Sawada Tsunayoshi bergidik di bawah tatapan sang boss Varia. Udara di ruang kantor tua milik boss generasi pertama Cavallone tersebut terasa berat dan panas. Bukan karena debu yang menumpuk selama berpuluh-puluh tahun, bukan juga karena sinar matahari yang terik menyebrot dari balik tirai tipis.

Tsuna dapat mendengar dua guardiannya yang berdiri di belakangnya dengan tegang. Suara desahan napas berat Yamamoto dan decakan ludah Gokudera yang tengah menggigit bibirnya sedikit menenangkannya. Paling tidak di dalam ruangan ini masih ada yang mendukungnya.

Xanxus duduk di kursi besar di balik meja kantor antik milik sang leluhur Cavallone. Seperti biasa dengan wajah angkuh yang ditumpu oleh satu tangannya dan satu kaki di tumpangkan ke kaki lainnya. Mata merahnya mendelik garang ke arah Tsuna seperti biasa. Tatapan mata lelaki itu selalu menurunkan suhu ruang beberapa derajat setiap kali Tsuna bertemu dengannya, namun kini tatapan itu terasa jauh lebih panas.

Di belakangnya berdiri Squalo dan Leviathan, masing-masing berada di bagian kanan dan kiri sang boss Varia tersebut. Levi memandang pada Boss Vongola dan dua guardiannya bagaikan mereka musuh berbahaya yang patut dibasmi. Sedangkan Squalo terlihat agak lelah dan waswas, seakan berusaha mendengarkan sesuatu yang tidak berada di ruangan itu. Pandangan matanya terus berpindah dari Xanxus dan ke arah sebuah pintu di sebelah kanannya yang tersambung ke kamar tidur utama.

Setelah mendengar kabar Hibari tertangkap di markas tua Cavallone dan diamankan oleh para anggota Varia, Tsuna ditemani Gokudera, Yamamoto dan Mukuro segara menuju markas tua Cavallone itu. Mereka tentu saja disambut dengan tatapan dingin dan beberapa pekikan amarah dari orang-orang yang tersisa dari keluarga Cavallone dan bawahan-bawahan anggota inti Varia. Tsuna, Gokudera dan Yamamoto diantarkan langsung ke hadapan Xanxus, sedangkan Mukuro menawarkan diri untuk menjemput Hibari yang disekap di penjara bawah tanah.

Tsuna menelan ludah dengan gugup dan berusaha menenangkan diri saat matanya bertemu tatapan tajam Xanxus,

"Lama tidak bertemu... Xanxus." Tsuna memulai, berharap suaranya tidak terdengar bernada tinggi seperti yang biasa dilakukannya saat gugup.

Xanxus mendecak tajam, seakan meremehkan keberadaan Tsuna, "Jadi apa yang bisa kau jelaskan lagi hmm? Sampah?"

Tsuna menghela napas, ia bisa mendengar suara benturan gigi Gokudera yang tengah menelan kembali segala sumpah serapah yang biasa dilontarkannya–andaikan keadaan tidak setegang ini tentu saja–sang boss muda Vongola sangat bersyukur guardian nya yang satu ini kini lebih dapat mengendalikan diri.

"Kurasa Squalo sudah memberi tahukanmu tentang yang didengarnya dari Irie-kun. Aku mengerti ini sulit dipercaya, dan aku yakin kau akan menyalahkanku, dan aku memang tidak punya alasan untuk menyangkal apa yang telah kami lakukan setahun ini... Tapi aku benar-benar ingin memastikan bahwa kami bertujuh benar-benar tidak sadar saat melakukan hal-hal buruk yang terjadi selama ini"

Xanxus tidak menjawab. Bibirnya yang melengkung turun beberapa mili, dan alisnya berkedut. Tanda bahwa mood nya makin lama makin memburuk. Sebuah tanda-tanda yang telah dipelajari Tsuna dengan cukup baik selama sepuluh tahun ini.

