Chapter 8

.

.

.

.

.

.

I Can See You

Naruto belong to Masashi Kishimoto

Genre: Supranatural,Mystery,Romance,Friendship

Beberapa karakter ada yang ooc untuk mendukung cerita.

Happy Reading^^

.

.

.

.

.

.

"HEY! Kumohon sadarlah!"

.

.

.

"SAKURA!"

Teriakan itu menggema, menusuk kupingnya. Membawanya kembali ke alam sadarnya. "Haaaaaaaaaah..." gadis tersebut mengambil napas dengan sangat dalam. Seperti orang yang baru saja, dapat bernapas kembali setelah sekian lamanya. Ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Memastikan pemandangan yang saat ini ia lihat adalah asli. Ia berpikir keras sebenarnya apa yang sedang terjadi padanya. Mimpi kah? Atau kah ia berkhayal lagi? Tapi semakin ia mencoba berpikir, maka ia semakin bingung mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.

Samar-samar, ia mendengar sebuah teriakan seseorang yang tak henti-hentinya memanggil namanya.

Suara itu lagi... bisakah mereka berhenti untuk sehari saja...

Namun bukannya berhenti, suara itu malah semakin jelas terdengar ditelinganya. Bukan. Itu bukanlah suara aneh seperti biasanya. Suara itu terdengar seperti suara seseorang manusia yang sedang memanggil namanya. Ia segera mengangkat kepalanya keatas, melihat kearah asal suara. Dan menemukan seorang pemuda tampan yang sedang berusaha keras menahan tangannya. "Sa-Sasuke-san? Apa yang sedang kau lakukan?"

Pemuda itu terdiam sejenak. Mencoba berpikir apakah kali ini sang gadis masih di alam mimpinya atau sudah sepenuhnya sadar. "...Sakura, sadarlah kondisimu saat ini. Apa kau masih belum sadar juga?!" serunya masih dengan raut wajah serius. Sakura berpikir sembari memperhatikan keadaan sekitar. Angin berhembus dengan kencang. Menerbangkan rambut indah panjangnya. Disekitarnya sudah gelap. Ia tak dapat melihat apa pun.

Namun saat melihat kearah bawah, ia tersentak. Akhirnya ia menyadari bahwa saat ini ia tak lagi berdiri di permukaan, ia pun berteriak dengan histeris. "Ja-jangan bergerak-gerak Sakura. Aku semakin tak bisa mengangkatmu." Sakura terlihat sangat panik sekaligus kebingungan. "Sa-Sasuke! Kenapa aku ada disini?! Dan kenapa aku menggantung seperti ini?! Apakah aku sedang bermimpi buruk?!" teriak Sakura panik. Sasuke kembali dibuat bingung oleh Sakura. "Kau tidak sedang bermimpi Sakura. Dan apa yang kau maksud? Kau sendiri yang... Ah sudahlah. Ini bukan waktu yang tepat untuk itu." ucapnya dengan keringat yang mengalir dengan deras di wajah tampannya. Ia harus kuat. Ini tidak main-main. Ia harus mengangkat Sakura secepatnya. Karena ia tahu tangannya tak dapat menahan tubuh sakura lebih lama lagi.

"Sakura... berikan tanganmu yang satu lagi. Aku akan menarikmu dalam sekali hentakan." Sakura tersentak mendengar perkataan Sasuke. "Ta-tapi bagaimana? Bukankah itu sangat sulit?" tanyanya. "Percaya lah kau pasti bisa... Sakura cepatlah...tanganku..sudah tidak kuat lagi." Seketika itu juga darah segar milik Sasuke keluar dari tangan sebelah kirinya. "Sa-Sasuke..." Sakura memandang Sasuke yang saat ini masih terus berusaha menariknya. "Ba-baiklah!" Sakura mengangkat tangan sebelah kanannya dengan sekuat tenaganya. Tangannya menggapai-gapai udara kosong, berharap dengan begitu ia akan berhasil menyentuh tangan Sasuke. Dan akhirnya ia berhasil! Setelah Sakura menggenggamkan tangannya padanya, Sasuke segera memegang kedua tangan Sakura dan segera menariknya dengan sekali hentakan.

Dan

Brak!

Mereka berhasil melewati pagar pembatas dan terjatuh tertidur dengan posisi Sakura menindih tubuh Sasuke.

Aku terjatuh? Tapi tidak merasakan sakit sama sekali. Malah terasa sangat nyaman dan hangat. Tunggu dulu! Apakah aku jatuh diatas tubuh Sasuke? Mimpikah ini? Jika ini hanyalah sebuah mimpi, maka ini adalah mimpi yang sangat indah untukku!

Tapi tunggu dulu! Kurasa ini bukanlah sebuah mimpi, seperti perkataan Sasuke sebelumnya. Sangat terasa asli. Seperti sebuah kenyataan. Yap kurasa ini benar-benar kenyataan dan bukan hanya mimpi!

