Disclaimer: Hetalia: Axis Powers © Himaruya Hidekaz.
Warning: Rating telah diganti menjadi M. Kegilaan biasanya Francis: implikasi seksual, imej telanjang bulat. Dark!Italy: blood, gore. Hint FrUk, FrPrus, FrIta –digampar-. Karena France adalah Ditto-nya Hetalia, yes? ;) –ditabok-
Chapter 6.5: Death Bed Part 2 (Au Revoir)
Sambil menutup dua buah pintu besar yang menghubungkan koridor sepi di dalam kediamannya dengan sebuah ruangan tempat tidur yang besar, mata biru France berputar di dalam soketnya dan melirik ke arah Italy yang telah berada di belakangnya, duduk dan menunggu dengan tenang di atas sebuah kasur besar berwarna biru yang jelas-jelas adalah miliknya yang sebentar lagi akan menjadi saksi mata kegilaan yang akan berlangsung di ruangan itu.
France meraih segerandol kunci perak dari dalam saku bajunya, memilah-milahnya sampai akhirnya ("Ah! Ini dia, kunciku yang manis,") ia menemukan sebuah kunci dengan ukiran mawar di bagian pegangannya, sebelum mengunci pintu besar itu dengan kunci yang tadi disebutkan yang diakhiri dengan suara 'cklik!' yang puas sehingga mengisolasikan ruangan tersebut sekaligus menjaganya dari dunia luar (kau tahu, dia belum ingin menghancurkan pikiran lugu Seychelles-nya yang cantik, dan terkadang Picardy pun masih belum terbiasa dengan 'kegilaan'-nya di atas tempat tidur kalau secara kebetulan salah satu personifikasi kotanya itu tak sengaja melihat –bahkan masuk- ke dalam kamarnya. Kejadian terakhir adalah ketika Picardy masuk ke dalam membawakan teh dan makanan kecil ketika France sedang melakukannya dengan salah seorang perempuan cantik warga negaranya yang bernama Jeanne—wanita itu sedikit mengingatkannya pada Jeanne D'Arc. Itu adalah isyarat bagi Picardy untuk berteriak malu sebelum pingsan di tempat, dan meninggalkan Francis dan Jeanne dalam keadaan canggung. Dasar, pikir France dalam hati sambil menggeleng-gelengkan surai emasnya. Itulah kenapa dia selalu memfavoritkan Picardy, bahkan lebih daripada Paris yang adalah kapitalnya. Untuk apa memilih Paris yang sudah 'berpengalaman' daripada Picardy yang masih terperangkap antara 'baik' dan 'buruk'-nya sisi l'amour?). Ia pun segera mengembalikan segerandol kunci perak tersebut kembali ke dalam saku bajunya dan menepoknya sekali lagi untuk mengeceknya. Terdengar suara gemerincing kunci yang bertubrukan dengan satu sama lain. Yap, aman.
Yah, sudahlah, pikir France sambil berputar dari tempatnya yang diikuti dengan sebuah senyuman yang jelas-jelas meneriakkan tanda kau-dan-vital -region-mu-milikku. Kakinya yang telanjang menapak-napakkan dirinya di atas lantai keramik beige yang dingin ketika France berjalan mendekati Italy yang masih duduk dan tersenyum di atas ranjangnya. Muka seorang inosen yang sebentar lagi akan dinodai kesuciannya oleh seorang pedobear berpengalaman.
Tapi, France tidak segera mengambil inisiatif duluan seperti yang biasanya ia lakukan ketika bersama England (menerkamnya, lebih tepatnya). Ia duduk dulu di sebelah Italy yang menengok dan melihatnya dan muka bingung. Betapapun senangnya France bahwa sebentar lagi ia adalah yang pertama untuk menikmati kesucian seorang Italy Veneziano, France masih tak percaya ketika Italy adalah yang pertama bertanya untuk melakukan hal 'itu' dengannya. Maksudnya, mungkin dia mengerti bahwa akhirnya umur Italy sudah mencukupi untuk hormon mulai mengambil alih seluruh indranya, tetapi ia masih tak mengerti Italy mau melakukannya dengannya, bukan Germany, bukan Japan, bukan Romano, tetapi dengan seorang France. (Ooh, ia cukup sadar diri dengan statusnya sebagai salah seorang negara kelebihan hormon yang sudah seharusnya dilabeli pedobear berpikiran jahanam yang kabur dari kebun binatang Tasmanian milik Australia. Menyesal? Tidak; ia amat bangga dengan status itu, sebenarnya)
"Uum, Italy?" tanyanya sambil melihat ke arah lelaki berambut coklat di sebelahnya. Yang ditanya memiringkan kepalanya sedikit, yang membuat France melanjutkan pertanyaannya.
"Kau…, yakin mau melakukan ini?"
Italy mengangguk antusias, "Tentu saja, fratello France! Aku mau aku mau aku mau!"
Okeh, France sedikit tidak yakin Italy mengerti apa yang baru saja dimintanya. Maksudnya, dalam khalayak umum, permintaan seorang anak yang meminta es krim dari orang tuanya harusnya amat sangat berbeda dengan permintaan seorang cewek meminta untuk bercinta dengan pacarnya, kan?
Jadi, "Uum… Italy, apa kau tahu sebenarnya apa yang ingin kita lakukan nanti?" Karena sebagaimanapun France adalah seorang pedobear berpikiran kotor, ia masih memberikan privasi bagi semua orang untuk menolak berhubungan badannya. Okeh, mungkin tidak untuk England. Juga Spain. Juga Prussia. Juga Picardy. Baik, bilang saja semua orang kecuali Italy Veneziano, Seychelles dan Sealand.
"Aah~, iya dong, fratello! Kita akan melakukan sesuatu yang dulu fratello pernah perlihatkan padaku di buku yang namanya intercourse itu, kan?"
Kalau misalkan seseorang tidak mengerti apa yang disebut intercourse itu, pasti dia akan mengira Italy sedang meminta permen lollipop rasa terbaru kepada kakaknya.
Walah, walah, ternyata nih anak diem-diem ngerti begituan juga, toh? Pikir France dalam hatinya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Tetapi aku masih tetap saja bingung, jadi… "Italy, kenapa kau tidak melakukannya dengan Germany saja? Dia pacarmu, kan?"
Untuk sesaat, France melihat ada sesuatu yang gelap menyala di dalam mata berwarna amber milik lelaki berambut coklat di depannya ini, sebelum menghilang (dan membuatnya berpikir bahwa itu hanyalah ilusi optik sesaat oleh karena umurnya yang sudah tua) dan kembali digantikan sinar cerah bagai matahari seorang Italy Veneziano yang biasanya.
