Identity
Exonoir ft. ohmysehun (LAGI?!)
Chanyeol x Baekhyun
Romance, Smut, Fantasy, GS
Warning YAOI area. Don't like, don't read.
.
.
NB: Kali ini Author akan membuat 2 chapter khusus yang menceritakan tentang Kris. Dan seperti biasa, Author dibantu oleh asisten setia ohmysehun. Berhubung Author tidak kuliah di jurusan hukum, jadi semua Author serahkan ke dia. Anyways, Author kasih recommended lagu yang cocok didengerin sambil baca, CöshuNie – Asphyxia.
.
.
Chapter 7. The Less You See [part 1]
.
.
Kris POV
Terik matahari yang telah meninggi tidak dapat Kris rasakan semenjak ia berada didalam sel penjara yang terisolasi dari dunia luar. Meskipun terdapat jendela dengan jeruji yang kokoh sebagai penghalang, Kris hampir tidak pernah keluar dari sel sialan ini selama lebih dari tiga bulan. Ia bahkan tidak berani berpikir akan terbebas dari ruangan ini.
Dalam masa-masa menunggu sidang terakhirnya dilaksanakan, Kris menghabiskan waktunya untuk menyesali seluruh perbuatannya. Dia telah melakukan kesalahan terbesar didalam hidupnya, dan mau tidak mau ia harus siap untuk menerima hukuman atas kecerobohannya.
Kris telah dibutakan oleh uang. Ia terjebak oleh pesona dunia kegelapan yang awalnya sangat menggoda. Namun entah mengapa perkerjaan yang digelutinya itu semakin berbahaya dari waktu ke waktu, hingga berhasil menjeratnya seperti tali yang melilit tubuhnya dengan erat.
Benar, Kris adalah seorang hacker. Kris berhasil membobol website resmi FBI lalu ia menjual informasi rahasia mengenai strategi perang Amerika kepada Korea Utara. Karena hal itulah Kris menjadi buronan nomor 1 yang paling dicari. Meski dulu ia pernah berhasil lolos dari kejaran maut, namun tidak untuk yang kedua kalinya. Ia akhirnya tertangkap di Apartemen Studionya di Vancouver, Canada ketika mencoba untuk kabur.
"MAKAN!" teriak seorang sipir sembari melemparkan nampan kedalam celah kecil dibawah pintu metal. Ia sengaja tidak dimasukkan kedalam penjara bersama tawanan lainnya karena ditakutkan merencanakan strategi untuk kabur. Karena itu ia ditempatkan dipenjara isolasi, yang lokasinya sedikit jauh dari tawanan lainnya; dengan dinding-dinding beton tebal yang nyaris tidak dapat dibobol.
Kris bangkit dari ranjang paten yang menjadi sarana tempat tidurnya, kemudian mengambil nampan itu sembari menghela napas dengan suara keras. Tanpa melihatpun, ia sudah tahu jika didalam nampan itu berisi semangkuk bubur kacang merah, potongan wortel dan kacang panjang sebagai salad, dan sekotak jus jeruk. Menu makanannya tidak pernah berubah sejak ia pertama kali tiba disini.
Bosan? Pastinya. Tapi Kris tidak bisa mengeluh atau meminta makanan yang lain. Jika ia nekat melakukannya, ia justru tidak akan diberi makan sama sekali selama beberapa hari.
Tidak ada tempat untuk orang manja disini.
Lelaki jangkung dengan tinggi badan 187cm itu menyuapkan sesendok bubur kacang merah kedalam mulutnya. Ia memaksa dirinya melahap makanan yang terasa hambar itu agar ia memiliki cukup tenaga. Namun ketika mengambil suapan yang ke tiga menggunakan sendok plastik, ia menemukan sebuah ziplock kecil dengan secarik kertas didalamnya yang terbenam didalam bubur kacang merah itu.
Lelaki itu menoleh kearah lubang kecil dibawah pintu, memastikan jika tidak ada bayangan seseorang yang mendekat. Setelah ia memastikan jika keadaan cukup aman, dengan cepat ia mengambil ziplock itu menggunakan sendok plastik, kemudian menjilati sisi plastik ziplock yang menempel bubur kacang merah agar dapat melihat isi didalamnya.