Sakura mencoba meyakinkan dirinya kalau ini bukanlah sebuah mimpi. Ia masih belum sepenuhnya percaya pada perkataan Sasuke. Bisa saja mimpinya lah yang berkata seperti itu, benarkan?

Ia mengangkat kepalanya dan menemukan wajah Sasuke hanya beberapa senti dari wajahnya. Sakura dapat mendengar dan merasakan hembusan napas berat milik Sasuke. Menyadari hal ini, membuat Sakura salah tingkah dan segera menjauhkan tubuhnya dari Sasuke. Terlihat semburat merah muda menghiasi wajahnya yang pucat. Namun berbeda dengan Sakura, wajah Sasuke masih terlihat serius. Ia terlihat memegang dadanya dan mencoba mengatur napasnya. Apakah ia merasa sakit karena Sakura terjatuh diatasnya?

"Benar-benar! Kau telah sukses membuat jantungku hendak berhenti! Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan? Walaupun sebesar apapun masalahmu, kau tetap tak boleh melakukan hal seperti itu!" seru Sasuke dengan nada yang tinggi. Membuat Sakura tersentak sekaligus kebingungan karenanya. Ia tidak pernah melihat Sasuke marah sebelumnya. Jadi jika pemuda itu marah, sudah pasti hal ini merupakan hal yang serius.

"Melakukan hal itu? Memangnya apa yang telah aku lakukan?" tanya Sakura polos. Sasuke menghela napas panjang. Mencoba menenangkan dirinya. "Memangnya kau benar-benar tidak ingat?" Sakura terdiam sejenak. "Ingat apa...?" Sakura benar-benar bingung saat ini. Ia tidak dapat mengerti apa yang Sasuke bicarakan. Bahkan ia juga tak mengerti apa yang telah terjadi dengannya. Bukankah harusnya saat ini ia sedang berenang di kolam renang sekolahnya? Tapi ini apa? kenapa saat ini ia berada di atap sekolah? Dan bahkan hidupnya sempat terancam tadi. Apakah telah terjadi sesuatu, namun dirinya tidak dapat mengingat hal itu?

Melihat Sakura yang seperti orang amnesia membuat Sasuke menimbang-nimbang kembali, apakah ia harus menceritakan pada Sakura atau tidak. Setelah berpikir agak lama, akhirnya ia angkat bicara juga.

Malam hari di rumah sakit kecil Konoha High School. Rumah sakit yang tidak terlalu besar, namun cukup besar untuk dikatakan sebuah klinik. Di dalam gedung sekolah tak terdapat Unit Kesehatan Sekolah, pihak sekolah sengaja tak membuatnya karena telah membuat sebuah rumah sakit. Menurut mereka rumah sakit lebih efektif dibandingkan uks. Gedung rumah sakit dibuat luas, diharapkan dengan begitu dapat menangani seluruh siswa yang membutuhkannya, dokternya dipilih yang telah berpengalaman dan obat-obatan serta peralatanya sangat lengkap.

Seorang pemuda berambut raven memasuki kamar pasien bernomor 204 yang diketahui ditempati oleh seorang gadis cantik bernama Haruno Sakura. Ia membuka pintu tersebut dengan perlahan. Walaupun hanya berdiri di pintu, Sasuke dapat melihat dengan jelas bahwa gadis itu telah sepenuhnya berada dalam alam mimpinya. Sepertinya pilihannya untuk menjenguk di malam hari adalah pilihan yang buruk. Ia takut menganggu waktu istirahat gadis ini. Maka dari itu, ia memutuskan untuk tidak berlama-lama disini.

Ya sebenarnya jam besuk sudah habis sejak dua jam yang lalu. Namun setelah memohon pada sang suster dibagian resepsionis, akhirnya ia diperbolehkan menjenguk Sakura karena sang suster yang terpikat dengan ketampanan sang pemuda raven.

Ia berjalan mendekati ranjang yang berada di samping jendela. Ia menaruh sebuah buket bunga daisy yang bermakna kesembuhan. Dan berdiri disamping sang gadis yang tengah tertidur lelap. Ia berdiri dalam keheningan malam, memperhatikan wajah cantiknya. Dalam hati, ia berdoa semoga sang gadis segera sembuh dan kembali seperti biasa. Diam-diam ia merindukan senyum serta tingkahnya yang setiap kali dapat membuat jantungnya berdetak tak menentu.

Setelah dirasa cukup. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan kamar Sakura, agar gadis itu dapat beristirahat dengan tenang tanpa mendapatkan gangguan. Namun beberapa langkah sebelum mencapai pintu, Sasuke dapat mendengar rintihan kesakitan yang keluar dari bibir merah milik Sakura.

"To-tolong...sakit sekali..."

Sasuke dengan cepat membalikan tubuhnya, menghadap ranjang dimana Sakura tertidur. Namun anehnya ia tak dapat menemukan Sakura disana. "Sa-Sakura kau dimana?" tanyanya dengan suara pelan. Ia memutarkan tubuhnya menyusuri ruangan tersebut, namun tetap tak menemukan sang gadis. "Sakura! kau pergi kemana?" Sasuke melangkahkan kakinya menuju pintu. Ia mengira jika Sakura pergi keluar.

