HALLO, Readers... ARE YOU READY FOR THE NEXT CHAPTER? ARE U WAITING FOR THIS CHAPTER, GUYS? And…. Jeng jeng jeng jeng *sound gagal* this is it! The next chapter of this fanfiction. So it's been a long time and long chapter since the last chapter I've published. Hope you won't feel bored with this fanfiction guys… Thanks for ur review(s), Favorites and follows, GUYS! LOVE U ALL!

NOTE! MUST READ!: Aku minta maaf sebesar-besarnya karena keterlambatan update FF ini. First semester in high school little bit busy T^T. aku juga mungkin gak pinter bagi waktu dan beginilah jadinya, slow update -_-. Silahkan marah2 dan ucapkan kekesalan kalian di review juseyo

NOTE ABOUT FF: Diawal cerita bakal lebih ceritain ke arah hubungan TaeJin dan JiKook, jadi gak banyak VMin momentnya sih. Maafkan aku guys T^T.

CREDIT POSTER: jalilfunny at HSG (High School Graphics)

So, gak perlu bnyak cincong, HAPPY READINGG~~~~

.

.

.

Pagi itu, namja bersurai dirty brown dengan kemeja putih dan celana jeans melangkahkan kakinya perlahan di lorong yang penuh pemuda dan pemudi itu. Kedua netranya mengedarkan pandangan ke seluruh bagian universitas yang cukup besar itu. Dari jarak itu, Taehyung mampu melihat bangunan universitas jurusan seni di sebelah kiri dari tempatnya berdiri. Ia mengambil langkah cepat keluar dari lorong, menuju sebuah bangku kosong dengan meja dan kursi kayu yang dicat cokelat. Konyol rasanya ketika kayu yang berwana cokelat justru dicat dengan warna cokelat pula. Namun, ia ingat pernah berceletuk seperti itu pada sahabat karibnya, Jimin, dan sekali Jimin membuka mulutnya, Taehyung tak akan pernah mampu mengucapkan apapun.

"Kenapa sulit? Kayu cokelat dicat agar lumut tidak tumbuh, Bodoh!"

Taehyung mendudukan dirinya pada bangku itu seraya mengambil sebuah buku tulis ber-cover biru tua dan sebatang pensil. Biasan-biasan cahaya pagi mengenai rambut dirty brown serta wajahnya, memberikan efek kilatan-kilatan akibat pantulan cahaya matahari. Sesekali ia memutar-mutarkan pensil itu di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Sesekali ia masih terkekeh mencemooh pada dirinya sendiri, sadar jika apa yang Jimin katakan mengenai kayu yang dicat cokelat itu benar juga. Jadi mengapa harus warna cokelat yang akhirnya terpilih?

Taehyung mulai menggoreskan ujung karbon pensil di atas lembar kertas putih buku tulisnnya. Diawali dengan sketsa kasar garis vertikal yang terletar di sebelah kiri kertas, kemudia dilanjutkan dengan garis-garis dan kurva lainnya sebagai pendukung lanjutan dari sketsa kasar itu. Terkadang ia mendongak, melihat detail model yang ia tengah gambar. Ada sekitar 5 jendela di tingkat pertama gedung itu. Cukup sulit rasanya untuk menggambar kerangka bangunan itu bahkan hingga detailnya. Wajar saja, universitas seni apa mungkin hadir dengan gedung yang biasa saja? Sebuah ketidakmungkinan pastinya. Gedung universitas seni adalah gedung dengan arsitektur terindah menurut Taehyung, dan itu adalah salah satu alasan Taehyung ingin pindah ke jurusan seni.

Melewatkan jam pertama mata kuliah rasanya asing untuk Taehyung namun kadang ia berpikir bahwa alasan yang mendorongnya untuk tidak menghadiri mata kuliah ini cukup masuk akal dan bernilai (menurut pandangannya semata). Toh selama ini bukan jurusan sains dan matematika yang ia kejar, melainkan jurusan seni. Tak ada salahnya bagi Taehyung untuk mencoba sedikit hal mengenai seni, bukan?

Di akhir sketsanya, ia membubuhkan beberapa aksara Hangeul di dekat sketsa bangunan yang menyerupai bangunan jurusan seni itu.

