A New Chapter
Harry Potter belong to JK ROWLING
Chapter 8
Suara dentingan ketika garpu dan piring bertemu terdengar lebih keras karena ruangan yang terlalu besar untuk tiga orang dan keheningan yang menyelimuti semakin memperparah suasana yang tidak nyaman. sepertinya mereka saling menunggu salah satu dari mereka menancapkan pedang untuk merobek kebisuan.
"Jadi, kapan kau bisa membawa putramu kemari?" Tanya Lucius memasukkan potongan daging ke mulutnya.
Garpu dan pisau di tangan Draco berhenti bekerja. Menelan ludah dan memberanikan diri dari intimidasi ayahnya dia menjawab. "Mereka tidak memiliki kewajiban untuk datang kemari."
"Kau dan putramu adalah pewaris Malfoy. Jadi sudah seharusnya kalian tinggal di Manor," kata Lucius.
"Lucius.." desir Narcissa.
Draco tertawa dan melepaskan pisau dan garpu dari gengamannya. Suara yang ditimbulkan ketika pisau dan garpu itu bertemu dengan piring membuat Narcissa sedikit terkejut.
"Kalau bukan karena Mother, aku bahkan tidak ingin menginjakkan kaki lagi di sini. Aku sudah mengalah dengan menyelanggarakan pernikahanku di sini. aku juga selalu mengunjungi kalian di sini setidaknya setiap minggu. Jadi tidak perlu istri dan putra-putraku menghabiskan waktu di sini," jawab Draco.
"Aku tidak memerlukan mereka. Aku hanya menginginkan kau dan Alexander," kata Lucius.
"Lucius.." kata Narcissa kaget.
"How dare you! Itu.. itu kenapa aku tidak akan membawa mereka ke sini. karena kau masih saja pria picik dengan prasangka buruk terhadap mereka. Kau menerimanya Father. Kalau mereka adalah istri dan anak-anakku," kata Draco mencemoh.
"Kenapa kau membuatnya begitu sulit? Aku mengizinkanmu menikahi darah lumpur itu, ja-"
Draco menggebrak meja.
"Jangan pernah memanggilnya darah lumpur, lagi. Atau kupastikan kau tidak akan pernah bertemu dengan Alexander ataupun cucu-cucumu yang lain!" gertak Lucius.
"Lucius, lebih baik kau diam," kata Narcissa dingin.
Walaupun kedua orang tuanya sudah tidak lagi bertengkar seperti waktu mereka mencoba memberikan ramuan untuk Hermione, tapi mereka tidak lagi terlihat mesra seperti sebelumnya. Kadang Narcissa sering menangis di malam hari dan bersikap dingin terhadap Lucius jika tidak ada yang melihat. Tapi Draco tau bahwa ibunya sangat mencintai ayahnya, jadi meninggalkan lelaki busuk itu bukan sebuah pilihan. Mungkin belum menjadi pilihan, tertutama pada saat Abraxas memberikan ramuan pada Narcissa, pada saat itu Lucius tidak mengetahui kegunaan ramuan itu.
Mendapat tatapan dari Narcissa, Lucius menaruh garpu dan pisaunya, kemudian berdiri dan melangkah pergi dari ruang makan.
Draco menghela nafas panjang. "kenapa kau tidak meninggalkannya?"
Narcissa menggeleng dan meneruskan makanannya.
"Mungkin kau bisa tinggal bersama kami, dan bebas bertemu cucumu," kata Draco sambil lalu.
Narcissa menghentikan makanannya dan menatap Draco sungguh-sungguh. Narcissa menengok ke arah pintu yang tertutup dan kemudian memandang putranya. "Akan kupikirkan," jawabnya.
"Bicara tentang hal itu. Bagaimana perkembanganmu dengan Hermione?" Tanya Narcissa menyelidik.
Draco menggaruk pilipisnya merasa risih ditanyai oleh ibunya mengenai topic Hermione. Narcissa mengetahui apa yang terjadi mengenai hubungannya dengan Hermione seperti apa. Walaupun Draco tidak pernah secara terus terang bicara pada Narcissa, tapi Draco yakin ibunya mengetahui lebih dalam dari pada orang lain.
"Sudah ada kemajuan?" Tanya narcissa lebih dalam.
Draco mengingat bagaimana Hermione menciumnya ketika Louise memintanya, atau bagaimana Hermione memeluknya ketika tidur, atau kemarin ketika dia menjawab Cho tentang kemungkinan anak ke-3 mereka.
"Sedikit," jawab Draco menarik punggungnya. Tidak ingin terlihat terlalu riang. Setalah dipikir-pikir perkembangan hubungannya dengan Hermione sudah cukup signifikan, bukan begitu.
