Life is a game with obstacles encountered and when there is a chance, we have to seize it.

.

.

.

.

.

.

.

PREVIOUS

"Mereka mengatakan kalau Sehun menciumku di lapangan sepak bola, Baekki. Padahal itu sama sekali tidak terjadi ! Dan kurasa yang melakukannya adalah salah satu junior anggota klub sepak bola yang menyukaimu, bukankah dulu aku pernah mengatakan kepadamu kalau ada salah satu anggota club sepak bola yang menyukaimu."

Luhan benar benar gugup saat berkata bohong pada teman kesayangannya ini, keringat dingin terus mengucur mengaliri dahi dan pelipisnya. Bagaimanapun juga yang sedang ia bohongi sekarang adalah Baekhyun. Baekhyun, teman yang sudah bersamanya sejak mereka masih embrio.

"Lalu apa masalah anak itu ? Jika dia menyukaiku, kenapa dia menyebarkan berita bohong tentang kalian ?"

"Tentu saja karena orang itu merasa sakit hati Baek, dia mungkin tahu kalau kau sedang dekat dengan Sehun. Maka dari itu dia membuat rumor tentang Sehun yang mencium seseorang agar kau marah lalu meninggalkan Sehun. Dengan itu, dia punya kesempatan untuk mendekatimu."

Entah kenapa saking gugupnya membuat bibir Luhan menjadi sangat lancar untuk mengarang cerita. Jika benar setelah ini mereka ketahuan, Luhan akan benar benar menembak mati Sehun.

"Dan sayangnya yang menjadi seseorang itu adalah Luhan. Luhan adalah korban sebenarnya disini Baek, jadi aku mohon padamu agar tidak marah pada Luhan karena berita bohong ini."

Sehun berusaha mengakihiri cerita karangan mereka sampai disini saja, bisa kacau kalau Luhan terlalu panjang mengarang cerita dan membuat mereka semakin terlilit kebohongan mereka sendiri.

Baekhyun terdiam. Dia terlihat sedang berpikir, menimang nimang apakah perkataan mereka berdua bisa dipercayanya atau tidak. Sehun dan Luhan semakin merasa berdebar menunggu apa yang akan di katakan Baekhyun. Apa Baekhyun akan percaya pada cerita mereka atau Baekhyun memilih percaya pada berita bohong yang sayangnya benar itu.

"Hiks ... Luhan hyung. Kasihan sekali kau ... hiks."

Tanpa di duga Baekhyun malah menangis sambil memeluk Luhan, Luhan masih membeku menerima pelukan Baekhyun. Otaknya masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Baekhyun memeluknya ? Sambil menangisi dirinya ? Apakah Baekhyun percaya pada mereka ? Luhan masih benar benar diam, sampai akhirnya dia melihat Sehun yang tengah berucap tanpa suara.

"Kita berhasil."


LuhanLuu

Present story for debut

Anchor

Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan

Other :

Byun Baekhyun

Do Kyungsoo

Kim Minseok

Park Chanyeol

Kim Jong In

Genre : Romance, Drama, Friendship

Rate : M

Leght : Chaptered

YAOI

STORY FOR HUNHAN

.

.

.

.

.

CHAPTER 8

.

.

.

.

.


SEHUN POV.

Siang ini. Seperti biasa, aku masih berada di dalam ruang kelas meski bel pulang sudah terlewat sejak satu setengah jam yang lalu. Dan masih dengan Baekhyun yang selalu menemaniku – setelah sebelumnya Luhan yang berada disini bersamaku. Entahlah, mengapa dan bagaimana ini menjadi kebiasaan rutin kami bertiga, tidak ada alasan spesifik mengenai ini. Hanya terjadi begitu saja secara teratur.

Biasanya aku hanya akan sendiri, hanya akan diam dan berpikir mengenai ibu dan masa depan, diam lalu berpikir lagi, menghela nafas, berfikir lagi lalu diam hingga tak terasa mataku telah berair.

