AN: HAI! :D
wah... kukira aku gak bisa update hari ini... taunya bisa... berkat dukungan Meiko chayank!
#plak!
okee... moga2 chapter kali ini berkenan di hati para pembaca yaa
thnks buat semua yg udah baca, nunggu, review, alert, fave dan semacemnya... :p
thnks buat...
SWANDIE
NO NAME
AL-QATHANI
GERARUDO FLAZZH
CEMONGGG
WULAN-CHAN
KURO TENMA
DRAQUILL
RITARD S QUINT
ARIA
KAZUKI NAMIKAZE
PEARLITE
WATADOS
UCI
NANA-CHAN
AND ALL SILENT READERS! :D
DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO
WARNING! Alur cepat! OOC, typos, dont like dont read yaaa
Enjoy guys! :D
DARRELL
.
.
.
.
.
"Darrell Hilton?"
"Darrell Hilton." Mikoto mengangguk dengan wajah serius. "Ini." Jarinya menunjuk ke arah sebuah cover CD.
Minato mengerutkan kening dan mengambil CD itu dari tangan Mikoto. "The Numbers?" Matanya tertuju pada nama yang tertera di cover CD tersebut.
"The Numbers adalah grup band yang baru saja dibentuk di Amerika sana. Memang, band itu belum terkenal. Mereka baru saja berhasil meliris satu album." Mikoto menunjuk ke arah cover CD yang dipegang Minato. "Kau tahu, di hari pertama CD ini diliris, Kushina menjerit seperti orang gila. Karena CD-nya belum dijual di Jepang, dia sampai menuntut toko musik terbesar di Tokyo dan memaksa mereka menjual CD tersebut."
Minato hanya bisa melongo. "Aku tahu kalau Kushina itu adalah maniak musik. Dia tidak bisa hidup tanpa musik. Tapi, dia hanya akan menyukai musik tersebut jika musik itu berkenan di telinganya…" Minato menatap CD yang ada di tangannya dengan tatapan tidak percaya. "Namun, mendengar ceritamu, sepertinya Kushina sudah tergila-gila akan The Numbers ini bahkan sebelum musik mereka diliriskan!"
Mikoto mengangkat bahunya. "Yah… Meski mereka baru saja meliriskan sekeping album, aku yakin kalau mereka akan segera terkenal tidak lama lagi." Wanita berambut raven itu membuka segel CD tersebut dan mengeluarkan poster yang dilipat di dalamnya. "Kau tahu kenapa? Karena ini." Mikoto menunjuk ke wajah kumpulan orang Amerika yang tercetak di poster tersebut. Minato mengerutkan kening dan memperhatikan wajah anggota band The Numbers tersebut. "Suara mereka lumayan bagus. Aku sebenarnya kurang tahu identitas mereka. Namun aku tahu pasti kalau mereka menggunakan nomor sebagai identitas mereka. Anggota band mereka terdiri dari lima orang. Tiga cowok, dua cewek."
"Lalu? Yang mana Darrell Hilton?" tanya Minato, tidak bisa menyembunyikan kegusarannya. "Yang ini?" tanya Minato sambil menunjuk ke wajah seorang lelaki berambut hitam ikal yang menyeringai lebar. "Atau yang ini?" Dia menunjuk ke arah sosok lelaki jangkung yang mengenakan topi, sehingga wajah lelaki itu tidak terlihat.
"Mmm… Jangan merasa tersinggung ya, Minato…" Mikoto terlihat ragu-ragu sebelum dia menunjuk wajah Darrell Hilton. "Yang ini…" Jarinya mendarat ke wajah lelaki jangkung yang berdiri di tengah. Rambut lelaki tersebut berwarna pirang seperti Minato, hanya saja rambut lelaki tersebut lurus. Mata lelaki itu menatap tajam, berwarna biru gelap.
"Hah?" Minato mengerutkan keningnya. Dia tidak percaya kalau lelaki yang bernama Darrell tersebut memiliki warna rambut dan mata yang sama dengannya. Yah, mungkin gaya rambut mereka berbeda dan tambahan lagi, Darrell adalah orang Amerika berkulit putih. Dia memiliki wajah khas para artis barat yang menjadi incaran para gadis. Minato menatap poster itu dengan pandangan tidak percaya. "Lalu? Kenapa nama mereka semua tidak tertera di poster ini?"
"Makanya… salah satu alasan kenapa The Numbers ini akan cepat terkenal…" Mikoto mengangkat jarinya. "Mereka tidak menyebutkan nama asli mereka, hanya nomor saja. Makanya namanya The Numbers. Mereka membuat para pendengar menjadi penasaran. Pasti banyak pendengar yang akan mencari tahu asal-usul mereka."
Minato mengangkat setengah alisnya. "Lalu? Apa mereka tidak tahu kalau ada sesuatu yang bernama 'media' yang bisa membuat identitas mereka terekspos?"
"Yah… aku sudah mencari informasi tentang The Numbers. Namun, karena mereka belum terkenal saat ini, tidak ada media yang mau bersedia mengorek identitas mereka. Bahkan CD mereka tidak dijual di setiap toko musik di Jepang ini!"
"Intinya, kau tahu dari mana kalau lelaki ini Darrell Hilton?" tanya Minato lagi.
"Oh… Karena ini…" Mikoto memasukkan CD tersebut ke dalam laptop yang ada di pangkuannya. Dia melewati semua musik dan menekan tombol tertentu. "Dengar ini baik-baik."
