*Disclaimer*
Bungou Stray Dogs just by Asagiri Kafuka Harukawa Sango
WARN : BoysLove, ABO, smut, OOC (saya berusaha sebisa mungkin membuat karakter-karakter ini IC tapi ternyata tetap OOC *cry), Typo (always)
.
.
CHAPTER VIII
Tubuhnya masih bergelut dengan selimut, menggulung dan berguling seperti ulat yang baru menetas. Berisik langkah Dazai yang sedari tadi mondar-mandir tak diacuhkan, Chuuya memilih menikmati tempat tidur hangat yang menenggelamkan badan.
"Kau tukang tidur, hei bangun!" Tanpa perasaan Dazai menarik selimut itu. Chuuya yang menekuk tubuh seperti janin kembali berguling ke tempat dimana cahaya matahari tak menyentuhnya.
"Aku benci kau. Pergi sana, dasar pengganggu!"
Dazai menghela napas. Dia tidak pernah menduga sifat Chuuya yang begitu sulit untuk dibangunkan. Teringat saat pertama ia datang ke toko mekanik itu, bukanya jam 12 bukan? Jadi ini alasan kenapa dia buka selama itu dan masih dengan kondisi bangun tidur saat Dazai datang.
"Chuuya, ini waktunya sarapan. Jangan jadi menyebalkan."
"Aku biasanya sarapan jam sembilan!" kenapa malah dia yang berteriak kesal?
"Jam sembilan kita sudah sampai di stasiun. Sekarang, ayo bangun!"
Mata Chuuya akhirnya terbuka, kesal larut dalam azure yang masih mengantuk. Dilihatnya wajah Dazai, kemudian tertawa, "Matamu berkantung.. Lebih parah dari kemarin."
Duduknya diperbaiki, menguap di sisi tempat tidur, masih tertunduk, dan mengucek mata. "Kau yakin baik-baik saja? Rasanya seram juga melihatmu seperti zombi begitu." ia tanya lagi pada si brunette yang sedang melipat handuk.
Dazai benar-benar tidak butuh komentar menyebalkan itu— tidak dari orang yang menjadi alasan kenapa dia tidak bisa tidur semalaman. Dan baru saja, dia harus mati-matian membangunkannya dari tidur yang sangat lelap. Bagaimana pun, Dazai Osamu juga bisa kesal.
Setelah napas panjang, Dazai bersuara dengan sopan, "Aku senang Chuuya mengkhawatirkanku, tapi tidak apa. Lebih baik pikirkan saja pakaianmu itu.."
Azure Chuuya beralih ke bawah, dilihatnya beberapa kancing kemeja yang terbuka hingga kulitnya terlihat. Garis merah muda tipis mewarnai pipinya, dengan gigi rapat ia mengumpat seraya merapihkan busana seadanya itu.
"Dazai sialan."
"Kenapa aku yang jadi sialan?" lagi, Dazai memasang wajah malas. "Kenapa Chuuya tidak masuk ke mode pengertian seperti saat kita pertama naik kereta ini? Kenapa sifat menyebalkanmu kumat di saat melelahkan ini?"
"Kau ini bicara apa sih?" tabahkan Dazai yang uneg-unegnya tak digubris si mungil. "Aku lapar. Mana tongkatku?" Ah, dia tambah menyebalkan.
"Kau seperti Putri Raja saja.." tongkat diberi, ia membantu pria itu berdiri. "Sudah baikan kakimu?"
"Yaa.." Chuuya mengangguk sebelum melempar senyum lebar, "Terimakasih loh yah."
Sial sekali, senyum itu berhasil meluluhkan seluruh kesal yang melanda hati. "Chuuya, kau ajaib."
Chuuya berjalan di depan sementara Dazai mengikuti di belakangnya. Lorong itu terlalu sempit untuk mereka berjalan berdampingan, tapi spot ini bagus juga. Karena Dazai bisa dengan fokus melihat betis belakang Chuuya yang tidak tertutup celana pendeknya. Rasanya Dazai mendengar siulan genit saat kemeja tersibak dan menampakkan kulit putih si mekanik.
Begitu Chuuya membuka pintu gerbong makan, semua mata yang ada di sana tertuju padanya. Gugup, bulir keringat jatuh. "Mereka melihatku?" bisiknya pada Dazai yang berdiri di belakang.
