A/N : HOLAAA AKU DATANG LAGIIII! Buat sekarang gatau mau ngomong apalagi, karena ada luang waktu jadi tadi ngebut buat fanfic ini huhu. Dan aku benar-benar senang sama beberapa adegan RinLen disini. Entahlah, mungkin karena 304thStudy Room akhirnya aku semangat nulis kisah cinta mereka berdua /uhuk/ :p. Dan maaf LAGI-LAGI gak bisa jawab review. Aku benar-benar nggak ada waktu untuk nulis dan jawab lagi disini tapi jangan khawatir aku sudah membaca semuanya! Oke deh happy reading ya!


"Halo, Miku-san! Ada apa?"

"Halo," jawabku lirih. "Aku punya dua berita untukmu."

"Oh ya? Apa itu?!"

"Yang pertama, aku akan menjadi tutormu, Mayu, bukan Len."

Gadis yang kutelpon itu tampak ragu mendengarnya. "Kenapa? Aku tidak masalah dengan Len, kok?"

Aku menggeleng. "Tidak, tidak, ini hanya masalah internal saja."

"Masalah internal?"

"Dan yang kedua... ini sangat penting."

"Apa itu?"

"..."

"Miku-san?"

"Jadi... berapa jumlah uang yang mau kau sumbangkan?"


.

.

~ Crypton Life ~
Disc : Yamaha Corp
Pairing : Len x Rin (NOT INCEST)
Genre : Romance, Friendship, Slice of Life
Rate : T
Warning : LenXRin! Typo(s)! Rude Word(s)!
Note : Sekali lagi ditekankan, di dalam cerita ini Len dan Rin sama sekali tidak ada hubungan darah. Jadi bagi yang tidak suka dengan pairing ini, bisa stop scroll dan klik tombol back. Dan terdapat BANYAK KATA KASAR disini.

.

.


[LEN POV]

Tidak.

TIDAK!

Ini tidak mungkin terjadi! Aku, Kagamine Len, yang awesome dan tampan ini, menjadi tutor sebuah jeruk yang bahkan tidak bisa berpikir dengan baik? Ada apa ini? Apa ada orang yang menyantetku? Oh, kalaupun ada, pasti dia adalah Kaito. Tapi Kaito adalah sahabatku dan dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu.

Aku langsung teringat dengan Kaito dan aku tahu siapa yang harus menerima keluh kesahku in first place. Siapa lagi selain si maniak es krim?

"Moshi-moshi! Dengan Kaito disini."

"KAITO! INI GUE, LEN!" pekikku tidak sabaran.

"Calm down, man, telinga gue bisa budek nih lama-lama," ucapnya pelan. "Ada apaan lagi sih lo? Jangan nyuruh gue balik ke rumah lo- sebelum ada ice cream hmmm."

"Apaan sih. Sekarang lo ada dimana?" tanyaku.

"Di sekolah."

"Sekolah? Ngapain lo malam-malam gini di sekolah?"

Aku mendengar cekikikan dari seberang sana. "Nggak, maksud gue depan sekolah. Kan di depan sekolah ada bakery tuh, nah biasa, nyokap nyuruh gue buat beliin kue buat jajanan besok adek gue."

"Oh, dan disana sama?"

"Ada Piko nih! Udah cepetan, kasih tau lo mau ngapain! Pokoknya kalo lo nyuruh gue ke rumah lo, untuk sekarang nggak dulu ya!"

Aku mencibir. "Siapa yang mau ngajak lo ke rumah gue. Listen, I'm in some deep shit, man. Like, REALLY. DEEP," kataku menekan kata 'really deep'.

"Oh?! Ada apa, ada apa?"

"Oke," aku menarik napas lalu menghembuskannya. "Tadi, barusan aku menerima telepon dari 'your moody grill friend-

"Aku tahu sekali kau bisa bahasa Inggris, Len," cibir Kaito kesal.

"Oke oke, girl friend maksudku. Nah, kau tau apa? AKU DISURUH MENJADI TUTORNYA RIN. RIN KAGAMINE," bisikku dengan penuh hati.

"...WTF? TUTORNYA? RIN? KAGAMINE? JADI? OTP GUE?! AAAAAAAAA" pekik Kaito dengan suaranya yang meninggi.

"ASGJDHENJAHDJNAJ you don't have to yell it out like that!" seruku kelabakkan. Masalahnya disitu adalah Piko dan Piko bisa saja menyebarkan gosip-gosip yang membuat telinga panas.

"UNTUK SEKARANG, TIDAK BISA. POKOKNYA, AKU HARUS MELAPORKAN INI PADA GUMI-NEE!"

"NOOOOOOOOO!" salah. INI SALAH. Kenapa aku harus kasih tahu Kaito? Aku nggak pernah kepikiran kalau misalnya Kaito bakal ketularan virus otpmonosis yang bisa membuat orang-orang tergila-gila akan pairing yang sebenarnya THEY AREN'T EXIST. Duh...

"Alright alright, jadi, curhat lo cuma sampai situ aja?"

"Tidak, tidak. Maksud gue, gue harus ngapain? Apa yang harus gue lakukan? GUE GAK MAU SAMAAA DIAAAA!"

"...jangan teriak di kuping gue."

"OH LOOK WHO'S TALKING," teriakku kesal. "Jadi gimana? GIMANA?"

"Oke, lo tinggal ngajak that Rin chick ke suatu tempat dan tinggal bilangin apa yang lo mau."

"Masalahnya gue gak mau."

"Au ah," cibir Kaito.

"Yaaah gimana ini," kataku kesal.

"Aha! Gue punya ide!" seru Kaito seakan-akan ada lampu petromaks di atas kepalanya. "Denger baik-baik, Len! Kalau lo bener-bener benci sama Rin itu, sini, gue kasih tahu ide paling luar biasa dan paling top se-2017!"

"Masih 2016..."

"Bodo amat. Kan kadaluarsanya sampai 2017," kata Kaito dengan alasannya yang cukup masuk akal. "Nah, jadi gini. Lo harus *piiiippp* dan kemudian *piiiippp* dan biarkan dia *piiiiiippp* dan akhirnya lo *piiiiippppp* dan selesai! Gimana?!"

"... ya kali gue bakal ngerti ide yang kata lo paling top se-2017 kalau hal yang penting lo sensor. Masalahnya bukan cuma readers yang ga tau, gue juga gak tau," protesku.

"Oh gitu ya, yaudah gue bisik-bisik aja supaya gak ketahuan readers :D," ucapnya dengan cengiran khasnya (mungkin). Aku langsung mendekatkan telepon pintarku ke telingaku yang dijamin bersih 100% dan mendengarkan saran-saran Kaito yang sebenarnya gue akuin itu cukup masuk akal.

"Oke oke, tunggu, tapi masalahnya-

"No buts!"

"TUNGGU! MASALAHNYA-

"I CAN'T HEEAARR YAAAA. I GOT TO GO INSIDE OF THE TUNNEL. CHOO-CHOO!"

