Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC
"Shika... maru?"
Mata onyx itu beradu dengan mata aquamarine Ino. Dahi laki-laki itu berkerut. Mata malas itu entah ada di mana, yang Ino temukan hanyalah mata yang memancarkan keseriusan, keinginan kuat. Ino bergidik melihat ekspresi langka dari Shikamaru. Dia punya dugaan tentang apa yang akan dibicarakan Shikamaru, dan dia sangat berharap kalau dugaannya salah.
"Aku mau ngomong."
Ino mengangkat sebelah alisnya. "Ngomong aja."
"Tunggu sampai yang lain pergi."
Ino mengerutkan dahinya. Mata biru itu mengelilingi ruangan. Hanya ada tiga manusia di sana: Sakura, Ino, dan Shikamaru. Ino pun melirik Sakura yang berdiri kaku di sebelahnya. Sakura ganti menatap Ino dengan tatapan seolah dia adalah pencuri yang tertangkap basah. Cewek berambut pink itu nyengir dan langsung mengambil langkah seribu, meninggalkan Ino dan Shikamaru di kelas yang sepi.
"Apa?" tanya Ino, berusaha suaranya tetap tegas, walaupun jantungnya bertalu-talu layaknya genderang yang ditabuh. Dia berdoa dalam hati. 'Katakan apa saja asal jangan yang satu itu,' seolah dia memerintah Shikamaru.
"Aku minta maaf."
Yang Ino coba untuk dikubur dalam-dalam muncul ke permukaan. Kenapa? Padahal Ino sudah berusaha membuang jauh-jauh masalah itu dari ingatannya, tapi kini Shikamaru datang dan mengungkit masalah itu lagi. Sesungguhnya dia merasa jauh lebih baik jika Shikamaru tidak meminta maaf.
"Terlambat," katanya ketus. Tubuhnya terasa lebih panas dari sebelumnya, kemarahan telah menguasai. Dia tersenyum kecut, dan berbalik.
Tapi lagi-lagi sebuah tangan meraih pundaknya.
Ino menggigit bibir bawahnya, sebagai pelampiasan emosi yang menusuk-nusuk dadanya. Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya, beranggapan bahwa lebih banyak udara sama dengan lebih banyak energi untuk mengendalikan kemarahan.
Tapi tampaknya, seberapa banyak udara yang dia hirup tak akan berpengaruh pada suasana hatinya.
"Tak ada yang perlu dijelaskan!" bentak Ino, dia sama sekali tak berniat untuk berbalik, tak berniat menatap sepasang onyx itu. Dia tak peduli lagi dengan hubungannya dengan sahabat kecilnya itu. Biarlah mereka menjadi musuh abadi setelah ini. Ino tak peduli, yang terpenting baginya adalah terhindar dari anak sulung Shikaku itu.
"Kemana kamu saat aku sakit, hah?" emosi benar-benar mengambil alih tubuh Ino sekarang, dia melupakan akal sehatnya. Yang ada dalam dirinya hanyalah kemarahan yang membakar, keinginan kuat untuk menumpahkan semuanya. "Kamu senang-senang sama pacar kamu!"
Ino tak mengecewakan orang-orang yang memberinya julukan 'keras kepala', dia sama sekali tak berkaca-kaca. Tidak, justru giginya bergemeletuk. "Kamu nggak sadar ya? Penyebab aku pingsan juga kamu! Siapa yang mengunci pintu itu? Kamu!"
Tubuh ramping itu berbalik, menghadapi laki-laki yang beberapa senti lebih tinggi darinya. Dadanya naik turun, nafasnya tak teratur. Emosi telah membuat detak jantung Ino menjadi jauh lebih cepat, tak terkendali. Mata aquamarine menolak untuk bertemu dengan onyx yang ada di hadapannya.
"Jangan temui aku lagi."
Itu adalah kalimat terakhir sebelum Ino berbalik dan meninggalkan Shikamaru.
Gadis Yamanaka itu berlari di sepanjang koridor, berusaha secepatnya menuju pintu keluar. Bisa dia rasakan, matanya terasa penuh oleh air. Setetes bening mengaliri pipinya. Ino menyeka air matanya dengan kasar. Bukan, dia bukanlah tipikal perempuan yang menangisi kesedihannya. Shikamaru tak cukup berharga untuk membuat Ino bersedih sampai mengeluarkan air matanya yang langka. Air matanya itu adalah wujud kemarahannya―air mata itu mengutuk Shikamaru.
