Difference
Disclaimer : Naruto dan segala isinya hanya milik Masashi Kishimoto
Author: Difference punya Kyori Kyoya
Rating : M (No Lemon just Sami)
Genre : Romance, Family, Drama, mungkin crime,
WARNING: TYPO MENYEBAR,GAJE,OOC,BAHASA TIDAK BAKU, JIKA TIDAK SUKA TIDAK USAH DI BACA. TINGGAL KLICK BACK SAJA.
SASUSAKU
Apa ini? Aku memasang wajah datarku menyaksikan 2 orang wanita tengah mengobrol dengan asyiknya tanpa memperdulikan kami. Yah kami. Aku, Sakura, Ayah, dan kak Itachi. Sedangkan yang tengah asyik mengobrol adalah ibu ku dan Bibi Mebuki. Beliau sudah satu minggu berada di Jepang, dan aku bersyukur karena tidak ada tanda-tanda dari nenek sihir yang arogan itu, ah, sebut saja Nyonya Hyuuga. Aku mengalihkan pandanganku ke samping kananku, Sakura, ia nampak memasang wajah yang sama denganku, bahkan lebih parah. Mata bulatnya mengamati ibunya, tangannya berada di kedua lututnya bertopang dagu.
"Ahhaha." Tawa mereka begitu mengelegar di pendengaranku, mungkin juga untuk ke tiga orang lainnya yang berada di sekeling meja ruang tengah di rumahku ini. Bibi Mebuki memaksa Sakura untuk ikut dengan kami dan aku pun tidak keberatan akan hal itu.
Aku memutar bola mataku dengan bosan, wanita memang membingungkan. Terakhir kali aku melihat ibu dan Bibi Mebuki saling melototi satu sama lain, tapi setelahnya mereka menjadi- ahh sudahlah.
Aku berdiri dari duduk ku, lalu melangkah menuju dapur. Sedikit menghela napas, aku membuka lemari es. Hawa dingin segera aku rasakan di sekitar wajahku ketika aku melengokan kepalaku kedalam lemari es besar itu.
"Aku tidak menyangka, Ibu dan bibi Mikoto akan seakrab itu. Padahal sebelumnya mereka begitu enggan saling menatap, setelah beradu argumen."
Aku mengambil dua buah minuman kaleng dan kembali menutup pintu lemari es. Aku membuka salah satunya sebelum aku menyerahkan pada Sakura, ia nampak menegugnya dengan tergesa hingga membuatnya sedikit tersedak. Tanganku refleks menepuk pelan punggungnya.
"Biarkan saja." Ucapku membuka minuman kaleng yang tersisa, dan menenggaknya setengah. Rasa manis bercampur pahit ini dapat mengurangi rasa bingungku. Sakura menuntunku kembali menuju ruang tengah, disana masih saja kedua orang itu bercakap-cakap, dan aku sudah tidak menemukan kak Itachi di tengah-tengah mereka.
Karena tidak ingin mengganggu kedua orang itu aku bertanya pada ayah yang masih bertahan dengan korannya, kemana perginya kak Itachi. Dan ayah hanya mengangkat bahu tanda dia tidak tahu kemana perginya kakak sematawayangku itu.
"Ibu, sudah sore. Sebaiknya kita pulang." Sakura memperingatkan bibi Mebuki dengan menarik-narik lengan wanita duplikatnya itu. Sedangkan Bibi Mebuki hanya menolehkan kepalanya dengan masih mengobrolkan peternakannya.
"Ck, baiklah." Bibi Mebuki segera berdiri dan berjalan mendahului ku serta Sakura menuju ke depan. Wajahnya tersenyum senang setelah berada di halaman depan rumah dan menoleh ke belakangku arah dimana ibu dan ayahku ku berada.
"Memalukan." Lirih Sakura sambil menunduk. Aku hanya tersenyum kecil melihatnya. Mungkin karena Bibi Mebuki jarang berbincang-bincang dengan seseorang di sana, hingga membuatnya enggan untuk meninggalkan orang yang ngobrol dengannya.
"Bolehkan aku mampir kesini lagi? Tadinya aku hanya penasaran dengan orang tua kekasih anakku yang tampan ini, jadi aku memutuskan untuk ikut. Senang bisa mengenalmu Mikoto." Bibbi Mebuki masih tersenyum dengan tangannya yang membuka pintu mobil.