"Vee~," desahnya sambil menunduk lesu, jari tangan bertaut-tautan malu dengan satu sama lain. "Kak France tau kalau kami berdua belum pernah melakukannya. Kalau aku pertama kali malah sama Germany, nanti aku malah kagok sendiri dan Germany malah akan terlalu sibuk baca buku intruksi karena nggak ngerti caranya…"
France seketika tertawa terbahak-bahak begitu mendengar jawaban Italy yang begitu polos. Rasanya tidak terbayangkan Germany dan Italy melakukan (bukan melakukan—merencanakan) awkward sex sambil membaca buku panduan di atas kasur sambil telanjang. Bisa dibilang sampai pagi pun mereka belum memulai sama sekali! Ooh! France mengasihani jiwa-jiwa malang seperti Germany yang tidak (belum; ia berencana akan mengajarinya nanti—sayang ia tidak tahu bahwa 'nanti' baginya sama saja dengan tidak ada) mengerti akan apa yang namanya nikmat bercinta itu!
Setelah beberapa saat, tawanya yang menggelegar itupun akhirnya memelan dan memelan, sebelum akhirnya hanyalah tersisa menjadi sebuah sesenggukan kecil yang keluar dari mulutnya. Terakhirnya, France membelai rambut emasnya sebelum menatap ke arah mata Italy dalam-dalam, sebuah senyuman kecil yang hangat sekarang telah menghiasi wajahnya yang tirus.
"Jadi, kau benar-benar mau melakukannya denganku, Feliciano Vargas?"
"Aah! Uum, yah, itu kalau fratello benar-benar suka padaku! Maksudku, dulu fratello pernah bilang bahwa intercouse itu sesuatu yang harusnya dilakukan bersama dengan orang yang disukai, kan?" ujarnya lagi untuk memastikan, sedang raut wajahnya berubah menjadi sedih. "Nnn… Ka-kalau kakak Francis tidak suka kepadaku, uum, ma-maka aku tidak akan memaksa! Aa—aku akan pergi sekarang kalau kakak tidak mau!"
Melihat wajah Feliciano yang mulai sedih dan akan beranjak pergi, Francis berubah menjadi sedikit panik (Ooh! Ia tidak akan melewatkan kesempatan indah seperti ini begitu saja!). "Ooh, tidak, tidak! Feli, aku sangat suka kepadamu! Aku sayang kepadamu, benar-benar sayang seperti seorang adik!" walaupun kalau dengan rasa sayang seperti adik-kakak gituh, mah, namanya inses, sih, lanjut France dalam hati dengan sedikit rasa bersalah.
Feliciano memberikan senyum senang yang sesuci sayap malaikat (sayap malaikat yang sebentar lagi akan menggugurkan bulu-bulu putihnya untuk memperlihatkan sayap iblis yang berwarna hitam pekat) kepada Francis Bonnefoy, sebelum mendekat ke wajah lelaki Prancis itu dan memberikan sebuah kecupan kecil di pipinya.
France tersenyum senang. Ooh, kenapa kau harus begitu manis, malaikat yang bernama Feliciano? Dan tangannya bergerak mengusap-ngusap rambut coklat muda lelaki Italia itu dengan penuh kasih sayang.
"Kalau kau bilang begitu," ujarnya sambil menurunkan tangannya, "-mari kita mulai sekarang, mon petit Feliciano?"
"Ooh, uum!" ia segera menepis tangan yang tadi dilanjutkan France untuk merenggut kerah bajunya, membuat orang Prancis itu menaikkan sebelah alisnya bingung. "Anu, bolehkah aku melepas bajunya duluan? Maksudku—aku tahu melepas baju itu termasuk salah satu bagian intim (France hampir membelalak kaget mendengar Italy menggunakan kata ini) dari intercourse, ta-tapi… A-aku malu, kak! Ra-rasanya, kikuk saja begitu, dilihatin orang sewaktu kita buka baju!"
France menatapnya untuk sesaat, sebelum bibirnya pecah menjadi senyuman penuh pengertian, dan mengangguk, sebelum berdiri dari tempatnya duduk.
"Aku mengerti, Feli. Kau –dan juga aku- akan membuka baju masing-masing dulu." Ia mengedipkan matanya centil. "Untuk sekali ini—boleh saja! Tapi mau tak mau kau harus melakukannya juga dengan Germany nanti, ya! Tetapi nanti, akan kukatakan dahulu, cobalah konsentrasikan pikiranmu hanya kepada kakak, ya?"
Feliciano mengangguk sekali, dan segera merebahkan dirinya di atas ranjang sambil melepas jaket trench coatnya dan melemparnya ke lantai sebelum berlanjut untuk membuka resleting celananya. Sedang France membalikkan badannya, berdiri di sebelah ranjang –punggung menghadap Italy yang sedang melepas bajunya-, tangan berkutat untuk melepaskan seluruh kain yang menempel di badannya. Dalam pikirannya memang France berpikir bahwa untuk malam ini ia tidak akan bermain terlalu 'liar' dengan Feliciano, menyerap dan mengambil hasil dari perkataan yang tadi diberikan oleh lelaki Italia itu bahwa permainan malam ini hanyalah percobaan praktek baginya. Tentu saja; France tahu satu-satunya orang yang ada di hati adik kecilnya itu hanyalah Germany, dan apa yang akan ia lakukan sekarang dengannya tidaklah lebih dari sekadar percobaan. Memang—intercouse adalah sesuatu yang kau lakukan dengan orang yang kau 'suka', tetapi kenikmatan terbesar dari skema penuh cinta kasih itu adalah melakukannya dengan orang yang kau 'cinta'. Dan France tahu, posisi 'cinta' itu tidak akan pernah dimilikinya—Italy sudah memiliki cintanya sedari dulu, dan ketika cinta itu tidak ada pun, ia telah menemukan penggantinya (yang sayangnya masih belum menyadari perasaannya terhadap Italy sama sekali. Ooh! France mengasihani jiwa malang bernama Germany yang tersesat di dalam kegelapan itu! Sayang ia tidak mengetahui betapa literalnya pernyataannya ini).
Sayang, France sendiri tidak bisa menyaring apa yang ada di dalam pikiran Italy, terutama ketika lelaki Italia itu mengeluarkan sebuah benda dari kantong celananya yang telah berserakan di atas ranjang. Sebuah benda yang berkelap-kelip ketika cahaya lampu yang remang mengenai ujung tajamnya yang berkilat.
