Sment Fanfic
The Love That Surrounds Me
©MikiHyo
.
Cast : Choi Siwon, Choi Minho, Krystal Jung, SMent & Others
Genre : Drama, Family, Romance, School Life
Rating : PG-15
Length : Part (On Going)
Summary : Keterpurukan karena dicampakkan oleh Yuri membuat Minho berubah menjadi dingin dan enggan bergaul dengan siapapun, termasuk Krystal. Terlebih setelah Minho kembali bertemu dengan Yuri, namun perhatian dan kebersamaannya bersama Krystal membuat perasaan tersendiri muncul terhadap gadis bermarga Jung itu, begitupun sebaliknya.
.
.
Part 7
.
.
"Min~ Ho~" Changmin berseru riang saat melihat bayang tubuh Minho yang baru memasuki gerbang sekolah tak jauh dari tempat ia berdiri sekarang.
Ia pun langsung berlari menghampiri adik kelas barunya itu dan bersiap untuk merangkulnya, namun dengan gesit Minho menghindar sehingga Changmin kini tak bertumpu pada apapun hingga akhirnya terjatuh konyol akibat ulahnya sendiri.
"YA!" geram lelaki jangkung itu pada lelaki bermata bulat dihadapannya.
"Apa? Sudah kubilang jangan memanggilku jika bukan untuk hal penting" ucap Minho cuek dengan tatapan matanya yang datar kearah Changmin.
"Ya, ini hal penting tahu! Kenapa kau membolos latihan klub kemarin?" tanya Changmin dengan kedua tangannya yang jahil mencubit-cubit pipi Minho. Minho pun langsung menapak kasar tangan yang mengiritasi wajahnya itu.
"Bukan urusanmu!" jawabnya cuek. Tentu saja ia tidak akan bilang alasannya membolos adalah karena ia bertemu Yuri diatas atap. Untuk apa dia membicarakannya? Apa hubungannya dengan Changmin?
"Kenapa bicaramu selalu galak sih? Kau itu kan anggota klub" Changmin masih tak berhenti bicara.
"Memangnya siapa yang membuatku jadi anggota klub?!" Minho pun kembali dibuat kesal.
"Aigoo, kau itu benar-benar laki-laki berdarah dingin ya. Bisa-bisa semua yeoja disekolah ini berpaling padaku, lho~" Changmin mencoba untuk menggoda Minho, walau ia tahu adik kelas barunya itu tidak akan terpengaruh sama sekali.
"Biar" sahut Minho singkat. See? Hal itu memang benar kan. Wajah Changmin pun merengut dengan nafas yang terhela panjang.
"Oh iya, apa kau tidak tahu kalau kau menghalangi jalan orang?" ucap Minho tiba-tiba. Kali ini ia mau menatap Changmin, namun bukan dengan tatapan yang mengenakkan tentunya.
"Eh? Siapa?" Changmin pun berbalik, didapatinya seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjangnya yang terurai tengah tersenyum kaku seraya membungkukan badan dihadapannya.
"A-Annyeong Haseyo.." sapa Krystal gugup kepada Kakak kelasnya itu. Terlebih ia sudah tahu bahwa Changmin adalah laki-laki yang disegani di SMA mereka. Bukan hanya karena wajahnya yang tampan, namun prestasi yang juga dibangunnya membuat laki-laki berbibir lebar itu menjadi populer, terutama dikalangan yeoja.
"Kau... Krystal Jung? Benarkan kan?" terka Changmin, entah bagaimana ia bisa tahu soal Krystal. Mungkin hanya familiar.
Krystal pun mengangguk, "N-Ne, Sunbae.."
"Uwaa, maaf ya. Aku tidak tahu kau ada dibelakangku" sifat Changmin pun langsung berubah. Bahkan ia sudah bisa menepuk-nepuk pundak Krystal dengan akrab padahal ini adalah kali pertama mereka bicara bahkan bertemu langsung.
'Dasar Playboy' –batin Minho yang entah kenapa merasa agak risih melihat keakraban Changmin dan Krystal itu.
Kini arah mata Changmin pun kembali pada Minho, "Kenapa kalian bisa berangkat bersama? Sepertinya kemarin aku pun melihat kalian pulang bersama? Apa kalian punya hubungan yang khusus?" evil smirk terlihat di wajah Changmin.
Sontak membuat wajah Krystal memerah padam. Jantungnya berdegup kencang, godaan Changmin benar-benar membuat tubuhnya seraya melayang diatas udara. Namun berbeda dengan reaksi Krystal, Minho hanya berdiri diam dengan raut wajah datarnya, seolah tak terusik sedikitpun dengan kata-kata Changmin.
"I-Itu.. rumah kami berseberangan, dan kami adalah tetangga. Karena itu aku sering pulang dan berangkat bersamanya, terlebih kami satu kelas" jelas Krystal pada akhirnya.
Changmin pun semakin tersenyum jahil, "Oh, kupikir ada hubungan khusus diantara kalian" ia masih saja menggoda gadis cantik yang wajahnya sudah merah padam itu.
"Godaanmu itu bisa berhenti tidak?" dan akhirnya Minho pun menyahut karena merasa risih melihat keadaan itu. Ulah Changmin benar-benar membuatnya harus memutar otak.
"Uwaa, baik-baik. Aku menyerah dengan Krystal, dia milikmu Minho" Changmin pun tertawa.
"S-Sunbae—!"
JIIT
Minho pun semakin menatap tajam Changmin. Membuat laki-laki yang lebih tua usianya itu bergidik ngeri. Krystal pun langsung terdiam dan menunduk lagi.
"Ya! Berhenti menatapku seperti itu, menakutkan tahu! Kita pisah disini saja, jangan lupa untuk latihan nanti!" dan Changmin pun melangsang pergi sebelum sesaat ia tersenyum kepada Krystal.
Krystal hanya diam tercengang. Entah kenapa kata-kata Changmin amat mengusik pikirannya.
"Ya" panggil Minho tiba-tiba. Membuat Krystal sedikit terlonjak kaget dan langsung mengangkat wajahnya menatap Minho dengan gerakan kaku. Sepertinya perkataan Changmin membuat Krystal jadi bersikap aneh.
Ya, Minho menyadari hal itu. Alisnya pun merengut, "Kau kenapa? Kalau tidak cepat, kita bisa terlambat masuk kelas" ucap Minho. Ia pun melangkahkan kaki terlebih dahulu.
Krystal masih terdiam tak menjawab apapun, wajahnya masih terasa panas, dadanya pun masih berdebar-debar. Namun menyadari langkah Minho yang semakin menjauh, ia pun ikut melangkah mengejar laki-laki itu.
'A-Aku ini kenapa...?' –batin Krystal.
.
.
"Mmmm..." Krystal terus melamun sepanjang hari ini. Sirat matanya menjadi sayu dan redup seperti memikirkan hal yang penting, namun ia sendiri tidak tahu apa itu. Wajahnya pun terus terasa panas jika ia mengingat Minho. Debaran dadanya juga tidak berhenti, sebenarnya ada apa dengan gadis muda Jung itu?
"Dor!" tiba-tiba seseorang mengaggetkan Krystal dari belakang. Hal itu membuat tubuh Krystal terlonjak kaget, ia pun langsung menoleh.
"Yuri Onnie?!" gadis yang dipanggil Yuri itu pun tersenyum seraya duduk di bangku yang ada didepan meja Krystal. Sekarang mereka tengah berada diruang klub musik yang sepi.
