Chap 8

Catatan∶ Genre jadi melenceng ke mystery. Ada horornya juga supranatural.

NARUTO © Mashashi Kishimoto

Story and OC © Me

Kuon © yang pastinya Jepang (author gak terlalu memperhatikan pembuatnya. Mengapa ada Kuon karena author meminjam istilah-istilah seperti vertigo dan meditasi)

Ghost Girl Gate

"Lalu bagaimana dengan aku?" tanya Naruto.

"Kau benar-benar ingin tahu pendapatku?" tanya Kioku tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. "Sejak pertama aku melihatmu aku melihat gadis kecil mengikuti dan menempel padamu..."

"Apa! Di mana! Di mana!" teriak Naruto menoleh kebelakangnya dengan keringat dingin mulai mengucur keluar dari tubuhnya karena perasaan takut dan panik yang luar biasa. Yamato yang berjalan merasa tertarik dengan gerakan Naruto dan melihatnya. Kosarupun begitu dan tak terkecuali orang yang lewat di dekat mereka.

"Tak usah panik..." ucap Kioku lagi. Naruto berhenti dan menatap Kioku masih ketakutan. "Saat ini aku sudah tidak melihatnya lagi," lanjut Kioku sebelum ia kembali berjalan bersama Yamato dan Kosaru di depannya. Jyuko mengikuti dari belakang dan Naruto yang terakhir.

"Kau masih takut dengan hal yang seperti itu?" tanya Jyuko.

"Cih! Kalau dipikir-pikir semua orang yang mengalaminya pasti akan takut," jawab Naruto antusias. "Untuk mereka berdua ada pengecualian sepertinya..." ucap Naruto. Tanpa sadar ada sebuah tangan dingin akan meraih pundak Naruto tapi Naruto menoleh dan tangan itu menghilang.

"Jauhkan tanganmu! Bodoh!" kata Kioku setengah berteriak lalu berjalan lagi dan itu cukup membuat Naruto terkejut.

"Lebih baik kau ikuti saja dia..." ucap Jyuko lagi. Mereka akhirnya berjalan ke rumah sakit dan pertama memasuki kamar Ino. Terlihat Sakura sudah menanti mereka. Begitu datang, Sakura berdiri dan mengucapkan salam pada Kosaru dan Kioku.

"Kosaru-sama, Kioku-sama..." panggil Sakura. Kosaru hanya terseyum lalu melihat Ino yang terbaring. Perlahan, Kosaru membuka selimut yang menutupi tubuh Ino itu. Kulit Ino yang putih terlihat sangat pucat dan dingin bila di sentuh. Kosaru memegang kening Ino lalu menatap Kioku. Kioku mengerti maksudnya.

"Aku akan ke tempat selanjutnya... Akiko tolong yang di sini..." kata Kosaru. Kioku mengangguk pasti lalu Kosaru di antar oleh Jyuko, Yamato, dan Naruto ketempat Lee. Sementara itu Kioku membuka pakaian Ino hanya sebatas dada lalu menggambarkan segel menggunakan bubuk putih kemudian meneteskan darah di tengah-tengahnya. Sebelah tangannya membentuk segel tangan nezumi (tikus) lalu menggerakannya membentuk salib (keatas,kebawah,kekanan,kekiri) dalam sekejab, gambar itu berderak dan seakan mengunci,

"Dengan ini sudah tidak apa-apa. Tubuh ini sudah terkunci untuk sementara," ucap Kioku.

"Begitukah... sampai kapan segel itu bertahan?" tanya Sakura.

"Itu tergantung... bila kekuatan dari 'mereka' cukup besar untuk mendobrak... maka segel ini akan terlepas. Dan itu akan membahayakan sekitarnya. Aku beritahukan padamu... lebih baik mulai dari sekarang jangan terlalu dekat dengan mereka yang merupakan pintu antara dunia ini dengan dunia lain," Setelah mengucapkan itu, Kioku keluar dari ruangan. Sakura hanya terdiam dengan kata-kata Kioku yang terus tergiang di telinganya. Sakura menatap Ino dengan penuh kekhawatiran.

"Ku harap semuanya akan cepat selesai..." gumam Sakura pelan lalu menyelimuti tubuh Ino kembali.

