40 tahun yang lalu

"Jaejoong! Ya! Kembalikan! Hei! Hei!"

Seorang gadis berkuncir kuda mengatur nafasnya saat berlari mengejar pemuda seusianya. Pemuda dengan rambut hitam legam itu tertawa renyah, sambil terus berlari menjauhi si gadis.

"Tidak! Tidak! Aku akan berikan ini pada Yang Mulia Putra Mahkota!"

Gadis itu menghentikan larinya. Wajahnya memerah seiring matanya yang melotot.

"Be-beraninya! Ya! Kim Jaejoong!"

Kaki gadis itu kembali berlari. Mengejar si pemuda cantik dengan rambut legamnya.

"Aku akan membunuhmu Kim Jaejoong!"

Jaejoong menjulurkan lidahnya, sengaja menoleh sambil terus berlari. "Aku tidak peduli, Kim Junsu! Coba saja kau—"

BRUK!

"—Aw!"

Junsu berhenti. Matanya membulat lucu seiring pipinya yang mulai memerah. Pandangannya tertuju pada satu arah, dan bukan ke arah Jaejoong yang tersungkur jatuh.

"Pu-putra Mahkota." Junsu membungkuk dalam penuh hormat. Pria berambut hitam yang disapa Junsu tersenyum lebar, langkah kakinya mendekat ke arah gadis muda itu.

"Jangan berlari terus, Junsu-ya. Kau bisa sakit."

Kalimat manis itu mengalun lembut dari bibir Putra Mahkota. Seiring dengan elusan hangat pada puncak kepala Junsu. Pipi Gadis itu memerah. Memancing tawa lebar pada sang junjungan.

"I-iya, Yang Mulia."

Dua insan itu terlarut dalam angin romansa remaja. Tidak jauh berbeda pada dua insan lainnya yang berada tak jauh dari mereka. Jaejoong tak berkedip memandang mahakarya di hadapannya. Ia pernah melihat sekali pria ini dalam acara resmi keluarga. Tapi, Siapa?

"Hei, kau tak apa?"

Degup jantung Jaejoong menggila. Alunan penuh kelelakian dari bibir pria itu mampu membuatnya tak berfikir logis.

"A-aku..."

"Kim Jaejoong, kan?"

Mata bulat Jaejoong berkedip. Terlihat begitu polos dan tanpa dosa. Wajah putih itu bersemu sekaligus diwarnai rasa penasaran.

"Ba-bagaimana?"

"Ayo bangun dulu."

"Eh?"

Pria cantik itu menatap bergantian tangan yang terulur ke hadapannya. Dua lengan yang begitu kokoh, berwarna coklat, berbanding terbalik dengannya. Pipi Jaejoong kembali memerah. Perlahan, Ia meraih kedua lengan itu, yang ditanggapi si lawan dengan tarikan yang cepat, membuat pria berambut legam itu berada di pelukannya.

"Aku Byun Yunho. Senang bertemu denganmu, Kim Jaejoong."

Dan, Pipi Jaejoong semakin memerah.

.

.

.

.

.

Princess Destiny

Chapter VIII

with

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Kris Wu

Xi Luhan

Oh Sehun

.

.

.

.

Sehun gelisah dalam duduknya. Sudah sepuluh menit berlalu dan dia masih saja gugup. Pria pucat itu serba salah dalam bersikap. Tatapan tajam Luhan yang duduk di hadapannya membuatnya semakin menciut.

"Ada apa, Luhan?"

Pada akhirnya, kata itu keluar dari bibir Sehun. Beberapa menit yang lalu, Luhan mengirim pesan padanya, menanyakan kesediaan untuk bertemu. Tapi, gadis itu hanya diam tanpa kata saat mereka sudah bertatap wajah.

"Kau masih bertanya? Kurasa kau sudah tahu maksudku."

Luhan membesarkan mata rusanya, berusaha terlihat mengancam sang lawan bicara, yang justru dipandang imut oleh Sehun.

