Tittle : Let me know

Author : Kim Joungwook

Pairing : NamJin

Length : chaptered

Genre : Romance

Summary : Dan sepertinya, kehidupan Seokjin untuk kedepannya tidak akan sama lagi. Karena ia membawa tambahan satu nyawa bersamanya.

Warning : Shounen-ai, BoyXBoy. Typo(s). Don't Like Don't Read!

.

.

.

BTS

.

3 minggu terlewati dengan tenang, tanpa ada keributan berarti dalam bangtan. Ucapan Namjoon yang berkata akan mengumpulkan bangtan dan membicarakan masalah Seokjin secara baik-baik belum terwujud – bahkan sampai kini ketujuh namja beserta staff dan manager sudah menginjakkan kaki di Los Angeles niat itu belum juga terwujud. Entah bagaimana bangtan berhasil bertahan tanpa komunikasi satu sama lain selama menjalani Wings Tour di Indonesia, Filipina, dan Hongkong.

Namjoon selalu memiliki berbagai alasan setiap kali Yoongi dan Seokjin bertanya mengenai niat mereka untuk berbicara dari hati ke hati antar member. Dua member tertua di bangtan itu sepenuhnya sadar bahwa mereka membutuhkan quality time dengan member mengenai masalah besar yang tengah dihadapi. Namun Namjoon dan seribu alasannya selalu membuat Yoongi dan Seokjin menghela nafas kecewa.

"mianhae, hyung. Tapi kalian tahukan jadwal kita sangat padat minggu ini, belum lagi latihan yang tidak berhenti. Semua member lelah, dan tidak akan optimal berbicara dalam keadaan lelah."

"tidak bisa hyung, minggu ini juga tidak bisa. Maafkan aku, tapi Jimin dan Hoseok tengah sibuk berdiskusi mengenai koreo terbaru untuk album kita yang akan datang. Kalau tidak percaya, hyung coba tanya Joungkook. Dia juga ikut andil."

"astaga hyung! Aku sampai lupa. Banyak sekali yang harus aku kerjakan akhir-akhir ini. Apalagi kita mendapat undangan dari billboard, minggu depan kita harus berangkat. Kau tahukan, banyak yang harus kita persiapkan."

Bukan hanya Namjoon yang menyakiti Seokjin, bahkan seorang Jung Hoseok, seseorang yang sudah Seokjin anggapp sebagai dongsaengnya yang paling manis, yang menjadi sumber hope dari grup mereka mulai menunjukkan sikap menolaknya untuk Seokjin.

"Seokjin hyung, maafkan aku. Aku tahu keadaan hyung yang tengah – yeah, seperti ini. Tapi bisakah hyung melakukan gerakan dance dengan maksimal? Hyung terlihat tidak serius melakukannya." Hoseok menegurnya setelah mereka 5 jam lamanya mengulang beberapa gerakan dance yang sama. Seokjin lelah, sangat. Dan keadaannya yang tengah hamil tidak membantu sama sekali.

Seokjin meringis, "mian Hoseok ah. Aku akan lebih bersemangat lagi dan lebih rajin berlatih. Aku juga minta maaf kepada yang lain jika menjadi beban setiap kali kita berlatih koreo baru."

"Keadaan hyung yang biasa sudah menyusahkan, ditambah sekarang lebih parah lagi. Seharusnya hyung sudah tahu konsekuensi yang hyung dapat jika mempertahankan kondisi hyung yang sekarang. Hyung seorang member dari grup idol yang sangat terkenal dengan gerakan dance nya yang powerful, hyung seharusnya tidak melupakan hal itu. Cih, menyusahkan."

Kalimat Jimin sebelum ia meninggalkan ruang latihan membut Seokjin semakin merasa bersalah. Ia paham, keadaannya sekarang bukan hanya menyusahkan dirinya sendiri, namun juga orang lain, khususnya membernya sendiri.