"Kau harus menjadi salah satu mahasiswa terbaik dan terfavorit di bangunan jurusan ini setelah wisuda nanti. Aku menunggumu dan menagih janjimu, Jimin Babo. Tertanda, Si Tampan, Kim Taehyung."

Senyuman tipis terpatri di bibir tipis Taehyung tanpa ia sadari. Si tampan katanya. Sungguh sebuah kepercayaan diri yang pastinya akan membuat seorang Jimin menjitak kepalanya dengan keras. Ia tak pernah menyangka di balik telapak tangan yang kecil itu, tersimpan tenaga yang cukup untuk membuat Taehyung meraung-raung kesakitan akibat jitakannya.

Tak banyak yang bisa Taehyung lakukan setelah beberapa bulan Jimin kembali ke rumah orangtuanya. Setidaknya hanya bekerja di café Seok Jin, pergi kuliah, menyusun tugas akhir kuliah sebelum wisuda, pergi makan sendirian atau bersama Hoseok, tidur, mandi, dan berbagai kegiatan keseharian yang selayaknya mahasiswa seperti biasanya lakukan. Sudah cukup lama rasanya tak mendengar suara tenor Jimin atau suara bassnya ketika berbicara dengan dialek Busan yang khas.

"Taehyung…", suara itu mampu mengalihkan atensi Taehyung menuju asal suara. Terdapat sosok namja tinggi berjaket hitam berdiri di belakangnya namun Taehyung tak mampu melihat dengan jelas wajah namja itu akibat cahaya matahari yang menghalangi pandangannya.

Taehyung memicingkan kedua matanya ditambah dengan telapak tangan yang ia gunakan untuk menutup arah datangnya sinar matahari. "Seok Jin hyung?", gumam Taehyung tak percaya akan bertemu dengan Seok Jin di sana.

Dengan kedua tangan yang tersimpan di dalam saku jaketnya, Seok Jin mendudukan dirinya tepat di samping Taehyung. Ada senyuman tipis tapi canggung yang terlukis di bibir plum Seok Jin.

"Kau membolos untuk kesekian kalinya, Kim Taehyung.", ujar Seok Jin memulai pembicaraan yang terasa agak canggung itu.

Taehyung terkekeh dengan senyuman kotaknya yang khas, "Aku hanya sedang mencari ketenangan. Kebetulan rasa-rasanya aku tak tertarik untuk ada di dalam kelas.", sahut Taehyung seraya memasukkan buku catatan dan sebatang pensil miliknya ke dalam tas ranselnya. "Lalu kau sendiri? Apa yang kau lakukan di luar selama jam pelajaran?"

Seok Jin mengedikkan bahunya, "Well, aku baru kembali dari toilet dan melihatmu. Jadi, bagaimana jika lewatkan hari ini untuk bersenang-senang?", tawar Seok Jin menggerakkan alisnya beberapa kali.

Taehyung tersenyum dan menganggukan kepalanya, pertanda menerima ajakan sukarela dari seorang Kim Seok Jin yang notabene adalah atasannya di café tempatnya berkerja sekaligus seorang ketua senat di kampusnya. Sebuah keajaiban ketika murid setaat Kim Seok Jin menjadi salah satu yang turut melewatkan mata kuliah pada hari itu.


Taehyung menjejakkan kakinya di atas daratan yang dipenuhi pasir hitam itu perlahan. Dengan tangan yang masih bertumpu pada pintu mobil yang belum tertutup sepenuhnya, ia menatap lingkungan di sekitarnya. Angin berderu cukup kencang di sana, mengibaskan beberapa helai surai dirty brown-nya. Daratan itu sebagian pasir hitam dan sebagian lagi tanah subur. Pada bagian tanah yang subur, terdapat banyak ilalang yang tumbuh setidaknya setinggi pinggang Taehyung.

"Menakjubkan, huh?", tanya Seok Jin yang tengah melangkahkan kakinya mendekati Taehyung yang masih berdiri tanpa menutup pintu mobil Seok Jin.

Seok Jin merangkul pundak Taehyung dan tersenyum padanya, "Ini yang aku sebut tempat bermain pribadiku. Tak ada seorang pun yang datang ke sini kau tahu, sangat damai."