Sebelum ia membuka ziplock itu, ia memeriksa keadaan untuk sekali lagi. Dia menelan ludah dengan susah payah ketika memberanikan diri untuk membuka ziplock itu dan mengambil kertas didalamnya. Kris terkejut begitu ia membaca surat yang ada didalam kertas itu;
Tanggal persidanganmu sudah ditetapkan, begitu pula hukuman yang akan kau dapatkan. Jika kau ingin kabur, kau harus menghapal dan mengikuti intruksi yang kubuat dengan teliti...
Setelah membacanya, lelaki itu tidak dapat membantu selain menyunggingkan senyum lebar. Didalamnya bahkan tertulis agar Kris harus sesegera membuang kertas itu ke dalam kloset begitu selesai membaca, agar tidak ada siapapun yang mengetahuinya.
Lelaki dengan dagu yang runcing itu menarik napas dalam-dalam begitu ia membuang barang bukti kedalam kloset. Entah mengapa rasanya ia menjadi pemeran utama dalam film action miliknya sendiri dengan adanya intruksi misterius itu.
Meski ia tidak tahu siapa pengirim dari kertas itu, Kris berterima kasih karena kertas itu telah memberinya harapan untuk keluar dari lubang neraka ini.
7
Sebelum sidang dilaksanakan seminggu setelah ia mendapat instruksi misterius itu, Kris telah mempersiapkan dirinya dengan sangat matang. Ia telah melatih fisiknya dengan push up, squat jump, dan lari ditempat untuk berjaga-jaga jika usahanya untuk kabur itu memerlukan kekuatan fisik seperti pada film-film action pada umumnya.
Jantung lelaki itu berdegub dengan kencang ketika ia mendengar seseorang menendang pintu sel penjaranya. "Ayo bangun, pemalas!" seorang sipir dengan rambut cepak muncul dari balik pintu, sambil membawa sebuah kantong besar berwarna hitam ditangannya dan sebuah borgol yang menggantung pada ikat pinggangnya.
Sipir itu menatap pada Kris sebentar sebelum ia memborgol kedua tangan Kris. Lelaki yang lebih pendek darinya itu tersenyum tipis sembari mengedipkan sebelah matanya kepada Kris sebagai pertanda—persis seperti instruksi yang surat itu berikan.
...4 jam sebelum sidang dimulai, kau akan dijemput oleh seseorang...
"Pakai ini dikepalamu," sipir itu terlihat tidak seperti orang Amerika, ia malah terlihat seperti orang China dengan mata sipit dan aksen yang kental ketika ia berbicara Bahasa Inggris.
Kris menurut, ia memakai kain itu sebagai penutup kepalanya. Setelah itu kedua tangannya diborgol, meskipun Kris menyadari jika borgol itu masih terkesan longgar. Selama perjalanan keluar dari rumah tahanan, Kris tidak dapat melihat apapun selain kegelapan. Dengan jantung yang berdebar kencang, Kris berharap jika rencana kaburnya itu berhasil.
...begitu keluar dari rutan, kau akan dibawa menuju lokasi persidanganmu menaiki bus...
Suara deru mesin terdengar jelas ditelinga Kris, ia bahkan bisa menebak jika tidak hanya ada satu atau dua orang yang ada didalam bus ini. Ketika memasuki bus itu, ia sempat mendengar suara beberapa langkah kaki. Apakah itu polisi dengan senjata lengkap? Ia tidak tahu.
Tidak lama berselang, tiba-tiba bus berhenti. Seseorang dari samping kirinya menarik lengan Kris agar lelaki itu bangkit dari kursinya. Kris mengikuti setiap langkah dari seseorang yang menariknya dengan hati-hati agar tidak jatuh atau menabrak sesuatu.
Ketika Kris dibawa ke sebuah ruangan dengan pengawalan ketat polisi bersenjata lengkap, ia tiba-tiba mendengar suara seseorang berbisik kepadanya, "Menikmati perjalanannya?" suara itu adalah suara yang sama seperti yang ia dengar di rutan—lelaki China dengan aksen yang kental itu.
Meskipun Kris tinggal di Vancouver seorang diri, lelaki dengan alis yang tebal itu sebenarnya terlahir dan besar di Guangzhou, China. Jadi tidak heran jika ia fasih berbicara dalam 2 Bahasa sekaligus. "Hm, tentu saja." Kris merajuk kepada lelaki itu menggunakan Bahasa China untuk menguatkan asumsinya. "kau, benar...?" ia melanjutkan dengan nada sedikit berbisik.
Lelaki itu melepas kain hitam dari kepala Kris dengan sekali usaha. Begitu Kris dapat melihat wajahnya dengan jelas, lelaki itu menjawab dengan Bahasa China dengan nada yang sedikit berbisik. "iya." Jawabnya singkat.
