YEEEAAAYYYY Ternyata aku bisa update hari inii! Seneeenngg (hahaha).
Warning: PG-15 for D18, 6927.
Mohon maaf sebesar-besarnya kalau adegan xxx-nya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Maaf kalau penggunaan bahasa terkesan aneh.
Setelah itu, bahasa biologi akan digunakan, seperti: puti**, pen**. Yang ngga kuat atau ngga kebiasa, maaf. Tapi pemakaian kata itu sedikit kok.
Udah siap? Scroll down.
Ch. 8: Because I Fell In Love With You
(Ruang Resepsi)
Hibari terduduk di kursi sofa, sementara Dino berusaha mengeringkan badan kekasihnya itu. Untung saja Romario selalu siap siaga. Ia sudah mengantisipasi hal seperti ini akan terjadi. Jadi dia selalu membawa handuk dan baju ganti (meski itu baju Dino). Hibari terpaksa mengganti seragamnya dengan kemeja putih Dino yang dibawa Romario itu. Tentu saja Romario diusir keluar oleh Dino saat Hibari ganti baju. Setelah cukup lama, akhirnya Dino bertanya kepada Hibari, "Bagaimana caranya kamu bisa kembali ke tubuhmu?"
"...herbivore itu berusaha menolong anak burung yang mau jatuh dari sarangnya di atas pohon." Hibari diam sejenak, "Aku melihatnya dari lapangan, jadi aku menghampirinya untuk memastikan tubuhku tidak kenapa-napa."
"Lalu setelah menolong burung itu, Tsuna jatuh dari pohon?" tanya Dino.
"Tidak. Dia dari jendela UKS berusaha menggapai dahan pohon terdekat untuk menolong burung itu," Hibari berusaha mengingat, "lalu ketika tangannya berhasil mengenai dahan pohon, tiba-tiba saja pohon itu lenyap. Bersama burungnya."
"Ilusi?" tanya Dino, ia duduk di sofa yang berhadapan dengan Hibari.
"Sepertinya begitu. Kemudian aku memnaggilnya, dia hilang keseimbangan dan jatuh."
"Begitu... lalu kalian bertubrukkan ya. Hm, kalau ilusi berarti ini ulah Rokudo Mukuro."
"..."
"—tapi darimana dia tahu kalian bertukar tubuh ya..."
"Yang penting kan aku sudah kembali ke tubuhku. Begitu juga dengan herbivore itu." Hibari berdiri dan berjalan mendekati Dino.
"Tapi cara dia mengembalikan tubuh kalian itu berlebihan. Bagaimana kalau kamu terluka? Belum lagi, Tsuna tidak ada disekitar kita sewaktu aku dan Romario menemukanmu... kemana dia..." Dino mendongakkan kepalanya untuk melihat Hibari yang kini berdiri di depannya.
"Biarkanlah yang sudah berlalu." Hibari naik ke atas sofa dan duduk di atas pangkuan Dino. Ia merangkulkan tangannya di leher orang Italia itu dengan mesra. Dino sedikit terkejut dengan tindakan Hibari. Ada apa dengan anak ini? Apa karena kepalanya terbentur dia jadi lebih berani begini?
"Boss, waktunya tinggal 30 menit." Kata Romario mengingatkan boss mudanya.
"Aku tahu..." jawab Dino malas.
"Saya permisi." Romario pun segera keluar dari ruang resepsi. Ia berdiri di depan pintu untuk berjaga agar tidak ada yang mengganggu waktu privasi bossnya. *hitung-hitung curi dengar juga...*
Dino memeluk Hibari, ia mengelus punggung sang cloud guardian dengan lembut. Belum ada yang bergerak duluan.
...sebetulnya Dino sudah sangat ingin melahap lelaki yang lebih pendek itu. Terutama karena penampilannya yang sangat menggoda.