"Kau melamun ya?" tanya Yuri dengan senyum manisnya. Dan Krystal pun membalas dengan senyum kikuknya. Gadis muda Jung itu benar-benar bersikap aneh hari ini.
"Apa kau sedang jatuh cinta?"
Pertanyaan Yuri berikutnya langsung membuat tubuh Krystal terlonjak lagi. Sungguh, padahal tidak ada yang mengaggetkannya kali ini. Oh Krystal, ada apa denganmu?
"J-J-Ja-Jatuh Cinta?!" Krystal membulatkan matanya.
Melihat reaksi itu, senyum di wajah Yuri pun semakin melebar. Sepertinya adik kelasnya yang manis itu memang sedang jatuh cinta. Yuri jadi berandai-andai, siapa laki-laki beruntung yang bisa di sukai oleh gadis semanis Krystal.
"O-Onnie, bagaimana bisa kau menyimpulkan aku sedang jatuh cinta?" bingung Krystal seraya memiringkan kepalanya. Ia jadi semakin terlihat imut.
"Habis... sikapmu seperti itu" Yuri hanya tersenyum.
Krystal pun kembali terdiam memikirkan kata-kata Yuri.
"Aku... jatuh cinta dengan... Minho?"
DEG
Senyum diwajah Yuri pun langsung hilang begitu ia mendengar nama laki-laki yang Krystal sebut.
"Minho?" Yuri berpura-pura merasa asing dengan nama itu.
Krystal pun menatap Yuri, ia ingat bahwa kemarin saat Yuri dan Minho bertemu, sikap mereka berdua terlihat aneh. Mereka seperti sudah saling mengenal satu sama lain, namun berusaha untuk bersikap asing.
"Iya, Choi Minho, teman sekelasku. Laki-laki yang menabrakku ditangga kemarin" ucap Krystal.
Yuri hanya diam mendengarnya.
"Onnie.. waktu kalian bertemu kemarin, sepertinya kalian sudah saling mengenal" ucapan Krystal kali ini membuat tubuh Yuri terdiam kaku. Ia tak tahu harus menjawab apa sekarang.
"N-Ne, dia juniorku waktu di SMP dulu" jawab Yuri seadanya. Wajahnya tertunduk, matanya tak berani menatap Krystal.
"Ah, aku baru ingat. Onnie dan Minho berasal dari kota yang sama. Kalian sama-sama pindah ke Kota ini" ucap Krystal begitu ia mengingat soal Yuri. Yuri pun hanya tersenyum tipis seraya memalingkan wajahnya.
"Onnie, bagaimana Minho waktu SMP?" lagi-lagi pertanyaan Krystal membuat mulut Yuri terasa kelu.
"A-Aku tidak begitu mengenalnya. Kami hanya pernah berpapasan sesekali dan saling mengenal nama" jawab Yuri ragu. Ia bahkan baru menyadari bahwa ia sudah berbohong. Tidak mungkin ia hanya mengenal Minho dengan biasa mengingat kebersamaan mereka dulu.
"Jadi begitu.." Krystal yang masih belum menyadari apapun hanya bisa mengiyakan ucapan Yuri.
"K-Krystal, bagaimana dengan chord yang kau tanyakan kemarin. Aku akan mengajarimu, selagi ruang klub belum ramai" Yuri pun berusaha mengalihkan pembicaraan. Namun sepertinya Krystal tidak mendengarkan ucapannya, gadis cantik itu justru kembali terlihat memikirkan sesuatu.
"Bagaimana..." gumam Krystal pelan.
"Krystal?"
"Bagaimana kalau aku benar-benar jatuh cinta pada Minho?"
Mulut Yuri kembali mengatup rapat. Ia terdiam dihadapan adik kelasnya itu.
Bola matanya bisa menangkap sirat mata yang berbeda dari Krystal, sepertinya gadis itu memang tengah memikirkan pemuda bernama Minho.
Memori Yuri akan Minho pun seolah berputar kembali. Dan ia pun tahu, bagaimana perasaan Minho terhadapnya.
Sepertinya, masalah yang pelik akan segera hadir.
.
.
"Uwaa.. senangnya hari ini Minho ikut latihan~" seru Changmin dengan nada riangnya. Laki-laki berbibir lebar itu justru terdengar seperti sedang bernyanyi karena suara tenornya itu.
"Hmm" Minho nampak cuek seperti biasanya. Sirat matanya tetap dingin dan datar walau Changmin yang sejak tadi mengiringi langkahnya terus berceloteh ria.
"Ya~ ayolah ramah sedikit Choi Minho~" lagi-lagi tangan jahil Changmin dengan santainya mencubit-cubit pipi Minho. Laki-laki itu benar-benar senang menggoda adik kelasnya yang super dingin itu.
Emosi Minho pun naik maksimum karena ia paling benci dengan sikap aneh Changmin yang ini, walau semua sifat Changmin selalu terlihat aneh dan mengganggu dimatanya.
"Ya! Lepas—" belum sempat ia menangkis tangan Changmin, laki-laki bersuara tenor itu sudah melepaskan tangannya seraya berpaling kearah lain.
"Oppa~" nampak seorang gadis yang... yah, cukup manis datang mendekati mereka berdua. Namun sepertinya ia tidak menyadari Minho karena ia hanya menghampiri Changmin. Lagipula Changmin juga yang langsung menghampiri begitu namanya dipanggil. Dasar Changdola~
Minho pun kembali cuek, tak mau ikut campur sedikitpun dengan kehidupan Kakak kelas menyebalkannya itu.
"Malam Minggu nanti, kau akan pergi denganku kan?" tanya gadis itu dengan wajah penuh harap dihadapan Changmin.
"Tentu saja. Kenapa? Sepertinya kau meragukanku" Changmin mengeluarkan killer smilenya, membuat tiap orang yang melihatnya seolah mendapat kejutan listrik.
"Habis... Yeonhee bilang dia juga akan pergi bersamamu dihari Minggu..." wajah gadis itu merengut, seakan tak merasa ikhlas kalau pujaan hati dihadapannya bersama dengan gadis lain.
Changmin sang pangeran pun hanya terkekeh, "Yeonhee? Aigoo, tentu saja aku akan pergi bersamamu Daji-ah. Sudah-sudah, jangan berpikir yang aneh-aneh ya" senyum Changmin seraya mengusap-usap pucuk kepala gadis bernama Daji itu.
"Jeongmal-yo?" Daji menuntut lagi.
"Yaksok! Sekarang pulangah, hati-hati~" ucap Changmin dengan janji yang terikrar. Ia pun menyuruh gadis itu untuk pulang.
Walau Daji masih terlihat enggan, namun gadis manis itu hanya bisa menuruti ucapan Changmin. Ia pun pulang, meninggalkan Changmin yang kini sudah kembali menghampiri Minho.
"Aish, ottokke? Aku lupa kalau aku sudah berjanji dengan Yeonhee!" raut wajah Changmin langsung berubah panik. Sangat berbeda dengan Prince Facesnya tadi.
"Dasar Playboy.. siapa suruh menerima semuanya" Minho hanya berkata cuek. Walau ia tak perduli dengan pembicaraan Changmin tadi, namun percakapan antara Changmin dengan gadis bernama Daji itu cukup terdengar sampai ditelinganya.
"Ya~ tidak apa kan menerima semuanya, toh mereka yang suka padaku. Aku justru heran denganmu, kenapa selalu menolak semuanya?" gerutu Changmin kepada Minho. Ia teringat dengan beberapa gadis yang ditolak cintanya oleh Minho.
"Karena aku tidak menyukai mereka" jawab Minho singkat dan juga logis.
