Tittle: GET DOWN (Meanie)

Cast: Jeon Wonwoo

Kim Mingyu

Others

Genre: Yaoi, bdsm/?

Rated: M

Disclaimer: Plot ceritanya murni punya author, Wonwoo juga punya author.

Summary: Jeon Wonwoo, harus hidup menderita dengan statusnya sebagai istri Kim Mingyu.

DON'T LIKE DON'T READ AND REVIEW PLEASE

.

.

.

.

.

Pagi baru saja menyapa seluruh dunia. Mentari baru mulai naik menyebarkan sinarnya yang hangat pada para penghuni bumi. Burung-burung bercicit indah menyambut pagi. Aktifitas harian sudah mulai berjalan. Pagi yang ten-

"GYAAAA!"

Ang, setidaknya sebelum jeritan itu memecah ketenangan pagi hari itu.

Seorang pria yang tadinya tertidur pulas di balik selimutnya, tiba-tiba saja melonjak karena teriakan nyaring yang sudah menariknya paksa dari mimpi indahnya. Pria itu tampak linglung karena masih setengah sadar, namun satu yang ia sadari. Seseorang yang semalam tidur sambil ia peluk, kini taka da di sisi lain tempat tidurnya.

Maka pria itu bangkit. Dengan langkah cepat menghampiri kamar mandi yang merupakan sumber teriakan itu.

"Ada apa, Jeon Wonwoo?" Tanya Mingyu.

Matanya terbelalak, di lantai kamar mandi, Wonwoo terduduk dengan darah yang mengalir dari selngkangannya. Seketika Mingyu panic.

"A-hiks. .. aku jatuh. . Ming-yu ya. .. hikss. . " Wonwoo menangis, rasanya sakit sekali. Perutnya seolah-olah dihujam oleh ribuan pisau. Ngilu dan perih sekali.

Tanpa bicara apapun, Mingyu menggendong Wonwoo ala bridal, membawanya keluar dengan langkah cepat. Agak berlari, ia harus kerumah sakit sekarang juga.

"LEE SEOKMIN, SIAPKAN MOBIL!" Perintahnya.

.

.

.

.

Mingyu membawa turun Wonwoo di gendongannya. Berlari dengan cepat masuk kerumah sakit. Beberapa perawat langsung menghampirinya ketika ia berteriak.

"Ia sedang hamil, dan terjatuh dikamar mandi!" Jelasnya panic, pada para perawat itu.

Dengan cepat Wonwoo di baringkan di ranjang rumah sakit dan dibawa ke unit gawat darurat.

"Maaf, tuan. Anda harus menunggu diluar." Ujar seorang suster, ketika Mingyu hendak ikut masuk kedalam.

Mingyu hanya mendengus. Kemudian menghempaskan tubuhnya di kursi tunggu rumah sakit. Ia benar-benar cemas sekarang. Ia takut bayinya kenapa-kenapa, tapi ia lebih takut kalau Wonwoo sampai terluka parah.

Mingyu mengusap wajahnya kasar. Ia bahkan belum apa-apa kerumah sakit. Ia masih mengenakan celana pendek selutut dengan hoodie hitam tanpa lengan. Wajahnya benar-benar kusut.

Mingyu bangkit, menuju toilet. Ia ingin membasuh wajahnya, supaya lebih segar dan kepalanya lebih dingin.

.

.

.

Pria itu terus menangkupkan tangan di depan dada. Matanya terpejam. Tubuhnya menyandar kebelakang. Sementara mulutnya terus menggumamkan doa. Berharap para dokter itu bisa menolong dua jiwa yang sangat dicintainya. Sudah sejam dia bertahan dengan posisi seperti itu. mencoba membunuh fikiran-fikiran negatifnya dan menggantikannya dengan optimis yang tinggi.

Pintu terbuka perlahan. Seorang pria muda berjas putih itu keluar dengan stetoskop yang masih menggantung dileher. Wajahnya menyiratkan ekspresi yang sulit ditebak. Pria bename tag Dr. Li Wenhan itu menatap Mingyu bimbang.

Dengan cepat Mingyu menghampiri pria itu.