Dibandingkan dengan keadaanku kemarin, semenjak kehadiran dua alien kecil yang menakjubkan itu, aku dan otakku menjadi tidak terlalu tersiksa oleh vapor vapor negatif tentang segala hal hal yang selalu membebaniku. Bahkan, aku lebih sering memikirkan mereka akhir akhir ini daripada ibu.

Ternyata semenyenangkan ini memiliki seseorang – maksudku dua orang, yang kau anggap menarik hingga membuatmu melakukan hal hal yang bukan dirimu. Katakan aku gila, tampar aku jika memang perlu, tapi aku benar benar menginginkan mereka berdua terikat denganku. Jika ada yang menyuruhku untuk memilih diantara Luhan ataupun Baekhyun, aku lebih memilih terserang amnesia.

"Baekhyun ... "

Baekhyun sedikit tersentak dari lamunannya dan segera memutar kepalanya kearahku, wajah kagetnya itu lucu sekali. Menggemaskan – meskipun Luhan sedikit lebih menggemaskan dengan mata rusanya, tapi hanya sedikit, selebihnya mereka berdua menggemaskan walau Luhan agak lebih menggemaskan, tapi intinya mereka sama sama lucu meskipun Luhan lebih – Stop it ! Otak sialan, berhenti membuatku membanding bandingkan Baekhyun dengan Luhan.

"Ada apa Sehun ?"

Baekhyun menatapku dengan tanda tanya, aku menatapnya balik sambil terdiam. Aku mau bilang apa tadi ? Masih hanya berkedip kedip di depannya tanpa ingat dengan apa yang ingin aku sampaikan, aku masih berusaha mengorek orek lagi memori internal di otakku dan – itu dia.

"Baekhyun, ayo berkencan. "

Akhirnya aku bisa mengatakannya, bisa bisanya aku lupa soal ajakan kencan ini. Yah, harus diakui mengajak Baekhyun berkencan itu lebih sulit daripada mengajak Luhan. Jika Luhan, aku hanya tinggal menculiknya untuk diajak kencan maupun menemaniku seharian, Luhan itu liar, bar bar, sok manly padahal bulu ketiak saja dia tidak punya – darimana aku tau ini ? aku pernah menemaninya mandi ingat.

Mau kuajak dengan ajakan normal pun aku tidak yakin. "Luhan, ayo berkencan." Aku tidak tahu pasti aku akan selamat atau tidak setelah mengatakan itu, mungkin dia akan merecokiku seperti, "hah ? apa ? berkencan ? dasar keparat, kau pikir aku ini perempuan kesepian hingga kau mengajakku kencan. Aku ini pria sejati tau, harusnya aku yang mengajak seseorang berkencan !". Dan itu akan berakhir dengan dia mencelupkan mukaku ke minyak panas. Dasar rusa liar.

Hah, meskipun begitu aku tetap tergila gila padanya. Tingkahnya yang seperti itu malah membuatku ingin membuktikan kalau dia memang orang yang suka dimanjakan, dan aku tidak keberatan memanjakannya tentu saja.

Berbeda dengan Baekhyun, aku merasa perlu melakukan segalanya dengan penuh kenormalan karena Baekhyun ini hm ... bisa dibilang lemah lembut, sopan dan beretika seperti putri keraton. Raden Ajeng Baekhyun. Raden Mas Sehun Hadiningrat. Oh shit, lupakan soal yang itu.

Jika aku tiba tiba menculik Baekhyun, begitu aku sampai di tempat kencan, kemungkinan yang terjadi akan seperti, "Hah ? Aku dimana ? Kau ? Tuan anda siapa ? Kenapa aku bisa ada di tempat ini ? Aakkh kepalaku sakit.". Dan itu akan berakhir dengan aku yang ditangkap polisi beserta tuduhan penculikan putri keraton – maksudku penculikan anak di bawah umur.

"Sehun ... "

Baekhyun masih menganga menatapku. Dia berkedip lalu menatapku, lalu berkedip lagi dan menatapku dan berkedip lagi kemudian menatapku. Begitu seterusnya sampai bulu ketiak Luhan sudah tumbuh -_-

"Sehun, benarkah kau mengajakku berkencan ? Katakan sekali lagi Sehun, please."

