Make you mine?
I'M NOT HIM
HUNHAN
.
.
.
.
.
.
Tubuh Luhan tersentak seperti ada yang menariknya, seorang namja tinggi berkaca mata menariknya kedalam lautan manusia yang sedang asik menari mengikuti alunan musik yang memekakkan telinga, hingar bingar musik menutupi suaranya yang berteriak sambil menarik-narik lengannya. Luhan tak bisa melawan kekuatan namja yang menariknya keluar dari bar kini, dan seketika namja kaca mata yang tak ia kenali itu membawanya masuk kedalam rubicon hitam.
Saat namja itu masuk Luhan menatap takut padanya.
"Tolong lepaskan aku.. Siapa kau? —aku mau keluar.." Luhan berusaha membuka pintu mobil yang terkunci rapat.
"Luhan diamlah— kita pulang sekarang!" Sehun membuka kaca matanya dan—
"H-hyung~" Luhan tercengang menatap namja yang ia kenal. Yeonseok hyung kenapa bisa ada di sini? Bukankah tadi dia bilang ada urusan..Gumam Luhan dalam hati.
"Seharusnya setelah kau cek kandungan langsung beristirahat dirumah, bukannya pergi bersenang-senang di bar." Sehun menstarter mobilnya, memindahkan kopling dan melajukan mobilnya. "Kita pulang!" Ucapnya lagi dan Luhan hanya terdiam menunduk.
Drrrttt... Drrrttt...
Drrrrttt... Drrrttt...
"Y-yeoboseyo.."
Luhan! Kau dimana?—
"Aku baik-baik saja Kai.. Aku akan pulang.."
Kau..kau bersama siapa?
"Aku bersama—"
Sret! Pip!
"Hyung..kenapa kau matikan?"
"Hhh.. Luhan..Kai tak perlu tau apa yang kau lakukan, dia bukan kekasihmu. Aku. Aku kekasihmu!" Sehun menekan lama tombol sisi ponsel membuat benda tersebut mati total dan melempar ponsel tadi ke jok belakang.
"Tapi Xian—"
"Akan kuhubungi nanti, sekarang kita pulang!" Sehun melajukan mobilnya tanpa kata-kata.
'Aku tak perduli, akan aku hadapi Kai walau apapun yang terjadi, Luhan milikku. MILIKKU!' Sehun bermonolog dalam hatinya dan terus saja melajukan mobilnya sambil mengambil ponselnya dalam saku dan mengirim pesan singkat pada seseorang.
.
.
Kai berlari mengikuti Luhan entah di tarik oleh siapa, dia benar-benar kuatir. Mata tajamnya menatap ke segala arah dan ia kehilangan Luhan. "Shit!" Umpatnya.
"Kai.." Chanyeol dan Bai Xian menghampirinya. "Aku kehilangan Luhan, seseorang menariknya.. Ssi pal.." Geram Kai sambil mengeluarkan ponselnya, menekan panggilan cepat, menunggu seseorang mengangkatnya.
Y-yeoboseyo..—
"Luhan! Kau dimana?"
Aku baik-baik saja Kai.. Aku akan pulang..
"Kau—kau bersama siapa?"
Aku bersama...pip..
"Yeoboseyo..yeob.. LUHAN--" pekik Kai kesal. Dan mencoba memghubungi lagi. 'telepon yang anda tuju sed—'
"Lu—akhh..ponselnya mati.. Sial!" Umpat Kai saat mencoba menghubungi Luhan kembali.
"Apa katanya hyung..dan Luhan ge ada dimana?" Bai Xian bertanya pada Kai yang masih kesal karena ponsel Luhan yang tak aktif.
"Entahlah Baek.. Ponselnya mati, awalnya dia menjawab baik-baik saja tadi dan akan pulang." Kai mengusak rambutnya.
Bai Xian yang kuatir tersentak, ponselnya bergetar, ia mengeluarkan dari saku dan melihat ada pesan singkat dan membukanya.
"Aku tau dengan siapa Luhan ge pulang, Hyung aku pulang duluan ne.." Kai menatap Bai Xian heran begitu juga Chanyeol.
"Siapa Baek? Dan dimana Luhan saat ini?" Kai menarik lengannya bertanya tak sabar ingin mengetahui siapa yang membawa Luhan tadi.
"Kau takkan percaya hyung—dia orang yang selalu berbuat kasar pada Luhan ge, ternyata dia mengikuti kita dan membawa Luhan ge pergi ke rumahnya kini, kau tau dia siapa hyung.. Aku pergi Chanyeol, Kai hyung —paii.." Bai Xian melangkah cepat keluar dari bar dan memanggil taxi.
Brakk!
"ARGHHH..Siaal..f*k!" Umpat kai sambil memukul meja bar dan Chanyeol yang tak tau apa-apa hanya menatap sahabatnya heran. "Kau tau?" Tanya Chanyeol.
"Sehun.. Sehun! Seharusnya aku tau bahwa dia akan menyukai Luhan—ku..Argghh!" Kai menggeram mengacak rambutnya kesal dan meminum tequilanya kasar.
"Sehun? Maksudmu Sehun yang menggantikan Yeonseok hyung? Sehun, bungsu dari Oh Sajangnim?" Tanya Chanyeol dan di jawab anggukan oleh Kai.
"Hey! Aku pesan lagi minuman yang sama!" Teriak Kai pada bartender, dan setelah pelayan bar tersebut menuangkan minumannya tanpa berlama-lama Kai menenggak menghabiskannya mendesis kesal tak perduli dengan tenggorokannya yang terbakar dan Chanyeol hanya menatapnya tanpa bisa berkata-kata.
Kai mengepalkan tangannya kesal, Sehun tak menepati janjinya dan besok ia harus menemui Sehun as soon as possible.
.
.
.
I'M NOT HIM
.
.
.
"Hyung—kenapa kita pulang ke rumah appa dan eomma? Kenapa bukan ke apartment?" Luhan bertanya pada Sehun saat mobil memasuki gerbang mansion Oh dan berhenti di halaman depan.
Sehun berbalik menghadap Luhan dan memegang erat jemarinya.
"Luhan—kau mencintaiku?" Tanya Sehun dan pertanyaannya membuat Luhan mengernyitkan dahinya bingung.