"Hi. I'm number three." Terdengar suara lelaki yang lembut namun tegas. "You can call me 'three' or Hilton if you like. As the leader of this band, I would like to thank all of…"
Suara tersebut langsung lenyap ketika Mikoto menekan icon 'stop' di laptopnya. "Tentu saja aku bingung setelah mendengar ini. Lalu aku bertanya pada Kushina. Yang mana cowok bernama Hilton itu. Lalu Kushina langsung menunjuk lelaki pirang yang ada di tengah."
"Jadi Hilton itu bukan nama depan, melainkan marga?" tanya Minato lagi. Tentu saja. Anggota band tersebut berusaha menyembunyikan identitas mereka. Tidak mungkin mereka dengan sengaja memberitahu nama lengkap mereka. Namun, Minato yakin bahwa banyak orang yang terjebak. Mereka pasti menyangka kalau 'Hilton' adalah nama depan. "Pintar juga cowok ini…" Minato bergumam sambil melirik ke arah wajah lelaki berambut pirang yang ada di poster. Dia sengaja memberi tahu nama marganya untuk menjebak para pendengar.
"Intinya, aku tahu dari Kushina kalau orang bernama Darrell itu, mempunyai marga Hilton. Aku dengar dari Kushina. Kau bisa tanya kalau kau tidak percaya." Mikoto menatap poster tersebut sekali lagi. "Kau mau tahu alasan utama mengapa band ini akan segera terkenal?" Mikoto menunjuk ke arah lelaki di tengah gambar. "Dia misterius, dia ketua band, suaranya bisa menarik hati wanita, begitu juga dengan wajahnya. Aku bisa saja tergila-gila akan wajah tampannya kalau Fugaku tidak ada."
"Memanfaatkan rasa penasaran manusia untuk menjadi terkenal…" Minato bergumam. Diam-diam, dia sependapat dengan Mikoto. "Jadi… maksudmu…" Minato mengetuk meja, berusaha menemukan kalimat yang tepat. "Lelaki ini berhubungan dengan Kushina?"
Mikoto mengangkat bahu. "Well… sebenarnya satu setengah tahun yang lalu Kushina pernah pergi ke Amerika selama beberapa bulan. Itu saat-saat ketika dia baru putus dengan Daisuke Miura. Kelihatannya dia pergi ke Amerika karena seseorang mengundangnya ke sana."
"Dan orang itu adalah Darrell Hilton?"
"Aku tidak tahu. Tapi kemungkinannya besar…" Mikoto memperhatikan Minato lekat-lekat. "Dengar. Aku tahu kalau kau gelisah… Namun aku bisa memastikan kalau Kushina menyukaimu, oke?" Mikoto tersenyum lembut. "Kushina tidak pernah menghabiskan waktu bersama lelaki sebanyak dia menghabiskan waktu bersamamu. Dia menikmati keberadaanmu di sisinya, Minato. Dia hanya terlalu keras kepala untuk mengakui hal itu."
Minato terdiam sesaat. Perlahan-lahan, senyum simpul menghiasi wajahnya. "Terima kasih, Mikoto. Tapi aku tidak bisa mengingkari kenyataan kalau Kushina selalu tertarik pada lelaki yang bersuara indah."
Mikoto langsung terbungkam. "Ta-tapi tertarik itu beda dengan suka, kan?" Wanita itu cepat-cepat menyemangati Minato. Lelaki berambut pirang tersebut mencoba untuk tersenyum dan mempercayai ucapan Mikoto. Dia ingin percaya bahwa Kushina menyukainya meski hanya sedikit. Tapi… dia tidak bisa mengingkari perasaan cemas di dalam dirinya.
"Hei, apakah Kushina menyukaiku karena warna rambut dan mataku sama seperti lelaki ini?" Minato menunjuk ke arah wajah ketua The Numbers tersebut. "Kushina sudah mengenal Darrell sebelum dia mengenalku… Dan Kushina harus tinggal di Jepang untuk pekerjaan. Dia merindukan lelaki itu dan ketika melihat sosokku yang lumayan mirip dengan Darrell, dia…"
"Minato! Kau tidak boleh berbicara seperti itu!" Mikoto cepat-cepat meletakkan tangannya di atas tangan Minato, mencoba untuk menenangkan lelaki tersebut. "Kushina bukan tipe cewek yang seperti itu! Lagipula, wajahmu tidak mirip dengan Darrell Hilton ini! Hanya warna rambut dan mata saja. Sejak kapan kau menjadi pesimis seperti ini?"
Minato menggelengkan kepala dengan lemah. "Aku tidak tahu…" Wajah Kushina berulang kali muncul di dalam benaknya, membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. "Aku tidak mengerti! Aku merasa… cemas? Aku merasa kesal lalu… marah?" Minato menatap mata onyx Mikoto dengan perasaan bingung. "Aku tidak bisa tenang! Aku tidak mengerti! Mengapa aku bisa seperti ini! Jangan-jangan aku sudah gil…"
"Kau cemburu." Mikoto mendengus. "Kau tidak gila! Hanya dibakar api cemburu!" Mikoto tidak bisa menahan tawanya ketika dia melihat wajah bingung Minato. Yah… dia tidak bisa melihat hal ini setiap hari. Dalam hati, Mikoto menyelamati Kushina yang berhasil membuat Minato menjadi seperti ini. "Begini saja… Bagaimana kalau kau tanyakan kepada Kushina apa hubungannya dengan Darrell itu sebelum kau menjadi gila sungguhan dan dikirim ke rumah sakit jiwa?" Mikoto menepuk tangan Minato.