Sebuah senyum sinis yang tak terlihat oleh Francis Bonnefoy, lidah menjulur keluar dari sana bagai ular belikat yang siap menerkam mangsanya, menjilat logam yang dipegangnya dengan sebuah suara 'sluurp…,' yang panjang. Mata ambernya berkilat-kilat senang ketika tangannya menyembunyikan benda itu di bawah sebuah bantal kecil sebelum menempatkan dirinya di ujung ranjang, bersebrangan dengan letak benda yang telah ia sembunyikan di bawah bantal sana. Ia ingin memberikan tempat bagi mangsanya untuk merebahkan dirinya di sana—membuat mata birunya terpaku ke arah tubuh kecilnya yang telah telanjang—tubuh kecil dan manis juga mulus yang sudah seperti dipahat oleh tangan sang maestro Michel D'Angelo. Bergerak-gerak di atas ranjang, seketika menghadap bantal yang adalah tempat persembunyian benda yang telah ia keluarkan. Dan semakin bersinar senanglah matanya ketika mangsanya yang buta telah kembali ke sarangnya—bagai serangga yang melompat ke dalam api, begitu?
Sang mangsa—Francis Bonnefoy—yang sekarang tubuhnya telah terbalut oleh tidak satupun benang, merebahkan dirinya di atas lokasi yang Feliciano inginkan—tepat membelakangi bantal yang tadi. Ia berbaring di sana dengan gaya sensual sembari mengedipkan satu matanya, seketika mengundang Feliciano Vargas yang berpakaian sama dengan dirinya bergeser mendekat. Feliciano pun mematuhinya, masih menyematkan senyuman nakal palsu itu di wajahnya yang bulat, dan begitu ia sampai di depan Francis, ia segera memeluk lelaki berambut pirang itu
France sendiri sedikit terkejut dengan Italy yang sedikit terlalu bersemangat, karena ia sendiri pun tak menyangka bahwa Felicianolah yang akan memulai duluan dengan sebuah pelukan tiba-tiba seperti ini. Tetapi ia hanya bisa tersenyum bangga ketika ia mencoba untuk duduk di atas ranjang—bangga karena akhirnya ia berhasil membesarkan adiknya North Italy menjadi seorang lelaki tulen yang penuh gairah, dan ia pun membalas pelukan Italy dengan dekapan kedua tangannya yang besar.
Italy tersenyum—sebuah senyuman licik yang tak terlihat oleh France.
Menjijikkan! Aku tidak akan pernah mau melakukannya dengan siapa pun kecuali denganmu, Holy Roman Empire. Aku pegang janji itu. Tetapi, tetap, sayang kau tidak bisa melihat hal ini, ya, sebagaimana yang kau mau dulu? Teriakan…
"Vee, tubuh kak France…," dua jari Feliciano berjalan-jalan nakal di atas punggung France, membuat lelaki yang berambut pirang sedikit meringis menahan geli sedang Italy melanjutkan—dengan suara yang pelan yang begitu mengundang, "-hangat."
"Begitu, Feli?" tanya France sambil menaikkan sebuah alis nakal—tak ia sangka-sangka seorang Italy akan berubah menjadi 'liar' seperti ini di atas ranjang. Memang begitulah yang ia harapkan dari cucu seorang Rome! "Tubuh manusia itu memang hangat, Feli. Mortal ataupun bukan—seperti kita, karena ada darah yang mengalir di dalamnya."
"Benarkah?" tanya Italy dengan nada tak percaya yang hanyalah tipuan belaka, sedangkan satu tangannya yang lain berjalan menuruni punggung France. Dan, tidak—tangan Italy tidak berlanjut ke bawah, tetapi jatuh ke atas ranjang dengan gemulai tanpa France menyadarinya sama sekali. Kemudian tangan itu bergerak menuju bantal yang dibelakangi oleh France. Menuju ke belati yang telah tersembunyi dengan sempurna di bawah bantal.
"Tapi, ya, kak France?" Bergerak, bergerak, dan sampailah tangannya tepat di sisi bantal. Hanya tinggal sebentar lagi, Holy Roman Empire; tinggal sebentar lagi! "Kenapa kadang-kadang aku merasakan tubuh manusia—imortal atau bukan—menjadi dingin? Dingin—dingin seperti es?"
"Hee?" Tangannya berhasil menyelip ke bawah bantal tanpa sekalipun disadari oleh satupun dari mata biru milik France yang menatapnya dengan pandangan bingung. Senyumannya semakin melebar ketika ia berhasil menautkan jari-jemarinya dengan gagang belati, dimana France sendiri melanjutkan—dengan nada yang tulus penuh kebingungan, "Seperti apa?"
Wajah Italy mendekat, seperti ingin memberikan sebuh kecupan hangat ke bibir France sebagai appetizer jamuan makan malam mereka yang takkan pernah sampai ke bagian dessert-nya, tetapi ia malah beralih ke samping, memposisikan bibirnya tepat di depan telinga milik France (membuat France sendiri bergidik oleh karena hembusan napasnya yang begitu hangat! Masuk ke sela-sela lubang telinganya tanpa hambatan sam sekali!) dan membisikkan dengan genit, "Yah, kak France tau, seperti…,"
Tangannya yang terus dibelakangi oleh France telah melayang gontai di udara, dengan ujung belatinya yang tajam siap menikam—mangsanya sama sekali buta—buta—buta! Ia telah membelakangi sabit dewa kematian yang sudah bersiap untuk dihunuskan ke punggungnya!
Mangsa itu berwajah polos dan inosen—benar-benar buta dengan apa yang akan menimpanya sedang ia bertanya dengan senyum kebodohan penghias bibir yang akan menghantarnya ke kematiannya, "seperti?"
Senyumannya pecah menjadi seringai gila.
"-tubuh Holy Roman Empire."
Dan belati itu pun turun.
Seketika diikuti dengan suara daging memancurkan semburat cairan merah lengket yang bergema di dalam ruangan itu.
Mata biru milik France membulat tak percaya melihat wajah Italy yang menyeringai gila.
Sebelum sebuah sensasi yang menyakitkan menjalari punggungnya dan membuatnya berteriak agonis ketika belati itu kembali turun—sekali, dua kali, tiga kali—masing-masing di tempat yang berbeda.
Ia hampir ambruk, tetapi secepatnya tubuhnya ditangkap dengan tangan lelaki Italia itu yang memegangnya dengan lembut—dengan gemulai!
Benar-benar sebuah kontradiksi yang elok. Seringai Italy—jika memungkinkan—semakin melebar, melebar setelah mendengar teriakan kesakitan France, seperti jikalau mungkin, robeklah wajahnya itu menjadi dua karena seringainya. Ia membawa belati yang telah berlumuran cairan merah lengket itu mendekati mulutnya, dan dengan satu jilatan, ia telah merasakan darah France yang menetes dari ujung belati dan lidahnya, seketika menodai seprai biru itu dengan warna merah yang jelek. Sedang wajahnya bersinar senang—bagai wajah seorang anak yang telah memakan permen berharga tiga puluh dollar pemberian orangtuanya tercinta. Dan memang—permen, permen darah ini berharga dua ratus tahun yang hampir tidak pernah diselesaikan.
