Going Home
Disclaimer: The plot is mine. Characters belongs to themselves, God, their parents, their company(?), and whoever they wants.
Warnings: Nonsense, typos, misstypes, shonen-ai, mpreg, contains time travel, some OOCness, boring, alay, etc.
Mood: Peaceful
Current Music: Closer – Ne Yo
.
.
Udara Hannyoung pagi itu terasa berbeda bagi dua anak manusia yang menginjakkan kakinya untuk pertama kali setelah satu minggu tidak berkutat dengan yang namanya pelajaran mematikan di sana. Keduanya—Jaejoong dan Changmin—memutuskan untuk kembali masuk ke dalam lingkungan paling membosankan sepanjang sejarah kehidupan manusia, yaitu sekolah.
Agaknya kehadiran satu sosok berandalan sekolah beserta satu anak yang masih baru di tempat itu sedikit banyak menarik perhatian siswa dan siswi yang kebetulan berpapasan. Ada yang terlihat takut-takut karena ketenangan sekolah mereka sudah berakhir karena Jaejoong telah 'kembali', ada yang cuek saja namun penasaran karena Jaejoong bisa sangat dekat dengan anak baru bernama Changmin tersebut, ada juga yang terkagum-kagum dengan pemandangan fresh pagi itu—kebanyakan dari kalangan yeoja. Merasa bahwa wajah Changmin yang berbinar-binar mampu menularkan aura positif bagi siapapun yang menatapnya.
Tidak heran mengapa namja bertubuh lebih dari semampai tersebut enggan memudarkan senyumnya barang sedetik. Ia baru saja mengulang kembali memori-memori menyenangkan yang didapatnya selama 'libur' seminggu di rumah keluarga Kim, rumahnya, bersama seseorang yang tak lain adalah umma biologisnya—meskipun terdengar tidak masuk akal—Kim Jaejoong yang notabene adalah seorang namja. Apa sih yang lebih membahagiakan dari itu semua?
Mungkin untuk yang pertama kali, Changmin merasa harus berterimakasih banyak pada penyakit mematikannya, meskipun Jaejoong tidak mengetahui hal itu sama sekali, tetapi kesabarannya menghadapi itu semua mampu membuahkan hasil yang tak ternilai harganya. Siapa sangka hal yang mampu mengikat hatinya dengan hati Jaejoong adalah sebuah penyakit mematikan yang mampu merenggut nyawanya kapan saja? Ia bahkan selalu khawatir setiap kali hendak pergi tidur. Ia takut setelah matanya terpejam, ia takkan bisa membukanya lagi. Sampai kapan pun ia tidak akan bisa tenang meskipun dokter telah menjamin hidupnya selama tiga tahun ke depan. Dokter hanyalah manusia, bukan Tuhan.
"Kenapa tersenyum-senyum terus?"
Pertanyaan yang sudah diduga sebelumnya oleh Changmin dari Jaejoong hanya dibalasnya dengan senyuman yang sama. Pemuda itu tak langsung menjawab, tetap mengiringi langkah Jaejoong menuju kelas mereka yang memang lokasinya agak jauh dan terpencil. Sementara sang namja cantik hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. Beberapa hari ini ia sangat menikmati perannya menjadi 'umma Changmin'.
"Terima kasih."
Jaejoong menolehkan lagi kepalanya pada sosok tinggi di sampingnya, yang kini malah semakin melebarkan senyumannya. Mirip seperti orang idiot. Ia sulit percaya, Changmin yang dibilang dan mengaku jenius itu bisa bertingkah seperti ini?
"Terima kasih untuk apa?"
Tanpa menghentikan langkah-langkah kaki mereka sama sekali, pasangan yang tidak biasa itu melanjutkan perbincangan mereka seolah-olah tak ada orang lain di sekeliling.
"Terima kasih karena..." Changmin berhenti melangkah sejenak, memotong kalimatnya dan memandang lurus ke horizon, memperhatikan langit azure pagi yang bersih. "...karena kau telah menjadi ummaku."
Kim Jaejoong baru sekali ini tersipu mendengar ucapan yang amat sederhana dari seseorang yang tak pernah diduga olehnya. Ia menepis sensasi panas yang menjalar di kedua buah pipinya dan memilih menjitak kepala bagian belakang Changmin untuk menghilangkan kegugupan.
Duakk.
"Aduh, kenapa kau suka sekali memukulku? Aku tidak mau jadi bodoh gara-gara ini," keluh Changmin sambil melanjutkan lajunya karena setelah memukul tadi Jaejoong langsung melesat mendahului Changmin.
Jaejoong menghela nafas. "Jaga mulutmu, Changmin. Kau tahu kalau ini lingkungan sekolah, bukan? Suaramu tadi cukup membuat orang dalam radius sepuluh kilometer mendengarmu samar-samar. Mau ditaruh di mana wajahku kalau mereka mendengarmu memanggilku 'umma', eh?" ucap Jaejoong, kembali galak. Sebentar Changmin cemberut karena dimarahi, tetapi kemudian ia kembali memasang senyuman cerianya. Dan ia tahu Jaejoong pun sebenarnya tak keberatan dengan itu semua. Namja itu hanya belum begitu terbiasa, ia yakin.
Dengan ramahnya Changmin melempar senyum dan sapa sembarangan pada setiap orang yang dilewatinya, tak peduli apakah ia kenal dengan orang itu atau tidak, siswa atau bukan, tak peduli guru atau penjaga sekolah. Tadi pagi bahkan ia menyapa satpam sekolah yang begitu takut pada Jaejoong, sampai sang satpam hanya mampu membalas sapa hangat Changmin dari balik tembok pos jaganya dengan berteriak.
Sebenarnya apa yang terjadi di hari-hari sebelum ini hanyalah hari-hari yang sama sekali normal untuk pasangan ibu dan anak. Hanya saja karena Changmin belum pernah merasakan hal-hal itu sebelumnya dan Jaejoong pun masih sangat canggung dengan perannya, itulah yang membuat apapun kegiatan yang mereka lakukan terasa amat istimewa. Pada akhirnya Changmin bisa merasa aman saat rasa sakitnya kambuh, karena saat ia berhasil membuka matanya lagi sosok Jaejoong ada di sana. Mengkhawatirkannya. Ia merasa istimewa saat Jaejoong dengan kikuknya menyuapi ia bubur, dan ia merasa sangat diperhatikan saat Jaejoong memaksanya minum tiamin, obat yang hanya mampu membantunya memberikan sedikit kekuatan untuk tetap bisa berdiri pada kedua kakinya.
Selama tinggal dengan Jaejoong, banyak hal yang disadarinya yang menunjukkan bahwa Jaejoong benar-benar sosok umma sejati—paling tidak, untuknya. Ia suka memperhatikan ummanya itu membersihkan seluruh penjuru rumah dengan rasa bahagia—sekaligus sambil marah-marah saat ada salah satu anggota keluarga yang membuat kotor kembali walaupun hanya setitik kotoran di sudut rumah yang nyaris tak tertangkap mata orang biasa. Changmin suka memperhatikan Jaejoong memasak, ia terlihat seperti seorang chef profesional di matanya, apalagi Changmin pada dasarnya suka makan. Terkadang ia dengan sengaja menyuil-nyuil masakan Jaejoong yang belum tertata di piring, menimbulkan emosi dari sang 'koki'. Dan Changmin akan dengan senang hati melihat wajah cemberut itu lagi sepanjang sisa hidupnya.
Sepanjang sisa hidupnya? Memangnya tinggal berapa lama lagi ia hidup?
