Haiiii ... jumpa untuk sekian kalinya, Readers. Di Chapter baru ini akan ada beberapa kejadian. Sebagian kejadian biasa dan sebagian kejadian diluar kebisaan (Nah lho? Aneh banget sih ni author -_- ) Hehe ... Beberapa OC lanjutan juga mulai muncul disini. Typo pula. Dan Warning: Rate T hingga semi M dan kejadian menggelikan. Readers wajib berumur 15 keatas, kalau bisa 17 karena akan ada sedikit adegan mengerikan, walaupun ada beberapa yang semi humor juga. Waspadalah!

Syak30Dec: Ehehe ... itu hanya ide-ide aneh yang muncul di dalam kepala aku. :) Keep read.

NauraCute15: Selepas ni ... yahh sesuatu yang sedikit gila, so keep warning ;

SabtiaSalsabila: Wah ... tahu aja kalau memang udah keluar, hehehe ... tapi untuk selanjutnya, silahkan baca chapter ini ya ^_^

femix: Ini dia lanjutannya ... kalau pertanyaan apakah Boboiboy akan ... yah, tetap ikuti cerita ini, ok? :-)


M.A.W.A.R. L.I.A.R.

(Sebuah kisah fiksi)

.

.

(Boboiboy milik Animonsta)


.

.

.

Bagian 7: Hanya 'dia' seorang

Semua siswa kelas 7 Cerdas saat ini tengah mengerjakan ulangan Matematika dadakan dari seorang Guru dadakan pula: Rosa. Mungkin terdengar gila, tapi mereka harus mengerjakan soal-soal Matematika yang berjumlah lima puluh nomor itu dengan tipe Full Soal Cerita. Bukan hanya itu saja. Mereka hanya diberi waktu 'Lima Menit' untuk mengerjakan semua itu. Sebuah kegilaan yang luar biasa!

"Satu minit lagi," kata Rosa tiba-tiba, membuat anak-anak murid di depannya memandang dengan mengidik. Bahkan Yaya dan Ying yang 'notabene' termasuk siswa pintar di kelas itu menelan ludah berkali-kali dengan perasaan cemas dan tegang yang berkecambuk dahsyat.

"Haiya, Cikgu jangan macam ni ma," protes Ying. "Ini semua soal cerita, lima puluh nomor pula! Tak cukup lima menit buat selesai wo."

"Betul, Cikgu. Saya pun baru selesai satu soal, Huhuhuuu," geleng Gopal sedih.

"Bagilah masa tambahan buat kami, Cikgu," tambah Fang. "Kalau tak, macam mana kami nak konsentrasi kalau dikejar waktu macam ni? Soalan pun banyak sa-"

PLAKKK!

Tanpa diduga tangan Rosa mendarat di pipi Fang, menamparnya. Serempak semua siswa menganga hebat bercampur ngeri melihat kejadian diluar dugaan itu. Terutama Boboiboy. Dia tidak menyangka guru baru itu akan melakukan hal-hal yang keterlaluan seperti ini pada mereka.

"Ughhh- Kenapa Cikgu tampar saya?" tanya Fang seraya meraba bekas tamparan bewarna merah di pipinya dengan ekspresi kesakitan. "Terlalu lah, Cikgu! Hanya protes sikit dah dapat tamparan macam ni."

Rosa hanya menatap Fang dengan nanar. "Tu lah kau! Sikit sikit Protes. Jangan banyak Cakap dan kerjakan peperiksaan tu, Kau Budak Payah!"

'Pa- Payah?!' Fang membatin dengan marah. 'Errggg! Kalau sahaja Cikgu Rosa tak lagi tua daripada aku, maka aku dah belasah dia pakai Harimau Bayang sedari tadi! Bertingkah seenak diri sangat! AWAS KAU, CIKGU!'

Beberapa aura bayangan hitam berkelebat di sekitar Fang, hendak mengeluarkan Harimau bayang. Namun melihat teman-teman kelasnya yang memberi tatapan 'Jangan Lakukan itu terhadap Guru' membuatnya mengurungkan niatnya. Fang mendesah dan kembali fokus mengerjakan soal-soal ulangannya dengan wajah bersungut-sungut.

"Cikgu, maaf. Mungkin Cikgu marah, tapi tak perlu ganas macam ni pula," ucap Yaya hati-hati. "Cikgu Papa pun tegas pada kami, tapi dia tak pernah terlalu macam Cikgu Rosa. Paling-paling hanya Rotan Keinsyafan yang kami terima. Itu pun kalau kami terlampau nakal."

"Kami nak Peperiksaan dengan tenteram, bukan tegang pula," timpal BoBoiBoy kaku. "Fang betul. Kami nak tambahan masa, biar sekejap pun tak pe."

"Hmm- tambahan masa ke?" gumam Rosa. Tiba-tiba ia mengeluarkan setumpuk kertas soal dan menghempaskannya ke atas meja BoBoiBoy. Anak itu terkejut sekali dan seketika wajahnya memucat seperti orang sakit.

"Kau! Kerana minta tambahan masa, maka aku bagi tambahan soal," kata Rosa cuek. "Tapi hanya tambahan soal. Tak de tambahan masa!"

"A- AAA…. APEEEEE?!" BoBoiBoy melototi lembaran-lembaran soal tambahan di atas mejanya itu. "Ci- Cikgu, Apesal pulak bagi aku seorang soal-soal tambahan ni?! Jangan la, Cikgu-"

"Tak de soalan! Kerjakan saja!"

"Tapi-"

RIIIIINNNNGGGG!

Itu suara bel, tapi bukan bel sekolah melainkan bel milik Rosa yang menurut BoBoiBoy jauh lebih mengerikan daripada Ulangan Matematika itu sendiri. Sang Guru menatap anak-anak penghuni kelas 7 Cerdas dengan pandangan sinis.

"Masa sudah tamat. Kumpulkan kertas jawaban kalian!" katanya segera. Mau tidak mau BoBoiBoy menjatuhkan diri dari kursinya seakan tidak sanggup menghadapi kenyataan gila tersebut.

"Aduhhh- Ini Peperiksaan Matematik ke ape?" desahnya dengan wajah ling-lung.

Anak-anak kelas 7 Cerdas kemudian mengumpulkan kertas-kertas jawaban ulangan Matematika mereka. Ketika giliran BoBoiBoy, Rosa segera menggumam.

"Lepas ni, kau kena datang ke ruangan aku. Aku nak bahas soalan Peperiksaan kau," katanya dingin. "Kau seorang. Jangan ditemani kawan!"