"Kak France sakit, ya?" tanyanya pelan sambil mengelus pipi kakaknya itu yang telah basah oleh keringat. (Apa—apa apa apa apa yang terjadi? Hanya itulah yang terus berkecamuk di dalam pikiran serangga yang sebentar lagi akan menghadapi neraka itu!) Italy memiringkan kepalanya sedikit, memberikannya sebuah kesan polos yang sangat berlawanan dengan apa yang sedang ia lakukan. Kemudian, dengan suara yang manis memuakkan, Italy melanjutkan, "Aku penasaran, kak, apa, ya, rasa yang dirasakan oleh Holy Roman Empire ketika fratello membunuhnya? Menusuk dadanya dengan pedang berwarna hitam—pada tahun 1806 dulu itu?"
"Feli…," desah France. "Kau…," ia tak sempat menyelesaikan kata-katanya, hanya meninggalkan kata tersebut untuk melayang-layang tanpa tujuan di tengah ruangan itu yang mulai menyembulkan bau darah. Matanya yang berkaca-kaca melihat ke arah Italy dengan pandangan tak percaya. Wajah sebulat permen kapas dari sirkus milik Russia, mata semerah amber yang begitu berharga, rambut sehalus sutra yang dibawa langsung dari para pedagang yang melintasi Silky Road milik India, senyum seindah nyanyian pujian sekelompok malaikat yang menyembah-nyembah… Memang pikirannya belum bisa menyerap hampir seluruh kejadian yang berentetan ini, tetapi menurut dari perkataannya—Holy Roman Empire—ia benar-benar tak menyangka… Ajakan untuk bercinta dengannya hanyalah sebuah kamuflase baginya untuk menyerangnya seperti ini. Dan sebenarnya saja, sebuah luka tusukan dengan hanya sebuah belati tidak seharusnya membuatnya mulai pusing seperti ini.
Alasan kenapa Italy menggunakan trench coat tadi? Membuat belati yang ia sembunyikan entah di mana itu luput dari perhatiannya. Begitu pintar! Trench coat hijau tua yang dengan mudah menyembunyikan terang jahat belati itu!
Tiba-tiba sebuah desakan yang memuakkan menusuk-nusuknya dari dalam perutnya, membuatnya mau tak mau memuntahkan segumpalan darah berwarna merah yang setengahnya tumpah ke atas ranjang, setengahnya lagi bercipratan ke dada dan abdomen Italy yang masih tersenyum di depannya. Ia tampak tidak bermasalah dengan cipratan menjijikkan itu, malah membuat senyumnya semakin melebar. Dan mengertilah France kenapa hanya dengan satu tusukan saja dapat membuatnya begitu pusing dan mual seperti ini.
Racun…, gumam France pelan dalam pikirannya yang mulai kabur. Ia sampai-sampai mengoleskan racun ke bilah belati itu untuk berjaga-jaga agar aku tidak bisa melawan… Racun berdosis sangat tinggi racikan sendiri tentunya; tidak mungkin racun biasa akan berefek ke seorang personifikasi negara seperti ini—
"Hihihihi~, dan kau memang benar, fratello France, jika berpikir bahwa aku sudah mengoleskan racun ke sini!" Matanya berbinar-binar senang sembari menjilat darah yang ada di bilah belati itu dengan lidahnya. "Nnn, racun yang hanya akan berasa seperti bau karat ketika kau menjilatnya—bau darah, fratello! Hanya akan bekerja jika sudah dioleskan ke daging musuh yang terbuka lebar dan masih baru—dengan kata lain, luka. Kakek hebat, ya? Kakek Rome… Ia yang pertama kali membuat racun ini. Kau tahu, fratello! Racun ini pula, loh, yang digunakan oleh Kakek Rome ketika ia membunuh Bibi Greece dan Egypt dulu! Sayang ia tak sempat menggunakannya pada Germania!"
…Jadi memang rumor yang mengatakan bahwa Roman Empire adalah yang membunuh Old Greece dan juga Old Egypt…benar? Tetapi, bagaimana bisa Italy menemukannya—
Tak sempat France berpikir lebih jauh, karena sebuah tikaman belati lainnya berhasil tertanam di sisi punggung lainnya, yang segera diikuti oleh teriakan agonis lain.
Italy tersenyum puas melihat France yang telah kesusahan untuk bernapas—dua dari beberapa tikaman akurat yang menembus paru-paru, tentu. Pelajaran yang sering ia dapatkan ketika perang dunia dulu untuk bertahan hidup di alam liar—tusuk paru-paru mangsamu, buat mereka kesusahan bernapas; buat mereka kesusahan bernapas bagaikan telah ditenggelamkan ke dalam lautan tanpa batas yang gelap. Ia kemudian berdiri di atas ranjang, melihat lelaki berambut pirang yang masih terduduk di sana menahan sakit, menatapnya bagai seorang raja yang melihat hambanya dengan pandangan jijik. Italy berpikir, apa di saat-saat dulu—saat hari kematian Holy Roman Empire, Francis dan Reicher pernah berada di posisi yang sama dengan dirinya dan Francis sekarang? Dengan Francis melihat Reicher tersayangnya ke bawah seperti ini tanpa belas kasihan, sedangkan Holy Roman Empire sendiri sedang meregang nyawa sambil memohon-mohon?
Kalau memang benar terjadi, sebuah senyuman lain, dan, aku hanya perlu memberikan rasa sakit yang sama dengan yang telah dirasakan Holy Roman Empire, kan? Membuat fratello France berada dalam posisi yang sama dengan Holy Roman Empire dulu? Ketika kematian menghantuinya dan ia tahu bahwa malaikat pencabut nyawa itu sebentar lagi akan memeluknya?
Dan ia pun segera melakukannya, menendang dagu France dengan dengkulnya yang membuat Francis mendesah kesakitan dan tersungkur dengan terlentang ke bawah—seketika menodai kasur berseprai biru itu dengan warna merah. Italy sendiri kemudian menanamkan kakinya tepat di atas dada France yang telanjang, mengimpit mangsanya yang mulai sekarat di pojokan sedang ia sendiri tersenyum senang.
"Apa dulu kau juga melakukan hal ini dengan Holy Roman Empire, Francis? Mengimpit Reicher ke pojokan seperti ini-," ia menekan telapak kakinya ke dada France semakin kuat—digoyang-goyangkannya keras—membesarkan erangan pria malang berambut pirang yang bernapas saja sudah setengah mati (ooh, bagaimana di dalam hatinya Francis berharap bahwa Picardy akan mendengar erangannya! Tapi apa dikata; erangan itu hanya akan tembus dalam kuping Picardy sebagai desahan penuh cinta—desahan kenikmatan! Ironis—karena memang Italy sedang menikmatinya!). "-sedang kau sendiri tersenyum bangga karena kau telah mengambil seluruh wilayahnya seperti raja yang korup? Seperti Napoleon, si?"
