Baiklah tuan yang terhormat.
Akui saja sekarang!
Hanya karena dia, semua menjadi terbalikkan?
Dan itu sangat menjengkelkan bagimu, benar sekali!
Sosok itu mendorongmu dari atas gunung es yang telah lama menjadi kerajaanmu, lantas apa kau hanya akan diam saja?
Oh, jangan konyol. Tentu saja kau akan menariknya untuk terjatuh bersama denganmu kan?
Bukankah itu yang disebut dengan adil?
Ini sungguh menjengkelkan.
Dia telah meruntuhkan semuanya! Segala kehidupanmu! Segala keangkuhanmu!
Dan kau hanya diam saja?
Oh, ayolah. Tidak juga kan?
Tentu saja kau akan membalasnya dengan lebih menarik lagi.
Semua hanya alasan, karena kau tahu dia berbeda.
Tentu saja.
Kau menyadari sesuatu yang tak beres di hatimu yang sedikit demi sedikit telah menghangatkannya dari kebekuan gunung es.
Sekarang pikirkan baik-baik, apa yang sebenarnya kau lakukan saat ini? Mengorbankan dia untuk kerajaan bisnismu?
Waw, kau bodoh juga ya.
Benar-benar bodoh.
.
.
.
.
.
Eunhyuk nyaris saja akan meninju wajah sialan yang berani-beraninya telah memagut bibirnya dengan sangat pelan dan membiarkan dirinya terperangkap dalam pelukan memuakan dari pria dingin dihadapannya. Namun belum sempat ia mengarahkan kepalan tangannya pada wajah itu, suara benda terjatuh sontak mengusik kegiatan tak senonoh itu hingga pada akhirnya pria bermarga Lee itu mengalihkan pandangannya dari wajah Eunhyuk yang tidak ia pedulikan bagaimana ekspresi wajah pria manis nan datar itu, lalu pria tampan itu menatap dingin seorang pegawai kebersihan yang baru saja memasuki lift tersebut dan melihat adegan ciuman antar sesama lelaki itu tanpa bisa dicegahnya, lalu menganggu kegiatannya dengan Eunhyuk yang belum puas ia nikmati.
"Apa kau belum pernah merasakan bagaimana rasanya dipecat? Bisa kau enyah dari sini?" Tanya Donghae dengan nada bicara yang tak bersahabat. Bahkan disetiap kata yang ia ucapkan, terkandung makna mengancam disana. Membuat petugas kebersihan itu hanya mampu meneguk ludahnya karena gugup dan dipenuhi perasaan takut akan sorot tajam yang dipancarkan dari seorang penguasa saham terbesar se asia itu.
"Ma, maafkan saya. Sa, saya akan segera keluar!" Jawab petugas kebersihan itu. Ia segera menekan tombol yang berada di dinding lift hotel tersebut, dan segera melarikan diri setelah pintu lift itu terbuka. Tanpa membawa perlengkapan kebersihannya yang masih tertinggal didalam lift itu.
Meninggalkan kedua pria berbeda status sosial itu dalam suasana mencekam yang dapat membuat siapa saja menelan ludahnya penuh rasa takut, dengan keringat dingin yang akan membasahi sekujur tubuh mereka.
"Berhentilah menatapku dengan tatapan membunuh seperti itu tuan Lee. Jangan berfikir aku melakukan itu hanya karena aku suka pada orang biasa sepertimu." Donghae tersenyum miring seraya memalingkan wajahnya kembali guna dapat melihat tatapan dingin yang terpancar dari sosok pria bersweater cream kecokelat di sisi lift yang kini telah kembali bergerak menuju lobby hotel. Pria rupawan itu menyandarkan punggungnya pada dinding lift seraya mengusap bibir bawahnya dengan tatapan mengejek yang membuat Eunhyuk mendengus sebal akan sikap brengsek pria yang menyewanya untuk mengerjakan hal yang akan membuatnya harus mengorbankan dirinya, bisa saja itu terjadi kan? Mengingat sepertinya pria dengan tubuh berotot itu memiliki banyak musuh di dunianya.
"Brengsek."
