Naruto and Highschool DxD Xover
Tittle : The Man Who Can Choose
Directed By : Masashi Kishimoto dan Ichie Ishibumi
Rated : M
Pairing : Naruto x OC
Warning : Mainstream, Typos, Stress!Naru, Bahasa tidak baku, Banyak kesalahan, Newbie
Summary : Aku hanyalah manusia biasa yang menjalani kehidupan dengan normal sampai aku tau kalau didalam diriku tersimpan kekuatan yang sanggup memusnahkan seluruh alam semesta hanya dengan kehendakku.
Story Start!
.
.
.
Matahari bersinar dari ufuk timur menandakan awal baru di hari itu. Terlihat orang-orang mulai beraktivitas sesuai dengan kebutuhan mereka, mulai dari istri yang menyiapkan sarapan untuk keluarganya, suami yang berangkat untuk mencari nafkah, sampai dengan remaja yang berangkat ke sekolah demi mendapat ilmu untuk persiapan masa depan mereka.
Hampir sama dengan yang lain, sebuah panti asuhan dengan nama Panti Asuhan Mikado yang terletak hampir di sudut kota juga memulai hari ini dengan beraktivitas seperti biasa. Terlihat beberapa anak yang menyapu lapangan dengan riang gembira, beberapa anak yang lain juga terlihat menyirami tanaman dengan senyuman, ada juga seorang remaja yang terlihat berlarian di pagi hari ditemani dengan seekor anjing doberman yang mengejarnya dari belakang.
Tunggu, apa!?
"JANGAN MENGEJARKU ANJING BAIIIIKKK!"
Remaja itu, Naruto berteriak lantaran anjing di belakangnya mulai menyusulnya dengan mengatupkan rahangnya berkali-kali, seolah itu adalah tanda bahwa anjing itu siap menggigit Naruto jika dirinya memasuki lingkup serangannya.
Naruto dengan susah payah mempercepat larinya tanpa memedulikan rasa lelah dan sakit yang ada di kakinya.
"WAAARRGGHHH, KENAPA INI BISA TERJADIIIII!"
"Yah, itu karena sekarang kau secara resmi telah menjadi bagian dari Lost Clover. Jadi, mulai hari ini dan seterusnya kau akan latihan demi bisa melindungi dirimu sendiri"
Ternyata Naruto tidak berlari sendirian, di sebelahnya seorang anak laki-laki dengan celana hijau dan jersey hitam juga ikut berlari bersama dengan Naruto. Berbeda dengan Naruto yang mulai kehabisan nafas, anak laki-laki itu bahkan tidak mengeluarkan keringat setetespun.
"Bagai...mana...sekolahku?" Tanya Naruto yang kecepatannya sudah mulai menurun.
"Baiklah, ayo berhenti"
Laki-laki itu, Hayama Morito, menghentikan larinya dan anjing yang sebelumnya mengejar mereka juga ikut berhenti dan bermanja-manja di kaki Hayama. Melihat itu, Naruto juga menghentikan larinya.
"Masih ada waktu sekitar 30 menit sebelum sekolahmu mulai. Kau boleh mandi di sini, kami sudah menyiapkan seragam sekolahmu juga" Terang Hayama sambil mengeluarkan biskuit anjing dari sakunya dan memberikannya pada anjing peliharaannya.
"Kau menyiapkan seragamku?"
"Jangan heran, di panti ini juga ada anak-anak seumuranmu yang bersekolah di SMA. Sudah sana"
"Baik, Hayama-san"
"Sudah kubilang, jangan panggil aku seperti itu"
"Baik, kapten Morito"
Setelah membungkuk sedikit, Naruto masuk ke dalam panti untuk kembali ke kamarnya. Kemarin dirinya diperbolehkan menginap di panti ini dan dirinya tidak keberatan akan hal itu, terlebih saat ini di rumahnya tidak ada siapapun sehingga Naruto cukup senang tidur di sini apalagi banyak anak-anak yang memang sangat disukai Naruto.
.
(TIME SKIP)
.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Naruto turun dari lantai dua yang memang diperuntukan sebagai kamar anak-anak yang tinggal di panti, menuju lantai satu tepatnya di ruang makan. Di sini Naruto tidak ada bosannya terkagum dengan interior yang ada di ruang makan. Ruang makan ini terlihat seperti ruang makan yang ada di film Harry Potter, hanya saja dengan skala yang lebih kecil.