"...choo choo? WHAT THE HELL, MAN?! COME BACK HERE!" teriakku dan aku langsung mendengar suara 'tuuuttt-tuutttt' tanda putusnya hubungan- hem, panggilanku dengan Kaito, dan tentunya dari si Kaito.

Sialan. Pokoknya masalah ini nggak boleh sampai kedengeran telinga orang lain. Pokoknya nggak boleh! Bagaimana pun juga, dan sampai kapanpun juga. Dan untuk besok pagi, sepertinya aku harus melaksanakan tugas misi yang diberikan- um, disarankan oleh si ice cream freak. Baiklah! Semangat menjalankan misi pertama kita! Apapun resikonya! Yaaahooo!~


[RIN POV]
[LINE ON]

kagaminesan added you as your friend

kagaminesan sent you /hello/ sticker

kagaminesan : dateng cepet ke kafe hailey jam 10 hari ini GPL GA PAKE LAMA, dan bawa UANG SENDIRI.

kagarin : siapa ini...

kagaminesan : perintah ketua Miku. Kalo lo gak dateng, gue hapus lo dari daftar peserta lolos audisi

kagarin : ...ha?._.

kagaminesan left the chat

kagarin : BUSET SABAR MBAK!

[Line OFF]

Siapa lagi ini anak. Jadi gini, pagi-pagi aku bangun kira-kira jam lima pagi. Aku jogging sebentar sampai jam setengah tujuh lalu menyiapkan sarapan yaitu omelette beserta kentang goreng buatanku! Aku juga menyediakan teh melati untukku yang baru kubeli sebelum pulang ke apartemen dari restoran Kobe kemarin malam. Hmm... rasanya nikmat sekali.

Nikmat sampai HP-ku berbunyi terus menerus dan ternyata ada yang nge-LINE! Dan itu dari kagaminesan. Oke, dilihat dari segi nama, bahasa, dan bahkan gaya tulisnya menunjukkan bahwa anonymous ini adalah KAGAMINE LEN.

Dan dia menyuruhku untuk datang ke kafe Hailey jam sepuluh hari ini juga? Dia gila atau apa, sih? Sekarang kira-kira baru jam delapan pagi. Dan aku diberi waktu dandan hanya dua jam? HANYA DUA JAM?

Oke, untuk masalah perempuan, dua jam itu WAKTU MINIMAL BERDANDAN. Lagian, kenapa si Len pake ngajak-ngajak sih? Ada masalah apaan sih? Kenapa nggak dari Line aja.

Btw...

DIA TAU DARIMANA LINE GUE?!

/uhuk/ aku keselek. Pasti ada yang ngomongin. Au ah, aku harus siap-siap dulu sebelum dikomentarin apa-apa sama shota Len.

Aku langsung bergegas mandi dan lagi-lagi aku harus keramas. Aku tidak merasa gatal, sih, tapi entah kenapa aku harus keramas. Aku juga memastikan gigiku putih bersih cemerlang dari noda-noda kuning yang mengganggu penampilan.

Setelah masalah mandi selesai, aku memakai baju biasa dulu untuk menghindari basahnya baju bagusku dengan rambut basahku, lalu memakai hair dryer untuk mengeringkan rambutku yang pendek. Karena rambutku pendek dan tidak terlalu tebal tapi tidak terlalu tipis juga jadinya rambutku mudah dikeringkan. Mungkin hanya butuh waktu sepuluh menitan saja sudah perfect!

Aku pun memilih-milih baju yang bagus untuk dipakai. Aku memutuskan untuk memakai dress kuning diatas lutut beberapa senti dengan lengan yang panjang, ikat pinggang berwarna krem kecoklat-coklatan dan boots dengan tinggi hanya semata kaki, dan haknya hanya dua senti saja. Tidak hanya itu, aku memakaikan jepitan untuk mengantisipasi poniku menutup mataku. Ugh... tampaknya aku harus memotong poniku.

Aku mengambil tasku yang berwarna senada dengan outfitku hari ini lalu bergegas menuju lobby. Di lobby, pelayan yang biasa kutitipi kartu menatapku tidak percaya. Ada apa? Ada yang berbedakah?

"K-kagamine-san?!" pekiknya.

"Uh...," reaksi apa yang harus kukeluarkan?

Dia menyentuh bahuku. "Ada apa ini? Kau dandan rapi sekali? Mau ke pesta?" tanyanya antusias, terlihat jelas dari matanya yang tiba-tiba cerah.

"Um... tidak? Ketemuan sama teman," jawabku pendek.

Dia membulatkan bibirnya berbentuk O. "Oalaaah... cowok apa cewek?"

"Yang ngajak sih cowok, kayaknya," kataku sambil memutarkan bola mataku.

"Really?! Wah! Ngedate ya?!"

"Ha? Date? Wkwkwkw... nggak lucu ah, Mbak," aku langsung pergi meninggalkan pelayan tersebut dan kartunya. Aku berjalan lebih cepat dari biasanya dan sepertinya mukaku merah sekarang, semerah udang rebus yang baru diambil dari panci emak.

Iya juga ya. Len kan cuman nyuruh aku dateng aja? Siapa tau ini bersifat penting dan aku malah siap-siap ga jelas kayak gini? Tapi kenapa aku sibuk banget? Kayaknya aku baru kemarin keramas, tapi kenapa aku merasa aku harus keramas hari ini?

Aku seperti ini untuk Len?

Pppffff

Siapapun siapkan ember sebesar mungkin untuk menampung muntahku yang bisa saja keluar kapanpun.

Tapi benar juga, sih. Siapa sih yang nggak senang diajak ke kafe bareng idola?

...

...

Tadi gue bilang apa?

LUPAKAN, LUPAKAN!

Aku langsung membuka pintu kafe Hailey dan aku mencari sesosok wujud berambut kuning dan ketemu! Dia ada di paling pojok sambil mengutak-atik laptopnya yang bermerk. Aku tanpa ragu langsung berjalan cepat mendekatinya. Menyadari kehadiranku, laki-laki yang paling menyebalkan itu menoleh lalu melancarkan senyuman mautnya.

"Hey, there~"

"Bodo amat," kataku tidak peduli. Sorry ya, senyuman playboy nggak mempan sama Kagamine Rin. Catat itu baik-baik. "Sekarang kenapa? Kenapa gue harus datang ke sini? Di jam sepuluh?"

"Oke oke sabar, lo gak beli minuman dulu?" tanya Len sambil menyeruput black coffee-nya.

Aku menggeleng. "Cepetan!" seruku tidak sabar. "Jangan bertele-tele!"

"Baik, baik...," laki-laki shota yang terkenal player di Crypton ini menarik napas lalu menghembuskannya. "Dengar baik-baik jeruk, lo harus tau kalau di klub kita ada masalah internal."

"Masalah... internal?"

Len mengangguk. "Dan karena itulah ada beberapa yang harus diganti untuk tetap menjaga klub Vocaloid bersinar layaknya matahari!"

