Author: Misa Hwang
Title: Hurt... (Chapter 8)
Main Cast: Xi Luhan, Oh Sehun, Kai Kim
Other Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kris, other
Genre: Angst, Sad, Hurt/Comfort, Romance
Warning: Yaoi, AU
Sehun berubah.
Luhan merasa ada yang aneh dari namja chingunya itu. Setelah sekolah dimulai, harusnya Sehun akan kembali sibuk dengan semua pelajaran dan kegiatan klubnya yang seabrek. Ia akan jarang menelepon dan memberi kabar seperti yang biasa dilakukannya dulu, namun dugaan Luhan salah.
Pada awalnya memang Sehun seperti itu, tapi sudah lebih dari seminggu ini mendadak perlakuannya berubah drastis. Ia menjadi—bisa dibilang—over protektif terhadap Luhan. Setiap jam selalu menghujaninya dengan SMS, sering menelepon hanya untuk bertanya di mana ia berada dan apa yang sedang ia lakukan sekarang, bahkan menyuruh untuk bertemu tiap malam walau tak ada hal yang penting.
Mulanya Luhan senang, tentu. Siapa yang tak bahagia diperhatikan oleh orang yang kau cintai setiap waktu? Tapi lama kelamaan, perasaan terkekang mulai datang seiring tingkah Sehun yang semakin menjadi-menjadi.
"Mengapa tak membalas pesanku?" itulah yang akan ditanyakan Sehun dengan nada dingin lewat telepon bila lama sedikit saja membalas SMS-nya.
Biasanya Luhan akan berusaha menjelaskan, kalau saat itu ia sedang ada kelas atau melakukan pekerjaan yang penting sehingga tak bisa segera membalas SMS, tapi lawan bicaranya tak mengindahkan penjelasannya barang sedikit pun.
"Aku tak peduli. Pokoknya, kalau lewat lima menit hyung tak juga membalas, akan kutelepon!"
Lalu telepon langsung ditutup, membuat namja yang lebih tua hanya bisa menghela nafas, berusaha memaklumi tindakan namja chingunya yang kekanakan. Soal masalah telepon-menelepon itu mungkin masih bisa ditolerir, namun saat namja itu mulai membentak-bentaknya dengan kasar?
Misalnya seperti kejadian empat hari lalu. Malam itu ia terlambat menemui Sehun di taman kota karena harus kerja kelompok dulu di kampus. Sebenarnya hanya lima belas menit saja ia terlambat. Itu juga dengan sudah memohon-mohon untuk diizinkan pulang duluan, padahal tugas belum selesai. Bahkan ia sampai rela menerima gerutuan dan omelan dari teman-temannya yang lain, tapi Sehun tetap tak mau mengerti.
"Gojitmal! Pasti hyung asyik jalan dengan namja lain sampai telat datang, kan?" tuduh namja tampan itu curiga.
Luhan terkesiap, tak menyangka Sehun akan berpikiran seperti itu. Tak bisakah namja itu melihat kejujuran yang terpancar jelas di kedua matanya sekali ini?
"Aniyo, aku benar-benar ada kerja kelompok, Sehun-ah," kembali ia mencoba menjelaskan dengan sabar.
"Aku tak butuh alasanmu!"
Bentakan Sehun sontak membuatnya terdiam, tak berani membalas lagi. Beberapa saat kesunyian pun menyergap. Kedua namja itu tak juga berkata-berkata, sampai akhirnya namja yang lebih muda memulai kembali pembicaraan.
"Malam ini kau menginap di flat-ku," perkataannya lebih terdengar seperti perintah daripada ajakan.
Dengan hati-hati Luhan menukas, "tapi besok ada kuliah pagi, sementara aku belum menyiapkan apa-apa."
"Sudah kubilang aku tak butuh alasan," potong Sehun dingin. Ditolehkannya kepala memandang namja yang sekarang tengah menunduk itu dengan tajam. "Kau terlalu banyak bicara."
"Mianhae," lemah akhirnya ia menjawab.
Jujur saja ia merasa sangat takut. Ya, takut! Kalau Sehun sudah membentak-bentak dan emosi seperti ini, selanjutnya ia bisa main tangan. Beberapa kali namja tampan itu sudah mengepalkan tangannya erat-erat, mungkin berusaha menahan hasratnya untuk memukuli Luhan. Kalau saja saat di Sungai Han dulu janji untuk tak akan menyakiti Luhan lagi tak pernah dibuat, pasti sekarang tubuh kurusnya sudah penuh berhiaskan luka-luka.
Karena itu, ia benar-benar berusaha untuk tidak menyulut emosi Sehun. Walau tersiksa, ia tetap melakukan apa yang namja itu suruh, seegois apa pun itu. Termasuk saat namja itu mendadak menjadi cemburu berlebihan dan menyuruhnya jangan dekat-dekat dengan namja manapun.
"Jangan sampai sekali saja aku melihatmu mengobrol dengan namja lain!" begitu ancam namja itu setelah melihat namja chingunya yang asyik bercanda dengan Lay beberapa hari lalu.
"Demi Tuhan, Lay itu hanya temanku, Sehun!" hampir saja ia berteriak saking frustasinya menghadapi rasa cemburu Sehun yang tak masuk akal. Tapi tentu saja pembelaannya tak diterima, dan akhirnya harus ia yang mengalah.
Saat bertemu tiap malam, ponselnya juga selalu direbut Sehun. Namja itu akan memeriksa setiap pesan, riwayat telepon, bahkan foto-foto yang ada di galerinya dengan saksama. Karena itu Luhan tak berani menyimpan foto Kai sama sekali di ponselnya, bahkan foto mereka berdua yang dulu itu pun sudah ia hapus. Begitu Kai atau teman namjanya yang lain mengirim SMS, ia juga akan segera menghapusnya agar tak dibaca Sehun.
Pernah sekali ia lupa menghapus SMS Kai yang sebenarnya isinya cuma memberitahu ia akan pulang telat karena acara pembinaan di sekolah, namun itu sudah cukup membuat Sehun curiga setengah mati.
