special thanks
Zeita Hikari, Miyuyashte, Elstravolizer, megurine luka, Akihisa Funabashi, Arisu Takamori, Lezzie Rosanne, Rein Yuujiro, Kie2Kei, Yagami Ayumi, yeollihunhan (duuh, reviewnya buat yang login udah dibales satu-satu sih, tapi kalau ada yang kelewat, maaf yah)
makasiiih banget buat semuanya! udah nyampe 50 lebih bahkan reviewnya! makasih yaa! #pelukciumsemuapembaca :*
dia... yang berjalan di samping saya di malam terakhir dengan lampu senter di sebelah kirinya (tangan kita bersentuhan dan aku bersyukur di malam gelap tak berbintang itu, kamu nggak menyadari warna merah di rona wajahku)
dan kamu yang udah buka halaman ini!

disclaimer
buat yang belum tahu, judul cerita ini diambil dari lagu aransemen deco*27 yang kebetulan terputar saat dilanda kebingungan memilih judul
(tapi yah, katanya si Yuuko sih "di dunia ini tidak ada kebetulan, yang ada hanya keharusan tak terelakan")
Can't Take My Eyes Off You adalah lagu yang dinyanyikan Lady Antebellum (silahkan didengarkan saat adegannya berlangsung, semoga bisa menambah feel)

warning
typo yang entah dimana (kalau ketemu dan ingat letaknya bisa segera kasih tahu saya)
bab paling aneh sepanjang cerita ini
fluffy, penuh gombalan dan tangisan
bukan bab terakhir kok, tapi mungkin cerita ini akan dibenci karena apa yang akan saya tuliskan disini.. huhuhuu ;(

special wishes
semoga, semoga semua bisa dapet feelnya disini. Aduuuh, nggak bisa buat angst nih. Maaf kalau mengecewakan!


berry blue
(sendok kedelapan)


"Menurutmu kenapa Shion-san dan Megurine-san bisa dekat?"

"Karena aku membatalkan janji..."

"Jadi, kapan kau mau sadar? Ketika Megurine-san sudah merebut Shion-san darimu? Ketika kau merasakan rasa perih itu semakin hebat lagi? Setelah semuanya terlambat, kau baru akan memberitahunya, begitu?"

.

.

"Aku sayang padamu."

Hanya satu kalimat yang terdiri dari tiga kata. Semua itu mampu membungkam mulut gadis bernama Hatsune Miku, kapten basket putri SMA-nya yang terkenal cerewet. Hanya kata-kata simpel dari sahabat baiknya yang mampu membuat kemampuan berpikir gadis itu menurun seketika.

Bibir gadis itu terkatup rapat. Mata biru kehijauannya menatap lurus ke iris biru lautan di hadapannya. Setelah sempat saling cuek beberapa hari terakhir ini, Kaito muncul di hadapannya untuk memberikan setangkai bunga mawar kuning dan mengucapkan kata... sayang?

Apakah dunia sudah mulai menggila?

"Apa... maksudmu... barusan?"

Kaito tersenyum dan meraih tangan gadis itu. "Ikut aku yuk!"

"Kemana, hah?"

"Ke pantai."

"Sekarang?" Alis Miku terangkat keheranan.

Kaito mengangguk cepat. "Ambil jaket dan aku tunggu disini! Oke?"

Miku tidak sempat berpikir karena Kaito sudah mendorongnya masuk ke dalam rumahnya. Memutuskan untuk menanyakan keanehan itu nanti, gadis itu naik ke kamarnya, mengambil jaket dan sesaat berhenti ketika melihat foto dia bersama Kaito di sebuah pigura.

"Kau menyukainya, Miku!"

Dan Miku benar-benar benci ketika ucapan Gumi kembali terngiang di pikirannya. Dia menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran bodoh itu dan turun ke mobil Kaito, masih dengan mawar kuningnya.

Jantungnya mendadak terasa berdebar ketika dia menyentuh kenop pintu mobil Kaito. Padahal dia sudah terbiasa masuk ke sedan biru itu, tapi entah kenapa malam ini semua terasa berbeda.

Terutama setelah Kaito mengucapkan kalimat janggal beberapa menit yang lalu.

Setelah menelan ludahnya sendiri, Miku masuk ke dalam mobil dan segera disambut oleh senyuman lebar Kaito.

"Kau sungguh manis, Miku."

"Hah?" Alis Miku bertaut. "Maksudmu? Aku bahkan nggak sempat nyisir rambutku!"

"Nggak perlu, karena kau sudah terlihat manis."