"Tentu saja. Aku akan sangat menantikannya." Ibuku menyahutinya dengan gembira, tentu saja ibu terlihat gembira. Ada seseorang yang membuatnya tertantang dengan argumen-argumennya. Kedua orang itu luar biasa bukan?
"Maafkan kelakuan ibu ku Bibi." Sakura semakin menundukan kepalanya, ibu yang melihat Sakura menunduk mengangkat wajahnya dan merentangkan tangannya guna memeluk Sakura.
"Tidak apa-apa sayang, justru aku yang berterima kasih. Kau dan ibumu membawa kegembieraan buatku." Ibu tersenyum tulus sebelum melepaskan pelukannya.
"Aku akan mengantar mereka." Aku pun mendapat anggukan dari ayah dan ibu.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen Sakura di habiskan Bibi untuk memuji ibu, yang kata Bibi Mebuki itu luar biasa. Dan yang bisa ku lakukan hanya lah tersenyum untuk menanggapinya. Aku sangat senang Ibu dan juga Ayahku menerima dengan tangan terbuka, tapi aku juga tidak tahu apa yang akan di katakan keduanya setelah mengetahu fakta bahwa Bibi Mebuki adalah simpanannya paman Hiyashi, dan Sakura itu anak haramnya. Astaga ini begitu rumit.
Kami telah sampai di apartemen ketika matahari mulai tak terlihat, aku mengantarkan kedua orang berharga itu kedepan pintu. Bibi Mebuki terlebih dahulu memasuki apartemen, beliau bilang ingin segera mandi dengan air hangat dan menyeduh teh, dan tinggallah kami, aku dan Sakura.
"Aku benar-benar minta maaf atas kelakukan ibu Sasuke, sampaikan rasa terima kasih ku sekali lagi untuk Bibi." Ujarnya di ujung pintu. Aku mengangguk dan menunduk guna mencium bibirnya sekilas. Bibinya benar-benar lembut. Aku akan meledak jika aku tidak menyudahinya sekarang juga. Sakura tersenyum sesudah jarak diantara kami mereng. Ia berucap hati-hati di jalan sebelum aku berbalik meninggalkannya. Aku mendengar suara pintu tertup.
"IBUUUUU." Itu teriakan Sakur! Apa yang terjadi? segera aku membalikan tubuhku dan membuka pintu apartemen Sakura dengan kencang. Mataku seakan ingin keluar menyaksikan kubangan darah di sekitar tubuh Bibi Mebuki. Tepat di hadapanku seorang perempuan anggun tengah tersenyum membawa sebuah pisau di tangannya. Senyumnya semakin lebar melihat ku menegang.
"Kau melangkar perjanjian Haruno." Wanita angkuh itu menjatuhkan pisaunya. "Kau-Kau seharusnya tidak datang ke Jepang, seharusnya kau tetap tinggal di persembunyianmu. Wanita jalang." Teraknya di hadapan tubuh tak berdaya Bibi Mebuki yang berada di dekapan Sakura yang tengah menangisi ibunya yang sudah sekarat kehabisan darah.
"Kau benar-benar wanita iblis Nyonya Hyuuga." Wanita berharga ketiga dalam hidupku tengah sekarat di hadapanku, aku tidak bisa tinggal diam, aku mengambil phonecellku dan menelphone polisi.
"Apa yang akan kau lakukan, Uchiha Bodoh." Wanita itu mengambil phonecell dari genggamanku dan membantingnya dengan mudahnya. Wanita ini akan menerima ganjarannya, aku pastikan itu. Sakura dengan air mata yang berlinang di pelupuk matanya mengambil pisau dapur,dan mengarahkannya pada nyonya Hyuuga itu. Aku memeluknya dari belakang, aku mencoba menenangkannya.
"Aku akan membunuhnya Sasuke. Aku akan buat wanita itu sama seprti ibuku. Lepaskan aku." Dia berontak dan pisau tajam itu mengenai tangananku. Oh shit.
