Sekolah asrama bukanlah sekolah militer yang mewajibkanmu tinggal di satu tempat sepanjang tahun. Kau diizinkan untuk meninggalkan asrama sepulang sekolah hari Sabtu, dan diwajibkan kembali ke asrama pada sore keesokan harinya.

Karena itu, bukanlah hal aneh jika kau mendapati kondisi asrama yang sepi melompong pada Sabtu sore.

Ini adalah kejadian di hari Sabtu pertama aku bersekolah di SMA ini—tepat seminggu yang lalu. Pada saat langit sore sudah mulai memamerkan gradasi oranye yang bagaikan mahakarya Tuhan itu, aku mendorong kursi roda seorang gadis menuju gerbang raksasa SMA Vokazuri.

Dariawal, menyamakan diriku dengan siswa lain adalah sebuah kesalahan besar. Meskipun aku menyebut gadis cantik itu sebagai pasangan jiwa, pada kenyataannya, ada satu hal yang membedakan kami.

"Ayah, sudah lama menunggu?"

—Hatsune Miku memiliki tempat untuk kembali.

Pria paruh baya bertubuh jangkung itu adalah sosok yang ia panggil Ayah. Wajah dan auranya memberikan kesan ramah yang membuatmu tenang, berbeda sekali dengan 'ayah' yang kupunya.

"Tidak, Ayah juga baru sampai."

Pria itu menatapku dengan tatapan tak suka, namun tetap mempertahankan keramahannya.

Setelah kupikir sekarang, hari itu ia pasti mengenaliku sebagai anak yang lahir dari rahim (mantan) istrinya yang direbut secara paksa. Namun ia mampu menyembunyikannya dengan baik di balik keramahan wajahnya.

"Terima kasih sudah mengantar putriku."

Dia bahkan tak meminta Miku untuk saling mengenalkan kami.

"Iya," aku mengangguk pelan, menyerahkan genggaman gagang kursi roda Miku kepada orang yang mengurusnya sedari kecil, "Saya... pergi dulu. Sampai jumpa besok, Miku."

"Hm, sampai jumpa besok."

Setelah mendengar ucapan lembut yang keluar dari bibir gadis berambut kuncir ganda itu, aku membalikkan kaki, mulai kembali bergerak ke dalam, menyusuri jalan setapak ke arah asrama.

Meskipun kami dekat karena memiliki suatu kesamaan, itu sama sekali tidak akan menghilangkan fakta bahwa pada intinya, pada dasarnya, kami berbeda.

Baik aku, Miku, Neru, maupun Gumi. Dan bahkan Nero, atau mungkin Gakupo. Setiap orang terlahir berbeda-beda, menanggung beban dan hidup yang berbeda pula.

... Kenapa aku tiba-tiba memikirkan hal bijak semacam ini?

Entah. Jika aku disuruh mencari alasan,

—Itu mungkin karena aku telah bosan menunggu Miku dan yang lainnya selama dua jam.

Kemana mereka pergi?! Kencing bersama?! Tidakkah mereka tahu kalau dua jam itu senilai dengan perbedaan waktu antara dua tempat berjarak 30 derajat di bumi?! Dua jam itu sudah cukup buat ngerekam film di bioskop dan ngebuat kaset camrip, tahu!

Beraninya mereka membuatku menunggu di markas seperti orang bodoh seperti ini?! Daripada melakukan hal tak produktif seperti melamun di dalam gudang, aku lebih memilih hal tak produktif lain seperti main di rental bareng Nero atau ikut Gakupo mejeng di mall!

Ckrek.

Ah, pintu terbuka. Tiga perempuan dengan pakaian bebas itu masuk sambil membawa tas belanjaan berisi bermacam-macam barang, secara perlahan menuruni tangga—kecuali Miku yang ngedrift seenak jidat.

"Maaf menunggu lama, Len."

Dahiku berkedut.

"Sebagai seorang pria jantan, kuharap kau akan mengatakan sesuatu seperti 'Ah, gue juga baru sampai, kok' meskipun kau sudah menunggu kedatangan kami selama dua jam, lima belas menit, dan tiga puluh tiga... tiga puluh empat detik."

Level kedutan: stadium dua.

"Ahahah, sori banget, Len. Padahal tadinya kami cuma mau ngebeli perlengkapan ruangan klub. Gak taunya keterusan buat keliling-keliling lihat baju. Sori banget, namanya juga anak cewek."

Level kedutan: stadium tiga.

"Tadi aku sudah memperingatkan mereka... Tapi mereka bilang 'enggak apa-apa, Len itu kuat. Paling dia ngabisin waktu mikirin hal-hal yang sok bijak', gitu. Maaf aku enggak bisa berbuat apa-apa..."

