Title : PRIMROSE
Cast :
Kim Jong In a.k.a Kai
Do Kyung Soo a.k.a Kyungsoo
Other Cast
Rate : T – M
Genre : Crime, Little Hurt, Romance
.
.
.
.
By; Miss Galaxy
.
.
.
.
Happy Reading ^^
.
.
.
.
:::::
I spread a red carpet for you in front of my house,
Walk over here, I'll treat you like a princess, oh my princess..
Don't worry, I'm different from all the other wolves,
I don't mean anything else, don't worry.
When the clock strikes 12, you disappear like magic,
But I can't let you go today girl
I just wanna be with you..
CN. BLUE – CINDERELLA
:::::
Xiumin yang baru kembali dari pasar itu mengernyitkan dahinya mendapati sebuah Mc–Larren merah tengah terparkir dengan manis dihalaman depan rumah tuannya itu, gadis dengan keranjang belanjaan itu kemudian sedikit mengintip kedalam mobil dan menemukan seorang lelaki jangkung berada didalamnya. Xiumin sedikit berfikir dan mengingat–ngingat, jika tidak salah mobil ini adalah milik,
"Oh!" Xiumin segera berlari dengan gopoh memasuki rumah, langkahnya kemudian terhenti saat menemukan sosok Jongdae tengah menyesap tehnya dengan santai di sofa ruang tengah, segera dia mendekati lelaki itu.
"Chanyeol datang kesini?" Tanyanya dengan mata melotot sarat akan kekhawatiran, pembawaan yang biasanya hangat dan bersahaja itu saat ini terlihat berubah total didepan Jongdae. Sementara itu sosok Jongdae menatap Xiumin sejenak, meletakkan cangkir tehnya keatas meja.
"Kau sudah pulang ya?" Tanyanya santai tanpa mengindahkan pertanyaan Xiumin.
"Jawab aku Jongdae! Didepan itu mobil Park Chanyeol kan?" Xiumin tanpa sadar setengah memekik, merutuki sifat santai lelaki itu. Ingin rasanya dia melempari kepala kotak milik Jongdae itu dengan keranjang belanjaannya ini. Melihat Xiumin yang nampaknya tak sabaran membuat Jongdae tertawa senang, lelaki itu kemudian bangkit dan mendekati koki rumah ini.
"Santai manis,"
"Bagaimana aku bisa santai jika 'orang' itu ada disini? Jika tuan Kim tahu dia pasti akan murka! Bagaimana dia bisa masuk dan kau malah membiarkannya? Sekarang dimana dia? Dimana Ravi dan pengawal lainnya?" Xiumin nampaknya benar–benar emosi, membuat Jongdae harus segera menariknya kuat–kuat agar gadis itu tidak kalang kabut.
"Kau lupa ya? Dia kan masih punya 'kesempatan' itu?"
"Maksudmu?" Tanya Xiumin cepat, dia melepaskan cekalan lelaki itu dan menatap serius Jongdae.
"Aish, kau ini." Jongdae menyentil dahi perempuan yang akan menginjak usia dua puluh delapan tahun itu dengan gemas, membuat Xiumin memekik tak terima. Sungguh! Ini keadaan darurat dan lelaki keparat berwajah kardus ini masih sempatnya bermain–main?
"Jongdae!"
"Kau sudah melupakan perjanjian antara keluarga Park dan Kim ya?" Jongdae memincingkan matanya sementara Xiumin terdiam sejenak. Gadis itu mulai berfikir mencerna ucapan Jongdae.
"Maksudmu perjanjian antara Nyonya Sandara Park dan Nyonya Kim Chaerin? Perjanjian yang menyebutkan bahwa putra mereka memiliki kesempatan berkunjung satu sama lain hanya sekali dalam dua tahun itu?" Xiumin menaikkan dahinya menebak dan Jongdae tertawa heboh.
"Kau semakin pintar sayang," Dia kemudian mengusak pucuk kepala Xiumin. Gadis itu mengedip, berfikir apakah gerangan yang membuat putra sulung tuan besar Kim dan Nyonya Sandara Park itu datang berkunjung.
"Kufikir dia tidak akan pernah datang, bukankah sudah hampir empat tahun ini dia tidak pernah datang dan menetap di Jerman bersama Nyonya Sandara?"
"Itu masalahnya," Jongdae mengangkat bahunya acuh, kali ini tatapannya pada mata Xiumin terlihat serius.
"Jika dia tidak mengambil dua kesempatan selama empat tahun ini, itu artinya dia memiliki dua kali kesempatan berkunjung tahun ini. Dan sekarang jika dia mengambil salah satu kesempatannya.." Jongdae sengaja menggantungkan ucapannya, membiarkan Xiumin berfikir dan membuka mulutnya.
"Dia akan datang lain waktu lagi ditahun ini?" Jongdae mengangguk, dia kemudian melirik kearah keranjang belanjaan Xiumin yang masih gadis itu genggam. Dahinya sedikit mengernyit menemukan sebuah bungkusan yang terlihat mencolok diantara sayuran disana.
"Untuk nona Kyungsoo." Sahut Xiumin yang tahu kemana arah pandang Jongdae. Gadis itu kemudian kembali berguman serius.
"Dan kenapa dia berkunjung saat ini? Saat tuan Kim sedang pergi ke London?"
"Tentu saja karna Kyungsoo, bukankah jika Kai pergi ke London itu artinya dia leluasa menemui Kyungsoo tanpa sepengetahuan Kai?"
"Jadi Chanyeol datang untuk Kyungsoo? Lalu dimana mereka sekarang?"
"Di kebun belakang, kau tenang saja. Ravi juga ada disana menjaga Kyungsoo."
"Tapi tuan Kim akan tahu kan?"
"Tentu, aku akan memberitahu Kai setelah Park itu pergi dari sini." Xiumin menghela nafas gusar, perjalan misteri ini terlalu rumit baginya, tapi mau bagaimana lagi? Jongdae suaminya dan dia koki utama di istana ini, mau tak mau dia juga terlibat disini, mengambil sebuah peran penting dan menjadi salah satu tokoh yang harus menjalankan perannya dengan sangat baik. Bahkan menyembunyikan rahasia besar tentang pernikahannya dengan Jongdae, pengacara andalan Kai.