"Bertanya apa padaku?"
Dua aktor yang sedang duduk di ruang tamu tersebut melompat kaget ketika mereka mendengar nada suara yang sinis dan tajam dari belakang mereka. Kushina Uzumaki menatap tajam ke arah Minato dan Mikoto. Jarak tubuh mereka yang tidak bisa dibilang jauh, tangan mereka berdua yang terpaut dan terlebih lagi, sejak tadi dia bisa melihat kalau kedua sahabatnya itu berbisik-bisik.
"Apa yang kalian lakukan?" Mata Kushina mendelik tajam ke arah tangan Minato dan Mikoto yang masih terpaut. Di detik kemudian, Minato cepat-cepat menarik tangannya.
"K-kau salah paham!" Mikoto cepat-cepat menjelaskan.
"Iya! Kami hanya membicarakan band The Numbers yang kau sukai itu!"
Mendengar hal tersebut, wajah Kushina langsung berseri-seri. "Bagaimana? Band itu bagus sekali kan! Tidak rugi aku memesan CD mereka sampai sepuluh keping!"
Sepuluh keping?
"Apa yang kau suka dari band ini?" Minato mencoba memasang tampang biasa-biasa saja.
"Pertama-tama, lagunya memang bagus sekali! Lalu, orang kusayangi juga bernyanyi di sana!" Wajah Kushina merona dan tanpa sadar, dia sudah melompat-lompat kecil, membuat Minato melongo.
"Darrell Hilton?" tanya Minato sambil mengerutkan kening. Di detik itu juga, Minato memutuskan untuk menjadikan sosok lelaki berambut pirang itu rivalnya.
"Kau tahu darimana?" Kushina menatap Minato dengan terbelalak. "Mikoto ya?" Kushina mengerutkan kening. "Jangan sebarkan, ya, Minato! Identitas mereka masih rahasia, loh!"
"Maaf ya, Kushina." Mikoto meringis, memasang wajah bersalah. Mikoto bukan tipe wanita yang menyebarkan rahasia seenaknya. Tapi, demi bersatunya Minato dan Kushina, dia akan melakukan apa saja. Dia tahu kalau Kushina sudah mempunyai perasaan terhadap Minato. Mikoto juga tahu kalau tanpa dorongan Kushina tidak akan menyadari perasaannya terhadap Minato. Minato sendiri tidak punya keinginan untuk mengakui cintanya terhadap Kushina. Lelaki yang berprinsip 'tak-apa-asal-aku-bisa-terus-bersama-Kushina' itu membuat Mikoto menggelengkan kepala.
"Stupid couple…" Wanita itu bergumam, sehingga membuat Kushina dan Minato menoleh ke arahnya secara serentak. "Nothing!" Mikoto cepat-cepat memasang senyuman manisnya.
"Kalian ini aneh-aneh saja…" Kushina mendekati Mikoto dan merampas poster The Numbers yang ada di tangannya. Wanita berambut merah itu melipat poster tersebut dengan hati-hati dan memasukkan benda kesayangannya itu ke dalam tas-nya. "Sudah yaa, aku mau pergi ke bandara dulu! Mikoto, Minato, jangan sebarkan kedatangan Darrell, ya! Bisa gawat kalau ada orang yang tahu identitasnya!"
"Tunggu, Kushina!" Minato beranjak dari sofa dan mengejar Kushina. "Sebentar lagi ada pengambilan gambar!"
Kushina melambaikan tangan tanpa berhenti melangkah. Wanita itu bahkan tidak menoleh ke arah Minato. "Jangan khawatir, Jiraiya sudah memberi ijin! Lagipula aku pergi untuk menjemput model yang ditunggu-tunggu Jiraiya!"
Minato langsung melongo. Menjemput model yang ditunggu-tunggu Jiraiya? Kushina pergi untuk menjemput Darrell Hilton itu… Jangan-jangan Darrell itu juga yang menjadi model? Minato memejamkan mata dan membayangkan sosok lelaki asing yang berambut pirang dan bermata biru itu. "Tidak cocok… Wajahnya terlalu 'malaikat'." Minato hendak mengejar Kushina, namun wanita itu sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Dia sudah pergi?" Mikoto menyusul lelaki berambut pirang itu. "Dia memang tidak sabaran. Dia lupa membawa HP-nya! Sudahlah, lupakan kesedihanmu…" Mikoto menepuk bahu rekannya tersebut.
Minato melirik ke arah Mikoto sambil memasang wajah yang dingin. "Siapa yang sedih?"
"Kalau begitu jangan marah."
"Siapa yang marah?"
"Aku tidak marah." Minato menyingkirkan tangan Mikoto dari bahunya dan berjalan pergi meninggalkan wanita itu.
"Kalau begitu jangan…"
Minato menggertakkan gigi dan memutar tubuhnya. Dia tahu kalau Mikoto berusaha untuk menghiburnya, namun pada saat ini, kata-kata 'bijak' Mikoto sama sekali tidak berpengaruh. "Mikoto, terima kasih atas saranmu! Tapi aku tidak marah, tidak sedih, juga tidak cembur…"
"Bukan, maksudku jangan injak poster Kushina yang terjatuh di tanah tadi." Mikoto menunjuk ke arah poster The Numbers yang masih terlipat rapi. Dan sekarang, sepatu Minato sudah mendarat dengan indahnya di atas poster tersebut. "Waduh… itu poster kesayangan-nya loh. Setiap malam sebelum tidur dia harus mengelus poster itu." Mikoto berdecak dengan wajah tenang. "Aku ingin memberimu saran, tapi sepertinya kau tidak membutuhkan saranku." Mikoto dengan santai berjalan pergi dari Minato, meninggalkan lelaki yang sekarang terpaku bagai patung itu.