Level kedutan: maksimal.

Aku menarik nafas, menenangkan diri. Marah-marah hanya akan menghancurkan karakterku. Lagipula, marah-marah hanya akan membuang-buang nafas dan energi, jadi lebih baik aku diam saja.

Haah.

Baiklah, sepertinya kondisi hatiku sudah tenang.

"Ah, ngomong-ngomong, aku sengaja mengulur waktu untuk membuatmu kesal, Len."

—dan lalu sumpah serapah bagaikan kebun binatang keluar dari mulut seorang Kagamine Len.

— [viii] —

Vocaloid © Yamaha, Crypton.

Chapter ini bersih dari drama dan adegan pengaduk emosi, jadi selamat membaca. Dan, meskipun judul chapternya begitu, ini bukan berarti tamat.

Something Called Dream —
— Bagian #08:
Klub Penyandang Cacat (Akhir) —

— [viii] —

"Ini disini... Ah, kalo ini kayaknya bagus disini... Len, bantuin geser sofanya, dong."

"Hm, hm. Sempurna. Yang namanya markas rahasia memang seharusnya seperti ini. Tapi rasanya masih ada yang kurang... ah, benar. Komputer. Len, ambil satu di ruang komputer sekarang."

"Len, bisa tolong bantu pasang kaligrafi ini disini? Tanganku enggak sampai..."

Klub Siswa Penyandang Cacat seharusnya adalah harembagi seorang Kagamine Len. Dikelilingi oleh tiga gadis cantik, jelas itu adalah suatu kebanggaan tersendiri yang bahkan membuat Nero dan Gakupo iri.

Tapi tetap saja...

"Maaf, tapi tangan gue yang masih aktif cuma satu."

Memiliki tiga orang gadis yang meminta pertolonganmu di saat bersamaan memiliki kesan yang aneh, apalagi mengingat tanganmu yang cuma bisa digunakan sebelah.

"Kalau begitu bantu aku terlebih dahulu. Sebagai ketua, mematuhiku adalah kewajiban. Dan lagipula, bagaimana kita bisa menguasai dunia tanpa komputer di zaman globalisasi ini?"

"Bantuin gue dulu aja kenapa? Cuma bentar doang, kok."

"Len..."

Aku menarik nafas dalam-dalam. Meskipun merepotkan, memiliki tiga gadis rupawan yang bergantung padamu tetap memiliki kebahagiaan tersendiri. Karena itu, meskipun ditekan oleh rasa malas, aku bergerak.

Mengambil kaligrafi huruf 'Dunia' yang dibingkai—entah kenapa aku tahu ini pilihan siapa—dari tangan Gumi, aku menarik kursi terdekat, menginjaknya sebagai tumpuan dan menggantungkannya ke paku yang sudah tertancap.

Serius, padahal tinggi badan kami hanya berbeda dua sentimeter, kenapa ia harus meminta pertolonganku hanya untuk hal begini?

... Jangan bilang Gumi sengaja cari perhatian ke gue.

Enggak, enggak.

Ah, gawat, kepalaku mulai kacau lagi. Padahal baru kemarin perasaanku pada Miku 'hancur', dan kini aku sudah mulai berganti hati. Hormon seorang pria memang sulit untuk dikendalikan.

"Terima kasih."

Ucapan lembut yang keluar dari bibir Gumi itu diiringi senyum, yang kubalas dengan senyum malu-malu yang entah kenapa terasa menjijikan. Turun secara perlahan dari kursi yang kuinjak, aku berjalan ke arah Neru yang menunggu bantuan dengan wajah cemberut.

"Ah, Len curang. Kalo elu mau ngebantuin yang lebih tua dulu, seharusnya elu mulai dari gue, 'kan?"

"Elu seharusnya mencoba manggil nama gue dengan suara lembut kayak yang dilakuin Gumi barusan, mungkin gue akan mikir dua kali," jawabku, ketus.

Neru mendengus, "Oke! Kalo gitu gue juga coba... L-L-Len—Ggaah! Enggak bisa! Ini bukan karakter gue! Jangan nyoba ngehancurin karakter gue, kontet!"

"Apaan, sih? Yang salah siapa yang disalahin siapa. Dan lagi, beraninya elu manggil gue kontet?! Padahal elu cuma... elu cuma... lima senti di atas gue... Udah, ah. Males ngomongin tinggi badan."

