Inspirated by: Criminal Minds

Attack on Titan Fanfiction

Original Story only created by Hajime Isayama, I only borrowed his characters. No commercial purpose, entertain only.

Title: The Profiler

Camouflage

Genre: Action, Crime, Drama, Adventure

Rated: M

FLASHBACK STORY AFTER CHAPTER 3: FREE THEM

Characters:

Levi Ackerman, Petra Ral, Erwin Smith, Hange Zoe, Nifa and OC

Summary: Levi dan Petra ditugaskan oleh Erwin untuk melakukan penyamaran guna membongkar kejahatan suami istri psikopat yang melakukan pembunuhan berantai di Los Angeles. Diduga pasangan itu menggunakan ilmu hitam yang mempengaruhi kehidupanya.

Warning: Mengandung adegan kekerasan dan kata-kata kasar.

Khusus chapter ini sedikit berbau romance dan adegan dewasa.

Beberapa nama tempat, jalan, posisi, dll hanya berdasarkan imajinasi/fiktif alias suka-suka, bukan berdasarkan kenyataan, tapi ada juga yang sesuai fakta. Dan banyak OC.

Enjoy the Story!


[Gedung Federal Plaza, New York]

Petra Ral, wanita yang sudah bekerja sebagai agen federal selama 6 tahun itu terlihat kesal dan berjalan dengan langkah gontai turun dari mobil Suburban hitamnya menuju ke dalam gedung tepatnya di ground floor. Pagi-pagi sekali sang director Erwin Smith menelponya untuk meeting dengan para petinggi FBI termasuk para team leader, tapi entah kenapa di tim Mike malah Petra yang disuruh sang director untuk ikut meeting, dan hal itu yang membuatnya kesal setengah mati. Petra bukan tipe orang yang hobi mengadakan pertemuan lalu saling berdebat mengeluarkan pendapat dengan para pejabat penting, apalagi yang dibahas kali ini adalah masalah keuangan. Buruknya lagi, meeting kali ini sangat mengganggu hari liburnya yang hanya sehari yang seharusnya ia pakai untuk tidur seharian disebabkan 2 hari 2 malam ia tidak tidur karena mengerjakan laporan kasus yang ia dan timnya selesaikan.

Its sucks!

Dan 1 lagi yang mengganggu pikiranya dari tadi adalah kemungkinan dia akan bertemu dengan ex boyfriend yang jujur saja ia sangat tidak menginginkan hal itu. Memikirnya saja sudah membuat tubuhnya berkeringat dingin dengan detak jantung yang tidak wajar. Pasalnya ia sudah tidak saling bertemu hampir setahun, tepatnya 9 bulan lebih 3 minggu. Yeah jika ibu hamil sedang bergembira karena bertemu sang buah hati yang baru lahir, tetapi berbeda dengan Petra yang justru membuatnya hampir gila.

Petra menunggu lift seperti biasanya untuk menuju ke meeting room di lantai 5, meeting room besar yang biasanya dibuat untuk pertemuan komunal terletak tepat di sebelah ruangan sang director. Dan kekesalan Petra bertambah setelah tanpa terduga ia kembali bertemu dengan Maria Marcedes setelah kurang lebih 6 bulan tidak bertemu karena Petra lebih banyak menghabiskan waktu dengan timnya di luar kantor, bahkan basecamp mereka berada di gudang kosong bekas gelanggang tinju. Maria yang wajahnya terlihat semakin mulus, bahkan tonjolan di lehernya sama sekali tidak kelihatan seperti sebelumnya. Rupanya ia melakukan operasi plastik lagi, pikir Petra.

"Agent Ral!" Maria menyebut nama Petra duluan dan berdiri di sebelah Petra karena ia juga ingin menunggu lift.

Petra menghela nafas pendek.

"Kau lagi!" katanya. Dan tujuan mereka lagi-lagi sama, karena Maria juga diundang meeting oleh sang director.

Petra bersikap acuh saat di lift dengan menyilangkan kedua tanganya di depan tanpa melihat Maria sedikit pun, padahal mereka hanya berdua. Mereka saling terdiam satu sama lain, sementara Maria memperhatikan Petra diam-diam dengan perasaan tak enak. Ia sebenarnya ingin berbicara hanya untuk sekedar menyapa Petra tetapi ragu untuk memulainya. Namun saat keluar dari lift, Maria menggenggam tangan Petra untuk menahanya agar tidak pergi.

"Agent Ral, aku—aku minta maaf atas perkataanku waktu itu" ucap Maria dengan perasaan bersalah. Petra tetap acuh.

"Dengar Agent Ral! Sebenarnya aku tidak pernah pergi berkencan dengan Levi 1x pun—"

"Yeah, aku tahu" perkataan Maria terpotong akibat sautan Petra yang tiba-tiba.

"Baguslah kalau kau sudah tahu"

"Aku juga tahu kalau kau dan Levi tidak pernah berpacaran" lanjut Petra. Maria tersenyum tipis karena perkataan Petra yang sedikit membuatnya lega.

"Tapi semuanya sudah terlambat, karena saat ini aku dan Levi sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi"

"Apa? Kalian putus? Apa karena aku?" tanya Maria dengan wajah terkejut.

"Don't worry. Jauh sebelum itu aku dan Levi memang sudah tidak ada kecocokan lagi. Entahlah, mungkin kami sama-sama egois"

"Agent Ral, tidak mungkin Levi memutuskanmu begitu saja—"

"Bukan! Aku yang memutuskanya bahkan aku tidak menyapa ataupun menghubunginya sama sekali. Dia juga begitu, mungkin saat ini dia sudah benar-benar melupakan aku"

"Sudahlah Maria. Lupakan masa lalu. Lebih baik sekarang kita ke meeting room, sebentar lagi jam 8 dan meeting akan segera dimulai—" Petra mulai beranjak pergi, namun Maria kembali menahan tanganya.

"Agent Ral, Levi sangat mencintaimu…" ucapan Maria itu membuat Petra menghentikan langkahnya dan kembali menatap kedua mata Maria yang beriris biru muda itu.

"Itu dulu Maria, sekarang tidak lagi—"

"Tidak! Aku yakin perasaan Levi terhadapmu masih sama"

"Tidak mungkin Maria—"

"Yes Agent Ral. Yes, trust me! Levi sudah menolakku duluan sebelum aku berharap agar ia jatuh cinta padaku waktu itu, bahkan walaupun aku wanita tulen pun, ia tetap tidak akan menggantikanmu di hatinya"

"Saat kita berkelahi waktu itu, hanya kau yang Levi ajak bicara bukan?! Dia menggenggam tanganmu saat ia menanyakan apakah aku baik-baik saja yang sebenarnya hanya pura-pura agar kau cemburu. Itu karena Levi masih berharap padamu" Maria menjelaskan panjang lebar tentang kejadian 9 bulan 3 minggu yang lalu, mumpung ia bertemu Petra.

Hening sejenak, mereka saling memandang satu sama lain….

"Satu hal yang harus kau tahu Agent Ral, semua laki-laki yang aku dekati selalu tergoda padaku, bahkan mereka rela berselingkuh demi aku. Tapi kau tahu, Levi sama sekali tidak peduli padaku"

"Levi adalah pria baik yang sangat setia! Jangan sampai kau melepaskanya begitu saja"

Antara menyesal atau tidak itulah yang ada di kepala Petra saat ini karena ia baru menyadari semuanya setelah apa yang tidak ia harapkan terjadi. Ia bingung apa yang harus dilakukanya setelah ini, apakah ia harus mengajak Levi berbaikan ataukah tetap menjalani apa yang sudah terjadi. Bahkan Petra sempat berpikir untuk berhenti menjadi seorang agent karena hubungan kurang baiknya dengan Levi, keinginan yang dari dulu ia harapkan jika Levi melamarnya. Tanpa sengaja kedua mata Petra mulai berembun.

"Agent Ral, apa kau baik-baik saja?" tanya Maria sedikit khawatir. Petra langsung menghapus embun yang berubah menjadi setitik air di matanya.

"Ah, iya. Aku baik-baik saja, jangan khawatir"

"Maafkan aku telah membuatmu jadi tidak tenang seperti ini. Tapi semua yang aku katakan benar adanya"

"Justru aku yang harus berterima kasih padamu. Thanks" kata penutup dari Petra sebelum akhirnya mereka berjalan bersama menuju ruangan meeting.