"tak perlu merasa bersalah hyung. Kau tidak salah apapun, mereka yang seharusnya memahami dan mencoba menerima keadaan hyung yang sekarang. Tidak perlu diambil hati omongan Jimin, ya hyung?" ucapan Taehyung membuat Seokjin mau tak mau tersenyum. "gomawo, Taehyung ah."

.

.

.

Kali ini, setelah bermalam-malam berlarut dalam keadaan perang dingin yang tak pernah tahu siapa yang memulainya, Yoongi menarik satu persatu member untuk berkumpul. Di ruang tamu kamar hotel mereka yang kebetulan cukup besar untuk mereka bertujuh pakai duduk melingkar. Dengan Seokjin yang mulai kesusahan untuk menyilakan kakinya, yang kini memakai sebuah kaos berwarna coklat muda yang mencetak cukup jelas perutnya yang mulai buncit.

"Jadi, ada apa hyung menyeret-nyeret kita semua kesini? Kuharap tidak hanya membicarakan suatu hal yang tidak penting." Jimin melirik sinis kearah Seokjin yang entah sebuah kebetulan atau tidak duduk persis didepannya.

Seokjin hanya meringis, mencoba mengacuhkan komentar pedas Jimin. Entah kenapa adiknya satu itu mulai berkata sinis setiap kali berbicara dengannya.

"Jadi – " Namjoon akhirnya bersuara, setelah disikut berkali-kali oleh Yoongi yang duduk disampingnya. Ia menatap satu persatu memberya disana. Dimulai dari sisi sebelah kanannya, ada Yoongi, Seokjin, Taehyung, Joungkook, Jimin, dan Hoseok. Semuanya menatap Namjoon, menanti apa yang akan dikatakan oleh leadernya tersebut.

Namjoon menarik nafasnya dalam-dalam, "seperti biasa, kita perlu quality time untuk membicarakan tentang keadaan internal kita saat ini. Well, kalian – tidak, maksudku kita semua sudah pasti memiliki pendapat masing-masing yang perlu diungkapkan terkait masalah yang tengah kita hadapi. Jadi, sebelum kalian mulai menyampaikan pikiran masing-masing, aku ingin mengatakan suatu hal sebagai seorang leader."

"Seokjin hyung." Seokjin mengangkat wajahnya – yang sedari tadi menunduk, menatap Namjoon yang baru saja menyebut namanya.

Namjoon tersenyum, "sebenarnya, ada banyak hal yang memang perlu kita bicarakan. Namun, salah satu yang paling urgent adalah mengenai keadaanmu, hyung. Sebagai seorang leader, aku dituntut tidak hanya memandang suatu masalah dari satu sisi. Aku tahu, sebagai seorang calon ibu, hyung pasti ingin melindungi kandungan hyung, dan pastinya sebagai member BTS hyung juga tak ingin mengecewakan member dan fans. Tapi, dengan keadaan hyung yang seperti ini, dengan kandungan hyung yang semakin besar, bagaimana hyung akan mengatasinya? Aku tidak ingin menekanmu, hyung. Tapi sebagai leader, aku juga harus mempertimbangan posisi member lain. jika sampai terjadi apa-apa terhadapmu, dan kehamilan hyung sampai bocor ke pihak luar, bukan hanya berdampak pada hyung, tapi pastinya juga BTS."

Seokjin mengangguk, "aku paham kok. Aku tahu." Ia menjawab tanpa berpikir. Karena ia sudah menyusun jawaban dari pertanyaan itu berminggu-minggu yang lalu, sejak ia paham keadaannya yang tengah hamil.

"aku tidak pernah memaksa siapapun untuk menerima keadaanku yang tengah hamil. Bahkan awalnya aku ingin merahasiakan ini sampai aku harus pergi untuk melahirkan. Namun ternyata takdir berkata lain. aku juga tidak pernah memaksa siapapun untuk menerima keadaanku yang sekarang tengah hamil. Sikap yang diambil oleh Jimin dan Hoseok, sejujurnya justru respon yang aku bayangkan akan aku terima dari seluruh member. Tapi ternyata tidak seperti itu."

