"Entahlah. Aku hanya berpikir bahwa ini semua hanya tentang bisnis, jadi aku tidak banyak komentar saat dijodohkan. Tapi aku tidak memiliki rasa apapun padanya." ucap Chanyeol jujur. "Lagipula laki-laki Cina itu juga sepertinya tidak menyukaiku."
Baekhyun menatap laki-laki jangkung itu dengan alis bertautan. "Kau tahu'kan bagaimana cemburunya dia saat kau bilang kita ini pacaran? Bagaimana mungkin dia tidak menyukaimu? Dia itu seperti terobsesi padamu!" protesnya.
"Terobsesi itu tidak sama dengan cinta, Tuan Byun."
Baekhyun menatap Chanyeol datar.
Wow, jadi sekarang dia adalah semacam love expert, hah? –batin Baekhyun.
"Really? Lalu apa definisi cinta menurut pandanganmu, Tuan Park?"
Chanyeol menatap lurus ke depan. "Entahlah. Aku belum bisa mendefinisikannya karena aku sendiri belum pernah merasakannya. Tapi aku setuju dengan beberapa pendapat orang mengenai cinta."
"Misalnya?"
"Aku setuju bahwa cinta itu seperti angin –tak bisa dilihat tapi bisa dirasakan. Aku juga setuju bahwa cinta itu seperti penyakit anorexia –tidak terdeteksi kedatangannya tetapi cepat pertumbuhannya. Dan aku percaya bahwa cinta itu tidak buta, hanya melumpuhkan logika." tutur Chanyeol, membuat laki-laki pendek di sampingnya berdecak kagum. "Kau tahu? Kebanyakan orang yang benar-benar jatuh cinta tidak akan memakai logikanya dalam memutuskan sesuatu, tetapi akan menggunakan emosinya meskipun itu terdengar tidak masuk akal."
Baekhyun mengangguk setuju dengan kalimat terakhir Chanyeol. Kini mata sipitnya ikut menatap lurus ke depan –seperti Chanyeol. "Menurutmu orang yang dijodohkan begitu akan benar-benar bisa jatuh cinta?"
"Tentu saja bisa, meski kemungkinannya kecil. Orangtuaku misalnya. Mereka dijodohkan, tetapi mereka sebenarnya juga saling menyukai."
Baekhyun tidak merespon. Dia berpikir apakah itu benar-benar terjadi dalam dunia nyata karena ia belum pernah merasakannya.
"Orangtuamu bagaimana?" Chanyeol balik bertanya seraya menoleh ke arah Baekhyun.
Baekhyun menghela napas panjang. "Seperti yang kau lihat. Mereka bercerai dan jatuh cinta pada orang lain..," Baekhyun berhenti sejenak –merasa tak yakin dengan ucapannya sendiri, "..mungkin."
"Apa Eomma-mu tulus mencintai Abeoji-ku?" Baekhyun hanya bisa mengangkat bahunya –tanda ia juga tidak tahu jawabannya. Chanyeol tak berbicara selama beberapa detik, hanya memperhatikan wajah Baekhyun. "Kau tidak menyukai Kim Jongin?"
"Aku hanya tidak suka hidupku diatur-atur oleh orang lain."
"Jadi, kau menyukai Kim Jongin?"
"Ck! tentu saja tidak."
Chanyeol menyeringai. "Jadi, kau menyukaiku?"
"Ew, no! Gosh." pekik Baekhyun, merasa agak jijik. Wajah Chanyeol benar-benar terlihat menyebalkan sekali di mata Baekhyun.
"Kau mau kubuat jatuh cinta padaku?" Chanyeol mengerling genit.
Baekhyun menatapnya datar kali ini. "No, thanks. Bisakah kau sedikit fokus pada rencana kita?"
"Arasseo, arasseo. Aku'kan hanya bercanda." Chanyeol berdecak kesal di antara kalimatnya. "Kau itu benar-benar tidak manis, begitu saja marah." desisnya pelan, namun –sialnya–terdengar jelas oleh Baekhyun.
"Aku mendengarnya."
Chanyeol mendengus. "Yak, kau tahu? Menurutku sikap Minah jauh lebih manis darimu."
Baekhyun tahu benar Park Chanyeol sedang meledeknya terang-terangan dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan, tapi apa pengaruhnya bagi Baekhyun? Psh.
"Aku ini laki-laki, Park Chanyeol. Dan Minah adalah perempuan. Tentu saja dia lebih manis dariku. Astaga. Lagipula, Minah itu sudah memiliki kekasih." Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menyesap minumannya.
"Jadi kalau Minah belum memiliki kekasih, aku boleh menjadikannya kekasihku?"
BRUSH! –Baekhyun menyeburkan minumannya refleks.
.
.
.
###
BREAKING THE ENGAGEMENT
Chapter 7 – Trapped
by Pupuputri
Main Casts : Byun Baekhyun & Park Chanyeol
Support Casts : Kim Jongin, Oh Sehun, Xi Luhan, Kim Jongdae, Wu Kris
Genre : Romance, School Life, Fluff, Drama
Rate : T
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
Note: Pertama-tama, saya mau minta maaf karena udah nganggurin FF ini sampe sebulan lebih. Sebenarnya FF ini tinggal diedit aja, tapi sumpah saya males banget udat-edit #plakk! Dan sebagai permintaan maaf, saya tambahin tiga halaman ekstra buat readers tercinta yang protes karena chapter sebelumnya pendek dan kurang ChanBaek moment-nya. Di chapter ini, ada adegan klasiknya. Baekhyun dijebak sama seseorang dan dikurung sama satu cowok di satu ruangan. Gimana? Penasaran? Cekidot!