"Tentu saja hyung, dan kalau kau tidak lupa, kita akan mempunyai anak." jawab Luhan sambil melepaskan genggaman Sehun dan memeluk perutnya yang hampir terlihat membuncit. Sehun ikut membelai perut Luhan membuat namja mungil itu tersenyum manis. Sehun menatap mata Luhan. 'Aku sepertinya juga mencintaimu Luhan, tapi kau tak mencintaiku, kau mencintai Yeonseok hyung dan aku ingin kau menjauh dari Kai. Karena aku ak—'.
"Hyungie~" Luhan memanggil Sehun lembut, membuat namja tampan itu tersadar dari lamunannya.
"Ahh..ayo kita turun Luhan..kita tidur disini malam ini." Ucapnya dan Sehun pun turun, begitu juga Luhan, dengan cepat namja tampan itu melangkah mengapit lengan Luhan membawanya masuk ke rumah mewahnya.
Sehun menatap maid yang menjaga pintu utama, menggerakkan sedikit kepalanya sambil melirikkan matanya kearah Luhan agar maid tersebut mengerti dan—
"Ahh..Se—selamat malam tuan Yeonseok, tuan Luhan.." Sehun hanya menganggukkan kepalanya begitu juga Luhan. Semua pekerja memang telah mengetahui insiden yang terjadi pada Luhan yang menganggap tuan muda bungsu mereka adalah Yeonseok.
Nyonya Oh Seo Hyun sang nyonya rumah pun mewanti setiap pengawal, pekerja dan para pelayan agar memanggil Sehun dengan nama Yeonseok jika bersama Luhan.
"Dimana eomma dan appa?" Tanya Sehun. "Tuan dan nyonya diruang perpustakaan sambil minum teh." Sehun dan Luhan pun melangkah masuk ke gerbang ruang tengah dan berbelok ke lorong sebelah kiri menuju ruang perpustakaan.
Pintu besar perpustakaan terbuka lebar dan terlihatlah Tuan Oh Tae Woo sedang membaca beberapa buku koleksinya di temani Nyonya Oh yang menikmati secangkir teh sambil menatap televisi dalam ruangan tersebut, seketika kedua sosok itu menatap kearah pintu, dan Seo Hyun yang pertama memekik bahagia.
"Luhan! Anakku! Ahh Se— eh Yeonseok kau membawa Luhan dan juga calon cucuku, terima kasih sayang." Seo Hyun memeluk Sehun dan melangkah kearah Luhan menariknya duduk di sofa memeluknya erat.
"Bagaimana dengan kau dan calon cucu-ku Luhan?" Tanya Tuan Oh Tae Woo pada namja mungil yang sedang kesusahan karena terus saja di peluk oleh istrinya.
"Eomma..sudahlah, Luhan sulit bernafas jika kau memeluknya seperti itu, kami akan tidur disini malam ini dan appa tentu saja Luhan dan calon bayi kami sehat, iya kan sayang?" Sehun menatap lembut Luhan membuat ia merona dan menundukkan wajahnya sambil mengangguk.
Seo Hyun yang melihat dan mendengar semua yang Sehun katakan membuatnya mengernyit tak mengerti dan bingung dengan perilaku Sehun yang berbeda. Terlihat lebih, tulus? Mungkin.
Ia menatap ke dalam mata Sehun seperti ingin mengatakan 'apakah eomma melewatkan sesuatu' pada mata Sehun dan anaknya itu hanya salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Luhan ayo eomma antar ke kamar kalian.. Apa kau sudah makan sayang?" Seo Hyun masih tak mengerti dan menarik Luhan terus bertanya sambil meninggalkan sang appa dan Sehun.
"Well.. Apakah ada yang terlewatkan Sehun?" Tanya Tae Woo pada anak bungsunya sambil bersedekap di meja bacanya. Sehun memijit dahinya. "Entahlah appa..aku..aku tak tau, dan semua terjadi begitu saja." Sehun mengusap wajahnya dan tatapannya langsung mengarah pada appa—nya.
"Dulu kau membenci dalam situasi berada disisi Luhan— Kau mencintainya?" Sahut Tae Woo memicingkan matanya sambil memberi pertanyaan yang tepat sasaran.
"Seperti yang aku bilang tadi appa, aku tak tau..yang pasti aku ingin menjaga Luhan dan mungkin appa benar, aku mulai mencintai—"
"Lupakan Luhan!" Potong Tae Woo.
"Ne?" Sehun tersentak dan mendongkakkan kepalanya menatap appa —nya.
"Kau mungkin lupa telah berjanji kepada seorang namja untuk mencintai dan menikahinya Sehun!"
Appa benar, Sehun melupakan hal itu.
"Keluarga Do menginginkan kalian cepat menikah setelah Kyungsoo menyelesaikan kuliahnya, sebenarnya appa sudah meminta agar kau menikah dengan Kyungsoo setelah kau menyelesaikan kuliah mu. Tapi mereka—" Tae Woo mengedikkan bahunya. "—Mereka meminta tahun ini kau menikah dengan Kyungsoo karena anak mereka hari ini telah graduated ceremony, dan ini undangannya, appa dan eomma tak bisa datang, mereka juga mengerti kesibukanmu makanya mereka hanya menghubungi appa." Tae Woo mengambil amplop berisi undangan untuk hadir dalam acara tersebut, Sehun yang masih terdiam tak bisa berkata-kata hanya mengambil amplop tersebut lalu membuka dan membacanya.
"Apa kalian jarang berkomunikasi?" Lanjut tuan Oh lagi bertanya. Sehun melempar undangan keatas meja dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, pikiran Sehun dipenuhi oleh Luhan sampai-sampai melupakan Kyungsoo kekasihnya.
"Appa..kalau aku menikah dengan Kyungsoo, bagaimana dengan Luhan?" Tanya Sehun hati-hati sambil bangun dari kursinya, Tae Woo menarik nafasnya dan menghempasnya.
"Appa dan eomma telah sepakat untuk mengangkat Luhan dan Bai Xian menjadi bagian dari kita, kau mendapatkan dua hyung sekaligus, dan untuk Luhan sendiri appa dan eomma sudah memikirkannya matang-matang akan hal ini, kami akan memberitahu Luhan semuanya tanpa menyembunyikannya lagi, dan jika Luhan sembuh, itu harapan appa dan eomma—" Tae Woo menundukkan kepalanya memijit dahinya pelan dan menatap Sehun setelahnya. "Kami akan menikahkan Luhan dengan Kim Jongin." Lanjutnya.