Kris menundukkan kepala, berusaha sekuat tenaga untuk menahan senyum. Ia tidak ingin seluruh rencana yang dibuat oleh orang itu gagal hanya karena dirinya. Seseorang dengan inisial L—yang menulis surat itu—menyuruhnya selalu berhati-hati untuk mengambil langkah karena ini bukan didalam video game. Karena sekecil apapun kesalahan yang ia lakukan dapat membuatnya terbunuh.
...tidak perlu panik. Bersikaplah relax dan jangan mengatakan yang hal tidak perlu...
"Anda saudara Kris Wu, benar?" suara tegas dari seorang Hakim paruh baya itu menggema ke seluruh penjuru ruang pengadilan yang disaksikan oleh puluhan orang berjas rapih, dan juga beberapa reporter yang berada dibarisan paling belakang dengan kamera canggih. Seolah tidak ingin melewatkan sesuatu, suara jepretan dan flash kamera DSLR memenuhi ruangan seperti cahaya pada permainan laser di sebuah konser pertunjukan.
"Itu benar..." Kris menjawab tepat pada mic yang ada dihadapannya dengan gugup. Keringat didahi lelaki itu menetes hingga ke pelipis matanya. "...saya Kris Wu." Lanjutnya hati-hati.
Hakim paruh baya itu menganggukkan meskipun pandangan matanya tidak mengarah pada Kris. Ia justru disibukkan oleh beberapa kertas yang ada didalam sebuah folder plastik, Kris berasumsi itu adalah berkas yang akan menentukan masa depannya.
"Saudara, apakah Anda didampingi oleh penasehat hukum?" tatapan mata yang tajam dari Hakim seperti sedang mengintimidasi lelaki jangkung itu.
"Iya yang mulia." Suara pelan dari sosok gagah itu menggema diseluruh ruangan persidangan.
Hakim paruh baya itu mengalihkan pandangannya pada sesosok lelaki dengan rambut cokelat yang tertata rapih, yang duduk pada kursi disebelah kanan Kris. "Apakah benar Anda adalah penasehat hukum dari saudara tersangka?"
Lelaki yang memakai blazer hitam itu menjawab dengan senyum yang mengembang pada wajahnya yang mungil, "Benar, yang mulia." Ia nampak percaya diri dengan setiap perkataan yang ia keluarkan. Tidak terlihat ketakutan atau apapun pada matanya.
Mendengar suara yang asing ditelinganya, Kris menoleh ke arah sumber suara sembari menyernyitkan dahinya. Lelaki dengan tinggi badan 187cm itu terkejut ketika melihat sosok yang tidak ia kenal terduduk ditempat yang seharusnya ditujukan kepada pengacaranya, Dong Si Cheng.
Ketika Kris hendak membuka mulut untuk berbicara, lelaki misterius itu mengedipkan sebelah matanya kepada Kris sebagai pertanda—sama seperti yang dilakukan sipir tadi. Kris terdiam sejenak ketika ia teringat dengan kalimat yang ia baca dalam surat itu.
...karena aku akan selalu mengawasimu. Kau akan menyadarinya ketika melihatku...
Lelaki itu terpaku. Ia membuang pandangannya kedepan untuk menatap Hakim yang sedang sibuk dengan kertas yang ada ditangannya. Sesaat kemudian ia meraih mic agar mendekat kedepan mulutnya, "Ehem. Jadi, apakah Anda sudah tahu jadwal hari ini adalah pembacaan keputusan?" Hakim Ketua yang cerdas itu terlihat seperti sedang membuka lembaran surat keputusan. "...kepada saudara tersangka, harap dengarkan dengan seksama. Dan kepada panitera, tolong catat apapun yang saya katakan tanpa ada yang tertinggal," lanjutnya dengan suara yang serak.
Ketika pembacaan putusan pengadilan dimulai, Kris menundukkan kepala. Suara-suara yang dilontarkan oleh Hakim menggema ditelinganya, menusuk jantungnya seperti anak panah yang menancap pada tubuh korbannya. Ia tersenyum ketika mendengar Hakim paruh baya itu menyebutnya sebagai seorang Hacker Profesional.