"Lalu bagimana dengan dia?" Xiumin membawa arah pandangnya keluar, dimana sosok lelaki yang dia lihat tadi masih tak berubah dari posisi semula. Jongdae mengikuti arah pandang gadisnya dan berdecak.
"Pelayan tua itu mungkin sudah pension, kudengar dia adalah putra sulungnya. Yeah, menggantikan diri untuk menemani si Park,"
"Kufikir bukankah dia masih terlalu muda untuk menjadi tangan kanan manusia itu?" Xiumin tanpa sadar mendengus seorang diri. Jongdae hanya terkekeh, mencium kening gadis manis yang langsung protes itu.
"Pergilah ke dapur dan menyiapkan makan malam untuk nona Kyungsoo. Aku akan kebelakang dan memperingati si Park jika waktu berkunjungnya sudah habis." Xiumin mengangguk, mengikuti perintah suaminya dan melangkah menuju dapur, meninggalkan Jongdae yang hanya mengulum senyum tipis, lelaki itu kemudian menatap arlojinya dan menyeringai.
"Saatnya menendangmu dari sini Park!" Gumannya.
.
.
.
"Aku.."
Kyungsoo masih membuka mulutnya dengan mata terpaut tepat ke manik hijau milik Chanyeol, bersiap memberikan jawaban.
"Aku..tidak mau!" Tegas Kyungsoo akhirnya. Gadis itu mengulum senyum merasa yakin dengan keputusannya, sementara Chanyeol yang mendengar keputusan gadis didepannya hanya diam. Namun bola hijau itu berkilat sejenak, dia kemudian tersenyum tipis menyembunyikan kekecewaannya, bersamaan dengan itu sosok Ravi sudah ada disisinya, pengawal bertubuh kekar itu membungkuk kecil.
"Tuan Park waktumu telah habis, saat ini sudah waktunya untuk nona Kyungsoo membersihkan diri."
Chanyeol hanya mendecak mendengar pengusiran berupa kalimat halus barusan, lelaki itu menatap arlojinya sebelum mengangguk mengiyakan.
"Okey, sepertinya aku sudah diusir," Sindirnya dengan senyum sinis dan bangkit berdiri, merapikan setelan jasnya agar kembali rapi. Kyungsoo juga bangkit dan memasang wajah bersalahnya karna menolak tawaran baik lelaki ini.
"Maafkan aku Chanyeol," Kyungsoo membungkuk kecil dan respon Chanyeol hanya tersenyum kecil meski manik hijau itu tak bisa menyembunyikan sebuah kekecewaan.
"Tak apa," Jawabnya, kedua tangannya masuk kedalam saku celana dengan santai.
"Senang bisa menghabiskan waktu denganmu, aku akan pergi. Kita akan bertemu lagi dilain waktu."
"Ya, terimakasih atas waktumu yang bersedia bercerita untukku." Chanyeol mengangguk kemudian berbalik melangkah pergi. Ravi lalu memanggil salah satu pengawal lainnya, sosok Hongbin kemudian muncul untuk menemani Chanyeol pergi dari sana menuju halaman depan. Kyungsoo masih berdiri disana sampai punggung tegap itu lenyap dilorong, tanpa sadar dia menghela nafas.
"Nona kau baik?" Ravi bertanya, meski wajahnya terlahir datar, namun tak bisa dibohongi jika dia terlihat tengah khawatir. Kyungsoo yang melihat itu hanya tersenyum, kepala pengawal dirumah ini sangat lucu menurutnya, dan Kyungsoo akan menjalin hubungan baik dengan lelaki ini untuk menambah koleksinya sebagai teman di istana membosankan ini.
"Aku baik,"
"Apa Park Chanyeol berbuat sesuatu pada anda?"
"Tidak! Demi Tuhan Ravi! Bukankah kau sedari tadi juga mengawasi kami tanpa berkedip?" Pengawal sangar itu sedikit menunduk, merasa malu mungkin. Kyungsoo hanya tertawa dibuatnya, dia kemudian melangkah kembali kedalam rumah masih setia diikuti oleh Ravi, meninggalkan Ilhoon yang menghentikan pekerjaannya memotong rumput demi menatap kepergiannya.
Ah, Kyungsoo. Apakah keputusanmu itu benar dengan melepaskan kesempatan emas yang hanya datang satu kali itu?
Kyungsoo tak tahu.
Tapi hatinya menang banyak dari logikanya. Jika Kyungsoo menggunakan logika tanpa melibatkan perasaan, mungkin dia akan setuju dan mengikuti rencana lelaki itu untuk membawanya pergi. Tapi sayangnya logikanya sedang mati rasa, hati dan perasaannya andil banyak dalam membuat keputusan tadi. Hatinya seperti menjerit untuk tetap tinggal, menunggu lelaki itu datang dari London dan bertahan demi mencari tahu misteri apa yang lelaki tan itu punya. Lagipula, apakah Chanyeol bisa dipercaya? Jika dia keluar dari sini, dia akan kemana? Mencari Hanbin? Dimana? Bahkan Kyungsoo tak yakin jika Hanbin sekarang ada ditanah Korea. Lalu dia harus kemana nanti? Bukannya Kyungsoo gadis material yang memilih tinggal disini karna segala kebutuhannya terpenuhi bak Ratu, dia juga memikirkan ancaman Kai yang tak pernah main–main. Ancaman yang menyangkut keselamatan Ayah dan Adiknya jika dia berani menjadi gadis pembangkang dan lari dari labirin ini. Kyungsoo menghela nafas panjang disela langkah kakinya yang menyusuri lantai lorong bersama Ravi dibelakangnya. Tak apa, mungkin ini bukan waktunya untuk pergi dari labirin ini. Mungkin nanti, suatu saat nanti setelah dia mendapat jawaban dari teka–teki misteri ini. Misteri tentang Kai dan Chanyeol yang ternyata masih memiliki hubungan darah dan semua kerumitan lelaki itu. Juga tentang perasaan De Javunya pagi itu, perasaan hangat yang seperti pernah muncul namun entah kapan. Kyungsoo masih harus tinggal untuk menemukan semua itu, meski dia tidak tahu sampai kapan dan bagaimana kelanjutannya nanti, bahkan kelanjutan hubungan mereka, apakah hanya sebatas tuan dan budak pemuas nafsu saja?