[Meeting Room, Lantai 5]

Levi Ackerman sang team leader dari tim yang paling disegani dengan para anggota yang kuat dan cerdas itu kini sudah duduk di salah 1 kursi meeting yang ada di ruangan besar dengan suhu pendingin ruangan 23oC. Ia sedang menulis beberapa point penting yang akan ia ungkapkan saat meeting nanti. Terlihat wajahnya yang keren itu sedang berkonsentrasi menggerakkan pulpen di tanganya dan saat itulah terkadang wanita-wanita yang melihatnya jadi kurang fokus karena terpana melihat dirinya yang sedang serius. Beberapa staff dan agents sudah berada di dalam ruangan, ada yang saling mengobrol satu sama lain, ada yang membuat kopi atau teh dengan mesin khusus yang telah disediakan di dalam ruangan, ada yang asyik bermain dengan gadgetnya, dan ada juga yang tidak kalah seriusnya seperti Levi.

Petra dan Maria baru saja memasuki ruangan meeting, dan mereka berdua memutuskan untuk membuat kopi dengan creamer. Petra yang sedari tadi berkeringat dingin sengaja tidak memperhatikan orang-orang yang ada di ruangan meeting saat itu, akan tetapi berbeda dengan Maria yang selalu menyapa setiap orang yang dikenalnya dan memperhatikan semua orang yang sudah ada di dalam ruangan. Orang-orang yang menyapa Petra pun, selalu Petra balas dengan singkat sambil tetap bersikap acuh. Tanpa terduga Maria melihat sosok yang dari tadi ia cari-cari, sosok pria tampan dan keren yang sedang fokus menulis. Sedangkan Petra masih tetap fokus dengan kopi yang ia buat, berdiri menghadap arah berlawanan di sebelah Maria.

"Ah, itu Levi!" ucap Maria dengan sumringah.

Please Maria jangan panggil dia, please!

"Hey, Levi!" teriak Maria dari jarak sekitar 2 meter dari tempat ia membuat kopi dengan tempat duduk Levi, tapi Levi bisa mendengarnya karena teriakan yang lumayan keras itu.

Mati aku!

Sejenak Levi mencari asal suara yang memanggil namanya itu dan akhirnya ia menemukanya di meja khusus tempat mesin kopi dan teh serta aneka dessert dan minuman berada. Levi menorehkan senyuman tipisnya kepada Maria dan melambaikan tanganya. Tapi kali ini yang menjadi perhatian pentingnya bukan sapaan Maria dari kejauhan itu, melainkan sosok seorang wanita yang berdiri di sebelahnya dengan memakai kemeja kerja merah muda dan celana hitam sedang berkonsentrasi mengisi gelas kopinya yang barusan ia buat. Sosok yang sangat Levi kenal walaupun dilihat dari belakang sekalipun. Levi memperhatikan Petra yang masih pura-pura tidak melihatnya itu sejenak, lalu melanjutkan kegiatan menulisnya kembali. Jujur saja bulu kuduk Petra jadi berdiri kala itu.

"Agent Ral, sepertinya timku sudah berkumpul di sana. Aku duluan ya" kata Maria sembari menunjuk orang-orang dari timnya yang sedang berdiskusi ringan. Petra menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Maria enak sekali karena seluruh timnya diundang, tidak seperti Petra yang hanya datang sendirian, kali ini Petra bergumam sendiri lagi.

Petra membawa secangkir kopinya berjalan menuju kursi kosong yang agak jauh dari pandangan Levi, dan selama Petra berjalan, Levi mengikutinya dengan menggerakkan iris mata keabuanya. Ia melihat wajah Petra sekilas dari samping yang memakai sebuah kep untuk menahan poni kananya hingga akhirnya dapat melihat wajah Petra seluruhnya saat ia sudah duduk di sebelah teman yang juga ia kenal bernama Bryan. Petra tersenyum menyapa Bryan lalu mengajaknya ngobrol, dan entah kenapa bagi Levi, wajah Petra saat itu terlihat semakin:

Cute!

Tak lama kemudian meeting pun dimulai.

2 jam kemudian….

"Petra, 1 jam lagi tolong ke ruanganku, okay?! Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kalian" kata sang director Erwin Smith sesaat setelah meeting selesai.

"Okay bos" Petra menjawabnya singkat.

Setelah sang director pergi menjauh, Petra baru menyadari sesuatu.

Tunggu sebentar! Kalian?


[Ruangan Erwin, Lantai 5]

"Sebenarnya siapa yang kita tunggu?" tanya Levi yang mulai terlihat kesal karena Erwin menyuruhnya untuk menunggu seseorang terlalu lama.

"Nanti kau juga akan tahu" jawab Erwin singkat.

"Hey alis tebal, kau ini bercanda ya?!" Levi mendengus kesal.

"Okay, jika lebih dari 5 menit, aku akan pergi!" lanjut Levi. Dari dulu dia benci menunggu.

Tak lama kemudian seorang wanita memasuki ruangan Erwin setelah sebelumnya ia mengetuk pintu dan sang director menyuruhnya masuk. Wajahnya tidak kalah kesalnya dengan Levi.

"Ah, Petra. Duduklah!" kata Erwin.

Levi terkejut karena yang ia tunggu dari tadi adalah Petra. Ia menatap Petra melalui ekor matanya yang tajam dengan tatapan datar, sedangkan Petra tiba-tiba saja bulu kuduknya kembali berdiri dan berkeringat dingin karena yang dia alami saat itu tidak sesuai dugaanya sekaligus bukan harapanya. Petra berusaha keras untuk tidak menghiraukan perasaan gugupnya saat itu, apalagi ia duduk di sebelah Levi yang hanya berjarak 2 cm. Pada akhirnya mereka berdua duduk berhadapan langsung dengan Erwin dan saling mencuri-curi pandang satu sama lain.

"Oke, karena kalian berdua sudah di sini, aku mempunyai misi penting untuk kalian berdua, dan kuharap kali ini kalian bisa bekerja sama"

"What?" ucap Levi dan Petra bersamaan. Mereka saling memandang.

"Erwin, kenapa tidak Mike saja yang kau suruh, kenapa aku—"

"Dasar alis tebal! Sebenarnya apa maumu, kenapa tidak timku—" protes Levi dan Petra bersamaan kepada sang director, membuat ruangan Erwin sedikit ricuh.

"Bla…bla…bla…"

"Oke…oke…stop…stop!" teriak Erwin seketika menghentikan pernyataan keberatan dari Levi dan Petra.

"Aku tidak tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi pada kalian berdua. Tapi misi ini hanya kalian berdua yang bisa melakukanya"

Hening sejenak….

Wajah Levi dan Petra seketika menjadi serius menunggu kelanjutan dari perkataan Erwin.

"Ada sepasang suami istri di Los Angeles bernama Robert Gender dan Mary Gender yang merupakan dugaan pelaku pembunuhan berantai terhadap beberapa wanita muda berumur sekitar 17-29 tahun. Mereka membentuk ajaran sesat yang anggotanya semua adalah wanita. Tapi kelompok sesat mereka itu sudah bubar karena salah satu anggotanya yang selamat melapor kepada pihak berwajib, bahwa semua anggotanya harus memenuhi hasrat Robert Gender terdahulu jika ingin bergabung. Mereka yang tidak mau, diculik, disiksa, diperkosa dan lalu dibunuh serta dimutilasi untuk direbus menjadi santapan pasangan suami istri itu, bahkan beberapa dari mereka dikubur entah dimana. Dari situlah LAPD mengetahuinya, dan sempat menahan Robert Gender namun tidak punya cukup bukti di pengadilan, sehingga ia kembali bebas"

"Kejadian itu sudah terjadi selama 2 tahun dan dalam beberapa bulan terakhir ini banyak laporan orang hilang yang masuk ke database LAPD. Mereka semua tak satupun yang kembali ke rumah. Dan LAPD curiga kalau Robert Gender mulai beraksi lagi karena ditemukan 2 mayat wanita muda dibuang ke sungai dekat rumahnya dengan tubuh termutilasi"

"Lalu, kau ingin kami melakukan apa?" tanya Levi dengan wajah datarnya.

"Aku ingin kalian menyamar sebagai suami istri dan membongkar segala kejahatan Robert dan Mary Gender. Mereka menyembunyikan beberapa mayat entah dimana, dan aku ingin kalian bisa menemukan dimana mayat-mayat itu disembunyikan"

"Apaaaa?" kali ini Levi dan Petra kembali kompak.

"Yang benar saja, suami istri katamu—" Petra terkejut setengah mati.

"Kau gila ya alis tebal, kenapa kau tidak menyuruh Nifa atau Gelgar—" Levi ikut protes.

