Sakura-tearz33: yosh, chap 8 uda Apdet! Dibaca yach^^
Langsung az yah^^
Makasih vii-san! Sakura justru sangat senang karena Vii-san sudah banyak memberi saran. Karena itu, kalau bisa, tetap direview y^^
And so thanks for the review
CCloveRuki
HaikuReSanova
SN Shi Natoka-chan
Hana-ChanSasuNaru
Viizuki Minami
KyouyaxCloud
Ikhaosvz
Vii no Kitsune
Berkat semuanya, Sakura jadi semangat^0^
N memang kebanyakan banyak yang super shock akibat Itachi jadi super OOC. Maafkan penulis fic yang bodoh ini... Hikss...
P.S : semoga cerita ini disukai. N maaf kalau ceritanya jelek. Sakura sudah berusaha yang terbaik^^
WARNING:bahasa aneh,salah ketik, typos, character OOC, alur aneh,yaoi, author ingusan, pokokna sudah diperingati ma sakura loo..
Please R n R!^^
Disclaimer: I don't own naruto.. Kalo beneran punyaku, bakal kuutamakan sasunaru loo^^ wkwkwk..(Dilempar pisau)
"Karin-san, itu Sasuke-sama!"
"Mana? Mana? Kyaa!"
Seorang wanita berambut merah bersama dengan temannya tengah berdiri di depan pintu kelas X-1 dan menatap ke arah pria raven pujaannya yang tengah duduk dibangkunya sambil terlihat enggan mendengar ocehan teman sebangkunya yang berambut pirang.
"Grr! Lagi-lagi bocah pirang brengsek itu sok dekat dengan Sasuke-sama! Apa kami harus memberi pelajaran padannya, Karin-san?" Ucap salah satu perempuan itu kepada wanita berambut merah itu.
"Tidak usah, karena..." Wanita yang dipanggil Karin itu pun menatap benci ke arah pria berambut pirang yang berada di dalam kelas, "Aku, Ketua fans Sasuke-kun, yang akan mendapatkan Uchiha Sasuke."
Chapter 8
"Temee! Jangan marah lagi dong! Hweeee!"
Saat ini, Namikaze Uzumaki Naruto sedang sibuk meminta maaf kepada teman sebangkunya, Uchiha Sasuke. Sedangkan Sasuke? Ia hanya menopang wajahnya dengan tangan kanannya dan menatap lurus ke arah papan tulis dengan tanda kerut segitiga di sisi keningya. Tentu saja semua murid di kelas mereka terus melirik ke belakang ke arah mereka, namun segera membalikkan muka mereka ke depan setelah merasakan hawa menusuk dari deathglare Uchiha tersebut. Mereka hanya bisa sweatdrop, karena sepertinya mereka tahu kira-kira apa yang terjadi diantara kedua pria tersebut. Hal itu bisa terlihat jelas di pipi sebelah kiri Sasuke tampak jelas Cap tangan lima jari yang tampak merah itu alias ditampar. Nah hal itu terjadi karena...
Flashback
Naruto baru saja siap mandi dan memasuki kamarnya untuk memakai seragamnya. Dipakainya boxer orangenya, kemudian mengeringkan rambutnya dengan handuknya tanpa berbusana dahulu. Kemudian, terdengar suara ketukan pintu kamarnya. Ia pun menuju ke arah sana dan membukanya.
"Kyuu-nii, ada a-" ia berpikir bahwa orang yang mengetuk pintunya adalah kakaknya, namun sayang... Perkiraan pria pirang ini meleset, dan ketika sudah dibuka sepenuhnya kamar itu, ternyata orang yang berdiri di balik pintu tersebut adalah orang yang dicintainya alias bertepuk sebelah tangan, Uchiha Sasuke.
Yap, Namikaze Uzumaki Naruto akhir-akhir ini baru menyadari perasaan khususnya terhadap teman alias rivalnya itu. Namun, tidak ada niatnya untuk menyatakannya karena ia takut ditolak dan Sasuke akan jijik padanya. Sedangkan Sasuke, bola mata onyxnya hanya melebar menunjukkan kaget. Kenapa tidak? Saat ini dihadapannya Naruto berdiri hanya dengan memakai boxer. Seluruh tubuh baik badan dan pahanya yang berwarna tan itu terekpos nampak tanpa sehelai benang pun menutupinya. Tentu saja baginya ini adalah kesempatan yang paling super duper jarang di hidupnya.
Naruto yang sadar bahwa Sasuke terus menatap tubuhnya itu pun menjadi sangat malu.
"TE-TEME MESUM! GYAA!" Sebuah cap tangan lima jari Naruto pun melayang ke pipi kiri Sasuke dan membuatnya terpental jauh ke belakang.