"Bagaimana dok? Istri saya tak apa , kan dok? Kandungannya juga baik-baik saja, kan dok?" Kejar Mingyu cemas.

Dokter itu menghela napas panjang. "Tuan, bisa kita bicara diruangan saya?"

Mingyu mengangguk. Kemudian mengekori dokter itu.

.

.

.

Mingyu keluar dari rungan itu dengan wajah pucat. Ia mengusap wajahnya kasar. Benar-benar bingung. Mingyu meyandarkan punggungnya pada dinginnya dinding rumah sakit. Menatap hampa koridor kosong di depannya. Fikirannya kacau.

Apa yang harus ia katakana pada Wonwoo nanti? Ia benar-benar gila sekarang.

.

.

.

Mingyu menutup pintu dengan perlahan. Menatap Wonwoo yang terbaring dengan tangan diinfus. Menghela napasnya berat. Dan mulai mendudukkan dirinya di kursi yang ada disamping ranjang. Wonwoo sedang tertidur. Dia butuh banyak istirhat setelah kejadian tadi pagi.

"Wonu-ya, apa yang harus kulakukan? Ini sangat berat untukmu." Lirih Mingyu, menggenggam erat tangan Wonwoo. Meremasnya hangat. Air matanya serasa ingin mengalir. Tapi ia harus kuat. Wonwoo sedang lemah, kalau ia ikut lemah, lalu siapa yang menenangkan Wonwoo? Maka dari itu Mingyu harus kuat. Dia harus melindungi keluarganya.

.

.

.

"Tuan Choi, orang yang akan menyuplai bunga segar sudah datang." Ucap seorang wanita muda pada Seungcheol. Pria itu menatap sekertarisnya.

"Baiklah, suruh dia masuk." Ujarnya. Sambil merapihkan sebentar mejanya. Memasukkan berkas-berkas itu kedalam mapnya kembali.

Tak berapa lama, seseorang bersurai pirang panjang sepundak masuk. Orang itu mengenakan setelan putih yang tampak begitu pas di tubuhnya.

Seungcheol tak berkedip. Mimpi apa dia semalam? Yang didepannya ini malaikat atau bidadari, sih?

Seungcheol terus menatapnya. Hanyut dalam pesona kecantikkan orang itu.

"Halo, tuan choi!" Sapa Orang itu dengan senyum manisnya. Dan seketika Seungcheol merasa jantungnya merosot jatuh dari tempatnya. Seumur hidup baru kali ini dia melihat senyum yang begitu indah seperti itu.

"Eum? Tuan Choi?" Sosok itu mengibaskan tangannya didepan Seungcheol yang membatu dengan mulut sedikit terbuka. Salahkan ekspresinya yang benar-benar membuatnya seperti orang dungu.

Sungcheol tergagap. "Ah ya. Silahkan duduk." Gugupnya. Dapat ia dengar jantungnya berdetak dengan cepat. Astaga, dia bisa mati jantungan kalau begini tiap hari.

Orang itu kembali tersenyum ramah sambil mendudukkan dirinya disofa empuk yang ada di ruang kerja Seungcheol.

Seungcheol melirik kembali kartu nama yang tempo hari diberikan sekertarisnya.

"Tuan Yoon Jeonghan?"

"Ya, itu saya." Ujar sosok itu dengan senyum malaikatnya.

Lagi-lagi Seungcheol kembali terbengong dengan rahang jatuh dan ekspresi yang benar-benar bodoh. Tuan? Tidak salah nih.

Orang itu terlalu cantik untuk menyandang gelar 'tuan' tetapi ia juga terlalu rata untuk ukuran wanita. Seungcheol menatap intens sosok itu. matanya yang indah, kulitnya yang putih bersih seolah meminta Seungcheol untuk menciptkana kiss mark disana. Bibirnya yang tipis dan merah, seolah menggoda Seungcheol untuk melumat dan meraupnya kasar. Dan bagaimana mulut mungil itu mengulum juniornya yang menebal dan menegang sempurna.

Astaga. Seungcheol menggelengkan kepalanya cepat. Berusaha mengusir ilusi liar yang bisa saja membuatnya ereksi sambil berdiri. Ini gila.