"Siapa Kai ini?" tanyanya dengan nada menyelidik yang kentara.
"Teman flat-ku," dan Luhan memang tidak berbohong.
"Kenapa kalian kelihatan akrab sekali?"
"Tentu saja kami akrab, lagipula dia masih kecil. Sudah kuanggap adikku sendiri!" segera ia berkilah, walau sebenarnya dadanya telah berdebar keras karena gugup dan takut.
Namja di hadapannya diam sebentar sebelum melanjutkan, "Kenalkan aku padanya."
"Astaga, Sehun!" rasanya sekujur tubuh Luhan mendadak menjadi lemas. Bagaimana bisa ia mengenalkan namja chingunya pada Kai? Justru itu hal pertama yang paling tak ingin ia lakukan! Selama ini ia bahkan mati-matian menyembunyikan di mana ia tinggal karena takut Sehun akan mendatangi flat-nya. Kalau dua namja itu sampai bertemu, orang pertama yang akan mati tak lain adalah dirinya sendiri, Xi Luhan!
"Ya sudah, yang penting jangan terlalu dekat dengannya."
Beruntung, sekali itu ia bisa menarik nafas lega karena Sehun memutuskan tak mengusut masalah itu lebih jauh.
"Hyung tinggal saja di flat-ku," tanpa beban kata-kata itu sudah keluar dari bibir Sehun, membuat lawan bicaranya yang tadi sudah merasa tenang refleks menautkan kedua alis karena kaget.
"Maksudmu?"
"Kita tinggal bersama. Kau mau, kan?"
"Sehun-ah, bukannya aku tidak mau," jawabnya dengan nada selembut mungkin. Digenggamnya jemari namja yang lebih muda darinya itu dengan lembut, "tapi tidak semudah itu."
"Mengapa? Flat-ku tidak terlalu jauh dari kampusmu. Kamarku juga tak sempit walau ditempati berdua. Apa karena Baekkie sunbae? Tak usah sungkan, dia juga tak terlalu peduli!"
"Bukan hanya karena itu, Sehun-ah," pelan Luhan mendesah. Tak mungkin ia bisa meninggalkan Kai semudah itu, kan? Bagaimana nasib namja itu nanti? Lagipula ia sudah kerasan di flat-nya sendiri. Satu-satunya kedamaian yang bisa ia dapatkan adalah saat menghabiskan waktu bersama Kai tiap malamnya. Tak mungkin ia bisa melepaskan semua itu!
"Aku tak mengerti. Sebenarnya kau mencintaiku atau tidak, hyung?" kembali namja tampan itu membentak kasar, membuat namja chingunya sedikit terlonjak karena kaget.
"Tentu saja aku mencintaimu, tapi kau juga harus bersikap dewasa, Sehun-ah. Ada juga hal-hal yang tak bisa kau dapatkan walau kau ingin. Kau tak bisa memaksakan kehendakmu," perlahan namja cantik itu berusaha memberi lawan bicaranya pengertian, tapi semuanya sia-sia belaka.
Sehun melepas genggaman tangan namja chingunya dengan kasar. Dengan suara bergetar menahan amarah ia menjawab, "Jangan coba mengguruiku seolah aku ini anak kecil yang tak tahu apa-apa!"
Menyadari perubahan ekspresi namja di hadapannya, Luhan tahu ia sudah salah bicara. Dengan sedikit ketakutan, buru-buru ia meralat, "Bukan begitu, aku sama sekali tak bermaksud menasihati apalagi mengguruimu. Hyung hanya ingin memberitahumu baik-baik."
"Diam," desisnya dingin, "sekali lagi kau buka mulut, jangan salahkan aku kalau memukulmu."
Kau jahat, Oh Sehun. Bahkan mengungkapkan pendapat padamu pun sekarang sudah tak boleh. Kau anggap aku ini apa? Bonekamu? Atau bahkan… budakmu?
Luhan hanya bisa merutuk dalam hati sembari berusaha menahan air mata yang memaksa ingin turun. Menangis tak akan menyelesaikan masalah. Air matanya sudah tak bisa meluluhkan hati namja chingunya sekarang, malah sebaliknya. Amarah namja itu bisa semakin menjadi kalau ia sampai berani menangis.
Kadang ia tak habis pikir, mengapa sikap Sehun bisa berubah drastis seperti ini. Kalau ditelisik, ini semua mulai terjadi setelah Luhan tak bisa menjemput namja itu di halte seminggu yang lalu. Saat itu ia memang baru pulang sehabis berkencan dengan Kai dan bahkan terlalu lelah untuk melangkahkan kaki meninggalkan kamar, apalagi keluar flat untuk menjemput Sehun.
Selama ini selalu Kai yang melakukan apapun untuk menyenangkan hatinya, bahkan sampai membelikannya ponsel. Apa salah kalau sekali saja ia ingin membalas kebaikan namja itu? Apalagi saat namja itu mendapat nilai sempurna di pelajaran matematika. Yah, walaupun yang bisa ia lakukan hanya mentraktir menonton film dan makan malam, toh Kai sudah kelihatan senang dan sangat berterima kasih.
Apa jangan-jangan Sehun tahu tentang hubungan gelapnya dengan namja polos itu? Tapi, Sehun tak mengenal Kai! Ia bahkan baru mengetahui nama namja itu setelah tak sengaja membaca SMS yang lupa dihapus Luhan. Lagipula kalau ia sudah tahu, pasti Luhan tak akan dibiarkannya hidup begitu saja sampai saat ini.
Namun satu hal yang Luhan sadari, saat ini namja tampan itu tengah menaruh curiga. Entah apa yang terjadi malam itu yang tidak ia ketahui, yang pasti sejak itu sikap Sehun berubah menjadi over protektif dan sangat mengekang. Entah karena apa. Ia pun masih menerka-nerka.
Setelah seharian penuh tertekan karena ulah egois Sehun, satu-satunya yang bisa menenangkan hatinya hanyalah Kai seorang.