"Mencariku?"

Tiba-tiba suara milik sang gadis terdengar, begitu juga dengan teriakan kesakitan yang saat ini memenuhi kamar itu. "A-apa yang kau lakukan...?" tanya Sasuke memegang lengan kirinya yang berdarah sembari memandang Sakura yang berada tepat di belakangnya. Mata itu. Mata itu bukanlah milik Sakura. Mata yang penuh dengan rasa benci. Mata yang haus akan darah. Kemana? Kemana perginya mata hijau indah nan teduh miliknya? Apakah itu benar-benar Sakura?

"AAAAAAAA!" teriakan itu kembali terdengar. Sakura kembali menusukan pisaunya pada lengan kiri Sasuke. Sehingga membuat darah merah nan kental kembali mengalir membasahi tangan dan separuh bajunya. "Bagaimana? Bagaimana rasanya? Apakah sakit?" Sasuke diam tak menjawab. Rasa nyeri sangat terasa pada lengan kirinya. Sakura mengangkat pisaunya tinggi. Siap menusuk kembali bagian tubuh Sasuke.

"TAPI SAKIT YANG KAU RASA, TAK SEBANDING DENGAN RASA SAKIT YANG SELAMA INI KURASAKAN!"

Teriaknya dengan sangat keras dan mengarahkan pisaunya kembali dengan cepat pada Sasuke. Melihat hal ini, Sasuke segera menggulingkan tubuhnya ke samping sehingga menyebabkan dirinya menabrak sebuah lemari besi. "Aaah." Rintihnya ketika rasa sakit pada lengannya kembali dirasakannya saat menabrak lemari tersebut. Namun rasa sakit pada lengan dan tubuhnya tak dihiraukannya. Ia segera berlari kearah ranjang dan menekan tombol darurat. Ia tidak peduli jika dirinya akan ketahuan dan akan dihukum karena melanggar peraturan malam. Ia lebih peduli pada kondisi Sakura saat ini.

"Kenapa kau menghindar? Apa kau tidak mau merasakan apa yang selama ini kurasakan?"

Sasuke menatap Sakura tepat pada matanya. 'Tidak. Itu bukan Sakura. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Apa dia... kesurupan?'

Brak! Lagi-lagi Sasuke menghindari tusukan demi tusukan yang terus dihujamkan padanya dan kembali menabrak sesuatu dengan keras.

''Sial kemana pihak rumah sakit ketika mereka sedang dibutuhkan?!''

Sasuke berlari kearah pintu, namun saat akan menarik gagang pintu tersebut. Sakura melemparkan pisaunya dan menancap pada tangan kanan Sasuke. Sasuke meringis kesakitan dan jatuh terduduk. Dihadapannya berdiri Sakura yang saat ini terlihat sangat menyeramkan. "Sa-Sakura hentikan..." Ucapnya, tak mau lagi melihat sakura yang seperti ini. "Kenapa? Apa kau sudah tidak kuat lagi? Hmmm baiklah kalau begitu akan segera kuakhiri."

"YA KUAKHIRI DENGAN CEPAT! HAHAHAHA."

Gadis itu berteriak memecah keheningan malam. Suaranya kini tidak lagi terdengar seperti suara Sakura yang seperti biasa. Suaranya rendah, dan sarat akan kebencian dan kemarahan. Benar-benar sangat menyeramkan. Kikikannya yang aneh terdengar di sela-sela pergerakan kaku kepala dan jari-jari tangannya. Terlihat sangat kaku seperti tak pernah digerakan sejak lama. Kikikannya mampu menusuk gendang telinga siapa pun yang mendengarnya. Gemertakan giginya, terdengar hebat di telinga Sasuke.

Sakura memajukan tubuhnya dan menempelkan tangannya di leher Sasuke. Lalu ia mencekiknya dengan sangat kencang. Kaki Sasuke menendang nendang lantai dibawahnya. Tangannya mencoba melepaskan kedua tangan Sakura, namun anehnya tenaganya tak cukup kuat untuk melepaskan tangan sang gadis.

"MATI! MATI KAU! AKHIRNYA AKU BISA MEMBAWA MU KE NERAKA BERSAMA KU! HAHAHAHA."

Sasuke semakin sulit bernapas. Pandangannya memudar. Sakura terus mengucapkan kata-kata yang tak lagi dapat didengar oleh Sasuke. Jadi... Apakah ini akhirnya?

"HAHAHAHAHAHAHA. MATI!"

Namun ketika kesadarannya perlahan menghilang, pegangan pada lehernya berangsur-angsur melemah. Ia dapat mendengar tubuh yang diyakininya sebagai tubuh Sakura terjatuh disampingnya. Dibelakangnya samar-samar dapat ia lihat, seorang dokter dan seorang suster serta perawat laki-laki.

