Mentari sudah terbangun dari tidur, perlahan menerangi dunia yang sebelumnya gelap dengan sinar keemasannya. Menggantikan sang bulan yang harus berisap untuk menampakkan kesempurnaannya malam ini.
Jongin berdiri di sana, di beranda kamarnya. Memandangi matahari yang seolah menyambut hari penting ini dengan senyum cerah. Kulit tan eksotisnya tampak jauh berkilauan diterpa sinar keemasan yang menambah kehangatan suhu tubuhnya.
"Hari ini ya..." perkataan itu keluar sebagai gumaman kecil yang tak sengaja terucap. Manik emeraldnya memandang horizon dengan pandangan setengah kosong. Pikirannya sepertinya melayang entah kemana.
Hari ini, hari ini adalah akhir dari semuanya. Akhir dari ritual-ritual menyebalkan yang selalu saja diiringi dengan hal-hal buruk. Setelah ini berakhir, ia akan dengan seutuhnya menjadi mate untuk Yixing-ge, yang artinya kedua Clan terkuat China dan Korea akhirnya membentuk lingkaran keluarga.
Ada rasa ketidak percayaan dalam benaknya.
3 setengah bulan yang lalu, Jongin tidak punya pemikiran atau firasat apapun bahwa ia akan mengakhiri masa lajangnya secepat ini. Berfikir untuk bertemu dengan mate-nya saja ia masih terlalu jauh, apalagi mating.
Tidak seperti saudaranya yang lain, takdirnnya –maksudnya mate-nya- adalah orang yang dekat tapi di saat yang sama sulit di raih. Jalan yang harus ia lalui begitu berliku dan penuh dengan jebakan berbahaya. Banyak penghalang dari segala sisi. Sesuatu yang membuatnya menangis semalaman setelah mendengarnya.
Dan seperti yang dikatakan sang peramal pinggir jalan itu, takdirnya memang dekat tapi sulit di raih. Seorang Zhang Yixing alias Lay, ani, Wu Yixing dan Lay adalah orang yang dekat dengan semua orang. Tapi, di saat yang sama, sang namja yang penuh dengan senyum dan kebaikan hati itu sulit sekali di sentuh, apalagi di raih.
Jongin memang tidak menyadarinya sebelumnya, tapi setelah satu minggu ini berlalu, ia kini merasakannya. Betapa sulitnya untuk sekedar berdiri di samping takdirnya itu. Banyak halangan dan rintangan yang harus ia lewati hanya untuk terlihat pantas bersamanya.
Maka dari itu, baginya, hari ini adalah sebuah mimpi yang jadi kenyataan. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa ia tidak sekalipun mengucapkan kata-kata 'aku menyerah' atau 'aku tidak kuat' atau kalimat putus asa apapun. Meskipun, jujur saja, ia depresi berat, tetapi ia tetap teguh untuk melewati semuanya demi berdiri dengan bangga di samping Yixing.
Dan semua kerja keras mereka sudah terbalas sekarang.
Hari ini mereka berdua akan melakukan ritual terakhir, Holy Fight. Ritual penentuan dominasi. Ritual yang akan membuat Jongin seutuhnya tunduk pada Yixing. Ritual yang akan menciptakan Mate Mark di leher kanannya, tanda bahwa ia sepenuhnya milik Yixing.
Meskipun sebenarnya badannya sakit semua akibat ritual kemarin, tapi ia harus tetap mengeluarkan segala kemampuannya untuk ritual ini. Bagaimapun juga ia seorang Alpha. Meskipun ia seorang Submissive, bukan berarti ia harus tunduk begitu saja dengan mudah, kan? Ia tetap harus melawan meskipun semua orang –bahkan dirinya- tau siapa yang akan memenangkan ritual ini.
Ayolah, yang akan dilawannya ini adalah seorang Healer. Sebanyak apapun Jongin melukai tubuhnya, namja itu akan dengan mudah menyembuhkan dirinya. Lagi, meskipun ia menyerang Jongin dengan kekuatan penuhnya, ia tidak akan kehabisan tenaganya. Malah tenaga itu akan terus menerus terisi ulang.
Ini seperti melawan makhluk imortal.
Jongin menghela nafas seraya menutup kedua matanya.
Sudahlah, yang penting ia harus tetap melawan. Ini demi harga dirinya sebagai seorang Alpha.
Ketika kelopak matanya kembali terbuka, manik emeraldnya berubah menjadi merah darah.
Eh?
Menyadari perubahan energi di matanya, Jongin pun lantas menutup matanya dengan erat. Berusaha berkonsentrasi untuk mengembalikan kelopak matanya itu.
Pre Heat sialan!
Inilah yang paling ia benci ketika ia sedang dalam masa pre Heat dan Heat. Manik matanya mudah sekali berubah. Bahkan terkadang tanpa sepengetahuannya. Membuatnya harus selalu mengenakan lensa kontak agar perubahan warna matanya yang tak terkendali ini tidak disadari oleh orang lain.
Kata ibunya, ini karena ia belum memiliki seorang mate. Energi melimpah yang seharusnya digunakan untuk kau-tau-apalah-itu tidak digunakan sama sekali. Malah ditahan dan ditekan. Makanya bisa mengakibatkan perubahan mata yang tak terkendali.
Meski tidak terjadi setiap saat, Jongin tetap merasa tidak nyaman.
Menyebalkan.