Changmin mengerucutkan bibirnya, "Ckckck.. tapi asyik juga lho kalau bisa bermain dengan banyak gadis-gadis manis. Kau tidak akan bosan~ hahaha" ucap Changmin santai.
Raut wajah Minho terlihat semakin tidak mengenakkan, pertanda ia tidak suka bahan pembicaraan Changmin. Apa laki-laki berbibir lebar itu benar-benar seorang Playboy yang suka bermain dengan banyak wanita?
Minho hanya menghela nafasnya jengah.
"Bahkan sempat ada kejadian menarik. Kau mau tahu?" pancing Changmin agar Minho merasa penasaran.
Namun sepertinya usahanya sia-sia karena Minho justru semakin memalingkan wajahnya. Changmin tidak tahu kalau adik kelasnya yang satu itu tidak menyukai pembicaraan ini.
"Baiklah, kuanggap responmu itu IYA" ucap Changmin dengan nada penuh penekanan pada kata 'Iya'. Sepertinya ia tidak perduli Minho mendengarnya atau tidak.
"Kau tahu... diantara gadis-gadis manis yang menyukaiku. Ada satu gadis yang bahkan sampai mengejarku ke Kota ini saat aku pindah..." Changmin pun memulai ceritanya.
"Yah, aku juga tidak tahu kenapa dia sampai berbuat seperti itu, apa dia benar-benar menyukaiku? Hahaha, dasar gadis aneh" Changmin tertawa renyah, sementara Minho tetap berusaha untuk tidak menanggapi sedikitpun cerita menyebalkan itu.
"Padahal aku hanya memuji kemampuan Cheerleadernya sedikit"
DEG
Langkah Minho seketika terhenti. Tubuhnya langsung terdiam kaku begitu ia mendengar ucapan terakhir Changmin. Selintas perasaan aneh langsung merasuki pikirannya.
"Cheer... leader?"
"Ah, itu Krystal! Sepertinya dia sudah menunggumu, baiklah kita pisah disini" senyum Changmin sebelum akhirnya ia berlari meninggalkan Minho yang bermaksud untuk bertanya lebih detail soal 'Cheerleader'.
"Bye Bye!" Changmin pun melambaikan tangannya.
Sementara Minho masih terdiam dengan tatapan mata nanar yang tak lepas pada Changmin.
"Mengejarnya?... Cheerleader?..." entahlah apa yang kini mengusik pikiran Minho. Namun kata-kata yang terdengar familiar itu berhasil menyita pikirannya.
"Minho-ah, kita pulang sekarang?" suara Krystal pun membuat Minho tersadar dari lamunannya. Ia pun segera berbalik menghadap gadis itu.
"Ne" jawabnya pelan. Wajahnya tertunduk dan ia langsung berlalu melewati Krystal.
Gadis itu pun sedikit bingung dengan tingkah Minho yang terlihat aneh, namun ia tak mau berpikir macam-macam. Bukankah Minho memang selalu seperti itu? –pikirnya.
Mereka pun berjalan bersama meninggalkan sekolah.
.
.
DEG DEG DEG
Krystal merasa canggung jika harus berdiam diri seperti ini dengan Minho. Yah, tidak masalah untuk beberapa hari yang lalu. Namun sekarang, saat ia mulai menyadari perasaannya terhadap Minho...
...gadis itu tidak kuat lagi kalau harus menahan debaran jantungnya yang tak karuan ini sendirian. Langkah yang tanpa diiringi obrolan ringan ini terasa benar-benar menyiksa dirinya. Ia takut sewaktu-waktu sikapnya akan menjadi aneh karena perasaannya yang bergejolak.
Krystal pun menarik nafas panjang dan memutuskan untuk memulai obrolan ringan mereka disepanjang perjalanan menuju rumah ini.
"Ng... Minho.." panggil Krystal pelan dengan nada yang terdengar gugup.
"Hm?" hanya itu sahutan Minho.
"Kau... dan Yuri Onnie dulu pernah satu sekolah, ya?"
DEG
Tiba-tiba saja Minho menghentikan langkahnya, membuat Krystal langsung mengambil jarak waspada, takut-takut ia menabrak Minho lagi seperti tempo hari karena laki-laki itu berhenti melangkah mendadak.
Minho pun menoleh kearah Krystal dengan tatapan yang sulit dimengerti.
"Yuri?"
Krystal mengangguk pelan, "Ne, Kwon Yuri Onnie. Sunbaeku di klub musik, gadis yang datang saat aku hampir jatuh dari tangga kemarin" jelas Krystal.
Minho terdiam sejenak, "Darimana kau tahu hal itu?" tanya balik Minho.
"Tadi aku menanyakannya pada Yuri Onnie, karena aku merasa saat kalian bertemu kemarin, sepertinya kalian sudah saling mengenal, dan ternyata benar, kalian pernah satu sekolah" senyum polos Krystal yang belum mengetahui apapun.
Mereka pun kembali melanjutkan langkah mereka dengan perlahan.
"Kau dekat dengannya?" tanya Minho.
"Iya, aku mengenalnya sejak masuk ke klub musik. Dia orang yang sangat baik, dia juga seorang gadis yang lembut dan feminim. Kemampuannya bermain musik juga sangat hebat, aku mengaguminya" Krystal hanya bisa tersenyum lebar kalau sudah menceritakan soal Yuri.
Sementara Minho hanya bisa terdiam mendengar semua ucapan Krystal yang tak bisa masuk sedikitpun kedalam pikirannya. Lembut dan Feminim? Apakah itu benar-benar Yuri?
Bukankah Yuri yang ia kenal adalah gadis yang penuh semangat dan bahkan sangat ceroboh, mirip sekali dengan Eommanya.
Dan lagi, hal yang paling mengusik pikirannya adalah...
Musik
Kenapa gadis itu justru bergalut dengan dunia musik sekarang? Bukankah Yuri yang ia kenal adalah Yuri yang punya impian besar terhadap Cheerleader?
"Minho? Kau memikirkan sesuatu?" Krystal yang menyadari keanehan Minho pun menegurnya.
"Ehm... tidak" jawab Minho singkat dengan gelengan kepala pelan.
Krystal pun mencoba menatap laki-laki itu sejenak, "Apa waktu SMP dulu, Yuri Onnie juga mengikuti klub musik?" Krystal pun kembali melanjutkan pembicaraan ditengah atmosfir canggung itu.
Namun sepertinya pertanyaan itu justru akan membuat Minho semakin tak bisa berkata apa-apa dan justru bersikap semakin menyembunyikan sesuatu yang tidak Krystal tahu.
"Itu..." Minho tak tahu harus menjawab apa.
"Ah, mianhae. Aku lupa, kalian tidak kenal dekat!" Krystal pun teringat dengan kata-kata Yuri sebelumnya yang berkata jika ia tidak mengenal dekat Minho.
Hal itu pun spontan membuat Minho tersentak.
"Tidak... kenal... dekat?" Minho mengulangi ucapan Krystal. Matanya yang besar membulat tak percaya.
Krystal pun mengangguk, "Ne, Yuri Onnie bilang kalian hanya pernah berpapasan sesekali dan hanya mengenal nama"
Minho semakin terdiam. Bibirnya terasa kelu untuk membalas ucapan Krystal.
Benarkah itu yang Yuri katakan? Benarkah hanya itu yang ia katakan?
'Aku dari kelas 2, namaku... Kwon Yuri, salam kenal Minho-ssi'
Minho teringat dengan saat pertama kali Yuri mengenalkan dirinya.
