"Kau pucat, presentasinya buruk?" Seungwoo berjalan kedepan meja Jimin. Bisa Seungwoo lihat kemeja dipunggung Jimin yang terlihat basah sebelum Jimin mendudukan diri dikursi kerjanya.
"H-huh? Tidak." Jimin tersenyum kaku.
"Lalu ada apa?"
"Bukan apa-apa, aku hanya guggup" Jimin membuka lacinya untuk menghindari tatapan Seungwoo.
"Tanganmu bergetar. Ada apa, Jim?" Seungwoo mengerutkan keningnya saat melihat tangan Jimin yang sedang mencari entah apa didalam lacinya begetar.
Jimin menarik turun tangannya dan menatap Seungwoo dengan tatapan minta dikasihani. Jimin masih gugup, makanya tangannya gemetar. Yoongi yang muncul lagi setelah sekian lama dia lupakan, membuat dunia Jimin seperti berputar lagi kebelakang. Jimin seolah dipaksa mengingat kejadian sebelum dia dipindahkan ke Jepang dan itu memperparah kondisi mentalnya yang mulai membaik.
"Seungwoo, kalau kau mengobrol, Daniel akan memarahimu lagi" Jimin memperingatkan. "Daniel sebentar lagi pasti kembali ke ruangannya, kalau dia melihatmu berdiri didepan mejaku, bisa-bisa…"
"Kau disini untuk bekerja, Ong Seungwoo" Daniel sengaja berhenti saat melihat Seungwoo yang berdiri didepan meja Jimin, menatap Seungwoo dengan tatapan kesal yang tidak bisa disembunyikannya.
Jimin menunduk dan tersenyum, baru saja diperingati, orangnya sudah muncul.
"Baik, Pak" Seungwoo membungkuk sopan dan berlari kecil menuju kursinya.
"Jim, kau disuruh keruangan bos" Daniel menatap Jimin sekilas.
"Ada apa?" Tanya Jimin khawatir.
"Presentasimu bagus, jadi bos ingin memberikanmu reward"
Jimin tersenyum lega. "Terimakasih. Aku akan kesana"
"Jangan bergosip!" Daniel memperingati Seungwoo dengan keras, sebelum pergi keruangannya.
Jimin tertawa puas saat Daniel sudah menutup pintu ruangannya dan menatap Seungwoo tanpa rasa iba sedikitpun.
"Dasar pemarah" cibir Seungwoo.
.
.
.
And then I met You
.
.
.
"Masuk, Jim" Hoseok tersenyum lebar saat Jimin terlihat melongokkan kepalanya didepan pintu ruangan kerja Hoseok.
Jimin berjalan masuk dengan menunduk dalam, tadi matanya tidak sengaja bertatapan dengan Yoongi yang berada disofa ruang kerja Hoseok. Jimin terlihat sedikit murung karena lagi-lagi Yoongi mengabaikannya, mereka hanya bertatapan sedetik, dan Yoongi langsung membuang pandangannya dengan wajah dingin.
"Duduk" Hoseok mempersilahkan saat Jimin sudah berada didepan mejanya.
"Terimaksih" Jimin mengangguk dan mendudukan diri didepan Hoseok. "Ada apa, Pak?" Tanya Jimin penasaran.
"Untukmu" Hoseok meletakkan kotak bening berisi satu pulpen dengan pita warna biru menghiasi kotaknya.
"Untukku?" ulang Jimin tak yakin. Pulpen itu bukan pulpen murah, Jimin jelas tau itu, dari kotaknya saja sudah kelihatan itu pulpen mahal.
"Iya" Hoseok mengangguk. "Tuan investor memberikannya padaku, ada dua. Yang satu ini milikku, dan yang ini milikmu." Hoseok menunjuk kotak pulpen diatas meja. "Aku pikir kau berhak dapat ini, kau sudah membanggakanku hari ini. Lagian, aku tidak butuh dua pulpen." Hoseok tersenyum lebar.