Sang dokter terlihat panik dan menyuruh sang perawat laki-laki untuk mengangkat Sakura kembali pada tempatnya. Sementara sang suster berlari mendekati Sasuke dan menanyakannya apa dia baik-baik saja. Sasuke tak menjawabnya. Ia mengerjab-ngerjabkan kedua matanya mencoba memfokuskan penglihatannya. Merasa pertanyaannya dihiraukan, suster itu kembali bertanya pada Sasuke dan menawarkan dirinya untuk mengobati Sasuke. Kesadaran Sasuke sudah kembali sepenuhnya. Sasuke melirikan pandangannya pada suster tersebut dan berkata bahwa ia baik-baik saja dan segera berjalan dengan susah payah menuju ranjang Sakura.

"Dokter kumohon tolong dia..."

Sang dokter akhirnya menyadari bahwa ada orang lain yang seharusnya tak berada disana. Karena sedari tadi dirinya terlalu sibuk memperhatikan pasiennya. "Apa yang kau lakukan disini? Memangnya kau tidak tau jam besuk sudah habis sejak lama!"

"Ma-maafkan aku dokter! Ini semua memang salahku. Aku yang mengizinkannya masuk! Dia tidak bersalah. Kau bisa menyalahkanku!"

Sasuke tersentak mendengar perkataan sang suster. Apa yang dia bilang? Jelas-jelas ini memang salahnya yang memaksa suster itu untuk menjenguk Sakura, padahal ia tahu betul. Tidak boleh lagi menjenguk pasien saat malam hari. Namun saat akan mengeluarkan suaranya. Sang suster memberikan kode padanya untuk tetap diam. Dan anehnya ia menurutinya. Salah ini semua salah. Ia tidak ingin suster itu mendapat masalah karenanya. Tapi anehnya, mulutnya saat ini tak dapat mengeluarkan suara apapun. Apakah karena kejadian yang tadi?

Sang dokter menghela napas panjang. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mempersalahkan hal ini. Toh memang sudah kejadian, tidak mungkin kan jika ia memarahi suster itu, gadis ini akan kembali seperti sebelumnya. Ya benar sebaiknya ia fokus pada pasiennya yang saat ini telah terlelap oleh obat penenang.

"Matsuri!"

Sang suster yang merasa namanya dipanggil segera mendatangi sang pemanggil. "I-iya dok?" Dokter itu terdiam memandangi suster muda yang berada dihadapannya. Diperhatikan seperti itu membuatnya menjadi gugup. Apakah dokter ini akan memarahinya? "Kau tau kan tugas seorang suster?" sang suster meneguk ludah mendengar pertanyaan dokter lalu menganggukan kepalanya pelan. "Bagus. Kalo begitu tunggu apalagi?" Matsuri, sang suster muda mengerutkan dahinya. Perkataan sang dokter sangatlah membingungkan dirinya. Sebenarnya apa yang dia maksud?

Sang dokter yang melihat suster tersebut masih berdiri disampingnya. Mulai hilang kesebarannya. "Kenapa kau telmi sekali! maksud ku segera obati pemuda itu. Cepat!" sang suster terrsentak kaget dan segera menggandeng Sasuke yang terlihat sangat khawatir dengan keadaan Sakura menuju keluar ruangan. Tak lupa sebelum itu ia membungkukan tubuhnya hormat. "Terima kasih dokter!"

Sang dokter kembali menghela napas. Kenapa suster macam dia bisa bekerja disini? Namun ia berusaha untuk tidak memikirkan hal itu dan segera memeriksa kondisi Sakura. Dokter itu mengerutkan dahinya. Saat ini ia benar-benar bingung, sebenarnya apa yang telah terjadi pada pasiennya ini. Menurutnya pasiennya ini tak mengidap sebuah penyakit serius, apalagi penyakit kejiwaan. Tapi mengapa ia sampai bertingkah seperti ini? Mimpi berjalankah? Atau ia terlalu kecapekan? Atau... tidak. Tidak mungkin. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengusir dugaan yang menurutnya tidak mungkin terjadi.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"Ku obati ya." ucap suster tersebut namun hanya dibalas pandangan datar Sasuke. "Tidak usah. Aku baik-baik saja." Sasuke mengalihkan pandangannya pada ruangan kamar yang cukup jauh dari tempatnya duduk saat ini. Sakura...

Saat ini perasaannya sangat campur aduk menjadi satu. Rasa bingung,sakit,bersalah dan khawatir melanda dirinya yang saat ini terlihat kacau dengan noda darah yang memenuhi baju dan celana panjangnya.

Jika terjadi sesuatu pada Sakura, Ini semua pasti karena aku. Kalimat itulah yang selalu diulangnya berkali-kali

"Kalau tidak diobati nanti malah infeksi. Ku obati ya." ucap suster tersebut setengah meminta ditengah keheningan yang sedari tadi melanda mereka. Sebenarnya Sasuke tidak terlalu mempedulikan lukanya saat ini, namun saat melihat tatapannya yang seperti itu, membuat sasuke tak tega untuk menolaknya kembali. Akhirnya Sasuke pasrah menuruti permintaan sang suster. Ketika Sasuke menerima tawarannya, raut wajahnya terlihat sangat bahagia. Sepertinya suster ini menyukai Sasuke. Ya tentu saja. Sangat wajarkan? Karena semua gadis yang pernah bertemu dengannya pasti akan langsung jatuh cinta padanya.