Kris menarik napas dalam yang panjang ketika Hakim Ketua hendak membacakan keputusan hukuman yang akan ia dapatkan. Kris langsung menegakkan badannya kemudian menoleh kearah pengacaranya yang berada disebelah kanan kursinya sambil menyernyitkan dahi. Anehnya, lelaki dengan wajah mungil dan tatapan yang tajam itu seolah tidak terlihat terkejut sedikitpun ketika mendengar jika hukuman yang akan Kris dapatkan adalah hukuman mati.
Dia seperti tahu segalanya.
Hasil persidangan hari ini cukup membuat gempar seluruh orang yang berada didalam ruang persidangan, tidak terkecuali warga yang menyaksikannya secara live melalui stasiun televisi di Canada. Kris yakin banyak orang yang bahagia ketika mereka mendengar hukuman yang akan ia dapatkan. Kris memang telah mengakui dosa yang telah ia perbuat kepada dunia. Dia tidak menyangka jika hidupnya akan berakhir tragis, tidak seperti pemeran utama dalam film action yang sering ia lihat.
Begitu sang Hakim mengetuk palu dua kali, ia menyatakan dengan suara tegas jika kasus telah ditutup. Para reporter yang sendari tadi menunggu dibaris paling belakang, seketika berlarian untuk mendekati Kris yang tengah diapit oleh dua orang polisi. Mereka menyodorkan mic pada Kris dan menanyakan apa yang ia rasakan ketika Hakim telah menentukan hukumannya. Namun alih-alih sempat menjawab, Kris telah ditarik keluar oleh dua polisi itu untuk kembali ke dalam tahanannya, persis seperti yang kertas itu katakan.
...setelah persidangan selesai, kau akan kembali kedalam rutan bersama tahanan lain. Aku akan memberikan instruksi singkat sebelum itu...
"Hei tunggu, aku ikut!" lelaki bermata rusa itu tampak kesusahan untuk menyusul langkah cepat para polisi yang membawa client-nya pergi dengan tergesa-gesa. Napasnya tersenggal begitu berhasil mengikuti Kris yang berhenti didepan bus yang akan lelaki jangkung itu naiki.
"Berikan aku waktu sebentar untuk berbicara dengan clien-ku." Lelaki itu berbicara pada dua polisi itu dengan tegas. "senang bertemu denganmu, Kris Wu." Sesosok lelaki yang menyamar sebagai pengacaranya itu beralih kepadanya menggunakan bahasa China dengan fasih. Lelaki itu tersenyum kepada Kris seolah seperti sedang menyimpan sesuatu.
"Apa itu kau?" tanya Kris dengan hati-hati meskipun ia cukup yakin jika tidak ada satupun dari kedua polisi itu mengerti apa yang mereka katakan.
"Benar. Itu aku." Lelaki itu mengakui. "aku tidak memiliki waktu banyak. Disaat kau membuka mata, kau harus melihat apa yang tidak dapat kau lihat." Begitu ia selesai bicara lelaki itu tersenyum dengan lembut, meninggalkan Kris dengan pernyataan membingungkan yang keluar dari mulutnya.
"Melihat apa yang tidak dapat kau lihat?" Kris menirukan kalimat yang lelaki itu katakan.
"...kalau begitu aku mengundurkan diri, Mr. Wu! Senang bertemu denganmu." Ia menepuk bahu salah satu polisi itu satu persatu sebagai tanda perpisahan. "kita akan bertemu lagi." ia melanjutkannya menggunakan bahasa China dengan penekanan pada setiap katanya.
Lelaki bernama Luhan itu menghela napas panjang ketika langkah kakinya semakin menjauhi bus yang akan di naiki Kris. Ia mengambil kacamata hitam didalam saku blazernya, kemudian ia memakai kacamata itu untuk menutupi wajahnya dari sorotan media. "Oh! Benar. Aku lupa membeli makeup remover." Ia bergumam di sepanjang jalan menuju mobil sewaan yang ia bawa. "jika saja Dong Si Cheng sialan itu tidak sakit perut disaat-saat terakhir, mungkin aku tidak akan pernah menggunakan makeup sialan ini. Bagaimana jika wajahku bisa dikenali." Lelaki itu tidak berhenti bergumam kepada dirinya sendiri.
Luhan memencet remote agar kunci pintu mobil terbuka. Begitu masuk kedalam mobil KIA Forte putih itu, ia menatap wajahnya sendiri menggunakan spion mobil dengan tatapan jijik yang kentara pada wajahnya yang mungil. "Fuck, kenapa Victoria jiejie memberikan makeup dengan tahi lalat sebesar ini yang terlihat menggelikan?" ia menyentuh tahi lalat buatan yang berada diatas bibirnya itu, berusaha menghapusnya menggunakan ibu jarinya. Tapi tidak berhasil. "kenapa ini tidak bisa hilang?! Brengsek, apa yang wanita itu lakukan pada wajahku?" geramnya kesal. "jangan bilang dia menggunakan tattoo temporer?!" Luhan mengeram gemas, bersamaan ketika ponsel yang ada pada saku celananya berbunyi.
