Tittle : The Runaway (Chapter 8)
Disclaimer : Hetalia punya saya! #BLETAK# punya Hidekazu Himaruya-sama deng #nangis#
Summary : Ketika manusia terancam punah oleh serangan para zombie, bagaimana dengan mereka yang masih hidup menyelamatkan dunia ini?
Warning(s) : Miss Typoooo
"….BODOOOHH!" wajah merah malu Arthur berubah menjadi merah karena marah. Teriakannya membuat semuanya melihat ke arahnya dengan kaget, terkecuali Alfred yang malah tertawa sambil memegangi perutnya yang sakit. Namun, tawaannya berhenti ketika Arthur malah memukul perutnya
"Aduh! J-jangan memukul! Nanti aku buang gas!" keluh Alfred sambil mengambil langkah menjauh sementara semuanya menahan tawa
"KALAU KAU MULES BILANG SAJA LANGSUNG TIDAK USAH MENATAPKU BEGITU, BODOH!" wajah Arthur semakin memerah, entah karena malu atau marah
"Sudahlah, Artie. Sebaiknya kita mencari kamar kecil sekarang, kasihan si Alfred tuh," kata Francis sambil menahan tawanya
Arthur hanya menatap Alfred sinis, namun ia mengangguk dan mendecak 'Bodoh..'
"Kurasa ada kamar kecil didekat sini, ikuti aku," Ludwig berjalan memutar, menuju ruangan misterius yang cukup gelap.
Dan ternyata, ruangan itu adalah kamar kecil khusus laki-laki. Ludwig langsung membukakan sebuah pintu, dan menyuruh Alfred untuk masuk kedalamnya.
"Cepat masuk dan jangan lama-lama. Jangan banyak bersuara karena mungkin mereka akan mendengar suaramu,"
Alfred hanya mengangguk dan menutup pintu. Sementara yang lainnya berjaga-jaga diluar. Setelah beberapa menit, mereka mulai menutup hidung mereka karena bau yang tidak enak tercium dari kamar kecil yang Alfred masuki. Terlebih ketika mereka mendengar Alfred berkata, "Ooi.. Tidak ada apa-apa nih disini,"
"M-maksudmu tidak ada apa-apa?" bisik Ludwig pelan namun dapat terdengar oleh Alfred.
"Tidak ada air, sabun, ataupun tisu! Bagaimana aku bisa membersihkan diriku kalau tidak ada salah satu dari tiga itu?" kata-kata ini sukses membuat mereka semua hampir muntah.
"G-gunakan apa saja! Kain bajumu juga tidak apa! Tapi kainnya dirobek!" Ludwig sedikit kesal.
"E-eh! Tunggu! Aku menemukan tisu nih! Ahaha! Ternyata ada dibawah sini!"
Ludwig semakin kesal, begitu juga dengan yang lainnya, "Berhenti berbicara dan cepatlah!"
"Iya iya. Sebentar lagi,"
Ludwig menghela nafas kesal, begitu juga dengan Arthur yang masih kesal dengan perkataan Alfred beberapa menit yang lalu.
"Ciihh.. Kukira ia ingin menyatakan perasaannya atau semacamnya padaku! Bodoh! Alfred bodoh!" batinnya dengan wajah memerah karena marah dan malu.
Arthur telah lama menyukai Alfred. Namun ia memutuskan untuk menyembunyikan perasaannya karena ia tahu Alfred terlalu bodoh untuk dapat mengetahui perasaan Arthur padanya. Bagaimana pun juga, Arthur juga tidak mengetahui perasaan Alfred yang sebenarnya padanya.
"Alfred! Apa kau bisa mempercepat sedikit?" Ludwig mulai kehabisan kesabaran. Terlebih ketika ia mendengar suara erangan zombie tidak jauh dari mereka.
"Alfred!"
"S-sebentaar! Sedikit lagi!" Alfred berkata dengan suara yang cukup keras. Membuat zombie-zombie tersebut mendengar perkataannya dan dengan cepat mengetahui keberadaannya.
"Groaaaa!"
"Rrrraaaaaa!"
"Kaaahhhrrr!"
Suara-suara zombie tersebut semakin mendekat. Dan Ludwig tahu bahwa mereka sedang menuju kearahnya dan yang lainnya.
"Verdamnt!" desah Ludwig
"…Ah! M-mereka datang!"
"Mon dieu! Jangan disini!"