"Alay, sih...," gumamku. "Tapi masalah internal kayak gimana?"

"Itu nggak perlu dikasih tahu. Nah, sekarang, selamat, lo yang jadi korban pergantian tersebut!" seru Len sambil mengajakku hand shake.

Aku menatap tangannya lalu wajahnya. Bingung sekali. Apa maksudnya? "Kayaknya gue udah pernah bilang kalau ngomongnya langsung to the point aja tanpa bertele-tele," ketusku kesal.

"OKE OKE!" balas Len dengan kedutan di dahinya. "Intinya, LO GANTI TUTOR DARI GUMI JADI GUE. NGERTI?!"

Aku terdiam sebentar, mencoba mencerna.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

"HOLY FREAKING CHEESE!" pekikku tidak percaya. Apa? Apa-apaan? "APA?! MENGAPA? SIAPA?! DIMANA? KAPAN?! BAGAIMANAAA?!"

"Oke jangan bertanya bertubi-tubi, jeruk," cibir Len sambil memutarkan bola matanya.

"SIAPA : Siapa yang mengganti tutorku?!" tanyaku tajam.

"Tidak lain adalah seorang ketua Vocaloid yang begitu kita agung-agungkan bernama Hatsune Miku."

"DIMANA : Dimana dia memutuskan untuk mengganti tutorku?!"

"Di mana ya? Di telpon?"

"KAPAN : Kapan? Kapan dia memutuskan untuk mengganti tutorku?!"

"Um... tadi malam?"

"MENGAPA? Mengapa Miku begitu tega memutuskan hal seperti itu?"

"... karena dia ketua?"

"Bagaimana? BAGAIMANA KALAU KAU MENYIKSAKUUUU?!"

"...itu derita lo, kan...," kata Len melipat tangannya.

"Dan terakhir. APA, APA YANG SEBENARNYA TERJADI?! MIMPI APA AKU SEMALAM?!" teriakku tidak percaya.

Len hanya menyentuh keningnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa basa-basi lagi dia langsung menarik lenganku dan berlari keluar dari kafe ini.

"H-hey! Apa yang kau lakukan!"

"Diam dan ikut saja," katanya malah semakin mengeraskan tarikannya di pergelangan tanganku dan membuatku kesakitan.

"Isss...," ringisku pelan. Kami berdua terus berlari menuju entah kemana. Rasanya aku pasrah saja dan sekejap kami tiba-tiba sampai di suatu tempat yang untuk seukuran rumah terlalu besar, dan seukuran istana terlalu kecil. Len langsung melepaskan tanganku dan mengibaskan tangannya, tanda isyarat untuk mengikutinya ke dalam 'rumah' yang kami singgah. Bangunan tersebut benar-benar mewah! Dan tidak hanya mewah tapi mempunyai desain yang catchy. Berbentuk kotak tiga lantai dengan gaya Jepang yang kental tapi menunjukkan sisi modern dari bentuk kotak tersebut. Minimalis. Rumahnya tidak memiliki pagar yang tinggi, tapi dipagari dengan pagar tumbuhan. Di depannya ada air mancur yang menjulang tinggi dan berbentuk bunga mawar yang sangat detail. Bunga-bunga dan pepohonannya pun beragam. Kebanyakkan bunga Sakura yang sangat indah dan semerbak harumnya. Aku rasa, ini bukanlah rumah! Ini istana!

"Masuk aja...," jawab Len setelah mendengarku bertanya 'apa boleh masuk ke rumah yang bukan seperti rumah ini?'. Beberapa orang- wanita maupun laki-laki, tampak menunduk ketika mereka melihat Len berjalan. Siapa mereka? Kenapa mereka bertingkah seperti Len itu adalah seorang pangeran yang diagung-agungkan? Dan mereka juga berbusana bukan seperti pelayan atau apa. Aku pernah lihat baju-baju mereka di suatu toko baju branded yang harganya hampir mencapai tiga juta rupiah. Kalau mereka pelayan, buat apa mereka memakai baju mahal seperti itu?

Len membukakan pintu ke dalam sebuah ruangan yang ternyata ruangan tersebut ruangan musik! Ada harpa, piano, keyboard, biola, cello, gitar listrik, gitar biasa, bahkan drum dan shamisen! Koto pun juga ada! Aku heran, sekaya-kayanya orang tidak mungkin memiliki semua alat musik yang kau tahu, masing-masing dari mereka terbuat dari kaca sehingga terlihat transparan. Benar-benar mewah dan istimewa!

Len tampak menyuruh pelayan untuk menyiapkan sesuatu, dan benar saja! Satu meja bundar dan kursi dengan bahan beludru sudah disiapkan. Len duduk dan menyuruhku untuk duduk juga. Seorang pelayan tampak membawa nampan berisi camilan-camilan. Ada banyak sekali camilannya! Ada sponge cake dengan marshmallow, wafer fingers berbalut cokelat biasa dan cokelat putih, juga ada beberapa chips, kentang goreng, dan sosis goreng! Pelayan itu juga menyediakan minuman dengan gelas yang sangat istimewa! Dan aku terkejut karena minuman itu salah satunya orange punch- minuman favoritku!

"Um...," aku memecahkan keheningan setelah memastikan 'pelayan-pelayan' itu pergi dari ruangan ini. "Eh, ini restoran? Rumah? Istana?"

"Rumah," jawab Len pendek. "Rumah gue."

Aku membulatkan bibirku. Gila, ini rumahnya? Ya Tuhan! "T-terus... yang tadi nunduk-nunduk itu?"

Len mengangkat alisnya. "Pelayan gue."

JEDEEERRRR!

Sekarang gue tahu, orang yang paling kaya itu, orang yang mampu membelikan pelayan-pelayan rumahnya barang branded.

"Oke, lo pasti bingung kenapa lo gue bawa kesini," katanya sambil menyeruput minumannya dan dijawab oleh anggukan cepatku. "Itu karena lo sudah melakukan hal yang membuat gue malu. Lo teriak-teriak disitu seakan-akan itu kamar lo?!"

"Oh iya!" aku langsung menutup mulutku lalu cengengesan. Pinter juga nih anak. "Oke lanjut aja. Jadi gimana kelanjutannya? Secara lo udah jadi tutor gue! Btw, kata gumi tutor itu sama aja kayak manager. Jadi ya, lo manager gue kan?" kataku sambil nyengir.

"Gue benci buat jawabnya tapi bener."

"Heh," seringaiku.

Len langsung memberikan selebaran kertas dan aku dengan ragu-ragu menerimanya. "Baca!" perintahnya. Cih! Sombong banget sih. Sambil bersungut-sungut aku membaca selebaran yang diberikan oleh Len.