"Kau adalah Slytherin Draco, dan bertingkahlah seperti Slytherin, jangan biarkan dia membuatmu menjadi hufflepuff. Itu yang membuatnya menyukaimu dulu. Dan yang akan membuatnya menyukaimu sekarang. Jangan pernah mencoba menjadi orang lain," kata Narcissa.
"Apa kau sedang memberiku nasehat, Mother?" Tanya Draco.
Narcissa mengelap mulutnya dengan napkin. Dan melenggang ke luar ruangan.
.
.
Hermione membawa karangan bunga mawar yang diantar ke kantornya. Dan berjalan memasuki ruangan kantornya.
"Dia mengirim lagi?" Tanya Celline dari sudut ruangan. Dia dengan santai duduk di sofa.
Hermione cukup terkejut, tidak menyangka temannya sudah ada di ruangannya. Hermione mengangguk. Dan mencium bunga mawar itu. Merapihkan dan menaruhnya di vas yang ada di mejanya. Mengantinya dengan bunga mawar kiriman Draco kemarin. Sudah 5 hari ini Draco selalu mengirimkan bunga ke kantornya. Tapi dia tidak pernah membahasnya di rumah, seakan hal itu tidak terjadi.
"Dia sangat romantis kalau kau Tanya padaku," kata Celline menghela nafas.
"Ya. Belakangan dia mulai tidak malu menunjukannya. Tapi dia tidak mengatakan apapun. Ketika aku menanyakannya dia hanya mengangguk mengiyakan. Tapi tidak mendiskusikannya lebih jauh," kata Hermione bingung.
"Memangnya dulu dia tidak begini?" Tanya Celline penasaran.
"Kami pacaran diam-diam, kan?" jawab Hermione.
"Ah, iya. Aku ingat ceritamu. Tapi jujur saja aku iri padamu. Suamiku sudah lupa untuk bersikap romantis," kata Celline mengeluh.
Hermione menghela nafas.
"Aku yakin dia tidak bermaksud begitu. Kau harus bersyukur mendapatkan suami yang setia sepertinya," kata Hermione.
"Ya. Tapi aku bohong kalau aku tidak ingin sekali-kali diberi bunga olehnya. Tidak hanya ketika merayakan sesuatu. Hanya sekedar menunjukan kalau hubungan kami penuh gairah dan romantika," kata Celline menerawang. "Bukankah ini berarti Draco sudah mulai bergerak?" Tanya Celline.
"Mungkin. Tapi mungkin juga Draco akan berhenti memberiku bunga kalau aku sudah memaafkannya," kata Hermione lagi.
"jadi apa kau sudah memaafkannya?" Tanya Celline.
"Jujur saja aku bingung. Aku sudah mengucapkan selamat tinggal pada Theo, dan aku tau aku tidak pernah berhenti mencintai Draco. Aku juga ingin membangun kembali hubunganku dengannya, tapi kalau aku mengingat lagi bagaimana dia meninggalkanku, jujur saja aku masih merasa sakit," jawab Hermione.
"Hermione, hal seperti itu tidak bisa dipaksakan. Biarkan berjalan apa adanya. Kalau kau marah padanya, marahlah. Kalau kau menyukainya, yak au tunjukanlah. Tapi yang penting adalah bagaimana mengkomunikasikannya. Aku dan suamiku juga, kadang kami bertengkar. Kami berbeda pendapat, bahkan kadang dia membohongiku. Dan aku akan memarahinya sampai dia berlutut, tapi semua bisa terselesaikan ketika kita saling bicara," kata celline menjelaskan.
Hermione memikirkan ucapan Celline. Benar, hal yang paling kurang dari hubungannya dengan Draco adalah ketika mereka tidak bisa saling berterus terang terhadap perasaan mereka masing-masing.
"Mungkin kau perlu memanas-manasinya. Membuatnya cemburu mungkin," kata Celline bergairah. Dia adalah orang yang paling antusias ketika membicarakan Draco.
"Aku tidak tau. Terakhir ku cek. Aku yang cemburu karena mantan-mantannya," jawab Hermione kesal kembali mengingat Astoria Greengrass.
"Yep. Aku masih tak percaya waktu kau cerita tentang wantia itu. Siapa namanya?" Tanya celline jijik.
"Greengrass. Ast-," jawab Hermione terpotong dengan ketukan di jendelanya.
Burung hantu berbulu hijau, "Picollo" Hermione tadinya yakin bahwa Draco akan memberi nama Slytherin ketika Draco membawanya ke rumah, tapi ternyata dia memberi nama Picollo seperti nama kartun kesukaannya ketika menontonnya bersama Alexander dan Louise.
