"Iya, Soonyoung kenapa, Ji?"bukannya menjelaskan, tangis Jihoon makin pecah.

"Tadi aku melihatnya hiks dia mencium puncak kepala Haina hiks seperti seorang kekasih." Wonwoo mengusap punggung mungil itu dengan sayang. Ia tahu bagaimana keadaan perasaan Jihoon sekarang.

"Aku takut, nu, hiks aku takut." Jihoon terisak. "Aku sangat takut kehilangannya." Dan air mata itu terus mengalir dari mata sipit Jihoon. Gadis mungil itu memeluk Wonwoo dengan sangat erat.

"Ji, sabar, ku mohon."


-gimmelatte-

PRESENT

Interesting Feeling

.

Cinta pandangan pertama adalah sesuatu yang mustahil untuk seorang Kwon Soonyoung. Namun saat bertemu dengan gadis mungil yang menarik perhatiannya, akankah Kwon Soonyoung menarik semua perkataan itu?

.

Kwon Soonyoung x Lee Jihoon

Slight! Jishua (JihoonxJoshua), Cheolhan, Junhao, Meanie

.

Genre : romance, sad

Rated : T

.

WARNING

Typo(s), genderswitch, au, alur tidak menentu.


Soonyoung tersenyum kecut. Ia tak percaya, sekarang dirinyalah penyebab orang yang dicintainya itu menangis. Pemuda bermata sipit itu memukul tiang di sampingnya berkali-kali. Mendengar tangisan dan isakkan itu keluar membuat hatinya tercabik. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk tubuh mungil yang bergetar karena tangisan itu. Ingin rasanya ia yang menenangkan gadis itu dari tangisannya, namun Soonyoung tau, ia bukanlah siapa-siapa gadis mungil itu.

Soonyoung menyandarkan tubuhnya pada tiang di sampingnya. Tangannya meremat sweater yang ia gunakan. Kali ini Soonyoung benar-benar merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Ia tetap disana, mendengarkan curhatan gadis mungil kepada sahabatnya.

"Aku takut, nu.."

"Ji, control emosimu. Kalau kau seperti ini terus-menerus, tak akan aku izinkan kau berhubungan lagi dengannya." Soonyooung terhenyak saat mendengarkan kata-kata yang di ucapkan gadis yang berada di samping gadis mungil itu.

"Aku tak tahu harus apa lagi sekarang. Aku bisa saja terus menerus berbohong dengan orang-orang bahwa aku tidak mencintainya, namun kenyataan pada hatiku terbalik, dan perasaan itu tidak bisa di bohongi, nu. Aku benar-benar di ujung tanduk sekarang. Aku benar-benar takut kehilangannya."

Soonyoung mengusap wajahnya kasar. Perasaannya tidak menentu sekarang. Lusa juga sang ayah akan kembali terbang ke Belanda dan hal itu membuat sang ibu makin leluasa melancarkan rencana pertunangannya dengan Haina.

'Ku mohon kau bisa bersabar, Ji. Aku sedang mencari jalan keluarnya,' batin Soonyoung.

Hari-hari terus berjalan. Semenjak kejadian hari itu, Jihoon mulai membiasakan dirinya dengan kehadiran Sooyoung untuk mengantar jemput sang adik. Gadis mungil itu duduk di salah satu bangku meja makan, menopang dagunya menggunakan punggung tangannya. Pagi ini seperti biasa, Soonyoung akan datang menjemput sang adik dan mengantarnya ke kampus. Kekanakan memang menurutnya, namun itu sudah menjadi perintah sang ibu dan ibunda Soonyoung. Jihoon bangkit dari duduknya saat bunyi bel menggema, dan langsung berjalan menuju pintu utama. Gadis mungil itu tersenyum melihat pemuda bermata sipit di depannya ini berpakaian santai. Walaupun hanya mengenakan jeans, kaos cokelat di padukan dengan jaket jeans, tetap saja membuat pemuda di depannya terlihat tampan.

"Masuk." Jihoon membukakan pintu dan langsung menyuruh pemuda tersebut masuk. Soonyoung tersenyum dan hal itu membuat hati Jihoon berdegup seperti biasa.

"Kau sudah makan?" Jihoon mengangguk menjawabnya.

"Haina masih di dalam kamar." Gadis bermata sipit itu langsung mengalihkan topik pembicaraan seperti biasanya.

"Oppa!" Soonyoung dan Jihoon menoleh saat suara Haina terdengar.

"Kajja!" Soonyoung berbalik dan langsung melangkahkan kakinya keluar apartment.

"Unni, aku pulang seperti biasa." Pesan Haina, kemudian Jihoon mengangguk.

"Aku akan menginap di apartment Wonwoo, lusa baru pulang. Kalau kau ingin makan, pesan saja, aku tak yakin kalau kau memasak nanti." Jihoon sedikit meledek sang adik membuat Haina mendecih sebal.

"Aku tau aku tak bisa memasak sepertimu." Haina langsung melangkahkan kakinya keluar dari apartment, meninggalkan Jihoon yang melihat mereka berdua dari ambang pintu.

'Perlahan namun pasti, aku akan coba melepasmu,' Jihoon menggulung senyumnya tipis.

Wonwoo berjalan cepat menuju pintu apartment milik sang kekasih. Senyumnya mengembang saat melihat sang sahabatnya datang.

"Kau bilang nanti sore kau datang, Ji."

"Memang kenapa kalau aku datang lebih cepat? Tak boleh? Yasudah kalau begitu aku pulang saja." Jihoon membalikkan tubuhnya dan langsung di tahan oleh Wonwoo saat gadis mungil itu hendak melangkahkan kakinya.

"Astaga, kau ini. Tak apa kau datang lebih cepat, aku juga kesepian disini."

"Mingyu memang kemana?"

"Biasa."

"Kantor?" Wonwoo mengangguk cepat dan hal itu membuat Jihoon mengendus sebal. "Bukankah kalian kesini ingin liburan dan mengurus pernikahan kalian?" gadis mungil itu kembali bertanya.

"Kau sudah mengenal Mingyu lebih dulu daripada aku, jadi harusnya kau lebih tau tabiatnya." Jihoon mendecih pelan dan gadis mungil itu langsung berlalu masuk ke dalam apartment milik Mingyu, hal itu membuat Wonwoo ingin meneriaki gadis mungil itu maling.

"Bagaimana dengan Soonyoung?"

"Bagaimana apanya?" Jihoon menghempaskan tubuhnya di sofa cokelat yang berada di ruang tengah.

"Dia kan satu minggu belakangan ini sering mengantar jemput adikmu, apa kau tidak cemburu?" Wonwoo datang menghampiri sang sahabat dan duduk di single sofa yang berada di sisi kanan Jihoon. Gadis mungil yang di tanya seperti itu hanya tersenyum simpul. Bohong kalau ia tak kecewa, bohong kalau ia tak cemburu, namun ia berusaha untuk menerima semua itu, karena dirinya sadar, bahwa ia tak akan bisa memiliki Soonyoung. Jihoon menghela napas sebelum berujar.

