Ini balasan Reviewnya dan terimakasih untuk yang sudah review ^^.
*Hikari Vongola: Ini dah lanjut lagi, dek. And Sessho mana mau mangkas rambut, enakan mangkas leher orang or organ tubuh orang ==a. Inu-chan gak akan keguguran kok, orang janin nya aja masih satu bulanan lebih, jehehe (plak).
*Azure'czar (Guest): Kangguru gak nampak kok sekarang, kayaknya dia lagi ada pertemuan dengan seseorang (duak) Dan Menomaru emang chara baru yang ane tambahin sebagai temen nya Sessho, kasihan dia kalau gak ada teman *ditebas. Dan gak apa-apa kok Zure review banyak-banyak bahkan sekalian curhat, jehehe.. *plak. tetap semangat lah jangan sedih XD.
*UzumakiKagari: Menomaru.. dari mana ya? ane lupa dia di epis berapa or movie berapa, lupa lagi pokonya *plak. Dan Sessho memang bisa disebut psikopat gila yang kehilangan otak == *mangut-mangut, maklum gara-gara babehnya kali. *ditebasInutaisho.
*Lee Kibum: Jehehe.. maaf kalau ngeri, otak saya dari dulu emang sudah berencana kayak gini *plak
*YukiMiku (Guest): Ini sudah lanjut Yuki-chan dan.. Jehehe.. Sessho emang gak ada hoby lain jadi jangan protes kalau tidak mau ane tumbalin *di sabet.
*mariashine87: eerrr.. makasih atas cipokan beruntunnya ==a, dan maaf Maria-chan, kayaknya ane gak bisa ngabuli permintaan ente, jahaha.. *tawa setan. ada rencana lain sih.
Chapter 8
Disclaimer: Rumiko Takahashi
Pair: SessInu
Genre: T-M
Warning: Gore, Shou-ai, typo's,OC, OOC,AU,
bahasa masih sekehendak Author, de el el
Disebuah taman bunga yang sangat luas, terlihat Inuyasha yang sedang berjalan sendirian disana. Ia merasa bingung, kenapa ia bisa berada di tempat seperti ini, tempat indah yang menjadi syurga ribuan bunga indah dan ratusan kupu-kupu cantik.
"Dimana aku?" Tanya nya pada dirinya sendiri. Kakinya terus melangkah menginjaki rerumputan hijau yang seakan terawat dengan baik. Seekor kupu-kupu cantik dan indah terus beterbangan kesana kesani mencari setangkai bunga untuk diambil sarinya. Dan hinggaplah kupu-kupu cantik tersebut diatas sebuah mawar merah yang begitu indah, dan entah kenapa, Inuyasha serasa ingin ikut mendekati bunga tersebut dan memetiknya.
Perlahan Inuyasha pun mulai melangkahkan kakinya kembali dan saat ia akan mendekati bunga mawar tersebut tiba-tiba saja ada seseorang datang dan mendahuluinya untuk memetik bunga nan cantik di depannya.
"Kau.." Geram Inuyasha kesal pada sosok pria yang telah mendahuluinya. Ia tak lain dan tak bukan adalah Sesshomaru, orang yang sangat ia benci.
"Kau kalah cepat, Nona!" Ucap Sesshomaru santai sambil terus menciumi aroma bunga mawar yang baru saja ia petik tadi.
"Kenapa kau bisa ada di sini, hah?"
"Kau kalah cepat, Nona!" Ucap Sesshomaru santai sambil terus menciumi aroma bunga mawar yang baru saja ia petik tadi.
"Kenapa kau bisa ada di sini, hah?"Tanya Inuyasha ketus sambil memasang ekspresi kesalnya.
"Entahlah." Jawab Sesshomaru singkat dan dengan perlahan ia pun mulai melangkahkan kakinya mendekati Inuyasha.
"Ma-mau apa kau?" Terlihat Inuyasha yang mulai memundurkan kakinya beberapa langkah kebelakang untuk menjauhi sosok pria yang hampir mendekatinya.
Sesshomaru tetap terdiam, tak menjawab pertanyaan tersebut dan terus melangkahkan kakinya dengan santai.
"Ka-kau.."
Tap.
Dan dengan cepat Sesshomaru sudah mencengkram pergelangan tangan Inuyasha dengan sangat erat.
"Lepaskan aku!" Perintah Inuyasha yang terus-terusan menarik tangannya dengan kasar. "Kau dengar tidak, hah?" Tambahnya lagi dengan nada yang mulai terdengar tinggi. "Tck.. ternyata kau ini memang sudah tuli, Sessh-"
Dan dengan cepat Sesshomaru langsung menarik tangan Inuyasha sehingga sang empu kini terjatuh kepelukannya.
Hening.
Jantung Inuyasha terasa berdebar sangat kencang dan ia tidak mengerti kenapa kejadian seperti ini bisa terjadi.
"Ternyata tubuhmu ini sangat ramping, Nona." Ucap Sesshomaru tiba-tiba dan langsung membuat pipi Inuyasha bersemu merah.
"Bi-bicara apa kau, hah? a-aku.."
