NOIR (Daejae ver)

.

Chapter 8


Note : ff ini aku remake dari mv B.A.P Skydive sesuai alur yang aku buat.


Previous chapter

Begitu dia menegakkan kembali tubuhnya, short gun yang berada di tangan Daehyun berpindah mengarah pada leher Daehyun sendiri.

Bukan Daehyun yang akan membunuh laki laki itu tapi sebaliknya. Youngjae cemas menatap short gun di tangannya dan Daehyun bergantian.


"pegang seperti ini."

Daehyun menuntun kedua tangan Youngjae untuk memegang short gun dan mengangkatnya hingga kedua lengan Youngjae sejajar.

"Daehyun. Aku-"

Youngjae mengangkat short gunnya.

"kau bisa melihat target disana ?. Fokus pada targetmu."

Youngjae memejamkan matanya erat sebelum-

DORR

Dia melepaskan tembakan mengarah tepat pada laki laki di depan Daehyun yang entah kebetulah atau bagaimana tembakan itu mengarah pada kepala laki laki itu. Seketika laki laki itu ambruk.

Hanya seperti itu membuat Youngjae sudah terengah mengatur nafasnya.

Dia melempar short gun di tangannya saat pandangannya bertemu dengan mata sayu Daehyun yang menatapnya. Youngjae berlari kecil menghampiri Daehyun. Pandangan mereka bertemu semakin dekat.

"Daehyun, kau tidak apa apa ?." tanya Youngjae dengan nada kecemasan yang begitu kentara. Air matanya mulai berjatuhan satu persatu.

Youngjae kembali mengitarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

"kita harus cepat pergi dari sini."

Youngjae membantu Daehyun berdiri dengan pelan, berjalan menuju mobilnya.

Dengan tergesa dia melajukan mobilnya dengan sekali kali melihat spion untuk melihat Daehyun di jok belakang.

"Daehyun bertahanlah sedikit lagi." Ujar Youngjae. "aku tidak bisa membawamu ke rumah sakit, lalu aku harus bagaimana ?."

Sebuah ide gila terlintas pada otaknya. Dia mempercepat laju mobilnya menuju arah rumah sakit.

Memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit.

"tunggu disini. Jangan sampai tertidur ataupun pingsan, mengerti ?." ujar Youngjae sebelum dia turun.

Daehyun hanya diam berusaha menahan sakit pada perut dan dadanya. Bagaimana ini bisa menjadi sangat sakit sekarang ?. padahal tadi tak terasa apa pun, dia seperti pasrah jika harus mati. Apa sekarang karena dia merasa masih bisa hidup ?.

Youngjae berlari menuju ruangannya tak peduli pada beberapa orang yang menyapa atau menatapnya terkejut karena kondisinya.

Bagaimana tidak, jas dokter dan kemejanya yang bewarna senada begitu kontras dengan banyaknya darah yang menempel disana.

Youngjae membuka pintu ruangannya keras membuat tiga rekan kerjanya yang ada di dalam tersentak dari kegiatan mereka.

"apa yang terjadi ?." tanya Insung panik begitu melihat kondisi Youngjae.

Youngjae tak menjawab dia menuju ruang istirahat. Menumpahkan seluruh baju yang biasa dia gunakan saat harus menginap di rumah sakit dari dalam tas besar. Tempat tidur yang biasa dia gunakan menjadi berantakan karena baju bajunya. Dia tak peduli.

"ya ! ya ! kau kenapa ?." tanya Insung lagi. Ketiga rekannya mengampirinya.

Tapi lagi lagi Youngjae tak menjawab dia mendorong salah satu rekannya yang berdiri di depan pintu kemudian dia tergesa menuju ruang peralatan operasi dan obat obatan. Memasukan semua peralatan dan obat yang dia perlukan. Dia harus berlari lagi.

Saat di koridor lantai satu dia bertemu dengan Jaebum. Reaksi sahabatnya itu sama dengan orang orang lainnya.

"kebetulan aku bertemu denganmu. Aku butuh bantuan." Ujarnya saat baru saja berada di depan Jaebum dengan nafas tersengal.

"apa yang terjadi ?." heran Jaebum.

Youngjae tak menjawab, dia menarik Jaebum untuk berlari sampai depan mobilnya.