"Atau mungkin kita?" mata mereka bertemu singkat. "Ayo, itu ada tempat kosong." Tangan Dazai bertaut di jemari Chuuya, menariknya menuju sebuah meja segi empat di sisi kiri pintu. Sofa tempel yang melingkar sudah menggantikan kursi kayu yang semalam patah. Cepat sekali Leasmburg membenah gerbong yang semalan penuh darah ini.
Seorang pelayan datang beberapa saat setelah mereka duduk. Kali ini, Chuuya benar-benar tidak ingin menggunakan otak. Dengan segera ia membuang wajah ke arah jendela, menyerahkan semua tugas pesan-memesan pada pria di sebelahnya.
"Burrito, Chuuya mau kopi? Moka saja yah? Semuanya dua.. Terimakasih." Dazai melempar senyum saat pelayan itu pergi, "Berapa lama lukamu bisa sembuh Chuuya?"
"Hm? Nanti siang mungkin."
"Jangan sok jago.." senyumnya dibalas cengiran lebar oleh si sinoper.
"Semoga besok sudah baikan. Pestanya besok malam, aku tidak ingin kesana hanya untuk istirahat."
"Kalau Chuuya sih, malam ini juga pasti sudah bisa berlari-lari. Semalam saja aku sudah ditendang dari kasur."
Chuuya menyikut perut Dazai sebagai balasan sindirannya. "Nah kan sudah sehat..." si brunette malah tersenyum.
Senyum yang sangat hangat di pagi hari yang sedikit mendung. Bibirnya menekuk, keinginan untuk terus melihat wajah tampan itu bertabrakan dengan gengsi yang menolak mengakui pesona Dazai Osamu. "Kau tidak tampan." Chuuya mengatakan sendiri penolakannya terhadap kenyataan. Dazai terkekeh.
"Kau lucu sekali. Aku pasti awet muda kalau tinggal serumah denganmu, Chuuya."
"Hah?! Hentikan tawamu itu, idiot! Seperti orang bodoh saja! Oii!"
"Ahaha.." Dazai mengusap air mata yang menitik di sudut hazelnya. Melihat Chuuya merona dengan wajah gugup bercampur kesal tidak pernah membosankan. Apa benar-benar tidak ada dispensasi barang semenit saja, untuk Dazai bisa mengecup bibir itu?
"Tuan, makanannya." suara piring beradu dengan meja kayu memanggil perhatian keduanya. Pelayan pria kembali dengan membawa nampan besi, menyusun mug dan piring dengan rapih sebelum menunduk pergi.
"Aku pikir burrito itu sejenis sup kacang-kacangan, ternyata seperti kebab ya?" Chuuya mulai melahap makanan Meksiko itu, "Rasa jagung!" dan dengan kampungannya melapor pada Dazai.
"Yang membungkusnya itu dibuat dari jagung. Walau isinya cabai merah atau daging saus asam seperti ini, tapi manis kan?"
Mengangguk, mata berbinar Chuuya mengatakan ia suka. Lahapan selanjutnya seperti anak kelaparan dan tanpa etika, tapi di kakao Dazai dia begitu indah. "Aku tidak tanggung jawab kalau kau tersedak."
"imim-emam, ao aham."
"Iya aku tau itu enak dan kau tadi sudah bilang kalau kau lapar. Dan tolong, jangan bicara dengan mulut penuh.." napas kembali dihela dengan berat, namun setelahnya senyum kecil terbit. Dazai memakan burritonya dengan perlahan, seperti cemilan saat menonton adegan panas di depannya. Seorang Nakahara Chuuya yang menggerakkan bibir ranumnya.
Saat makanan Chuuya habis, milik Dazai masih setengah lagi. Moka hangat diteguk, sendawa kecil terlepas. Wajahnya begitu puas dengan senyum mengembang ria. Detik demi detik tidak disia-siakan Dazai untuk melihat tiap perubahan mimik bahagia itu. Dia ingin selalu melihatnya.
"Aku mau buat itu saat sampai rumah. Jagung mahal tidak yah?" gumamnya. "Hm.. Tapi kalau belajar, tidak pakai jagung sepertinya bisa yah? Eh, tapi nanti rasanya tidak semanis tadi yah? Hmm.. Bagaimana yah?"