"Jangan salahkan aku Eunhyuk-ssi, kau bahkan hanya diam saja saat ku cium. Benar-benar sulit dipercaya." Ucap Donghae dengan tawa remeh. Ia menatap wajah yang kini tengah memalingkan wajahnya kearah lain dengan tatapan datar, menanti reaksi apa yang akan diperlihatkan oleh pria yang memiliki sifat yang sama dengannya itu. Benar-benar tidak ada manis-manisnya, tapi Donghae tentu saja merasa tertarik dengan pria berwajah tegas itu.
Eunhyuk masih tetap tak bergeming pada tempatnya, ia memalingkan wajahnya karena terlalu kesal jika harus terus-terusan melihat wajah bajingan dihadapannya saat ini. Ia bukannya tidak mau mengelak akan apa yang telah pria itu perbuat padanya, bagaimana bisa ia dilecehkan seperti ini? Sialan, ingin rasanya ia menghajar pria itu! Namun ada satu hal yang memaksanya harus mengikuti alur pria itu, ia menyadari ada sesuatu yang baru saja diberikan oleh pria itu kepadanya. Sesuatu yang ada di dalam saku celana jeansnya. Dan pasti ada hubungannya dengan pekerjaan barunya yang sangat menjengkelkan itu.
"Perhatikan dan dengarkan apa yang akan terjadi mulai saat ini. Karena esok adalah awal dari hidupmu yang menantang Eunhyuk-ssi. Ah! Aku suka cara kerjamu Eunhyuk-ssi. Kau cepat tanggap." Bisik Donghae datar, ia menolehkan wajahnya tatkala mendengar bunyi suara lift yang telah terbuka dan memperlihatkan suasana lobby yang cukup ramai. Ia segera menegakkan tubuh tegapnya, seraya memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana mahalnya yang berbahan sutra kualitas terbaik itu.
"Kau harus membayar lebih tentang ini sajangnim yang terhormat." Desis Eunhyuk dengan suara berat. Ia meraih sebuah benda kecil yang terdapat pada troli kebersihan yang tertinggal oleh pegawai kebersihan tadi dan segera melemparkan benda elektronik itu kepada Donghae dengan cukup keras, dan berhasil ditangkap oleh tangan besar itu.
"Aku akan memberikan apapun yang setimpal sesuai pekerjaan baikmu Eunhyuk-ssi." Sahut Donghae tersenyum miring, sebelum meninggalkan Eunhyuk didalam lift dengan membawa benda elektronik itu untuk diselidiki oleh kaki tangannya.
Mengabaikan Eunhyuk yang kini tengah memejamkan matanya seraya menyandarkan punggungnya di dinding lift yang kembali tertutup.
"Lee Eunhyuk, tamatlah riwayatmu." Gumamnya seraya meraih sebuah recording berbentuk pin dengan selembar kertas yang baru saja di berikan oleh Donghae saat mereka berdua berciuman tadi.
"Apa lagi ini? Bajingan itu melecehkanku hanya untuk memberikan ini? Noona gila itu harus mempertanggung jawabkan semua ini nanti."
.
.
.
.
.
"Tidak biasanya anda berfikir sekeras itu Sajangnim Lee."
Donghae melirik sekilas seseorang berpakaian serba hitam yang baru saja tiba di sebuah taman dengan beberapa lampu temaram yang menghiasi halaman hotel yang terkenal berkelas itu.
Pria itu segera menghampiri Donghae seraya menyerahkan sebuah cerutu mahal yang baru saja ia dapat dari pelelangan dengan harga yang cukup fantastis. Ia sedikit membungkukan tubuhnya dan menunggu hadiah mahalnya diterima oleh atasannya itu.
"Hadiah dariku untuk anda. Liburanku membuahkan hasil juga kan? Silahkan anda terima." Ujar pria itu dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Seperti biasa kau selalu terlambat." Ucap Donghae dengan nada datar yang memang tidak pernah memiliki intonasi yang berlebihan ketika ia berbicara. Ia meraih kotak transparan dengan 2 cerutu yang tersimpan didalamnya, membuka tutupnya dan meraih sebuah cerutu diantara jemarinya yang panjang.