"Aku tak pernah tahu, seorang pria yang nyaris sempurna sepertimu justru memilih untuk pergi ke tempat seperti ini dibandingkan pergi menghabiskan uangmu keluar negeri.", sahut Taehyung dengan kekehan konyolnya.

"Yah, bocah ini… Kau membuatku sakit hati sekarang. Apa aku terlihat seperti seorang remaja yang hobi membuang-buang uangku hanya untuk pergi keluar negeri?", tanya Seok Jin yang berpura-pura kesal. Ia tak melepas rangkulannya pada Taehyung sama sekali, justru semakin mengeratkannya.

"Akan kubuat kau menyesal telah berpikir seperti itu tentangku.", bisik Seok Jin tepat di samping telinga Taehyung, membuat Taehyung merasakan sensasi geli.

Seok Jin menarik Taehyung semakin jauh ke dalam padang rumput itu setelah ia menutup pintu mobilnya dengan kaki jenjangnya. Taehyung merentangkan tangannya sehingga ia mampu menyentuh ilalang-ilalang itu. Ia suka sensasi yang ditimbulkan dari pertemuan antara kulit telapak tangannya dengan ilalang-ilalang itu. Angin berhembus menyapa kulit mereka, dingin rasanya. Dan di saat yang bersamaan, Taehyung sadar, daratan berpasir itu mungkin sengaja dibuat sebagai jalan untuk menyusuri padang rumput.

Langkah mereka terhenti tepat di sebuah area luas berpasir dengan sepaket besar taman bermain anak-anak. Tepat dihadapanya terdapat dua buah perosotan berwarna hijau dan biru yang terlihat segar. Sementara tak jauh di sampingnya terdapat 3 ayunan yang saling bersebelahan. Nampak sedikit rapuh namun Taehyung yakin bahwa sebenarnya itu masih cukup kuat.

"TA~DA~, terkesan?"

Taehyung mengacuhkan pertanyaan itu dan segera berlari menuju salah satu ayunan yang ada. Ia mendudukan dirinya kemudian berusaha menggerakkan ayunan itu. Hembusan angin menyapu permukaan kulit wajahnya, membawa sensasi mengkerut di wajahnya tapi ini sungguh menyenangkan. Suara derit rantai ayunan tetap diacuhkan Taehyung, toh ia yakin ayunan tak akan roboh karenanya.

"Tae, ingin permen?", tanya Seok Jin yang berdiri di samping ayunan Taehyung dengan sebatang permen lollipop di tangannya.

Taehyung berhenti mengayunkan ayunannya kemudian mengambil lollipop itu dari tangan Seok Jin. Ia melumat lollipop itu dalam diam, tak berbicara ataupun menggerakkan ayunannya. Diam selayaknya anak bocah yang patuh terhadap orang tuanya.

"Terima kasih telah membawaku ke sini, Seok Jin Hyung…"

"Aku akan melakukan apa pun untukmu, Tae. Bukan masalah. Lagi pula aku kebetulan lama tak mengunjungi tempat ini.", sahut Seok Jin yang bersandar pada tiang ayunan itu, tepat di samping Taehyung.

"Seok Jin Hyung…"

Seok Jin menolehkan kepala pada Taehyung, "Hm?"

"Berjanjilah, ketika aku berhasil membawa Jimin pergi setelah ini, kau harus mengantarkan kami ke tempat ini. Aku yakin Jimin suka tempat ini, Hyung.", pinta Taehyung.

Seok Jin tersenyum miring sesaat, "Aku janji."

Taehyung kembali melumat lollipop-nya dalam keheningan. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya maupun mulut Seok Jin. Dengan netranya, Taehyung mampu melihat mobil hitam Seok Jin dari kejauhan di antara kerumuman ilalang. Kecil seperti mobil mainan anak-anak. Hingga, pandangan terhadap mobil hitam Seok Jin tertutup oleh sebuah pemandangan jaket hitam yang lama kelamaan berubah menjadi wajah Seok Jin yang tepat berada di depan matanya. Seok Jin bersimpuh di hadapan Taehyung.

"Seberapa pedulimu pada Jimin?", tanya Seok Jin dengan nada yang terdengar serius.