"Dari Draco?" Tanya Celline menghampiri Hermione yang membuka surat.
Hermione mengangguk.
"Celline. Dia mengajak makan siang," kata Hermione.
"Jadi?" Tanya Celline bingung.
"Dia belum pernah mengajakku makan siang," kata Hermione sambil melotot.
Celline memandangnya aneh.
"Maksudku. Aku tidak pernah berkencan di tempat umum. Apa yang harus kulakukan?" Tanya Hermione panik.
"Dia bilang itu kencan?" Tanya Celline.
"Tidak sih, tapi apa ini bukan kencan?" Tanya Hermione lagi.
"Melihat situasimu, kau bisa menamakannya kencan," kata Celline senang. "Aku akan menulis surat untuk suamiku dan mengajaknya kencan juga siang ini," kata Celline sok acuh.
"Kau menyebalkan. Apa yang harus ku lakukan?" Tanya Hermione masih panik.
"Jawab suratnya bahwa kau menerimanya," kata Celline. Hermione mengambil perkamen dan mulai menulis. "Dan katakan padanya untuk menjemputmu di sini," lanjutnya.
"Why?" Tanya Hermione setelah selesai menulisnya.
"Biar terlihat seperti kencan," kata Celline mengambil perkamen dan mengikatnya di kaki Picollo. Hermione melotot pada Celline.
"Oh. Kenapa dia tidak mengatakannya tadi pagi," kata Hermione menerawang.
"kau akan baik-baik saja, Hermione," kata Celline menenangkan.
"Benarkah?"
Celline mengangguk. "Ngomong-ngomong kau perlu melihat pasien yang baru dibawa pagi ini. Aku hanya ingin memastikan bahwa tidak ada kutukan padany-".
.
.
Droco hampir tidak percaya ketika Hermione menerima ajakan makan siangnya. Apalagi Hermione memintanya untuk menjemputnya, walaupun mereka sudah semakin dekat namun mereka masih sangat canggung jika berada di area publik. Hal terdekat yang bisa dikatakan mereka sangat baik sebagai pasangan adalah ketika mereka menonton pertandingan Quidditch minggu kemarin. Draco pernah melihat bahwa Theo beberapa kali mendatangi Hermione di rumah sakit bersama anak-anak dan makan siang di kafetaria.
Bukannya Draco tidak menginginkan hal itu. Tapi dia ingin menghabiskan makan siangnya bersama Hermione saja. Mereka juga sering piknik di tepi danau ketika sabtu dan minggu. Dan dia tidak suka membawa anak-anaknya ke rumah sakit. Menurutnya Rumah sakit bukan tempat yang baik untuk anak-anak. Ada banyak orang yang sakit, bisa saja penyakit mereka menular, atau orang-orang berbahaya yang kabur seperti Lockhart. Draco masih ingat ketika dia melihat Lockhart di kejar-kejar perawat karena kabur dari bangsalnya.
"Hai!" sapa Draco, membuka pintu ruangan kantor Hermione.
"Oh, Hai," jawab Hermioe. Menengok jam di meja kerjanya. "sudah waktunya?" tanyanya sambil berdiri.
"Kau sudah siap?" Tanya Draco.
"Yep," kata Hermione merapihkan roknya yang terlipat.
Draco mengambil mantel yang tergantung dan memasangkannya untuk Hermione yang menjulurkan tangannya.
"Kemana kita akan pergi?" Tanya Hermione.
"Kejutan."
Draco mengulurkan tangannya dan Hermione menerimanya. Jari mereka yang saling bertaut membuat perasaan yang menyenangkan. Sepanjang perjalanan ke luar dari Rumah sakit Draco tidak melepaskan gengamannya. Beberapa orang mencuri pandang pada mereka, tapi Draco tidak memperduluikannya. Dia tetap berjalan tegap dan penuh kebanggaan. Hermione ingat ketika mereka berjalan seperti ini melintasi taman Hogwarts yang luas, sebuah kenangan indah sebelum kemudian terbongkarlah hubungan mereka. Namun kali ini Draco tidak melepaskannya. Walaupun dengan banyaknya pandangan tidak setuju ke arah mereka.
Entah sampai kapan mereka akan menerima tatapan seperti itu. Sudah hampir 4 bulan perkawinan mereka dan tetap saja masih ada orang yang terlihat risih ketika mereka bersama. Memang biasanya Hermione dan Draco tampil di tempat umum di beberapa kesempatan. Tapi tidak seperti sekarang yang sangat kasual. Tapi menurut Hermione ini lebih intim dan romantis.
