Terkadang cinta bagaikan lilin, menerangi yang lain dengan mengorbankan diri sendiri.

.

.

"Kau kelihatan lebih fresh dengan rambut barumu."

Hizashi tersenyum tipis, "Aku selalu tampan bagaimanapun keadaanku."

"Tch." Kizashi menendang pelan kaki Hizashi.

Ia sedang sibuk membuka tokonya, tapi Hizashi malah berjalan ke sana kemari hanya dengan bathrobe, bahkan rambutnya masih setengah basah. Ia tahu Hizashi akan memulai rencana gilanya hari ini, tetapi ia baru sadar kalau kakaknya itu belum mempersiapkannya sama sekali.

Bunga-bunga segarnya baru ia pajang sebagian ketika sebuah mobil putih berhenti di depan tokonya. Tak lama orang-orang yang tak asing baginya berbondong turun dan memasuki toko bunganya. Sekilas ia bertemu pandang dengan sosok yang serupa Hizashi, saat pria itu berjalan melewatinya mengekor pada seseorang yang ia ketahui bernama Mei.

"Keringkan rambutmu dulu."

Hiashi dengan Naruto yang menemplok di dadanya, hanya mengawasi Mei yang tengah mempersiapkan segala keperluan Hizashi pagi ini. Ya, hanya untuk hari ini, guna memberikan arahan pada Hizashi tentang bagaimana seorang Hyuuga Hiashi biasa berpenampilan. Pun Mei sampai membawakan setelan miliknya untuk dipakai Hizashi.

Ia memilih untuk memerhatikan pemuda berambut merah jambu yang sedang menata bunga di teras toko, dengan tatapan yang sesekali terarah padanya. Tak lama Hizashi kembali dari lantai dua, sudah rapi dengan kemeja putih dan celana hitam. Sekali lagi ia harus menabahkan hatinya kala melihat Mei menyambar dasi yang hendak dikenakan oleh Hizashi.

"Sini biar ku bantu."

Ia tahu Hizashi harus segera berangkat, juga kondisi tangannya yang kurang baik, tetapi perlukah menyiapkan kebutuhannya sampai sejauh itu? Apalagi di depan dirinya yang notabene lebih berhak mendapatkan semua perlakuan tersebut.

Hizashi bukannya tidak suka memperoleh perhatian lebih dari Mei. Pun ia senang bisa memandangi rupa elok Mei dari jarak yang begitu dekat. Hanya saja ia dapat menangkap raut tak bersahabat Hiashi, juga rahang yang sempat mengeras. Tetapi kakaknya itu berlagak tak melihat apa yang dilakukan Mei padanya, dengan menyibukkan diri pada Naruto yang masih setengah mengantuk di gendongannya.

"Kalau urusanku dengan klien cepat kelar, aku akan segera menemuimu, nanti kita makan siang bersama," ujar Mei sembari meletakkan kotak berisi irisan buah-buahan kaya air untuk camilan Hiashi di meja kasir.

"Hm, tapi jangan memaksakan diri, aku bisa makan bersama Naruto."

"Baiklah." Kemudian Mei mengalihkan perhatian pada Naruto yang sedari ia jemput dari kediaman Tsunade kemarin terus menempel pada sang ayah.

"Naru masih mengambek sama ibu, hm?" godanya sembari menciumi pipi tembam balitanya, namun putra tersayangnya itu justru mengerang dan semakin mengeratkan pelukannya di leher ayahnya. Tampaknya Naruto masih merajukinya karena keterlambatannya kemarin.

"Sudahlah, kau berangkat saja. Biar aku yang membujuknya nanti. Lagipula dia rewel karena masih mengantuk."

Mei lantas mengangguk paham dan segera keluar toko berbarengan dengan Hizashi. Kebetulan Hyuuga Property sejalan dengan tempat pertemuan Mei dengan sang pengguna jasa, jadi keduanya berangkat bersama. Lagi-lagi ia disuguhi kenyataan yang kurang mengenakkan pagi ini.