"Aku menyayangimu." Potong Sesshomaru pelan sambil menggenggamkan mawar yang baru saja ia petik ke tangan pemuda yang berada dalam pelukan nya ini. Tubuh Inuyasha berubah kaku, wajahnya memucat dan matanya melotot. Ia sangat kaget dengan pernyataan Sesshomaru barusan. Dan mata Inuyasha kembali terbelalak ketika Sesshomaru mulai mengarahkan wajah nya dihadapan Inuyasha sendiri. Kedua mata berbeda warna tersebut kini saling menatap kembali. Mereka saling pandang dan sling terdiam dalam suasana yang aneh ini.
"Aku.. juga cinta kamu, Sa-yang."
Deg.
Jantung Inuyasha serasa berhenti berdetak kali ini.
Sayang, Cinta? Apa maksudnya ini? Bahkan entah kenapa tiba-tiba saja mulutnya serasa kaku tak dapat mengeluarkan suara begitu juga dengan tubuhnya yang serasa tak dapat digerakkan. Dan pandangannya kembali menghoror ketika Sesshomaru mulai mencondongkan tubuhnya kearah Inuyasha. Detak jantung Inuyasha terus berdetak dengan cepat dan sangat kencang. Ini bencana. Sesshomaru akan menciumnya dan seluruh tubuhnya tak dapat dikendalikan oleh otaknya.
Sungguh, ini akan menjadi kenangan terburuk yang tak dapat dilupakan dalam ingatannya. Yaitu dicium oleh orang yang sangat dan sangat ia benci. Inuyasha mulai memejamkan matanya dengan erat, berharap kalau semua kejadian ini akan berakhir dengan sendirinya dan,..
Tok tok tok.
Sontak Inuyasha langsung membuka kedua matanya ketika ia mendengar suara ketukan pintu tersebut. Dan dengan cepat ia pun segera terbangun dari acara tidurannya barusan.
"Hosh.. ternyata, cuma mimpi.." Gumam Inuyasha pelan sambil tersenyum dan tertawa kecil.
Tok tok tok.
"Inuyasha.. kau didalam 'kan?" Tanya suara dibalik pintu kamar tersebut sambil terus di ketuk-ketuk pelan.
"Iya, Bi.. buka saja pintunya, lagi pula pintunya tidak dikunci." Sahut Inuyasha yang mulai melangkahkan kakinya ke arah jendela. 'Kenapa dia ada di dalam mimpiku?' Tanya nya dalam hati sambil melihat matahari sore yang hampir terbenam.
Kriiett.
"Ayo makanlah, Inuyasha. Bibi bawakan makanan kesukaanmu." Ucap Tsuyu seraya mengeluarkan beberapa makanan yang ia bawa tadi.
"Trim.. Hoek."
Dan dengan secepat kilat, Inuyasha pun sudah pergi dari ruangan kamarnya menuju sebuah kamar mandi dan meninggalkan sang Bibi yang mulai terdiam mematung ditempatnya sekarang.
"Inuyasha.." Gumam Tsuyu yang kaget melihat tingkah keponakan nya tersebut dan dengan segera ia pun mulai berlari menyusul keponakan nya, Inuyasha.
Tok tok tok.
"Inuyasha.. kau baik-baik saja 'kan? Inuyasha?" Panggil Tsuyu yang tanpa henti terus mengetuki pintu kamar mandi didepannya. "Inuyasha.."
Sedangkan didalam kamar mandi tersebut, Inuyasha masih muntah-muntah tiada henti sambil memegangi perutnya yang terasa sangat mual. Bahkan rasanya ini lebih parah dari yang tadi pagi, tangannya gemetaran bahkan handuk yang akan ia ambil pun terjatuh karena tak sanggup ia pegang. Dan rasa sakit dan pusing dikepalanya kini mulai ia rasakan kembali.
"Inuyasha.." Panggil Tsuyu terus menerus dari balik pintu kamar mandi tersebut.
"Aku.. baik-baik.. hosh.. saja." Sahut Inuyasha terputus-putus dan sedetik kemudian ia pun kembali muntah-muntah membuat Tsuyu selaku sang Bibi menjadi sangat khawatir.
"Kalau begitu tolong buka pintunya, Inuyasha.. Bibi akan mengobatimu." Bujuk Tsuyu pada keponakan nya tersebut dan dengan perlahan Inuyasha pun mulai melangkah kan kakinya menuju pintu namun tiba-tiba saja pandangannya mengabur dan tubuhnya serasa lemas untuk digerakkan dan kejadian selanjutnya Inuyasha pun pingsan sebelum membuka pintu didepannya.
"Inuyasha.. Inuyasha..!" Panggil Tsuyu yang sekarang sudah panik luar biasa. "Tu-tunggu, Bibi Inuyasha.. Bibi akan segera kembali, tung-tunggu." Perintah Tsuyu yang sekarang sudah pergi dari tempatnya semula.
Sementara itu di sebuah tempat gelap dengan hiasan darah dan daging manusia di setiap sudutnya. Sesshomaru, sosok seorang pria yang bajunya bahkan sudah tak seputih saat pertama ia memasuki tempat tersebut kini berubah menjadi basah berwarna. Bukan basah karena air namun karena cipratan darah dari korban yang baru saja ia bunuh barusan.
Crash..
"Aargghh.." Sesshomaru mulai terdiam ketika mangsa terakhir yang ia lihat berhasil ia bunuh.