France membuka sebelah matanya, mata biru yang kemudian bertemu dengan mata amber Italy, dan berkata dengan bibirnya yang kering, "Jadi, kau ke sini, uhuuk!" sebuah injakan ke dada. "-Italy, karena kau, aakh!" injakan lainnya. "-karena…ingin membalaskan dendam Holy Roman Empire?"
Italy berhenti menginjak dadanya, menatap ke arah mata lelaki berambut pirang itu dengan mata amber yang tak terbaca apa yang sedang dipikirkannya. Italy kemudian mendongak sambil membawa satu tangannya untuk menuju ke bibirnya dan menggumam, "Membalaskan dendam Holy Roman Empire…, yah, kira-kira, seperti itu, deh, Francis!"
Mata France menyipit tajam, mencoba untuk mengfokuskan bentuk tubuh Italy yang telah buram di lensa matanya yang pucat. Sekelibat bentuk tubuh telanjang lelaki Italia itu digantikan oleh sesosok anak kecil Jerman dengan rambut pirang seperti gandum ranum, mata kobalt yang kusam di bawah tetapi mencerah seiring dengan irisnya yang ada di atas, topi besar yang bahkan bisa menyembunyikan kepalanya yang begitu kecil… Anak kecil bernama Reicher Beilschimdt yang telah gila. Tetapi ia masih mengingat, saat-saat dulu ia pun masih menjadi seorang anak kecil di bawah pengawasan Rome, ketika ia sering bermain-main dengan cucu-cucu Germania, Holy Roman Empire hanyalah seorang anak yang saat itu belum memilik nama yang juga pemalu, hanya bisa menatap Italy dari kejauhan. Reicher yang saat-itu-belum-memiliki-nama adalah anak yang begitu baik! Tidak mungkin ia—
"Hol… Holy Roman…Empire," desahan France untuk mengucapkan nama lelaki yang dicintainya itu membuat Italy sedikit melebarkan mata ambernya. "Hol…Holy…Tidak, Reicher… Reicher akan sedih jika melihatmu seperti ini, Italy…, a-aku memang tidak mempunyai tempat untuk…uhuuk, berbicara hal ini… Tetapi Reicher tidak akan mungkin meminta hal ini, Feli! Sadarlah!"
"Ooh, Dio! Ooh, Dio! Hahahaha! Lo scherzo è che dire a questo umile servitore? Il fratello Francia non lo sapeva... Che il mio amore per il Sacro Romano Impero é colui che mi ha chiesto di ucciderlo! Ahahaha!*"
France tidak berpikir untuk menerjemahkan bahasa Italia itu yang berbelit-belit rupanya. Matanya terburu-buru menengok ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari sesuatu—sesuatu—yang dapat dijadikan senjata. Dan, untunglah! di pojok mata kirinya, ia menangkap sebentuk guci (ia ingat, guci pemberian China untuk memperingati hari ulang tahunnya yang sudah entah-berapa-ribu tahun) yang berdiri menjadi saksi kejadian itu di atas meja tidurnya. Ia mencoba mengukur seberapa panjangnya jarak antara tangannya dengan bentuk guci itu yang tetap berdiam dengan tenang. Bisa—panjang tangannya cukup—bisa!
Tawa Italy yang meledak akhirnya selesai juga, lalu mengimpit dada France sekali lagi dengan kakinya.
"Ooh, please, Francis. Kau terlalu banyak membaca komik-komik heroik yang Japan buat," ujarnya dengan nada sendu. "Kau memang tidak tahu—dan aku tidak akan memberitahumu, tidak seperti para antagonis-antagonis bodoh di komik milik Japan yang dengan mudah menjelaskan motif kejahatannya pada sang hero—haa, tenang saja, Francis, Alfred tidak akan datang menyelamatkanmu—tapi biar kuberitahu satu hal ini: Holy Roman Empirelah yang memintaku untuk membunuhmu."
France menghela napasnya yang tinggal sedikit; berbicara seperti apa pun lagi, ia tidak akan pernah mendapatkan jawaban rasional dari Italy, sama seperti dulu bagaimana Holy Roman Empire, cinta satu-satunya Italy, yang gila itu akan selalu kolot. Ooh… Jiwa-jiwa yang malang… Mata kobalt kusam yang menatapnya dengan pandangan horor… Dan sekarang mata amber yang menatapnya dengan pandangan penuh kesenangan menjijikkan…
"Est-tu fou aussi, tout comme votre amour, Saint-Empire romain? Êtes-vous, mon petit frère, l'Italie*?"
Dan dengan sediki tenaganya yang tersisa, tangannya segera beranjak ke atas, dengan sukses merenggut sisi mulut vas cina itu, (ini saatnya, ini saatnya, Francis!) sebelum dengan sekuat-kuatnya dihempaskannya ke selangkangan Italy—seketika membuat vas itu pecah berkeping-keping oleh karena hempasan yang begitu kuat.
Tetapi intinya adalah, vas itu telah mempunyai kegunaan juga (karena ia bingung mau diapakan vas itu selain sebagai tempat menaruh bunga mawar), karena sesaat kemudian Feliciano segera berteriak nista, menjatuhkan pisaunya ke sela-sela tungkai kakinya yang mengangkang untuk memegang selangkangannya yang sudah mengucurkan darah ke atas ranjang—sama seperti bagaimana belati itu jatuh ke atas tumpukan bulu-bulu angsa yang bernama kasur.
Tanpa menunggu-nunggu Italy untuk menghentikan teriakannya yang begitu menyayat langit, dengan sisa tenaga yang tersisa dari dirinya, France segera mengangkat satu kakinya sembari mencoba sedikit mengangkat tubuhnya dengan tangannya yang gemetar. Ia melayangkan tumitnya ke samping, tepat ke arah leher Italy yang benar-benar tidak terjaga oleh karena tangannya yang masih memegang selangkangannya yang berdarah. Tendangan tepat ke leher itu (ia yakin pasti esoknya leher itu akan menyembulkan luka memar berwarna ungu yang jelek—kalau ia masih bisa melihat besok, tentu) membuat tubuh Italy goyah ke samping, sebelum jatuh berdebam ke atas kasur yang entah oleh menyebabkan pisau itu terlempar ke bawah, hilang di atas tumpukan baju France yang telah berserakan di sana. Peduli mati dengan pisau itu, pikir Francis yang panik, hanya memiliki serpihan dari vas yang tadi digunakannya untuk menghampas selangkangan penyerangnya sebagi senjata.
Kalau aku bisa keluar dari ruangan ini… Ya—keluar dari ruangan ini dan segera memanggil Picardy dan Seychelles-!