"Ehhh- baik Cikgu," gumam BoBoiBoy pasrah. Rosa mendengus dan membawa kertas-keras jawaban anak-anak lalu melangkah menuju pintu kelas. Tepat sebelum keluar kelas, dia terkekeh pelan. Fang yang sempat melihat itu segera curiga dibuatnya.

'Pelik. Sedari awal Peperiksaan, aku tengok Cikgu Rosa pandang-pandang BoBoiBoy dengan pandangan yang hodoh sangat. Gelak-gelak kecil pun. Mencurigakan. Aku kena bagi tahu benda ni kat BoBoiBoy,' batinnya segera.

Ketika BoBoiBoy hendak pergi keluar kelas menuju ruangan Rosa, Fang buru-buru menepuk pundak rival-nya itu.

"Ada apa, Fang?" tanya BoBoiBoy. "Aku nak pergi kat ruangan Cikgu Rosa. Tak de waktu buat ladeni ambisi kepopuleran kau."

"Bukan macam tu, BoBoiBoy," ujar Fang serius. "Aku nak temankan kau pergi ke ruangan Cikgu Rosa. Aku rasa ada yang pelik dari tingkah dia selama Peperiksaan tadi."

"Aik? Tingkah aneh? Ternyata kau pun rasa benda tu pulak," balas BoBoiBoy seraya menatap Fang lamat. "Tapi hanya aku sorang je yang disuruh datang ke ruangan dia. Cikgu kata aku tak boleh ditemankan kawan."

Mendengar kalimat Boboiboy itu membuat Fang semakin curiga. 'Ada yang tak beres dengan Cikgu baru tu,' gumamnya dalam hati. "Tak pe. Aku akan cuba temankan kau, BoBoiBoy," katanya kemudian. "Kau masuk ke ruangan dia, aku tunggu kau kat luar. Nah, amacam?"

BoBoiBoy menggaruk dagunya. "Boleh juga," jawabnya. "Jom lah Fang. Nanti Cikgu Rosa marah pula kalau aku lama sangat."

Kedua anak lelaki itu pun pergi ke ruangan Rosa. Fang menyandarkan punggungnya ke dinding luar agar tidak terlihat oleh Rosa kalau BoBoiBoy masuk ke dalam ruangan nanti. BoBoiBoy mengetuk pintu.

"Cikgu Rosa, ini BoBoiBoy," katanya.

"Masuk," ujar suara Rosa dari dalam. BoBoiBoy pun masuk ke dalam ruangan itu sementara Fang semakin menepi ke dinding luar agar tidak ketahuan oleh Rosa. Rosa baru saja memeriksa sebagian kertas jawaban ulangan Matematika para Siswa kelas 7 Cerdas. Wanita itu mengangkat wajahnya ke arah BoBoiBoy dan berkata,

"Tolong tutup pintunya, BoBoiBoy."

BoBoiBoy agak kaget. Diliriknya Fang yang masih berada di Dinding luar. Fang menggelengkan kepala tanda tidak setuju kalau pintu itu ditutup, membuat BoBoiBoy ragu.

"Jangan, BoBoiBoy," Bisik anak berambut landak itu. "Nanti aku tak boleh tengok apa yang akan berlaku!"

BoBoiBoy menelan ludah. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Antara menuruti saran temannya ataukah melakukan perintah gurunya. Untuk beberapa saat ia melamun di dekat pintu itu.

"Kau ni tak de kuping ke? Tutup pintu tu!" Rosa kembali menyuruh dengan nada suara yang lebih tegas. BoBoiBoy tersentak dan tanpa pikir panjang menutup pintu itu dengan keras, membuat Fang yang berada di dinding luar terlonjak kaget.

"Hish! kau BoBoiBoy, nak jantung aku keluar ke?" desisnya kesal. "Tapi macam mana ni? Aku tak boleh tengok apa yang Cikgu Rosa nak buat. Biarlah. Aku akan cuba menguping perbincangan mereka."

Fang menaruh telinganya di sebelah pintu. Gopal dan Iwan yang kebetulan melintas disitu terheran-heran melihat kelakuan anak itu.

"Ei, Fang. Apesal kau tempel kuping kau kat pintu tu?" tanya Gopal dengan nada suara yang terkesan tinggi. Fang segera menaruh jari telunjuknya di depan bibir, menyuruh diam.

"Kau ni Gopal. Suara kau tu keras sangat," bisiknya kesal. "BoBoiBoy dipanggil Cikgu Rosa ke ruangan dia ni. Aku rasa ada yang tak beres."

Gopal mendesah. "Mungkin yang tak beres tu ialah markah hasil pemeriksaan BoBoiBoy," katanya geli. Iwan segera menyeringai mendengar kalimat Gopal itu.

"Eh, Mungkin juga," kata Fang. "Kalau nilai dia tinggi, aku makin iri ke dia! Tapi kalau nilai dia rendah, berarti aku boleh berjaya jadi yang terpopuler, Hahaha!"

"Shhh!" Iwan menyuruhnya diam dan menuding ke arah pintu ruangan Rosa. Fang teringat kembali dengan niat awalnya dan melanjutkan acara mengupingnya. Hanya saja kali ini ia ditemani oleh Gopal dan Iwan.

Sementara dibalik pintu, BoBoiBoy memandang Rosa dengan tampang harap-harap cemas.

"Ehh- Ada sebab apa sehingga Cikgu panggil saya kemari?" tanyanya gugup. "Pasal jawaban Peperiksaan Matematik saya ke?

Rosa mendesah panjang. "Betul," katanya datar. "Aku dah tengok kertas jawaban kau, BoBoiBoy. Dan markah hasil kau pun dah keluar."

"Eh, betul ke Cikgu? Ma- Markah hasil Peperiksaan aku berapa, Cikgu?"

"Hmm... Markah hasil Peperiksaan kau? Tengok ni!"

Rosa mengacungkan kertas jawaban ulangan Matematika milik BoBoiBoy. BoBoiBoy terkejut. Angka yang terpampang di kertas itu adalah:

Nol. NOL BESAR. Sebesar telur mata sapi. Tidak ada persen, tidak ada plus. Tidak ada angka lain selain angka maut itu. BoBoiBoy merasa jantungnya berhenti berdetak untuk sementara waktu. Detik berikutnya ia menjerit kuat-kuat.

"TIDAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKK!"

Ketiga temannya yang menguping dibalik pintu terkejut mendengar jeritan malang itu.

"Eh? Apehal dengan BoBoiBoy ni?" tanya Gopal heran.