"Kau tidak berkata apapun sejak tadi. Bagaimana bisa Aku tahu?" goda Sehun. Luhan menggerutu kecil.

"Ini soal Baekhyun!"

Sebenarnya, Sehun bisa menebaknya dengan jelas. Ekspressi Luhan terlalu mudah untuk ditebak. Pria itu membetulkan duduknya. Ia mulai rileks.

"Yang Mulia Putri Mahkota?" Sehun kembali menggoda Luhan. Penekanan pada setiap kata yang dialunkannya membuat gadis itu sedikit menciut.

"Y-ya, maksudku itu." Luhan berdehem. "Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau tahu? Aku merasa sangat bodoh karena tak tahu apa-apa."

Sehun mengangguk. "Karena memang tidak ada yang tahu, bukan? Putra Mahkota baru mengumumkannya pagi ini."

Luhan mengangguk kecil. Ia menggigit bibir bawahnya, bingung merangkai kata. Ujung mata indahnya melirik Sehun. Pria itu kini sedang meminum kopinya.

"Sehun.."

"Hm?" Sehun menaruh kembali cangkir kopinya. Atensinya kembali tertuju pada Luhan.

"Bisa Aku bertemu Baekhyun?" tanyanya pelan.

Sehun tersenyum. "Tentu. Bagaimana dengan besok pagi?"

Luhan mengangguk tanpa protes. Binar wajahnya kembali terlihat. Aura tegang yang ditampilkannya beberapa menit yang lalu seolah hilang dibawa angin.

"Hei, Sehun, Kau suka nasi goreng?"

"Eh?"

Luhan tersenyum. "Ayahku punya restoran. Ayo pindah kesana!"

Sehun mendadak gugup. Pria itu terbatuk, mulutnya megap-megap kehabisan kata. Astaga, Ia belum siap bertemu calon Ayah.

Baiklah. Apa yang kau pikirkan, Oh Sehun?

"A-aku..."

"Kau menolak?" Luhan menatapnya sedih. Wajahnya tertekuk. Sehun menggeleng kuat.

"Tidak, Tidak! Aku mau. Baik, Ayo kesana."

Demi Tuhan. Oh Sehun.

.

.

Chanyeol menatap frustasi lemari pakaiannya. Lemari besar yang penuh dengan pakaian formal. Pria tinggi itu kembali membuka lemari kaca itu, memperlebar usaha pencariannya. Ia dan Baekhyun akan pergi berjalan santai ke Sungai Han, bukan ke pesta resmi.

"Yang Mulia."

Chanyeol menoleh. Mata bulatnya membesar sedikit, untuk kemudian alisnya berkerut heran penuh tanya.

"Jongdae? Mana Sehun?"

Pria berwajah kotak yang dipanggil Jongdae itu membungkuk dalam pada Chanyeol.

"Tuan Sehun izin pergi sejak sore, Yang Mulia. Beliau belum kembali."

Chanyeol mengangguk paham. Atensinya kembali beralih pada lemari baju. Tangannya kembali sibuk menyibak beragam desain ternama yang sama sekali tidak sesuai suasana hatinya.

"Jongdae." Chanyeol mendesah. Setengah kesal setengah putus asa. "Kau bisa pilihkan untukku? Busana yang santai. Bisa kaus tapi tidak berkerah dan—kau mengerti, kan?"

Jongdae mengangguk. "Baiklah, Yang Mulia."

Chanyeol tersenyum puas. "Aku akan ke kamar Nenek. Pastikan sudah ada sebuah pilihan ketika Aku kembali."

"Baik, Yang Mulia."

Chanyeol mengangguk puas. Kakinya melangkah menjauh menuju pintu, membukanya perlahan dan kembali mengambil langkah keluar, menulusuri selasar remang yang mulai sepi. Pria dua puluh tujuh tahun itu berbelok menuju area kamar utama Ibu Suri. Helaan nafasnya terdengar saat mengetuk pelan pintu coklat itu.