Dengan pikiran itulah (dan juga sisa tenaganya yang begitu pudar), ia melompat dari tempatnya tadi terhempas ke bawah, tidak mempedulikan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya yang membuatnya mengerang sembari mengeluarkan keringat dingin yang bercucuran. Sekuatnya, sekuatnya, Francis! Jangan pedulikan rasa sakit itu—segera, segera ke pintu…
Ia melompat dari atas ranjang, tidak mempedulikan Italy yang mulai sembuh dari rasa sakit yang menjalari selangkangannya. Lompatan itu (yang untungnya takdir masih memberikannya kesempatan untuk melandas dalam dua kaki gemetar yang jongkok di atas karpet lantai yang juga sudah dicucuri warna merah—membuat warna merah yang ada di karpet itu semakin memekat) membuat matanya berkunang-kunang—pusing dan mual—lalu membuatnya memuntahkan seliter darah lagi yang sekarang mengenai pahanya. Tapi ia tak ambil pusing; ia cepat-cepat berdiri dari tempatnya jongkok dan segera berlari dengan kaki terhuyung-huyung ke arah pintu.
Sampai—sampai sampai sampai—pintu—
Sebentar lagi nyawanya akan selamat—lalu ia akan memanggil Picardy dan Seychelles—segera lari dari rumah ini dan secepat mungkin memanggil para anggota G8—lalu ia akan menyelamatkan adiknya tersayang, Feliciano—dimasukannya ke rumah sakit jiwa—ooh, untunglah zaman sekarang sudah begitu maju! Ia tidak perlu lagi melakukan cara satu-satunya untuk menyelamatkan orang gila seperti dulu, seperti apa yang ia lakukan kepada Holy Roman Empire… Dan pintu ini adalah—
'Graak!'
—terkunci.
Ke-kenapa terkunci?
Kenapa, kenapa terkunci? Kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa TERKUNCI? Panik, ia mencoba dan mencoba lagi untuk membuka gagang pintu yang berbentuk bulati itu. Tidak terbuka! Ia mencoba lagi, sekarang dengan kekuatan sebesar-besarnya sampai-sampai membuat pintu itu bergerak-gerak seperti hantu yang berdiam diri dalam gordin yang melayang-layang oleh angin. Tetap tidak terbuka, tidak terbuka!—siapa yang menahan pintu ini? Siapa yang menahan pintu ini dari luar! Apa ada orang lain yang bekerja sama dengan Italy? Siapa siapa siapa—tolong tolong tolong—
"Waah… Ini kunci apa, ya, fratello?"
Terdengar suara gemerincing kunci yang bertubrukan dengan satu sama lain.
"Aku temukan di saku baju fratello, loh!"
Kunci perak…
"Ooh~! Aku tahu, vee! Salah satunya pasti… kunci dari pintu yang tadi fratello tutup, kan?"
…Ia menguncinya tadi… Sudah menguncinya tadi…
Tubuhnya jatuh merosot ke tanah, duduk di atas genangan darah yang terus mengucur dari punggungnya yang terbuka. Jemari-jemarinya yang telah kotor (entah kemana serpihan vas yang tadi dipegangnya? Menghilang! Menghilang seperti nyawanya yang pelan-pelan lenyap…) masih memegang daun pintu kayu itu yang mengecap bercak-bercak darah di sana—sebesar sidik jari. Ia mendengar tapak-tapak kaki yang berjalan pelan ke arahnya, tapak-tapak kaki seseorang yang sebentar lagi akan menjadi pembunuh psikopat yang gila. Dengan sisa tenaganya yang sudah pudar, ia membalikkan wajahnya. Dengan mata biru yang sudah kehilangan harapan bahkan setitik saja, ia melihat Italy yang sudah tak lagi kesakitan, berdiri dengan tegah dan gagap di depannya dengan bayangan berwarna gelap yang menyinari tubuh bagian depannya. Cahaya yang dipendarkan lampu gantung di belakangnya pasti menyinari punggung lelaki Italia yang sudah seperti iblis berkamuflase malaikat itu…membuat seluruh tubuh depannya jadi berbayang-bayang seperti ini… Tetapi entah kenapa, mata ambernya terlihat berkilat-kilat…begitu juga pisaunya yang ia pegang mantap dengan tangan kirinya…
"Pi-Picardy…," suaranya sudah begitu serak, hampir-hampir tak terdengar. Ia tahu dalam hatinya Picardy tidak mungkin mendengar suaranya, tetapi jika hal itu adalah satu-satunya harapan terakhirnya… "Tolo-,"
Tetapi harapan terakhirnya pun telah punah dari eksistensinya ketika dengan kejam Italy menangkup dagunya dengan tangannya yang tidak memegang pisau.
"Aku tidak akan mencium bibir yang menjijikkan itu lagi, fratello," ujar Italy dengan suara begitu manis seperti gula-gula. "Tapi bukankah tadi kau bilang—bahwa saat kita melakukan intercourse maka kau harus mengkonsentrasikan pikiranmu hanya kepada lawanmu yang ada di depan mata? Eeeh~, tidak ada memanggil-manggil Picardy, loh! Fratello anak nakal!"
Dengan kasar, telah diklaimlah lidahnya yang kering dengan menggunakan tangannya yang begitu lembut seperti kapas, merenggutnya dengan kasar dan hampir membuatnya muntah. Sudah tidak ada tenaga lagi untuk melawan, racun itu sudah mengambil alih keseluruhan indranya yang memuakkan… Tetapi rasa sakit itu masih terasa… Pisau itu mendekatinya… mendekatinya… sampai lidahnya merasakan dinginnya besi yang seakan-akan adalah es yang ditempelkan ke lukanya yang perih.
Ia mengingat apa yang dulu dikatakan oleh Prussia dengan dipenuhi rasa benci saat ia mengembalikan mayat Holy Roman Empire.
"Tolong, France. Kalau kau datang jauh-jauh ke sini hanya untuk meminta maaf, lebih baik kau simpan saja lidahmu daripada aku memotongnya nanti."