"Bla…bla…bla…"

Ruangan Erwin kembali ricuh.

"Baiklah, STOP!" Erwin kembali berteriak menenangkan mereka berdua.

"Kalian ini kenapa? Bukankah kalian berdua—" Erwin mendekatkan kedua telapak tanganya, mempertemukan jari-jemari di kedua tanganya yang menguncup.

"Kami ini hanya sesama rekan, tidak lebih!" Levi mengungkapkan perkataan yang sebenarnya tidak sesuai dengan isi hatinya. Petra hanya menengok sekilas ke wajah Levi di sebelahnya, dan ia hanya diam.

"Oh, begitu kah?! Kulihat love chemistry di antara kalian adalah yang paling menonjol, apa selama ini aku salah?!" kata Erwin.

"Kau hanya menghayal Erwin!" Levi kembali berbicara, Petra tetap diam.

"Okay, aku tak mempermasalahkan hal itu. Aku menugaskan ini pada kalian, karena aku percaya kalian sanggup menjalaninya dengan mulus tanpa cacat sedikitpun. Bagaimana?"

Terdiam sejenak….

"Apa boleh buat! Aku sih okay, tapi lebih baik kau bertanya kembali pada nona pendiam di sebelahku, apakah dia mau menuruti perintah dari sang director tercintanya ini?!" kata Levi sedikit menyindir Petra.

Erwin hanya menatap Petra, menunggu jawaban pasti darinya.

"Okay, karena ini perintah darimu, aku tidak bisa bilang tidak!" jawab Petra dengan berat hati.

"Bagus! Semua sudah aku persiapkan, kalian akan tinggal di sebuah rumah minimalis dan menjadi tetangga Robert dan Mary. Identitas kalian sudah aku bereskan" Erwin mengambil kartu identitas samaran mereka beserta dokumen bukti pernikahan palsu mereka dan menaruhnya di meja. Tertulis nama Dylan Braxton sebagai nama samaran Levi dan Sofia Braxton sebagai Petra.

"Wow, nama yang bagus!" Levi berkomentar singkat.

"Hati-hati. Robert Gender adalah orang yang brutal. Ia tidak segan-segan menghabisi siapa saja tanpa belas kasih!"

"Roger!" jawab mereka berdua serentak.

"Besok pagi-pagi sekali kalian berangkat!"

Setelah itu Levi dan Petra masih tetap tidak saling bicara hingga keesokan harinya, bahkan setelah tiba di Los Angeles, tepatnya di rumah tempat tinggal mereka yang berada di sebelah rumah pelaku incaran mereka.


[Larchmont Village, Los Angeles]

Hari ke-1….

Kedua agents yang ditugaskan Erwin itu kini telah tiba di kediaman Braxton, nama keluarga samaran mereka. Mereka turun dari mobil Chevrolet Equinox bercat biru dongker, SUV yang telah disediakan sang director untuk tugas mereka. Ketika itu, Mary Gender kebetulan sedang menyiram tanaman-tanaman di depan rumahnya. Ia melihat ke arah mobil Equinox biru yang baru saja parkir di depan rumah kosong sebelahnya, memperhatikan 2 sosok yang turun dari mobil itu sesaat setelah mobil terparkir dengan sempurna. Petra menorehkan senyuman ramahnya sembari menganggukkan kepalanya menyapa Mary dan Mary pun membalasnya dengan ramah, tak terlihat sama sekali sosok psikopat di dalam diri Mary saat ini, tak heran bila tetangga-tetangga sekitarnya tidak menyadari akan kengerian seorang Mary Gender itu. Tak lama kemudian seorang pria lagi yang merupakan suaminya, Robert Gender berjalan keluar rumah mencium puncak kepala istrinya dan lalu menuju mobil Silverado hitamnya, sungguh rumah tangga yang amat romantis, bahkan Petra yang melihatnya dari kejauhan pun merasa iri. Sebelum Robert Gender naik ke mobilnya, ia tersenyum pada Levi yang sedang mengeluarkan beberapa barang dan koper dari dalam bagasi mobilnya, yang kebanyakan milik Petra, maklum wanita. Levi mengangguk dengan senyuman tipisnya seperti biasa. Ternyata Robert Gender pun adalah orang yang ramah.

Petra membuka pintu rumah minimalis itu dan melihat keadaan di dalamnya yang diluar ekspektasi, karena ia pikir rumah yang akan ia tempati itu dalam keadaan usang dan berantakan, tapi malah kebalikanya, rumah itu bersih dengan gaya interior khas Eropa dan beberapa perabotan simple yang elegan, bahkan ada lukisan The Persistence of Memory karya Salvador Dali tergantung di atas buffet cokelat berbahan mahoni, terlihat klasik tapi tidak menghilangkan eksistensi modernya. Petra memandangi sejenak lukisan terkenal itu untuk memastikan keaslianya, lalu melanjutkan langkahnya menuju lantai 2 dan ia menemukan 2 kamar kosong yang berbeda ukuran tetapi Erwin hanya menyediakan sebuah king size bed di 1 kamar yang paling besar.

What the!

Tepat di depan bed besar itu ada sebuah sofa tidur panjang berukuran 2,5 meter yang sangat empuk, karena Petra barusan mendudukinya. Ada 1 pintu menuju balkon jika ingin sekedar menjernihkan pikiran dengan melihat pemandangan di luar kamar. Kamar yang sangat nyaman dengan kamar mandi bathtub di dalamnya dan sebuah shower, sungguh kamar ini cocok untuk pasangan yang baru menikah.

Seandainya…

Yeah, seandainya kami benar-benar suami istri…

Petra tersadar dari lamunanya karena suara hentakan dari Levi yang sedang menaruh koper, backpack beserta tas berisi senjata dan pistol. Petra melihatnya sejenak lalu beranjak membuka pintu yang menuju balkon itu dan terasa semilir angin menenangkan hati.

"Kau membawa tubuh manusia ya, kopermu itu berat sekali!" pada akhirnya Levi membuka pembicaraan dengan khas sarkasmenya yang terus melekat di dalam dirinya. Petra yang melihat pemandangan pun hanya menengok sebentar dengan menyunggingkan bibirnya tapi bukan untuk tersenyum. Tak lama kemudian seseorang menekan bel rumah mereka, dan Levi menuruni tangga untuk membukakan pintu berwarna cokelat tua itu, yang ternyata adalah Mary Gender.

"Hai, namaku Mary Gender. Anda?"

"Dylan Braxton" jawab Levi singkat. Petra menyusul ke bawah dan berdiri di sebelah Levi.

"Ini istriku, Sofia" Petra dan Mary bersalaman.

"Wah senangnya. Akhirnya aku punya tetangga baru. Kalau boleh kutebak kalian pasti pengantin baru ya?!" ucap wanita berumur hampir setengah abad itu dengan girangnya.

"Yah, begitulah" ucap Levi. Mary memandang kedua insan di depanya itu dengan maksud menyuruh mereka berdua untuk memperlihatkan sisi keromantisan mereka setelah menikah, karena sedari tadi mereka hanya berdiri bersebelahan tanpa saling menyentuh. Levi yang menyadari hal itu, langsung merangkul Petra dan keduanya menunjukkan senyuman kepura-puraanya. Tapi perlakuan Levi itu sepertinya masih kurang menurut pandangan Mary, sehingga Levi tanpa segan-segan langsung memeluk Petra dari belakang lalu mencium pipi kirinya. Tindakan Levi itu membuat Petra membelalakkan matanya dan blush parah.

"Nah, kalian berhasil membuatku rindu masa-masa muda dulu" kata Mary.

Selama beberapa menit mereka saling berbincang dengan Levi yang masih memeluk tubuh Petra dari belakang, dan hal itu berlanjut hingga akhirnya Mary Gender kembali ke rumahnya lagi.

"Levi, lepaskan!" ucap Petra.

"Oops, sorry!" balas Levi singkat sembari mengangkat kedua tanganya ke atas.

Petra dengan wajah setengah kesalnya pergi ke lantai 2 menuju ke kamar untuk beristirahat, sedangkan Levi memutuskan untuk minum teh hitam dan duduk di sofa ruang tamu sembari membaca berkas-berkas penyelidikanya.

3 jam kemudian….