.

.

.

.

"Nah sudah selesai. Bagaimana?"

Sasuke memperhatikan lengannya yang saat ini telah di perban dengan sangat rapi. Ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Suster itu senang bukan kepalang. Mendengarnya berbicara bagaikan medengar suara yang indah yang berasal dari surga. "Ya tentu saja. Inikan sudah tugasku untuk menolong orang yang sedang terluka. Dan hmmmm...kulihat kau masih mengkhawatirkan gadis itu...tenang saja! kurasa ia akan baik baik saja. Karena saat ini ia sedang ditangani oleh dokter yang paling handal disini. Jadi, menurutku lebih baik kau kembali ke asrama mu. Aku yakin dokter tidak akan mengadukannya pada Tsunade-Sama. Tapi akan sangat berbahaya jika penjaga menemukan kamarmu kosong. Jadi kembali lah sekarang! Terang suster itu sembari memberikan senyuman yang menurutnya paling manis. Mendengar hal ini membuat Sasuke sedikit bernapas lega. Dan ia merasa suster itu benar. Sebaiknya ia segera kembali ke asramanya, karena tak ada lagi yang bisa dilakukannya disini.

Sudah ada para suster dan para dokter yang akan menjaga Sakura dengan baik. Jika ia masih disini mungkin, akan semakin mempuruk keadaan. Sasuke mengangguk tanda mengerti dan berpamitan untuk kembali ke asrama.

Diluar rumah sakit.

Angin malam, terasa sangat dingin hingga menusuk tulangnya. Sasuke menggigil kedinginan. Seharusnya ia pergi dengan jaket dan syalnya. Sehingga tak perlu merasa kedinginan seperti ini. Namun rasanya sudah terlambat untuk menyesalinya. Akhirnya ia pun memutuskan untuk memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya, berharap dengan begitu tubuhnya akan merasa hangat.

Saat ini langit sedang menampakan pemandangan malam hari yang indah. Langit berwarna hitam kelam, dihiasi sinar bulan purnama yang hangat dan bintang-bintang yang bertebaran di hamparan langit.

"Bulannya... Indah sekali." Sasuke terpana melihat pemandangan yang berada diatasnya. Sepertinya melihat langsung dengan melihat di jendela terasa cukup berbeda. Sasuke merasa seperti terhipnotis untuk terus memandangi bulan tersebut. Ya sebenarnya ia memang jarang sekali melihat bulan apalagi bulan yang sedang purnama. Karena biasanya dia disibukan dengan tugas sekolah,eskul basketnya, dan tanggung jawabnya sebagai ketua osis membuatnya selalu pulang malam hari dan langsung tertidur pulas tanpa sempat memandang langit yang ternyata sangat indah.

Dari arah belakang, ia mendengar sebuah benda terjatuh. Sasuke membalikan tubuhnya untuk memeriksa apa yang sebenarnya telah terjatuh sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Namun apa yang diliatnya, tak pernah disangkanya. Kedua matanya membulat melihat apa yang saat ini sedang berlari dihadapannya.

"Sa-Sakura?" Sasuke menatap gadis tersebut dengan tatapan tak percaya. Kaca jendela kamarnya yang berada dilantai tiga terbuka dengan lebarnya, menyebabkan gorden kamarnya bertiup melambai terkena angin malam.

"A-apa dia melompat dari sana?"

Sasuke berdiri tak bergeming ketika Sakura berlari melewatinya dengan kecepatan tinggi. Tunggu sebentar. Kenapa orang sakit bisa berlari secepat itu?! Sasuke tersadar dari lamunannya dan segera mengejar Sakura. "Sakura tunggu!" teriak Sasuke namun sama sekali tak dihiraukan oleh Sakura. Ia tetap berlari seperti orang kesetanan.

'Sial!' umpatnya dalam hati. Bahkan dirinya, seorang kapten basket yang handal, yang selalu berlatih dengan keras, selalu dipuji puji oleh orang-orang. Tak mampu mengejar seorang gadis yang sedang sakit. Ia benar-benar malu pada dirinya sendiri.

Sasuke mencoba sekuat tenaga untuk mempercepat larinya, namun segera memperlambatnya ketika mengetahui kemana arah tujuan mereka. Gedung sekolah lama. Sasuke sama sekali tak mengerti. Kenapa Sakura tiba-tiba menjadi seperti ini. Kenapa bisa dia lompat dari jendelanya yang berada dilantai tiga tanpa luka sedikit pun. Kenapa orang yang sakit dapat berlari dengan sangat cepat. Dan kenapa ia mengarah pada gedung tua ini. Ia tersentak ketika Sakura sudah memasuki gedung tersebut. Bukankah gedung tersebut seharusnya dikunci dengan baik? Tapi kenapa dapat ditembusnya dengan mudah?