"Tidak keberatan kalau pulpen yang satunya ku berikan pada karyawanku, kan, Yoon?" Hoseok memiringkan sedikit tubuhnya untuk bisa melihat Yoongi yang sedang duduk disofa, dibelakang Jimin.
"Terserahmu" ucap Yoongi cuek.
Jimin menelan ludahnya kasar saat suara Yoongi terdengar lagi. Sudah lama dia tidak mendengar suara berat itu dan dadanya kembali berdebar hebat.
"Katanya tidak apa-apa. Jangan hiraukan nada bicaranya. Dia memang seperti itu" Hoseok tersenyum untuk menenangkan Jimin yang terlihat tegang didepannya. "Dia memang agak sinis" bisik Hoseok didepan Jimin.
Jimin mengangguk paham. "Kalau begitu, boleh aku permisi, Pak? Aku masih ada pekerjaan" Pamit Jimin, dia tidak tahan berlama-lama berada didalam satu ruangan yang sama dengan Yoongi, apalagi melihat sikap Yoongi padanta kali ini membuat Jimin semakin tidak betah.
"Oh, tentu" Hoseok berdiri dan mempersilahkan Jimin untuk pergi.
Jimin berdiri dari duduknya, membungkuk sopan pada Hoseok dan berjalan keluar ruangan. Ekor matanya tidak tahan untuk tidak melihat Yoongi hingga Jimin melirik kesamping dimana Yoongi sedang memegang kertas ditangannya dan serius membaca, lagi-lagi berlagak seperti tidak mengenali Jimin sama sekali.
Jimin menunduk sedih.
Saat Jimin keluar ruangan, Hoseok kembali duduk disofa tepat didepan Yoongi yang sedang membaca, Hoseok memperhatikan tingkah Yoongi yang terlihat agak aneh hari ini. "Tumben" mulai Hoseok.
Yoongi mengangkat kepalanya dan mengernyit bingung.
"Kau belum makan atau mengantuk? Galak sekali" Hoseok menatap kearah Yoongi lagi.
"Apa maksudmu?"
"Kau bicara seperti sedang menahan emosi, dude. Tidak biasanya kau begitu. Ada hal yang tidak kau suka?"
"Aku tidak mengerti ucapanmu" Yoongi kembali membaca kertas ditangannya. "Yang tadi itu, Park Jimin?" Yoongi bertanya tanpa melirik Hoseok sama sekali.
"Iya."
"Sudah lama dia bekerja disini?"
"Tidak tau kapan tepatnya, tapi mungkin sekitar lima bulanan lebih? Entahlah" Hoseok menaikkan bahunya. "Ada apa?"
"Tidak ada" Yoongi menghela napas dan menghempaskan punggungnya kesandaran sofa.
"Pasti ada sesuatu" tebak Hoseok.
"Seokjin pasti akan membunuhku kalau aku berani mendekat lagi padanya"
Hoseok mengernyit bingung. "Lagi? Apa maksudmu? Yah! Kau ini mabuk atau kenapa?"
Yoongi memijit dahinya dan menutup matanya erat. "Rasanya capek sekali bertingkah seperti ini padanya"
"Yah, bicara yang jelas. Aku tidak paham maksudmu"
"Aku menyukainya, Hoseok" Aku Yoongi. "Sudah lama"
"K-Kau suka pada Seokjin? Woah, Namjoon bisa membunuhmu. Kau sudah gila suka pada…"
"Bukan Seokjin!" geram Yoongi, matanya menatap kesal pada Hoseok.
"Makanya bicara yang jelas!" omel Hoseok.
"Aku suka pada Jimin. Sudah lama."
"What? Kau suka pada Jimin? Sejak kapan? Lalu kenapa kau bertingkah seperti Asshole didepannya?"