"Ya Baekhyun. Bagaimana ? Kau ada waktu sore ini ? Jika kau keberatan aku tidak akan memak – "

"Ya Sehun. Iya iya aku mau."

See. Tidak ada yang bisa menolak seorang Oh Sehun, and everything i want, must able to get.


LUHAN POV.

"Dia mengajakmu kencan Baek ? seriously ?

Aku terperanjat dari posisi yogaku. Yoga di sore hari ? Luhan mah orangnya gitu. Aku mempertajam pendengaranku sambil semakin menempelkan speaker ponsel tepat di telingaku.

Sehun mengajak Baekhyun kencan. Tuan Oh yang punya harga diri setinggi Mesosfer dan segede Jupiter yang sudah nempel kayak kerak sejak masih berupa sperma, mengajak seseorang berkencan ? BERKENCAN ? Oke, calm Luhan.

"Iya hyung, dia mengatakan langsung padaku siang tadi. Kau harus tahu bagaimana wajahnya saat mengucapkannya hyung. Hahaha ..."

Aku sudah bisa menebak bagaimana ekspresinya, pasti dia sempat amnesia sesaat. Sehun itu terbiasa memaksa, bukan meminta. Dan terbiasa menculik, bukan mengajak. Mati saja kau Sehun.

"Itu bagus Baek, kau tunggu apa lagi ? Cepatlah mandi dan bersiap, jangan membuat Sehun menunggu."

"Aku sudah mandi sejak tadi hyung, tapi mungkin aku perlu menata rambutku lagi. Baiklah, sampai jumpa hyung. Aku menyayangimu."

Baekhyun telah memutus sambungan teleponnya, aku masih terdiam. Sehun akan berkencan dengan Baekhyun, itu bagus. Kira kira akan pergi kemana mereka ? Apa saja nanti yang akan mereka lakukan ? Apa Sehun juga akan mengajak Baekhyun berkunjung ke panti ? Apa Sehun juga akan mengenalkan Baekhyun pada bibi Sung dan adik adiknya ? Apa Sehun juga akan memeluk Baekhyun seperti dia memelukku ketika disana ? Apa Sehun akan – Luhan apa yang kau pikirkan.

Seharusnya aku senang mendengarnya, seharusnya aku senang bahwa Baekhyun akan berkencan dengan Sehun. Seharusnya. Aku memang senang mendengar ini, aku senang Baekhyun akhirnya berkencan, tapi aku juga tidak bisa berbohong bila aku sekarang merasa ... sendiri ?

Sehun dan aku memang pernah pergi bersama, tapi apakah itu juga bisa disebut kencan ? Sehun yang berada di dekatku saja sudah cukup membuatku merasa ... diinginkan. Munafik jika aku berkata aku tidak menyukai segala perlakuannya padaku, aku menikmati segala bentuk perhatiannya untukku. Totally, i like that. Aku tahu ini salah, aku tahu ini penghianatan tapi apakah keinginan untuk diperhatikan itu salah.

Selama ini aku belum pernah menjalin hubungan, hanya bermain main dengan orang orang yang mengaku bahwa dirinya menyukaiku, aku hanya ingin mendapatkan perhatian mereka. Aku suka diperhatikan, tapi aku tidak pernah benar benar merasa nyaman dengan itu.

Tapi Sehun. Pria yang tiba tiba menamparku dengan seluruh pesonanya dan juga pria yang sama yang telah memaksaku menampung seluruh luapan perlakuannya yang tidak normal. But, im fine. Aku menyukainya, segala arogansi dan intimidasi darinya. Benar benar menikmati bagaimana didominasi olehnya.

Apa yang terjadi padaku.


AUTHOR POV.

Mereka telah sampai di sebuah pusat perbelanjaan di daerah Gangnam, langit sudah hampir gelap ketika mereka sampai disini, mengingat Sehun tadi sedikit terlambat saat menjemput Baekhyun. Tapi yang namanya Baekhyun, mau berapa lama pun Sehun terlambat dia akan tetap menunggu.