"ya ! kenapa ?." entah itu pertanyaan Jaebum yang keberapa karena dia terus bertanya pertanyaan yang sama sepanjang mereka berlari kesini.

Youngjae yang sedang memasukan tasnya ke dalam bagasi pun tetap tak memberikan jawaban.

"apa yang kau lakukan, cepat masuk." Protes Youngjae yang sudah berada di bangku kemudi pada Jaebum yang masih berdiri di samping mobilnya.

Jaebum masuk ke dalam mobil Youngjae, dan dia tersentak melihat Daehyun yang duduk di jok belakang dengan berlumuran darah.

Youngjae mulai menjalankan mobilnya.

"apa ini ?." tanya Jaebum

"aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit, aku akan mengoperasinya di rumahku. Untuk itu, aku butuh bantuanmu."

"hah ?." Jaebum membulatkan matanya.

"Kau harus membantuku !."

"kau benar-benar sudah gila." Desis Jaebum.

.

Youngjae memarkirkan mobilnya di depan rumahnya. Dia dan Jaebum turun.

Youngjae mengambil tas hitam yang di letakannya di bagasi tadi, kemudian mengamati situasi sekitarnya sebelum membuka pintu belakang.

Badannya condong ke depan untuk membantu Daehyun bergeser ke dekat pintu kemudian membantunya keluar dari mobil. Jaebum ikut membantu dengan menyangga sebelah tubuh Daehyun.

Mereka mendudukan Daehyun dengan pelan ke atas tempat tidur Youngjae.

Youngjae melepas jaket kulit hitam Daehyun sebelum membaringkannya.

Jaebum segera menyeret Youngjae sampai ke depan pintu.

"kau yakin dengan ini ?" tanya Jaebum.

"kita sudah sampai disini dan kau masih menanyakannya ?."

Jaebum menghela nafas melirik Daehyun yang masih menahan sakit. Dia ragu dengan keputusan Youngjae.

"Jaebum-ah aku mohon. Tolong aku kali ini. Kau tau lukanya sangat parah. Aku tidak bisa melakukannya sendiri." Youngjae menangkupkan kedua tangannya memohon.

Jaebum melihat Daehyun dan Youngjae bergantian kemudian dia mulai menghampiri Daehyun dan melihat keadaannya. Youngjae ikut menyusul di belakang.

"kau punya gunting ? kita harus membuka bajunya."

Youngjae membuka laci meja nakasnya mengambil sebuah gunting dan segera menggunting kaos yang di kenakan Daehyun hingga dia topless sekarang.

Beberapa luka tembak di perut, dada dan bahunya terlihat. Jaebum sedikit mendekat untuk melihat jelas lukanya.

Dia membuka tas hitam yang di bawa Youngjae dan mengambil alat pengukur tekananan darah, sebuah alat suntik dan botol kecil kosong. segera memeriksa tekanan darah Daehyun.

"dua peluru yang ada di perut dan bahunya masuk sangat dalam. dia juga sudah kehilangan banyak darah. Kita membutuhkan banyak kantung darah."

Jaebum mengambil darah Daehyun dan memasukannya ke dalam botol kecil.

"aku akan kembali ke rumah sakit untuk melakukan tes darah. Butuh waktu sekitar satu jam untuk kembali kesini kau bisa mengambil peluru yang tidak terlalu dalam tanpa obat bius."

"aku mengerti."

Setelah Jaebum pergi Youngjae segera mengambil beberapa peralatan dari dalam tas yang ia letakan di sofa belakangnya dan meletakannya pada meja nakas.

"daehyun. Kau masih bisa mendengarku kan ?." tanya Youngjae sedikit panik sambil memakai sarung tangan.

Dia melihat Daehyun yang masih memejamkan mata tapi dengan raut tenang.

"aku bisa mendengarmu." Jawab Daehyun lemah.

"kau harus bisa bertahan. aku akan mengambil beberapa pelurunya."

"ne." Daehyun menjawab dengan sangat pelan hampir tak terdengar.

Youngjae membersihkan darah yang keluar dengan handuk. menyuntikan antibiotik kemudian memberikan anastesi pada beberapa lukanya. Menyisakan dua luka pada perut dan bahu Daehyun.

Pelurunya memang benar benar tidak dalam. Jika di lihat lebih dekat lagi kita bisa melihat pelurunya.