Rambut Hibari yang masih belum begitu kering, kulit putihnya yang begitu halus, dengan badan ringkih yang terbungkus kemeja lengan panjang Dino, tanpa memakai celana panjang. Untung kemeja Dino kebesaran di badan Hibari, sehingga kemeja itu menutupi paha Hibari. Hujan yang tidak berhenti sangat mendukung suasana. Baik Dino maupun Hibari, tubuh mereka sama-sama merasa dingin. Kalau sudah begini... bukankah keinginan untuk memeluk satu sama lain semakin besar?
"Aah... ini gawat." Kata Dino sambil menghela napas.
"Kenapa?" tanya Hibari
"...aku ingin melakukan 'itu'. Karena kamu terlihat begitu menawan saat ini."
"Aku juga." Jawab Hibari tanpa basa-basi.
Dino membelalakkan matanya. Dia benar-benar jadi berani begini karena kepalanya terbentur ya?
"Ayolah, kamu mau aku yang mulai?" goda Hibari.
"Hmp. Kyouya, Kyouya... tak apa. Aku saja..." jawab Dino.
Dino memegang dagu Hibari, kemudian menempelkan bibirnya dengan lembut di bibir Hibari. Hibari mempererat pelukannya, sementara tangan Dino mulai menelusuri paha Hibari yang halus. Dino menjilat bibir Hibari dan sedikit menggigit bibir mungil itu, memberi isyarat bagi Hibari untuk membuka mulutnya. Meskipun kecil, tapi lidah Dino langsung melesat memasuki dan menelusuri isi mulut Hibari. Ia merasakan semua sensasi yang ada dari kekasihnya itu. Begitu manis. Membuatnya ketagihan... Lidah mereka bertemu, untuk beberapa saat saling 'bertanding'. Jelas Dino yang menang.
"Mmh..." desah Hibari di tengah-tengah ciuman panas mereka. Yang tentu saja memacu Dino. Gerakan tangan Dino meliar, ia membuka kancing kemeja Hibari, menyentuh kulit lembut Hibari.
"Mmn... ah..." desah Hibari saat Dino memegang putingnya. Dino menghentikan ciumannya, namun bibir mereka masih terhubung dengan segaris saliva. Keduanya bernapas berat. Terlihat pula pipi Hibari sedikit merona. Selanjutnya, mereka tak bisa menahan diri lagi dari semua gairah yang telah terbangun. Dino membaringkan Hibari, lalu mencium leher kurus penguasa Namimori itu. Sementara tangannya mulai melepaskan celana dalam Hibari.
Selanjutnya, Dino mencium puting Hibari. Ia sedikit menjilati daerah itu.
"Uuh... mmnn..." Hibari mengerang, membuat Dino bergerak semakin cepat, namun lembut. Hei, betapa ia tahu sensitifnya Hibari. Dengan satu sentuhan saja, Hibari bisa terbawa suasana. Apalagi kalau Dino menyentuh G-spotnya.
Dino menyentuh lubang tempat dimana nanti ia akan memasukan alat vitalnya, membuat Hibari tersentak.
"A-aah!"
"Kenapa? Kau kaget?"
"...tidak." bohong. Hibari berbohong.
"Hmm, begitu... yah, lubangmu kecil sekali lho. Kapan terakhir kita melakukannya?" tanya Dino
"Aku lupa."
"Sudah selama itukah?"
"Sudah tak usah banyak omong. Masukan saja langsung."
Dino malah terkekeh mendengar kalimat Hibari, "Nanti kamu tidak bisa jalan, Kyouya... aku kan..." Dino memegang penis Hibari. Sekali lagi, Hibari terlonjak karena tangan Dino terasa dingin.
"—khawatir kalau kamu tidak bisa beraktivitas setelah ini..." lanjut Dino.
"Sudahlah! Lanjutka— aaahh! U-uh... mmn.. Di...no..."
Dino tersenyum sambil meraba-raba alat vital Hibari itu. Tanpa diduga, ternyata benda itu basah lebih cepat dari yang diperkirakan Dino, "Aku kagum. Kamu tidak pernah melakukannya sendiri ya?" katanya sambil menghela napas. Yah, mana mungkin Hibari melakukan tindakan 'kotor' itu seorang diri, "Tapi kalau begini, aku tidak akan berlama-lama." Dengan tangan kanannya yang bebas, Dino mulai memasukkan satu jari kedalam lubang Hibari.