Di sini sudah banyak anak yang menempati bangku yang disediakan, melihat itu Naruto juga mengambil tempat di bangku kosong yang berada diantara gadis berambut biru dan pria berambut pirang kecoklatan.
"Selamat pagi, Ethel"
Pandangan Ethel tidak lepas dari makanan yang ada di hadapannya, seolah itu lebih penting daripada menjawab salam dari Naruto. Naruto sedikit meringis tapi dia biarkan, dia akhirnya berusaha mengambil makanan yang ada di meja.
*plak*
Tangan Naruto ditepis oleh Ethel yang masih setia mengawasi makanannya.
"Err, apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Naruto sambil mengelus tangannya. Dia akui gadis bermata semerah darah di sebelahnya memiliki kekuatan yang lumayan.
"Kau pasti anak baru. Di sini ada peraturan kau boleh makan setelah kepala panti berbicara dan mempersilahkan anak-anak untuk makan" Ucap remaja berambut pirang kecoklatan yang ada di sisi lain Naruto.
"Begitu rupanya. Maaf, aku masih baru di sini. Namaku Uzumaki Naruto"
"Salam kenal Naruto, kau bisa memanggilku Matos dan yang di sebelahku ini adalah adikku"
"Salam kenal, aku adiknya Matos. Kau bisa memanggilku Citrus" Ucap riang gadis di sebelah Matos.
Naruto berusaha mengingat nama dan juga penampilan mereka. Matos dan Citrus memiliki warna rambut yang sama yaitu pirang kecoklatan dan menurut Naruto, mereka berdua memiliki umur yang berdekatan, mungkin kembar pikir Naruto.
Matos memiliki ukuran tubuh yang hampir sama seperti Naruto, dengan sebuah ikat kepala hitam di kepalanya, memakai kaos putih dilengkapi jaket tipis berwarna kuning gelap dan untuk bawahan dia mengenakan celana jeans hitam. Di kantong jaketnya, Naruto bisa melihat sepasang sarung tangan berwarna putih yang sengaja dikeluarkan sedikit agar lebih mudah mengambilnya.
Sementara Citrus adalah perempuan yang memiliki proporsi tubuh yang cukup sempurna. Berbeda dengan wajahnya yang imut dan ucapannya yang riang, pakaian yang dikenakan Citrus cukup liar dan terbuka. Citrus hanya memakai sebuah top bra berwarna putih yang memperlihatkan perutnya dan dilapisi dengan jaket kulit berwarna hitam, untuk bawahan dia mengenakan celana kulit berwarna hitam. Naruto juga melihat sebuah topi hitam di atas meja yang kemungkinan milik Citrus.
Sebuah kesimpulan langsung berada di kepala Naruto begitu melihat mereka berdua,
'Mereka berdua pembalap liar'
*ting*
Dari meja para pengawas yang lantainya lebih tinggi dari lainnya, terdengar suara dentingan yang membuat semua orang mengalihkan pandangannya ke arah yang sama.
Di meja yang cukup panjang itu terdapat lima buah kursi yang sayangnya hanya diisi oleh dua orang dengan perawakan yang setara dengan anak SMP. Satu diantaranya adalah laki-laki yang Naruto tau yaitu Morito, sementara untuk perempuan di sebelahnya adalah sosok baru di mata Naruto.
"Karena kita kedatangan teman-teman baru, aku akan mengenalkan diriku dan kuharap ini menjadi yang terakhir kalinya" Ucap perempuan yang mengenakan seragam pelaut itu berdiri dari kursinya yang sayangnya membuat dirinya terlihat lebih rendah karena kursi yang dia duduki cujup tinggi..
"Aku adalah kepala panti di panti asuhan ini, namaku Hayama Sayuri" Ucap Sayuri dan kembali duduk dengan sedikit melompat ke kursinya.
"Gadis sekecil itu! Kepala panti!?" Gumam Naruto yang terdengar oleh Matos dan Citrus membuat mereka berdua menahan tawa mereka.
"Aku wakil kepala panti asuhan ini, namaku Hayama Morito. Kuharap kalian bisa menunjukkan sedikit kesopanan di hadapan ibuku" Ucap Morito.