Jimin dan Hoseok menundukkan kepalanya, entah kenapa mendengar nada lirih yang dipakai Seokjin membuat mereka merasa bersalah. Ketiganya tidak hanya 1 bulan 2 bulan bersama, sudah lebih dari 5 tahun mereka bersama, berlatih, melewati suka duka sejak trainee sampai debut menjadi member BTS. Seharusnya, masalah ini tidak membuat hubugan mereka menjadi buruk.

Seokjin tersenyum, ia mengusap lembut rambut Jimin dan Hoseok yang duduk didepannya, membuat mereka mengangkat kepalanya, memandang sosok tertua di grup tersebut.

"Memang sulit, sangaaattt sulit menerima keadaanku yang tengah hamil. Bahkan awalnya aku sendiri juga sulit menerima kehadiran kkumi. Tapi, jika memang kenyataannya seperti ini, aku harus bagaimana? Jika bisa, aku juga ingin mengulang semuanya hingga tidak sampai terjadi hal yang seperti ini. Tapi aku memang tidak bisa mengulang waktukan? Aku juga tidak mungkin menggugurkannya, itu sama saja membunuh. Jadi aku belajar untuk menerimanya. Aku tidak ingin memaksa kalian untuk menerima kehadiran kkumi, juga keadaanku yang tengah hamil. Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita, setidaknya menjadi lebih baik dari kemarin. Aku tidak ingin meninggalkan bangtan dengan hubungan yang dingin seperti ini."

"memang hyung akan kemana?" Hoseok bertanya cepat, ia mengerutkan keningnya. Ia tak pernah mendengar bahwa Seokjin akan pergi. Bahkan semua member memberi tatapan bertanya dan penasaran pada Seokjin, belum ada satupun member yang tahu mengenai rencana Seokjin, bahkan Namjoon selaku leader bangtan.

Sekali lagi Seokjin tersenyum, ia menatap satu persatu dongsaengnya itu, membayangkan bahwa untuk – entah sampai kapan – ia tidak akan melihat mereka lagi.

"Aku memutuskan untuk mengambil cuti, vakuum sementara sampai kkumi lahir. Aku sudah berbicara dengan agensi, aku beralasan tengah sakit, dan agensi sudah memberiku ijin. Selesai menghadiri bilboard, aku akan langsung mengumumkan keputusanku untuk vakuum melalui konferensi pers di korea. Sehingga aku tidak bisa menyelesaikan rangaian wings tour di Australia dan jepang. Maafkan aku, aku tidak mendiskusikan ini dulu dengan kalian. Tapi mengingat kandunganku yang sudah berumur 5 bulan, dan sudah mulai terlihat menjadi tidak mungkin bagiku untuk tampil didepan umum dan melakukan semua tarian bangtan yang benar-benar menguras energi. Maafkan aku."

.

.

.

Seokjin setengah terpaksa saat Namjoon memintanya untuk sekamar malam ini. Setelah berjam-jam duduk bertujuh, membicarakan masalah Seokjin dari hati kehati akhirnya semuanya kembali. Kembali menjadi Bangtan yang terkenal dengan kedekatan membernya. Bahkan Seokjin sampai menangis saat satu persatu dongsaengnya memelukya, mengucapkan berbagai kalimat penyemangat dan sayang. Bahkan Jimin dan Hoseok, keduanya meminta maaf atas sikap mereka beberapa minggu belakangan.

Cklek

"hyung?"

Seokjin berjengit kaget, ia yang tengah duduk besandar pada kepala ranjang langsung menoleh ke pintu yang terbuka, menampilkan kepala Jimin yang menyembul diantara celah pintu.

Jimin tersneyum, "boleh aku masuk?" dan Seokjin mengangguk, "ya, masuklah."

Setengah berlari Jimin menghampiri Seokjin, membiarkan pintu hotel terkunci otomatis. Ia duduk disamping Seokjin dan menatap dengan mata sipitnya yang sedikit bengkak akibat menngis tadi. Tidak berbeda dengan milik Seokjin, yang bahkan lebih bengkak lagi.