"Minnie! Kau sudah sembuh?"
Changmin nyaris terjungkal ke belakang saat tubuhnya yang tegap namun masih sedikit ringkih itu ditubruk oleh namja montok nan imut yang suaranya bisa membangunkan beruang kutub yang sedang berhibernasi sekalipun. Changmin menghembuskan nafas lega, ternyata hanya Junsu.
"Kau, Hyung. Jangan mengagetkanku seperti ini, tentu saja aku sudah sembuh. Kau lihat sendirikan aku sudah segar dan makin tampan?" tanya Changmin narsis sambil mengusap-usap dagunya, sebelum akhirnya membalas pelukan Junsu erat. Bagaimanapun juga di masa depan peran Junsu juga sangat penting untuknya. Junsu sudah seperti... umma keduanya. Namun moment itu agaknya sedikit terganggu ketika suara dehaman di belakang Junsu menginterupsi, membuat Changmin nyengir sambil sedikit menjulurkan lidahnya ke arah Yoochun yang terlihat risih dengan pemandangan di depannya.
"Heh, ternyata kau evil juga, ya?" tukas Yoochun karena Junsu tidak mau melepaskan pelukannya pada Changmin dan Changmin juga makin mempererat pelukannya sambil terus menjulurkan lidah ke arah 'pamannya'.
"Kalian seperti anak kecil," cibir Jaejoong sambil masuk terlebih dahulu ke dalam kelas dan menaruh tasnya sembarangan di atas meja. Changmin yang memang selalu ingin berada dekat dengan Jaejoong langsung melepaskan pelukan Junsu secara paksa dan kembali mengekor induknya, menyerobot kursi sebelah yang biasanya dipakai duduk Junsu. Tadi itu alasan pertama, alasan kedua baginya untuk duduk di samping Jaejoong adalah karena ia tidak ingin jika Jaejoong digoda oleh Yunho.
Ya, Yunho. Appa yang sangat dibencinya. Orang yang umurnya mungkin panjang karena baru saja terpikirkan, orangnya sendiri sudah datang dan langsung duduk di depan meja Jaejoong setelah terlebih dahulu memberikan sapaan dengan senyum. Changmin cemberut karena gayanya pagi ini telah ditiru. Hm... sebenarnya siapa yang meniru siapa? Yang jelas, tujuan Changmin hanya satu sekarang, menghalangi usaha Yunho mendekati sang umma.
Jika tujuan anak itu terbaca oleh penghuni planet ini, pasti semua orang sudah menyalahkannya sekarang. Tentu saja, jika Yunho dan Jaejoong tidak bersatu maka ia tidak akan ada di dunia ini. Tapi jangan buru-buru, jika ada seseorang yang memikirkan dengan matang sampai dampak ke masa depan yang mungkin akan terjadi, orang itu sudah pasti adalah Changmin. Ia tidak ingin hidup di dunia ini jika ia tidak mendapatkan kebahagiaan sama sekali, toh pada akhirnya sama saja kan? Lebih baik mana, mati dalam kesedihan atau tak pernah hidup sama sekali? Karena jika ia tidak ada, maka ia pun bisa menyelamatkan sang umma di masa depan. Itu masuk sebagai salah satu harapannya yang tersembunyi.
Tiba-tiba anak itu terbangun mendadak dari lamunannya saat Yunho berbalik dan menatap dirinya. Changmin pikir namja itu hendak menggoda atau mengapa-apakan Jaejoong, tapi justru ia yang dijadikan sasaran.
"Ada apa?" tanya Changmin sekenanya. Yunho hanya tersenyum.
"Kenapa kau terlihat tidak suka sekali padaku? Aku berjanji akan menuruti keinginanmu," ucap Yunho sambil merendahkan suaranya, takut yang lain dengar. Changmin menghela nafas pelan. Baguslah kalau begini Yunho tidak akan dekat-dekat dengan jaejoong. Anak itu melirik Jaejoong yang sepertinya sedang berkutat dengan handphonenya, entah menyimak omongan Yunho tadi atau tidak.
"Ya sudah," balas Changmin. "Lalu kenapa kau memanggilku?"
Senyum di wajah Yunho melebar.
"Kau ingat aku pernah menawarimu menjadi tim inti basket? Tiga hari lagi akan ada pertandingan persahabatan antara sekolah kita dengan sekolah tetangga, yang tentu saja adalah musuh bebuyutan bagi sekolah kita. Aku sangat menyukai permainanmu dan kuharap kau mau bermain bersama kami. Sebagai ketua tim basket, aku tak pernah merekrut apalagi sampai memohon seperti ini pada siswa lain, biasanya mereka yang datang sendiri padaku dan itu pun haru melalui tes yang sulit," jelas namja berpenampilan maskulin tersebut, panjang lebar. "Aku percaya pada kemampuanmu, bahkan kau bisa lebih baik dariku."
Changmin terdiam, menghayati kata demi kata yang dilayangkankan oleh Yunho padanya. Sedikit sedih, mengapa ia harus merasa bahwa kata-kata yang dilontarkan Yunho barusan seolah-olah menyiratkan kebanggaan yang sangat. Kebanggaan seorang ayah yang bisa melihat bahwa anaknya bisa lebih hebat dari dirinya sendiri. Terlebih raut wajah Yunho saat ini benar-benar penuh kesungguhan.
"Tenang saja, ini bukan taktik atau strategi yang kulakukan untuk mengambil hatimu," ucap Yunho sambil tertawa kecil. Tanpa sepengetahuan Changmin, saat itu tatapan Yunho dan Jaejoong tidak sengaja bertemu, meski tak lama. Mungkin jika Changmin melihatnya, ia akan tahu bahwa keputusannya untuk memisahkan Yunho dan Jaejoong harus ditinjau ulang.
Changmin tidak tahu jika Yunho dan Jaejoong sudah mengambil keputusan yang mungkin akan semakin memberatkan kehidupan mereka tanpa mereka sadari. Mungkin ia akan merasa bersalah jika tahu umma dan appanya mengorbankan perasaan masing-masing demi menjaga perasaannya. Ya, Yunho dan Jaejoong telah sepakat mengikuti kemauan Changmin karena mereka beranggapan... jika Changmin benar-benar anak mereka dan ia ingin berbahagia di masa depan sana bersama mereka, ia tidak akan tega benar-benar memisahkan Yunho dengan Jaejoong. Tanpa Changmin sadari, mereka tahu. Mereka hanya berbicara sebentar pada malam itu, saat Jaejoong mengantarkan Yunho ke mobilnya.
Changmin tidak tahu jika Yunho dan Jaejoong memiliki perasaan yang sama padanya, rasa ingin melindungi dan terus menyayanginya. Dan mungkin jalan terbaik untuk menyampaikan itu semua adalah dengan menuruti keinginannya. Mungkin dengan itu hatinya akan luluh.
"Jadi, kau mau kan?" tanya Yunho untuk yang kedua kalinya. Permintaan itu tulus dari hatinya, Changmin tahu. Hanya saja tidak mudah baginya untuk membiasakan diri berdekatan dengan Yunho. Mereka terbiasa berjauh-jauhan, meski pada awalnya mereka adalah pasangan ayah dan anak yang berbahagia. Dulu. "Aku yakin sekali kau bisa bermain dengan baik, dan ingatlah siapa orang paling bangga saat melihatmu beraksi nanti."