Cepat-cepat, Tsuna menambahkan, "Ka-karena itu, aku... er.. berharap bisa meminta kerja sama Varia untuk menyelidiki–"

Tiba-tiba sebuah geraman dalam terdengar dari belakang Xanxus, menyela kalimat Tsuna,

"Jangan katakan apa-apa lagi sampah busuk! Setelah apa yang kalian lakukan pada kami, jangan harap kami masih mau berhubungan dengan Vongola lagi!" seru Leviathan panas sambil mengambil ancang-ancang untuk menyerang.

Gokudera dan Yamamoto menyiapkan senjata masing-masing, bersiap untuk melindungi Tsuna dengan taruhan nyawa. Namun keriuhan dengan seketika terpecahkan oleh sebuah tembakan pistol Xanxus yang nyaris mengenai kaki Levi dan menghasilkan sebuah cekungan besar di lantai marmer.

"Tutup mulut kotormu itu sampah. Kalau kau ingat Varia juga masih bagian dari Vongola yang diwariskan ayahku ke bocah kecil ini." salak Xanxus tajam kepada bawahannya.

"...Dan kau... Sawada Tsunayoshi..." Xanxus berbalik menatap Tsuna yang memekik kaget saat namanya dipanggil, "Aku tidak peduli apa cerita dongengmu tentang dikendalikan atau apapun itu. Yang kutahu kau dan teman-teman kecilmu telah merusak citra Vongola yang dibangun selama sepuluh generasi." Xanxus berhenti sejenak dan menyipitkan sebelah mata dengan kesan jijik.

"Walaupun aku tidak peduli tentang apa yang dipikirkan sampah-sampah lemah dari keluarga lain, tapi sebagai kepala Varia aku tidak ingin Varia dianggap mendukung kalian dalam keributan selama setahun ini. Karena itu kami dari Varia tidak akan memberi bantuan pada kalian"

Tsuna menghela napas dan menundukan kepalanya. Namun, tiba-tiba Xanxus melanjutkan,

"Sampai terbukti bahwa ada pihak luar yang campur tangan. Dengan begitu kami akan memberi bantuan sepenuhnya dan membantu memperbaiki nama Vongola"

Wajah Tsuna dan guardiannya mencerah, sedikit harapan dapat terlihat di kilau mata mereka.

"Kau berbicara seperti seorang boss sejati Xanxus..." Tiba-tiba suara ramah yang familiar di telinga Tsuna dan kawan-kawan terdengar.

"Dino-san!" Suara Tsuna bergetar melihat sosok 'kakak'nya yang duduk di kursi roda.

Tanpa sepengetahuan mereka, pintu di samping meja kantor Xanxus terbuka dan Dino dengan didorong Romario menyelinap masuk ke dalam,

Tsuna telah mendengar kabar dari Shouichi dan juga Hibari tentang keberadaan saudaranya itu, namun ia tidak membayangkan Dino benar-benar terlihat lemah dan rapuh seperti yang berada di hadapannya saat ini. Mata cokelatnya kini pucat dan tidak terfokus, tubuhnya terlihat begitu kurus dan rambut pirangnya tidaknya bercahaya seperti dahulu.

Dino tersenyum ramah dan berkata, "Kata-katamu benar-benar bijak Xanxus, tapi aku akan lebih menghargainya apabila kau tidak merusak ruangan kantor warisan leluhurku ini..."

Xanxus mendecak tajam, "Apa maumu Haneuma? Bukankah kamu seharusnya tidak bangun dari tempat tidur hah? Dasar sampah lemah"

Sang Boss Cavallone tertawa kecil, "Aku minta maaf telah membuat keributan pagi tadi, namun aku mendengar kabar adiku yang manis jauh-jauh datang ke sini. Sangat tidak sopan kan kalau aku tidak bangun untuk menyambutnya?"

"VOOII! PAK TUA! Bukannya kubilang jangan bilang-bilang dia kalau Sawada akan datang?" Bentak Squalo kepada Romario.

