Who is she? she is, Luhan.
Baby Aery HHS
-Big Event HunHan INDONESIA-
Main cast : Luhan, Sehun.
Genre : Hurt, Comfrot, Romance.
Rate : M 17+.
Warning : Genderswitch, Mature content, Dirty talk, Typo.
Length : Chapter.
PS : Semua pemain milik bersama(?) tapi FF ini cuma punyaku^^ hargai FF ini dengan review kalian. menerima keritikan tapi menolak bash! Kalo suka Alhamdulillah kalo ga suka cukup close FF ini. Happy reading^^
.
.
.
Chapter 8. FLASHBACK bagian 5
.
.
Di depan sebuah Mansion besar, Luhan berdiri dalam balutan dress pendek berwarna pink yang membentuk lekuk tubuh indahnya. Cardigan berbahan wol warna putih bersih, Luhan pilih untuk melindungi lengannya dari hembusan udara malam yang mungkin menerpa kulit bahu terbuka miliknya.
"Ayo, masuk." Sehun yang ada di samping Luhan dengan pakaian casualnya -celana demin, kaos dan jaket- mulai lebih dulu menyusun langkah yang diikuti Luhan di belakangnya.
"Kalian sudah datang?" Sesosok wanita berwajah kental asia adalah orang pertama yang menyambut kedatangan Sehun bersama Luhan. Wanita itu telah berusia sekitar 40 tahun namun dia tetap cantik dalam usapan make up tipis dan balutan dress berwarna biru yang menempel pas di tubuh tingginya.
Wanita itu bernama Park Eunhwa atau biasa dikenal sebagai Albertha Edison yang Luhan ketahui adalah ibu Sehun. Mereka tidak terlalu dekat, hanya sesekali pernah bertemu hanya untuk menghabiskan waktu dalam kecanggungan. Ingat! Luhan tidak pernah mudah dekat dengan seseorang.
"Bagaimana kabarmu, Luhan?" Eunhwa tersenyum ramah kepada Luhan yang hanya mengukir dua detik senyuman tipis di bibir pink miliknya.
"Baik, nyonya." Menjawab sopan bahkan terlalu sopan untuk hubungan yang bisa disebut seorang calon menantu kepada mertua.
"Sudah aku katakan tidak untuk memanggilku seperti itu." Eunhwa beralih menatap kepada Sehun. "Ajak Luhan masuk. Di meja makan sudah ada kakakmu bersama kakak iparmu."
Tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun Sehun berlalu dengan kalem, sementara Luhan lebih dulu membungkuk kepada Eunhwa sebelum ia menyusul Sehun untuk masuk lebih dalam ke Manison megah milik keluarga Edison.
Eunhwa tersenyum melihat punggung milik Sehun dan Luhan yang semakin menjauh. Luhan adalah gadis kelahiran asia pertama yang Sehun kenalkan kepada dirinya dan sejak pertama mlihat, Eunhwa sudah menyukai kepribadian Luhan yang ramah, pendiam, pintar juga baik.
Dari sekian banyak teman perempuan Sehun yang ia kenal, Eunhwa menilai Luhan lah yang paling cocok dan serasi untuk putranya. Bahkan Luhan adalah yang terbaik diantara semua wanita barat yang berikap memuakkan. Berharap; mungkin kelak Luhan bisa membimbing Sehun agar tidak lagi menjadi anak pembangkang yang memusingkan seperti sekarang.
.
.
"Aku Carey Edison. Kakak dari William Edison." Carey yang merupakan anak dari Harry Edison menjabat tangan Luhan yang juga mengenalkan namanya.
Sementara Sehun hanya mendengus ketika nama baratnya lah yang Kakak tirinya sebut. Sehun tidak pernah menyukai nama semacam itu. Baginya namanya hanya satu, yaitu Oh Sehun!
"Ini calon istriku. Dia Tiffany."
Luhan beralih menatap wanita berambut panjang ikal yang tersenyum tipis kepada dirinya. Wanita itu cantik, bahkan sangat cantik juga sexy. Dress pendeknya yang terbuka memamerkan belahan dada miliknya yang Luhan yakini mampu membuat seorang pria menelan liurnya secara menyakitkan.
"Aku Luhan."
"Sudah cukup berkenalannya." Eunhwa datang bersama pria tinggi berambut pirang yang memiliki lekukkan wajah persis seperti Carey.
Luhan terdiam, memandangi betapa romantiasnya mereka berdua sebelum tersadar karena sapaan Eunhwa.
"Jangan hanya melamun, Luhan."
"Dia kekasih William?" Harry menoleh kepada Eunhwa dengan tatapan tanya.
Sembari tersenyum Eunhwa mengangguk. "Ya, dia kekasih William."
"Cantik. Aku ayah dari William."
"Bisakah kalian berhenti memanggilku William? Itu terdengar menjijikkan." Sehun menegur dan menarik salah satu kursi secara kasar hingga berderit cukup nyaring.
Eunhwa yang melihat tingkah anak kandungnya hanya bisa menggeleng sebal karena secara tidak langsung pun itu membuat dirinya malu sebagai seorang ibu. "Maafkan William, dia memang selalu seperti itu. Ayo, mulai makan malamnya." Eunhwa mempersilakan semua yang datang untuk duduk. "Tiffany, Luhan. Nikmati makan malam kalian." Berujar ramah penuh kehangatan.
Kedua wanita dari pasangan kakak beradik itu pun mengangguk dan mulai menyantap hidangan yang disajikan secara satun.
"Kau sekolah di mana, Luhan?" Sebagai seorang ayah, Harry sekedar iseng membuka obrolan di tengah makan malam yang sedang berlangsung agar bisa mengenal lebih jauh kekasih dari anak bungsunya.