"Ya, mau bagaimana lagi? Cih, egois sekali kalau aku cemburu."

"Perasaan tidak bisa di bohongi, Ji."

"Entahlah, aku terlalu malas untuk membahas itu." Jihoon memejamkan matanya. Semalaman ia belum tidur, memikirkan tentang rencananya mengambil s2.

"Oh, iya, nanti Seungkwan akan kesini, menjemputku untuk mengajar, terus ia ingin bertemu denganmu."

"Aku juga ingin bertemu dia sebenarnya, aku ingin tahu apakah ia masih bawel seperti biasa atau sudah berubah."

"Nanti kau akan tahu sendiri."

"Kau ingin makan apa, Ji?" Wonwoo melangkahkan kakinya menuju dapur.

"Apa saja yang kau masak akan aku makan. Kamarku dimana? Aku ingin tidur." Jihoon mendudukkan tubuhnya menghadap dapur –lebih tepatnya menghadap Wonwoo.

"Di kamar paling pojok, Ji. Di depan kamarku." Jihoon mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar. Pandangannya ia tujukan keseluruh penjuru ruangan apartment milik Mingyu. Ia mengingat terakhir kali ia kesini saat pertunangan pemuda tampan bermarga Kim dengan gadis cantik bermarga Jeon.

Mata Jihoon terpaku pad arak buku besar yang berisikan ratusan buku berbagai judul. Saat dulu dirinya sering kesini, Jihoon tak pernah melihat rak buku ini, karena Jihoon sangat tahu, Mingyu bukan tipe orang yang suka membaca.

"Nu, itu semua buku milikmu?" Wonwoo berdeham keras mengiyakan pertanyaan Jihoon.

"Dasar kutu buku, dimana saja pasti meninggalkan jejak." Jihoon menggeleng ringan kemudian berjalan menuju kamar yang sudah di siapkan oleh Wonwoo.

Mata sipit itu semakin menyipit saat melihat beberapa foto selfie dirinya dengan gadis mungil yang selalu mengisi harinya beberapa bulan kebelakang ini. Wajah manis serta pipi tembam itu berhasil membuat seorang pemuda bermarga Kwon jatuh hati. Senyum yang manis itu juga bisa menyihir perasaan siapapun, maka dari itu, pemuda bermarga Kwon itu sangat takut kehilangan gadis mungil yang ia lihat foto-fotonya.

FLASHBACK

"Ji!" Gadis yang di panggil menengokkan kepalanya dan tersenyum hangat.

"Maaf membuatmu menunggu lama."

"Tak apa, ayo duduk." Jihoon menggeser bokongnya dan mempersilahkan pemuda di sampingnya untuk duduk.

"Kau sudah makan siang?" gadis mungil yang berada di sampingnya itu menggeleng cepat.

"Biasanya aku makan setelah selesai mengajar."

"Jangan di biasakan makan telat, nanti kau sakit."

"Arra~" Jihoon menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku kayu yang ia duduki. Soonyoung tersenyum saat melihat jari-jari mungi dan lentik milik Jihoon tersembunyi di balik swater kebesarannya. Pemuda bermata sipit itu menggerakkan tangannya dan menggenggam tangan mungil gadis di sampingnya yang terasa pas, seperti pelukannya.

Jihoon menengok kaget membuat Soonyoung tertawa lepas. Ia mengangkat genggaman tangannya ke depan. Melihat perbedaan tangannya dengan tangan Jihoon.

"Tanganmu mungil."

"Kan tidak lucu kalau badanku mungil tapi tanganku besar."

"Biarkan saja, biarpun begitu, kau tetap lucu dimataku." Soonyoung mengecup punggung tangan Jihoon dengan sayang dan hal itu tentu membuat hati keduanya berdegup kencang.

"Gombal eoh." Jihoon mengalihkan pandangannya –menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Aku tidak menggombal, aku hanya berbicara fakta, Jihoonie." Jihoon mendongakkan kepalanya. Pipinya sangat panas sekarang. Mungkin sekarang pipinya sudah seperti kepiting rebus. Soonyoung mengeluarkan ponsel dengan tangan kirinya.

"Ji, selfie?" gadis bermata sipit itu langsung menoleh kearah Soonyoung dan mengangguk lucu. Soonyoung menekan ikon kamera pada layar datar ponselnya, kemudian mengangkat ponselnya sejajar dengan wajahnya dengan wajah Jihoon.

Soonyoung tersenyum puas setelah mengambil beberapa gambar dengan beberapa gaya dengan gadis pujaannya. Darimulai Jihoon mencubit kedua pipiny dari belakang, saling mencubit hidung, Jihoon mengalungkan tangan di leher Soonyoung, dan berbagai macam gaya yang mungkin membuat orang lain berspekulasi bahwa keduanya adalah sepasang kekasih. Pemuda bermata sipit itu memasukkan ponselnya kedalam saku mantel yang ia kenakan.

"Sudah jam 12, Ji, mau aku antar?" Jihoon mengangguk.

"Tapi nanti mampir ke café sebentar tak apa?" Soonyoung menganggukkan kepalanya setuju. Kemudian tangannya kembali terulur dan menggenggam jemari mungil milik Jihoon dengan erat. Keduanya langsung berjalan menuju mobil Soonyoung. Seperti biasa, Soonyoung membukakan pintu untuk Jihoon sebelum masuk ke dalam mobil.

Keduanya tak ada membuka suara atau memulai pembicaraan. Alunan musik terus mengalun mengisi kekosongan di mobil sedan putih milik Kwon Soonyoung. Pemuda bermata sipit itu memberhentikan mobil tepat di depan café yang pernah ia kunjungi bersama gadis mungil di sampingnya. Soonyoung bergegas turun kemudian membukakan pintu mobil untuk Jihoon.

"Aku bisa sendiri, Kwon." Soonyoung hanya tersenyum kikuk mendengarnya. Sudah berkali-kali ia mendapat teguran kecil seperti itu, namun Soonyoung tetaplah Soonyoung. Ia tetap melakukan itu.

Pemuda bersurai hitam itu melngkahkan kakinya memasuki café mengikuti langkah kaki Jihoon menuju kasir.

"Americano satu, kau mau?"

"Cappuccino satu." Jihoon langsung mengeluarkan dompet miliknya dan membayar semuanya sebelum Soonyoung mengeluarkan dompetnya.

"Biar aku yang traktir sekarang." Soonyoung mengangguk saja kemudian memasukkan dompetnya kembali.

"Bisa di tunggu 5 menit lagi." Ujar kasir sembari memberikan struk pembelian.

Mata sipit itu sesekali mencuri pandang kearah gadis di sampingnya. Semua yang di lakukan Jihoon dapat menarik atensinya. Gadis yang dulu di anggapnya dingin ini malah bersikap sebaliknya saat Soonyoung sudah mengenalnya lebih dekat. Hanya saja ada yang belum berubah dari seorang Jihoon, yaitu omongannya yang pedas dan menusuk.