"Hush Squalo.. Jangan marah pada Romario... Saat kamu tidak bisa melihat, telingamu jadi tajam tahu... Tentu saja aku bisa mendengar bisikan-bisikan kalian di depan pintu kamarku... Lagipula, aku tidak selemah itu kok... Terima kasih ya..."

Squalo menghela napas, " Jadi usaha kami tadi memberimu obat tidur di minumanmu agar kau tidak perlu bertemu dengan cecunguk ini sia-sia?"

"Hahaha aku menumpahkan minuman itu ke pot bunga" Jawab Dino sambil tertawa

"Nah, sekarang pembicaraanmu dengan Tsuna selesai kan Xanxus? Boleh kan aku membawa Tsuna untuk makan siang bersamaku?"

Xanxus hanya meneguk minumannya dan melambaikan tangannya, "Terserah, bawa dia kemana saja. Yang penting hilang dari hadapanku."

"Baiklah!" Seru Dino ceria "Ayo Tsuna, makan di luar yaa"


Mukuro berjalan menuruni tangga, menuju penjara bawah tanah yang usianya sudah beberapa ratus tahun. Ruang bawah tanah itu gelap dan lembab, satu-satunya cahaya hanya berasal dari lentera yang dipegang oleh Fran.

Mukuro berdecak melihat muridnya, yang jelas-jelas terlihat gugup. Walau tidak terlihat dari wajahnya yang tanpa ekspresi, namun melihat Fran sama sekali tidak melontarkan kalimat-kalimat kurang ajar yang akrab didengar Mukuro, membenarkan bahwa saat ini Fran merasa sangat tidak nyaman atas kehadirannya.

Hal ini mengganggu perasaan Mukuro, ia sudah biasa memperlakukan Fran dengan kasar sejak kecil, dan anak itu pasti selalu bisa menjawab dengan perkataan-perkataan santainya yang khas. Memang bila Mukuro menjadi kejam dalam satu tahun ini, sekejam apa ia sampai anak ini akhirnya bisa tahu apa arti rasa takut?

Akhirnya mereka sampai di ujung tangga, di bawah terdapat ruangan kecil dengan pintu kayu di ujung. Di sebuah kursi tua di samping pintu itu, dengan sebuah lentera di tangan duduk sang pangeran muda Varia, agaknya terkena bagian menjaga sang tawanan yang meringkuk di belakang pintu tersebut,

"Ah! Kodok! Ngapain kamu turun ke sini? Mau temenin pange–" Saat melihat Mukuro, Belphegor dengan segera meloncat berdiri dengan pisau khasnya siap di tangan.

"Tenang.. Tenang Senpai... Ma– ...Orang ini... kesini mau jemput orang itu..." Fran menunjuk pintu kayu yang kokoh itu.

Bel melengkungkan senyum terbalik, "Kamu yakin?"

"Orang ini datang dengan bossnya kok. Dia lagi ketemu boss di atas."

"Ya sudah... Hei! Cepat bawa si aneh ini! Dia enggak bergerak sama sekali sejak kulempar masuk ke dalam!" Seru Bel sambil membuka kuncinya.

Mukuro melongokan kepala ke dalam penjara sederhana itu dan menghela napas,

"Oya oya... Kau terlihat menyedihkan sekali... Hibari Kyoya..."

Hibari terlihat meringkuk di lantai batu penjara itu, kepalanya terkulai dan kedua tangannya memeluk lengannya kencang. Ia tidak menjawab Mukuro, hanya memandangnya dengan tatapan kosong dan kembali membenamkan kepalanya ke kedua lengannya.

"Sudah kubilang jangan terburu-buru memberi tahu identitasmu pada Haneuma... Kamu benar-benar gegabah..." Mukuro berlutut di samping Hibari dan menarik lengan sang guardian terkuat itu.

"...Dia... Membenciku..." Bisik Hibari

"Apa?"