Ucapan Yunho tanpa kendala merasuk ke benak Changmin, begitu saja. Seingatnya, ia memang memiliki bakat bermain basket sendiri tanpa dilatih oleh Yunho. Tetapi sepertinya ia menemukan hal yang menarik terselip di antara sekat memorinya. Ia ingat, sewaktu kecil Yunho pernah mengajaknya bermain basket di lapangan basket tua di pinggir sungai. Ah ya, saat-saat seperti itu memang pernah ada di hidupnya. Entah karena saat itu ia masih terlalu kecil atau karena kebenciannya yang sudah menumpuk membuatnya buta akan hal-hal kecil penuh makna yang pernah mereka bagi.
Changmin menjambak rambut lebatnya tiba-tiba dan meringis, tidak ingin mengingat kembali waktu-waktunya yang 'menyakitkan' bersama Jung Yunho.
"Changmin-ah, gwaen—"
"Baiklah, aku terima!"
Seruan kencang Changmin tak ayal menghentikan kegiatan teman-teman lain di kelasnya. Mereka menyempatkan berhenti dan menatap ke arah Changmin dengan penuh tanda tanya, mengira-ngira apa yang sedang terjadi sehingga anak itu bisa berteriak seperti tadi. Jaejoong pun kaget, ia memang sedang bekutat dengn handphonenya, namun telinganya yang tajam tentu saja mampu mendengar obrolan mereka yang tidak bisa dibilang pelan. Ia hanya tersenyum tipis mendengar semangat aegyanya. Terlebih saat itu Yunho juga terlihat senang.
"Tapi bukan berarti aku mau melakukan ini semua untukmu, jangan salah paham," sambung Changmin sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan sikap angkuh. Ia menjulurkan lidahnya pada Yunho, yang hanya dibalas kekehan pelan oleh sang namja tampan berpipi chubby tersebut.
"Kalau kau mau sepulang sekolah datanglah ke lapangan basket. Kami akan mengadakan latihan rutin sampai pertandingan nanti tiba. Tapi kalau kau tidak mau tidak masalah, lagi pula kau baru saja sembuh kan? Jangan memaksakan diri, ne?" ucap Yunho seolah-olah sedang menasehati. Ia berbalik tepat saat seongsaenim datang.
"Siapa juga yang memaksakan diri?" gumam Changmin agak kesal begitu mendengar Yunho yang sok menasehatinya. Namja itu menarik buku matematika dari dalam tasnya dan menaruh benda itu di atas meja. Mungkin karena sedikit melamun, Changmin kembali menangkap wajah Yunho yang tersenyum ke arah teman sebangkunya dan hal itu membuat Changmin tiba-tiba sedih.
Tanpa Yunho ia tidak mungkin bisa tumbuh sampai sekarang, sampai dewasa. Tanpa Yunho mungkin ia sudah menderita semenjak kecil, karena memang hanya Yunho sendiri lah yang merawatnya sejak bayi sampai umur lima tahun padahal ia memiliki 'umma' yang paling tidak seharusnya cukup bisa untuk membuatkannya sebotol susu. Lima tahun... waktu yang tidak lama, sampai pada akhirnya Go Ahra merebut semua perhatian Yunho darinya. Semuanya.
Issh, lupakan, Changmin! Memikirkannya hanya akan membuatmu semakin jatuh!
Dan Changmin pun mulai fokus pada mata pelajaran serta guru yang sedang dihadapinya. Ia membuka-buka lembaran buku matematikanya dengan berisik, membuat Jaejoong risih dibuatnya. Tak lama kemudian ia sudah bereksperimen dengan rumus-rumus yang berbelit-belit, yang kali ini mendapat decakan tak mengerti dari namja cantik di sebelahnya.
.
.
Duk.
Duk.
Duk.
Suara bola yang memantul ke lantai menggema berbenturan dengan dinding serta langit-langit lapangan indoor Hannyoung. Derap berpasang-pasang kaki turut mengiringi seorang namja tinggi yang masih memantul-mantulkan bola di antara lantai dan tangan kirinya. Sepasang matanya yang tajam mengarah fokus pada satu titik di depannya, agak ke atas.
Keringat mengucur deras dari leher namja tersebut, sungguh pemandangan yang mampu menggetarkan bulu roma siapa saja yang ada di sana, terutama para yeoja yang dengan baik hati dan tulus menemaninya di tribun penonton. Sesekali ia mengalihkan pandangannya pada mereka hanya untuk memberikan senyum sebagai ungkapan terima kasih atas kehadiran mereka yang setia menyemangatinya.
Kaki jenjang yang tadinya diam, perlahan mulai bergerak ke depan seirama dengan dribble smoothnya, pada awal saja. Semakin jauh ia melangkah, gerakannya semakin lincah, melangkah zigzag dengan gerakkan tangan yang makin cepat. Rambut namja yang jabrik itu bergerak liar, melemparkan bulir-bulir keringat yang dihasilkannya ke segala arah. Raut wajahnya semakin serius saat jarak antara kakinya dengan dasar ring tak kurang dari lima meter. Ia menangkap bolanya dengan erat, melompat dengan lebih kuat dan mengangkat beban tubuhnya saat mencoba menghilangkan cela di antara dirinya dan ring.
Semua terdiam. Siswa dan siswi yang hanya menonton proses latihan itu menatap kagum, beberapa menutup mulutnya tidak kuat menghadapi pesona namja tersebut. Anggota lain yang sedang berlari mengitari lapangan untuk melakukan pemanasan menghentikan gerakan mereka serempak, memandang pemimpin mereka dengan kagum.
"Level 1 complete..."
Sraakk.
Bola pun terdorong dengan mulusnya keluar dari jaring yang melingkari bagian bawah ring, sementara namja yang telah melakukan kerjanya dengan baik, masih bergelantungan di pinggiran ring, menunjukkan senyum penuh kemenangannya pada semua orang.
Jung Yunho, satu-satunya bagian dari tim inti basket sekolahnya yang bisa melakukan slam dunk super sempurna.
"Changmin, lagi-lagi hanya memakai seragam sekolah biasa?"
Senyum di bibir Yunho menyusut. Masih bergelantungan, ia memutar tubuhnya agar bisa melihat siapa yang datang melalui pintu masuk lapangan. Changmin dan... Jaejoong. Entah mengapa melihat kehadiran namja itu bisa membuat Yunho ingin tersenyum lebih lebar. Ia melompat turun dari gelantungannya, yang langsung disambut dengan teriakan yeoja penggemarnya. Namun lagi-lagi teriakan itu harus terbagi karena Changmin yang sudah berada di sana. Dengan nafas yang masih terengah, namja itu berjalan menghampiri Jaejoong dan Changmin yang masih berdiri di dekat pintu.
Tunggu dulu, berarti Yunho harus meralat ucapannya tadi. Yang bisa melakukan slam dunk super sempurna di sekolah ini ada dua...
"Kau hebat, Hyung."
"Aku yakin kau bisa melakukannya lebih dari itu."
...ya, cuma ada dua, mereka sedang berhadapan sekarang.
Jung Yunho dan Jung... Changmin?
Sementara itu Jaejoong terlihat gugup sehingga sedari tadi matanya merajalela ke mana-mana. Ke mana saja, asalkan tidak bertemu dengan Yunho. Sebelum ini ia suka diam-diam memperhatikan Yunho saat sedang berlatih basket, namja itu terlihat sangat keren saat melakukannya. Dan sekarang untuk pertama kalinya, ia akan melihat Yunho bermain basket tanpa harus diam-diam atau sembunyi-sembunyi.
Hanya saja... melihat Yunho yang jaraknya mungkin tidak ada tiga meter di hadapannya, Yunho yang sekujur badannya basah oleh keringat, rambut jabriknya yang acak-acakan, senyum lebarnya yang manis saat dadanya naik turun akibat nafas yang terengah-engah, dan belum lagi ototnya yang tercetak jelas akibat baju basket yang transparan akibat peluh...