Walau bukan darah dagingnya tapi Harry sudah menganggap Sehun sebagai anak kandungnya sendiri. Itu lah kenapa Harry selalu memaklumi kesalahan yang sering Sehun lakukan.
"Horace Mann School."
"Kalian satu sekolah?"
"Ya, kami berada di sekolah dan tingkat yang sama."
"Itu mengagumkan. Lalu bersama siapa kau tinggal?"
"Aku hanya tinggal di apartement karena ayahku ada di Korea."
Harry sedikit terdiam sebelum ia mengangguk paham. "New York sangat kejam untuk wanita asia. Semoga kau tidak bernasip buruk."
Mendengar kalimat itu membuat gerakan tangan Sehun yang sedang memotong beef miliknya terhenti dengan sendirinya. Kepalanya jatuh bergulir menatap kepada Luhan yang duduk di sampingnya, dan sepertinya ucapan Harry pun mampu membuat Luhan mematung dalam renungannya sendiri.
Tidak benasip buruk. Kata-kata itu Luhan rasakan seperti menertawakan sekarang.
"Aku ingin ke toilet."
Semua perhatian teralih kepada Sehun yang beranjak dari kursi makannya. Mata Luhan dengan cermat mengamati kemana perginya Sehun yang secara perlahan menghilang dari pandangan.
"Bisakah aku juga izin?" Tiffany menjadi yang kedua. Ia berdiri dengan senyuman tipis tersemat di bibir merahnya. "Aku ingin memeriksa sesuatu." Berujar alasan yang Carey angguki tanpa kecurigaan.
Makan malam itu pun kembali berlanjut setelah kepergiaan Tiffany dengan Luhan yang duduk dalam kecanggungan luar biasa. Matanya sesekali melirik pada arah yang Sehun ambil, berharap Sehun bisa cepat muncul untuk menemani dirinya. Namun sampai semua orang hampir menghabiskan makan malamnya, Tiffany atau pun Sehun tidak kunjung datang untuk kembali bergabung.
"Aku ingin menyusul Sehun. Bisakah aku tanya di mana toiletnya?" Tidak tahan pada kecanggungannya sendiri, Luhan pun bertanya dengan sedikit hati-hati.
Eunhwa tersenyum penuh kemakluman. "Kau cukup lurus dan belok kanan, Luhan."
Lebih dulu membungkuk, Luhan pun berlalu untuk mengikuti arahan dari Eunhwa.
Lurus dan belok kanan. Langkah Luhan tersusun pelan, ketukan high heelnya yang tidak begitu tinggi pun hanya mengeluarkan bunyi-bunyi kecil seirama dengan detik jam antik yang berdenting. Mata rusanya sesekali mengamati lukisan-lukisan hasil mahakarya para seniman terkenal yang tergantung pada dinding bercatkan warna cream itu.
Ada banyak koleksi kuno di sisi kanan-kiri lorong panjang untuk menuju toilet. Sangat terlihat jika Harry penggagum benda-benda bersejarah.
"Kau memikirkannya."
Sayup-sayup suara wanita di sebelah kiri membuat Luhan menoleh. Ada sebuah lorong lain yang Luhan tidak tau akan menghubungkan pada ruangan apa.
"Tidak."
Tapi suara selanjutnya yang memasuki pendengarannya mampu menggugah rasa penasaran Luhan untuk muncul, karena suara itu adalah suara Sehun. Ia tau kalau ini tidak lah sopan untuk dilakukan tapi Luhan membiarkan dirinya mengikuti kemana insting menuntunya untuk berbelok arah ke kiri, memasuki lorong bercahaya redup yang dihiasi patung-patung di beberapa titik.
"Luhan hanya boneka tidak berguna. Aku hanya mencintaimu."
Langkah Luhan terhenti tepat saat penyatuan bibir Sehun dan Tiffany terjalin di depan pandangan nanarnya yang membeku. Untuk sesaat Luhan merasakan tidak bisa bernapas dan lemas di persendiannya hingga membuat tubuhnya terhuyung ke belakang sampai tanpa sengaja menjatuhkan sebuah pernak-pernik dari hiasan yang ada di atas meja.
"Luhan." Menyadari akan kehadiran orang lain, Sehun segera melepaskan tautannya dari bibir Tiffany. Terlebih yang ada di depannya saat ini adalah Luhan dan itu benar-benar membuat Sehun terkejut. "Dengarkan aku, Luhan." Sehun berniat mendekati Luhan, namun Tiffany menggenggam erat tangan Sehun sampai Sehun tidak bisa menjangkau Luhan yang berjalan cepat untuk menjauh.
"Biarkan dia, Sehun. Kau mencintaiku, kan?"
"Tapi, Tiff."
Tidak lagi memperdulikan perkataan apa yang akan keluar dari bibir Sehun, Tiffany dengan cepat melumat bibir tipis Sehun yang hanya menjatuhkan bahunya pasrah.
Biar nanti ia jelaskan kepada Luhan, toh Luhan pasti bisa ia bujuk. Keyakinan itu bertengger tinggi di hati Sehun dengan sombong. Tapi Sehun tidak mengetahui rencana Tuhan sangatlah jauh dari perkiraan dirinya.
.
.
Eunhwa menoleh saat menyadari kedatangan Luhan. Alisnya bertaut bingung saat melihat wajah Luhan begitu pucat pasi seperti hal buruk baru saja menimpa dirinya. "Luhan, kau baik?"
Mendengar pertanyaan seperti itu membuat Harry pun menatap kepada Luhan. "Di mana Sehun?" Melirik keberbagai arah karena tidak menemukan Sehun datang bersama Luhan.
"Maaf, tapi aku harus pergi." Tas tangan miliknya Luhan ambil. Membungkuk sekilas dan berlari pergi meninggalkan keluarga Edison yang saling bertanya melalui tatapan mata.