'Aku hanya suka bergerak aktif. Orang bilang, aku ini anak yang tidak bisa diam, karena itu aku merasa cocok dengan Cheerleader'
'Apa aku membuatmu teringat dengan mendiang Ibumu? Apa itu menyakitimu? Maafkan aku..'
Dan saat Yuri mengetahui soal kemiripannya dengan sosok Yoona, Ibunya. Saat Yuri langsung mendekapnya dengan erat begitu ia mengetahui sisi kehidupan yang kelam dari seorang Choi Minho.
'Kalau begitu… aku akan bersama denganmu. Mungkin aku bisa menjagamu seperti Ibumu.Tenang saja, kau tidak akan merasa kalau kau tidak punya Ibu. Aku ada disini'
Janji itu... Minho selalu mengingatnya.
Janji yang pernah diucapkan oleh gadis yang dicintainya...
Kerinduannya akan sosok seorang Ibu yang bersedia untuk Yuri gantikan, hanya untuk membuat lelaki muda Choi itu tersenyum lagi dan tidak merasa kesepian.
Minho sangat menghargai semua itu, tapi...
'Minho... maafkan aku...'
Kenangan pahit itu kembali menenggelamkan kesadarannya. Ia tak menyangka kalau ia harus berpisah dengan cara seperti itu dengan Yuri. Mengapa mereka tidak bisa selamanya bersama dan menjalani kehidupan yang bahagia seperti sebelumnya?
Kenapa hubungan mereka jadi seperti ini sekarang?
Pikiran Minho kembali terguncang.
"M-Minho?! Kau kenapa? Wajahmu pucat..." Krystal yang menyadari keanehan Minho pun menjadi panik saat tiba-tiba saja lelaki itu semakin terlihat tidak baik seperti orang sakit.
Minho pun kembali dibuat sadar oleh suara Krystal. Ia merasa kepalanya terasa berat, ia pun menundukkan wajah dan memijat keningnya sebentar.
"Apa kau sakit? Bertahanlah, sedikit lagi kita sampai. Aku akan membantumu berjalan" dengan cepat Krystal pun langsung merengkuh pinggang Minho. Menuntun lelaki itu untuk berjalan perlahan karena sepertinya Minho memang kesulitan untuk melangkah sendirian.
Entah darimana ia mendapat keberanian itu. Krystal seolah lupa dengan semua ketakutan dan kecanggungannya terhadap Minho. Kini yang ada dipikirannya hanyalah menolong Minho.
Minho pun sedikit terkejut dengan sikap Krystal. Ia bisa merasakan sentuhan hangat yang seolah-olah benar ingin menjaganya. Merawatnya jika ia sedang dalam kondisi lemah seperti ini.
"E-Eh?" Krystal pun sadar kalau dari tadi Minho menatapnya. Ia juga sadar kalau ia sudah seenaknya menyentuh tubuh Minho.
"M-Mi-Mianhae! A-aku—!"
GREP
Belum sempat Krystal menarik tangannya lagi karena sadar, Minho sudah menahan tangan halus itu lebih dulu. Ia tetap menahan agar kedua tangan itu tetap meyanggah tubuhnya.
"Kau... mencemaskanku?" tanya Minho dengan suara pelan.
DEG DEG DEG
Kini bagai tak ada jarak lagi diantara keduanya. Debaran jantung Krystal semakin terasa tak karuan. Wajahnya kembali merona merah. Ia benar-benar malu kalau Minho harus melihatnya seperti ini.
"N-Ne..." jawab gadis itu.
"Kenapa?"
"Itu karena... saat pulang nanti pun kau akan sendirian... tidak ada orang lain dirumah sebesar itu, bahkan disaat kau sakit seperti ini. Maka dari itu... biar aku yang menjagamu selagi aku bisa..."
Baik Minho maupun Krystal kini hanya terdiam. Meresapi ucapan satu sama lain yang entah kenapa sangat melekat di hati masing-masing. Terlebih Minho, ia benar-benar tidak mengerti mengapa gadis yang baru ia kenal itu bisa begitu memperdulikannya seperti ini.
Bahkan ia merasa Siwon, Ayahnya sendiri belum pernah seperduli ini padanya semenjak ia sibuk dengan pekerjannya. Tapi Krystal...
Mengapa ia pun bisa begitu saja menerima semua yang Krystal berikan? Entahlah, ia hanya merasa nyaman dengan itu semua.
"M-Mianhae, lagi-lagi ucapanku—"
"Gomawo"
"Ne?" doe eyes Krystal membulat sempurna melihat wajah Minho.
"Gomawo.. karena sudah memperdulikanku" lelaki dingin itu pun berubah seketika saat senyum tulus terpancar diwajahnya. Minho pikir hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang, berterima kasih dengan tulus kepada gadis yang sudah mau perduli padanya.
Krystal hanya bisa tercengang melihat senyum lembut itu. Rona merah semakin membuat perpaduan warna yang cantik dengan kulit wajahnya. Di mata Minho, sekarang Krystal benar-benar terlihat cantik.
Walaupun senyum itu tak bertahan lama, namun ada satu hal yang Krystal sadari. Ia benar-benar harus bersyukur kepada Tuhan karena sudah bisa membuat senyum itu terlihat kembali. Senyum yang selalu dinantinya dari seorang Choi Minho yang bahkan lelaki itu sendiri bilang kalau tersenyum adalah hal yang sulit baginya, setelah semua kenangan pahit menggerogoti hati kecilnya dan merusak semua kebahagiannya.
Krystal hanya ingin laki-laki itu mendapat kebahagiannya kembali. Ia hanya ingin laki-laki tidak merasa kesepian lagi, ia ingin menemani laki-laki itu selagi ia bisa. Ia ingin memperdulikan laki-laki itu selagi ia mampu, karena...
'Aku mencintaimu Minho...'
.
.
Minho merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, menatap kosong langit-lagit kamarnya. Memejamkan matanya sesekali disaat kepalanya kembali terasa berat. Sepertinya kondisinya sekarang memang tidak sedang dalam keadaan baik.
TOK TOK
Terdengar suara pintu kamarnya yang diketuk. Dengan langkah berat, Minho pun berusaha bangun dan berjalan menghampiri pintu kamarnya.
"Apa kau sudah tidur?" terlihat sesosok pria tampan berdiri dihadapannya begitu ia membukakan pintu. Pria itu tak lain adalah Siwon, Ayahnya.
"Tidak juga... aku sedikit terkejut karena kau pulang malam ini" Minho tersenyum tipis, namun tak sedikitpun ia mau menatap Siwon.
Sirat mata Siwon kembali menyendu begitu ia mendengar ucapan pahit anaknya sendiri, "Ne, baru saja aku sampai. Kau kenapa? Wajahmu terlihat pucat" Siwon pun menyadari ketidak baikan kondisi tubuh Minho.
"Tidak apa-apa" jawab Minho singkat.
"Kau sakit? Apa kau sudah makan malam dan minum obat?' Siwon pun semakin cemas. Namun pertanyaannya yang berbondong justru semakin membuat Minho merasa pusing. Ia tidak suka kalau Ayah yang biasanya jarang ditemui begitu bertemu sudah langsung berlagak khawatir seperti ini terhadapnya.
Minho rasa itu percuma dan justru terasa menyebalkan.
"Sudah kubilang tidak apa-apa. Aku mau tidur lagi" ucap Minho dengan raut wajah dinginnya.
Siwon pun menatap lirih kearah Minho. Ia tahu ini semua adalah salahnya yang tidak bisa membagi waktu untuk Minho. Ia pun terima jika Minho harus marah terhadapnya sekarang.