"Haneuma... Dia membenciku..."

Mukuro menghela napas, "Tidak ada yang bisa kau lakukan dengan berdiam diri di sini... Ayo bangun!" Mukuro menarik Hibari lebih kencang.

Dengan lemas Hibari akhirnya berdiri dan berjalan lunglai mengikuti Mukuro keluar penjara bawah tanah. Di luar, Fran sedang berbicara dengan seseorang melalui earphone yang terpasang.

"Ya... Baiklah.." Ia memutuskan hubungan telepon itu, "Bel-senpai, kita disuruh ke atas." Fran berbalik dan menghadap Mukuro dan Hibari,

"Kalian juga. Sekarang boss kalian sedang makan siang dengan Don Cavallone. Kalian disuruh bergabung dengan rekan-rekan kalian dan menunggu perintah selanjutnya nanti."

Fran dan Bel menaiki tangga sempit itu duluan dan lenyap dari pandangan.

"Haneuma... makan siang dengan Tsunayoshi?" tanya Mukuro "Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi... Melihat reaksinya saat bertemu denganmu tadi." Lanjut sang ilusionis itu dengan nada mengejek, berusaha membangun sedikit amarah di hati sang awan. Apa saja selain kesuraman yang menghantui Hibari.

Saat Hibari tidak juga menjawab, Mukuro menghela napas, "Sudahlah... Ayo kita naik dulu..."


Di sebuah meja di balkon yang bermandikan sinar matahari, makan siang yang cukup mewah tersajikan bagi kedua boss kesepuluh keluarga Vongola dan Cavallone tersebut. Walau Dino telah meminta bawahan-bawahannya untuk meninggalkan mereka untuk privasi, Tsuna tahu bahwa di balik bayangan setiap pilar di balkon itu terdapat satu orang Cavallone ataupun bawahan Varia mengawasi kalau-kalau ia menunjukan gerak gerik yang dapat melukai Dino.

"Jadi... Bagaimana kabarmu Dino-san?" ujar Tsuna, berusaha membuka percakapan. Di hadapannya kakak seperguruannya sedang menyantap sebuah roti yang disediakan sebagai makanan pembuka. Sejak tadi, Dino belum juga menyentuh topik pembicaraan yang ditunggu-tunggu. Melainkan lelaki itu malah terus berbicara membanggakan rumah antik yang kini didiaminya itu.

"Yaah seperti ini lah Tsuna... Namanya juga sudah tua hahaha sakit-sakitan~" Dino bergurau, berlagak seperti orang tua.

Tsuna ikut tertawa melihat tingkah laku sang Boss Cavallone yang selalu akrab itu, hatinya agak menenang setelah sepagi ini begitu gugup akan Xanxus.

"Jangan begitu ah, Dino-san kan masih awet muda" Jawab Tsuna di sela tawanya.

Dino tersenyum, "...Kelihatannya kau benar-benar sudah kembali ya Tsuna... Aku senang mendengar suaramu sudah hangat seperti biasanya..."

"Dino-san..." Tsuna menelan ludah.

"Orang-orang banyak yang mengira kamu akhirnya termakan dunia mafia sehingga melakukan tindakan-tindakan gegabah itu, tapi aku kan kenal kamu sejak kamu kecil, aku tahu kamu bukan orang seperti itu." Dino berhenti sejenak,

"Yah... Walaupun terakhir kali kukatakan hal itu di depan wajahmu..." Pandangan mata Dino yang tidak dapat melihat beralih ke kedua kakinya yang kini hanya bisa terkulai tak berdaya di atas kursi roda.

"Dino-san... Maafkan aku..." Tsuna menggigit bibirnya, "Aku tahu tidak ada yang bisa kukatakan untuk... memperbaikinya... tapi..."

"Sudahlah Tsuna... Jangan menyalahkan dirimu lagi... Nah... Mari sekarang kita mulai membicarakan alasan aku mengundangmu makan siang ya?"