"Semuanya akan menjadi menyenangkan..." ucap sosok di belakang Sakura. Sakura menoleh ke belakangnya dan nampak wanita dengan rambutnya yang panjang menutupi wajahnya dan hanya matanya yang terlihat. Merah tak ada pupil mata dan nampak seperti seorang nenek-nenek. Sakura terkejut dan membalikan tubuhnya sempurna tapi sosok itu menghilang.

Di tempat Lee, Gai masih saja menintikan air mata ketika Kosaru selesai melakukan penyegelan yang sama dilakukan oleh Kioku. Kosaru menyelimuti kembali tubuh Lee itu. Lalu akan beranjak pergi lagi.

"Maaf... Bagaimana keadaan Lee..?" tanya Gai.

"Anak ini tidak akan apa-apa... tapi tidak ada salahnya untuk berhati-hati... lagi pula..." Kosaru mengeluarkan beberapa kertas segel kepada Jyuko dan Yamato. "Kalian berdua memiliki aura yang dapat memancing kehadiran 'mereka' gunakan ini untuk berjaga-jaga," pesan Kosaru.

"Kenapa aku?" tanya Yamato bingung.

"Karena ketika kau menggunakan wajah terormu itu aura di sekitarmu itu berubah dan dapat mengundang ketakutan yang adalah senjata mereka untuk merasuki setiap tubuh. Pastikan kau tidak menggunakannya dulu. Sekarang tolong antar aku ke tempat di mana anjing di tempatkan," Kosaru berjalan keluar dari ruangan diikuti oleh Jyuko, Naruto, dan Yamato. Di luar ruangan, mereka bertemu dengan Kioku.

"Aku akan pergi ke tempat anjing itu. Kau tolong urus di sini Akiko," kata Kosaru.

"Baik," jawab Kioku menunduk. Kemudian Kosaru pergi mengikuti Jyuko dan Yamato. Langkah Naruto tertahan oleh Kioku. "Yang mengikutimu akan melindungimu... ia sama sekali tidak bermaksud jahat... tapi mungkin ia bisa berbuat keji," bisik Kioku lalu melepaskan Naruto. Naruto merasa bingung dengan hal itu. Kioku berjalan menuju kamar Shizune. Di depan ruangan ada Shiranui Genma yang menjaga. "Kau menjaga sendirian?" tanya Kioku.

"Lebih tepatnya mengganti ship seseorang. Silahkan masuk," ucap Genma mempersilahkan Kioku untuk masuk. Namun Kioku berhenti ketika Genma juga akan ikut masuk.

"Maaf... tapi kau tak mau melihat tubuh wanita dalam kondisi telanjang bukan?" tanya Kioku. Genma terdiam mendengar itu. "Karena itu... tolong tunggu di luar!" kata Kioku dengan kata terakhir yang penuh penekanan lalu menutup pintu dengan sedikit membantingnya keras membuat Genma kaget seketika. Kioku mengamati ruangan itu lalu melihat Shizune dan kemudian memulai ritualnya tapi ia terganggu oleh kehadiran sosok lain di sana. "Bersembunyi dalam bayangan adalah hal yang pengecut!" ucapnya menatap sosok itu.

"Kalian tak akan bisa menghentikannya... ia sudah setengah jalan..." kata sosok nenek-nenek itu. "Pintu yang tertutup pasti akan terbuka lagi..." ucapnya lagi membuat Kioku tidak suka lalu melemparkan pisau dengan ukiran mantra ke arah sosok itu dan sosok itu menjerit lalu menghilang dari hadapan Kioku tapi belum musnah.

"Kalau memang akan terbuka aku akan menutupnya lagi..."ucap Kioku kemudian memulai ritualnya yang tertunda itu. Setelah selesai, Kioku keluar dari ruangan itu di sambut oleh wajah terkejut Genma. "Lebih baik kau berhati-hati," ucap Kioku lalu pergi meninggalkan kamar itu menuju kamar yang sebenarnya menarik perhatiannya.

~X~

Kosaru sudah selesai melakukan ritualnya terhadap Akamaru yang sebenarnya membuat si pemiliknya khawatir sekali. Kosaru mengelus pelan bulu-bulu Akamaru itu lalu berdiri dengan tujuan akan pergi meninggalkan tempat itu.