"Uuunng! Aaahh!"
"Sesakit itukah? Tahan, Kyouya. Rileks."
"Aaahh... Dino... Dino..." Hibari memejamkan matanya. Sudah lama sekali ia tidak merasakan sentuhan Dino, ciuman Dino, dekapan Dino, tubuh Dino, semuanya... Sekarang, entah karena pengaruh jangka waktu itu atau yang lain, Hibari merasa lebih sensitif dari sebelum-sebelumnya. Ia ingin disentuh lebih banyak. Lebih lama. Lebih nikmat.
"Dino..." erang Hibari.
Dino semakin terpacu, ia memasukan jari keduanya. Membuat lubang itu terekspos makin besar, sementara tangan kirinya mulai basah karena pengaruh cairan-cairan putih yang mulai keluar dari ujung alat vital Hibari.
"Uuuh.. Dino..." Hibari membuka matanya, menatap lurus kearah sang Don Cavallone itu. Matanya tidak penuh keraguan, ketakutan, atau yang lainnya, tapi—...
Nafsu.
"Kyouya... baiklah." Dino melihat lubang Hibari. Sudah cukup. Mungkin masih kurang sedikit, tapi Hibari yang sekarang, sudah jelas terlihat dia sangat menginkan Dino.
Dino menurunkan resleting celananya, sebelum ia memposisikan alat vitalnya di depan lubang Hibari, ia menatap pemuda dibawahnya itu, "Kau tahu, kau terlihat sangat indah di hadapanku."
"Heh..." Hibari menyeringai, "Apa itu yang kau sebut dengan 'saat kau mencintai orang lain, kau akan terlihat lebih indah'?"
Dino melebarkan matanya. Lalu tersenyum, "Ya. Betul. Karena itu akan selalu membanjirimu dengan cintaku... Nah,"
"—sudah siap?" tanya Dino sambil tersenyum.
-000-
(Kokuyo Land)
Tsuna menatap wajah Mukuro. Pria berambut biru kehitaman itu sejak tadi tersenyum terus. Mereka berdua tidak bergeming sedikitpun. Hanya saling menatap.
"Kufufu..." Mukuro tiba-tiba tertawa, "Kemarilah. Di dekat jendela dingin kan?" katanya sambil duduk di sofa. Tsuna pun menghampirinya lalu duduk di sebelah mist guradiannya.
"Ini, minumlah." Kata Mukuro sambil memberikan Tsuna secangkir teh hangat yang dibawanya tadi. Tsuna menerimanya tanpa rasa curiga sekitpun, lalu ia meminum teh itu. Sangat hangat. Mampu membuat tubuhnya tidak begitu menggigil lagi. Ia tahu kalau Mukuro terus menatapnya, Entha karena apa, tapi Tsuna sendiri tidak berniat untuk menanyakan hal itu.
"Teh ini kamu yang buat?" tanya Tsuna.
"Ya. Aku suka membuat teh atau kopi di hari hujan seperti ini." Jawab Mukuro.
"Oh... ngomong-ngomong dimana teman-temanmu yang lain?"
"Kusuruh pergi karena ada yang ingin kubicarakan denganmu berdua saja."
"...sebelum itu, ada yang boleh kutanyakan?"
Tsuna meletakkan cangkir teh itu di atas meja.
"Silakan." Kata Mukuro sambil tersenyum
"Darimana kamu tahu aku dan Hibari-san bertukar tubuh?"
