Sebelumnya saya mau minta maaf atas terlalu lamanya fic ini di update. Selain karena Author yang sibuk sekolah, harus mengejar nilai, laptop Author juga rusak dan belum juga betul sampai sekarang—sedih. Ditambah lagi Author yang lupa kata sandi akun di fanfiction -_- Maafkan Author yang lalai ini.

Oke, Enjoy this story aja yaa :D

Harry Potter always belongs to JK. Rowling

Draco keluar dari dalam kamarnya dengan terburu-buru, disaat yang bersamaan, Hermione baru masuk kembali ke Asrama. Kedua orang berbeda jenis kelamin itu terdiam, terpaku menatap mata masing-masing. Hermione memainkan ujung roknya dengan perasaan tidak nyaman, dia tidak suka jika Draco melihatnya seperti itu. Tatapan tajam itu membuat jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat.

"Err—Permisi, aku mau masuk ke dalam kamarku." Ujar Hermione dengan suara pelan. Di dalam hati dia memarahi Draco Malfoy yang berdiri di depan pintu kamarnya.

Draco terdiam, masih menatap Hermione tanpa berkedip sedikitpun. Pemuda itu nampaknya tidak mendengar suara Hermione yang—secara halus—memintanya untuk menyingkir. Karena tidak ada gerakan sedikitpun dari Draco sebagai respon ucapan Hermione tadi.

Hermione semakin menunduk. Dalam hati dia bertanya-tanya, apakah Draco Malfoy menjadi tuli? Sehingga dia tidak merespon usiran Hermione tadi?

"Malfoy, bisa kau menyingkir dari sana? Aku mau masuk ke dalam." Akhirnya Hermione berucap juga, setelah beberapa menit terdiam. Mata coklatnya kini menatap tajam mata abu-abu Draco.

"Hermione," panggil Draco dengan suara rendah. Bulu kuduk gadis bermata coklat madu itu merinding. Draco Malfoy mulai bertingkah aneh lagi, pikirnya.

"Apa?" tanya Hermione dengan nada kesal. Dia tidak boleh terlihat gugup di hadapan pemuda Malfoy itu. Hermione harus bertingkah seperti biasanya. Dia tidak boleh terlihat takut untuk menghadapi pemuda itu. Tidak boleh!

"Aku mau bertanya padamu," ucap Draco, masih dengan suara rendah. Hermione memutar bola matanya, bosan. Ini semua sungguh gila. Kenapa Draco menjadi sangat aneh seperti ini? Kalau mau bertanya, ya bertanya saja. Untuk apa meminta ijin terlebih dahulu.

"Silahkan." Hermione menyilangkan lengannya di depan dada. Dia menunggu Draco mengajukan pertanyaannya. Jujur saja, pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Draco membuatnya penasaran. Apa pemuda itu mau memintanya untuk memaafkan Astoria?

Hermione tiba-tiba mendengus. Yang benar saja! Sampai kapanpun dia tidak sudi untuk memaafkan Astoria! Dan jika Draco meminta hal itu, lebih baik pemuda ferret itu mati saja.

Sudah 5 menit berselang. Tapi Draco belum juga buka suara. Dia masih terdiam, matanya menatap lurus ke lantai. Keheningan ini membuat Hermione merasa semakin tidak nyaman. Lebih baik dia mendengar suara Draco yang mengejeknya 'Darah-Lumpur' daripada melihat Draco yang terdiam seperti ini.

Hermione berdehem, "Kalau kau tidak jadi mengajukan pertanyaanmu. Menyingkirlah dari sana! Aku mau ma…"

"Apa kau mencintaiku?" tanya Draco, menyela ucapan Hermione.

Mata gadis itu melebar, "Apa?" tanya Hermione sekali lagi. Apa tadi dia salah mendengar? Apa telinganya sudah tidak beres? Atau mulut Draco yang tidak beres? Kenapa pemuda itu bertanya pertanyaan seperti itu pada Hermione?

Draco mendongak, "Apa kau mencintaiku?" Hermione menatap pemuda di hadapannya dengan sebelah alis terangkat. Tangannya kembali memainkan ujung roknya.

