YUGURE NO BAIORETTO (Final)
Pairing : Sasu/Hina always.
Rating : M
Tag : Romance/ Tragedy/ friendship/ AU
Disclaimer : All characters in this story belongs to Masashi Kishimoto
Happy reading..
###########################################################################
Shiho masih sama seperti dulu, pintar membawa diri dan menyenangkan saat diajak bergaul. Tutur katanya sopan dan pembawaannya supel, hingga setiap tanggapan yang ia sampaikan selalu pas. Tata krama dan tingkah lakunya sebagai putri kalangan samurai membuatku hingga kini masih membayangkannya sebagai menantu ibuku.
Aku meraup wajahku perlahan. Gugup. Aku berusaha bertingkah sewajarnya saat pemikiran konyol itu sempat terbersit. Pemandangan orang tuaku begitu antusias bercakap dengan Shiho, membuatku otakku seketika berdelusi.
Ini bukan genjutsu! Bagaimanapun keadaan Shiho saat ini, aku telah memiliki Hinata disisiku.
Ayah dan ibu menanyakan banyak hal pada Shiho. Mulai dari kondisi saat ia dan paman Mifune di Suna, hingga kondisi terakhir saat ini. Dari pembicaraan mereka, aku menjadi tahu bahwa paman Mifune telah meninggal seminggu yang lalu. Tepat saat pengampunan dari Hokage turun.
Bahkan akibat tekanan batin dan kondisi lingkungan yang ekstrim, beberapa bulan sebelumnya, anak Shiho telah lahir prematur dan meninggal tanpa sempat mengeluarkan tangisannya.
Kami semua menatap Shiho dengan pandangan yang sama. Kagum, sekaligus kasihan. Shiho yang cantik. Shiho yang tegar. Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, ia kehilangan orang – orang terkasih. Hozuki, anaknya dan Paman Mifune.
Aku seketika menoleh karena merasa seseorang tengah menatapku.
Berdiri diam disamping ibu, Mata Hinata tampak menerawang kearahku. Ia tersenyum kikuk saat pandangan kami bertemu. Gesturnya tampak tidak nyaman. Ia gelisah. Seolah merasa canggung dan asing diantara kami semua. Sesekali ia tertawa menanggapi obrolan ibu dan Shiho ketika namanya ikut tersebut, dan mengalihkan pandangannya padaku saat Shiho mencoba mengajakku ikut mengobrol bersama.
Apa yang kau inginkan, Hinata? Apa yang ingin kau pastikan?
"Bagaimana bila kau tinggal sementara ditempat kami, Shiho chan?"
Tawaran ibu membuatku dan Hinata mendongak bersamaan. Jantungku berdebar, kembali merasa tidak siap dengan semua keterkejutan ini. Aku yakin ibu mengatakannya tanpa maksud apapun selain karena hubunganku dengan Hozhuki dulu.
Dengan gelisah aku mencoba mengalihkan wajah gugupku. Hingga tanpa sadar mataku kembali bertemu dengan Hinata.
Hinata hanya diam. Memperhatikan raut wajahku yang menampakkan ekspresi entah seperti apa saat ini. Namun yang aku tahu selanjutnya, tangan Hinata meraih lengan kimono Shiho. Menggengam jemarinya laksana saudari yang lama terpisah dan mengucapkan kalimat yang seketika meruntuhkan duniaku.
"Tinggalah bersama kami. Aku akan senang punya teman memasak bersama.." Tawar Hinata tersenyum.
.
.
#YUGURE NO BAIORETTO#
.
"Apa yang kau pikirkan?"
Hinata melirik sekilas padaku dan membungkuk berojigi saat melihatku memasuki kamar kami. Akhirnya aku menyuarakan isi pikiranku.
"Shiho San. Dia kan orangnya?" Katanya tersenyum, "gadis pemilik tusuk konde gardenia."
"Kau menggeledah kamarku?!" Seketika aku mendesis tidak suka. Lagi – lagi gadis ini lancang mencampuri urusanku.
"Bu.. Bukan!" Sanggahnya dengan wajah pias, "i.. Itu tidak sengaja tersenggol jatuh.. lalu aku.."
BRAK!
Hinata terjengkit saat aku membuka kasar pintu kamar. Suasana hatiku seketika berubah menjadi buruk. Tidak ingin menyakiti Hinata, aku segera meraih selimut dan kembali beranjak keluar dari kamar. Membiarkan Hinata bersimpuh mengantar kepergianku dalam tangis diamnya.
.
.
#YUGURE NO BAIORETTO#
.