Sekali lagi, aku menarik nafas, memutuskan pasrah menerima hinaan gadis berambut kuning itu. Dengan satu tanganku yang tersisa, aku mendorong sofa murahan itu ke pojok ruangan, tepat di samping lemari yang dariawal sudah ada disini.

Merasa posisinya sudah pas, aku langsung duduk di atas sofa, mengabaikan gadis berkursi roda yang merengut di sisi lain ruangan.

"Len, sengaja, ya?"

"Aaah, Gumi, tadi beli minuman, enggak? Minta, dong."

Tak peduli dengan Miku yang menggerakkan benteng bergeraknya (baca: kursi roda) menuju ke arahku dengan kecepatan tinggi, aku berbicara pada Gumi yang berada di dekat barang belanjaan mereka, memintanya mengambilkanku minuman.

"Aku cuma beli La-Carotta... Enggak apa-apa?"

... Uh, serius? Selama ini kupikir itu adalah satu-satunya produk gagal dari La-Fruitta—maksudku, wortel bahkan bukan buah! Dan apa maksudnya susu rasa wortel?! Itu sama aja dengan makan sup kaldu ayam pake susu!

Yah, meskipun aku tidak bisa berpaling dari pesona La-Bananatta selaku susu rasa pisang, sih. Tapi itu beda cerita. Pisang itu baik untuk tubuh. Pisang adalah makanan para pria. Pisang adalah makanan para raja!

"Kalau kau mau berhenti mengabaikanku, aku akan membiarkanmu mencicipi seteguk La-Appletta milikku. Bagaimana, Len? Kau juga akan mendapatkan kesempatan melaksanakan ciuman tak langsung dengan bibir suciku ini."

Beneran?! Enggak, enggak. Gue enggak sehina itu sampai mau nerima tawaran semacam itu.

"Ah, sebenarnya gue juga lumayan suka rasa wortel. Jadi yang itu juga enggak apa-apa," jawabku dengan cepat, sekali lagi mengabaikan gadis yang kini mengeluarkan senyum iblis barokahnya dengan level tertinggi.

"..."

Gumi diam. Sepertinya ia baru sadar bahwa aku melibatkannya dalam operasi 'Anggap-Miku-Hanya-Angin' yang memiliki resiko tinggi ini, dan mulai mundur secara teratur.

"Sebagai calon orang yang akan menguasai dunia, aku menciptakan aturan baru: Siapapun yang mengacuhkan Hatsune Miku dan keturunannya, akan menerima lindasan kursi roda tepat di kelingking kakinya."

BUBAGYAAH!

— [VIII] —

"... Jadi, langkah pertama kita adalah membuat brosur. Karena aku sadar sepenuhnya betapa gapteknya wakil ketua kita dan Neru, biar aku dan Gumi yang mengurus bagian itu."

K-kelingking gue...

"Sementara aku dan Gumi mengerjakannya, tugas kalian adalah mengatur dan menghias ruangan ini. Mengerti?"

Seharusnya elu bilang kalo udah dapet ijin buat ngambil komputer, gue kira elu nyuruh gue buat maling. Lihat keadaan kelingking kaki gue sekarang.

"Len, jawabanmu!"

"Ma'am, yes ma'am!"

Kelingking kaki yang lebih besar daripada jempolnya jelas tidak lucu. Meskipun ini memancing tawa, bagi sang korban, ini sama sekali bukan hal yang menyenangkan.

Manusia memang mengerikan. Bahkan hewanpun tak ada yang menertawakan temannya yang kesakitan. Tidak, atau justru menertawakan hal semacam inilah yang disebut dengan manusiawi?

Dengan kelingking yang bengkak begini, setiap langkah terasa seperti digigit semut. Mungkin aku harus berlatih berjalan kencot mulai dari sekarang.

Kenapa dunia nyata tak sesimpel komik? Adegan kaki terlindas tadi seharusnya merupakan adegan lawak dimana korbannya tak akan terluka, tapi sekarang jari kaki termungilku membesar tiga kali lipat entah untuk beberapa hari ke depan.

"Oi, Len."

Di saat aku terduduk tak berdaya di atas sofa sambil mengelus kakiku, Neru menghampiri sembari memanggil. Aku mengangkat kepala, menunjukkan ekspresi yang mengatakan 'Apaan?'.

"Meskipun tadi Miku nyuruh ngedekor ruangan ini, tapi tetap aja enggak ada apapun lagi yang pantes didekor. Main aja, yuk."

Aku melirik sekitar, menangkap pemandangan gudang bekas yang kini sudah selesai disusun ulang oleh kami.