Jung Yunho, kenapa kau begitu...
Jaejoong menelan ludahnya dengan susah payah, masih menyibukkan diri mengamati tribun penonton, seolah-olah sedang mencari seseorang. Padahal ia berbicara dan memuji Yunho dalam hati saja, namun tetap saja susah untuk mengatakannya.
"Jangan buang-buang waktu," ucap Changmin tiba-tiba sambil memutar-mutar bola basket di atas jari telunjuk tangan kanannya sebentar. Ia menarik dasi seragam Jaejoong yang sekarang pandangannya entah tertuju pada siapa. Mengarah pada Changmin akhirnya.
"Ada apa?"
Changmin mengangkat bahunya sambil tersenyum misterius. Ia kali ini menarik lengan kemeja seragam Jaejoong agak keras sehingga namja itu mendekat padanya. Changmin mendekatkan wajahnya pada telinga Jaejoong.
"Saranghae, Umma..."
Memeluk Jaejoong erat dari samping, kemudian melesat cepat menghindari jitakan yang mungkin akan dilayangkan secara sepihak oleh Jaejoong, berlari ke tengah lapangan sambil mendribble bolanya. Tak lupa kekehan manis menghiasi bibirnya.
Yunho yang melihat itu semua sebentar merasa agak iri juga, tetapi apa daya, ini semua salah dirinya di masa depan jadilah ia seperti ini nasibnya sekarang. Coba saja ia bisa bertemu dengan dirinya yang lain di masa depan, pasti ia sudah menghajarnya sampai tak berkutik lagi.
"Hei Hyung, ayo kita bertanding!" teriak Changmin dari tengah lapangan. Yunho yang sedari tadi sibuk memperhatikan Jaejoong pun tersadar kembali ke kenyataan. Ia berbalik ke arah Changmin, menangkap keseriusan di wajah anak itu. Yunho tahu, Changmin hanya berusaha terlihat baik-baik dengannya di hadapan orang lain. Ya tentu saja, tidak ada yang boleh tahu akan konflik di antara mereka.
"Baiklah, yang menang boleh meminta satu permintaan yang harus dikabulkan oleh yang kalah, bagaimana?" balas Yunho setengah berteriak. Senyum evil Changmin tiba-tiba keluar.
"Arasseo, kau yang minta lho, Hyung."
Yunho memandang aneh pada raut wajah Changmin yang terlihat senang. Yah, kali ini ia tidak boleh kalah. Namja itu berbalik sekilas, mempertemukan kembali tatapannya dengan tatapan teduh Jaejoong.
"Jae..." panggil Yunho pelan sambil menggaruki bagian belakang kepalanya. Ia tahu tidak mungkin punya waktu banyak melakukan kontak mata dengan Jaejoong selama Changmin ada di dekat mereka.
"Nde?"
Jaejoong berusaha menutupi rasa gugupnya. Bekas-bekas kemerahan di pipinya masih tersisa saat Changmin menggodanya tadi dan ia tidak ingin Yunho kembali menambah pompaan darah yang menuju ke pipinya.
Wink.
Tanpa disangka-sangka namja itu malah memberikan kedipan sebelah mata pada Jaejoong, membuat Jaejoong harus menunduk dan ber-sweatdrop dalam diam. Ia mendengar langkah kaki bersepatu milik Yunho yang menjauh. Dan sebuah kalimat yang didengarnya samar membuatnya harus mendongakkan kepalanya lagi. Entah mengapa ia lebih ingin mendukung Yunho untuk saat ini.
"...doakan aku, ya."
.
.
Sementara itu di suatu tempat yang jauh dari hingar bingar, seorang pemuda berparas tampan tengah mendudukkan dirinya di pinggiran sebuah sungai kecil. Semilir angin siang yang hangat terhempas ke arahnya, memberikan sensasi aneh yang baru pernah ia rasakan.
Namja asing itu meletakkan tangannya di belakang untuk menumpu tubuhnya yang lemas, masih terdengar di sana detak jantung yang seolah-olah sedang saling mendahului menuju garis finish. Sembari menghirup nafas sebanyak-banyaknya, ia sesekali menoleh ke balik tubuhnya, siap mengambil ancang-ancang jika makhluk mengerikan yang tadi mengejar-ngejarnya menampakkan batang lidahnya kembali.
"Haah... haah..."
Deru kencang nafas pemuda itu masih terdengar. Ia memejamkan matanya sebentar, kemudian membukanya lagi sambil memandangi permukaan air sungai yang berkilau. Kemudian teringat sesuatu, ia merutuki kebodohannya sendiri.
Kebodohan? Dalam arti apa?
"Guk!"
Kedua matanya melotot. Makhluk itu datang lagi.
Glek.
Ia berbalik.
Dan makhluk—yang menurut sang namja tadi—jelek itu sudah ada tak kurang dari tiga meter di belakangnya. Bulu putih itu... tinggi yang pas-pasan itu... lidah yang menjulur-julur itu... ekor yang bergoyang-goyang itu...
"Ya! Pergi dari hadapanku sekarang juga!" bentak pemuda berambut agak berantakan itu pada seekor puppy yang masih duduk di sana dengan innocentnya. Sungguh tak masuk akal hewan imut seperti itu malah dibenci. Tetapi bukannya pergi, si puppy malah semakin mendekat ke arah sang namja. Pemuda itu mundur dua langkah tiap kali si puppy mendekat empat langkah. Sampai tidak sadar ada sungai di belakangnya.
"Guk!"
"Aish, kau—"
Cebuurrr.
Tubuh tegap itu pun terhuyung ke belakang dan kemudian mendarat sukses pada sungai yang lebarnya tidak kurang dari tiga meter tersebut.
"Huaah, kurang ajar kau!" umpatnya pada anjing kecil yang hanya memiringkan kepalanya dengan tidak mengerti. Pemuda itu merengut mengetahui bajunya basah kuyup. Ia kan hanya punya satu, tidak membawa yang lainnya.
Tiba-tiba terdengar suara seorang anak kecil di kejauhan, memanggil-manggil seseorang bernama "Chocho". Sampai pada akhirnya anak itu terlihat dan saat memanggil kembali, puppy yang tadinya masih mengamati pemuda di sungai tersebut pun pergi menghampiri anak kecil itu yang sepertinya adalah majikannya.
Orang yang berada di tengah sungai tersebut hanya mengumpat pelan. Sial sekali nasibnya hari ini. Ia merogoh-rogoh kantung celananya dengan gugup, kemudian mengeluarkan secarik kertas—ah bukan, tapi selembar foto yang basah kena air. Pemuda itu menghela nafas pelan sambil mengusap wajah manis yang sedang tertawa di sana, berusaha menghilangkan air.
"Tunggulah Changmin, aku akan membawamu pulang. Sekaligus... maaf, kali ini aku harus bekerjasama dengan appamu."
Ia pun memasukkan foto tersebut ke dalam saku bajunya sambil berdoa semoga pencariannya berjalan dengan lancar.
.
.
"Waaah, mereka berdua bermain dengan sangat bagus, Hyung!" seru Junsu yang duduk berdua saja dengan Jaejoong di tribun paling atas. Sengaja memang, tidak mau terlihat mencolok. Walaupun malah rasa-rasanya justru di sana lebih mencolok karena tidak ada orang lain di sekitar mereka? Jalan pikiran Jaejoong dan Junsu memang tidak bisa ditebak.
