A Decision
1.
Marah adalah kosakata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Entah kenapa aku jadi memiliki begitu banyak amarah dalam dadaku. Atau ini yang disebut-sebut perasaan campur aduk. Jika iya, rasanya sangat tidak nyaman.
Tepat setelah Dokter entah siapa namanya memberitahu kami kalau kondisi Joonmyun stabil, yang aku lakukan adalah mencakar wajah Dokter tersebut dan berlari, menerjang tubuh Joonmyun yang terbaring diranjangnya untuk mencekik leher itu, untuk meneriaki banyak hal, untuk memakinya, dan untuk menangisinya. Sayangnya, aku hanya melakukan itu semua di dalam pikiranku. Nyatanya yang aku lakukan adalah kabur, pergi sejauh-jauhnya dan menyendiri bersama pikiranku.
Dapat kudengar suara langkah kaki dibelakangku, saat kutengok, Jongin mengikutiku, berlari dengan langkah kaki yang terlihat aneh. Wajahnya pucat pasi dan meringis kesakitan. Jongin berlari seperti berjalan diatas kaca. Pikiranku secara otomatis memutar kembali memori saat kaki-kaki mesin penari itu tertembak. Sesuatu yang klik terjadi didalam otakku dan hatiku mendadak ngilu. Ingin aku berlari bersama Jongin tapi tak dapat kuhindari perasaan ingin sendiri yang meledak-ledak dalam dadaku.
Aku dapat melihat Minseok menatapku, wajahnya agak mendongak keatas, mulutnya sedikit mengerucut dan kedua alisnya menyatu. Meskipun sekilas, mataku dapat melihat semua itu dan aku tahu arti tatapan itu; berlarilah, maka kau akan berlari untuk selamanya.
Aku merasa tersinggung dan hatiku tertohok begitu saja. Seperti pengecut, aku justru berlari makin kencang, mengabaikan Jongin yang kepayahan menjeritkan namaku.
Beberapa tahun yang lalu, aku, Jongin dan Moonkyu mengalami krisis kesabaran. Saat itu mental remaja kami berada dalam posisi terendah. Nyaris tewas tertelan masa. Penindasan terjadi secara verbal di sekolah, kupingku sakit, kepalaku pening dan hatiku cuti bekerja selama beberapa jam mematikan di sekolah. Kupaksa cuti―lebih tepatnya. Aku berada diposisi paling sial karena meski kami bertiga lahir di tahun yang sama, aku harus menjalani masa sekolahku satu tahun lebih lambat dari Jongin dan Moonkyu. Hal itu terjadi karena aku lahir di bulan april. Sistem pendidikan yang bikin pusing, repot dan banyak tingkah.
Saat itu kami masih SMP. Seperti yang kalian tahu rakyat SMP itu mayoritas bertingkah laku seperti orang paling keren sedunia. Tapi percayalah saat SMA nanti, kelakuan kalian di SMP justru akan menjadi aib, memalukan nama keluarga.
Kami bertiga adalah minoritas yang diam-diam saja. Diam bukan tabiat melainkan karena terpaksa. Karena sebenarnya tingkah laku kami sebelas dua belas dengan tingkah laku setan.
Entah darimana penindasan verbal itu berasal, tiba-tiba muncul begitu saja. Awalnya aku melawan. Tapi bosan melawan, akhirnya aku diam, mencutikan hatiku. Silahkan sebutkan berbagai macam solusi karena aku yakin semua solusi terbaik sudah kulakukan.
Saat bel istirahat berbunyi, buru-buru kulangkahkan kakiku menuruni tangga dan bertemu dengan dua sobatku disana. Taemin sudah tidak bersama kami, dia korban penindasan sekolah yang berakhir minggat. Dia menjalani homeschooling karena saat itu, dia sudah didebutkan. Sedangkan aku, Jongin dan Moonkyu masih beradu nasib sebagai siswa pelatihan.
Disekolah, kami tak berdaya. Diam dibilang sombong, menyapa dibilang sok akrab, mencoba melucu berakhir garing. Kami memutuskan untuk menjadi kutu buku tapi dicerca habis-habisan karena nilai kami meningkat pesat. Kami bengong dimarahi, kami tidur disindir, kami sibuk sendiri dibilang diskriminatif. Kami harus apa?
Dari semua hal diatas, kuputuskan bahwa kecemburuan sosial adalah faktor dibalik semua penindasan verbal yang kami alami. Mengetahui hal itu, kami senang bukan main. Kami tahu ada satu biang kerok yang tidak suka karena kami adalah siswa pelatihan di SM sedang dia seorang siswa pelatihan di perusahan antah berantah. Jangan tanyakan kami tahu itu darimana karena biang gosip beredar bagai kutu. Muak menjadikan kami remaja congkak, atau mencongkakkan diri lebih tepatnya. Anak itu, Hunjun namanya, menjadi geram bukan main melihat tingkah kami. Dia jahat, amat sangat jahat. Dia tega memasukan sebungkus rokok kedalam tas Jongin. Saat itu terjadi razia dadakan. Hunjun yang berandalan itulah si pembawa rokok, dia panik tapi masih mangambil kesempatan untuk menjatuhkan Jongin. Sahabatku yang malang itu berakhir dipukuli pakai rotan oleh guru kami yang paling galak. Aku tak terima dan membela Jongin sebisaku. Menindas guru itu dengan pidatoku tentang kekerasan terhadap murid, wajah guru itu merah padam menahan marah. Tasku berakhir diobrak-abrik dan guru itu menemukan pisau didalam tasku. Pisau itu bukan milikku, aku menatap Hunjun yang tersenyum miring, menatapku seakan-akan dia pemenangnya. Tapi senyum itu segera lenyap saat aku menatapnya seakan-akan dia manusia paling rendah dan menjijikan.
Kini Moonkyu maju kedepan berusaha membelaku sebelum betisku kena hantam rotan sepanjang kurang lebih satu setengah meter itu. Moonkyu mengatakan kalimat-kalimat basi seperti, "Saya mengenal mereka berdua dengan sangat baik Pak, mereka tidak mungkin membawa rokok dan pisau ke sekolah."
Guruku itu tertawa kencang, tawanya membuat tubuh Jongin tersentak karena terkejut dan tawa itu memberi efek tremor ringan pada tubuhku.
"Kau mengenal mereka dengan sangat baik, itu artinya kau tak jauh berbeda dengan mereka,"
Skakmat! Moonkyu pucat pasi.
"Ambil tas anak ini!" Guruku itu bersorak.
Kini tas Moonkyu diobrak-abrik dan sebuah pemantik ditemukan didalamnya. Aku tak terkejut, Moonkyu menganga, Jongin mengelos, seluruh kelas riuh kesenangan melihat kami tersiksa seperti ini.
Aku marah bukan main saat menerima surat panggilan orang tua. Tamatlah riwayatku. Aku tidak bisa membela diri, barang-barang itu berada dalam tasku dan aku tak bisa membuktikan kalau Hunjun yang memasukan benda itu kedalam tas lagi, betisku biru-biru dan membengkak dua kali lipat akibat hantaman rotan.