Petra memutuskan untuk memulai misinya setelah ia merasa puas dengan tidur siangnya. Ia berjalan menuruni tangga rumah dan tak sengaja menemukan Levi yang tergeletak di sofa dengan buku terbuka menutupi wajahnya dan berkas-berkas yang berserakan di lantai serta sandal yang masih menempel di telapak kakinya. Kebiasaan Levi yang sangat Petra hafal ternyata masih belum bisa dihilangkan sampai saat ini. Petra lalu mendekatinya, merapikan semua berkas yang berantakan, dan pada akhirnya ia duduk di pinggiran sofa tepat di samping tubuh Levi yang sedang tertidur pulas. Ia mengambil buku yang menutupi wajah Levi dan menggabungkanya dengan tumpukan berkas-berkas, melepas sandal yang masih melekat di kakinya, dan menutupi tubuhnya dengan selimut sembari tersenyum menatap wajah polos yang sedang tidur di hadapanya itu.

Dia masih tetap handsome walaupun sedang tidur.

Diam-diam Levi mengetahui tindakan Petra dan memperlihatkan senyumnya yang samar-samar itu.


[Kediaman Keluarga Gender]

"Oh, silahkan masuk Sofia" Mary menyambut Petra dengan ramahnya.

Petra memasuki rumah Robert dan Mary Gender, meneliti setiap sudut rumah yang temboknya sengaja dicat seperti papan catur hitam dan putih. Ada beberapa pajangan dinding yang sebenarnya lebih cocok jika disebut simbol-simbol aneh. Mary mempersilahkan Petra untuk duduk di sofa ruang tamu sementara Mary membuatkan minuman dan mengambil beberapa cemilan untuk tetangga barunya itu.

"Rumah anda unik sekali nyonya. Anda sangat kreatif" Petra memulai percakapan dengan si psikopat target utamanya.

"Terima kasih. Semuanya hasil karya suamiku. Dia adalah seorang arsitek"

"Ngomong-ngomong dimana suamimu? Kok tidak diajak kemari?" tanya Mary.

"Ah, dia sedang istirahat karena kelelahan. 2 hari dia kurang istirahat, karena pekerjaan" jawab Petra.

"Wah, Dylan orang yang sibuk ya. Pasti dia seorang programmer"

"Bukan, dia adalah seorang chef. Tapi ia bekerja jika ada panggilan saja"

"Chef? Wow itu keren. Kalau begitu kapan-kapan ia harus mengajak kami memakan masakan terenaknya…ahahaha"

Obrolan mereka terlihat santai hingga tak lama kemudian Robert Gender muncul dari balik pintu ruang tamu dengan sedikit tergesa-gesa dan berkeringat yang cukup mengagetkan Petra.

"I got it!" ucap Robert. Petra menyipitkan matanya memandang Robert Gender dengan rasa curiga, namun Mary Gender mengalihkanya.

"Ah, sayang, kau belum berkenalan dengan tetangga baru kita bukan?!" Mary menarik suaminya itu mendekati Petra.

"Hai, aku Sofia" Petra berdiri dari tempat duduknya dan menjabat tangan Robert.

"Robert" jawabnya singkat. Ia melihat Petra dari atas ke bawah dengan tatapan mesum atau apalah, yang jelas cara tuan Robert melihat Petra seolah-olah Petra adalah sasaran empuk berikutnya.

"Tadi pagi aku melihat seorang pria bersamamu, siapa dia?" tanya Robert.

"Dia suamiku tuan" jawab Petra.

"Ooh…"

Mary Gender mengetahui cara pandang suaminya terhadap Petra dan ia minta ijin pada Petra untuk membawa Robert ke dapur.

"Mary, dia bisa kita jadikan korban selanjutnya"

"Kau ini bodoh ya. Dia sudah menikah! Yang kita cari kan hanya gadis perawan yang belum menikah"

"Dalam kitab suci yang kita buat, tertulis bahwa wanita muda berumur maksimal 30 tahun dan belum pernah hamil, apa kau lupa! Daging mereka itu rasanya enak!"

"Dasar mesum! Matamu selalu saja menceleng jika ada wanita cantik di hadapanmu!"

Robert menggenggam kedua tangan Mary.

"Ayolah sayang, ini demi kau juga kan. Kau ingin harta yang banyak bukan?! Kau lihat sudah berapa aset yang kita punya setelah berhasil menjalankan ritual ilmu hitam kita, huh?!"

"Okay! Lalu bagaimana buruanmu kali ini?"

"Tenang saja. Ia seorang mahasiswi cantik, ada di bagasi mobil. Apa kau ingin aku mengeksekusinya sekarang?"

"Besok pagi saja. Apa kau lupa, malam ini adalah jadwal pembersihan diri!"

Setelah beberapa menit Robert dan Mary berbincang di dapur tanpa kedengaran Petra, mereka akhirnya mengucapkan permintaan maaf karena harus pergi ke acara ulang tahun saudara mereka, yang sebenarnya hanya alasan bohong agar Petra segera pulang. Dan setelah Petra benar-benar masuk ke rumahnya sendiri, Robert dan Mary membereskan mangsa barunya. Mahasiswi yang masih dalam keadaan pingsan itu, Robert angkat ke dalam rumahnya untuk dikurung di dalam ruangan khusus yang kedap suara.

[Rumah Kediaman Braxton]

Petra memasuki kamarnya dan melihat Levi sedang mengarahkan senapan M4 nya lewat jendela kamar ke rumah keluarga Gender tanpa pakaian, dan hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, sehingga terlihat body nya yang sixpack itu. Jendela kamar yang sangat sesuai untuk tempat sniper melesatkan tembakan mematikan ke semua arah di rumah keluarga Gender.

"Levi! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau telanjang?" Petra terkejut bukan kepalang dan menutupi wajahnya dengan kedua tanganya lalu membalikkan badanya.

"Hanya mengantisipasi jika Robert atau Mary berbuat ulah!" jawabnya cuek sambil membereskan senapanya kembali.

"Kau itu bukan sniper! Kalau salah sasaran bagaimana?" ucap Petra dengan tubuh yang masih menghadap keluar kamar.

"Dan tolong pakai bajumu!"

"Aku pernah mengikuti training penembak jitu selama 3 tahun"

Oh, Petra baru mengetahuinya. Levi belum pernah cerita sebelumnya.

"Aku merasa gerah sehabis mandi tadi, suhunya terlalu tinggi. Lagipula, bukankah kau sudah pernah melihat seluruh bagian tubuhku, hmm!?" entah kenapa Levi senang sekali menjahili Petra.

"Ta…tapi keadaanya sekarang berbeda, kau tahu!"

"Berbeda? Bukankah kita suami istri?!" Levi masih berbicara dengan acuh sembari memakai kaos putihnya. Tak lama kemudian Petra membalikkan tubuhnya menghadap Levi dan memasuki kamar.

"Levi! Mereka sepertinya menculik seorang gadis lagi! Kita harus menyelamatkanya!" kata Petra tanpa menghiraukan kalimat retoris Levi sebelumnya.

"Ya, aku tahu. Barusan aku melihat Robert mengangkat tubuh calon korbanya ke dalam rumah"

"Ini malam senin. Berdasarkan berkas yang aku baca, setiap malam senin mereka selalu mengadakan kebaktian di gereja, tapi menurutku itu hanya kebohongan yang mereka buat. Malam ini, mereka pasti akan mengadakan ritual yang mereka buat dengan iblis atau semacamnya" lanjut Levi.

"Tapi aku heran, si korban pasti akan berteriak jika ia tiba-tiba tersadar dari pingsanya, lalu kenapa tak ada yang mendengar?" tanya Levi lagi.

"Rumah mereka kedap suara. Semua dinding-dinding di rumah mereka dilapisi karpet tebal yang dicat hitam putih dan langit-langitnya dilapisi busa akustik" kata Petra.

"Oh, niat membunuh mereka kuat juga!" Levi berkomentar singkat.

"Itu berarti kita harus menunggu mereka pergi!" kata Petra sambil melanjutkan langkahnya menuju jendela dan melihat Robert serta istrinya pergi dengan mobil mereka.

"Mereka sudah pergi! Aku akan selamatkan gadis itu!"

Namun langkah Petra terhenti seketika karena Levi memegang tanganya agar ia tidak pergi begitu saja.

"Kenapa kau selalu mempedulikan nyawa orang lain daripada nyawamu sendiri, Petra?!" kata Levi dan sekarang mereka saling menatap satu sama lain.

"Levi, ini bukan saatnya untuk berde—"

"Kau tunggu disini! Biar aku yang selamatkan gadis itu!"

"Lalu, bagaimana caramu masuk?"

"Kau akan lihat sendiri!" jawab Levi sembari menyeringai.