Jaejoong memangku wajahnya dengan telapak tangan, terlihat bosan. Bukannya bosan karena harus melihat wajah dua namja tampan yang sedang bertanding di bawah sana, bukan itu. Ia bosan karena pertandingannya berjalan tidak menarik sama sekali. Dari tadi, 14 menit yang lalu, belum ada dari Yunho maupun Changmin yang berhasil menjebol ring. Jadi nampaknya ia tidak setuju dengan pendapat Junsu serta pendapat seluruh penonton di dalam lapangan jika permainan Yunho dan Changmin sangat hebat.
"Hoaahm..."
Saking bosannya, Jaejoong sampai mengantuk dan tidak tahan untuk tidak menguap lebar. Ia tidak bermaksud apa-apa sebenarnya, tetapi sepertinya dua orang yang berada di bawah sana langsung menangkap sinyal tersebut sebagai tanda-tanda yang tidak mengenakkan.
"Omo, umma terlihat bosan. Berarti permainanku tidak bagus sama sekali," gerutu Changmin sambil menatap tajam bola yang sedang dikuasainya seolah-olah itu barang jelek.
Kau memandanginya terlalu lama, Changmin.
"Hah!"
Yunho menyambar bola dari tangan Changmin dan membawanya pergi, mendribble dengan kuat. Changmin terhenyak dan segera mengejarnya. Semua yeoja berteriak-teriak histeris menggemakan nama idola masing-masing. Suasana makin memanas sekarang.
"Sial, kau tadi mengguna-gunaiku ya?" seru Changmin asal sambil berusaha merebut bola dari kaitan tangan Yunho. Namja bermarga Jung tersebut hanya menyeringai sedikit.
"Dasar anak umma, sedikit saja lengah," ejeknya balik, membuat kuping pemuda yang lebih tinggi itu panas.
"Aku bukan anak umma!"
Teriakan dengan nada tinggi tersebut menggema di dalam ruangan tersebut dengan keras, sampai terdengar suara riuh yang sekarang berisi cekikikan para penggemar Changmin yang menganggap hal itu sangat lucu. Tapi tidak bagi Changmin sendiri, ia langsung mendongak ke arah tempat Jaejoong dan Junsu duduk dengan raut wajah khawatir. Dapat dilihatnya Junsu ikut terkikik sementara Jaejoong malah menyembunyikan wajahnya dibalik tangan yang terlipat di atas lutut. Pose seperti orang yang menangis sembunyi-sembunyi.
Changmin pikir ia melakukan kesalahan.
"Aaaah, kau membuatku kesal lagi!" amuk Changmin, mengejar Yunho yang sedang terkekeh penuh kemenangan dengan beringas dan mereka kembali berebut bola yang selalu berpindah tangan dalam jeda waktu yang sangat sebentar.
"Hyung, pertandingannya semakin seru!" seru Junsu sambil mengguncang-guncang bahu tegap Jaejoong. Yang digoyang-goyang hanya menggeliat sebentar. "Ayolah Hyung, Changmin dan Yunho-hyung benar-benar pasangan appa dan aegya sejati. Kau tidak lihat gaya mereka saat melompat untuk melempar bola itu sama?"
Dengan terpaksa Jaejoong mengangkat wajahnya dan meregangkan tangannya yang pegal. Mata besarnya memerah, tetapi bukan karena menangis seperti dikira oleh Changmin, untuk apa ia melakukannya? Ia hanya tidur sebentar tadi, dan diganggu oleh Junsu. Ia kembali melayangkan pandangannya ke bawah. Masih menonton permainan membosankan yang sama.
"Kapan ini akan menjadi pertandingan yang menarik?" gumam Jaejoong pelan. Namun sedetik kemudian, rasa ngantuk sedikit menguap dari wajahnya saat ia melihat sesuatu yang selalu membuatnya kagum.
Slam dunk ala Yunho.
Pendukung Yunho berteriak histeris, membahana, menyakitkan telinga siapapun yang mendengarnya.
"Mudah kan, Changmin-ah?" tanya Yunho, berusaha memanas-manasi anaknya itu. Changmin hanya melipat tangannya di depan dada dengan sedikit cemberut. Ia akan membalasnya nanti, pembalasan yang akan lebih menyakitkan. Lihat saja.
Sepertinya Yunho memang berniat menggoda Changmin. Setelah menyindirnya dengan kata-kata menyebalkan, sekarang ia malah mengedipkan sebelah matanya pada Jaejoong. Lagi. Molla, ia sedang senang sekali mengedipkan mata akhir-akhir ini, terlebih pada Jaejoong. Iritasi akibat pesonanya, huh?
"Jangan kedip-kedip!" omel Changmin sambil menyeret Yunho kembali untuk melanjutkan pertandingan mereka.
Junsu berhenti dari aktifitasnya dan menoleh ke arah Jaejoong yang kembali membenamkan kepalanya di antara lipatan tangannya. Ia pun sedikit kaget atas tingkah kecil Yunho barusan. Apakah di antara Yunho dan Jaejoong mulai tumbuh benih-benih cinta yang saling memihak? Apakah mereka sudah mulai saling menyukai sekarang?
Priiittt!
Mendengar riuh di bawah sana menghentikan kegiatan Junsu yang sedikit membebaninya, yaitu berpikir. Ia melongok ke bawah dan melihat Changmin tengah melakukan selebrasi dengan memantil-mantulkan bolanya tinggi ke lingkaran ring. Di wajahnya terpasang senyum penuh kepuasan.
"Oh, Changmin sudah membalasnya, Hyung. Semakin seru saja pertandingan ini. Coba Chunnie juga ikut bermain, huuh..."
Jaejoong mengangkat kepalanya dan terkekeh.
"Chunnie-mu itu tidak ada apa-apanya ketimbang dua 'jagoanku', Su-ie," ucap Jaejoong asal. Ia tak menyadari sepupunya itu kini telah menyeringai mendengar hal tersebut. Oh, andaikata ia membawa alat perekam tadi pasti sudah direkamnya kata-kata itu tanpa sepengetahuan Jaejoong. Lumayan kan bisa digunakannya untuk mengancam, hehe. Bagaimanapun Jaejoong itu orang yang terlalu gengsi untuk menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.
Namja montok yang biasa dipanggil Su-ie tersebut masih tersenyum-senyum saat Jaejoong menangkap kilau lensa matanya yang berbinar.
"Apa?" balas Jaejoong, menatap Junsu risih.
"Fufufu, tidak ada apa-apa, Hyung."
"Tidak ada apa-apa apanya? Kau mau kubuat merasakan tinjuan baruku?"
Kini Jaejoong balas menyeringai pada namja yang lebih muda darinya tersebut, yang hanya memasang wajah takut-takut saat Jaejoong mengancamnya dengan tidak serius. Oh ayolah, Jaejoong tidak pernah menyakiti Junsu. Maksudnya, menyakiti dalam artian yang 'benar-benar sakit'.
Priiitttt!
Keduanya sama-sama melihat ke arah lapangan.
"Yunho-hyung memasukan bola lagi. Benar-benar pertandingan yang tidak biasa"
Agaknya kali ini Jaejoong mulai tertarik. Ia membenarkan duduknya dan berusaha fokus memperhatikan apapun yang kedua namja tinggi nan tampan itu lakukan di bawah sana. Bibirnya tiba-tiba melengkungkan sebuah senyum.
"Baiklah, mungkin ini bisa jadi bahan pertimbangan siapa yang harus lebih kupercayai," gumam sang namja cantik, sambil memangku wajahnya pada sebelah tangan. Masih tersenyum lebar.