"Yah, brengsek! Berani sekali kau mengataiku seperti itu"
Hoseok terkekeh. "Maksudku, kau suka padanya, tapi kau bersikap seperti kau tidak pernah tau dia hidup di dunia ini. Aku tidak paham isi kepalamu. Kalau aku menyukai seseorang, jelas aku akan mengejarnya mati-matian"
"Aku sudah pernah seperti itu dan hasilnya sangat buruk. Aku takut itu terjadi lagi. Lagian, dia sudah punya tunangan. Aku sudah kehilangan harapan. Aku tidak ingin mengganggu hidupnya lagi"
"Aku tidak tau apa yang terjadi sebelumnya diantara kalian, tapi, Jimin punya tunangan? Yang benar saja?" Hoseok mengeryit tak percaya.
"Dia benar-benar punya tunangan" Yoongi berkeras.
"Dia gay. Ah, maksudmu tunangannya laki-laki?"
Yoongi mendudukan badannya tegak dan menatap Hoseok penuh minat. "Dia tidak pernah memberitahu kalian kalau dia bertunangan? Dia punya tunangan, Hoseok. Orang Jepang!"
"Tidak"
Yoongi mengernyit. "Aku yakin dia pindah ke Jepang agar bisa bersama tunangannya terus. Mana mungkin dia menyembunyikan tunangannya, kan?"
"Yah, Jimin itu tinggal bersama Ong Seungwoo di apartemen dan Ong bukan tunangan Jimin, mereka berteman karena sama-sama dari Seoul. Aku rasa Ong dan Jimin tidak punya hubungan yang lebih dari sekedar teman" Hoseok berucap yakin.
"Tidak mungkin" Yoongi menggeleng tak percaya. "Dia punya tunangan, namanya Risu. Aku bersumpah. Dia pindah ke Jepang, pasti karena ingin dekat dengan tunangannya!"
Hoseok memutar bola matanya kesal. "Aku akan memanggil teman satu rumah Jimin kesini" Hoseok berdiri dari duduknya menuju meja kerja.
Tidak sampai sepuluh menit, Seungwoo sudah duduk didepan Hoseok dan Yoongi. Matanya menatap bingung pada Hoseok, karena tidak biasanya dia dipanggil langsung oleh atasannya. Dia merasa ngeri.
"Kau dan Jimin tinggal bersama, kan?" mulai Hoseok.
Seungwoo mengangguk.
"Kalian punya hubungan khusus?"
Seungwoo membolakan matanya dan menggeleng kencang. "Tidak, Pak. Jimin bukan tipeku…" cicit Seungwoo.
Yoongi terkekeh tanpa sadar. "Kenapa kalian bisa tinggal satu apartemen?"
"Aku yang lebih dulu tinggal di apartemen itu, lalu Jimin datang ke Jepang. Kebetulan aku dan Jimin teman satu sekolah, dulu. Jadi, ya…" Seungwoo melirik Yoongi takut-takut karena aura yang Yoongi keluarkan terkesan mengintimidasi untuknya.
"Jimin punya tunangan?" Kali ini Hoseok yang bertanya.
"Tidak." Seungwoo mengernyit bingung. "Tapi dulu punya"
Yoongi menaikkan alisnya, matanya menatap lurus pada Hoseok yang duduk disampingnya.
"Maksudnya?" Hoseok penasaran.
"Ya, sebelum pindah ke Jepang, Jimin…" Seungwoo membolakan matanya dan menutup bibirnya dengan tangan, hampir saja dia keceplosan meceritakan sejarah kelam milik Jimin. "Maaf tuan, tapi intinya, Jimin tidak memiliki hubungan khusus dengan siapapun, sekarang" Seungwoo tersenyum canggung.
Yoongi mengangguk paham atas sikap Seungwoo yang menolak bercerita. "Dimana kalian tinggal?"
"Hanya berjarak enam gedung dari kantor ini, tuan" Seungwoo menjawab sopan.
"Apa saja yang Jimin lakukan selama enam bulan ini?" Yoongi bertanya penasaran.