Miku mendengus sebal. "Berhentilah bicara seperti itu karena kau membuatku muak!"

"Hei, aku hanya mencoba untuk jujur!" Kaito masih tersenyum dan mulai mengerakkan gigi mobil.

"Soal apa?"

"Soal aku bahagia karena bisa mengenalmu selama ini."

Sekali lagi, hati Miku terasa hangat. Dia melirik Kaito sekilas dan tidak mampu menyembunyikan senyuman di bibirnya. Entah kenapa, dia merasa begitu bahagia malam ini. Setelah beberapa hari yang lalu hubungannya dengan Kaito sempat memburuk, sekarang semuanya seolah baik-baik saja.

"Aku minta maaf karena tidak menjemputmu beberapa hari yang lalu. Dan aku juga minta maaf karena aku bersikap cuek padamu akhir-akhir ini." Suara Kaito terdengar lagi.

Tanpa mengalihkan pandangan dari jendelanya, Miku menjawab, "Kamu nggak salah kok. Aku yang salah karena nggak dengar saat kamu ngomong kayak gitu!"

"Makasih ya, Miku! Kamu memang orang yang paling ngertiin aku!" Tangan Kaito terulur dan mengusap pelan kepala Miku. "Sumpah deh, apa jadinya aku kalau nggak ada kamu!"

Lagi, hati Miku terasa hangat. Rona merah mulai muncul di wajahnya dan mendadak dia merasa bebannya selama beberapa hari ini menghilang begitu saja.

"Kamu nggak perlu ngomong kayak gitu!" Miku mengalihkan wajahnya, mencoba menyembunyikan semburat kemerahan di wajahnya.

"Aku tahu, tapi tetap aja aku pengen ngasih tahu kamu! Supaya kamu tahu betapa aku butuh kamu!"

"Apaan coba sih? Berhenti bicara kayak gitu! Menyebalkan tahu!" seru Miku, tapi wajahnya semakin memerah.

"Karena kamu tuh tipe orang yang suka nggak sadar sebelum dikasih tahu!"

Apakah itu berarti Kaito sedang mencoba memberitahu Miku tentang perasaan bernama cinta?

Miku menggelengkan kepalanya dengan cepat. Gumi sukses meracuninya malam ini.

Setelah itu, suasana di dalam mobil itu sepi. Miku entah kenapa merasa malu untuk berbicara dan Kaito selalu diam sambil tersenyum manis. Jantung Miku berdebar semakin cepat. Dia harus mengalihkan pikirannya dari hal ini, apapun yang terjadi.

Jadi, jemari Miku terulur dan menyalakan radio mobil Kaito.

Sebuah alunan melodi yang indah mulai terdengar.

I know that the bridges that I've burned
Along the way
Have left me with these walls and these scars
That won't go away
And opening up has always been the hardest thing
Until you came

Miku cukup mengerti bahasa Inggis sebenarnya dan dia mengerti betul makna lagu yang sedang terputar barusan. Jemarinya dengan sigap langsung mematikan radio tersebut.

"Kenapa dimatikan?" tanya Kaito heran.

Mendengarkan lagu romantis bersama orang yang menyebabkan kegalauan hatimu kelihatannya bukan solusi bagus untuk Miku. "Nggak suka lagunya."

"Tapi aku cukup suka kok." Kaito tersenyum, mengenggam jemari Miku dan menggunakannya untuk menyalakan radionya lagi.

And I just can't take my eyes off you
And I just can't take my eyes off you

Miku merasakan hatinya menghangat saat Kaito menyentuh tangannya. Dia merasa nyaman, amat sangat nyaman, dengan kebahagiaan membuncah di dadanya. Sudut matanya melirik Kaito yang balas menatapnya dengan lembut.

"Karena pikiran kalian saling dipenuhi oleh yang lainnya."

I love when you tell me that I'm pretty
When I just wake up
And I love how you tease me when I'm moody
But it's never too much
I'm falling fast but the truth is I'm not scared at all
You climbed my walls

Bahkan Miku sendiri sudah mulai melupakan alasan dia marah beberapa hari yang lalu. Saat ini, dia hanya merasa begitu bahagia saat berada di dekat Kaito. Merasa begitu membutuhkan keberadaan pemuda itu untuk membuatnya nyaman.

Gadis itu mengenggam erat tangan Kaito, merasakan kehangatan dan kelembutan sang pemuda.

So lay here beside me just hold me and don't let go
This feelin'
I'm feelin'
is somethin' I've never known
And I just can't take my eyes off you
And I just can't take my eyes off you

Mungkin Gumi memang benar.