.
.
.
.
.
Minato Namikaze menatap dua benda di hadapannya. Benda pertama yang dipelototinya sejak tadi adalah poster The Numbers yang sekarang dihiasi oleh jejak sepatunya dan benda yang kedua adalah ponsel Kushina yang tertinggal di ruang tamu.
"Bagaimana ini?" Minato mendesah bingung. Dia melirik ke arah Mikoto yang sedang meneliti naskah miliknya. Minato kembali menghela napas. Dia ingin meminta pertolongan Mikoto, namun dia tahu kalau Mikoto tidak akan membantu begitu saja setelah menerima perlakuan kasar darinya tadi.
"Kau bisa melakukan dua hal," ucapan Mikoto membuat lelaki pirang itu tersentak seketika. Mikoto menutup naskah kepunyaannya dan tersenyum tipis ke arah Minato. "Kau pergi saja ke bandara dan antar ponsel itu kepada Kushina. Dia pasti senang dan merasa bersyukur sehingga dia akan melupakan jejak kaki di posternya itu."
Minato langsung menatap Mikoto dengan rasa syukur. Mikoto memang bukan tipe wanita yang merajuk. Dia berkepala dingin dan siap membantunya kapan pun. "Terima kasih," ujar Minato sungguh-sungguh. "Seharusnya Kushina masih belum jauh dari villa ini. Aku bisa mengejarnya dengan mudah."
Mikoto mengangguk setuju. "Lagipula letak bandara dengan tempat ini lumayan jauh. Jadi ada kemungkinan kau bertemu dengan mobil Kushina di dalam perjalanan."
Di detik ketika Minato menyambar kunci mobilnya, ponsel Kushina berdering nyaring. "Siapa itu?" tanya Mikoto sambil melirik ke layar ponsel. "Nomor yang tidak dikenal." Mikoto mengerutkan kening. "Kita abaikan saja ya?"
Minato terpaku. Mata birunya menatap ponsel Kushina yang masih berdering. "Angkat saja. Yang pasti bukan media atau orang luar karena nomor di ponsel itu nomor pribadi Kushina yang hanya diketahui sedikit orang." Minato menyambar ponsel tersebut. Entah kenapa, dia mempunyai firasat kalau yang menelpon ini adalah Darrell Hilton. Bisa jadi pesawat yang lelaki itu naiki sudah tiba di bandara dan Kushina masih di dalam perjalanan. Selagi menunggu Kushina, lelaki itu pasti membeli nomor sehingga dia bisa menghubungi Kushina. Minato terpaku sesaat. Dia tahu dia melakukan sesuatu yang tidak sopan jika dia mengangkat panggilan itu. Namun, bayangan Kushina yang berdampingan dengan Darrell Hilton membuat akal sehat Minato menghilang.
Minato tidak bisa membayangkan Kushina berduaan dengan lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya. Dari cara bicara Kushina, Minato tahu kalau Kushina sangat menyukai Darrell tersebut. Apakah suka sebagai fans? Atau teman? Atau lebih dari teman? Minato tidak tahu. Lelaki berambut pirang itu hanya tidak ingin kalau lelaki tidak dikenal mendekati Kushina. Bagaimana kalau lelaki itu ternyata mempunyai rencana buruk terhadap Kushina? Minato tahu kalau lelaki idaman Kushina itu adalah lelaki yang bersuara indah. Senpai yang dulu disukai Kushina itu mempunyai suara yang indah. Daisuke Miura, mantan pacar Kushina, adalah penyanyi terkenal di Jepang. Dan sekarang Darrell Hilton? Bagaimana kalau Darrell juga mengkhianati Kushina, seperti yang dilakukan senpai dan Daisuke Miura? Bagaimana kalau Kushina merasa terluka lagi dan mengalami trauma yang berat seperti dulu?
Jantung Minato mulai berdetak kencang. Dia mengepalkan tangannya ketika membayangkan Kushina yang meneteskan air mata.
Ponsel tersebut masih bergetar, seakan-akan menunggu Minato menekan tombol 'yes' terhadap panggilan tersebut. Minato sudah membulatkan tekadnya untuk mengenal lelaki bernama Darrell itu. Dia harus mengetahui sifatnya. "Halo?" Minato menjawab panggilan tersebut. Dia mendengar kebisingan dari ponsel itu. Terdengar beberapa deruman motor dan kebisingan yang menulikan telinga. Ini bunyi kebisingan yang biasanya dia dengar di tempat ramai seperti bandara. Jantung Minato berdetak kencang. Dia menunggu jawaban dari pihak seberang, namun tidak ada jawaban.
"Siapa kau?" Terdengar suara lelaki yang dalam dan serak. "Ini ponsel Kushina Uzumaki bukan?"