Sehun keluar dari mobil lebih dahulu, memutari bamper depan lalu membukakan pintu untuk Baekhyun. Like a gentleman. Sedangkan Baekhyun, jangan ditanya lagi. Jantungnya benar benar tengah memberontak untuk meloncat keluar saking berdebarnya. Awal yang baik untuk kencan mereka hari ini, terlihat benar benar seperti kencan impian Baekhyun.

Sehun menarik pelan telapak tangannya untuk membantunya keluar. Homina homina ... Sehun benar benar membuatnya jatuh berkali kali untuknya. Lelaki itu tampak menawan sore ini, bukan karena penampilannya yang berlebihan, tidak. Pakaiannya bahkan hanya sepotong kaus hitam bertuliskan Velvet di bagian dada yang membalut tubuh tegap itu, serta jeans berwarna biru yang membungkus kaki panjangnya. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih.

"Jika kau ingin tahu, aku bukan mau memaksamu untuk berbelanja Baekhyun. Aku ingin mengajakmu ke bioskop hari ini dan setelah itu kita akan makan malam."

Menonton film bersama Sehun ? Makan malam bersama Sehun ? Oh my ... apa lagi yang lebih membahagiakan untuk Baekhyun hari ini, bahkan dia pun tidak pernah sanggup membayangkannya.

Kurasa dia tidak akan bisa tidur dengan tenang setelah malam ini. Sehun, tempat ini, film yang akan diputar nanti dan makan malam hari ini serta segala hal hal yang akan terjadi malam ini. Baekhyun harus terus mengingatnya.

"Kita harus cepat, kurasa filmku akan segera diputar."

Dengan itu, Sehun menggenggam erat tangan lelaki mungil ini untuk menyamai langkah lebarnya.


"Lama tidak bertemu Nyonya Sungyeon."

Sungyeon hanya menatap pria itu dalam dalam. Pria yang masih terlihat muda di usianya yang hampir berkepala lima itu, entah kapan terakhir kali Sungyeon melihatnya mengunjungi panti asuhan ini, yang pasti sudah hampir 1 tahun belakangan ini, pria ini tak pernah sekalipun menampakan diri kemari.

"Senang akhirnya anda berkunjung lagi kemari, Tuan Oh."

Pria yang dipanggil Tuan Oh itu hanya tersenyum tipis, netra hitamnya meneliti setiap sudut kantor panti asuhan yang dulu milik mantan istrinya ini. Tidak ada yang berubah, tetap nyaman seperti dulu namun tidak sehangat yang lalu.

"Anda mengurus tempat ini dengan baik nyonya."

Nyonya Sungyeon tersenyum penuh arti. Dirinya bisa melihat tatapan penuh kerinduan dari Tuan Oh untuk ruangan ini. Ruangan ini, sebelum menjadi kantornya sekarang, dulu dipenuhi dengan foto foto keluarga Oh, buku buku seni milik nyonya Oh, mainan mainan milik Suho dan Sehun, serta miniatur miniatur bangunan rancangan tuan Oh.

Panti asuhan ini dulunya adalah rumah sebenarnya bagi keluarga Tuan Oh, bukan mansion megah yang sekarang dihuni oleh Tuan Oh beserta anak anaknya setelah perceraiannya dengan nyonya Oh.

Tuan dan nyonya Oh dulunya tidak hidup hanya dengan dua orang anak, namun dengan banyak anak anak di panti asuhan ini. Suho dan Sehun dulunya bukan anak yang kesepian, mereka adalah anak anak pintar yang punya banyak teman dan saudara.

Suatu kehormatan Sungyeon dapat berada diantara keluarga bahagia milik Tuan Oh ini, dia sudah mengabdi sejak lama untuk kedua orang tua nyonya Oh dan di puncak pengabdiannya, Sungyeon diminta ikut bersama nyonya Oh setelah beliau menikah dengan tuan Oh Siwon.