"IBU!?" Teriak Naruto spontan. Tentu saja itu membuatnya dilihat oleh semua orang.
"Itu benar. Umurku lebih tua dari Morito, bocah. Kau puas?"
Sayuri menanyakan hal itu dengan nada bosan sambil memainkan sendok di tangannya.
Setelah meminta maaf sembari membungkukkan badannya, Naruto kembali duduk dengan tenang sambil menutupi rasa malunya.
"Baiklah. Aku akan menjelaskan beberapa peraturan yang cukup penting dan kuharap kalian semua mendengarkannya walaupun kalian sudah tau. Di panti asuhan ini, terdapat asrama yang mencampurkan laki-laki dan perempuan, meskipun begitu jika kalian kedapatan melakukan hal-hal di luar batas kewajaran maka tentunya kalian akan dihukum dengan berat"
Naruto mendengarkannya dengan seksama.
"Di panti ini, kalian diwajibkan untuk berkumpul di ruang makan dua kali sehari. Yang pertama untuk sarapan dan yang kedua untuk makan malam. Untuk jam malam, gerbang panti akan ditutup dari jam 9 malam. Meskipun begitu, ada saja anak yang keluar panti melewati jam malam dan pastinya mereka akan diberi hukuman"
Sayuri menjelaskan beberapa peraturan panti dengan sangat sederhana. Walaupun sedikit panjang lebar, tapi itu sudah menjawab beberapa pertanyaan di kepala Naruto. Mungkin satu-satunya pertanyaan di kepala Naruto adalah berapa umur wanita yang saat ini Ia dengarkan.
"Untuk sementara itu saja. Sekarang kalian boleh sarapan, bagi mereka yang sekolah silahkan berangkat, bagi mereka yang tinggal silahkan lakukan aktivitas kalian dengan semangat"
Ucapan itu mengakhiri penjelasan Sayuri dan akhirnya mereka semua makan dengan santai, meskipun ada anak-anak yang masih bermain dengan makanan mereka dan berjalan kesana-kemari, tapi masih dalam batas kewajaran.
Naruto sendiri makan dengan lahap karena makanan di hadapannya memang lezat. Naruto mengalihkan pandangannya ke arah Ethel dan melihat cara gadis itu makan seperti anak umur 5 tahun dan itu sangat menghangatkan hati. Naruto berbalik dan melihat Matos dan Citrus makan dengan cepat dan langsung meninggalkan ruangan makan sambil membawa piring kotor mereka masing-masing.
Setelah beberapa saat Naruto telah selesai sarapan dan disusul oleh Ethel yang langsung berdiri membawa piringnya, Naruto tentu mengikutinya.
Setelah selesai meletakkan piring mereka di tempat yang disediakan, Naruto dan Ethel berjalan beriringan menuju SMA Kuoh. Naruto mengikuti Ethel karena Naruto yakin Ethel tidak terganggu dengan hal semacam ini.
"Ethel"
Ethel tetap berjalan seolah tidak mendengar apapun.
"Eng...Ethel-san?"
Masih tidak ada jawaban dari Ethel.
"Ingat Nak Naruto. Ethel itu istimewa. Dia tidak akan menanggapi panggilanmu. Jika kau memang ada pertanyaan untuknya, langsung saja bertanya"
Ucapan Morito tadi malam kembali terngiang di kepala Naruto. Membuat Naruto memandang gadis di sebelahnya dengan sendu, dan itu membuat suasana di sekitar mereka menjadi suram. Jika saja ada hal yang bisa Naruto lakukan untuk membantu Ethel.
[PILIHLAH]
Entah kenapa Naruto senang mendengar suara ini. Sudah lama Naruto tidak senang saat mendengar suara ini, tunggu, mungkin itu karena memang dirinya tidak senang saat suara ini muncul di kepalanya. Apapun itu, sekarang Naruto sedang dalam mood yang baik.
[1. Menggendong Ethel sampai ke kelasnya]
[2. Digendong Ethel sampai ke kelasmu]
"Ethel, tolong berhenti sebentar" Ucap Naruto tiba-tiba dan Ethel sendiri langsung berhenti dan melihat ke arah pemuda pirang di sampingnya yang menggaruk belakang lehernya.
"Berapa berat badanmu?"