Entahlah. Tapi Chanyeol ada benarnya juga. Kai menahannya, mau membelinya yang hanya gadis biasa ataupun seseorang yang tidak istimewa. Menyakitinya diawal dan memberikan ancaman pada siapapun demi sebuah kepatuhan Kyungsoo pada Kai, namun saat dia hanya diam dan menurut, lelaki itu memperlakukannya dengan baik, memanjakannya bagai sebuah patung yang tersimpan didalam sebuah kaca. Kyungsoo ditahan namun juga diperlakukan dengan baik. Itu membuat hati kecil Kyungsoo jadi bertanya–tanya, sebenarnya apa tujuan Kai sebenarnya? Apa yang terjadi sebenarnya? Apa semuanya berkaitan? Dan kenapa dia juga merasa bahwa Chanyeol yang notabe saudara tiri Kai juga memiliki sebuah hubungan dengan semua ini? Hah! Iya, nanti, setelah semuanya selesai dan mungkin setelah dia menemukan kenapa Kai melakukan semua ini, setelah dia mendapat jawaban itulah dia akan menentukan apakah dia akan tinggal ataupun pergi.
.
.
.
"Nona Kyungsoo," Momoi menyambutnya saat Kyungsoo memasuki kamar diantar oleh Ravi. Gadis pelayan itu sedang menyiapkan sebuah baju untuk Kyungsoo sesuai pekerjaannya.
"Momoi? Kau baik?" Kyungsoo memperhatikan pelayan pribadinya, gadis bermata bulat itu sedikit mengernyitkan dahinya menemukan wajah Momoi yang agak pucat itu, apa Momoi sakit?
"Kau pucat Momoi, astaga. Apa kau sakit?" Kyungsoo menangkup kedua pipi pelayan pribadinya yang langsung menggelang yakin.
"Aku baik nona," Ucapnya mencoba meyakinkan, namun usaha itu sia–sia karna sekarang gadis pelayan itu hampir limbung jika saja Kyungsoo tak menahannya.
"Demi Tuhan kau sakit Momoi!" Kyungsoo menjerit pada pelayannya itu, dia kemudian berteriak memanggil Ravi yang langsung datang dengan tergopoh–gopoh kekamarnya.
"Nona? Ada apa?"
"Momoi sakit! Cepat bawa dia kekamarnya dan panggil Dokter!" Ravi diam, matanya mengedip sedikit aneh dengan perkataan Kyungsoo barusan. Seumur hidupnya menjadi seorang pengawal dirumah ini, baru kali ini dia menemukan seorang 'Nona' seperti Kyungsoo yang memiliki rasa khawatir berlebihan pada seorang pelayan.
"Kenapa diam Ravi?" Kyungsoo kali ini mejerit tak sabaran, menyadarkan Ravi. Lelaki bertubuh kekar itu kemudian bergerak membantu Momoi untuk pergi kekamarnya.
"Aku baik–baik saja nona, kumohon jangan terlalu cemas. Aku akan pergi istirahat dan minum obat, nanti kuminta Ara agar menggantikanku sementara."
"Diamlah Momoi! Aku tak peduli itu, yang penting sekarang kau harus istirahat, mengerti?" Momoi mengangguk dengan senyum lemah. "Terimakasih nona," Gumannya sebelum pergi dari kamar itu bersama Ravi. Kyungsoo tinggal dikamarnya dan menghembuskan nafas pelan. Dia harus segera membersihkan diri dan memastikan bagaimana keadaan gadis itu, ah jika perlu dia akan meminta Jongdae untuk memanggil dokter.
.
.
.
"Ara?" Kyungsoo yang baru saja membuka pintu kamar mandi itu sedikit tersentak mendapati Ara yang sudah ada dikamarnya, gadis itu tengah mengganti sprai dan gorden jendela yang mulanya berwarna putih melati itu menjadi warna semerah bunga camellia.
"Nona sudah selesai mandi?" Ara tersenyum kecil. "Momoi sakit dan aku akan menggantikannya sementara waktu sampai dia sembuh." Lanjutnya menjelaskan keberadaannya disini, Kyungsoo mengangguk mengiyakan, dia melempar handuk putih yang tadinya dia gunakan untuk mengusap rambut basahnya kedalam keranjang disamping pintu kamar mandi dan berjalan kearah meja rias. Ara masih memperhatikan apa yang Kyungsoo lakukan melalui sudut mata disela kegiatannya mengganti bunga mawar yang sudah layu dipot sudut ruangan, setelah selesai dia segera menghampiri Kyungsoo dan membantu gadis manis itu mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
"Terimakasih," Ucap Kyungsoo pelan membiarkan Ara mengambil alih benda hitam tersebut, Kyungsoo kemudian hanya diam menunggu sampai rambutnya kering.
"Bagaimana keadaan Momoi?"
"Momoi?"
"Ya,"
"Dia sudah pergi berobat dan sedang istirahat dikamarnya nona, mungkin dia hanya kurang istirahat," Jawab Ara pelan.
"Hah, dia pasti kelelahan karna terus–terusan menemaniku," Ucap Kyungsoo dengan nada penyesalan sementara Ara hanya tersenyum simpul.
"Bukankah itu tugas seorang pelayan?"
"Ya, tapi.."
"Seorang pelayan harus siap menerima resiko apapun demi tuan dan nyonya mereka. Jadi nona jangan pernah merasa bersalah." Ara meletakkan pengering rambut itu diatas meja dan beralih mengambil sisir untuk menyisir rambut Kyungsoo sehingga rambut hitam panjang itu terurai dengan cantiknya.
"Nah selesai, anda harus turun untuk makan malam."
"Kau tidak ikut?"
"Aku masih harus membereskan pekerjaanku nona," Ara menunjuk tumpukan sprei dan gorden yang menjadi satu dilantai dan respon Kyungsoo hanya senyuman manis.
"Yasudah, susul aku jika kau sudah selesai."
"Baik nona," Ucap Ara mengangguk membiarkan Kyungsoo melangkah meninggalkan kamarnya sementara dia masih harus tinggal untuk menyelesaikan sisa pekerjaan melelahkannya.
.
.
.