"Hogsmeade?" Tanya Hermione bingung melihat sekeliling yang tampak seperti desa-desa yang ada di buku dongeng. Salju telah menutupi permukaan jalan dan atap.
"Aku tidak pernah mengajakmu untuk kencan dulu. Dan dimana para murid itu berkencan jika tidak membawanya ke Hogsmade di akhir minggu?" Tanya Draco menantangnya, namun dengan tatapan nakal menggoda.
"Apa kita akan ke madam Puddifoot?" balas Hermione geli. Hermione belum pernah sekalipun kencan di Hogsmeade. Bahkan ketika mereka sedang di Hogwarts sekalipun. Walaupun Harry pernah bilang tempat itu tidak menyenangkan tapi sangat popular di kalangan anak perempuan, dan Hermione ingin mencobanya walaupun sekali saja.
"Kalau kau mau, kita bisa ke sana," jawab Draco enggan. Draco pernah melakukan kencan di sana satu kali itupun saat dia kelas lima, tapi jujur saja dia tidak menyukainya. Suasana penuh dengan warna pink dan pansy yang mengikik. Dia tidak pernah lagi menginjakkan kaki di Madam Puddifoot, bahkan ketika Pansy memohon kepadanya.
"Jika kau tidak keberatan," kata Hermione menantang.
Draco mendengus, tentu saja dia akan ke mana saja asal bersama Hermione, bahkan minum teh di Madam Puddifoot.
.
.
Mr and Mrs Malfoy Go Public.
Kembalinya Hermione Malfoy nee Granger masih menjadi sebuah misteri. Beberapa tahun yang lalu Hermione Granger menghilang setelah kelulusannya dari Hogwarts. Kepergiaannya merupakan misteri, desas desus yang beredar mengatakan bahwa Hermione bertengkar dengan Harry Potter dan Ronald Weasley. Penyebab pertengkaran itupun tidak lain dan tidak bukan adalah suaminya saat ini, Draco Malfoy, mantan pelahap maut.
Beberapa bulan yang lalu Mrs Draco Malfoy kembali dengan menyandang nama Mrs Nott. Yep, Pahlawan perang kita itu menikah dengan sahabat Draco Malfoy, Theodore Nott. Kemunculannya yang tiba-tiba tidak mengurangi kemistreriusannya. Kita baru akan dibuat penasaran dengan putra pertamanya, Alexander, yang secara kebetulan memiliki kemiripan dengan Mr Draco Malfoy alih-alih Theodore Nott. Belum juga satu misteri terpecahkan Mr Theodore Nott dikabarkan meninggal Dunia dengan misterius. Sesuatu yang mengejutkan bukan? Tapi lebih mengejutkan lagi ketika habis masa berkabung meninggalnya Mr Theodore Nott, jandanya langsung menikah dengan Mr Draco Malfoy.
Kita hanya bisa mengira-ngira tentu saja apa yang sebenarnya terjadi. Namun tampaknya pasangan ini tidak banyak memberi kita kesempatan, mereka terlalu tertutup dan sulit untuk ditemui, bahkan Mr Malfoy yang biasanya sangat terbuka tentang wanita yang sedang dia kencani tidak memberikan tanggapan mengenai pernikahannya.
Tentunya kita hanya bisa kembali mengira-ngira. Setelah terakhir kali kami menemukan mereka menonton pertandingan Quidditch bersama teman-teman Mr Malfoy, jumat kemarin kami menemukan mereka sedang berkencan di kawasan Hogmaede. Mereka berjalan bergandengan tangan dengan sambil tersenyum yang menunjukan mereka sangat bahagia. Mereka menghabiskan waktu di Ho-
Hermione mengeram kesal. Bagaimana mungkin halaman pertama Daily Prophet hari minggu malah berisi gambarnya dan Draco saat kencan kemarin. Dan foto itu bahkan sangat besar dan menghabiskan setengah lembar sendiri di halaman utama, dan beberapa foto yang lebih kecil di halaman 11 khusus kolom gossip. Beberapa cerita yang dibuat mengira-ngira bagaiamana hubungannya dengan Draco dan yang lebih mengerikan adalah ada foto ketika Draco menciumnya di Madam Puddifoot. Hermione jamin itu hanya sebuah kecupan singkat. Ada gula-gula yang menempel di bibirnya, dan Draco dengan sigap mengelapnya dan tangannya menarik dagu Hermione memberi kecupan singkat. Tapi foto di Koran itu mengambarkan seakan-akan mereka sedang di mabuk asmara, dan tidak malu karena berciuman di tempat umum dan di depan anak-anak Hogwarts yang sedang berkencan.