Fang tersenyum sinis. "Nampaknya aku menang kali ni, Hehehe," desisnya penuh kemenangan. "Markah dia mestilah lagi buruk. Eh?"

Ia tercekat begitu melihat tatapan kesal dari Iwan dan Gopal.

"Hei kau ni. Tak kesian ke? BoBoiBoy tu dah tiap malam begadang buat belajar ekstra!" desis Gopal. "Mesti la dia terkejut sangat masa tengok Markah dia yang buruk. Ingatkan Markah dia buruk, tapi tak kan la sampai Nol pulak. Kau ni memang tak de perasaan! Aku boleh rasa sebab markah aku memang selalu rendah."

"Eh iya ke?" tukas Fang. "Biasa pun usaha tak dustakan hasil. Tapi kenapa ini boleh berlaku? Biarpun aku selalu iri pada BoBoiBoy, tapi aku masih sahaja rasa pelik perihal benda ni."

Iwan mengangguk. Tiba-tiba didengarnya suara Rosa dari balik pintu. Iwan dan kedua kawannya kembali menguping.

"Kau memang payah, BoBoiBoy. Tak de guna!" sembur wanita itu. "Kau tengok nilai kau! Sampah! Benar-benar sampah! Kertas jawaban kau tu lagi cocok ditaruh di tempat sampah daripada dimasukkan ke dalam rekapan nilai! Bodoh, tak boleh diharap. Kau benar-benar memalukan!"

BoBoiBoy berkeringat dingin. Dia tidak percaya dengan hasil ulangannya yang mendapat nilai paling 'Durjana' di dunia pendidikan itu. Tubuhnya gemetar hebat. Ia terduduk dan memandang lantai dengan wajah stress.

"Tak- Tak mungkin," desisnya. "Aku dah belajar tiap malam buat Peperiksaan ni... Tapi- Tapi markah aku… markah aku boleh Nol macam ni? Tidak! AKU TAK TERIMA! AAAAAAAAAAHHHHH!"

BLARRRR!

"Ei? Dentuman ape tu?" tanya Gopal kaget. "Macam… macam suara letupan!"

Fang masih menempelkan telinganya ke pintu. Tiba-tiba dia merasa pintu itu agak panas. Spontan dia menjauh dari pintu itu dengan ekspresi kaget.

"Pintunya panas," katanya pelan. "Apakah BoBoiBoy-"

Ia dan Gopal saling memandang satu sama lain.

"DIA DAH BERTUKAR JADI BOBOIBOY API!" Gopal memekik panik. Fang segera membekap mulut anak itu.

"Ish, jangan cakap keras-keras Gopal!" tukasnya berang. "Nanti Cikgu Rosa dengar suara kau!"

"So- Sori," ucap Gopal setelah dirinya mulai tenang.

Dibalik pintu itu, Rosa terbelalak. Sosok BoBoiBoy di hadapannya menatap tajam. Beberapa kobaran api berada di sekelilingnya. Namun penampilan sosok itu rada melenceng dari perkiraan Gopal. Yah, ada api di sekitarnya. Tapi dengan tudung jaket bewarna merah kecoklatan dan beberapa atribut berbentuk logo api yang menyala membuat sosok itu terasa sedikit berbeda. Sosok itu... Fase kedua dari BoBoiBoy Api: BoBoiBoy Blaze.

"Aku BOBOIBOY BLAZE!" tegasnya. Gopal, Fang dan Iwan melongo mendengar itu.

"Bo- BoBoiBoy Blaze?!" tanya Gopal. "Bukankah itu tahap kedua daripada BoBoiBoy Api ke?"

" Betul tu. Nampaknya tekanan yang dia terima dah melampui batas," gumam Fang. "Terlalu pun Cikgu Rosa tu. Dia nak Boboiboy bakar ruangan dia ni."

Iwan mendesis ngeri setelah mendengar itu dan menyentuh pintu. Namun ia segera menarik tangannya dan menjerit-jerit karena pintu itu masih terasa panas. Rosa mematung melihat Blaze yang berdiri tak jauh di hadapannya. Blaze sendiri menggeretak marah. Beberapa tiang api muncul di sekelilingnya dan mendekati Rosa.

"TERLALU! KAU BUAT AKU TERTEKAN SANGAT DENGAN MARKAH BURUK TU!" pekik Blaze murka. "Aku dah belajar hingga bermalam-malam pun tapi hasil aku tak bagus je?! TAK BOLEH DIMAAFKAN!"

Dia menerjangkan tiang-tiang api ke arah Rosa. Rosa menepis serangan itu dengan perisai transparan miliknya. Namun karena tiang-tiang api itu sangat kuat, Rosa terhempas ke dinding. Setitik darah menghiasi bibirnya. Ia mengerang kecil dan menatap Blaze dengan seringai kecut.

"Boleh juga kau ni," tukasnya seraya berusaha berdiri. Beberapa bagian gaunnya robek akibat hangus terkena serangan Blaze. "Ternyata kau macam budak kecik je… gampang stress. Daripada kau bakar seisi sekolah, bagaimana kalau kau tenangkan diri kau dahulu?"

"Tenang? Kau kata aku nak tenangkan diri?!" tukas Blaze marah. "Macam mana aku boleh tenang sementara markah aku buruk macam tu?! Kau… KAU NI MEMANG TAK KENA!"

Spontan luapan api raksasa keluar dari tubuhnya, mengenai beberapa bagian ruangan itu. Melihat ruangannya mulai terbakar, Rosa segera menekan tombol pancuran kebakaran di dekatnya. Segera saja siraman air dari atas mengenai api-api yang hendak membakar ruangan itu, memadamkannya ditambah sapuan kipas angin darurat yang mengeringkan ruangan itu dalam sekejap. Rosa mendesah panjang seraya menatap Blaze yang masih saja memasang wajah kesal.

"Kan aku dah cakap… tenangkan diri kau dahulu," ucap Rosa datar. "Aku punya teh dingin di dalam kulkas. Kalau kau nak, ambil je."

Mendengar itu, wajah sangar Blaze langsung berubah senang. "Eh, Iya ke? Aku nak minum teh. Apalagi teh dingin!" ucapnya riang. "Terima kasih, Cikgu!"

Rosa tersenyum kecil lalu membuka kulkas mungil di sudut ruangan. Diambilnya segelas teh dari sana dan memberikannya pada Blaze yang sudah duduk manis di atas Sofa di tengah ruangan. Dengan wajah sumringah Blaze menerima minuman itu dan mulai meneguknya. Gopal yang mendengar suara tegukan itu segera menelan ludah.