.
.
SMA Kuoh memiliki beberapa gerbang yang bisa digunakan untuk jalur keluar-masuk para murid. Akan tetapi saat pagi hari, hanya satu gerbang yang dibuka agar menjaga ketertiban dan kedisiplinan siswa. Terlihat beberapa siswa telah lalu lalang memasuki gerbang, ada juga yang berhenti di depan gerbang sekedar menunggu teman mereka, dan dari semua itu para siswa tidak melepaskan pandangannya dari seorang siswa, lebih tepatnya dua siswa.
"Terima kasih Ethel, telah mengizinkanku untuk menggendongmu"
Siswa laki-laki itu, Naruto mengatakan hal itu setelah dirinya melewati gerbang yang tentunya menjadi bahan tontonan bagi semua orang yang ada di sana bahkan para guru.
Ethel, yang berada di punggung Naruto tidak memberikan jawaban apapun, dia tetap pada wajahnya yang tanpa ekspresi, walaupun perlu diakui bahwa Ethel memiliki wajah yang cukup imut karena saat ini jaket bertudung yang biasa dipakai Ethel tengah diikatkan di pinggangnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Jadi, di mana kelasmu?" Tanya Naruto telah memasuki gedung utama dan mengambil sepatu ruangan miliknya dan milik Ethel sekaligus. Naruto tidak bisa menurunkan Ethel dari punggungnya karena perintah yang diterimanya kali ini adalah mengantarkan Ethel sampai ke kelasnya.
"...Sepuluh...ketiga..."
'Ketiga? Maksudnya kelas C?'
Sambil memikirkan hal tersebut, Naruto membawa Ethel ke kelas yang menurut Naruto benar. Selang beberapa saat, Naruto telah sampai di depan kelas yang disebutkan Ethel.
"Benar ini?"
Anggukan Ethel membuat Naruto menurunkan gadis itu.
"Baiklah. Sampai jumpa, Ethel" Ucap Naruto sambil menepuk kepala Ethel lembut. Ethel sendiri hanya diam dan langsung masuk ke dalam kelasnya, begitu juga dengan Naruto.
.
.
"Bagaimana dengan pelatihan yang dilakukan Rias terhadap Sekiryuutei?"
Di ruang OSIS, terlihat Sona sedang duduk di kursi kerjanya dengan Tsubaki yang setia berdiri di sampingnya. Selain mereka berdua juga ada beberapa anggota OSIS lain yang mengerjakan tugas mereka masing-masing.
"Berdasarkan familiar yang saya kirim, Hyodou Issei mengalami perkembangan dalam hal kemampuan, walaupun baru kemarin mereka memulai latihan. Seperti yang Kaichou prediksi, Rias Gremory terlalu fokus pada Hyodou Issei hingga membiarkan bidak lain"
Sona mengangguk mendengar penjelasan wakilnya. Dia memang cukup yakij dengan spekulasinya tentang rencana Rias, tapi begitu mendengar kebenarannya dari wakilnya, Sona tidak bisa untuk tidak bangga kepada kinerja otaknya.
"Batalkan pengawasan kita terhadap Rias, tidak ada yang perlu kita lihat lagi dari kelompok Rias. Dengan pelatihan yang seperti itu, sudah sangat jelas Rias akan kalah dalam Rating Game ini tanpa elemen kejutan" Perintah Sona pada Tsubaki.
Sebagai iblis, tentu Sona juga harus mengawasi Rias karena ada kemungkinan Sona akan berhadapan dengan Rias dalam Rating Game di masa depan. Curang? Anggap saja itu sebagai sebuah antisipasi yang dilakukan Sona. Licik? Sona lebih suka menyebutknya sebagai taktik, dan juga sebagai iblis dia rasa ini adalah hal yang wajar.
*tok tok tok*
*cklek*
Sebuah ketukan pintu terdengar dan tanpa menunggu jawaban, orang yang berada di luar telah membuka pintu. Orang itu adalah salah satu anggota OSIS yang juga merupakan iblis dari keluarga Sona Sitri, Tomoe Meguri. Dengan tatapan bertanya yang diberikan Sona, Tomoe berdiri di depan meja Sona.