"Sangat peduli, entah bagaimana harus menjelaskannya tapi aku sangat-sangat peduli. Lebih peduli dari memperdulikan diriku sendiri."

Seok Jin tersenyum masam samar, membuat Taehyung bertanya-tanya dalam benaknya apa yang terjadi pada Seok Jin. Ia meraih kedua tangan Taehyung, baik yang menggenggam lollipop ataupun tidak. "Kau… harus menjaga dirimu lebih baik dari pada menjaga orang lain, Tae."

"Kenapa?"

Seok Jin membisu.

Taehyung tak mampu mencerna secara pas apa maksud ucapan Seok Jin tadi kemudian membisu ketika Taehyung bertanya kembali. Tapi, apapun itu maksud Seok Jin, ia dapat merasakan bahwa atasannya itu sangat mengharapkan hal itu darinya. Tapi bagaimana caranya untuk mewujudkan hal itu?

"Ini berhubungan dengan pengelihatanmu akan masa depan, kan?", lirih Taehyung dengan setetes Kristal air mata yang menitih dari pelupuk mata indahnya. "Sebenarnya aku tak ingin mati untuk alasan apapun… tapi aku wajib untuk mati, Hyung. Aku tak mungkin hidup selamanya, kan?"

Seok Jin tak mengerti harus membalas ucapan Taehyung dengan apa. Ia hanya khawatir dengan 'pengelihatanya' itu. Ia benci harus seperti ini. Ia tahu kapan semua ini akan berakhir, tapi tidak tahu bagaimana semua ini akan berakhir. Ia ingin mengambil kemungkinan-kemungkinan lain agar semua tak berakhir secepat apa yang telah ia lihat, namun ia tak tahu bagaimana caranya.


Jungkook berdiri tepat di hadapan pintu ruangan itu, menatap pintu itu layaknya sebuah pemandangan indah dari bagian teratas hingga bagian terbawah. Berulang kali tangannya hendak menggapai knop pintu itu, kemudian menariknya kembali seakan enggan melakukannya.

"Tuan Muda Jeon…", suara sedikit ringkih itu membuat Jungkook terkesiap sesaat, kemudian membalikkan tubuhnya menatap seorang pria paruh baya dengan senyuman tulusnya.

"Sekretaris Choi, anda membuatku terkejut.", sahut Jungkook seraya mengelus dadanya dan menghela nafas panjang.

"Tuan muda sudah berdiri di sana sejak 10 menit yang lalu. Jadi aku hanya ingin memastikan apa terdapat kendala hingga kau tak bisa masuk ke kamar Tuan Muda Park.", tutur sosok itu dengan nada pelan, sangat patuh dengan tingkat social dalam bisnis itu.

"Aku hanya takut mengganggunya, aku tak yakin harus masuk atau cukup mendapat penjelasan darimu, Sekretaris Choi."

Sekretaris Choi menghela nafas perlahan, "Tuan Muda Park menolak untuk memakan makanannya sejak 3 hari yang lalu. Ia hanya meminum air, susu dengan madu dan roti. Padahal dokter pribadinya memintanya untuk memakan makanan pokok."

"Apa itu berpengaruh sejauh ini pada kesehatannya?"

"Sangat berpengaruh, Tuan Muda. Kondisinya menurun, tubuhnya nampak lemas dengan tangan yang bergetar."

"Terima kasih informasinya, Sekretaris Choi.", ucap Jungkook kemudian Sekretaris Choi berlalu menuju sebuah ruangan yang tak jauh dari kamar Jimin.

Jungkook memutar knop pintu kamar Jimin bersamaan dengan suara decitan pintu yang terbuka. Udara di dalam sangat dingin, mungkin dikhususkan seperti ruangan isolasi bagi Jimin. Kamar itu kekurangan cahaya dari sudut pandang Jungkook. Korden yang sengaja tak dibuka, mungkin pengelihatan Jimin tak senormal dahulu. Tak banyak cahaya yang masuk, hanya ada cahaya dari sela-sela korden yang menembus ruangan itu.

Dari tempatnya berdiri sekarang, ia mampu melihat Jimin termenung menatap korden yang tak terbuka itu seraya bersandar di kasurnya. Sebuah alat bantu pernafasan terpasang menutupi hidung dan mulutnya. Jungkook melangkahkan kakinya mendekati kasur Jimin. Langkah kakinya itu mengalihkan atensi Jimin pada Jungkook.