"Cobalah Sanma panggang itu, Sasuke Kun" Ibu menunjuk lauk yang sama sekali belum ku sentuh, "Shiho yang memasak menu sarapan kita pagi, ini."
Pagi ini aku makan tanpa berselera. Hinata hanya terdiam duduk disamping kananku, dan Shiho duduk disamping kiriku. Tersenyum saat ibu menyebut namanya, Shiho menatapku dengan pandangan memohon. Aku mengambil sejimpit daging sanma dan mengunyah perlahan. Tanpa sadar bibirku tersenyum.
"Ternyata kau masih saja belum bisa memasak."
Shiho mengerucutkan bibirnya sebal, "Aku tahu! Tapi Hinata San memaksaku mencoba memasak hari ini."
Lidahku terasa kebas. Aku melirik kearah Hinata yang menunduk takut – takut.
"Tamu tidak seharusnya disuruh - suruh."
Ucapanku yang tajam membuat ayah seketika berdeham dan meletakkan sumpit. Ibu memanggil namaku, mencoba memperingatiku. Namun aku masih mempertahankan sikap acuh, memakan habis jatahku dan berojigi untuk undur diri terlebih dahulu.
"Sasuke Kun!"
Shiho berlari menyusulku. Aku berhenti dan menoleh.
"Maaf.. aku tidak bermaksud untuk.."
Aku mengangkat tanganku, menghentikan segala ucapan Shiho. Mataku bergulir ke ruang utama, menatap sosok gadis yang kini tengah mengunyah makanannya dengan tatapan hampa. Wajahnya tampak pucat dan matanya sembab. Aku mendengus kesal. Membayangkannya menangis semalaman membuat dadaku bergemuruh tak nyaman.
"Tolong, aku ingin sendiri.." Ucapku pada Shiho dan berlalu pergi.
.
.
#YUGURE NO BAIORETTO#
.
Malam semakin larut saat Hinata duduk di beranda kamar. Bulan tua bergelanyut manja, sinarnya seolah mengiringi pendar lampu yang apinya tidak stabil tertiup angin. Bersenandung lirih, tangan Hinata tengah menyulam lambang kipas dwi warna pada sebuah kimono berwarna biru samudra.
Sebentar lagi memasuki musim gugur dan Sasuke belum memiliki Kinagashi baru untuk menyambut musim yang cenderung dingin dan lembab itu. Senyum pedih terukir. Satu persatu air matanya turun. Mengingat sang suami membuat Hinata nelangsa. Sudah dua hari ini Sasuke menghindarinya. Jika saja ini dahulu, saat mereka masih awal bersama, Hinata maka bisa bersabar dan menerima. Tapi setelah segala kenangan manis yang mereka lalui bersama..
Hinata menengadahkan kepalanya. Berharap air matanya kembali mengalir masuk kelupuk mata. Batinnya seolah terhimpit beban berat. Akhir – akhir ini, ia seolah menemukan kembali keluarganya yang selalu ia dambakan. Seseorang yang memperhatikannya tanpa embel – embel sungkan atau kasihan. Haruskah ia egois dan mengusir Shiho dari sisi Sasuke? Tapi bukankah semenjak awal mereka saling mencintai? Berbeda dengan dirinya yang datang dengan tugas sebagai istri dan pembawa mandat Hyuuga untuk membantu mengembalikan satu – satunya pewaris Uchiha yang hilang arah.
"Hinata San.."
Hinata segera mengusap wajahnya dengan ujung kimono. Menarik nafas panjang dan merapikan diri, ia bergegas menuju shoji.
"Shiho San.."
Shiho tersenyum manis membawa dua gelas ocha dan beberapa tusuk yakitori.
"Ayo kita gemuk bersama.." bisiknya terkekeh geli dan melewati Hinata menuju beranda.
Shiho meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa dan duduk mengayunkan kakinya.
"Ayo.." Tangannya menepuk tempat disampingnya saat mendapati Hinata masih termenung disisi pintu.
Hinata mengangguk kaku dan duduk bersimpuh disamping Shiho. Mengecap pahit ocha yang Shiho sodorkan matanya masih awas menatap perempuan disampingnya dengan pandangan penuh Tanya.
"Aku tidak pernah punya saudara perempuan." Shiho tersenyum lebar menatap bulan, "dojo paman Mifune juga penuh dengan laki – laki. Karena itu, aku sangat bahagia saat kau mau menerimaku disini, Hinata San.."
Hinata meminum ochanya dengan kikuk. Terbersit rasa bersalah karena ia sempat merasa cemburu dan berniat mengusir Shiho.
"Apa itu untuk Sasuke?" Tunjuk Shiho pada tumpukan Kimono disamping Hinata, "boleh ku lihat?"