Tsuna berhenti berbicara dan meraih gelas anggurnya. Pandangan matanya tertuju ke Dino yang tengah memainkan untaian-untaian fettuccini nya.

"Alasanku mengundangmu ke sini untuk mengatakan, bahwa aku ingin mengajukan agar aliansi Cavallone dan Vongola diputuskan sampai sini saja..."

Tsuna membelalakan matanya dan menelan ludah, "A..Aku tahu apa yang kami lakukan sudah kelewatan... Tapi aku tidak akan menyetujui permohonan itu."

Dino menghela napas, "Tsuna... Bagaimana menurutmu orang-orangku akan bereaksi kalau kubilang kami akan kembali bekerja sama dengan Vongola hmmm? Mungkin kau belum begitu menyadari skala keributan yang terjadi selama setahun ini... Orang-orang pasti menyimpan segala macam dendam dan hanya akan membangun konflik yang tidak diinginkan..."

"Aku mengerti kerisauan Dino-san... Tapi jawabanku tetap tidak... Vongola akan bertanggung jawab atas segala macam kerusakan yang kami timbulkan... Dan... Kami juga akan menjelaskan hal yang terjadi secara resmi pada bawahan-bawahan Dino-san"

"Cerita tentang kalian kehilangan kontrol selama setahun, aku mempercayainya Tsuna... Karena kau sudah seperti adiku. Bagaimana bawahan-bawahanku? Kau pikir seribu orang lebih yang masih tersisa dari keluarga Cavallone masing-masing bisa mempercayai cerita itu? Apalagi melihat boss mereka terjatuh sedemikian turun di tangan kalian?"

Tsuna bangkit dari kursinya dan berlutut di depan kursi roda Dino, perlahan disentuhnya tangan kakaknya tersebut, "Kumohon dengarkan aku dulu Dino-san! Kami.. benar-benar tidak tahu apa yang telah kami lakukan selama setahun ini! A..Aku... tidak mungkin melakukan hal seperti ini pada kakakku sendiri. Dan juga... Aku akan berusaha mengatur semuanya agar tidak ada lagi permasalahan dengan orang Cavallone... Orang-orang Dino-san yang ingin meminta pertanggung jawaban boleh berhadapan langsung denganku... Akan kulakukan apapun..."

Tsuna berhenti sejenak untuk mengambil napas, "Lalu... Tentang keadaan Dino-san.. Akan kulakukan apapun untuk membuat Dino-san agar bisa melihat dan berjalan lagi... Dokter manapun... Berapapun biayanya... Makanya... Kumohon... Biarkan kami menebus segala kerugian yang ditimbulkan Vongola... Aku tidak mau kehilangan Dino-san sebagai rekan kami..." Disentuhkannya dahinya ke tangan Dino. Kedua tangan Tsuna menggenggam erat tangan besar milik sang kakak yang dihormatinya sejak sekian lama.

Tsuna merasa rambutnya dibelai lembut oleh tangan Dino yang satu lagi,

"Bukan hanya soal bawahan yang kupikirkan Tsuna... Kau pasti tahu kau akan menghadapi musuh yang cukup berbahaya lagi. Kini, dengan keadaan Cavallone yang begini lemah, dan kondisiku seperti ini, keberadaan kami sebagai aliansi bukannya memperkuat Vongola, tapi malah membuat celah agar musuh bisa menghancurkanmu... Aku tidak mau malah jadi memecahkan konsentrasimu Tsuna..."

Tsuna menggigit bibir, "A..Aku tidak meminta pertolongan atau apapun dari Dino-san... Tapi aku tidak mau memecahkan aliansi kita... Asal Dino-san masih mau mendukung kami dengan dukungan moral pun sudah cukup..."

"Dino-san telah membantu kami sedemikian rupa sejak pertama kali aku menjadi Boss Vongola... Sekarang aku hanya ingin melindungi Dino-san... Asal kami dapat membangun pertahanan yang kuat, celah itu tidak akan ada..."