Dengan sigap pria berpakaian serba hitam itu segera meraih pematik api yang ia simpan didalam saku celananya, menyalakannya dan mengarahkan pematik itu tepat diujung cerutu yang kini telah diapit oleh kedua belah bibir Donghae.
"Aku hanya sedang bersenang-senang tadi, setidaknya itu bagus untuk mempraktekan pikiran liar pria. Hahaha..." Jawab pria itu dengan tawa keras, ia memasukan kembali pematik api itu kedalam sakunya dan memandang bossnya yang tidak bergeming dengan tawanya yang cukup mengganggu itu. Ia berdeham sebelum kembali menegakkan tubuhnya untuk menanti tugas barunya yang akan diberikan oleh Donghae padanya.
"Jadi, apa yang sedang anda pikirkan sajangnim Lee? Anda tidak pernah terlihat mengerutkan kening anda jika hanya memikirkan tentang bisnis anda. Apa ada hal yang mengganggu pikiran anda?" Ucap pria itu, mencoba mencairkan suasana yang sempat menengang ketika ia tanpa perintah tertawa didepan pria yang paling diseganinya itu. Meskipun sikapnya sangat semaunya, tapi pria berpakaian serba hitam itu adalah tangan kiri Donghae yang paling dipercayai oleh bossnya itu. Maka dari itu, beberapa minggu yang lalu, ia baru saja dihadiahi liburan ke las vegas sebagai penghargaan atas kinerjanya yang selalu memuaskan Donghae.
"Kau seakan bisa membaca pikiranku saja, Kim Kibum. Berhentilah bercanda, kau membuang waktu sibukku hanya untuk mendengarmu berbicara dengan mulut terbuka seperti itu." Ujar Donghae datar. Ia menghembuskan asap cerutu ke udara, seraya meraih sebuah benda elektronik berbentuk kotak dengan ukuran kecil dari dalam saku celananya dan melemparkannya pada pria berpakaian serba hitam yang baru saja disebutkan namanya sebagai Kim Kibum. Pria berusia dua puluh enam tahun, dengan tingkat kepintaran diatas rata-rata. Dan dibalik kekonyolan yang baru saja dia ciptakan, itu hanya salah pergaulan saja. Karena pria dengan tubuh lebih pendek dari bossnya itu, sesungguhnya memiliki sifat kaku dan serius dalam setiap pekerjaannya.
Kibum sontak menangkap benda itu ditangannya, dan memandang Donghae yang berdiri cukup dekat dihadapannya dengan pandangan lurus menghadap air laut yang menggema akibat ombak pasang yang menghempas batu karang menuju pesisir pantai.
"Kamera?" Tanya Kibum memastikan. Ia menatap benda elektronik yang berada pada genggamannya tak mengerti.
"Cari tahu siapa pemilik kamera itu. Aku ingin mendapatkan hasilnya malam ini juga." Titah Donghae seraya memalingkan wajahnya untuk dapat menatap anak buahnya yang sangat jenius itu.
"Baiklah, sesuai perintah anda. Aku akan mendapatkan hasilnya malam ini juga." Seru Kibum dengan rasa hormat. Ia segera memasukkan benda itu kedalam sakunya, dan hendak undur diri sebelum suara husky Donghae, mengintrupsi kegiatannya.
"Satu lagi tugas untukmu, anak muda. Tolong kau awasi seorang pria yang kemarin Youngwoon kirimkan datanya padamu. Kau hanya perlu menjaganya dari jarak jauh tanpa harus menunjukan jati dirimu dan segera laporkan hasilnya langsung padaku, karena Youngwoon akan menjaganya dengan menjadi asisten pria itu." Titah Donghae dengan tatapan datar yang membuat Kibum terkejut. Tidak biasanya bossnya itu memberikan perlindungan kepada seseorang dengan menurunkan langsung kaki tangannya sendiri. Ia yakin kali ini rencana bossnya sangatlah besar dan serius. Dan jika dugaannya benar, bossnya itu melindungi orang itu tanpa berniat mengorbankannya hanya untuk menyelamatkan hartanya saja. Namun tidak adanya pilihan lain, akhirnya bossnya itu memutuskan menggunakan pria itu untuk menyelamatkan hartanya, melipat gandakan hartanya dan lebih beratnya lagi adalah...