"Baiklah, lebih baik kau istirahat sekarang. Setelah ini akan kubuatkan makanan dan kutaruh di dapur. Jika kau merasa lapar nanti malam, kau bisa memakannya" Siwon masih berusaha tersenyum walau Minho tak menggubrisnya sedikitpun. Lelaki muda Choi itu justru menutup pintu kamarnya, membiarkan Siwon yang masih terdiam didepan kamarnya.
Siwon pun menghela nafas panjang. Kini ia berbalik berjalan menuju kamarnya yang terletak bersebrangan dengan kamar Minho.
Begitu sampai didalam kamar, ia pun langsung menanggalkan pakaian kerjanya satu persatu untuk berganti baju.
"Apa dia makan dengan cukup selama ini?" gumam Siwon yang masih memikirkan Minho.
"Mungkin aku harus lebih sering berada dirumah. Aku bahkan lupa kalau Minho punya Asma. Aku harap hal itu tidak akan pernah kambuh lagi"
Arah matanya pun beralih pada dua bingkai foto yang selalu terpajang rapih dimeja samping tempat tidurnya. Bingkai yang menyimpan foto Minho saat masih bayi dan juga foto Yoona yang tengah tersenyum kepadanya.
Sudut bibir Siwon pun tertarik tipis, mengingat sekelebat memori manisnya bersama dengan wanita yang paling ia cintai itu.
_Flash Back_
Kebahagian Siwon dan Yoona terasa lengkap hari ini. Bagaimana tidak, akhirnya impian yang selalu mereka nanti-nanti sejak hari pernikahan mereka bisa terwujud.
Yoona dinyatakan positif tengah mengandung anak Siwon.
Semua keluarga dan teman pun berbahagia atas hal itu. Terutama kedua pasangan pengantin yang baru satu bulan menjalani hidup bersama itu. Bahkan Yoona benar-benar tidak bisa menahan perasaannya yang bergejolak karena bahagia.
" Aku akan jadi Ibu!" suara nyaring Yoona terdengar memenuhi seisi kamarnya dengan Siwon. Wanita cantik itupun langsung merebahkan dirinya diatas ranjang King Sizenya bersama Siwon.
Sementara Siwon yang datang menyusul dan menutup pintu hanya bisa tersenyum mendengar lonjakan kegirangan Istrinya sendiri.
"Senang sekali" sahut Siwon yang juga ikut naik keatas ranjang King Sizenya untuk menghampiri Yoona.
Wanita itu pun langsung memeluk sang suami dengan gerakan lucu seperti bayi. Yah, mungkin ini memang bawaan bayinya.
"Tentu saja! Aku masih tidak percaya... sebentar lagi kita punya bayi, Siwonnie..." Yoona pun semakin mempererat dekapannya.
"Apa kau senang?" tanya Yoona.
Siwon pun langsung menatap Istrinya itu dengan tatapan bingung.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" bingung Siwon.
Kali ini Yoona beraksi dengan mengerucutkan bibirnya, "Habis... wajah datarmu itu tetap saja keluar. Seperti tidak merasakan perasaan yang sama denganku, menyebalkan!" dan sekarang Yoona justru memukul Siwon dengan guling, setelah itu ia kembali merebahkan diri dengan wajah yang ia tutupi dengan guling.
Awalnya Siwon sedikit terkejut dengan perubahan sikap Yoona walau tidak sepenuhnya ia merasa asing dengan sikap Yoona. Baginya Yoona tetap terlihat kekanakan dan manis dengan segala sikapnya.
Siwon pun tersenyum dan ikut berbaring disamping Yoona. Ia memiringkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Yoona, perlahan-lahan tangannya bergerak jahil untul menarik guling yang menutupi wajah cantik wanitanya itu.
"Ternyata calon Ibu ini masih kekanak-kanakan ya" senyum Siwon saat ia sudah berhasil menampakkan wajah Yoona yang merengut dari balik guling itu.
"Wajahmu terlalu dekat!" Yoona pun langsung menangkis wajah Siwon, lagi-lagi menggunakan guling.
Ia sendiri pun tidak mengerti, mengapa perasaannya jadi menggebu-gebu seperti ini? Menyadari wajah Siwon yang mendekat, debaran jantungnya semakin bekerja ekstra. Ini seperti saat pertama kali ia sadar bahwa ia menyukai Siwon.
Namun kenapa ia harus kembali seawal itu? Kenapa ia harus malu lagi kalau ditatap Siwon dari dekat seperti ini? Bukankah mereka sudah pernah melakukan yang lebih dari ini? Oops.
Wajah Yoona semakin memerah, dan hal itu membuat senyum manis diwajah Siwon semakin melebar. Memperlihatkan lesung pipit yang menjadi andalannya.
Laki-laki tampan itu pun langsung merengkuh tubuh sang Istri kedalam dekapannya. Ia mengecup pucuk kepala Yoona dengan lembut.
"Bagaimanapun juga, aku sangat senang dengan hal ini. Gomawo.." ucap Siwon dengan tulus.
Yoona yang bisa merasakan ketulusan itupun gantian tersenyum. Ia benar-benar bahagia sekarang. Berharap kehidupannya bersama Siwon juga calon anaknya nanti akan selalu terasa membahagiakan.
"Minho!" seru Yoona tiba-tiba.
"Ne?" alis Siwon mengerut menatap Yoona.
"Aku mau nama anak ini Minho" senyum Yoona kemudian, seraya mengusap perutnya yang masih rata dengan gerakan memutar yang lembut.
"Minho? Choi Minho?"
Yoona pun mengangguk dengan senyum lebarnya.
"Tapi, kita belum tahu kan dia itu laki-laki atau perempuan" ucap Siwon.
"Tidak masalah. Aku hanya menyukai nama itu. Kalaupun dia perempuan, kita bisa memikirkan nama yang bagus lagi" senyum Yoona.
"Arasso. Itu nama yang bagus, kita panggil saja dia Minho" Siwon pun ikut tersenyum.
"Nah, Minho-ah... lahirlah dengan sehat ya. Eomma dan Appa menunggumu disini" ucap Yoona kepada bayinya yang masih berada dalam perut. Ia pun kembali mengusap perutnya dengan gerakan yang lembut, dan kali ini tangan Siwon pun mengikuti langkahnya.
"Semoga kau selalu sehat didalam sana Minho" ucap Siwon lembut.
Yoona pun kembali memeluk Siwon dengan erat. "Aku bahagia sekali. Aku ingin segera melihatnya... anak dari laki-laki yang paling aku cintai..." ucapnya seraya mendangakan wajahnya untuk menatap Siwon.
"Kenapa sifatmu jadi manis seperti ini? Mood wanita hamil itu memang menarik ya" Siwon pun terkekeh, berusaha menggoda Yoona.
"Siwonnie... aku serius..." gerutu Yoona dengan bibir yang terpout imut.
"Arasso" Siwon pun tersenyum seraya mendekatkan wajahnya dengan Yoona.
"Mmmpth..." dan kini bibir keduanya telah menyatu. Menyalurkan perasaan cinta dan bahagia satu sama lain.
_Flash Back END_
Siwon masih tersenyum menatap bingkai foto manis itu. Entah kenapa senyum Yoona selalu membuat ketenangan tersendiri di hatinya. Nyata atau tidak, Yoona akan selalu berada dalam hatinya.
"Kau harus selalu sehat Minho..." Siwon masih menatap bingkai foto itu. "Ibumu ingin kau tumbuh jadi anak yang sehat…" ucapnya lagi.