End of Flashback
Tamparan itulah yang membuat si Uchiha bungsu ini bad mood. Tentu saja siapapun bakal merasa sakit hati kalau ditampar oleh orang yang mereka cintai. Hal itu pun terjadi pada raven ini.
"Te-"
"Sasuke-kun~"
Karin pun muncul dan berdiri di samping meja Sasuke sambil memperlihatkan ekspresi malu-malu dan kecentilannya. Sasuke hanya melirik ke arahnya sebentar, kemudian balik memandang ke depan tidak memperdulikannya. Namun, Naruto, hatinya sekarang sedikit merasakan firasat buruk.
'Itukan Karin, ketua fans klub Sasuke. Kenapa ia ada disini? Jangan-jangan...'
"Aku mencintaimu, Sasuke-kun! Jadilah pacarku!" Teriak gadis itu dengan lantang, alhasil seluruh murid di kelas X-1 pun mendengarnya dengan jelas.
Firasat buruk Naruto benar-benar terjadi. Memang si pirang ini tidak berniat menyatakan cintanya, tetapi ia juga tidak mau kalau Sasuke mempunyai pacar dan meninggalkan dirinya. Ketakutan akan kehilangan Uchiha itu pun menjadi tinggi. Apalagi gadis yang menyatakan cinta itu adalah gadis tercantik di tingkat kelas 1, selain itu juga terkenal baik, pintar dan lembut. lelaki straight manapun juga bakal mau dengannya. Sasuke yang bukan gay pasti bakal menerimanya. Begitulah perdebatan dalam batin Naruto.
Seluruh siswa pun mulai berbisik-bisikan. Karin merasa penuh kemenangan, karena menurutnya bisikan tersebut pasti mengenai kehebohan mereka yang tidak percaya bahwa dia dan Sasuke akhirnya akan berpacaran. Tapi tanpa disadarinya dia kegeeran. Sesaat ia merasa mendengar bisikan bodoh di telinganya. Kemudian ia pun berusaha mendengar lebih jelas lagi.
"Psst... Itu Karin, kan? Masa dia bodoh sih?"
"Entah... Kata orang-orang sih dia pintar, tapi kenapa ia masih nembak si Uchiha?"
"Psst... Berarti... Dia bodoh dong! Hihihihi..."
"Waduh... Sakura... Psst... Kamu tertawa terlalu kelas."
"Sakura benar kok. Apalagi saat-saat Sasuke-kun bad mood. Benar-benar tolol nenek tua itu."
"Nica, Ino-pig!"
Bisikan-bisikan itu pun semakin keras. Tentu saja seluruh darah Karin naik ke kepalanya. Tapi ia menahannya karena ia tidak mau menghancurkan imejnya di depan pemuda yang ia sukai.
"Sasuke-kun~ kamu mau-"
"Pergi."
"Yap, mau per- Eh?"
Karin hanya kaget mematung. Ia merasa sepertinya salah dengar. Bisik-bisikan pun mulai memenuhi ruangan kelas tersebut lagi.
"Dasar... Sudah jelas-jelas si Uchiha itu suka dengan Naruto."
"Kasihan... Aku saja terpaksa harus menyerah soal Naru-chan."
"Ternyata Karin itu benar-benar tolol kali?"
Pssst...pssst...
Karin hanya melotot kesal ke arah mereka. Memang ia pernah mendengar kabar bahwa Uchiha Sasuke suka dengan lelaki yang menjadi idola disini. Tapi, menurutnya itu hanya isu yang dibuat oleh orang-orang, karena tidak mungkin keturunan terakhir Uchiha akan menikah dengan seorang laki-laki. Itu sama saja memusnahkan benih keturunan sendiri. Sedangkan Naruto sendiri tidak dengar apa yang dibisik-bisikan oleh temannya karena sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Sasuke-kun," Karin pun berusaha memanjakan suaranya,"Aku tahu kamu pasti juga mau kenalan denganku." Karin pun hendak memegang tangan Sasuke, namun hal itu gagal karena Naruto duluan menyambar tangannya dengan cepat sehingga menjauh dari tangan Uchiha tersebut.
"Wuah, Karin-san! Aku juga senang berkenalan denganmu!" Naruto pun memegang tangan wanita itu dengan kedua tangannya. Tentu saja Karin tidak senang. Tapi ia harus tetap berpura-pura.
"Oh, Salam kenal, Namikaze-kun."
"Salam kenal juga, Tebayo!" Namun Naruto tetap belum melepaskan tangan perempuan itu juga.
Kemudian wanita berambut merah itu memajukan kepalanya sedikit untuk berbisik ke telinga si pirang itu, dan suaranya langsung berubah dratis.