Levi bergegas menuruni tangga rumahnya menuju ke rumah keluarga yang menjadi target utamanya, tak lupa ia membawa sebuah handgun 9mm untuk berjaga-jaga. Dengan santainya ia membuka pintu rumah keluarga Gender menggunakan tension wrench, dan pintu akhirnya terbuka. Petra yang melihatnya dari jendela merasa lega dengan keahlian Levi yang baru saja ia ketahui itu. Levi memasuki rumah itu dan sesuai dengan apa yang dikatakan Petra bahwa rumah itu memang kedap suara. Ia mencari-cari ruangan yang menjadi tempat penyekapan sementara si calon korban. Selama beberapa menit ia menelusuri seluruh ruangan, dan akhirnya ia mendapatkan 1 ruangan dengan suara ketukan yang amat keras, menandakan bahwa ada seseorang di dalamnya. Levi mulai menggunakan triknya lagi untuk membobol pintu ruangan yang terkunci itu namun tak lama kemudian ia mendengar suara mesin mobil khas Chevrolet dari kejauhan yang tak lain adalah Robert dan Mary yang kembali ke rumahnya untuk mengambil barang mereka yang tertinggal. Hal itu membuat Levi sedikit kesal.

Shit!

Petra yang memperhatikan Levi dari kejauhan menjadi panik seketika, dan langsung berlari menuju rumah Gender suami istri guna mengalihkan perhatian mereka. Tapi saat ia sampai di depan rumah mereka, Robert dan istrinya kembali menutup pintu rumah mereka.

"Sofia, hai. Kenapa kau seperti sedang terburu-buru?" tanya Mary yang melihat Petra.

"Hai nyonya Mary. Tidak, aku hanya melihat keluar karena tadi aku tak sengaja mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Tapi ketika aku keluar mobilnya sudah tidak ada" jawab Petra.

"Oh, mungkin itu petugas keamanan. Terkadang mereka berpatroli dan berhenti di setiap rumah sebentar untuk memastikan keadaan tetap aman"

Petra menghembuskan nafas lega karena alasanya sesuai dengan fakta yang ada. Tak lama kemudian Gender suami istri pergi lagi, dan Petra memutuskan untuk menunggu Levi di depan rumahnya.

Levi yang sebelumnya bersembunyi di balik dinding halaman belakang, berhasil menemukan kunci ruangan dan mengeluarkan seorang gadis dari ruangan itu. Gadis yang bernama Jane itu terlihat shock berat.

"Kau aman nona!" kata Levi sembari menuntun gadis itu keluar dari ruangan.

"Si…siapa kau?"

Tanpa menjawab pertanyaan si gadis, Levi langsung menunjukkan badge nya yang membuat gadis itu lega seketika. Levi memastikan keadaan rumah kembali seperti sedia kala dengan keadaan pintu yang terkunci, lalu ia membawa gadis itu ke rumah kediaman Braxton dan mengantarnya pulang. Selama di perjalanan, Levi menanyakan beberapa pertanyaan pada Jane untuk membantu tugas penyamaranya.

Tentu saja setelah Jane berhasil diselamatkan, Robert dan Mary yang baru pulang ke rumah larut malam itu merasa kecewa berat dan tak menyangka Jane bisa kabur begitu saja.

"Brengsek! Bagaimana gadis itu bisa kabur?! Fuck!" kata Robert yang mulai kumat berkata-kata kasar.

"Apa semuanya sudah kau kunci saat kita pergi, huh?" tanya Robert pada istrinya.

"Aku yakin semua sudah aku kunci dan tak satupun pintu di rumah kita terbuka, honey!" jawab Mary.

"Ah, bukankah saat kita mengambil barang yang tertinggal ada Sofia di depan rumah kita?" kata Mary.

"Terus kenapa?" tanya Robert lagi.

"Apa mungkin dia yang membuat gadis itu kabur?"

"Tidak mungkin! Kupastikan tidak seorangpun yang tahu jika ada orang di dalam saat kita pergi dan jika gadis itu berteriak minta tolong takkan ada seorangpun yang mendengar kan?! Rumah kita kedap suara!" Robert bersikeras membenarkan argumenya sendiri.

"Sudahlah honey. Kita bisa mencari mangsa baru lagi bukan?! Katamu kau ingin agar Sofia yang menjadi korban kita selanjutnya" Mary menenangkan suaminya yang emosi akibat gagal mencicipi gadis yang mereka culik itu.

"Aku ingin kita menculiknya besok!"

"Jangan terburu-buru sayang. Nanti tetangga yang lain bisa curiga. Lebih baik kita mengakrabkan diri dulu dengan tetangga baru kita itu. Setelah itu Sofia akan terperdaya dan ia akan masuk perangkap kita" mendengar perkataan sang istri, Robert Gender tersenyum licik tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun setelah semua yang ia lakukan bersama istrinya.

Sementara itu Levi dan Petra….

"Malam ini kau boleh tidur di bed itu dan aku akan tidur di sofa!" kata Petra. Levi hanya mengernyitkan alisnya karena heran sekaligus lucu dengan sikap Petra.

"Tidak perlu! Kau tidurlah di bed! Biar aku yang tidur di sofa"

"Oke, terserah" jawab Petra singkat dengan gaya sok acuhnya.

Selama mereka tidur sekamar walaupun tidak 1 ranjang, secara diam-diam mereka saling mencuri-curi pandang memperhatikan wajah masing-masing yang terlihat sisi kepolosanya disaat tertidur pulas. Entah mengapa hal itu membuat hati mereka tenang dan damai.

Di hari-hari selanjutnya Levi terkadang berpura-pura pergi bekerja di pagi harinya yang sebenarnya ia pergi ke kantor LAPD (Los Angeles Police Department) untuk menyampaikan laporan penyelidikanya.


Hari ke-3….

Robert Gender dan Mary Gender mengundang Levi dan Petra untuk makan bersama di rumah mereka. Aneka pasta, udang, dan ikan yang dibakar dengan mentega adalah menu utama yang mereka sajikan untuk keluarga Braxton itu. Robert dan Mary menjadi lebih ramah dari sebelumnya sehingga Levi dan Petra cepat akrab dengan mereka.

Hari ke-6….

Levi meminta agar Robert Gender mengajari caranya berkebun, karena di perkarangan rumah mereka terdapat banyak aneka jenis tanaman hias yang indah, menunjukkan bahwa sang empunya rumah sangat ahli dalam berkebun. Sementara itu Petra dan Mary Gender memasak makanan khas Skotlandia di dapur untuk kemudian dimakan bersama-sama. Mary juga memperkenalkan beberapa pajangan aneh yang ada di rumahnya, sesekali Petra meraba-raba setiap sudut yang menjadi tempat ia bersandar sembari mendengarkan celoteh Nyonya Gender itu. Petra terkejut karena semua dinding rumah suami istri Gender adalah jenis dinding partisi yang dapat dibongkar pasang kapan saja. Hal itu ia ketahui setelah ia tak sengaja menyenderkan tubuhnya hingga dindingnya mengeluarkan suara ketukan, walaupun dilapisi karpet tebal.

Hari ke-10….

Levi menemukan beberapa tanah bekas galian berukuran sekitar hampir 2 meter di halaman belakang rumah keluarga Gender, setelah ia belajar berkebun untuk yang ketiga kalinya bersama Robert Gender.

[Rumah Keluarga Braxton]

"Jadi apa mungkin mayat-mayat itu disimpan di balik dinding-dinding itu?" tanya Levi.

"Entahlah, tapi kemungkinan besar begitu. Dan mayat-mayat itu mungkin diawetkan dengan formalin agar tidak tercium bau busuk" jawab Petra. Mereka berdua sedang menyampaikan analisis masing-masing.

"Aku juga menemukan beberapa galian tanah di halaman belakang rumah mereka. Bentuknya seperti kuburan, walaupun diatasnya ditanami bunga"

"Pasti mereka juga mengubur beberapa mayat disana" sambung Petra.

Hening sejenak….

"Petra, jika kau ke rumah mereka, kau harus pergi bersamaku!"

"Apa? Kau tidak perlu berlebihan Lev. Kau cukup melihat dari jendela atau dari teras rumah kan?!"

"Coba kau lihat perilaku mereka terhadap kita akhir-akhir ini, sangat baik dan ramah. Apa kau tidak merasa aneh?" kata Levi.

"Hmm…yeah, mereka seperti ingin mencari tahu dan lebih akrab dengan kita"

"Aku curiga mereka sedang merencanakan sesuatu terhadapmu!"

"Aku?"

"Yes!"

Levi mengambil beberapa berkas di meja dan mencari-cari satu halaman yang ia yakini sebagai fakta dari perkataanya barusan.