###
.
.
.
Baekhyun menatap Chanyeol tak percaya. "Apa yang kau pikirkan?! Menjadikanmu kekasihku saja sudah membuatku frustasi, apa yang membuatmu berpikir aku akan memberikan adikku padamu?!"
Chanyeol menyeringai. "Jadi secara teknik, kau mengakui bahwa aku ini kekasihmu?"
What?! Ugh! Aku bisa gila kalau terus meladeni laki-laki gila ini! –Baekhyun memekik dalam hati.
"Terserahlah. Aku tidak mau melanjutkan perdebatan ini." Baekhyun mengalah pada akhirnya. Padahal sampai satu jam yang lalu, Chanyeol adalah laki-laki yang menyenangkan di mata Baekhyun, tapi ternyata masih sama saja.
"Ahahaha~ aigoo! Kau itu emosian sekali sih? Nanti keriputmu bertambah lho!"
Baekhyun sontak melotot karena godaan Chanyeol. Namun sedetik kemudian, dia menghela napasnya kasar –berusaha meredam emosinya.
"Sabar, Baekhyun-ah. Sabar." gumam Baekhyun pelan pada dirinya sendiri.
Chanyeol menghentikan tawanya, kemudian menatap lurus kembali. "Tapi Abeoji-ku tulus mencintai Eomma-mu kok."
Baekhyun mengeryit. "Kau bilang kau belum pernah merasakan jatuh cinta, tapi sekarang kau mengatakan Abeoji-mu tulus mencintai Eomma-ku. Sok tahu!" cibir Baekhyun.
"Aku memang belum pernah merasakannya, tapi aku tahu." Chanyeol tersenyum simpul. "Abeoji-ku itu jika sudah mencintai seorang wanita, dia pasti tulus dan akan terus setia padanya. Karena itu aku iri padanya."
Baekhyun sedikit tertegun dengan ucapan Chanyeol barusan. Jatuh cinta ya? Well, sebenarnya Baekhyun juga ingin merasakannya. Mencintai seseorang dengan tulus dan setia satu sama lain sampai akhir hayat, seperti novel-novel yang dibaca Baekhyun. Pasti menyenangkan sekali.
"Xi Luhan juga begitu," Chanyeol tiba-tiba membuyarkan lamunan Baekhyun, membuat laki-laki pendek itu menoleh pada laki-laki yang lebih tinggi, "Dia sepertinya menyukai orang lain."
Baekhyun mengernyit. "Maksudmu?"
"Ini hanya intuisiku saja, tapi biasanya sih selalu benar." ujar Chanyeol PD.
Baekhyun mendengus. "Kalau dia memang menyukai orang lain, kenapa dia mau dijodohkan denganmu?"
"Kau lupa orangtua Xi Luhan itu donator tertinggi di sekolah kita? Orangtuanya pasti menginginkannya menikah dengan orang yang setara dengannya. Itulah bisnis. Begitu kau memiliki hubungan dengan orang yang memiliki kekuasaan, itu akan mendongkrak namamu dan menguntungkanmu juga." tuturnya.
Sekali lagi, Baekhyun harus setuju dengan Chanyeol. Dan dia benci saat Chanyeol benar akan sesuatu. Mungkin itu sebabnya Baekhyun tidak mau diatur-atur oleh orang lain, apalagi jika sudah menyangkut pernikahan. Semenjak orangtuanya bercerai, Baekhyun dan Minah dipisahkan. Baekhyun ikut dengan Eomma-nya dan Minah ikut Appa-nya. Baekhyun selalu berpikir apalah artinya sebuah perjodohan jika pada akhirnya mereka tidak bisa mempertahankan rumah tangga mereka? Bukankah itu sama saja dengan mencoreng nama baik keluarga besar?
Baekhyun menoleh pada Chanyeol. Laki-laki pendek itu tiba-tiba teringat sesuatu. "Apa yang kau bicarakan dengan Minah kemarin?"
Chanyeol menatapnya, kemudian menyeringai. "Kenapa? Kau cemburu?"
Baekhyun memutar bola matanya bosan. "Aku serius, Park Chanyeol."
"Ahaha~ tidak ada yang penting kok. Hanya tentangmu saja."
"Tentang apa?" Baekhyun menatap Chanyeol curiga. "Minah tidak mengatakan hal yang aneh-aneh tentangku'kan?"
"Memangnya hal aneh apalagi yang harus kuketahui tentangmu, hm?" balasnya.
Aish, dasar menyebalkan –batin Baekhyun.
"Aish, sudahlah. Aku akan tanyakan saja pada Minah langsung."
"Kau benar-benar penasaran ya? Aigoo~ manisnya!" goda Chanyeol.
"Yak, Park Chan–!"
"Yeol." potong Chanyeol tiba-tiba.
Baekhyun mengernyit. "Apa?"
"Panggil aku 'Yeol' lagi seperti tadi pagi. Itu benar-benar manis~"
Mata sipit Baekhyun sontak membola. Baekhyun berpikir laki-laki tinggi ini sudah gila. Lagipula, kapan dia memanggilnya dengan sebutan itu?
"Tidak mau!" tolak Baekhyun langsung.
"Yak, kau sedang malu ya? Aigoo~ manis sekali! Uri Baekhyunnie sedang malu rupanya~" Chanyeol semakin menjadi-jadi menggoda Baekhyun. Laki-laki tinggi itu bahkan sempat mencolek dagu Baekhyun, membuat laki-laki yang lebih pendek mengedik ngeri.