Seungwoo membolakan matanya menatap Yoongi. "Bekerja?" jawabnya tak yakin.
"Selain bekerja?"
"Masak? Malas-malasan kalau libur?" ucap Seungwoo tak yakin.
"Apa dia punya kekasih?" tembak Yoongi.
Seungwoo menampilkan senyum mencurigakan miliknya tanpa sadar, bertujuan untuk menggoda Yoongi yang terlihat sangat penasaran pada Jimin. "Tidak, tuan. Tenang saja. Kau suka padanya?" Seungwoo menaik turunkan alisnya, tanpa sadar dengan siapa dia sedang bicara.
"Iya" aku Yoongi.
"Woah, Daebak" Seungwoo tertawa heboh dan bertepuk tangan sampai Hoseok berdehem dan menyadarkan Seungwoo. "Maaf, tuan" sesal Seungwoo.
"Jadi?"
"Jimin tidak punya pacar, setiap malam minggu, dia hanya di apartemen menonton TV atau memasak kalau sedang rajin. Ponselnya bahkan jarang berdering, biasanya kalaupun berdering pasti dari kantor." Seungwoo menatap iba pada lantai.
Yoongi tersenyum lebar.
"Kalau tuan mau, tuan bisa datang ke apartemen kami, besok. Besok, aku dan Jimin berencana memasak dan membuat pudding. Bagaimana?" Seungwoo menawarkan.
"Jangan beritahu Jimin" Hoseok memberi syarat.
"Tentu saja. Jangan khawatir, Pak" Seungwoo mengangguk yakin.
"Bagaimana, Yoon?" Hoseok melirik pada Yoongi.
"Bukannya besok kita ada janji dengan Daniel?" Yoongi menaikkan alisnya.
"Benar juga. Oh, ya, kalau kami mengajak Daniel, tidak apa?"
Seungwoo mencibir kesal. Dari semua manusia yang ada dunia ini, Daniel-lah orang terakhir yang ingin dia undang ke apartemen, tapi karena dia sedang berhadapan dengan Hoseok dan Seungwoo masih ingin bekerja di perusahaan ini, Seungwoo akhirnya mengangguk meskipun tidak ikhlas.
Hoseok tertawa kecil. "Aku tau kau kesal pada Daniel, tapi, aku atasanmu, aku rasa ini semacam perintah yang harus kau turuti, Ong Seungwoo"
Seungwoo tertawa hambar.
.
.
.
"Kenapa banyak sekali?" Jimin mengernyit melihat bungkusan yang Seungwoo letakkan diatas meja dapur mereka. Seungwoo baru saja pulang belanja dari swalayan dan sengaja menahan Jimin agar tidak ikut dengannya karena dia belanja menggunakan card milik Yoongi. Tentu saja Seungwoo senang, kapan lagi dia bisa belanja makanan dan orang lain yang membayar untuknya?.
"Keperluan satu minggu" ucap Seungwoo ceria dan mulai memasukkan makan kedalam kulkas.
"Kita sudah sepakat hanya memasak di akhir minggu kan?"
"Oh, tenang saja." Seungwoo berjalan ke meja dapur dan mengambil dua kantonng belanjaan, meletakkanya didekat Jimin. "Masak yang ini. Sisanya, akan ku simpan di kulkas" perintah Seungwoo.
"Kita hanya makan berdua, kenapa…"
"Cerewet, Park Jimin" Seungwoo memutar bola matanya. "Masak saja, oke?" paksa Seungwoo.
Jimin mencibir dan mulai mengeluarkan isi belanjaan dari dalam kantong. Bisa Jimin lihat ada 5 bungkusan daging sapi didalam kantongan, kentang, sayur, dan masih banyak lagi.
"Kau mau masak steak? Sejak kapan kau jadi seboros ini, Ong?" Jimin berkacak pinggang.
Seungwoo melirik kearah Jimin dan mengernyit kesal. "Masak saja!"
"Tapi kalau kita boros, kita…."