"Luhan kenapa?" Carey bertanya kepada Eunhwa yang hanya terdiam.
Firasatnya mengatakan kalau Luhan pergi karena sebuah alasan, terlebih wajah Luhan begitu pucat setelah ia kembali.
"Maaf menunggu lama." Tiffany datang dengan Sehun mengekor dibelakangnya. "Aku harus memperbaiki make up ku." Duduk kembali di kursi sebelah Carey tanpa mendapat kecurigaan apapun dari sang kekasih.
"Kenapa Luhan pergi, Sehun?"
Yang ditanyai Harry mendongak dari kursi makan yang sudah kembali ia duduki. "Ada urusan." Menjawab cuek dan begitu tenang hingga semuanya terlihat seperti baik-baik saja.
Tapi Eunhwa bukanlah orang yang tidak bisa membaca situasi. Matanya memincing menatap bergantian kepada Tiffany juga Sehun dan merasakan sebuah kecurigaan terletak di sana. "Lalu apa yang kau lakukan di toilet, Sehun? Apa kau pun memperbaiki make up seperti Tiffany?"
Kepala Sehun mendongak dan melihat ibunya yang menatapnya bagai seorang penjahat tertangkap basah.
.
.
Setelah mengukur jarak cukup jauh dari tempat yang sudah membuatnya bagai terhantam batu besar, Luhan lebih dulu menghentikan langkah dan bertumpu pada tembok sebuah toko dengan lemas. Tatapan Luhan kosong, benar-benar kosong. Bagai orang buta yang untuk melihat seberkas cahayapun tidak mampu ia lakukan.
Luhan hanya boneka tidak berguna. Aku hanya mencintaimu.
Bayang saat Sehun begitu lancar mengucapkan sederat kalimat itu masih merasuki pikiran Luhan. Bagaimana intimnya mereka beciuman pun seakan melekat di penglihatanya yang mulai memburam pedih. Air mata kesedihan menetes jatuh di pipi Luhan tanpa adanya isakan yang keluar. Rasa sakit mungkin sudah tidak bisa ia kira, karena perkataan itu seperti bisa membuat seluruh hatinya menjadi mati rasa.
Beberapa orang yang melewati Luhan hanya melirik atau sekedar menoleh sesaat dengan bisik-bisik tidak berguna, ketika tubuh Luhan jauh terduduk dengan kepala tersembunyi di balik tapak tangannya. Bahu itu berguncang pelan, tenggelam dalam kekecewaan, penyesalan dan kemarahannya sendiri yang selama ini begitu bodoh bisa memberikan segala hal yang ia miliki untuk pria yang ternyata tidak benar-benar mencintai dirinya.
Kepercayaan kokoh yang bertahun-tahun Luhan bangun untuk memaklumi segala kelakukan Sehun ternyata hanya berbalik menghancurkan dirinya. Cinta yang selama ini selalu ia banggakan karena mampu bertahan dari kebencian yang merasuk ternyata hanya menjadi mata pisau yang menusuk habis pertahanannya.
Kini Luhan hanya bisa menangis, meratapi nasib malangnya seorang diri tanpa usapan lembut ataupun pelukkan hangat dari sang ayah. Yang terasa hanya tiupan angin malam yang menemaninya demi mengais kekuatan untuk kembali bertahan. Jika dekat mungkin Luhan akan berlari untuk mangadu bahwa ia lelah untuk hidup seperti ini.
Pada akhirnya Sehun membuat cintanya berubah menjadi buih beracun.
.
.
Dengan mata sembab serta hidung yang telah memerah, Luhan memasuki apartement guna mengistirahatkan diri dari kekejaman hidup yang menimpannya. Kaki Luhan yang sudah terbebas dari High heel itu melangkah semakin dalam sebelum berhenti mendadak karena melihat Ken yang tengah duduk di sofa ruang tengah.
Mata Luhan melebar terkejut, berbanding terbalik dengan Ken yang tersenyum senang. "Kau sudah datang, Luhan." Beranjak untuk mendekati Luhan.
Namun dengan cepat Luhan memundurkan langkahnya secara waspada. Bayang-bayang malam itu seketika berputar dalam benak Luhan hingga ketakutan muncul menggerayapi diri Luhan. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Tau kalau Luhan menatapnya bagai monster mengerikan, Ken pun berhenti mendekati Luhan. "Aku hanya ingin menjengukmu karena kau tidak kunjung masuk sekolah." Ken berujar selembut mungkin tapi itu tidak berpengaruh pada ketakutan Luhan yang semakin meningkat. "Aku khawatir kepadamu, Luhan. Aku pikir aku terlalu kasar saat itu."
"Keparat!" Luhan berteriak histeris dengan air mata yang sebelumnya telah mengering kini kembali menetes. Rasa sakit itu muncul, bahkan benar-benar Luhan rasakan nyata seperti dirinya kembali terlempar pada malam kelam itu.
Tubuh Luhan berguncang hebat. Tangannya secara kuat menjambak rambut hitamnya hingga mengusut dalam genggamam. Teriakan yang diiringi rintihan pilu menggema, membuat kehawatiran Ken semakin menjadi-jadi.
"Luhan, kau kenapa?" Ken mendekat dan berusaha melepaskan jambakan Luhan pada rambutnya sendiri sampai Luhan mendongak menatap kepada dirinya.
Mata rusa yang biasa memancarkan kilauan indah itu meredup, tergantikan dengan urat merah penuh kemarahan terkunci di dalam hati yang mampu membuat Ken terdiam untuk beberapa saat. Ingin rasanya Luhan membunuh Ken saat itu juga, tapi di dalam dirinya masih terdapat perasaan kasihan yang tertinggal di balik kebencian yang menguasai.
"Kau jahat, Ken."