Jihoon mengambil dua cup berukuran sedang, kemudian memberikan cup berisi cappuccino kepada pemuda di sampingnya.

"Terimakasih trakirannya." Jihoon hanya mendecih pelan setelah mendengar perkataan itu.

"Kajja, aku hampir telat." Gadis bertubuh mungil itu menggenggam tangan Soonyoung kemudian menariknya. Soonyoung senyum-senyum sendiri di buatnya.

"Arra, arra." Pemuda bermata sipit itu mengikuti langkah kaki Jihoon keluar dari café.

Soonyoung langsung menancap gas menuju sekolah tempat dimana Jihoon mengajar vokal. Tiba-tiba terbesit rasa ingin tahu bagaimana suara Jihoon saat menyanyi.

"Ji, menyanyilah untukku." Jihoon langsung menolehkan kepalanya kearah Soonyoung.

"Tidak, suaraku mahal."

"Astaga pelitnya."

"Biarkan saja."

"Ayolah, Ji, sedikit saja, untukku, hanya untukku."

"A NI O" Jihoon menekankan suaranya di setiap penggalan kalimat. Soonyoung akhirnya mengalah dengan mengatupkan bibirnya rapat.

Soonyoung memberhentikan mobilnya tepat di depan pagar sekolah tempat Jihoon mengajar.

"Sudah sampai." Jihoon mengangguk. Gadis mungil itu langsung membuka pintu dan keluar dari mobil.

"Gomawo!" Jihoon menutup pintu sedan putih itu. Soonyoung menurunkan kaca mobil.

"Ji!" Jihoon membalikkan tubuhnya dan membungkukkan badannya. "Kalau kau butuh aku, telepon saja, oke?" Jihoon menganggukkan kepalanya. Senyummnya mengembang.

"Annyeong!" Jihoon melambaikan tangannya, dan gadis itu masuk ke dalam gerbang sekolah setelah Soonyoung melajuukan mobilnya.

FLASHBACK OFF

"Hah, aku bingung bagaimana kau sangat pandai untuk menarik diriku memasuki hidupmu?" pemuda sipit itu menghempaskan tubuhnya pada kasur king size nyamannya. Hari ini dirinya bisa tenang sedikit, pasalnya sang ibu sedang pergi menyusul suaminya ke Belanda untuk dua minggu kedepan.

"Teruslah seperti ini, umma, kalau bisa kalian berdua tinggal saja di Belanda." Soonyoung menatap bingkai kecil miliknnya yang menampakkan foto lama dirinya dengan kedua orangtuanya saat ia lulus SMA.

Si sipit itu kembali meraih ponselnya dan segera mengirimi pesan kepada nomor yang sudah sangat ia hapal itu.

'Jangan lupa makan siang, aku tahu tadi kau belum sarapan, jadi jangan melewatkan makan siangmu atau kau akan sakit.' Kemudian Soonyoung mengirim pesan itu kepada gadis yang menarik perasaannya selama ini.

Seungkwan melangkahkan kakinya terburu saat ia berbelok kanan menuju kamar bernomor 4835. Flatshoes berwarna putih itu menimbulkan bunyi menggema saat Seungkwan malah menyeret kaki-kakinya. Begitu sampai di depan pintu kamar yang ia tuju, gadis pipi tembam itu langsung menekan bel apartment milik kekasih unni tersayangnya itu dengan brutal, hingga menyebabkan decakan sebal dari kedua penghuni di dalamnya.

"Oh, ayolah, lama sekali membuka pintunya." Seungkwan menggerutu sendiri saat pintu di depannya tak kunjung terbuka. Gadis bermarga Boo itu tersenyum puas saat pintu apartment berwarna abu di depannya ini terbuka dan mendapatkan sosok yang ia rindukan selama ini.

"Unni!" Seungkwan langsung memeluk tubuh kurus itu dengan erat. Menyalurkan rasa rindunya yang membuncah kepada gadis di depannya ini.

"Astaga, Boo Seungkwan!" gadis di pelukannya ini membulatkan matanya saat ia merasa bahwa Seungkwan memeluknya dengan sangat erat kali ini.

"Aku benar-benar merindukan unni! Astaga aku masih tak percaya aku bertemu denganmu!" Seungkwan melepaskan pelukannya kemudian tangannya ia arahkan untuk menangkup pipi tirus gadis di depannya ini.

"Sekarang kau percayakan?" Gadis tembam itu mengangguk puas dan menyengir lebar kearah gadis bermarga Jeon itu.

"Aku benar-benar percaya sekarang kau berdiri di depanku! Jihoon unni mana?"

"Dia di kamar. Masuklah." Mata onyx yang di batasi kacamata itu membersilahkan gadis tembam itu masuk ke dalam apartmet yang cukup mewah milik calon suaminya itu.

"Kau mau minum apa, Kwannie?"

"Ah, tidak usah merepotkan, unni." Tolak Seungkwan halus.

"Oh jadi kau sekarang sudah tau sopan-santun, ya, baguslah." Wonwoo mengusak rambut cokelat caramel milik gadis tembam yang sudah ia anggap seperti adik kandung ini. Wonwoo sangat tahu tabiat Seungkwan yang suka meminta ini-itu seenaknya, namun dirinya sekarang kaget sekaligus kagum saat Seungkwan menolaknya dengan halus.

"Hansol yang mendidiknya, lihatlah dia sudah seperti seorang puppy jika kau memerintahkannya untuk melakukan ini-itu." Jihoon muncul di balik pintu berwarna biru yang berada di pojok ruangan dekat dengan ruang kerja milik Mingyu.

"Aku sepertinya harus segera berterimakasih kepada Hansol yang sudah mau mendidikmu seperti ini padahal dirinya saja sebelas-duabelas dengan sikapmu." Ujar Wonwoo jujur.

"Hanya saja cerewet dan rasa ingin tahunya yang besar itu yang belum berubah darinya." Celetuk Jihoon yang menghasilkan decakkan sebal dari Seungkwan.

"Unni bisa sekali dalam urusan mengejek orang." Seungkwan mengerucutkan bibirnya, membuat Jihoon menggeleng malas melihatnya.

"Aku tidak mengejekmu, tapi aku berbicara fakta soal dua sikapmu itu yang tidak akan pernah bisa lenyap dari dirimu." Jihoon melangkahkan kakinya menuju dapur, kemudian jemari mungilnya itu menarik pintu kulkas besar di depannya. Gadis mungil itu melihat dengan teliti sayuran, dan makanan ringan serta beberapa kaleng cola dan softdrink yang tersusun rapih di sana. Jemari mungilnya mengambil dua botol cola kemudian menutup pintu kulkas tersebut. "Kwan, ambil ini." Jihoon melemparkan satu kaleng cola kepada gadis yang tengah asik mengobrol dengan Wonwoo. Seungkwan yang di perintah seperti itu langsung menangkap kaleng cola itu dengan tepat.