"Lepaskan tanganku dari tangan kotormu, Bitch."
Ia pun menarik tangannya dengan kasar dan berjalan melewati Naruto ke arah Sasuke. Dan mulailah ia menggoda Sasuke lagi. Aura hitam Sasuke pun bertambah besar akibat gadis itu. Si raven itu pun pada akhirnya berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah pintu dan keluar meninggalkan keras, tak lupa juga si Karin terus membuntutinya. Teman sekelas mereka pun hanya merasa lega karena aura hitam yang dari pagi menyelimuti kelas mereka akhirnya hilang juga. Sedangkan Naruto? Ia hanya masih berdiri bengong di posisinya akibat kata-kata yang dikeluarkan oleh gadis yang dikenal lembut itu. Walaupun otak Naruto memang cuma pas-pasan, tapi ia mengerti apa arti dari 'BITCH' itu.
"..ruto... Naruto!"
"Egh! Sa-Sakura-chan?"
"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba bengong?" Tanya gadis pink itu dengan cemas.
"A-hahahah! Enggak kok. Cuma lagi mikir. Hehehe..."
Gadis pink itu pun hanya merasa heran.
••••»»»S.N«««••••
TENG TENG TENG
Suara lonceng sekolah yang menandakan waktunya pulang pun sudah berbunyi. Siswa-siswi pun berebutan keluar dari kelas untuk segera sampai di rumah mereka. Hal itu juga terjadi di kelas X-1, kecuali masih tersisa seorang pria pirang di kelas itu yang masih dengan santainya menyusun bukunya ke dalam tas. Yah, pria itu adalah Namikaze Naruto.
"Ukh... Sepertinya Sasu-teme sudah pulang..."
Sebenarnya sih Naruto sengaja pelan-pelan untuk menunggu Sasuke yang sama sekali belum balik dari tadi pagi akibat di kejar terus oleh Karin. Setelah itu, saat ia balik dari kantin, tasnya Sasuke sudah hilang. Akhirnya Naruto pun memutuskan untuk pulang saja, tetapi ketika sampai di depan pintu ia bertemu dengan Sai.
"Sai! Pulang bareng yuk!" Teriak Naruto dengan riang. Ia merasa sepertinya sudah lama tidak berbicara Sai dari waktu kejadian jatuh dari jendela.
"Naruto-kun? Ba... Eh... Maaf, sepertinya hari ini tidak bisa. Aku ada urusan." Sesaat Naruto melihat wajah Sai memucat, tapi ia menganggap ia salah lihat, karena memang sudah dari sananya Sai selalu terlihat pucat akibat warna kulitnya.
"Ooh..." Suara Naruto pun terdengar kecewa," Baiklah, Ja nee, Sai!" Naruto pun berlari di sepanjang koridor meninggalkan Sai.
"Maaf, Naru-chan... Aku juga ingin pulang denganmu... Tapi DIA ada..." Gumam Sai sendiri sambil melihat punggung Naruto yang semakin menghilang dari hadapannya.
Di sisi lain, Naruto yang baru saja mau keluar dari gerbang sekolahnya, tampaklah sosok pria raven yang tengah berdiri menyandar di mobil BMW yang berwarna hitam kebiruan.
"Te-teme!" Naruto pun berteriak terlalu kencang karena kesenangan melihat orang yang ditunggunya telah muncul. Rasa kebahagian dalam hatinya pun tidak dapat terkontrol lagi sehingga tampak jelas di wajahnya.
"Hn, dobe. Kenapa kamu lama sekali keluar?" Sasuke pun berjalan mendekati Naruto. Pria pecinta ramen itu langsung gugup ketika Sasuke tepat berdiri dihadapannya. "Ta-tadi ada keperluan sedikit." Tentu saja ia tak mau bilang kalau ia menunggunya daritadi. Begini -begini Namikaze juga punya gengsi! "Nee, teme! Kamu kemana saja sih? Kok jadi bolos!"
"Ooh, ya sudah, naik ke mobilku." Sasuke tidak membalas menjawabnya. Ia hanya menarik tangan Naruto kemudian membuka pintu mobilnya.
"Eh? Tu-tunggu dulu...! Mau ke- WUAAH! TEME ITTAI..!" Sasuke langsung mendorongnya masuk dan menutup pintunya, kemudian ia pun menyusul masuk ke dalam mobil dan mulai menghidupkan mesinnya.
"TEME! Kau mau membawaku kemana!"
"Hn."
"Itu bukan jawaban, GRR!"
Naruto pun hanya mengoceh terus tanpa diperdulikan oleh Sasuke hingga cukup lama. Selain itu, jalan yang dilewati pun makin aneh, semakin mirip masuk ke hutan serta jalannya lumayan rusak akibatnya mobil mereka pun terus tergoncang-goncang seperti milkshake. Dan ketika menyadari mobil tersebut berhenti bergerak ia hanya keheranan.