Itu semua kalimat terpanjang yang Sehun dengar dari sang appa yang terkenal dingin dan pelit dalam perkataannya dan semua kalimat itu pula lah yang membuat Sehun tak bisa berdiri pada tempatnya, Sehun menjatuhkan dirinya di kursi matanya nyalang membayangkan Luhan menikah dengan Kai, tidak mungkin..tidak mungkin gumamnya dalam hati— Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya tidak terima. "Kenapa harus Kai? Appa..wae?" Nafas Sehun tercekat tak terima.
"Aku! Aku yang mengatakan pada uncle dan auntie agar Luhan ge menikah dengan Kai hyung."
Sehun berbalik menatap seseorang yang masuk dengan suara lantang. "Ya aku —Bai Xian!" Sehun menatap nanar kearah Bai Xian seperti ingin memakannya hidup-hidup.
"Aku melakukan ini bukan tanpa alasan, Kai hyung menyayangi..ahh ani tapi sangat mencintai Luhan ge dengan tulus." Bai Xian menatap balik mata Sehun. "Kau tak tau siapa Kai sebenarnya Xian— dia itu picik!" Sehun sedikit memekik kesal.
"Aku tau siapa seorang Kim Jongin yang kau sebut picik itu Sehun dan maaf uncle tapi aku rasa Sehun lebih picik dan menginginkan Luhan ge menjadi miliknya padahal ia sudah memiliki namjachingu." Bai Xian seperti memohon bantuan Tae Woo agar mau menjelaskan apa keinginannya.
"Sehun anakku..mengertilah! Luhan tak mungkin bisa kau miliki." Tae Woo menatap sayang anaknya. "Luhan hanya mencintai Yeonseok dan lambat laun ia akan tau semuanya, dan Kim Jongin adalah namja yang terbaik untuk Luhan dan..dan tentu saja Luhan lama-lama akan mencintainya."
"Kenapa kalian seperti yakin bahwa Luhan akan mencintai Kai eoh?" Tanya Sehun kesal. "Aku tak perduli, Luhan milikku —walau ia hanya menganggapku Yeonseok hyung aku tak perduli—LUHAN MILIKKU!!" nada suara Sehun makin meninggi dan keluar dari ruang perpustakaan hampir menabrak eomma nya. "Mana Luhan eomma?" Tanya Sehun. "Eoh! Ada dikamar Yeonseok, kena—" Seo Hyun menatap Sehun yang berlari ke lantai dua tanpa melanjutkan kalimatnya dan ia menatap suaminya juga Bai Xian dengan bingung. "Xian.. Yeobo.. Waeyo?" Tanya Seo Hyun yang masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Yeobo—Sehun mencintai Luhan dan aku sudah menjelaskan semuanya, dia tidak terima." Tae Woo menghela nafasnya menatap istrinya yang entah keterkejutannya itu mengartikan apa. "MWO?? Aish anak itu..aku akan—"
"Yeobo.." Tae Woo menahan istrinya. "Sudahlah, nanti kita jelaskan pelan-pelan pada Sehun agar ia mau mengerti, malam ini biarkan dia menenangkan dirinya..Xian kau juga malam ini tidur saja disini." Tae Woo menepuk bahu Bai Xian.
"Tidak uncle..aku akan pulang.." Bai Xian menyisir rambutnya kebelakang dengan jarinya dan memijit pangkal hidung bangirnya terlihat lelah. "Tidak sayang..kau harus tidur disini, kau baru boleh pulang besok, atau auntie—"
"Arraseo..arraseo..aku akan tidur disini.." Potong Bai Xian dengan kedua tangannya mengarah ke dada seperti meminta ampun membuat pasangan tuan dan nyonya Oh terkekeh.
.
.
Sehun berjalan sedikit berlari menaiki tangga dan membuka pintu kamar milik Yeonseok—, menutup pintunya pelan berjalan hati-hati kearah ranjang king size dalam kamar tersebut, tatapannya melembut saat melihat seseorang yang meringkuk di balik selimut dengan dengkuran halus dan teratur. Sehun duduk di sisi ranjang menyentuh lembut pipi Luhan, membuat namja mungil itu mengeliat pelan terganggu oleh sentuhannya.
Sehun terkekeh pelan, Sehun masih sulit percaya, bagaimana bisa seorang namja yang lebih tua empat tahun darinya terlihat sangat imut lirihnya dalam hati. Sehun bangun dari ranjang dan berjalan kearah balkon membuka pintunya dan berdiri menatap kota Seoul dari atas menikmati angin yang berhembus membelai kulitnya. "Ahh.. Chupta.." Sehun mengusap kedua telapak tangannya, terdiam matanya berkaca-kaca mengingat kembali semua perkataan appa—nya. Katakan lah ia jahat, selingkuh dari Kyungsoo dan berpaling. Itu tidak sepenuhnya kesalahan dirinya, eomma yang memaksanya menjadi Yeonseok hyung dan kini saat ia mulai mencintai Luhan mereka malah ingin memisahkan dirinya dengan Luhan dan menikahkan namja mungil itu dengan namja yang ia benci— Kai.
Ia sudah terbiasa dengan adanya Luhan yang slalu memanjakannya, Sehun meletakkan telapak tangan kirinya didada bidangnya, membayangkan Luhan hidup bersama Kai rasanya sakit sekali ya Tuhan. Jika tau begini ia tidak akan menginjakkan kakinya di Seoul atau tidak mau berjumpa dengan Luhan, tangan kanannya meremas pagar balkon dan seketika air mata yang ia tahan mengalir di pipinya— ia menghapusnya cepat, cengeng sekali kau Sehun? Pikirnya, tapi ia benar-benar tak bisa melepaskan Luhan.
Seketika tubuhnya berjengit merasakan dua lengan mungil yang memeluknya dari belakang, tengkuknya hangat dan sedikit basah. Luhan memeluk dan mengecup tengkuknya sayang.