"Halo.. apa masih ada orang?" Tanya Menomaru yang baru saja keluar dari salah satu semak labirin tersebut sambil membawa sebuah kepala tanpa badan ditangannya. "Apa?" Tanya Menomaru kesal ketika melihat tatapan dingin temannya tersebut dan dengan kasar Menomaru mulai melempar kepala korban ditangannya kesebuah tong didepannya diikuti Sesshomaru yang mulai mencabut kepala korbannya secara kasar dengan tangan kosong.
"Kau bodoh ya, Sesshomaru? Ditanganmu kan ada pedang kenapa harus susah-susah memutuskan kepala itu kalau kau bisa menggunakan pedangmu?" Tanya Menomaru panjang lebar sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Kau pun sama saja." Sahut Sesshomaru dingin sambil melempar kepala yang baru saja ia putuskan ke sebelah tong yang baru saja dipergunakan Menomaru.
"Ya sudahlah, kau dapat berapa? aku 21." Tanya Menomaru pada sahabatnya tersebut sambil mengelus-elus senjata nya perlahan dan berharap kalau masih ada manusia yang tersisa di tempat mereka sekarang.
"Seri." Jawab Sesshomaru singkat. "Tapi mungkin tidak." Tambahnya lagi dan dengan cepat ia pun mulai melempar pedangnya ke arah semak belukar disebelahnya.
Crassh.
"Aaaa.." Teriak suara dibalik semak tersebut dan langsung membuat Menomaru kesal sehingga melempar kuat senjata nya ke sebuah patung.
"Tck.. sialan!" Rutuk Menomaru yang masih terlihat kesal. "Ayo pergi, aku sudah lapar!" Ajak Menomaru santai dan ia pun mulai berlalu dari hadapan temannya tersebut. "Sesshomaru?" Panggil Menomaru yang mulai menghentikan langkah kakinya ketika Sesshomaru tak mengikutinya dari belakang.
"Duluan saja!" Perintah Sesshomaru dingin dan Menomaru pun mulai melangkahkan kakinya kembali. Sesshomaru masih terdiam di tempatnya dan entah kenapa perasaannya menjadi tak enak seperti ini. Ia mengkhawatirkan seseorang. Seseorang yang paling berarti dalam hidupnya.
Sekitar satu jam kemudian di sebuah Ruang makan yang sangat luas di mana Sesshomaru dan Menomaru sudah mengganti pakaian mereka dengan yang baru karena tidak mungkin juga mereka akan makan malam dengan pakaian berlumur darah manusia seperti tadi. Di sana, di ruang makan tersebut terdapat beberapa gadis yang sedang berlarian ke sana kemari sambil mengerumuni dua pria tampan di ruang makan tersebut.
"Maaf gadis-gadis cantik ku, kami sedang makan dan sedang tidak ingin diganggu." Ucap Menomaru lembut pada seorang gadis yang sedang duduk di pangkuannya.
"Biasanya juga kalau kami mengganggu tidak apa-apa." Sahut gadis lain yang mulai memasang wajah cemberut.
"Tapi kali ini beda my lady." Balas Menomaru dengan senyum menggoda nya.
"Lalu, siapa temanmu itu, Tuan ku?" Tanya gadis lainnya dengan gaya tak kalah menggoda.
"Seperti yang kau sebutkan tadi cantik, dia temanku." Jawab Menomaru pada gadis disebelahnya.
"Teman ya."
"Jadi, bisakah kalian meninggalkan kami berdua?" Tanya Menomaru lembut pada gadis-gadis di sekeliling nya. Sedangkan Sesshomaru sendiri mulai tidak tenang akan ke hadiran makhluk-makhluk sok imut, sok, sexy, sok manis, dan sok cantik disekelilingnya yang sering disebut pe-rem-pu-an.
"Baiklah, Tuan ku. Kami akan segera pergi, bye.."
Lalu tak lama setelah itu para gadis-gadis tersebut sudah pergi dari hadapan mereka berdua.
"Bagaimana pendapatmu? Mereka cantik kan?" Tanya Menomaru meminta pendapat pada sahabatnya tersebut namun ternyata sahabatnya ini malah asik melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda. "Ku dengar kau akan menikah?" Tambah Menomaru lagi yang sekarang sukses menghentikan pergerakan tangan Sesshomaru diatas meja makan. "Siapa gadis yang beruntung itu? Dan.. aku turut berduka cita atas kepergian Kekasih manis mu."
Sesshomaru masih terdiam, dan Menomaru pun mulai menyaman kan tempat duduknya sambil menopang kan dagu nya dengan kedua tangannya di atas meja makan.
"Padahal dia anak baik, ramah, dan juga menggoda, tapi sayangnya dia harus pergi secepat itu padahal aku juga menyuka-i-inya." Ucap Menomaru santai dengan diiringi sebuah seringai di bibirnya dan disaat itu juga sebuah pisau tajam mulai melayang tepat ke arah nya dan dengan gesit Menomaru pun langsung mengambil sebuah piring dan ia lemparkan ke arah pisau tadi dengan cepat sehingga pisau dan piring tersebut bertabrakan di udara dan beling-beling piring tersebut berserakan di mana-mana.