Lidahnya sekarang telah berganti tempat. Di dekapan tangan kanan Italy… Rasanya terbakar, terbakar! Bagaimana air mata yang terus mengalir dari matanya yang biru tetap tidak bisa menghentikan rasa terbakar yang begitu menyengat di mulutnya yang berdarah! Seseorang…hentikan…
Ia menutup matanya. Mungkinkah ini adalah pembalasan yang adil oleh karena dosa yang ia lakukan saat membunuh Holy Roman Empire dulu? Aah, kalau diingat-ingat, ia pernah berkata kepada Prussia bahwa sejujurnya ia ingin membalas kematian Holy Roman Empire dengan nyawanya. Ooh, Prusse—Gilbert… Bisakah aku menebusnya sekarang dengan ini? Menebus kesalahanku dulu saat aku membunuh adikmu dengan tangan penuh darah ini? Ataukah kau akan marah kepadaku karena aku belum membayar hutangmu 100 Euro kemarin? Ooh, tapi Espagne—Antonio juga punya hutang padaku… Biarkan ia yang membayarnya! Ooh, dan kalau aku bisa, Arthur, mon amour, cintaku! Aku ingin mengatakan bahwa seluruh pertengkaranku denganmu di masa lalu adalah suatu hal yang seru –yang kucintai dengan sangat di setiap waktunya-, dan setidaknya mengatakan sekali, hanya sekali di dalam hidupku yang sebentar lagi akan berakhir ini, j'te amais! Alfred, kuberikan mon amour-ku padamu, dan juga kutitipkan Canada—Mattieu, di pelukanmu. Kau akan menjadi kakak yang baik, non? Dan penyesalanku yang terakhir…adalah mungkin karena aku tidak pernah mengucapkan sepenggal kata 'maaf' padamu, Feliciano. Maaf karena telah mengambil cintamu, Reicher… Ludwig… Kuharap kau bisa membuka mata dan juga pintu hatimu yang tertutup bagi malaikat kecilmu yang telah Jatuh ini…
Au revoir.
Dan di tengah kegelapan saat-saat ia menutup matanya itu, ia melihat wajah Germany yang tersenyum lembut kepadanya (ooh, ini pertama kalinya ia melihat wajah pemilik jiwa malang itu tersenyum!)
"Mata dibalas mata, eh, Francis Bonnefoy?"
Dan satu hal lagi yang ia dengar dan rasakan sebelum kegelapan benar-benar merenggutnya—sebuah kecupan hangat yang basah entah oleh air mata siapa di pipinya dan juga suara—
"Selamat tidur, fratello Francis."
Dengan doa yang diucapkan oleh seorang pendosa hina, kuharap Tuhan akan memberkati jiwamu, fratello.
Jika bisa dibilang, satu-satunya orang di dalam mansion milik Francis Bonnefoy yang adalah seorang morning person hanyalah Picardy.
Picardy, lelaki lugu dan polos berambut coklat dan berkuping kucing perak (tenang saja; kuping itu palsu), selalu terbiasa untuk bangun lebih pagi daripada teman-temannya yang lain, bahkan dari ayahnya sendiri (bukan ayah; 'tuan', lebih tepatnya). Mungkinlah karena sebab ini pula yang mengakibatkan Picardy sebagai suruhan favorit dari France. Dan seperti yang telah dibilang sebelumnya; Picardy adalah anak yang lugu dan polos.
(Perlu dicatat bahwa polos bukan berarti 'tidak mengerti tentang masalah invasi vital region sama sekali'. Dia masih anak dari France, kau tahu?)
Setiap paginya, dengan rajin Picardy akan bangun dari tidurnya, segera melangkahkan dirinya ke dapur dan mulai memasak sarapan bagi para teman-teman seangkatannya. Jamur champignon adalah pasti untuk sup hangat pembuka sebuah hari baru yang harus ditemani dengan satu gelas jus jeruk dingin di sisinya. Dan khusus untuk monsieur sendiri, Picardy akan menyiapkan sebuah buffet kecil berisi sarapan hari itu yang tetapi minumannya digantikan oleh wine Lillet Bran kelas satu kesukaannya, yang kemudian dilengkapi penutup sepotong pie apel khusus yang pienya diimport dari Belgia sedang apelnya dari Belanda yang dilumuri madu asli dari Luxemburg (lengkap sudah ketiga bersaudara Benelux itu mendapat devisa import dari Prancis!). Ia akan membawanya masuk ke dalam kamar tuannya itu dengan menggunakan sebuah troli makanan, dan sedang France makan dengan lahap di ranjangnya yang besar, Picardy sendiri akan beralih untuk menyiapkan segala sesuatunya yang dibutuhkan oleh France hari itu; bedak, losion, pencukur rambut, handuk beserta kimono mandi, kemudian baju yang cocok untuk hari itu berikut jadwal kerja France yang cukup sibuk yang ditulis dengan tangannya sendiri, sebelum ditaruhnya di atas meja rias milik France yang megah.
Memang sibuk, tetapi Picardy cukup bahagia dalam rutinitas kerja sehari-harinya yang terkadang juga ditemani oleh 'kejutan-kejutan' kecil, apalagi jika kejutan-kejutan kecil itu salah satunya menyangkut tentang 'orang yang baru saja dibawa masuk ke dalam kamar Francis Bonnefoy'.
Jujur saja, Picardy juga sudah cukup terbiasa dengan hal itu (walaupun masih terkaget-kaget juga sesekali), dan biasanya jika kejutan kecil ini adalah hal itu, ia akan menyiapkan sarapan untuk dua orang, walaupun perlu diingat bahwa ia akan mengganti wine dengan teh atau kopi.
Dan entah karena sebab apa, biasanya jika ada satu orang yang menginap di dalam kamar France malam itu, France sendiri pasti telah siap berdiri di belakang pintu jikalau Picardy telah sampai ke depan kamarnya. Sekali mengetuk, suara kunci berdesing dengan roda gigi lubang pintu akan segera terdengar sebelum France membuka pintu dengan wajah segar dan juga tersenyum senang (tentu saja personifikasi negara Prancis itu masih telanjang bulat, tetapi Picardy juga telah terbiasa dengan hal ini). Ia akan mempersilakan Picardy untuk masuk, tetapi mengambil alih troli makanan itu dan akan memberikannya kepada orang yang baru saja ditidurinya sana. Hanya membuatnya sedikit lebih elegan di mata kekasih satu malamnya itu.
Dan karena sebab itulah, Picardy merasa bingung ketika France tidak segera membuka pintunya ketika ia telah mengetuk kayu berbentuk persegi empat itu tiga kali.
Sebuah troli makanan dengan porsi dua orang telah terjejer rapi di belakangnya sedang ia sendiri menatap ke arah dua buah pintu kayu megah yang menuju ke kamar pribadi milik France. Ia sedikit menggaruk-garuk kepalanya ketika –sekali lagi- France tidak membuka pintu itu ketika ia telah mengetuknya lagi.
"Monsieur France?"
Tidak ada jawaban.
Aneh; apakah ia ketiduran seperti biasanya? Dan juga, kenapa ada bau-bau aneh di sekitar kamar? Apakah monsieur-nya sudah membeli parfum baru yang digunakannya pada malam tadi sehingga membuatnya terhipnotis hingga tidurnya telat seperti ini? Memang, France selalu ketiduran setiap pagi, tetapi tidak saat ada seseorang yang menemaninya untuk tidur. Dan seingatnya, malam kemarin ada seorang lelaki kecil berambut coklat muda yang membuntuti France masuk ke dalam kamarnya. Memakai jaket trench coat hijau yang menyelimuti dirinya yang berpakaian sailor berwarna putih dengan celana khaki tiga per empat. Kalau ia tidak salah ingat—itu adalah monsieur Italy? Italy yang mana entah ia tidak tahu. Tapi yang pasti dia adalah monsieur Italy entah-yang-utara-ataupun-selatan.