Bossnya ini sepertinya berniat untuk mengambil alih pemegang saham terbesar dikawasan eropa, dengan seorang korea yang kini menjadi rivalnya selama bertahun-tahun. Dugaan ini memang hanya berdasarkan pemikiran Kibum yang memang telah bekerja cukup lama dengan Donghae, memang tuannya itu belum mengatakan apapun tentang rencana besarnya itu. Karena yang ia tahu, tuannya itu tidak akan berbicara jika saatnya belum tepat untuk memperlihatkan taring tajamnya yang akan siap digunakan untuk menerkam mangsanya.
Atau jangan-jangan, bossnya ini...
"Berhenti berpikir dan segera lakukan tugasmu." Perkataan Donghae yang terkesan menusuk, sontak membuat Kibum terkejut. Astaga, bagaimana dia bisa tahu bahwa Kibum sedang memikirkan sesuatu? Tanpa menunggu lama, Kibum segera memohon undur diri dengan membungkukan tubuhnya sebelum meninggalkan Donghae yany masih menyesap rasa asam tembakau mewah dari dalam cerutu berwarna hitam kecokelatan itu.
Hening melanda suasana malam yang begitu terasa dingin, menghunus tepat di dalam tulang-tulang yang hanya berlapiskan daging dan kulit. Dengan pakaian yang menutupi bagian tubuh proposional milik seorang Lee Donghae. Menjadikan malam itu kian mendingin, seiring dengan deburan ombak keras yang menghujam langsung pada dinding karang yang terselimuti oleh gelapnya malam dipantai itu.
Pikirannya menerawang jauh, seakan kegiatan barunya itu mampu membawanya pergi jauh menuju seseorang dengan bibir menawan yang menciptakan rasa manis hingga tertinggal didalam mulutnya yang dipenuhi oleh kepulan asap cerutu.
Ia tersenyum miring, hingga tawa remeh mengalun melalui bibir tipisnya. Ketika membayangkan moment menggelikan yang baru saja ia ciptakan beberapa jam yang lalu dengan sosok bersurai kecokelatan berwajah datar yang selalu membuat Donghae ingin sekali menghajar pria itu untuk membuang rasa angkuh yang seharusnya hanya menjadi miliknya saja.
Entah ia tak mengerti apa yang kini telah terjadi pada dirinya, rasa mual yang selalu menggelitik perutnya seakan kian meradang seiring perasaan asing yang hampir separuhnya melumpuhkan akal sehatnya yang sangat brilliant. Semua karena pria itu, pria yang begitu keras bagaikan gunung es. Seseorang yang perlahan memahat lapisan es pada dirinya, hingga hampir membuatnya hancur berkeping-keping.
Tidak, ia tidak akan kalah dengan semudah itu. Tidak dengan segala intensitas sosok itu yang terpaksa ia korbankan untuk menjalankan ambisi besarnya pada dunia bisnis. Tidak dengan kepribadian serupa yang mereka miliki bersama. Tidak dengan perasaan yang kerap disebut dengan cinta itu. Karena yang terpenting bukanlah sosok itu, segala yang ada pada pria itu tidak ada yang penting, yang terpenting saat ini adalah ia harus mendapatkan ambisi besarnya dengan tangannya sendiri.
Tidak akan ada yang terjadi, jika pria itu terus menuruti setiap perintah yang akan ia tunjukan pada pria bermarga Lee itu. Semua akan baik-baik saja, jika Eunhyuk tetap ada dalam kendalinya.
Ia memang hampir terjatuh, tapi kali ini ialah yang akan membuat pria bersurai kecokelatan itu terjatuh tanpa harus menggunakan tangannya sendiri. Bukan jatuh untuk membuat pria itu menyukainya, tapi sebagai hukuman karena sosok itu hampir membuatnya terjatuh karena pesona dari pria bertubuh ramping itu.
Donghae segera menjatuhkan cerutu mahal yang kini telah habis setengah, kemudian menginjaknya hingga api yang membakar tembakau itu memadam.
"Tenang saja, aku tidak akan menginjakmu seperti halnya dengan cerutu mahal ini. Benda murah sepertimu, lebih baik jika disimpan sebagai aset untuk dimanfaatkan. It's show time."