Serang-menyerang antara ayah dan anak tersebut tak dapat dihentikan. Menjelang menit-menit akhir keduanya memiliki perolehan skor yang sama. Jaejoong yang tadinya bosan pun semakin lama semakin terlarut dalam permainan mereka, namun ia cukup kuat untuk menahan diri untuk tidak berteriak norak seperti yeoja-yeoja di tribun depan. Berkali-kali ia menengok jam tangannya, menghitung berapa lama lagi waktu yang tersisa untuk menyelesaikan semua ini.
"Kyaaa... Yunho oppa keren sekali!"
"Changmin oppa saranghae... berjuanglah!"
Jaejoong mendengus kesal. "Berisik sekali yeoja-yeoja centil itu."
Junsu hanya tertawa kecil mendengarnya. Jaejoong... cemburu? Hahaha lucu sekali!
"Yunho oppa jeongmal saranghae! Mianhae atas kesalahanku yang waktu itu, kau mau memaafkanku kan? Aku sangat-sangat menyukaimu! Aku akan melakukan apapun untukmu, Oppaaa...!" Semua orang mendadak terdiam, kecuali Yunho dan Changmin yang memang tidak fokus ke arah manapun kecuali pada pertandingan yang sedang mereka jalani.
Teriakan aneh itu berasal dari pinggir lapangan. Seorang yeoja yang membuat kebanyakan orang mengumpat kesal itu sedang berdiri dengan cueknya sambil terus meminta maaf pada Yunho dan menyerukan 'saranghae' berkali-kali. Ia tidak akan peduli jika orang-orang terganggu dengan ulahnya.
Yah, siapa lagi kalau bukan Go Ahra?
"Hyung, sainganmu," bisik Junsu sambil menyikut pinggang Jaejoong. Namja itu hanya mencibir.
"Kau tahu, Su-ie? Setiap kali melihatnya aku ingin sekali menggunduli kepalanya. Itu mungkin cara yang baik, ketimbang aku harus menyakiti seorang yeoja," tuturnya sambil membayangkan dirinya menggenggam gunting lalu memotong rambut yeoja centil tersebut sekarang juga dengan ganasnya.
Pada akhirnya si pengganggu pun lenyap karena keburu dipaksa pulang oleh ayahnya. Semua orang yang ada di tempat tersebut pun mampu menarik nafas lega. Jangan dikira Ahra tidak takut dengan ayahnya sendiri, meskipun ia sangat dimanja. Nyatanya hanya dengan sedikit bentakan, yeoja tersebut pasti sudah menangis dan mengurung diri di dalam kamar selama berhari-hari.
Duk.
Duk.
Duk.
Suhu di dalam lapangan indoor tersebut sepertinya mulai naik secara drastis, sedrastis aura panas yang dikeluarkan melalui pori-pori kulit Yunho dan Changmin. Keduanya tak mempedulikan sekitar dan mulai menunjukkan keganasan mereka. Sementara waktu terus bergulir mendekati ending.
Deru nafas yang hebat, keringat kelelahan, tenaga yang mulai berhamburan keluar, langkah-langkah kaki yang tak melemah... seolah-olah kedua-duanya benar sangat menginginkan kemenangan di pertandingan yang bukan apa-apa ini.
Hm... sebenarnya apa yang ada di benak kedua anak itu?
"Menyingkirlah, Appa-ku 'tersayang'," halau Changmin sambil menyeringai 'lembut' saat Yunho menghalang-halangi arah pandangnya dengan ring yang jaraknya tinggal beberapa kaki saja. Tangan kiri Changmin masih digunakannya untuk mendribble, namun matanya tetap fokus mencari celah. Tubuh Yunho yang tinggi tentu saja mengganggu, meskipun sebenarnya Changmin lebih tinggi lagi beberapa senti darinya.
Seolah-olah bisa membaca apa yang ada di pikiran Changmin, Yunho terus saja berhasil menggagalkan usaha Changmin melempar bolanya, membuat anak itu menggeretakan giginya dengan kesal. Inilah Changmin kalau keinginannya tak juga terwujud.
Duk.
Changmin memejamkan matanya selama beberapa detik, sementara waktu berjalan mundur menyisakan sisa pertandingan yang kurang dari satu menit. Semua penonton tidak ada yang berani mengeluarkan bunyi-bunyian. Semuanya turut tegang, padahal sekali lagi ini bukan pertandingan apa-apa.
Semua orang terheran-heran dengan kelakuan Changmin yang hanya diam di tempatnya, memejamkan mata, sambil masih membenturkan bola ke lantai.
"Celah!" seru Changmin tiba-tiba seraya membuka mata. Ia melemparkan bolanya ke samping kanan Yunho, sempat nyaris mengenai telinga kiri pemuda tersebut yang langsung membuatnya kaget. Begitulah Changmin, ia juga senang membuat orang kaget. Dengan cepat disambarnya bola yang sempat lepas tadi sebelum keduluan Yunho dan berlari dengan arah zig zag. Ia menoleh ke belakang dan melihat sebentar lagi Yunho akan menangkapnya pasti, sementara jarak dirinya dengan ring belum cukup dekat untuk melakukan dunk.
Mau tidak mau ia harus melemparkan bolanya sekarang atau kehilangan kesempatan emas di jarak tembakan three point.
Semua orang termasuk Yunho yang menjadi rival menahan nafas saat Changmin melompat tinggi dan melempar bolanya. Waktunya tak banyak lagi. Akankah bola itu bisa... masuk?
Glek.
Keduanya menelan ludah bersamaan saat benda bulat yang memantul-mantul itu mendekati bibir ring.
Brak!
Hanya menabrak bibir ring dan memantul. Kali ini Yunho lebih cepat bertindak. Ia mengejar bola tersebut dengan langkah dadakan, membuat Changmin terhenyak karena shock tembakannya meleset. Giliran ia yang mengejar Yunho, meskipun ia tak khawatir karena sebentar lagi—dalam beberapa detik lagi pertandingan akan segera berakhir.
Tapi jangan panggil ia Jung Yunho sang ketua basket Hannyoung jika memanfaatkan waktu lima detik saja tidak bisa.
Serius, waktu yang ia punya hanya lima detik!
'Astaga, ringnya jauh sekali,' batin Yunho sembari berlari lebih cepat menghindari Changmin. Ia menangkap flash timer yang memberitahukannya bahwa waktu yang tersisa sekarang tinggal tiga detik.
"Mwo?"
Yunho pun agaknya pasrah tak bisa mengakhiri pertandingan ini dengan dunk indahnya. Ia memilih menumpuk kekuatan pada kaki dan tangannya saja dan berusaha memasukkan bola seperti usaha yang dilakukan Changmin sebelum ini meskipun anak itu gagal. Tembakan jarak jauh tak begitu diandalkan olehnya.
Yunho menutup matanya, sedikit gugup melakukannya. Tapi tak apa untuk sekali ini, demi Jaejoong.
Demi... siapa?
Sraak!
Yunho tak berani membuka matanya. Sampai sesuatu terdengar nyaring dan jelas di telinganya...
Priiiitttt!
"Jung Yunho menang dengan keunggulan tiga angka di atas Changmin."
Entah siapa yang bicara seperti itu, Yunho tak peduli. Ia langsung membuka mata saat teriakan menggema di penjuru lapangan. Wajahnya terlihat sumringah, terlebih saat Changmin menghampirinya dengan lesu.