Keadaan bersangsur sepi manakala hanya ada Hiashi dan Kizashi selaku orang dewasa di sana. Apalagi belum ada pelanggan yang datang. Hanya terdengar derit kursi kayu yang sedikit terdorong saat Kizashi mendudukkan dirinya. Hiashi merasa canggung karena ini kali pertamanya bertemu Kizashi. Dan untuk sementara ia akan sering berdua saja dengan pemuda yang katanya adalah adik seibunya itu karena ia sudah memutuskan untuk menggantikan peran Hizashi di toko bunga tersebut. Dengan kikuk ia turut menduduki salah satu kursi kayu di depan meja kasir.

"Niisama, bicaralah."

"Hm?"

"Aku bosan, tapi kau juga diam. Ajak aku mengobrol."

Hiashi bingung harus bersikap bagaimana. Ia sukar membuka obrolan dengan orang baru. Bahkan lebih mudah baginya melakukan negosiasi dengan relasi bisnisnya, yang mana tujuan pertemuan sudah terkonsep.

Barangkali Kizashi lelah menunggu reaksi darinya, sehingga pemuda itu meninggalkannya ke lantai dua. Namun tak lama pemuda itu turun dengan membawa sebuah gitar akustik. Secara mendadak ia ingin memetik dawainya. Ia hanya diam mengamati Kizashi yang kembali duduk dan mulai membunyikan alat musik petiknya. Samar-samar ia juga bisa mendengar nyanyian Kizashi yang dilagukan dalam gumaman.

"Permainan gitarmu bagus." Akhirnya Hiashi memiliki topik untuk ia angkat, "Kau pasti gemar berlatih. Hanya saja progresinya kurang dinamis."

Kizashi menghentikan permainannya, "Kau mengerti soal gitar?"

"Waktu masih sekolah, aku sering curi-curi kesempatan ke ruang musik untuk meminjam gitar atau alat musik lainnya."

"Kau kaya tapi kau tak mampu membelinya?" Kizashi menunjukkan senyum miring.

"Bukan begitu, hanya saja aku tak pernah diizinkan untuk memilikinya, dulu. Obaasama tidak suka melihatku bermusik. Kalau sekarang, aku juga punya piano di rumahku sendiri, Mei senang mendengar permainanku."

Kizashi terdiam cukup lama, menimbang apa yang hendak ia utarakan, "Okaan pernah bilang kalau dia dulu penyanyi opera."

"Okaan?"

"Ibu kita."

"Oh."

Sekarang Hiashi tahu dari mana bakat seninya diturunkan. Dari buku harian ibunya, ia bisa menyimpulkan bahwa neneknya tidak menyukai wanita yang telah melahirkannya itu, meskipun ia tak paham perihal alasannya. Bisa jadi ia mengingatkan neneknya pada seseorang yang kurang disukainya itu bila bermain musik, sehingga tidak sekalipun memperbolehkannya bermusik.

"Touchan, aus~!"

Rengekan Naruto mengalihkan fokus Hiashi. Melihat putranya sudah bangun, ia mendudukkan bocah yang tengah mengucek matanya itu di kursi sebelahnya. Tanpa ia minta, Kizashi mendekat dengan membawakan segelas air putih untuk Naruto.

"Hiii~ ada paman seleeem~!" Naruto mencengkeram lengan baju Hiashi kuat-kuat. Pun ia beringsut menempel pada sang ayah yang hanya tersenyum geli melihat tingkahnya.

"Huh? Apa kau bilang?" Kizashi meletakkan gelas Naruto di meja yang dihadap Hiashi, "Aku menyesal mengambilkanmu minum. Dasar keponakan durhaka. Lagipula aku belum setua itu untuk kau panggil paman—panggil kakak."

"Tidak mau!"

Semakin ditolak, Kizashi kian gemas pada Naruto. Ia berusaha melepaskan bocah itu dari Hiashi, dan memeluknya erat tanpa peduli pada rontaannya ketika ia membawanya menjauh dari sang ayah.