"bagaimana perasaanmu hyung?" tanya Jimin. Ia menyentuh paha Seokjin, menatap penuh afeksi pada hyung tertuanya itu.

Seokjin tersenyum, "perasaanku sangat baik, Jimin. Bahkan lebih dari baik."

Jimin ikut tersenyum, ia semakin mendekat ke arah Seokjin dan memeluknya, menumpukan dagunya ke bahu lebar Seokjin, "sekali lagi aku minta maaf hyung. Sikapku kemarin pasti menyakitimu banyak sekali. Maafkan aku."

Seokjin menggeleng, ia balas memeluk Jimin dan menepuk pelan punggungnya, "berhentilah meminta maaf Jimin. Kau tidak bersalah. Itu hakmu untuk memberikan respon terhadap keadaanku. Aku memakluminya. Mungkin, jika aku berada di posisimu aku akan bersikap sama."

Jimin tertawa, ia melepas pelukannya dan menatap Seokjin yang juga tengah menatapnya, "pantas saja hyung yang mendapat anugrah untuk mengandung. Sifat hyung memang sudah mencerminkan serang eomma."

"ck. Berhenti memanggilku eomma. Aku seorang laki-laki, tentu saja harus dipanggil appa. Iyakan?"

"tapikan hyung yang mengandung bayinya. Tentu saja dia harus memanggil hyung eomma. Lalu, jika hyung dipanggil appa, 'ayah' dari bayi ini akan dipanggil apa?"

Seokjin terdiam, ia tersenyum kecut menatap Jimin, "aku tak pernah membayangkan kkumi memanggiku eomma dan memanggil orang lain appa. Hah~ bahkan aku meragukan apakah orang itu tahu bahwa ini anaknya."

"tunggu, Hyung! Jangan bilang bahwa orang yang bertanggung jawab atas kehamilanmu sudah tahu bahwa kau hamil, namun tidak mau mengakui bahwa ini anaknya? Siapa dia hyung? Siapa hyung!" Jimin menatap tak percaya ke arah Seokjin. Bagaimana mungkin Seokjin tidak marah dan melabrak namja yang sudah membuatnya hamil? Dan justru degnan tenang memendam semuanya seorang diri?

"hyung, kau bukan malaikat."

Seokjin terenyum tipis, "aku memang bukan malaikat. Tapi aku tak mau jika sampai dia tahu bahwa ini anaknya, apalagi orang lain tahu, orang tuanya, orang tuaku, aku hanya tak ingin karena hal ini ia menjadi jatuh. Aku tak ingin kehidupannya berantakan, karirnya hancur karena bayi yang tengah aku kandung."

"lalu bagaimana dengan hyung?! Bagaimana dengan kehidupan hyung? Bagaiamna dengan karir hyung?! Apa hyung akan melupakan tentang diri hyung sendiri dan memikirkan hidup orang lain?! Hyung!"

Teriakan Jimin cukup keras, membuat Seokjin berjengit menjauh, "Jimin, jangan berteiak. Kkumi bisa mendengarya." Ia berucap lirih dan mengusap perutnya pelan.

Jimin menghela nafasnya kasar, "aku tahu, aku paham bahwa aku brengsek karena telah menjauhi hyung dan bersikap kasar minggu-minggu lalu. Tapi ternyata ada yang lebih brengsek lagi hingga tidak mau mengakui anaknya sendiri."

Seokjin menggeleng cepat, "aku yang salah Jimin. Aku yang memilih untuk tidak memberitahu dia bahwa ini anaknya. Dia tidak melakukan kesalahan apapun."

"jadi, hyung tidak berniat meminta pertanggung jawaban dari orang itu? Hyung akan membiarkan kkumi tumbuh tanpa sosok ayah?" tanya Jimin kesal. Seokjin menggeleng, "tidak. Aku yang akan menjadi ayahnya. Aku tak mau kkumi dipandang aneh oleh orang lain karena memiliki eomma seorang namja. Ia – ia harus tumbuh seperti anak lainnya. Aku bisa mencari orang untuk menjadi ibunya. Ingat, aku tampan, tentu tidak susah mencari yeoja yang mau menjadi ibu dari anakku."