Ino masuk ke mobil, berusaha mengabaikan Kabuto yang memandangnya keheranan. Mata biru kehijauannya yang masih buram menatap kosong ke luar jendela, sesekali dihapusnya air mata yang mengalir dari pelupuk matanya.
'Berhenti menangis! Berhenti menangis!' Ino terus mengumpat dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya kesal. Dia menghela nafas berkali-kali, berusaha membuat suasana hatinya kembali normal. Dia tidak terisak, masalahnya hanyalah air mata itu tak mau berhenti keluar dari pelupuk matanya. Kabuto yang mencuri-pandang lewat kaca spion tak berani bertanya apa yang membuat majikannya sefrustasi itu.
Ino menghela nafas ketika mobil berhenti tepat di depan rumah Yamanaka. Dia membuka pintu mobil dan melangkahkan kakinya dengan cepat, berharap tak ada yang akan menghadangkan dalam perjalanannya menuju kamar tercinta.
Terus menundukkan kepala, yang Ino lihat hanyalah lantai. Dan kaki.
Ino mendongak, matanya menelusuri kaki gemuk sampai kepala bundar Chouji. Ya, di teras rumahnya, laki-laki itu berdiri, wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Ino sangat heran mendapati Chouji berdiri tanpa keripik kentangnya.
Ino mendengus dan melangkah melewati cowok tambun itu. Sungguh, dia sedang tidak ada niat untuk bicara atau mendengarkan sepatah kata pun, bahkan dari sahabat karibnya sendiri. Oh Tuhan, biarkanlah dia menuju kamarnya! Hanya itu yang dia inginkan!
Ino sudah bosan dengan tepukan di bahunya.
Ino menoleh cepat, memandang mata sipit Chouji. "Sorry, tapi aku lagi nggak mood."
Chouji tidak melepaskan pegangan tangannya dari bahu Ino. "Sebentar saja."
Ino berdecak kesal. Dia dengan malas memutar badannya. Jari-jari lentiknya mengusap matanya yang basah dengan kasar, berusaha memperjelas penglihatan. Dia mengangkat dagunya, memandang Chouji dengan tatapan 'cepat-selesaikan'.
"Shikamaru itu tidak seperti yang kamu pikirkan," Chouji memulai. Dia mengalihkan jari-jarinya dari pundak Ino. "Sebenarnya, dia yang menunggu kamu di rumah sakit."
Rahang Ino membuka lebar, mata aquamarine-nya seolah bisa terlepas dari tulang. Dalam kebingungan dan keterkejutannya, dia hanya bisa menunggu Chouji melanjutkan.
"Dia tidak bisa tidur, menunggu kamu bangun sejak kamu masuk rumah sakit." Alis Chouji melengkung melawan gravitasi, dia menggigit bibir bawahnya, ragu akan meneruskan atau tidak. Akhirnya dengan wajah prihatin bukan buatan, dia melanjutkan, "Paginya, dia minta aku menggantikan dia."
Ino mengerutkan dahinya, tak mengerti.
"Dia nggak bisa ketemu kamu, karena dia merasa bersalah," Chouji meneruskan. "Padahal itu bukan salahnya 'kan? Semua itu rencana orang tua kita."
Ino akan merasa jauh lebih baik jika seseorang menamparnya saat itu juga. Dia benar-benar bodoh, bahkan sebelum mengetahui kebenarannya, dia telah berani menuduh Shikamaru, mempersalahkannya. Kenapa selama ini dia terus menutup mata, tak mau mencari kebenarannya? Kalau memang yang dikatakan Chouji adalah kebenaran, akankah dia bisa menemui Shikamaru dan mengekspresikan sesalnya?
"Shikamaru sayang padamu." Chouji memandang Ino tanpa keraguan. "Dia benar-benar peduli."
Jika orang bisa kehabisan air mata, itulah yang akan terjadi pada Ino sebentar lagi. Lagi-lagi air matanya mengalir dari pelupuk matanya. Kini dia benar-benar mengerti apa yang dia tangisi. Seharusnya air mata itu memang bukan untuk mengutuk Shikamaru.
"Shikamaru putus sama Temari, di hari kedua kamu ngambek."
Mulut Ino membuka lebih lebar. Shikamaru... Temari... putus? Kenapa? Bukankah terakhir Ino menyinggung tentang Temari, Shikamaru menjadi begitu sensitif? Apa yang bisa menghapus perasaan Shikamaru yang begitu kuat terhadap Temari?
"Temari... punya cowok lagi."