Ocehannya terhenti. Chuuya tertegun seraya mengalihkan pandangan pada arah sebuah kecupan yang mendarat di sisi surai jingganya. "A-apa?!" seketika rautnya berubah menjadi anak gadis yang bertemu pria tampan.
"Ajak aku ngobrol juga dong." senyum itu semakin membakar wajah Chuuya. Dazai yang tidak segan membelai kepala belakangnya dengan lembut. Untuk kesekian kali Chuuya terpana.
Mata mereka berbalas-balasan. Hazel dengan ungkapan manis, dan Sapphire dengan dilema terhipnotis.
"Chuuya baumu manis sekali ya? Kau yakin tidak sedang heat?"
"Hahh? Lucu sekali. Aku tidak heat. Aku tidak merasakan apapun, aku sehat."
"Hmm... Lalu kau pakai parfum? Atau shampo?"
"Pertanyaan bodoh. Semalam kau di sana bersamaku." semburat merah semakin menguar saat kalimatnya merujuk pada malam mereka berbagi ruangan dan mandi bergantian.
"Iya juga yah.." Dazai menyeruput moka nya, menyisakan buih di tepi bibir yang segera ia jilat. "Mungkin itu gejala heat?"
"Memangnya heat sejenis flu?" mata Chuuya menatap pria itu malas. "Aku sudah bilang, hidungmu saja yang seperti anjing."
"Itu menyulitkanku loh Chuuya.. Sungguh.."
"Hah?" wajah bloon itu tidak membantu. Ya ampun, Dazai ingin menyelipkan lidah di bibir yang terbuka itu!
Tubuh dicondongkan, wajah mereka begitu dekat. "Aku alpha kau ingat?"
Chuuya bergidik saat suara rendah Dazai dan senyumannya tampil bersamaan. Begitu mempesona walau kalimatnya adalah peringatan.
"Dan beberapa orang di sini juga alpha. Sebaiknya kita kembali ke ruangan saja. Cepat habiskan minumanmu."
"Uh-umm.." dengan saraf yang macet, Chuuya meneguk mokanya.
Sepanjang waktu yang mereka habiskan berdua di kamar hanya diisi dengan Dazai yang duduk di kursi dengan buku terbuka di tangannya sementara Chuuya termangu setengah melamun melihat ladang-ladang gandum yang bergerak menjauh melalui kaca jendela.
Tidak ada yang bicara, keduanya terlalu lelah. Terutama si brunette yang beberapa kali hampir tertidur di tengah membacanya. Sampai tiba beberapa menit sebelum Stasiun Distrik 4 dicapai, Chuuya bersuara.
"Aku bisa lihat stasiunnya." ia berdiri dengan lutut dan mendongakkan kepala ke luar jendela. "Dazai, stasiunnya dari bata merah kan? Itu di sana. Aku bisa lihat!"
"Ah iya.." Dazai mendekat, menjaga jarak, ikut mengintip dengan posisi aman dari si sinoper agar tidak terkena efek bau yang melenakan itu. "Ayo Chuuya.."
Perlahan dia memapah, mengajak pria mungil keluar dari dalam ruangan. Chuuya masih menjadi Tuan Putri, berjalan dengan tongkat di depan brunette yang membawa semua barang, walau hanya koper Dazai sih.
Dengan senyum mengembang, Chuuya menghirup napas lega begitu kakinya berpijak di peron. "Wahh... Sudah lama sekali tidak kesini."
"Chuuya, jangan jauh-jauh dariku. Dan, sebelum itu ayo cari pakaianmu dulu."
Masih mengenakan kemeja hitam kebesaran. Bahu, punggung, leher, semua masih tampak. Pahanya kadang tersibak saat berjalan. Dazai senang, tapi jika disajikan di berpuluh pasang mata, tidak, terimakasih. Penampilan minim itu ada untuk dinikmati hanya oleh Dazai Osamu.
"Kemari." satu tangan yang bebas menggenggam pergelangan tangan Chuuya. Perlahan menariknya ke luar dari stasiun.
"Hmp.. Padahal aku masih mau lihat-lihat stasiunnya."
Dazai penasaran, apa yang membuat Chuuya begitu menyebalkan dari pagi. "Pulang nanti masih ada waktu."
"Oh, iya juga.."