Sona memang sedikit bertanya-tanya perihal alasan kenapa knight-nya terlihat terburu-buru. Seingat Sona, dirinya memberikan perintah kepada Tomoe untuk mengawasi Uzumaki Naruto. Dengan ingatan itu, Sona bisa menebak apa yang akan dilaporkan Tomoe.
"Lapor, Kaichou. Uzumaki Naruto terlihat melakukan kontak dengan murid tahun pertama kelas C, Ethel Fencer"
Ethel Fencer. Tentu saja Sona tahu jika gadis itu adalah salah satu makhluk supranatural, lebih tepatnya setengah youkai. SMA Kuoh adalah satu-satunya sekolah menengah yang berada di kota Kuoh, jadi sudah pasti banyak orang yang akan mendaftar di sekolah ini, tidak terkecuali dengan para makhluk supranatural dan pengguna sacred gear.
Sona adalah tipe orang yang lebih menggunakan kepalanya, jadi dia hanya mengawasi gerak-gerik dari semua murid yang masuk daftar pengecualian. Berbeda dengan sahabatnya, Rias yang haus kekuatan pasti akan langsung mengundang para murid kuat ke dalam klubnya. Mengingat sahabatnya itu, Sona sedikit kesusahan dalam menjaga teritori iblisnya.
Mengesampingkan hal itu, Sona memandang Tomoe.
"Hentikan pengawasan untuk sementara dan biarkan Uzumaki-kun bergerak dengan leluasa untuk sementara. Karena laporan tadi masih belum cukup untuk menjadi bukti apakah Uzumaki-kun memiliki hubungan dengan Kirishima Akari"
"Siap, Kaichou"
Setelah Tomoe keluar ruangan OSIS, Sona berdiri dari kursinya.
"Kaichou?" Panggil Tsubaki.
"Kau tidak perlu mengikutiku, aku ingin mencari udara segar untuk sementara waktu"
Tanpa menunggu jawaban dari orang-orang di dalam ruangan, Sona sudah keluar terlebih dahulu yang secara kebetulan terdengat suara bel tanda istirahat.
.
.
Atap sekolah. Sebuah tempat yang pasti dijadikan sebagai pilihan saat jam istirahat berlangsung. Akan tetapi, kali ini atap sekolah sedang dalam kondisi sepi karena memang murid-murid tidak suka datang ke atap saat istirahat pertama, mereka lebih suka datang ke sini saat istirahat kedua di siang hari karena lokasi ini sangat cocok untuk makan siang dengan teman.
Walaupun sepi, pastinya ada satu dua murid yang akan datang ke sini untuk mencari tempat sepi, contohnya Naruto yang saat ini sedang tiduran di lantai sambil melihat awan-awan layaknya orang yang sedang banyak pikiran.
Naruto mengingat saat dirinya mengantarkan Ethel ke kelasnya, Naruto sempat mendengar pembicaraan teman sekelas Ethel.
"Ethel-chan, sepertinya kau sudah masuk jajaran murid aneh di sekolah ini, ya. Bahkan kakak kelas kita yang terkenal gila sampai menggendongmu"
"Lagipula kalian memang cocok satu sama lain. Senpai yang gila dan kouhai yang autis"
"Hahahahaha"
Naruto mengambil posisi duduk. Semakin Naruto memikirkannya, semakin dirinya kesal dengan semuanya.
"Apa aku memang tidak cocok berteman dengan orang lain? Tunggu, memangnya apakah aku benar-benar waras?" Tanya Naruto melihat tangannya sendiri.
Apa benar suara di kepalanya adalah sacred gear seperti yang dikatakan asistennya, Kanarin. Apa benar semua kejadian yang dia alami benar adanya. Apa benar dirinya tidak gila. Apa benar dia cocok bergaul dengan teman sebayanya. Apa benar teman sekelasnya menganggap dirinya sebagai teman mereka. Semua pertanyaan itu hinggap di kepala Naruto.
Naruto mengacak-acak rambutnya dengan kasar sampai beberapa helai rambutnya rontok dan jatuh ke lantai.
"Sepertinya kau melakukan hal aneh lagi, Uzumaki-kun"
Sebuah suara menghentikan tindakan Naruto. Naruto menoleh ke belakang dan melihat Sona berdiri dengan meminum susu kotak rasa vanilla.