.
.
.
.
.
Pagi kian menjelang, tatkala matahari tampak terbit dari ufuk timur yang menembus langsung pada jendela kamar hotel yang saat ini tengah ditempati oleh pria bernama lengkap Lee Eunhyuk itu.
Dengan pakaian formal yang begitu pas membalut tubuhnya, ia segera memakai sebuah jas hitam untuk menutupi kemeja hitamnya yang sangat ketat membentuk lekukan tubuhnya dengan sempurna. Ia mengalihkan pandangannya sejenak, menatap matahari yang kian meninggi hingga mampu menyilaukan mata rubahnya yang memukau.
"Waktu anda tinggal empat puluh lima menit lagi tuan Lee." Suara bass dari seorang pria yang kini telah menjadi asistennya itu, sontak mengintrupsi kegiatan melamun Eunhyuk untuk sekedar menganggumi keindahan langit yang beberapa tahun ini sempat ia abaikan.
Eunhyuk menoleh, menatap dalam diam sosok yang ia kenal dengan Youngwoon itu. Matanya yang tajam, seakan menelanjangi pria berbadan besar itu tanpa belas kasihan sama sekali.
"Ada yang anda perlukan tuan Lee?"
"Tidak perlu, kau keluarlah dulu." Sahut Eunhyuk, ia segera melangkahkan kakinya menuju nakas disamping ranjangnya. Mengabaikan sosok Youngwoon yang sempat membungkuk hormat sebelum meninggalkan kamarnya dalam keheningan.
Jemari lentiknya perlahan meraih sebuat pin dengan secarik kertas yang baru semalam ia baca.
Gunakan pin itu saat rapat besar nanti, pin itu akan merekam secara otomatis saat kau menaruhnya di kerah kemejamu. Lakukan seperti biasanya, kau akan aman jika menuruti semua kata-kata dariku.ㅡ LDH
"Baiklah sajangnim yang terhormat. Aku akan menuruti semua perkataanmu. Lakukan seperti kemauanmu, sebelum aku menghabisimu suatu saat nanti." Gumamnya dengan suara datar. Ia meraih pin berbentuk kancing itu, dan meletakkannya pada kerah kemejanya.
Dengan percaya diri, ia segera melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamar hotel tersebut. Menutup pintu mewah itu, untuk memulai hidup barunya yang tidak akan pernah bisa ia bayangkan betapa berbahayanya didepan sana.
Yang ia tahu adalah, ketika ia pulang dari Jeju. Ia akan segera menemui kakak iparnya untuk ia hina dengan jurus kata-kata kasarnya yang jarang sekali ia keluarkan secara khusus untuk wanita hamil itu. Tenang saja, ribuan kata-kata tak layak telah sampai pada pangkal tenggorokannya untuk mengabisi wanita gila itu!
Tampak Youngwoon yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, dengan wajah yang perlahan mendongak menghadap Eunhyuk yang berada dihadapan pria bertubuh besar itu.
"Anda sudah siap?"
"Tutup mulutmu."
.
.
.
.
.
"Dia sudah pergi bersama Youngwoon menuju aula serba guna hotel ini, Sajangnim Lee."
Donghae mengusap bibir bawahnya dengan sensual tatkala lelehan kopi hangat yang ia minum, mengalir membasahi sudut bibirnya yang tampak menunjukan seringai tipis ketika Kibum datang untuk memberitahukan padanya bahwa rekan sewaannya telah siap dengan apa yang menjadi tugasnya saat ini.
"Dia benar-benar bersikap sangat profesional. Tak salah aku memilihnya sebagai rekan bisnis yang sempurna." Gumamnya pelan, hampir seperti berbisik. Ia segera beranjak dari tempatnya duduk saat ini, dan menghadapkan tubuhnya pada sosok kaki tangannya yang baru saja memberitahukan akan keadaan Eunhyuk saat ini.
"Apa orang itu sudah tiba di sini, Kim Kibum?"
"Belum Sajangnim. Saat ini orang itu sedang dalam perjalanan dari bandara menuju tempat ini." Sahut Kibum seraya memperlihatkan hasil gps pada ponselnya yang menunjukan adanya titik merah yang sedang berjalan menuju hotel berbintang lima ini.