Berbalik 180 derajat dengan sikap Sehun yang kasar dan seolah tak pernah puas membentak, namja itu memperlakukannya dengan sangat lembut. Jangankan membentak, memarahi saja tak pernah. Justru ia yang selalu bersabar menghadapi Luhan.
Saat Luhan memintanya untuk tidak menjemput di kampus lagi dengan alasan takut merepotkan dan semacamnya, namja itu mau mengerti. Saat Luhan menyuruhnya untuk jangan terlalu sering menelepon karena saat ini ia tengah sibuk-sibuknya dengan kegiatan kampus, namja itu juga mau memaklumi. Bahkan walaupun terkadang alasan yang diberikan Luhan tidak jelas, namja itu sama sekali tidak menyudutkannya atau menuduhnya dengan nada curiga seperti yang Sehun lakukan.
Sehabis makan malam mereka selalu menghabiskan waktu dengan menonton TV bersama. Luhan akan menyelinap dalam pangkuan Kai, sementara namja yang lebih muda merangkul pinggangnya dengan lembut.
"Kai tidak pegal?" pernah sekali ia bertanya saat sudah lebih dari sejam mereka tetap bertahan dalam posisi itu.
"Tidak, kok. Aku kan suka memangkumu," jawab namja itu manis seraya mengistirahatkan dagunya pada bahu kecil namja yang duduk di atas pangkuannya.
"Aku berat, tidak?" kembali Luhan bertanya memastikan.
"Justru Lulu harus makan lebih banyak lagi, tubuhmu terlalu ringan."
Dan sekali lagi Kai berhasil membuat namja cantik itu tersenyum senang dan melupakan semua masalahnya dengan Sehun hari itu.
Malam ini Luhan pulang lebih larut dari biasanya. Salahkan pertengkarannya dengan Sehun yang berlangsung cukup lama dan sengit. Masih soal tinggal bersama yang tak kunjung membuahkan penyelesaian.
Ia merasa sangat lelah, fisik dan mental. Berusaha menahan emosi dan tangis sangat menguras energi, kau tahu? Kalau tadi ia tak mengalah (lagi), pasti sampai sekarang ia belum bisa menjejakkan kakinya di flat kecil namun nyaman ini.
"Kai!" panggilnya lemah seraya membunyikan bel berkali-kali.
Suara langkah kaki yang berlari di atas lantai kayu flat segera terdengar. Tak sampai sedetik kemudian pintu sudah dibuka, menampilkan sosok Kai yang hanya memakai kaus dan celana tidur. Seperti biasa ia menyambut dengan senyum.
"Kau pulang, Lu," sapanya hangat.
"Ne," Luhan sedikit menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan namja di depannya, merasakan kehangatan yang diberikan tubuh Kai untuk beberapa saat sebelum akhirnya berbisik pelan, "Aku merindukanmu."
Kai tertawa renyah sebelum melepas tautan lengannya pada tubuh ringkih itu, "kau kira aku tidak? Ayo masuk."
Sembari masuk ke dalam flat, ia menceritakan kejadian di sekolah hari itu dengan bersemangat. Namun melihat wajah Luhan yang sedikit pucat, ia segera menghentikan ocehannya dan bertanya khawatir, "Kau baik-baik saja?"
"Aniyo, aku hanya lelah," jawab namja cantik itu, mengulaskan senyum tipis.
"Kau sudah makan?" ia kembali bertanya sambil memberikan Luhan segelas air, yang langsung dibalas namja itu dengan anggukan.
"Kalau begitu duduklah dulu, akan kusiapkan air hangat," katanya akhirnya setelah mendudukkan namja mungil itu di sofa besar di ruang tamu.
Seusai mandi dengan air hangat yang dimasakkan namja chingunya, Luhan duduk bermalas-malasan di sofa sambil menonton TV. Bosan melihat acara yang tidak menarik, ia memutuskan menghampiri Kai yang sedari tadi berdiam di kamarnya.
"Kai, kenapa tidak ikut nonton TV?" tanyanya pelan setelahmembuka pintu kamar namja itu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Kai yang sedang mengerjakan sesuatu di meja belajar tampak sedikit terkejut melihat sosok Luhan yang tahu-tahu sudah ada di kamarnya. Namun segera ia menjawab dengan nada lembutnya yang biasa, "Aku sedang mengerjakan PR, Lu."
"Oh, begitu. Masih lama?"
"Tidak, Lulu lanjutkan saja menonton TV-nya, nanti aku ke sana."
Luhan mengangguk mengerti dan kembali ke tempatnya semula. Perhatiannya sejenak teralihkan oleh drama romantis yang tengah diputar di layar kaca. Namun setelah drama itu selesai, rasa jenuh kembali menghampiri. Sejam sudah berlalu dan Kai belum juga menyusul ke ruang tamu. Dengan tak sabar ia kembali mendatangi kamar kecil yang terletak di seberang kamarnya sendiri itu.
"Memangnya PR-nya ada banyak?" tanyanya seraya menempelkan pipinya pada pipi namja chingunya itu dari belakang dengan manja.
"Iya, banyak sekali," namja itu hanya menjawab sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian pada tumpukan buku pelajaran di atas meja.
Merasa diabaikan, Luhan menggembungkan pipinya sebal. Dijatuhkannya tubuh kecilnya pada ranjang dengan keras, berharap perhatian Kai sejenak teralihkan.
"Kai, ngantuk..." ia kini sudah mengubah posisi tubuhnya menjadi tengkurap, mengalihkan pandangan pada punggung namja yang masih asyik berkutat dengan tugas sekolahnya itu.
"Tidur duluan saja kalau begitu."
"Tidak mau, maunya tidur sambil dipeluk Kai," pinta Luhan sedikit merajuk.
"Tunggu sebentar, ya. Aku masih mengerjakan PR," bahkan namja itu tak mau repot-repot membalikkan tubuh untuk sekadar menatap wajah Luhan ketika menjawab. Rupanya ia benar-benar berkonsentrasi penuh pada hal yang sedang ia kerjakan sekarang.