"Touchan, Nalu diculiiik~ tenapa Touchan nggak nolong Nalu~ huweee~!"

Hiashi tahu Naruto aman di tangan Kizashi, sehingga ia memilih menanggapi denting lonceng angin yang menandakan ada pelanggan masuk. Ia pun beranjak menyambut sang pembeli disertai rasa grogi karena ini adalah pengalaman pertamanya.

"Nak Hizashi, seperti biasanya, ya," ucap wanita tua itu, membuat Hiashi kebingungan. Sedangkan Kizashi yang hendak ia mintai tolong malah asyik dengan Naruto.

Satu belum beres, ia kedatangan pelanggan lainnya, "Aku tidak tahu banyak tentang bunga, bisa kau pilihkan bunga yang bagus untuk ku berikan pada istriku di hari ulang tahunnya?"

Astaga, ia tidak menyangka bahwa pekerjaan yang menurutnya sederhana ternyata begitu rumit. Ia benar-benar tidak boleh meremehkannya.

Melihat Hiashi kewalahan, Kizashi berhenti main-main dan mengambil alih tugas sang kakak. Begitu selesai, ia mengambilkan beberapa buku tebal dan diletakkan di meja Hiashi.

"Beberapa nama pelanggan tetap sudah tercatat di sini." Kizashi menunjuk salah satu buku yang tampak paling tipis, "Tapi aku juga sudah menyimpan datanya di komputer itu."

Hiashi hanya manggut-manggut seolah mengerti, padahal kepalanya mendadak pening disuguhi ensiklopedia beserta buku kumpulan bahasa bunga.

.

.

.

"Miroku San…."

"Ne?"

Miroku tahu bahwa yang kini menduduki kursi wakil direktur utama Hyuuga Property bukanlah Hiashi yang sebenarnya. Sebagai salah seorang yang nantinya terlibat dalam permainan ini, tidak mungkin ia tak diberi tahu. Pun ia mesti mendampingi seseorang yang belum berpengalaman dalam bidang yang biasa digeluti Hiashi.

"Aku butuh bantuanmu."

Ia menghampiri meja sang wakil direktur dan berdiri di samping kursi yang diduduki Hizashi untuk memberikan arahan. Namun di tengah penjelasannya ia sedikit terkejut ketika Hizashi beranjak mendorong kursi lain untuk ia duduki. Ragu-ragu ia duduk, bersebelahan dengan Hizashi yang menyimaknya dengan saksama.

Seingatnya ia belum pernah sedekat ini dengan Hiashi. Ia bahkan bisa mencium bau parfum Hizashi dari jarak sedekat itu, yang entah bagaimana aroma kayu tersebut mampu mendatangkan desiran di dadanya. Diam-diam ia meneliti garis rahang Hizashi, hal yang tak pernah dilakukannya kepada Hiashi. Baginya Hiashi tak ubahnya seperti Fugaku, adik sepupunya. Hiashi yang terkadang kalem lebih cenderung dingin dan angkuh, tak mungkin bersikap manis selain kepada orang-orang yang dikasihinya. Sedangkan Hizashi berbeda. Selain lebih dewasa dibandingkan Hiashi, di matanya, pria ini begitu hangat, kesan pertama yang menguat setelah ia mendapatkan perlakuan ramahnya.

"Uh."

Konsentrasi Hizashi buyar ketika Miroku berhenti menjelaskan padanya mengenai tumpukan kontrak di meja yang perlu dibubuhi tanda tangan. Dilihatnya wanita itu tengah menutup mulutnya dengan telapak tangan, dan dari raut wajahnya seperti menahan sesuatu. Ia yang berangsur mengerti, cepat-cepat merogoh sapu tangannya dan memberikannya pada Miroku.

"Perlu bantuanku untuk ke toilet? Kau juga bisa memakai toilet di ruangan ini."