Setelah skorsing selama tiga hari, kami menjalani hukuman menyapu halaman sekolah setiap hari dan halaman sekolah kami benar-benar luas. Tatapan kecewa ayah dan ibu menjadi bulan-bulananku dirumah, omelan kakakku juga ikut-ikutan menambah kerunyaman masa remajaku yang sebenarnya baru dimulai. Aku, Jongin dan Moonkyu mendapat detensi dari SM. Yang menyakitkan dari semua itu adalah, kami tak bisa mengelak, meskipun ingin rasanya berteriak kalau benda sialan itu bukan milik kami. Tapi kami tahu, tak ada yang akan mendengarkan. Kecuali teman-temanku di tempat pelatihan, yang bernasib sama.
Pada sabtu malam, saat itu beberapa kelompok berlatih bersama sampai pagi. Setelah latihan, bukannya tidur kami malah membuka sesi curhat. Kebanyakan tentang cinta monyet mereka yang kandas, pihak keluarga yang tidak mendukung keputusan untuk menjadi penyanyi dan yang paling kami tunggu-tunggu adalah; pahitnya hidup disekolah sebagai siswa pelatihan sebuah perushaan terkenal.
Aku dan kedua sobat senasibku ini menggebu-gebu menceritakan nasib kami. Kami bahkan sampai berpegangan tangan, menandakan sakitnya hati kami diperlakukan seperti itu. Aku tak bermaksud melebih-lebihkan. Yang lain bersimpati dan ada yang ikutan marah karena mangalami nasib yang sama. Aku, Jongin dan Moonkyu senang karena berada bersama orang-orang yang mengerti keadaan kami.
Minseok juga ada disana, begitu juga dengan Tao yang sibuk membicarakan sesuatu yang seru dengan Yifan, Luhan terlihat antusias dan bersimpati pada kami bertiga. Baekhyun dan Chanyeol juga ada, mereka yang paling tidak bisa diam. Jika ada yang curhat tentang kisah cinta yang sedih, maka kisah cinta mereka berdua jauh lebih sedih lagi, kalau masalah keluarga, mereka akan menceritakan masalah rumah tangga anjing Chanyeol dan Baekhyun yang sebentar lagi akan kandas dimeja hijau tapi sayangnya mereka tidak bisa mengalahkan kisahku dan kedua sobatku. Mereka menganggu-angguk bersimpati dan seperti yang kuduga, mereka tipikal mood maker disemua tempat. Disekolah, ditempat pelatihan atau mungkin dipemakaman. Dengan kata lain, mereka disenangi semua orang. Pengecualian untuk orang-orang yang cinta kesunyian.
Tiba-tiba Minseok berdiri, meremas pundak kami bertiga berganti-gantian. Kepalanya sedikit mendongak, mulut mengerucut dan alis menyatu. Kemudian dia berkata, "Berlarilah, maka kau akan berlari untuk selamanya,"Aku tertegun karena aku tahu kalau saat itu kalimat yang diucapkan Minseok bukan untukku, melainkan untuk Hunjun. Arti kalimat itu, kurang lebih jika kau berada dalam sebuah kekacauan, kau akan dihadapkan dengan banyak pilihan. Misalnya; Bertanggung jawab, pasrah atau kabur. Dan jika kau memilih kabur, maka kau harus kabur untuk selamanya.
Kasus itu kini terjadi padaku. Dengan skala dan fenomena yang berbeda. Minseok menyindirku, aku tahu itu. Mungkin dia lelah melihatku terus berlari, kabur kesana kemari hanya untuk menemukan sesuatu yang tidak kuharapkan. Padahal, yang harus kulakukan untuk saat ini adalah menerima semuanya dan mencoba untuk melaluinya.
2.
Kini aku berada diatap rumah sakit. Menatap langit malam sambil menikmati hembusan angin yang mengelus rambutku. Aku heran menatap langit yang selalu tampak indah beberapa hari terakhir ini. Tapi, tak lama kemudian aku bersyukur. Setelaha semua jerit kepayahan yang kualami, menatap suatu benda ciptaan Tuhan yang polos dan indah, seakan-akan sedikit memperbaiki perasaanku. Aku memiliki banyak kenangan dengan langit malam dan sunyinya kota. Aku terbiasa pulang latihan larut malam, ditemani langit dan kota yang mendadak sepi. Aku tidak takut karena aku memang telah membiasakan diriku untuk mengontrol rasa takutku. Tapi saat ini perasaan itu justru mengujiku habis-habisan. Babak belur rasanya.
Suara pintu terbuka dan seseorang yang menyerukan namaku dengan suara serak berhasil menghentikanku melamunkan langit malam. Aku tahu itu Jongin. Anak itu sering bersikeras untuk selalu ada untukku, tapi tak mau merepotkanku jika dia kesusahan dan selalu berakhir bergantung padaku, karena aku tipikal pemaksa yang keras kepala. Yifan berkata kalau kekerasan kepalaku mampu merobohkan tembok besar di Cina sana, apalagi kalau dikombinasi dengan mulut cerewet dan rengekan manja Huang Zi Tao. Tembok besar Cina bisa-bisa tertelan bumi.
Tangan Jongin menyangga tubuhnya pada sisi pintu. Dia sudah memakai parka dan terdapat satu parka lagi digenggaman tangannya. Nafas anak itu berat, kulitnya pucat, aku jadi merasa bersalah karena aku tahu sesuatu yang buruk pasti telah terjadi pada kaki Jongin. Aku menyesal karena tidak menyadari hal itu lebih cepat.
Segera kuhampiri sobatku itu dan merangkulnya, membantunya berjalan ketempatku tadi melamunkan langit malam.
Jongin mendesah lega sambil meluruskan kakinya sesaat setelah bokongnya terhempas kelantai aspal. Aku terduduk disampingnya, menepuk-nepuk pundaknya, menyampaikan kata maaf tanpa suara. Dia tahu jelas arti aksiku itu sebab Jongin hanya tersenyum tipis dan memberikanku parka yang dibawanya. Aku menerimanya dengan senang hati, meskipun saat ini dingin sudah tak dapat kurasakan lagi. Tapi kuhargai tingkah sobatku ini.
"Aku seharusnya memakai kursi roda," Jongin tiba-tiba berucap pelan dan mulai memainkan ujung pakaian rumah sakitnya. Aku diam tak berani berkata apa-apa, tak siap untuk mendengar kelanjutan kisahnya.
"Tapi diam sendiri dalam ruang rawatku justru membangkitkan rasa takut yang mati-matian berusaha kupendam. Sama sepertimu, aku kabur dihari pertama aku siuman, saat itu aku pakai kursi roda. Tapi setelah itu seorang suster menyembunyikan kursi rodaku. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku kabur tanpa kursi rodaku. Rasanya sakit tapi aku rindu berjalan dengan kakiku. Aku bahkan tak memakai alas kaki,"
"Apa yang terjadi pada kakimu?" Aku bertanya setengah berbisik, tak ingin mematahkan jiwa seorang penari disampingku ini.
Jongin tersenyum tipis, tapi matanya berkaca-kaca. Dia menggeleng pelan, "Tak tahu," Bisiknya.
"Aku menulikan telingaku saat dokter entah siapa namanya menjelaskan tentang kondisi kakiku. Kepalaku terasa terlalu sakit untuk mendengarnya,"
Perasaanku mendadak tambah runyam karena tak ada hal yang lebih buruk dari seorang penari selain mendapati kakinya tak lagi berfungsi dengan normal.
"Aku terpuruk selama beberapa hari dan Luhan selalu menemaniku, terkadang bersama Minseok. Dari mereka berdua aku tahu kalau kemungkinan aku bisa menari lagi. Ya mungkin aku harus menjalani terapi selama beberapa tahun, tapi aku menargetkan, setidaknya aku bisa kembali menari bulan depan. Meskipun aku tahu gerakkanku tidak akan sama lagi."