"Speak!" sentak Luhan setelah ia menerima sambungan telepon itu.
"Lu, semuanya sudah siap. Aku berhasil menyempurnakannya." Kerutan pada dahi Luhan sirna ketika lelaki itu mendengar suara serak anak buahnya.
"Oh~ roger that!" Ia langsung menutup sambungan telepon itu begitu selesai bicara. "hoho, tidak lama lagi kau akan keluar dari lubang neraka itu, Kris." gumam Luhan dengan seringai puas diwajahnya. Lelaki itu kemudian menyalakan mesin mobil dan menancap gas keluar dari lokasi sidang dilaksanakan.
7
Luhan memarkirkan mobil sewaannya didepan sebuah gedung kosong dengan rumput yang meninggi pada halamannya, dan lumut yang nempel pada dinding semen yang telah dimakan usia. Lelaki itu menoleh kearah mobil Maserati GrandTurismo hitam yang tiba disana terlebih dulu sebelum dirinya.
Lelaki itu keluar dari mobil sewaannya, kemudian memeriksa setiap inci mobil itu hingga pada keempat bannya. Dia tersenyum puas setelah melihat mobil kesayangannya itu tidak terlihat memiliki kecacatan fisik. Jujur saja, Luhan tidak suka ada seseorang yang menyentuh barang pribadinya. Jika saja bukan karena pergi ke pengadilan sialan itu untuk menggantikan Dong Si Cheng, ia tidak akan pernah mau menggunakan mobil murahan seperti yang ia pakai tadi.
Suara langkah kaki Luhan menggema ketika ia berjalan semakin kedalam bangunan tua itu. Ia dengan percaya diri menuruni tangga hingga menemukan sebuah pintu cokelat gelap dengan papan bertuliskan "DANGER HIGH VOLTAGE KEEP OUT" dengan warna hitam dan merah yang terlihat mengerikan. Lelaki itu mengetuk dua kali sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan itu. Tidak seperti bagian depannya yang terlihat menyedihkan, ruangan yang Luhan masuki itu cukup nyaman untuk ditinggali. Dengan AC, tiga layar komputer dalam satu meja, kulkas mini, dan satu tempat tidur yang penuh dengan tumpukan baju yang berserakan.
"Chen," suara tegas dari Luhan membuat seseorang yang dipanggil Chen itu menoleh. Lelaki berperawakan kurus itu memamerkan senyum yang aneh kepada bossnya selama beberapa saat, kemudian tatapan matanya beralih pada layar komputer didepannya dengan kerutan pada dahinya. "aku berhasil mengeblur wajahmu sedikit ketika siaran live tadi. Aku jamin tidak ada yang mengenalimu. Ditambah dengan tahi lalat sebesar itu, pfftt... siapapun yang mengira kau Luhan—pewaris tunggal dari Lu Corp; mereka pasti akan berpikir dua kali."
Lelaki dengan tahi lalat buatan dibawah bibirnya itu tampak tidak senang dengan bercandaan yang dilontarkan Chen kepadanya. "Bisakah kau berhenti? Victoria jiejie mempermainanku! Si sialan itu..." Luhan menarik kursi disebelah Chen dengan kasar.
"Itu artinya dia menyayangimu, Lu ge. Aku terkejut Victoria jiejie mau membantumu dalam kasus ini. Tidak biasa-biasanya dia ikut campur, kau tahu?" Chen menyandarkan punggungnya pada kursi gaming berwarna merah dengan nyaman.
"Aku tidak tahu apa yang ada didalam pikiran wanita." Luhan menarik wig yang ia pakai, dan menampakkan rambut emas miliknya dengan bangga. Lelaki itu kemudian melempar wig itu keatas ranjang beserta blazer yang ia pakai tadi.
Victoria Song adalah seorang Beauty Blogger yang terkenal karena kecantikan alami yang ia miliki. Didalam Channel YouTube-nya, ia menginspirasi banyak kaum muda untuk mencintai tubuh mereka. Victoria juga banyak melakukan tutorial makeup yang membuat namanya semakin dikenal di Negaranya. Dan yang paling mengejutkan dari itu semua, Victoria adalah sepupu dari Chen.