"Ada apa, Tuan Choi? Apa ada sesuatu di wajah saya?" Tanya Jeonghan yang mulai bingung dengan tatapan lekat Seungcheol.

Pria bermarga Choi itu menggeleng. "Tidak ada yang salah, hanya saja kau terlalu cantik." Sayangnya, Seungcheol hanya mengatakannya dalam hati. Dia tak mungkin bicara seperti itu.

"Ah, tidak ada. Kalau begitu, mari kita mulai pembicaraan ini." Seungcheol memasang senyum formalitasnya dan duduk di seberang Jeonghan yang lagi-lagi mengumbar senyum manisnya.

Tuhan, kuatkan iman seorang Choi Seungcheol.

.

.

.

Kafe itu merupakan kafe terelit yang ada di Gangnam. Suasanya tidak terlalu ramai namun juga tidak sepi. Sehingga menimbulkan kesan nyaman.

Dua orang pria duduk sambil berhadapan. Yang satu bersurai pirang sedangkan yang satunya bersurai cokelat. Keduanya tengah menikmati capuchino mocca yang tersaji dengan bolu cokelat yang agak pahit-ini untuk menyeimbangkan rasa manis dari kopi yang mereka minum.

"Tapi kufikir sebaiknya kau tak usah ikut campur. Itu urusan pribadi." Ujar yang bersurai cokelat, Park Chanyeol.

"Tidak, ge. Aku akan tetap bertahan. Aku akan memperjuangkannya. Tak peduli seberapa beratpun halangannya. Aku akan mendapatkan cintaku. Ini tidak main-main." Ujar si pirang dengan wajah serius.

"Astaga, Wong Yibo! Wonwoo itu sudah berkeluarga. Ada banyak pria atau wanita lain yang lebih menarik untukmu. Aku tak suka bila kau merusak rumah tangga orang." Ujar Chanyeol tajam.

"Tidak, ge. Aku tak merusaknya. Wonwoo sendiri membalas perasaanku. Aku hanya ingin membahagiakannya. Aku tak bisa membiarkan dia menderita terus di rumah itu." Tandas Yibo dengan wajah serius, membalas tatapan tajam Chanyeol.

"Terserahlah, dasar keras kepala. Kalau kau ada masalah karena itu, jangan libatkan aku sedikitpun. Kau tidak kapok juga, padahal luka diperutmu cukup serius sampai kau kehilangan banyak darah. Dan harus menginap di rumah sakit selama dua minggu." Chanyeol membuang muka. Ekspresinya sangat masam. Benar-benar jengkel dengan adik sepupunya itu.

"Percayalah, ge. Aku takkan ceroboh lagi." Ucap Yibo, menatap lurus Gege-nya yang beberapa tahun lebih tua darinya itu. Chanyeol hanya mendengus mendengarnya.

.

.

.

Wonwoo mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba membiasakan pandangannya dengan sinar mentari yang menerobos masuk kedalam ruangan serba putih itu. Wonwoo menatap horror semua benda putih yang ada di hadapannya. Hampir saja ia histeris kalau tidak segera menyadari ada orang lain di ruangan itu. menandakan ini kenyataan, bukan mimpi buruknya seperti kemarin.

Wonwoo menatap Mingyu yang tertidur berbantalkan lengannya. Perlahan, Wonwoo menarik tangannya perlahan. Tidak ingin mengganggu Mingyu yang tertidur.

Namun rupanya, gerakan pelan itu berhasil mengusik Mingyu. Pria berkulit tan itu terbangun dan menatap Wonwoo lembut.

"Sudah bangun rupanya. Syukurlah." Ucap Mingyu. Namun wajahnya menyiratkan kegelisahan yang terpendam.

"Kau lapar?" Tanya Mingyu kemudian.

"Ini dimana?" Wonwoo justru balik bertanya.

"Ini di rumah sakit. Kemarin kau jatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan hingga tak sadarkan diri." Jelas Mingyu.

Wonwoo tertegun. Pendarahan. Lalu, bagaimana dengan kandungannya?

"Apa ia baik-baik saja?" Tanya Wonwoo kemudian.