Miroku menggeleng lemah dan segera menggunakan sapu tangan Hizashi untuk menutup mulutnya. Namun aroma wewangian yang tercium dari sana sama sekali tidak membantunya, justru membuat perutnya semakin bergejolak. Ia menyerah dan membawa langkah lebarnya ke toilet, diikuti Hizashi yang kemudian memijitkan tengkuknya sekaligus memegangi rambut panjangnya agar tidak basah tepercik air keran.

"Kau sering mengalami ini? Kenapa kau masih bekerja?"

"Tidak masalah," balas Miroku setelah mengelap mulutnya. Sekilas dipandangnya pantulan wajahnya di cermin; pucat, dan bibirnya seakan kehilangan warna.

Hizashi membantunya untuk kembali ke tempat duduknya, kemudian dilihatnya pria itu memencet interkom ke pantri, "Bawakan teh hangat."

Hizashi kembali duduk setelahnya. Tak ada yang bersuara, sampai Hizashi memecah keheningan di antara keduanya, "Menurutmu, bagaimana reaksi Hyuuga Shachou kalau aku mengatakan akan tinggal di kediaman utama hari ini juga dan segera menikahimu?"

Dan Miroku merasa seperti mendapatkan pinangan, kendati ia tahu bahwa Hizashi melakukan semua ini demi saudara kembarnya.

.

.

.

"Astaga, Nona—apa tak masalah jika kau sering datang kemari?"

"Tidak apa-apa." Mebuki melepas kacamata hitamnya disertai senyum yang menampakkan keramahannya, "Selama aku tak menciptakan lautan manusia di depan tokomu ini. Lagipula aku menemuimu bukan tanpa alasan."

Kizashi tampak ragu menerima ponsel yang diangsurkan Mebuki padanya. Ia memang tidak punya alat telekomunikasi itu, namun bukan berarti ia tak mampu membelinya. Ia hanya merasa kalau telepon seluler belum terlalu dibutuhkannya, selain pesawat telepon untuk tokonya. Dan lagi, game player lebih menarik minatnya.

"Agar aku mudah menghubungimu, dan tidak selalu harus datang ke sini selagi kau belum tinggal di asrama."

Kizashi memang sedang disiapkan untuk menjadi seorang trainee. Ia juga dikabarkan tidak perlu menunggu terlalu lama untuk debutnya.

"Sebenarnya aku bisa membelinya sendiri jika memang diharuskan punya."

"Sudahlah, pakai itu saja."

"Jangan menolak niat baik orang lain, atau nasib baik yang akan menjauhimu." Hiashi yang sedari tadi diam-diam memerhatikan, akhirnya memiliki celah untuk menimpali.

"Nah, kakakmu benar."

Mebuki tersenyum lebih lebar karena akhirnya Kizashi tak menolak. Sedikit membungkukkan badannya ketika ia bertemu pandang dengan pria lainnya, dan atensinya cukup lama tak teralih, tertegun mendapati pria itu tampak lebih segar dengan style rambut yang baru, rapi namun terkesan cool. Tidak buruk, meskipun ia pernah terpikir ingin melihat kakak Kizashi itu lebih memendekkan rambutnya.

.

.

.

Hiashi bersimpuh di depan batu nisan ibunya. Batinnya pedih melihat tanggal kematian ibunya. Kalau saja ia bertemu dengan saudara-saudaranya sedikit lebih awal, barangkali ia bisa bersua dengan ibunya juga. Namun ia tak diberi kesempatan hanya untuk memeluknya sekali saja. Wanita yang telah melahirkannya, yang tak pernah ditemuinya selama ini selain dalam foto yang diperlihatkan Kizashi kepadanya, dan ternyata ibunya begitu anggun, lebih cantik dari yang sanggup ia bayangkan.

Diletakkannya bunga krisan putih dan sebotol anggur beras di pusara sang ibu sebelum ia memejamkan matanya serta menangkupkan tangannya untuk berdoa.