"Tidak ada waktu untuk memikirkan hal ini." ucapnya menyadarkan diri lalu segera menyusul Sakura memasuki gedung tersebut.

.

.

.

.

Sasuke sudah tertinggal jauh dari Sakura. Sial sebenarnya berapa kecepatan lari gadis tersebut? Ia mencoba berlari sekuat tenaganya, menghiraukan lengan kirinya yang masih terasa sakit ketika berkali-kali menabrak dinding ketika mengejar Sakura. Saat ini ia sudah berada di lantai empat. Namun tak sedikit pun ia menemukan jejak Sakura dilantai ini. Ia pun memutuskan untuk naik satu lantai lagi, karena menurutnya sangat mustahil jika Sakura berlari ke lantai bawah. Tunggu lantai atas kan... Atap sekolah! Sasuke-menduga-duga apa yang akan Sakura lakukan disana-mempercepat kakinya menaiki tangga. Namun naas baginya kakinya tersandung dan jatuh tersungkur. "Sial kenapa diwaktu yang tidak tepat seperti ini!" Sasuke segera mendirikan tubuhnya tak mempedulikan tubuhnya dan lengannya yang terasa sakit.

.

.

.

.

Di atap gedung sekolah lama.

Angin berhembus dengan kuatnya ketika Sasuke membuka pintu dan menyebabkan debu-debu berterbangan mengenai matanya. Ia mengucek-ngucekan matanya, berharap dengan begitu rasa perih pada matanya akan menghilang. Ketika ia dapat melihat lagi dengan jelas, Sasuke membulatkan matanya. Tak mempercayai apa yang diliatnya sekarang. Dugaannya ternyata benar. Gadis merah muda itu sedang berdiri diluar pagar yang membatasi atap sekolah. Sasuke melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju gadis itu. "Sakura... dengarkan aku. Tetap disana ok? Jangan berbuat gegabah." Sasuke terus melangkahkan kakinya. Sakura... gadis itu menokan kepalanya menghadap Sasuke. Dapat dilihat olehnya, raut wajah gadis itu penuh dengan kesedihan. Kesedihan yang amat sangat, sehingga membuat siapa pun yang melihatnya sangat terpukul. Namun tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi sangat menyeramkan.

"WAHAHAHAHA SELAMAT TINGGAL DUNIA. SELAMAT TINGGAL KESEDIHAN. AKU BEBAS SEKARANG."

Sakura membentangkan kedua tangannya dan melompat menuju permukaan.

"TIDAKKKK!"

.

.

.

.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

"Kau bilang kau hanya ingat bahwa kau sedang berenang dikolam renang? Kalau tidak salah kejadian itu sudah berlalu sejak 4 hari yang lalu." Terang Sasuke yang kini sudah mulai tenang.

Sakura membelalakan kedua matanya tak percaya. Benarkah semua yang dikatakan Sasuke? Ia benar-benar sulit untuk mempercayainya. Tapi ia yakin bahwa Sasuke tak pernah berbohong. "Aku menusuk lenganmu? Lompat dari lantai tiga? Terjun dari atap? Telah berlalu selama 4 hari? Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun..."

Sakura mengacak-acakan rambutnya. Ia tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti. Bagaimana ia bisa tak mengingat hal itu? Apakah karena khayalannya lagi? Tidak tidak itu tidak mungkin. Sakura terlihat seperti seorang yang sedang depresi saat ini. Sasuke menatap Sakura dengan penuh kekhawatiran. "Sakura..." tanpa sadar pemuda itu mendekatkan dirinya pada sang gadis dan mengarahkan tubuh gadis yang terasa semakin kurus dan rapuh pada pelukannya. "Tenang lah... Aku ada disini untukmu." Mendengar hal itu membuat air mata Sakura mengalir dengan derasnya. Ucapan Sasuke sukses sekali mengingatkannya pada ibunya yang selalu mengucapkan hal itu ketika Sakura takut ataupun cemas akan sesuatu. Ya entah mengapa ucapan itu membawanya kembali pada masa-masa indah saat ia menghabiskan waktunya dengan ibunya.

Sakura mengeratkan pegangannya pada baju Sasuke. "Aku takut... benar-benar takut..." ucapnya ditengah tengah isakan tangisnya. Sasuke hanya terdiam sembari terus mengelus rambut gadis itu, berharap dengan begitu dapat menenangkannya.

"SAKURA!"

Suara seseorang wanita memanggil nama sang gadis membuat Sasuke mengokan kepalanya kesamping. "Tsu-Tsunade-sama." Mendengar hal itu membuat Sakura tersentak dan menghentikan tangisnya. "Apa yang kau lakukan disini! Kenapa kau kabur dari rumah sakit? Semua dokter dan perawat panik mencarimu. Kenapa kau ini suka membuat onar!" teriak Tsunade-sang kepala sekolah pada Sakura. Gadis itu diam tak menjawab, namun air mata kembali mengalir pada kedua mata indahnya. Melihat tubuh kurus dan wajah pucatnya membuat Tsunade tak tega memarahinya. Ia menghela napas dan mengarahkan pandangannya pada Shizune seorang asisten yang berdiri dibelakangnya. "Shizune! Cepat hubungi rumah sakit! bilang jika Sakura sudah ditemukan." Seru Tsunade. "Ba-baiklah Tsunade-sama." Shizune segera melangkahkan kakinya, meninggalkan ketiga orang yang saat ini dilanda keheningan.