Ucapan lirih itu membuat Ken menghela napas. "Aku tau, maafkan aku. Saat itu aku benar-benar tidak bisa menguasai diriku karena terlalu menginginkanmu." Tatapan Ken begitu terlihat penuh penyesalan namun mengejutkan dengan apa yang dia dapat sebagai balasan. Luhan meludahi wajahnya sampai membuat Ken berusaha menahan diri untuk tidak sekedar menampar pipi Luhan. "Kau meludahiku?" Mengusap permukaan wajahnya yang basah dan menatap sinis kepada Luhan.
Ayolah, Ken bukan malaikat yang sering bergaul dengan anak kesayangan Tuhan. Merasakan penyesalan pun itu bukan sesuatu yang wajar bagi Ken.
"Kau bajiangan, Ken."
Mendengar ucapan ketus Luhan membuat Ken terkikik geli sembari membersihkan telapak tangannya menggunakan sapu tangan. "Kau mengataiku bajingan tapi kau sendiri tidak bisa melihat kalau kekasihmu lebih dari sekedar bajingan." Berujar mengejek kepada Luhan yang hanya terdiam. "Aku bahkan lebih baik dari Sehun, Luhan. Setidaknya aku benar-benar mencintaimu."
Secara kasar, Luhan menampik tangan Ken yang mengusap kulit pipinya. "Tutup mulutmu, kau tidak pantas menyebut nama Sehun menggunakan mulut busukmu."
"Astaga, kau membelanya?" Ken menunjukkan tatapan terkejut yang dibuat-buat. Ini semakin menjadi menjijikkan saat Luhan terus berada di pihak Sehun. Ken merasakan sudah tidak tahan! "Ya, memang boneka akan terus menjadi boneka." Berguamam pelan dan menoyor kepala Luhan. "Apa yang sebenarnya ada di otakmu, Luhan? Apa kau tidak sadar kalau selama ini Sehun hanya menjadikanmu sebagai alat sekolah dan pemuas nafsu?"
Luhan mendelik karena tidak menyangka Ken tau tentang hal ini. Jadi selama ini ia menjadi bodoh tidak hanya di mata Sehun?
"Untuk Sehun kau hanya boneka yang bisa ia gunakan dan manfaatkan sesukanya."
Tidak menjawab Luhan hanya terus menelan kepahitan dari ucapan Ken.
"Kau tau? Dia bahkan rela menukarmu satu malam untuk aku gagahi hanya karena wanita yang tidak bisa ia dapatkan."
"Apa maksudmu?" Kening Luhan menyeringit bingung untuk kalimat Ken yang tidak bisa ia pahami.
"Kau kira aku bisa masuk ke dalam apartementmu karena siapa?" Ken tersenyum miring ketika melihat banyak pertanyaan terbesit dari mata Luhan. "Sehun yang membawaku masuk ke dalam apartementmu. Kemudian dia pergi menghabiskan malam panjang penuh kenikmatan bersama wanita lain yang ia inginkan. Dia meninggalkanmu dan membiarkanmu untuk aku nikmati, Luhan."
Kepala Luhan menggeleng dengan tatapan tidak percaya. Sehun tidak mungkin sejahat itu. Ini hanyalah rekayasa Ken agar dirinya membenci Sehun. "Kau berbohong. Sehun tidak mungkin seperti itu."
"Tentu kau tidak akan percaya jika tidak ada bukti." Ken mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Mengotak-atiknya sebentar dan memberikannya kepada Luhan. "Itu pesan yang aku kirim kepada Sehun."
Tangan begetar Luhan seerat mungkin mencoba untuk menggenggam ponsel milik Ken, walau beberapa kali hampir terjatuh karena jarinya yang seperti tidak memiliki kekuatan. Mata Luhan secara teliti membaca apa yang terpampampang di layar ponsel. Di situ tercantum tanggal serta jam saat Ken mengirimkanya kepada Sehun dan itu memang sama dengan tanggal saat Ken baru meninggalkannya setelah puas menjamah tubuhnya.
Luhan jelas masih mengingat kapan itu terjadi. Tapi apa yang membuat persendian Luhan terasa lemas adalah isi dari pesan itu yang menjadi bukti nyata kalau perkataan Ken bukanlah bualan belaka.
To Sehun : Bagaimana malammu? Menikmatinya? Sesuai perjanjian, aku sudah meninggalkan apartement tepat jam enam pagi.
From Sehun : Tidak buruk. Tiffany melayaniku dengan baik. Baguslah jika kau ingat dengan hal itu.
Tiffany?
Prak!
Ponsel milik Ken terlepas dari genggaman Luhan hingga terjatuh di atas lantai. Napasnya terasa tercekat dengan otak terus mengulang nama wanita yang terasa tidak asing untuk dirinya.
Tiffany? Apa mungkin itu kekasih kakak tiri Sehun?
Aku hanya mencintaimu.
Luhan hanya boneka tidak berguna. Aku hanya mencintaimu.
Mencintaimu.
Mencintaimu.
Kepala Luhan bagai terbentur keras saat otaknya mampu merangkai semuanya menjadi saling berkaitan. Sehun dan Tiffany menjalin hubungan gelap di belakang Carey dan dirinya.
"Bagaimana. Kau sudah mempercayainya?" Melihat ketegangan didiri Luhan membuat Ken senang bukan kepalang. Akhirnya Luhan sadar dan pasti akan membenci Sehun. Ini yang sudah Ken nantikan sejak lama. "Aku lebih baik darinya, Luhan." Dagu runcing Luhan, Ken angkat untuk bisa ia kecup bibir Luhan yang sedikit terbuka.
Tapi tidak sampai keinginan Ken terkabul, Luhan dengan kuat mendorong Ken untuk menjauh. "Jangan macam-macam, Ken!"