Mereka berhenti setelah berjalan sekitar tiga ratus meter karena memang stasiun itu dikelilingi oleh kompleks perbelanjaan. Tempatnya sebuah butik dengan gedung putih abu-abu besar, seperti gedung direktorat dengan tiga tingkat. Di depannya banyak tenda makanan, bangunan bata kokoh dengan jendela kaca yang menutupi manekin manekin putih mengkilap.
Tanpa masuk pun Chuuya yang bodoh bisa dengan mudah mengetahui kasta orang-orang yang berbelanja di toko itu. "Disini pasti mahal Dazai!" ia berbisik dengan nada menekan.
"Ah, tidak kok. Aku sering menemani Dokter di tempatku bekerja yang hobi berbelanja di sini." Dazai bercerita singkat dengan senyum tipis. Membuka pintu kaca dan masuk diikuti Chuuya yang melangkah ragu.
Tidak terhitung berapa manekin terpajang dengan pakaian-pakaian fashionable di sana. Gantungan baju berjejer-jejer dengan bermacam warna. Interior yang menakjubkan. Chuuya bisa merasakan kesan modern klasik yang memenuhi ruangan luas itu. Orang-orang yang berbelanja pun memakai busana mewah, pasti mahal. Ditemani satu atau dua pelayan yang membawakan belanjaannya. Tidak memikirkan harga, mengambil semua yang mereka suka tanpa pikir panjang.
Membandingkan dengan Nakahara Chuuya, dia lebih sering mengambil baju dari pasar loak. Pakaian-pakaian gagal produksi. Yang tidak ada kancingnya, ia jadikan kardigan. Yang sobek lengannya, ia gulung seperti hoodie atau kadang dijadikan rompi. Dibantu skill ramah kantung, seperti itulah Chuuya mendapatkan pakaian dengan harga murah, bahkan kadang gratis.
"Kalian selalu ramai ya."
Terpakunya dipanggil oleh suara Dazai yang berbicara pada seorang pelayan wanita.
"Ah, Dazai-san. Lama tidak melihatmu.. Siapa ini?"
"Calonku.." Dazai terkekeh, Chuuya merona dengan perempatan kesal.
"Kutendang kau ya!"
"Ohhh... Dazai-san sudah memilih untuk mencari pasangan sejati yah?" wanita berambut coklat itu tertawa. "Aku pikir kau tidak akan pernah berhubungan serius."
"Ah, Kirako-san berhenti meledekku. Aku juga tidak mengira akan ada saat seperti ini di hidupku. Ah, yang lebih penting, bisa kau berikan aku beberapa pakaian untuknya?"
"Dazai-san, aku baru ingat kalau kau juga manusia." Mata Kirako terpejam dalam senyum sebelum melirik Chuuya. "Kemari."
Langkah semampainya berjalan perlahan memandu kedua tamu itu menuju sebuah barak dengan berbagai gantungan baju dan celana. "Aku pikir ini ukuran yang pas untuk Anda. Silahkan dipilih saja, Dazai-san, dan kekasihnya Dazai-san."
"Hah?! Aku bukan kekasih si bodoh ini!" Chuuya menggeram kesal namun dibalas senyum oleh kedua orang yang menikmati wajah imutnya. Walau risih dengan title kecil yang diberikan Kirako, Chuuya sama sekali tak mengerti kenapa secuil dadanya merasa hangat mendengar sebutan itu.
"Aku mengerti kenapa Dazai-san menyukaimu." Kirako kembali melempar senyum anggunnya. "Aku permisi dulu." kemudian dia pergi.
"Kau sialan, Dazai!" tongkat Chuuya memukul kaki si jangkung tepat setelah bayangan Kirako hilang di balik tirai bilik sebelah. "Berhenti membuat candaan tentang hal itu. Aku tidak suka."
"Candaan? Tapi aku serius loh.." Rasanya sedih saat impian tulus itu dianggap sebagai permainan. Tapi tatapan sendu jujur yang ia buat hanya dibalas dengan keyakinan teguh oleh si sinoper. Dazai tidak diizinkan memelas, kecintaan Chuuya pada kesendirian masih terlalu kuat untuk dirusak.
Jantungnya perlahan tenang, "Kau bilang mau memilih pakaiannya? Silahkan."
"Em.. Berapa banyak?"
"Sebanyak yang kau mau."
"Dazaiii...!"
"Serius loh.. Aku tunggu disini yah. Kalau kakimu lelah katakan padaku." Dazai tau pria itu tidak suka. Bahkan walau Chuuya membuang semua pakaian yang akan dibelikannya, Dazai cukup bahagia karena menghabiskan isi dompet untuk pria itu.