"Bandara katanya? Orang itu benar-benar penipu ulung rupanya."
Donghae menganggukan wajahnya tanda mengerti, ia menjentikan jemarinya untuk memanggil asisten wanitanya yang tengah menunggunya diluar kamar hotel. Hingga menampilkan sosok wanita yang segera memasuki kamarnya untuk menghadap pada tuannya itu.
"Kau sudah bertemu dengan orangtua dari Eunhyuk-ssi?"
"Sudah Sajangnim Lee, saya sudah membuat jadwal untuk pertemuan anda dengan orangtua Eunhyuk-ssi." Jawab asisten wanita itu seraya menundukan wajahnya karena gugup.
"Bagus. Ingatkan aku untuk memberikanmu hadiah istimewa atas kerja kerasmu selama bekerja denganku. Sepertinya sudah waktunya memulai meeting besar hari ini, kita harus segera menuju aula hotel." Ujar Donghae seraya melangkahkan kakinya menuju pintu keluar kamarnya tersebut. Namun belum sempat ia melalui kamar hotel, langkah pria dengan style resmi itu sontak terhenti tatkala ada sesuatu hal yang belum tersampaikan pada Kibum, kaki tangannya itu.
"Ah, Kim Kibum."
"Ya."
"Tetap awasi Eunhyuk-ssi dan juga orang itu. Asetku harus kau awasi, agar tidak ada lagi seekor serigala liar yang akan berani memangsa domba milik sang pengembala."
"Baik, sajangnim Lee."
.
.
.
.
.
Klik
Pria dengan surai merah kecokelatan itu sontak menekan tanda merah pada ponselnya yang baru saja dihubungi oleh anak buahnya untuk memberitahukan suatu hal yang sangat mengejutkannya. Ia tertawa pelan, seraya kembali meletakkan ponselnya pada saku jasnya yang terbuat dari bahan berkualitas tinggi.
"Kita ketahuan rupanya." Sungutnya dengan senyum mengejek yang mampu membuat wanita berpakaian sexy disampingnya hanya terdiam tanpa berani mengajukan beberapa usulan pintar lainnya untuk menyempurnakan strategi atasannya itu untuk memperebutkan tahta asia yang masih dikuasai oleh pria tampan yang paling ia kagumi bernama Lee Donghae.
"Tuan, sudah saya katakan pada anda bahwa rencana penguntitan itu tidak akan berjalan dengan baik jika yang kau untit adalah orang pintar seperti sajangnim Lee yang tampan itu."Ujar wanita berkacamata itu seraya mempertebal bibirnya dengan lipstik keluaran terbaru dari brand terkenal yang berwarna merah pekat itu. Mengabaikan tawa pria disampingnya yang semakin menggema cukup keras didalam mobil hitam yang tengah melaju menuju pertemuan besar untuk kalangan pembisnis dunia seperti dirinya.
"Jadi maksudmu aku tidaklah pintar seperti dirinya? Kau lebih mendukungnya ketimbang aku yang notabenenya adalah atasanmu ini? Ayolah, aku adalah pemegang saham terbesar dikerajaan eropa. Dan untuk apa kau masih bekerja denganku jika kau lebih menyukai boss seperti pria es itu?!" Desisnya tak terima. Ia sontak menyuruh supir pribadinya untuk membuka kaca mobil hingga hembusan angin kencang dari laut memasuki ruang mobilnya sampai menyebabkan rambut asisten wanitanya itu semakin berantakan dibuatnya.
"Astaga! Tuan, kau mengacaukan tatanan rambutku!"
"Wanita ini sungguh mengganggu, ingatkan aku bahwa ini adalah tugas terakhirmu jika kau tetap tidak mau diam dan menuruti segala perkataanku."
"Aa, ja, jangan tuan! Aku mohon, jangan pecat saya!" Pekik wanita itu panik. Ia segera membenahi alat make up dan merapihkan surai hitamnya ketika mendapatkan tatapan marah yang terpancar dari mata elang pria disampingnya itu. "Baiklah, saya akan bekerja sesuai dengan perintah anda!" Lanjutnya dengan suara bergetar karena rasa takut yang melanda hatinya.
