangan Donghae. "Jika kau tak ingin menjadikanku penerusmu, aku takkan mencoba lebih dari ini. Aku berambisi demi rakyatmu, kaisar"

Kaisar menyerah.

Dia juga tak ingin kehilangan anaknya lebih dari ini.

Ika. Zordick

Era baru, baru saja dimulai. Kibum melangkahkan kakinya dengan baju zirah yang melekat ditubuhnya, di tangannya memegang pelindung kepalanya. Dia melangkah ke depan singgasana, bersujud dan berkata tegas "Hormat baginda kaisar. Semoga kaisar sehat dan panjang umur" katanya.

"Jadi apa berita bagusnya hari ini. Aku kadang takut kalau kau pulang terlalu cepat" Kyuhyun dengan jubah naga bergambar naga berwarna emas berada di sana. "Berdirilah!" katanya mempersilahkan Kibum berdiri. Dia kadang sedikit mengeluh dengan hiasan kepala kaisar yang rasanya begitu berat di kepalanya.

"Kami berhasil merebut kota Guan Mei, San Feng dan Ruo An" lapornya yang membuat Kyuhyun manggut manggut mengerti.

"Apa kau terluka? Berapa pasukan yang gugur?"

Kibum tersenyum. "Tidak ada dan aku baik baik saja" Kibum tak pernah mengecewakannya. Yifan yang duduk di samping Kyuhyun berdehem. Ketika sang kaisar dan jendralnya saling menatap dalam diam. Mereka harus diingatkan bahwa mereka tak sedang di kamar berduaan. Kyuhyun buru buru menutup pekerjaannya. Dia menatap Yifan tajam.

"Kurasa kau bisa melanjutkan memeriksa laporan ini" Kyuhyun dengan sesukanya memberikan tugas pada sang penasihat. Yifan ingin protes tapi Kibum cepat berdehem. Menyadarkan Yifan jika dia memang tak bisa patuh pada Kyuhyun tapi ia sangat patuh pada Kibum. "Jendral, kau ingin kemana setelah ini? Ke kediamanmu untuk beristirahat?" Kyuhyun rindu. Jadi ia ingin memeluk Kibum sampai pagi.

"Tidak, aku ingin mengunjungi pangeran" Kyuhyun menggerutu. Kibum lebih menyayangi anaknya sekarang di banding dirinya. "Kau ingin menemaniku, mengunjunginya?"

"Tentu" kapan lagi waktu berduaan dengan Kibum.

Ika. Zordick

"Aku lelah!" seorang bocah berteriak. Ia membuang pedang bamboo d tangannya. Mencoba mendeklarasikan bahwa ia tak ingin berlatih lagi. Dia cukup lelah. Dia juga harus segera bersiap untuk menghapal atau Yifan akan memarahinya.

"Kau terlalu banyak mengeluh, bocah" Kai itu memang tak punya sopan santun. Dia tak sopan dengan kaisar apa lagi anaknya. Kebetulan, dia di tunjuk untuk menjadi pengawal pribadi sekaligus guru berpedang calon putra mahkota itu.

"Aku ingin sekali memenggal kepalamu, Kai!" marahnya.

Kai menjulurkan lidahnya. "Coba saja. Mengayunkan pedang saja kau tak mampu apalagi memenggal kepalaku" ucap Kai.

"Berhentilah menggodanya!" ini peringatan dari Kibum yang mendengar suara perdebatan keduanya.

"Berhentilah seenaknya!" ini peringatan Kyuhyun. Kyuhyun sedang mengingatkan anaknya dan Kibum mengingatkan adiknya.

"Dia duluan!" dan keduanya saling menunjuk dan menyalahkan.

Kibum menghela nafas. Kyuhyun tertawa. Bocah kecil itu berlari, memeluk Kibum dan Kibum menggendongnya. "Belajar apa saja kau hari ini, Luhan?" pangeran yang belum genap berusia delapan tahun itu sepertinya lebih suka menganggap Kibum sebagai ayahnya. Dia mencoba mengadu pada Kibum dan menjelaskan dia sedang berlatih berpedang yang membosankan.

"Kau tak rindu padaku?" Tanya Kyuhyun merajuk.

"Yang mulia, kau sendiri yang mengatakan kau boleh menganggap jendral besar sebagai ayahku" Luhan membalas ayahnya. Kyuhyun mendumel. Tangan Kibum terulur, tangan bebasnya yang tak tengah menggendong Luhan. Dia mengelus pipi Kyuhyun. Membuat Kyuhyun tersenyum.