Setelah hampir 3 tahun menikah dan diberkati Suho sebagai anak pertama, nyonya Oh berhasil mendirikan panti asuhan ini dengan uang hasil kerjanya sebagai pekerja seni. Dengan lembut beliau menolak suntikan dana dari suami arsiteknya, dia benar benar ingin membangun tempat ini dengan seluruh hidupnya.

"Saya berusaha menghidupkan seluruh kenangan nyonya Oh di tempat dengan baik Tuan."

Sungyeon melihat pria itu memejamkan mata semari menghela nafas. Beliau terlihat masih sangat mengingat segala hal tentang istrinya, segala kenangan bersama istrinya dan masih sangat ... mencintai istrinya.

"Akan langsung kusampaikan maksud kedatanganku kemari nyonya, dan aku harap kita bisa bekerja sama."

Sungyeon mengernyit. Bukanlah suatu hal yang lumrah apabila Tuan Oh mau repot repot datang kesini untuk berbicara langsung dengannya.

"Kudengar beberapa hari yang lalu, Sehun merayakan ulang tahunnya disini. Apa itu benar nyonya ?"

"Itu benar Tuan, saya yang mempersiapkan perayaannya."

"Aku tahu dia tidak sendirian malam itu. Bisa kau memberitahuku siapa orang yang dibawa Sehun kemari ? Aku juga ingin mengenalnya nyonya."

Demi Tuhan. Kenapa dirinya bisa lalai seperti ini, ini bukanlah suatu hal yang baik untuk Sehun maupun ... Luhan. Apa yang harus dia sampaikan kepada tuan Oh sekarang, memberitahu siapa itu teman Sehun ? Tidak bisa. Dia tidak bisa melibatkan Luhan dalam hal ini, lelaki mungil itu tidak tahu apapun, Sungyeon tidak bisa membiarkan anak itu terusik sedikit pun.

"Kuharap kau mengatakannya dengan jujur Sungyeon-ssi."


BAEKHYUN POV

Aku masih setia memandang Sehun yang menyesap Lattenya dengan perlahan, terlihat menawan seperti bangsawan. Dengan menyangga wajah dengan kedua lenganku yang berada di atas meja, dengan semangat aku memperhatikan segala gerak gerik Sehun.

"Mau sampai kapan kau memandangiku seperti itu Baek ? Cepat habiskan makananmu lalu aku akan mengantarmu pulang dengan selamat."

Aku hanya menanggapi Sehun dengan senyum lebarku, segera aku memakan makanan yang sudah sejak tadi aku biarkan menganggur di atas meja. Entah karena terlalu bersemangat atau apa, gerakanku membuat taplak meja kami sedikit melorot turun dari tempatnya, kupikir tidak akan ada apa apa sampai aku melihat Latte milik Sehun tumpah mengenai celananya.

"Astaga Sehun celanamu ... Sehun aku tidak sengaja sungguh, aku minta maaf Sehun. Maafkan aku Se – "

"Tidak apa apa Baek. Aku hanya butuh ke toilet sebentar, tunggu disini dan jangan kemana mana."

Dengan itu Sehun berlalu ke toilet setelah mengelus pelan puncak kepalaku. Sungguh, aku merasa sangat tidak enak hati pada Sehun, dasar Baekhyun bodoh. Kenapa kau ceroboh sekali sih, aku sendiri yang merusak kencan sempurna hari ini.

Aku terus duduk dengan gelisah di kursiku menunggu Sehun yang tidak kunjung kembali, walau faktanya baru 3 menit yang lalu Sehun meninggalkanku. Aku masih terus bergerak gerak gelisah sampai pada akhirnya aku merasakan seseorang menggenggam kedua tanganku lalu mencium lembut keningku.

"Maaf membuatmu menunggu lama, sayang."


LUHAN POV.

"Ayo tidur Luhan. Kenapa sulit sekali sih !"

Aku terus menggelepar menggelepar seperti paus terdampar dia atas kasurku, berusaha memejamkan mataku yang masih lebar ini untuk tidur. Sialan, kenapa sejak tadi aku terus memikirkan Sehun. Aku terbiasa mendengar ucapan selamat malam dari Sehun lewat telepon sebelum aku tidur.