"Ah! Aku lupa memberitahumu. Pengacara Dong tiba disini beberapa menit yang lalu. Dia meminta maaf karena tidak dapat datang ke persidangan. Dia mengatakan padaku jika telah keracunan makanan, atau sesuatu." Chen memasukkan tangannya kedalam bungkus kripik kentang favoritnya. "dia meninggalkan tiga dus beer kaleng disana..." ia menunjuk kearah sebelah pintu masuk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
"Si sialan itu memang tidak bisa diandalkan." Lelaki itu mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku celananya sambil menghela napas dengan keras. "aku akan membunuhnya jika bertemu nanti. Yang sekarang jadi prioritas utama kita sekarang adalah mengeluarkan Kris dari penjara itu bagaimanapun caranya."
Chen membuang pandangannya dari layar laptop miliknya untuk menatap Luhan, "Kenapa kau terobsesi untuk mengeluarkan Kris dari sana? Memang apa yang telah dia lakukan hingga membuatmu tertarik?" ia menoleh kearah Luhan yang duduk ditepi ranjang dengan kedua tangan yang terlipat dibawah dadanya.
"Mmm..." jeda yang cukup lama bagi Luhan untuk menjawab pertanyaan Chen. "mungkin itu karena hutang budi." Ia melanjutkan dengan nada sedikit bimbang.
"Kau tidak sedang bercanda 'kan?" Chen menyadari keganjilan pada setiap kalimat yang lelaki itu katakan padanya, seolah Luhan menyembunyikan sesuatu.
Luhan tidak sepenuhnya berkata jujur kepada Chen. Pertemuan pertama Luhan dengan Kris berlangsung bertahun-tahun yang lalu ketika mereka berdua berada di sekolah tinggi. Waktu itu Luhan sering terkena bully teman-teman sebayanya karena memiliki keluarga yang kaya. Dan Kris yang waktu itu menjadi murid baru dan tidak memiliki teman, ia menemukan Luhan terkunci didalam gudang olahraga dengan wajah yang babak belur dan seragam sekolah yang penuh lubang.
Setelah perlakuan yang tidak terduga oleh teman-teman sebayanya itu, ayah Luhan murka. Ia langsung memindahkan anak semata wayangnya ke Sekolah Asrama yang ada di Australia pada keesokan harinya. Sejak kejadian itu, ia tidak pernah bertemu dengan Kris lagi.
"Berhenti bermain-main, Chen. Aku tidak membayarmu untuk bersantai." Gertak Luhan pada Chen yang sejak tadi melontarkan pertanyaan seperti sedang menginterogasinya.
"Kau bahkan tidak membayarku sepeserpun!" serobot Chen tidak terima.
"Tepat sekali."
"Lalu... kapan kau akan kembali ke China? Kau tidak mungkin tinggal di Canada dalam waktu yang lama, 'kan?" Luhan tidak menjawab pertanyaan Chen. Lelaki dengan rambut pirang itu menundukkan kepalanya dengan dahi yang mengkerut. "aku tidak keberatan kau tinggal di sini lebih lama, mate. Sungguh. Tapi aku tidak ingin ikut campur dengan urusan keluargamu."
Mau tidak mau Luhan menganggukkan kepalanya.
7
Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Degup jantung Kris berdetak lebih kencang dari biasanya mengingat hari ini adalah hari terakhir ia akan hidup didunia—setidaknya itu yang ia pikirkan. Kris bangun lebih awal untuk mempersiapkan dirinya. Ia tidak tahu bagian tubuh mana yang akan terkena timah panas nantinya. Ia bahkan berharap jika rasa sakit yang akan ia rasakan tidak berlangsung lama agar ia tidak tersiksa.
Ia tidak tahu harus mempercayai kata-kata dari kertas itu atau tidak. Fakta jika ia akan tetap dijatuhi hukuman mati tidak berubah sama sekali. Ia bahkan tidak mengerti apa maksud lelaki itu ketika pertama kali bertemu dengannya.
"Melihat apa yang tidak dapat kau lihat?—jangan bercanda." Ia mondar-mandir disekeliling sel khusus miliknya dengan tangan yang berkeringat karena gugup.