Hinata mengangguk ragu lalu memungut kimono disampingnya dan menyerahkannya pada Shiho.
"Waah.. Sulamanmu halus sekali." Puji Shiho disambut senyum malu – malu Hinata, "tapi.. Sasuke tidak terlalu suka kerah yang ketat. Walau musim dingin, ia lebih suka bentuk leher yang terbuka. Lengan yang pendek dan longgar supaya mudah memainkan pedang."
Hinata meremat kedua tangannya. Haruskah ia tahu itu?
"Sasuke itu.."
Hinata menatap Shiho. Melihat perempuan itu tengah menatap bulan dan tersenyum.
"Ia pria yang dingin. Mulutnya tajam dan kadang terkesan sangat angkuh. Tapi ia adalah pria dengan perasaan yang paling tulus yang pernah aku kenal."
Lama keduanya terdiam. Masing – masing seolah tenggelam dalam pikirannya.
"Hinata San.."
Hinata tergagap saat Shiho tiba – tiba memanggil namanya.
"Kau juga jatuh cinta padanya karena itu, kan?"
"E.. Etto.." Hinata menautkan kedua jemarinya, kedua alisnya mengkerut saat ia mendengar Shiho terkikik pelan. Bingung memahami apa yang perlu ditertawakan dari keadaan mereka.
"Ne, Hinata San. Jika aku katakan Sasuke akan membawaku lari saat Hozuki Kun berniat menikahiku, bagaimana menurutmu?"
Hinata seketika sesak nafas seolah semua oksigen terengut begitu saja dari paru - parunya. Jantungnya berdentum hingga terasa nyeri.
"Besok.. Aku akan kembali ke Suna. Sasuke mengatakan akan ikut denganku."
Mata perak itu membola dan menatap Shiho dengan pandangan tidak percaya. Hinata merasa sangat kecewa dan terkhianati. Sasuke tidak pernah mengatakan apapun tentang ini padanya. Namun seketika sinar mata itu kembali meredup.
Benarkah? Bukankah selama dua hari ini mereka bertengkar? Bahkan.. Bukankah mereka bahkan bukan suami istri yang sebenarnya?
"Be.. begitu.." Hinata mencicit lirih.
"Hum!" Shiho mengangguk mantap lalu segera berdiri.
"Aku hanya ingin mengatakan hal ini, Hinata San. Aku senang tanpa perlu berpanjang lebar kau mau mengerti bahwa perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Aku sudah mendengar kisah kalian dari Mikoto Sama. Dan aku berterima kasih kau telah membantu Sasuke hingga seperti sekarang. Namun masa depan Sasuke, ia sendiri yang akan menentukan. Bukankah begitu, Hinata San?"
Shiho tersenyum menatap Hinata yang terus tenggelam dibalik poni indigonya.
"Aku harap tidak ada dendam diantara kita."
.
.
#YUGURE NO BAIORETTO#
.
"Naikkan saja dibagian depan."
Hiruk pikuk para pelayan yang tengah menaikkan segala bekal dan keperluan ke atas kuda dan kereta terdengar sejak subuh tadi. Aku kembali mengecek. Semua perbekalan harus cukup sampai ke Sunagakure.
"Sasuke Sama, mari kita berangkat. Semakin sore, kita akan semakin malam tiba di kota pelabuhan."
Aku mengangguk. Setelah berpamitan dengan ayah dan ibu, aku segera menaiki kudaku. Pandanganku tertuju pada pintu gerbang Uchiha lalu pada semua wajah yang mengantar kepergianku hari ini. Gadis itu tidak ada. Hinata bahkan telah menghilang sejak semalam. Aku tahu keadaan kami beberapa hari belakangan ini cukup buruk. Tapi tidakkah ia ingin mengantarkan aku juga? Mengizinkan aku berpamitan?
"Sasuke Kun?"
Shiho melongok dari balik kereta, "ada apa?"
"Hn." Aku menggeleng perlahan, "Ayo berangkat."
.
.
#YUGURE NO BAIORETTO#
.
Hinata menatap iring – iringan kereta dan kuda dari atas bukit Konoha. Air matanya terus merembes turun membasahi pipinya. ia terlalu pengecut menampakkan muka dihadapan Shiho maupaun Sasuke.
Lembayung senja seolah menjadi saksi bisu dari akhir perjalanan cinta pertama Hyuuga Hinata. Setelah ini ia harus menata hidupnya kembali. Jika keluarga Uchiha mengembalikannya lagi pada Hyuuga, ia telah sangat siap.
Selama mereka yang selalu baik padanya bahagia, Hinata juga akan merasa bahagia. Itulah ketetapan hatinya.