"hyung! Bagaimana mungkin hyung bisa berpikir sesimpel itu! Aku – hah! Terserah hyung saja. Aku bisa semakin emosi mendengar semua rencana hyung kedepannya. Terserah."

Seokjin tersenyum lembut, "gwenchana, Jimin ah. Aku akan baik-baik saja. Bukankah ada kalian semua? Ada bangtan yang akan terus mendukungku. Kau akan mendukungku selalu kan?"

"hah, tentu saja." Jimin menghela nafasnya panjang.

"hyung benar-benar ya, hah~ Percuma bicara dengan hyung. Kau sangat keras kepala."

.

.

.

Malam itu, malam sebelum pelaksanaan Billboard Music Award, kamar dimana Seokjin dan Namjoon tidur terasa sepi. Namjoon meminta tidur diranjang yang sama dengan Seokjin, dan namja cantik itu mengiyakan. Bahkan keduanya kini saling berpelukan dengan wajah yang saling berhadapan.

"hyung"

"em?"

"bagaimana perasaanmu sekarang?"

"entahlah. Lega? Bahagia? Aku merasa sedikit bebanku sudah berhasil terangkat."

Lalu kembali hening. Kedua namja itu hanya diam saling menatap satu sama lain. Namjoon merelakan lengannya menjadi bantal Seokjin, yang setelah dipikir-pikir ini sudah berlalu beberapa bulan sejak terakhir kali mereka tidur bersama.

Namjoon tersenyum lembut, tangannya yang lain terangkat, mengusap lembut sisi wajah Seokjin, menyibak helai rambut yang nakal menutupi sebagian kening namja cantik itu.

"apakah aku boleh bercerita sesuatu, hyung?" tanya Namjoon lirih. Ia merubah posisi tubuhnya hingga kini miring sempurna, benar-benar menghadap Seokjin yang sudah sejak awal menghadapnya.

Seokjin mengangguk, ia merona mendapati wajah Namjoon yang hanya berjarak beberapa inchi dari miliknya, bahkan harum mint dari mulut Namjoon bisa tercium olehnya.

Dimple Namjoon terlihat begitu rona merah menghiasi pipi Seokjin, hyung tertuanya itu sangat manis saat tengah malu-malu seperti ini.

"dulu, 5 atau 4 tahun yang lalu aku pernah menyukai seseorang. Dia seorang namja." Namjoon bisa melihat mata Seokjin melebar, sepertinya fakta ini benar mengejutkannya. Namjoon tersenyum kecil, "kau sudah tahu hyung, aku tak pernah mempermasalahkan orientasi seksual siapapun, termasuk pada diriku sendiri."

Namjoon menarik nafasnya dalam-dalam, "itu hanya sampai batas menyukai. Aku tak pernah mencoba mendekatinya atau mencoba memastikan bahwa perasaanku benar-benar sebuah ketertarikan 'semacam itu'. Aku sibuk dengan persiapan debut bersamamu, bersama Bangtan, dan semuanya terlupakan. Lalu aku mulai menjalin hubungan dengan beberapa yeoja, hyung tahu siapa saja. Aku mulai melupakan tentang ketertarikan itu, it just, well just a fling. Dan aku benar-benar tak pernah menemui orang yang benar-benar menyukai – maaf – sesama jenis. Sampai aku menghabiskan malam itu denganmu hyung."

Tangan Namjoon yang sejak tadi tidak meninggalkan wajah Seokjin bergerak ke belakang, mengusap lembut tengkuk Seokjin hingga namja itu bergidik geli.

"Malam ini, apakah hyung mau sekali lagi membantuku?" tanya Namjoon. Seokjin mengernyitkan keningnya, "membantu apa?"