Meja bundar di tengah ruangan yang entah mereka berhasil dapatkan darimana, dikelilingi oleh empat kursi lipat yang dapat kau temukan dimana saja. Meja ini berfungsi sebagai tempat rapat dan penyusunan rencana—setidaknya itu yang dikatakan oleh Miku.

Agak jauh dari meja bundar tersebut, terdapat meja komputer, yang jelas, memiliki komputer di atasnya. Meskipun kelihatannya tak terlalu baru—aku kurang mengerti masalah begini—sepertinya itu sudah cukup untuk Miku.

Di pojok ruangan, dibuat berderet, terdapat lemari (yang sepertinya akan menjadi tempat 'harta karun' dalam waktu dekat), sofa panjang berwarna biru dimana aku duduk sekarang, dan dispenser air panas dan dingin.

Di samping dispenser itu juga, terdapat seperangkat gelas plastik murahan dan sekotak teh celup dan kopi sachet-an.

Kecuali dispenser yang Gumi bawa dari rumahnya—dibawakan oleh Ayahnya, ngomong-ngomong—dan sofa yang Neru pungut dan perbaiki sendiri, serta lemari yang sudah ada disini sejak awal, semuanya adalah barang hasil belanja mereka.

Dikarenakan ruangan ini yang memiliki tinggi dua lantai, entah sudah berapa lama lampu di langit-langit itu tidak diganti, membuat ruangan ini tidak akan mampu digunakan saat malam. Yah, siapa juga yang akan kesini malam-malam?

"Oi, Len. Gue ngajakin main, nih. Jangan ngelamun."

"Ah, sori. Gue lagi ngejelasin kondisi ruangan ini sama pembaca."

"... hah?"

"Enggak, lupain aja," aku berdiri dari sofa, "Jadi, mau main apa? Tangan gue cuma satu, jadi gue enggak bisa main PS atau semacamnya, lho."

"Bentar, ya," Neru berlari kecil ke arah lemari, membuka dan mencari sesuatu. Sepertinya lemari itu sekarang sudah benar-benar menjadi tempat harta karun. "Catur, Othello, Ular Tangga, Monopoli... mana yang mau elu mainin?"

"Monopoli aja, deh."

"Mainnya lama dan ngerepotin, pass."

"Kalau gitu jangan ditawarin, bego. Hm... yaudah, catur aja, deh."

— [viii] —

"Skak!"

"Serius, Len? Yakin?"

"Iya, gue yakin seratus dua puluh persen."

"Enggak ada undo-undoan, lho."

"Iya. Dibilang gue sudah yakin, juga. Udah cepat jalan sana."

"Yaudah, kalo gitu ratu elu gue makan, ya."

"N-NOOOOO!"

Akita Neru, 17 tahun. Di luar dugaan hebat dalam bermain catur.
Kagamine Len, 15 tahun. Di luar dugaan kelewat payah dalam bermain catur.

— [viii] —

"Bagaimana menurutmu?"

Jarum pendek di dinding telah menunjuk pada angka empat, pertanda bahwa hari sudah sore.

Tak terasa sudah beberapa jam berlalu semenjak kami menghabiskan waktu di dalam ruang klub (yang sebenarnya belum resmi), dan Miku juga sudah menyelesaikan brosur untuk klub ini.

Mengabaikan kekalahan tujuh kali berturut-turut dari Neru dalam permainan catur tadi, aku melihat ke dalam layar datar komputer.

— • —

Klub Penyandang Siswa Cacat

Tujuan kami adalah menciptakan lingkungan yang kondusif bagi siswa yang memiliki kekurangan fisik ataupun mental, sekaligus menemukan jati diri yang sebenarnya.

Kami juga menerima konsultasi bagi siswa yang memiliki masalah. Salah satu anggota kami menguasai kemampuan konsultasi dan psikologis yang tinggi, jadi jangan ragu untuk datang.

Jika anda merasa memiliki masalah dunia yang berat dan tak mampu anda selesaikan sendiri, silahkan datang berkunjung ke ruangan kami yang berada di lantai pertama gedung serba guna.

Info lebih lanjut hubungi:
Hatsune Miku (1-B): +628123xyzabc.
Kagamine Len (1-B): +628321abcxyz.

— • —

... adalah apa yang tertulis di (calon) selebaran brosur klub kami yang dipenuhi nuansa warna hijau dan biru, lengkap dengan gambar-gambar yang sebenarnya sama sekali tak berhubungan dengan kegiatan klub.

Apa itu...? Wortel? Daun bawang?

"Kalian sepertinya bersenang-senang, ya," jawabku dengan nada sindir.

"Apa yang salah dengan daun bawang? Sebuah makanan tanpa daun bawang seperti sayur tanpa garam."