"Kaichou"
Naruto kembali melihat awan. Tanpa disuruh, Sona duduk di sebelah Naruto.
"Boleh aku tahu apa yang terjadi?" Tanya Sona hati-hati. Sona tidak tega melihat adik kelasnya tertekan seperti ini, apalagi Naruto adalah adik kelasnya yang mewarnai hari-hari beratnya.
"Apa aku benar-benar waras?"
Sona terkejut mendengar pertanyaan Naruto. Dengan suasana seperti ini, Sona sangat yakin Naruto bertanya hal itu dengan serius. Sedikit saja salah maka itu dapat memengaruhi mental Naruto, Sona yakin tentang itu.
"Apa yang membuatku berpikir dirimu tidak waras?" Tanya balik Sona.
"Aku bisa mendengar suara dalam kepalaku sejak umurku 10 tahun. Suara itu menyuruhku untuk melakukan hal-hal aneh. Lalu suatu hari seorang gadis mengatakan padaku tentang dunia supranatural, sacred gear, para iblis di sekolah, dan hal aneh lainnya. Apa itu benar adanya?" Tanya Naruto dengan pandangan kosong, tanpa sadar beberapa tetes air mata jatuh dari manik biru itu.
Sona menggigit bibirnya saat mendengar pertanyaan itu. Naruto terus menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dari awal sampai masalah Ethel yang dia dengar. Sona tidaklah bodoh untuk langsung menjawab pertanyaan itu, justru ini adalah kesempatan emas bagi Sona untuk mengorek informasi dari Naruto.
"...Itu benar. Semua yang kau dengar dan kau alami adalah sungguhan"
Sona tidak bisa mengabaikan hati nuraninya. Walaupun dia adalah iblis, tapi entah kenapa dia tidak ingin adik kelasnya depresi seperti ini. Walaupun dia ingin meminimalisir orang yang mengetahui dunia supranatural, tapi Sona tidak bisa mengambil kesempatan dari kelemahan seseorang. Di mata Sona, mental Naruto tengah berada pada titik terlemahnya.
Naruto masih diam walaupun dirinya sedikit terkejut mendengar jawaban Sona.
"Di dunia ini ada hal yang tersembunyi yang tidak boleh diketahui oleh orang biasa. Akan tetapi, jika kau sudah tahu akan hal itu maka tidak ada jalan untuk kembali menjadi normal. Jika yang kau katakan benar, maka kau sudah tidak normal sejak suara pertama itu terdengar di kepalamu" Jelas Sona.
"Jadi aku benar-benar gila"
"Sepertinya kau salah tangkap, Uzmaki-kun. Kau bukan gila, kau hanya tidak normal karena kau sudah mengetahui hal yang tidak diketahui oleh orang normal. Kau juga mendengar penjelasan tentang iblis di sekolah, kan. Kuberitahu, itu benar dan aku adalah iblis tersebut"
Sona berdiri dan menunjukkan sayapnya yang mirip seperti kelelawar. Naruto mulai mendapatkan kembali kesadarannya. Melihat itu, Sona menghilangkan sayapnya dengan cepat.
"Jadi aku tidak gila?" Tanya Naruto juga berdiri dan memegang pundak Sona.
"Orang gila tidak bisa berpikir seperti yang kau lakukan. Jadi aku jamin kau tidaklah gila, Uzumaki-kun. Semua kegilaan yang kau lakukan adalah karena sacred gear yang ada di dalam tubuhmu. Jadi..."
Sona menggantungkan kalimatnya, Naruto menunggu dengan sabar.
Jadi...jangan kau pendam masalahmu seorang diri. Aku akan membantumu sebisaku, lagipula itu adalah tugas ketua OSIS untuk membantu murid yang kesulitan" Lanjut Sona sedikit menundukkan wajahnya sehingga Naruto tidak bisa melihat wajahnya.
"Ah! Maaf, Kaichou"
Naruto melepaskan pundak Sona.
"Jadi begitu. Semua yang terjadi adalah nyata" Naruto kembali meliaht tangannya dan mengepalkannya.
"Jam istirahat akan berakhir, sebaiknya kau kembali ke kelas. Ingatlah OSIS bersedia membantumu" Ucap Sona.