Sesshomaru mulai menggeram kesal dan ia pun mulai bersiap kembali mengambil sebuah pisau yang akan ia tikam kan ke arah pria bermulut sial di depannya.
"Tenang, Sesshomaru! aku hanya bercanda. Kau jangan menganggapnya terlalu serius, lagi pula aku ini masih normal dan aku tidak sepertimu!" Ucap Menomaru lantang sambil membenarkan letak duduknya lagi. "Ha~ Untung saja aku melihat pisau itu, kalau tid-"
"Dia masih hidup!" Potong Sesshomaru dingin sambil memainkan salah satu pisau di tangannya.
"Hidup?" Beo Menomaru bingung sambil menaikkan sebelah alisanya. "Tunggu, kau bilang apa? Dia-masih hidup? maksudmu anak itu masih hidup?" Tanya Menomaru sambil memastikan pertanyaannya. "Dan.. kapan kau menemukannya?"
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya satu setengah tahun yang lalu. Saat aku tak sengaja juga bertemu dengannya ketika ia sedang mengamati sebuah cincin."
"Cin-cin?" Beo Menomaru lagi dan ia pun kini mulai memasang telinga dengan baik.
"Ya, dan aku yakin dialah orang yang aku cari dari dulu dan dari sanalah aku mulai mengawasinya sampai sekarang."
"Oh.. jadi dia bersekolah di tempatmu? Tanya Menomaru yang terlihat mulai memastikan pertanyaannya lagi.
"Begitulah." Jawab Sesshomaru singkat sambil menggenggamkan tangannya erat ke arah kerah bajunya lagi.
"Lain kali aku akan berkunjung ke Sekolahmu itu, aku jadi penasran bagaimana rupa anak itu sekarang?" Tanya Menomaru santai namun langsung membuat Sesshomaru memicing dan menggeram kesal. "Oh.. Santai Sesshomaru! Aku tidak akan mengganggu anak itu, jadi kau tenang saja, oke?"
"Terserah, tapi aku akan mengawasimu!" Ucap Sesshomaru dingin pada sahabatnya tersebut.
"Fine!"
Malam pun tiba, hewan-hewan malam pun kini mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Bahkan disebuah teras rumah terlihat seorang gadis yang pandangan matanya seakan mengisyaratkan bahwa ia sedang bersedih. Lama ia membiarkan rambutnya tertiup-tiup angin malam yang begitu dingin dan menusuk kulit. Bahkan setetes kristal bening mulai keluar dari sudut matanya sebelum ia pergi memasuki pintu rumah dibelakangnya.
Tsuyu, sosok gadis yang terlihat sedang bersedih itu kini mulai mendudukkan dirinya di sebuah kursi seraya menggerakkan tangannya untuk mengelus helaian rambut keponakan nya yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur. Hatinya seakan bertambah sakit. Ia tidak tega dan sudah tidak snaggup kalau harus melihat penderitaan yang akan di jalani keponakannya ini.
Sudah cukup ia melihat penderitaan almarhum Kakak nya yang dulu pernah menderita gara-gara seorang pria biadab yang sama-sama tak punya hati telah meninggalkan Kakaknya seorang diri. Dan sekarang, penderitaan tersebut harus di jalani keponakannya ini. Sungguh, sampai mati pun ia tidak akan terima.
"Inuyasha.. jangan khawatir, Bibi bersamamu jadi tenang saja." Gumam Tsuyu pelan dengan tangan yang masih setia mengelus helaian rambut keponakan nya tersebut.
Setetes kristal bening kembali mengalir ketika ia ingat akan kata-kata dari seseorang yang telah menolongnya tadi sore. Kata-kata yang langsung membuatnya tak bisa bicara barang sepatah kata pun, kata-kata yang tidak bisa ia percaya namun menjadi kata-kata yang mungkin bisa menjadi kenyataan. Inuyasha, keponakan yang paling ia sayangi ini sedang 'mengandung'.
"Hiks.." Isakan pelan mulai terdengar dari bibir Tsuyu ketika ia ingat akan kata-kata tersebut. Dan seketika itu pula ia teringat akan sosok dari Sesshomaru yang baru saja ia temui kemarin sore.
"Kau menyikasa keponakan ku!" Gumam Tsuyu lirih sambil menghapusi air mata yang mengalir di kedua pipinya.
Perlahan kedua kelopak mata Inuyasha mulai terbuka dan menampakkan sepasang iris bagaikan batu onyks berwarna hitam pekat yang sangat indah.
"Bibi Tsuyu.. menangis?" Tanya Inuyasha pada sosok Bibinya tersebut.
"Tidak, Inuyasha.. Bibi.. Bibi tidak menangis, ya.. ma-maksudnya Bibi hanya sedikit menangis, dan Bibi hanya takut kalau keponakan Bibi ini kenapa-napa." Elak Tsuyu yang masih sibuk menghapusi air matanya.
"Aku baik-baik saja, Bi.. dan besok pun aku pasti bisa ber Sek-"
"Tidak!" Potong Tsuyu mantap dan langsung membuat Inuyasha terkaget. "Kau tidak boleh Sekolah besok! Dan kau, harus banyak beristirahat!" Perintah Tsuyu mutlak pada keponakannya tersebut.