"Ciih! Biar kutembak mereka!"
"F-fiiihh..!"
"Alfred! Tetap disana! Jangan keluar sebelum mendengar aba-aba!" Arthur mengambil kapaknya sementara yang lain menyiapkan diri mereka masing-masing untuk kembali berhadapan dengan zombie yang tidak ada habisnya.
"Eeeehh? M-maksudmu?" Alfred mulai panik ketika ia juga mendengar erangan zombie yang semakin besar
"TETAP DISANA!" bentak Arthur, membuat Alfred terdiam ketakutan dan membalas dengan suara kecil
"B-baik.." ia semakin ketakutan ketika ia mendengar Ludwig memberi yang lainnya aba-aba untuk pergi lalu suara langkah kaki menjauh dan sebuah suara pintu yang dibanting. Ia tahu bahwa sekarang ia sendirian…
Di sebuah kamar kecil?
Konyol sekali!
Apakah seorang 'Hero' pantas untuk sendirian di sebuah kamar kecil dan ketakutan sementara teman-temannya sedang berjuang menyelamatkan dunia?
Tentu saja tidak. Sama sekali tidak.
Hero macam apa itu?
"Maaf, Iggy.." Alfred menghela nafas kecil, "Bukannya bermaksud membuatmu marah lagi, ya. Tapi, ini memang sudah tugasku untuk membantu dan menghajar zombie-zombie kurang ajar itu. Terlebih, aku harus melindungimu. Jadi.." ia meraih knot pintu, mencoba untuk membukanya namun ternyata ia telah dikunci dari luar.
Mendesah kecil namun tersenyum, ia mengambil langkah mundur, "Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk mengerjakan tugasku sebagai Hero yang akan melindungi Hero ini!"
Dan saat itulah ia mendengar sebuah suara kecil dibelakangnya.
"Grrrhhh…"
"Eh?"
Alfred menoleh ke belakangnya. Ia tidak melihat siapa-siapa namun matanya melebar ketika ia melihat bercak-bercak jejak tangan berdarah di dinding.
Mengapa ia tidak menyadarinya dari tadi? Sial!
Tubuhnya mendadak tidak bisa bergerak ketika ia melihat zombie tiba-tiba muncul didepannya dari atas.
Tidak salah lagi, ini pasti Sneeker!
Alfred mencoba menggerakkan tubuhnya yang mulai kaku karena ketakutan, gerakannya pun menjadi seperti robot. Ini membuat Sneeker mempunyai kesempatan untuk menerkamnya.
"Aaaaahhh!" Sneeker melompat dan menerkam Alfred.
Sebelum zombie yang merayap tersebut dapat menyerang Alfred, dengan spontan Alfred menonjok keras-keras wajah Sneeker hingga terlempar dan membentur dinding. Wajahnya yang hancur semakin hancur akibat serangan dari Alfred. Tangan Alfred yang digunakan untuk menonjok tadi berlumuran banyak darah.
Serangan tadi membuat Alfred dapat menggerakan tubuhnya dengan normal, namun ia kesusahan berdiri karena ruangannya memang sedikit sempit. Begitu juga dengan Sneeker, namun zombie ini dapat lebih mudah kembali ke posisi awalnya karena sekarang ia sudah merayap di dinding kamar kecil. Mengelilingi Alfred yang sedikit ketakutan namun kesal.
"Oi, kau tahu?" Alfred tidak peduli zombie ini akan mengerti perkataannya atau tidak, "Aku baru saja akan keluar lalu menyelamatkan dunia dan melindungi seseorang karena itu tugasku. Tapi, kau malah menggangguku!"
Sneeker terus memutari Alfred di dinding. Hanya mengeluarkan erangan-erangan kecil.
"Yang mengganggu seorang HERO yang akan mengerjakan tugasnya harus MATI!"
"Grroaaaarrr!" Sneeker mengerang keras dan segera menerkam Alfred.
Alfred bersandar pada dinding sehingga ia tidak jatuh ketika diterkam. Ia merintih kecil ketika kuku-kuku tajam Sneeker menggores lengannya hingga terluka. Alfred pun langsung membanting Sneeker, membenturkan kepalanya ke keramik toilet duduk.
Darah bermuncratan ke seluruh ruangan. Sneeker tersebut tidak bergerak kembali. Bau darah yang menyengat pun tercium oleh hidung Alfred. Ia berdecak lalu mulai mencoba membuka pintu.