"Iya. Terima kasih banyak, Kaichou. Dan juga maafkan aku sudah menunjukkan sifatku yang aneh di depanmu"
"Justru aku lega, Uzumaki-kun. Kau mau menceritakan hal itu padaku. Aku juga akan membantumu dalam kasus bullying Ethel Fencer"
"Sekali lagi, terima kasih Kaichou. Sampai jumpa lagi"
Naruto akhirnya berlari pergi dari atap meninggalkan Sona seorang diri. Sona melihat awan.
"Apa yang sudah kukatakan..."
.
.
Setelah melewati beberapa jam, pelajaran di sekolah telah usai dan waktu telah menunjukkan sore hari. Seperti yang dijanjikan Naruto kepada Morito bahwa dirinya akan mulai latihan sepulang sekolah, jadinya Naruto tengah dalam perjalanan menuju panti asuhan Mikado, tentunya dengan Ethel di sampinya.
Sebenarnya dalam diri Naruto masih ada perasaan bersalah kepada Ethel lantaran hal yang terjadi tadi pagi. Akhirnya Naruto sedikit menjaga jarak terhadap Ethel hingga akhirnya mereka telah sampai di panti.
"Oi, Naruto"
Sebelum Naruto masuk gerbang panti, seseorang memanggilnya yang membuat Naruto berhenti. Berbeda dengan Ethel yang terus berjalan memasuki kawasan panti. Melihat orang yang memanggil, Naruto melihat Matos dan Citrus berjalan menghampirinya.
"Matos-san, Citrus-san"
Naruto dapat melihat pakaian yang mereka kenakan. Matos dan Citrus mengenakan seragam sekolah yang Naruto tahu bukan SMA Kuoh. Akan tetapi masih ada yang sama dari mereka berdua, Matos masih mengenakan ikat kepalanya sementara Citrus masih mengenakan topinya.
"Ya ampun. Matamu merah, apa kau baru saja menangis?" Tanya Citrus melihat mata Naruto yang merah dan agak bengkak.
Naruto baru ingat, dirinya juga menangis saat berdiam diri di toilet pada jam pulang. Bukannya cengeng, tapi Naruto masih ingat percakapan yang dia lakukan dengan Sona sehingga membuat hatinya sakit mengingat dirinya yang sangat depresi.
"Yah, banyak hal terjadi. Apa kalian juga baru pulang sekolah?" Jawab dan tanya Naruto. Mereka akhirnya memutuskan berjalan bersama.
"Begitulah. Apa kau punya rencana setelah ini?" Tanya Matos.
"Setelah ini aku harus bertemu dengan kapten Morito untuk melakukan sesuatu. Memangnya ada apa?"
"Tidak apa, jika kau memang ada urusan. Sampai jumpa lagi"
Dengan tergesa-gesa, Matos dan Citrus berlari meninggalkan Naruto sendirian.
'Ada apa dengan mereka?' Batin Naruto.
"Hei, Nak Naruto"
Sebuah suara memanggilnya dari belakang. Menoleh, Naruto melihat Morito memberi kode padanya untuk bersiap.
Detik itu Naruto membulatkan tekadnya untuk tidak akan menyerah dalam hal apapun, baik itu gangguan dari suara di kepalanya, adik kelas yang harus dia jaga, dan pelatihan yang akan akan menantinya.
.
.
.
Akhirnya saya kembali, dari chapter ini saya akan berusaha mengubah jalan ceritanya sehingga berbeda dari yang sebelumnya. Selanjutnya tolong maafkan saya jika adegan Naruto yang depresi sedikit tidak berasa karena memang saya kurang tahu bagaimana cara nulisnya.
Berikutnya adalah pengenalan tokoh baru,
Hayama Sayuri adalah karakter Higuchi Sayuri di manga Gun X Clover.
Matos dan Citrus adalah karakter dari game mobile android Speed Drifter.
Terakhir saya akan menjawab pertanyaan di bagian bawah mulai sekarang,
Q : Asu njing
A : watdepak
Q : Apa kekuatan Ethel sama kayak di game?
A : Ya, kekuatannya hampir sama.
Q : Gunakan bahasa daerah lagi
A : Kapan-kapan ya
Q : Aku baca dari 1 sampai 7 nggak ada yang menarik
A : Saya akan berusaha lebih keras
Q : Lanjut
A : Tentu
Akhir kata,
Aquarius, Out