Knock knock
Mendengar suara ketukan jari dari seseorang dibalik pintu metal itu, Kris bangkit dari ranjang paten yang ia tiduri agar dapat mendekat kearah sumber suara. Begitu Kris mendekat, tiba-tiba ada seseorang yang melemparkan ziplock kecil berisi dua butir kapsul berwarna pink-putih dari lubang dibawah pintu. Sepertinya seseorang itu menendangnya menggunakan kaki agar tidak terlihat mencurigakan.
...sebelum sipir membangunkanmu pukul 09:00 AM, usahakan kau telah bangun 1jam lebih awal karena kau akan mati satu kali...
Kris mengambil ziplock itu agar dapat melihat dua butir kapsul itu dengan teliti. Inikah racikan obat yang akan membuat jantungnya berhenti berdetak sementara? Pikir Kris dari dalam hati. Ia takut jika itu justru benar-benar membunuhnya.
Kris memberanikan dirinya mengambil langkah yang tidak pernah ia tempuh sebelumnya. Ia tidak pernah menyentuh narkoba sebelumnya, jadi ia tidak tahu efek apa yang akan ia dapat ketika pertama kali meminumnya. Lalu dua butir kapsul? Apakah itu sama dengan bunuh diri?
What the hell, dia akan mati juga nantinya.
Lelaki itu menelan obat itu dengan air yang berasal dari washtub.
Jantung Kris berjalan sangat lambat, bahkan nyaris dapat terdengar. Efek yang diberikan pada obat itu berlangsung selama 5jam, dan ketika Kris berada dalam tahap kehilangan kesadaran hingga mengarah ke koma, banyak orang yang menganggap Kris telah mati. Mereka sempat membawa Kris ke rumah sakit yang tidak jauh dari rutan, namun karena dokter tidak dapat merasakan denyut nadi dari lelaki itu, Kris akhirnya di nyatakan meninggal dengan diagnosa yang masih tidak jelas karena belum diadakannya pemeriksaan otopsi.
Ketika Kris tersadar dari tidur panjangnya, lelaki itu terbangun didalam tempat yang sangat gelap dan dingin. Tidak salah lagi, ia berada didalam lemari pendingin bersama dengan mayat lainnya. "Kau harus melihat apa yang tidak dapat kau lihat, huh?" gumam Kris menggunakan bahasa China sembari menendang pintu itu berkali-kali.
Begitu ia berhasil membuka pintu itu menggunakan kakinya, Kris menyentuh dinding stainless steel lemari pendingin disamping tubuhnya untuk mendorong trolinya keluar. "Sial. Baunya busuk sekali disini." Ia berbisik kepada dirinya sendiri sembari menutup hidungnya. Entah ada berapa mayat yang berada diruangan itu sekarang. Tapi alih-alih Kris merasa takut, ia justru merasa bahagia karena dapat terbebas dari lemari pendingin itu.
Lelaki dengan rahang yang tegas itu menoleh ke kanan kiri untuk memeriksa keadaan begitu ia berhasil keluar. Ia mengusap dadanya dengan lega karena tidak ada siapapun disana yang melihatnya bangkit dari kematian. Entah kekacauan apa yang akan terjadi didalam Rumah Sakit itu jika ada seseorang yang melihatnya.
...sebelum keluar, pakai jubah putih dan masker untuk menutupi dirimu...
Kris mengambil jubah putih dokter yang menggantung di dinding dekat pintu masuk. Namun ia tidak melihat masker disana. Ia berjalan mendekati meja dengan beberapa folder yang tersusun rapih. Dan benar seperti asumsinya, ia menemukan sekotak sarung tangan latex dan masker di atas meja itu. Namun ketika ia hendak memasang masker dan sarung tangan itu, pintu tiba-tiba terbuka dengan suara langkah kaki beberapa orang yang mendorong tempat tidur pasien.
Sepertinya ada seseorang yang baru saja meninggal sehingga mereka membawanya kemari.
Kris cepat-cepat memasang masker itu pada wajahnya sebelum mereka melihat wajah lelaki itu. Ia juga sengaja untuk memasang sarung tangan latex seolah-olah ia baru saja melakukan pemeriksaan terhadap mayat yang ada disana.
"Oh! Ada seseorang disini!" seorang wanita terkejut ketika melihat tubuh jenjang Kris yang berdiri disudut ruangan. Wanita dengan rambut pirang itu menghampiri Kris, berniat untuk melihat wajah lelaki itu, "maafkan saya, Dr. Evans," ia melihat plat nama yang ada pada jubah putih yang ia pakai.
"Ti-tidak masalah," Kris menjawab dengan suara serak yang khas.