Ino hanya bisa terbelalak.
Figur seorang Temari yang elegan hancur berkeping-keping. Ino menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak. Hanya kata itu yang terus berdengung di telinganya. Dia terus menyangkal fakta yang baru saja di dengarnya, tak bisa mempercayainya meskipun dia yakin telinganya tak bermasalah.
Temari, yang telah Ino jadikan sampel perempuan yang patut ditiru, telah membuat Ino kecewa. Temari telah mencabut gelar kehormatanya di hati Ino, dengan tangannya sendiri. Ino serasa benar-benar kehilangan sosok Temari yang selalu membuatnya iri karena bisa menjadi sosok yang selalu Shikamaru ingat. Membuatnya iri karena auranya yang memikat.
Pikiran Ino mendadak kosong, fakta-fakta mengejutkan datang bertubi-tubi membuat hatinya memberontak, menolak informasi yang baru saja diberikan Akimichi di depannya. Kini pertanyaan bodoh muncul.
Apa yang harus dia lakukan?
Dia telah mengetahui kebenaran bahwa Shikamaru telah berkorban banyak untuknya. Dia telah mengetahui bahwa Shikamaru memberi perhatian khusus padanya. Dia telah mengetahui Shikamaru tak lagi terikat dengan Temari.
Oh Tuhan, haruskah dia senang?
"Pergilah." Chouji selalu bisa menenangkan Ino dengan senyumannya yang tulus dan lembut, membuat Ino tak menyesal memiliki sahabat seperti dirinya.
"Makasih, makasih banyak!"
Sepasang kaki itu pun berlari, pundaknya menopang tas selempang tanpa ada niat melepasnya. Biarlah, yang tercetak di pikirannya sekarang hanyalah laki-laki berkepala nanas yang telah berhasil mengaduk-ngaduk perasaannya dalam beberapa menit terakhir.
'Shikamaru...'
Ino tidak dianugerahi otak secerdas Shikamaru sehingga bisa dengan mudah menyadari semua. Menyadari kalau Shikamaru tak pernah punya maksud buruk padanya, menyadari bahwa yang merenggut ciuman pertamanya adalah rencana sang ayah, menyadari kalau―
Apakah kelewat percaya diri namanya jika dia menyimpulkan bahwa Shikamaru menyukainya?
Yang pasti pikiran itu mampu membuat senyum tersungging di bibir merah mudanya. Yah, dia tak mau membohongi diri bahwa dia senang mendengar jika Shikamaru tak mau melukainya.
Semula, tujuannya adalah kediaman Nara, namun di tengah perjalanan dia berhenti. Dan memang seharusnya dia berhenti.
Dia berhenti tepat di dekat lapangan sepak bola yang tak bisa dibilang terawat. Ketidakteraturan menjadi kata yang paling tepat untuk mendeskripsikannya. Rumput tumbuh sesuka hati mereka, dan sepasang gawang tua berkarat berdiri di kedua sisi lapangan.
Di tepi lapangan, di tempat berdirinya pohon yang merupakan satu-satunya sumber keteduhan, kepala nanas yang sangat Ino kenal mendongak. Tak salah lagi, Shikamaru sedang melaksanakan ritual favoritnya.
Ino berlari secepat yang dia bisa menuju cowok itu. Semakin dekat, debar jantungnya makin tak bisa dikendalikan. Apakah ini disebabkan oleh rasa lelah, atau karena orang yang ditemuinya begitu penting?
Ino mencapai keteduhan dan berhenti. Dia memegang lututnya, kepayahan.
"Boleh duduk?" pertanyaan sederhana itu tak digubris oleh Shikamaru. Ino mengasumsikan itu sebagai persetujuan.
Ino mendudukkan diri di batang pohon, menghadap ke timur. Dia memang tak ingin mengadakan kontak mata dengan cowok yang bersandar dengan menghadap ke utara itu.
Ino menelan ludah, kerongkongannya terasa kering. Dia merasa ada yang bermasalah dengan pita suaranya.
"Aku minta maaf."
Karena suaranya bergetar.
"Aku menyesal sudah marah-marah ke kamu tanpa tahu kebenarannya."
Putri tunggal Inoichi itu menolehkan kepalanya ke Shikamaru, namun Shikamaru bergeming.
"Aku ikut sedih kamu putus."
Anehnya, Shikamaru sama sekali tak bergerak atau pun menggeser posisinya. Apa dia sedang berada di alam lain?