"Kau memikirkan sesuatu hyung? Baru hari ini aku melihatmu berdiri di balkon, biasanya kau tak suka berada di balkon." Bisik Luhan dan Sehun berbalik menatapnya. "Hyu— Hyungie.. Kau menangis? Ada apa?" Tanya Luhan kuatir dan tersentak saat Sehun menarik tubuh Luhan dan memeluknya erat. "Hyung—" Luhan mencoba melonggarkan pelukan dari Sehun. "Tidak Luhan! Biarkan begini. Sebentar saja!" Sehun setengah memekik.
Luhan membelai punggung Sehun membalas pelukannya. "Luhan.." Suara Sehun serak memanggil namja mungil dalam pelukannya. "Apapun yang terjadi— apapun itu, jangan tinggalkan aku." Sehun mengeratkan pelukannya tak ingin melepaskan Luhan. Namja mungil itu mengerutkan dahinya tak mengerti. "Aku mencintaimu hyung— yakinlah aku tak akan meninggalkanmu." Sehun melonggarkan pelukannya menatap dalamnya mata Luhan. "Apapun yang terjadi nanti, ingatlah bahwa aku mencintaimu..sangat!" Sehun kembali memeluk Luhan yang masih tetap kebingungan. Ada apa dengan Yeonseok hyung pikirnya, Luhan pun tetap membelai punggung Sehun, menepuk pelan menenangkannya.
"Ayo hyung kita istirahat—" Luhan melepaskan pelukannya begitu juga Sehun dan menariknya masuk kedalam membantu Sehun membuka semua pakaiannya dan menggantinya dengan piyama. Luhan membawanya ketempat tidur menariknya dalam pelukannya. "Hari ini biar aku yang memelukmu okay hyung—" Sehun hanya mengangguk mengikuti apa yang Luhan katakan, merebahkan kepala Sehun di lengan Luhan yang merengkuh dalam pelukannya, namja tampan itu pun merasakan kenyamanan yang tak pernah di dapatkannya. Luhan membelai pelan wajah Sehun menariknya masuk ke dalam ceruk lehernya sambil membelai punggung namja tampan itu sambil menyanyikan lagu 'skin to skin' kesukaannya secara lembut.
Take your time
I'll be right here with you in the longest fightNever will neglect you I'll stay by your sideNever would direct youIf I'm left behindWill I still feel your touch
Will I still be your love
I wanna go beyond
I wanna go to farNow tell me I'm the only one
Skin..toskin..
Lirik itu membuat Sehun mengeratkan pelukannya pada Luhan dan menghirup aroma namja mungil yang kini merengkuhnya. Sehun pun terlelap sampai pagi datang menyapa—
~I'M NOT HIM~
.
.
.
.
Sehun mengeliat saat matahari membiaskan sinarnya disela-sela tirai kamar, matanya mengerjap berusaha terbuka dan tangannya meraba-raba mencari sosok tadi malam yang merengkuh erat tubuhnya. "Luhan —Lu.." Suara serak Sehun memanggil namja mungil itu, dan matanya kini terbuka lebar tersadar tak ada siapapun, ia hanya sendiri dikamar.
Sehun berlari keluar kamar dan menuruni tangga dengan cepat sambil berteriak-teriak memanggil—
"LUHAN.. LU—" Sehun membuka semua kamar termasuk kamarnya dan kamar orang tuanya yang kosong. Ahh perpustakaan! Pikirnya dan Sehun melebarkan langkahnya menuju perpustakaan, kosong. Sehun terus membuka setiap ruangan yang tertutup. Termasuk ruang makan keluarga, ruang tamu, kantor appa-nya. Semua kamar tamu dan garasi juga gudang. Setiap maid yang ia tanya selalu gelagapan dan Sehun tidak sabaran menunggu. Sebelum mereka mengatakan Luhan dimana Sehun dengan cepat melangkah terus mencari.
"LUHAAAN.." Kosong.. Kemana semuanya? Apa appa dan eomma membawa Luhan pergi jauh darinya? ANDWAE— pikirnya, langkahnya pun makin lebar mengarah ke ruang makan dekat taman dan membuka pintu dengan kasar.
"LU—"
"Hyung.."
"—han.." Sehun menatap sosok yang ia cari-cari dari tadi jantungnya berdetak kencang, nafasnya terengah-engah dan terpancar rona bahagia diwajahnya menatap Luhan yang kini berada di ruang makan terbuka di dekat taman bunga milik eomma-nya bersama orang tuanya juga Bai Xian. Mereka saling mengernyitkan dahi mereka, bingung dengan kelakuan Sehun yang seperti kehilangan sesuatu yang penting. Mungkin ada sedikit benarnya, tetapi yang pasti Sehun takut kehilangan Luhan.
"Kau kemana saja? Aku mencarimu disetiap sudut ruangan Luhan." Ujar Sehun kuatir, Luhan yang membawa bowlful salad buah buatannya hanya terkekeh melihat namja yang dimatanya Yeonseok ini mencarinya diseluruh sudut rumah.
"Hyung —kau mencariku seperti aku ini barang hilang." Luhan mendekati Sehun dan menatapnya lembut. "Lihat ini..Aku tak bisa pergi darimu hyung, kau telah mengikatku..jika kau lupa." Luhan memperlihatkan cincin di jari manis sebelah kirinya, cincin yang diberi Yeonseok saat melamarnya dulu. Sehun bernafas lega walau terlihat tak suka dengan cincin yang bersarang di jari manis Luhan. Aku akan membelikan yang baru untukmu Luhan, dariku! pikirnya. Egois? Sangat— Sehun ingin Luhan menjadi miliknya sendiri.
"Duduk lah Sehun, nikmati kebersamaanmu dengan Luhan ge sementara waktu." Bisikan Bai Xian menyadarkan lamunannya dan ia menatap namja bermulut tipis juga tajam yang tersenyum miring itu dengan penuh kebencian.
"Auntie..Uncle.. Aku berangkat.. Pai.." Bai Xian melambaikan tangannya dan mengecup pipi Luhan. "Aku pergi —ge." Luhan tersenyum manis pada Bai Xian sambil mengangguk.
"josimhae..Xian." berbalik setelahnya menarik Sehun duduk untuk sarapan.
"Lu~ aku mau itu." Ucap Sehun manja, Seo Hyun yang melihat itu melotot.