"Bukankah ini jam makan siang Anda, Dok? Anda tidak istirahat?" wanita itu menyernyitkan dahi, sementara rekan-rekannya memeriksa beberapa berkas dari mayat yang baru tiba itu.
"Benar. Ini jam makan siangku. Jadi sebaiknya aku pergi sekarang," ucap Kris dengan tangan yang gemetaran karena takut ketahuan. Lelaki itu melangkahkan kakinya yang panjang untuk keluar dari ruang mayat itu secepat yang ia bisa. Namun ketika ia berhasil keluar, wanita itu tiba-tiba berteriak memanggilnya lagi.
"Tunggu!" mendengar suara teriakan itu membuat jantung Kris berpacu dengan kencang.
Apakah dia ketahuan? Apa yang harus Kris lakukan jika penyamarannya terbongkar?
"Tunggu sebentar. Wow, Anda berjalan cukup cepat juga." Wanita itu memberikan kacamata milik Dokter-Evans-yang-sebenarnya kepada Kris. "Anda melupakan ini." Ia berkata. "lalu apa Anda sudah memeriksa mayat seseorang atas nama Kris Wu yang baru saja masuk hari ini?" ia melanjutkan.
Setelah mengambil kacamata bulat dari tangan wanita itu, Kris menjawab dengan gugup, "A-aku belum sempat memeriksanya karena sekarang jam makan siangku, 'kan?"
"Oh benar. Maaf telah mengganggu, Dr. Evans." Setelah berbicara, wanita itu langsung pergi.
...setelah berhasil keluar dari Rumah Sakit, cari mobil hitam berpintu dua dengan jendela yang terbuka setengah. Kau akan bertemu denganku disana. —L
Kris mempercepat langkah kakinya menuju parkiran mobil yang terletak tidak jauh dari pintu utama dimana ia keluar tadi. Dari 30 lebih mobil yang ada disana, hanya ada 7 mobil dengan pintu dua. Lelaki itu sampai melihat setiap jendela pada mobil yang ia temukan, hingga ia melihat mobil Maserati yang terletak dibawah pohon dengan jendela yang terbuka setengah, dan seseorang yang terlihat seperti sedang memegang rokok elektik yang duduk di kursi pengemudi.
Tanpa mau berpikir panjang, lelaki dengan alis tebal itu mendekati mobil hitam itu dan duduk di kursi samping pengemudi. "Oh, kau sudah datang." Lelaki itu menyapa Kris dengan ramah. "bagaimana perjalanannya? Menyenangkan? Atau menegangkan?" wajah lelaki itu nampak tidak asing di ingatan Kris.
"Bisakah kita pergi dari sini secepatnya?" Kris melepas masker wajah dan sarung tangan latex yang ia pakai. "aku tidak ingin mereka menemukanku." Desak lelaki itu dengan titik-titik keringat yang muncul di dahinya.
"Tidak perlu khawatir. Aku sudah mengganti tubuhmu dengan tubuh orang lain. Jadi mereka tidak akan menaruh curiga." Lelaki dengan wajah mungil itu meletakkan rokok elektriknya sebelum ia menyalakan mesin mobil kesayangannya. "kau beruntung tidak mati, kau tahu? Dua kapsul seharusnya dapat membuat gangguan pada jantung dan hipotensi..." Luhan terkikik karena ucapannya sendiri.
"Sial! Lalu kenapa kau memberiku dua kapsul jika kau tahu akan memberikan efek samping yang mengerikan seperti itu?!"
"Buktinya kau baik-baik saja sekarang," lelaki itu memutar bola matanya dengan malas, "orang kepercayaanku mengatakan setiap tablet akan memberikan efek 2,5jam saja. Jadi aku berpikir... mereka tidak mungkin menyelesaikan pemeriksaanmu hanya dalam 2,5jam. Karena itu aku memberimu dua kapsul." ia menjelaskan. "aku jenius 'kan?" lelaki itu memamerkan deretan giginya yang seputih salju dengan bangga didepan Kris.
"Jenius? Apa kau gila?" gerutu Kris tidak berhenti.
"Ngomong-ngomong, namaku Luhan. Aku belum memperkenalkan namaku secara resmi padamu." Ia menyodorkan tangannya untuk berjabat dengan Kris. Tapi lelaki jangkung itu malah menyentuh kepala Luhan, dan mengarahkan pandangan Luhan ke depan.
Ia kemudian melepas kepala Luhan sambil berkata, "Bisa kita pergi dari sini?"
7
to be continued. . .