"Selamat," ucapnya pendek sambil mengulurkan telapak tangan kanannya. Yunho menyambut tangan tersebut dengan hangat. "Dan untuk permintaanmu, tolong jangan minta yang aneh-aneh."
Nada yang dingin dan penuh penekanan itu hanya dibalas Yunho dengan tawa kecil.
"Hm... aku tak minta yang aneh-aneh," bela Yunho. Ia menangkap sosok Jaejoong yang baru saja turun dari tribun, berlari menghampirinya, dan menyeret namja itu ke hadapan Changmin yang tidak mengerti sama sekali apa maksudnya. Terlebih lagi Jaejoong. "Dengar, di akhir pekan ini ada pesta kembang api. Aku ingin kita bertiga datang ke sana bersama-sama. Anggap saja... sebagai keluarga."
Jaejoong dan Changmin melotot.
"MWO?"
"Yah! Aku tidak mau!" tolak Jaejoong sambil melepaskan genggaman Yunho di pergelangan tangannya. Sedikit penyesalan muncul setelah mengatakan hal tersebut.
"Apalagi aku!" seru Changmin, meskipun diam-diam ia merasa jika itu pasti akan sangat menyenangkan. Ia tidak pernah melihat kembang api dengan siapa-siapa, kecuali dengan Kyuhyun dan keluarganya.
Yunho melipat kedua tangannya di depan dada. "Wae? Hanya semalam saja dan aku tak akan mengganggu kalian lagi. Lagi pula kau menerima kekalahanmu dengan besar hati kan, Minnie? Kau juga orang yang menepati janji, kan?" tanya Yunho seraya tersenyum tipis. Senyum yang beracun.
Ugh, Changmin tidak suka diremehkan, apalagi diragukan.
"Baiklah, baiklah. Hanya semalam. Sekali seumur hidupmu," ucapnya dengan nada terpaksa.
"Lalu mengapa aku dibawa-bawa?" sergah Jaejoong, menuding dirinya sendiri.
Yunho membuka mulutnya untuk memberikan jawaban, tetapi yang keluar bukan suaranya melainkan suara lirih Changmin.
"Karena dalam keluarga itu harus ada appa, umma, dan aegya." Changmin mengucapkannya sambil membelakangi Yunho dan Jaejoong yang kini tengah bungkam atas jawaban Changmin yang terdengar polos. Ia tidak mau kepalang sedih saat mengatakannya. Ia tahu pasti ada sedikit perasaan bersalah yang merasuki kedua orangtuanya. "Ah, itu guru TK-ku yang bilang, jangan salah paham ya!"
Jaejoong menunduk. Entah mengapa dadanya sedikit sesak mendengar itu semua. Ah... ke mana dirinya yang selalu kuat?
Changmin hendak berbalik, sudah siap menghadapi seperti apa ekspresi keduanya, tetapi saat berbalik seseorang malah menubruk dan memeluknya erat, membuat beberapa yeoja yang masih belum membubarkan diri terdengar jeritannya.
"U-Umma, apa yang kau lakukan?" tanya Changmin gugup saat Jaejoong memeluknya dengan erat. Namja yang lebih tua itu melepasnya kemudian, tanpa menjawab dan hanya tersenyum lembut.
Belum lepas kekagetan yang barusan, tahu-tahu giliran Yunho yang maju dan memeluk Changmin erat. Ia hanya membeku. Kali ini egonya terkunci saat merasakan kehangatan pelukan seorang ayah dan ibu yang sangat diinginkannya semenjak dahulu. Setelah pelukan beberapa detik tersebut, Yunho menepuk pelan pundak namja yang masih kaget di hadapannya.
"Latihannya sudahi saja, aku benar-benar lelah," ujar Yunho sambil menggerak-gerakkan badannya ke samping. Matanya menangkap Jaejoong di hadapannya yang seperti sedang melamun dan Changmin yang masih mematung. Dan ia menjentikkan jarinya pelan. Seolah-olah mendapatkan ide bagus.
Ditariknya badan tinggi Changmin menghadap tribun penonton yang mana masih banyak yeoja genit di sana, menanti Yunho maupun Changmin menghampiri mereka. Para yeoja tersebut menjerit histeris begitu Changmin yang kebingungan menoleh ke arah mereka.
Memanfaatkan kesempatan pendek tersebut, dengan cepat Yunho memosisikan dirinya di balik Changmin dan segera menarik Jaejoong ke dalam pelukannya dengan erat, menekankan pundaknya pada bibir seksi tersebut sebelum sempat mengeluarkan suara. Yunho tidak ingin Changmin melihat hal itu karena ia sudah bisa mengira apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jaejoong hanya diam, tak mengerti harus melakukan apa atas perlakuan Yunho yang mendadak. Otaknya tiba-tiba kacau saat wangi maskulin namja tampan tersebut merasuk ke indra penciumannya. Membuatnya tenang sekaligus merasa ingin tidur. Mirip seperti... anestesi.
"Sampai jumpa," ucap Yunho melepaskan pelukannya sepersekian detik lebih cepat dari Changmin yang langsung menoleh ke belakang dan menemukan Jaejoong seperti sedang berada di dunianya sendiri. Yunho sudah menjauh dari mereka sambil melambaikan tangan.
"Ada apa, Umma?" tanya Changmin saat memperhatikan tiba-tiba saja Jaejoong berkeringat. Tak berapa lama wajahnya pun memerah, antara malu dan marah jadi satu. Kenapa ia bertingkah sangat aneh tadi? Masa dipeluk Yunho ia tak bisa melawan? Mau ditaruh di mana harga dirinya sebagai seorang 'Hero'?
"Aaaarrrggghhh... sudah kita pulang saja, Changmin-ah," gerutu Jaejoong. "Aku tak bisa membayangkan seperti apa malam akhir pekan yang direncanakan Yunho." Changmin hanya mengangguk mengiyakan saat tangannya digandeng menjauhi kompleks lapangan. Tak ada satu pun dari mereka yang tahu apa rencana Yunho yang sebenarnya dengan meminta menonton kembang api bersama sebagai... keluarga? Apa maksudnya, coba?
.
.
Author's Note: Maaf banget updatenya lama, Hareth kan biasa ngetik FF di hape biar praktis, tapi keypad hp Hareth lagi error jadi terpaksalah pakai lappy jadinya nggak biasa, mana separagraf jadi panjang-panjang banget, lagi =,=. Oh ya numpang cerita dikit ya *dihajar readers* dua hari yang lalu Hareth nemu review film Jepang lama judulnya 'Ima Ai Ni Yukimasu/Be With You' (ada yang udah pernah nonton?) dan ngerasa inget sesuatu pas baca ringkasannya. Akhirnya Hareth download lah filmnya (ada versi doramanya juga) daaaaannn... Hareth baru sadar kalau film ini mengingatkan Hareth sama FF ini (lebih tepatnya ni film seolah-olah menggambarkan masa depannya Changmin kalau di FF). Banyak jalan ceritanya yang mirip sampai Hareth terperangah sendiri *plak*, sayangnya di sana yang penyakitan itu ayahnya bukan anaknya *ga bisa bayangin Yunho penyakitan*. Hareth nangis semalaman bener liat film ini, apalagi pas Yuji (di FF ini anggap aja Changmin) kecil manggil "Mama!" ke ibunya yang hidup lagi & hilang ingatan... aduh, 'jleb' banget di dada T_T Readers harus nonton film ini! *dicelupin readers ke kawah panas*. Akhirnya setelah selese acara nangis-nangisnya, Hareth langsung ngetik ni FF dengan menggebu-gebu, wk. Udah ah ceritanya, sekarang waktunya balas review XD
Oh ya, buat 'Guests' tanpa nama maaf banget reviewnya nggak hareth bales karena Hareth bingung menujukannya sama siapa, tapi terima kasih banyak atas reviewnya dan Hareth benar-benar minta maaf. Tanpa review kalian FF ini hanyalah sampah.