"PARK CHANYEOL, KUBUNUH KAU!"
###
Baekhyun sedang asyik membaca buku di perpustakaan saat jam istirahat ketika tiba-tiba sebuah permen lollipop muncul di hadapannya. Pasti Jongdae lagi –pikirnya.
"Jongdae-ya, kau mau apa?" tanya Baekhyun tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku di tangannya.
"'Jongdae'?" Suara bass yang menjawab.
Baekhyun mengernyit. Iapun segera memutar tubuhnya untuk memastikan suara yang muncul dari balik punggungnya itu. "Kau?" Mata Baekhyun beralih pada tangan Chanyeol yang memegang sebuah lollipop di tangannya. "Kenapa–"
"Kau terkejut?" tanya Chanyeol seraya duduk di hadapan Baekhyun. "Jadi, kau benar-benar suka lollipop ya?" cibirnya. Bisa Baekhyun dengar dari intonasinya bahwa laki-laki tinggi itu sedang mengejeknya.
"Jongdae yang memberitahumu?"
Chanyeol tersenyum sambil mengangguk pelan. "Aku tidak menyangka kau memiliki sisi manis juga."
Baekhyun memutar bola matanya malas. "Mau apa kau kemari?" tanyanya to the point, sekaligus mengalihkan topik.
"Aigoo~ juteknya. Aku baru saja mau membicarakan rencana pacaran kita."
Mata sipit Baekhyun kini terpusatkan sepenuhnya pada laki-laki tinggi itu yang kini menyeringai menatapnya.
"Apa rencanamu?" Baekhyun mulai tertarik.
"Aku sudah berpikir. Rencanaku yang pertama adalah berkenalan denganmu lebih dekat."
Baekhyun mengerutkan dahinya –tanda kebingungan. "Maksudmu?"
"Ya kau tahu, aku tidak mengetahui apapun tentang dirimu dan begitupun sebaliknya. Yang kutahu, setiap pasangan itu pasti mengetahui setiap detail tentang pasangannya. Misalnya tentang apa kesukaannya, apa yang dia benci, makanan kesukaannya, dan lain-lain." tutur Chanyeol. Baekhyun mengangguk membenarkan. "Jadi, aku sudah menyusun beberapa pertanyaan yang sekiranya harus diketahui satu sama lain. Kau tulis jawabanmu, aku tulis jawabanku. Jadi, kita bisa hafalkan langsung."
Chanyeol memberikan sederet pertanyaan di sebuah kertas pada Baekhyun. Baekhyun membacanya sekilas, kemudian ia mengambil selembar kertas dan mulai menuliskan jawabannya disana. Selama laki-laki pendek itu menuliskan jawabannya, laki-laki tinggi di hadapannya itu tak melepaskan pandangannya darinya. Chanyeol hanya disana dengan dagu ditopang sambil menatap Baekhyun lekat. Baekhyun menyadari hal itu. Dan itu membuatnya risih.
Baekhyun melirik Chanyeol dengan alis bertautan. "Kenapa memolototiku terus?"
"Tidak ada. Hanya sedang berpikir."
"Memikirkan apa?"
"Memikirkanmu~"
Baekhyun memutar bola matanya bosan. Laki-laki bermata sipit itu menghentikan acara menulisnya dan menatap Chanyeol datar. "Kau sedang menggodaku?"
"Memang. Apakah berhasil?" tanyanya antusias.
Baekhyun mendekati wajah Chanyeol sebelum menjawab pertanyaannya. "Teruslah bermimpi."
Chanyeol mendengus mendengar jawaban kekasih bohongannya. Laki-laki tinggi itu meletakkan kepalanya di atas meja perpustakaan sambil menatap serius Baekhyun. "Aku bercanda kok. Aku hanya sedang berpikir, bagaimana jika kita benar-benar bertunangan? Kau tidak apa-apa?"
"Tidak. Aku bahkan tidak bisa membayangkannya." Jawaban itu berhasil membuat Chanyeol mencibir pelan. "Tapi setidaknya kita memiliki waktu untuk menemukan seseorang yang benar-benar kita sukai setelah pertunangan bodoh itu dibatalkan." Baekhyun melanjuti ucapannya.
Chanyeol mengangguk pelan. "Semoga sampai saat itu, kau tidak jatuh cinta sungguhan padaku ya?" Chanyeol menggoda Baekhyun (lagi).
Sekali lagi, Baekhyun memutar bola matanya –jengah mendengarnya. "Tidak akan, tenang saja."
"Oh ya, kau kenal Kris Hyung?"
Chanyeol tidak tahu bahwa jantung Baekhyun berpacu cepat saat nama itu ia sebut.
"Kenapa?" tanya Baekhyun sedatar mungkin.
"Dia sepertinya menyukaimu, dilihat dari caranya bicara padaku." ungkap Chanyeol, kembali teringat pada saat ia bicara dengan Kris di festival sekolah.
Baekhyun tidak mengindahkan pertanyaan Chanyeol. Dia terus menuliskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang Chanyeol berikan.
"Ini jawabanku. Uhuk!" Baekhyun memberikan secarik kertas pada Chanyeol. Chanyeol-pun ikut memberikan kertas jawabannya pada Baekhyun. "Uhuk! Uhhukk!"
Mendengar Baekhyun yang batuk sedari tadi, itu membuat Chanyeol penasaran. "Kau sakit?"
"Entahlah. Sepertinya aku terkena flu." Baekhyun bangkit dari duduknya. "Aku duluan ke kelas."