Tapi setidaknya, setelah ini kau tidak akan merasakan itu
Blush
Komentar itu sukses membuat pipi Jongin yang masih senantiasa kemerahan semakin membara. Mata besarnya bertambah sedikit lebih besar.
K-Kai! Apa yang kau bicarakan sih?!
Kai tertawa kecil.
Masa' kau tidak mengerti sih? Jangan begitu ah! Tidak baik tau!
Ucapan itu sukses membuat keseluruhan wajah Jongin berubah merah. Selayaknya kepiting rebus. Tapi sepertinya jauh lebih merah dari pada itu.
Choi Kai!
Tawa Kai pun semakin membahana.
.
.
.
reYHan ft. Hana
present
first Sequel of XOXO drama (KaiLay ver)
The Ritual
Rate: T-M
Pair: LayKai (Main) and other
Warning: typo(s), gaje, aLay, lebay, dipenuhi kata-kata yang ada di Kamus Wolf by reYHana, kurang hot, gak nyambung ama fic utamanya, kepanjangan, de el el de el el
Gak suka? Tidak usah baca gak papa
Suka, monggo di lanjut.
Enjoy
.
.
.
The Ritual
Last Chapter
.
.
.
Sekarang ini, Jongin sedang berada di sebuah ruang ganti yang sudah di persiapkan di rumah kecil dekat dengan pintu masuk ke Holy Arena. Mencoba mempersiapkan diri untuk hari besarnya.
Sayangnya, rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya itu benar-benar membuat Jongin tidak nyaman sama sekali. Meskipun ia tau ini bukan apa-apa dibandingkan dengan perasaan panas yang akan ia rasakan malam ini, tetap saja.
Sudah begitu, cuaca sekarang ini juga tidak mendukung. Meskipun di dalam ruangan ini sangat dingin, bagi Jongin sih sama saja. Tetap panas sekali!
"Berhenti menarik bajumu, Jongin. Mommy sudah lelah membenarkannya." Ucapan itu disampaikan dengan nada bicara yang frustasi.
Sudah hampir satu jam lebih mereka ada di ruang ganti ini, tapi Jongin tak jua siap. Padahal ini hanya pakaiannya saja. Wajahnya belum dirias apapun.
Salahkan saja namja itu yang sedari tadi terus menerus tidak bisa bersikap kooperatif sama sekali. Sudah tidak mau dirias oleh siapapun kecuali ibunya, terus menerus mengacak-acak pakaiannya lagi.
Oh Tuhan, apa Heechul dulu punya salah sampai mendandani putranya yang satu ini susahnya setengah mati?
"Tapi aku gerah, Mom." Rengek Jongin dengan suara yang persis anak kecil. Tangannya masih setia menarik-nari kerah baju yang mirip kimono tersebut.
Heechul menghela nafasnya.
"Mommy tau," gumam Heechul setelah –akhirnya- berhasil memita tali tipis panjang di pinggang Jongin yang merupakan bagian dari pakaiannya. "Tapi kau harus bertahan. Lagi pula bajunya dingin, kan?" lanjutnya seraya mengancing kembali bagian baju kebesaran Clan Choi itu pada tempatnya.
Memang benar sih baju itu, entah bagaimana bisa, membuatnya terasa dingin padahal bahannya cukup berat. Tapi masalahnya, Jongin dan pre Heat itu bukan kawan baik. Musuh malahan. Jadi, mau apapun diberikan padanya, ia akan tetap merasakan kepanasan.
"Tapi, Mom –"
"Ayolah, Jongin. Satu kali ini saja. Tahan. Hanya 20 menit dan setelah itu terserah kau mau pakai apapun, bukan tanggung jawab Mommy."
Ya... apa yang dikatakan ibunya itu benar. Setelah 20 menit ritual upacara pembukaan Holy Fight, ia bukan lagi tanggung jawab Mommy-nya, tidak juga tanggung jawab Daddy-nya, tapi tanggung jawab dirinya sendiri. Karena setelahnya, ia akan melaksanakan Holy Fight yang menjadi tanda bahwa ia siap di-claim oleh Yixing.
Aigo... memikirkannya membuatnya tambah panas!
"M-Mommy! Jangan bicara seperti – ah lupakan! Selesaikan saja apapun yang Mommy mau!" ucap Jongin salting seraya membuang wajah dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
Heechul hanya bisa terkikik kecil. Ditatapnya wajah putranya yang merona manis dengan alami itu. Tangan kanannya terangkat untuk mengelus pipi Jongin.
"Kau sudah besar, ya, Jonginnie?"
Merasakan perubahaan mood di suara ibunya itu, Jongin lantas membuka kedua matanya –yang tanpa sadar ditutup karena kesal. Kepalanya perlahan kembali mengarah ke arah Mommy-nya yang sekarang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Mommy..."
"Padahal hanya kau yang terisa di rumah. Mommy sudah tidak punya teman lagi, deh." Ucapan Mommy-nya itu terdengar seperti suara anak yang sedang ngambek. Mencoba untuk menutupi kesedihannya.
Meskipun tentunya, a total failed.
Jongin tau bagaimana perasaan Mommy-nya sekarang. Ia pasti sedih sekali sekarang. Satu lagi anaknya akan ia serahkan pada orang lain untuk di jaga dan diberikan kasih sayang yang berlebih.