Oke, tenang Hermione. Cepat atau lambat, mungkin kau harus mendengar pertanyaan seperti ini dari mulut seorang Draco Malfoy. Kau tidak perlu terlalu kaget. Kau hanya perlu menjawab iya atau tidak saja bukan? Itu hal yang mudah, Hermione. Kau bisa mengerjakan soal-soal ujian sekolah dengan baik dan mendapatkan nilai sempurna. Kau pasti bisa menjawab pertanyaan mudah seperti ini.

Tapi, kenapa Hermione tidak kunjung menjawab pertanyaan Draco? Yang hanya memberi dua buah pilihan jawaban, ya atau tidak.

Hermione menggerak-gerakkan bola matanya kesana kemari dengan gelisah. Ayolah, dia tidak suka atmosfer seperti ini. Dia belum siap menjawab pertanyaan dari Draco. Demi jenggot Merlin, dia lebih memilih mengerjakan beribu-ribu soal ujian sekolah daripada menjawab pertanyaan seperti ini.

Hermione mengambil napas panjang, dia memantapkan hatinya. "Aku tidak tahu, Malfoy." Jawab Hermione, suaranya terdengar tegas namun sedikit bergetar.

"Bagaimana bisa kau tidak tahu?" Draco maju dan mencengkram lengan Hermione, gadis itu meringis. "Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak! Aku tidak bisa menerima jawaban yang seperti itu."

Hermione berusaha melepaskan tangannya, "Sudah kubilang aku tidak tahu! Bagaimana bisa? Aku juga tidak tahu. Lepaskan aku, Malfoy!"

"Kau pintar, Hermione. Oh tidak! Kau jenius! Kau pasti bisa menjawabnya!" ujar Draco penuh paksaan. Cengkramannya pada tangan Hermione semakin keras.

Hermione meringis pelan, dia menatap Draco dengan tatapan kesal. "Tapi nyatanya aku tidak bisa! Sekarang, lepaskan aku!" Hermione meronta-ronta, berusaha melepaskan dirinya dari Draco. Namun, tidak ada hasilnya. Cengkraman Draco terlalu kuat.

"Kau hanya perlu bertanya pada hatimu! Apakah kau mencintaiku atau tidak,"

Hermione berhenti meronta, dia kembali tertunduk. "Aku butuh waktu, Draco. Jangan paksa aku seperti ini. Aku tidak bisa menjawabnya sekarang."

Draco terdiam. Cengkramannya pada tangan Hermione melemah, Hermione segera saja menarik tangannya dan berjalan memasuki kamarnya lalu menutupnya. Dia meninggalkan Draco yang berdiri mematung di depan pintu kamarnya.

Pemuda Malfoy itu mencengkram helaian rambut pirangnya. Matanya menatap pintu di depannya dengan putus asa.

"Sudah tidak ada waktu lagi, Hermione."

Hermione POV

Tidak terasa liburan akhir semester pun sudah dimulai. Kami sudah melewati ujian NEWT beberapa minggu yang lalu. Dan syukurlah, aku masih bisa mendapatkan nilai O disemua mata pelajaran, walaupun saat itu aku sedang banyak pikiran dan terkadang tidak fokus.

Aku berjalan keluar dari Asrama Ketua Murid, aku sudah berjanji akan menemui Harry dan Ron di depan Gerbang Hogwarts. Hari ini kami akan pulang ke rumah masing-masing untuk menjalani liburan. Namun aku memutuskan untuk tinggal di The Burrow beberapa minggu, lalu pulang ke rumahku sendiri.

Dijalan menuju Gerbang Hogwarts, aku melihat banyak sekali anak-anak yang berkumpul hanya untuk mengucapkan selamat tinggal atau selamat berlibur. Kebanyakan dari anak-anak itu adalah para siswa kelas 1 dan 2.
Aku hanya bisa tersenyum kecil melihatnya. Dulu, aku juga sering berkumpul bersama Harry dan Ron di koridor sebelum liburan akhir semester dimulai. Tidak terasa, sekarang kami sudah menyelesaikan tahun ke-6 kami dan akan melanjutkan tahun ke-7.