"Flu musim panas. Penyakit langka. Berhati-hatilah." Chanyeol bergurau dan dibalas dengan cibiran oleh Baekhyun. "Kau ada acara setelah jam sekolah berakhir?"
"Aku ada rapat OSIS. Kenapa?"
"Akan kutunggu. Kita pulang bersama." Baekhyun menatap Chanyeol heran. Menyadari tatapan Baekhyun, Chanyeol melanjutkan, "Kita pacaran, ingat?"
Baekhyun ber-O ria tanpa suara.
"Jangan mengeluh hanya karena kau kebosanan menungguku."
"Aku bisa bersabar." Chanyeol tersenyum sebelum akhirnya Baekhyun pergi dari hadapannya.
###
Luhan sedang mengotak-atik ponselnya asal. Dia merasa bosan. Para guru sedang mengadakan rapat dan Chanyeol pergi entah kemana. Laki-laki tinggi itu juga tidak membalas pesan Luhan. Ini sungguh hari yang menyebalkan bagi Luhan.
"Luhan-ah~" seru Jung twins seraya duduk di hadapannya.
"Hm?" Luhan menyahut tanpa melepaskan pandangannya dari ponselnya.
"Kenapa kau lemas sekali?" tanya Sooyeon.
"Aku sedang tidak mood bicara. Katakan apa mau kalian." ucap Luhan ketus.
"Aigoo~ sayang sekali ya? Padahal kami punya informasi menarik untukmu." ujar Soojung dengan nada kecewa dibuat-buat. Luhan menatap Jung twins dengan alis bertautan. "Ini tentang Kim Jongin dan Park Baekhyun."
Luhan meletakkan ponselnya di atas meja. Laki-laki bermata rusa itu mulai tertarik rupanya. "Informasi apa?"
###
Jam sekolah baru saja berakhir beberapa menit yang lalu. Siswa-sisiwi St. Phoenix terlihat berhamburan keluar dari kelas, bersiap untuk pulang. Namun tidak dengan Baekhyun. Dia harus menghadiri rapat OSIS sebelum ia pulang. Dan seperti biasanya, Baekhyun akan menyimpan beberapa bukunya terlebih dahulu sebelum ia menghadiri rapat OSIS. Namun saat ia membuka lokernya, laki-laki pendek itu mengernyit. Di dalam loker itu, ia menemukan selembar kertas. Tanpa pikir panjang, Baekhyun mengambil kertas itu dan membacanya.
Aku ingin bicara sebentar berdua saja. Kutunggu di gym sepulang sekolah.
Kim Jongin
Kim Jongin? Mau bicara apa dia? –batin Baekhyun.
Tanpa rasa curiga sama sekali, laki-laki pendek itupun segera pergi ke gym untuk menemui Jongin. Well, Baekhyun harap ini akan memakan waktu sebentar saja –seperti yang tertulis di kertas itu– karena sebentar lagi rapat OSIS akan dimulai. Saat Baekhyun sampai di gym, ia melihat Kim Jongin berdiri membelakanginya. Sepertinya ia belum sadar akan kehadiran Baekhyun di ambang pintu gym. Tanpa berlama-lama lagi, Baekhyun-pun berjalan menghampirinya. Ia menghentikan langkahnya saat ia sudah berjarak satu meter di belakang Jongin.
"Kau mau bicara apa?" tanya Baekhyun.
Jongin yang mendengar suara Baekhyun, segera membalikkan badannya. Senyumannya terkembang begitu saja saat melihat Baekhyun berdiri di hadapannya. "Ketua Park? Kau sudah datang?"
"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku ada rapat OSIS sebentar lagi."
"Ne? Bukankah kau yang menyuruhku kemari?" Alis Baekhyun bertautan mendengar pertanyaan Jongin. "Aku dapat pesan darimu." Jongin menunjukkan sebuah pesan dari ponselnya.
Baekhyun melihat pesan itu dengan saksama. "Itu bukan nomorku. Aku justru menerima sebuah surat darimu. Tertulis bahwa kau ingin bicara denganku disini–"
BLAM!
Baekhyun dan Jongin refleks menoleh pada pintu gym yang tiba-tiba ditutup. Perasaannya mendadak tidak enak. Laki-laki bermata sipit itupun berjalan menuju pintu gym, diikuti oleh Jongin. Baekhyun berhasil mendapatkan jawaban atas kecurigaannya saat pintu gym itu tidak bisa dibuka.
"Sial, dikunci dari luar." umpat Baekhyun. Segera ia keluarkan ponselnya untuk menghubungi Chanyeol. "Aish, kenapa di saat seperti ini malah tidak ada sinyal?" gerutunya. Baekhyun beralih menatap Jongin. "Kau dapat sinyal?"
Jongin segera melihat ponselnya, namun yang Baekhyun lihat hanyalah Jongin yang menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak dapat sinyal. Aneh."
"Tidak aneh. Aku pernah dengar bahwa gym adalah satu-satunya ruangan di sekolah ini yang tidak bisa menangkap sinyal telepon ataupun wifi. Ternyata rumor itu benar."
"Kalau begitu, bagaimana ini? Jendela gym juga terlalu tinggi."
Baekhyun ikut melihat pandangan Jongin yang terpaku pada jendela-jendela gym yang sangat tinggi.
Sial! Bagaimana ini? Letak gym juga jauh dari gedung utama dan ini sudah jam bubar sekolah. Siapa yang akan kebetulan lewat sini? –Baekhyun mulai panik.
.
.
.
Menit berlalu.