"Akamaru... kapan ia akan sadar?" tanya Kiba. "Dan tidak menjadi yang lain..." kata Kiba lagi sedih.

"Tenanglah nak... dia akan segera sadar bila kita sudah menemukan dalang di balik semua ini. Aku yakin ia akan segera sadar sebagai sendirinya sendiri," jawab Kosaru dengan lembut dan terdengar bijak sekali.

"Maaf... Kosaru-sama," panggil Naruto. Kosaru hanya menoleh dan menatap Naruto saja. "Aku ingin bertanya sesuatu tentang... masalah yang melanda desa ini. Apa maksudmu dengan dalang. Bukankah 'mereka' itu..."

"Yang dapat membuka kunci antara dunia ini dengan dunia sana adalah manusia yang memiliki kekuatan supranatural yang besar dalam dirinya sendiri. Karena walaupun mereka bisa menyebrang dengan menggunakan ketakuran manusia tapi... yang bisa tetap membuka gerbang dalam tubuh manusia adalah manusia itu sendiri."

"Dengan kata lain ada yang mengendalikan para hantu itu?" kata Jyuko.

"Ya... begitulah..." jawab Kosaru lagi. Semuanya terdiam mendengar penjelasan dari Kosaru. "Dan yang dapat menutup pintu-pintu yang terbuka itu adalah orang itu sendiri. Aku dan Akiko hanya bisa menyegelnya sementara. Sampai saat itu tiba... kami tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membantu sebisanya. Ini adalah desa kalian... kalianlah yang harus mencari tahu tentang hal ini...'

"Itu benar! Kita harus..." ucap Naruto terputus.

"Tunggu dulu! Kita tidak boleh gegabah oleh hal ini. Setidaknya kita harus melihat pergerakan mereka terlebih dahulu. Ini sudah semakin berbahaya," kata Jyuko membantahnya.

"Tapi itu terlalu lama! Bisa-bisa akan lebih banyak lagi yang menjadi korban kau tahu!"

"Tapi yang di katakan temanmu itu benar... Memang berbahaya tapi... kita tidak boleh gegabah karena lawan kalian bukanlah manusia seperti kita ini. Dan di sini juga... hanya ada aku, Akiko, dan sepertinya kau juga nak (Jyuko) yang memahami tentang hal ini," ucap Kosaru lagi membuat Naruto diam. "Kami juga akan berusaha semampu kami Naruto..."

~X~

Kioku melanglah maju memasuki kamar bernomor 409. Saat pertama kali melangkah masuk, Kioku merasakan perubahan aura yang besar di dalam sana. Jadi semakin lebih dingin dari sebelumnya. Sebelumnya Kioku bertanya sedikit tentang kamar ini pada perawat di sana. Dan informasi yang di dapatnya adalah kamar itu pernah di gunakan oleh seorang shinobi yang terluka lalu mati. Dan sejak kematiannya, kamar itu tidak pernah ada yang mau menempati. Karena itu kamar itu remang cahaya dan bau pengap karena tak pernah ada cahaya yang masuk atau jendela yang di buka.

Kioku berjalan masuk lebih dalam tak lupa menutup pintunya. Terus masuk dan ia terus merasakan aura yang semakin lama semakin berat dan membuat napasnya semakin sesak dan sangat sulit untuk memfokuskan pikirannya. Kioku berhenti di samping ranjang itu. Kioku memejamkan matanya dan berfokus lalu membuka matanya. Di sana sudah ada sosok anak berambut putih. Pria. Tidur di sana dengan wajahnya yang tenang namun sedih.

"Jadi... ini penyebabnya... auranya masih ada di sini..." gumam Kioku.

"Tapi dia sudah tenang..." ucap Samui datang tiba-tiba di belakang Kioku. Kioku berbalik karena memang ia sudah terbiasa terkena panggilan mendadak seperti itu. "Dia meninggalkan aku sendirian..."