Mendengar semangat Jongin, aku terharu. Kurangkul pundaknya yang mendadak ringkih itu dan kugoyang-goyangkan tubuhnya, berusaha menyemangati sobatku itu. Walau pun sedikit banyaknya, berusaha menyemangati diriku sendiri.
Jongin adalah satu diantara segelintir siswa pelatihan yang langsung menarik perhatianku disaat ia mulai menari. Kami bertemu untuk pertama kali pada penilaian bulanan pertamaku. (Setiap bulan, seluruh kelompok harus menampilkan sebuah penampilan yang menjelaskan sudah sejauh mana kau berkembang dan setiap bulan ada satu kelompok yang akan didepak begitu saja. Sadis memang.)
Kelompokku tampil paling akhir. Saat itu aku masih satu kelompok dengan Minseok. Pria pendiam itu selalu menepuk-nepuk pundakku, setidaknya tindakan itu berarti"Semangat adik kecil! Kau sudah berlatih sebulan penuh, jangan sia-siakan waktu sebulanmu itu,"
Aku meremas kedua tanganku, bertekad untuk melakukan yang terbaik dan jika melakukan kesalahan yang harus kulakukan adalah; hantam saja! Tak peduli apa pun, hantam!
Tapi semangatku langsung luntur begitu melihat kelompok Jongin, Moonkyu, Taemin dan saat itu ada Key yang terlihat seperti bocah tak terurus. Jauh berbeda dengan dirinya yang sekarang fashionable.
Penampilan bernyanyi mereka oke, sebatas standar, masih ada yang lebih dari mereka. Penampilan menari merekalah yang sukses melunturkan semangatku. Aku jadi gugup bukan main karena kelompokku tampil setelah mereka dan aku tahu penampilan menari kami tidak sebagus mereka. Dan tampil setelah orang yang hebat akan menyebabkan penampilanmu tampak sangat buruk, meskipun nyatanya tidak seburuk itu.
Jongin dan Taemin adalah kombinasi yang brilian dalam hal menari. Mereka semacam memiliki suatu ikatan yang kuat tapi dari tatapan keduanya aku tahu, saat itu hubungan mereka adalah gambaran musuh dalam selimut sesungguhnya. Yang lambat laun semua orang ketahui, hubungan itu melebur menjadi sebuah ikatan persahabatan yang tiada habisnya dibicarakan banyak orang.
Aku tak akan membicarakan tentang penampilan mereka yang luar biasa itu. Pembicaraanku ini cukup terfokus pada Jongin seorang. Dibanding Taemin yang terlihat agak malu-malu, Jongin justru terlihat percaya diri. Sejak kecil dia sudah pandai mengerling nakal dan gerakan dorongan pinggulnya itu sudah membuat para wanita bernafsu. Padahal saat itu dia tak lebih dari sesosok siswa kelas enam SD yang hanya tahu tentang menari, bukan bermaksud merusak pikiran perempuan dengan fantasi liar tentang dirinya.
Diusiaku yang masih kecil itu, tak pernah kulihat penari sebehat Jongin. Oh, jenis tariannya memang lemah gemulai dibanding Key yang selalu penuh power saat menari. Tapi Jongin memiliki struktur menari yang hebat untuk anak seusianya. Dia tahu ritme yang tepat untuk menghentakan ototnya dan mengerti cara tenggelam dalam musik. Jangan lupa ekspresinya itu. Ekspresi yang akan membuat orang ikutan meringis menatapnya. Saat itu, aku temui sosok penari jenius dalam tubuh kecil, kurus dan kumal seorang Kim Jongin.
Mendapati sosok penari jenius itu kini nyaris kehilangan harapan untuk menari adalah pemandangan yang menyedihkan. Aku merasa bodoh karena tak menyadari Jongin yang kenyataannya sudah berjalan tertatih-tatih sejak kami bertemu dikamar mayat tadi. Dia menyembunyikan kesakitannya dengan amat baik hingga aku, setitik upil pun tak dapat menyadarinya. Tapi apa yang dapat kuharapkan dari seseorang yang selalu menyembunyikan masalahnya? Kebiasaan lama memang sulit dirubah.
"Tuhan adalah komedian yang kejam ya?" Tiba-tiba Jongin berkata, menatap langit dan angin mendadak berhembus cukup kencang untuk sedikit mendorong tubuh kami berdua kebelakang. Seakan-akan Tuhan merespon ucapan Jongin. Aku terdiam begitu saja, tak mendapati satu kata pun yang mampu membalas perkataan Jongin. Yang dapat kulakukan hanya mempererat rangkulanku.
Rasanya saat ini Tuhan memang kejam. Komedian yang kejam. Membiarkan seorang penari nyaris kehilangan fungsi kakinya, membutakan orang paling ceria yang pernah kutemui, membuat orang paling baik mencoba untuk membunuh dirinya sendiri, membisukan orang yang paling kusukai suaranya, menidurkan sosok yang bisa memberi hiburan dengan tingkah konyol eksentriknya. Tapi dibalik kemirisan itu, memasukan seorang pecandu kepusat rehabilitasi dan nyaris menewaskan seorang pecandu lainnya adalah sisi lucu yang tak terkirakan perihnya.
3.
Aku dan Jongin berakhir tertidur diatap rumah sakit. Kami jatuh kedalam sebuah fase tidur tanpa mimpi. Tubuh kami terlalu lelah untuk bermimpi. Sebuah keberuntungan dan kurasa untuk beberapa waktu kedepan aku harus membuat tubuhku mati rasa karena kelelahan, baru berani tidur.
Aku terbangun tepat beberapa saat sebelum matahari terbit. Aku langsung membangunkan Jongin, meneriakinya tepat ditelinga membuat anak itu terlonjak kaget dan nyaris memarahiku. Tapi dia terdiam karena saat itu matahari pagi muncul. Suatu pemandangan yang amat jarang kami nikmati karena kami tipikal orang-orang yang sulit tidur dan susah pula untuk dibangunkan. Pengecualian untuk Jongin karena dia tipikal orang yang bisa tidur dimana saja.
Matahari terbit itu membangkitkan memoriku saat kami berdua belas pergi berlibur kepantai dan memutuskan untuk meneriakkan harapan kami pada matahari pagi. Tapi matahari tak kunjung muncul dan kami nyaris beku. Dengan berat hati kami memutuskan untuk meneriakkan harapan kami tanpa matahari karena kalau lama-lama menunggu matahari muncul, bisa-bisa kami terserang demam dingin. Joonmyeon adalah orang pertama yang berhak mendapatkan kehormatan itu.
Joonmyeon meletakkan kedua tangan disisi mulutnya, terlihat agak canggung, "Kuharap aku bisa menjadi pemimpin yang lebih baik!" Teriaknya, lalu setelah itu, matahari muncul seakan-akan menyambut harapannya. Joonmyeon bersorak tapi Tao bersorak lebih kencang karena dia memang memiliki rasa semangat berlebihan pada sesuatu yang indah. Nyatanya untuk beberapa waktu kedepan kepemimpinan Joonmyeon memang diuji habis-habisan. Karena member K memunculkan beberapa bulan kemudian, Joonmyeon mengatasi tekanannya yang berat sebagai pemimpin dengan sedikit dosis obat penenang. Dosis tersebut terus bertambah.