Luhan menghela nafas pelan, berusaha bersabar. Beberapa kali ia mengubah posisi tidurnya untuk sekadar membunuh waktu. Memeluk guling, meringkuk, memainkan bantal, bahkan menendang-nendang pinggir ranjang sampai menimbulkan suara keras.
"Kai, masih belum juga?" tanyanya jengkel setengah jam kemudian. Ia mulai merasa kesal melihat kelakuan namja chingunya yang seolah asyik sendiri dengan dunianya.
"Belum, Lulu. PR-ku banyak sekali, asal kau tahu saja," sahut namja itu datar, masih tanpa menoleh.
Akhirnya kesabaran Luhan habis juga. Dilemparnya guling yang sedari tadi ia peluk ke arah namja di hadapannya. Benda itu jatuh mengenai kepala Kai dengan cukup keras.
"Sudahlah, aku pergi saja. Maaf sudah mengganggumu," katanya seraya beranjak dari ranjang, berniat keluar dari kamar sebelum lengan Kai buru-buru menahannya.
"Jangan marah, Lu. Bukannya bermaksud mengabaikanmu, tapi aku benar-benar harus mengerjakan PR sekarang. Bukannya kau yang menyuruhku rajin belajar?" dengan lembut namja yang lebih muda berusaha menerangkan.
"Terserah, masa bodoh denganmu dan PR sialanmu itu!"
Sebelum sempat berpikir jernih, tahu-tahu bentakan itu sudah meluncur keluar dari kedua bibir tipis Luhan, membuat yang dibentak sejenak mengerjapkan mata karena kaget. Sorot matanya nampak terluka.
Segera Luhan menundukkan kepala, menyesali perkataan kasarnya yang keluar tanpa disengaja. Ia sama sekali tak berniat membentak Kai. Tidak, ia hanya ingin diperhatikan dan dimanja oleh namja itu. Ingin ditemani dan dipeluk, diperlakukan dengan lembut seperti biasa, terlebih setelah Sehun memperlakukannya dengan sangat buruk hari ini.
Aku sudah melampiaskan rasa marah dan lelahku pada Kai yang tak tahu apa-apa, pikirnya dengan penuh rasa bersalah.
Sebelum sempat mengutarakan maaf, ia merasakan lengan namja itu telah terlebih dulu memeluknya, menggiring tubuh kecilnya ke ranjang dan membaringkannya dengan lembut. Sedikit terkejut, Luhan hanya bisa terdiam, namun tak berontak saat namja itu mulai merangkul pinggangnya erat dan menyandarkan kepala pada punggung kecilnya. Jarak mereka begitu dekat sampai detak jantung masing-masing yang tak karuan pun dapat terdengar.
"Mianhae, aku yang salah," mendengar suara lemah dengan nada memohon itu membuat hati Luhan entah mengapa seakan teriris.
Luhan membalikkan tubuhnya menghadap namja yang kini tengah berusaha menahan tangis karena rasa bersalah itu. "Maaf juga telah membentakmu," beringsut akhirnya ia berbisik menyesal.
"Lulu tak marah lagi, kan?" tanya Kai masih dengan nada takut-takut
Segera ia menggeleng kuat-kuat. Tidak, bagaimana bisa amarahnya tetap bertahan setelah melihat wajah bersalah dan polos itu?
"Lanjutkan saja belajarmu, aku tak akan marah. Sungguh."
"Aniyeyo," Kai mendekatkan tubuhnya dan tersenyum sejenak sebelum mengecup kening namja di hadapannya lembut, "kau lebih penting."
Perasaan bersalah dan tak enak seketika menghinggapi relung hati Luhan. Awalnya ia berniat memprotes, namun setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan untuk menyerah dan sekali lagi menerima kebaikan hati Kai yang entah sudah keberapa kali.
"Gomawo, chagi," bisiknya kemudian, membuat namja yang tengah memeluknya sedikit terkejut karena senang.
Ini pertama kalinya ia memanggilku chagi, benak Kai sejenak berteriak sebelum mengangguk dan kembali mengeratkan rangkulannya. Dan tak perlu waktu lama sampai akhirnya Luhan pun tertidur, damai dan hangat dalam pelukan namja yang sangat mencintainya itu.
~HURT~
Luhan menuruni tiap anak tangga flat dengan sedikit tergesa, sebelah tangan menggandeng Kai yang berjalan mengikuti. Akibat bangun kesiangan, mereka sedikit terlambat berangkat pagi ini.
"Mianhae, kalau saja aku bangun lebih pagi," ujar Kai dengan nada bersalah.
"Ini bukan salahmu saja."
"Tapi Lulu kan tidak bisa bangun sebelum kubangunkan."
Dan itu memang benar. Luhan benar-benar tipe orang yang tidak bisa bangun pagi dengan usahanya sendiri. Alhasil ia jadi bergantung pada namja chingunya setiap pagi. Kalau Kai bangun kesiangan? Ya hal seperti inilah yang akan terjadi.
"Aigoo, tak usah kau ingatkan pun aku sudah tahu," ia pura-pura merajuk sementara namja yang satunya lagi sedikit menggelitik lengannya seraya tertawa kecil.
"Hei, geli! Astaga, kita benar-benar sedang terlambat sekarang, Kai!"
Kai memutuskan menyudahi gurauannya dan ikut mempercepat langkah menyejajari namja chingunya yang terus-terusan memandangi angka yang tertera pada arloji. Tiba-tiba langkah Luhan terhenti.
Sosok familiar seorang namja tinggi dan tampan yang tengah berdiri gelisah tak jauh dari flat sontak membuatnya tertegun. Sedetik kemudian rasa panik mulai menjalari tubuhnya sampai ke ubun-ubun. Kenapa namja itu bisa ada di sini? Apa yang ia lakukan? Bagaimana ia bisa tahu alamat flat-ku?
"Luhan hyung!"