Special thanks:
Choi Sung Mi, domo arigatou! Iya? Gak ngerti ya? Jadi Changmin boongin YunJae biar mereka bener-bener nggak bersatu di masa depan, menurut Changmin lebih baik nggak terlahir dari pada harus hidup menderita, gimana? Kalau masih bingung silakan tanya lagi, Chingu ^^
CassieCiel, domo arigatou! Ini sudah update, Chingu... mian lama ^^a
meirah.1111, domo arigatou! *cupcupcup* Oh, sedih ya? :o #duakk! Ehehe tenang aja Hareth juga dukung YunJae! maaf updatenya lama XD
min neul rin, domo arigatou! Ini udah update ^^, tapi lama =,=
savory pancake, domo arigatou! Iya Chingu, menurut Min lebih baik nggak lahir sama sekali dari pada hidup nggak bahagia, toh pada akhirnya dia mati juga ^^ *ya ampun aku tega banget*
Han Neul Ra, domo arigatou! Iya betul Chingu ^^, oh ini rencananya nggak nyampe 15 chapter kok, bentar lagi tamat =)
SparkSomnia, domo arigatou! Aww, aku jadi malu #jdak! Ini udah lanjut ^^
Henry Park, domo arigatou! Ahaha, bunuh aja dah, gratis :D Wah, maaf aku nggak bisa menjamin kesembuhan Min ==a Dan maaf ya karena updatenya lama ^^a
Priss Uchun, domo arigatou! Hu-um... Min emang lebih memilih mengorbankan dirinya sendiri demi kebahagiaan kedua orangtuanya :') Yap, semangat!
epthy. , domo arigatou! Ya, Changmin milih buat nggak lahir sama sekali biar orang tuanya tetap bahagia di masa depan nanti :') maaf updatenya lama DX
ChaaChulie247, domo arigatou! Alasannya Min adalah... dia itu pengen kedua orangtuanya bisa bahagia di masa depan sana. Karena kalau Changmin lahir, mereka nggak bisa bahagia *nah lo makin bingung, deh?* haha... fighting! ^^9
reaRelf, domo arigatou! Haha, begitulah YooSu, lumayan jadi moodmaker X9 cupcupcup, Chingu *Min ngelapin air mata Chingu* XD
Jean, domo arigatou! Annyeong Jean-ssi, nggak papa kok ^^ iya kok tebakan Chingu ada benernya (?) Maaf nggak bisa update kilat u,u
rara, domo arigatou! Bagian mana yang gak ngerti, Chingu? Iya, Changmin bohong, dalam kenyataan di masa depan sana Yunho ga nelantarin mreka seperti apa yang dibilang Changmin. Soal penyakit di chapter sebelumnya ada penjelasannya di bawah. Masih bingung? ^^
Julie YunJae, domo arigatou! Cupcupcup, Chingu... dengan senang hati saya akan membuat dua Go itu bener-bener Go dari muka bumi *kabur* Maaf ne gak bisa update kilat xp
LawRuuLiet, domo arigatou! Haha, di sini YooSu perannya jadi moodmaker =D Ooh... mengubah-ubah perasaan emang spesialisasi saya #ditinju# tebar confetti deh kalo bener-bener ni tokoh ga ada yg OOC =,= Nyaha... kebohongan bahwa Yunho gak bener2 nelantarin JaeMin di masa depan, Min ngomong gitu biar Jae benci ma Yun & Changmin gak bakalan ada deh =D
Momo Casshipper, domo arigatou! Yeaay, YooSu dibutuhkan untuk membuat ceria suasana xD Iya Min anak yang berbakti, kan? *plak* Yunppa gitu loh, makin dihalang-halangi makin beringas dia (?)
Tha626, domo arigatou! Tunggu saja waktunya, Min pasti luluh *entah kapan xD* haha, Su-ie moodmaker sejati, kan? Ini udah lanjut ^^
puzZy cat, domo arigatou! Haha, ga papa kok, Zy, Min itu kena Sindroma Leigh (ada penjelasannya di chap 6 kn?) iya dong, ini kan FF family aww... semangat! *dilempar ke bikini bottom*
izanami kayo, domo arigatou! Ehehehe... kasih tau nggak, ya? xD Haha iih, kamu kok pinter sih? :o *seriusan* Ini udah update, tapi maaf banget telat ^^a
, domo arigatou! Ini udah lanjut kan, Chingu~ mian lama ^^
Chiyo hikari, domo arigatou! Min boong kalo Yun nelantarin JaeMin di masa depan, padahal nggak bener-bener itu. Wohoo, anggaplah si YooSu itu selingan biar nggak makin ruwet xD *digantung* haha, semua yang hidup pasti akan mati *ceramah ala pak ustaz* Ok, lanjut! ^^
Rosanaru, domo arigatou! Bohong itu loh, kalo Yunppa nelantarin dia & ummanya di masa depan. Ini udah dilanjut ;)
OrangeCassie, domo arigatou! Hayoo... Jaemma-nya kemana/kenapa, coba? Kalo bisa nebak aku kasih hadiah *author dilempar ke Niagara*
shimshia63, domo arigatou! Cupcupcup Chingu, don't cry... *DBSK ikutan nangis #duakk* haha, saya juga menunggu untuk ending yang pas =D
Finda joongielovers, domo arigatou! Ini udah dilanjut, Chingu~^^
mrs. Kim, domo arigatou! Hehe baca borongan ya Chingu? Ga pegel? ^^ *author dilempar bom* Min mau misahin YJ biar YJ hidupnya bahagia di masa depan. Kenapa kalo Min lahir hidup YJ gak bahagia? Tunggu chapter selanjutnya untuk lebih jelasnya ^^
MeyMey8495, domo arigatou! Oh tenang aja Chingu, mereka baru mau 'nyambung' kok ^^v hehe nih udah update tapi maaf banget nih updatenya lama ^^"
KimShippo, domo arigatou! It's okay Chingu~ Iya kok Min anaknya YunJae. Motif-nya agar YJ bisa bahagia di masa depan kalo Min nggak ada, kenapa YJ bisa bahagia kalo Min ga ada? Tunggu jawabannya d chap depan ya~^^
gdtop, domo arigatou! Hhe.. selingan aja itu, Chingu ^^ yups, semangaaaattt!
hayuYJS, domo arigatou! Emang membingungkan ini cerita, Chingu ==a authornya aja kebingungan, wk... *dibanting*
lipminnie, domo arigatou! Yaa, itu sebelum Changmin memutuskan untuk ke masa lalu, Chingu~^^ ohoho untung deh ga salah pilih genre xD
noviuknow, domo arigatou! Yups, bener banget, Chingu. Karena Min penyakitan dy ngerasa lebih baik nggak ada sama sekali dari pada harus hidup tapi menderita, terlebih ga dapet kasih sayang dari ortunya di masa depan
Dinda D, domo arigatou! Hahaha, panas suhunya, ya? xD Aku lagi kehilangan ide, Sayang *dimasukin kandang singa* Kamu reviewer terakhir berarti kita jumpa lagi paling cepet *?*
Okeee, makasih juga buat Silent Readers yang meluangkan waktunya untuk membaca FF gagal ini ^^
Mohon maaf atas segala kesalahan yang tak terhitung banyaknya.
Love, love, love,
Hareth.