"Kuharap EXO menggapai lebih banyak hal lagi!" Kini Baekhyun berteriak, agak ragu dan terganggu oleh kencangnya angin saat itu. Kami sedikit menggodanya tapi harapan Baekhyun adalah sesuatu yang cukup puitis untuk tipikal pria tak bisa diam sepertinya.
"Kuharap semua orang tetap sehat," Kyungsoo tak berteriak, hanya berkata cukup kencang untuk didengar kami berdua belas. Kuharap matahari masih memeluk doa Kyungsoo. Karena kesehatan kami sedang dalam keadaan terburuk. Aku berterima kasih pada Kyungsoo dan harapannya yang sederhana tapi bermakna dalam itu.
"Aku harap aku bisa bicara lebih banyak!" Teriakan Minseok menggelegar dan Yixing bertepuk tangan. Nyatanya, Minseok tetap menjadi Minseok yang pendiam dan bisa diandalkan. Aku tak bisa membayangkan Minseok membicarakan banyak hal-hal tak masuk akal seperti yang sering Baekhyun dan Chanyeol lakukan. Oh, kalau untuk kasus mereka berdua, yang satu efek ganja dan yang satunya karena memang tidak bisa tutup mulut. Kombinasi sempurna.
"Aku akan menjadi pria yang hebat!" Itu Chanyeol. Di luar asrama prestasinya didunia hiburan memang bagus. Dia memproduseri beberapa lagu dan memainkan beberapa film tapi di balik itu semua, menurutku dia terlihat menyedihkan. Dia sering berada di posisi yang salah, itu saja masalahnya. Dan ganja adalah pilihan alternatif baginya. Tapi aku tak menyangka dia mengonsumsi lebih dari itu.
"Aku harap orang yang aku cintai hidup bahagia," Satu harapan dari hati Tao, si seram yang polos. Harapan itu begitu bagus dan sama seperti Kyungsoo, kuharap matahari masih memeluk harapan itu. Setidaknya untuk pria sepolos Tao, matahari bisalah berbaik hati sedikit.
"Aku juga! Aku juga! Kau harus berdoa untukku juga," Tao kembali berseru pada matahari. Dia begitu polos, berbanding balik dengan pencitraannya saat kami debut dulu.
Oh, itu adalah masa-masa yang indah. Pahitnya menjadi idola pendatang baru bergejolak membanting mental kami. Tapi manisnya kesuksesan yang kami dapatkan membayar semua itu. Sebuah memori yang akan selalu kusimpan baik-baik. Saat itu kami memang sengaja pergi kepantai untuk melepas penat dan stres. Pantai musim dingin, pantai tanpa matahari yang panas tapi rasanya kebersamaan kami saat itu sudah cukup untuk membuat telapak kakiku merasa hangat. Ah, aku rindu saat-saat seperti itu.
Aku menatap Jongin yang menunduk dan mengatupkan kedua tangannya, sama seperti waktu itu, dia melemparkan harapannya pada matahari dalam diam, tak ada yang tahu apa harapannya. Alisnya berkedur-kedut, bibirnya komat-kamit, dia terlihat serius sekali. Dalam hati aku mengucapkan amin. Akan selalu kuamini doa sobatku ini, kau tenang saja Jongin.
Aku kembali menatap matahari yang semakin meninggi, terdiam sebentar. Memikirkan satu harapan yang kira-kira cukup mudah untuk dikabulkan tapi begitu hebat dampaknya. Aku tak berencana meminta banyak hal, kali ini cukup satu saja.
Aku menutup mataku, mengatupkan kedua tanganku dan membiarkan angin yang berhembus mengantarkan harapanku pada matahari. Harapanku sederhana : "Kuatkanlah kami,"
Kuucapkan kalimat itu dalam hati, berulang-ulang.
4.
Lalu aku terjun ke dalam rutinitas monoton. Kami semua begitu, beberapa rutinitas kami dipisah karena kami harus fokus pada kesembuhan masing-masing. Setiap pagi kami sarapan di kantin bersama seluruh pasien rumah sakit, pengungsi lebih tepatnya. Kami duduk dimeja panjang, tanpa Yifan, Jongdae, Kyungsoo, Joonmyeon dan Chanyeol. Aku nyaris berteriak saat melihat Yixing menuntun Baekhyun berjalan kemeja panjang. Tapi saat melihat wajah Baekhyun, suaraku hilang begitu saja. Kegelapan telah memakan Baekhyun hidup-hidup. Diantara semua member, berat badan Baekhyun terlihat menurun paling drastis dan terlihat jelas pula kalau mungkin Baekhyun tak akan bisa tidur tanpa obat bius. Pipinya begitu tirus, tangannya yang sudah kecil itu bertambah kecil, kantung matanya bergantung tebal dan terlihat keunguan seperti memar. Baekhyun menatap lurus kedepan, terlihat kosong dan dia sama sekali tidak menyentuh makanannya. Kami bergantian berusaha menyodorkan apapun yang bisa masuk kedalam mulutnya, tapi mulut itu terus terkatup rapat. Aku mengkhawatirkannya, juga mendadak penasaran dengan keadaan Kyungsoo. Karena untuk saat ini, Kyungsoo menolak keluar kamar.
Kami berakhir makan dalam diam. Hanya ditemani bunyi sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Entah butuh berapa lama untuk memperbaiki atmosfer tidak nyaman ini. Kuharap Chanyeol datang berkunjung karena seperti yang kalian lihat, Chanyeol dan Baekhyun adalah gambaran nyata sosok kembar beda rahim. Mungkin kehadiran Chanyeol dapat memperbaiki perasaan Baekhyun, mereka berdua umumnya ahli dalam hal mentertawakan nasib. Kali ini sepertinya nasib yang mentertawakan mereka. Aku juga berharap Yifan cepat-cepat bangun dari tidur panjangnya. Mungkin dengan begitu Tao dapat kembali mengontrol emosinya yang akhir-akhir ini tak terkontrol. Dia terkadang mengamuk lalu tertawa-tawa. Pernah suatu waktu aku menangkapnya membaca artikel tentang pembunuhan berantai di sebuah majalah misteri. Dia tertawa-tawa kencang sambil berair matanya dan kondisi majalah itu terbalik.
Jika hubungan Chanyeol dan Baekhyun seperti hubungan anak kembar, maka Yifan dan Tao adalah, entahlah awalnya hubungan mereka terlihat seperti hubungan adik-kakak. Tapi lama kelamaan jadi terlihat seperti hubungan ayah dan anak.
Untuk saat ini kami semua mengandalkan sosok Luhan dan Minseok. Sejak dulu begitu. Meskipun sudah ada Joonmyeon dan Yifan, tapi kami tidak bisa lepas dari bayang-bayang Luhan dan Minseok. Mungkin karena mereka member tertua dan mereka memiliki sifat "mengkakakkkan"diri.
Kantin adalah satu-satunya tempat yang bisa mengumpulkan semua pengungsi disaat bersamaan. Banyak idola disana, berkumpul bersama grupnya masing-masing. Aku mencari Red Velvet, untuk menanyakan kabar Taeoh. Tapi aku tak dapat menemukan rambut-rambut warna-warni itu. Dimana mereka? Mereka pasti selamat. Pasti. Aku melihat mereka meluncur menuju petugas Selatan bersama Taeoh. Mereka harus selamat karena aku dan Jongin berkorban banyak demi keselamatan mereka. Rasanya tak terima kalau mereka gagal selamat. Aku harus cepat-cepat menyingkirkan pikiran negatifku itu sebelum emosi kembali menyulutku. Rasanya aku mulai mengerti perasaan Tao dan emosinya itu.