Ini sudah hampir dua jam semenjak mereka mengetahui bahwa mereka telah dijebak seseorang dan terkunci di dalam gym. Ya, Baekhyun dan Jongin masih terperangkap disana dan belum ada yang melewati gym untuk mereka mintai tolong. Mereka sudah melakukan yang mereka bisa. Dimulai dari berteriak sekeras mungkin sampai mencari tali atau alat lainnya yang bisa mereka gunakan untuk memanjat jendela gym ataupun membuka pintu gym, tetapi hasilnya nihil.
Hening.
Jongin melirik Baekhyun yang terlihat resah sambil menatap ponselnya. Beberapa bulir keringat keluar dari pelipisnya dan laki-laki mungil sedikit menggigil. Jongin mengernyit. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.
"Ya." jawab Baekhyun nyaris seperti bisikan.
Jongin tidak terlalu yakin dengan jawaban itu. "Kau menggigil. Kau yakin tidak apa-apa?" Laki-laki berkulit tan itu mendekati laki-laki yang lebih pendek, kemudian meraba dahinya pelan. Matanya membulat sempurna saat merasakan panas dari tubuh Baekhyun. "Kau demam!"
Baekhyun menepis tangan Jongin pelan. "Tidak, sungguh. Aku tidak apa-apa."
"Apanya yang baik-baik saja? Suhu badanmu tinggi, Park Baekhyun!" Suara Jongin agak meninggi karena ucapan keras kepala Baekhyun. Segera ia ambil cardigan abu dari tas-nya dan memberikannya pada Baekhyun. "Aku akan mencari bantuan."
.
.
.
Chanyeol mengedarkan pandangannya untuk mencari orang yang sedari ia tunggu –Baekhyun. Waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat, tetapi Chanyeol belum melihat batang hidung kekasih bohongannya. Rapatnya cukup lama juga –pikirnya. Laki-laki tinggi itu sedikit khawatir pada laki-laki pendek keras kepala itu. Dia sedang sakit, tapi malah menghadiri rapat OSIS. Apa asyiknya sih jadi anggota OSIS? –batin Chanyeol. Well, Chanyeol hanya bisa berharap Baekhyun segera keluar dari ruangan OSIS, jadi mereka bisa segera pulang.
Tak lama setelah pikiran itu terlintas di benak Chanyeol, laki-laki tinggi itu melihat Oh Sehun berjalan ke arah gerbang. Mengingat Sehun juga anggota OSIS seperti Baekhyun, Chanyeol mengambil kesimpulan bahwa rapat membosankan itu sudah selesai. Segera ia hampiri Sehun seraya memanggilnya.
"Chanyeol-ah? Sedang apa kau disini? Belum pulang?" tanya Sehun.
"Tidak. Aku sedang menunggu Baekhyun, rapatnya sudah selesai'kan? Dimana dia?"
Sehun mengernyit. "Baekhyun tidak datang saat rapat. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Aku pikir dia ada urusan dan tidak sempat mengabari. Kau tidak lihat dia pulang duluan?" Sehun malah balik bertanya.
Chanyeol turut mengerutkan dahinya –tanda kebingungan. "Tidak. Semenjak bel pulang, aku terus menunggunya disini."
Mendadak perasaan Chanyeol jadi tidak enak. Laki-laki tinggi itu langsung menghubungi ponsel Baekhyun. Namun beberapa detik setelahnya, ia mengumpat pelan.
"Bisa kau hubungi dia?" Sehun bertanya.
Chanyeol menggeleng sebagai jawaban. Otaknya mulai menerka-nerka keberadaan Baekhyun saat ini.
.
.
.
Jongin dan Baekhyun masih terkunci disana. Laki-laki berkulit tan itu mulai panik karena suhu tubuh Baekhyun semakin tinggi. Dia benar-benar khawatir pada keadaan Baekhyun dan keadaan mereka terkunci dalam gym benar-benar tidak membantunya.
"Tolong! Seseorang, siapa saja! Bukakan pintu gym!" Jongin berteriak sambil menggedor-gedor pintu gym untuk yang ke-sekian kalinya. "Siapa saja! Ada yang bisa mendengarku?! Kami terjebak disini!"
.
.
.
Chanyeol berdecak kesal untuk yang ke-sekian kalinya. Pasalnya, setiap kali ia berusaha menghubungi ponsel Baekhyun, itu selalu saja berada di luar jangkauan. Chanyeol sudah menelepon ke rumahnya, namun Baekhyun juga belum pulang kesana. Dan yang semakin membuat Chanyeol khawatir adalah kenyataan bahwa Baekhyun sedang sakit. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Pemikiran itu terus melayang di otak Chanyeol, membuat langkah laki-laki tinggi itu makin lama makin cepat meski waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit. Matanya mencari ke setiap sudut sekolah yang ia lewati untuk mencari Baekhyun meski napasnya mulai terputus-putus karena tidak berhenti berlari semenjak dua puluh menit yang lalu. Laki-laki tinggi itu hanya berhenti melangkah saat ia melihat Sehun berlari menghampirinya.
"Kau sudah temukan dia?" tanya Chanyeol seraya mengatur napasnya yang tersenggal. Dengan napas yang sama memburunya, Sehun menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Aish!" Chanyeol mengumpat. Ia mulai memutar otaknya.
Pikir, Park Chanyeol. Tempat yang sering Baekhyun kunjungi adalah atap sekolah, ruang piano, dan perpustakaan. Kau sudah memeriksa seluruh ruangan termasuk toilet. Jika dia memang belum keluar dari sekolah, dimana kira-kira dia berada? Tempat yang tidak pernah kau pikirkan –Chanyeol berkutat dalam pikirannya.