Sementara Chuuya yang terpaku pada wajah lelah si brunette tidak tergugah untuk menolak. Ia tau semua kesalahannya yang membuat Dazai tampak begitu lelah, dan dia juga tahu kalau pria itu memiliki euforia saat menghabiskan uang. Tidak mengerti, tapi Chuuya paham yang harus ia lakukan. Karena itu dia tidak berdebat dan menjawab dengan "...Iya.." bernada ragu.
Setelahnya, Nakahara Chuuya mulai berkutat pada tumpukan kain yang digantungkan rapih. Diambilnya satu yang menarik perhatian, sebuah kemeja putih polos dengan aksen hitam di kerahnya, simple dan mungkin murah. Ia melihat kertas merk dan struck, namun membatu seketika karena 3 digit angka yang cukup untuk membeli tempat tidur baru. Cepat-cepat ia kembalikan kemeja itu ke tempat asalnya, tidak ingin melihat pemicu pemborosan.
Sungguh terlihat betapa kere dirinya saat mengelilingi barakan itu hanya untuk mengintip semua struck harga yang tergantung. Tapi tidak ada. Satu pun tidak ada. Bahkan kaos biru polos yang bisa dia dapatkan seharga dua apel disini senilai dengan kemeja yang pertama ia ambil. Tidak ada label dengan harga 'mahal' di sudut panjang Chuuya, semuanya terlalu tinggi sebagai mimpi untuk mendapatkan label itu.
Ingin menyerah, Chuuya melirik Dazai yang bersandar di tembok dengan senyum manis yang tersungging penuh siksaan. Sialan, dia membawa Chuuya ke tempat Chuuya tidak bisa mendapatkan harga yang waras.
"Hei. Dazai! Sungguh, aku benar-benar tidak tau apa yang harus kubeli! Gila sekali harganya! Ayo cari tempat lain!"
"Aku malas. Disini saja lah."
"Tapi harganya itu loh! Ya ampun..."
"Tidak usah pikirkan harganya. Ambil saja yang Chuuya suka."
"Mana bisa! Itu kan uangmu!"
"Karena itu, kau harus ambil sepuasnya."
Senyum itu membuat Chuuya kembali terpelongo. Dengan gugup, bingung, kesal, tapi tidak bisa berkutik karena dia tidak tau lagi harus berbuat apa untuk menghentikan aksi hedonisme Dazai Osamu.
"Ah, sudahlah. Aku saja yang pilihkan. Chuuya lama sekali..."
"Aaa! Tidak usah! Kau disini saja! Biar aku saja!"
"Kalau begitu pergilah. Aku tunggu loh.."
Dengan mata malas dan kesal, Chuuya berbalik. Kembali menuju kumpulan baju-baju mahal, meninggalkan Dazai yang tersenyum jahat melihatnya. Baru kali ini ada orang yang senang saat dompetnya dikuras orang lain, dan baru kali ini juga ada orang yang ditraktir baju mahal malah minta baju murah.
Dua jam, kemudian Chuuya dengan membawa tiga setel pakaian melapor pada Dazai yang setia berdiri menguap. "Hei, ini saja. Bagaimana?"
Kakao Dazai melihat dengan pandangan remeh, "Kau habiskan dua jam waktuku hanya untuk itu?"
"Mau gimana lagi? Aku capek membandingkan harga!"
"Dan siapa yang menyuruhmu memerhatikan harga?"
Chuuya bisu, tatapan Dazai mengintimidasinya dengan tajam. Tapi tidak seperti waktu-waktu sebelumnya, Chuuya membalas dengan mata menantang, namun takluk.
"Bawa itu ke kasir."
"Ugh. Iya." Chuuya mulai menggerakkan tongkatnya.
"Bukan kau Chuuya. Aku bicara padanya." berhenti, manik azure Chuuya melirik Dazai kemudian beralih ke ujung jari telunjuk pria itu mengarah. Seorang pelayan pria dengan koper yang penuh tumpukan busana di gendongannya.
Nakahara Chuuya menelan ludah, "Aku tidak tau kau orang yang suka berganti-ganti pakaian."
"Siapa bilang itu punyaku?"