"Kau wanita baik-baik Sakura, jangan lakukan itu. Aku tidak mau kau menjadi sama sepertinya." Bentakanku membuatnya tersadar. tubuhnya mulai melemas dan pisau yang dalam genggamannya sudah terjatuh di lantai. Ini adalah hari dimana aku tidak pernah menginginkan ini semua terjadi.
"Ibu... Ibu... IBUUU."
Difference
Kabar meninggalnya Bibi Mebuki tersebar dengan cepat, terlebih lagi sang pembunuh adalah seorang Hyuuga. Paman Hiyashi datang pada acara pemakaman, ia terlihat seperti seorang yang kehilanganan jiwanya. Ia begitu hancur dan terluka. Begitu juga saat aku melihat Sakura, dia terus-terusan memandangi makam ibunya. Wajahnya tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sakuraku seakan ikut mati di tepang orang tak bertangggung jawab.
Ibuku berada di sampingnya dengan deraian air mata, ibuku adalah orang pertama yang kuberi tahu atas meninggalnya Bibi Mebuki, dan ibu tanpa membuang waktu menuju apartemen Sakura, yang saat itu sudah penuh dengan pulihan polisi. Jangan tanyakan kemana perginya sang Nyonya Hyuuga itu, tentu saja wanita busuk itu akan segera membusuk di penjara.
Seusai pemakaman aku membawa Sakura pulang kerumahku, tapi ia menolak. Ia ingin tetap tinggal di apartemen. Sisa-sisa darah masih belum sepenuhnya bersih, bau nya pun masih sangat kental, saat aku membawa masuk kedalam apartemen itu.
"Sasuke, tinggalkan aku sendiri." Wanta 18 tahun yang menyandang sebagai kekasihku itu meringkuk di sofa. Aku tidak tega meninggalkannya. Bahunya bergetar, suara tangisnya mulai terdengar.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Sakura." Ujarku berjongkok mengelus anak rambutnya yang tergerai. Rambutnya muali kusut.
"Sudah ku bilang. Tinggalkan-Aku-Sendiri." Ia menolehkan kepalanya. Sorot matanya membuatku mengerti ia membutuhkan waktu untuk sendiri. Dan aku berdiri mulai berjalan menuju pintu sebelum aku meninggalkannya aku menulis memo di lemari es, disana aku menyertakan nomor phonecell ibuku, aku belum sempat membeli phoncell.
Sudah tiga hari ini dan aku terus saja diam-diam mengunjungi Sakura, dia begitu rapuh, sorot matanya mati. Seprti raga tanpa jiwa. Aku tidak bisa melihatnya seprti itu terus menerus. Aku harus berbuat sesuatu tapi apa yang harus ku lakukan? Semuanya sudah ku coba, tapi itu semua tidak membuahkan hasil. Hanya satu yang dia inginkan. Kembalikan ibuku. Dia berucap begitu lirih saat itu. Dan yang benar saja? Mengembalikan seseorang yang sudah diambil nyawanya oleh Tuhan melalui orang keparat itu? Aku bukan Tuhan Sakura.
Sesekali ibu, ayah dan kak Itachi mengunjunginya. Tapi dia tak juga menunjukan tanda-tanda bahwa jiwanya hadir kembali. Jiwanya benar-benar sudah mati.
Aku mengelusnya pelan saat ia bersanda pada pundakku.
"Sakura, jangan seperti ini terus-menerus. Bibi Mebuki juga tidak akan tenang melihat anak kesayangannya seperti ini." Dan ucapanku membuatnya seperti tersadar. Bagaikan sebuah mantra, ia tegakan kembali kepalanya dan menatap mata hitamku. Aku tersenyum, akhirnya aku bisa melihat kembali sorot mata hijau yang mampu membuatku terhisap akan ke cantikannya.
"Kau benar. Bagaimanpun juga aku harus terus melanjutkan hidupku. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya, ibu akan sedih jika aku seperti ini."
"Bagus. Mandilah kau bau sekali." Ujarku berpura-pura menjepit hidungku. Dia hanya sedikit tertawa dan melangkahkan kakinya menuju kamar Tuhan aku bersyukur
Selagi Sakura mandi aku akan memesan makanan untuknya, selama tiga hari ini dia hanya makan mie instan, dan itu tidak baik untuknya. Pesananku datang lebih cepat dari yang ku perkirakan, dan juga Sakura sudah keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk kecil di kepala pinknya. Ia mendatangiku yang tengah sibuk mengambil mangkuk, ia tidak membantuku yang di lakukannya hanyala memandangiku. Setelah mengambil mangkuk aku mengajaknya duduk di sofa untuk makan malam bersama.