Tidak membutuhkan waktu lama sampai akhirnya laki-laki tinggi itu tersentak –teringat sesuatu. "Gym!" pekiknya. "Sinyal tidak berfungsi disana dan kita belum mengeceknya."
Tanpa berbasa-basi lagi, Chanyeol dan Sehun segera berlari ke arah gedung gym yang terletak di belakang sekolah. Chanyeol benar-benar berharap dugaannya benar. Karena selain disana, ia tidak tahu lagi harus mencari Baekhyun dimana.
Tidak membutuhkan waktu sampai lima menit untuk sampai di gym. Saat jarak mereka sudah tidak terlalu jauh dari gedung besar itu, telinga Sehun menangkap sesuatu.
"Berhenti!" seru Sehun tiba-tiba, membuat Chanyeol refleks berhenti. "Kau dengar itu?" tanyanya. Chanyeol mengerutkan dahinya. Ia mulai menajamkan pendengarannya untuk menangkap suara yang ditangkap wakil ketua OSIS itu.
"Tolong! Kami terjebak disini!" Suara samar itu mulai memasuki pendengaran Chanyeol. Dan asalnya dari gym.
"Dia bilang 'kami'." ucap Sehun. Chanyeol mengangguk membenarkan. Maka tanpa berlama-lama lagi, Sehun dan Chanyeol segera berlari menuju gym itu.
"Siapa saja! Cepat bukakan pintunya!" Jongin berteriak dari dalam.
"Digembok." ucap Sehun saat melihat pintu gym. "Aku akan ambil kuncinya di ruangan penjaga sekolah."
"Oke, cepatlah." sahut Chanyeol. Seperginya Sehun dari sana, perhatian Chanyeol beralih pada pintu gym di hadapannya. "Tenanglah! Kami sedang mengambil kuncinya."
"Park Chanyeol? Itukah kau?"
Dahi Chanyeol mengerut mendengar suara itu. Itu terdengar seperti suara Kim Jongin. Mendadak perasaannya jadi tidak enak.
"Yak, Kim Jongin! Kau bersama Baekhyun sekarang?" tanya laki-laki tinggi itu.
"Ya, cepatlah! Baekhyun demam!"
Mendengar ucapan Jongin, itu cukup membuat mata Chanyeol terbelalak. Tanpa pikir panjang lagi, laki-laki tinggi itu langsung mencari sebuah batu besar untuk kemudian ia pukul gembok itu –membukanya paksa. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya gembok itu terbuka. Dengan begini, pintu gym yang terkunci hanya tinggal didobrak saja.
"Kim Jongin, menjauh dari pintu!" seru Chanyeol seraya mengambil kuda-kuda. Di dalam sana, Jongin melakukan hal yang Chanyeol inginkan –menjauh dari pintu gym. Setelah siap, laki-laki tinggi itu berlari sekencang mungkin dan mendobrak pintu gym dengan tubuhnya.
BRAK! –pintu gym berhasil dibuka.
"Baekhyun-ah!" Chanyeol berseru seraya mendekati Baekhyun yang berada di dekapan Jongin. Laki-laki pendek itu sudah tak sadarkan diri. Chanyeol meraba dahi Baekhyun. "Astaga, tubuhnya panas sekali."
"Dia harus dibawa ke RS." ucap Jongin.
"Tidak, akan kubawa dia ke rumah saja."
Jongin menatapnya dengan tatapan tajam. "Dia sedang sakit, seharusnya dia dirawat segera!" Suara laki-laki berkulit tan itu meninggi tanpa ia sadari.
"Aku juga tahu!" Chanyeol membalas dengan suara yang sama tingginya. Laki-laki tinggi itu menatap Jongin tajam. "Keluarga kami memiliki dokter pribadi. Dia akan dirawat disana. Minggir."
Jongin diam saja saat Chanyeol mengambil tubuh Baekhyun dari tangannya dan pergi dari hadapannya. Begitu siluet Chanyeol dan Baekhyun hilang dari hadapannya, Jongin berdecak kesal. Dia benar-benar merasa tidak berguna di saat seperti ini.
###
Chanyeol menempelkan handuk dingin di dahi Baekhyun untuk mengompresnya. Dokter Lee –dokter pribadi keluarga Park– mengatakan bahwa Baekhyun hanya kecapaian sehingga imunnya menurun. Jika Baekhyun minum obat dan istirahat yang cukup, dia akan cepat sembuh. Raut kekhawatiran yang sempat tercipta jelas dalam wajah tampan Chanyeol, kini mulai memudar. Laki-laki tinggi itu menaikkan selimut yang menutupi tubuh Baekhyun hingga sebatas lehernya. Dihembuskannya napas panjang. Ini pertama kalinya Chanyeol melihat Baekhyun tak berdaya seperti ini, bahkan sampai terbaring di tempat tidur. Chanyeol berpikir Baekhyun pasti merasa kelelahan akhir-akhir ini. Laki-laki bertelinga peri itu mendudukkan dirinya di kursi sebelah ranjang Baekhyun. Perhatiannya beralih pada jendela kamar Baekhyun.
Hening sekali.