"Aihh- aku pun nak minum teh pulak," tukasnya murung. "Baik sangat nasib si BoBoiBoy tu. Walaupun dapat markah jelek, tapi masih boleh dapat bonus teh dingin. Sementara aku dapat markah jelek, bonusnya kepisan daripada rotan Appa aku. Tak adil lah kalau macam ni!"

Fang mendesah. "Itu nasib kau je Gopal," tukasnya datar. "Tapi benar juga, kenapa dia boleh dapat bonus teh sementara markah dia teruk? Hihh! Aku makin iri sama dia pulak! Awas saja kalau-"

PLUK!

"?!" Iwan terkejut mendengar suara sesuatu yang jatuh dari balik pintu. Dia menguping ke pintu yang sudah tidak panas lagi. Tahu-tahu ia terkejut mendengar kalimat yang terdengar setelah itu.

"Huhh… Kenapa aku mengantuk sangat selepas minum teh ni?" Blaze menguap perlahan. Iwan segera menarik Gopal dan Fang untuk kembali menguping. Ketiga anak itu heran dengan kalimat Blaze itu. Memang aneh karena BoBoiBoy Api atau Blaze bukanlah tipe yang suka tidur. Itu karakteristik dari BoBoiBoy Air. Fang, Gopal dan Iwan merasa janggal dengan ini.

"Ei? Tumben BoBoiBoy Blaze nak berehat," kata Gopal. "Biasa pun BoBoiBoy Air yang buat benda tu. Atau mungkin dia dah bertukar jadi BoBoiBoy Air?"

Fang mengerutkan alis. "Aku rasa dia tak bertukar pun," gumamnya. Tiba-tiba dia melihat lubang kunci di bawah gagang pintu. Segera saja ia menepuk keningnya dengan kesal.

"Cih! Kenapa aku tak tengok lubang kunci ni sedari tadi?" katanya lalu mengintip dari lubang kunci itu. Dugaannya benar. Blaze masih dalam penampilannya semula. Namun alangkah terkejutnya pemuda bersurai ungu itu begitu melihat apa yang tengah terjadi di ruangan di balik pintu itu.

Blaze tampak tertidur di atas sofa. Gelas teh-nya yang sudah kosong tergeletak di lantai. Rupanya itulah benda yang didengar Iwan terjatuh tadi. Entah mengapa perasaan Fang mulai tidak enak. Ia menarik tubuhnya dari lubang kunci dan menatap Gopal dan Iwan yang menunggunya dengan tidak sabar.

"Ei, Gopal. Kau kan suka tengok film Detektif," katanya. "Kira-kira kalau ada seseorang yang hiperaktif tiba-tiba tertidur setelah meminum sesuatu tu sebabnya apa?"

Gopal cengar-cengir. Masalah Detektif dialah jagonya. "Oh! Kalau macam tu, biasanya dia dibagi obat bius di dalam minuman tu. Selepas tu, ia pun tertidur. Maka dengan mudah ia menjadi korban dalam Kes Kriminal!" Jelasnya bangga.

Sadar dengan ucapan Gopal, Iwan terperangah. Ia lalu mengintip ke lubang kunci dan terbelalak. Dilihatnya Blaze masih dalam posisi 'Tidur imut'-nya sementara Rosa tampak mendekati anak itu sembari mulai membelai pipi anak itu. Iwan menjerit dan menatap kedua temannya dengan panik.

"Eh? Kenapa Iwan?" tanya Gopal bingung. Iwan menuding ke arah lubang kunci sebelum akhirnya pingsan di tempat dengan darah yang mulai merembes dari hidungnya. Gopal dan Fang terkejut melihat itu.

"Eh? Tumben si Iwan pengsan lalu mimisan," desis Fang heran. "Nampaknya ada sesuatu yang pelik terjadi dibalik pintu tu sampai boleh buat Iwan pengsan macam ni."

"Biar aku tengok," tawar Gopal seraya mengintip ke dalam lubang kunci. Kali ini dia melihat Rosa membuka jaket Blaze. Terlintas sesuatu yang mengerikan di benak Gopal dan membuat anak India itu berteriak ketakutan seraya menjauh dari pintu. Fang menatap temannya itu dengan heran.

"Apa yang kau tengok Gopal?"

"I- Itu... BoBoiBoy nak disentuh-sentuh sama Cikgu Rosa!" jerit Gopal ngeri.

"Eh? Sentuh macam apa?" tanya Fang tidak mengerti.

"Tengok saja sendiri!"

Fang menuruti kata-kata Gopal itu. Diintipnya lubang kunci itu. Rosa menggumam dengan nada suara yang menggelikan.

"Tak de salahnya kalau aku rasa sikit budak ni, hehehe-"

"HAH?!"

Dia melihat Rosa yang mulai mendekatkan mulutnya pada Blaze dan mulai menjilati pipi anak itu. Fang yang merasa jijik segera menarik wajahnya dari pintu dan mencoba membukanya. Namun pintu itu tidak bergerak. Munculah perempatan siku-siku di kepala Fang.

"Terkunci!" ujarnya kesal. "Seharusnya aku dah buka pintu ni sedari tadi dan tarik BoBoiBoy keluar. Kenapa aku pendek akal macam ni? Baiklah. Tak de cara lain. Aku kena dobrak pintu ni. HARIMAU BAYANG!"

BLASSS!

"GRAAAA!" Munculah sosok Harimau Bayang di sebelah Fang dan menerjang pintu ruangan Rosa. Namun ternyata pintu itu kuat sekali sehingga Harimau Bayang hanya sanggup mencakar-cakar pintu tersebut. Fang tidak kehilangan akal. Ia menoleh ke arah Gopal.

"Gopal, kau tukarkan pintu ni jadi sesuatu yang rapuh!" perintahnya. "Biar kita mudah dobrak pintu ni dan selamatkan BoBoiBoy segera!"

"Ba- Baiklah," tukas Gopal terbata-bata. "TUKARAN BISKUIT YAYA!"

SRINGG!

"EHHH?!"

Fang mendelik ke arah Gopal yang dengan segera memandangnya dengan tatapan Horor.

"KENAPA KAU TUKAR PINTU NI JADI BISKUT YAYA, HAH?!"

"Ehehehe… Sori, Fang. Aku salah sebut tadi."

"Hisshh! Kau dah tahu kalau Biskut Yaya tu keras macam batu! Cepat tukar balik pintu ni!"

"O- Okey… TUKARAN SEMULA!"