Namja berseragam sekolah itu segera berteriak menghampirinya sesaat setelah mata mereka tak sengaja bertemu, sementara yang dipanggil hanya bisa terdiam dengan mulut sedikit menganga karena kaget dan takut. Dirasakannya tubuhnya mulai bergetar, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Andaikan bisa lari, pasti ia sudah kabur menyelamatkan diri saat ini.
"Sudah cukup lama aku menunggumu, hyung!" kata Sehun setelah mereka bertiga sudah saling berhadapan.
Ya, Oh Sehun. Namja chingunya. Demi apapun, mengapa dia bisa ada di sini? Batin Luhan sudah menjerit sedari tadi.
"Nugu?" pelan Kai berbisik, menanyakan identitas orang yang berdiri di depannya saat ini dengan penasaran.
Rupanya Sehun mendengar pertanyaan yang lebih berupa gumaman itu. Ia berusaha mengingat-ingat. "Kau pasti teman satu flat Luhan hyung. Kalau tidak salah, namamu… Hm, Kai?"
"Ah, Kai Kim imnida. Manaseo bangapseumnida," lawan bicaranya segera membungkukkan badan sopan, "lalu kau?"
Sehun mengulurkan satu tangannya pada namja di hadapannya, "Oh Sehun imnida."
"Sehun?" sontak kedua mata Kai membesar, wajahnya menampakkan rasa terkejut. Ia segera memalingkan wajah pada Luhan, namun namja cantik itu hanya diam saja sambil menggigit bibir.
"Ne, Sehun. Namja chingu Luhan," lalu namja itu menarik Luhan yang sedari tadi berdiri di sebelah Kai untuk berpindah ke sisinya, merangkul pundaknya dengan posesif.
Sesaat Kai tidak mengerti apa yang terjadi. Bagaimana ia tidak syok saat Sehun yang selama ini ia benci karena sudah menyakiti orang yang ia cintai berkali-kali tiba-tiba menampakkan diri di hadapannya. Dan yang lebih kurang ajar lagi, namja itu masih menyebut dirinya sendiri sebagai namja chingu Luhan? Hah!
"Jangan bercanda," telinganya dapat mendengar suaranya sendiri yang bergetar karena amarah.
"Maaf?"
"Brengsek, sampai kapan kau masih menganggap dirimu sebagai namja chingu Luhan, hah?" akhirnya ia membentak sambil dengan sedikit kasar menarik lengan Luhan untuk kembali ke dekatnya, menjauhi namja sialan itu.
Sebelum namja di depannya sempat berkata-kata, Kai sudah lebih dulu melanjutkan makiannya, "Tak bisakah kau membiarkan Luhan hidup tenang sekarang? Terima saja kenyataan kalau dia sudah memutuskanmu!"
"Kai, hentikan…" dirasakannya Luhan menarik-narik ujung seragamnya dengan panik, mengisyaratkannya untuk berhenti. Wajah namja cantik itu sudah pucat pasi bagaikan orang tak bernyawa sekarang.
"Apa maksudmu?" suara Sehun terdengar serak dan tajam. Ia menatap kedua namja di hadapannya dengan mata nyalang.
"Aku namja chingunya sekarang. Bukan kau," Kai berdesis marah seraya menolehkan kepala dan mencium Luhan tepat di bibirnya. Sengaja ia melakukan itu untuk menegaskan bahwa namja cantik itu seutuhnya, tubuh dan hatinya, hanya miliknya seorang.
Luhan merasa kakinya melemas. Ia benar-benar ketakutan sekarang. Berada dalam situasi seperti ini bahkan tak pernah terpikirkan olehnya! Deru nafasnya terasa sesak, naik turun dengan tak beraturan. Bahkan sempat beberapa kali ia tak dapat bernafas. Ini buruk, benar-benar buruk. Sehun akan mengamuk. Aku akan mati dan Kai… Tidak, aku tak boleh melibatkannya lebih dari ini!
Sebelum ia sempat memperingatkan namja itu untuk pergi, kata-kata dingin Sehun sudah terlebih dulu terdengar.
"Kau, lepaskan tanganmu dari milikku," serunya pada Kai dengan nafas memburu menahan amarah, kemudian dialihkannya pandangan pada sosok Luhan yang tengah membatu, "dan kau, banyak yang harus kau pertanggungjawabkan setelah ini."
"Aku bebas menyentuh namja chinguku sendiri."
Pabbo, kenapa kau balas menantangnya seperti itu, Kai! Astaga, cepat lari sebelum Sehun…
BRUK! Dan sedetik kemudian Kai sudah terpelanting, kepala tepat membentur aspal yang keras. Dengan buas Sehun menindihnya, terus mendaratkan pukulan di wajah dan tubuh namja malang itu tanpa kenal ampun. Ia mencoba melawan, tapi tenaganya tak sebanding dengan namja yang kini tengah meninju hidungnya dengan keras itu.
"Aargh!" ia berteriak seiring rasa sakit yang memuncak pada hidungnya yang telah bersimbahkan darah. Sial, pasti patah.
Luhan terus saja menjerit-jerit memohon Sehun untuk berhenti, menarik perhatian pejalan kaki yang berada di sekitar mereka. Beberapa orang akhirnya mulai berlari mendekat.
"Sehun, hentikan!" sambil menangis ia terus menarik lengan Sehun, memaksa namja itu untuk menghentikan pukulannya yang bertubi-tubi.
"Diam!" merasa terganggu, Sehun meninju namja chingunya sendiri tepat di matanya.
Luhan merasakan tubuhnya oleng, keseimbangannya hilang seketika. Ia sempat mendengar langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat dan bertanya apakah ia baik-baik saja, namun setelah itu ia tak dapat mendengar apa-apa lagi. Suara ribut di sekitarnya perlahan menghilang. Bayangan orang-orang yang tengah memisahkan Kai dan Sehun yang terus meronta juga mulai memudar. Dan sesaat semuanya terasa gelap.
"Sehun, jangan!"