Ia menarik knot pintu sekuat mungkin, namun tidak bisa terbuka. Ia mendobrak pintu sekuat mungkin, namun masih tidak bisa dibuka. Ketika ia akan mendobrak kembali, tiba-tiba Sneeker yang ternyata masih hidup kembali menyerangnya. ia menarik Alfred dan membantingnya. Kepalanya tidak terbentur namun Alfred merasakan punggungnya akan segera patah jika ia kembali dibanting. Alfred merintih kesakitan. Ia hanya bisa menggerakkan tangannya.
"A-aaahhhh…Ahh…S-sialan…"
Tangan Alfred meraba-raba lantai dan tidak sengaja menyentuh sebuah benda yang cukup tajam. Ia pun segera mengambil benda itu dan menusuk Sneeker diantara leher dan bahunya. Sneeker mengerang keras dan menyerang balik Alfred namun dengan segera Alfred menghindar dan kembali menusuk Sneeker. Kali ini tepat di hatinya. Sneeker mengerang lebih keras sebelum menyerang secara asal, membuat Alfred dengan mudah dapat menghindari serangan-serangannya dan terus menusuk-nusuk Sneeker dengan benda tersebut.
Setelah beberapa tusukan, akhirnya Sneeker terbaring lemas, tubuhnya masih bergerak namun ia sudah tidak bisa menyerang kembali. Alfred dengan cepat-cepat menancapkan benda tajam tersebut di kepala Sneeker dan memukul pintu kamar kecil dengan keras berulang-ulang kali. Pintu yang memang sudah tua tersebut pun terbuka setelah beberapa pukulan yang melemah, dan Alfred langsung bergegas keluar kamar kecil, mengambil gergaji pemotongnya dan mencari teman-temannya.
Ruangannya sudah sepi dan gelap, membuat Alfred merasa ketakutan.
"A-Arthur? Francis? M-Matthew?" Alfred memanggil teman-temannya. Namun tidak ada jawaban, hanya ada suaranya yang bergema kemana-mana. Membuat suasana semakin menakutkan.
"Ludwig? Vash?" Alfred kembali memanggil. Dan seperti tadi, tidak ada jawaban. Namun kali ini Alfred mendengar suara aneh yang berasal dari kamar kecil wanita, ia langsung bergidik seketika. Ia merasa ia sudah tidak bisa berkelahi lagi, berjalan saja ia kesulitan akibat serangan Sneeker tadi.
Suara aneh tersebut semakin membesar, Alfred semakin ketakutan dan langsung pergi dengan langkah cepat meninggalkan tempat dimana seharusnya ia diam dan menunggu teman-temannya kembali.
"O-ooiii.." Alfred terus memanggil, namun dengan nada kecil karena ia takut justru yang mendengar suaranya adalah zombie-zombie yang mungkin bersembunyi disela-sela bangunan sekolah.
Ia terus berjalan kemana pun jalan menuju. Dan pada akhirnya, ia sadar bahwa ia tersesat.
"Hah..hah…hah..S-sudah semua?" Arthur terengah-engah, ia belum beristirahat banyak setelah perkelahian pertamanya dengan para zombie di tempat pertama kali ia bertemu Tanker tadi.
"Kurasa," kata Ludwig sambil menumpuk tubuh-tubuh mati zombie.
"Mereka banyak sekali, fiihh.." Mix juga sudah mulai merasa lelah.
"Oui, tapi mereka tidak sehebat kita, non?" Francis tersenyum sambil merangkul Matthew yang juga kelelahan. Kumajiro menempel di kakinya,
"…Begitulah…" jawab Matthew kecil.
"Aku ingin tahu apa orang Amerika itu menuruti perintahmu, Arthur," kata-kata Vash membuat Arthur terbelalak dan langsung mengambil kapaknya,
"B-benar juga! Kita harus segera kembali ke Alfred! Aku tidak mau membuatnya menunggu terlalu lama dan keluar dari kamar kecil itu!" Arthur segera berjalan dengan cepat kembali ke tempat Alfred yang tidak terlalu jauh darinya.
"Tenanglah, setidaknya pintu kamar kecilnya sudah kukunci," Ludwig mencoba menenangkan Arthur yang jalannya terlalu cepat sambil berjalan lumayan jauh dibelakangnya diikuti yang lainnya.