Suasana makan malam kali ini terlihat berbeda dari biasanya, jika pada hari–hari sebelumnya Kyungsoo selalu duduk berdua dengan takut–takut dihadapan Kai, kini gadis itu hanya duduk sendiriian dikursi makan dengan berbagai macam makanan yang berjejer rapi diatas meja.
"Aku kan hanya makan sendiri, kenapa kau masak banyak sekali sih?" Xiumin hanya tertawa sebagai respon kekesalan Kyungsoo, gadis berpipi bakpao itu kemudian kembali meletakkan sesendok sup daging ke mangkuk Kyungsoo.
"Nona harus makan agar tetap sehat, aku tidak mau tuan Kim memenggal kepalaku karna mendapati diri anda kurus saat beliau pulang."
"Xiu!" Kyungsoo memutar bola matanya malas sambil mengunyah daging panggangnya. "Berhentilan bicara formal padaku! Kita kan teman," Lanjut Kyungsoo setelah menelan daging dimulutnya. Xiumin hanya tersenyum simpul.
"Baiklah." Ucapnya menyerah.
"Mau jus atau susu?"
"Jus."
"Oke, tunggu sebentar."
Xiumin lalu kembali kedapur mengambil pesanan Kyungsoo, meninggalkan gadis bermata bulat yang masih asik dengan daging panggangnya itu. Seseorang lalu muncul dari pintu tengah, sosok Jongdae memasuki ruang makan dengan senyum khasnya.
"Nona Kyungsoo," Sapanya.
"Oh. Jongdae, kau sudah makan malam?" Balas Kyungsoo tersenyum. Jongdae adalah pengacara Kai yang dimaksudkan untuk menjaganya bersama Ravi. Kyungsoo baru mengenalnya tadi pagi dan sifat Jongdae yang santai namun bersahaja itu membuat keduanya mudah akrab dengan cepat.
"Tidak terimakasih." Jongdae menjawab dengan gelangan kepala, dia kemudian mengambil kursi dan mendudukinya tepat didepan Kyungsoo.
"Bagaimana hari anda?"
"Membosankan," Sahut Kyungsoo tersenyum lebar dan Jongdae juga melakukan hal yang sama. Lelaki itupun diam, membiarkan Kyungsoo menyelesaikan makannya, disaat yang sama Xiumin juga muncul dari dapur dengan satu ketel kaca besar berisi jus orange ditangannya, koki wanita itu sempat terkejut menemukan suaminya berada disana, namun sebisa mungkin dia mencoba bersikap biasa.
"Jusmu datang," Xiumin menuangkan cairan berwarna orange itu kegelas Kyungsoo dan gadis bermata bulat itu menerimanya dengan senang dibarengi gumanan terimakasih, meneguk pelan–pelan jusnya sampai kandas sebelum meraih ujung serbet dan mengusap bibirnya. Makan malam sendirinya telah selesai.
"Kau tidak memberikan jus untukku?" Jongdae bertanya pada sosok Xiumin dengan alis sebelah yang terangkat.
"Anda juga mau?"
"Tentu saja." Jongdae hanya tersenyum simpul melihat wajah koki wanita tersebut yang sempat merengut sebal beberapa detik yang lalu, gadis itu lalu menuangkan jus itu kedalam gelas lain dan menyerahkannya dengan sopan kepada Jongdae.
"Terimakasih," Guman Jongdae dibarengi kedipan nakal yang membuat Xiumin malu dan segera pergi dari sana. Kyungsoo yang melihat itu sempat terbengong kecil sebelum mengulum senyum. Aa, pasti ada apa–apa diantara mereka berdua.
"Jongdae,"
"Ya nona?"
"Aku ingin bertanya sesuatu, apa boleh?"
"Tentu." Jongdae meletakkan gelasnya diatas meja makan kemudian menatap Kyungsoo serius. "Nona ingin bertanya tentang apa?"
"Kai dan Chanyeol," Ucap Kyungsoo pelan, dia meremas kedua tangannya yang bertautan diatas paha dengan gelisah. Dia hanya ingin tahu apakah yang Chanyeol katakan padanya kebenaran atau bukan.
"Apa Chanyeol berbuat sesuatu pada anda?" Tanya Jongdae mulai serius. Pasalnya dia tidak tahu apa yang Park itu lakukan selain berbincang dikebun belakang bersama Kyungsoo, dia tidak bisa mengawasinya seperti Ravi karna itu akan membuat kecurigaan.
"Tidak."
"Apa Chanyeol mengatakan sesuatu?"
"Ya." Kali ini jawaban Kyungsoo membuat Jongdae menahan nafas sebentar. Kyungsoo mendongak dan menatapnya, seperti bersiap akan mengutarakan sesuatu.
"Chanyeol bilang jika dia dan Kai adalah saudara tiri, apa itu benar?"
Pasti itu!
Jongdae tersenyum simpul mendengarnya, dia menatap penuh wajah Kyungsoo yang terlihat sangat penasaran itu. Si Park itu sudah memulai!
"Benar." Jawabnya simple dan Kyungsoo diam–diam menghembuskan nafasnya yang sempat tertahan beberapa detik yang lalu. Jadi cerita Chanyeol itu benar!
"Tapi kenapa mereka terlihat sangat bermusuhan?"
"Kai punya sebuah alasan yang tidak bisa aku katakan pada anda nona. Intinya, dia membenci Chanyeol dan melarang apapun yang berhubungan dengan saudara tirinya itu."
"Apakah itu termasuk aku?"
"Tentu." Jongdae tersenyum kembali. "Aku tidak tahu bagaimana responnya jika dia tahu bahwa Chanyeol berkunjung dan mengobrol dengan anda." Lanjutnya. Kyungsoo hanya diam mendengarkan, namun dalam hati dia bersyukur karna dia menolak tawaran Chanyeol pagi tadi.
"Apa mereka sebegitu saling membencinya?"
"Begitulah."
"Apa tidak ada cara agar membuat mereka berdamai?"
"Kurasa tidak," Jongdae terkekeh melihat raut Kyungsoo yang terlihat kecewa. "Kebencian mereka baru akan hilang jika salah satu diantara mereka pergi atau mati, mungkin." Kyungsoo sontak melebarkan diameter matanya itu, terkejut. Sebegitu bencinyakah dua saudara itu? Padahal merekakan masih sedarah, kenapa harus dibatasi oleh kebencian? Apa sebenarnya penyebab kebencian diantara mereka berdua? Kyungsoo jadi penasaran. Lagi, dia memutuskan bahwa dia harus bertahan dan menemukan jawaban dari pertanyaannya ini.