"Hmm, dua hari yang lalu aku datang ke Namimori untuk mengunjungimu. Tapi aku melihat keganjilan disana. Tubuhmu yang tertidur di atap, dan tubuh Kyouya-kun yang ada di dalam kelas. Padahal kan Kyouya-kun tidak mungkin ada di dalam kelas. Ia selalu tidur siang di atap atau di ruang resepsi. Selain itu, kamu tidak ada di kelasmu, tapi tertidur di atap. Bukannya dari situ sudah cukup jelas?" Mukuro tersenyum, "Kemarin, untuk memastikan kalau kalian benar-benar bertukar tubuh, aku mengunjungi rumah Kyouya-kun tengah malam. Aku melihat kalian yang tidur bersebelahan kamar. Aku mencium keningmu yang masih di tubuh Kyouya-kun, lalu menelusuri mimpimu. Dari situlah aku sungguh-sungguh yakin kalau kalian bertukar tubuh."
"Lalu kamu bermaksud mengembalikan keadaan kami seperti semula dengan membuat ilusi pohon tadi?" tanya Tsuna. Nada suaranya sedikit bergetar.
"Benar."
PLAK!
Tsuna menampar pipi Mukuro dengan kencang. Bekas kemerahan timbul di pipinya itu. Mukuro melihat Tsuna yang berdiri gemetaran. Berusaha menahan amarah dan tangisnya. Namn ia gagal. Air matanya meleleh. Tsuna pun membalikan badannya. Kini, Mukuro menatap punggung Tsuna yang bergetar.
"Meski aku bisa... kembali ke tubuhku... hiks... tapi saat itu, kalau a-aku jatuh dan tubuh Hi-Hibari-san terluka, patah tulang... apa yang harus kulakukan? ...uuh..."
"...kamu sebegitu tidak inginnya Hibari Kyouya terluka ya... Sedalam itukah rasa cintamu padanya?" Mukuro berjalan mendekati Tsuna.
Tsuna membalikan badannya menghadap Mukuro, lalu mengepalkan tangannya, memukul pelan dada Mukuro berkali-kali, "Kamu bodoh... bodoh." Gumam Tsuna sambil terisak. Mukuro membiarkan Tsuna memukulnya, tapi lalu pria itu memeluk Tsuna erat-erat.
"Hiks... lepaskan aku..." ucap Tsuna lirih.
"Tidak mau." Mukuro memperat pelukannya.
"Lepaskan aku Muku— mm!" Mukuro mengunci bibir Tsuna dengan sebuah ciuman.
Tsuna melebarkan matanya. Ia kaget. Untuk beberapa saat ia terdiam, namun saat ia sadar, ia langsung berontak. Tapi tenaganya kalah kuat dari Mukuro. Tangan kanan Mukuro meraih kepala Tsuna untuk memperdalam ciuman mereka. Sedangkan tangan kirinya memeluk erat-erat tubuh mungil Tsuna. Tsuna ingin melawan. Tapi ia tidak punya cukup tenaga. Kemana sarung tangan dan pil dying willnya disaat ia membutuhkannya? Terutama karena ciuman Mukuro yang sudah melewati batas. Ia bermain-main dengan lidah Tsuna, memaksa Tsuna terus membuka mulutnya untuk menghirup udara yang masuk sedikit-sedikit. Karena asupan oksigen yang sedikit itulah tenaganya makin menghilang.
"Kh.. Mmnhh... mmn— "
Mukuro memperdalam lidahnya di mulut Tsuna, sampai-sampai membuat anak lelaki mungil itu secara tak sengaja meneguk air liur yang entah miliknya sendiri atau milik Mukuro.
"Mmnn.. aaahh—" Tsuna terjatuh ke lantai, Mukuro menimpanya. Tapi tetap tidak menghentikan ciumannya.
"MMhh.. haa.." desah Tsuna.
Tsuna benci itu. Ia tidak mau mendesah, kesannya seperti menyukai ciuman dari Mukuro, tapi dia sendiri tidak bisa melawan Mukuro, Perlahan, air matanya meleleh lagi, membasahi seluruh bola matanya yang besar.
Mukuro tahu itu, tapi ia tidak menghiraukannya. Ia terus mencium Tsuna.