"Sshhhhh… masak saja!"
Jam sudah menunjukan jam tujuh malam saat Jimin sudah siap membereskan meja makan. Sedangkan Seungwoo sedang sibuk membuat minuman didapur. Jimin mengernyit heran dengan banyaknya makanan diatas meja makan mereka, matanya menatap punggung Seungwoo dengan curiga tapi tidak tahu apa hal yang harus dia curigai dari Seungwoo.
"Bukakan pintunya" perintah Seungwoo saat bell apartemen mereka berbunyi.
Jimin berjalan malas kearah pintu dan mengintip dari lubang kaca yang ada dipintu, dahinya mengernyit saat melihat Daniel ada disana.
"Daniel?" Jimin membukakan pintu pada Daniel, wajahnya terlihat bingung saat Daniel berdiri didepannya.
"Aku disuruh kesini" Daniel mencoba menjelaskan.
"Siapa yang…"
"Aku.." Hoseok tersenyum lebar, berjalan kearah Daniel dan Jimin.
"Dia yang mengajakku kesini" Daniel menunjuk Hoseok. Jimin melirik kearah Hoseok dan mendadak gugup saat Jimin melihat Yoongi juga ada disana, baru saja muncul dari dinding dekat lift.
"Sudah datang, ya? silahkan masuk" Sambut Seungwoo ceria.
Jimin terdiam didepan pintu, wajahnya terlihat bingung saat Daniel, Hoseok dan Yoongi masuk kedalam apartemennya begitu saja.
"Jim, tutup pintunya" ucap Seungwoo agak keras, membuat Jimin terkejut dan menutup pintu dengan terburu.
"Silahkan…" Seungwoo mengarahkan ketiganya kemeja makan, dimana Jimin sudah menyiapkan semuanya tadi. Jimin masih berdiri canggung didekat dapur, sementara tamunya sudah duduk manis dikursi makan. Jimin melirik tajam pada Seungwoo, dia butuh penjelasan, tapi sepertinya seungwoo dengan sengaja mengabaikan Jimin.
"Jim, duduk." Perintah Seungwoo.
Jimin berkedip dan menatap kesekitar. Meja itu memiliki enam kursi, di ujung meja sudah ada Seungwoo yang duduk, disebelah kiri ada Daniel dan Hoseok, dikanan ada Yoongi dengan bangku kosong disebelahnya, Jimin tidak mungkin duduk diujung satunya, itu terkesan tidak sopan.
Dengan gugup Jimin berjalan, menarik kursi disamping Yoongi dan duduk tegak tanpa berani melirik kesampingnya sama sekali.
"Kami di undang Seungwoo" Hoseok memulai.
"Oh, iya" Jimin mengangguk, kepalanya tetap tegak lurus dan kaku.
"Ayo makan!" ucap Seungwoo ceria.
Jimin kehilangan nafsu makannya saat melihat ketiga tamu Seungwoo ini muncul didepan pintu, tangan Jimin berhenti memegang pisau dan garpu dan meletakkan tangannya diatas pahanya sendiri. Saat sedang menatap Hoseok dan Daniel yang sedang makan, Jimin merasa tangan Yoongi yang sedang memegang tangannya dibawah meja, Jimin duduk semakin tegak dengan pandangan mata yang bergerak gelisah, tidak berani menatap kesampingnya.
"Aku butuh air dingin,dimana kulkasnya?" Tanya Yoongi tanpa melepas tangannya pada Jimin.
"Disana, tuan" tunjuk Seungwoo kearah belakang punggungnya.
"Aku saja yang ambil" Jimin menarik tangannya dari genggaman Yoongi, berdiri dengan gugup dan mengambil gelas kosong milik Yoongi diatas meja.
Hoseok melirik sekilas dan tersenyum tertahan melihat tingkah Jimin yang sangat terlihat gugup sejak duduk disamping Yoongi.
"Apa kalian ada menyimpan kopi?" Tanya Yoongi pada Seungwoo.