Napas Minato tertahan sesaat. Dia mulai menganalisa suara tersebut. Dari suara itu, bisa dipastikan kalau orang yang menelpon adalah lelaki yang berusia sekitar dua puluh sampai tiga puluhan. Selain itu, suara yang sedikit serak dan dalam adalah suara yang biasanya dianggap Kushina cool. "Betul. Ini ponsel Kushina." Minato menjaga nada suaranya, berusaha untuk tetap terdengar tenang dan berwibawa. Baru kali ini dia merasa tegang seperti ini. "Bisa saya tahu saya bicara dengan siapa?" Minato bertanya dengan sopan.
"Mana Shina?" Lelaki itu mengabaikan pertanyaan Minato.
Shina?
Minato menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk tetap tenang. Entah mengapa, firasat mengatakan kalau dia sedang berbicara dengan Darrell Hilton. Dia harus memastikan firasatnya itu. "Dia sedang keluar dan melupakan ponselnya. Ngomong-ngomong, anda siapa?"
"Ke mana?"
Lagi-lagi pertanyaan Minato diabaikan begitu saja. Kesabaran Minato seakan-akan langsung menghilang. "Saya tidak bisa mengatakan hal itu kepada seseorang yang tidak dikenal seperti anda," jawab Minato dengan penuh wibawa. Sebenarnya, pertanyaan 'Kamu Darrell Hilton kan?' sudah berada di ujung lidahnya, namun Minato ingin tahu apa jawaban dari lelaki itu setelah mendengar ucapannya. Sesaat, tidak ada jawaban dari lelaki tersebut.
"Ini Minato Namikaze bukan?"
Mata Minato terbelalak. "Kau tahu dari mana?" Minato melirik ke arah Mikoto yang mulai mendekatkan telinganya ke arah ponsel.
"Ah, Shina banyak bercerita tentang dirimu." Nada suara lelaki tersebut perlahan-lahan berubah menjadi dingin. "Cukup banyak sehingga aku bisa mengenalmu seketika."
Minato mengepalkan tinjunya. Dia tahu kalau lelaki yang sedang berbicara dengannya ini sama sekali tidak terdengar senang dengan fakta bahwa dia adalah Minato Namikaze.
"Kalau begitu anda pasti Darrell Hilton, lelaki yang baru saja tiba di bandara." Minato membalas dengan nada yang tidak kalah dingin. Lagi-lagi lelaki itu terdiam sesaat.
"Hoo…" lelaki tersebut tiba-tiba tertawa. "Baiklah. Aku memang Darrell Hilton. 'Senang' berkenalan denganmu, Minato Namikaze."
Minato mendengus. Nada lelaki itu sama sekali tidak terdengar senang. "Logat Jepang-mu lumayan bagus. Padahal kau orang Amerika, bukan?"
"Any problems with that, jerk?" Darrell Hilton langsung menjawab dengan logat Amerika yang sangat lancar. "If I can't speak Japanese fluently then how am I suppose to communicate with my dear Shina?"
Minato mencoba tetap tenang dan mengabaikan ucapan 'jerk' dan 'my dear Shina' itu. "Oh, maaf. Bahasa Inggris Kushina lumayan lancar dan aku yakin dia mengenalmu ketika dia pergi berlibur di Amerika."
"Maaf saja, tapi aku sudah mengenalnya sejak…"
"Hey!" Tiba-tiba terdengar suara wanita dari balik telepon. "Who is on the line?"
Minato mengerutkan kening ketika mendengar suara tersebut. Suara tersebut terdengar sangat jelas di telinganya. Itu berarti jarak wanita itu dengan Darrell Hilton sangatlah dekat. Selain itu, wanita tersebut berbicara dalam logat Amerika yang sangat lancar. Darrell membawa seorang wanita Amerika bersamanya?
"Nobody, honey. Just watch for the luggages." Darrell menjawab cepat.
Honey?
"Siapa itu?" Tanpa Minato sadari, wajahnya sudah terbakar. Mikoto mulai merasa gusar akan perubahan di wajah Minato. "Kau membawa wanita lain bersamamu? Dan kau akan menemui Kushina?" Minato tidak bisa menahan amarah yang muncul tiba-tiba itu. Ingatan masa kelamnya kembali muncul, di mana kakak kelas dari sekolah yang sama mengajak Kushina dan hanya ingin mempermainkan wanita itu.
"Apa urusanmu?" jawab Darrell, dingin. "Aku boleh membawa sepuluh wanita sekali pun bersamaku."
"Siapa wanita yang ada di sebelahmu?" Minato nyaris berteriak.
"Dia tunanganku." Darrell menjawab tanpa ragu. "Dan aku kemari untuk membuktikan pada Kushina bahwa aku sudah mempunyai tunangan. Wanita itu cerewet sekali. Dia masih mengira kalau dia punya harapan terhadapku." Darrell mendengus. Nada suaranya terdengar sangat sinis. "Dia sama sekali tidak tahu kalau aku sudah punya tunangan. Wanita bodoh." Tawa licik keluar dari mulut lelaki tersebut. "Aku tidak sabar lagi melihat wajahnya ketika dia melihat wanita cantik ini di sebelahku. Ekspresi wajah Kushina pada saat itu pasti sangat… tak ternilai."
Di detik itu juga, Minato menekan tombol 'end' di ponsel Kushina. Dia menyambar kacamata hitam dan kunci mobilnya. Kakinya melangkah cepat menuju lapangan parkir di dekat vila.