"Yak! Saekki-ya, ambil sendiri—dasar anak bungsu! Manjanya minta ampun." Pekiknya saat melihat Sehun yang berlagak manja, Tae Woo sang appa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gwaenchana eomma, hyung memang sangat manja dan akhir-akhir ini malah bertambah sifat manjanya." Sahut Luhan sambil menuangkan salad buah kedalam mangkuk. "Tapi— kenapa tadi eomma bilang anak bungsu?" Tanya Luhan dan seketika Seo Hyun, Sehun juga Tae Woo pucat pasi dengan pertanyaan Luhan.
"AHH— itu..itu maksud eomma aku seperti anak bungsu saja..iya..begitu kan eomma..hahhaaha.." Sehun memekik tergelak menutupi wajahnya pucat juga keringat dingin akibat kata-kata eomma-nya dan dengan cepat menjawabnya dan Luhan menatap Seo Hyun yang masih pucat.
"Ah! Omona! Ahaha..aigo— aku semakin tua dan bahasaku pun jadi amburadul, benar yang dikatakan Yeonseokie —haha..jincha.." Seo Hyun menepuk lengan Luhan. "Sudah lupakan, jja— meogda. Makan yang banyak." Ajaknya.
"Tentu saja hyung sisulung, dan si magnae ada Sehun-ah yang masih kuliah di Tokyo. Eomma tidak terlihat menua, dan eomma tetap cantik dimataku." Sahut Luhan sambil menawarkan telur gulung pada Seo Hyun membuatnya hangat dengan perlakuannya. Semuanya terlihat canggung saat Luhan menyebutkan nama Sehun.
"Mudah-mudahan Sehun bisa makin dewasa dan tidak membuat darah tinggi eomma naik lagi. Aku berdo'a agar Sehun bisa seperti-mu hyung dan cepat menikah dengan kekasihnya." Ucap Luhan sambil menggenggam jemari Sehun yang kini menatapnya sendu.
'Aku ingin menikahi-mu Luhan hyung.' Ucap Sehun dalam hatinya.
Andai saja Sehun tak memiliki kekasih, tentu saja aku akan menikahkanmu dengannya sayang —gumam Seo Hyun dalam hati sambil terus memandang Luhan.
"Bilang aaa!" Luhan mengarahkan sumpit berisi telur gulung pada Sehun, dengan cepat namja tampan itu menyambarnya.
"Aaa.. Ummh.. Masitta—" ucap Sehun yang terus mengunyah sambil menunjuk apapun yang ia suka agar Luhan terus menyuapinya sampai kenyang sebelum ia bersiap-siap ke kantor.
Tuan dan Nyonya Oh menghangat melihat itu walau mereka berdua tidak bisa membenarkan apa yang terjadi sekarang.
.
.
.
Drap.. Drap.. Drap—
Bunyi keras derapan langkah lebar menggema di setiap lorong. Sosok namja tampan dengan tubuh proposional yang mengenakan stelan kantor biru hampir legam melangkah keruang yang akan ia tuju, namja itu Kim Jongin atau yang biasa kita kenal Kai. Langkahnya terhenti saat menatap pintu kayu berukiran emas dihadapannya, mengetuknya sebentar sampai terdengar suara yang menyerunya 'masuk'. Kai pun memasuki ruangan itu dengan elegannya, menatap seseorang yang tengah membuka tiap lembar portfolio.
"Sehun! Kita harus bicara!"
Sehun menutup portfolio yang ia baca mengadahkan kepalanya menatap namja mata tajam dihadapannya. Ia pun hanya memperlihatkan wajah datar tanpa ekspresi sedikitpun, ia tak perduli walaupun saat ini Kai menatapnya seakan-akan ingin membunuhnya.
"Bukankah kita punya kesepakatan?!" Tanya Kai tegas sambil menunjuk kearah Sehun dengan telunjuknya.
Sehun bangun dari kursinya. "Aku membatalkan kesepakatan itu—Mian.." Sehun mengucapnya cepat dan meminta maaf, sesungguhnya Sehun menyesal tetapi Kai hanya melihat namja yang berwajah dingin dengan keangkuhannya.
Kai terkekeh mengejek. "Apa kau juga menginginkan Luhan—ku, Sehun?" Tanya Kai terdengar mencela.
"Dia bukan Luhan—mu, cam kan itu hyung!" Jawab Sehun kesal dan Kai menggeram menggeretakkan giginya menahan amarah. Sehun menatap mata Kai dan rahangnya mengeras.
Kai menarik nafasnya dan menghempasnya berusaha santai menahan emosi.
"Tapi aku dengar kau akan menikah dengan anak dari tuan Do tahun ini, chukhae—" ucap Kai santai sambil tersenyum miring membuat nafas Sehun tercekat. "Sehun.. Sehun.. Tsk..tsk.. Baiklah aku memaklumi semuanya, tapi jika saatnya tiba —berhentilah menjadi Yeonseok, kau bukan dia." Kai memberikan smirk terbaiknya sambil mengarahkan telunjuknya yang ia gerakkan tersenyum mengejek kearah Sehun yang terdiam kesal, Kai melangkah ke pintu dan Sehun hanya mengepalkan tangannya sampai ujung kukunya memutih di balik meja kerjanya —seketika langkah Kai terhenti. Apa lagi maunya namja hitam ini gumam Sehun dalam hati.
"Oh!" Kai berbalik. "Aku dan Luhan menunggu undangan pernikahanmu Sehun, jangan lupakan kami okay. Dan satu hal. Aku tidak suka berperang dengan anak ingusan—aahahaha.." Kai terkekeh sambil menutup rapat pintu ruang kerja Sehun.
"AAARGHHH.. BRENGSEEKK!!"
SRAK! BRUAK!
Sehun menggeser kasar map dan portfolio diatas mejanya semua berserakan dilantai, ia meluapkan kemarahannya tak terima dengan semua yang Kai katakan. Ia memang masih mencintai Kyungsoo tapi ia tak mau kehilangan Luhan apa lagi sampai menikah dengan Kai, tidak..Sehun tidak mau itu terjadi. Sehun memang telah melupakan Kyungsoo, banyak panggilan dan pesan singkat yang dikirimkan kekasihnya itu tapi Sehun seperti menutup diri dari Kyungsoo kekasihnya dan memprioritaskan Luhan, sampai ia tahu sendiri dari appa—nya bahwa tuan dan nyonya Do ingin menikahkan mereka secepatnya.