Siwon pun merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Memejamkan mata dengan perlahan untuk melihat gambaran imajinasinya.
"Padahal kau bilang ingin segera melihatnya…"
Bibir Siwon bergumam.
"Kau bilang ingin segera menggendongnya…"
Setetes airmata pun lolos dan melesat jatuh dari kelopak mata Siwon yang tertutup.
"Ingin mendengar dia memanggilmu Eomma…"
Dan kini bulir air mata lainnya datang menyusul, membasahi wajah tampan sang pengusaha muda Choi itu.
"Yoona... bagaimana caranya aku bisa menjadi Ayah yang baik untuknya sekarang?"
.
.
Hari ini adalah hari libur. Minho terbangun dari tidurnya saat cahaya matahari yang menembus masuk berhasil mengusik tidur damainya. Minho pun membuka matanya dengan perlahan, kepalanya tidak terasa pusing lagi sekarang. Kondisi tubuhnya mulai membaik.
"Ng?" perhatian Minho teralih pada sarapan yang sudah tersaji dimeja samping tempat tidurnya.
"Dia yang membuatnya?" gumam Minho. Ia pun bangun dari tidurnya, mengambil sarapan itu dan membawanya menuju dapur. Meletakkanya diatas meja makan dan kemudian ia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Minho kembali ke meja makan untuk memakan sarapan paginya. Minho pun melihat sebuah memo yang tergeletak diatas meja dan kemudian membacanya sambil menghabiskan sarapan paginya.
Ia terdiam sejenak begitu isi memo itu selesai ia baca.
"Bahkan di hari libur seperti ini, dia masih kerja. Berarti hanya semalam dia tidur disini…" gumam Minho. Pandangannya pun mengedar keseluruh isi penjuru dapur dan ruang makan.
Sekelebat memori manis singgah kedalam ingatannya.
'Appa, bekal hari ini telur dadar ya!'
'Baik, dan tentu saja akan Appa campur dengan sayuran'
'Mwo? Andwae~ aku tidak mau ada sayur~'
'Mianhae, Appa yang memasak sekarang'
'Emm.. padahal kupikir karena ini piknik, makanannya pun akan enak...'
'Ini memang makanan enak kan?'
'Tapi... kenapa harus sayur?~'
'Hmm, apa tidak jadi pergi saja ya? Sepertinya Appa punya tugas kantor'
'Mwo?! Andwae! Andwae~ Arasso, Appa boleh menambahkan sayur!'
'Hahaha, kau kalah lagi dari Appa, Choi Minho'
'Huwaa... Appa menyebalkan!'
Minho menatap sarapan yang tersaji dihadapannya. Indra pengecapnya merespon rasa dari masakan itu, rasa yang selalu sama dan tidak pernah berubah sejak dulu. Masakan itu memang buatan Siwon, dan hanya dengan melihatnya Minho pun akan tahu.
Terlebih lagi rasa yang selalu terasa familiar dilidahnya ini. Membuatnya selalu teringat dengan hari-harinya dalam belajar memasak bersama Siwon dulu.
"Hmm... hari ini libur dan aku sendiri..." Minho mendangakan kepalanya menatap langit-langit.
"Apa ada tempat bagus yang bisa kudatangi?"
.
.
Minho berjalan tanpa tujuan mengelilingi daerah komplek disekitar rumahnya. Melewati beberapa tempat yang mungkin bisa membuatnya senang, termasuk menengok kembali rumah lamanya bersama Siwon yang pernah mereka tinggali saat ia masih bayi.
Didepan rumah sederhana itu juga ia bertemu dengan Krystal untuk pertama kalinya. Minho pun mengingatnya. Pertemuan yang bisa dibilang unik karena Krystal sudah memberikan kesan buruk diawal pertemuannya, yakni membuat alerginya pada bunga kambuh.
Minho pun melanjutkan perjalanannya. Kini ia berjalan melewati toko bunga yang tengah menjajakan bunga-bunga musim semi yang teramat cantik.
"Minho!"
Minho pun menoleh saat merasa namanya dipanggil. Dan benar saja, terlihat Krystal berlari kecil keluar dari Toko Bunga itu dan menghampiri Minho.
"Krystal?" bingung Minho yang melihat keberadaan Krystal di Toko Bunga tersebut.
"Selamat pagi. Apa yang sedang kau lakukan?" sapa Krystal dengan senyum manisnya.
"Hanya jalan-jalan" jawab Minho singkat. Perhatiannya pun kembali teralih saat satu lagi wanita keluar dari Toko dan menghampirinya.
"Ada siapa, Kle?" tanya wanita berambut brown blonde itu seraya menyebut nama panggilannya untuk Krystal.
"Hyoyeon-ssi, perkenalkan, ini tetanggaku Choi Minho. Dia adalah anak dari sahabat orang tuaku yang baru pindah ke Kota ini" ucap Krystal seraya memperkenalkan Minho kepada Hyoyeon, wanita itu.
Hyoyeon pun menatap Minho dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan seksama, "Hmm…jadi dia yang bernama Minho. Perkenalkan, namaku Kim Hyoyeon, pemilik Toko Bunga ini" sapa Hyoyeon ramah.
"Dia manajerku disini" tambah Krystal yang memberi penjelasan pada Minho.
"Jadi kau bekerja disini?" tanya Minho. Krystal pun mengangguk dengan senyum lebar.
"Ya, kenapa kalian mengobrol diluar? Ayo masuk kedalam toko" ajak Hyoyeon.
"Minho punya alergi dengan bunga, Hyoyeon-ssi. Karena itu dia tidak bisa masuk kedalam toko" jelas Krystal.
Minho pun hanya bisa terdiam saat Krystal lagi-lagi menampakkan perhatian terhadapnya.
"Oh, sayang sekali yah… Kau jadi tidak bisa berdekatan dengan bunga-bunga cantik ini" ucap Hyoyeon. Matanya pun beralih pada kotak bekal yang sejak tadi dibawa Minho.
"Apa kau mau pergi? Kenapa membawa bekal?" sontak Krystal pun ikut melihat apa yang dilihat Hyoyeon.
"Ini? Iya, niatnya untuk makan siang.. Aku sedang jalan-jalan diluar rumah" jelas Minho seadanya.
"Jadi kau sedang piknik?" tanya Hyoyeon lagi. Minho pun mengangguk.
"Tapi kenapa hanya sendiri? Kau mau piknik sendirian?" tanya Hyoyeon bingung. Minho pun tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya merasa bosan berada dirumah.
Hyoyeon pun melirik kearah Krystal yang sejak tadi tak memalingkan wajahnya dari Minho. Wanita itu pun tersenyum, dia memang menyadari kalau Krystal menyukai pemuda Choi itu. Krystal memang banyak berbagi cerita dengannya, dan Hyoyeon sudah bisa menerka kalau gadis itu tengah jatuh cinta pada Minho.
"Kenapa tidak dengan Krystal saja? Kalian tetangga sekaligus teman sekelas kan?" seru Hyoyeon tiba-tiba.
"Mwo?!" Krystal pun terlonjak kaget mendengar ucapan Hyoyeon. Ia mencoba menatap Minho dan ternyata Minho pun tengah menatapnya walaupun dengan tatapan mata yang datar.
"Tapi aku sedang bekerja Hyoyeon-ssi" elak Krystal.
"Sudahlah. Temani saja Minho menghabiskan waktu makan siang ini, kau bisa kembali sebelum toko tutup. Aku memberimu izin lho~" goda Hyoyeon. Membuat semburat merah di wajah Krystal semakin menjadi.