"Tapi aku tidak sakit apa-apa dan aku pun baik-baik saja, Bi." Elak Inuyasha pada sosok Tsuyu yang adalah Bibinya ini. Inuyasha mulai membangun kan dirinya dari tempat tidur sambil mengamati ruangan di sekelilingnya mencari sebuah jam dinding. "Bibi belum pulang? ini hampir pukul 10 malam." Tanya Inuyasha yang terlihat bingung pada sosok Bibinya yang terlihat sedang bersedih itu.
"Bibi tidak akan pulang malam ini! Dan Bibi akan ada malam ini untuk menjaga mu." Tolak Tsuyu yang sekarang mulai membenarkan letak selimut Inuyasha. "Pokonya kau harus istirahat, Inuyasha. Dan ingat, besok kau tidak boleh ke Sekolah, mengerti?" Tanya Tsuyu sekali lagi dan Inuyasha pun mulai mengangguk kan kepalanya tanda mengerti. "Bagus, sekarang pejamkan matamu, dan tidurlah lagi."
"Ya.. baik-lah.." Balas Inuyasha dengan nada bosannya dan sesaat kemudian pun Tsuyu mulai pergi dari kamarnya setelah ia mengelus kening keponakan nya tersebut. "Dasar tukang suruh-suruh!" Rutuk Inuyasha kesal pada Bibinya tersebut.
Ke esokan harinya di Sekolah. Di sebuah koridor, terlihat Sango yang sedang berlari-lari kecil mengejar sosok temannya yang bernama, Kouga. Sedangkan Kouga sendiri mulai mewaspdai dirinya dari sosok gadis aneh yang dari tadi mengikutinya dari belakang. Kouga mulai memperlebar langkah kakinya diikuti oleh Sango yang mulai melangkahkan kakinya untuk berlari lebih cepat lagi.
"Mau apa sebenarnya dia?" Tanya Kouga kesal pada dirinya sendiri karena terus dibuntuti dan saat ia akan menengok kebelakang ternyata sang pelaku sudah tidak ada di tempatnya.
"Hah? Ke mana anak itu?" Tanya Kouga yang terlihat penasaran sambil melihat-lihat bagian kanan-kiri nya.
"Disini." Jawab suara seorang gadis dari arah belakang Kouga dan langsung membuat nya menengok kan kepalanya kea rah si pelaku.
"Mau apa kau?" Tanya Kouga sinis pada sosok gadis di depannya yang tak lain dan tak bukan adalah Sango.
"Ada yang mau ku tanyakan, ini tentang I-nu-yas-ha." Jawab Sango dengan penekanan di akhir kalimatnya.
"Aku tidak tahu!"
Balas Kouga singkat sambil melangkahkan kakinya kembali untuk pergi dari tempat tersebut.
"Aku tahu kau berbohong!" Ucap Sango yakin sambil melipat kedua tangannya di dada. Sedangkan Kouga mulai menghentikan langkah kakinya.
"Apa maksud mu, hah?" Tanya Kouga dengan nada sedikit sinis sambil membalikkan badannya ke arah belakang.
"Aku ingin tahu apa benar Inuyasha sedang ham- hemmpph.." Dan dengan cepat Kouga pun langsung membekap mulut Sango dengan tangannya dan menggiringnya ke suatu tempat.
"Hemmhh.. hemmpphh.. hhmmph.."
"Apa-apaan kau, hah? kau jangan membicarakan hal seperti itu di tempat umum tahu!" Perintah Kouga yang terlihat sangat marah dan Sango pun mulai berusaha menyingkirkan tangan yang membekap mulutnya sedari tadi.
"Hempph.. hosh.. hosh.. tapi benar kan yang aku katakan.. hosh..? Sekitar dua hari yang lalu aku melihatmu membius, Inuyasha dari belakang dan kau menuruti semua perintah Pak Guru Sesshomaru. Lalu.. apa hubunganmu dengan dia? Dan.. kenapa juga kau selalu memanggilnya, Tuan?"
Kouga mulai terdiam setelah ia mendengar pertanyaan beruntun dari teman sekelasnya itu.
"Satu lagi, apa hubungan Tuan mu itu dengan teman ku, Inuyasha yang sekarang sedang ha-mil?"
"Apa aku harus menjawabnya?" Tanya Kouga dengan nada yang masih sinis dan langsung membuat Sango naik darah.
"Ku rasa aku tidak perlu menjawabnya, karena ini bukan urusanmu!" Ucap Kouga lagi dan ia pun mulai bergegas meninggalkan Sango."
"Kau.. bukan seorang murid 'kan?" Tanya Sango yang sekarang sukses menghentikan langkah Kouga lagi. "Tenang saja, aku bisa jaga rahasia. Lagi pula aku ini juga temanmu 'kan? Jadi ku mohon, beri tahu aku tentang semua hal itu. Apa kau mau kalau Inuyasha sampai mengetahui hal yang menimpanya sekarang? Dia akan menderita seperti yang Ayahmu katakan."
"Kau yakin bisa merahasiakannya?" Tanya Kouga yang mulai meyakinkan perkataan temannya itu. Sedang kan Sango sendiri mulai tersenyum sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Baiklah.. aku akan menceritakan sedikit padamu."
"Terimakasih."
"Ayo ikut, tempat ini kurang aman."Perintah Kouga dingin sambil berlalu mendahului Sango.