"Huh?" mata mereka beradu. Dazai yang tersenyum dengan Chuuya yang menautkan alis bingung. Hingga akhirnya si sinoper berteriak dengan mencengkram kerah pria tinggi itu, "Ya ampun kau boros! Aku tidak mau yah! Hei kau! Pulangkan itu! Aku tidak mau!" titahnya pada si pelayan.
"Tapi aku mau."
"Bodoh sekali! Aku sudah bilang tidak mau pakai uangmu lagi Dazai!"
"Tapi aku mau pakai uangku untuk Chuuya."
"Tch! Kau ini kenapa sih? Aku kan tidak minta!"
"Kan aku sudah bilang, bagiku kau istimewa."
Kalimat Dazai meluluhkan emosi Chuuya yang berapi-api. Sejenak ia terdiam, melepaskan cengkraman dan melangkah menjauh. "Kau kenapa sih?"
"Aku tau Chuuya juga merasakan hal yang sama." senyumnya tampil, diikuti rona merah Nakahara Chuuya yang begitu tipis. "Bawa itu semua ke kasir."
"Idiot."
Chuuya benar-benar kalah telak. Padahal dia berjanji, berikrar, dan bersumpah tidak akan lagi memakai uang Dazai Osamu untuk keperluannya. Tapi pemuda itu, pemuda dengan mata kopi yang begitu dalam itu, tiap kali Chuuya beradu pandang dan menatap ke dasarnya, entah kenapa dia tidak bisa melawan. Entah kenapa semua emosinya seperti tertekan dan tidak bisa menang. Dia benar-benar kalah, karena itu kakinya melangkah mengikuti Dazai yang berjalan menggenggam tangannya.
Mereka keluar dengan Dazai yang membawa dua koper. Satu miliknya, dan satu milik si mekanik mungil yang berjalan dengan tongkat. Pakaiannya sudah berganti. Si mungil kini dengan jeans navy yang agak longgar, kaus putih polos yang dilapisi jaket abu-abu, dilengkapi dengan sneaker putih bercorak hitam abu-abu. Sungguh stylish, tapi Dazai tidak suka. Dia lebih menyukai pakaian Chuuya yang sebelumnya. Maksudnya, kemeja longgar yang menampakkan bahu dan dada. Ah, seharusnya mereka belanjanya nanti-nanti saja.
"Kita naik kereta kuda. AKU yang bayar ongkosnya!" suara pemuda Nakahara yang menekan 'aku' dengan begitu keras memanggil termangu Dazai Osamu. Tidak menyisakan celah agar pria itu bisa mengeluarkan dompetnya lagi.
"Iya Chuuya.. Iya." dengan mata yang berputar malas Dazai menghela napas. Terimakasih kekeras kepalaan Chuuya yang melatihnya mencari rencana untuk bersikap romantis.
Hanya dua menit setelah ultimatum Chuuya, sebuah kereta kuda berhenti akibat isyarat tangannya. Seorang kusir dengan jas maroon rapih tersenyum ramah menyambut pelanggan.
"Ohh! Yukio-san!" Dazai meletakkan kedua koper yang ia pegang. Mengulurkan tangan untuk menjabat si kusir yang melebarkan mata.
Chuuya menatap gerak-geriknya, bingung.
"Ah. Lama tidak bertemu. Kupikir Anda sudah membuka peternakan kuda, ternyata masih menjadi kusir yah.."
Si kusir yang setia dengan bingungnya tetap menerima jabatan itu. Ah, ada yang terselip di antara tangannya dan tangan Dazai, beberapa lembar uang yang dilipat dengan rapih. Ragu, ia beralih dan melihat wajah Dazai yang menutup sebelah mata. Ibu jari yang berada di depan dada menunjuk ke arah pria mungil di belakangnya.
Sebuah kesepakatan terjadi. Kusir yang tadi bingung kini ikut tertawa. "Ah iya. Saya tidak bisa lepas dari pekerjaan ini, beruntung sekali kita bertemu lagi. Ayo naik silahkan. Mau kemana? Kemana saja saya antar, gratis."
"Terimakasih Yukio-san. Bisa tolong Anda bawakan koper-koper itu?"
Pria berusia empat puluhan itu turun dari tunggangannya dengan senyum. Mengangkat topi sebagai hormat pada Chuuya —yang masih memasang wajah bloon manis— ketika hendak mengambil koper-koper yang Dazai arahkan.