"Oh, aku sudah membelikanmu kopi tuan, ada di kulkas"
"Aku saja yang ambil" cegah Yoongi saat Seungwoo sudah siap berdiri.
"Ah.. aku mengerti…" Seungwoo terkekeh dan mempersilahkan Yoongi menuju dapur.
Daniel hanya menatap bingung pada Hoseok dan Seungwoo yang sedang terkekeh.
Jimin tersentak mundur saat berbalik dan menemukan Yoongi yang sudah berdiri dibelakangnya, air digelas yang dipegang Jimin bahkan tumpah sedikit karena guncangan.
"Yoon?" Jimin berkedip dan menunduk gugup.
"Lama tidak bertemu" Yoongi memojokkan Jimin diantara tubuhnya dan kulkas. Keduanya berdiri dengan jarak yang cukup dekat.
"Y-ya. lama tidak bertemu" Jimin merasa dadanya berdetak terlalu liar sekarang.
"Aku tidak menyangka bisa menemukanmu lagi" Yoongi menatapi wajah Jimin dengan tatapan rindu,sementara Jimin hanya menunduk, tidak berani menatap Yoongi yang berdiri didepannya.
"Apa itu baik?" Tanya Jimin takut.
"Sangat baik." Yoongi tersenyum kecil.
Jimin menaikkan pandangannya dan menatap Yoongi yang sedang tersenyum kecil kearahnya, Jimin merasa perasaan lega menyelimutinya saat Yoongi tidak lagi bersikap dingin padanya.
"A-apa kita berteman lagi, sekarang?" Tanya Jimin polos.
Yoongi tertawa. "Kau sangat ingin jadi temanku?"
Jimin mengerjab beberapa kali, menatap Yoongi dengan tatapan bingung. "Kenapa tertawa?"
"Harus berapa kali aku mengatakan kalau aku tidak ingin jadi temanmu?"
Yoongi bisa melihat wajah Jimin yang berubah sedih karena ucapannya.
"Y-ya sudah kalau begitu" Jimin menunduk dan berusaha melewati tubuh Yoongi, tapi Yoongi dengan sengaja menghalangi Jimin berjalan, membuat Jimin mengernyit bingung.
"Apa kau Cuma bisa menawariku pertemanan, Park Jimin?" Tanya Yoongi serius.
Jimin menatap mata Yoongi yang berubah sangat serius, mata itu seolah menjebak Jimin didalamnya.
"Aku tidak ingin jadi temanmu" ucap Yoongi dan berjalan semakin merapat pada Jimin.
Jimin memundurkan langkahnya sampai pintu kulkas menghambar pergerakan Jimin, Jimin terjebak diantara kulkas dan tubuh Yoongi. Jantung Jimin seolah ingin meledak karena Yoongi yang terlalu dekatm belum lagi kontak matanya dengan Yoongi yang tidak terputus, membuat semburat merah ikut muncul dipipi Jimin.
"Y-yoon, kau terlalu dekat"Jimin mendorong pelan perut Yoongi.
Jimin menutup erat matanya saat wajah Yoongi makin dekat, saat bibir Yoongi menempel dibibirnya, Jimin merasa letupan luar biasa terjadi di dadanya. "Aku merindukanmu" bisik Yoongi didepan bibir Jimin dan memundurkan tubuhnya.
Jimin perlahan membuka matanya, menunduk dalam dengan pipi yang merah padam, tidak berani lagi menatap Yoongi.
"Minggir, aku ingin mengambil kopi" usir Yoongi.
Jimin bergeser sedikit dari depan pintu kulkas, matanya mengerjab kebingungan dengan nada suara Yoongi yang kembali mendigin. Bukannya baru saja Yoongi bilang kalau dia merindukan Jimin, lalu kenapa dingin lagi?.
Yoongi berhasil menemukan kopi kalengan yang berada dikulkas, saat Yoongi ingin berlalu, Jimin menghadang langkah Yoongi dengan tangannya.