Ah, tak kusangka Miku akan terpancing dengan begitu mudahnya.

"Argumenmu invalid, ketua. Aku tak pernah makan pisang dengan daun bawang," jawabku, dengan nada sarkastik, menanggapi pernyataan tak masuk akal Miku.

"Jika kau tidak suka dengan gambar daun bawangnya, kenapa kau tak menaggapi bagian wortel?"

"... Karena itu pasti permintaan Gumi."

Jawabku sambil melirik ke arah Gumi. Gadis hijau itu langsung membuang muka. Ugh, sepertinya ia menjauhiku karena lagi-lagi mencoba menariknya masuk ke dalam operasi berbahaya.

"Oh, jadi seperti itu, ya. Padahal kau sendiri yang bilang tidak akan memiliki hubungan dengan siapapun di dalam organisasi, tapi sepertinya kau memperlakukan Gumi dengan 'sedikit' spesial, Len."

"Kalau kau bersikap manis seperti Gumi, aku mungkin juga akan memperlakukanmu dengan 'sedikit' spesial, Miku."

"—Jadi karena kita tidak bisa memiliki hubungan semacam itu, kau langsung melupakanku dan beralih ke Gumi?"

... Kalau kau memasang ekspresi seperti itu, aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Aah, padahal aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya, kenapa sekarang kau harus mengungkitnya lagi?

—Fakta bahwa kami adalah saudara.

Mataku melirik ke arah Gumi dan Neru. Mereka berdua sama-sama diam, seolah menanti apa yang ingin kukatakan selanjutnya.

Sial, padahal awalnya aku cuma ingin menyindir gambar konyol di brosur itu, kenapa situasinya tiba-tiba jadi serius semacam ini?

"... 'tidak bisa memiliki hubungan seperti itu'... maksudnya apa?"

Neru berbicara. Seolah bosan menungguku untuk berbicara, gadis berambut kuning itu mengeluarkan suaranya, meminta penjelasan akan apa yang diucapkan secara sembrono oleh Miku sebelumnya.

"..."

Mata kanan Gumi menatap ke arahku, seolah memintaku untuk segera mengatakannya. Aku menelan ludah, bersiap untuk membuat situasi berat ini menjadi lebih berat lagi—

"—Aku dan Len adalah saudara beda Ayah."

... Eh?

"Karena itu, aku tidak akan pernah bisa memiliki hubungan asmara dengannya. Beruntung, ya. Sekarang saingan kalian untuk mendapatkan Len berkurang satu."

"..."

Miku menggerakkan kursi rodanya, seolah mencari posisi yang lebih tepat untuk bercerita.

"Tapi sayang sekali, Neru, Gumi," mata gadis toska itu menatap kedua perempuan lain yang memasang ekspresi bingung dan terkejut, "Aku dan Len sudah terikat janji untuk menguasai dunia bersama. Itu lebih kuat dari sekedar 'pacaran'. Jadi meskipun salah satu dari kalian pacaran dengannya..."

...

"—Len tetap milikku."

A—

APAAN, NIH?!

"Keh, gue sebenarnya enggak peduli dengan Len, tapi kalo elu sampe ngomong sesombong itu, oke, gak masalah. Awas aja, kalo suatu saat nanti Len jatuh cinta sama gue, jangan nangis, Miku."

—Makanya, APAAN, NIH?!

Dan Gumi, aku tahu kau tidak memiliki keberanian untuk mengatakan sesuatu seperti Miku atau Neru, tapi tolong jangan diam aja sambil meluk tangan gue kayak gitu! Paling enggak pura-pura kayak Neru! Kalo elu ngelakuin hal seamcam ini, kejiwaan gue bisa rusak!

"Aku... akan berusaha."

BERUSAHA APANYAAA?!

Haah... haah...

Padahal aku hanya meneriakkan tsukkomi di dalam pikiran, tapi aku merasa sangat lelah. Kondisi ini sangat tak bagus untuk jantung. Meskipun aku seharusnya merasa seperti pria paling beruntung di dunia, entah kenapa aku ingin secepatnya keluar dari situasi ini.

Uuh, seseorang, katakan sesuatu.

Kenapa kalian bisa tahan diam dalam kondisi berat seperti ini?

"Ngomong-ngomong, Len, apa kau sadar?"

good job, Miku! Pengalihan yang bagus! Meskipun aku masih kesal karena kaulah tersangka utama yang membuat situasinya menjadi begini, itu tetap pengalihan yang bagus!

"Eh, sadar apaan?"

"Jika kau membaca kalimat yang dicetak tebal di selebaran..."