"Tapi.." Krystal pun melirik kearah Minho seolah meminta pendapat.
"Kau mau?" namun ucapan Minho justru membuatnya semakin terkejut.
"Itu... kalau boleh..."
"Tentu saja. Ayo kita pergi" ajak Minho pada akhirnya. Krystal pun tak menyangka Minho akan menyetujuinya. Namun ia justru merasa sangat senang dengan ajakan itu, karena dia bisa menghabiskan waktu berdua dengan Minho.
Krystal pun meminta izin pada Hyoyeon yang hanya ditanggapi dengan senyum penuh arti oleh wanita itu. Ia memang sengaja membuat sepasang manusia itu menghabiskan waktu berdua, toh mereka terlihat cocok dimata Hyoyeon.
Krystal yang cantik dan Minho yang tampan.
Kedua orang itu pun melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat yang sekiranya bisa digunakan untuk piknik.
.
.
Mereka sampai disebuah taman yang cukup luas. Taman yang juga pernah Minho kunjungi saat ia baru tiba di Kota ini, taman yang membawa kenangan saat Siwon mengajarkannya untuk berjalan pertama kali disini.
"Kita duduk disana saja!" seru Krystal sambil menunjuk tempat kosong diatas rerumputan dibawah pohon yang rindang. Mereka pun duduk disana, membuka isi kotak bekal yang Minho bawa. Sesekali terdengar keceriaan dari anak-anak kecil yang bermain di kotak pasir tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Uwaa.. ini semua, kau yang membuatnya?" Krystal tercengang melihat isi kotak bekal Minho. Semuanya adalah makanan yang enak dan terlihat sangat rapih tersaji.
"Ne, cobalah" ucap Minho seraa menyodorkan kotak bekal itu kepada Krystal.
Krystal pun mencoba salah satu masakan Minho, "Mashita!" sesaat kemudian gadis cantik itu tersenyum lebar. Sepertinya masakan Minho benar-benar terasa enak dimulutnya.
"Ini enak sekali Minho. Aku tidak tahu kau pandai memasak" puji Krystal dengan senyum manisnya.
Minho pun ikut memakan bekal buatannya, ia bersandar dengan santai pada tubuh pohon yang ada dibelakangnya. "Karena tidak ada wanita dirumah, aku belajar masak sejak kecil" jelas Minho.
"Pasti Siwon Ahjjussi yang mengajarimu ya? Eomma bilang dia pandai memasak. Kalian berdua hebat sekali, aku jadi merasa malu sebagai wanita. Aku sendiri tidak bisa memasak kalau tidak dibimbing oleh Eomma" Krystal tertawa pelan menanggapi ucapannya.
Sementara Minho hanya memilih diam kalau ia sudah mendengar nama Siwon disebut.
"Minho-ah" panggil Krystal tiba-tiba di tengah kegiatan mereka menghabiskan bekal.
"Hm?" sahut Minho.
"Kau masak banyak juga.. padahal awalnya kau piknik sendirian kan?" Krystal terlihat bingung saat ia baru menyadari kotak bekal itu terisi penuh makanan, yang tentu saja bukan untuk porsi satu orang.
"Ini porsi dua orang" ucap Minho singkat.
"Eh?" Krystal pun membulatkan matanya menatap Minho.
Sementara lelaki bermata besar itu hanya menatap lurus kearah depan dengan dengan sirat mata yang redup, "Dulu... saat dia belum sibuk dikantor, kami sering piknik bersama di hari libur. Kami memasak dengan bergantian, terkadang dia yang membuat bekal, terkadang aku. Karena itu, tanpa sadar aku membuat porsi untuk dua orang tadi pagi" jelas Minho.
"Siwon... Ahjjussi?"
Minho pun mengangguk pelan. Melihat hal itu, sirat mata Krystal juga ikut redup. Ia menatap sedih kearah Minho. Ia tidak tahu kalau hubungan mereka dulu pernah terjalin sebaik itu, namun sekarang semuanya menjadi sangat berbeda.
Gadis itu tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Minho sekarang. Dibalik sikapnya yang dingin dan cuek, ia tahu sebenarnya Minho masih memikirkan Ayahnya, Siwon. Ia pasti masih sangat menyayanginya seperti Minho yang dulu.
"Huaaaa... huaaa..." tiba-tiba terdengar suara seorang anak yang menangis. Perhatian Minho dan Krystal pun beralih pada seorang anak kecil yang jatuh tersungkur diatas kotak pasir.
Krystal pun bersiap menolong anak itu, tapi ternyata langkah Minho lebih cepat mendahuluinya. Kini Minho sudah berada disamping anak itu dan membantunya berdiri dengan pelan.
"Hiks.. Hiks..." tangis anak itu mulai mereda begitu ia tahu ada seseorang yang membantunya untuk berdiri. Gadis kecil itu pun menatap Minho dengan kedua bola mata foxienya.
"Jangan menangis, tidak ada yang terluka kan?" Minho tersenyum lembut seraya membersihkan baju gadis kecil itu dari sisa pasir yang menempel.
"Untung kau jatuh di kotak pasir, jadi tidak ada yang terluka" Minho pun mengusap-usap kepala gadis kecil itu dengan lembut. Membuat gadis kecil itu kini sudah bisa tersenyum lebar.
"Gomawo Oppa..." ucap gadis kecil itu lucu.
Minho terdiam sejenak melihat senyum polos gadis kecil dihadapannya. Rasanya ia juga ingat kalau seseorang pernah menolongnya seperti ini. Siapa? Mungkin Siwon?
Bukankah ia pernah berlajar berjalan ditaman ini dulu saat ia masih kecil? Dan tentu saja, berapa kali pun ia terjatuh, Siwon pasti akan selalu menolongnya.
Mendiamkannya kalau ia menangis karena terjatuh. Mengusap-usap kepalanya dengan lembut seperti yang ia lakukan dengan gadis kecil itu.
Mengapa pikirannya begitu terasa familiar dengan semua kenangan itu. Padahal itu semua adalah kenangannya saat ia masih sangat kecil.
"Jinri-ah, kau terjatuh, nak?" tiba-tiba seorang wanita cantik dengan rambut panjangnya yang terurai indah datang menghampiri mereka.
"Eomma~" gadis yang dipanggil Jinri itu pun langsung berlari memeluk kaki sang Eomma.
"Tadi aku ditolong Oppa itu…" ucap Jinri polos sambil menunjuk kearah Minho. Wanita cantik itu pun ikut melihat kearah Minho dan tersenyum.
"Gomawo.." ucapnya tulus.
Minho pun mengangguk. Tak lama kemudian Ibu dan Anak itu berpamitan untuk pergi.
Dan Minho hanya bisa terdiam sambil terus menatap punggung kedua orang yang sudah berjalan bergandengan pergi itu.
Krystal yang sejak tadi memperhatikan dari bawah pohon pun akhirnya ikut berjalan menghampiri Minho.
"Minho"
"Itukah... yang namanya Ibu?"
Krystal terdiam begitu ia mendengar gumaman Minho. Ia pun bisa melihat sirat mata Minho yang semakin sendu saat melihat hubungan harmonis Ibu dan Anak tadi. Tentu saja, mungkin Minho merasa iri melihatnya.
Bukankah Minho sama sekali tidak pernah bisa melihat Ibunya? Mereka berpisah bahkan disaat Minho masih belum bisa membuka matanya dengan sempurna. Padahal kalau saja ia bisa melihat Ibunya yang cantik dan manis itu dengan mata kepalanya sendiri, mungkin Minho yang dingin dan penyendiri sekarang tidak akan ada.