SRINGG!

"TUKARAN KERIPIK!"

SRINGG!

"Huh, kau tu buat lama sangat! Nanti BoBoiBoy dah mulai 'Kotor' baru tahu rasa!" dengus Fang lalu menoleh ke arah pintu yang sudah menjadi Keripik. "HARIMAU BAYANG, SERAAAAANNNGGGG!"

"GROOOOAAAAA!"

BRAAKKK!

Harimau Bayang milik Fang mendobrak pintu keripik itu hingga hancur berkeping-keping. Rosa yang hendak melanjutkan perbuatannya terkejut begitu melihat Gopal dan Fang masuk ke ruangannya. Iwan yang baru saja terbangun dari pingsannya pun ikut serta bersama kedua temannya untuk menghadapi guru aneh itu.

"Ah, nampaknya ada pengganggu," ujar Rosa dingin. "Kalian ni tak de moral ke? Masuk masuk ke dalam ruang Cikgu seenak hati. Pakai acara hancurkan pintu pulak! Nanti korang kena bayar tagihan karena rusakkan fasilitas sekolah!"

Fang mendengus. "Rusakkan fasilitas sekolah?" tanyanya jengkel. "Nasib baik kalau macam tu. Dan itu lagi baik daripada harga diri BoBoiBoy yang rusak! Kami dah tengok apa yang Cikgu perbuat! Kenapa Cikgu buat benda tu kat BoBoiBoy?"

"Iya Cikgu. Hodoh betul!" tambah Gopal geram. "Tadi Cikgu kata kami ni tak bermoral sebab masuk ke ruangan Cikgu tiba-tiba. Tapi nampaknya Cikgu yang lagj tak bermoral! Tengok apa yang Cikgu perbuat pada Boboiboy! Ingatkan kami tak tahu?!"

Rosa mendesah seraya menoleh ke arah Blaze yang sudah berubah ke wujud BoBoiBiy semula namun masih tidak sadarkan diri. "Dia ni elok sangat," ucapnya. "Korang tak payah ikut campur dalam pasal ni. CEKAMAN PIKIRAN!"

"APA?!" Gopal, Fang dan Iwan tersentak. Tiba-tiba mereka merasa sesuatu yang tidak terlihat menyergap tubuh mereka dan menarik tubuh mereka ke udara. Rosa tersenyum sinis melihat itu. Rupanya ia menggunakan sejenis kemampuan Telepati.

"Erggghh- Apa yang Cikgu buat pada kami ni?" Gopal merengek." Turunkan kami la. Aku takut ketinggian, Huhuhuuu-"

"?!" Iwan terkejut dan Syok. Anak itu kembali pingsan untuk kesekian kalinya.

"Lepaskan kami!" ujar Fang marah. "Cikgu ni benar-benar keterlalu- AAAARRRGGGHHHH!"

Sergapan yang dirasakan tubuh Fang semakin erat. Fang menjerit karena merasa tulang-tulang di tubuhnya nyaris remuk. Rosa tertawa nista melihat anak Cina yang tersiksa itu sembari berjalan mendekatinya. Diraihnya dagu Fang dan memaksa anak itu memandang ke arahnya.

"Ini la akibatnya kalau korang campuri urusan aku, "bisik Rosa sinis. Fang berusaha membebaskan dagunya dari cengkeraman Rosa. Namun tiba-tiba tubuhnya terasa lemas, membuat anak berkacamata itu semakin panik.

'Kenapa tiba-tiba badan aku lemas macam ni?' batinnya tegang. 'Mungkinkah-'

'Mungkinkah-'


"Kalau tak salah, Rosaline tu ialah salah satu daripada Ras Succubus," jelas Ochobot. "Diorang ialah makhluk Mitologi. Diorang dianggap jahat dan penampilan mereka pun macam hantu kelelawar."

"AAHHH!" Jerit Gopal yang memang takut pada hantu." Macam hantu pontianak dari Indonesia ke?"

"Tak. Tak la hodoh macam pontianak pon. Tapi penampilan diorang lagi pelik dari pontianak!" lanjut si robot bola. "Diorang dilukiskan punya sayap kelelawar, tanduk dan ekor. Baju pun diorang kurang bahan. Dan peliknya lagi, diorang boleh serap energi makhluk lain, termasuk manusia!"


'Diorang dilukiskan punya sayap kelelawar, tanduk dan ekor. Baju pin dilarang kurang bahan. Dan peliknya lagi, diorang boleh serap energi makhluk lain, termasuk manusia!'

Fang terperangah. Dengan setengah tenaganya yang masih tersisa, dipandangnya Rosa dari ujung kepala sampai kaki sembari melakukan sebuah analisa:

- Baju Kurang Bahan: Cek.

Rosa memakai gaun gelap yang seharusnya tidak perlu dipakai di sekolah. Lagipula gaun itu terlalu banyak bagian yang terbuka.

- Serap Energi Orang: Cek.

Fang saat ini tengah merasakannya. Tubuhnya berangsur-angsur lemah semenjak Rosa mencengkeram dagunya.

- Sayap kelelawar, Tanduk dan Ekor: Silang.

Rosa tampak tidak memiliki itu. Tapi Fang yakin bahwa wanita di hadapannya ini bisa menyembunyikan atribut itu karena Fang tahu Mila yang notabene adalah Succubus juga bisa melakukannya.

Kesimpulannya adalah:

"Ka- Kau... Succubus ke?" desis anak muda berkacamata itu, membuat Rosa terkejut.

"Ahh... rupanya kau telah berjaya tebak diri sebenar aku," tukasnya dengan nada mengejek. "Kau memang pandai, Fang. Ah ya. Kalau kau nak ikut sama aku, kau boleh bantu aku dengan otak kau yang pandai tu. Kau pun lumayan-"

Rosa mulai menjilat pipi Fang dan berbisik di telinga anak itu.

"Kau pun lumayan elok..."

"Eh? Apa maksud Cikgu ni?" tanya Fang kaget. "Aku masih budak keci- Uhhh..."

Kalimatnya terputus. Fang pingsan akibat energinya yang terus-menerus diisap. Gopal yang melihat itu segera panik sendiri.

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAA! Kau buat Fang pengsan dengan serapan energi kau?!" pekiknya. "JANGAN BUAT BENDA TU PADAKUUUUUU!"

BUAKK!

Rosa telah menendang pipi Gopal, menyebabkan sebuah gigi anak berkulit gelap itu terpental keluar dari mulutnya. Gopal segera memandang Horor dan akhirnya pingsan saking takutnya.