"Ji, sepertinya sekarang kau yang tidak tahu sopan santun."

"Kau kan yang menyuruhku untuk menganggap apartment milik kekasih mu ini seperti apartmentku sendiri."

"Ya, ya, ya." Wonwoo berujar malas dan di balas seringai kemenangan dari gadis mungil yang berada di belakangnya.

"Sudah mau jam satu, Kwan, sebaiknya kita langsung bergegas saja."

"Sesekali aku ikut denganmu, Ji, ikut mengajar," Jihoon yang mendengar itu mendecih pelan sebelum berujar.

"Apa kau masih belum sadar juga dengan suara jelekmu itu, Jeon Wonwoo. Bahkan aku tidak begitu menyukai nada suaramu di saat kau bernyanyi." Wonwoo membulatkan matanya tak percaya dan hal itu di ikuti oleh Seungkwan.

"Astaga, Lee Jihoon! Mulutmu itu memang benar-benar tidak bisa berubah sepertinya." Wonwoo mendecak jengkel kepada sahabatnya itu.

"Aku pergi dulu, Jeon Wonwoo, jika kau merasa kesepian, telepon saja Mingyu, dan aku yakin ia akan mengabaikanmu dengan pacar keduanya." Wonwoo melepas sandal rumah yang ia kenakan dan akan melemparnya ke arah Jihoon sebelum gadis itu menghilang di balik pintu yang menutup.

"Unni, sudahlah, tidak usah di masukkan kehati, lagipula Jihoon unni memang seperti itu orangnya." Seungkwan mengusap punggung Wonwoo sehingga gadis kurus itu kembali mengenakan sandal rumahnya. "Aku berangkat dulu, unni, aku janji aku akan sering bermain kesini, terimakasih colanya, annyeong." Seungkwan tersenyum sebelum dirinya juga menghilang dibalik pintu abu tersebut.

"Entah mengapa aku menyayangi kalian walaupun kadang kalian sangat membuatku jengkel." Wonwoo menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Senyumnya juga terus mengembang. Ada kedua orang yang ia sayangi menemaninya di saat Mingyu kerja sepertinya akan membuatnya lepas dari kata bosan.

Seungkwan berlari kecil, menyusul Jihoon, kemudian menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki jenjang milik Jihoon. Keduanya berjalan menuju lift dan mereka saling bertukar tatap, sembari menunggu pintu lift terbuka.

"Unni, bagaimana menurutmu jika aku melamar pekerjaan di salah satu agensi untuk menjadi pelatih vokal?" Jihoon mengetuk-ngetukkan dagunya menggunakan jari telunjuknya yang lentik itu.

"Aku sih terserah padamu saja, jika menurutmu itu sendiri itu bagus, maka aku akan selalu mendukungmu."

"Tapi yang menjadi masalahku sekarang adalah Hansol." Namun sat Jihoon ingin membuka suara, tiba-tiba saja lift berdenting dan pintu aluminium itu terbuka, jadilah ia mengurungkan niatnya itu. Seungkwan dan Jihoon langsung melangkahkan kaki mereka menuju mobil putih milik Seungkwan. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil tersebut. Jihoon memasang seat belt kemudian menatap gadis tembam di sampingnya dengan heran.

"Kwan." Yang di panggil hanya berdeham menyahuti pasalnya dirinya tengah menyetir sekarang.

"Soal yang tadi, masalah dengan Hansol, maksudnya apa?" Seungkwan mengmbil napas dalam.

"Jadi begini."

FLASHBACK

Seungkwan menatap iris biru miik pemuda blasteran di depannya ini dengan lekat. Seungkwan selalu merasa tenang dan aman saat melihat lekat kedua manik milik sang kekasih. Hansol berdeham ringan untuk mengalihkan perhatian sang kekasih dari acara menatap matanya uty.

"Ada apa kau sampai meminta ingin bertemu denganku?"

"Memangnya tidak boleh ya?" gadis pipi tembam itu mengerucutkan bibirnya lucu, membuat Hansol mendecak sebal, kemudian tangan pemuda itu terulur untuk mengelus surai cokelat karamel itu, pipi tembam itu, dan menarik dagu gadisnya, lalu memberikan kecupan ringan tepat di bibir ranum milik kekasihnya.

"Cih, suka sekali mencari kesempatan." Hansol mencubit pipi tembam itu dengan gemas.

"SAKIT BODOH!" pemuda blasteran itu langsung mencium pipi tembam gadisnya yang ia cubit, kemudian mengecup bibir ranum milik kekasihnya –lagi. Seungkwan yang di perlakukan seperti tadi merasakan pipinya mulai memanas.

"Lihat~ tomat-tomat ini sangatlah lucu~" ledek pemuda blasteran itu sembari mencolek pipi tembam Seungkwan dan selanjutnya Seungkwan membalas itu dengan tatapan super tajamnya, hingga pemuda di depannya ini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali itu.

"Bisakah ka serius sedikit saja, Choi Hansol?"

"Ya, sekarang epat katakana apa yang kau ingin utarakan sedari tadi." Seungkwan mengambil napas dalam –memantapkan dirinya terlebih dahulu sebelum berujar.

"Bagaimana menurutmu tentang bekerja di agensi sebagai pelatih vokal?" pemuda berumur 21 tahun itu mengerutkan keningnya tak paham dengan maksud gadisnya tersebut. bekerja di agensi? Sebagai pelatih vokal? Oh, Hansol tidak menyukai itu.

"Kenapa tidak seperti Jihoon nunna saja? Menjadi guru vokal anak sekolah dasar yang jadwalnya bisa di atur sendiri olehmu."

"Aku berbeda dengann Jihoon unni dan keinginanku juga tentunya berbeda dengannya. Lagipula ini juga sudah menjadi cita-citaku sejak dulu, menjadi pelatih vokal di salah satu agensi."

"Aku bukannya tidak setuju dengan itu semua, aku hanya takut kau tidak bisa me-manage waktu dengan benar saat bekerja, kalau waktu makanmu saja tidak bisa kau atur dengan benar." Seungkwan menatap tajam iris biru itu dan mendesis pelan.

"Ini taka da hubungannya dengan makan, Choi Hansol!"

"Aku mengatakan itu sebagai sebuah perumpamaan semata, bukan untuk meledekmu dengan jadwal makanmu yang tidak teratur ataupun yang lain sebagainya. Aku juga tidak mau kau sakit dengan cara bekerja secara terus menerus, hingga kau lupa waktu dan lupa makan." Hansol masih mengingat betul baagaimana kejadian yang menimpa kekasihnya dulu. Dimana kekasihnya itu bekerja secara terus menerus demi skripsi dengan hasil bagus dan mengumpulkannya tepat waktu. Kejadian itu harus membuat gadis tembamnya itu terbaring di rumah sakit selama 2 minggu, karena gadis keras kepalaya it uterus saja makan telat dan makan dalam porsi sedikit, tidur pun kurang, dan lebih parahnya lagi, gadisnya itu ternyata diam-diam sering memakan makanan instan hampir sebulan lamanya sebelum dirinya di rawat, dan hal itu juga membuat berat badan Seungkwan turun secara ekstrem –asumsi Hansol.