Tepat saat aku melewati aula besar, aku melihat Draco berjalan sendirian. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana hitamnya.
Aku langsung tersenyum melihatnya. Ingin sekali aku menghampirinya dan menyapanya. Semenjak dia bertanya apakah aku mencintainya, kami tidak pernah berbicara lagi. Well, mungkin kami hanya berbicara saat ada perlu.

Tapi tunggu dulu. Kenapa tiba-tiba Astoria berjalan disebelah Draco? Dan tangannya itu bahkan merangkul lengan Draco? Apakah mereka sudah—berpacaran?

Aku menggeleng pelan. Itu tidak mungkin. Draco pernah mengatakan padaku bahwa Astoria sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri, dan dia tidak pernah menyukai gadis itu. Tapi kenapa sekarang mereka terlihat sangat mesra?

"Hermione!" Aku menoleh, menatap Ron dan Harry yang sedang berlari ke arahku. Sekilas aku juga melihat Draco yang menatapku ketika Ron meneriaki namaku. Namun dia langsung memalingkan wajahnya dan kembali berjalan, bersama Astoria tentunya.

"Ada apa?" tanyaku dengan suara parau.

"Kau yang ada apa. Kenapa suaramu seperti itu? Apa kau sakit?" tanya Harry. Aku menggeleng dan berjalan di depan mereka.

"Tidak. Sudahlah, ayo kita pergi." Ucapku pelan.

Draco, apakah sudah terlambat bagiku untuk bisa bersamamu?

Normal POV

"Akhirnya sekolah berakhir juga! Aku bisa bebas sekarang!" ucap Ron dengan senyum merekah-rekah.

"Tahun depan akan menjadi tahun yang melelahkan bagi kita," sahut Harry.

"Aku setuju denganmu, Harry." Ucap Hermione.

Saat ini mereka sedang berada di dalam Hogwarts Express, mereka akan kembali ke London. Seperti biasa, Ron sedang memakan coklat. Harry sedang membaca majalah quidditch sementara Hermione tengah membaca buku yang sangat tebal.

"Hei, tadi kurasa aku melihat Malfoy sedang berjalan berduaan dengan Greengrass." Ujar Ron. Harry memalingkan pandangannya kepada Ron dan menutup majalah quidditchnya.

"Benarkah? Dasar playboy," cibir Harry. Hermione hanya mendengarkan percakapan antara kedua sahabatnya itu.

"Tidak kusangka si Greengrass itu menyukai orang seperti Malfoy." Tambah Ron.

"Sudahlah, kalian ini kenapa suka sekali membicarakan orang lain? Aku mau pergi ke kompartemen Ginny saja." Hermione kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan kompartemennya.

DUK!

"Aduh!" Hermione terjatuh ke lantai. Wajahnya kemudian mendongak dan menatap siapa orang yang telah menabraknya tadi.

"Draco?" tanya Hermione heran. Maklumlah dia heran, mana ada seorang Slytherin yang mau masuk ke gerbong yang dipenuhi oleh para Gryffindor? Ini adalah sebuah pemandangan yang langka.

"Hermione, maafkan aku." Ujar Draco sambil membantu Hermione untuk berdiri.

"Tidak apa-apa. Sedang apa kau disini?"

"Aku datang untuk mencarimu,"

Sebelah alis Hermione terangkat, "Mencariku?"

"Ya, bisa kita bicara sebentar?" tanya Draco dengan suara pelan. Hermione mengangguk.

"Tentu."

TBC

Readers, maafkan Author bodoh ini! Author sudah lama—sangat lama malah—tidak mengupdate fic ini. Author minta maaf ya…
Author terlalu sibuk sama sekolah. Saat mau ngeupdate, lupa kata sandi akun -_-"

Okelah, pokoknya Author mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya buat para Readers yang udah nge-review dan mengingatkan Author untuk mengupdate fic ini *terharu =)
Kalo ada typo mohon dimaafkan ya, soalnya Author ga ngecek ulang kayak biasanya, hehe

Author akan berusaha untuk tidak telat lagi mengupdatenya.
Oke deh, cukup sekian aja. Jangan lupa reviewnya yaa =) *ciumciumreaders* *digampar*