Luhan membuka kedua matanya, bangkit terduduk sambil terengah-engah mengatur nafas. Keringat dingin mengucur membasahi seluruh tubuhnya yang tengah bergetar hebat. Air mata ketakutan telah mengotori kedua pipinya entah sejak kapan.
Ia menolehkan pandangan ke kanan dan ke kiri. Penglihatannya yang semula buram sedikit demi sedikit mulai jelas lagi. Benda yang pertama kali ia lihat adalah cermin besar di seberang ranjang yang memantulkan bayangannya sendiri. Lalu lemari, kursi, rak buku, dan terakhir sosok Kai yang tengah tertidur di meja belajarnya.
Ya, dia sedang berada di dalam kamar Kai sekarang. Sontak tubuh Luhan melemas setelah menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Untung saja tadi hanya mimpi. Untung saja, untung saja…
Bahu Luhan bergetar, dan ia menangis lagi. Tak ada yang tahu betapa lega dan bersyukurnya ia sekarang karena bencana menyeramkan tadi tidak benar-benar terjadi, melainkan hanyalah bunga tidurnya belaka.
Jam demi jam berlalu dan ia masih meringkuk sambil menangis dan terus menangis. Ketika dirasanya sudah tak ada air mata yang dapat keluar lagi, akhirnya ia berhenti.
Ia pun bangkit dari ranjang, mendekati sosok Kai yang tengah tertidur pulas di meja belajar. Namja itu menggunakan lengannya sendiri sebagai bantal. Perhatian Luhan teralihkan pada kertas-kertas yang tertumpuk berantakkan di atas meja. Matanya membulat seketika saat melihat soal demi soal yang telah dijawab dengan rapi pada kertas yang jumlahnya tak bisa dibilang sedikit itu.
Ternyata Kai tak berbohong saat bilang ia mendapat PR yang sangat banyak, lirih namja cantik itu membatin. Hatinya seketika langsung diliputi rasa bersalah. Ia mengingat betapa manja dan kekanakan sikapnya pada Kai kemarin. Ia bahkan membentak namja itu dengan kasar!
"Mianhae," lirih ia berbisik seraya mengecup kedua pelupuk mata namja itu lembut.
Andaikan kau mengungkapkan perasaanmu lebih dulu daripada Sehun, pasti sekarang kita sudah bahagia tanpa ada masalah sedikit pun. Mianhae, Kai.
"Ng…" tiba-tiba namja yang tengah tidur terbangun. Masih dalam keadaan setengah sadar ia mengerjapkan kedua matanya perlahan.
"Chagi, jangan tidur di sini. Pindahlah ke ranjang," dengan lembut Luhan berusaha memandu namja yang masih memutar kedua bola matanya dengan bingung untuk bangkit dari kursi, lalu membaringkannya di ranjang yang berderit.
"Sekarang jam berapa?" serak namja itu bertanya.
"Baru setengah tujuh," jawab lawan bicaranya setelah melihat jam di dinding.
"Ah, sudah jam setengah tujuh. Aku harus masak," ia baru ingin bangun lagi dari posisi tidurnya sebelum Luhan buru-buru menahannya.
"Pagi ini aku yang memasak. Kau tidur lagi saja sebentar, nanti kubangunkan."
"Tapi…"
"Tak ada tapi-tapi. Pembicaraan selesai," tukas Luhan tegas dan segera dikecupnya bibir namja di hadapannya sebelum ia sempat membantah lagi.
Sekitar sejam kemudian Kai pun terbangun. Saat ia melangkahkan kaki ke luar kamar, di meja makan sudah tersedia sarapan hasil karya Luhan yang ehm... tidak terlalu menggoda selera. Hanya telur yang sedikit gosong dan nasi putih dengan sedikit sayuran.
"Maaf aku hanya bisa masak itu, kalau itu bahkan bisa disebut masakan," Luhan tersenyum miris dengan wajah malu seraya menarik kursi mempersilahkannya duduk.
Kai menurut. "Gomawo," ia tersenyum tulus setelah mencoba sedikit lauk yang disediakan, "Ini enak."
"Gojitmal."
"Jinjja, ini enak sekali. Kau pasti membuatkannya dengan penuh cinta, hm?"
Pipi namja di hadapannya tak ayal memerah, "gombal."
Kai tertawa sejenak, kemudian melanjutkan sarapannya dengan mata terus melekat pada sosok namja kurus dan mungil yang duduk di sampingnya. Beberapa kali ia tak bisa mencegah dirinya untuk tersenyum.
"Aish, jangan menatapku dan cepat habiskan makananmu. Kita sudah terlambat, tahu!" namja itu membuang wajahnya malu.
"Ne, chagi."
Luhan sejenak tersentak mendengar pernyataan bernada menggoda itu. Kini diamatinya namja yang tengah menyantap sarapannya itu dengan pandangan bertanya.
"Itu kan panggilan sayangmu untukku? 'Chagi'? Pasaran sekali," namja itu pura-pura mengeluh dengan nada menyebalkan, membuat Luhan kesal.
"YA!"
"Pasaran, tapi… Aku suka. Sudah lama aku menunggu kau memanggilku dengan sebutan selain 'Kai', kau tahu?"
DEG! Tiba-tiba debaran di dada Luhan terasa lebih keras, seiring sosok di hadapannya mulai tersenyum lembut, menatapnya dengan pandangan yang berbeda dari biasanya. Kai mengulurkan tangannya yang tidak sedang memegang sumpit dan menggerakannya menuju pipi Luhan.
"Gomawo," lalu tangan itu mengelus pipinya lembut.
Luhan menundukkan kepala lagi. Semburat merah muda kembali menyeruak, menghiasi tiap bagian wajahnya yang masih pucat akibat mimpi tadi. Walaupun ia yang lebih tua, Kai terasa jauh lebih dewasa. Kebaikannya, perhatiannya, kesabarannya, tiap sentuhannya… Semuanya terasa berbeda. Selama ini ia selalu menganggap namja di depannya ini sebagai anak kecil yang masih kekanakan, namun kenyataannya ia lah yang masih anak kecil. Entah sejak kapan sosok Kai di matanya telah berubah.