Mungkin perasaan anehnya bisa dinamakan sebagai cinta.

Miku memejamkan matanya. Menikmati alunan nada lagu yang diputar di radio sembari menikmati rasa hangat yang menjalar di hatinya.

Dia nggak butuh yang lain. Dia cuma butuh Kaito saat ini.

.

.


.

.

Miku mendongakkan kepalanya ke atas langit berbintang di atas sana. Sudut matanya menangkap mawar kuning yang terputar di tangannya. Dia tidak pernah keluar semalam ini, terutama ke pantai sebelumnya. Akan tetapi, dia tidak merasakan kekhawatiran sedikit pun. Dia justru merasa nyaman karena sosok biru yang duduk di sampingnya.

Kaito masih tersenyum, menatap layar berbintang di atasnya juga. Suasananya terasa begitu khidmat, begitu nyaman bagi hatinya. Masih dengan senyum, dia menatap gadis yang duduk di sebelahnya. "Miku, aku bahagia malam ini."

Seketika, gadis itu merasa wajahnya memanas. Ditatap langsung oleh Kaito seperti itu tentu saja membuat jantungnya kembali berpacu tak normal. Dia menundukkan kepalanya. "Kenapa?"

"Karena kau sudah membantuku."

"Dalam hal apa?"

"Segalanya." Kaito tertawa kecil. Dia berdiri dan menatap Miku dalam-dalam. Kemudian, dia mengulurkan tangannya.

Seolah mengerti apa yang dimaksudkan sang pemuda, gadis itu meletakkan mawar kuning di atas bagasi mobil Kaito dan mengulurkan tangan kanannya di atas tangan Kaito. Mereka berdua berputar pelan, berdansa ringan layaknya amatiran yang baru belajar.

Miku tidak peduli pada apapun lagi. Perhatiannya benar-benar terfokus pada pemuda itu sekarang.

Sekarang, akhirnya matanya benar-benar terbuka lebar. Dia suka Kaito. Dia menyayangi Kaito. Dan perasaan itu bukanlah rasa persahabatan yang selama ini dia kira.

Miku bergantung pada Kaito karena dia mencintai Kaito.

Miku bahagia bersama Kaito karena dia mencintai Kaito.

Kenapa perasaan sesimpel itu sama sekali tidak bisa dipahami olehnya selama ini?

Miku mengigit bibir bawahnya dan menarik tangannya sendiri, menghentikan dansa singkat mereka.

"Kenapa, Miku?"

Masih tersisa kehangatan jemari Kaito di tangannya, tapi dia menolak untuk merasakannya lebih jauh. Dia bisa-bisa mabuk sendiri oleh pesona pemuda bodoh sahabat kecilnya itu. Salahkan siapa kalau dia baru mengenal perasaan nyaman tersebut sebagai cinta?

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Miku datar.

Kaito tersenyum lebar. "Aku ingin berterima kasih padamu."

"Atas apa?"

"Semua yang kau lakukan untukku selama ini."

"Sama sekali... nggak ngerti..."

"Ada yang ingin kukatakan padamu."

Miku mengerjap pelan. Dia sendiri punya beberapa hal yang ingin dia sampaikan pada Kaito. Terutama tentang perasaannya sendiri pada pemuda biru itu, perasaan manis bernama cinta yang baru dia sadari malam ini.

"Tepat sekali! Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu."

"Siapa duluan?" Kaito tersenyum dengan nakal.

Jelas saja Miku tidak mau menyatakan duluan. "Kau duluan!" Senyum terkembang di wajahnya.

"Kenapa aku?"

"Karena... kau cowok."

Untuk pertama kalinya selama mereka bersahabat, yang tadi itu adalah sebutan cowok pertama dari Miku untuk Kaito. Selama ini gadis berkuncir dua itu selalu memanggilnya dengan sebutan bocah, si es krim yang bodoh, atau bisa juga maniak.

"Baiklah." Kaito mundur selangkah. Tersenyum makin lebar. "Persiapkan dirimu karena ini akan jadi momen paling mengejutkan."

Miku memutar bola matanya. Meskipun begitu, dia sadar jantungnya berpacu semakin cepat. Semua tindakan manis Kaito malam ini seolah menunjukkan perasaan pemuda itu. Apakah... apakah itu berarti...

"Aku..." bisik Kaito pelan.

Miku menatap iris biru laut itu. Menajamkan pendengarannya sementara suara deburan ombak menjadi latar belakang ucapan Kaito.