"Nah Chuuya, ayo naik."
"Huh?" otaknya masih memproses apa yang terjadi. Tapi Chuuya adalah Chuuya, fisiknya lebih cepat bertindak dibandingkan otaknya. Karena itu dia menyambut uluran tangan Dazai sebelum bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Kereta kuda mulai berguncang, berangkat. Chuuya dengan wajah menyelidik memandang Dazai Osamu yang tersenyum lembut menatapnya. "Jadi, kusirnya kenalanmu?" dia memulai pertanyaan pertama.
"Un!" Dazai mengangguk, tapi bohong. "Aku sering menolongnya beberapa kali." Sekali lagi ia bohong. "Dan Chuuya dengar yang dikatakannya tadi? Ongkosnya gratis. Jadi, simpan saja uangmu."
Sayang sekali Nakahara Chuuya begitu lugu untuk melihat muslihat di balik wajah jujur Dazai. Dia sama sekali tidak memikirkan cara curang apapun yang mungkin saja telah dilakukan si brunette mengingat kalau reaksi dari si kusir sendiri memang meyakinkan.
"Ya sudah kalau begitu."
Dazai Osamu untuk ke sekian kalinya, berhasil menyelesaikan misi.
Hening yang mengisi dipecah oleh suara Dazai yang memulai pembicaraan "Perjalanan kita lumayan lama. Sekitar satu setengah jam."
"Kalau naik kereta angin, hanya tinggal berjalan lima menit ke mansion Tachihara."
Sekejap Chuuya melihat tatapan tidak suka yang muncul di manik kakao hingga azurenya mengikuti sosok Dazai yang bangkit dan berpindah duduk di sebelahnya.
"Apa?"
"Aku merasa iritasi barusan."
"Hah?"
Satu nama. Hanya satu nama lain yang disebut Chuuya selain namanya, bisa membuat hati yang mati itu begitu tertekan. Kenapa? Kenapa hanya dengan suara Chuuya ia bisa begitu senang dan begitu sedih?
"Aku tidak mengerti tentang diriku..."
Mata Chuuya menoleh pada bentuk wajah yang memandang ke luar jendela kereta. Terdiam menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan pria bersurai brunette itu.
"Selama ini aku percaya, aku bisa melakukan segala hal karena aku begitu mengenal diriku sendiri. Tapi sejak bertemu denganmu, rasanya aku mulai tidak mengerti tentang aku." Dazai berpaling pada Chuuya, mengukir senyum sendu nan sedih di bibirnya "Akan sangat menyedihkan kalau hanya aku yang merasakan itu yah, Chuuya?"
Detik terasa seperti jam. Chuuya menerawang lurus ke kakao Dazai yang membisikkan sebuah pengharapan. Tidak bisa menjawab, tapi Chuuya tau betapa inginnya ia memeluk pria itu.
"Apa sakit kalau aku tidur di pangkuanmu lagi?" Suara itu menjalankan lagi waktu yang terjeda, Chuuya berhenti berbicara dengan tatapan Dazai.
Lucu. Mengingat cerita tentang siapa dirinya di masa lalu, Chuuya tidak bisa memikirkan bagaimana pria satu ini begitu menghargainya, begitu memedulikannya, begitu mengutamakannya.
"Kemari." jemarinya yang lembut menjawab, menarik kepala Dazai untuk terjatuh di atas pangkuannya. "Kau bodoh yah Dazai?"
"Hm?"
Jemari Chuuya menyisir helai-helai halus itu. Guncangan akibat roda kayu yang menabrak batu tidak lagi terasa karena kantuk lebih memilih peka pada kehangatan Nakahara Chuuya yang menyenyakkan. Di sisa-sia sadar yang mulai kabur, Dazai bisa mendengar suara lembut yang indah itu, "Kau benar-benar bodoh."
To Be Continued
Hayy... lama tak bersua, saya balik ngasih sesuatu yang kita semua inginkan. Tapi sayang, readers sekalian bakal digantungin lagi untuk chapter selanjutnya karena saya sedang super duper sibuk di irl.
Sedih yah, ga sempat ngetik hiks.. Padahal ide lagi lancar lancarnya kemaren. Dan, satu lagi. Chapter 9 saya pos setelah Unbelieveble update. Jadi, readers nunggu lagi deh hehe.. :'v
See You~
Cylva