"Masuk."

Sebuah suara terdengar. Chanyeol mengayunkan kenop pintu dan melangkah masuk. Sosok rapuh Ibu Suri tertangkap netranya. Wajah tua itu terlihat pucat. Membuat Chanyeol setengah berlari dan duduk disebelah Sang Nenek.

"Nenek sakit?"

Ibu Suri menggeleng. "Aku tidak mungkin sakit di tengah euphoria gempita ini, Putra Mahkota."

Chanyeol tersenyum kecil. Pikirannya kembali melayang pada rencananya berjalan di sekitar Sungai Han bersama Baekhyun.

"Memikirkan Baekhyun?" goda Ibu Suri. Chanyeol tertawa kecil.

"Aku dan dia akan berjalan menikmati malam di pinggir Sungai Han. Baekhyun menyukainya."

Ibu Suri tersenyum geli. Nada antusias yang samar terdengar dari setiap tuturan Chanyeol. Ia kembali merasakan dejavú, layaknya dibawa ke puluhan tahun yang lalu, saat Ia mendengar tuturan penuh semangat dari Park Yoochun soal Kim Junsu, gadis pujaannya. Wajah tua itu kembali terlihat rapuh. Rindu mendalam pada Suami, Anak, dan Menantunya kembali menyerang.

"Kurasa kau sebaiknya istirahat, Nenek." tukas Chanyeol. Matanya kembali memancar kekhawatiran yang jelas.

"Aku tidak apa-apa. Aku akan segera istirahat setelah ini."

"Memang ada apa?"

Ibu Suri tersenyum. "Besok adalah hari ulang tahun Kakekmu. Aku berencana mengadakan sebuah pesta, setelah paginya kita mengunjungi makamnya."

"Apa pantas? Maksudku, pesta untuk sebuah peringatan kelahiran orang yang sudah meninggal?"

"Pada dasarnya, pesta kubuat untukmu dan Baekhyun." Ibu Suri terbatuk. "Kalian akan menikah kurang dari seminggu. Anggap saja pesta lajang."

Chanyeol tersenyum geli. "Aku tidak tahu kalau Nenek mengerti soal pesta lajang."

Ibu Suri tertawa. Tangannya memukul pelan lengan Chanyeol. "Kau fikir? Aku juga pernah muda."

"Baiklah, baiklah." Tawa Chanyeol melebar. "Aku akan mempersiapkan diri untuk besok."

"Lebih dari itu, Aku ingin Kau sampaikan pada Baekhyun agar tetap sehat. Jadwal kalian akan semakin padat."

Chanyeol mengangguk paham. "Aku akan mengusahakannya, Nenek."

"Dan lagi, Aku sudah mempersiapkan pelayan pribadi untuk Baekhyun. Joohyun akan segera kembali ke pekerjaannya."

Dahi Chanyeol berkerut. "Pelayan Pribadi? Siapa?"

"Kau dan Sehun sangat mengenalnya."

"Hah?"

Ibu Suri tersenyum usil.

.

.

Baekhyun mematut dirinya di cermin. Ia membiarkan rambutnya tergerai diatas kaus casual yang dikenakannya. Baekhyun masih asik menilai penampilannya saat sebuah ketukan pintu terdengar. Gadis itu berubah panik.

"S-sebentar."

Baekhyun memasukkan handphone dan dompetnya kedalam tas selempang kecil. Tas itu menghiasi pundak dan menjuntai hingga paha atasnya. Ia mengambil langkah penuh saat berjalan membuka pintu kamarnya.

"Y-Yang Mulia.."

Netra Baekhyun terkunci pada sosok dihadapannya. Chanyeol dengam senyuman lebar dan pakaian casualnya. Ini pertama kalinya Chanyeol terlihat santai, tanpa beban, dan seperti orang pada umumnya.

"Hei? Baekhyun?"