Menunggu lima menit agar anastesinya bekerja kemudian dia mulai mengambil pelurunya satu persatu.

"beruntung peluru di dadamu tidak mengenai jantungmu." Ujar Youngjae saat mengambil peluru yang ada di dada kanan atas.

Daehyun tak menjawab. Youngjae kembali melakukan pekerjaannya. Setelah selesai dia mulai menjahit luka Daehyun.

Youngjae menghela nafas lega setelah empat puluh menit dia menyelesaikan semuanya. Tidak begitu lega sebenarnya karena tinggal dua peluru lagi.

Beberapa menit setelah itu, dia mendengar gerbang depan rumahnya di buka. Youngjae keluar kamar.

Baru saja dia satu langkah di depan pintu kamarnya, Jaebum sudah masuk dengan membawa tas ransel coklat yang biasa Jaebum pakai dan tiang infus yang terlipat.

"cepat sekali. Kau bilang satu jam."

"aku pemilik rumah sakit dan aku mengebut kesini." Jaebum meninggalkan Youngjae masuk ke dalam kamar.

"bagaimana dengannya ?." tanya Jaebum yang sedang menarik tiang infus agar menjadi lebih panjang.

"aku sudah mengambil pelurunya yang lain."

Jaebum membuka tas ranselnya dan mengeluarkan satu kantung darah. Menggantungnya pada tiang infus kemudian memasang selang yang akan terhubung dengan Daehyun.

"golongan darahnya A. Beruntung persediaan di rumah sakit banyak." Kata Jaebum.

Youngjae membantu dengan memasang selang infus pada nadi di pergelangan tangan Daehyun.

"Daehyun." Panggil Youngjae untuk memastikan karena dia tak merasakan nadi Daehyun.

Daehyun tak menjawab. Dia juga memejamkan matanya dengan raut tenang.

Youngjae menepuk nepuk pipinya tapi tetap tak ada jawaban.

"Daehyun, bangun !." Youngjae mulai panik.

Jaebum menghampirinya, menempelkan stetoscop pada dadanya.

"detak jantungnya semakin melemah, kita harus memacunya."

Tanpa berkata lagi, Youngjae segera naik ke tempat tidur, berdiri dengan lututnya di antara tubuh Daehyun. Kedua tangannya menekan-nekan dadanya.

"tidak. Daehyun- aku mohon." Mata Youngjae mengabur karena butiran bening yang telah lolos. Dia masih menekan-nekan dadanya.

"aku mohon- buka matamu."

Beberapa detik kemudian terdengar Daehyun melenguh. Youngjae berhenti dan Jaebum kembali memeriksa detak jantungnya. mata Daehyun terbuka setengah.

"detak jantungnya kembali normal." Ujar Jaebum.

Youngjae bernafas lega, kemudian turun dari tempat tidur. Dan kembali memasang selang infusnya pada pergelangan tangan Daehyun.

"aku akan membiusnya." Kata Youngjae.

Jaebum mengeluarkan alat alat operasi yang di butuhkan dan menaruhnya pada sisi kosong tempat tidur di sebelah Daehyun. Dan dia mulai memakai sarung tangan.

"kita mulai sekarang."

Youngjae mengangguk. Jaebum mengambil pisau bedahnya.

"kita tidak punya alat pengukur tekanan darah otomatis. Jadi tolong pompa kantung darahnya. Aku akan membedahnya."

Youngjae menekan kantung darah terus menerus. Jaebum belum bisa melakukan apa apa karena dia membutuhkan bantuan Youngjae untuk membersihkan darahnya nanti.

"periksa detak jantungnya." Ujar Jaebum.

Youngjae melakukan apa yang di katakan Jaebum. Dia menempelkan stetoscop pada dada Daehyun, menghitungnya dalam hati sambil melihat jam dinding.

"detak jantungnya normal." Ucap Youngjae.

"kalau begitu bantu aku disini. Kita harus sering sering memeriksa detak jantungnya."

"aku mengerti."

Jaebum mulai membedah perut Daehyun. Darahnya keluar dengan deras, Youngjae segera membersihkannya dengan handuk yang sudah dia potong menjadi beberapa bagian.

Mereka melakukannya seperti biasa, seperti saat mereka menjadi partner di ruang operasi.

Beberapa kali mereka harus dengan cekatan mengganti kantung darahnya karena habis.