"Taehyung?", suara lirihan dari balik alat penafasan itu terdengar.

Jungkook duduk di pinggir kasur, tepat di samping Jimin, "Bukan Taehyung… Aku Jungkook."

"Mianhaeyo, aku tak bisa melihatmu dengan jelas.", sahut Jimin dari balik alat bantu nafas itu.

Jungkook mengacungkan jari telunjuk di depan mata Jimin, "Berapa jari yang aku acungkan?", tanya Jungkook.

Jimin terlihat memicingkan matanya seakan tak mampu melihat telunjuk Jungkook dengan jelas, "Satu? Jari telunjuk? Aku melihat ada 4 jari lainnya berbayang menutup. Sebenarnya aku melihat 2 jari yang kau acungkan tapi aku berpikir ada 4 jari sisanya yang tertutup.", jelas Jimin.

"Kau tidak dalam kondisi yang baik seperti biasanya, Hyung…", ucap Jungkook seraya menarik selimut hingga sedada Jimin. "Kau harus makan dengan baik atau nasi itu akan menangis karena kau tak memakannya."

Jimin terkekeh lemah, "Belajar dari siapa kau berkata seperti itu? Taehyung?", tanya Jimin dengan senyuman tipisnya.

Jungkook menggeleng.

"Tolong telepon Taehyung dengan ponselmu, Taehyung pasti akan menjawabnya. Ia tak akan menjawab telepon dariku. Aku ingin mendengar suaranya.", pinta Jimin.

"Tapi kau harus berjanji akan memakan makananmu, yah?", ujar Jungkook seraya mengacungkan kelingking yang biasa dipakai mengikat janji antara 2 orang.

Jimin mengaitkan kelingking mungilnya pada kelingking Jungkook, "Janji…"

Jungkook segera mengetukkan jari jemari panjangnya pada layar ponselnya, mencari kontak Taehyung di antara kontak-kontak lain yang tersimpan di ponselnya. Suara sambungan panggilan terdengar. Mereka menunggu Taehyung mengangkat panggilannya.

"Hallo?"

"Seok Jin hyung?", ucap Jungkook tak percaya jika justru Seok Jin yang mengangkat panggilannya, bukan Taehyung. "Di mana Taehyung hyung? Aku perlu bicara padanya."

"Aku mendengarkanmu, Jungkook…"

Suara berganti dengan suara bass yang khas dari seorang Kim Taehyung. Saat itu pula senyuman terulas di bibir Jimin.

Jungkook melirikkan matanya pada Jimin, turut tersenyum ketika ia mendapati Jimin tersenyum di sana, "Aku hendak menjenguk Jimin hyung, aku dalam perjalanan. Menurutmu aku harus memberikannya apa agar ia senang? Bisakah kau memberikan saran?", tanya Jungkook.

"Ah… belilah daging, buah dan kimchi jjigae. Jimin suka makanan seperti itu."

"Selain itu? Mungkin sesuatu yang bisa ia simpan?"

"Maksudmu bukan pakaian atau barang elit, kan? Tak perlu belikan apapun jika bukan keinginannya. Seleranya berubah-rubah. Tapi jika kau memaksa, sweater putih atau hitam mungkin cocok untuknya."

"Selain itu?"

"Berapa banyak barang yang ingin kau berikan padanya? Aishh… aku tahu kau banyak penghasilan, Bodoh."

"Ia menyebut aku bodoh.", bisik Jungkook pada Jimin seraya mem-pout bibirnya, berpura-pura sedih.

"Lagu mungkin? Lagu favorit Jimin hyung?"

"Only Look At Me, Taeyang yang menyanyikannya. Jimin selalu menyanyikan itu jika pergi ke karaoke."

"Aku tak tahu lagu itu, bernyanyilah sedikit untukku jadi aku bisa mencarinya di internet."

"Ya! Bocah ini, benar-benar."

"Kumohon…"

Sesaat hanya terdengar suara dengusan dan helaan nafas lawan bicaranya. Jungkook sedikit khawatir jika Taehyung mungkin menolak untuk bernyanyi dan justru mengomel padanya.