.
.
.
Kai kembali ke hotel tempatnya menginap setelah hampir seharian ini waktunya terkuras untuk rapat. Lelaki dengan setelan jas hitam itu memasuki lift yang kebetulan kosong dengan Sehun yang setia dibelakangnya.
Ting!
Lift berjalan menuju lantai dua puluh dimana kamarnya berada. Sebuah getaran dia dapatkan disaku celananya, lelaki itu kemudian mengeluarkan ponselnya. Langsung menempelkan benda hitam yang akan otomatis menerima panggilan itu ketelinga kirinya.
"Jongdae," Ucapnya, dahi kerasnya kemudian mengernyit, memperhatikan apa yang tengah pengacaranya itu katakan di sebrang sana. Sementara Sehun masih setia dibelakangnya dengan wajah datar yang terlihat lelah. Seharian rapat tanpa jeda memang sudah biasa baginya, namun efeknya pasti akan dia terima sebentar lagi. Ah, dia harap dia bisa sampai dikamarnya dan merebahkan tubuh remuknya diatas ranjang.
Ting!
Pintu lift terbuka dan dia mengikuti langkah kaki tuannya untuk keluar dari benda kotak itu. Kai yang masih fokus pada ponselnya itu berhenti dan menatap Sehun, memberi kode pada assistennya itu agar pergi kekamarnya. Paham dan mendesah lega dalam hati, Sehun membungkuk pelan dan berjalan dengan tenang menuju kearah kamarnya yang berada paling ujung.
"Si keparat itu sudah mulai berulah rupanya." Kai mengguman, dia memasuki kamarnya yang sudah terang karna lampunya akan otomatis menyala, lalu dia melepaskan sepatu fantofel hitamnya masih dengan ponsel ditelinganya.
"Aku akan mengambil penerbangan pulang dua hari lagi karna aku masih ada urusan besok, pastikan kau tetap mengawasinya." Kai lalu memutuskan sambungan telfon dengan geraman. Sial! Si Park itu datang kerumahnya dan menemui Kyungsoo disaat dirinya sedang pergi. Seharusnya Kai membawa ikut serta Kyungsoo ikut, tapi itu bukan ide yang bagus, karna dia harus menyelesaikan 'pekerjaan' pentingnya disini tanpa diketahui oleh siapapun. Cih! bajingan itu memanfaatkan kepergiannya untuk bertemu dengan Kyungsoo rupanya. Kai lalu menelfon sebuah nomor dikontak ponselnya, ekor matanya melirik kearah jam besar di dinding ruang tengah, ini sudah malam tapi persetan! Kai sangat merindukannya. Terdengar dua kali nada sambung sebelum sebuah suara halus menjawabnya.
"Hallo?" Kai menyeringai, tangannya yang bebas tak menggenggam ponsel mulai menarik lepas dasi yang mencekik lehernya.
"Kau sudah tidur?"
"Hampir, jika saja kau tidak menelfon." Sahut sebuah suara dari sebrang, Kyungsoo.
"Jadi aku mengganggu tidur nyenyakmu?"
"Tidak apa. Jikapun aku marah, kau yang tetap akan menang." Lelaki tan itu tanpa sadar terkekeh mendengar kalimat Kyungsoo barusan, sadar tak sadar Kyungsoo baru saja menyatakan sendiri bahwa dia tidak bisa membantah apapun yang Kai inginkan.
"Bagaimana dengan London?"
"Buruk,"
"Benarkah? Sehun pasti lelah menemanimu." Dahi Kai sedikit mengernyit mendengar ucapan Kyungsoo. Hei, gadis ini bercanda ya? Kenapa dia malah menghawatirkan assitennya itu daripada dirinya? Dia disini kan juga sama–sama bekerja.
"Kau tidak mengira aku lelah?" Tanpa sadar lelaki itu berucap dengan sinis, dia kemudian mendekati dinding kaca yang tidak menyembunyikan kota London, berdiri disana dengan tenang. Pantulan antara lampu–lampu kota dan dinding kaca mencerminkan bagaimana ekspresinya yang kini terlihat datar. Ada suara tawa halus dari sebrang dan Kai yakin bahwa Kyungsoo saat ini pasti sedang tertawa senang.
"Tentu saja, kau harus istirahat setelah ini." Ucap Kyungsoo berseru dari sebrang, membuat seringaian muncul disudut bibir lelaki itu.
"Dimana kau tidur?"
"Um?"
"Dimana kau tidur?"
"Kamarku, tentu saja. Kenapa?"
"Tidak. Apa yang kau lakukan seharian ini?"
"Um, ti–tidak ada, hanya berdiam dan bosan." Mata lelaki itu memincing. "Benarkah?" Meski dia tidak bisa melihat wajah Kyungsoo saat ini, namun dia yakin jika nada suaranya barusan cukup membuat Kyungsoo menunduk takut seperti biasa. Kyungsoo berbohong!
"Um, sebenarnya tadi–"
"Park Chanyeol datang berkunjung?" Tebaknya dan ada keheningan sejenak sebelum Kyungsoo menjawab dengan suara takut. Seharusnya gadis itu sadar dan bicara jujur karna Kai punya banyak 'mata' yang bisa melaporkan apapun yang terjadi dirumahnya.
"I–iya, maafkan aku." Suara dari sebrang terdengar lirih dan Kai hanya menghembuskan nafasnya kasar.
"Pergilah tidur." Ucapnya dingin, berniat memutuskan sambungan jika Kyungsoo tidak angkat bicara.
"Tunggu! Kau marah padaku? Maafkan aku Kai, sungguh aku tidak tahu jika dia akan datang, aku hanya mengobrol dengannya saja. Percayalah."
"Tidur Kyungsoo!"
"Tapi–"
"Kyungsoo!" Seharusnya Kyungsoo sadar bahwa hanya dengan mendengar suara dinginnya saja sudah mampu membuat Kyungsoo bungkam, gadis disebrang sanapun hanya diam sebelum berguman lirih.