Semua berjalan dengan baik meski tadi detak jantung Daehyun melemah tapi karena kerja sama mereka berdua itu bisa teratasi. Dan, beruntung Daehyun tak mengalami gangguan pernapasan.

Youngjae kembali memeriksa detak jantung dan tekanan darah Daehyun sebagai langkah terakhir.

Sementara Jaebum memisahkan alat alat operasi yang harus di sterilkan dan harus di buang.

"detak jantungnya normal tapi tekanan darahnya masih rendah." Ujar Youngjae.

Jaebum hanya mengangguk.

"kau bersihkan dirimu dulu. Biar aku yang membereskan semua ini."

Youngjae mengambil baju di lemarinya sebelum meninggalkan kamarnya dan masuk ke kamar mandi.

Setelah mengganti pakaiaannya dia mulai membersihkan wajahnya. Youngjae menatap pantulan dirinya pada cermin sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk. Gerakannya terhenti, tangannya perlahan turun. Dia masih menatap dirinya dari cermin, raut penyesalan begitu tergambar jelas di wajahnya.

Otaknya memutar kejadian beberapa jam yang lalu saat dia menyelamatkan Daehyun. Dia sudah membunuh seseorang.

Handuk yang dia pegang terjatuh, Dadanya tiba tiba merasa begitu sesak. Kakinya terasa lemas tak kuat menyanggah tubuhnya. Dia luruh kelantai dan mulai menangis.

Selama ini dia selalu berjuang untuk menyelamatkan nyawa banyak orang. Tapi hari ini dia harus membunuh seseorang.

Dia adalah pembunuh.

"Youngjae. Kau tidak apa apa." Terdengar suara Jaebum dari luar sambil mengetuk-ngetuk pintu.

Youngjae tidak menanggapinya, dia masih menangis. Telinganya seperti tuli.

"Youngjae." Panggil Jaebum lagi.

Tiba tiba pintu terbuka, dan Jaebum segera masuk menghampirinya. Dia berjongkok di depan Youngjae untuk menyamakan posisi mereka.

"ada apa ?." tanya Jaebum khawatir.

Youngjae mendongak menatap Jaebum dengan mata yang berair. Menerjang tubuh Jaebum dan menenggelamkan wajahnya pada dada laki laki itu.

Dia menangis disana. Jaebum memeluk Youngjae dan mengusap kepalanya untuk menenangkannya.

"aku- pembunuh." Ujar Youngjae di sela tangisannya.

Jaebum tak menjawab dan masih terus mengusap kepala Youngjae.

"hanya karena aku menyelamatkan nyawa satu orang, aku harus membunuh orang lain." Ujar Youngjae lagi.

Jaebum semakin mengeratkan pelukannya. Terus mengusap sayang kepala Youngjae hingga dia merasa tenang.

.

.

Jaebum menghampiri Youngjae yang duduk di pinggiran tempat tidur, tengah memperhatikan Daehyun yang masih terpejam dalam pengaruh obat bius.

"minumlah." Jaebum menyodorkan segelas teh hangat.

Youngjae menerimanya dan meminumnya sedikit. Jaebum duduk di sofa lalu menengok jam dinding.

"kau sudah memeriksa kembali detak jantung dan tekanan darahnya ? seharusnya pengaruh obat biusnya sudah habis."

"masih sama seperti tadi." Jawab Youngjae dengan masih menatap Daehyun.

"terus periksa keadaannya. jika besok dia belum sadar juga, terpaksa kita harus membawanya ke rumah sakit. Bisa saja dia mengalami koma."

"hmm." Youngjae bergumam pelan sebagai jawaban setuju atas pernyataan Jaebum.

"Youngjae-ah."

Youngjae menoleh melihat pada Jaebum.

"tidak kah perbuatanmu ini sudah terlalu jauh." Ujar Jaebum.

"apa ?." heran Youngjae tak mengerti kemana arah pembicaraan Jaebum.

Tanpa mereka sadari jari tangan kanan Daehyun sedikit bergerak. Kesadarannya berangsur angsur kembali. Dia masih enggan membuka matanya saat mendengar dengan jelas suara Youngjae.

"semua yang kau lakukan pada Daehyun." Jawab Jaebum.

Youngjae diam, hanya menatap Jaebum. Mendengarkan dengan baik apa yang di katakan sahabatnya itu.