"Kau sepertinya bangga sekali punya ayah seperti Jendral Jifan"

"Dia juga bangga mempunyai ayah sepertimu" Kibum mencoba meluruskan. "Kau seorang kaisar. Kau pemilik dunia ini"

Kai tertawa ketika Luhan dengan ragu mengangguk. Dia segera undur diri untuk melakukan tugasnya. Dia lebih memilih membantu Zitao untuk melatih pasukan dibanding memasak ramuan aneh dan obat obatan bersama Suho.

Luhan meminta turun dari gendongan Kibum. Dia menarik tangan keduanya. "Aku bisa kalahkan kaisar kalau berpedang. Jendral kau harus akui, aku lebih hebat darinya"

"Kekuatan seorang lelaki tak hanya soal berpedang, Luhan. Kau juga harus bisa mendapatkan hati rakyat" Kibum mengingatkan tentang penerus tahta Kyuhyun itu.

"Kakek berkata tidak masalah karena pengaruh ayah terlalu kuat. Mereka akan percaya padaku" membuat Kyuhyun mencelos dan Kibum tertawa. Kyuhyun melirik pada Kibum. Lelaki itu sudah bisa tertawa dengan lepas sekarang. Dan dia bersyukur hal itu karena Luhan, anaknya.

"Kau sering menemui ibumu, kan?" Kyuhyun mengingatkan Luhan tentang Song Qian. Ratu memang terkenal sibuk tapi ibu dan anak pasti akan saling merindukan. Luhan mengangguk antusias. Luhan meloncat loncat lagi, menyuruh Kibum menggendongnya. Kibum menurutinya. Mereka berjalan ke taman istana, melihat kolam dan mengganggu ikan ikan yang berenang. Luhan tertawa.

Kibum itu special untuknya. Seperti ayah yang lain yang selalu ia banggakan. Ia juga sayang Kyuhyun. Semua orang tunduk pada Kyuhyun dan mencintainya tapi semua orang segan pada pribadi sang jendral yang kuat. Luhan merasa ia takjub pada keduanya.

"Aku tidak suka dengan Yifan" Luhan bercerita tentang kejamnya gurunya itu mengajarinya. "Aku lebih suka Kai, dia tidak membosankan"

"Tapi kau suka berdebat dengannya"

"Dia menyenangkan. Jangan ganti dia dengan Zitao. Zitao membosankan" Luhan berceloteh. Kyuhyun suka meminta pendapat sang anak. Kadang ia bertanya tentang politik dan lain sebagainya dan anaknya memberikan respon yang cukup memuaskannya.

"Jendral Jifan, bisakah kau membawaku keluar istana. Aku ingin—"

Kyuhyun langsung memotong. "Aku setuju! Bawa aku juga" Kibum menghela nafas. Dua orang ini sama saja. Sama sama Kibum sukai dan suka sekali menyusahkan.

Ika. Zordick

Kyuhyun merebah di samping tubuh Kibum. Kepalanya ia sandarkan di dada bidang lelaki itu. Dia memeluk erat tubuh telanjang pria di sampingnya dan Kibum menyelimuti dirinya dan Kyuhyun dengan selimut bulu domba yang hangat. "Aku akan membawa Xiu Min untuk bertemu dengan Luhan, bagaimana menurutmu" Xiumin adalah keturunan raja Mongol.

"Aku setuju" Kibum menyahut. Dia mengecup pucuk kepala Kyuhyun. Mengelus bahu telanjang Kyuhyun dan kembali menindih lelaki itu.

Kyuhyun menggerutu. Jika di medan perang dahulu, Kibum selalu memikirkan staminanya. Namun, semenjak dia menjadi raja, Kyuhyun cukup tak senang dengan kebiasaan Kibum yang tak sadar waktu. Dia akan melakukan berkali kali hingga Kyuhyun rasanya ingin mati. Apa kata pejabat pemerintahannya ketika menemukan Kyuhyun yang berjalan pincang?

"Apakah ada kemiskinan di kota yang kau lewati?"

"Kau melakukannya dengan baik" ucap Kibum mengecup leher Kyuhyun, semakin lama semakin turun kebawah.

"Hei JIFAN! BISAKAH KAU BERHENTI!"

"Tidak" Kibum termasuk jendral yang patuh tapi tidak sebagai suami. Dia tak pernah mendengarkan Kyuhyun.

"Terserah kau sajalah" dengus Kyuhyun. Dia menarik wajah Kibum, menyatukan kembali bibir mereka. Saling beradu dan menggumamkan cinta tersirat.

Dewa perang dan kaisar baik hati akan selalu dikenang rakyatnya. Melalui lantunan lagu dan cerita dongeng yang manis. Ratusan tahun kedepan dan cinta mereka abadi dengan kesetiaan diantaranya.

END

Selesai. Buahahhaha ka gak mau membuat yang tragedy lagi. Cukup satu kali saja, jangan banyak banyak.