"Apa?" Yoongi menaikkan alisnya.
"Kenapa?" Tanya Jimin gugup.
"Kenapa apanya?"
"Tadi kau tidak begini…"
Yoongi menaikkan alisnya dan tertawa sinis. "Aku menolak pertemananmu. Apa cukup jelas, sekarang?"
"Kenapa?" Tanya Jimin panic.
"Aku tidak ingin jadi temanmu, Park Jimin"
"Tapi kau menciumku"
"Lalu?" Yoongi menatap Jimin dengan wajah paling menyebalkan yang pernah Jimin lihat.
"T-teman tidak berciuman" cicit Jimin.
"Kau keberatan karena ku cium?" tantang Yoongi.
Jimin menatap Yoongi tak percaya. "Kenapa kau menciumku kalau begitu?"
"Ingin saja"
Jimin terdiam lama, matanya menatap kesal pada Yoongi. Yoongi masih menikmati keadaan sampai dia melihat mata Jimin mulai berkaca-kaca karena kesal padanya.
"Jim, kau menangis?" Tanya Yoongi panic, meletakkan kopi kalengnya diatas kulkas begitu saja.
"Jangan mempermainkanku seperti ini" Jimin menatap kesal pada Yoongi, air matanya menetes saat dia berkedip.
"Aku tidak ber.." Yoongi kehilangan kata-katanya saat Jimin memeluknya erat dan menangis.
"Jangan membuatku bingung… hiks… sebentar kau menciumku lalu kau bersikap dingin hiks… jangan lakukan… hiks… jangan lakukan itu padaku…" isak Jimin.
"Jim, aku tidak bermaksud…" sesal Yoongi.
"Kalau kau tidak mau jadi temanku, tidak apa! Tapi jangan … hiks.. jangan membuatku bingung…" isak Jimin lagi.
Yoongi merenggangkan pelukan Jimin padanya, menari dagu Jimin keatas dan mengusap pipi Jimin dengan telapak tangannya. Wajahnya terlihat menyesal melihat Jimin yang menangis didepannya.
"Maaf" sesal Yoongi. Jimin kembali menangis dan menghapus air matanya sendiri dengan kasar.
"Ada ap…" Seungwoo menghentikan langkahnya saat melihat posisi Yoongi dan Jimin yang sedang berpelukan. "Oh, maaf.. lanjutkan saja" Seungwoo berjalan sambil terkekeh menuju meja makan.
Jimin mendorong Yoongi dengan cepat saat sadar Seungwoo sudah memergoki mereka, buru-buru Jimin berjalan menuju meja makan, tapi Yoongi menariknya dan menciumnya lagi.
Jimin kembali menangis dalam ciumannya, matanya tertutup tapi air matanya kembali mengalir. Rasa kesalnya pada Yoongi yang tidak tuntas diselesaikan, membuatnya hanya bisa menangis, tanpa membalas ciuman Yoongi sama sekali.
Yoongi menarik Jimin semakin mendekat padanya dan memperdalan ciumannya pada bibir Jimin, menghisap bibir Jimin agak keras dan membuat Jimin tanpa sengaja mendesah. Yoongi hampir hilang akal saat kemudia Jimin mendorong dadanya karena kehabisan udara. Ciuman itu terlepas dengan Jimin yang terengah, membuang pandangan dari Yoongi.
"Apa aku harus merebutmu dari orang lain lagi, Park Jimin?" guman Yoongi pelan.
Jimin menggeleng dengan pipi yang memerah.
"Be mine?"
Jimin menatap mata Yoongi lama, mencari entah apa dari mata Yoongi sebelum akhirnya mengangguk setuju.
Yoongi kembali mencium Jimin, memasukkan lidahnya kedalam mulut Jimin dan bermain-main disana sampai…
"Bisa tidak kalian pergi ke kamar?" Daniel merusak acara mereka..
.
.
.
END