"Dia? Ia siapa?" Bingung Mingyu.

"Anakmu, Kim Mingyu. Apa dia baik-baik saja di dalam perutku?" Tanya Wonwoo lagi.

Mingyu terdiam. Bingung harus menjawab apa. "Ia masih ada di dalam sana. Tenanglah." Sahut Mingyu pelan.

Wonwoo hanya kembali terdiam. Setelah beberapa jeda, ia kembali bicara. "Aku lapar."

"Tunggulah sebentar, aku akan keluar beli makanan."

.

.

.

.

Sudah seminggu Wonwoo dirawat dirumah sakit. Dan keadaannya setiap hari semakin meningkat. Mungkin karena Wonwoo merasa tak jenuh di sana, ia bisa berinteraksi dengan orang-orang lain. Berjemur di bawah mentari pagi, menghirup udara luar dengan tenang.

"Kau tahu, Wonu-ya?" Tanya Mingyu, pagi ini Mingyu sendiri yang menyuapi Wonwoo sarapan. Karena hari minggu, dan dia libur bekerja.

"Apa?" Wonwoo tampak berfikir sambil mengunyah makanannya.

"Hari ini kau boleh pulang." Sahut Mingyu, tersenyum lebar dengan gingsul lucunya.

Wonwoo terdiam. Mungkin kalau pasien lain, akan bersorak ketika diberitahu ia sudah boleh Wonwoo merasa kebalikannya.

"Benarkah?" Tanyanya datar. Sama sekali tak bersemangat.

"Ya, nanti sore kita pulang. Karena dokter harus memeriksamu sekali lagi siang ini." Sahut Mingyu menjelaskan. Wonwoo hanya mengangguk singkat.

.

.

.

.

"Sudah siap, Jeon?" Tanya Mingyu pada Wonwoo yang baru selesai berganti pakaian. Wonwoo hanya mengangguk singkat.

Mingyu baru saja selesai mengemasi semua barang-barang Wonwoo dan dia juga sudah menyelesaikan administrasinya. Maka mereka sudah boleh pulang.

Jam menunjukkan pukul lima sore. Masih cukup sore untuk menempuh sebuah perjalanan. Lagi pula jarak rumah sakit dan rumah mereka tak begitu jauh.

"Ayo," Mingyu meraih tangan Wonwoo yang diam saja. Dan mereka mulai berjalan bergandengan keluar rumah sakit.

Mingyu memasukkan tas berisi pakaian dan keperluan lain bekas di rumah sakit kedalam bagasi. Sementara Wonwoo sudah duduk manis di kursi sebelah kursi kemudi.

Mingyu masuk. Mulai menstater mobilnya.

"Kau lapar? Mau mampir beli roti kesukaanmu dulu?" Tawar Mingyu. Wonwoo menggeleng.

"Baiklah." Mobil mulai melaju.

Jalan raya tak begitu padat sehingga mereka bisa melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, Wonwoo diam saja. Matanya menatap keluar jendela dengan wajah lesu. Sebenarnya dia masih ingin di rumah sakit. Terdengar konyol memang. Tapi setidaknya, di rumah sakit tak ada yang mengiriminya kain berlumuran darah ataupun menelponnya secara gelap.

Mingyu juga diam. Ia hanya sesekali melirik Wonwoo dengan ekor matanya. Sementara tetap fokus mengawasi jalan raya di depannya.

Saat mereka akan berbelok menuju gerbang masuk komplek perumahan mereka, di sebuah taman yang cukup luas terlihat ramai dengan tenda-tenda kios yang berjajar rapih.

"Itu ada apa ya?" Gumam Wonwoo. Ia ingin turun dan melihatnya.

"Katanya ada festival kuliner musim panas. Mau lihat?" Tanya Mingyu. Pria tampan itu teringat pesan dokter, bahwa Wonwoo harus dibawa refreshing sesekali agar tak mudah stress.

Wonwoo mengangkat sebelah alisnya. Lalu mengangguk cepat. "Hu'um!" Sahutnya semangat. Dan demi apapun, dimata Mingyu itu terlihat sangat menggemaskan.