"Mummy, pancake!" kata Alexander mengingatkan Hermione bahwa dia sedang memasak pancake untuk sarapan. Sayangnya hal itu terganggu dengan hadirnya Daily Prophet yang datang. Hermione melipat Koran itu dan melemparnya ketepi meja dan membawa pancake ke meja makan.
Ketiga laki-laki itu menuruni tangga. Entah kenapa kedua putranya itu lebih menyukai mandi bersama Draco. Kalau saja mereka tidak berenang maka mereka akan menghabiskan waktu berendam bersama.
"Mana Koran pagi ini?" Tanya Draco mengambil tempat duduknya dan tidak menemukan Koran pagi yang biasanya siap di depannya.
"Em.. aku menaruhnya di konter!" jawab Hermione.
"Konter?" Tanya Draco bingung, dan berdiri untuk mengambilnya, tapi Hermione tanpa dia sendiri menduganya menarik tangan Draco untuk menghentikannya.
"tidak perlu dibaca sekarang kan?" pinta Hermione.
"Kenapa Hermione? Kenapa kau malah merona?" Tanya Draco.
"Tidak," kata Hermione melepaskan tangannya.
Draco menaikkan alisnya, sedikit berpikir kemudian dengan gesit berlari ke dapur dan mulai membaca Koran. Hermione mengeram menahan malu. Kemudian Draco mulai membacanya kuat-kuat beberapa kalimat dengan suara yang manja. "mereka sangat cute, dan tidak bisa saling melepaskan tangan masing-masing" atau ketika dia membaca "Ini pertamakalinya aku melihat pasangan yang begitu romantis,". Tidak tahan Hermione beranjak menghampiri Draco, tentu saja tidak semua tanggapan bagus. Bahkan ada yang bilang bahwa Hermione adalah wanita yang mencar pria-pria darah murni yang kaya atau tanggapan bahwa sebenarnya dia terosesi dengan penyihir hitam, terima kasih Rita.
"Sudah hentikan, kau membuatnya tampak buruk," kata Hermione kesal menarik koran yang dibaca Draco.
"Hei, aku ingin mengoleksinya," jawab Draco mengambilnya kembali.
"Serius?" tanya Hermione tidak percaya.
"Tentu saja. Lihat kita sangat serasi bukan?" tanyanya menunjukan gambar mereka sedang berjalan ke arah apparition point. Hermione memutar bola matanya.
"Ow, aku hanya mengingatkan, cepat habiskan sarapanmu sebelum kita ke The Burrow," kata Hermione.
"Ya.. ya.. aku ingat," jawab Draco malas sambil mengikuti Hermione dari belakang.
Draco tau bahwa dia harus bermain cantik. Draco tidak ingin pergi ke the burrow, tempat itu tidak terlalu menerimanya. Tapi dia harus melakukannya untuk mendapatkan hati Hermione. apalagi setelah pembicaraan saat kencan kemarin. Hermione dengan jelas mengatakan bahwa dia ingin memulai lagi hubungan mereka, hanya saja Hermione prosesnya pelan. Draco juga setuju, dia tak ingin buru-buru. Dan salah satunya adalah dengan terbiasa untuk bersama sahabat-sahabatnya. Walaupun mungkin tidak akan mudah untuk sebaliknya. Hermione dengan tegas menolak untuk ke Malfoy Manor kalau tidak ada acara yang perlu mereka hadiri. Tapi Draco mengerti hal itu, dan tidak banyak menuntut. Dia pun masih sangat marah terhadap ayahnya.
AN/ hai apa kabar... maaf sekali karena baru bisa update.
Tahun ini aku lagi sibuk banget untuk ngajuin proposal tesis aku, tapi apalah daya manusia hanya bisa berencana. Awal tahun kemarin aku di diagnosis penyakit yang bisa dibilang agak ya berat lah.. bahkan ramadhan kemarin sebulan penuh ngk bisa puasa, tapi alhamdullilah aku udah mulai baikkan... jadi ini lagi mau ngajuin proposal tesis lagi biar cepet selesai kuliahnya dan mulai nulis. Jujur aja dichapter ini aku ngk suka endingnya, kurang sesuatu yang meledak gimana gitu. Tapi mungkin karena aku baru mulai lagi nulis kali yaa... mudah-mudahan. Aku aja sempet lupa gimana caranya update, heheh. Aku juga ngk bisa janji akan update cepet, tapi doain aja yaa... haha
Dan yang untuk selalu nungguin cerita ini terima kasih banyak apresiasinya. Bye,,,