"Padahal tujuan Mommy punya anak banyak itu supaya rumah besar itu ramai dengan canda tawa. Tapi, sayangnya hanya bertahan 19 tahun." Lagi, Mommy-nya bersuara demikian. Manik mata caramelnya memandanga emerald Jongin dengan penuh kasih sayang dan kepedihan.
Rahang bawah Jongin mengeras.
"Mommy..." Jongin pun membawa Mommy-nya tersayang itu ke dalam pelukkannya. Mencoba menghibur ibunya yang sedang dalam keadaan bersedih yang disembunyikan itu.
"Jongin akan terus ada untuk Mommy. Kapanpun Mommy merasa kesepian, Jongin akan datang untuk Mommy." Gumam Jongin kecil tepat di samping telinga Heechul. Sukses membuat Heechul mengigit bibir bawahnya.
"Meskipun Jongin sudah tidak tinggal dengan Mommy, Jongin janji, Jongin akan selalu ada untuk Mommy. Bagaimanapun juga, Jongin adalah anak Mommy. Anak harus selalu ada untuk Mommy-nya, kan?"
Ucapan itu sukses membuat tangis yang sedari di tahan Heechul akhirnya meluap juga.
Isakan tangis dari ibunya itu benar-benar membuat Jongin merasa berasalah sekali. Sangat amat bersalah. Ia merasa ia seperti sudah melakukan sebuah kejahatan besar karena membuat ibunya bersedih seperti ini.
"Mommy..."
"Hiks... Mommy tidak tau harus bagaimana... hiks... Mommy bahagia kau akhirnya menemukan mate-mu tapi... hiks... Mommy... Mommy... hiks..."
Tanpa Mommy-nya jelaskan pun, Jongin sudah tau bagaimana perasaannya. Ia juga. Jongin sendiri juga merasakan hal yang sama.
Kedua ibu dan anak itu pun akhirnya memangis bersama. Merasa tidak rela melepaskan satu sama lain.
.
.
.
Satu demi satu ia melangkahkan kakinya. Secara perlahan. Mencoba menjadi seanggun mungkin. Semenawan mungkin.
Bagaimanapun juga, ini hari Holy Fight-nya. Ini sama seperti upacara pernikahan –yang akan terlaksana 2 tahun dari sekarang.
Helaan nafas panjang selalu terdengar setiap beberapa menit sekali. Menandakan bahwa namja yang biasanya selalu optimistik dan pemberani itu kini tengah dilanda kegugupan besar.
Tenang saja, Jongin. Semua akan baik-baik saja.
Tidak usah mengatakan hal itu, kau sendiri juga gugup setengah mati, kan?
Kai lantas langsung mempoutkan bibirnya ketika Jongin membalas perkataannya dengan sarkastik seperti itu. Meskipun itu benar, Jongin tidak usah mengatakannya secara terus terang seperti itu, kan?
Membuat tambah gugup saja.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Jongin dan rombongan sampai di pintu gerbang masuk Holy Arena. Tepat bersamaan dengan rombongan Yixing.
Kedua rombongan itu berhenti sejenak. Membiarkan dua pemimpin rombongan mereka saling memandang.
Atau lebih tepatnya, hanya Jongin yang memandang.
Namja yang mengenakan pakaian putih dan soft pink dengan tudung tembus pandang berwarna putih berenda itu jujur tak bisa mengalihkan pandangannya dari apa yang sedang ia lihat. Manik merah darahnya memandang namja di depannya ini penuh dengan kekaguman.
Meskipun seluruh wajahnya tertutup oleh tudung hitam yang hanya sekilas tembus pandang, tidak menunjukkan wajahnya sama sekali, ia tetap menawan untuk Jongin.
Pakaian yang membalut tubuhnya yang sedikit lebih kecil dari Jongin itu entah bagaimana tampak terlihat sempurna padanya. Meskipun tidak menunjukkan bagian apapun dari tubuhnya, bagi Jongin, pakaian yang tampak seperti yukata berwarna hitam itu membuatnya tampak jauh lebih di atas Jongin.
Meskipun ia merasakan intimidasi darinya, Jongin tetap saja merasa kagum.
Tao hanya bisa tersenyum kecil melihat Jongin yang tampak begitu kagum sekaligus tunduk pada Yixing. Ini bertanda bagus sekali.
Semoga saja.
"Kita harus segera melanjutkan." Gumam Sungjong yang berdiri di samping kanannya. Jongin mengangguk, kemudian kembali berjalan. Kali ini dengan wajah tertunduk karena Yixing juga berjalan lanjut berjalan. Sehingga keduanya berjalan berdampingan.
Jujur saja, meskipun Jongin tau Yixing tidak bisa melihat apapun karena matanya di tutup –itu sudah peraturannya karena Jongin dalam masa pre Heat- dan diantara mereka masih ada Sungjong dan Sehun, Jongin merasa malu sekali. Sekujur tubuhnya tiba-tiba semakin menghangat. Jantungnya berdegup semakin kencang dan ia bisa merasa kedua pipinya terasa panas sekali.
Inikah efek dari Summer Heat? Atau ini hanya sekedar karena Yixing ada di sampingnya?
Mola... Jongin terlalu malu untuk memikirkan apapun.
Tak ada 20 langkah dari gerbang masuk, kedua rombongan kini sudah sampai di depan altar Holy Arena.