"Bukan dia yang meninggalkanmu... kau yang tidak mengikuti dia! Kau yang meninggalkan dia," ucap Kioku lalu menglurkan tangannya ke kening bocah itu. "Akan aku hilangkan auranya dari sini," Kioku akan berkonsentrasi sebelum tangannya tiba-tiba di pegang oleh Samui dan membeku seketika.

"Tidak ada yang boleh menyentuhnya!" teriak Samui. Kioku menghentak tangannya dan seketika Samui hilang dalam pandangannya. Kioku berdiam sendiri dan siaga di sana. "Jangan ganggu aku!" Samui menyerang Kioku dari belakang tapi Kioku segera mengeluarkan kertas jimatnya dan membuat Samui berteriak ketakutan dan pergi.

"Cih!" ucap Kioku melihat kembali sosok bocah itu di ranjang itu kemudian membuka tirai yang menutupi jendela lalu membuka jendela itu sehingga angin bisa masuk ke dalam ruangan itu. Kioku memejamkan matanya menikmati angin yang masuk itu. Lalu seorang membuka pintu ruangan tersebut. Kioku berbalik menatap siapa yang datang.

"Kioku-sama... ada yang ingin aku bicarakan dengan anda," ucap Sakura. Kioku berjalan menjauh dari sana dan keluar dari ruangan itu. Sakura hendak menutup pintu tapi di tahan oleh Kioku.

"Biarkan saja..." ucapnya. Sakura menurut lalu mereka berjalan berdua menuju kamar rawat Ino. Sampai di sana, Sakura mempersilahkan Kioku untuk duduk di kursi yang berada di samping ranjang Ino. "Ano... Kioku-sama..."

"Ada apa?" tanya Kioku. "Sebelum itu aku ingin tahu siapa namamu?"

"Ah... Haruno Sakura. Ini masalah kamar yang kau datangi itu... Shizune-san kehilangan kesadarannya sesudah masuk ke kamar itu. Sebenarnya ada apa dengan kamar itu?" tanya Sakura penuh harap dan menatap mata Kioku langsung. Kioku mengalihkan pandangannya ke jalanan di luar rumah sakit itu.

"Kamar itu... pernah ada seorang yang tidur di sana. Auranya masih tersisa di sana sehingga bisa timbul tubuhnya tertidur di sana. Ada seorang anak yang wajahnya mirip dengan dia. Aku pikir dia adalah biang masalah dari semua ini tapi... kurasa ada yang membuat tidurnya tidak tenang. Itu saja... dan kau tidak boleh sekali-kali masuk ke sana!" tegas Kioku di akhir kalimatnya.

"Lalu Shizune-san?"

"Wanita itu ya... dia tidak apa-apa... memang benar di pernah datang ke sana tapi... ku rasa wanita itu tidak apa-apa hanya ketakutan biasa saja."

"Dan juga soal gelang dan lambang pentagram itu!"

"Apa!" Kioku nampak bingung. "Gelang? Jika ada aku ingin melihatnya... setidaknya jelaskan bentuknya. Dan soal pentagram itu..."

"Jyuko mengatakan bahwa pentgram itu adalah lambang keluarga Useru dan gelang itu... berlambang tengkorak dengan mata ruby. Ino, Lee, Akamaru, dan Shizune menyentuhnya dan mereka menjadi seperti itu. Kakashi-sensei juga terkena tapi tak sampai seperti ini. Tsunade-sama juga tapi ia hanya merasakan mimpi buruk berturut-turut. Lalu untuk yang lain aku sama sekali tidak tahu..." kata Sakura.

"Aku mengerti tapi... bila memang benar mungkin saja itu adalah kontrak... dan..." Tiba-tiba saja mata Kioku membulat menatap sesuatu di belakang Sakura lalu ia berbalik menatap tubuh Ino. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya dan itu membuat Sakura khawatir.

"Kioku-sama?" panggil Sakura. Kioku berdiri masih menatap sesuatu di belakang Sakura. Hitam besar, mata berdarah dengan gigi-gigi yang tajam. Kioku segera mengeluarkan pisaunya itu dan menunjukan di depan wajah Sakura. "Kioku... ?" Dengan cepat Kioku menusukan pisau itu di perut Sakura.

TBC

Masih berlanjut

Kurang merinding atau ketakutan? Maaf ya...

RnR please