"Aku tidak akan menyalahkanmu. Aku juga tidak membencimu. Tenanglah di sana … Okaasama…," bisiknya sendu usai memanjatkan doa.

Dukanya sedikit terobati manakala ia mendapati Naruto masih jongkok di sebelahnya, melakukan seperti yang ia lakukan sebelumnya.

"Obaachama, ini Nalu … anak Touchan," ucapnya lugu.

"Cucu Obaasama," sambung Hiashi seraya mengusap kepala Naruto dengan sayang.

"Yang paing tampan," imbuh Naruto disertai tawa kecil ketika Hiashi membawanya ke pangkuannya.

Hiashi belum ingin beranjak dari sana, masih duduk bersila dengan Naruto dalam rengkuhannya, menikmati semilir angin sore yang seolah mampu menerbangkan kesedihannya.

.

.

.

Tak diragukan lagi, tetua Hyuuga sumringah mendengar kabar dari Miroku yang baginya begitu menggembirakan. Mulai malam ini Hiashi akan kembali seatap dengannya, begitupun dengan Miroku yang ia perintahkan untuk turut serta. Ia mulai berpikir untuk segera menyiapkan pesta besar-besaran untuk pernikahan cucu tersayangnya.

Air mukanya seketika berubah tatkala ia teringat kesaksian Hyuuga Kou tempo hari, bahwa ada seseorang yang begitu mirip dengan Hiashi di lingkungan tempat tinggal cucunya itu. Benaknya terus memutar segala kemungkinan yang bisa terjadi. Namun ia belum yakin mantan menantunya kembali ke Tokyo dengan membawa saudara Hiashi setelah ia usir dengan begitu kejam. Pun ia kehilangan jejak wanita itu setelah meninggalkan Tokyo. Wanita yang telah melahirkan cucu untuknya, akan tetapi sedari awal tidak ia restui untuk bersanding dengan putra semata wayangnya. Dan begitu sang anak satu-satunya meninggal dalam kecelakaan mobil yang dikemudikan wanita itu, ia begitu murka. Bahkan hingga kini hatinya panas bila mengingatnya.

.

.

.

Mei tidak bisa pulang lebih cepat seperti yang telah ia rencanakan. Ia baru menjemput Hiashi dan Naruto di toko bunga Haruno menjelang jam makan malam. Serta-merta ia memeluk pria itu dari belakang, mencurahkan segenap kerinduan.

"Aitakatta…," gumamnya dibarengi pelukan yang mengerat. Sesaat bisa dirasakannya tubuh tegap itu menegang.

"Meimei…?"

Mei terbelalak mendengar sumber suara itu bukan berasal dari pria yang tengah dipeluknya. Dengan cepat ia memisahkan dirinya dan berbalik. Hatinya mencelos menemukan Hiashi memandangnya sayu di sana, bersama Naruto dalam gendongannya.

"G-gomen ne…," ucapnya tergagap, menyadari bahwa dirinya keliru lantaran keduanya kini begitu mirip setelah memiliki potongan rambut yang sama.

"Aa—rencananya aku akan mengambil beberapa keperluan pribadiku, sebelum Miroku datang menjemputku ke kediaman utama Hyuuga." Hizashi berinisiatif menghentikan kekakuan di antara mereka, namun dapat dilihatnya Hiashi tak menanggapinya dan langsung memasuki mobil putih Mei yang diparkirkan di depan toko.

.

.

Waktu yang akan membuktikan sebuah komitmen.

.

.

.


NARUTO milik Masashi Kishimoto, saya tidak mengambil keuntungan apapun dalam penulisan fanfiksi ini | AU | OoC? | fanfic tahun 2014 (milik sendiri) yang dirombak (publish langsung dari 1-10) | tidak bertema baik, segala keburukan bukan untuk ditiru | setelah Hiashi x Mei x Hizashi, sekarang kepincut + Miroku xoxo | generasi tua (?)