Ketika mereka sudah sampai, Sehun dan Sungjong lantas mundur. Kemudian, dengan bimbingan Taekwoon dan Niel, Yixing dan Jongin di tuntun menuju altar Holy Arena yang mana Yifan sudah menunggu di sana dengan baju kebesaran Head Alpha Clan Wu-nya.
Begitu kedua sejoli itu sudah berdiri berdampingan, Taekwoon dan Niel pun mundur secara perlahan dan kembali ke rombongan. Meninggalkan Jongin dan Yixing berdua di hadapan Yifan.
"Para hadirin kehormatan semuanya, kita berdiri di sini untuk menyatukan tidak hanya dua insan, tetapi juga dua keluarga besar dalam suatu hubungan ..."
Grip
Sisa pidato Yifan itu terdengar samar di telinga Jongin. Sesuatu yang benar-benar tidak baik dan tidak sopan sama sekali. Tapi, mau bagaimana lagi, telinganya penuh dengan suara debaran jantungnya.
Masalahnya, demi Tuhan, Yixing sedang menggenggam tangannya sekarang.
Samar-samar, Jongin bisa merasakan dinginnya tangan Yixing yang mengusir rasa panas di tubuhnya. Membawa kenyamanan sekaligus rasa malu hebat padanya.
Dengan kepala yang tertunduk, Jongin memerhatikan tangannya yang digenggam oleh Yixing. Tangannya yang tampak kontras sekali dengan tangan Yixing itu tampak begitu kecil di genggamannya. Entah bagaimana caranya.
Tapi, di saat yang sama, ia merasa begitu aman, nyaman dan damai.
"... jadi, Wu Yixing, bersediakah engkau menjalankan Holy Fight ini, bertanding dengan adil, sekuat tenagamu, tanpa menahan kekuatanmu, meskipun itu membahayakan dan salah satu dari kalian bisa terluka hebat, demi menunjukkan dominasimu dan mengklaim matemu?"
Mendengar hal itu sebenarnya bukanlah sesuatu yang enak di dengar selayaknya janji suci. Tapi, mau bagaimana lagi, janji Holy Fight memang demikian. Karena tujuannya yah demikian.
Yixing menggenggam tangan Jongin semakin erat.
"Ya, aku bersedia."
"Dan kau, Choi Jongin, bersediakah engkau menjalankan Holy Fight ini, bertanding dengan adil, sekuat tenagamu, tanpa menahan kekuatanmu, meskipun itu membahayakan dan salah satu dari kalian bisa terluka hebat, demi menunjukkan dominasimu dan mengklaim matemu?"
Jongin terdiam, melirik ke arah tangannya di genggam oleh Yixing.
"Aku bersedia."
Yixing tersenyum ketika tangan Jongin akhirnya balas menggenggam tangannya.
.
.
.
"Aigoo... Kai-yah! Wow, Red Moon memang berbeda dengan Wolf lainnya."
Kai tidak membalas apapun yang diucapkan Zi barusan. Ia hanya fokus memandangi dirinya yang sekarang ini dalam wujud Wolfnya yang terpantul di cermin besar di hadapannya.
Bulunya berwarna gradasi merah darah ke putih (luar ke dalam). Tubuh Wolfnya tampak besar tapi disaat yang sama begitu mungil. Manik matanya berwarna merah darah seutuhnya. Terang dan begitu bercahaya, selayaknya purnama merah.
Sudah lama sekali ia tidak melihat dirinya dalam bentuk seperti ini. 5 bulan mungkin? Entahlah. Yang jelas, Kai sudah lama sekali tidak melihat dirinya sendiri.
Sementara itu, Zi tidak bisa berheti memandangi Kai. Wolf itu benar-benar menawan. Sangat menawan, dibandingkan dirinya yang seorang black pearl, berbulu hitam dengan gradasi putih, Kai sunguh benar-benar menawan. Sempurna.
Ah... ia beruntung putranya mendapatkan seseorang sesempurna ini.
Sangat beruntung.
"Kai-yah, sudah waktunya." Mendengar panggilan ibunya, Kai pun akhirnya mengalihkan perhatiannya dari cermin besar itu. Dengan perlahan, ia mulai melangkahkan kakinya keluar dari rumah kecil di tepi Holy Arena itu.
Begitu ia keluar dari ruangan itu, sinar matahari untuk sesaat membutakan pandangannya.
Setelah ia berhasil menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya. Matanya pun lantas terbelalak.
Pemandangan begitu indah terpampang di hadapannya. Memanjakan matanya dengan warna hijaunya pepohonan dan rerumputan. Birunya sungai yang mengitari sekitar Holy Arena dan langit di sana. Ditambah lagi dengan bebagai batuan yang terukir berbagai lambang yang Jongin sama sekali tidak mengerti.
"Ini benar-benar indah..." gumaman itu keluar tidak sengaja. Sukses membuat Zi yang mengiringinya tersenyum kecil.
"Kau benar. Aku juga sepertimu dulu saat aku ke sini pertama kali." Kemilau biru cerah milik Zi lantas langsung mengedar ke sekeliling areal itu. Tak bisa menghindari nostalgia yang tiba-tiba hadir di benaknya.
"Sudah begitu lama sekali..." gumam Zi lagi seraya berjalan mendahului Kai yang masih terdiam mengagumi keindahan tempat itu. Tidak menyadari sama sekali kepergian calon Mama mertuanya.