Rules menjadi anak tutor KAGAMINE LEN

1) Bukan anak malam (merokok, minum-minum, dan lain-lain)

2) Bertanggung jawab

3) Rajin latihan

4) Izin hanya diberi dua kali kesempatan

5) Tidak jorok

6) Lagu dipilih oleh KAGAMINE LEN

7) Jika sudah keterlaluan, KAGAMINE LEN berhak menghapus nama anak tutor dari daftar peserta audisi

8) Segala keperluan seperti makanan-minuman saat latihan, lagu, alat musik, merupakan tanggung jawab KAGAMINE LEN

Yang bertanda tangan disini,

KAGAMINE LEN.

Aku membaca selebaran kertas itu dengan cermat. Apa-apaan ini? Yailah! Dia selalu membuat namanya huruf capital dan italic. Cih! Aku menatapnya sambil mendengus kesal. "Tapi selama ada makanan gratis, gue mau," cengirku.

"Well, tapi makanan gratis ada di nomor delapan alias nomor terakhir. Berarti itu bukan prioritas gue," kata Len sambil tertawa.

"Tunggu, tunggu!" kataku sambil menepuk meja. "Lagu dipilih Kagamine Len? Tapi Gumi sudah milihin gue lagu, dan lagunya adalah Hirari Hirari dari Hatsune Miku! Berarti, apapun yang terjadi, gue bakal tetap menyanyikan lagu Hirari Hirari!"

"Sekarang gue tanya, tutor lu siapa sekarang?"

"Err... elo?"

"Ya udah, gue yang mutusin lah!" seru Len sambil melipat tangannya.

Aku merasa tidak terima. "Apa-apaan tuh! Gak bisa, gak bisa!" kataku sambil nyomotin sponge cake yang hey! Ternyata rasanya enak sekali. Mau coba?

"Kok gak bisa," cibir Len. "Liat lagi noh rules nomor 6. Kalo lo nggak mau dipilihin lagunya, lo bakal gue hapus nama lo dari daftar peserta audisi. Gimana?"

"Nggak bisa gitu dong! Kan tutor awalku Gumi!"

"But it was, okay? Yang sekarang lo liat adalah, siapa yang menjadi tutor lu DETIK INI!" seru Len tidak mau kalah.

"Lo sih tapi gue gak mau! Maunya hirari hirari!"

"Oke, fine, gue tinggal bilang Miku kalau lo anak yang nggak bisa diandelin," ancam Len sambil mengambil handphone-nya yang diletakkannya di meja. Aku meringis.

"Bilang aja sono! Gak percaya gue. Klasik banget ancaman lo," balasku bodo amat.

Len langsung mendelik kesal dan dia memencet sesuatu di layar handphone-nya. Aku meringis lagi. Jangan-jangan dia beneran niat mau ngapusin nama aku lagi dari daftar peserta audisi?! Ah, nggak mungkin!

Dia kembali meletakkan hp-nya dan tiba-tiba ada yang ngomong dari hp tersebut.

"Moshi-moshi, Len. Ada apa?"

ASTAGA! ASTAGA! ITU SUARA MIKU. Aku langsung menatap Len tajam dan yang ditatap hanya menyeringai.

"Hai, Miku. Aku cuma mau bilang kalau-

Aku langsung mendekap mulut Len tanpa ampun dan memutuskan hubungan panggilan dari Len ke Miku. "Sialan lo! Gue gak tau lo bener-bener niat!" cercahku kesal sambil menatap tajam Len.

Aku langsung melepaskan tanganku dari mulutnya dan kembali duduk dengan tenang.

"Jadi gimana, Kagamine Rin?"

"Oke!" kataku dengan nada tinggi dan terkesan menantang. "Lagu apa yang lo bakal pilih?!"

Len menyeringai. "The Apocalypse 13th."

...

"Ulangi lagi?" kataku tidak percaya.

"THE APOCALYPSE 13TH."

GUBRAK!

"WOY! LO NGETUTOR GUE APA NYIKSA GUE?!" kataku tidak terima. "Lagu itu berada di level maksimal yang gak bisa disanggupi oleh amatiran kayak gue! Pokoknya, gue gak mau lagu itu! Gimana kalau suki kirai aja?!"

Len menahan tawanya. "Suki kirai? Sukiyo... kirai wakannai kirai~," kata Len sambil loncat-loncat kayak anak kecil yang sukses membuatku tertawa terbahak-bahak hingga guling-gulingan di ruangan yang lantainya dilapisi karpet bulu. "Sukida igai arienai sukida!"

"Kampret... udah dong!" kataku tak henti-hentinya ketawa.

"Lo seriusan mau lagu kayak gitu?" seru Len sambil bergabung tertawa denganku.

"Tapi itu lagu gampang, ege," jawabku, meskipun aku memang malu sih nyanyiin lagu itu.

"Gampang, gampang, jelek ah!" kilah Len. "Pilih satu, The Apocalypse 13th atau Ikasama Casino?"

"Kenapa pilihannya itu semua, itu susah, sialan," seruku kesal. "Kenapa nggak Electric Angel?"

Dan lagi-lagi Len bergaya sambil bernyanyi seakan-akan itu adalah diriku yang sedang bernyanyi di panggung audisi, dan dia menjelek-jelekkanku! Tapi aku tidak bisa berhenti tertawa. Len ternyata punya sisi humor yang sebenarnya jarang ditunjukkan ya?

"Jangan electric angel! Pilih satu, The Apocalypse 13th atau Ikasama Casino?"

"Nggak ada yang lain apa?"

"Maaf, nggak bisa nawar, mbak."

Dan kepala Len sukses terpental bantal yang entah kudapatkan darimana. Oh inikah hiraishin no jutsu?! /salah fandom oy, salah fandom/.

"Eh, tapi lo mikir gak sih? Kan The Apocalypse 13th sama Ikasama Casino itu butuh dua orang dan yang ikut audisi kan gue! Bukan elo," aha! Pintar sekali, Rin, pintar sekali! Ini alasan yang cukup masuk akal untuk menghindari lagu yang sangat membutuhkan kosentrasi tinggi.

"Ya mikirlah! Makanya gue nyaranin lo dua lagu itu."

"Lah terus satunya siapa?"

"Lo bodoh apa bodoh, sih? Ya gue lah!" kilah Len sambil melipat tangannya.

Aku menatap Len sambil mengerjapkan mataku beberapa kali. Beneran, tuh? Beneran? Ini jadi kayak... duet dong? Hah? Duet? Bareng artis idola yang dibangga-banggakan? Eh, meskipun anak ini ngeselin, tapi siapa sih yang gak mau?

Aku jadi bimbang.

"Masih hidup?"

"Masih, jantung masih berdetak, udara masih bisa dihirup paru-paru, lambung dan usus masih bisa mencerna, otak masih bisa berpikir, alat gerak masih bisa bergoyang," kataku nyerocos.

Len memutarkan bola matanya. "It's not time for science, duh..."

"Hanya menjelaskan," aku menunjukkan deretan gigiku yang putih dan cemerlang anti noda!

"Jadi lo milih yang mana? Ikasama casino atau Apocalypse 13th?" tanya Len tidak sabar.