Baekhyun mengerjap. "E-eh ya, Yang Mulia."

"Ayo jalan." Chanyeol memberi tanda dengan dagunya. "Atau akan semakin malam dan dingin. Ramalan cuaca berkata soal hujan."

Baekhyun mengangguk. Gadis itu melangkah keluar kamar dan berjalan di samping Chanyeol, menyusuri selasar menuju mobil yang telah dipersiapkan.

"Aku tidak terbiasa memakai pakaian santai." Chanyeol tertawa canggung. "Jadi, maaf jika aneh."

Baekhyun menggeleng. "Tidak sama sekali. Sungguh."

Mereka telah duduk pada kursi penumpang di sebuah mobil. Mobil didepan mereka mulai berjalan, mengawal demi keamanan. Chanyeol melirik Baekhyun.

"Aku senang kau memakai jeans lagi."

"Eh?" Baekhyun membeo dengan dahi berkerut.

"Keadaan belakangan ini membuatmu terbalut gaun resmi setiap saat. Terkadang, kau terlihat terpaksa, kurasa kau merindukan gaya lamamu."

Baekhyun tertawa kecil. "Sebenarnya, ya, gaun membuatku sulit melompat."

"Lagipula, untuk apa melompat?"

Keduanya tertawa pelan. Mobil yang membawa mereka melaju membelah jalanan malam. Desau angin sungai mulai tercium saat mereka memasuki areal parkir wisata Sungai Han. Keempat roda mobil itu perlahan berhenti.

"Ayo turun." gumam Chanyeol saat pengawal membuka pintu untuk mereka. Kedua insan itu keluar dari sisi yang berbeda. Baekhyun memejamkan matanya begitu menghirup udara di sekitar sungai.

"Ini luar biasa." gumamnya kekanakan. Gadis itu berlari, mendahului Chanyeol dan memanjakan matanya dengan pemandangan Sungai Han.

"Kau terlihat senang." Chanyeol tersenyum dan melangkah mendekat. Perlahan, Ia mulai menyamakan langkahnya disamping Baekhyun.

"Sangat. Aku selalu merindukannya."

Netra Baekhyun berbinar senang. Ujung matanya melirik beberapa pengawal yang mengawasi mereka dalam jarak tertentu.

"Itu jarak terjauh mereka. Kuharap kau memaklumi." gumam Chanyeol.

"Tentu saja." Baekhyun mengangguk. "Hanya saja, dimana Sehun?"

"Ia pergi dari sore." Chanyeol mendudukkan dirinya di sebuah bangku panjang di tepi Sungai. "Dan belum ada tanda-tanda akan kembali."

Baekhyun mengangguk dan ikut dudu di sebelah Chanyeol. Matanya memandang ke arah sungai. Angin malam membuat rambut hitamnya bergoyang indah.

"Setiap Sabtu akan ada kembang api."

Baekhyun bergumam. Sepoi angin membawa tuturannya ke telinga Chanyeol. Membuat pria tinggi itu tersenyum.

"Sayang sekali, ini hari Selasa." balasnya. Matanya masih memandang hamparan sungai yang remang, menemani mereja dalam syahdu malam.

"Tidak masalah. Begini saja sudah cukup." balas Baekhyun. Gadis itu kembali menutup matanya, menghirup dalam udara malam sebelum bergumam lirih. "Terima kasih."

"Huh?"

Chanyeol menoleh sepenuhnya. Netra hitamnya menatap Baekhyun yang berubah gugup. Gadis itu menggigit bibir bawahnya.

"Tidak—Maksudku," Baekhyun ikut menoleh. Kedua mata itu kini saling menatap. Jarak keduanya begitu dekat. Baekhyun berbisik. "Aku hanya tidak menyangka Kau bersedia membawaku kesini."