Baru kali ini rumah besar keluarganya terasa sangat sepi. Orangtua mereka sedang pergi ke luar negeri dan baru akan kembali besok pagi. Mata Chanyeol mulai memperhatikan setiap sudut kamar Baekhyun. Perhatiannya terhenti pada sebuah foto yang dipajang di meja belajar Baekhyun. Itu fotonya bersama Minah. Mereka tersenyum lebar di foto itu, membuat Chanyeol ikut tersenyum melihatnya. Laki-laki tinggi itu ingat pertama kali saat ia bertemu dengan Baekhyun. Baekhyun tidak pernah menunjukkan senyumannya kecuali seringaian mengejeknya. Sejak dulu mereka selalu bertengkar dan berdebat. Chanyeol pikir Baekhyun adalah laki-laki yang angkuh dan menyebalkan. Namun ia tak pernah menyangka bahwa ternyata senyuman laki-laki pendek itu begitu manis.
Chanyeol kembali menatap Baekhyun. Tangannya terulur mengusap pelan puncak kepala laki-laki pendek itu. Ia tersenyum simpul. "Cepatlah sembuh, Tuan Byun. Jadi kita bisa berdebat lagi seperti dulu."
Dan malam itu Chanyeol habiskan untuk merawat Baekhyun yang sedang sakit.
###
Pagi buta di kediaman Park yang tenang mulai terusik dengan suara mobil terparkir di depan rumah megah itu. Dari mobil sedan berwarna hitam itu keluarlah seorang pria berumur tiga puluhan dari kursi pengemudi. Ia membukakan pintu di kursi penumpang sehingga nampaklah sepasang suami-istri yang baru saja pulang dari luar negeri. Mereka nampak kelelahan bila dilihat dari kantung mata mereka yang sudah menghitam itu. Tanpa ada sepatah katapun yang keluar, pasangan itupun mulai memasuki rumah megah mereka.
"Aku akan mengecek Chanyeol dulu." ucap Tuan Park pada istrinya. Setelah mendapatkan anggukan dari Nyonya Byun, pria paruh baya itu naik ke lantai dua.
Well, meskipun anak laki-lakinya itu sudah kelas 2 SMA, tetapi Tuan Park tetap saja tidak bisa menghilangkan kebiasaannya sejak dulu yang selalu mengecek anaknya sebelum dia pergi tidur. Saat pria paruh baya itu sampai di depan kamar Chanyeol, ia segera masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Chanyeol pasti masih tidur –pikirnya. Namun saat Tuan Park berada di dalam kamar tersebut, dia tidak menemukan Chanyeol dimanapun. Alisnya bertautan sempurna. Otaknya mulai berpikir –memikirkan keberadaan anaknya. Ketika pria paruh baya itu hendak kembali ke lantai satu, langkahnya terhenti saat melihat pintu kamar Baekhyun yang terbuka dan menampakkan putra kandungnya.
"Omo!" pekik Tuan Park pelan. Pria paruh baya itu melihat Chanyeol sedang tidur pulas di samping ranjang Baekhyun. Matanya memperhatikan Chanyeol dan Baekhyun bergantian, kemudian terpaku pada mangkuk berisikan air di nakas samping ranjang Baekhyun juga handuk kecil yang menempel di dahi anak tirinya. "Baekhyun sakit?"
Tanpa suara, Tuan Park masuk ke dalam kamar Baekhyun. Tangannya terulur meraba dahi Baekhyun setelah mengambil handuk kecil itu sebelumnya. Pria paruh baya itu menghembuskan napasnya lega sambil tersenyum setelah merasakan suhu normal tubuh Baekhyun. Tuan Park-pun mengambil mangkuk berisi air itu untuk diganti dengan yang baru. Sebelum ia keluar kamar Baekhyun, Tuan Park sempat tersenyum penuh makna pada kedua anaknya. Pikirnya padahal selama ini mereka berdua selalu bertengkar, tetapi sepertinya hubungan keduanya sudah mulai membaik sekarang.
###
Jongin menghela napasnya. Semalam ia tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan Baekhyun. Pikirannya selalu berakhir pada keadaan laki-laki mungil itu. Ia berpikir, apakah demamnya sudah turun? Apakah keadaannya sudah membaik pagi ini? Apakah ia akan sekolah hari ini? Begitulah yang dipikirkan Jongin semenjak kemarin. Well, laki-laki berkulit tan itu hanya bisa berharap Baekhyun akan baik-baik saja setelah semua yang terjadi kemarin di gym. Dan berbicara tentang kejadian kemarin, sebenarnya ada satu hal lagi yang masih Jongin pikirkan. Ia penasaran dengan siapa dalang di balik semua ini. Orang yang telah menjebaknya dan Baekhyun di gym benar-benar keterlaluan. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan orang yang mengurung mereka. Untuk apa orang itu mengurung mereka berdua disana? Bagaimana jadinya jika Chanyeol dan Sehun tidak menemukan mereka disana? Pasti keadaan Baekhyun akan semakin parah jika belum keluar dari gym sampai pagi ini. Jongin hanya mengkhawatirkan keadaan laki-laki pendek itu saja. Dia tidak akan ambil pusing jika hanya ia sendiri yang dikurung disana, namun ini melibatkan Baekhyun. Maka dari itu, Jongin berjanji akan mencari pelakunya.
"Yak, kau melihat Park Baekhyun hari ini?"
"Belum. Sepertinya dia masih terkunci di gym. Ahaha~"
"Benar juga. Siapa juga yang akan menyadari keberadaan mereka di tempat itu?"
"Hey, menurutmu mereka melakukan sesuatu disana? Omo~ aku tidak bisa membayangkan laki-laki angkuh itu melakukan hal yang tidak-tidak dengan Jongin!"