Ini lucu saat kau melihat idola bergelimpangan tak berdaya tanpa adanya bodyguard. Karena serius, sepertinya disaat-saat seperti ini para sasaeng memiliki akal sehat yang cukup untuk tidak mengganggu kami. Bahkan tak kutemukan satu orang pun yang menjerit saat melihat kami. Kurasa kami semua sudah terlalu gila untuk memperdulikan siapa dia, siapa situ atau mungkin siapa aku. Pengecualian untuk para reporter, terutama yang datang dari luar Seoul hanya untuk memberitakan tentang penyerangan ini.
Kami mungkin harus mengadakan konser dadakan. Kau tahu? Untuk memperbaiki suasana sedikit. Tak perlu konser yang meledak-ledak, hanya musik ringan dan banyak nyanyian. Tak perlu panggung, kami bisa bergelimpangan dimana saja. Itu ide yang cukup bagus, setidaknya kami butuh penyulut api untuk membakar semangat yang padam.
Setelah makan kami berpisah, mengikuti jadwal masing-masing. Jadwalku sekarang adalah; pergi jalan-jalan ketaman. Bagus! Aku butuh ini.
Taman rumah sakit ini tak sepenuhnya bisa dibilang taman. Kurasa ada yang salah dengan jadwalku karena taman ini justru mengingatkanku pada hal-hal yang sangat ingin kulupakan. Taman ini sudah hancur, gosong disana-sini dan banyak reruntuhan gedung yang merusak bunga-bunga disana. Tak ada yang bisa dinikmati dari taman ini. Aku terenyuk, mencoba menikmati sisa-sisa keindahan dari taman ini. Setidaknya masih ada beberapa bunga dan pohon. Juga ilalang. Tapi lebih banyak sisi gosong dari pada keindahannya.
Entah apa yang salah dengan diriku, aku mulai mencabuti ilalang tersebut, mengelompokkannya menjadi dua dan mulai melilitnya satu sama lain, membuat pola yang nyaris membentuk kepangan rambut. Well, ini tidak bisa dibilang kepangan karena bentuknya tak karuan, berantakan tapi tak apa. Kulingkarkan lilitan ilalang tersebut dikepalaku, setelah mendapat ukuran kepalaku, kuikat lilitan ilalang tersebut dengan batangan ilalang yang lembek. Lalu kupilih ilalang terbaik untukku jadikan mata mahkotaku.
Aku cukup puas dengan mahkota ilalangku terutama mata mahkotanya yang menjuntai tinggi dan bergoyang-goyang. Kupakai mahkota itu dan saat itu kulihat dari ekor mataku sosok manusia berwajah dinosaourus; Woobin! Aku nyaris melupakannya. Apa yang dia lakukan disini? Memperhatikanku sambil tersenyum-senyum. Memangnya dia pikir dia tampan? Aku menatapnya pasrah. Karena biar bagaimanapun, dari tatapannya aku tahu kali ini pria itu akan bersikeras untuk bicara denganku.
Melihatku yang diam saja, senyum Woobin bertambah lebar dan dia segera menghampiriku. Tubuh besarnya tiba-tiba saja terhempas disampingku. Dia agak aneh. Terlalu bersemangat padahal suasana sedang buruk begini.
Pria itu berdehem, menatap mahkotaku lalu bertanya, "Oh Sehun?"
Aku bergumam malas tapi pria disampingku ini justru tambah semangat, "Boleh aku bicara denganmu?" Dia beringsut mendekatiku. Terlalu dekat dan aku tak suka.
"Langsung saja, tak perlu basa-basi," Jawabku sambil beringsut menjauhinya.
Woobin tersenyum puas, "Begini. Seperti yang sudah kukatakan padamu bahwa kau dan temanmu itu harus datang kepusat militer," Aku meliriknya sekilas, tidak suka dengan caranya menekankan kata 'harus'.
Mendapatiku yang tidak merespon, Woobin melanjutkan, "Well, kami tahu apa yang terjadi padamu dan temanmu. Hal itu termasuk kejahatan perang, kalian tidak tahu apa-apa, terutama umur kalian masih ilegal,"
"Sebentar lagi kami legal kok," Aku menyambarnya dan Woobin hanya meringis dalam senyumannya yang terlihat tidak enak.
"Ya, tapi masih tetap ilegal. Lagipula, kalian hanya perlu memberi kesaksian, itu saja dan kesaksian kalian akan kami pakai dalam sidang PBB,"
Alisku otomatis naik satu, "Untuk apa? Hanya untuk informasi saja, kalau aku dan Jongin menggorok leher interogrator dari Utara dan membunuh puluhan pasukan Utara. Apa kami bisa terpidana karena hal itu? Apa itu termasuk kejahatan perang? Dan jika aku bersedia memberikan kesaksian, apa hal itu akan menghentikan perang saudara ini?"
Astaga, aku tidak tahu kenapa aku bisa mengeluarkan begitu banyak pertanyaan. Itu terjadi begitu saja. Mungkin karena hal ini masih terlalu asing bagiku. Tapi aku suka perubahan di raut wajah Woobin. Nampaknya aku terlihat pintar dimatanya. Aku berusaha menyembunyikan senyumanku.
"Satu-satu, nak," Ujarnya pelan. "Aku tahu apa yang kau dan temanmu itu lakukan. Kalian mendadak populer dipusat militer. Singkat kata, kalian tidak melakukan kejahatan perang, kalian masih dibawah umur dan hanya melakukan pembelaan diri karena petugas selatan yang terlambat menjemput kalian. Dan jika kau bersedia memberi kesaksian, aku tidak menjamin perang saudara ini akan berakhir. Tapi aku bisa menjamin tidak akan serangan lagi,"
Aku tertegun karena Woobin nampaknya benar-benar tahu tentangku dan Jongin. Wah, kurasa aku dan Jongin sedang panas-panasnya dikalangan militer. Tapi tetap saja hal itu tidak akan menghentikanku untuk mengorek lebih dalam lagi. Jika mereka menginginkanku untuk terlibat, maka mereka tidak bisa setengah-setengah. Aku tak mau menambah kekacauan.
"Untuk berapa lama? Perang dingin masih akan tetap berlangsung 'kan? Utara tetap memperkuat kekuatan militernya dan Selatan tetap memenjarakan pria selama dua tahun masa wajib militer. Perang ini tak akan ada habisnya kan? Lagipula, jika aku bersedia menjadi saksi, akankah ada kemungkinan keluargaku ikut terseret? Aku tak mau keluargaku menjadi buronan Utara,"
Woobin terdiam sebentar, menopang dagunya dan berpikir sedikit lebih lama dari yang kuharapkan, "Kau tahu, untuk perang semacam ini tak ada yang bisa menjamin apa yang akan terjadi. Tapi aku bisa menjamin tak akan ada serangan lagi secara fisik dan aku berani menjamin keselamatan keluargamu. Kau seorang public figur, gerakanmu akan selalu disorot. Utara tidak akan berani mengambil resiko seperti itu. Itu terlalu licin,"
Cukup akurat, tapi aku belum puas, "Kau berkata mereka tidak akan menyerang Selatan secara fisik, lalu bagaimana jika mereka melakukan penyerangan secara underground. Kau tahu maksudku 'kan?"