"Gue gak tau," jawabku sambil menyeruput orange punch-nya. "Lebih gampangan yang mana?"

"Nih ya gue kasih tau," kata Len sambil menyeriuskan wajahnya. "Yang di cari di audisi ini bukan yang adem ayem, atau sekedar nyanyi aja. Lo harus punya power disitu. Nah, gue kan udah dengerin beberapa kali rekaman ulang suara lo dan gue kira lo cocok di lagu antara Ikasama Casino atau Apocalypse 13th. Tapi kalau pendapat gue sih lebih mendingan Apocalypse 13th. Bukan apa-apa, tapi feel dalam lagu itu lebih kerasa dan gue yakin kalo lo ngebawainnya dengan bagus, para juri bakal terpikat sama lo."

"Tunggu, tunggu!" aku tiba-tiba teringat sesuatu. "Bukannya lo jadi juri, Len?"

Len menaikkan pundaknya. "Terus? Ntar pas giliran lo, gue tinggal manggung juga. Gampang."

"Lah, lo nilainya gimana?"

"Ya sekalian nyanyi sekalian nilai," kata Len cuek.

"Oh, bisa gitu ya...," kataku mengangguk-angguk mengerti. "Oke deh, Apocalypse 13th."

"Bagus!" seru Len bertepuk tangannya. "Karena minggu depan udah audisi, lo harus butuh kostum dan beberapa kebutuhan lainnya!"

"Eh? Kemana?" tanyaku bingung. "Gue nggak bawa dompet, lho!"

Len menunjukkan deretan giginya. "Gapapa! Gue kan tutor lo!"

Aku tersenyum mengangguk.

Di tutorin Len, tidak begitu buruk, ya?

Tidak.

Aku tarik lagi perkataanku.

BURUK, DIA SANGAT BURUK!

Jadi begini, Len memutuskan untuk membelikanku gaun yang pas untuk lagu The Apocalypse 13th. Karena aku tidak terlalu suka gaun yang ribet, akhirnya aku hanya membeli denim dress dan itu ditentang oleh Len. "Lo mau audisi, apa ngamen?" katanya saat aku menunjukkan denim dress yang menurutku bagus sekali.

"Jangan yang itu! Gak bagus!"

"Apaan nih? Mentang-mentang lo suka jeruk, jangan warna kuning dong!"

"Ah kependekkan! Ntar Kaito mimisan lagi!"

"Jangan!"

"Jangan yang itu!"

"Nggak nggak NGGAK!"

Aku langsung menarik napas dan menghembuskannya. "Kenapa gue harus nanya sama lo yang fashion taste-nya dibawah rata-rata?" keluhku dengan pelan dan mengikuti Len yang mencari-cari baju dengan sedikit kasar. Aku penasaran, tipe baju seperti anak cowok shota itu gimana sih? Mencari baju bersama Len itu, sama kayak mencari jarum di jerami! Ugh... Apa nilai fashionku yang justru tiba-tiba jatuh? Nggak, ah! Masa iya kalau aku keterima di Vocaloid, fashion icon-ku KAGAMINE LEN? What the hell?!

"Nah!" Len tersenyum lebar lalu mengambil sesuatu dari gantungan di toko gaun itu. "Ini dia!"

Aku memperhatikan gaun yang dipilih oleh Len. Hmm... gaunnya berwarna putih tanpa bagian neck. Gaun itu terdapat hiasan mawar-mawar yang bentuknya tidak terlalu rumit tapi bisa membuat siapapun tercekat, kagum melihatnya. Gaun itu juga mengembang tapi dibagian depan gaun terbelah dari bagian lutut atas sehingga gaun itu tidak teralu formal. Gaun itu tidak memiliki lengan yang panjang, melainkan hanya sampai bahu bawah saja. Bentuknya pun sedikit besar tetapi jika dilihat baik-baik, potongan lengan tersebut cocok sekali dengan gaunnya.

Aku terperangah melihat harganya. Sepuluh juta?

"Mau ini?" tanya Len datar. "Menurut gue ini cocok buat lo."

"Err.. harganya," kataku.

Len tertawa. "Selama lo suka, gue bisa apa?"

"...Gue gak maksa ya! Tapi sebenarnya gak perlu mahal-mahal juga nggak apa-apa, kok," kataku menolak halus. Kenapa, ya? Harga sepuluh juta terbuang hanya untuk satu kali tampil dan itu juga hanya audisi.

"Kalo lo mau sih bilang aja," ucap Len. "Udah ini aja ya? Free veil-nya juga, tuh!"

"Waah! Kok, jadi kayak mau nikah," kataku sambil tertawa renyah.

[LEN POV]

"Heh," cengirku. Jangan salah, aku juga tergila-gila dengan barang gratisan. Makanya aku ngerekomendasiin dia gaun itu. Tapi nggak sepenuhnya karena veil juga, kok haha. Karena menurutku itu memang cocok sekali dengan si jeruk itu.

Aku langsung menyelesaikan pembayaran yang menghabiskan sepuluh juta itu. Sedangkan Rin tampaknya sedang melihat-lihat gaun yang lainnya. Pekerja kasir yang sedang melipat gaun yang menurutku ribet itu tampak memperhatikanku dan Rin.

"Itu pacar adik?" tanyanya.

"He? Nggak!" tolakku dengan gelagapan. Siapa yang nggak kaget kalau lagi diam tiba-tiba ditanyain begitu? Untung aja yang dimaksud gak terlalu dekat jaraknya.

"Terus? Tunangan?"

"Mbak, stop, gak lucu. Dia bukan siapa-siapa saya."

Mbak-mbak yang berkulit gelap itu tersenyum. "Beruntung sekali ya anda bisa dengan perempuan secantik dia."

Bweeehh...! Apa-apaan tuh?! Aku memutarkan bola mataku. "Dia yang beruntung, dibeliin gaun sepuluh juta."

"Yah... kalian sama-sama beruntung."

Setelah selesai memproses pembayaran dan menerima godaan-godaan dari mbak-mbak yang merisihkan diriku, akhirnya aku dan Rin pun pergi dari tempat nauzubillah itu dan aku menarik napas panjang-panjang. Berat juga nih belanjaan.

"Rin, bawain dong!"

"Apaan!" Rin protes. "Dimana-mana mah cowok yang megang belanjaan?!"

"Emang gue mbak lo?!"

"Lo kan manager gue!"

Akhirnya perdebatan ini dimenangkan oleh si Kagamine Rin, dan yah... akulah yang menenteng belanjaan gaun tersebut. Karena merasa malas, aku akhirnya memanggil pelayanku lewat telepon dan menyuruh pelayan tersebut membawakan gaun ini ke mobil. Rin tampak tersenyum senang bisa jalan-jalan di mall yang cukup mewah dan private ini. Setelah dipikir-pikir, dia adalah anak pendatang baru, pasti dia belum pernah ke mall ini.

Dan setelah dipikir-pikir lagi, aku lapar.