"Minato!" Mikoto menjerit dari kejauhan, namun suara Mikoto tidak bisa sampai pada telinga Minato. Darah mengalir dengan sangat cepat di tubuhnya. Detak jantungnya yang menggila seakan-akan menulikan telinganya. Minato mengepalkan tinju berkali-kali. Dia menggigit bibirnya. Wajah tangis Kushina terus berputar di kepalanya. Minato membayangkan dirinya yang berlari ke arah Darrell Hilton dan langsung menghantam lelaki brengsek itu. Dia membayangkan dirinya yang menendang, memukul dan menghabisi nyawa lelaki itu di depan Kushina. Dia tidak peduli kalau Kushina akan membencinya seumur hidup. Apa pun yang terjadi, dia akan membunuh lelaki yang berani mempermainkan Kushina.
Minato memegang setir dan melaju dengan sangat cepat. Mata birunya berkilat-kilat akan amarah dan rahangnya mengeras. Di detik ketika dia sampai pada lapangan parkir di bandara, dia langsung melompat keluar dan membanting pintu mobilnya. Dia tidak heran kalau pintu mobilnya rusak begitu saja. Minato nyaris berlari ke ruangan kedatangan. Mata birunya bergerak dengan liar, mencari-cari sosok lelaki pirang yang berdampingan dengan seorang wanita Amerika.
"Ti-tidak mungkin!" jeritan histeris yang sangat dikenalnya terdengar. Minato menoleh ke kanan, di mana dia langsung menemukan sosok wanita berambut merah panjang yang berdiri di dekat lelaki jangkung dengan wanita asing di pelukannya. Lelaki jangkung tersebut mengenakan topi dan kacamata hitam sehingga Minato tidak bisa melihat sosoknya. Sang wanita yang ada di pelukan lelaki itu juga mengenakan kacamata hitam. "A-aku tidak percaya… K-kalian bertunangan?" Wanita berambut merah panjang yang berada di dekat mereka membekap mulutnya.
Kushina.
Minato menggertakkan gigi dan berlari ke arah wanita itu. Dia berlari dengan sangat cepat sehingga Kushina dan dua orang Amerika itu tersentak melihat kedatangannya yang tiba-tiba.
"Lho? Mina… to!" Kushina menjerit kencang ketika melihat Minato yang langsung melayangkan tinjuan ke arah lelaki yang mengenakan topi tersebut. Lelaki itu langsung jatuh tersungkur, membentur koper yang ada di belakangnya.
"Oh my God!" Wanita berambut panjang kecoklatan yang berada di sisi lelaki itu langsung menjerit kaget.
"Minato! Apa yang kau lakukan!" Kushina ikut menjerit, namun Minato mengabaikan semua jeritan itu. Dia juga mengabaikan mata banyak orang yang tertuju padanya. Dia bahkan tidak peduli kalau ada media yang mengenali sosoknya dan mencetak kejadian ini di koran esok hari. Dia hanya ingin menghabisi lelaki yang ada di depannya ini. Minato menundukkan tubuhnya dan mencengkeram kaus lelaki itu, memaksanya untuk berdiri. "Minato! Hentikan!" Kushina semakin menjerit. Dia mencoba untuk menahan Minato, namun usahanya sia-sia.
"Berdiri kau!" Minato meraung. Kemarahan membuatnya kehilangan akal sehat. "Minta maaf pada Kushina! Minta maaf karena sudah mempermainkan perasaannya!"
Lelaki itu menatap Minato dan menyeringai lebar. Dia mengusap darah yang mengalir dari bibirnya yang pecah dan menepis tangan Minato dengan mudahnya. "Memangnya apa urusanmu? Kau tidak ada hubungan apa-apa dengan Shina! Dia mencintaiku! Dia tidak mencintaimu!" Tanpa peringatan, lelaki itu membenturkan tinjuannya ke wajah Minato.
"Minato!" Kushina menjerit lagi, begitu pula dengan wanita yang ada di sisi lelaki itu. "Apa-apaan ini! Hentikan!" Suara Kushina mulai bergetar. Wajahnya pucat dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Kushina memeluk Minato, mencoba untuk menahannya, namun Minato menepis tangan Kushina. "Hentikan, Mina…"
"Aku tidak peduli kalau dia tidak mencintaiku!" Dia berteriak, tidak mempedulikan rasa pening yang muncul, tidak mempedulikan kebisingan di sekitarnya, tidak mempedulikan darah yang mengucur deras dari hidungnya. "Aku mencintainya dan aku akan melindunginya dari pria brengsek sepertimu!"
Tubuh Kushina menegang ketika dia mendengar jeritan itu. Dia menatap Minato dengan mata terbelalak.
"Hoo, boleh juga!" Lelaki itu menyeringai lebar dan meludah darah dari mulutnya. "Come on! Fight me! Tinjuanmu tidak ada apa-apanya! Kau kira Shina akan mencintai lelaki lemah sepertimu, hah!"
Di detik ketika Minato hendak melayangkan tinjuannya, Kushina langsung berlari di tengah-tengah mereka, membuat Minato tersentak. Lelaki itu dengan segera menghentikan serangannya sehingga dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
"Apa-apaan kalian!" Jeritan Kushina melengking nyaring. Wajahnya merah padam karena amarah. "Jelaskan padaku apa yang terjadi sekarang juga atau aku yang akan menghabisi kalian berdua!"