"Meskipun kita tidak suka, tapi dia memang harus diberi pelajaran. Ah, Jongin yang malang~"
BRAK! –Jongin menutup lokernya dengan kasar setelah mendengar pembicaraan Jung twins di koridor. Dua gadis itu terlihat terkejut karena suara itu. Wajah mereka bahkan berubah pucat saat mengetahui Jongin-lah yang membanting pintu loker dengan keras.
"Jo–Jongin-ah?" Jung twins terbata.
Laki-laki berkulit tan itu menatap dua gadis itu berang. Ia mendekati mereka berdua yang terlihat ketakutan. "Ayo kita bicara."
Si kembar hanya bisa cemberut karena tak bisa menolak ajakan –atau perintah– Jongin dan malah sambil menyenggol lengan satu sama lain –saling menyalahkan. Namun, Jongin tidak mau tahu. Ia berjalan mendahului si kembar, sedangkan dua gadis itu mengikutinya dari belakang.
###
Sehun menatap laki-laki di hadapannya dengan tatapan curiga seraya melipat kedua tangannya. "Kau yang mengunci Baekhyun dan Kim Jongin di gym'kan?"
"Apa?" Luhan hampir memekik karena tuduhan laki-laki albino itu. Pikirnya apa maksud Oh Sehun? Padahal baru beberapa menit yang lalu ia mengajak Luhan untuk bicara empat mata dengannya, tapi sekarang ia malah menyalahkannya tanpa alasan yang jelas. Luhan menatap kesal Sehun. "Kau menuduhku?"
"Bukan menuduh, aku tahu." tandasnya.
Rahang Luhan mengeras karenanya, namun ia masih memperlihatkan ekspresi netralnya. "Apa buktinya?" Luhan menantang.
"Aku mendengar obrolan kalian kemarin. Kau menyuruh Jung twins untuk memberikan pesan pada Baekhyun dan Kim Jongin agar mereka bertemu di gym."
Luhan mendengus pelan. "Kau menguping?"
"Tidak perlu menguping juga sudah kelihatan dari gelagat mencurigakan kalian." balas Sehun. "Kenapa kau melakukan ini, hah? Kau tidak tahu Baekhyun sedang sakit kemarin?" Sehun semakin memojokkannya.
"Dari mana aku tahu dia sakit atau tidak?" cibir Luhan. Tangannya ikut melipat di depan dadanya –balas menantang Sehun. "Tapi aku tetap tidak peduli. Aku benci dia. Dia yang memulai semuanya, jadi aku harus memberinya pelajaran." Laki-laki bermata rusa itu tetap kukuh dengan pendiriannya.
"Tapi kenapa harus begini? Rencanamu ini tidak akan membuat Chanyeol kembali padamu."
Dan ucapan Sehun itu sukses membuat emosi Luhan naik.
"Lalu bagaimana? Aku harus bagaimana agar dia mau kembali?! Sejak awal aku tahu bahwa Chanyeol tidak pernah menyukaiku, tapi aku tetap menerimanya apa adanya. Apa ini juga salahku?!" balas Luhan sengit.
Hening.
Sehun terdiam menatapnya. Dia hanya diam dengan tatapan yang tak bisa Luhan artikan.
"Kau itu bukan anak kecil lagi, Xi Luhan. Kau lebih baik dari ini."
Ucapan Sehun kembali berhasil menyulut emosi Luhan. Jantungnya bahkan sudah berpacu dengan cepat saking emosinya ia. Mata rusa itu menatap geram mata Sehun.
"Lalu apa maumu?" tanya Luhan dengan suara bergetar.
Sehun menghembuskan napas perlahan. "Dewasalah."
Satu kata itu berhasil membuat dada Luhan sakit, bahkan ia merasakan matanya pedih. Seolah satu kata itu menyinggung perasaannya atau bahkan mengejeknya. Dan yang lebih parahnya, setelah berkata seperti itu, Sehun berjalan pergi tanpa menoleh ke arah Luhan lagi. Sikap si wakil ketua OSIS itu benar-benar semakin membuat dada Luhan sangat sakit.
"Kau benar-benar menyebalkan, Oh Sehun."
Tepat saat Sehun akan berbelok di tikungan, terlihatlah sosok Jongin yang sedang menyandarkan tubuhnya di dinding. Senyuman terpatri jelas di sudut bibir laki-laki berkulit tan itu. "Lumayan juga, Oh Sehun."
Sehun yang baru menyadari keberadaan laki-laki berkulit tan itu, segera menoleh padanya dengan raut muka terkejut. "Kim Jongin?"
Jongin memperbaiki posisi berdirinya sebelum ia bicara. "Aku baru saja akan bicara dengan Xi Luhan, tapi sepertinya kau sudah mewakili apa yang ingin kukatakan padanya. Jadi, terima kasih."
Sehun hanya bisa terdiam di tempatnya dengan alis bertautan saat laki-laki berkulit tan itu pergi dari hadapannya. Dia bertanya-tanya, apakah Jongin mendengar seluruh percakapannya dengan Luhan barusan?
TBC
Oke, sampai sini dulu. Jangan lupa mereview ya~
Dan terima kasih banyak bagi yang sudah baca dan kasih review, kalian memang best readers ever! Sekalipun saya gak bisa bales satu-satu atau sebutin satu-satu, saya tetep baca semua review kalian. Berkat dukungan kalian, saya masih punya semangat buat lanjutin semua FF abal saya #serius. Karena itu, jangan sampe bosen buat kasih saya dukungan berupa review dan klik follow atau fav. TAPI akan lebih baik lagi jika kalian memberikan review kalian. Last but not least, LOPH Y'ALL *big hug*