Aku melirik kembali ke rancangan brosur yang ada di layar komputer, "Tujuan... sebenarnya... menguasai dunia?"

"Benar. Dengan begini, kita juga akan mampu mengumpulkan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama dengan kita."

Bukan mengumpulkan orang-orang yang sama gilanya sepertimu?

"Baiklah, cukup untuk hari ini."

Seolah mengabaikan percakapan konyol yang terjadi beberapa waktu yang lalu, Miku menaiki landasan tangga dan memutar kembali kursi rodanya untuk menghadap ke arah kami.

"Beristirahatlah, prajuritku. Karena besok adalah hari peresmian organisasi ini. Sampai jumpa."

Selesai mengucapkan hal itu, Miku kembali memutar kursi rodanya, dan berjalan ke arah pintu, langsung keluar dari ruangan.

"..."

Butuh sekian detik bagiku untuk menyadari... bahwa yang Miku barusan lakukan adalah melarikan diri dari situasi ini.

Sekarang yang ada di ruangan ini hanya aku, Neru, dan Gumi. Kondisi kami bertiga sama persis: membuang wajah yang merah karena malu setelah menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

"..."

"..."

"..."

"Y-yaudah, kita juga bubar, yuk," aku membuka suara pertama kali, mencoba untuk segera menghentikan suasana super canggung ini.

"I-iya. Ini juga udah sore. Kayaknya bentar lagi ibu asrama gue bakal ngabsen..."

Neru sedang berbohong, jelas. Tapi aku memutuskan untuk tetap diam, mengingat satu-satunya yang kuinginkan saat ini cuma keluar dari situasi ini dengan segala cara.

"E-ehm, a-aku juga harus segera pulang..., "Gumi mengangguk dengan malu-malu.

"Sampai jumpa besok."

"Iya, sampai jumpa."

"... s-sampai jumpa."

... lima detik.

... sepuluh detik.

... satu menit.

Seseorang, tolong bantu gue buat keluar dari situasi ini.

Hari itu, aku, Kagamine Len, telah mempelajari sesuatu:

Menjadi pria populer tak selamanya menyenangkan.

— [viii] —

Kenyataannya, ini belum terlalu sore. Bahkan langit sama sekali belum menunjukkan warna oranye, apalagi hitam. Kartun sore juga belum tayang pada jam segini.

Beberapa penghuni asrama telah kembali. Gakupo juga sudah kembali—dari mall, tentunya. Saat ini ia sedang di kamarnya, merutuki apa yang kurang dari dirinya hingga ia bahkan tak mampu mendapatkan satu nomor ponsel seorang gadis pun ia tak mampu.

Nero... kurang lebih sama, lah.

Aku tak ingin menaburkan garam di luka mereka, jadi aku tetap diam dan menahan diri untuk tidak memamerkan bahwa hari ini aku berada dalam satu ruangan dengan tiga orang gadis seharian.

... apalagi menceritakan insiden tadi.

Intinya, aku tak tahu harus melakukan apa sekarang untuk menyingkirkan kebosanan ini. Jika digunakan untuk tidur rasanya terlalu singkat, dan lagi, mana mungkin aku bisa tidur dengan mudah jika Nero terus menggerutu di ranjang atas?

"... Gue jalan-jalan aja, deh."

Tanpa tujuan yang jelas, aku mengambil sandal yang kutaruh di depan pintu kamar, lalu memakainya untuk berjalan keluar dari gedung asrama.

Seperti yang kubilang, aku tak memiliki tujuan. Satu-satunya yang terpikir di kepalaku adalah berkeliling lingkungan sekitar sekolah, mengingat aku jarang keluar dari area SMA ini kecuali untuk kerja sambilan.

Jika ada waktu, mungkin aku bisa berkunjung ke toko Om Kiyoteru sebentar.

"Ah, kebetulan sekali."

Benar. Itu yang akan kulakukan, seandainya aku tak mendapati sosok gadis itu di depan pintu asrama, melamun di atas kursi rodanya, seolah memang menantiku untuk keluar dari pintu ini.

"... Kebetulan apanya? Elu nungguin daritadi, 'kan?" aku menarik nafas, "Dasar. Kenapa elu seenggaknya teriak atau ngehubungi ponsel gue, sih?"

"Akan kupertimbangkan jika kau mau membelikanku pulsa," Miku berdalih, seperti biasa. Pandangan matanya lurus ke arahku, mengabaikan fakta bahwa ia meninggalkanku dalam situasi canggung setengah jam yang lalu.

"Lalu? Elu kesini mau ngapain? Minta maaf?"

"Minta maaf? Untuk apa?"

C-cewek ini...