"Ayolah, jangan munafik. Kita nikmati malam ini dengan menyenangkan." Ken kembali mendekati Luhan yang berjalan mundur. "Aku benar-benar tergila-gila pada tubuhmu, Luhan. Kau tau? Hampir seharian aku membayangkan desahanmu di bawahku. Itu terdengar sangat sexy." Seringaian yang sama saat malam itu kembali terbentuk di bibir Ken.
Merasa kini dirinya dalam situasi terancam Luhan segera berlari dan secara sigap mengambil vas bunga yang dekat dengan jangkauannya. Luhan tidak sadar dengan apa yang ia lakukan, ia hanya reflek melemparkan vas bunga itu pada kepala Ken yang langsung mengerang kesakitan.
Ken memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Darah keluar mengotori rambut pirannya hingga membuat Luhan tersadar pada apa yang sudah ia perbuat.
"Ken." Dengan tangan bergetar hebat, Luhan mencoba mendekati Ken.
"KEPARAT!"
Tapi ia urung menolong Ken saat melihat Ken lebih dulu berteriak marah kepada dirinya.
Dalam keadaan setengah sadar Ken berdiri. Matanya berkilat marah dan di pandangannya Luhan adalah musuh yang harus ia bunuh. "Kau akan mati, Luhan!"
Tau kalau itu bukan sekedar ancaman, Luhan bergegas berlari menjauh demi menyelamatkan diri. Beruntung karena pintu apartementnya belum terkunci sepenuhnya hingga Luhan bisa sedikit mudah untuk terlepas dari tangan Ken.
Tidak merasa putus asa Ken mengejar Luhan. "Aaakhh, kepalaku." Namun kepalanya yang berdengung sakit membuat Ken harus rela kehilangan Luhan yang lenyap di belokkan koridor.
.
.
Dalam keadaan berantakan dan kacau, Luhan membawa kakinya untuk berlari sejuah mungkin. Tangannya selalu dengan sigap mendorong orang-orang yang menghalangi jalannya tanpa peduli umpatan atau makian yang ia dapatkan. Kepala Luhan masih sesekali menoleh ke belakang penuh ketakutan, sekedar mencek apa Ken masih mengikutinya atau tidak.
Napasnya yang kian menderu Luhan abaikan sampai langkahnya terhenti karena rasa lelah di sebuah jalan yang cukup sepi. Keadaan terasa semakin runyam juga memusingkan serta menyakitkan saat ini, sampai tangisan pun tidak mampu lagi untuk Luhan bendung.
Dengan tangan begetar, Luhan mengambil ponsel di dalam saku cardigan yang ia kenakan. Perasaannya sudah menjadi campur aduk tidak terkira dan Luhan menyerah untuk bertahan.
"Hallo." Terdengar suara khas ayahnya di seberang sana.
Untuk beberapa detik Luhan belum sanggup mengeluarkan suaranya karena isakkan yang terasa menyumbat di tenggorokkan.
"Sayang, kau kenapa?" Tau kalau putrinya sedang menangis. Kim Ah Yung-Ayah Luhan- bertanya dengan kehawatiran.
"Ayah." Suara Luhan begitu terdengar pilu dalam tangisan yang coba ia tahan. "Aku ingin pulang." Berujar jujur pada keinginan yang selama ini ia pendam.
"Kau kenapa sayang? Apa yang terjadi?" Khawatiran semakin membesar, tergambar jelas dari nada suara Ah yung yang terkesan penuh ketidak sabaran.
"Aku hanya ingin pulang, ayah."
"Lalu bagaimana sekolahmu? Hentikan mobilnya." Selanjutnya terdengar suara mesin mobil yang dimatikan. "Katakan pada ayah, apa yang terjadi?"
"Aku hanya ingin pulang, ayah. Aku mohon."
"Ayah akan mengurus kepulanganmu tapi jangan buat ayah khawatir. Katakan ap-"
Prak!
Perkataan Ah yung terputus secara mendadak, tergantikan bunyi benda terjauh yang Luhan perkirakan adalah ponsel. "Ayah." Tangisan Luhan terhenti ketika telinganya tiba-tiba menangkap suara keributan di ujung sana. Otaknya sedang berpikir untuk memperkirakan apa yang sedang ayahnya lakukan. "Ayah."
Tidak ada jawaban.
"Ayah."
"Cepat panggil ambulance!"
Bola mata Luhan melebar saat terdengar suara entah milik siapa seperti sedang berteriak cemas, tak lama sayup-sayup siren yang memasuki pendengarannya mampu membuat Luhan terpekur diam.
"Ayah."
Suara kegaduhan itu semakin ribut.
"Ayah!" Berteriak kencang walau percuma karena tidak ada sahutan di ujung sana. Tangisan Luhan kembali pecah karena sebuah situasi seperti tergambar nyata di depan matanya. "Ayah! Jawab aku!" Berteriak pilu dengan harapan ayahnya akan menjawab walau itu hanya satu ucapan.
Namun yang terjadi sambungan itu justru terputus. Beberapa kali Luhan mencoba menghubungi kembali nomor ayahnya, tapi selalu berakhir tidak terhubung. "Ayah." Bibir Luhan masih mengucapkan kalimat yang sama dengan lirih. Tubuh itu jatuh terduduk dengan hatinya yang semakin terasa sesak.
Luhan tidak tau apa yang terjadi atau mencoba memungkiri apa yang sedang ia takutkan. Ayahnya tidak mungkin pergi. Tuhan tidak sekejam itu untuk mengambil seseorang yang paling berharga dalam hidupnya. Setidaknya bukan sekarang, jangan sekarang.