Ceklek!
"Ya Tuhan—hyung..apa yang terjadi?" Sehun yang membenamkan wajahnya diatas meja menatap Luhan yang baru datang membawa bekal makan siang untuknya. Kemeja biru laut yang dipakai Luhan membuat wajah putihnya makin menyiratkan kelembutan padahal ia seorang namja dan itu membuat Sehun merasa damai. Luhan meletakkan bawaannya diatas meja dan mengambil beberapa portfolio juga map yang berserakan dilantai. Ia merapikannya sambil meletakkannya kembali pada tempatnya.
"Han-ah~"
Sehun memanggilnya, terdengar sangat lelah dan sedikit manja. Luhan mulai kuatir. "Apa yang terjadi padamu sayang?" Tanya Luhan bingung saat mereka duduk diatas sofa ruang kerja Sehun. Sesaat Sehun menatap lekat mata rusa Luhan dan menurunkan pandangannya pada bibir plum yang sering ia kecup. Sehun ingin lagi mengecupnya, ia mendekatkan wajahnya dan menarik tengkuk Luhan, mengecup lembut bibir namja mungil yang menurut Sehun tidak terkalahkan rasa manisnya, ia melepaskan sentuhannya dari tengkuk Luhan dan meletakkan kedua tangannya di kedua sisi bahu namja mungil itu sambil terus memangut lembut bibir plum yang tak bisa Sehun lupakan. Kedua lengan Luhan ditarik keatas, di letakkan pada leher namja tampan itu dan Luhan membiarkan Sehun melakukannya sambil memperdalam ciuman mereka, sambil mengeratkan pegangannya pada leher namja tampan itu Luhan membalas pangutan Sehun yang menuntut.
Namja yang lebih mungil itu selalu saja mengernyitkan dahinya saat Sehun melumat bibirnya. Bagaimana bisa cara Yeonseok hyung mempermainkan bibirku sangat berbeda, dan ini yang kedua kalinya aku merasakan ciuman dalam Yeonseok, sangat nyata perbedaannya, sama-sama memabukkan tapi sangat berbeda. Gumam Luhan dalam hati tetapi ia terus saja menepisnya. Pangutan mereka berhenti beberapa saat untuk menghirup udara sebanyak mungkin dan Sehun kembali melumat bibir Luhan sambil mendorong dadanya sampai tubuhnya berbaring diatas sofa, saat pangutan itu terus berlanjut Sehun membuka matanya menatap dari dekat bulu mata lentik Luhan, ia ingin lebih —ia ingin Luhan. Sehun melepaskan pangutannya dan bibirnya turun membelai leher jenjang Luhan—
"Mmhhm..hyung~"
Lenguhan dari bibir simungil terdengar indah saat Sehun mengecup dan mejilati rasa manis dan mengecapnya lagi penuh kasih diselingi nafsu. Jilatan itu menjalar ke telinga Luhan dan seketika tubuhnya bergetar saat Sehun membisikkan kata—
"Luhan..aku..menginginkanmu.." Sehun menjilat lembut cuping telinga Luhan dan menggigitnya pelan. "Kau milikku Luhan —milikku.." Bisiknya lagi dengan nafas memburu menyapu telinga Luhan dan membuatnya melenguh.
"Nghh.." Sehun makin mendidih, gairahnya memuncak saat mendengar namja mungil yang ia tindih mengerang, ia rasa terbakar dan jemarinya seketika dengan cepat membuka kancing kemeja Luhan sambil terus mengecup jakun Luhan yang hampir tak terlihat.
"Hy—ahh..Hyungiehh..stop it..pleasehhh.." Luhan mendorong dada Sehun agar berhenti dan menjauh—nafasnya tersengal-sengal. Wajah Sehun yang sayu seketika merengut.
"Wae?" Tanyanya pada Luhan.
"Ini dikantor, aku tidak mau tiba-tiba ada yang masuk hyung." Luhan membenarkan cara duduknya dan merapikan kemeja berikut mengancing beberapa yang terbuka.
Sehun menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sambil memijit ujung pangkal hidungnya, maafkan aku Luhan gumamnya dalam hati. Ia menatap Luhan yang sedang mengancing kemejanya sambil tersenyum. Kyungsoo maafkan aku yang telah membagi cintaku untuk namja mungil ini, maafkan aku Kyungsoo, Sehun bermonolog dalam hatinya.
"Hyung makan ya..aku sudah memasak banyak untukmu." Luhan membuka kotak bekalnya dan Sehun mengangguk mengiyakan. Mereka bersama-sama menikmati makan siang dengan Luhan menyuapi Sehun seperti biasa.
"Bagaimana? Kau suka hyung?" Tanya Luhan sambil menyapu bekas makanan dipinggir bibir Sehun. "Umm..masitta.." Angguk Sehun sambil terus menerima suapan dari Luhan.
Tok.. Tok.. Tok..
Tok.. Tok.. Tok..
Bunyi ketukan dari luar membuat makan siang Sehun terhenti "masuk—" ucap Sehun dan pintu pun terbuka.
"Sudah kuduga, gege pasti disini.." Bai Xian tersenyum manis.
"Ada apa Xian?" Tanya Luhan sambil terus menyuapi Sehun makan. Bai Xian melihat itu dengan kesal dan mendegus dalam hatinya..dasar manja.
"Ge.. Aku membutuhkanmu, kau harus ikut aku sekarang ppalliii~.." Rengek Bai Xian dan Sehun muak melihatnya, ia terkekeh dalam hati sambil bergumam..hahh akting!
Xian menarik lengan Luhan sampai bekal yang ada di tangannya hampir terjatuh.
"Sebentar Xian.." Luhan meletakkan bekal Sehun diatas meja. "Hyung, aku pergi sebentar..jangan lupa dihabiskan..aku janji takkan lama.." Ucapnya dan tersenyum manis pada Sehun.
"Ne, jangan lama, cepat kembali —arra—" ucap Sehun sambil tersenyum miring pada Bai Xian setelah Luhan menjawab "tentu saja.."
.
.
.
.