"Gila, laper banget nih. Mau makan siang dulu ga?" tawarku dengan nada agak keras.

...

"...boleh?"

Mataku langsung terbelakak. SETELAH DIPIKIR-PIKIR, NGAPAIN GUE NAWARIN DIA MAKAN SIANG? DI MALL? ASTAGA! ASTAGA! SIRAMIN GUE AIR ZAM-ZAM PLEASE, SIRAMIN! SEKALIAN MANDIIN GUE PAKE KEMBANG TUJUH RUPA. TERUS NARI HULA-HULA DI DEPAN PANTAI KACA. AAAAHHH! ADA APA INI?!

Aku menelan air ludahku. "L-lo bilang apa?"

Dia menaikkan alisnya. "Hah? Gue bilang boleh, kok? Emang mau makan dimana, sih? Gue juga laper," katanya cengengesan.

"Err... ayo kesini," ajakku ke restoran bintang lima yang biasa kubawa mantan-mantanku dulu. Rin melihat restoran itu dengan biasa saja. Aku mengajaknya ke tempat yang VIP karena aku kira Rin tidak suka dengan tempat-tempat yang berisik. Dari ruangan VIP ini, ada kaca yang bisa melihat pemandangan ke dalam mall. Banyak orang berlalu lalang.

"Mau yang mana?" tanyaku mengagetkan dirinya yang sedang membolak-balikkan menu.

"Um...," gumamnya. Makanannya memang serba steak, sih. "Chicken steak Monterey aja."

Really? Dari sekian steak yang terkenal enak dan mahal, dia memilih steak ayam yang paling murah harganya?

"Minumannya es teh," lanjut Rin.

"Nggak mau sirloin atau apa?"

Rin menggeleng kecil.

"Oke. Pak, pesan sirloin steak satu, dan chicken steak monterey satu. Minumannya dua es teh," pesanku.

"Hai!" jawab pelayan tersebut.

Aku melihat Rin sedang menatap sekeliling ruangan. "Hey, gue baru pertama kali, lho ke restoran ini! Harganya sama kayak Kobe atau lebih mahal atau malah lebih murah?"

"Lebih mahal," jawabku pendek. "Sedikit."

Rin hanya membulatkan bibirnya. Dia kembali menatap sekeliling ruangan yang dilapisi wallpaper merah bertekstur. "Umm... tapi kenapa harus di VIP juga?"

"Eh, emang nggak suka?" tanyaku menarik alisku. Ini anak langka ya.

Rin tertawa. "Padahal, gue niatnya mau makan KFC aja," kata Rin sambil menatap ke kaca dan benar, disitu ada KFC yang tidak terlalu mengantri. "Gue mau burgernya. Awalnya gue mau mengajak lo ke sana, tapi lo-nya udah ngebawa gue kesini. Karena udah di depan restorannya, gue jadi nggak enak buat nolak. Hehe...," katanya dengan polos.

Aku melirik ke arah restoran KFC. "Lo mau makan disana?"

"Makan burger terus minum coca cola, enak lho!" pekik Rin. "Sekalian jalan-jalan liat barang-barang lain!"

Aku langsung menyeringai. "Gimana kalau kita kabur?"

"...He? Kabur?" dia tampak tidak percaya.

"Iya, kayak pas kita telat masuk sekolah."

Dan sekarang, Rin membalas seringaianku. "Boleh! Siapapun yang telat sampai di KFC, dia yang jajanin, gimana?" wah wah wah, ternyata si jeruk bisa bertaruh.

"Siapa takut?" balasku dengan menantang.

Akhirnya kami berdua langsung berlari kabur dari ruangan VIP tersebut dan berlari secepatnya. Bahkan sempat menabrak orang-orang tapi aku dan Rin tampak tidak peduli. Kami benar-benar terobsesi untuk menjadi pemenang taruhan ini. Tidak peduli jika pelayan-pelayan menegur dan mengejar kami karena telah meninggalkan restoran tersebut tanpa uang. Ah, kami belom makanin juga itu steak!

Dan akhirnya, yang menjadi pemenang adalah Rin.

"Hff... hah... nice run, Rin... nice," pujiku dengan napas tersengal-sengal. Nekat banget ya?

"Capek gila...," umpatnya. "Baiklah! Berarti lo yang jajanin, ya?!"

Aku mengangguk pelan. KFC doang. Rin memilih burger double cheese dan akhirnya aku juga ikut-ikutan beli burger itu. Aku dan Rin juga memesan coca cola, yang awalnya dipaksa Rin karena sebenarnya aku tidak terlalu suka soda. Tapi kata Rin burger dan soda itu sudah jadi satu set menu paling enak di dunia, dan mungkin, paling murah sejagad raya selain siomay dan batagor.

Kami pun memutuskan untuk brjalan-jalan mengelilingi mall. Ternyata seru juga ya? Hari ini aku tidak terlalu menghabiskan uangku! Meskipun gaun itu harganya mahal, tapi aku anggap itu untuk urusan pekerjaan, dan demi pekerjaan aku akan melakukan apapun.

Er...

Jadi ini? ini ngapain? INI NGAPAIN? BARENG RIN MUTER-MUTERIN MALL SAMBIL MAKANIN BURGERNYA KFC TERUS KETAWA HAHA HIHI GAK JELAS?

INI NGAPAAAIIIN?!

"Len! Len! Ada timezone! Ayo main dulu sebelum pulang!" seru Rin menarik lenganku dengan keras dan berlari ke arah timezone.

Dan ini pertama kalinya aku mendengar dia memanggil namaku dengan tertawa ikhlas seperti itu.

Untuk apa memikirkannya? Aku hanya perlu tertawa dan bermain di timezone! Rin mengajakku berbagai macam permainan! Bahkan dia menantangku bermain lomba balap mobil yang pada akhirnya akulah yang memenangkannya! Hoho... Dia juga mengajakku bermain tembak-tembakkan dan lagi-lagi aku memenangkan permainan tersebut dengan mudah. Dia menggerutu dan akhirnya mencoba permainan mengambil boneka dengan capitan.

"Ini mah pembohongan massal. Liat deh, capitannya nggak bakal mencapit dengan benar," jelasku sambil kesal.

"Well I'll give a try!" seru Rin tanpa patah semangat mendengar perkataanku. Tapi tetap saja, hasilnya nihil! Dan dia sedikit kecewa melihat dia gagal mendapatkan boneka yang dia mau.

"Emang mau boneka mana sih?" tanyaku.

"Itu lo, boneka Ilama yang warna putih itu! Lucu banget ih, ngegemesin," kata Rin sambil tersenyum riang.

Err... berarti Rin sama boneka Ilama sama dong? Sama-sama-

UHUK! APA YANG BARUSAN GUE PIKIRIN?