"Hei, tatap aku."
Ia menurut, menatap kedua bola mata yang cemerlang itu. Menatap wajah tampan nan sempurna yang selalu menyiratkan kelembutan itu. Menatap lekuk senyuman tulus yang entah mengapa dapat membuat jantungnya berdetak tak karuan, dan akhirnya Luhan sadar.
Ia benar-benar telah jatuh cinta pada Kai Kim.
I lost my mind, dang ni zou jin wo shixian…
Ringtone ponsel yang berbunyi keras refleks membuat kedua namja itu terlonjak, tak sengaja saling menjauhkan diri karena kaget. Dengan sedikit menggerutu karena momen indah itu telah terganggu, Luhan segera beranjak mengambil ponselnya yang terletak di dekat dapur.
"Yoboseyo?" ujarnya dengan nada jengkel, tanpa melihat nama sang penelepon terlebih dahulu.
"Hyung, mengapa suaramu kesal begitu?"
Ternyata Sehun. Seraya menghela nafas, ia segera merubah nada suaranya yang semula tidak mengenakkan hati menjadi manis seperti biasa. "Tidak kok, ada apa?"
Diam sebentar sebelum namja di balik telepon melanjutkan,
"Keluarlah, aku sudah ada di bawah flat-mu sekarang."
"Mwo?"
Luhan merasa seluruh tubuhnya bergetar, lemas.
~TBC~
Chapter ini terinspirasi pengalaman pribadi author banget T.T *jadi curhat. Maaf ya, kalau ceritanya terkesan terburu-buru, soalnya dua chap ke depan udah klimaks. Misa akan berusaha nyelesain fic ini sebelum liburan berakhir. Buat semua yang udah mau baca dan komen, jeongmal gomapseumnida *deep bow.
N.B: Oiya, yang mau ngobrol2 bisa follow twitter aku di FiaHwang. Jangan lupa mention, ya!
.
BlackPearl08: Makasi chingu udah mau fave, muah *cup2 BlackPearl-ssi. Soal si Lulu yang diolokin jalang dan semacamnya nanti bakal terungkap kok di beberapa chap selanjutnya. Abis image Kris yang mabok2an keren sih, chingu *plak. Gomawo, ne! ^^
baby quila: Gapapa kok, makasi yah udah review *kedip2in mata. Soal baby Tao, apa daya wajah memenuhi syarat menjadi antagonis, walau sifatnya kebalikannya, hehe. Gomawo pujian & masukannya, chap depan juga komen yah XD
anonstalker: Boleh juga tuh chingu, "dosa menjadi namja cantik" mungkin bisa dipake buat judul chap selanjutnya, hehe *plak. Soal Kris, kalo ga ada dia ga seru :D *maklum author-nya penggila Kris. Gomawo review-nya, ikutin terus yah.
PumpkinKyu: Ne, tolong sadarkan Lulu, ia sedang khilaf T.T ChanBaek muncul di chap depan, bakal ada kejutan lho. Gomawo ne… :D
Rizkyeonhae: Kai sejauh ini masih baik kok, chingu :D Mian ChanBaek ga ada lagi di chap ini, tapi mereka bakal muncul di chap depan, gomawo ^^
Jisaid: Tenang nanti masa lalu Kris sama Luhan terungkap, kok. Lulu karakternya jadi berubah drastis banget ya, tadinya padahal protagonist tersiksa -_- Gomawo ne XD
ChanyeoLiena110: Aaaa chingu makasi udah mau review panjang *hug ChanyeoLiena-ssi. Misa jadi semangat buat update lho, bacanya :D Ne, di sini emang ga dibikin Taoris. Suho sama Tao jadi malah kayak komplotannya Kris -_- Tenang Sehun ga nanggepin kok, kan dia udah buang kertasnya. Sekali ini dia masih waras *plak. Gomawo ne, review chap depan juga, yah? *buing buing
LiuGe'Fanboy: Misa 17 thn :D Ne, chap ke depan juga udah memasuki klimaks nih *jadi deg2an sendiri. Gomawo chingu komennya, baca terus chap selanjutnya ya :D
meyminimin: Andwe tabok aku aja meyminimin-ssi *sok pasang badan *dicuekin hunhan. Soal kebiasaan Thehun itu nanti terungkap di beberapa chap selanjutnya, gomawo ne :D
Henry Park: Ne saengie, jangan sungkan buat cerita2 ya X) Si Kai bener2 dah, kasian banget saeng disuruh nyuci bajunya *puk2 saengie. Kris? Boleh, langkahi dulu mayat baby Tao tapi, hahaha *tawa nista. Semangat ya ngurusin mereka! Gomawo masih setia review, saengie juga hwaiting buat ff nya :D
Kim Soo Hyun: ChenBaek atau ChanBaek chingu? Yah kirain suka Kailu, tapi gapapa deng *kedip2in mata. Omong2 aku juga Kyumin shipper! XD Itu tadinya emang galau mau Baekkie atau Kris, tapi Kris aja deh sekalian kemunculan perdananya, gitu. Gomawo ne…
DS: Iyah chingu lama2 sehun jadi kasian dan si Lulu kok jadi nyebelin, ya *plak. Semoga chap ini ngga bikin chingu makin sebel sama Lulu, ya XD Gomawo reviewnya.
KY-RaeNa: Mianhae chingu apalagi chap ini dan selanjutnya bakal lebih 'hurt' lagi, hiks T.T Misa sih pengennya juga Thehun ga ngapa2in Lulu, tapi mengingat emosinya yang tinggi nan labil *halah, kita liat aja nanti. Gomawo yah semangatnya .