"Eh? Kenapa berhenti?"
"Kita sudah sampai, Dobe. Ayo keluar."
"Sampai? Di- wuahh! INDAH SEKALI PEMANDANGANNYA!" Naruto bergegas keluar dari mobil dan berdiri tepat didekat pagar yang dibatasi agar tidak jatuh ke bawah. Sepertinya sih mereka berada di daerah yang termasuk tebing, dimana dibawahnya hanya terdapat pohon-pohon yang lebat. Namun pemandangannya sangat indah, karena dari atas sana, mereka dapat melihat seluruh kota Konoha dengan jelas serta keadaan langitnya. Sungguh sulit untuk menemukan tempat yang bagus seperti di sana untuk melihat keseluruhan kota Konoha itu.
"Teme, kenapa kamu bisa menemukan tempat ini?"
"Ini tempat rahasiaku dari sejak kecil."
"Hoo, ciee! Ternyata kamu juga ada pakai tempat rahasian segala! Hahaha!"
"Hn, lebih cocoknya tempat tidur siang agar tidak diganggu orang lain yang berisik."
Naruto langsung memperlihatkan wajah ogahnya. Ia merasa tersindir oleh kata 'berisik'. Ia pun hanya memajukan bibir bawahnya dan menggembungkan pipinya. "Gezz... Kalau begitu, kenapa beritahu aku? Aku nanti bakal menganggumu lho! Hmp! Akan kuganggu kamu terus agar tidak bisa ti-"
"Kalau khusus kamu, bagiku tidak masalah."
Otomatis kata-kata Naruto terhentikan. Dia kembali mencerna apa yang barusan dikatakan Sasuke.
'Khu-khusus?' Batin Naruto pun mulai panik dan terus berdebar-debar.
"Te-teme! Ka-" baru saja dia berbalik untuk melihat ke arah Sasuke, ternyata Uchiha itu sudah berbaring diatas rumput dan tertidur. Naruto hanya menghela nafas, "Matakhu..." Kemudian ia pun duduk disamping Sasuke dan hanya melihat pemandangan didepannya.
'Sasuke... Bagimu aku orang yang khusus kan... Kalau begitu, kamu tidak akan tiba-tiba menjauh dari sisiku'kan?"
Kemudian tanpa disadarinya ia pun ikut tertidur.
••••»»»S.N«««••••
"Aduh... Teme dimana sih?"
Kegiatan Naruto dalam mencari Sasuke pun sudah berlangsung selama seminggu, sudah seperti rutinitas hidupnya. Semenjak pernyataan cinta Karin, wanita itu terus membuntuti Uchiha itu dimana saja, hingga akhirnya membuat pria yang dibuntuti itu jadi bad mood. Oleh karena itu, Naruto sudah merasa rindu dengan raven itu karena sudah seminggu ini ia jarang bertemu dengan Uchiha bungsu itu. Setiap kali dia baru mau ajak bicara, si Karin sudah muncul langsung entah darimana. Menurutnya, sepertinya Karin sudah mengetahui ia suka pada Sasuke, karena sepertinya gadis itu sangat membencinya dari sikap yang ia perlihatkan, seperti sengaja menabraknya di kantin sehingga ramennya jatuh semua yang baru saja terjadi tadi pagi. Tentu saja Naruto kalang kabut. Ia takut Karin memberitahukan pada Sasuke tentang perasaannya dan akhirnya ia malah ditolak sebelum sempat menyampaikannya sendiri. Back to the story, akhirnya Naruto pun menuju ke arah halaman belakang sekolah. Kemudian ia menangkap sosok punggung orang yang dicarinya itu selama satu jam hingga membuatnya bolos pelajaran ternyata sedang duduk di bawah pohon Sakura. Ia pun segera berlari ke arah sana dengan cepat.
"Sasu-"
Suara Naruto tercekat ketika ia menyadari bahwa ternyata ada seorang wanita berambut merah yang duduk disamping Sasuke dan melihat bahwa Sasuke sedang berpegangan tangan gadis tersebut. Mata biru Naruto terbelalak bulat lebar dan serasa jantungnya berhenti berdetak sejenak.
.
.
'...Tidak...'
.
.
Hari dimana yang tidak ia inginkan akhirnya terjadi juga.
.
"I-ini b-bo...hong..."
.
.
Air mata pun perlahan-lahan jatuh membasahi pipinya.
To be Continued...
Maaf kalau chap ini kependekan. Hountou ni gomen!TnT
Membosankah?
But tetap review yah, minna-san^^