"Baiklah." Sahut Sango yang mulai mengikuti langkah Kouga di depannya.
Sementara itu di sebuah rumah, Tsuyu mulai membuka pintu kamar Inuyasha dengan kasar. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi setelah mengetahui kalau keponakan tersayang nya tidak ada di kamar.
"Inuyasha?" Panggil Tsuyu sambil melempari bantal dan selimut di tempat tidur tersebut berharap kalau keponakan nya masih di sana, namun ternyata hasilnya nihil.
"Pasti anak nakal itu pergi ke Sekolah, ya Tuhan.. semoga keponakan ku itu baik-baik saja."
Dan tanpa pikir panjang lagi Tsuyu pun mulai berlari ke ruang lain di rumah tersebut.
Sementara itu di Sekolah, sebuah telefon mulai berbunyi dan Kikyo selaku sang Guru pun mulai mengangkatnya.
"Halo.. selamat pag-"
"Apa Inuyasha ada di Sekolah?" Potong Tsuyu dengan nada khawatir nya.
"Ma-maaf.. Inuyasha yang mana ya? Ma-maksud saya dari kelas berapa ya?" Tanya Kikyo yang masih kaget sambil menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal.
"Eh.. Inuyasha.. em.. dari kelas berapa ya?" Gumam Tsuyu bingung akan pertanyaan tadi.
"Nyonya?" Tanya Kikyo yang juga ikut bingung pada si penelefon.
"Disini yang namanya Inuyasha cuma satu, dan dia ada di kelas XI-b, bodoh!" Ucap Kagome yang datang secara tiba-tiba karena kesal dengan ucapan kembarannya yang dirasanya tidak bermutu itu.
"Diam kau pendek!" Balas Kikyo yang tidak mau kalah, membuat Kagome memanas karena mulai kesal kembali. "Jadi, apa yang bisa saya bantu sekarang, Nyonya?" Tanya Kikyo sopan pada si penelwfon.
"Begini, keponakan saya, Inuyasha sedang sakit, dan dia... malah pergi ke Sekolah tanpa sepengetahuan saya, dan saya takut jika sampai keponakan saya kenapa-napa di Sekolahnya." Jawab Tsuyu panjang lebar masih dengan nada khawatir nya.
"Oh.. Begitu ya, Nonya jangan khawatir, kami tahu bagaimana ke khawatiran anda, dan tenang saja, kami tahu harus berbuat apa jika keponakan anda kenapa-napa." Jawab Kikyo panjang lebar dan langsung membuat Kagome menepuk jidatnya keras.
"Baiklah.. sampai jumpa, Nyonya." Salam Kikyo pada si penelfon dan ia pun mulai menutup telfon yang baru saja ia gunakan ke tempatnya semula.
"Siapha?" Tanya Miroku yang terlihat sedang mengunyah sesuatu di mulutnya.
"Salah satu orang tua murid." Jawab Kikyo ngasal sambil mendudukkan dirinya di sebuah kursi.
"Tapi tadi dia bilang keponakan, berarti dia bukan orang tua murid, bo-doh!" Sahut Kagome yang masih ada hawa kemarahan di sekeliling tubuhnya.
"Kita anggap saja orang tua murid, apa susahnya?" Tanya Kikyo yang terlihat mulai mengeluarkan aura kekesalannya pada kembarannya tersebut.
"E-em... Sudahlah Nona-Nona.." Lerai Miroku pada si Kembar yang sedang saling melempar deathglare.
"DIAM!" Bentak Kikyo dan Kagome bersamaan dan langsung membuat Miroku menghela napas pasrah.
Sementara itu di sebuah taman Sekolah, dimana ada sebuah pohon besar terdapat Inuyasha yang sedang mendudukkan dirinya di salah satu dahan pohon tersebut. Pandangannya mengarah ke segala arah, melihat semua kegiatan para Siswa dan Siswi di sekeliling taman tersebut. Bahkan sekali-kali ia pun mulai menahan rasa mual yang secara mendadak datang melanda perutnya. Dan tanpa sadar ia pun telah mengelus-ngelus perutnya secara perlahan dan berulang-ulang.
"Ha~" Inuyasha mulai menghela napas panjang ketika ia tak menemukan satu pun hal menarik yang bisa ia lakukan.
Berbeda sekali dengan dulu saat ia masih menjadi seorang murid nakal yang sukanya berbuat onar. Kedua bola matanya yang indah itu mulai terarah ke sebuah gedung Sekolah yang menjadi tempatnya menimba ilmu. Disana ia bisa melihat ratusan jendela bahkan lebih selalu menghiasi gedung Sekolah nya yang besarnya luar biasa itu. Dan mata Inuyasha mulai memicing ketika ia melihat orang yang ia benci sedang berada di salah satu jendela tersebut.
"Tck." Dan Inuyasha pun mulai berdecak kesal ketika melihat tatapan sok dingin dari orang yang dibencinya ini. Dan dia adalah Sesshomaru, sosok Guru yang sangat menyebalkan baginya.
Tap.
Dan dengan sekali lompatan, Inuyasha sudah mendarat dengan selamat dari atas pohon yang baru saja ia tempati tadi.
"Menyebalkan!" Gumam Inuyasha pelan sebelum ia pergi meninggalakn taman tersebut.