Manik merah darahnya seolah sudah terkunci dengan keindahan di hadapannya. Baginya tempat ini benar-benar terlalu indah sehingga tidak pantas menjadi arena kematian seseorang.
Mungkin saat Battle ritual tidak ada korban jiwa karena lawannya vertikal, tapi kalau Holy Fight, sepertinya sejarah Clan Wu tidak akan jauh berbeda dengan sejarah Clan Choi. Pasti sudah banyak yang meninggal di sini.
Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi padamu
Mata Kai lantas kembali membelalak ketika suara yang kini tak lagi asing itu terdengar di telinganya. Sontak saja, kemilau merah darah itu langsung mengedar kepenjuru areal tersebut. Mencari sang pemilik suara.
Dan ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersentak kaget ketika ia melihat sesosok Wolf besar berbulu gradasi hitam gelap ke putih (luar ke dalam). Manik merah gelapnya memandang mematikan ke arahnya.
I-itu... itu...
Kai sungguh kehabisan kata-katanya ketika ia melihat sosok Wolf itu. Ia benar-benar tidak percaya dengan matanya.
Tanpa ia sadari, kedua pasang kakinya mulai berjalan menuju Holy areall. Menuju ke arah sang Wolf yang juga berjalan ke arah yang sama.
Bagaimana ini bisa terjadi?!
Meskipun keduanya kini sama-sama sudah berada di Holy areall, yang mana merupakan sebuah batu besar berbentuk lingkaran datar nan luas dengan ukiran aneh yang dikelilingi sungai, pandangan mata mereka sama sekali tak terputus. Manik yang meskipun sama merahanya itu jelas menunjukkan dominasi yang berbeda diantara keduanya.
Dan jujur, itu membuat Kai merinding.
"Baiklah, kepada semua keluarga yang terhormat, kita di sini untuk menyaksikan ritual suci untuk menentukan siapakah yang akan mendominasi dan siapakah yang akan di dominasi. Waktu mereka adalah 120 menit atau sampai seluruh areal tempat mereka berdiri terendam air atau ada pemenangnya atau..."
Seluruh hadirin yang ada di sana tampaknya sedikit tegang.
"Ada yang meninggal."
Kai meneguk ludahnya. Lay memandangnya dengan seringai kecil.
"Baiklah, tanpa membuang waktu lagi, ritual suci ini... " Kris, Wolf besar berbulu putih seluruhnya yang berdiri di atas batu besar berbentu persegi panjang, melirik ke arah Leo dan Shushen yang sudah siap untuk membuka pintu air sungai yang mengelilingi Holy areall.
"MULAI! Auuuuuu!"
Secara bersamaan, para Wolf yang ada di sana pun ikut melolong. Sementara Leo dan Shushen membuka pintu air. Tanda bahwa waktu sudah mulai dihitung mundur.
Meskipun demikian, keduanya tak langsung saling menyerang. Mereka malah masih asik saling pandang satu sama lain.
Kau cantik sekali, Kai
Perkataan itu diucapkan Lay dengan tulus. Dimatanya Kai memang cantik. Cantik sekali. melebihi sang rembulan yang selama ini selalu dipujanya.
Wolf itu bergerak mengelilingi Kai. Memperhatikan setiap sudut calon mate-nya itu. Sementara Kai sendiri sepertinya masih belum bisa percaya dengan apa yang dilihatnya.
Kalau dalam human form-nya Yixing sedikit lebih kecil dari Jongin, dalam Wolf form, malah kebalikannya. Kai tampak benar-benar jauh lebih kecil dibandingkan Lay. Benar-benar kelihatan sekali bahwa mereka bukanlah tandingan yang seimbang.
Kai kembali menelan ludahnya.
Setelah puas memerhatikan calon mate-nya itu, Lay tersenyum kecil. Wolf dengan warna bulu yang bisa dibilang aneh itu –gradasi warnanya dari terang ke gelap- pun mundur beberapa langkah. Memposisikan dirinya di tengah-tengah areal pertandingan itu.
Kai, kalau kau diam seperti itu, waktu kita akan sia-sia.
Ucapan itu sukses membawa Kai kembali ke bumi. Wolf itu pun lantas menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian pasang posisi menyerangnya. Matanya berkilat.
Lay menyeringai.
Kuberi kau waktu 30 menit.
Eh?
Aku beri kau waktu 30 menit. Serang aku sesukamu. Aku tidak akan melawan sedikitpun.
Tawaran itu jelas membuat Kai terkejut bukan main. Apa maksudnya ini? Apa Lay berfikir bahwa dia sangat lemah sampai berkata seperti itu?
Kau meremehkanku?
Tidak. Aku hanya bersikap adil.
Adil? Adil apa maksudnya? Ini sih namanya meremehkannya!
Maksudmu?!
Kau habis terluka. Tidak adil kalau aku menyerang orang yang habis terluka seperti itu.
Kai benar-benar tersinggung sekarang. Ia menggeram kesal. Manik darahnya semakin berkilat-kilat akibat kemarahan.
Baiklah. Konsekuensi ditanggung sediri!
Lay hanya tersenyum kecil. Kemudian duduk dan mengangguk.
Serang aku sesukamu.
Kai menggeram kesal. Cakarnya mengeluarkan kuku-kuku tajam. Ia pun kemudian berlari menuju ke arah Lay yang tetap duduk dengan tenang.
Kemudian menghilang.
Rella tersenyum melihatnya.
Bagus Kai-yah! Jongin-ah!