"Ah, masalah itu? Maaf karena aku terlahir terlalu cantik dan membuatmu sulit untuk melupakan perasaanmu, Len."

"Iya, elu kelewat cantik dan gara-gara itu, gue nangis semalaman pas tahu kalo kita saudara," aku mencibir, menambah dalam kuburanku sendiri, "Puas lu?"

"..."

"... Apa? Kenapa elu malah malu?"

Ia membuang wajahnya sembari menggaruk pipinya yang memerah cerah, "K-kalau kau sampai bilang begitu, mau bagaimana lagi."

"... udah jelas gue bohong, 'kan?"

Tanpa diduga, wajahnya langsung kembali normal. Ekspresi Miku kembali menjadi wajah default-nya tanpa menunggu lama, "Begitu? Sungguh mengecewakan."

"Maaf mengecewakanmu," ucapku dengan nada datar yang disengaja, "Jadi? Ada apa elu nungguin gue di depan sini?"

Seolah selesai dengan perbincangan basa-basi tanpa tujuannya, Miku menarik nafas dan memasang ekspresi sendu bercampur serius,

"Ayo... ke tempat Ibu."

Aku terdiam untuk beberapa saat. Awalnya kukira ia berbicara tentang bunuh diri bersama, yang langsung kutepis sejauh mungkin. Tidak, bukan itu. Jelas bukan itu.

Miku mengajakku untuk mengunjungi makam Ibu.

Entah kapan terakhir kali aku mengunjunginya. Tidak, sejauh yang kuingat, satu-satunya masa dimana aku berdiri di dekat makam sang malaikat itu hanyalah ketika pemakamannya saja.

Aku tak pernah ke sana.

Namun aku tak punya alasan.

Aneh, bukan? Kenapa aku, yang begitu menyayanginya hingga memanggilnya sebagai malaikat tiap saat di dalam pikiranku, tak pernah mengunjungi tempat peristirahatannya sekalipun?

Apa karena aku takut menemuinya? Atau karena aku tak ingin memoriku tentang sosoknya yang tak bernyawa itu kembali menyeruak? Keduanya? Atau mungkin sesuatu yang sama sekali berbeda?

Aku sendiri juga tidak tahu.

Jika ada sesuatu yang harus aku tahu, aku sendiri yang akan mencari tahu apa itu. Alasan yang tak kuketahui, alasan yang tak ingin aku ketahui.

Aku berjalan turun dari tangga kecil di depan teras asrama, berdiri di belakang kursi roda Miku. Menggenggam gagang perak yang ditutupi karet hitam itu, aku mendorongnya tanpa kata.

"... kukira kau akan menolak."

"Iya, aku juga mengira begitu," jawabku. "Aku hanya berpikir, mungkin... sudah saatnya bagiku untuk menemuinya."

"Begitu?" tanya pemilik suara lembut itu.

Miku sama sekali tidak menoleh ke atas, ia tetap memandang lurus ke depan, tak sekalipun ke atas hanya untuk melihat ekspresi wajahku.

"..."

Tak ada lagi kalimat yang tertukar di antara kami. Miku juga memutuskan untuk tidak menanyakan maksud dari perkataanku sebelumnya. Entah karena ia sudah tahu, atau ia terlalu ragu untuk bertanya.

Di depan gerbang utama sekolah, seorang pria tua yang pernah kutemui minggu lalu, bersandar di depan mobil sedan sederhananya, seolah sudah menanti kedatangan kami—kedatangan Miku.

"Len ikut dengan kita," ujar Miku, seolah menjawab pertanyaan sebelum ditanya, "Ia sudah mengetahui semuanya."

Mata pria tua itu menatap ke arahku. Aku bisa merasakan tatapan tak suka di sana. Tentu saja, siapa yang akan suka dengan anak yang dilahirkan istrimu dari pria lain? Mendapatkan tatapan seperti itu, yang bisa kulakukan hanyalah mengangguk, memberi salam.

Sama seperti Miku, pria itu memutuskan untuk tidak mengatakan apapun.

Aku masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, disusul oleh Miku yang dibantu oleh ayahnya. Setelah sang ayah selesai menaruh kursi roda putri sematawayangnya itu di bagasi, ia kembali ke kursi pengemudi.

Tentu, kalau aku bisa, aku ingin aku saja yang membantu Miku masuk ke dalam mobil. Sayangnya itu mustahil. Bagaimana mungkin aku bisa menggendong seseorang dengan satu tangan?

Secara perlahan, mobil sedan berwarna perak ini mulai berjalan. Menyusuri jalanan, melewati perkotaan. Sepanjang jalan, aku hanya melamun, memandang langit sore yang secara perlahan mulai menunjukkan gradasi indahnya.