Sedangkan Sesshomaru sendiri masih terdiam di tematnya dengan pandangan mata yang tak teralih dari salah satu Siswa yang baru saja pergi dari tempat nya semula. Bahkan tatapan yang sama pun masih jelas terlihat dari mata seorang gadis yang sedang terdiam di atas atap Sekolah bersama sorang pemuda tampan di sebelahnya.
"Begitulah ceritanya. Sebenarnya dari dulu juga Tuan Sesshomaru dan Tuan Inuyasha memang sudah punya hubungan. Jadi tidak aneh kalau Tuan Sesshomaru menginginkan 'hal' itu apalagi kalau sampai Tuan Inuyasha menerima akibatnya seperti sekarang ini. Aku tahu bagaimana perasaanmu, kau.. kasihan padanya 'kan?" Tanya pemuda tampan tersebut yang ternyata adalah Kouga.
Sango, sosok gadis di sebelahnya masih terdiam tak menjawab perkataan sersebut barang sedikit pun.
"Apalagi setelah kau tahu kalau Tuan Sesshomaru akan menikahi gadis lain."
"..."
"Hum.. aku sudah menceritakan semua yang aku tahu jadi, rahasia kan lah!" Perintah Kouga santai sambil berlalu menuruni tangga meninggalkan tempat tersebut bersamaan dengan Sango yang masih terdiam dengan tatapan kesedihannya.
Sementara itu di sebuah koridor, terlihat Inuyasha yang sedang berjalan cepat sambil memegangi perut dan mulutnya. Rasa mual yang ia alami kemarin mulai ia rasakan di pagi hari ini, bahkan terdengar sedikit bisik-bisik dari para Siswa-Siswi yang baru saja ia lewati tadi karena melihat tingkah aneh dari Inuyasha.
Tap.
Dan langkah Inuyasha pun mulai terhenti ketika ia melihat seorang pemuda yang sangat ia kenal sedang bersandar di tembok dengan santai nya.
"Menyingkir dari hadapanku!" Perintah Inuyasha sinis pada si pelaku berambut hitam di ikat satu di depannya ini dan dia tak lain dan tak bukan adalah Kouga.
"Ow.. santai-santai.. tunggu, silahkan.." Balas Kouga santai sambil mempersilahkan jalannya untuk pemuda manis yang sedang kesal di depannya. "Kenapa tidak jalan? Bukannya kau menyuruhku untuk menyingkir, Puppy? hahaha."
Inuyasha mulai terlihat kesal setelah ia mendengar ledekan dari pemuda bernama Kouga ini dan dengan cepat Inuyasha pun langsung mencengkram kerah baju Kouga dan mendorongnya ke tembok dengan kasar sehingga membuat puluhan pasang mata memperhatikan mereka.
"Dengar kurus! Sekali lagi aku mendengarmu menyebutku dengan sebutan Puppy, ku jamin hidupmu tidak akan tenang!" Ancam Inuyasha sambil mengarahkan telunjuknya tepat di hidung Kouga. Namun Kouga sendiri malah diam tak menjawab barang sedikitpun sampai pada akhirnya bibirnya menarik sebuah lengkungan yang akhirnya menajdi sebuah senyum.
"Hanya Itu ancamanmu, gen-dut? Hahaha.."
Kouga mulai tertawa kembali meledek teman manisnya yang sekarang mulai menampakkan urat kekesalan di dahinya.
"Kau.." Geram Inuyasha yang sudah menyiapkan sebuah bogem mentah ditangan kanannya. Namun tiba-tiba rasa mual mulai Inuyasha rasakan kembali dan membuat Kouga menghentikan tawanya karena kaget.
"K-kau.. tidak apa-apa?" Tanya Kouga memastikan dan sedetik kemudian Inuyasha pun mulai memacu langkahnya untuk kabur.
"Hei.. tunggu!" Perinah Kouga yang sekarang mulai ikut memacu langkahnya untuk menyusul temannya tersebut.
BRAK.
Sebuah pintu toilet di buka secara kasar oleh Inuyasha dan membuat beberapa orang di toilet tersebut terkaget karena tingkah Inuyasha yang tiba-tiba saja muntah-muntah tidak jelas.
"Kenapa dia?" Tanya seorang Siswa yang melihat Inuyasha langsung membuka dan mengunci pintu selanjutnya.
"Mana ku tahu, hamil mungkin." Ceplos siswa lainnya yang langsung mendapat jitakan dari teman disebelah nya.
"Kau gila ya? dia itu laki-laki!" Bentak pemuda disebelahnya kesal atas jawaban yang tidak memuaskan dari temannya tersebut.
"Aku 'kan hanya bilang mung-"
"Inuyasha!" Potong Kouga yang secara mendadak langsung datang dan mendobrak pintu toilet didepannya.
"Hei.. Inuyasha.. Kau tidak apa-apa kan?" Tanya Kouga sambil mengetuk-ngtuki pintu toilet didepannya. Sedangkan di balik pintu toilet tersebut Inuyasha masih mual-mual dan muntahkan isi perutnya di dalam sebuah keloset.