Rahang Woobin mengeras dan aku tahu kesabarannya sebentar lagi akan habis. "Dengar, nak. Jika kau bersedia menjadi saksi, untuk waktu yang sangat lama Selatan akan kembali aman, bebas dari serangan dan tak ada ketakutan lagi. Serangan underground mungkin akan terjadi tapi itu tidak ada sangkut pautnya denganmu,"
Aku mendengus, menatapnya gusar lalu berkata "Penyerangan ini juga tidak ada sangkut pautnya denganku. Dan lihat apa yang terjadi padaku! Aku kehilangan ibu dan kakakku! Tidakkah itu berarti sesuatu bagimu!?"
Woobin terdiam. Jelas ia kehilangan kata-kata. Cukup lama keheningan datang merambati kami dan Woobin mendadak salah tingkah. Aku bengong saja, berusaha meredakan emosiku. Lalu Woobin berkata, "Aku tahu ini sulit bagimu. Tapi kurasa kau bisa melakukan sesuatu yang lebih berarti daripada duduk diam disini,"Woobin menepuk pundakku lalu pergi begitu saja.
Kalimat terakhirnya itu benar-benar berhasil menamparku.
5.
Setelah bengong menatap taman yang terlihat seperti pantat panci gosong ini, seorang suster menghampiriku, menatap mahkota ilalang dikepalaku lalu tersenyum manis. Andai jiwa "menggoda wanita"-ku sedang berfungsi dengan baik, suster manis ini pasti sudah kugoda habis-habisan. Lihat saja badannya yang semlohai dan lesung pipi dalam yang membuatnya jadi bertambah manis. Tapi aku sedang tidak bernafsu. Maka kuiyakan saja saat dia bilang kalau jadwalku selanjutnya adalah bertemu dengan dokter Jaesuk. Mendengar itu, runtuh sudah jiwa "menggoda wanita"-ku.
Untuk hari ini, aku akan mencoba untuk menjadi anak baik. Tidak ada pemberontakkan, biarlah kucoba untuk mengikuti jadwalku ini tanpa merusak jadwal orang lain. Terutama memberku. Karena beberapa diantara mereka membutuhkan perawatan yang lebih khusus. Maka, dengan berat hati, kulangkahkan kakiku menuju ruang dokter Jaesuk. Dia pasti sudah disana, duduk dengan secangkir kopi yang membuat giginya hitam karena ampas kopi. Mungkin aku akan memancingnya untuk tidak membicarakan hal-hal sensitif. Karena psikolog pada umumnya memancing kita untuk membicarakan sesuatu yang sudah disimpan baik-baik. Aku tidak mau kalap dan membuat kekacauan lagi. Lagipula, kepalaku ini sudah cukup penuh karena perdebatan pro dan kontra tentang Woobin, pusat militer, menjadi saksi dan PBB. Aku benar-benar harus mengecoh dokter Jaesuk. Mungkin dia akan terkecoh dengan mencetuskan ide konser dadakan itu. Kurasa itu tidak buruk.
Aku memantapkan hatiku, menatap pintu dengan papan bertulisan nama dokter Jaesuk beserta gelar sarjananya. Pria ini pasti pintar untuk bisa mendapatkan gelar sarjana yang tak bisa kuucapkan itu. Pasti lulusan luar negeri. Sayang wajahnya tidak tampak seperti orang pintar.
Aku masuk kedalam ruangan dokter Jaesuk dengan agak tergesa-gesa sambil berseru, "Dokter Jaesuk aku punya ide brilian,"
Dokter Jaesuk terkejut bukan main saat melihatku yang mendadak penuh semangat, karena biasanya wajah datarku akan selalu kupasang jika berhadapan dengan dokter Jaesuk. Kali ini tak apalah aku berbaik sedikit meskipun sebenarnya tindak tandukku ini pura-pura.
Dokter Jaesuk berdehem dan membetulkan kacamatanya, dia terlihat agak ragu tapi tetap bertanya, "Ide apa?"
Aku berjalan cepat, menaiki sofa yang tersedia dan duduk bersila disana, "Kita bisa membuat konser dadakan. Well, tidak bisa dibilang konser juga sih. Mungkin kita bisa menyebutnya sebagai 'acara musik',"
Dokter Jaesuk terperanjat lalu mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ide yang bagus. Aku tertarik. Ini bisa membangkitkan perasaan senang dan mungkin menghidupkan suasana disini,"
Aku tersenyum tipis, "Ya betul, itu memang maksudku. Lagi pula disini terdapat banyak idola, kalau soal alat musik. Ya pakai yang sederhana saja, seperti gendang dari kursi kayu. Itu bisa berfungsi, kurasa."
Kini dokter Jaesuk yang tersenyum tipis, "Oh, beberapa dokter disini memiliki gitar,"
"Itu bagus," Aku tersenyum lebar.
Pembicaraan kami berlanjut ke rancangan acara yang lebih rinci. Kami memutuskan kalau makan malam adalah waktu yang ideal untuk acara musik. Makan malam natal, lusa. Oh, aku bahkan lupa kalau sebentar lagi natal. Itu bagus karena acara musik akan memperbaiki suasana natal tahun ini yang di kacaukan oleh Utara. Dokter Jaesuk akan membicarakan hal ini kepada kepala rumah sakit dan beberapa oknum yang bertanggung jawab akan rumah sakit ini. Sedangkan aku, bertanggung jawab menyebarkan berita tentang acara ini. Hanya para idola saja yang boleh tahu karena ini semacam kejutan untuk para anak-anak, orang tua dan manula yang sedang bersedih. Ya, kami ini 'kan memang penghibur jadi setelah kupikir-pikir tak ada salahnya menghibur orang-orang disini. Entah kenapa mendadak dadaku terasa hangat. Aku jadi sangat suka ide ini. Rasanya aneh, karena kupikir aku benci menjadi penghibur. Tapi kurasa menghibur disaat seperti ini oke juga. Karena rasanya jadi kebahagiaan diantara orang-orang yang membutuhkannya.
6.
Aku gagal jadi anak baik. Jangan salahkan aku yang tiba-tiba kabur dari jadwal meditasiku. Karena rasanya suara-suara dalam pikiranku ini makin menjadi-jadi. Semuanya bertumpah ruah. Minseok dan Woobin seakan-akan bekerja sama untuk merusak sistem dalam otakku. Aku ini ingin berlari, kabur untuk selamanya dan lenyap dari semua ini. Tapi aku tahu aku tak bisa. Aku ingin diam, menjadi anak baik, menjalani prosedur yang ada tanpa menikung, menyembuhkan diriku dari rasa kehilangan dan berharap semuanya kembali normal. Tapi entah kenapa saat memikirkan hal itu aku jadi merasa bersalah dan lambat laun perkataan Woobin nyaris menguasaiku. Haruskah aku bertindak, atau diam saja? Terlalu banyak resiko terutama aku dan Jongin secara tidak sengaja melibatkan Soohyuk. Aku takut nama Soohyuk akan dikambing hitamkan dalam hal ini. Tapi mungkin saja jika aku setuju menjadi saksi, kematian Soohyuk tidak akan sia-sia. Sial, terlalu banyak pro dan kontra. Aku membutuhkan Jongin dan itulah sebabnya aku batal jadi anak baik.