"Wanita yang menjadi korban mereka berumur sekitar 17-29 tahun, sedangkan umurmu sekarang 28, dan masuk dalam kriteria itu" kata Levi sembari membaca berkas yang ia pegang.

"Ya ampun, jadi menurutmu aku akan menjadi mangsa mereka selanjutnya?! Yang mereka tahu aku kan sudah menikah denganmu. Yang mereka incar rata-rata belum menikah atau masih perawan" kata Petra berusaha menyanggah analisa dari rekan misi penyamaranya itu.

"Tidak ada keterangan dalam berkas ini kalau mereka mengincar perawan!" Levi menunjukkan berkas itu pada Petra dengan melemparnya ke meja agar Petra membacanya.

"Rupanya kau sama saja dengan mereka. Erd, Gunther, Auruo, Moses, Nifa, dan Eren, mereka sama tidak telitinya denganmu. Dasar ceroboh! Ah tapi Nifa dan Eren masih sedikit mendingan!" kata Levi mengomentari anggota timnya termasuk Petra yang tidak luput dari komentarnya. Petra mengerucutkan bibirnya tanda bahwa ia sedikit kesal dengan perkataan Levi barusan.

"Eren?"

"Yeah, dia lulusan baru dari akademi FBI yang menggantikanmu karena kau keluar dari timku tanpa seijinku!" kali ini Levi kembali menyindir Petra sembari mengetuk-ngetuk jari tanganya ke meja menatap Petra dengan tatapan mengintimidasi sekaligus jahil.

"I…I'm sorry!" ucap Petra penuh keraguan, ia menundukkan kepalanya. Levi menatapnya sejenak.

"Okay, simpan dulu kata maafmu. Sekarang kita harus menyusun cara untuk memastikan keberadaan mayat-mayat itu" kata Levi.

"Menurutku cara kita selama ini sudah benar, yaitu mengakrabkan diri dan berusaha menghargai setiap kata yang mereka ucapkan, bukan?!" kata Petra.

"Ya, tapi kita harus memancing mereka agar mereka mau membicarakan hal-hal yang mengarah ke perbuatan gila mereka!"

Tak lama kemudian ponsel Petra berbunyi, nada dering Def Leppard berjudul Hysteria, nada dering yang sama dengan milik Levi ketika ada panggilan. Levi yang mendengarnya sedikit menahan tawa dengan menunjukkan senyum tipisnya karena ingat perkataan Petra dulu bahwa ia tidak suka musik rock.

Jika kau mencintai seseorang, maka kau juga akan mencintai apapun yang dia sukai. Termasuk musik sekalipun.

Petra berpindah ke ruang tamu setelah sebelumnya ia berada di kamar bersama Levi, untuk mengangkat ponselnya.

"Petra?"

"Ya, Hanji ada apa?

"Petra, kau tinggal serumah dengan Levi?"

"Ye…yeah, Erwin menugaskan kami untuk menyamar sebagai suami istri dan membongkar kejahatan dari sepasang sua—"

"Jadi selama 10 hari tinggal denganya, apa saja yang sudah kalian lakukan?" tanya Hanji dengan menggebu-gebu tanpa menghiraukan penjelasan Petra. Petra merasa pertanyaan Hanji kali ini sedikit ambigu.

"Yah, kami melakukan pendekatan dengan keluarga incaran kami, lalu meneliti rumahnya, menganalisa perilaku mereka, dan kami juga—"

"Bukaaaan! Bukan itu maksudku! Maksudku yang kau lakukan dengan Levi selama tinggal bersama?"

"Kan tadi sudah aku jelaskan!"

"Aduuuh bukan itu! Maksudku melakukan itu lho—ehm…yang itu…selayaknya pasangan suami istri itu—" kata Hanji. Dan sepertinya kali ini Petra mengerti maksudnya.

"Hanji, sepertinya kau harus pergi ke dokter dan minta resep obat penenang sebanyak-banyaknya, okay?! I love you, sampai nanti!" Petra langsung menutup ponselnya.

"Ha…halo…Petra—what the—"

Tak lama kemudian ponsel Petra kembali berbunyi.

"Halo, Petra kau tinggal serumah dengan Levi" dan kali ini Nifa yang menelponya.

"Astaga, iya sayangku Nifa. Kau dan Hanji janjian atau bagaimana? Barusan ia menanyakan hal yang sama"

"Lalu gaya apa saja yang sudah kalian praktekkan?" tanya Nifa langsung kepada intinya. Tanpa basa-basi Petra langsung mematikan sambungan telponya dengan Nifa.

"Halo Petra?" Nifa yang berada di sebelah Hanji menaikkan bahunya.

"Ponselnya langsung dimatikan!" kata Nifa pada Hanji.

Dasar, kalian mesum!


Hari ke-14….

"Selamat pagi Sofia. Bagaimana kalau hari ini kita memasak makanan khas Mexico?" ucap Mary sesaat setelah Petra membukakan pintu rumahnya

"Oh tentu saja nyonya Mary, aku akan panggilkan suamiku dulu—" Petra menjawabnya lalu mulai melangkahkan kakinya yang terhenti karena Mary menahan tanganya.

"Tidak perlu. This is women's day. Jadi para pria tidak usah ikut campur. Suamiku juga tidak ada di rumah"

Petra memandang kedua mata yang bagian bawahnya sudah keriput itu dengan sedikit rasa curiga.

"Ok…okay, tapi aku ke atas sebentar untuk memberitahu suamiku dulu" kata Petra yang sebenarnya hanya alasanya saja. Ia berjalan menuju kamarnya di lantai atas, mengambil sebuah handgun 9mm untuk berjaga-jaga dan menaruhnya di dalam sepatu boot winternya. Beberapa detik ia menunggu Levi yang masih menikmati mandi paginya, tapi karena menurut Petra terlalu lama, akhirnya ia pergi tanpa berpamitan.

Pada akhirnya Petra telah sampai di rumah Mary Gender. Mereka langsung menuju ke dapur, dan disana sudah ada bahan-bahan memasak berserta wajan dan panci terbuat dari besi. Keduanya mulai sibuk memotong-motong sayuran, menyiapkan wajan dan wadah-wadah yang digunakan untuk makanan jika sudah matang. Suara keributan dari dapur pasti kedengaran hingga keluar rumah jika rumah Mary tidak kedap suara, dan tentunya mereka tidak mengesampingkan kegiatan mengobrol yang menjadi kebiasaan setiap orang.

Sementara itu Levi yang telah selesai dengan kegiatan mandinya, mulai mencari-cari keberadaan Petra. Setiap ruangan ia telusuri agar bisa menemukanya, tapi semuanya nihil. Hal itu membuat Levi sedikit panik dan ia langsung bertindak cepat.

Selama kurang lebih 1,5 jam kegiatan memasak Petra dan Mary telah selesai. Namun saat Petra sedang mencuci piring tiba-tiba saja seorang pria besar membekap mulutnya dengan obat bius, cara yang sama yang Robert gunakan untuk menculik mangsanya. Pria besar yang ternyata adalah Robert Gender. Petra mencoba memberontak, berusaha untuk menunduk, mengambil pistol yang ia selipkan di sepatu bootnya, tapi tenaganya tidak sebanding dengan Robert yang tinggi besar itu, dan akhirnya Petra tak sadarkan diri. Robert Gender membawanya ke kamar tempat ia biasa mengurung calon korbanya dengan cara menggendong Petra ala bridal style. Saat Robert membawa Petra, Mary istrinya juga ikut membantu dan tanpa sengaja sebuah pistol terjatuh dari sepatu boot Petra.

"Sayang, dia membawa pistol!" Mary mengambil pistol itu dengan tangan yang bergetar. Robert Gender langsung cepat-cepat memasukkan Petra ke dalam kamar, mengambil sebuah machete bergerigi yang biasa ia taruh di kamar itu, dan mengunci pintu kamar itu. Tapi tak lama kemudian, Levi beserta tim SWAT LAPD yang membawa surat perintah penggeledahan, mendobrak pintu rumah mereka, yang tentu membuat sang empunya rumah terkejut bukan kepalang. Beberapa anggota tim SWAT LAPD menodongkan AK47 mereka mengarah tepat ke wajah Robert dan Mary Gender, lalu menyebar ke seluruh penjuru ruangan, menuju belakang rumah dan lantai 2 untuk menggeledah. Levi mendekati Gender suami istri perlahan.