"Baik, selamat malam." Gumannya dan sambunganpun terputus. Kai menghela nafas keras, membanting ponselnya keatas sofa dengan geram.
"Park Bangsat!" Umpatnya.
.
.
.
Malam itu Ravi sedang berjalan–jalan melakukan patroli disekitar rumah, memeriksa apakah para pengawal disana bekerja dengan baik atau tidak. Setelah selesai dan memastikan bahwa semua aman dan baik, dia kemudian memasuki ruang tengah dan berpapasan dengan salah seorang pengawal.
"Kau darimana? Bukankah ini waktumu berjaga?" Tanya Ravi menyipitkan mata, sementara pengawal didepannya hanya tertawa.
"Tentu, aku baru saja dari dapur untuk makan malam hyung. Dan sekarang aku sudah siap!" Ucapnya ceria, memperlihatkan wajahnya yang terlihat polos dan mampu mengelabuhi siapapun jika dia adalah seorang pengawal.
"Oke." Ravi mengangguk. "Kembalilah bekerja." Ucapnya dan lelaki satunya mengangguk sambil berlari keluar dari ruang tengah. Ravi kemudian kembali melangkah, kali ini memasuki dapur dimana Jongdae sedang minum kopi disana. Ada Xiumin dan satu pelayan wanita yang masih sibuk membereskan peralatan makan dari porselan diatas meja.
"Oh, Ravi." Sambut Jongdae, menyuruh Ravi duduk disebelahnya, kemudian meminta pelayan yang membantu Xiumin itu untuk memuat kopi untuk Ravi. Kini hanya ada mereka bertiga disana.
"Chanyeol sudah memulai aksinya, kita harus bersiap tentang ulah selanjutnya." Jongdae membuka pembicaraan sementara Xiumin yang sibuk mengelap peralatan makan itu hanya diam namun mendengarkan.
"Tentu! Nona Kyungsoo terancam karna tuan Kai tidak ada disini," Ravi menambahi, dia tahu, tentu saja. Hanya beberapa orang penting dan terpecaya sajalah yang tahu semua seluk beluk tentang tuan besar disini, Kim Kai. Salah satunya Ravi, dia orang terpercaya yang tahu apa yang terjadi.
"Hm, ini bahaya. Chanyeol punya peluang untuk melakukan sesuatu."
"Aku akan mengetatkan penjagaan." Ucap Ravi, kemudian pelayan yang diminta membuat kopi oleh Jongdae datang, meletakkan secangkir kopi hitam didepannya.
"Terimakasih," Ucap Ravi dan si pelayan hanya merespon dengan senyum diiringi lirikan ekor matanya. Dia lalu kembali bekerja dan pembicaraan rahasia itu terhenti berganti menjadi obrolan ringan antara Jongdae dan Ravi.
.
.
.
Malam kedua kepergian Kai dan kebosanan Kyungsoo menjadi–jadi karna Momoi saat ini sedang sakit. Ara yang menjadi penggantinya pun tak bisa menemaninya full seperti Momoi karna dia juga merangkap sebagai pelayan rumah. Seharian ini Kyungsoo habiskan untuk berkebun bersama Ilhoon dan memasak bersama Xiumin, namun tetap saja seperti ada yang kurang dalam harinya. Tak ada tatapan tajam, tak ada ancaman dingin dan segala hal yang membuatnya gugup ataupun takut. Ah, apa Kyungsoo merindukan sosok Kai? Entahlah. Jikapun Kyungsoo ditanya dia tidak tahu, namun jauh didalam hati kecilnya dia tidak bisa berbohong jika dia memang merindukan lelaki itu. Dia sudah cukup lama disekap disini dan melihat sosok Kai yang menakutkan sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi matanya, dan dia berharap bahwa lelaki itu akan cepat pulang, tanpa sadar Kyungsoo tersenyum seorang diri. Ah, ada apa dengannya?
"Momoi baik–baik saja, dia sedang istirahat nona."
"Ya." Kyungsoo mengintip melalui celah jendela kamar Momoi dan mendapati gadis itu tengah terlelap dengan selimut tebal membalut tubuhnya. Kyungsoo lalu mundur dan dia menatap Ara yang setia berdiri dibelakangnya.
"Sudah malam, mari kuantar kekamar nona untuk istirahat." Ara tersenyum dan Kyungsoo mengangguk mengiyakan. Gadis bermata bulat yang cantik dengan gaun tidur terusan berwarna golden itupun melangkahkan kakinya menuju kembali kedalam rumah. Kamar khusus untuk para pelayan ataupun pengawal rumah ini ada dibelakang, terletak lumayan jauh dari rumah utama dan dihubungkan dengan sebuah lorong panjang yang terbuka. Langkah kecil Kyungsoo bergema dengan derap langkah Ara dibelakangnya. Keduanya terdiam, membiarkan langit malam menyapa dalam keheningan.
Drap!
Drap!
"Ara?"
"Ya nona?"
"Apa kau merasa sedang diawasi?" Kyungsoo menghentikan langkahnya dan sontak Ara juga melakukan hal yang sama, pelayan wanita itu mengernyitkan dahinya dan menatap sekeliling yang remang–remang karna cahaya lampu yang minim.
"Tidak ada siapapun nona, hanya kita berdua." Jawabnya. Kyungsoo terdiam, dia menatap sekeliling dengan curiga. Entah hanya perasaannya atau apa, tapi dia dengan jelas mendengar sebuah derap langkah lain selain derap langkah miliknya dan milik Ara dibelakangnya tadi. Kyungsoo lalu berjalan kesekeliling dan melihat dibalik pilar besar, namun tidak ada apapun. Atau ini hanya perasaannya saja?
"Nona ada apa?" Ara bertanya khawatir dan Kyungsoo menggelang. Ah, ini hanya perasaannya saja. Yah! Mungkin dia terlalu lelah berkebun tadi pagi hingga merasa bahwa dia tengah diawasi saat ini.
"Udara semakin dingin nona, ayo masuk." Kyungsoo mengangguk, dia kemudian berbalik dan kembali melangkah melewati lorong tersebut, dia sepertinya harus tidur. Namun saat baru mendapat beberapa langkah, dia kembali mendengar derap langkah itu lagi dan kali ini dibarengi pekikan sakit milik Ara.