"aku mengatakan ini bukan karena aku tidak suka kau dekat dengannya tapi sebagai sahabat aku tidak ingin kau tersakiti." Jaebum memandang Youngjae lekat. "apa kau pernah berpikir ? jika dia sudah menemukan kekasihnya, dia pasti akan meninggalkanmu." Lanjutnya kemudian.

Youngjae tersenyum kecut, kembali menyadari sebuah fakta yang sangat menyakitkan.

"aku tahu itu." jawab Youngjae. "anggap saja dengan ini aku membantu menemukan kekasihnya, ini adalah hal terakhir yang bisa aku lakukan untuknya. Setelah ini, aku benar benar akan meninggalkannya. Aku harus membalas budi."

"membalas budi ?. bahkan kau sudah membunuh orang hanya karena dia."

"beberapa waktu lalu dia menyelamatkanku yang hampir menjadi korban pembunuhan."

"apa yang kau katakan ?."

Youngjae meletakan gelasnya ke atas nakas.

"Jaebum-ah. kau pasti pulang karena kasus pembunuhan dua pria di basement kan ? Daehyun yang melakukan itu."

"jadi dia !." Jaebum memekik.

"dia membunuh dua laki laki itu karena mereka ingin membunuhku."

"kenapa mereka ingin membunuhmu ?."

"tidak tahu." Youngjae mengendikan bahunya.

Jaebum mengusap wajahnya kasar.

"polisi masih menyelidiki kasus ini mereka tak mendapat petunjuk sama sekali karena cctv di basement di rusak seseorang. Daehyun juga yang melakukannya ?."

"kalau itu aku tidak tahu."

"bagaimana jika melaporkannya pada polisi ?."

Youngjae menaikan sebelah alisnya. Sepertinya pikiran Jaebum sedang tidak bekerja atau bagaiamana.

"maksudmu melaporkan Daehyun ?." Youngjae mencoba memperjelas pertanyaan Jaebum. Dan laki-laki itu mengangguk.

"setelah kau melakukan semua ini ? mengoperasinya secara illegal ? kau siap rumah sakitmu di tutup ?."

Jaebum tercengang dengan pernyataan yang baru saja di katakan Youngjae. Dia mengacak rambutnya frustasi.

"kenapa kau membawaku pada situasi sulit seperti ini." erang Jaebum pelan membuat Youngjae terkekeh.

"karena kau sahabatku."

"kau ingin menginap disini ?." tawar Youngjae mengalihkan pembicaraan.

"tidak. Ada yang harus aku persiapkan besok pagi pagi sekali. Lagi pula tidur dimana aku jika menginap." Tolak Jaebum.

Youngjae berdiri tepat di depannya kemudian membungkuk hormat.

"Im Sajangnim. Tolong berikan aku cuti sampai Daehyun sembuh." Ucap Youngjae formal.

Jaebum menatap Youngjae dan menghela nafas.

"ne. Aku akan memberikanmu cuti sampai batas yang tidak di tentukan."

Youngjae tersenyum lebar.

"gomawo."

"aku pulang sekarang. Besok pagi sebelum berangkat ke rumah sakit aku akan datang lagi. Aku bawa mobilmu." Pamit Jaebum.

.

Daehyun membuka matanya setelah Youngjae dan Jaebum keluar. Matanya berkaca-kaca menatap pada langit-langit kamar Youngjae.

Pening di kepalanya tak dia rasakan karena rasa sakit dia hatinya yang dominan saat mendengar Youngjae akan meninggalkannya.

Dia sudah kehilangan kekasihnya, tidak. Maksudnya mantan kekasihnya dan dia tidak akan pernah membiarkan Youngjae pergi darinya.

.

Youngjae mengantar Jaebum sampai ke depan gerbang.

"Jaebum." Panggil Youngjae saat Jaebum akan masuk mobil. Jaebum menoleh.

"besok jika kau kesini tolong bawakan obat dan beberapa bajumu. Aku tidak punya baju yang pas untuk Daehyun."

"iya. Aku tahu"

"terima kasih Jaebum-ah."

"jangan berterima kasih, rumah sakitku terancam di tutup."

Youngjae terkekeh sambil melambaikan tangannya kemudian Jaebum masuk ke dalam mobil.

.

.

.

.

TBC