Pria itu berdecak melihat perubahan drastis wanita yang berstatus sebagai asistennya itu.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh sajangnim Lee di dalam meeting kali ini. Saat ini pasti banyak investor yang berniat untuk menaruh saham mereka pada perusahaan-perusahaannya diberbagai belahan asia, dan aku tidak tahu siapa orang yang beruntung mendapatkan sebagian sahamnya untuk bekerja sama dalam memperluas kerajaan bisnisnya itu. Ataukah ada rencana lain yang akan ia gunakan untuk menjatuhkanku dan mengambil kerajaan bisnis ku? Oh, tidak akan pernah. Sebelum ia menjatuhkanku, aku yang akan menggulingkannya terlebih dahulu dan menjatuhkannya dari atas jurang yang paling dalam." Ucapnya entah pada siapa. Pria itu perlahan mengusap wajahnya, sebelum menyuruh asisten wanitanya itu untuk terus mengawasi jalannya meeting hari ini.
"Persiapkan semuanya dengan baik. Aku tidak ingin rencanaku terbongkar lagi untuk yang kedua kalinya."
"Ba, baik."
.
.
.
.
.
Waktu menunjukan tepat pukul sembilan pagi ketika hotel berbintang lima itu kini telah dipenuhi oleh pengusaha-pengusaha elit dari berbagai belahan dunia yang baru saja tiba untuk memenuhi kursi kosong yang terdapat didalam aula serba guna di hotel pulau Jeju tersebut.
Semua orang kalangan atas diundang dengan tujuan yang berbeda-beda, saling memperebutkan posisi puncak dan menjatuhkan setiap lawannya dengan cara menjadi penjilat handal. Penipu ulung yang berkedok pakaian mahal yang membalut tubuh mereka. Donghae selalu menyebutnya lintah menjijikan, yang akan selalu menempel padanya untuk mendapatkan sebagian dari kekayaannya yang tak terhingga jumlahnya.
Sungguh, hal ini bukanlah keinginan Eunhyuk yang saat ini tak bergeming pada tempatnya berdiri sejak setengah jam yang lalu. Salahkan ia yang terlalu datang lebih awal untuk mempersiapkan segala tugasnya nanti. Bagaimanapun juga, ini adalah pengalaman pertamanya untuk berbaur diantara penjilat kelas kakap yang lebih menginginkan uang ketimbang menolong anak anjing yang sekarang karena terlindas mobil mewah mereka.
"Apa anda ingin masuk tuan Lee?" Tanya Youngwoon yang sejak tadi ikut berdiri disampingnya. Ia melirik pria berbadan besar itu sejenak, sebelum menenggak air putih yang baru saja diberikan Youngwoon padanya.
"Brengsek. Apa kah ini akan lama?" Desisinya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Anda belum memulainya, jadi saya tidak tahu apakah ini akan berlangsung lama. Jika segala rencana sajangnim Lee sesuai dengan keinginannya, saya yakin ini tidak akan lama." Jawab Youngwoon tenang. Ia terdiam seraya mengamati wajah halus sosok pria didepannya yang saat ini tidak menunjukan ekspresi apapun yang berarti. Namun pria besar itu yakin, bahwa pria dihadapannya sedang gugup saat ini.
"Apakah anda gugup tuan Lee?" Tanya Youngwoon dengan senyum tipis yang menghiasi wajah tampannya. Ia semakin tersenyum tatkala mendapat tatapan datar dari pria bermarga Lee itu.
Hanya ada suara hiruk pikuk manusia yang berlalu lalang ditempat itu, tak ada kata yang keluar dari bibir ranum yang begitu memikat mata siapapun untuk melihatnya dan membayangkan betapa nikmatnya jika bibir merah itu dipagut dengan sangat lembut hingga tak bersisa.
Youngwoon tidak memungkiri, bahwa ia sempat berpikir seperti itu ketika dirinya bertemu pertama kali dengan pria berahang tegas itu.