"Oke, oke, gue coba ya," kataku lalu memusatkan segala perhatianku pada si capitan sial ini. Dan ternyata, perhatianku 'ehem' benar-benar berguna! Tapi masalahnya, aku tidak mendapatkan boneka Ilama yang dimau Rin, malah boneka teddy bear yang warna cokelat dengan tulisan 'love' yang klasik banget. "Yah gadapet, Rin..."

Tunggu. Tadi, TADI GUE NGOMONG RIN?

Apa-apaan?! ASTAGA.

"Nggak apa-apa kali!" Rin menerima bonekanya dengan senang hati. "Yang penting bisa ada yang dipeluk!" kata Rin sambil memeluk bonekanya.

"Jones," cibirku. "Ngenes banget jadi orang."

TOENG!

Kepalaku dijitak olehnya dengan boneka teddy bear. Untung saja boneka itu tidak terlalu keras atau malah empuk. Tapi tetap saja, kalau Rin yang mukul, dunia seakan-akan runtuh seketika.

"Eh, permainan terakhir, Len!" Rin menarik-narik baju lenganku. "Dance battle!"

Aku langsung memberikannya seringai. "Dance battle? Ntar kalau lo kalah, nangis lagi," ejekku.

"Sombong banget," kilah Rin. "Kalau menang, ntar lo beliin gue es krim ya?"

"Deal!" jawabku. "Dan kalau gue menang, sebaliknya oke?"

"Oke, siapa takut?!"

Kami pun memilih lagu Pull Up dan kami menari beraliran hip hop. Sebenarnya ini cukup sulit, tapi Rin tampaknya enjoy sekali menari dengan lagu ini. Padahal ada beberapa bagian yang butuh keahlian dan ketepatan. Setelah kami menyelesaikan permainan ini, score Rin ternyata yang lebih tinggi! Dia menjulurkan lidah padaku dan berteriak, "Es krim ya?!"

"O-oke, Magnum?" tanyaku.

Dia cemberut. "Pengennya es lilin."

Aku menepuk keningku. Ini anak, dikasih mahal minta murah. "Kagamine Rin, es lilin itu cuma ada di pinggiran dan di taman aja!"

"Nah!" Rin menepuk tangannya. "Gimana kalau kita dari mall langsung ke taman dekat sini? Lagian gak terlalu jauh kan? Tinggal jalan kaki?"

"Terus mobilnya?" tanyaku.

"Oh iya," Rin terdiam. "Nggak usah, deh! Udah cukup kok hari ini."

Nggak. Ini nggak cukup. Aku langsung mengambil HP-ku dan menelpon supirku untuk kembali ke rumah beserta belanjaan yang aku titipkan sebelum makan siang. Setelah memberi beberapa penjelasan, akhirnya aku dan Rin keluar dari mall. Ini untuk pertama kalinya, aku berjalan kaki keluar dengan cewek tanpa membawa kendaraan apapun yang mewah, hanya berjalan kaki.

Tunggu.

Sama cewek?

Aku melirik Rin yang sedang berjalan kaki. Dia tidak tersenyum, tapi raut mukanya menunjukkan bahwa dia senang dengan hari ini. Itu terlihat jelas di matanya. Aku langsung menutup mulutku. Ada apa ini? Apa dia nggak curiga kalau ini semacam... kencan?

"Len! Itu tuh, es lilinnya!" seru Rin dengan riang. "Beliin rasa jeruk, ya?!"

"Oke oke..."

Aku pun menghampiri tukang es lilin dan memesan satu es lilin jeruk dan vanilla untukku, tapi tiba-tiba tukang es lilin tersebut tertawa. "Lho mas'e, kaga ada es lilin rasa jeruk, mah."

Aku melirik ke Rin yang sedang tertawa terbahak-bahak di kejauhan. Sialan! Dia sudah mempermalukanku! Akhirnya aku membeli dua es lilin rasa vanilla. Untung saja si Rin ini cewek, kalau dia kayak Kaito, bola basket kutimpuk deh ke mukanya.

"Ketahuan nih yee belum pernah beli es lilin," goda Rin setelah kami mendapatkan bangku taman. Ets, jangan pikiran aneh-aneh dulu. Kami jauh-jauhan kok duduknya. Tapi panoramanya pas banget. Jam empat sore gini, mataharinya nggak terlalu panas.

"Berisik," aku mendelik kesal.

Rin kembali tertawa. "Yaah sekali kali lo cobain makanan kayak gini! Orang kaya jangan makan steak mulu," Rin menjulurkan lidahnya.

"Ngeselin lo, ayam."

"Lo lebih ngeselin, shota."

"Jangan manggil gue shota, sialan!"

"Jangan nyialin gue juga, baka!"

"Lo yang mulai, kutil!"

"Kok gue dipanggil kutil, sih?!"

"Karena lo nggak berfungsi!"

"Mau gue colokin nih es lilin?"

"NGGAK NGGAK!"

Kami berdua pun kembali tertawa dengan ngakaknya. Disini, Rin mulai bercerita tentang kota asalnya, Hokkaido yang katanya bagus sekali kalau lagi musim salju. Ice skatingnya menarik dan makanannya juga beragam. Tapi, Rin merekomendasikan untuk pergi ke Osaka kalau masih ingin melihat kuil-kuil yang alami dan beberapa bangunan tradisional.

"Lo pernah ke Osaka?" tanyaku penasaran.

Rin mengangguk. "Nenek gue tinggal disana. Gue sering banget dulu dikasih yukata sama kimono. Tapi karena udah kekecilan dan nenek makin lama makin tua, jadinya dia nggak ngejaitin gue lagi," kata Rin sambil tertawa renyah.

"Lo nggak beli aja?"

Rin menggeleng. "Rasanya yukata itu kalau di buat sendiri sama salah satu anggota keluarga kita, jadi lebih kerasa tradisionalnya," jelas Rin.

Aku mengangguk. Aku baru mengerti, Rin ini memang bukan orang yang tidak punya duit, malahan dia sepertinya orang yang kaya. Itu terlihat dari dia memiliki apartemen mewah disitu. Jadi pasti dia orang berada. Tapi, sifatnya lah yang membuat dirinya hidup sederhana. Makan es lilin, jalan-jalan keliling mall sambil makan burger-nya KFC, main di timezone. Rasanya selama aku pergi ke mall ini dengan perempuan-perempuan lain, mereka menghabiskan waktu berlama-lama di restoran mahal dan pergi ke salon atau belanja baju. Tapi dengan Rin? Itu semua bertolak belakang.

"Eh, tiba-tiba mendung," Rin mendongak ke atas.

Aku pun ikut-ikutan juga dan tak terasa beberapa tetes air jatuh ke wajahku. "Hujan ya?"

Rin dengan sigap langsung mengambil sesuatu dari tasnya. Itu adalah payung. Er... payung, ya. Aku jarang sekali memakai benda payung. Karena aku memang biasanya naik mobil atau kalau emang lagi diluar, dipayungin pelayanku.

Tapi setelah Rin membuka payungnya yang transparan, tidak mungkin Rin yang memegang payungnya, kan?