Jadi kurasa, mata sialan ini terus mengajakku melek sambil terus memelototi layar ponselku. Berharap setidaknya ada satu notifikasi dari Sehun, dia belum mengabariku sejak sore tadi sepulangnya dia dari rumahku.

Sebelum menjemput Baekhyun tadi, tidak tahu bagaimana caranya Sehun sudah nyasar di halaman depan rumahku. Dengan kaus hitam dan celana biru gelap yang membalut tubuh tegapnya dan rambut hitamnya yang ditata ke atas. Damn it ! he's so hot.

Lengkap dengan gayanya yang selangit, dia bersandar pada body samping mobilnya – jangan lupa kacamata hitam yang bertengger tampan di hidungnya. Dia benar benar terlihat sempurna. Fuck you Sehun.

Saat aku bertanya apa yang dia lakukan disini, dengan seenak jidatnya Sehun mejawab,

"Aku ingin meminta izin pada rusa cantikku, bahwa malam ini aku akan mengencani teman baiknya. Apa aku diijinkan, sayang ?"

Enteng sekali dia mengatakan hal itu sambil memeluk pinggangku. Dan saat itu rasanya aku benar benar ingin memaki Sehun sampai mati tepat di wajahnya, tapi tentu aku tidak bisa melakukannya.

"Kenapa harus minta ijin dariku. Kalau kau mau kau boleh mengencani Baekhyun semalaman." Aku menjawabnya dengan ketus, entahlah mungkin aku terlalu terbawa peran. Di telingaku kata kata Sehun malah terdengar seperti ini,

"Aku ingin meminta izin pada istri cantikku, bahwa malam ini aku akan melamar teman baiknya. Apa aku diijinkan, yeobo ?"

Keparat. Kenapa aku masih sempat berpikiran seperti itu dan membuatku kecolongan, Sehun sudah mencuri start dengan mendorongku merapat ke mobilnya, lalu menciumku dengan brutal. Tepat di depan mamaku yang baru saja pulang dari kantor.

Dan setelah kejadian itu, sukses membuat Mama merecokiku malam ini dengan segala pertanyaan tidak bermutunya, seperti "Omo ... Luhan ! Yang tadi itu kekasihmu sayang ?" atau "Dia tampan sekali sayang. Mama ingin punya menantu seperti itu Luhannie." atau "Besok suruh dia datang kemari lagi ya sayang. Mamamu ini juga ingin mengenal calon menantunya."

Menyebalkan sekali. Sejak tadi aku sibuk mengumpati Sehun karena dengan lancang menciumku sembarangan, untung saja Mama yang melihat kejadian itu. Tidak bisa aku bayangkan jika Baba yang menjadi saksi mata tadi, mungkin kami akan langsung dinikahkan.

Drrt .. Drrt .. Drrt ..

Aku segera meraih ponselku, dengan semangat aku menggeser screenlock pada layar ponselku dan taraaa ... 1 New Massage from Oh Bastard.

From : Oh Bastard

Selamat malam rusa kecil. Jangan terus memikirkanku, aku akan segera pulang setelah ini. Sekarang cepatlah tidur. Mimpikan aku sayang :*

Dan hal ini mau tak mau membuatku tersenyum.

Selamat malam juga, Sehun.


BAEKHYUN POV.

"Maaf membuatmu menunggu lama, sayang."

Aku mendongak untuk menatapnya. Mata kami bertemu dengan jarak wajah kami yang begitu dekat hingga nafas kami saling beradu, dan setelahnya aku memekik.

"YAKKK ! SIAPA KAU IN – hmpph ..."

Dengan sigap lelaki ini meredam teriakanku dengan telapak tangannya. Pria ini bukan Sehun, aku memberontak dalam bungkamannya dan pria itu semakin erat membungkamku, sambil terus mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar dengan jelas.

"Bisakah kau tenang ? Aku hanya butuh bantuanmu untuk lima menit kedepan, ada seseorang yang berusaha membunuhku."