Lay tampaknya sama sekali tidak terkejut dengan menghilangnya Kai. Ia bahkan masih berwajah tenang dan tampak tidak mencari dimana keberadaan Kai.
Yang ternyata muncul tepat dibelakangnya.
Crash
Satu serangan kuat di punggung, sukses membuat darah mengalir dari sana. Begitu banyak sampai bulu-bulu itu berubah menjadi berwarna merah.
Tapi, Lay tidak melakukan apapun.
Kai menghilang lagi. Kemudian muncul dari sudut yang lain. Kali ini tepat mencakar bagian sebelah kanan kepala Lay. Sukses membuat Lay menutup matanya.
Tapi itu saja. Tak ada ekspresi kesakitan.
Kai kembali menghilang. Kemudian muncul dari sudut lain dan menyerang bagian lainnya. Terus begitu, menghilang, muncul, menyerang, pola itu terus berlangsung sampai terbentuk debu yang menutupi sekitari Lay akibat kecepatan luar biasa dari teleportasi Kai.
Crash
Crash
Crash
Bruk
Crash
Setelah hampir 5 menit, akhirnya Kai muncul di sisi semula ia berdiri. Kedua cakar depannya penuh dengan darah. Senyum penuh kemenangan hadir di wajahnya.
Rasakan itu!
Perlahan tapi pasti, debu yang mengelilingi Lay menghilang. Memperlihatkan sedikit demi sedikit bagian tubuh Lay yang berlumuran dengan begitu banyak –
Darah.
Zi menyerngit melihatnya. Tubuh putranya itu benar-benar mandi darah.
Tapi kebalikannya, Kris malah tersenyum. Atau lebih tepatnya menyeringai.
Kenapa?
Karena Lay masih duduk di sana dengan wajah yang sama seolah tidak ada yang terjadi sama sekali.
Melihat itu jelas membuat Kai membelalakkan matanya.
Hanya itu.
Lay mengucapkan dua kata itu dengan nada polos. Sebelah alisnya naik. Sesuatu yang membuat Kai menggeram kesal.
Healer sialan!
Dengan langkah cepat, Kai menerjang ke arah Lay. Gerakannya begitu cepat sampai akhirnya ia tidak terlihat.
Tau-tau, ia sudah ada di depan Lay lagi. Kedua manik merah mendominasi itu saling pandang. Sebelum kemudian, Kai menendang Lay dengan begitu keras.
Braaak!
Sampai-sampai Lay menghantai pembatas areal itu –yang merupakan batu- dan tercebur masuk ke dalam sungai.
Hitung-hitung balas dendam yang waktu itu.
Lay mendecih pelan ketika Kai mengatakan hal itu. Sialan, kenapa dia malah mengingatkannya pasal kesalahan besar itu sih? Apa ini bagian dari serangannya?
Kembali mendecih, perlahan Lay berenang menuju permukaan, lalu naik ke atas arena. Manik merah gelapnya bertemu dengan manik merah darah Kai yang berkilat-kilat penuh kemenangan.
Lay menyeringai.
Cih, jangan kau kira hanya dengan serangan lembek seperti itu, kau bisa menundukkanku.
Perkataan itu jelas membuat senyum Kai menghilang. Bergantikan dengan kerutan di kening.
Apa-apaan dia. Kenapa sepertinya serangan kita tidak mempan sama sekali padanya?
Memang, sayangku. Kau butuh sesuatu yang lebih keras dari itu.
Kai jelas terkejut ketika perkataan Jongin dibalas oleh Yixing. Kilatan kesal di matanya semakin menggila.
Seraya Lay kembali ke posisinya, Kai berlari menerjangnya.
Tidak ada cara lain. Selain kita bergerak duluan.
Eh?
Memanfaatkan kecepatannya dan keterlalu-percaya-diri-an Lay, Kai pun berteleportasi ke arah atas Lay yang masih dengan santainya. Dan dengan kekuatan penuh, ia pun menjatuhkan diri di atas Wolf yang jauh lebih besar darinya itu. Sukses membuat Lay jatuh flat dengan tanah.
Ya! Apa yang –
Ucapan Lay berhenti ketika ia merasakan Kai membuka mulutnya, bersiap untuk mengigitnya –
Oh, mau langsung pada intinya ya? So eager!
–dengan cepat Lay melempar tubuh Kai dari tubuhnya. Membuat Kai jatuh terguling-guling beberapa meter dari dirinya.
"Ah! Shhh..." Kai bisa merasakan bahwa beberapa bagian tubuhnya terluka. Meskipun hanya tergores dan tidak mengeluarkan darah, tetap saja terasa perih.
Kau bilang aku bisa menyerangmu sesukaku dalam 30 menit tanpa menyerangku balik! Kenapa kau –
Aku bilang tanpa menyerang balik, bukan menghindar. Yang tadi itu hindaran. Bukan serangan. Kau mau mengklaimku, jadi tentu saja aku harus menghindar.
Seringai itu, Kai benar-benar ingin merobek-robek seringai merendahkan itu!
Menyebalkan!
Dari tepi arena, N dalam diam memerhatikan pertarungan yang sedang terjadi. Manik merahnya itu terus mengikuti kemanapun arahnyahnya kedua calon mate itu bertarung. Sesuatu yang benar-benar bukan gayanya.
Leo tau itu. Makanya dia menatap mate-nya itu dengan tatapan bingung.