"AHK!" Kyungsoo berbalik cepat demi mendapati Ara yang sudah jatuh pingsan dilantai dan seseorang dengan wajah tertutup yang tengah memegang sebuah balok kayu. Mata Kyungsoo sontak membulat, merasa bahwa tengah ada bahaya, dia kemudian berbalik berniat lari, namun sepertinya dia harus menelan kecewa karna lelaki dengan wajah tertutup dan berbaju serba hitam itu sudah mengejarnya dan membekap mulutnya dari belakang terlebih dahulu.
"Mmmph!" Kyungsoo mulai meronta saat tangan lebar itu membekap mulutnya dengan sebuah sapu tangan. Dia mencoba memberontak dan berteriak, tapi semua itu sia–sia, lalu sebuah aroma menusuk yang berasal dari sapu tangan itu tiba–tiba membuatnya luar biasa mengantuk dan hal terakhir yang dia fikirkan hanyalah kegelapan dan harapan kecil bahwa ada seseorang yang akan datang untuk menolongnya.
.
.
.
Kai baru mencapai hotel saat ponsel disaku jasnya bergetar, dengan segera lelaki itu meraih benda hitam tipis itu dan meletakkannya ditelinga kirinya.
"Ada apa?" Tanyanya to the point sambil melangkah menuju lift, lalu terdengar sebuah suara panik dari sebrang sana yang memberikan kabar buruk bahwa tengah terjadi sesuatu saat ini, dan sontak itu membuat langkahnya terhenti tepat didepan lift, membuat Sehun yang setia dibelakangnya bertanya apa yang tengah terjadi.
"APA? BAGAIMANA BISA? BANGSAT APA SAJA PEKERJAANMU HAH?" Kai langsung berteriak begitu Jongdae menjelaskan apa yang tengah terjadi. Lelaki itu tak jadi memasuki lift, berdiri dengan tangan mengepal kuat serta tatapan mata menggelap.
"Brengsek!" Kai kembali mengumpat dan Sehun yang diam dibelakangnya mulai yakin bahwa tengah terjadi sesuatu yang buruk saat ini. Kai menutup panggilan setelah melontarkan ancaman penggal kepada semua orang jika Jongdae tak bisa menyelesaikan permasalahan –yang entah apa Sehun belum tahu– kini Kai berbalik menatap Sehun membuat lelaki pucat itu menegang takut karna menyadari bahwa tatapan itu telah berubah menyeramkan.
"Siapkan penerbanganku satu jam lagi,"
Apa? Satu jam lagi? Dijam malam seperti ini? Oh ayolah, maskapai manapun akan menolaknya jika memesan tiket penerbangan secara mendadak seperti ini.
"Tapi jadwal penerbangan kita besok pagi," Jawab Sehun dengan tenang meski jauh didalam hatinya dia berdebar–debar.
"Kau fikir aku peduli?" Ucap Kai sengit.
"Persiapkan satu jam lagi atau aku akan membunuhmu Sehun!" Sehun diam.
"Tapi, itu sulit. Tidak ada pesawat yang lepas landas malam ini,"
"Apakah Negara ini tidak punya Jet?" Kai lalu menggeram. "Gunakan otakmu atau aku akan mencabut otakmu dari tempatnya." Kai benar–benar murka dan lelaki itu melayangkan pukulan telak kepipi Sehun yang masih diam, membuat lelaki pucat itu mundur kebelakang. Sambil memegang sudut bibirnya yang berdarah dia membungkuk kecil.
"Baik." Ucapnya dan dia segera berbalik dari sana, mencari apa yang tuannya inginkan atau jika tidak tuannya itu akan benar–benar membunuhnya. Sehun tidak tahu apa yang tengah terjadi di Korea sana, tapi pastinya terjadi sesuatu yang sangat genting sampai–sampai Kai mendadak ingin kembali ke Korea meski jadwal penerbangan pulangnya masih besok pagi.
.
.
.
"Byun, kau dipanggil atasan."
Gadis didepan computer itu mendongak sejenak dan menemukan gadis bertubuh mungil dengan mata sipit itu bersandar dikusen pintu ruangannya. Gadis yang dipanggil Byun itu menurunkan kacamatanya dan mengerutkan dahinya. Ada apa bossnya itu dijam segini memanggilnya?
"Ada apa?"
Si gadis bermata sipit mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu, dia hanya menyuruhku untuk memanggilmu, cepatlah datang. Sepertinya ada sesuatu yang sangat serius." Si gadis didepan computer mengangguk kemudian segera berdiri, setelah merapikan pakaiannya sebentar, dia kemudian menghampiri rekan kerjanya itu.
"Terimakasih Camara." Si gadis bermata sipit bernama Camara hanya tersenyum kemudian dia berbalik pergi menuju ruangan lain. Segera si Byun melangkah kearah lift untuk menuju lantai paling atas di gedung tempatnya bekerja ini.
Ting!
Lift terbuka dan segera kaki–kaki mungil itu menuju sebuah ruangan dimana pemimpin tertinggi gedung ini berada, suara ketukan heels hitamnya dengan lantai saling bersahutan memenuhi ruangan lenggang itu. Setelah mengetuk pintu dan mendengar sahutan dari dalam, dia segera membuka pintu dan menemukan pria tinggi dengan rambut pirangnya tengah menunggu diatas kursi singgasananya.
"Ada apa tuan?"
"Duduklah." Perintahnya dan gadis itu segera mendudukkan dirinya dikursi tepat didepan pemimpinnya tersebut, Kris Wu.
"Ada hal penting?" Kris Wu berdehem sejenak dan menatap gadis didepannya lekat.
"Kurasa sudah waktunya untuk pergi Baekhyun." Si pirang tegap mulai bicara dengan gaya bicaranya yang tegas. "Tugasmu sudah selesai disini dan sudah saatnya kau kembali pada tuanmu yang sesungguhnya." Kalimat Kris barusan sontak membuat gadis bernama lengkap Byun Baekhyun itu terdiam dengan sejuta pertanyaan memenuhi otaknya. Apa maksudnya ini?
"Maksud tuan?"
"Ya. Kau sudah terlalu lama disini dan ini waktumu untuk kembali,"
"Aku tidak mengerti," Ucap Baekhyun. Kris tersenyum kemudian mengusap dagunya sejenak.