"Cih! Ternyata dia dah pengsan duluan," dengus Rosa. "Kalau saja-"

'Tap- Tap- Tap,'

Tiba-tiba Ia mendengar sebuah suara langkah kaki menuju ruangannya. Rosa terkejut dan melihat keempat anak lelaki yang sudah terkapar di atas lantai ruangannya. Ia buru-buru mengambil sebuah kotak di atas meja dan membukanya. Diambilnya empat buah serum kecil dari dalam kotak itu.

"Nasib baik Organisasi bagi serum-serum ni semalam," desisnya lega. "Budak-budak ni tak boleh ingat apapun tentang kejadian barusan. Kalau tak, rancangan aku akan gagal. Baik aku bergegas."

Diluar ruangan, tampak Bu Anisa dan Yaya berjalan sembari berbincang-bincang.

"Nah- tu lah, Cikgu. Aura hitam tu yang buat orang-orang kena penyakit lemas," kata Yaya. "Sungguh misterius. Macam mana buat hilangkan wabah ni?"

Bu Anisa mendesah. "Semoga mereka dapatkan tenaga mereka balik dalam sekejap," gumamnya khawatir. "Dan tentu pun- Eh?"

Ia menatap ke dalam ruangan Rosa. Tampak Rosa terduduk di lantai dengan tersedu-sedan. Di depannya tampak empat anak lelaki yang terkapar tidak sadarkan diri: BoBoiBoy, Gopal, Fang dan Iwan. Bu Anisa dan Yaya terkejut dan segera mendekati wanita itu.

"Ei? Apahal ni? Diorang pengsan ke?" tanya Yaya sembari melihat ke arah empat temannya yang pingsan itu.

Bu Anisa menatap Rosa. "Kakcik Rosa, apa yang sebenarnya berlaku disini?"

"Huhuhuu- mereka terkena aura hitam yang buat lemas tu," tukas Rosa sedih. Serentak Yaya dan Bu Anisa terlonjak kaget.

"HAH?! Tak boleh jadi ni," desis Yaya. "Apa kita kena buat?"

"Yaya, kau panggil petugas bagian kesehatan siswa," kata Bu Anisa tiba-tiba. "Mereka kena dibawa segera ke bilik kesehatan sekolah."

"Baik, Cikgu."

Tak lama kemudian, beberapa petugas kesehatan siswa SMP Pulau Rintis menggotong BoBoiBoy, Fang, Gopal dan Iwan yang masih saja pingsan ke ruang kesehatan. Yaya memandang teman-temannya itu dengan sedih.

"Apasal diorang jadi macam ni?" gumamnya. Bu Anisa menepuk pundak gadis itu sembari tersenyum.

"Do'akan biar mereka sehat balik," katanya lembut. Yaya segera sumringah dan menatap guru bahasa Melayunya itu.

"Terima kasih sebab dah tenangkan aku, Cikgu," balasnya senang.

Bu Anisa tertawa kecil. "Sama-sama, Yaya," tukasnya. "Nah, kalau mereka dah siuman balik, ajak kawan-kawan kelas kau buat jenguk mereka."

"Baik. Terima kasih, Cikgu."

Rosa melihat semua itu dengan tatapan kosong. Ia menghentakkan sepatunya ke lantai dan masuk kembali ke ruangannya.

'Esok hari aku tak boleh gagal lagi,' batinnya dingin.


Ochobot dan Tok Aba berkunjung ke rumah Mila. Ochobot mengetuk pintu rumah itu.

"Mila? Kau di dalam?"

"Siapa... diluar?"

"Ochobot dan Tok Aba."

"Ohh, iya iya... Sila masuk."

Tok Aba membuka pintu. Beliau dan Ochobot menemukan Mila yang tengah duduk diam di atas Sofa.

"Oh, Hai Tok Aba. Hai, Ochoboy," gumamnya lemah. "Ada keperluan kat sini ke?"

Ochobot mendesah. "Boboiboy cakap dah dua hari kau sakit," katanya cemas. "Dan hari ni kau tak pergi sekolah pula. Kau sakit apa?"

"Umm... badan aku rasanya lemas je," tukas Mila murung. "Tapi sekarang dah lagi baik. Besok mungkin aku dah masuk sekolah lagi."

"Badan lemas?" tanya Tok Aba heran. "Kau terkena aura hitam yang sebabkan wabah pelemah di pulau rintis ini ke?"

Mila tersentak kaget mendengar ucapan Tok Aba.

"HAH?! AURA HITAM?!" pekiknya kaget. "Jangan-"

"Apasal kau jadi terkejut macam ni?" gumam Ochobot bingung. "Kau tahu ke siapa pelaku yang sebarkan aura tu?"

Mila mendesah panjang. "Bunda aku... dia dah berjaya keluar dari badan aku," tukasnya muram. "Dan wujud dia pas keluar tu berbentuk aura hitam je. Nampaknya dia yang buat orang-orang menderita kelemasan di Pulau ni. Dia kan serap energi orang-orang tu. Lagi banyak yang dia serap, lagi senang dia buat balik ke wujud asli dia. Tapi nampaknya aku dah terlambat."

"Ei, sudah. Tak payah kau sedih macam tu," hibur Tok Aba. "Nanti kita akan bantu kau buat selesaikan ni. Nah, kira-kira Mak kau tu keluar buat ape?"

"Dia mahukan Ochoboy," kata Mila frustasi. "Tapi semakin kesini dia nakkan sesuatu yang lebih pula. Dia mahukan cucu Anda, Tok Aba."

"APA?!" Tok Aba tersentak kaget. "Apasal dia nakkan Cucu aku? BoBoiboy tu masih budak kecik. Umur dia baru pun tiga belas tahun. Kau ni bergurau ke?"

"Aku serius, Tok Aba," desis Mila miris. "Bunda... dia pengidap Pedofilia. Mangsa dia kebanyakan budak kecik. Jarang sangat dia ambik orang berumur tiga puluhan keatas sebagai korban dia. Dan ketika dia masih kat dalam badan aku, dia sering tengok Boboiboy. Itu sebabnya dia pun keluar. Aku jadi khawatir sangat."

"Kalau macam tu, aku dan Tok Aba kena bagi tahu benda ni kat Boboiboy!" tukas Ochobot mantap. "Kalau tak, dia dalam bahaya!"

Mila terkekeh. "Terima kasih," ucapnya pelan. "Ah iya. Satu lagi. Kalau Boboiboy dan kawan-kawannya nak jenguk aku, cakap je aku tak nak dijenguk dahulu."