Akhirnya, Mingyu menepikan mobilnya sejenak di tepi jalan, di tempat mobil lain juga berbaris memanjang.

Mereka turun bersamaan, Mingyu menggandeng erat tangan Wonwoo seperti biasanya. Mereka memasuki area festival melihat-lihat.

"Mingyu-ya, bukankah beanie itu lucu?" Tunjuk Wonwoo pada sebuah beanie berwarna baby blue yang ada di etalase sebuah kios pakaian. Mingyu menatapnya.

"Kalau kau mau, kittta beli saja." Ucap Mingyu sambil menarik tangan Wonwoo, menghampiri toko tersebut.

Mingyu memakaikan beanie itu di kepala Wonwoo. Dan asli. Mingyu harus menahan dirinya mati-matian untuk tidak memangsa Wonwoo ditempat apapun.

Wonwoo yang memakai sweater berhoodie oversize warna putih yang lengannya menutupi setengah telapak tangannya, telihat begitu menggemaskan dengan beanie baby blue itu. dengan cepat Mingyu berbalik menghadap penjualnya, menanyakan harganya.

"Terima kasih sudah berkunjung!" Ucap pelayan kios itu setelah Mingyu membayar beanie itu.

"Astaga Mingyu-ya, apa harus aku memakainya sekarang?"

"Ya, sekarang. Kau terlihat sangat imut. Jangan salahkan aku kalau pulang nanti aku akan menyeretmu lagi." Bisik Mingyu di telinga Wonwoo.

Seketika Wonwoo pucat pasi. Moodnya hancur seketika.

"Aku hanya bercanda." Mingyu tertawa geli melihat tingkah Wonwoo yang sangat menggemaskan baginya.

"Ayo, bagaimana kalau kita lihat-lihat bagian makanan." Mingyu semakin mempererat pegangan mereka. Dan mulai berjalan menuju kios-kios jajanan tradisional.

"Gyu, aku mau sosis itu." Ucap Wonwoo.

"Sosis yang mana?" Mingyu mencari kios yang Wonwoo maksud.

Tangan si manis terulur menunjuk pedagang panganan ringan itu. "Yang itu, aku mau sosis yang besar itu dengan mayonnaise yang banyak." Ujar Wonwoo polos.

Entah kenapa Mingyu mereguk sendiri ludahnya. Ucapan polos Wonwoo terdengar luar biasa ambigu di telinganya. Lihat saja, daun telinga Mingyu sampai memerah karenanya.

"Ja-jadi kau ingin yang itu?" Tanya Mingyu, berusaha menstabilkan suaranya agar tak terdengar konyol.

"Hu'um. Aku mau sosis merah yang besar dengan mayonnaise yang banyak. Aku mau dua!" Wonwoo menjawab dengan polos lagi, bahkan kali ini mengacungkan dua jarinya membentuk V sign.

Mingyu tak sabar, ia menarik Wonwoo mendekat kepenjual sosis itu.

"Ahjussi sosisnya yang itu, ya." Ucap Mingyu pada penjual sosis bakar itu.

"Kau mau berapa banyak, anak muda?" Tanya Ahjussi tambun penjual sosis itu dengan senyum ramah.

"Ehem. . . " MIngyu melirik Wonwoo. Tadi pria manis itu bilang ingin dua, kan? Lalu, apa Mingyu juga mau?

"Aku minta empat, Ahjussi." Ucap Mingyu akhirnya.

"Ya! Kau pelit sekali!" Protes Wonwoo. Mingyu bingung mendengarnya.

"Aku ingin membawakan untuk Jihoonie juga!" Ujar Wonwoo lagi. Mingyu serasa jantungnya lepas saat melihat Wonwoo yang tanpa sadar mengerucutkan bibirnya imut. Tuhan, kenapa bisa ada makhluk semenggemaskan ini?

"Baiklah ahjussi, aku pesan sepuluh. Yang empat ditusuk yang enam dibungkus!" Seru Mingyu akhirnya.

Ahjussi tambun berapron merah itu tertawa melihat tingkah pasangan di depannya. "Baiklah, tunggu sebentar ya."