Ino menelan ludah lagi, menyadari betapa lancangnya dia. Harusnya dari awal dia tahu bahwa Shikamaru tak akan memaafkannya.
"Kamu bilang aku nggak boleh nemuin kamu lagi."
Ino tersentak. Shikamaru baru saja memperdengarkan suaranya. Genderang bertalu-talu dalam diri Ino, rupanya dia kelewat senang.
Tapi Ino segera sadar bahwa Shikamaru baru saja menyindirnya.
Dengan pipi merona, Ino mencari-cari alasan yang tepat. Cewek pirang itu membantah, "Tapi bukan berarti aku nggak boleh nemuin kamu kan?"
Shikamaru menatap Ino, jantung Ino berdebar liar.
Sedetik setelah onyx itu menemukan aquamarine, yang dilakukan pemiliknya hanya tersenyum, senyum samar yang bahkan hanya bertahan tak sampai tiga detik. Kini rona yang tadinya hanya menjamah pipi Ino merambat ke telinga.
"Dasar!" kata Shikamaru, tangannya―secara tak teduga―mengusap kepala Ino. Malang, Ino harus diserang sensasi panas lagi.
"Apaan sih?" Ino cemberut, mencoba mengalihkan tangan Shikamaru dari kepalanya. "Kuncirku rusak, tahu!"
Shikamaru menarik tangannya, di saat yang sama mengalihkan pandangannya dari Ino. Lagi, dia menatap awan.
Ino menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang merona. Sembunyi-sembunyi, dia menatap Shikamaru.
"Damai?"
Shikamaru menaikkan alisnya, mengawasi Ino yang menjulurkan jari kelingkingnya. Tersenyum tipis, Shikamaru menjulurkan jari kelingkingnya, kemudian mengaitkannya ke jari kelingking Ino.
"Damai."
Onyx itu mengawasi Ino yang bergeser dari posisinya. Kini dia menghadap ke arah yang sama dengan Shikamaru. Kepalanya mendongak, matanya menatap awan. Shikamaru tersenyum menatap gadisnya yang sepertinya menemukan hobi baru.
Dan, di sanalah mereka. Duduk dengan alas rumput hijau, memandangi kapas-kapas lembut di langit yang biru, bersebelahan. Ino meletakkan kepalanya di bahu Shikamaru. Seakan semua beban terangkat begitu saja dari tubuh Ino. Yang dia tahu saat itu hanyalah aroma tubuh Shikamaru yang memanja indera penciumannya, angin yang berhembus membelai kulitnya, serta matanya yang terus mengawasi awan.
Dia tak pernah serileks ini, tak pernah senyaman ini. Akan sulit mengangkat tubuhnya dan pergi dari sana, karena dia benar-benar menikmati semuanya. Lega, bahagia, dan perasaan-perasaan menyenangkan lainnya adalah faktor kenapa dia tersenyum.
Kenangan, potongan-potongan memori berputar dalam otaknya. Mulai dari kejadian di mana ayahnya menginformasikan bahwa dia akan dijodohkan, saat insiden-insiden satu per satu menimpanya, sampai di saat Chouji memberitahunya berbagai fakta mengejutkan. Semuanya terasa begitu cepat, sulit dipercaya dia telah melewatinya.
Jika ada yang bertanya apakah rasa sukanya pada Shikamaru berawal dari perjodohan, Ino akan menjawab 'ya', tapi jika ada yang bertanya apakah dia memilih Shikamaru karena kewajiban yang diberikan ayahnya, dia akan menjawab dengan tegas, 'tidak'. Perasaannya pada Shikamaru bukan buatan, tanpa paksaan. Lagipula, perjodohan sudah dihapus dari daftar hal-hal menyebalkan dalam kehidupan Ino.
Jadi, bisa disimpulkan, kehadirannya di lapangan tak terawat ini, duduknya dia di tanah yang jelas-jelas dapat menyebabkan rok sekolahnya kotor, serta senyuman yang tersungging di bibirnya, semuanya murni berasal dari hatinya.
-FIN-
Yap, happy ending, dan ShikaIno. Malah ngedrama gini. DX
Makasih buat semua yang udah baca dan review, atau baca doang, atau review doang (?). Tanpa dukungan, komentar, saran, dan paksaan untuk meng-update dari semua, fic ini nggak mungkin saya terusin sampai complete. BTW, ini fic multichap pertama saya yang tamat. *ketauan malesnya*
Oh iya, bakal ada sekuel-nya, tapi ShikaIno-nya minor. XDD
Review please? :))