Ia sudah bertahun-tahun tidak menemui ayahnya, dia belum sempat memeluk tubuh yang telah lama ia rindukan. Ia belum sempat membanggakan hasil dari segala jeripayahnya bertahan di Horace Mann School dan dia belum sempat mengatakan secara langsung betapa ia mencintai ayahnya. Masih banyak hal yang ingin ia lakukan bersama sang ayah. Luhan akan menganggap Tuhan tidak adil jika merebut satu-satunya alasan untuk dia bertahan hidup secepat ini.
.
.
Sehun berjalan di lorong untuk menuju classnya. Situasi saat sebelum memasuki class masihlah sama, penuh dengan anak-anak yang bergerombol membicarakan sesuatu yang menarik minat untuk dibahas. Kaki tinggi Sehun mengambil arah ke kanan. Sebuah earphone terpasang, menyenandungkan alunan music yang memasuki pendengarannya.
Beberapa pasang mata yang mengamati dirinya, Sehun abaikan tanpa peduli. Langkahnya masih berjalan santai karena mood Sehun sedang terasa baik saat ini. Siapa lagi jika bukan Tiffany yang sudah berhasil membuatnya gila seperti sekarang? Ia bahkan melupakan tentang Luhan yang secara tidak sengaja memergokinya sedang berciuman.
Luhan. Ngomong-ngomong kemana hilangnya perempuan itu? Mata Sehun melirik kesekitar demi menemukan Luhan yang baru hinggap di otaknya.
"Sehun!"
Tapi dorongan kuat dari belakang membuat Sehun beralih kepada Tobby yang menatapnya dengan resah. "Ada apa?" Earphone yang terpasang di telinganya Sehun lepaskan.
"Luhan."
"Luhan? Kenapa Luhan?"
"Dia keluar dari sekolah."
Kening Sehun berkerut tipis menatap Tobby yang bernapas memburu karena dia harus mengejar Sehun yang sama sekali tidak mendengarkan panggilannya. "Shit!" Mengumpat kesal dan segera berlari setelah dapat mencerna ucapan Tobby.
.
.
Melajukan kendarannya dalam kecepatan penuh, membuat Sehun tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di apartment yang Luhan tempati. Langkahnya masih berlanjut dengan tergesa untuk menuju kamar apartement Luhan yang terletak di lantai tiga.
Pintu itu Sehun buka hingga menampilkan keadaan kamar apartement yang terasa sunyi. Tidak ada Luhan di manapun Sehun mencarinya, bahkan di dalam kamar tidur pun Sehun tidak menemukan keberadaan kekasihnya.
Langkah Sehun terarah menuju lemari pakaian. Sekedar mencek isi lemari itu dan ia mendapati semua barang Luhan masihlah tertata pada tempatnya. Sehun menghela napas lega, berpikir; mungkin Luhan sedang pergi kesuatu tempat.
.
.
Suasana riuh amat terasa di Incheon airport. Dari pintu kedatangan sosok gadis menggunakan dress kusut berwarna pink dan cardigan berwarna putih lusuh, muncul menyapa langit sore Negara Korea. Dia Luhan, yang bahkan tidak sempat merapikan diri dan segera membeli tiket penerbangan tercepat dari New York menuju Korea hanya untuk memastikan tidak ada apapun yang menimpa ayahnya.
Surat pemberhentian sekolah atau segala sesuatu yang dibutuhkan Luhan buat di dalam pesawat dan ia kirim melalui email sekolah. Ponselnya sudah ia buang karena Luhan tidak ingin membawa apapun yang memiliki kaitan dengan New York atau pun Sehun. Cukup ingatan pahit yang ia harus ia musnahkan, Luhan tidak ingin dipusingkan dengan hal tidak berguna lainnya.
Sekarang yang terpenting hanyalah ayahnya.
Luhan berjalan diantara kepenatan bandara. Sedikit tidak menyangka karena dia pulang dalam kondisi menyedihkan seperti sekarang. Langkah itu tersusun penuh keraguan karena Luhan tidak tau dia harus pergi menuju ke mana. Sudah banyak yang berubah di sini walau lamanya hanya tiga tahun dia pergi.
Sejak tinggal di New York Luhan memang tidak lagi pulang ke Korea bahkan hanya sekedar untuk liburan, karena Ah yung melarang sebab dia tau, sekali Luhan kembali ke Korea putrinya itu tidak mau lagi kembali ke New York.
"Nona, taxi?"
Luhan menggeleng kepada seorang paman berseragam yang menawarkannya jasa tumpangan. Mata Luhan melirik resah pada semua arah sembari mengusap satu lengannya hanya untuk mengurangi kecemasan.
"Berita terkini. Setelah mobilnya tertabrak oleh sebuah truk pengangkut besi kini dikabarkan tuan Kim Ah Yung, pemilik Guman Mall dinyatakan meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis di H plus Yangji Hospital."
Kepala Luhan tertoleh pada TV umum yang berada di dalam Incheon airport. Matanya dengan pandangan nanar mengamati apa yang tergambar jelas di sana. "Tidak mungkin." Bibir miliknya yang telah mengering bergumam pelan, saat melihat berbagai reporter mencoba untuk meliput situasi di sebuah rumah sakit.
"Tuan Kim Ah Yung meninggal sekitar sepuluh menit lalu karena pendarahan di kepalanya yang sangat parah." Lima orang dokter duduk berjejer di hadapan mic yang tertata di atas meja. "Benturan yang dialaminya cukup keras karena dia terlempar jauh dari dalam mobil."
"Tidak mungkin." Luhan menggeleng dengan mata yang kembali menumpahkan air kesedihan. Dia sama sekali tidak mempercayai apa yang tertera di sana. Semua itu bohong! Ayahnya tidak mungkin meninggal!
Sekuat mungkin Luhan menahan kesesakan hatinya agar tidak membuatnya semakin lemah, namun berita ini terlalu mendadak, terlalu menyakitkan dan terlalu menyedihkan sampai tangisan tidak dapat lagi Luhan kontrol.