Guest: Iya chingu Lulu kok jadi gini amat ya. Sehun udah mulai curiga banget, di chap ini aja dia jadi over protektif gitu sama Luhan. Oiya sengaja emang ga dibikin taoris, soalnya nanti ceritanya makin rumit, haha. Tapi si baby Tao jadi kayak sekongkolannya Kris gitu di sini. Nanti masa lalu Kris sama Luhan juga terungkap kok, jadi chingu bisa nilai sebenarnya yang jahat di sini siapa. Kris, Luhan, Sehun, atau semuanya? *cielah. Oke makasi ya review-nya :D
saripangrib: Annyeong eonni, makasi udah mau review . Hore ada lagi yang suka Kailu. Jangan galau eonn, Lulu sama aku aja deh kalo gitu? *plak. Soal alesan Kris putus sama Lulu dan kenapa Lulu jadi diintimidasi gitu sama temen2nya nanti bakal diceritain kok di chap2 selanjutnya. Alesan Sehun menjajakan diri karena kepepet butuh uang, ya buat beliin si Lulu sesuatu. Oke gomawo eon, ikutin terus yah!
kucing liar: Lulu belum mau jujur chingu, walo si Sehunnya udah kayak gitu :"( Misa juga pengennya ga ada adegan pukul memukul di sini, tapi kita lihat nanti aja, deh *sok misterius. Gomawo chingu masih setia review :D
yanndictator: What, Kai naksir Kris? Yah, itu bisa saja terjadi secara ketampanan Kris yang melebihi manusia normal pada umumnya itu *halah. Yaudah Sehun buat chingu, Lulu buat Misa *ikut2an ketawa nista. Gomawo review-nya, ne? Mudah2an chap selanjutnya bisa lebih panjang :D
Choi Sung Mi: Wah ada lagi yang suka Kailu! *potong tumpeng. Ne chingu, mianhae chap ini juga bikin nyesek T.T Jangan benci Lulu, jebaaal. Gomawo yah review-nya, chap depan juga ya? Hehe.
Xeiina Kim: Wah gomawo udah mau fave fic ababil ini, chingu. Jadi terharu, hiks T.T Lulu emang lagi galau banget, terlebih di chap ini dan selanjutnya akan lebih galau lagi. Soal Kai, dia sejauh ini emang satu2nya tokoh yg belum nunjukkin kejahatannya *eh. Sumpah baik banget! Kris emang rada gimaaana gitu ya sikapnya, keren tapi ngeselin juga *ditendang Tao. ChanBaek ada di chap selanjutnya, trus di chap ini ada KaiLu and HunHan moment , gomawo ne:D
Pelangi Senja: Gwenchana Senja-yah makasi masih menyempatkan review, jadi terharu hiks T.T Pengennya emang munculin semua member yg lain walau hanya peran sekilas. Jangan lupa ada Chen juga yang di fic ini yg ceritanya jadi pacarnya Misa, temennya Baekhyun hohoho *tawa iblis. Wah ternyata bias no 1 Senja si Suho-ssi toh? Tapi dia keren kan, jadi bad boy? XD Soal Dio eomma, hiks mianhaeee aku masih memikirkan sedalam2nya kok soal kemunculan abang satu ini. Kita liat nanti yah, Senja-ya. Akhirannya SeKai? Wah ide bagus tuh! *digampar Lulu. Makasi yah saran and tanggapannya buat fic eonni, gomawo banget :D
dinodeer: Huaa kalo Lulu mati nanti Sehun sama Kai bisa frustasi lagi, jangan benci Lulu chingu, jebaaaal T.T *memohon2. Soal apa yang mau Sehun beli, bakal terungkap sebentar lagi. Jadi ikutin terus yah chingu, gomawo banget udah mo review :D
BaconChanyeol: Huaaaa gomawo chingu udah mau review tiap chap *heboh sendiri. Ayo lanjut baca chap selanjutnya and ditunggu komennya, yah! Mudah2an ga kecewa :D
ahSanHyun: Kreeeees emang keren *peluk Kris *ditendang Tao. Kai emang baik banget chingu, satu2nya tokoh yang belum ada sisi jahatnya sejauh ini (sejauh ini, lho). Mian yah ChanBaek-nya ga ada di chap ini, tapi di chap depan ada kok :D Soal TaoRis, mereka ga dibikin pasangan di sini chingu, miaaaan. Tapi liat aja nanti deh pokoknya, gomawo :D
jaara'kyuminshipper: Mungkin si Sehun kena karma kali yah, chingu *plak. Nanti Kris bakal muncul lagi, kok and masa lalu Kris-Lulu bakal terungkap. Iya nih semakin ke sini sifat antagonis Lulu semakin terlihat :'( Gomawo review-nya, ne? Tunggu chap depan .
Guest: Di chap ini Sehun jadi rada nyebelin lagi, chingu. Hehe… tapi dia pada dasarnya baik, kok. Gomawo ne? Review chap depan juga yah :D
Park Sung Rin: Huaaa chingu gomawo udah mo review panjang2. Ga nyampah kok, malah Misa seneng banget banget deh *hug Sungrin-ssi. Alesan Luhan putus sama Kris and masa lalunya yang "kelam" nanti bakal terungkap, kok. Trus soal PHP itu, tenang itu baru gossip chingu. Kalo Sehun tahu, pasti bakal ada perang dunia deh :'( Entah kenapa Misa malah lebih takut kalo Kai tahu daripada kalo Sehun tahu. Mianhae udah bikin Lulu jadi gini banget karakternya di fic ini, tapi jangan benci Lulu yah? Jebal *kedip2in mata. Gomawo Sungrin-ssi review juga yah di chap selanjutnya, hwaiting .
Sehuna: Nee mian chap ini rada lama update-nya, mudah2an chap selanjutnya bisa lebih cepet, ya. Hope you like it, jangan lupa komennya hehe :D
Chocoranlatte: Wah, ternyata ada juga Kailu shipper *lap air mata saking terharunya. Moga suka chap ini, ya. Soal endingnya ditunggu aja, hehe. Makasi dukungannya! .
Guest: Hehe kebalik yah, chingu? Abisnya Misa suka Kai sih, jadi dibaik2in karakternya *ditendang Sehun *digampar reader lain. Ikutin terus ceritanya yah, makasi support and pujiannya XD