~I'M NOT HIM~
.
.
.
"Hyung tenanglah.." Mata Bai Xian jengah melihat Kai sedari tadi mengumpat-umpat tak jelas.
"Bagaimana aku bisa tenang sedang calon 'suamiku' ada diruangan sehun?" Kai mondar mandir diruangannya ditemani Bai Xian yang pusing melihat Kai seperti setrika.
"Bagamana jika Sehun menyentuh Luhan ku Baek? Ouhh— aku bisa gila. Aku akan menariknya keluar da—"
"Hajima! Biar aku saja, hyung tunggu disini saja okay." Potong Bai Xian cepat sembari bangun dari sofa dan melangkah keluar.
"Sabar Kai, sabar—setidaknya kau akan menikah dengan Luhan..ya akhirnya.." Gumamnya menenangkan hatinya sambil menunggu Bai Xian membawa Luhan kehadapannya.
Kai tersenyum-senyum sendiri saat Bai Xian mengatakan padanya bahwa Tuan dan Nyonya Oh akan menikahkannya dengan Luhan setelah Sehun menikah dengan anak tunggal dari Tuan dan Nyonya Do.
Setelah aku menikah dengan Luhan, kami akan tinggal di jepang dan meneruskan usaha yang dikelola uri—appa disana, ya aku akan memboyong Luhan dan Baekhyun kesana gumam Kai dalam hati, berharap semua keinginannya menjadi kenyataan.
Ceklikan pintu terbuka membuyarkan lamunannya. "Kai.. Kau memanggilku? Xian bilang padaku, bahwa kau mencariku..benarkah?" Tanya Luhan.
Kai melangkah mendekati Luhan dan mengapit kedua jemari tangannya. "Iya..aku ingin mengajakmu makan siang, kau belum makan kan?" Luhan mengernyitkan dahinya. "Kai.. Aku sedang makan siang tadi dengan Yeonseok hyung diruangannya, bagaimana aku bisa meningg—"
"Ayolah ge! Kau jangan memikirkan dia terus, kau harus memikirkan anak kalian juga..nanti aku yang menghubungi Yeonseok hyung, eotte?" Potong Bai Xian.
"Tidak Xian.. Aku tak bisa meninggalkannya, bagaimanapun Yeonseok hyung harus ikut, atau aku tak mau pergi." Rajuknya sambil bersedekap.
Kai menganggukkan kepalanya dan mengangkat bahunya pasrah kearah Bai Xian menyetujui karena tak ada jalan lain, membuat yang dituju menghela berat nafasnya sekaligus kesal dengan perilaku gege—nya. "Haaahh... Arraseo..arraseo, aku akan mengajak Yeonseok hyung juga huftt—" jawab Bai Xian kesal dengan pandangan sekilasnya kearah Luhan yang kini tersenyum bahagia.
"Begitu baru benar, ya kan Kai?" Yang di tanya hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman terpaksanya, yang penting ada Luhan gumam Kai dalam hati.
.
.
.
Sehun menatap layar ponselnya, beberapa panggilan membuatnya hanya menatap layar tersebut. Nama 'Kyungsoo' yang tertera di layar ponselnya, berkali-kali layarnya berkerlap-kerlip karena panggilan tersebut tetapi Sehun tetap saja hanya menatap layar tersebut, ia menarik dasi dari lehernya agar udara masuk lebih banyak dalam tenggorokannya sambil sesekali memijat dahinya, jarinya hampir menekan dan menggesernya tetapi ia batalkan dan kembali menatap layar itu ragu.
"Aahh.. Apa yang harus aku katakan padanya.." Sehun bermonolog sambil menatap kearah jendela ruang kerjanya, meletakkan dahinya pada dinding kaca dan menutup matanya terdiam beberapa detik tetapi terbuka setelahnya karena tepukan kecil dari belakang, Sehun berbalik menatap namja mata rusa dihadapannya.
"Kau tak menghabiskan bekalmu..waeyo?" Tanya Luhan sambil membenarkan dasi dan jas Sehun yang terlihat berantakan.
"Lebih baik aku tidak makan jika tidak ada kau Lu—" ucapnya lembut dan kedua telapak tangannya menangkup pipi Luhan lalu mengecup keningnya sayang, namja mungil itu pun menutup matanya menikmati benda lembut yang menempel di dahinya.
"Kai dan Xian ingin kita makan siang bersama diluar." Ucap Luhan saat Sehun melepaskan kecupan di dahinya, Sehun menatap lembut namja mungil dihadapannya. "Haruskah kita pergi sayang?!" Tanya Sehun tegas dan tersirat nada tidak sukanya saat mendengar nama Kai disebut Luhan. Ahh —namja itu lagi lirihnya dalam hati.
Luhan menundukkan pandangannya agak ragu dan takut namja tampan di hadapannya ini marah. "A—aku tidak akan memaksamu hyung.." Suara Luhan bergetar membuat Sehun tersadar dengan apa yang ia lakukan. Ouhh tidak —aku mulai kasar lagi. "Maafkan aku Luhan, maafkan aku sayang.. Kau tau aku..aku cemburu saat kau berada di dekat Kai." Luhan mengadahkan wajahnya tersenyum tulus menatap Sehun. "Kai hanya temanku, dan kau nyawaku Yeonseok hyung, aku hanya mencintaimu." Ucap Luhan dan itu membuat Sehun semakin sedih dengan posisinya yang sudah tentu tidak ada dihati Luhan. Ironis.
.
.
Sehun menatap tajam kearah Kai saat Luhan menyuapkan sepotong beefsteak kedalam mulut namja tan disampingnya. "Steak milikmu sepertinya lebih enak dan lembut Lu— aku mau lagi.." Ucap Kai sambil membuka mulutnya.
"Ini Salisbury steak, dagingnya dicincang dahulu sebelum di bentuk dan dibakar." Jawab Luhan sambil menyodorkan lagi daging steak—nya pada mulut Kai yang terbuka. Kai mengajak Luhan menikmati makan siang di Steakhouse.
Bukan hanya bertiga tapi Bai Xian dan namja yang terkenal si happy virus juga ikut jika berhubungan dengan yang namanya makan enak. Chanyeol sedang asik menjepret steak yang ia pesan dan memasukkannya kedalam blog—miliknya.