"Cepatlah!" sahut Miku tak sabar.

Kaito tersenyum makin lebar. "Aku..." Seolah ingin mencapai momen tertentu yang diinginkannya, dia mengucapkan kata yang sama.

"KAITO!"

Kaito tertawa jahil kemudian mengenggam tangan Miku. "Kau sama sekali tidak akan percaya!"

Jeda sejenak. Miku mengunggu. Kaito tak berhenti tertawa.

"Aku..."

"Demi Tuhan Kaito, kau—"

"Aku jadian dengan Luka-chan!"

Biru kehijauan mengerjap pelan. Bibirnya bahkan masih membuka setelah pemuda tampan itu memotong ucapannya.

Sorot matanya mulai meredup. "Apa?"

"Aku jadian dengan Luka-chan!" ulang Kaito lagi. Wajahnya terlihat sangat bahagia.

Miku merasakan dunianya mengelap untuk sesaat.

Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Otaknya seolah tidak mau bekerja.

"Ini seperti mimpi!" seru Kaito.

Ya... bagaikan mimpi buruk...

Mendadak pandangan Miku terasa buram ketika kelenjar air matanya mulai menghasilkan cairan hasil refleksi dari perasaannya.

Perasaan cinta yang harus dipatahkan.

Gadis itu mengigit bibir bawahnya dan memaksakan diri tersenyum. "Selamat."

Kaito mengangguk pelan dan memeluk Miku dengan erat. "Makasih banyak ya!"

Sama-sama...

"Aku beneran sayang sama kamu! Tanpa bantuan darimu, aku nggak akan bisa dekat dengan Luka-chan!"

Sayang?

Sebagai...

Sahabat bukan?

"Aku..." Miku menundukkan kepalanya. "...sama sekali tidak membantu apa-apa, Kaito."

"Yang benar saja! Kalau waktu itu kamu nggak membatalkan janji, aku nggak mungkin bisa mengenal Luka-chan."

"Cowok itu lebih suka sesuatu yang pasti, Miku. Menurutmu kenapa Shion-san bisa bertemu dengan Megurine-san?"

Karena aku...

Membatalkan janji...

"Aah... begitu ya..."

"Uh-uh!" Kaito mengangguk cepat dan meraih bunga mawar itu. "Luka-chan bilang, mawar kuning memberikan makna persahabatan yang kuat."

Miku hampir menangis mendengarnya.

"Karena kau adalah sahabatku yang berharga," Kaito mengulurkan bunga mawarnya, "aku memberikannya dengan sepenuh hatiku. Aku sayang padamu, Miku!"

Dan jelas, Miku merasakan sebuah kehampaan yang luar biasa besarnya di dalam hatinya. Mengigit bibir, menahan tangisannya supaya tidak pecah, tangannya terkulai lemas di samping.

Dia meraih bunga mawar itu. Tidak. Ini belum terlambat untuk memberitahukan perasaannya. Jika Gumi benar tentang perasaan Kaito padanya, maka perasaan Miku...

Tapi, alih-alih menyampaikan perasaannya, Miku justru menanyakan satu pertanyaan bodoh yang menyesakkan hatinya.

"Kau bahagia, Kaito?" bisiknya lirih.

"Tentu saja!" jawab maniak es krim itu.

Bahagia karena... Luka?

Kaito tersenyum sambil menatap langit berbintang. Di belakang sana, terdengar deru ombak yang menambah rasa sukacita dalam dirinya. "Kau tahu, Miku, awalnya aku sempat ragu dengan perasaan yang kurasakan ini."

"Begitukah?" Gadis itu hanya menundukkan kepalanya, menatap setiap kelopak mawarnya dengan perasaan hampa.

"Ya, karena aku baru pertama kali ini merasakan rasa ketertarikan terhadap seseorang. Kau mengerti maksudku?" Dia nyengir lebar. "Jangan-jangan ini artinya aku sudah mulai dewasa ya?"

"Begitukah?"

"Hei! Kenapa mendadak lemas seperti itu?" Kaito melompat dari bagasinya dan menyentuh lembut pipi Miku. "Apa yang ingin kau beritahukan padaku?"

"Bukan hal yang penting," Miku memaksakan senyumnya. "Cuma hal bodoh dan idiot. Sebuah lelucon garing." Kali ini dia memaksakan tawa.

"Miku?"

"Aku suka seseorang, Kaito." Akhirnya kalimat itu terucap juga. "Sama seperti apa yang kau rasakan kepada Luka-chan," lanjutnya kemudian setelah Kaito terdiam lama menatapnya.