"Kali ini apa yang kau pesan?" ujarnya melihatku menuang sup iga kedalam mangkuk dan untung saja ibuku membawakan nasi untuk Sakura. "Wow sup iga sapi." Ia menyendok sup kedalam mulutnya dan aku memukul pelan tangannya menggunakan sendokku.
"Sepertinya nona Haruno melupakan sesuatu." Dia hanya menampakkan giginya dan menaruh kembali sendoknya, aku pun melakukan hal sama dengannya. Dengan segera ia melipat tangan dan memejamkan mata. Bagaimanapun juga dia merupakan seorang yang tidak melupakan Tuhannya, yah untuk kali ini sih tidak. Seusai berdoa ia menyuapkan kembali sup iga dan juga nasi ke dalam mulutnya.
"Humm, ini sangat enak." Matanya berkaca-kaca " Waktu kecil ibu kerap sekali memasaknya untukku." Air matanya menetes membasahi pipinya. Sepertinya aku salah memesan.
Difference
Perkuliahan kembali berjalan dengan sangat baik, dan waktu terus berjalan. Sakuraku kembali mendapatkan keceriaan, walaupun masih sesekali aku melihatnya menangis diam-diam di tengah malam. Sejak peristiwa itu, aku di ijikan ibu untuk tinggal bersamanya, dan itu sedikit menguntungkan buatku. Aku bisa bercinta dengannya. Aku menyeringai mengingatnya.
"Jangan menampakkan seringaimu Tuan." Suara Sakura membawaku tersadar. "Pasti kau berpikir mengenai hal-hal jorok." Katanya sambil membalikkan buku tebal yang di belinya beberapa waktu yang lalu. Aku bertopang dagu mengamatinya.
"Yah, kau benar. Dan bagaimana jika kita melakukannya disini." mata bulatnya menatapku dengan liar. Oh ayolah. Telunjuk Sakura membawa wajahkuku mendekatinya.
Pletakkk
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku menyentak sambil mengusap jidatku yang memerah akibat sentilannya.
"Shuut Uchiha pelankan suaramu." Penjaga perpustakaan memperingatkan ku kala ia melewati sket demi sket perpustakaan besar ini dengan wajah garanganya dan aku hanya memasang wajah datar ku.
"Menyentilmu." Ucap Sakura mengemasi bukunya dan menyeretku keluar dari dalam perpustakaan.
Di pintu perpustakaan aku bertemu dengan Naruto, ia menyerahkan undangan padaku sambil melirik Sakura tidak suka.
"Datanglah, dan kau boleh membawanya, atau membawa Hinata." Setelah mengatakannya ia pergi begitu saja dari hadapan kami.
"Aku akan membawamu"
TBC
Balas review :
Hima-chan : ini sudah update, Terima kasih dan maaf lemonnya tidak ada.
Uchiha pioo : Terima kasih hehe
BaekhyunSaranghaeHeni : Terima kasih, iya sasusaku kok hehe
Ayuyu : hahaha dia nggak akan pergi semudah itu ayuyu-san, Terima kasih
Misa safitri3 : maaf untuk chapter kemain yang pendek dan Terima kasih.
Dikapurnamasari90 : maaf dan Terima kasih.
Drack blue and pink cherry : maafakan kyori senpai, ini gegara tangan kyori kena kater, maaf dan Terima kasih.
Mantika mochi : maafkan Kyori, dan Terima kasih.
Luca Marvell : iya sasu gak akan sama hina kok senpai, Teima kasih.
Yoktf : ini sudah lanjut, Terima kasih.
: Teima kasih.
Terima kasih para senpai dan para readers yang masih setia nunggu-nunggu ni ff ini, dan maafkan kyori, ceritanya tidak begitu panjang, karena efek terkena kater masih terasa nyeri dan pegal, ini benar-benar mengganggu saya. Terima kasih semuanya. Arigato, gomawo, maturnuhun. See yaa
Salam Cinta
kyori