"Kau suka?" balas Chanyeol, ikut berbisik. Nafas beraroma mint menerpa indra penciuman Baekhyun. Membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

"Ya." balas Baekhyun singkat dan pelan, nyaris mendesah. Tatapan Chanyeol membuatnya terkunci. Pria itu mendekat, hidung mereka bersentuhan.

"Jadi, bisa kuambil hadiahku?"

Chanyeol berbisik menggoda tepat didepan bibir Baekhyun. Gadis itu menelan ludah, wajahnya memerah seiring detak jantungnya yang menggila.

"Bukankah milik rakyat adalah milikmu, Yang Mulia?"

"Kau bukan rakyatku, Baekhyun." Suara Chanyeol memberat. Jemarinya menyingkirkan rambut yang menjuntai di sekitar leher Baekhyun. "Aku tidak melakukan ini untuk seluruh rakyatku."

Hembusan angin membawa mereka kian terlarut. Chanyeol telah menempelkan bibirnya pada bibir Baekhyun. Gadis itu mengerang, sebelum mengalungkan tangannya di leher Chanyeol, membuat si pria lebih menempel dalam dekapannya. Ciuman itu berangsur panas, dua sejoli dewasa itu semakin melumat, menikmati dengan penuh rasa dari keduanya.

Angin dingin semakin mencengkram tubuh mereka. Baekhyun otomatis mendekatkan tubuhnya, meminta kehangatan lebih dari Chanyeol. Pria itu menyambutnya dengan pelukan. Ciuman mereka belum terlepas. Kian hebat dan tanpa jeda sementara langit semakin kelam. Rintik hujan mulai turun, perlahan.

Chanyeol melepas ciumannya. Membuat benang saliva teruntai diantara kedua bibir mereka yang basah. "Hujan." bisiknya.

"Ya." Baekhyun kembali menjawab. Kedua netra itu kembali saling menatap. "Kau suka?"

Chanyeol tersenyum. "Apa Aku harus menjawabnya?"

Baekhyun tertawa. Jemari lentiknya naik keatas kepala Chanyeol, mendorong pelan kepala itu dan membawanya kembali kedalam ciumannya. Chanyeol menyambutnya dengan baik. Kali ini, Hujan mengambil perannya sebagai saksi bisu.

.

.

Sehun menatap khawatir hujan yang semakin besar dari dalam kaca restoran Hangeng, Ayah Luhan. Pria itu merutuk dalam hati. Sudah semakin malam dan Ia belum mengabari posisinya pada Chanyeol. Handphonenya mati dan itu membuatnya muak.

"Mom menyuruhmu menginap, Sehun."

Sehun menoleh. Jantungnya berdetak cepat melihat Luhan yang memakai celemek dan rambut yang disanggul asal tersenyum dihadapannya. Gadis itu membawa dua gelas kopi.

"Tidak perlu. Aku akan pulang jika hujan berhenti. Mungkin tidak akan berbahaya menyetir saat itu."

"Kau—"

"Tidak, tidak. Menginaplah." Hangeng keluar dengan dua piring kue kering. Pria ramah itu menepuk bahu Sehun. "Sudah lama istriku tidak tersenyum lebar saat Luhan membawa teman pria."

"Dad!" Luhan merenggut. Pipinya memerah. Hangeng mengusap kepala putrinya penuh sayang.

"Itu akan sangat merepotkan, Tuan." akhirnya, Sehun angkat bicara. Sebagai pria yang dibesarkan dalam lingkup protokoler istana, Ia sedikit kaku untuk masalah seperti ini.

"Tentu tidak. Ada kamar yang biasa ditempati Kris jika menginap. Kau bisa memakainya."

Dahi Sehun berkerut. "Kris?"

"Sepupuku." sahut Luhan. Ia menatap Sehun dengan gugup.

"Ah.." angguk Sehun. Hangeng menatap gemas dua interaksi anak muda di hadapannya.

"Luhan, ambilkan selimut, antarkan Sehun ke kamar."