Sungguh mengingat itu, Hansol hampir saja tersulut oleh emosi. Ia tak mau gadisnya kembali jatuh sakit akibat pekerjaan yang di kerjakan secara terus menerus. Seungkwan itu tipikal orang yang amat sangat perfeksionis dan selalu menjunjung tinggi harga dirinnya itu.

"Aku tidak mendukunng apalagi mengizinkanmu untuk bekerja menjadi pelatih vokal di salah satu agensi." Jawab Hansol final dan tentu hal itu berhasil membuat Seungkwan mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan membiarkan hatinya mengumpat dengan brutal. Kenapa tidak mengumpat di depan Hansol saja? Jawabannya simple, Hansol pernah memarahinya dan tidak berkomunikasi hampir satu bulan lamanyaa karena Seungkwan dengan entengnya mengumpat secara terus menerus tanpa henti kepada pemuda di depannya ini dan kali ini dirinya tak mau mengulangi kejadian memuakkan yang membuatnya hampir putus asa dan ingin bunuh diri saat itu.

FLASHBACK OFF

Jihoon terdiam –mencermati cerita Seungkwan. Semua perkataan Hansol itu ada benarnya juga. Bocah berumur 21 tahun itu sangat mencintai gadis di sampingnya ini. Sangat amat mencintainya.

"Kali ini aku berada di pihak Hansol." Seungkwan melirik tajam Jihoon lewat ekor matanya.

"Sepertinya semua orang di dunia ini lebih memihak kepada pemuda egois itu, Ya Tuhan." Jihoon mengerutkan keningnya. Ia tahu Seungkwan itu tipikal orang yang menjunjung tinggi harga dirinya, maka dari itu ia suka melihat dan menilai orang secara sekilas dan paling tidak mau di bilang egois padahal dirinya sendiri lebih egois. Jihoon mengambil napas dalam.

"Dia bukan egois dengan tidak mau memberikanmu dukungan atau izin, Boo Seungkwan. Kenapa kau ini selalu saja menilai orang secara sekilas saja? Aku tekankan lagi, dia bukan egois dengan tidak memberi dukungan atau izin, dia melakukan itu karena ia sangat menyayangimu, Boo Seungkwan. Hansol sangat amat menyayangi dan mencintaimu. Kau kan tahu sendiri, agensi it sebenarnya hanya gila uang, mereka men-trainee orang selama bertahun-tahun lamanya, sebelum mereka di debutkan dan menjadikan mereka sebagai mesin atm selama mereka ada di puncak karirnya, hingga kau sering dengar sendirikan, sampai ada yang cidera, beristirahat toal dari semua kegiatan untuk sementara, bahkan sampai ada yang keluar. Sekarang kau bisa menarik kesimpulan itu sendiri. kesimpulan kenapa Hansol tidak mendukungmu dan memberikanmu izin untuk menjadi pelatih vokal di agensi."

"Tapi aku hanya ingin menjadi pelatih vokal bukan ingin menjadi member idol, unni."

"Itu sama saja, Boo Seungkwan," Seungkwan terdiam. Bibirnya terkatup rapat. Otaknya sedang ia paksa untuk bekerja –mencerna semua perkataan Jihoon barusan. "Dan kau ingat kejadian setahun lalu?" Jihoon bertanya kepada gadis di sampingnya ini. Seungkwan mencoba kembali mengingat kejadian itu.

"Kejadian dimana kau di rawat akibat kelalaian mu sendiri. Kejadian dimana kau berhasil membuat Hansol begitu panic saat mendengar kau di rawat. Dia bahkan kabur dari kelas saat masih ada dosen, dia melakukan itu karena ia ingin melihatmu di rumah sakit, padahal kelasnya baru berjalam sekitar 15 menit. Dia tidak masuk kuliah dan malah merawatmu sehingga ia mendapat teguran keras dari dekan. Dia melakukan itu semua demi dirimu, Seungkwan-ah. Demi dirimu seorang, dan lihat, siapa yang egois sekarang? Hansol atau dirimu sendiri? kau akan membuatnya benar-benar menyerah denganmu kalau kau terus saja memintanya untuk mengizinkan dan mendukungmu untuk bekerja di agensi." Tanpa sadar, Seungkwan menitikan airmatanya –selama Jihoon menceritakan kejadian setahun lalu yang seakan menamparnya keras hingga ia menangis seperti ini.

"Sudahlah jangan menangis." Jihoon mengusap air mata yang mengalir di pipi tembam Seungkwan.

"Pinggirkan mobilmu dan menangislah sepuasnya." Seungkwan menurut saja. Ia langsung menyalakan lampu sen kiri, kemudian memutar stir dan memberhentikan mobilnya.

"Aku benar-benar egois." Seungkwan meletakkan keningnya pada stir mobil. Airmatanya menganak sungai di pipi tembamnya.

"Hansol tidak ingin kau sakit, Kwan-ah. Bekerja di agensi akan membuatmu lupa segalanya, karena kau akan menangani ini-itu, melatih siapapun tanpa henti, terlebih lagi kalau kau sudah semangat dan membulatkan tekat, kau akan lupa mengatur makanmu, dan waktu istirahatmu dengan benar." Seungkwan terisak dalam tangisannya. Jihoon membuka seat belt miliknya dan milik Seungkwan, kemudian memeluk tubuh berisi yang bergetar hebat itu. Jihoon terus saja mengusap punggung Seungkwan dengan sabar.

"Sudahlah, jangan menangis, lebih baik kau temani aku saja, mengajar anak-anak, jujur aku sendiri cukup kewalahan saat banyak sekali yang tiba-tiba tertarik dengan dunia tarik suara. Mau kan kau membantuku mengajar?" gadis mungil itu tersenyum saat Seungkwan mengangguk pasti.

"Nah, kalau begitu tersenyum dan kembali lah ceria seperti Seungkwan yang aku kenal selama ini. Seungkwan yang heboh, bukan Seungkwan yang pendiam. Seungkwan yang berisik, bukan Seungkwan yang cengeng." Jihoon setengah meledek dan hal itu mengundang decakkan sebal gadis tembam itu.

Jihoon merogoh saku jaketnya saat ponselnya yang bergetar lama akibat ada panggilan masuk dari ibundanya. Ia menengok kearah belakang –tepatnya kearah Seungkwan yang sedari tadi sedang mengajar murid-muridnya. Seungkwan yang menyadari dirinya di tatap oleh Jihoon, langsung menganggukkan kepalanya saat Jihoon memperlihatkan layar ponselnya yang mendapatkan panggilan masuk.

Jihoon menggeser pintu kayu ruangan vokal dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan yang bising dengan anak-anak yang tengah berlatih vokal.