Mingyu dan Wonwoo duduk di kursi yang ada di depan kios itu.

"Gyu, aku haus." Rengek Wonwoo lagi.

"Mau es krim?" Tanya Mingyu. Ia tahu, Wonwoo sangat menyukai es krim. Pasti ia takkan menolaknya. Fikir Mingyu.

Wonwoo menggeleng lucu. "Aku mau bubble tea saja." Ucap Wonwoo dengan senyumannya, hidungnya mengkerut lucu bersamaan lengkungan lebar bibirnya.

Mingyu membatu. Kemana saja ia selama ini? Hingga baru menyadari kalau istrinya luar biasa imut dan menggemaskan begini? Mingyu merutuk dalam hati atas perlakuannya pada Wonwoo.

"Ahjumma! Buble teanya dua!" Teriak Mingyu pada penjual bubble tea yang tak jauh dari mereka.

"Rasa apa, tuan?" Sahut Ahjumma itu.

"Aku mau stoberi." Sahut Wonwoo.

"Rasa stoberi dua!" Teriak Mingyu lagi.

Wonwoo mengulum senyumnya. Ini pertama kalinya dia berani bersikap seperti pasangan normal lainnya saat bersama Mingyu. Tanpa pria manis itu sadari, ada perasaan nyaman yang menyelimuti dirinya. Sambil menunggu, tanpa sengaja Wonwoo menyandarkan kepalanya di pundak lebar Mingyu yang terus menggenggam tangannya.

Mentari sudah mulai berlalu. Sinar hangatnya tersisa di ujung cakrawala membentuk guratan-guratan jingga yang cantik. Sementara malam mulai menguasai angkasa. Dan udara dingin mulai terasa menerpa tubuh. Lampu-lampu jalan mulai menyala yang membentuk kerlap-kerlip yang cantik. Begitu pula di festival musim panas itu. semua tenda kios menyalakan lampu yang mengelilingi tendanya. Benar-benar cantik.

"Wonu-ya, pelan-pelan saja makannya. Kau bisa tersedak karena sosis besar itu." Ujar Mingyu dan detik berikutnya ia berjengit mencerna kalimatnya sendiri. Astaga, ambigu sekali.

Wonwoo terus melahap sosis ditangannya dengan semangat. Emngabaikan sudut bibirnya yang belepotan mayonnaise dan saus tomat. Dia tak peduli. Di bulan kedua kandungannya, ia jadi mudah lapar.

Mingyu hanya duduk sambil asik memperhatikan Wonwoo. Melihat istrinya makan saja dia sudah kenyang. Sehingga sosis itu hanya dipegangnya saja, baru dimakan sedikit.

Sementara Wonwoo sudah menghabiskan dua sosisnya. Dan dia masih terlihat lapar.

"Mau lagi?" Mingyu menyodorkan sosisnya kedepan mulut Wonwoo, dan dengan cepat Wonwoo melahapnya dengan ekspresi polos.

Mingyu mengerjap. Demi apa. Dari tadi percakapannya dengan Wonwoo begitu ambigu. Bisa-bisa dia horny hanya karena melihat Wonwoo makan sosis bakar. Argh. Apa yang kufikirkan?! Erang Mingyu dalam hati.

Wonwoo dnegan cepat mengambil alih dua pegangan sosis di tangan Mingyu, dan kembali memakannya dengan semangat. Sementara Mingyu hanya mengerjap-ngerjap melihatnya makan.

"Apa ada sesuatu yang aneh denganku?" Heran Wonwoo setelah dia selesai menghabiskan sosis jatah Mingyu itu, kemudian Wonwoo mulai mereguk bubble teanya dengan cepat.

Mingyu merogoh sakunya, mengeluarkan sapu tangannya. "Kau terlalu semangat makan sampai belepotan begini." Ucap Mingyu sambil membersihkan sisa-sisa mayonnaise dan saus yang terdapat di sudut-sudut bibir Wonwoo dengan sapu tangannya.

Setelah selesai makan dan membayar, mereka kembali berjalan lagi. Kali ini Mingyu memeluk pinggang ramping Wonwoo. Sedangkan tangan kirinya menjinjing plastic sosis tadi.