Kehancuran besar seperti menimpa Luhan sekarang. Setelah segala kebusukan Sehun terbongkar ia harus menerima kenyataan kalau ayahnya meninggal dengan cara mengenaskan. Kenapa hidup begitu kejam kepada dirinya? Sekarang ia sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini.
Ayahnya pergi. Tuhan membawa ayahnya pergi. Tuhan mengambil sumber kekuatan yang ia miliki.
"Ayah." Tubuh itu runtuh, jatuh terduduk di lantai dengan isakkan yang memilukan. "Kau sudah berjanji akan menjemputku saat aku pulang." Bergumam pedih sembari meremas ujung dressnya hanya untuk sedikit melampiaskan rasa sesak. "Sekarang aku sudah pulang, tapi kenapa kau pergi?"
Beberapa orang yang ada disekitar Luhan hanya menatap bingung kepada Luhan yang menangis dalam keputus asaan. Mereka hanya tidak mengerti kenapa Luhan menangis di tempat umum seperti ini, namun satu orang pria berjalan mendekat dengan pandangan sedih yang kentara.
Pria itu terduduk di sisi Luhan dan membawa Luhan masuk dalam dekapannya. Mengelus lembut punggung begetar Luhan yang secara langsung menumpahkan tangisannya direngkuhan dada bidang itu.
"Semuanya akan berubah menjadi masa lalu. Kau akan baik-baik saja." Bisikan itu bertiup hangat di telinga Luhan.
Tanpa peduli siapa yang sedang memeluknya kini, Luhan hanya terus menumpahkan kesedihannya. Karena sekarang ia memang membutuhkan sebuah sandaran.
.
.
Di dalam rumah sakit, beberapa pria berjas hitam terlihat berdiri di depan sebuah pintu kamar rawat VVIP. Mereka secara sopan membungkuk pada pria tinggi yang datang dengan membawa serta sosok perempuan di belakangnya.
"Yifan." Seorang pria berusia empat puluh tahunan, mendekat begitu pria itu –Yifan- masuk ke dalam. "Sedang apa kau di sini?" Bertanya bingung karena seingatnya baru satu jam lalu Yifan pergi untuk terbang ke New York. "Bukan kah kau harus menjemput nona Luhan di New Yo- Nona!" Namun kebingungan pria tua itu sirna saat sosok perempuan muncul dari belakang Yifan.
"Aku tidak sengaja melihatnya di airport." Yifan berujar menjelaskan.
Sementara Luhan, sejak dirinya masuk. Matanya tidak lepas dari sosok ayahnya yang terbaring sudah dalam keadaan tanpa alat bantu. Wajahnya terlihat pucat, kulitnya terasa dingin ketika Luhan pegang dan nadi itu tidak lagi berdeyut halus saat Luhan raba. "Ayah." Airmata jatuh menetesi pipi Ah Yung karena Luhan menempelkan keningnya pada kening Ah yung.
Mata Luhan terpejam dengan bibir terus memanggil ayahnya yang sudah tidak dapat lagi bisa menjawab. "Kenapa kau pergi?" Menjauhkan sedikit tubuhnya untuk bisa menatap wajah tampan milik ayahnya. "Apa kau merindukan ibu?" Mengelus kening Ah Yung dengan tangis berderai pedih. "Jika kau pergi, lalu aku harus bersama siapa?"
Yifan menatap iba kepada Luhan. Dia mencoba untuk mendekat sekedar ingin menenangkan Luhan, namun langkahnya terhenti karena ditahan oleh pria tua yang menjabat sebagai asisten Ah Yung.
"Biarkan dia. Nona Luhan sudah tidak bertemu tuan hampir tiga tahun."
Mendengar itu, Yifan pun mengurungkan niat dan hanya diam menyaksikan tangis Luhan yang tidak kunjung usai. Dalam perasaannya sendiri Yifan merasa prihatin pada kemalangan yang menimpa Luhan.
.
.
Pemakaman itu dilaksanakan tempat pukul sepuluh pagi. Peti kayu yang menjadi persinggahan terakhir Ah Yung dengan perlahan dimasukkan kedalam galian tanah yang sudah disediakan.
Luhan berdiri mengenakan dress hitam yang membalut pas tubuhnya. Pandangan Luhan terlihat datar mengamati bagaimana peti itu telah terkubur dibalik himpunan tanah. Separuh dirinya tidak bisa mempercayai ini semua tapi separuh dirinya sadar kalau keadaan ini memang menimpa kepada dirinya.
Kaca hitam Luhan ambil dari dalam tas dan ia kenakan. Kini tidak ada lagi tangis berderai yang membasahi pipinya. Secara kalem, Luhan bahkan masuk ke dalam mobil yang dengan segera membawannya pergi dari tempat pemakaman.
Disepanjang jalan Luhan diam merenung dengan menyaksikan pemandangan sekitar yang bisa ia tangkap. Sekarang semua kejadian dalam tiga tahun seperti terangkum di dalam otak Luhan.
Bagaimana ia sering diperlakukan tidak pantas oleh Jennifer atau teman sekolah lainnya. Bagaimana Sehun selalu tanpa ragu memanfaatkan kepintarannya. Bagaimana Ken dengan busuknya memperkosa dirinya dan bagaimana Tuhan tanpa belas kasih merenggut ayahnya.
Semua itu terasa menjijikan untuk Luhan. Berbagai umpatan Luhan layangkan kepada dirinya yang selalu bertindak bodoh dan pasarah. Kini Luhan sadar bahwa dunia bukan tempat untuk manusia baik hidup!
.
.
"Semua kekayaan milik tuan Kim Ah Yung dari rumah, Mall, property, tabungan, kendaraan ataupun fasilitas lainnya secara resmi diberikan kepada putrinya yang bernama Luhan." Pembacaan hak waris dibacakan tak lama setelah kematian Ah Yung oleh pengacara yang ditunjuk.