"Yeoboseo, ne umma?"

"Jihoon-ah, bisa kau ke rumah sebenttar?" gadis mungil itu mengerutkan keningnya tak paham. Padahal ibunya tahu jika si sulung tengah mengajar.

"Umma, kenapa harus aku? Aku kan sedang mengajar." Ia mendumal kesal kepada sang ibu.

"Sebentar saja, nak, tidak akan lama kok, sayang." Ny. Lee terus merayu si sulung.

"Nanti saja, ya, setelah aku pulang mengajar."

"Tidak bisa. Pokoknya harus sekarang, umma tidak menerima segala bentuk penolakan lagi, oke." Dan kemudian nada sambung terputus menyapu indra pendengarannya. Jihoon menggeram sebal. Mengapa selalu saja mengganggu padahal ibundanya itu tahu semua jadwal keseharian si sulung daan si bungsu.

"Gadis mungil itu kembali beralan menuju ruang vokal. Saat ia menggeser pintu, terdengar suara menggelegar dari beberapa muridnya.

"Unni, aku mau di latih oleh unni saja."

"Nunna, aku mau di latih oleh nunna saja." Dan berbagai macam aduan it uterus terdengar.

"Hey, hey, boys, girls." Jihoon membuka suara dan membuat semua anak muridnya itu langsung diam.

"Disini aku sebelumnya ingin meminta maaf kepada kalian, karena tadi ummaku menelpon dan menyuruhku untuk pulang, jadi taka pa kan? Lagipula ada Seungkwan unni/nunna."

"ANDWAE!" teriak beberapa bocah perempuan dengan kompak. Jihoon mengambil napas dalam sebelum berujar. Gadis mungil itu mensejajarkan tingginya dengan tinggi para muridnya.

"Yejin, Yera, Kina, Youngmi, dengarkan unni, tadi ummaku menelpon unni, ini sepertinya penting, jadi unni harus pulang sekarang juuga. Kan ada Seungkwan unni yang aka melatih kalian hari ini, tak apa kan hari ini di ganti oleh Seungkwan unni?" Jihoon menatap lekat bocah 6-8 tahun di depannya ini secara bergantian. Jihoon sangat mengenali ke-4 anak ini, karena anak di depannya ini adalah anak murid yang sangat dekat dengannya. Tangannya ia gunakan untuk mengelus satu-persatu surai hitam milik anak muridnya itu.

"Baiklah." Youngmi tersenyum membuat Jihoon juga ikut tersenyum.

"Kalau Youngmi setuju, aku juga." Ujar Kina.

"Nado!" Yejin dan Yera mengucapkan kalimat tersebut dengan serempak membuat Jihoon terkekeh dengan kelakuan dua murid kembarnya itu.

"Unni bertermakasih kepada kalian." Jihoon tersenyum manis, kemudian emeluk keempat muridnya itu.

"Cha, sekarang kalian latihan dulu dengan Seungkwan unni, ok?" ke empat bocah berwajah manis itu menganggukkan kepalanya. Saat Jihoon hendak berdiri, tiba-tiba saja kakinya di peluk dengan erat oleh bocah laki-laki berumur 6 tahun itu.

"Byulchan wae?"

"Nunna jangan pergi, aku hanya ingin dilatih oleh nunna." Byulchan mmembulatkan matanya memohon.

"Tapi kali ini kau gagal merayuku, boy, umma nunna menelpon tadi, sepertinya ini penting, jadi nunna harus pulang."

"Anio!" bocah itu merengek memohon.

"Byulchan, umur Byulchan sekarang sudah berapa tahun?"

"6 tahun, lebih tepatnya ingin ke 7 tahun." Ucap bocah itu antusias.

"Nah, Byulhan sekarang kelas berapa?"

"2!" Jihoon tersenyum simpul. Saat umurnya sama dengan Byulchan, Jihoon sendiri malah sudah kelas 3 sekolah dasar berkat kecerdasannya itu.

"Byulchan sudah besar bukan?" bocah laki-laki itu menganggukkan kepalanya manis.

"Kalau Byulchan sudah besar, harusnya Byulchan bisa mengerti, oke?" bocah bermata bulat itu menerjapkan matanya lucu. Ia masih tidak paham dengan arah bicara Jihoon.

"Dengarkan nunna," Jihoon memegang pundak kecil itu. "Kalau tiba-tiba saja Byulchan di telepon oleh umma lewat ssaem, dan umma menyuruh Byulchan untuk pulang, apa Byulchan akan langsung pulang atau tetap diam di sekolah?"

"Aku akan pulang dan bertemu dengan umma."

"Nah, sekarang kau pasti mengerti maksud nunna." Bocah laki-laki berumur 6 tahun itu terdiam seolah berpikir.

"Nunna, tadi nunna di telpon oleh umma nunna?" gadis mungil itu mengangguk. Sepertinya bocah di depannya ini sudah mulai mengerti maksud omongannya.

"Dan nunna harus pulang sekarang." Jihoon mengelus surai hitam lebat milik Byulchan dengan sayang.

"Geurae, nunna boleh pulang sekarang." Byulchan tersenyum –walaupun Jihoon tahu bahwa senyuman milik bocah di depannya ini di paksakan.

"Hari ini di latih dulu oleh Seungkwan nunna oke?" anak itu mengangguk.

"Seungkwan nunna tidak galak kok, coba saja ajak dia bercanda, dia sangat lucu orangnya." Seungkwan yang mendengar itu langsung mendecak sebal.

"Boy, siapa namamu?" gadis berpipi tembam itu menunjuk bocah kecil di depan Jihoon.

"Annyeonghasseo, Choi Byulchan imnida, bangapsumnida, nunna." Anak itu menbungkuk sopan kearah Seungkwan.

"Come here." Seungkwan melambaikan tangannya memanggil bocah tersebut. byulchan menatap Jihoon lama dan akhirnya Jihoon yang di tatap seperti itu menganggukkan kepalanya pelan, lalu menepuk pelan punggung milik Byulchan. Bocah itu langsung melagkahkan kainya mendekati Seungkwan yang tengah duduk di bangku kerja milik Jihoon.

"Nunna dengar dari Jihoon nunna, kalau suaramu bagus, nnah kalau begitu, coba nyanyikan satu lagu untuk nunna, boleh?" anak itu mengangguk kemudian menyanggupi keinginan Seungkwan.

"Twinkle twinkle little star, how I wonder what you are, up above the world so high, like a diamond in the sky, twinkle twinkle little star, how I wonder what you are." Seisi ruangan itu terpaku pada bocah laki-laki yang tengah menyanyi itu. Suara Byulchan memang di akui cukup bagus dan stabil untuk ukuran anak seumurannya dan jangan lupa dengan pelafalan inggrisnya yang begitu fasih tanpa cadel, lancar, jelas dan bagus. Setelah Byulchan selesai menyanyi, semua bertepuk tangan dengan antusias, begitu pula dengan Seungkwan dan Jihoon.