"Dimana Sofia?" tanya Levi sambil menodongkan pistol 9mm nya ke Robert Gender. Levi melihat ruangan tempat ia menyelamatkan korban sebelumnya, tepat di belakang Robert. Ia lalu menaruh pistolnya di pinggangnya dan meminta kuncinya pada Robert. Tapi Robert malah melayangkan machete dan Levi menahan tanganya dengan cepat, menjatuhkan machetenya, memukul tulang rusuk Robert dibawah ketiak, dan membantingnya ke lantai hingga ia tersungkur kesakitan. Kunci yang ia taruh di kantong celananya pun terjatuh. Sedangkan Mary Gender yang sudah jelas telah dikepung polisi dan diborgol tanganya oleh seorang officer, hanya santai tanpa ada rasa takut sama sekali. Bahkan ia tidak mempedulikan suaminya yang kesakitan dan suaminya pun juga ikut diborgol tanganya.

"Dimana anda menyembunyikan mayat-mayat itu?" tanya seorang officer pada Mary.

"Cari saja sendiri!" katanya.

Levi membuka kunci kamar dan menemukan Petra yang masih tak sadarkan diri tergeletak diatas sebuah single bed, ia lalu menggendongnya ala bridal style keluar kamar. Para officers menghancurkan dinding-dinding partisi keluarga Gender, dan betapa terkejutnya mereka, karena di dalamnya terdapat mayat-mayat berdarah yang kepalanya dibungkus dengan plastik dalam keadaan utuh. Dan walaupun telah diberi pengawet tetap saja baunya super wow, bahkan beberapa officers harus mengeluarkan isi perutnya lewat mulut karena tidak tahan. Beberapa mayat juga ditemukan di halaman belakang rumah Gender psikopat itu dalam keadaan sudah menjadi tulang belulang, serta daging manusia yang terpotong-potong ada di dalam kulkas khusus di kamar penyekapan.

Melihat keadaan rumah Robert dan Mary yang menjijikkan itu membuat Levi berjalan keluar rumah sembari menggendong Petra yang tak lama kemudian sadar dari pingsanya.

"Akhirnya kau sadar juga!"

"Dasar bodoh! Kenapa kau pergi ke rumah 2 orang tua gila itu tanpa seijinku?" tanya Levi yang masih menggendong Petra, sarkastik seperti biasanya.

Petra yang masih setengah sadar dan sedikit pusing itu tidak menghiraukan perkataan Levi.

"Levi, turunkan aku!" katanya sambil memegangi kepalanya, dan Levi menurunkanya.

"Are you okay?" tanya Levi khawatir.

"Ye…yes I'm okay, don't worry!" jawab Petra. Ia berusaha keras untuk mengembalikan kesadaranya lagi. Sedangkan Levi masih meneliti wajah Petra yang sedikit pucat itu.

4,5 jam penggeledahan….

Total ditemukan 6 mayat dalam keadaan utuh di dinding rumah, 4 mayat dikubur di halaman belakang, dan 1 mayat yang disimpan di freezer dalam keadaan terpotong-potong. Keluarga dari para korban telah dihubungi tanpa terkecuali. Rumah Robert dan Mary Gender saat itu sangat ramai, karena keluarga para korban dan para tetangga berkumpul di luar rumah yang telah dilingkari police line berwarna kuning. Beberapa anggota keluarga menangis histeris karena mengetahui anaknya tak bernyawa bahkan ada yang pingsan karena tidak kuat menahan kesedihan yang teramat sangat menyiksa itu. Para tetangga tak ada yang menyangka bahwa keluarga Gender yang dikenal ramah itu ternyata adalah psikopat gila yang haus akan harta hingga melakukan perjanjian dengan iblis (jika di Indonesia dikenal dengan ilmu perdukunan) untuk menghilangkan nyawa banyak orang terutama gadis muda yang memiliki masa depan yang masih panjang.

"Terima kasih Agent Ackerman, dan Agent Ral" ucap seorang Letnan bernama Chris Lauren dari kepolisian Los Angeles yang menjabat tangan kedua agents yang memiliki hubungan special itu.

Levi dan Petra berdiri di tanah kosong diantara rumah keluarga Gender dan keluarga Braxton, memperhatikan pemandangan menyedihkan sekaligus mengerikan tepat di depan mata mereka, pemandangan yang sebenarnya tidak disukai Petra, melihat keluarga korban yang menangis sejadi-jadinya itu membuatnya hampir tak bisa menahan air matanya. Beruntung kedua matanya hanya sedikit berembun, karena setelahnya Petra langsung berjalan cepat untuk memasuki kediaman palsunya bersama Levi, sembari menghapus embun di matanya itu dengan tanganya. Dan Levi mengikuti gerakan Petra dengan iris matanya, lalu menengok ke belakang, melihat Petra memasuki rumah palsunya. Tapi Levi tidak menyusulnya dan ia masih tetap berpijak di tanah kosong itu, tanah kosong yang diisi dengan rerumputan hijau hingga tak terlihat warna cokelatnya.

Kau pintar sekali Erwin! Menjadikan Petra sebagai umpan! Dan tentu kau ingin aku mendampinginya, karena kau tahu bahwa aku tidak akan pernah membiarkan Petra dalam bahaya! Makanya kau menyuruh kami melakukan tugas bodoh ini! Dasar alis tebal sialan!


Malam itu Petra berdiri di balkon rumahnya untuk menghirup udara malam yang dingin sembari menatap langit diatas yang terasa lapang dan sunyi, hanya ada beberapa bintang disana. Sesekali ia melihat ke bawah tepatnya ke rumah keluarga Gender yang telah dilingkari garis polisi dalam keadaan berantakan akibat banyak galian yang dibuat para polisi, walaupun begitu pemandangan di depan rumahnya masih cukup menjernihkan mata karena banyak pot-pot berisi bunga-bunga indah disana. Jujur saja banyak yang ia pikirkan saat ini, dirinya sendiri, pekerjaan yang sudah ia jalani selama 6 tahun dan beberapa kali hampir merenggut nyawanya, masa depanya, bahkan pria yang bersamanya selama 2 minggu itu pun tidak terlepas dari pikiranya, hingga membuat kepalanya sedikit pusing.

Ingin rasanya kembali menjadi anak-anak, bebas tanpa beban.

"Mau sampai kapan kau berdiri seperti orang bodoh disitu? Kau bisa mati kedinginan!" Levi yang menyenderkan tubuhnya di pintu kamar tiba-tiba berbicara sarkastik lagi dan membuat Petra menengok ke belakang.

"Kenapa kau selalu memulai pembicaraan sarkastik seperti itu?!" Petra menjawabnya dan lagi-lagi ia dibuat kesal. Tanpa menghiraukan jawaban Petra yang ketus itu, Levi masuk ke dalam kamar untuk mengambil jaket tebal berbahan taslan miliknya, mendatangi Petra dan memakaikan jaket itu padanya. Inisiatif dari Levi sendiri karena melihat wajah Petra yang mulai pucat akibat udara yang semakin dingin.

"Masuklah ke dalam! Jangan sampai kita batal pulang ke New York besok hanya karena kau sakit!" kata Levi, setelah itu ia berjalan kembali ke dalam kamar, namun langkahnya terhenti ketika Petra memanggil namanya.

"Levi!"

Levi menengok ke belakang, menunggu kelanjutan kata-kata yang akan Petra ungkapkan setelah memanggil namanya.

"Kenapa kau—" perkataan Petra terhenti karena hembusan angin yang lumayan kencang menerpa mereka berdua sehingga anak rambut Petra berantakan menutupi telinga serta sebagian pipi dan matanya. Petra sedikit mengedipkan matanya karena beberapa helai rambutnya mengenai mata kirinya. Levi yang melihat kejadian itu berjalan mendekatinya dan menyelipkan anak rambut Petra itu ke belakang telinganya, tak lupa ia juga merapikan helai rambut Petra yang berantakan karena hembusan angin barusan. Tapi entah kenapa sepertinya Levi lupa menyingkirkan tangan kananya dari wajah Petra, sehingga tangan kekarnya itu masih menangkup sisi wajah Petra di sebelah kiri, karena mereka sekarang berdiri berhadapan yang hanya berjarak beberapa cm. Bukanya melepas, ia malah menatap kedua mata Petra dengan sendu namun tidak menghilangkan eksistensi ketajamanya. Dan sepertinya Petra menikmati keadaan ini karena ia membalas tatapan Levi yang juga tak kalah sendunya, bahkan detak jantungnya semakin tidak beraturan.