Seharusnya aku berjalan lurus memasuki ruang entah dulunya apa yang sekarang mendadak diubah menjadi ruang meditasi. Aku justru berbelok dan berlari memasuki lift, tapi tidak jadi karena lift terlalu beresiko. Karena banyaknya pasien yang kabur-kaburan (sepertiku), maka penjagaan diperketat. Para perawat dan dokter disini benar-benar menekankan kami dalam jadwal pasti. Hal itu mungkin dapat mempercepat proses pemulihan dan karena banyaknya pengungsi, mematenkan sistem jadwal akan mempermudah segalanya.
Aku berakhir menuruni tangga darurat, melintasi lobi rumah sakit dan kembali masuk kekoridor lalu berhenti didepan sebuah pintu kaca. Aku menatap kedalam pintu tersebut. Didalam sana terdapat Jongin dan beberapa orang yang sedang melakukan terapi. Aku memperhatian kaki-kaki Jongin dan bagaimana setiap langkah berhasil membuatnya meringis. Lalu, tiba-tiba seorang perawat menghampirinya, memaksanya duduk dan dari gurat diwajahnya aku tahu Jongin sedang dimarahi. Dinasehati ini-itu, tidak boleh begini-begitu. Harus A dan tidak boleh B. Dari wajah datar Jongin, aku tahu dia bisa gila lama-lama mengikuti prosedur terapi ini. Aku tahu dia ingin cepat-cepat kembali menari tapi untuk beberapa waktu kedepan Jongin dan kursi roda tidak akan berpisah. Aku dan Luhan sempat berbicara panjang tentang keadaan Jongin. Luhan bilang, butuh proses pemulihan luka terlebih dahulu baru Jongin bisa melakukan terapi sesungguhnya. Maka dari itu, terapi kali ini sebenarnya hanya untuk proses pengembangan rasa percaya diri paska insiden. Menurut dokter, pasien akan kehilangan rasa percaya dirinya untuk kembali bisa beraktifitas normal setelah insiden, terutama untuk pasien penderita "wabah paska perang". Tapi menurutku, Jongin tidak perlu rasa percaya diri karena ia memiliki semangat. Kurasa tidak bisa dibilang klise kalau Jongin ini memang dilahirkan untuk menari. Percayalah, karena aku telah melihat potensi terbesar seorang Kim Jongin. Sobat yang terkadang membuat kepalaku sakit itu.
Aku nyaris terbahak saat Jongin menyadari keadaanku dan mulai menatapku seakan-akan dia mahkluk paling menderita dan butuh pertolongan. Aku sebenarnya ingin berlama-lama dan sedikit menggoda Jongin tapi ada rasa tak tega dan geli saat Jongin mulai mengerucutkan bibirnya dan melakukan pergerakkan aneh dengan alisnya. Dia pikir itu imut? Well, untuk pria hetero sepertiku, itu sama sekali tidak imut. Melihat wajah memelas Jongin, membuatku ingin mendampratnya dengan kaos kaki bau dan dia pasti akan berteriak-teriak menjambaki rambutku.
Ah, aku rindu masa-masa ributku dengan Jongin. Akhir-akhir ini hubungan kami jadi agak melow.
Aku mengerutkan alisku, berusaha mati-matian membuat ekspresi wajahku ini seperti habis dikejar-kejar sasaeng keliling kota, lalu kubuka pintu kaca tersebut dan dengan suara yang kubuat sedramatis mungkin, aku berkata, "Aku butuh Kim Jongin, segera!"
Aku dapat melihat wajah Jongin yang pura-pura kaget' mata melotot, alis mengkerut dan bibir bergetar-getar, "Apa?" bisiknya pelan, membuatku geli dan nyaris tertawa, "Ada yang telah terjadi Sehun-ah?"
Oke, itu lebih menggelikan lagi. Aku hanya menggeleng, menatap Jongin seakan-akan dia mahkluk paling sial abad dua-satu dan menatap satu per satu perawat disana yang memandang kami berdua seakan-akan kami ini anak anjing yang diabaikan.
Dan dengan aktingku itu, perawat disana tidak butuh banyak pertanyaan untuk bisa melepas Jongin dari jadwalnya. Mereka tahu ini gawat tapi mereka tak tahu kegawatan itu hanya akal-akalanku saja.
Dan dengan itu juga, aku berhasil meloloskan Kim Jongin dari penderitaanya. Kami berdua tertawa terpingkal-pingkal sepanjang koridor. Dengan aku yang mendorong kursi roda Jongin dan berlari kencang.
"Aktingmu benar-benar mambuatku mual Sehun-ah,"
"Oh, ya? Kalau sekarang ada kaos kaki, wajahmu itu pasti sudah kudamrat habis-habisan,"
"Hei, tidak ada yang salah dengan wajahku. Wajahmu itulah pusat semua permasalahan Sehun,"
"Apa-apaan? Teori macam apa itu? Wajahmu itu yang salah,"
Ya, begitulah kira-kira percakapan kami yang tak tentu arah sebelum memulai percakapan yang berat.
7.
Kami berakhir di bagian terbarat gedung rumah sakit. Bagian terbarat ini sedikit hancur akibat penyerangan Utara. Tempat yang bagus untuk bersembunyi dari pelarian kami. Disini pula kami menemukan satu ruangan yang gosong dengan sebagian tembok yang hancur. Hal itu dapat membuat kami berhadapan dengan langit karena ruangan ini berada di tingkat teratas gedung rumah sakit super luas ini. Banyak buku berceceran diruangan ini. Rak-raknya sudah berjatuhan semua, hancur. Aku berjongkok dipojokan sambil melahap buku teori fisika kuantum yang kutemukan disini. Suatu keberuntungan yang tak terkira. Hal-hal seperti ini bisa mengalihkan otakku dan mengistirahatkan pikiranku. Dari ekor mataku, aku dapat melihat Jongin menatapku seakan-akan aku ini kecoa yang jago bela diri.
"Serius deh Sehun. Aku berutang banyak padamu tapi aku tidak akan mengelak kalau kau adalah salah satu orang yang tidak bisa kupahami,"
Aku tergelak, "Kau memahamiku Jongin. Hanya saja tidak sadar akan hal itu. Kalau kita tidak normal, kita ini bisa jadi pasangan gay paling serasi tahu!"
Wajah Jongin langsung mengeryit mendengar hal itu dan berusaha menggapai-gapai buku dibawahnya, "Terima kasih Sehun, tapi aku masih setia menunggu Minki,"
Aku melirik Jongin yang mengambil buku tentang teori Turbulensi dan anak itu langsung membuangnya setelah membuka beberapa halaman, "Disini tidak ada bacaan yang ringan ya?" Lalu dia menatapku dan buku teori fisika kuantum yang kugenggam.
"Kalau untuk jadi pasangan gay, dirimu itu serasi dengan Luhan. Bisa-bisa kalian debat panjang soal teori itu yang ditanganmu itu,"
Iya juga ya...
Aku menggelengkan kepaku. Rasanya kami sudah gila total, mentok. Pikiran kami ini lebih jauh dari moron. Kasta terendah orang idiot.
"Ngomong-ngomong, tujuanmu membawaku kabur itu untuk apa? Aku tahu kau lebih suka melihatku menderita,"Jongin menatapku dan lagi-lagi melempar buku yang baru diintipnya sekilas.
Dengan berat hati kututp buku teori fisika kuantum ini. Aku menghampiri Jongin dan duduk diatas tumpukkan buku didekatnya.