"Seungkwan unni juga memiliki suara yang bagus, bahkan ia bisa nada tinggi empat oktaf dalam satu tarikan nafas." Semua mata para muridnya itu langsung tertuju pada Seungkwan seorang dan mata tajam Seungkwan sendiri tertuju pada gadis mungil yang baru saja mengucapkan kalimat tersebut.

"Sebaiknya kau cepat pulang, biarkan aku disini dengan anak-anak."

"Yasudah, Seungkwan unni sudah mengusirku, jadi aku pulang terlebih dahulu, guys, Annyeong." Jihoon tersenyum, kemudian mengilang di balik pintu geser itu –meninggalkan Seungkwan dengan para muridnya.

Soonyoung mengumpat pelan saat suara bel menggema di seluruh penjuru rumahnya yang sepi. Pemuda sipi itu menyembulkan kepalanya dari balik selimut berwarna abu tebal miliknya itu. Soonyoung langsung menyibakkan selimutnya dan bergegas menuruni anak tangga menuju pintu utama. Senyumnya mengembang saat melihat wajah gadis mungil itu di layar kecil sebelah pintu. Tanpa basa-basi, Soonyoung langsung membukakan pintu untuk gadis itu.

"Oh, kau, Ji, aku kira siapa tadi." Soonyoung tersenyum kikuk di depan gadis mungil tersebut. sedangkan Jihoonyang masih berdiri di depan, memandangi pemuda di depannya yang terlihat berantakan, dan suara seraknya itu khas seperti orang baru bangun tidur.

"Jangan bilang kau baru bangun?" tebak Jihoon dan langsung mendapat senyum bodoh pemuda sipit di depannya ini sebagai jawaban.

"Ayo masuk, Ji." Soonyoung membukakan pintu mansionnya dengan lebar dan mempersilahkan gadis mungil itu untuk masuk kedalam mansion besar yang sebenarnya adalah milik kedua orangtuanya.

"Aku di suruh oleh umma mengantar makanan untukmu." Jihoon melangkahkan kakinya menuju dapur dan menaruh tas yang ia gunakan untuk menaruh kotak yang berisikan berbagai macam makanan untuk Soonyoung makan hari ini.

"Ini sepertinya akan merepotkan imo, Ji."

"Ummaku tak akan merasa di repotkan oleh calon menantunya sendiri." soonyoung tersenyum kaku. Jantungnya berdegup tak menentu.

"Sampaikan terimakasihku pada imo." Jihoon berdeham mengiyakan. Jemari lentik itu mengeluarkan kotak makan berisi nasi dan beberapa lauk. Gadis mungil itu berjalan menuju rice cooker dan menuangkan nasi yang ia bawa dan menyalakan rice cooker. Soonyoung yang melihat itu dari jauh, tersenum simpul. Ia bisa melihat sosok ke ibuan yang sangat ketara dalam diri gadis mungil yang tengah asik dengan dunianya.

"Kau sudah makan siang?"

"Belum, karena memang sedari tadi belum ada makanan yang bisa kumakan sama sekali. Ada ramen, tapi aku terlalu malas untuk memasaknya."

"Ini sudah ada lauk, jadi makanlah." Jihoon menuangkan beberapa lauk di piring, kemudian menaruhnya di meja pantry. Soonyoung mengirup aroma msakan dan hal itu semakin membuat perutnya berisik.

"Kau bisa masak, Ji?" Jihoon berdeham ringa menjawab pertanyaan pemuda yang sedari tadi masih berada jauh di belakangnya.

"Kalau begitu, masakkan aku omelet, bisa?"

"Ini sudah banyak lauknya dan kau masih ingin menambah omelet?"

"Memangnya tidak boleh? Oke kalau begitu." Soonyoung berjalan menuju dapur –lebih tepatnya agi menuju kompor listrik. "Kau minggir dan biarkan aku untuk memasak."

"ANIO!" Jihoon langsung meninggikan suaranya, membuat pemuda di depannya itu harus menutup telinga.

"Ummamu berpesan pada Haina, kau tidak di perbolehkan untuk memasak, pasalnya jika kau memasak, kau akan membakar rumah secara tidak sengaja, sama persis seperti Haina." Soonyoung menggulung senyumnya tiba-tiba. Ia sendiri tak tahu alasannya kenapa ia bisa sampai tersenyum seperti ini.

"Yasudah kalau begitu, buatkan aku omelet." Jihoon mengangguk pasrah, kemudian tangannya membuka kulkas dan mengambil dua butir telur. Kemudian memulai acara memasaknya, mengabaikan Soonyoung yang terus saja melihat gerak-gerik tubuh gadis mungil itu. Senyumpun terus terulas di bibir Soonyoung.

"Jangan terlalu asin dan terlalu gurih." Jihoon kembali berdeham mengiyakan. Sungguh pemuda sipit itu ternyata banyak maunya. Jemari lentik itu meraih gagang teflon anti lengket, dan menaruhnya di atas kompor listrik dan menuangkan minyak. Tak lupa, ia juga mengambil spatula dan kemudian memulai acara memasak omeletnya. Setelah omelet itu matang, Soonyoung merasakan perutnya semakin berisik sehabis menghirup aroma lezat omelet yang Jihoon masakkan untuknya. Jihoon berjalan mendekati pantry dan menaruh sepirinng omelet disana. Kemudian gadis mungil itu berbalik, meraih mangkuk kecil, kemudian mengisikan mangkuk itu hingga penuh, lalu menaruh mangkuk tersebut di hadapan Soonyoung.

"Gomawo, Ji. Kau sungguh sosok istri idaman para suami." Jhoon mendecih pelan saat kalimat itu terlontar dari mulut Soonyoung.

"Makanlah." Jihoon menggeleng. "Nanti kau sakit, Ji." Tetap saja, gadis itu masih menggelengkan kepalanya.

"Yasudah kalau begitu, aku makan sendirian saja." Soonyoung mengangkat sendoknya, kemudian menyendokkan omelet buatan Jihoon kemulutnya tanpa di sertai dengan nasi tau lauk lainnya.

"Ini enak, gurihnya pas, asinnta pun pas, kau memang pandai memasak." Soonyoung mengacungkan kedua ibu jarinya dan hal itu hanya ditanggapi senyuman miring gadis di depannya ini.

"Kalau sekedar omelet, semua orang juga bisa membuatnya, jadi kau tidak perlu berlebih speerti itu." Jihoon mendecih di akhir kalimatnya, membuat Soonyoung terdiam dan kembali melanjutkan acara makannya di temani oleh gadis mungil yang ia kagumi sejak pertama kali bertemu.

"Kau bukannya harus mengajar?" gadis di depannya ini lagi-lagi berdeham mengiyakan, sebenarnya hal itu ingin sekali Soonyoung protes, namun pemuda sipit itu mengurungkannya saat ia menyadari, dirinya bukan siapa-siapa dari gadis mungil di depannya ini.