"Kushina, jangan ganggu aku. Aku harus membunuh lelaki brengsek in…" ucapan Minato langsung menghilang ketika dia menerima tatapan membunuh Kushina. "Apa lagi yang harus dijelaskan! Bukankah semuanya sudah jelas? Dia menipumu, Kushina! Darrell Hilton yang kau cintai itu bertunangan dengan wanita itu!" Minato menunjuk ke arah wanita berambut panjang kecoklatan yang sejak tadi berada di sisi lelaki itu.
"Kau sudah gila, Minato?" Kushina menjerit, penuh dengan amarah. "Aku memang kaget karena mereka bertunangan! Tapi aku malah sangat bahagia karena mereka bertunangan!"
Minato langsung melongo. "Bahagia?" dia tidak mempercayai pendengarannya sendiri.
"Tentu saja! Kakakku bertunangan! Dengan sahabatku pula! Siapa yang tidak senang dengan kabar gembira itu!"
Minato melongo semakin lebar. "K-kakak?"
"Iya! Lelaki yang kau pukul seenaknya itu adalah kakakku! Ryu Uzumaki!"
Minato mengalihkan matanya dari Kushina dan menatap lelaki jangkung yang mengenakan topi dan kacamata hitam itu. Sambil mendengus, dia melepaskan topi dan kacamata hitamnya. Minato langsung melongo ketika dia melihat rambut merah darah dan mata kuning terang dari balik kacamata hitam itu.
"Salam kenal, Minato Namikaze." Lelaki itu menyeringai lebar. Namun, dia langsung mengaduh kesakitan karena lupa pada fakta bahwa bibirnya pecah karena ditonjok Minato.
Minato masih melongo, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. "La-lalu siapa Darrell Hilton itu? Kenapa dia mengaku kalau dia itu Darrell?"
Kali ini Kushina langsung mendelik ke arah kakaknya. "Kau mengaku pada Minato kalau kau itu Darrell? Apa-apaan ini, nii-chan!"
Lelaki bernama Ryu Uzumaki itu langsung menjulurkan lidah. "Bukan salahku. Aku sudah lama ingin membalas cowok bernama Minato Namikaze yang membuatmu sampai trauma bernyanyi itu."
Lagi-lagi Minato melongo. Dia dibohongi? Bukan Kushina yang membalas dendam padanya tapi malah sang kakak?
"La-lalu siapa Darrell Hilton?" Minato bertanya dengan nada histeris. "Kushina, setahuku kau datang ke bandara mau menjemput seseorang yang bernama Darrell Hilton! Mana lelaki itu? Mana lelaki pirang bermata biru yang bernama Darrell Hilton itu?"
Kushina kembali mengerutkan kening. Dia menahan diri untuk tidak berteriak. "Siapa yang bilang kalau Darrell itu cowok, hah! Darrell Hilton itu wanita yang menjadi tunangan kakakku!"
Minato kembali melongo dan langsung menoleh ke arah wanita berambut coklat panjang yang terpaku di sisi Ryu Uzumaki.
"Maafkan bahasa jepangku yang masih patah-patah…" wanita itu berbicara dengan logat Jepang yang aneh. "Aku bingung. Kenapa namaku disebut-sebut terus dan kenapa kalian fighting? Bisakah seseorang menjelaskan semua ini padaku?"
Minato masih melongo. Butuh waktu beberapa menit baginya untuk sadar dari lamunan. "Sejujurnya, aku juga butuh penjelasan."
.
.
.
.
.
"Baiklah, ayo kita mulai sesi tanya jawab ini." Kushina yang masih belum bisa menahan amarahnya. Mereka semua sudah tiba di dalam vila dan sekarang, lima orang itu (termasuk Mikoto) sedang duduk berdekatan. "Kita mulai dari Minato." Dia mendelik ke arah lelaki yang menyumpalkan tissue di hidungnya itu. "Dua hari lalu, aku menerima telepon dari Darrell yang mengatakan kalau dia akan datang ke Jepang. Betul?"
Minato menganggukkan kepala. "Dan kau menjerit 'aku kangen padamu!' kepada Darrell itu."
"Aku memang kangen padanya karena sudah lama aku tidak berjumpa dengannya."
"Lalu kau bertanya, 'kau akan ke sini? Bersama siapa saja?'."
"Dan Darrell menjawab bahwa dia akan datang bersama kakak yang sangat 'kucintai'," Kushina mendelik ke arah lelaki berambut merah yang duduk di dekatnya. "Karena itu aku sangat berterima kasih pada Darrell yang berhasil membujuk nii-chan. Nii-chan kurang suka dengan Jepang karena sudah terbiasa tinggal di Amerika sana. Jadi aku sangat gembira karena mereka berdua akan datang. Aku mengira kalau kakakku bisa menjadi model karena wajahnya yang terlihat jahat itu." Kushina berhenti sesaat dan mendelik lagi ke arah kakaknya. "Bukan 'terlihat', kau memang jahat!"
Mata kuning lelaki itu menatap Kushina dengan bersinar-sinar. Dia mengusap rambut adiknya sambil meringis. "Jangan begitu dong, sudah keturunan kan?"
"Jadi Darrell itu perempuan." Minato dan Mikoto berujar di waktu bersamaan. "Kenapa namanya Darrell kalau dia perempuan?" tanya Mikoto. "Sangat menyesatkan."