"Lud, apa kau tidak kenal Alfred?" Arthur mempercepat langkahnya.
"Apa maksudmu?"
"Alfred itu sangat kuat sekalipun ia sedang dalam keadaan sakit. Aku yakin jika kita membuatnya menunggu lebih lama ia akan merobohkan pintu itu dan keluar," kata Arthur sebelum akhirnya ia berlari dalam keadaan lelah. Hanya untuk memastikan bahwa Alfred masih menunggu mereka di kamar kecil.
"Tsk, dia ini.." batin Ludwig. Ia pun menyuruh semuanya untuk bergegas kembali ke tempat Alfred.
"Al! Alfred!" Arthur memanggil nama teman Amerikanya
"Alfred! Kau disana? Alf—" Arthur sangat terkejut ketika ia melihat pintu kamar kecil yang Alfred masuki sekarang terbuka lebar. Ia segera berlari kesana dan semakin terkejut ketika matanya hanya melihat Sneeker yang terbaring lemas dipenuhi dengan darah.
"Sudah kuduga!" ia berteriak kesal.
"Arthur, ada ap—" Ludwig yang baru saja datang dan akan bertanya apa yang terjadi juga ikut terbelalak ketika melihat apa yang Arthur lihat. Ia juga ikut kesal.
"Si bodoh itu! Kita harus segera menemukan Alfred! Aku tidak ingin ada sesuatu yang buruk terjadi padanya! Ia dalam keadaan lemah!" Arthur menghentakkan kakinya dengan sangat keras. Membuat suara hentakan yang cukup keras.
Cukup keras untuk dapat terdengar oleh Alfred. Sayangnya, Alfred malah mengira suara tersebut adalah suara zombie yang mendekat.
"Sial," bisik Alfred. Ia segera berjalan cepat mencoba menjauh dari asal suara yang ia dengar tadi.
Ia terus berjalan mengitari sekolah, namun tidak berani membuka pintu satupun karena ia takut dibelakang pintu itu ada Deon atau yang lebih buruk lagi.
Beberapa menit berjalan, Alfred merasa gelisah. Bagaimana tidak, ia sendirian, di sebuah sekolah tua yang sudah lama ditinggalkan, gelap dan berdebu, dan ia merasakan udara dingin yang menyakitkan, terlebih ia tahu, pastinya di sekitar sekolah ini ada zombie yang sedang bersembunyi, menunggu mangsanya datang dengan lapar.
Sangat lapar.
Ia pun kelelahan dan segera beristirahat. Duduk bersandar pada dinding yang sudah sedikit hancur. Memejamkan matanya dan berusaha untuk menenangkan dirinya sedikit.
'D-dimana aku sekarang? Dimana Arthur dan yang lainnya sekarang? Kemana aku harus pergi? A-apa aku akan baik-baik saja sendirian seperti ini? Apa..Apa aku akan bertemu dengan mereka lagi?' Alfred terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, dan sadar, betapa bodohnya ia karena (kembali) melanggar perintah Arthur, ia sangat menyesal. 'Apa yang harus aku lakukan sekarang?'
Tanpa disadari, air mata mulai jatuh dari mata biru langit yang tertutup milik Alfred. Ia menangis. Ia menangis karena ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan kemana harus ia pergi sekarang. Ia masih kesakitan akan luka-luka dan bekas perkelahiannya dengan Sneeker tadi. Bahkan punggungnya sudah mulai kaku dan sedikit sulit untuk digerakkan! 'Mungkin aku akan mati disini. Mungkin akan datang segerombolan zombie lalu mereka menemukanku dengan keadaan lemah lalu mereka memangsaku hidup-hidup lalu aku akan mati dan menunggu waktuku hidup kembali, itupun jika Arthur berhasil memutar waktu dan mencegah Frederick gila itu untuk membuat ramuan gilanya.'
Alfred menghela nafas panjang tak bersuara. Sendirian, tidak tahu harus kemana, lelah, dan lemah. Alfred sudah pasrah, 'Biarlah waktu yang menjawab' batinnya ketika ia mulai terlelap pulas.
.
.
.
Sebelum matanya terbuka lebar ketika ia mendengar tangisan seseorang.
~To Be Continued~
Huaaaa.. lagi-lagi telat updet! #nangis dipojokan
Dan maaf banget ya ceritanya cepet.. entah kenapa ide mentok QmQ
Seperti biasa.. Review!