"Sakura... mulai saat ini kau akan dirawat di rumahku. Aku tidak peduli kau suka atau tidak. Yang jelas aku tidak ingin ayahmu memarahiku." Ucapnya mendekati Sakura lalu membawa gadis yang masih lemah itu menuju rumahnya. Namun kakinya berhenti ketika ia mengingat sesuatu. "Melanggar peraturan dan keluar dari asrama saat malam hari, harusnya dihukum dengan berat. Namun kali ini kau, aku maafkan. Kembalilah ke kamarmu sekarang. Dan... terima kasih." Ucap Tsunade lalu meninggalkan sang pemuda yang masih terdiam berdiri dibelakangnya.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Dilain pihak. Shikamaru, Karin, Choji, Kiba, Lee, Ino dan Hinata sedang sibuk menggeledah ruangan arsip yang berada tak jauh dari gedung sekolah. Entah mengapa ruangan yang biasanya berada di dalam gedung sekolah, justru dibuat sebagai bangunan mandiri. Mungkin karena saking banyaknya arsip yang ada, mengingat sekolah ini sudah dibuat sejak jaman dahulu kala. Kalau dihitung-hitung dari pertama kali sekolah ini dibuat, Tsunade-sama adalah generasi yang ke delapan belas. Jadi sudah cukup lama, bukan?

Ruangan atau yang dapat disebut gedung arsip ini, cukup atau bahkan dapat dibilang sangat luas. Mungkin setara dengan ruangan perpustakaan sekolah. Walaupun begitu, penjagaan di gedung arsip tidaklah seketat di gedung sekolah. Dari pagi hari hingga sekitar jam 8 malam, hanya terdapat dua orang penjaga. Sedangkan saat tengah malam, hanya terdapat satu penjaga. Itupun hanya berjaga didepan gedung, tanpa berkeliling ke sekitar. Namun tak pernah ada guru yang mempersalahkan hal ini, bahkan kepala sekolah juga tak terlalu mempedulikan penjagaan ini, karena selama ini tak pernah ada yang berani melanggar peraturan keluar dari asrama, dimulai sejak pukul 9 malam. Mau tak mau para murid harus menaatinya, jika tidak ingin diberikan sanksi yang berat.

Walaupun begitu, ketujuh anak ini sangat nekat melanggar aturan itu. Bahkan hingga menggeledah gedung arsip. Kegiatan ini sudah beberapa hari mereka lakukan, namun mereka tak dapat menemukan petunjuk apapun tentang pembunuhan diruang musik maupun tentang kutukan tersebut.

"Hoammm..." ini sudah kesekian kalinya Shikamaru menguap dan mengangkat tangannya tinggi ke udara, merilekskan tubuhnya yang telah berkutat berjam-jam pada arsip arsip tersebut. Ia menyenderkan punggungnya pada sandaran bangku. Dan menompangkan kepalanya ditangan kanannya. Sembari menghapus jejak airmata yang dihasilkan dari kegiatannya-menguap-tadi. Saat ini jam dinding sudah menunjukan pukul 1 malam. Mereka masih mencoba untuk fokus pada bacaan mereka masing-masing. Walaupun mereka tahu, sangat susah untuk berkonsentrasi dalam keadaan seperti ini.

"Shikamaru! Hentikan kegiatan menguapmu itu! kau akan membuang waktu jika melakukan itu terus!" tegur Ino yang melihat shikamaru yang sedari tadi bertingkah tidak serius. "Kenapa kau melarangku untuk menguap? Menguap itu adalah tingkah alami seorang manusia. Lagipula wajarkan jika aku merasa ngantuk. Kita sudah begadang selama 3 hari. Jika bukan karena kalian memohon padaku, aku tidak akan membantu kalian. Mendokusai." Shikamaru memberikan pandangan malasnya pada Ino.

"Jangan seperti itu dong Shika! Kita kan sudah setuju untuk menolong mereka." Seru choji yang baru selesai membaca arsip sekolah yang didepannya tertulis 'data Siswa/i tahun ajaran 1985/1986', mencoba mengingatkan shikamaru kembali.

"Ya Choji benar! Kita harus membantu semampu kita! Ayo Shikamaru, kembali lah bersemangat!" Lee memunculkan kepalanya dibalik rak yang penuh dengan arsip. Shikamaru menghela napas panjang ketika mendengar perkataan teman-temannya yang sama sekali jauh dari kata 'membelanya'. Memang benar ia sudah setuju untuk menolong menghilangkan kutukan itu. Tapi... ia merasa saat ini melakukan sebuah hal yang sia-sia karena sampai saai ini, mereka tidak mendapatkan petunjuk sekalipun.