"Hosh.. hosh.." Inuyasha mulai menyandarkan punggungnya di pintu sambil meremas kepalanya yang mulai terasa sakit lagi. "Arrgh.." Dan Ia pun mulai meringgis kembali ketika rasa mual dan sakitnya mulai datang secara bersamaan.
"Inuyasha?" Panggil Kouga setengah membentak sambil mendobrak-dobrak kasar pintu didepannya.
"Jangan di dobrak! Nanti kau menindihnya juga!" Saran dari salah satu Siswa tersebut pada Kouga yang terlihat mulai kesal. Dan alhasil Kouga pun tetap mendobrak-dobrak pintu sial didepannya namun hasilnya nihil karena pintu tersebut sangat kuat dan masalah keduanya tangan Kouga masih belum sembuh benar.
"Inuyasha.. buka pintunya!" Perintah Kouga terus menerus sedangkan orang yang ia maksud sudah mulai kehilangan kesadarannya. "Tck." Kouga mulai berdecak kesal ketika panggilannya tak dijawab barang sedikitpun. "Dasar bodoh! panggil bantuan!" Perintah Kouga kasar pada dua Siswa di belakangnya. "Ba-baiklah." Jawab mereka serempak dengan nada ketakutan sambil berlalu dari tempat tersebut.
"Inuyasha!" Panggil Kouga sekali lagi namun hasilnya tetap sama sampai pada akhirnya ia teringat akan seseorang. "Tuan Sesshomaru.." Gumamnya pelan dan dengan buru-buru ia pun langsung mengeluarkan Handphonenya untuk menghubungi orang yang ia maksud tadi.
Drrtt Drrtt..
Kedua iris Hazel Sesshomaru mulai tergerak ketika ia mendengar suara getaran dari Handphonenya yang berada di atas meja, dan dengan enggan ia pun mulai menjawab panggilan tersebut dengan malas.
"Ada apa?" Tanya Sesshomaru dingin pada si penelfon.
Hening.
Mata Sesshomaru mulai memicing dengan kedua alis yang mulai bertautan dan sedetik kemudian ia pun mulai menutup Handphonenya tanpa berkata sepatah kata pun sambil berlalu dari tempatnya barusan.
Tap tap tap.
Beberapa orang Guru dan murid mulai berlarian secara terburu-buru ke tempat kejadian secara tergesa-gesa.
BRAK.
"Bagaimana?" Tanya Miroku sang Guru yang mulai membuka pintu toilet didepannya secara kasar.
"Dia ada di dalam." Lapor Kouga yang masih berusaha membuka pintu didepannya.
"Akan ku dobrak pintu itu, hiat."
BRUK.
Dan alhasil salah satu dari Guru tersebut tersunggur setelah mendobrak pintu yang tak bergeming sedikitpun olehnya.
"Kita harus congkel pintunya." Usul Miroku tak masuk akal dan langsung membuat orang-orang disana terdiam sesaat.
"Bodoh kau, Miroku! Pintu ini bukan untuk di congkel, tapi untuk di dobak!" Usul Guru lainnya yang mulai menyingsingkan lengan bajunya.
DUAK.
"Aw.." Ringgisnya sambil mengelus-ngelus bahunya yang kesakitan. "Ssshh.. aku tidak mengerti, seberapa kaya pemilik Sekolahan ini sampai-sampai pintu toilet saja memakai kayu sebagus ini." Rutuk Guru tersebut emosi karena usahanya untuk membuka pintu tersebut telah gagal.
"Itu kan karena kau lemah. Sekarang menyingkirlah biar aku yang dobrak pintu pengganggu ini." Balas Guru lainnya yang juga ikut menyingsingkan lengan bajunya.
"Hati-hati dengan dobrakanmu! Temanku ada di dalam dan kalau sampai dia kenapa-napa kau akan dapat hukuman!" Ucap Kouga sambil mengancam Gurunya tersebut.
"Kau ini murid 'kan? Kenapa kau berani sekali pada seorang Guru?" Sahut Guru tersebut kesal bukan main karena ucapan salah satu muridnya tersebut.
"BUKA SAJA PINTUNYA!" Bentak Kouga emosi dan langsung membuat Guru-guru dan Siswa-Siswi lainnya ketakutan.
"Oke oke.. aku buka, Tiga.. dua.. satu."
DUAK.
"Aahh.." Ringgis Guru tersebut kesakitan sementara Kouga sendiri mulai meninju pintu disebelahnya dengan gemas.
'Kalau tanganku tidak bermasalah mungkin aku bisa membuka pintu sial ini dan kenapa juga Tuan Sesshomaru tidak menjawab telfonku tadi?' Tanya Kouga dalam hati dan ia pun merasa menjadi orang yang paling lemah karena tak mampu berbuat apa-apa.
"Kita dobrak pintu ini sama-sama." Usul Miroku yang juga mulai ikut menyingsingkan lengan bajunya.
"Ayo!" Balas Guru lainnya yang mulai mundur beberapa langkah ke belakang.
"Satu.."
"Dua.."
"Ti-"
"Biar ku buka." Tawar seseorang yang baru saja masuk lewat kerumunan murid-murid tadi dan langsung menghentikan acara dobrak-mendobrak para Guru pada pintu toilet tersebut.
Tbc
A.N: Pegel.. otak ane hilang gara-gara harus tulis fic ini ==a
dan ane lupa segalanya *gak penting