Dino tersenyum dan menyentuhkan tangannya di pipi adiknya, "Ya sudah begini saja... Seperti kata Xanxus tadi, aku tidak akan campur tangan atas investigasi ataupun penyelesaian masalah ini... Kamu juga tidak usah mengkhawatirkan keselamatanku ataupun orang-orang Cavallone... Tapi begitu kamu berhasil mengalahkan orang-orang itu dan membersihkan namamu di depan publik baru nanti kita bicara lagi... Oke?"


Setelah makan siang yang panjang bersama Dino, akhirnya Tsuna bergabung kembali dengan guardian-guardian nya yang sedari tadi menunggunya di ruangan yang telah disiapkan orang-orang Cavallone untuk mereka.

Saat sang boss muda memasuki ruangan itu, Gokudera langsung bangkit dari tempat duduknya,

"Jyuudaime! Anda tidak apa-apa?"

Tsuna hanya tersenyum lemah dan menepuk pundak Gokudera, "Tenanglah Gokudera-kun... Tidak ada hal aneh yang terjadi kok..."

Yamamoto membalikan tubuhnya sambil duduk di sofa, "Dino-san bilang apa Tsuna?"

Telinga Hibari terlihat berkedut mendengar nama kekasihnya disebut. Wajahnya yang sedari tadi kosong menunjukan rasa ingin tahu.

"Dino-san bilang ia tidak akan ikut campur dalam masalah ini... Katanya ia tidak mau jadi beban... Tapi aku berhasil meyakinkannya untuk tidak memutuskan aliansi kita..." Tsuna merosot duduk di sofa tepat di sebelah Mukuro.

"Hmmm... Apa dia mengatakan... tentang... hal yang lain?" tanya Mukuro sembari melingkarkan lengan di pundak Tsuna. Matanya melirik pelan ke arah Hibari.

Tsuna menepuk mulutnya, teringat sesuatu, "Ah... Er...I..Iya... Hibari-san... Katanya Dino-san ia akan menunggu Hibari-san di kamarnya malam ini..."

TBC

A/N okeeeee... *sembah sujud* maaf maaf maaaaf ini chapter lama sekali... saya malu... maluuuuu... I'm very ashamed of myself guys... I'm so so sorryyyy

m(_ _)m

Udah balik ke Melbourne lagi sekarang... kuliah udah mulai, dan melihat ini tahun terakhir tugas-tugas berhamburan... belum lagi persiapan tugas akhir aduuuuuh maaf banget ya telaaat...

Setengah lagi alesannya karena ada author block... daaaaaaan... saya lupa cara nulis... Oke... Ini bukan alesan sih... tapi saya kebiasa RPan daaan intinyaaa saya lupa nulis narasi yang bukan dialog... oke.. malu-maluin... Kalo ada penurunan kualitas maaf yaaaa...

Okee... tentang chapter ini... intinya bikin tsuna gugup doang hahahaha... Mungkin mereka2 keliatan agak OOC (tsuna, xanxus, dino), tapi kupikir mereka kan sama2 boss, pasti dong kalo lagi rapat resmi gaya bicaranya ikutan resmi... masa abruk2an kayak biasa... apalagi ini kan keadaannya serius...

Daaan... kalo ngerasa aneh kenapa Dino di sini tenang banget sdgkan di chapter sebelumnya dia panik kayak apaan? Yah bayangin aja... baru bangun tidur... masih ah uh ah uh... nyawa belom nyambung... buta juga gak bisa liat apa2... ada bekas-pacar-yang-tiba-tiba-jadi-jahat ngomong di sebelah lo bilang dia udah balik... gimana kagak panik cobaaa? Nah kan sekarang dia udah bisa ngontrol diri, barulah dia bisa ketemu Tsuna sedemikian profesionalnya...

Kalo ada kritik/saran mohon review yaaaa~~ makasih udah bacaa ^w^