"Ei? Memangnya kenapa?"

"Ada sesuatu yang-"

BUMMM!

"Eh? Suara ape tu?" tanya Tok Aba heran seraya berjalan menuju halaman. Ochobot dan Mila mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba mereka terkejut melihat apa yang menyebabkan suara ledakan itu.

Adu Du di dalam Robot Mukalakus-nya.

"ADU DU?!" Tok Aba, Ochobot dan Mila memekik bersamaan.

Adu Du meringis kesal. "Kau! Kau yang sebabkan Probe pengsan!" tudingnya pada Mila. Gadis itu kaget sekali mendengar tuduhan Adu Du tersebut.

"Apa? Aku pengsankan si Robe?" tanyanya tidak mengerti.

"Hiihh! Kau ni memang nak kena!" amuk Adu du. "RASAKAN NI! LASER PEMUSNAH!"

DUAAAAARRRRRRR!

"AAAAAAHHHHHHHH!"

Asap tebal menyelimuti halaman rumah Mila. Tok Aba terbatuk-batuk. Beliau menoleh ke kanan-kiri.

"Ochobot... Mila... Mana korang?" tanyanya cemas.

"Tok Aba!" tampak tubuh bola Ochobot di antara asap itu. Tok Aba segera mendekatinya seraya terengah-engah.

"Kau tak pe, Ochobot?"

"Iya, Tok."

"Tunggu kejap " kata Tok Aba. "Mana Mila?"

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Tok Aba dan Ochobot terkejut mendengar suara pekikan itu. Keduanya memandang ke langit dan melotot.

"Huahahahahaha! Kalian takkan dapat hentikan aku!"

"Ti- Tidak... MILAAAAAAAAA!"


BoBoiBoy dan teman-teman sekelasnya berkunjung ke rumah Papa Zola dan Mama Zila. Kondisi BoBoiBoy, Fang, Gopal dan Iwan telah membaik. Anehnya, mereka seperti tidak mengingat apapun tentang kejadian di ruangan Rosa setelah ulangan Matematika tadi. Namun tampaknya mereka tidak terlalu memusingkan hal itu. Mereka telah sampai di depan pintu rumah Papa Zola.

"Assalamualaikum," sapa BoBoiBoy. "Cikgu Papa Zola, Makcik Mama Zila, ini kami, Murid-murid Kelas 7 Cerdas nak jenguk Cikgu Papa."

Mama Zila tergopoh menuju pintu dan membukanya. "Waalaikumsalam. Apahal korang semua datang ni?" tanyanya ramah.

"Kami nak jenguk Cikgu Papa, Makcik," kata seorang Siswa bernama Amar Deep. "Boleh ke?"

" Oh, baguslah. Mari masuk. Jarang-jarang korang datang kemari pula," tukas Mama Zila geli seraya mengiring anak-anak masuk ke dalam rumah.

"Ehh- dimana Cikgu Papa?" tanya Yaya.

Mama Zila tersenyum. "Ada kat bilik dia. Kejap. Korang boleh duduk di ruang tengah. Biar Makcik yang bagi tahu Kanda Papa perihal kedatangan kalian."

Mereka pun menunggu di ruang tengah seraya berbincang-bincang.

(Lalalalalalalalalalaaaa... laaalalalalalalaaaaaa...)*

"Wahh- bersihnya rumah Cikgu Papa ni!" kata BoBoiBoy dengan mata berbinar begitu melihat keadaan rumah yang begitu bersih dan rapi.

"Ye la tu. Ini berkat Mama Zila," balas Fang. "Dia kan pengidap OCD. Wajar la kalau rumah mereka rapi macam ni."

(Lalalalalalalalalalaaaa... lalalala... lalalalalaaaaaa...)*

"Oh iya. Nanti kalau rumah ni bersepak, Mama Zila boleh menjelma jadi Raksasa! Seram sangat!" ucap Gopal ngeri.

(LALALALALALALALALALAAAAAA... LALALALA...)*

"Siapa yang cakap rumah kebenaran ni bersih, Hah?!"

BoBoiBoy dan teman-temannya menoleh. Mereka terkejut melihat sumber suara itu.

(LALALALAAAAAAAAA!)*

"CIKGU PAPA ZOLA!" Mereka semua menjerit begitu melihat Guru nyentrik mereka berdiri di hadapan mereka. Serentak mereka menghambur ke arah Papa Zola bagaikan beras yang tumpah dari karungnya.

"Cikgu Papa! Kami rindu sangat!"

"Satu hari je Cikgu Papa tak de, serasa langit runtuh!"

"Huhuhuuu... Cikgu Papa..."

"Heiii! Apakah semua iniii?!" Papa Zola merasa sesak nafas karena pelukan murid-muridnya yang menggila itu dan segera mendorong mereka keras. "Kalian mahu tubuh Kebenaran tambah sakit, Haaaaahhhhhh?!"

"Hehe... maaf, Cikgu," kata Gopal tersipu. "Kami hanya rindu sangat ke Cikgu. Satu hari Cikgu tak de kami dah rasa sengsara!"

"Sengsara? Sengsara apakah yang kau maksud, wahai anak muda?" tanya Papa Zola.

"Ehh- macam ni, Cikgu. Kami dapat Cikgu pengganti buat pelajaran Matematik tadi," kata BoBoiBoy gugup.

Papa Zola tersentak kaget. "APAAA?! SIAPA YANG BERANI MENDUDUKI POSISI KEBENARAN SEBAGAI CIKGU?!" tanyanya sekali lagi. "Dan macam mana rupa dia?"

"Dia pompuan, Cikgu. Nama dia Cikgu Rosa ma," jawab Ying. "Tapi selepas masuk, dia langsung bagi kami pemeriksaan Matematik!"

"Wahh! berarti dia tegas macam Kanda Papa," Mama Zila ikut menimpali. "Baguslah kalau macam tu."

"Tidak, Makcik Mama Zila. Tak bagus sangat," ujar Yaya muram. "Dia... Dia beri kami lima puluh soal cerita. Lalu masa yang dibagi hanya lima minit sahaja!"

"HAHHHHH?! LIMA MINIT?!" Papa Zola memekik. "Cikgu teruk macam apakah ini?! Tak bagu kasih sayang kepada anak didiknya! Kalau Cikgu jumpa dia, maka Cikgu akan belasah dia kerana telah menyusahkan anak didik Cikgu!"