Seharusnya ia juga memiliki kenangan yang manis bersama Ibunya, seperti anak tadi maupun anak-anak lainnya. Seharusnya ia tidak berbeda dengan mereka semua, bisa merasakan dekapan hangat seorang Ibu dan tidak perlu tenggelam dalam kesepian seperti ini.
Mata Krystal terasa panas, sesaat kemudian pandangannya pun mengabur karena air mata yang menggenangi kelopak doe eyesnya. Entah kenapa Krystal merasa sesak jika harus mengingat semua nasib Minho itu.
"Hiks..." dan satu isakan tangis pun berhasil lolos dari mulutnya, diikuti tetesan air mata yang mulai membasahi wajah cantiknya.
Minho pun langsung menoleh begitu ia mendengar isakan Krystal, ia terkejut melihat gadis itu yang tiba-tiba menangis. "K-kau kenapa?" tanyanya bingung.
Krystal tidak bisa menjawabnya sekarang, bibirnya terasa kelu. Ia pun hanya bisa menggelengkan kepala dan menyembunyikan wajahnya.
Minho terdiam sambil memperhatikan gadis cantik yang tengah menangis dihadapannya itu. Dan tanpa komando apapun, tangannya kini sudah terangkat untuk mengusap pucuk kepala gadis itu dengan lembut.
"Jangan menangis..." ucapnya lembut. Sangat terasa berbeda dengan ucapan Minho yang selalu terdengar dingin dan tajam.
"Mianhae..." ucap Krystal ditengah-tengah isak tangisnya.
"Ng?" Minho pun menatap dalam gadis itu.
"Selama ini... kau kesepian ya..."
Minho terdiam mendengar ucapan Krystal berikutnya. Ternyata ini yang dipikirkan oleh gadis itu, lagi-lagi ia memikirkan hidupnya.
"Padahal seharusnya kau sama seperti anak tadi. Ada Ibu yang mengkhawatirkanmu disaat kau sakit, ada Ibu yang menyambutmu disaat pulang sekolah dan ada Ibu yang menemanimu disaat kau kesepian..."
Minho masih terdiam dihadapan Krystal.
"Tentu saja kau masih punya Siwon Ahjjussi, dia pun adalah orang yang sangat baik dan menyayangimu. Tapi disaat ia tidak ada seperti ini... kau pasti kesepian..." isak tangis Krystal lolos lagi dari pertahanannya. Gadis itu pun kembali menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
"Kau.. mengasihaniku?" Minho pun merespon.
"Mi-Mianhae bukan itu maksudku. Hanya saja.. kalau aku yang mengalaminya, mungkin aku hanya bisa menangis seperti ini... mianhae"
Minho pun kembali terdiam memikirkan ucapan Krystal. Sungguh, ia tidak tahu mengapa ada orang lain yang bisa memikirkannya sampai seperti ini, ia sama sekali tidak bisa menyangkanya sedikitpun.
Dan mengapa semua perhatian Krystal begitu terasa hangat dihatinya. Ia tak menolak sedikitpun perhatian yang diberikan gadis itu, padahal selama ini ia selalu benci dengan orang-orang yang berlagak ingin memperhatikannya namun nyatanya hanya bisa mengganggunya.
Namun Krystal berbeda. Minho merasakan hal itu.
"Berhentilah…" Minho pun bersuara tegas, namun Krystal masih juga belum bisa menahan air matanya.
"Kubilang berhentilah" kali ini nada bicaranya melembut. Perlahan Minho pun mengangkat wajah Krystal agar ia bisa menatap gadis itu. Sementara Krystal hanya diam mengikui gerakan tangan Minho.
Kini kedua manik mata itu saling bertatap dalam, seolah ingin menyampaikan perasaan mereka satu sama lain.
"Untuk apa kau menangisi hal yang tidak kau alami?" Minho kembali bicara. Sudut bibirnya tertarik tipis, laki-laki tampan itu tersenyum sendu. Membuat bibir Krystal semakin terkatup rapat.
"Berhentilah menangis. Kau bukan diriku, kau tidak mengalami apa yang aku alami. Nikmati saja yang kau punya sekarang" tambah Minho lagi.
"Aku.." Krystal tak tahu harus menjawab apa.
"Jika terus kau tangisi, maka orang itu akan sedih"
"Eh?" Manik mata Krystal kembali membulat sempurna.
"Jangan menangisi kepergian orang lain, karena orang itu justru akan merasa terbebani" senyum tipis Minho. Perlahan ia pun bangkit dan berdiri, menatap objek bernama langit yang terhampar luas diatasnya.
"Ibuku akan sedih kalau masih ada yang menangis karenanya... maka dari itu," Minho kembali menatap Krystal. "Berhentilah menangis..."
Krystal kembali terdiam dihadapan Minho. Kini ia sudah bisa menahan air matanya untuk tidak lagi keluar. Kata-kata Minho memang ada benarnya, sesungguhnya orang yang sudah meninggal tidak membutuhkan tangisan, mereka hanya butuh doa.
Krystal pun menutup kedua doe eyesnya sejenak. Merenungkan segala hal yang tengah bergeming dipikirannya.
Kini ia benar-benar mengerti bagaimana perasaan Minho. Ternyata sama saja, baik Siwon maupun Minho yang ia kenal, kedua lelaki tampan itu ternyata selama ini terus berusaha menahan kesedihan mereka.
Karena mereka begitu mencintai wanita itu, makanya mereka selalu berusaha terlihat tegar. Dibalik kesibukan Siwon dan sifat dingin Minho, sebenarnya mereka adalah manusia yang rapuh, yang tidak tahu kapan tangis itu akan meledak.
Dan kini mereka masih belum menyadarinya, mereka masih tetap dengan kehidupan masing-masing yang terlihat dingin dan datar itu. Yang mereka tahu, mereka hanya harus bersikap tegar agar kesedihan itu tidak menang melawan pertahanannya. Karena mereka tidak ingin membuat wanita yang mereka cintai bersedih di dunia sana.
"Apa yang kau pikirkan sekarang?" tanya Minho saat ia melihat Krystal memejamkan kedua matanya.
Sesaat kemudian doe eyes itu kembali terbuka. Kini sirat mata yang sendu perlahan memancarkan sinarnya kembali. Krystal tersenyum kepada Minho.
"Aku mendoakan Yoona Ahjjumma"
Mendengar hal itu, Minho pun ikut tersenyum. Lagi-lagi hanya dihadapan Krystal ia bisa menunjukkan senyumnya ini. Kini mereka pun melanjutkan kegiatan piknik mereka dengan atmosfir yang perlahan-lahan mulai membaik.
'Minho-ah, aku harap suatu saat nanti kau tidak perlu lagi menahan kesedihanmu sendiri. Jika kau bisa membaginya, maka bagilah denganku. Karena aku... tidak mau melihatmu menderita lagi... Saranghae... Choi Minho...'
.
.
To Be Continued
.
Eaaa... akhir yang cukup romantis, kah? Hahaha
Adakah yang masih menanti kelanjutan ff ini? Aku ini benar-benar pabo karena tidak bisa berpikir lebih serius mengenai kelanjutan ff ini.
Semoga TLTSM masih ada yang menanti dan peminatnya bertambah. Jeongmal mianhae karena aku baru bisa update sekarang *deep bow*
Gomawo~
.
SPECIAL THANKS TO
aurel, guest, Nissa, and
Jung Min Rin : Gwenchana, gomawo karena udah ngikutin ff ini :) *bow*