"Tidak biasanya kau setertarik ini dengan pertarungan semacam ini." Komentar Leo seraya kembali memandang ke arah pertarungan sepupunya itu.
"Aku hanya teringat pada pertarungan kita dulu. Ini benar-benar pesis dengan yang waktu itu." Ucap N seraya bernostalgia ke enam bulan yang lalu. Tepatnya di saat ia dan Leo melakukan Holy Fight seperti ini.
Kejadian yang terhelat di depan matanya ini benar-benar tidak berbeda sama sekali dengan kejadian 6 bulan yang lalu. Terlalu sama persis sampai N tidak bisa membedakan mana yang kejadian sekarang dan mana yang kejadian masa lalu.
Leo hanya tersenyum kecil. Yang dikatakan N itu memang benar. Sangat benar.
Dulu, 6 bulan yang lalu, ia juga bersikap seperti Lay. Dengan percaya diri yang berlebihan –sombong mungkin- ia memberikan N waktu 30 menit untuk menyerangnya sepuas hati. Ia tidak akan balas menyerang, hanya menghindar saja.
Tentunya, N merasa harga dirinya terinjak-injak dan menyerang dirinya selayaknya Kai menyerang Lay saat ini. Penuh dengan rasa kekesalan yang teramat sangat. Bagaimana pun juga N dan Kai sama-sama seorang Alpha, bagi seorang Alpha harga diri adalah segalanya.
"Tapi, aku rasa –"
Blam. Lay terpental menghantam dinding pembatas lagi.
"-ini tidak akan berakhir seperti kita." Ucapan Leo itu lantas membuat N melihat ke arahnya. Sebelah alisnya naik.
"Dari mana kau tau?" tanya N dengan nada penasaran.
Leo tidak menjawab. Ia malah terus memerhatikan Lay yang sekarang tengah berenang ke arah arena.
Senyum kecil berkembang di bibirnya.
"Anggap saja aku tau jalan pikirannya Lay." Jawaban itu mengundang tawa kecil dari N.
"Bagaimana kalau berakhir sama dengan kita?"
"You have your way."
Jawaban yang begitu cepat, ani, jawaban yang diberikan oleh Leo itu sukses membuat N menatap ke arahnya dengan mata membelalak.
"Jinja? Kau serius? Janji?" perkataan itu diucapkan dengan penuh semangat. Manik merahnya berkilat-kilat tertarik. Leo tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya.
"3 jam. Lakukan sesukamu." Senyum N lantas langsung mengembang lebar sekali. Ekspresinya menunjukkan bahwa ia senang bukan kepalang.
"Baiklah! Janji harus ditepati!"
"Hmm..."
.
20 minutes later
.
"Hosh... hosh... hoshh... hosh..."
Nafas tak beraturan terus keluar dari mulut Kai. Menandakan bahwa ia benar-benar sudah kewalahan menghadapi sang imortal objek yang masih saja memandangnya dengan pandangan sombong yang merendahkannya.
Sialan! Sialan! Sialan!
Sudah selesai?
Cih!
Ah... sudah ya?
Lay pun menatap ke arah sungai yang mengelilingi areal itu
Wah pas sekali, ini sudah 30 menit.
Diam! Aku belum selesai!
Meskipun Kai berucap demikian, tubuhnya tidak menunjukkan apapun. Ia tetap berdiri di sana. Menjaga jarak yang cukup jauh dengan Lay. Nafasnya masih tak beraturan. Kakinya tampak sedikit bergetar.
Cih! Sialan!
Lay memandang Kai yang balik memandangnya dengan pandangan kesal dan tidak mau kalah sama sekali. Ia pun menghela nafasnya.
Sayang sekali, perjanjian tetaplah perjanjian.
Setelah mengatakan hal itu Lay pun menghilang.
Kris menyeringai. N tersenyum penuh kemenangan. Shushen dan Leo mengeleng-gelengkan kepalanya. Sementara sisanya terbelalak terkejut.
Termasuk Jongin.
Lay bisa teleport?!
Tidak.
Nafas Kai sontak tercekat ketika tiba-tiba Lay sudah berhadapan dengannya. Tepat di depan matanya. Hidung mereka saling bersentuhan.
Apa –apa yang baru saja terjadi?!
Itu hanya kecepatanku. Bukan teleportasi.
Tangan Lay terangkat. Harapan N semakin melambung tinggi. Kris semakin menyeringai. Shushen dan Leo menatap dengan senyum kecil. Sementara sisanya membelalakan mata semakin lebar.
Kai menutup matanya. keningnya berkerut. Mencoba menunggu rasa sakit menerjang tubuhnya. Erangan ketakutan terdengar.
.
.
.
Brak
.
.
.
"(Gasp)"
.
.
.
"Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, N."
.
.
.
Tapi, tidak ada yang terjadi.
Perlahan, dengan sangat hati-hati, Kai membuka matanya. Sedikit demi sedikit mencoba memastikan bahwa keadaan sekitarnya baik-baik saja.
Matanya pun lantas membelalak.
L-Lay... Lay...
Lay... Lay sedang membungkuk di hadapannya!
Aku sepenuhnya bertekuk lutut padamu.
Kai maupun Jongin sekarang ini benar-benar kehabisan kata-katanya. Terlalu terkejut. I-ini benar-berar... sesuatu yang seperti ini benar-benar –
Mustahil! Ini mustahil terjadi!