Aku bersyukur Miku tidak mengatakan lelucon bodohnya saat ini, karena aku tak yakin apa aku bisa membalasnya di hadapan ayahnya sendiri.

Setelah hampir satu jam perjalanan, kami sampai di kompleks pemakaman di kota asal Miku. Meskipun aku mengatakan beda kota, pada kenyataannya jaraknya sendiri tak terlalu jauh dari Vokazuri.

"Ayah menunggu disini."

Setelah membantu Miku keluar dari mobil dan mendudukkannya di atas kursi roda, pria tua itu memutuskan untuk tetap menunggu di depan gerbang kompleks pemakaman.

"Ayo, Len."

Aku mengambil gagang kursi roda gadis itu, mendorongnya secara perlahan ke lokasi yang sudah tak aku kunjungi selama hampir satu dekade. Aneh, memang, bahkan setelah selama itu, aku masih mengingat lokasinya dengan jelas.

Makam itu sama seperti makam lainnya, balok semen bertuliskan nama penghuninya. Di depannya, terdapat altar sederhana yang terletak di hadapan foto beliau.

"... kita tidak membawa apapun."

Suara Miku yang lembut terdengar, membuatku sadar dengan kenyataan itu. Sungguh bodohnya diriku. Meskipun aku tahu aku akan mengunjungi makam ini, kenapa aku tak mampir ke toko hanya untuk sekedar membeli bunga?

Aku menekuk lutut, duduk di hadapan monumen terakhir orang yang melahirkanku.

Ibu, maaf aku tak pernah mengunjungimu selama ini.

Aku kemari untuk... ah, setelah dipikir-pikir, aku sebenarnya sama sekali tidak tahu ingin membicarakan apa denganmu.

Kalau begitu, aku langsung ke intinya saja, ya?

Terima kasih sudah melahirkanku. Berkatmu, aku mengalami banyak hal dalam hidup. Hal yang menyedihkan, hal yang menyakitkan, hal yang menyenangkan.

Lalu, terima kasih juga sudah memberiku seorang kakak perempuan.

Aku tahu ini sedikit aneh, karena biasanya sang kakak yang berterima kasih karena sudah diberi adik, ya? Tapi biarlah, ini semua karena Ibu tak pernah memberitahuku mengenai gadis ini.

Ah, iya. Aku juga kemari bersama gadis itu. Hatsune Miku—putri pertamamu. Aku sudah mendengar semuanya. Kau juga korban dari ketidakwarasan pria itu, tapi kau tetap menyayangiku seperti ibu dan anak yang seharusnya.

Untuk itu juga aku mengucapkan terima kasih.

Lalu... Ibu tak perlu khawatir. Saat ini aku mungkin masih belum bisa sepenuhnya bebas dari tangan iblis itu, tapi suatu saat nanti...

Aku tak lagi sendirian.

Aku memiliki teman-teman yang bersamaku, teman-teman yang rela melempar nyawa mereka untukku begitu saja, teman-teman yang rela kuserahkan nyawaku tanpa berpikir panajng.

Jadi, Ibu tak perlu khawatir.

Aku akan terus menjalani hidup ini.

Tolong terus awasi kami dari sana.

Lihatlah kami, aku dan putri pertama yang engkau lahirkan. Kami berdua, sebagai anakmu, akan terus menjalani hidup ini, melewati rintangan dunia ini.

Sebagai gantinya,

Aku akan menguasai dunia ini untukmu.

Miku mungkin akan mengatakan sesuatu seperti itu. Sungguh, padahal wajah kalian sangat mirip, kenapa sifat kalian begitu berbeda?

Tapi aku juga tak bisa menyalahkanmu.

Gadis itu begitu mempesona. Putri pertamamu itu adalah perempuan yang mengagumkan. Karena itu, meskipun ini sama sekali terdengar tidak sepertiku, aku akan tetap mengatakannya,

Bersama-sama, kami akan menguasai dunia ini.

Tolong terus awasi kami.

— • —
Bersambung —
— • —

Catatan Penulis:

Halo, Elpiji disini.

Meskipun caranya aneh dan belum resmi, tapi intinya, dengan ini, perjuangan Len dan Miku untuk menciptakan organisasi yang kelak akan menguasai dunia ini telah selesai terwujud.

Jadi, chapter depan, kita akan mulai dengan arc baru.

Semakin banyak review yang masuk, semakin cepat saya apdet (dan semakin banyak dari kalian yang kena tipu).
Akhir kata, sampai jumpa.