"Apa setiap sebelum makan, itu yang kau lakukan?" Tanya Bai Xian sambil terus menatap Chanyeol yang sedang asik dengan hasil jepretannya.
"Tentu saja Baekhyunnie..lihat..lihat.. Ini blog yang aku buat, semua restoran dengan makanan yang terkenal lezatnya, termasuk Steakhouse ini. Wuaaah..cepat sekali makanmu Baekhyunnie, sudah habis tak tersisa..tsk..tsk.." Chanyeol berdecak melihat piring Bai Xian yang telah kosong sambil menjepretnya.
"Tentu saja, makanan enak didepan mata untuk dinikmati, bukan untuk dijepret sampai dingin atau hanya jadi mainan untuk pisau dan garpu mu Chanyeol—" sahut Bai Xian sedikit memekik berusaha menyindir Sehun, yang disindir hanya menatapnya sekilas tak perduli.
"Hyung~ kau tidak makan, hanya memotong dagingnya saja, mau aku suapi?" Tanya Luhan, Sehun menarik dasinya sedikit dan menatap Luhan. "Aku hanya ingin pulang." Jawab Sehun sambil menarik lengan Luhan dan menggenggam erat jemari namja mungil itu, Kai menatapnya jengah.
"Kau bisa pulang sendiri jika kau mau 'ye-on-se-ok'—hyung.." Ucap Bai Xian sembari mengeja nama Yeonseok dan menatap Sehun dengan kerlingan matanya seperti mengejek.
"Hhhh..." Sehun menghela nafasnya dan seketika berjengit saat getaran terasa pada saku celana kantornya. Luhan juga merasakan getaran tersebut karena Sehun menggenggam jemarinya tepat dibagian saku celana Sehun.
"Hyung~ponselmu bergetar." Lirihnya pelan dan Sehun melepaskan genggaman tangannya lalu merogoh saku celana mengeluarkan ponselnya melihat nama yang tertera pada layar, Sehun seketika kaku dan berusaha memasukkan kembali ponselnya kedalam saku.
"Siapa?" Tanya Luhan. "Kenapa tidak diangkat hyung?" Tanya Luhan, Kai yang melihat itu pun ikut bersuara—
"Lebih baik diangkat saja, mana tau itu penting." Ucapnya sambil mengangkat kedua bahunya lalu terlihat smirknya seperti tau siapa yang menghubungi Sehun.
"Iya hyung diangkat saja, mana tau itu penting." Gumam Luhan membuat Sehun sweatdrop tak bisa berkata-kata.
"Ne..tunggu sebentar eoh, aku takkan lama." Sehun kaku walau bisa menutupinya, ia bangun dari kursinya dan berjalan kearah toilet sambil menekan dan menggeser tanda hijau pada layar.
"Yeo—yeoboseyo.." Sehun berusaha memelankan suaranya.
"Kau tega padaku~" Jawab seseorang dalam ponsel.
"N-ne?"
"Sehun! Hampir dua bulan aku menghubungimu tapi tak pernah kau angkat, aboeji bilang kau sibuk, jeongmarimnikka?" Suara ini sangat Sehun kenal, tentu saja.
"Kyungie hyung— mian, aku memang sibuk, pekerjaan membuatku selalu melupakan ponselku, ke—kenapa kau tidak menelfonku dikantor?"
Oh —ayolah sayang! Apa harus seperti itu?"
"Y—ya setidaknya kau bisa menghubungiku langsung kekantor."
"Sudahlah tak usah dibahas lagi. Aku punya kejutan untukmu sayang."
Sehun mengernyitkan dahinya dan berbicara kembali pada Kyungsoo di ponsel. "Kejutan?"
"Ne —kejutannyaaa a-da-laaah, AKU SUDAH DI SEOUL— SURPRIIISE.." Teriak Kyungsoo dan teriakan itu membuat Sehun terkejut luar biasa seakan-akan ada seseorang yang menusuknya, membuat matanya membola dengan wajahnya yang pucat pasi.
What!! Ky—Kyungsoo di Seoul? Maldo andwae!
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Hayo lo thehun.. Tuh unco dah dateng bawain boneka pororo buat aku ekekekek..
Ketauan ya ketauan de lo. Hayo lo rasain..ekekek.
Ahhh..akhirnya bisa ketik cerita ini setelah pekerjaan selesai.
Bujangnim yang ganteng jangan mayah-mayah melulu dunk, kita-kita kalyawan kan jadi tatut ikh. Dengelin suala-mu yang sexy bica-bica kami cemua hamil beljama'ah tau'. *pout (sok sexy)*
— ah elaaah curhat dia —
Ya udah jawab pertanyaan aja ahhh..
-ofratalos : jangan kuatirin D.O karena dia lagi nemenin aku belanja. Tunggu giliran dia datang kerumah qm okeh.. akakakakak.
-Seluhundeer : Kai emg jadi pengganggu nomer wahid disini chingu jangan kesel ya ama bang Kai. Untuk putus-nya Hunsoo juga kyk'a agak lama ya hihihi..dan setelah ini jangan marah ya ama unco karena dia aq buat jadi si pengganggu juga nantinya *yaaahhhh malah dibocorin -_- *
-LoveXiaoLu : entah kenapa aq suka karakter Kai disini. Kyk cowok licik tapi baik. *demi cinta ni yeeee*
-7hanami : ekekek iya ni, entah kenapa ada bagian-bagian tertentu yang aku merasa cocok menggunakan istilah korea..mian.
-selynLH7 : bukan naksir lagi, tapi udah cinta ni chingu ehehehe.. Karakter Sehun itu terinspirasi dari menejer ku di kantor yang nota bene anak bungsu sajangnim yang masih kuliah tapi mengambil cuti untuk membantu sang kakak mengelola perusahaan keluarga. Untuk putusnya Hunsoo akan terjawab nanti di..di..di chapter berapa ya?? Ahh lupa..ikutin aja ya chingu. Jangan bosaaaaannn ekekekek. *panjang bener ni jawaban- di rapel abiz*
Sungguh-sungguh aku ucapkan banyak terimakasih untuk semua yang masih mau membaca fanfic ini. Baik yang baru review, foll atau favs.
Kamsahamnida~
Yeorobun saranghae~~ *