Sementara itu, dari sisi Holy areal, Zi tersenyum penuh arti. Seolah tertarik grafitasi, ia pun langsung mengusap-usap wajahnya di leher Kris.
"Aw... aku jadi teringat waktu kau dan Sehun bertekuk lutut. Aw... ini benar-benar terlalu manis."
Kris hanya bisa terkekeh kecil. Senyum bangga berkembang di mulutnya.
Sementara itu, Lay yang merasakan tidak ada respon apapun pun lantas membuka matanya. Mencoba memastikan apakah yang ia lakukan ini benar.
"E-eh! K-Kai! Kenapa menangis?!"
Jujur, ini bukanlah harapannya. Kai menangis? Itu terdengar seperti lelucon di telinganya. Tapi, malah ini yang terjadi.
Ya ampun, apa dia menyakiti pendirian Kai sedalam itu? Tapi, bukan itu maksudnya.
"K-Kai! Kai jangan –"
Belum juga ia sempat mengatakan apapun, Kai tiba-tiba meletakkan kepalanya di sekitar leher Lay. Mengusap-usap sisi samping kepalanya di sana seraya menggeram kecil. Sukses membuat Lay membelalakkan matanya.
I-ini... Ini...
"K-Kai –"
"Claim us, Gege."
Lay lantas meneguk ludahnya. Matanya masih membelalak tidak percaya.
"Claim us, Gege. Pali..."
Dengan itu, tanpa mengatakan apapun lagi, Lay pun menjilati leher sebelah kanan Kai.
Jangan ditahan kalau sakit.
Lay pun mengigit leher kanan Kai.
Kai sontak menutup matanya ketika rasa sakit tak tertahankan menjalar ke seluruh tubuhnya. Begitu juga dengan rasa panas, seiring dengan bergeraknya aliran darah ke arah di mana Lay mengigitnya.
Ia sama sekali tidak bisa menghindar untuk tidak menggeram Submissive pada Lay.
Begitu Lay melepaskan leher Kai, ia pun kembali menjilat-jilati areal yang ternoda dengan beberapa tetes darah itu. Mencoba meredakan sedikit rasa sakit di sana. Ia bisa merasakan detak aliran darah Jongin seiring dengan ia menjilatinya.
Setelah selesai, Lay pun menarik kepalanya dari leher Kai. Memandangi bekas gigitan tersebut yang perlahan berubah menjadi Mate Mark.
Akhirnya, Kai dan Jongin jadi miliknya.
Kai-yah...
Mhhhhh...?
Kau menandaiku juga?
Sontak saja, Kai yang sebenarnya masih nyaman sekali berada di leher Lay langsung menarik dirinya. Ia pun memandang dengan kaget mate-nya itu –oh betapa indahnya kata-kata itu.
Kau serius?
Lay menganggukkan kepalanya. Kemudian memiringkan kepalanya ke samping, memberi akses lebih pada Kai.
Melihat hal tersebut, Woon pun lantas bangkit dari duduknya. Mulutnya sedikit terbuka ketika didepan matanya secara langsung, Lay membiarkan Kai mengigitnya.
"Putra kita jatuh ke tangan yang tepat ya, Woon-ah?" Woon pun lantas langsung menatap kearah Rella, yang tampaknya begitu menikmati pemandangan putranya mengklaim dominannya.
Ini bukan sesuatu yang wajar terjadi. Seorang dominan Alpha biasanya tidak mau Submissive Alphanya mengklaimnya di Holy Arena seperti ini. Bagi mereka itu sama saja seperti mereka tidak menang sama sekali.
Jadi, apa yang dilakukan Lay saat ini adalah hal yang benar-benar baru pertama kali dilihat Woon.
Tapi, itu bukan berarti ia membencinya.
"Kau benar. Syukurlah."
"Ya, syukurlah."
Sementara itu, Kai sekarang sudah selesai memberikan Mate Mark di leher Lay. Meskipun demikian, ia tak lantas menarik diri dari leher sang Dominan. Ia malah kembali menenggelamkan kepalanya di sana seraya mengusap-usap pipinya di leher Alpha-nya –oh... betapa indahnya kalimat itu di telinga Kai.
Lay sendiri hanya bisa tersenyum kecil. Kemudian ia pun menegakkan kepalanya dengan gagah, membuat Kris yang sedari tadi terus memperhatikannya tersenyum bangga.
"Auuuuuuuu!"
"Auuuu!"
Lolongan itupun menandai berakhirnya ritual mereka, sekaligus bertanda bahwa sekarang keduanya adalah sepasang mate.
.The End.
Hujanlah note:
Berhubung fic ini di update pas bulan puasa, gue gak mau ambil resiko sama sekali, jadi smut akan dipisah. Mungkin abis lebaran dan yang upload abang gue sendiri.
Sorry kalau kelamaan, baik gue sama Hana sama-sama sibuk dengan sekolah. Sama sekali gak bisa mikirin apapun selain pelajaran. Sekali lagi minta maaf ya!
Bang Rey Note:
Maap, semuanya gue minta maap. Kayaknya endingnya kagak... memuaskan. Gue bener-bener minta maap. Kagak bermaksud njadiin kayak gini. Tapi, jadinya malah kayak gini. Gue bener-bener minta maap sebesar-besarnya. #bow berulang kali.
Anyways. Sampai ketemu ya di The Eclipse!