Aku terdiam. Orang ini hanya sedang meminta bantuanku ternyata, karena dia terancam dibunuh. WHAT ? DIBUNUH ? What the ... Aku akan dilibatkan dalam kasus pembunuhan ? TIDAK ! Aku kembali meronta dan berusaha melepaskan diri.

"Tolonglah. Bantu aku, jika kau mau membantuku kali ini. Aku bersumpah kau tidak akan terlibat lebih jauh lagi."

Mendengar suara pria yang terlihat begitu putus asa ini, mau tak mau membuatku iba. Dan berterimakasihlah pada empatiku yang amat sangat tinggi, yang pada akhirnya membuatku mengangguk. Pria ini melepaskan bungkamannya dari bibirku lalu menatapku dengan berbinar.

"Jadi apa yang bisa aku bantu Tuan ?"

Pria itu sedikit membenarkan tatanan kemeja putihnya. Jika diperhatikan lelaki ini err... tampan. Wajahnya menyenangkan untuk dipandang dan lihat juga telinga lebarnya yang menarik perhatianku. Pria ini mempesona.

"Hanya perlu berpura pura menjadi kekasihku. Mudah kan ?"

Hah ? Menjadi kekasih ? Yang benar saja ! Meskipun hanya pura pura, tapi bagaimana jika Sehun tiba tiba kembali dari toilet dan melihatku duduk semeja dengan orang asing ini. Hancur sudah kencanku malam ini.

"Bagaimana ? Hanya sebentar. Aku mohon."

Kupalingkan lagi pandanganku ke arah lelaki mengenaskan ini. Dia terlihat menyedihkan, benar benar makhluk yang butuh pertolongan. Tapi jika hanya sebentar kurasa ridak apa apa, lagipula aku hanya membantu untuk menyelamatkan nyawanya. Kurasa Sehun tidak akan marah.

"Baiklah. Kapan kita bisa mulai berpu – "

"Sekarang ! Kita bisa mulai sekarang ! Maaf ya, aku ingin memegang tanganmu sebentar."

"Hah sekar – "

"Ssstt ... dia sedang berjalan kemari. Tetaplah tenang dan ikuti permainanku."

Aku mengedarkan seluruh pandanganku, hingga tatapanku jatuh pada seorang perempuan dengan wajah yang terlihat marah serta langkah kaki yang besar menuju ke mejaku. Aku semakin tidak mengerti saat perempuan ini sudah berdiri di depan kami, sambil melayangkan tatapan tajamnya padaku.

"Jadi karena laki laki ini oppa menolak untuk menjadi kekasihku ! Aku tahu dia cantik oppa, tapi dia ini tetap seorang laki laki. Aku akan mengadukanmu ke bibi Park. Lihat saja oppa !"

Setelahnya, gadis cantik itu pergi dengan berurai air mata. Aku tidak paham sama sekali dengan situasi ini, sebenarnya peran apa yang aku mainkan. Aku hanya diam sambil menganga namun bisa membuat seorang gadis menangis. Apa yang kulakukan.

"Hahh ... Terima kasih untuk bantuannya cantik. Ini kartu namaku, kau bisa simpan atau membuangnya. See you."

Aku masih memproses kejadian tadi saat kurasakan dia menyelipkan sebuah kertas di genggaman tanganku dan berlalu setelah dia mengecup sekilas pipiku. Masih terdiam hingga aku membaca sebuah nama pada kartu nama itu.

Park Chanyeol.


To be continue

Selamat siang kesayangan *uhukk

Setelah sekian lama menghilang, akhirnya saya kembali bersama chapter 8 dan bersama Chanyeol :D Hehehe. Sesuai permintaan kan Chanyeolnya sudah saya datangkan.

Saya ngilang bukan karena lalai atau gimana, tapi gara gara laptop yang gua kasih nama "Luhan" ini keyboardnya rusak T.T.

Finally, Luhan gua opname berminggu minggu di tempat servis.

Oke sekian keluhan saya. Sorry for typo :*

Oh yaa, selamat ya yang kemaren nonton para alien ganteng di Jakarta.

LuhanLuu

160218 – 12:59