"Naega baram pyeodo neoneun jeoldae pijima baby (Even if I cheat, don't you ever cheat, baby)
Naneun neoreul ijeodo neon nareul itjima lady (Even if I forget you, don't you ever forget me, lady)
Gakkeum naega yeollagi eopgo sureul masyeodo (If once in a while I don't contact you and I go out to drink)
Hoksi naega dareun eotteon (Even if I ever meet)
yeojawa jamsi nuneul matchwodo (another girl's gaze)
neon naman barabwa (Only look at me)"

"Terima kasih bantuanmu, Hyung… Semoga harimu menyenangkan.", Jungkook menutup panggilannya.

"Bagaimana? Taehyung sudah bernyanyi untukmu, kemudian kau sudah mendengarkannya suaranya juga, kan? Kau harus makan makananmu sekarang.", tutur Jungkook.

"Ia masih mengingat hal-hal yang aku suka, bahkan lagu itu."

"Mana mungkin, seorang sahabat melupakan hal yang sahabat karibnya sendiri sukai?"

Jimin mematung dengan secercah perasaan tenang. Mungkin masih ada kesempatan baginya untuk menemui Taehyung suatu saat nanti, pikir Jimin dalam benaknya.

"Sekarang kau harus memakan makananmu, okey? Kau sudah berjanji padaku dan kau tak boleh melanggarnya.", ujar Jungkook.

Saat itu juga, Jimin merasakan dadanya sesak dan nyeri seakan ditinju oleh beberapa orang. Nafasnya terasa berat dan pendek. Suara mengi terdengar setiap kali ia berusaha menarik nafasnya dalam-dalam. Tenggorokannya terasa kering, gatal dan sakit. Ia tak suka sensasi rasa itu. Sesekali ia memukul dadanya perlahan.

"Hyung, apa kau merasa tidak nyaman?"

Jimin hanya mampu menggeleng, berusaha mengambil oksigen sebanyak mungkin dari mulut dan hidungnya.

"Hyung kau tak baik-baik saja… Tubuhmu mendingin, Hyung… Apa yang harus aku lakukan sekarang?", dalam kepanikannya, Jungkook berusaha memikirkan cara untuk menghentikkan sesak di dada Jimin. Ia menakup kedua telapak Jimin di dalam genggamannya. Dingin, seperti es.

"Sekretaris Choi! Sekretaris Choi! Siapapun, kumohon tolong aku!", teriak Jungkook panik seraya menarik Jimin ke dalam dekapannya, menjaga sosok itu tetap hangat.

Nafas Jimin memburu dan mengi. Tubuhnya sudah terlalu lemah, kekurangan pasokan oksigen. Ia terbatuk-batuk terus menerus sejak tadi, tak berhenti sama sekali. Jelas menyulitkannya untuk menarik oksigen ke dalam paru-parunya.

Suara pintu yang terbuka dan langkah cepat mengalihkan perhatian Jungkook dan Jimin. Sekretaris Choi dan Nyonya Park terlihat datang bersamaan dengan wajah panik.

"Jimin, apa yang terjadi padamu, Nak?", suara panik dan bergetar Nyonya Park terdengar di samping Jungkook. Jungkook hanya bisa berusaha menyangga tubuh Jimin agar tak terjatuh sekaligus menjaganya tetap hangat.

"A…aku….", setetes Kristal bening air mata menitih dari pelupuk mata Jimin. Ia tak memiliki kemampuan untuk mengucapkan banyak kata. Ia ingin bisa menyampaikan apa yang ia rasakan pada ibunya itu, namun ia terlalu lelah untuk itu. Terlebih, batuk yang terus menerus mengganggunya untuk berbicara.

"Katakan padaku, apa yang kau rasakan, Nak… Ibu di sini…"

Tetes demi tetes air mata semakin deras mengalir dari pelupuk mata hazelnya, "A…aku… sulit…. ber..nafas, Bu…"

Jungkook yang mendengar ucapan Jimin itu langsung melepas alat bantu pernafasan Jimin kemudian menggendongnya. Ia panik, kedua tangannya bergetar saat menggendong tubuh ringkih Jimin.