Namjoon menyeringai, "aku pernah membaca bahwa saat kehamilan sudah mencapai bulan 5 ke atas, ibu harus mulai sering melakukan ehm, hubungan intim dengan sang ayah, untuk melancarkan psroses persalinan. Jadi, apakah hyung mau aku bantu?"

Seokjin mengernyit lebih-lebih lagi, "ya! Apa maksudmu? Tadi kau mengatakan butuh bantuan, lalu apa-apaan sekarang menawarkan bantuan kepadaku?!"

"emmm, yah, hyung membantuku untuk meyakinkan orientasi seksualku, dan aku bisa membantu hyung untuk melancarkan proses kelahiran hyung besok."

Seokjin terdiam, ia menatap Namjoon lekat-lekat. "tapi kita bukan sepasang suami istri, bahkan bukan kekasih. Juga, aku bukan wanita, aku tidak akan melahirkan normal Namjoon."

"But still, I am – "

"Kau ingin melakukan seks denganku. Begitukan maksudmu?"

Kalimat frontal dari bibir Seokjin itu membuat Namjoon bungkam. Ia tak menyangka bahwa Seokjin akan segamblang itu menjelaskan maksud tersiratnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Seokjin tiba-tiba menciumnya, menempelkan bibir keduanya beberapa detik sebelum akhirnya kembali menjauh.

"H – hyung."

Seokjin tersenyum tipis, menyatukan kening keduanya, "It's okay. Tak apa jika kau ingin melakukannya."

Dan Namjoon masih terdiam, ia menjadi ragu. Padahal, niat awalnya meminta Seokjin sekamar dengannya memang untuk ini. Ia ingin meyakinkan dirinya sekali lagi, bahwa jalan yang akan ia pilih kedepannya memang benar dan ia tidak akan menyesalinya.

Seokjin sekali lagi kembali mencium Namjoon, sebuah kecupan yang kali ini disambut baik oleh Namjoon. leader bangtan tersebut menekan lembut tengkuk Seokjin untuk memperdalam ciuman mereka. ia mengulum bibir bawah Seokjin, tersenyum merasakan bagaimana bibir gemuk ini terasa sangat lembut dalam kulumannya. Ia mencecap setiap sisi bibir Seokjin sebelum merangsek masuk, membiarkan lidahnya yang kali ini bekerja untuk menginvasi mulut Seokjin, mengajak lidahnya untuk beradu.

Dan kali ini, kejadian malam setengah tahun yang lalu kembali terulang. Jika saat itu Namjoon melakukannya karena alkohol, dalam keadaan setengah sadar. Kali ini, dengan kesadaran penuh ia yang meminta.

Seokjin memejamkan matanya erat, pasrah membiarkan tubuhnya didalam pelukan Namjoon. ia tidak mau memikirkan apapun. Hanya membayangkan bahwa mungkin ini adalah kali terakhir ia bisa melihat Namjoon membuat perasaannya hancur. Sejujurnya, ia tidak berencana untuk cuti dari Bangtan dan kembali setelah ia melahirkan. Ia sudah memutuskan sejak berhari-hari yang lalu, bahwa ia akan berhenti. Ia akan undur diri dari dunia entertainer dan fokus merawat anaknya. Juga membangun sebuah keluarga yang hangat untuk perkembangan anaknya nanti.

"A – akh! Namjoon ah!" Seokjin memekik pelan saat Namjoon memberikan gigitan di bahunya. Bajunya sudah hilang entah kemana.

Mata Seokjin semakin erat tertutup saat tangan Namjoon melepas seluruh kain yang menutup tubuhnya. Ia membiarkan tangan Namjoon menyentuh setiap lekuk tubuhnya, membiarkan lidah dan bibir Namjoon memberikan jejak dimanapun yang namja itu inginkan. Bahkan ia hanya bisa bernafas berat dan memekik saat Namjoon menyatukan tubuh mereka. membuatnya menangis karena rasa sakit yang kembali ia rasakan.

"Maafkan aku, hyung."

.

.

.

Suasana suka cita masih menyelimuti seluruh member Bangtan dan staff yang selalu menyertai mereka selama ini. Bahkan suasana gembira ini masih terbawa smapai ke Korea, sampai konferensi pers selesai digelarpun seluruh orang masih bersuka cita. Termasuk Seokjin yang tak berhenti tersenyum senang saat Taehyung dan Joungkook mengulang reka adegan saat mereka menerima penghargaan di BBMA. Mereka menirukan bagaimana Namjoon memberikan kata sambutan, dan bahkan Yoongi yang malas bergerak ikut melompat tertawa melihat bagaimana Joungkook berbicara bahasa Inggris.

Mereka kini tengah berada di ruang latihan, berlatih kembali untuk rangkaian Wings Tour selanjutnya. Seokjin sebenarnya tidak akan ikut untuk wings tour kali ini, namun, ia ingin ikut latihan, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Mengingat rencananya itu, ia menjadi semakin sedih. Masih terdapat banyak keraguan dalam dirinya untuk meninggalkan Bangtan. Apalagi ditengah popularitasnya yang sedang berada di puncak sejak di BBMA kemarin. Bahkan pihak agensi sudah berkali-kali menghubunginya, membujuk agar ia bisa membatalkan rencanya tanpa tahu apa yang tengah dihadapi Seokjin.

"hyung! Hyung tidak ikut latihan ya?" tanya Taehyung pada Seokjin yang sedari tadi hanya duduk di sisi ruangan. Seokjin menggeleng, "ya, aku tidak akan ikut latihan. Aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan dengan kalian. Bukankah lusa aku sudah harus pulang, hm?"

"tidak bisa ya hyung tinggal di dorm saja?" tanya Hoseok dengan bibir yang melengkung turun. Ia mendekat ke arah Seokjin yang duduk disampingnya, dibawah kaki Seokjin.

Seokjin tertawa, "jika aku tinggal di dorm, siapa yang akan membantuku kedepannya? Semakin besar kkumi, aku akan semakin sulit bergerak. Dan kalian juga akan pergi ke Jepang kan? Tidak mungkin aku ikut ke jepang juga."

"tapi hyung, apa orang tua hyung sudah tahu mengenai kkumi?" pertanyaan Yoongi itu membuat Seokjin kehilangan senyumnya. Ia menunduk, mengusap lembut perutnya yang mulai buncit.

"belum. Aku belum memberitahu siapapun kecuali kalian. Bahkan pihak agensi, juga manager hyung tidak tahu. Aku belum siap memberi tahu mereka mengenai kkumi. Besok saja, saat aku sudah benar-benar kembali ke rumah dan vakuum dari bangtan aku akan menceritakan semuanya ke eomma dan ap – "

"Termasuk siapa ayah dari bayi yang hyung kandung?" pertanyaan Joungkook yang memotong kalimat Seokjin membuat seluruh mata memandang magnae bangtan tersebut.

Seokjin tersenyum tipis, "mungkin. Tergantung bagaimana mereka memaksaku. Jika eomma dan appa membiarkannya, aku juga tidak akan bercerita apapun."

"wah, hyung benar-benar mencintai ayah dari bayi yang hyung kandung ya. Kira-kira siapa yaa~ aku jadi semakin ingin tahu. Dia sangat beruntung berhasil mendapatkan hati Jin hyung kita yang berharga." Ucap Jimin. Taehyung mengangguk, "ya, aku jadi semakin penasaran. Apa hyung benar-benar tidak akan memberitahu kami?"

Seokjin menggeleng, "tidak. Aku tidak ingin kalian terkejut hehehehe"

Namjoon sejak tadi hanya diam, memerhatikan bagaimana interaksi Seokjin dan member lain. sejujurnya Namjoon tahu, bahwa Seokjin tidak hanya vakuum sementara dari bangtan. Ia akan keluar. Ia baru mengetahuinya kemarin malam, saat manager hyung dan pihak agensi memanggilnya untuk membantu membujuk Seokjin agar tetap berada di Bangtan.

"Hyung."