"Anda..." Belum sempat Youngwoon melanjutkan perkataannya untuk memuja pria bersurai kecokelatan itu. Seorang pria yang baru saja turun dari kamar hotel itu, sontak membuat seluruh pasang mata tertuju pada sosok itu. Tak terkecuali seorang pria yang baru saja tiba di dalam hotel tersebut yang sebentar lagi akan menjadi ajang persaingan kekuasaan dalam dunia bisnis yang mereka geluti.
Pria dengan surai merah kecokelatan yang baru saja tiba dengan asisten wanitanya itu, segera melangkahkan kakinya menuju pria dingin yang kini tengah berdiri dihadapannya, dengan sebuah senyuman miring yang sangat menantang untuk ia habisi detik ini juga. Tapi tidak sekarang, waktunya belum tepat untuk menghabisi pria berwajah datar itu. Ia hanya perlu mengikuti alur yang akan dimainkan oleh pria bermarga Lee itu.
"Senang bertemu denganmu, sajangnim Lee." Ucap pria itu dengan senyum menawan yang mampu membuat siapa saja terpesona akan kerampanan pria bersurai merah kecokelatan itu.
"Tidak kah kau malu ketika kau menampilkan wajah sialanmu itu dihadapanku setelah penguntitanmu terbongkar? Tuan Nickhun?" Tanya Donghae dengan seringai tipis yang menghiasi wajahnya. Pria bersurai merah kecokelatan yang bernama Nickhun itu, sontak tertawa keras ketika mendengarkan apa yang barusan dikatakan oleh pria berwajah datar bermarga Lee itu kepadanya.
"Bajingan ini akanku pastikan tamat suatu saat nanti."
"Terserah padamu saja. Kali ini aku hanya menonton apa yang akan kau tampilkan hari ini, sajangnim Lee." Sahutnya datar. Setelahnya, ia segera melangkahkan kakinya untuk menuju aula hotel yang akan menjadi ruang meeting hari ini. Meninggalkan Donghae yang tidak mempedulikan perkataan pria yang kini telah mengganti kewarganegaraannya itu.
Ia hanya terlalu tertuju pada seseorang yang sejak tadi terdiam, dengan tatapan matanya yang tertuju pada pertemuannya tadi dengan rival bisnisnya itu.
Wajah putih dengan bibir ranumnya yang tampak merah. Siapa sangka jika bibir itu telah ia rasakan didalam mulutnya? Benar-benar perusak suasana saja.
"Sebaiknya kita masuk." Ucapnya pada asistennya. Namun lebih dari itu, bibir tipisnya sebenarnya sedang berbicara kepada sosok yang tak lain adalah Eunhyuk. Ia mengisyaratkan Eunhyuk untuk segera memasuki ruang aula.
"Tenang saja, semua akan aman... Percaya padaku." Lanjutnya, sebelum meninggalkan tempat itu untuk memulai meeting hari ini.
"Kau tak perlu cemas tuan Lee. Sajangnim Lee telah mempercayakan nyawamu padaku. Kau akan tetap baik-baik saja, sampai semuanya selesai." Youngwoon segera menambahkan. Ia menatap dalam sosok Eunhyuk yang kini hanya diam dengan seringai remeh dibibir ranumnya.
"Jangan membuatku tertawa. Ini tidak akan mengubah apapun, kecuali kau memberikan ku waktu untuk tidur."
.
.
.
.
.
Tbc
HAIIII AKU DATANG MEMBAWA COLD CHAPTER 8 LOHHH! ADA YANG INGAT INII? heheheeh, gimana? makin anehkan xD sekian lama ga lanjutin ini sempet bikin bingung sih wkwkwkwk tp akhirnya jadi juga chapter 8 kwkwkwkwkw. Dan dinginnya masih berasa gak disini? Apa udah anget2 kayak wedang jahe? Okelahh, sampai ketemu dichapter selanjutnya yaa~ moga aja gak lama~~
Ah iya, besok jumat aku mau interview di perusahaan korea #katanya. Mohoh doanya ya, semoga bisa keterima kerja disana dan bisa lama kerjanya sampai kekumpul modal buat usaha heheheh. Aminnn
oke sampai disini dulu yaa, terima kasih sudah mau mampir lagi buat baca ini ff xD #bow
Byee~~