"Tapi kita sudah berkutat pada bacaan ini selama 3 hari, dan arsipnya sudah hampir semua kita baca. Tapi tak sedikit pun petunjuk kita terima..." Ucap Kiba yang mulai frustrasi karena tak mendapatkan petunjuk apapun. Shikamaru melirikan pandangannya pada Kiba, dalam hati ia merasa senang akhirnya ada seseorang yang membelanya. "Ya Kiba benar! Kurasa memeriksa arsip sekolah bukanlah hal yang tepat. Tidak mungkin kan sekolah akan membahas kutukan serta pembunuhan itu dan menulisnya di arsip ini?" Karin mulai nimbrung sembari membetulkan letak kacamatanya. Semuanya menunduk ketika menyadari apa yang mereka lakukan selama ini adalah sia-sia. Melihat hal ini membuat Hinata menjadi sedih.

"Te-teman teman walaupun begitu, kita tidak boleh menyerah. Aku yakin pasti ada cara bagi kita untuk mengetahui sesuatu tentang kutukan itu." Ucap hinata mencoba untuk menyemangati kembali teman-temannya yang saat ini terlihat sudah tak bersemangat. "Tapi bagaimana? Memangnya ada cara lain selain ini?" tanya Kiba yang sudah mulai lelah. "Enggg itu..." Hinata kelabakan mencari jawaban atas pertanyaan Kiba. Sebenarnya dia sendiri tak tahu apa lagi yang dapat ia lakukan agar menghentikan kutukan itu, tapi menurutnya masih terlalu cepat 100 tahun untuk menyerah sekarang. Karena ia yakin apapun caranya mereka pasti dapat menghentikan kutukan itu. Tidak peduli bagaimana pun caranya, mereka harus menghentikan kutukan tersebut, karena saat ini nyawa sahabatnya lah yang menjadi taruhannya.

Semua terdiam. Selama beberapa saat, hanya suara dentingan jam lah yang terdengar di sekitar mereka. Mereka mencoba berpikir keras, cara apa yang selanjutnya dapat mereka pakai.

Seperti dapat ilham darimana, Choji yang sedari tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan teman-temannya, menjentikan jarinya ketika mengingat sesuatu. "Shikamaru!" shikamaru yang mendengar namanya dipanggil, hanya menyaut tak semangat. "Bukankah kakek mu pernah sekolah disini? Kenapa kita tak menanyakan dia saja?" terang Choji dan dihadiai sebuah senyuman dari yang lain. "Ah! benar sekali! Shika kenapa kita tidak mencoba itu saja!" ucap Karin antusias.

"Hmmmmm" Shikamaru terlihat sedang memikirkan dalam-dalam usulan dari sahabat gemuknya itu. "Menanyakan kakek ku adalah hal yang mustahil. Dia adalah orang yang tertutup, pasti dia tidak akan memberitahukannya pada kita. Tapi... kurasa kita bisa menanyakan ayahku. Dia juga pernah bersekolah disini." semua bersorak gembira mendengar penuturan shikamaru. Mereka merutuki diri mereka sendiri, karena kebodohan yang disebabkan oleh mereka, telah membuang waktu yang sangat berharga. Kenapa tidak dari dulu saja mereka melakukan hal ini!

"Hebat sekali Choji! Kau sangat jenius! Kenapa kau bisa kepikiran hal itu?" seru Lee senang. "Ah bukan apa-apa." jawab Choji malu malu. "Terima kasih Shikamaru." Ino merasa sangat senang dan memberikan senyum bahagianya pada shikamaru. Melihat hal ini membuat shikamaru risih dan membuang wajahnya kesamping. Dari dulu ia memang tidak suka jika melihat seorang gadis tersenyum padanya. Tentu saja minus bocah merah muda itu! "Tidak masalah. Mendokusai." Karin terkekeh melihat tingkah Shikamaru. Ia sangat mengetahui sifat Shikamaru, melebihi teman-temannya yang lain. Dari dulu sikap sahabatnya ini tidak pernah berubah. Selalu saja malu jika ada seorang gadis yang tersenyum padanya.

Ditengah-tengah perayaan kebahagiaan, perkataan Kiba yang tiba-tiba, membuat semangat mereka kembali menurun.

.

.

.

.

"Bagaimana cara kita menghubungi ayah shikamaru?"

.

.

.

.


Haaaa! Akhirnya chapter 8 selesai. Menurut kalian tiap chapter yang aku bikin kepanjangan gak sih? Masa aku ngerasa panjang banget._. makanya dichapter sebelumnya gapernah ada penjelasan tentang sekolah ini. Tapi kayaknya lebih bagus kalo dikasih penjelasan. Menurut kalian gimana? Mungkin chapter sebelumnya bakalan aku rombak sedikit. Agak keblenger juga kebanyakan tokoh, jadinya dialog mereka cuma sedikit deh. Tapi pengen semuanya ada di fic ini3 Sooo minna-san! don't forget to review! I really hope you will fill out the review. Altough only one or two words.

Lot A Love

Ghost writer234