Luhan dengan tenang menandatangani semua sertifikat untuk mengsahkan perpindahan nama dari segala asset yang ayahnya miliki.
"Mulai sekarang Mall menjadi sepenuhnya milik anda."
"Terima kasih."
"Dan dia Wu Yifan yang akan bekerja menjadi asisten anda."
Luhan menoleh pada seorang pria yang dimaksudkan sang pengacara. Menatapnya sebentar dan mengangguk paham.
"Ini surat dari tuan Kim Ah Yung yang beliau titipkan kepada saya."
Sedikit menyeringit, Luhan menerima sebuah amplop putih yang telah mengusam. Kemudian pertemuan itu berakhir di jam sembilan malam.
"Apa anda membutuhkan sesuatu?" Yifan menyela begitu melihat Luhan berdiri dari kursinya.
Pandangan keduanya beradu sebelum Luhan mengukir sebuah senyuman tipis. "Aku memiliki banyak rencana untuk mengembangkan kekayaan ayahku. Aku harap kau bisa aku andalkan tuan Wu Yifan."
"Aku akan selalu bisa kau andalkan nona Luhan."
Satu alis Luhan terangkat saat melihat senyuman Yifan yang tersemat begitu lemar. Oh, pria ini tidak sedang jatuh cinta kepadanya kan? "Kau tau? Satu hal yang harus seorang pembantu ingat adalah, untuk tidak jatuh cinta kepada majikannya." Setelah mengatakan itu, Luhan berlalu dari hadapan Yifan terkekeh kecil.
Yah, memang sepertinya itu benar. Yifan memukul kepalanya sendiri agar tersadar. "Salahkan dirimu sendiri jika aku benar-benar mencintaimu." Tapi sepertinya itu tidak cukup membuat Yifan sadar.
.
.
Di dalam kamarnya sendiri, Luhan duduk dengan selembar surat yang ia pegang. Matanya secara cermat membaca apa yang ayahnya tulis di kertas putih yang telah mengusam dan semakin jauh ia membaca, Luhan semakin tidak mempu menahan kesesakan hatinya yang selalu ia coba redam.
Bersama kesunyian dan kegelapan malam Luhan jatuh kembali dalam kesedihan. Tangisannya tercekat, teredam oleh bibir bawahnya yang ia gigit sekuat mungkin. Kini sepenuhnya Luhan mengerti pada kehidupan seperti apa yang ayahnya maksudkan. Sepenuhnya Luhan tersadar jika kehidupan ini tidak akan menjadi baik hanya karena sebuah keluarga harmonis, dunia ini tidak akan menjadi baik hanya karena kau bersikap baik. Kehidupan ini kejam! Dunia ini jahat jika kau tidak mampu untuk melawan.
-Flashback end-
.
.
.
.
.
To be continue..
Akhirnya setelah 5k yang panjang Flashbacknya kelar^^ ah, leganya^^ kan, kan, kan, direview pada nyumpahin Sehun sama aku semua. Kasihan dong orang ganteng gitu ko disumpahin. Mana pada minta Sad end lmao tapi emang sih si Sehun keterlaluan. Kenapa gini coba hahaha
Gimana flashbacknya. Udah kan? Duh, ternyata ga pada sabar ya. Jadi udah paham kan sama penderitaan Luhan di masa lalu? Maaf di chap ini HunHannya minim banget dan tolong jangan tanyakan keberadaan Yifan si naga botak bercula, karena dia bakal ada saatnya sendiri muncul lol dan ini kenapa Yifan lagi? Yifan mulu perasaan hahaha
Please, pas aku up chap tujuh kemarin BBM ku banyak dapat chat dari yang pada emosi hahaha tapi ga papa walau sebagian pada bilang pengen jambak rambut aku tapi aku seneng karena tandanya aku sukses bikin kalian bisa ngerasain apa yang Luhan rasain^^ jadi di sini gimana? Masih sukses atau gagal buat jungkir balikin emosi kalian?
Pada bilang Luhan bodoh. Dia cuma polos sebenarnya, terlalu polos malah. Macam malaikat(?) yang ga pernah berburuk sangka. Salahnya aja ditaruh di tempat iblis hidup. Tapi kan itu niat bapanya dia biar Luhan bisa mandiri, supaya ga manja dan begantung ke dia. Salahkan yang nulis kenapa jadi kaya gini huhuuhuu /sok polos/
Meimei04 : tsp udah up duluan ko lol
Wollfdeer520 : jangan dipotong mak, nanti habis hahaha
Kkkimsu614 : yaaaapppsss tepat banget tebakanmu. Ga boleh sad end ff ini sama ka rerenya lmao.
FF ini PR berat buatku Sehunnya parah berengseknya dan pasti chap kedepannya bakal susah TT padahal daftar chapnya masih numpuk sedangkan sama Ka Rerenya ga boleh SAD END loh, harus HAPPY END. Aku tau kalau sampai di chap tujuh kemarin kalian pasti bakal ga terima Luhan digituin, jadi aku sempet chat ke Ka rere dan yaaahhh emang ga boleh sad end. Jadi gimana next ceritanya ikutin alur dariku aja ya.
Doain supaya bisa selesein FF ini TT dan terima kasih untuk semua dukungan kalian, review kalian, favorit kalian dan follow dari kalian^^ Kalau ga suka atau bosen sama FF ini cukup keluar ya, ga usah balik lagi apa lagi review^^ Ok, selamat berpuasa untuk umat muslim juga jangan lupa dukung selalu kambek obba2 keceh kita^^
Kita ketemu di next chap.. see you :* Jump! Jump! Jump! Jump! We are HHS!
LOVE YOU ALL….