"Ku anggap kau hanya shock. Setelah ini bersiaplah dengan cepat, karna tuanmu sudah datang menjemputmu."
"Apa?"
"Ah, itu dia." Baekhyun yang masih bingung sontak tersentak saat mendengar suara pintu yang terbuka, dengan segera dia membawa pandangannya kearah pintu dan menemukan seseorang yang Kris anggap sebagai tuannya itu. Setelah tatapannya terpaut dengan tatapan orang itu, barulah dia sadar dan bibirnya terbuka menyebut nama seseorang yang sangat keramat baginya itu.
"K–Kau.."
.
.
.
.
.
Tbc!
.
.
.
.
.
HAPPY BIRTHDAY KYUNGSOO!
HAPPY KAISOO DAY!
HAPPY BIRTHDAY KAI!
SEMOGA APPA DAN UMMA SALING BAHAGIA, SALING MENYAYANGI DAN MENJAGA SATU SAMA LAIN.
SEMOGA TAK ADA PERTENGKARAN, TAK ADA ORANG KETIGA DAN SEMOGA KALIAN BERDUA BERSATU SAMPAI KAPANPUN!
KAISOO SARANGHAE!
.
Selamat buat yang berhasil menebak 'Kyungsoo menolak ajakan kabur Chanyeol' *YEHET!
XiuChen ternyata PASUTRI! XDD
NAH!
Kira–kira adakah yang tahu siapa orang yang menculik Kyungsoo dan dalang dibalik semuanya?
Dan,
YEE! Mbak yuni muncul!
Kira–kira siapa ya tuannya Baekhyun?
Silahkan kalian fikirkan baik–baik dan TEBAK! Yang berhasil nebak dan bener, bakal dapet hadiah TIKET EXO LUXION PLANET VVIP IN JAKARTA 27 FEBRUARI 2016! Special dari SUHOLANG KAYA *HAHA* XDD *BAPER -.-
.
Q : Gimana Chanyeol bisa masuk? Kan banyak pengawal dan penjaga.
A : Udah dijawab disini ya say. Jadi emaknya mas cahyo sama bang kai dulu itu bikin perjanjian, kalo anak-anak mereka berdua punya kesempatan untuk saling berkunjung sekali dalam dua tahun. Ini gunanya untuk menjaga persaudaraan mereka meskipun nyonya sandara dan nyonya chaerin tahu kalo anak-anak mereka kaga akur dan saling membenci.
Q : Maaf mau nanya, boleh kan? Boleh dong, wkwkwk. Di chap dua pas adegan Kyungsoo ngga mau makan itu apakah terinspirasi dari sebuah novel? Karna aku baru membaca sebuah ff dan dialognya sama persis.
A : Aku uda nulis di bagian terakhir cuap–cuap, pasti ngga dibaca ya? XDD Memang adegan itu aku terinspirasi dari sebuah novel yang judulnya 'Sleep with the devil' punyanya mbak santhy Agatha. Sebenernya aku Cuma baca tuh novel sekali dan ngga nyangka kalo ternyata dialog antara fanfictku sama novelnya sama, jujur aku ngga tahu karna aku bukan tipe orang dengan ingatan kuat XDD Dan jikapun sama itu pasti Cuma kebetulan ^^
Q : Coba deh kamu cari cara pembuatan Foi Grass, jika tahu bagaimana cara pembuatannya, pasti Kyungsoo yang hatinya lembut itu nggak akan mau makan makanan itu.
A : Aa, aku nggak tahu dan nggak pernah makan makanan prancis *ngenes* Jadi aku nggak tahu bagaimana bentuk dan cara pembuatan tuh makanan, saya mengetahuinya sebatas dari google ^^ Maafkan akuh T.T
Q : Ini mirip sama ff journey sama sexy rose!
A : Jujur aku ngga pernah baca ff Journey *sumpah* kalo Sexy Rose, uwaaa itu salah satu ff kaporit aku ^^ Aku terispirasi dari banyak ff, tidak hanya Sexy rose saja kok ^^
Q : Chanyeol sama Kai saudaraan tiri?
A : Ha'ah! Kan mas cahyo udah ngaku tuh ^^
Q : Itu makam siapa? Istrinya? Ibunya? Adiknya? Atao siapa?
A : Itu masih rahasia ya, nanti jika sudah tanggal main pasti bakal terungkap makam siapa itu.
Q : Hanbin dimana?
A : Hanbin sama bobby masih dirumah say, lagi ngapelin Laxy *HAHA*
Q : Moment Hanbin–Bobby dibuat GS.
A : Aa, ampun! Dalam kamus saya, Pantang meng–GS'Kan seorang leader atau rapper. Aniooo, maaf aku ngga tega membuat Hanbin atau Bobby menjadi wanita, tampang mereka kan cowo' bangettt XDD
Q : Garasi not bagasi XDD
A : Sorry guys THYPO. Berarti aku nggak teliti XDD
Ada lagi kah? ^.^
.
Laxy uda fast updateee lhooo dihari bahagia kaisoo ini!
Terimakasih atas segala kritik kalian semua *kecup* Entah itu berupa pujian ataupun sesuatu yang membuat saya mental breakdown! Hiyaaa, makasih ya! Review kalian semua sangat membantu dan saya sangat menghargai itu *tebarreceh *digepuk *kidding XDD
Salam kenal buat pendatang baruuu, semoga betah dan sudi(?) membaca fanfict ini T^T Dan buat readers lama/? Terimakasih karna mau setia membaca fanfict ini ^^
Makasih atas dukungannya, yang berbaik hati coret-coret dikolom review, terutama buat yang sering ngirim PM *HAHA*!
Ohya! Menurut kalian cocok nggak sih sosok Junet meranin assisten Chanyeol yang jahat? Hahaha! Soalnya muka tuh bocah kan sinis meski ngemesin, maknae kurang ajar lagi. Sekedar informasi mungkin yang ngga tahu, Junhoe itu member iKON ya ^^
.
THANK'S FOR FOLLOWING, FAVORITE & REVIEW!
DON'T FORGET RCL!
SEE YOU NEXT CHAPTER
AND
SARANGHAE!
HAPPY KAISOO DAY!