"Seseorang mendatangiku," Jongin langsung menatapku dan sepertinya dia tahu kalau kali ini perkaranya lebih berat dari fisika kuantum. "Woobin namanya. Membawa undangan ke pesta intrograsi lainnya di pusat militer,"
Jongin menunduk, raut wajahnya melayu dan tangannya mulai memilin-milin ujung pakaian rumah sakitnya, "Aku sudah tahu. Dia mendatangiku dihari pertama aku siuman."
Aku tersentak. Terkejut bukan main. Itu kemungkinan yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku menatap Jongin agak ragu karena anak ini mudah dipengaruhi, dia mungkin akan langung berkata iya begitu Woobin berkata: kau bisa melakukan sesuatu yang lebih berarti daripada duduk diam disini. Tapi aku juga tahu dia memikirkan pendapatku dalam hal ini.
"Menurutmu kita harus apa?"Aku bertanya, agak menekannya. Jongin bersungut, menatapku seakan-akan aku sudah tahu jawabannya. Dan itu mutlak.
"Jongin, kita melibatkan Soohyuk kau harus ingat itu. Dia harus diperhitungkan. Dan terlebih lagi kita tidak tahu apa-apa tentang kakak Soohyuk yang ada di Selatan. Dia bisa saja imigram gelap, Jongin."Aku membabatnya dan Jongin terlihat berpkir keras.
"Sehun kurasa maju menjadi saksi adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Tidakkah kau merasa bersalah berdiam diri begitu?" Jongin bertanya dengan suara yang terdengar seperti cicitan.
"Aku tahu Jongin. Aku mengalami hal serupa denganmu dan aku merasakan hal yang serupa pula denganmu. Aku hanya-aku hanya, kau tahu? Aku takut,"Aku menunduk. Malu mengakui hal itu. Jongin juga menunduk karena dia merasakan ketakutan yang sama denganku.
"Sehun, Woobin bilang ada oknum yang melindungi saksi. Tidakkan itu berarti sesuatu untukmu?"
Aku menggeleng, "Aku tak mau hidup dalam ketakutan, Jongin. Aku butuh sesuatu yang membuatku yakin kalau ini adalah keputusan yang tepat,"
"Apakah pendapatku kalau ini tepat bisa membuatmu yakin?"
Aku kembali menggeleng, "Belum cukup Jongin-ah,"
Jongin menatapku, kali ini lebih lama, lalu berkata, "Aku tidak mau pengorbanan Soohyuk menjadi sia-sia,"
"Aku takut justru membuat kematiannya sia-sia,"
Jongin menggeleng, "Tidak, bodoh,,.Kau ingat dulu Minseok Hyung pernah berkata, kalau kau berlari makau kau harus terus berlari untuk selamanya?"
Aku mengangguk lalu bersungut, "Perkataan itu telah menggerogotiku hidup-hidup tahu,"
"Aku juga merasa begitu dan aku tidak mau berlari. Aku sudah berlari berputar-putar dalam rasa bersalah karena kematian Moonkyu. Dan aku tidak mau berlari di fase yang sama karena kematian Soohyuk,"
Aku menunduk, jadi merasa bersalah dan kurasa perkataan Jongin ada benarnya juga. Aku mendongakkan kepalaku, menatap lampu gantung diatas langit-langit atap. Lampu gantung kristal yang sudah pecah setengah itu bergoyang-goyang, memutar kilas balik pengalaman saat aku memutuskan untuk keluar dari asrama karena petugas tak kunjung datang.
"Aku takut hal itu jutru menjadi boomerang,"Aku berbisik pelan.
"Kita tidak pernah tahu Sehun,"
Dengan begitu aku tahu, pembicaraan yang jauh dari ekspetasiku ini sudah kelar. Keputusan sudah bulat. Aku dan Jongin bisa saja tamat. Tapi kami tidak pernah tahu.
TBC
Sebagai orang yang suka menulis, saya mengalami fase yang mungkin sama dengan fase author-author lainnya. Yaitu, fase pertama; dimana inspirasi lancar, menancap ke otak bagai panah, lalu inspirasi datang tidak sebanyak sebelumnya, kemudian dipertemukan oleh pertanyaan "Terus abis itu gimana?". Setelah itu mentok, berakhir membaca-baca ulang cerita dan menemui beberapa kesalahan yang bisa dibilang fatal. Disini, orang yang suka menulis harus memilih antara lanjut atau tutup buku alias nyerah. Kalau nyerah, orang yang suka menulis akan menemukan inpirasi lain dan memulai kembali dari fase pertama. Bagi yang lanjut, mungkin bakal lancar atau mungkin ide bakal seret, keluar sedikit-sedikit. Saya sedang berada difase itu, atau lebih suka saya sebut "fase c*pirit"
Seseorang mereview kalau cerita ini update saat bulan purnama, alias sebulan sekali. Saya suka perumpamaan itu. Saya jadi berasa orang pinter alis dukun yang main-main sama bulan purnama. Mistis-mistis gimana gitu padahal tiap malem saya cuma main sama laptop sambil minum kopi(kadang-kadang susu), baca-baca sesuatu yang bikin saya kepo sampe kepala saya mumet sendiri.
Saya pernah konsultasi dengan seorang author yang cepet update, tiap hari update paling lama tiga hari. Dia bilang kalau nulis sebuah cerita itu, kita harus tahu awal dan akhirnya dulu terus tengah-tengahnya diisi pake inspirasi yang dateng dari mana aja. Dalam kasus saya, inspirasi bukan lagi satu merek baju favorit yang dibeli setiap keluar model baru. Inspirasi saya mencangkup banyak cerita yang saya simpen dulu dikotak (kotak yang udah kepenuhan, jujur! Kebanyakan plot cerita baru yang bermunculan dan terlalu sayang untuk diabaikan.) karena masih ada rasa tanggung jawab untuk meneruskan cerita ini. Alias saya pengen cepet-cepet kelar karena akhir kisah udah terbayang-bayang diotak tinggal dipertemukan aja dipersimpangan. Tapi kok gak ketemu-ketemu? Saya jadi pusing dan minum kopi untuk kesekian kalinya malam ini. Temen saya(dia juga orang-coret-setan yang suka nulis) bilang, "Lama-lama lo bisa botak!"Well, untuk beberapa tahun kedepan kita liat siapa yang botak duluan, lu liat aja. Ati-ati botol sampo lu gue campur pake obat perontok rambut. Seenggaknya walaupun lu botak kimia, gue gak mau botak sendirian.
Kalau begitu, sampai berjumpa dipersimpangan akhir kisah ini. Yang saya gak tau kapan karena saya pernah bilang di Normal (ff saya yang satu lagi) kalau otak saya ini bisa sengklek kapan aja dan plot jadi nikung abis-abisan. Ya, karena saya masih belajar dan saya butuh juri, jadi kalian para morfin silahkan mereview sekarang atau nanti. Terkadang review kalian mengeluarkan terobosan terbaru pada ujung panahan inspirasi yang nancep diotak saya.
Malam ini saya banyak omong, maaf abis ngebabat fisika kuantum(kurang kerjaan) dan diem-diem saya bisa denger temen saya ngomong, "Lo yang bakalan botak duluan!"Maafin kekepo-an saya yang kadang-kadang gak tau diri...
Oke sebelum jadi nambah panjang dan gak karuan, saya sudahi dulu chapter ini dengan secangkir kopi(lagi)...selamat datang badai kafein...
Have a productive day! Walaupun Jakarta kayak tanah tandus pas lagi puasa gini...