Aku langsung mengambil payungnya dari tangan Rin, membuat anak itu kaget melihatku.

"Gue aja," kataku pura-pura cuek.

Rin mengangguk tersenyum manis. Akhirnya hujan pun datang. Kami berdiri di bawah satu payung. Dan langit semakin hari menjadi gelap. "Lo mau pulang sekarang?" tanyaku.

"Iya..."

Akhirnya aku memutuskan untuk mengantarkan Rin pulang ke apartemennya. Selama diperjalanan, kami tidak diam saja. Kami juga ngobrol banyak pembicaraan. Misalnya, Rin berharap kalau dia masuk vocaloid, dia ingin membuat lagu tentang hujan.

"Galau dong," ceplosku.

"Yaelah emang lagu tentang hujan harus selalu galau?" katanya sambil mencubit lenganku dengan pelan.

"Hujan soalnya identik sama patah hati."

"Ga juga sii..."

Akhirnya kami pun sampai di depan apartemen yang menjulang tinggi. "Wah gue jadi malu nih kalau ke kafe Hailey lagi," seru Rin tertawa pendek.

"Ye, salah lo itu!" kilahku.

"Lo ngomongnya tiba-tiba, sih!"

"Lah lo bilang kan lo nggak mau yang bertele-tele!"

Rin kembali tertawa, dan aku menyusulnya. "Iya juga sih. Ya sudah! Terima kasih ya, Len untuk hari ini! Semoga Tuhan melindungimu!" seru Rin sambil tersenyum riang.

Aku menatapnya. Terima kasih untuk apa? Padahal awalnya niatnya aku hanya ingin memberinya lagu lalu membelikannya gaun. Sudah, itu saja! Lalu kembali ke rumah dan membiarkan dirinya pulang sendiri ke rumahnya. Dan setelah didengar-dengar, ini pertama kalinya Rin berterima kasih padaku. Apa karena gaun itu?

"Oh ya tentang gaunnya..."

"Ah!" gumam Rin. "Di rumah lo aja. Lagian yang beliin, kan, lo. Bukan hak gue."

Ini anak aneh banget, sih. "Oh oke... Oh sama ini payungnya."

Rin menatapku. "Terus, lo pulang kayak gimana?"

Aku melirik handphoneku. Baterenya low batt? Ya ilah!

"Gapapa!" Rin menyodorkan payung transparannya. "Besok kembaliin pas sekolah! Inget ya! Hahaha!" serunya cekikikan.

"Ah... oke..."

"'Kay! Hati-hati dijalan! Bye!" sahut Rin lalu membalikkan badannya menuju lift, sehingga yang bisa kulihat hanyalah punggungnya.


"Apa lagi, sih, Len?!" seru Kaito dari ujung seberang sana di telepon.

Aku membaringkan diriku di tempat tidurku. Aku memegang payung yang sudah ditutup olehku dengan sempurna. Aku menggigit bibirku dengan pelan. "Lo... lagi dimana?"

"Lagi sama Piko dan Gakupo."

"Oke, gue gak tau lo bakal reaksi kayak gimana tapi LO JANGAN SAMPE TERIAK KAYAK TADI oke?" kataku dengan kesal. Aku tidak bisa menahan ini! Aku harus ngomong tentang kejadian hari ini kepada seseorang yang sangat kupercayai, yang tak lain adalah Kaito.

"...oke oke, gue menjauh nih dari mereka. Nah, cepat katakan."

"Listen man, for couple times I'M IN SOME DEEP SHIT, MAN, REALLY DEEP, DEEPER THAN BEFORE!" seruku sambil memeluk gulingku.

"Again, what happened?"

"You know... jadi gini kronologisnya. Gue udah ngikutin saran lo, yaitu bikin dia tersiksa dengan dua lagu gue yang lumayan cepat dan tinggi. Dan akhirnya dia setuju the apocalypse 13th. Nah karena gue tutornya, gue ngebawa dia ke mall dan milihin dia baju. DAN AKU GAK TAU KENAPA TIBA-TIBA GUE JADI JALAN-JALAN SAMA DIA DI MALL, NGELILINGIN MALL SAMBIL MAKAN BURGER TERUS JALAN KAKI KE TAMAN TERUS PULANG HUJAN-HUJANAN MAKE PAYUNGNYA RIN DAN KAMPRETNYA GUE NGANTERIN DIA PULANG DAN LO TAU GUE ADA DI MASALAH APA? GUE MERASA GUE JADI SENENG JALAN SAMA DIA! DIA MASANG PELET APAAN KE GUE?!"

"..."

"..."

"... Kai-

"HOLY OF MOTHER- WHAT THE HELL! OH MY GODNESS WHAT I'VE JUST HEARD?! SERIUSAN? ASTAGA! OTP GUE! POKOKNYA GUE MAU BILANG GUMI-NEE!"

"AGDHEWEANSJNAX JANGAN TERIAK, SIALAN!"

"BODO AMAT DAH! POKOKNYA GUE SENENG BANGET HARI INI!"

"SAMA GUE JUG- NGGA!"

"DAH GUE MAU MIMPIIN O-TE-PE GUE!"

"WHAT THE FCK, KAITO?!"

Dan panggilan telepon kami pun terputus, dan tentunya diputusin oleh Kaito. Aku menarik napas lalu menghembuskan napasku. Ada apa ini? Nggak, nggak boleh! Jangan sampai suka sama Rin. Jangan, jangan sampai!

Jangan sampai...

OH TIDAK GUE HARUS GIMANA?!

Oke, gue mau tidur dulu. Sebentar. Lagipula aku sudah merasa pegal di kakiku karena sudah lama tidak jalan kaki. Baiklah, tidur adalah obat. Right guys, biarkan aku beristirahat dari segala masalah hari ini.

Hfff... hidupku.


A/N : Haloo! Jadi sadar sesuatu kah ada yang cukup berbeda dari chapter 8 dengan yang lainnya? Iya! Karena aku meng-italic kan bagian teleponnya. Sebenarnya aku bukannya nggak sengaja alias miss italic untuk bagian telepon atau Bahasa Inggris, itu karena word-nya kebanyakkan dan kalau di italic satu-satu habislah aku ini lemotnya laptopku. Kalau kalian merasa risihh dengan italicnya, bilang aja. Ini cuma ngetest aja kok apa lebih bagus kalau telponan pake italic atau nggak. Dan kenapa Bahasa inggris gak ke italic, itu karena aku menganggap Bahasa Inggris sudah jadi Bahasa sehari-hari mereka dan kalau misalnya aku italic, yakin deh banyak yang miring-miring tulisannya. Nggak capek apa? Hahaha! Oh ya scene di atas tadi ada beberapa yang terinspirasi dari fanfic lain, Bahasa Inggris sih bahasanya haha.

Kritik, saran, dan pertanyaan apapun ditunggu. Atau ada bahasa inggris yang ngaco/gimana, bilang aja ya. Dan hari senin libur yey!

Shikioru.