Mereka terus berjalan dan bekeliling di festival, membeli berbagai macam jajanan dan juga souvenir yang menarik bagi Wonwoo. Ingat, hanya bagi Wonwoo. Karena Mingyu lebih tertarik pada Wonwoo daripada festival itu.

Sekitar pukul delapan, Wonwoo mengajak pulang.

"Kau sudah lelah berjalan, ya?" Tanya Mingyu. Tangan kirinya sudah penuh jinjingan. Dan Wonwoo juga menjinjing beberapa plastic.

"Bukan begitu. Dari tadi aku merasa ada yang membuntuti kita." Lirih Wonwoo cemas. Mingyu mengedarkan pandangannya. Dia tak melihat siapapun yang mencurigakan. Namun akhirnya, ia menurut saja.

"Yasudah, ayo pulang." Mingyu kembali menggandeng posesif tangan Wonwoo dan mereka berlalu menuju mobil.

.

.

Mingyu memasukkan semua belanjaan itu kejok belakang mobil, dan kemudian ia duduk di kursi kemudi. Di sebelah Wonwoo yang sedang mengunyah tteok di pangkuannya.

Mingyu tersenyum tipis. Biarlah Wonwoo makan sesukanya. Itu lebih baik. Karena ia memang harus makan yang banyak, karena sekarang ada jiwa lain yang hidup di dalam perutnya.

Mingyu mulai melajukan mobilnya. Melanjutkan perjalanan pulang yang tertunda tadi.

.

.

.

Saat mobil Ferrari merah itu memasuki pekarangan rumah, Jihoon dan dua orang maid menyambut mereka.

"Jihoonie, di depan sana ada festival, dan tadi aku mampir melihhatnya." Cerita Wonwoo segera saja setelah turun dari mobil.

"Benarkah?" Tanya Jihoon antusias, ia harus mengimbangi semangat Wonwoo.

"Tentu saja! Aku juga membelikan sosis bakar besar dengan banyak mayonnaise!" Balas Wonwoo lagi.

Jihoon tersenyum lebar. "Wah, aku jadi lapar mendengarnya!" Jihoon tersenyum manis.

"Jihyun-ssi, tolong kau ambilkan semua bungkusanku di mobil." Pinta Wonwoo pada Jihyun yang berdiri dekat mereka. Sementara Mingyu sudah masuk rumah lebih dulu.

Jihyun mengangguk dan segera menuju garasi tempat mobil tadi diparkir Seokmin.

Tak sampai lima menit, Jihyun kembali dengan tangan kanan dan kiri yang penuh dengan jinjingan Wonwoo.

"Astaga, Jeon. Banyak sekali." Gumam Jihoon. Kemudian membantu Jihyun membawanya masuk kedalam.

Wonwoo menggiring keduanya menuju ruang santai. Tv sudah nyala karena Mingyu sedang tiduran di sofa sambil menonton variety show malam itu. Mingyu hanya melirik sekilas Wonwoo yang dengan semangat menunjukkan apa saja yang tadi dibeli Mingyu untuknya di festival. Dan Jihoon yang memberikan respons tak kalah semangat dengan Wonwoo.

Dalam hati Mingyu tersenyum, setidaknya biarkan Wonwoo bersemangat seperti itu untuk sementara. Karena mungkin sebentar lagi dia akan kembali murung karena kabar yang harus Mingyu sampaikan.

.

.

.

To be continued OR END?

Review Please

Note: Huft, yang minta dipanjangin ini aku udah panjangin udah 3K+ nih :'v tapi sebenernya aku gak bemaksud manjangin sih '-' inimah akunya aja keasikan ngetik nungguin buka. Tenang yang ini mah gak ada NC nya jadi nggak papa ya. Sengaja di chap ini aku banyakin meanie momentnya biar lebih manis dan lebih kerasa gitu. Sekali-kali gapapa ya. Oh ya dan aku makasih banyak buat yang review. Maaaf aku gak bisa bales satu-satu .-. dan yang nanya boleh sms gak? Sms aja. Aku jones kok :')

KECEPATAN UPDATE TERGANTUNG BANYAKNYA REVIEW