"Aku akan membawanya ke rumah sakit. Jimin hyung tak bisa tetap berada di sini terus menerus. Sekretaris Choi, tolong hubungi Tuan Park dan Taehyung hyung tentang ini. Katakan pada Taehyung hyung untuk menghubungiku lagi nanti. Nyonya Park, ikutlah bersamaku."

Jungkook segara berlari menuju mobilnya dengan Jimin yang berada di gendongannya. "Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit, Hyung."


"Selamat jalan, semoga harimu menyenangkan."

Taehyung tersenyum seraya membuka pintu kaca itu bagi dua orang yeoja muda dengan pakaian stylish-nya. Ia melirikkan netranya pada jam dinding yang terpampang tak jauh dari meja kasir. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Cepat sekali padahal rasanya Taehyung belum melakukan apapun hari itu. Mungkin karena ia melewatkan waktu kuliah bersama Seok Jin sehingga tak banyak beban pikiran, pikir Taehyung.

"Kenapa kau memelototi jam itu? Tak setampan diriku, Tae.", ujar Seok Jin yang duduk di seberang meja kasir.

Taehyung memutar bola matanya, kemudian kembali berdiri di meja kasir. "Terlalu percaya diri."

Hingga getaran ponsel terasa dari saku apronnya, membuat Taehyung mengalihkan tatapannya pada saku apronnya itu. "Pasti Hoseok Hyung meneleponku karena tak menemuiku di mana pun.", gumam Taehyung. Tangannya menggapai ponsel dari saku apronnya, menatap nama seseorang yang tengah melakukan panggilannya.

"Sekretaris Choi?", gumam Taehyung seraya menggeser tanda telepon hijau pada layar ponselnya.

"Hallo, Choi Ahjussi, kenapa kau meneleponku?"

Seok Jin hanya menatap bingung dan penasaran pada Taehyung yang tengah bertelepon ria dengan lawan bicaranya. Tangannya enggan menaruh cangkir kopi itu di atas meja, terlalu berkonstrasi dengan perubahan raut wajah Taehyung. Mungkin terjadi sesuatu yang tidak beres, simpul Seok Jin.

"Tuan Muda Park dilarikan ke rumah sakit karena sulit bernafas. Tuan Muda Jeon memintaku untuk menghubungi anda."

"Apa?! Lalu di mana Jimin sekarang?"

Seok Jin seketika mendekati meja kasir ketika seruan Taehyung menggema di dalam café itu.

"Anda diminta untuk menghubungi Tuan Muda Jeon nanti. Aku hanya bisa menyampaikan informasi ini karena hanya Tuan Muda Jeon dan Nyonya Park yang mengantar Tuan Muda Park ke rumah sakit."

"Baiklah, terima kasih informasinya, Choi Ahjussi…"

Sambungan telepon itu terputus, bersamaan dengan netra Seok Jin yang bertemu dengan netra Taehyung.

"Jimin… dilarikan ke rumah sakit, Hyung… Jimin bersama Jungkook sekarang…"

"Jika kau pergi ke rumah sakit sekarang, maka kau akan bertemu dengan Tuan Park, Tae. Aku dan Jungkook akan menyiasati agar kau bisa menemui Jimin tanpa harus bertemu Tuan Park.", jelas Seok Jin.

Taehyung kalut seketika itu juga. Bagaimana bisa kondisi manusia itu menurun drastis? Apa ia tak bahagia di sana? Apa dirinya menyakiti Jimin begitu banyak hingga Jimin sesakit itu? Apa ia tak makan dengan baik? Apa ia tak tidur dengan nyenyak? Selemah apa dirinya hingga untuk bernafas pun manusia itu kesusahan.

"Aku akan segera menemuimu dan menyembuhkanmu, Jimin. Aku janji."

.

.

.

TBC

HYAAAAAAAAAAAAAAAAAA! Akhirnya chapter ini selesai juga Guys… bagaimana? Bagaimana? No feel? Gaje? Aneh? Jelek? Ngebosenin? Should I continue it or not? Don't forget and feel free to review this FF down below, okay? YOU MUST GIVE REVIEW, OKAY? /plak. SEE U at next chapter or my another FF, Guys… /lambai-lambai, kiss bye/