"Betul tu, Cikgu!" gumam Fang. "Cikgu Rosa tu memang perlu dibelasah! Bahkan dia telah menampar saya," ujarnya seraya meraba bekas tamparan Rosa di pipinya yang masih saja membekas. Spontan Papa Zola murka dibuatnya.

"KETERLALUANNN! BERANINYA DIA MENAMPARMU, WAHAI FANG ANAK DIDIKKU!" pekiknya marah. "Tenang sahaja. Besok Cikgu dah boleh masuk ajar kalian semua, jadi tak payah pula buat risau-risau. Tak kan Cikgu biarkan dia sakiti kalian lagi!"

"Wuaaahhhh! Terima kasih banyak, Cikgu!"

"Cikgu Papa memang terbaik!" tukas BoBoiBoy seraya mengacungkan jempol. "Dan tentu pun-"

BLAMM!

Kalimat BoBoiBoy terpotong akibat suara pintu yang tiba-tiba dibanting kedalam. Semuanya memandang ke arah pintu. Tampak Tok Aba dan Ochobot di ambang pintu seraya terengah-engah.

"Tok Aba?! Ochobot?!" tukas BoBoiBoy dan kawan-kawannya heran." Kenapa nampak penat ni?"

"HEI! KALIAN NI TAK PUNYA ETIKA KAH?! Masuk masuk sambil banting Pintu kebenaran?!" ujar Papa Zola kesal.

Tok Aba menghembuskan nafas panjang." BoBoiBoy, maafkan Atok. Tapi kami baru datang dari rumah Mila."

"Eh? Mila?" tanya Gopal kaget. "Lepas jenguk dia ke?"

"Ya. Tapi masalahnya-" gumam Ochobot ketakutan. "Mila... MILA KENA CULIK ADU DU!"

"APA?!"


Suasana Kota Kuala Lumpur tampak seperti biasanya. Di dalam sebuah gedung pencakar langit tampak dua manusia tengah berbincang-bincang.

"Abang, maaf. Tapi nampaknya wajah Abang dah letih sangat," kata salah seorang dari mereka. Nada suaranya lembut, menandakan bahwa dia adalah perempuan.

Sosok di sebelah perempuan itu mendesah panjang. "Entahlah, dik," gumamnya dingin. "Aku memang sedang banyak urusan. Tapi-"

'Tok, Tok, Tok-' Pintu ruangan tempat kedua sosok itu diketuk dari luar. Spontan kedua sosok itu menoleh ke arah pintu.

"Siapa diluar?"

"Ini aku, Yah."

"Masuk saja."

Pintu pun terbuka, menampakkan sebuah sosok pemuda berumur sekitar dua puluh tahun ke atas. Rambut landaknya yang berwarna coklat mendesir pelan, membuatnya sangat mirip dengan Aktor yang memerankan Azroy di dalam sebuah film Telenovela berjudul 'Seguni Mawar Merah'. Ia memakai baju bewarna ungu dan coklat. Ia berjalan mendekati kedua sosok itu.

"Aku dah beli tiket kereta api buat ke Pulau Rintis," kata lelaki berambut landak itu. "Esok dah siap berangkat."

"Hmm- dah Telepon Atok kau?"

"Ehehehe, belum."

"Kalau macam tu segera Telepon beliau," kata si perempuan. "Jangan buat Atok dan Adik angkat kau terkejut masa tiba disana. Setidaknya kalau kau telepon beliau, Tok Aba dah tahu kau mesti datang kesana buat cuti kuliah kau. Sekalian pulak kau jumpa dengan BoBoiBoy. Adik kau tu mesti dah rindukan kau pulak."

"Baik. Akan kuhubungi Tok Aba selepas ni."

"Bagus. Hati-hati di jalan. Salam ke Atok kau dan BoBoiBoy."

"Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Mak. Saya pergi dulu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Ketika sang lelaki muda itu telah keluar, dua sosok di ruangan itu kembali melanjutkan perbincangan mereka.

"Kau yakin ke dengan kau suruh dia cuti di Pulau Rintis semuanya akan baik-baik sahaja?" tanya si perempuan.

Si Laki-laki mengangguk. "Dia kan Abang angkat BoBoiBoy. Dia boleh jaga mereka disana," gumamnya seraya menyodorkan sebuah koran. "Salah satunya ialah sebab berita utama di surat kabar pagi ni."

Jari telunjuknya menuding ke arah berita utama yang tertulis: 'SERANGAN WABAH PELEMAS DISEBABKAN OLEH SEBUAH AURA HITAM DI PULAU RINTIS'

Si Perempuan terkejut melihat berita itu.

"Wabah pelemas sebab Aura Hitam?" tanyanya heran. "Macam tak masuk akal je. Itu kah sebab Abang suruh dia cuti buat jaga BoBoiBoy dan Bapak disana ke?"

"Setidaknya aku dah waspada sejenak," jawab si Lelaki. "Lagipun aku tahu kalau ini mesti kerjaan daripada Organisasi."

"ORGANISASI?! Mereka masih beroperasi kat sini ke?" si Perempuan tampak kaget.

Si lelaki menggeleng. "Kalau pasal tu aku pun kurang tahu," katanya lesu. "Mereka tak pernah nampak selama beberapa tahun belakangan ni. Tapi aku yakin mereka masih beroperasi."

"Apa buktinya?"

Si lelaki menatap si perempuan tajam. "Kau tak tengok, dik? Wabah ni buktinya," ucapnya serius seraya mengacungkan koran itu. "Tiada seorangpun yang boleh sebabkan wabah ni kecuali 'dia' seorang: Salah seorang sekutu tua Organisasi."

"HAH?!" Si perempuan menutup mulutnya karena panik. "Jangan cakap kalau makhluk pedofil tu-"

"Ya, dik. Hanya dia seorang je yang boleh buat benda pelik ni," desis si lelaki geram seraya meremas koran di tangannya, mendengus marah.

"Dia, Sang Mawar Liar."


Bersambung ...

*Lagu Tema dari Papa Zola _

Aihhh ... akhirnya bagian ini selesai juga, wahaha ... ah ya. Yang jadi Abang Boboiboy itu ... lihat di Boboiboy Characters List: Adult Passenger di Stasiun Pulau Rintis. Disebutkan disana bahwa dia kemungkinan besar adalah Kakak Boboiboy, muncul di Season 1 episode 1 saat Boboiboy hendak keluar dari Kereta dengan baju ungu dan berambut mirip Azroy. Mungkin aku bakal beri dia nama OC, so mind to Review? :)

Tetap setia menanti kelanjutannya ya ... Love you all, Dear Readers ^/^