"You're still look beautiful as usual" ucapan Levi yang singkat itu hampir membuat Petra pingsan di tempat kalau saja Levi tidak menahan wajah Petra dan mendekatkan wajahnya agar ia bisa mencium bibir Petra yang tipis itu. Dan oh, lihat pada akhirnya mereka berciuman sambil memejamkan mata mereka masing-masing. Levi berhasil melumat bibir mungil yang ranum itu dan Petra membalasnya. Ciuman itu berlangsung beberapa detik hingga akhirnya Petra menarik wajahnya perlahan sembari tetap memejamkan matanya, namun kening mereka masih saling menempel satu sama lain.

"Levi! Kita tidak seharusnya melakukan ini" Petra menundukkan kepalanya dan Levi masih menahan wajah cantik yang terlihat sedikit pucat itu.

"Why?" tanya Levi singkat dalam keadaan puncak kepala yang masih saling menempel.

"Bukankah kita sudah putus?"

"Kau hanya bilang break, bukan putus!"

"Tapi tetap saja—hmmpph…" ucapan Petra terputus karena setelahnya Levi melumat kembali bibirnya hingga terkunci seluruhnya, sehingga tak ada celah sedikitpun, dan entah kenapa Petra hanya pasrah dan bahkan membalasnya juga. Ciuman mereka semakin panas dan intens sangking intensnya Levi lalu melepas jaket yang ia pakaikan pada Petra, lalu mengangkat tubuh Petra ke dalam kamar dengan kedua tangan Petra yang menahan wajah Levi agar ia bisa leluasa menjelajahi rongga mulut Levi, sesekali mereka melepas ciuman panas itu untuk mengambil oksigen.

Levi merebahkan tubuh Petra di atas tempat tidur empuknya itu, membuka winter vest hitam yang ia pakai sedari tadi lalu membuka kaos lengan panjangnya, dan membuangnya ke lantai dan sekarang Levi dalam keadaan bertelanjang dada dengan celana jeans hitam yang masih melekat di tubuh bagian bawahnya. Levi melanjutkan aksinya dengan mencium bibir wanitanya itu lalu pindah ke bagian leher jenjang yang putih mulus itu dan melanjutkan lagi ke dada, membuka satu persatu kancing kemeja bermotif bunga-bunga kecokelatan, hingga akhirnya kemeja Petra telah lepas sepenuhnya dan hanya meninggalkan sport bra putih yang masih menutupi kedua payudaranya itu.

"Levi! Tolong hentikan!" ucap Petra pelan dengan nafas tersengal. Namun Levi tetap menjelajahi lehernya hingga meninggalkan 1 tanda merah, dan saat ia ingin menambah tanda merah lagi…

"Hentikan Levi!" Petra mendorong dada bidang Levi sampai akhirnya Levi menyingkir dari atas tubuh Petra dan Petra langsung bangkit dari tempat tidurnya mengambil posisi duduk.

Levi yang kecewa dengan sikap Petra itu kembali memakai kaosnya dan membuka laci meja, mengambil 1 batang rokok dan membakarnya untuk selanjutnya ia hisap sembari berpindah ke balkon. Petra memakai kembali kemejanya dan menyusul Levi ke balkon.

"Sejak kapan kau mulai merokok, huh?!" menandakan Petra masih memperhatikan kondisi kesehatan Levi.

"It's not your business!"

Petra lalu mengambil rokok yang telah Levi hisap itu secara paksa dan menginjaknya sampai mati. Melihat tindakan Petra itu Levi lalu menarik tangan Petra, mengajaknya masuk ke dalam kamar, dan menyenderkan tubuh Petra di dinding dengan sedikit kasar lalu mendekatkan tubuhnya dan mengunci tubuh Petra dengan kedua tanganya hingga tak ada jarak di antara mereka, bahkan Petra dapat merasakan hembusan nafas Levi di wajahnya.

"Apa yang kau inginkan Petra Ral?"

Petra hanya menatap kedua mata tajam Levi, tatapan yang belum pernah Petra jumpai sebelumnya.

"Cepat katakan!" Levi membentaknya sembari memukul sebuah buffet minimalis di sebelah mereka, yang membuat Petra terkejut dan secara reflek membuat matanya terpejam.

"Kenapa kau seperti ini, Levi?"

"Harusnya aku yang menanyakan hal itu padamu!"

"Kau sangat egois! Kau terlalu memikirkan dirimu sendiri!"

"Oh ya?! Bukankah kau yang seperti itu?!"

"Kau tidak pernah memikirkan perasaanku!" kali ini Petra juga membentak.

Mereka saling membentak, memperdebatkan argument tidak jelas masing-masing.

"Kau selalu memberiku harapan-harapan palsu!" ucap Petra.

"Apa maksudmu?" tanya Levi.

"Kau—kau selalu membuatku menunggu hal yang belum pasti akan kau lakukan!" tanpa sengaja Petra mulai mengeluarkan air matanya.

"Maksudmu apa Petra?"

"Kau brengsek!"

"Lalu kenapa kau melarang pria brengsek ini merokok huh?"

"Aku akan kembali ke New York malam ini juga!" kata Petra sembari ingin menyingkirkan tangan Levi dari sisi tubuhnya tapi Levi tetap menguncinya.

"Kau tidak akan pergi kemana-mana!"

"Kau tidak pernah mencintaiku Levi—kau hanya mempermainkanku—minggir! Aku mau—" Petra meninggikan suaranya.

"Praaang!"

Tiba-tiba saja Levi memukul sebuah kaca yang terpasang di dinding, di atas buffet yang ia pukul sebelumnya, kaca yang berada tepat di samping Petra, hingga kacanya pecah berantakan, membuat tangan kiri Levi terluka mengeluarkan darah. Petra terkejut setengah mati sekaligus panik melihat tangan Levi yang terluka, namun ia hanya menatap Levi yang menjauhkan tubuhnya dan membuka kaos lengan panjangnya untuk mengelap darah yang keluar dari tanganya. Jujur saja ini pertama kalinya Petra melihat Levi marah besar karenanya.

"Kau—kalau kau ingin pulang ke New York, silahkan pergi!" kata Levi menatap tajam wanita dengan mata berwarna caramel di hadapanya itu, dan ia tidak mengunci tubuh Petra lagi.

"Dan jangan pernah temui pria brengsek ini lagi!" kata Levi mengangkat jari telunjuk tangan kananya.

Setelah itu Levi kembali memakai kaos dan winter vestnya lagi, lalu mengambil tas backpacknya di lemari. Petra hanya diam menatapnya dengan air mata yang tidak henti-hentinya mengalir.

"Kau bisa bawa mobil itu ke bandara!" Levi melempar kunci mobil Equinox nya ke tempat tidur tanpa melihat Petra lalu pergi meninggalkan Petra seorang diri di dalam rumah Braxton, rumah yang akan menjadi kenangan singkat mereka selama 14 hari. Kepergian Levi itu membuat Petra terduduk di sofa dan ia menangis sejadi-jadinya semalaman tanpa henti.

[Kantor Federal Plaza, New York, 2 hari setelahnya]

"Petra!" panggil seorang wanita tinggi dan berkaca mata itu dengan girangnya, sesaat setelah sahabatnya itu keluar dari lift. Namun Petra hanya diam menampakkan wajah pucatnya dengan mata bengkak dan berantakan.

"Petra? Kau kenapa? Kenapa matamu bengkak? Kau tidak apa—" tanya Hanji bertubi-tubi dan akhirnya berhenti karena Petra tiba-tiba langsung memeluknya lalu menangis tak karuan.

"Ya ampun, Petraaaa…kau kenapa honey?" tanya Hanji dengan penuh kekhawatiran. Tangisan Petra pecah sehingga beberapa orang yang ada di dekatnya ikut mendengar.

"Ini pasti soal Levi kan?" tanya Hanji. Petra menganggukkan kepalanya.

"Apa yang sudah dia perbuat padamu, huh?!"

"Dia jahat!"

"Jahat? Kenapa? Dia memukulmu? Dia selingkuh? Atau?"

"Ah, lebih baik kita ke ruanganku saja okay?!" ajak Hanji.

"Tidak, kita ke ruanganku saja" kata Petra

"Oke…oke…whatever you want"

Setelahnya mereka berdua masuk ke dalam lift dan naik ke lantai 4, tepatnya ke ruangan Petra, tapi Petra tetap tidak mau bercerita, dan Hanji memakluminya. Pada akhirnya hubungan mereka menjadi berantakan hingga genap setahun lebih. Dan Levi sama sekali tidak memperhitungkan moment 14 hari bersama Petra itu sebagai moment saling menyapa atau sejenisnya.

END


NB:

Lanjutan dari chapter ini ada di chapter 1 (Latin Enemy)