"Salahkan orangtuanya." Kushina menjawab sinis, membuat Mikoto menundukkan kepalanya semakin dalam. "Nah sekarang, giliranku bertanya pada Mikoto." Kushina memasang senyuman 'manis', membuat Mikoto gemetar ketakutan. "Kenapa kau sampai salah paham? Kukira kau tahu kalau Darrell Hilton itu cewek. Bukankah sudah kukasih lihat posternya?" Kushina membentangkan poster The Numbers. Nyaris saja dia meledak lagi ketika melihat jejak sepatu Minato di sana. "Ini kakakku, dan ini Darrell!" Kushina menunjuk ke arah lelaki bertopi dan wanita berambut coklat panjang.
"Kau tidak mau memberitahu secara lengkap. Kau mau menyembunyikan identitas mereka, kan?" Mikoto merengut. "Lagipula, ketika aku bertanya padamu 'cowok mana yang namanya Hilton' kau langsung menunjuk ke cowok berambut pirang ini!" Mikoto menunjuk ke arah ketua The Numbers yang berambut pirang dan bermata biru.
"Oh, he is my brother." Darrell Hilton yang asli menjawab dengan santai. "Jupiter Hilton."
Kali ini Minato dan MIkoto yang melongo.
"Kau bertanya, 'cowok mana yang bernama Hilton' kan? Tentu saja Jupiter!" Kushina kembali menjerit frustrasi. "Ada dua Hilton di dalam band itu!"
"J-jadi kau sangat menyukai band itu karena…"
"Karena kakakku dan Darrell bernyanyi di band itu!"
Ryu Uzumaki tertawa terbahak-bahak. "Astaga! Lucu sekali! Tidak rugi aku kembali ke Jepang! Aku tidak menyangka aku bisa tertawa seperti ini! Jadi kesalahpahaman ini terjadi karena kalian mengira kalau Darrell itu cowok kan? Memang, sih! Nama dia seperti nama laki-laki! See? Darrell, this is your fault!" Ryu mengacak-acak rambut tunangannya, membuat wanita itu merengut kesal.
"Tapi kakakmu yang seenaknya mengaku sebagai Darrell di telepon." Mikoto menunjuk ke arah Ryu.
Ryu mendengus. "Bukan salahku. Shina selalu bercerita padaku tentang Minato. Setiap kali kami ngobrol atau saling kirim email Shina selalu menceritakan Minato." Lelaki tampan itu mendelik ke arah Minato. "Tanpa sadar aku langsung mengenal karakternya. Jujur, baik hati, berwibawa, berjiwa pemimpin. Makanya ketika mendengar suaramu tadi aku langsung tahu kalau kau itu Minato dan dia kira kalau aku ini Darrell." Ryu meringis. "Memang, Shina sudah tidak benci lagi padamu, tapi sudah dari dulu aku ingin membalas dendam pada bocah yang menyebabkan trauma bernyanyi pada adikku sepuluh tahun yang lalu." Mata kuning lelaki itu menatap Minato dengan jahil. "Sebenarnya dari cerita Kushina, aku sadar sebenarnya Minato itu suka pada Kushina! Memang, Kushina bilang padaku kalau Minato benci padanya sehingga menjahilinya sampai seperti itu. Tapi kalau Minato benci pada Kushina, kenapa dia sampai mencium gadis yang dia benci itu di depan si senpai?"
Pertanyaan Ryu membuat wajah Minato terbakar.
"Tapi yah… apa pun alasannya, aku tidak bisa membiarkan cowok lemah sepertimu menyukai adikku kan? Makanya aku mengujimu." Ryu menunjuk ke arah bibirnya yang pecah. "Tapi kau tidak selemah yang kubayangkan." Dia menyeringai. "Dan pengakuan cintamu tadi lumayan mengesankan."
Wajah Minato semakin terbakar.
"Pengakuan cinta?" Mata Mikoto melebar. "Seperti apa? Seperti apa?"
Kali ini wajah Kushina ikut memerah.
"Aku tidak peduli kalau dia tidak mencintaiku!" Ryu berteriak tiba-tiba. "Aku mencintainya dan aku akan melindunginya dari pria brengsek sepertimu!"
Selain ahli berbohong, dan penyanyi, ternyata Ryu juga bisa berakting dengan sangat baik.
Mikoto melongo. "Astaga! Minato menjerit seperti itu? Di hadapan orang banyak?"
"He did." Darrell Hilton menyeringai lebar. "Selamat, Kushina! Pacarmu macho sekali! Kapan kalian akan menikah?"
Kushina dan Minato tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya duduk mematung, dengan wajah semerah kepiting rebus. Tanpa sadar, mereka berdua sudah saling bertatapan.
Kasus pertama sudah dipecahkan. Darrell Hilton adalah seorang wanita dan lelaki yang mengaku sebagai Darrell itu ternyata adalah kakak Kushina, Ryu Uzumaki. Dan dia bertunangan dengan Darrell Hilton tersebut. Kesalahpahaman sudah beres dan sekarang kasus kedua muncul.
Bagaimana dengan hubungan Minato dan Kushina? Apakah reaksi Kushina terhadap pengakuan cinta Minato yang 'panas' itu?
TBC
Okeee... segitu aja dulu...
btw, pernah ada yg nanya, di chapter brapa fic From Hatred Into Love tamat?
seharusnya di chapter 10 :)
jadi udah mau tamat nih fic
sekali lagi maaf kalau banyak kesalahan... dan makasih udah baca! :D
HAPPY B'DAY BUAT MINATO! :D
ps: aku ngerasa kalau chapter kali ini super rumit, jadi kalau ada pertanyaan silahkan ditanyakan yaa.