Dengan sedikit inspeksi dari matanya yang cukup tajam berkat keahliannya memotret gadis-gadis seksi berpakaian bikini sembunyi-sembunyi (tentu saja semuanya adalah suruhan monsieur-nya yang berpikiran bokep!), Picardy pun jatuh dalam konklusi bahwa pintu itu terkunci dari dalam. Berarti, monsieur beserta pacarnya masih ada di dalam sana.
Setelah beberapa kali mengetuk dan menerima keheningan dari ruangan sana, Picardy menghela napasnya dan beralih untuk mengambil kunci cadangan yang selalu ia simpan di sakunya. Kunci masternya memang selalu dipegang oleh France, tapi ini hanyalah kunci cadangan yang dimiliki olehnya kalau-kalau ia ingin membuka suatu ruangan tanpa ada France di sampingnya. Semacam back-up saja, begitu.
Setelah membuka kunci pintunya, Picardy membuka pintu itu tanpa ada perasaan pundung apa pun yang berdera di hatinya, benar-benar buta dengan apa yang akan menyambut pagi damainya yang akan segera terpecah menjadi kegilaan. Tangannya yang mantap memegang kenop pintu tersebut, dan dengan satu sentakan, pintu itu terbuka lebar—
"Monsieur Francis, pagi ini saya membawakan—,"
-dan ia disambut dengan kepala Francis –dan hanya kepalanya- yang tergantung dari atas kanopi tempat tidurnya dengan suatu pita berwarna merah yang berkelat-kelit mengikat lehernya yang berlumur darah kering bermarna merah coklat.
Matanya berkedap-kedip untuk sesaat, mencoba untuk memproyeksikan imej ini ke dalam otaknya yang berpikir lama.
"Bonjour, Picardie! Vous avez bien dormi?*"
Ooh, wajah monsieur-nya yang cantik—apakah monsieur-nya telah membeli suatu losion keluaran terbaru berwarna merah yang telah ia oleskan ke pipinya yang tirus? Haa, dan apakah itu yang ada di meja kaca? Suatu bentuk ulat berwarna merah jambu—ooh, ya, itu lidah, lidah monsieur yang selalu mengucapkan kata-kata penuh kasih ("Viens ici, Picardie, mon fils. Bon garçon. Je t'aime… Je t'aime pour toujours.*") Ooh, dan hei! Perutnya yang masih tertidur di atas ranjang pun terlihat menganga dengan adanya beberapa bentuk tulang-tulang berwarna putih berselimut darah yang menjuntrung dari dalam dengan eloknya, seperti bagaimana biasanya monsieurnya akan menyusun karangan bunga di dalam vas cinanya yang antik!
Ooh, monsieur. Kapan kau akan terbangun? Hey, ayo buka matamu sehingga aku bisa melihat iris berwarna biru terang yang akan selalu memancarkan sinar nakal yang berusaha untuk menggerayapiku!
Ia segera beranjak mundur—tak perlu lagi baginya untuk melihat tungkai tangan berlumur cat kemerahan yang berdiri di atas meja malamnya sebagai penggati vas atau, bahkan, genangan berwarna merah yang sudah menyebar kemana-mana di ruangan itu, dan dengan satu hentakan, pintu itu pun kembali tertutup.
Ia jatuh merosot ke atas lantai, punggungnya menghadap pintu kayu yang menghadangnya dari pemandangan gila-gilaan penuh darah yang ada di ruangan milik almarhum (almarhum! Almarhum, Picary mengulanginya dalam hati!) tuannya. Picardy berharap, bahwa semuanya hanyalah ilusi optik—ya, ini semua hanya mimpi! Mimpi-mimpi gila dimana kau bisa menyadari bahwa kau sedang bermimpi (apa namanya, Picardy ingat-ingat, lunatic dream?) sesuatu hal yang tidak senonoh seperti tuannya yang mati!
Tetapi bau ini begitu nyata… Menyengat batang hidungnya sampai-sampai muak rasanya… Tidak mungkin mimpinya bisa meracik bau aneh seperti bau darah dan bau busuk mayat—
Ia, dengan tangan yang bergetar dan juga hidung merah yang berusaha untuk menjegal banjirnya air mata yang telah berada di ujung kelopak matanya, meraih ke sakunya yang satu lagi, mengangkat sebuah telepon hitam yang ia tekan-tekan tutsnya dengan jari yang bergetar. Menekan nomor satu-satunya orang yang telah ia hapal di luar kepala…
"Ha-halo…," ia mencoba menahan agar air matanya tidak masuk ke mulutnya yang bergetar. "Bi-bisa bicara dengan mo-monsieur… E-England?"
~to be continued
(translation, sesuai dengan urutan yang sudah diberi tanda *: -btw, kalau di antara reader ada yang bisa bahasa Italia atau Prancis… Dimohon bisa memberikan koreksinya karena tentu saja ini sudah salah besar terjemahannya, plak-)
1) Ooh, Tuhan! Ooh, Tuhan! Hahahaha! Lelucon apakah yang telah Kau katakan kepada hamba-Mu yang hina ini? Kakak France tidak tahu… Bahwa cintaku Holy Roman Empire adalah orang yang ingin membunuhnya! Ahahaha!
2) Apakah kau telah menjadi gila juga, seperti cintamu, Holy Roman Empire? Benarkah begitu, adik laki-laki kecilku, Italy?
3) Selamat pagi Picardy! Kau tidur enak?
4) Kemarilah, Picardy, anakku. Anak baik. Aku menyayangimu… Menyayangimu selamanya.
…What the hell. Ini. Adalah. Chapter. Terparah. Yang pernah saia buat. Freak! Saia pernah buat gore di fandom lainnya. Tapi nggak ampe separah ini. Aaarggh! –pundung di pojokan- Okeh, saia ngaku, ide fic ini muncul dari salah satu gambar di pixiv (tentang Germany yang dicekik dirinya sendiri yang matanya –entah kenapa- ungu—dan saia yakin ini adalah HRE) dan entah oleh sebab apa ini adalah chapter yang pertama kali saia tulis, jauh sebelum saia nulis prolog.
Aakh, h-hnn… Po-pokoknya, saia janji di chapter-chapter depan nggak bakal ada yang kaya' begini. Okeh, separah-parahnya bakal ada darah lagi, deh. Tapi nggak bakal ampe begini… -ihiks- -pundung lagi-
Y-yah… Ja-jadi, maukah para reader mereview chapter ini? D8 Dan bagi para pencinta gore… apakah gorenya sudah memuaskan? Atau terlalu berlebih?