"Laluu kenapa yang mengantar makanan ini untukku bukan Haina saja?"

"Haina aka nada kelas jam 2 nanti, maka dari itu aku yang di suruh oleh umma untuk mengantar semua makanan ini untukmu." Soonyoung ber-oh ria menanggapi penjelasan si gadis mungil, sedangkan Jihoon sendiri sudah mengumpat dalam hati karena pemuda di dpannya ini hanya menanggapi dengan kalimat 'oh' saja.

Jihoon terkekeh kecil saat melihat Soonyoung dengan begitu lahapnya menyantap semua makanan di depannya tanpa terkecuali hingga habis tak tersisa.

"Astaga, kau ini, seperti orang tidak pernah makan saja." Jihoon meledek pemuda di depannya ini, sedangkan yang di ledek olehnya hanya cengengesan sendiri. saat Soonyoung hendak berdiri dan merapihkan piring-piring kotor itu, Jihoon langsung mencegahnya dengan cepat.

"Biarkan aku saja yang bereskan semua ini." Jihoon mengambil alih semua yang akan di kerjakan oleh pemuda sipit itu dengan penuh cekatan.

"Arra." Soonyoung berjalan mengambil gelas, kemudian membuka kulkas dan menuangkan air mineral dingin hingga setengah gelas, lalu meneguknya dengan rakus. Jihoon menoleh saat suara desah khas orang habis minum terdengar begitu nyaring. Gadis mungil itu menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah calon adik iparnya yang sanagt kekanakkan menurutnya.

"Lebih baik sehabis makan, jangan minum terlebih dahulu, karena itu akan menghambat makanan yang kau makan tadi untuk di cerna, minimal dua jam sehabis makan, baru kau minum."

"Ah, aku bahkan baru tau itu."

"Makanya sesekali kau baca info kesehatan, bukan buku tebal dengan beratur-ratus halaman yang hanya berisikan masalah psikis saja." Soonyoung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Jihoon membalikkan tubuhnya setelah menyelesaikan semua pekerjaan dengan rapih.

"Ji, bagaimana kalau kita bermain game?"

"Game?" jihoon mengulang kalimat terakhir pemuda di depannya ini. Jujur, ia sudah lama sekali tidak bermain game. Terakhir kali ia bermain game itu seminggu sebelum wisudanya bersama Wonwoo.

"Iya, kita akan bermain game bersama."

"Yasudah kalau begitu, aku turuti keinginanmu." Jihoon memang butuh refreshing sekarang. Dari semalam, otaknya dipaksanya untuk bekerja memikirkan s2nya. Soonyoung tersenyum puas saat gadis sipit itu mau bermain game dengannya. Pemuda sipit berumur 23 tahun itu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dan memasuki kamar. Jihoon yang sedari tadi merasa sangat haus, akhirnya ia putuskan untuk membuka kulkas dan mengambil dua kaleng cola, kemudian dua bungkus besar snack kentang. Jihoon berjalan menuju ruang tengah dan menaruh apa yang ia bawa tadi di meja kecil yang berada di depan sofa.

Jihoon menolehkan kepalanya saat pintu kamar Soonyoung berbunyi dan tak lama munncul batang hidung pemuda sipit itu yang sedang berjalan cepat menuruni anak tangga dengan tangan kanannya yang membawa tas kecil yang berisikan ps4 cadaangannya.

"Kau ingin main apa, Ji?" Soonyoung sendiri sekarang sedang sibuk merapihkan peralatan gamenya dengan teliti. Pemuda sipit itu tersenyum puas saat melihat ps4 nya menyala.

"Apa saja, aku ikut denganmu saja." Jihoon duduk di atas karpet tebal dan mata sipit itu terus mengikuti gerak-gerik Soonyoung.

"Oke baiklah." Soonyoung menaruh 2 joystick di meja kecil itu, kemudian meraih satu bungkus snack kentang dan membukanya. Ia berjalan menuju sofa nyaman dan duduk di sana.

"Kau duduk di atas, Ji, bukan dibawah."

"Taka pa aku duduk bawah, lebih enak disini." Jihoon meraih dua joystick di depannya, kemudian memberikan satu kepada Soonyoung yang ada di belakangnya. Pemuda sipit itu menyilangkan kakinya dan duduk tepat di belakang tubuh Jihoon. Gadis mungil itu merasakan jantungnya berdegup kencang saat Soonyoung menaruh dagunya tepat di pucuk kepala Jihoon dan deru nafas teratur Soonyoung membuat nafas Jihoon tercekat.

Soonyoung enekan tombol 'start', kemudian keduanya memulai bermain game sepakbola. Jihoon menekan tombol yang tertera di joystick itu dengan sangat lihai, sehingga Soonyoung hampir kehilangan fokusnya saat melihat jemari lentik itu menekan-nekan tombol pada joystick dengan sangat lihai.

"GOAL!" Jihoon mengangkat joystick miliknya saat bola yang sedari tadi ia giring bisa membobol gawang Soonyoung. Soonyoung menggeram rendah saat ia bisa di kalahkan oleh gadis mungil ini dengan mudahnya.

"1-0, Kwon Soonyoung." Jihoon mendongakkan kepalanya dan kedua iris cokelat itu membulat saat maniknya bertatapan langsung dengan iris hitam milik Soonyoung. Jihoon bisa merasakan jantungnya berdegup dengan kencang, begitu pula dengan jantung milik Soonyoung.

Bukannya menjauhkan kepalanya, Soonyoung makin mendekatkan kepalanya –memanfaatkan suasana sunyi yang meliputi mereka berdua. Mata sipit itu semakin membulat saat merasakan sesuatu yang empuk, hangat dan basah menyapu permukaan bibirnya.

"KWON SOON.. ASTAGA!" Soonyoung langsung mendongakkan kepalanya. Dirinya benar-benar ketangkap basah oleh seseorang.

TBC


Hallo~

Gim back nih. Gimana ff nya? Kalo mau updatenya di cepetin, reviewnya yang banyak, nanti pasti di up nya cepet. Kalo di atas banyak typo maaf ya, gim ga sempet buat ngedit-ngedit karena gim lagi sakit huhu:( Oiya, apakah reader-nim ada yang main rp? Kalo ada let's be friend kuy~

Kalo kalian ada saran saran atau mau req ff atau apalah itu, kalian bisa hubungin gim di ig/line: mifrizma_ Ayo kita berteman, reader-nim! Kkk~

Udah dulu ya, nih sengaja gim upload pas valentine soalnya ada bagian gregetnya -menurut gim, ya wkwk, jujur sebenernya gim mau upnya ntar-ntaran tapi kenapa ya pas sekitar 2-3 hari yang lalu baca ulang ff nya, gim jadi pengen up hari ini haha. Labil? emang(:

Reviewnya di mohon ya readers-nim biar gim cepet untuk upnya~

Sampai ketemu di chapter selanjutnya.

BGR, 14/02/17

Salam soonhoon hardship, gimmelatte.

Bye~