Gadis itu mengangguk. Kaki jenjangnya menjauh menuju sebuah kamar dan keluar lagi dalam hitungan menit dengan selimut tebal dalam dekapannya. Dengan dagunya, Ia meminta Sehun mengikutinya ke lantai atas.

"Aku permisi dulu, Tuan. Terima kasih atas kemurahan Anda."

Hangeng tertawa. "Tentu saja. Silahkan."

Sehun tersenyum dan membungkuk kecil pada Hangeng sebelum kakinya melangkah mengikuti Luhan. Dua sejoli itu menaiki tangga dalam diam diiringi rintikan hujan yang kian deras diluar sana.

"Sehun, Kau—"

Luhan membalik tubuhnya tiba-tiba, membuat Sehun terkesiap dan otomatis menahan pinggul si gadis, membuat posisi mereka menempel untuk menjaga keseimbangan. Mata Luhan membulat, pipinya memerah.

"Luhan, A-aku—Maaf," Sehun gugup. Ia melepas dekapannya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Luhan menunduk malu. "K-Kurasa kita harus cepat. A-Ayo!" Luhan kembali berbalik dan menaiki tangga dengan cepat, meninggalkan Sehun yang sibuk menetralkan detak jantungnya.

"Astaga. Jantungku.."

.

.

"Ahh...Kris..."

Yejin mendesah nikmat, namun matanya menatap kesal Kris yang masih saja sibuk dengan tabletnya. Gadis itu ingin si pria memasukinya lagi dengan miliknya, bukan dengan jarinya.

"Hentikan! Aku tidak ingin jarimu!" Yejin berteriak dan merapatkan paha telanjangnya. Menampar tangan Kris dan memelototinya.

Kris menarik jemarinya dan menatap malas wajah Yejin. "Milikku bosan dengan lubangmu. Sudah mulai tidak sempit." ocehnya frontal.

Yejin mendengus. Ia menaikkan selimutnya dan menatap tajam Kris. Ujung mata gadis itu melirik tampilan tablet di tangan Kris. Seuntai seringai ditampilkannya.

"Sejak kapan kau peduli pada Putra Mahkota?"

Kris tertawa mengejek. "Putra Mahkota?" Jemari pria itu bergerak, membesarkan skala foto pada laman berita itu. "Aku hanya peduli padanya."

"Baekhyun?" Dahi Yejin berkerut tak mengerti. "Kau mengenalnya?"

"Untuk beberapa hal, ya. Aku mengenalnya."

"Apa dia salah satu wanita yang sudah kau tiduri?" nada antusias teruntai dalam setiap kata Yejin. Kris tertawa keras.

"Tidak." Ia menyeringai menatap Yejin. "Atau—Belum."

Yejin mendecih. Namun, sebersit ide muncul dalam kepalanya. Gadis itu mendekatkan tubuhnya kearah Kris.

"Well, bukankah ini terlihat pas?" Yejin menunjuk dirinya dan Kris. "Kita berdua."

"Apa maksudmu?"

"Kau tahu, Kris. Aku dan Putra Mahkota. Kau dan Baekhyun. Bukankah kita terlihat berada di kapal yang sama?"

Kris terdiam. Pikirannya mulai merajut beragam kemungkinan, keuntungan dan segala resiko. Yejin menyeringai. Kris mulai tergoda.

"Jika begitu, kenapa kita tidak mendayung kapal itu bersama?"

Godaan Yejin kian membuat Kris berfikir ulang. Pria berambut pirang itu masih terdiam tanpa menjawab. Sekian menit mengambil hening, Pria itu menatap Yejin, dengan seringai lebarnya.

"Kapan kita bisa mulai?"

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

Hallo :D

/ditimpukin/

WADUH MAAF BARU UPDATE MAAF YA MAAF ATUH ATUH TT_TT

Sampe bingung mau ngomong apa, pokoknya yagitu, Selamat Membaca!

/hilang dalam kegelapan/

Regards,

Purf.