Tsuna akhirnya betul-betul kehilangan tenaganya. Tangan yang daritadi memukul dada Mukuro kini sudah tergeletak lemas, kakinya yang berusaha menendang Mukuro pun sudah berhenti bergerak. Dan saat itulah Mukuro baru melepaskan bibir Tsuna.
Ia melihat wajah Tsuna yang menangis. Lelaki yang lebih pendek itu terduduk di lantai lalu memutar tubuhnya membelakangi Mukuro.
"Hiks hiks..." Tsuna masih menangis. Ia kesal. Ia ingin marah. Tapi tak ada tenaga.
Ia ingin pergi dari tempat itu secepatnya.
"Itu ciuman pertamamu?" tanya Mukuro
Tsuna tidak menjawab.
"Hei, Tsunayoshi-ku—"
PAK!
Tsuna menepis tangan Mukuro yang menyentuh punggungnya. Mukuro menarik tangannya. Melihat hal itu, ia hanya menghela napas. Lalu berdiri dan mengambil cangkir tehnya. Ia meneguk sedikit teh buatannya itu, lalu kembali meletakkannya di atas meja.
"Ada yang mau kukatakan," Mukuro melihat punggung Tsuna, "aku tidak mau kamu terus-menerus berada di tubuh Hibari Kyouya, Aku ingin kamu kembali ke dirimu, Tsunayoshi-kun." Kata Mukuro.
"Aku tidak peduli harus memakai cara apa- mau kejam ataupun tidak- yang aku inginkan hanyalah kamu kembali ke tubuhmu." Lanjutnya.
"...apa alasannya, Mukuro?" tanya Tsuna lirih.
Mukuro sedikit tersentak. Ia terdiam untuk beberapa saat, membuat Tsuna berdiri dan menatapnya langsung, "Apa alasannya, Mukuro?" tanya Tsuna sekali lagi.
Mukuro memejamkan matanya sesaat, lalu kembali menatap orang di hadapannya itu. Sudah ia putuskan. Ia akan mengatakannya.
"Karena aku jatuh cinta padamu Tsunayoshi-kun."
Chapter 8 selesai...
Aaaaaa sebetulnya aku udah pernah buat adegan xxx lebih dari sekaliii... tapi kalo antar karakter KHR, baru 2x *yang pertama sangat hancur*
Jadi MAAF kalau adegan D18 nya ngga greget. Banyak pengulangan kata, dll. Maaf... *saya masih umur 15... (dan udah bikin adegan bgini? Anak mesum!)*
Yah, maaf juga karena ngga menyelesaikan adegan D18 di atas, kalau ngga ratingnya harus berubah... *atau emang udah harus aku rubah? Tolong kasih tau!*
Tapi chapter selanjutnya ngga akan jadi mesum terus-terusan kok... adegan begitu pokoknya jarang deh... pokoknya kalau ada adegan dewasa lagi, aku kasi warning.
Yak, Preview chap selanjutnya.
ch.9: Fever, Reborn & Mukuro.
Pulang dari Kokuyo Land, Tsuna terkapar demam. Ia terpaksa tidak masuk sekolah esok harinya.
Baiklah, Tindakan Mukuro sudah keterlaluan, sang tutor pun mulai bergerak. Setelah Reborn menceritakan pada Gokudera dan Yamamoto apa yang terjadi pada Tsuna dan bagaimana Mukuro mengembalikan mereka seperti semula, ia pun pergi ke Kokuyo Land untuk menemui si mist guardian.
-000-
Peluru ditambakkan lagi, kali ini menyerempet lengan kiri Mukuro.
"Ukh..." Mukuro sedikit goyah.
"Aku tahu kamu menyukai Tsuna." Reborn menatap wajah Mukuro.
"Lalu?" balas Mukuro dengan menahan rasa sakit.
"Tapi kamu membuatnya jatuh sakit." Kata Reborn dingin.
"Lalu kamu mau melukaiku?"
-000-000-
Spoiler: Chapter selanjutnya ada sedikit 8059, bagi yang sudah kangen, tunggu ya...
Makasih udah baca chap abal ini. Tolong direview ya..