"Kau sama sekali tidak menceritakannya padaku." Kaito menatap Miku lurus-lurus. "Siapa orang itu?"

Miku menatap Kaito dalam-dalam. "Kamu."

"Eh?" Iris biru lautan itu melebar tak percaya. "Benarkah?"

Miku langsung memutar bola matanya. "Tentu saja tidak, bodoh! Idiot sekali kalau kau sampai berpikir seperti itu!"

Kaito mendesah lega. "Lelucon garing, eh, itukah yang kau maksud barusan?" Dia kemudian tertawa—

Jadi kau benar-benar menganggap perasaan itu sebagai lelucon garing?

—tanpa pernah melihat bahwa ekor mata Miku mulai digenangi air mata.

.

.


.

.

Setangkai bunga mawar kuning... tanda persahabatan.

Ucapan sayang... dari seorang sahabat.

Ucapan manis... untuk seorang sahabat.

"Aku jadian dengan Luka-chan."

Kalimat itu benar-benar menjadi sambaran petir bagi Miku. Menggoreskan luka teramat dalam di hatinya.

Apakah ini yang dimaksud Gumi sebagai perasaan menyesal?

Shion Kaito...

"Hasilnya menyatakan kau menyukainya!"

Menyukai Shion Kaito...

"Jadi, kapan kau mau sadar? Ketika Megurine-san sudah merebut Shion-san darimu? Ketika kau merasakan rasa perih itu semakin hebat lagi? Setelah semuanya terlambat, kau baru akan memberitahunya, begitu?"

Memberitahu Shion Kaito bahwa kau menyukainya?

Tidak. Itu hanyalah ide terkonyol.

Sebuah lelucon garing.

Kelopak matanya terasa berat.

Terasa begitu lelah.

Iris biru kehijauan itu menampakkan diri pada dunia. Langit-langit biru langit menyesap masuk ke saraf otaknya. Dia mengerjap pelan, mencoba terbiasa dengan suasana pagi tersebut.

Semuanya masih sama, setidaknya keadaan kamarnya memang tidak berubah. Tapi, ada sesuatu yang sudah berbeda dari kemarin.

Miku duduk di atas tempat tidurnya, menatap pigura foto di atas meja lampunya. Senyumnya dan senyum Kaito masih terukir dengan jelas disana. Di salah satu sisi piguranya, terpahat tulisan friends forever.

Ya... seharusnya mereka memang tidak lebih dari sahabat biasa. Seharusnya tidak...

Karena jika ya, yang terluka adalah mereka sendiri.

Seperti Miku yang terluka karena telah mengetahui perasaan cinta itu.

Persetan dengan yang mengatakan batas antara persahabatan dan cinta hanya sekitar 0,00001 mili, layaknya lapisan gelembung cair! Gadis itu sudah tidak peduli lagi!

Setipis apapun batas itu, tidak seharusnyalah dia menerobosnya. Tidak boleh! Apapun yang terjadi seharusnya tetap tidak boleh!

Miku menutup wajahnya. Dia pasti terlihat amat kacau sekarang. Menarik napas dan mengeluarkannya dalam desahan panjang, Miku mencoba tersenyum. Dia tidak bisa menunjukkan kekacauannya pada Kaito. Dia tidak boleh memberitahu Kaito tentang kenyataan perasaannya.

Kaito suka Luka. Itu kenyataannya.

Jadi, apapun yang akan Miku katakan, semuanya akan sia-sia saja.

Semuanya hanyalah lelucon garing belaka.

Gadis itu berdiri dari tempat tidurnya, masuk ke kamar mandi, dan membiarkan air dingin mengguyur badannya.

Dia sudah tidak peduli tentang baju yang sebenarnya belum dia lepas.

Dia sudah tidak peduli tentang dinginnya air yang membuatnya mengigil.

Dia hanya peduli tentang bagaimana cara dia melupakan perasaan bodoh yang baru dia rasakan.

.

.

.bersambung


a.n.
Miku agak drastis nggak ya? agak bingung juga sih gambarin hal ini... -_-"
terussss, feelnya dapet nggak? plis banget plis banget! semoga dapeeeeet!
sampaikan semua pendapatmu, nilai saya secara jujur!

update selanjutnya diusahakan ketika usianya sudah setahun yaa :)
tapi nggak tahu juga karena udah mau dekat lebaran dan fokus saya berkurang

selamat berpuasa bagi yang menunaikannya! semoga tahun ini bisa full yaa! amiiiin!

:2005-2011: