"T-tunggu, Yang Mulia! Anda tidak bisa memutuskan begitu saja!" seru Yunho.
Keempat tuan putri menghampiri Amalia dan Yuchun.
"Sudah!"
"Hentikan!"
"Lepaskan Amalia!"
"Cukup!"
Sang Raja tersenyum melihat kekompakan putri-putrinya. Tapi kelihatannya keempat putri tersebut sibuk dengan amarah mereka sendiri dan tidak menyadari hal tersebut.
"Aku... kehabisan napas..." bisik Amalia lemah. Seolah tersadar, Yuchun cepat-cepat berdiri lalu membantu Amalia berdiri.
Changmin tertawa terbahak-bahak. "Hebat hyung, kau melakukan hal yang tepat di saat yang sangat tepat."
"Seven minutes in heaven sih seven minutes in heaven, tapi..." Shiina kehilangan kata-kata.
"Kau harusnya menyimpan ciuman se-hot itu untuk ciuman pernikahanmu di altar kan?" tegur Millenia kepada Yuchun.
Junsu menoleh ke arah Shina. "Kita bisa lakukan yang seperti itu juga?"
"Mmm, kalau… Kalau nanti sudah besar! Iya, kalau sudah besar, bisa…" Shiina menjawab, terlihat panik.
Junsu tertawa polos. "Nanti ajari Junsu ya!" katanya seraya memeluk sebelah lengan Shiina. Wajah Shiina memucat seketika.
"You are lucky that I'm a good kisser," kata Changmin pada Delvi, nadanya menggoda.
"Are you? Yang tadi biasa saja kok," jawab Delvi dengan nada menantang.
"Kau menantangku? Aku bisa yang lebih keren dari Yuchun, kau tahu!"
"Buktikan padaku!"
"Akan kulakukan!"
Changmin menggertakkan giginya. Ia tidak suka ditantang, apalagi oleh wanita!
"Omo… Bagaimanapun aku iri juga sih pada Amalia. Mereka romantis sekali!" keluh Millenia pelan.
"Yang tadi masih kurang?" tanya Jaejoong.
Mata Millenia membelalak kaget. Tidak seharusnya Jaejoong mendengarnya, ia kan bicara dengan suara yang sangat pelan tadi! "Ah, tidak, bukan begitu. Hanya saja—"
Kata-kata Millenia terputus karena bibir Jaejoong sudah mulai mendekati bibirnya…
…yang pada akhirnya membuat Shana memukul bibir itu dengan buku komik yang sedang dibacanya. Jaejoong merengut kesal sambil memegangi bibirnya yang memerah karena dipukul kuat-kuat. Yunho tertawa terbahak-bahak, sementara Shana melempar tatapan mengancam ke Jaejoong.
"Aku tahu kakakku memang polos, tapi itu tidak berarti kau bisa menciumnya seenaknya kan?" katanya dengan nada dingin.
Raja kerajaan SM berdehem sekali. Seluruh ruangan terdiam, menyadari kesalahan fatal yang baru saja mereka lakukan, mengabaikan para Raja dan Ratu dari kedua negara.
"Nah, aku yakin tinggal pasangan YunShan yang belum melakukannya?" tanya Raja kerajaan SM dengan penuh wibawa.
Millenia nyaris tidak bisa menahan diri untuk terkikik. Pasangan YunShan kedengaran seolah mereka sedang ada di Reality Show seperti We Got Married atau We Are Dating. Dan kata-kata melakukannya itu kan.. multitafsir?
Yunho dan Shana hanya bisa mengangguk lemah. Seven Minutes In Heaven sebenarnya bukan masalah besar, tetapi di depan Raja dan Ratu kedua negara? Astaga, itu mimpi buruk!
Yunho menarik napas dalam-dalam. "Ayo, kita selesaikan saja."
Belum sempat Shana menanyakan apa maksud dari perkataan Yunho, Yunho sudah keburu menciumnya, hangat, tapi tidak lama, hanya beberapa detik.
"APA YANG KAU—" Shana pasti sudah menghajar Yunho—yang wajahnya entah bagaimana masih menunjukkan ekspresi tak berdosa—habis-habisan kalau saudari-saudarinya tidak menahannya.
"Miiiiii! Hak sepatuku patah!" seru Amalia kesal, seraya melemparkan bagian kiri sepatu satinnya kuat-kuat ke lantai. Dengan hak setipis pensil yang panjangnya lebih dari sepuluh senti, tidak mengherankan bagaimana kata rapuh dapat menjelaskan semuanya.
Junsu mengangkat sepatu itu dengan hati-hati, seolah sepatu kiri Amalia adalah contoh hewan langka yang berharga.
"Aigoo, kalian memakai ini di acara-acara formal? Omo, wanita pasti memiliki kaki yang sangat kuat kalau mereka dengan senang hati memakai benda ini selama berjam-jam dan berkali-kali." Katanya.
"Dengan senang hati," jawab Shana sarkastis sambil menyendokkan krim ke scone-nya.
"Menurut logikaku, lebih masuk akal menari hula dengan tutu pink di altar pernikahanku daripada memakai sepatu itu," jelas Delvi.
"Kau tahu, entah bagaimana aku setuju dengan logikamu," kata Millenia dengan nada sambil lalu.
Junsu mengangguk, lalu memasang sepatu tersebut ke kaki kirinya. "Hei, hyung, lihat, lihat, aku bisa berjalan— "
Belum selesai kata-kata Junsu, ia sudah terjatuh, menimpa Jaejoong, yang membuat Jaejoong (dan kursinya) jatuh dan menimpa Yunho. Millenia mengawasi adegan-adegan itu dengan perhatian penuh, seolah berusaha mengingat setiap detailnya. "Yunjae…" gumamnya dengan nada kagum sekaligus riang.
Melihat respon Millenia, Yuchun dan Changmin tertawa terbahak-bahak, yang membuat Jaejoong dan Yunho merengut kesal.
Junsu bangun, dan dengan kesal melempar sepatu yang tadi dipakainya.
"Sepatu bodoh!" serunya, seolah-olah kata-kata itu adalah kata makian.
Sepatu tersebut mendarat dengan sukses di kepala Changmin. Changmin mendengus kesal, dan melemparnya kembali ke kepala Junsu.
"Babo! Kenapa kau lempar sepatu ke kepalaku, hah?" omel Junsu kesal.
"Harusnya aku yang tanya begitu, dasar babo!" balas Changmin.
"Aku kan tidak sengaja melemparnya ke kepalamu! Tapi kau kan sengaja!"
"Lalu apa bedanya, babo? Sengaja ataupun tidak, tetap sakit kan!"
"Astaga, jangan bertengkar di meja makan! Tutup mulut, duduk yang manis, habiskan makanan kalian dan pergi bertengkarlah di luar!" seru Millenia jengkel.
"Iya, mama," ujar Junsu, kelihatan sangat imut dengan gaya-anak-patuh nya.
"Iya, nenek," jawab Changmin santai.
"KUBILANG TUTUP MULUT!" seru Millenia, terlihat berkali-kali lebih kesal. Junsu menundukkan kepalanya takut-takut dan melanjutkan makannya dalam diam, sedangkan Changmin hanya menjulurkan lidahnya dan melanjutkan makannya.
Shiina, yang sedari tadi sibuk mencari celah di keliman gaunnya untuk menyembunyikan Ipodnya, akhirnya dengan kesal meletakkan Ipodnya di meja.
"Tidak berhasil?" tanya Shana.
"Seperti yang bisa kaulihat," jawab Shiina.
"Keliman gaun kalian bisa menyimpan handphone flip tidak?" tanya Millenia, matanya berkilat jahil.
Semuanya menganggukkan kepala. Millenia tersenyum senang.
"Bagus, nah sekarang, dengarkan aku…"
[MILLENIA'S POV]
Omo, omo, aku tersesat! Seseorang tolong aku! Dan lagi, adik macam apa sih mereka itu? Tega-teganya meninggalkanku sendirian bersama Dame Hannah! Untung aku berhasil kabur… Kalau tidak aku pasti sudah mati bosan! Dan sekarang aku tersesat. Untung game nya masih berjalan, setidaknya aku tidak perlu khawatir… Khawatir karena apa ya? Ah biarlah, seolah aku sedang dalam situasi yang tepat untuk mengkhawatirkan orang saja! Tapi aku malu, berjalan sendirian di tengah pesta pertunanganku sendirian, seperti orang bingung. Pasti terlihat jelas kalau aku tersesat… aku tidak mau begitu!
Oke. Sekarang tenang. Oh, ya, benar begitu. Tarik napas yang dalam. Ah, para Baroness disana mengangguk sopan padaku. Nah, benar, tersenyum sopanlah seperti itu. Lalu balas anggukan mereka. Beres.
Aku menghela napas berat dan mengeluarkan handphoneku dari keliman gaunku dan membaca SMS-SMS yang masuk. Kau tahu, dari sinilah aku bisa yakin kenapa kata cerewet tidak cukup untuk menjabarkan adik-adikku.
Jaejoong : T or D Delvi?
Delvi : Huh, T
Amalia : Astaga aku penasaran! Apa yang akan dia tanyakan?
Delvi : Diam, berisik! Inbox-ku penuh tahu!
Jaejoong : Baiklah, beritahu aku rutinitas pagi Millenia.
Shana : Sangat sulit ditebak, kau tahu.
Shiina : Oh, sangat…
Junsu : Sangat apa Shiina sunbae?
Yoochun : SUNBAE? XD Astaga. Kalian pacar atau apa sih?
Changmin : Kau beruntung dia tidak memanggilmu onnie hari ini.
Amalia : Onnie? XDD
Yunho : Shana…
Shana : Siapa? Aku tidak kenal!
Yunho : Semarah itukah kau? Hanya karena ciuman semalam?
Shana : HANYA? Oh, tutup mulut.
Jaejoong : Yah! Diam! Aku mau dengar jawaban dari Delvi… Ah, here it comes!
Delvi : Yah, dia biasanya bangun paling pagi. Sekitar jam 5 atau 6, dan jadwal kami dimulai jam 9. Biasanya dia akan membuat coklat panas, mengambil boneka teddy bear besarnya dan membawanya ke ruang duduk. Lalu dia akan menonton TV, masih dengan piama. Kau tahu, dia menonton kartun dengan pose yang aneh. Meringkuk sambil memeluk teddy bear-nya.
Junsu : Seperti kucingku?
Delvi : Kurang lebih begitulah.
Aku : Perlukah kau membocorkan rahasia pribadiku?
Amalia : Kupikir itu point dari truth or dare?
Jaejoong : Aku bisa membayangkannya…
Aku : Demi Tuhan. Perlukah kusuruh kalian tutup mulut?
Setelah pembicaraan-SMS yang lumayan lama, akhirnya datang juga giliranku! Akhirnya! Akan kujalankan rencanaku sekarang. Oh, aku tidak sabar!
Aku : Changminnie.
Changmin : D dan tutup mulutmu.
Aku : Aish, kasarnya kau! Dare-nya… Cium Delvi se-hot yang kaubisa, di hadapan 10.000 tamu pesta ini ;3