Panggilan dengan suara berat Namjoon itu membuat tawa member lain terhenti, fokus mereka sekarang pada leader bangtan yang berdiri sedikit jauh dari mereka yang berkumpul di sisi Seokjin.

"ada apa Namjoon ah?" tanya Seokjin lembut. Ia tersenyum melihat Namjoon dengan kaos kebesarannya.

Namjoon mengusap wajahnya kasar, "apa – apa hyung tidak akan memberitahu yang sebenarnya pada kami? Apa hyung akan terus berbohong sampai kami mendengarnya besok saat hyung melakukan konferensi pers?"

Mata Seokjin melebar, "Namjoon! bagaimana kau – tidak, jangan katakan apapun!" lalu namja cantik itu dengan cepat berdiri, setengah berlari menghampiri Namjoon yang berdiri lumayan jauh dari tempatnya duduk.

Bruk!

"Hyung!"

Kejadian itu begitu cepat, sekejap mata Seokjin yang tadi masih berdiri tegap, melangkahkan kakinya cepat menghampiri Namjoon kini jatuh, tersungkur dibawah.

"Ah! Tidak! akh!" Seokjin berteriak, hiteris begitu melihat cairan merah pekat disekitar kakinya. Tangannya sibuk memeluk perutnya, mengabaikan kehadiran member lain yang panik disekelilingnya.

"hyung! Astaga~ cepat hubungi ambulan!"

"tidak! Jangan! Bagaimana jika ada fans yang tahu?!"

"Apa itu penting sekarang?!"

"ambulan cepat!"

"kita harus menyelamatkan Seokjin hyung!"

Posisi Seokjin yang awalnya jatuh tersungkur kini menjadi duduk, dengan Joungkook yang sekali lagi menjadi sandarannya. Magnae satu itu merasa deja vu dengan keadaan ini. Bedanya, kali ini ia merasa lebih panik. Ia merasa ini keadaan yang lebih gawat.

"tidak, kita bawa Seokjin hyung ke rumah sakit. Yoongi hyung, kita lakukan seperti dulu saat Seokjin hyung pingsan. Pinjam mobil siapapun untuk membawa kita. Aku akan menggendong Seokjin hyung ke basement."

Kalimat Namjoon membuat yang lain langsung menyingkir, membiarkan leader mereka menggendong Seokjin dalam dekapannya.

"tidak, hik, tidak. Namjoon ah, kkumi, dia akan baik-baik saja kan? Akh!" Seokjin memekik kesakitan. Perutnya terasa nyeri sampai ke pinggangnya, bahkan ke tulang belakangnya. Ia belum pernah merasa sesakit ini. Darah yang membasahi celananya terlihat ikut membasahi baju Namjoon, dan ia semkain ketakutan. Ia menangis histeris memeluk perutnya, merapalkan berbagai doa agar kandungannya selamat.

"tenang hyung, semua akan baik-baik saja."

Dan teriakan dari seluruh member adalah hal terakhir yang ia dengar sebelum memejamkan matanya, Seokjin pingsan dalam gendongan Namjoon yang kini mempercepat langkhanya menuju mobil yang sudah ada Yoongi didepannya.

"kau akan baik-baik saja, Seokjin hyung. Kalian harus baik-baik saja."

.

.

.

TBC

Maafkan saya~~~ Mianhamnida! – bow

Hikss, aku terkena WB. Tiba-tiba mood hilang buat ngelanjutin apapunnn tapi ide berterbangan diotak. Jadi maaf kalai menunggu lama dan chapter ini kurang memuaskan.

Chapter depan bener-bener klimaks. Semuanya bakal jelas di chap depan. Semuanya! Okay?!

Jadi, mohon bersabar. Aku usahakan selesai aku tulis sebelum masuk kuliah lagi.

Dan aku mau meminta saran, apakah sebaiknya Seokjin perlu memberitahukan mengenai kehamilannya ke fans atau tetap disimpan sampai akhir cerita? Mohon sarannya~~

Terima kasih mau membaca chap ini, dan menunggu hampir 2 bulan. Terima kasih~