"Sayonara, Sasuke Sama"
Hinata berojigi untuk terakhir kalinya untuk sang suami tercinta.
#END?
Hitora kabur duluan sebelum dibantai.
*OMAKE*
# 4 Tahun Kemudian
"Tadaima.."
Aku menatap punggung yang kini tergelung di hadapanku. Tidak ada jawaban membuatku menarik kesimpulan perempuan dihadapanku ini tidak mendengar suaraku. Sibuk dengan pikirannya sendiri seperti biasa, eh?
Aku meletakkan pantatku disamping futon. Masih berusaha bersabar menunggunya menyadari kehadiranku. Sejujurnya, aku lelah karena seharian menempuh perjalanan panjang dan rentetan tugas dari Hokage. Tapi masih haruskah aku didiamkan begini? Aku menghela nafas. Kehamilan kedua ini sepertinya membuat sifatnya jauh lebih labil.
"Hiks.."
Alisku mengkerut saat aku mendengar suara isakan dan gumaman. Dengan perlahan aku mendekatkan telingaku.
"Hiks.. Sasuke kun.."
Aku tersenyum.
"Hn?"
Dan perempuan itu segera bangkit dengan segala keterkejutannya. Menatapku seolah tengah bermimpi. Perut besarnya seolah tidak mengurangi kadar kelincahannya bergerak.
"Ke.. Kenapa.. kau.."
"Kenapa kau terkejut?" Tanyaku pura – pura tidak mengerti.
"Bukankah.. Harusnya kau masih pulang seminggu lagi?"
Tanganku secara otomatis naik dan membelai pipinya perlahan. Menghapus jejak air mata. Lalu mengakhirinya dengan mencubit pipi gembilnya gemas.
"Berapa kali ku bilang, aku paling tidak tahan melihatmu menangis? Hinata cengeng!"
Hinata mengerucutkan bibirnya protes, "Aku tidak ce..!"
Ucapannya terhenti saat bibir kami bertemu. Lama. Lalu aku menjauh. Tertawa melihat tampang dungunya.
"Tadaima, Baka Hime.."
"O.. Okaeri.. Tsuma no anata.."
.
.
#YUGURE NO BAIORETTO#
.
#4 tahun yang lalu
Aku menatap sosok yang berdiri diatas bukit Konoha. Aku mengenalinya. Jadi semalaman ia berada disana?
"Sasuke Kun"
Shiho melongokkan kepalanya dari jendela kereta. Sebelum ia mengucapkan kalimatnya, ia terkekeh seolah teringat hal lucu.
"Sepertinya aku berhutang maaf pada Hinata San."
"Hn?"
"sepertinya aku terlalu menggodanya. Eum.. Semalam." Shiho meringis takut – takut saat melihatku menatapnya tajam.
"Aku gemas dengan tingkahnya yang berusaha menyatukan kita. Karena itu aku mengerjainya sedikit."
Aku menghembuskan nafas lelah. Jadi itu sebabnya.
Aku merogoh lengan kimono, mengeluarkan tusuk konde gardenia dan menyerahkannya pada Shiho.
"Aku menyukaimu, Shiho. Sampai saat ini." Aku menunggu reaksi Shiho, namun air mukanya sama sekali tidak berubah, "meski begitu aku tidak akan berandai – andai tentang keberadaan Hinata. aku telah berjanji akan selalu bersamanya, belajar mencintainya dan menerima keadaan kami."
Shiho seketika tersenyum tulus, "Terima kasih, Sasuke Kun. Kuharap kelak saat kita bertemu kembali aku juga akan menemukan kebahagiaanku sendiri."
Aku mengangguk perlahan. Mengamini niat tulusnya.
Lembayung senja perlahan memudar berganti dengan gelapnya malam. Setelah ini hari akan berganti. Bagai senja yang berangsur menjelang pagi, aku telah melewati masa laluku dan bersiap menanti esok hari.
Mungkin tidak semua hal akan sesuai dengan keinginan kita. Namun yang pasti, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, kita harus menjalaninya.
#END
Yeeeeeyyyyyy.. akhirnya aku bisa menulis END di fik ini. Hihihihihih.. ketjup mesra dari kucing mbul untuk semuanya. Maaf keun karena tidak bisa membalas satu persatu review. Namun semoga tidak menghalangi kebersamaan kitaaaah.. Emak, Nenek, mpril.. I miss u too.. T_T
Ohya, Tora juga tidak punya akun WP. Sempat dibuatkan sih, tapi bingung cara pakainya, akhirnya dihapus.
Okey, pokoknya sa M
