Disclaimer: Bleach and all if it's characters are not mine. But the idea and storyline of 'A Living Fear' are mine.
Comments: Maapkeun! Sungguh maapkeun! Saya terlena dengan sekolah... (oke, salah pilih kata-kata. Bukan terlena tapi TERBEBANI). Sekali lagi maafkan author dodol ini sampe tega nelantarin ALF. Ini udah apdet kok u_u
Oh ya, aku lupa ngomong sesuatu. Untuk arc ini dan selanjutnya, saya akan memberikan sebuah peringatan yang cukup... ehm... penting. (iya, soalnya ngomongnya pake bahasa resmi segala)
Arc ini, dan arc-arc selanjutnya, ditulis dengan bahasa yang TWISTED.
Jadi bagi mereka yang masih normal, atau nggak suka sesuatu yang tidak normal, atau cuma 'merasa' normal (padahal ngga), atau bagi yang tidak menyukai hal-hal seperti pembantaian yang dilakukan dengan seringai di bibir... hati hati, anda sudah diperingatkan di chapter ini, karena kegilaan yang akan diceritakan di fanfic ini akan bertambah berkali-kali lipat. Saya NGGAK AKAN nulis peringatan ini lagi.
Timeline: After Kurosaki Ichigo was thrown into the Dangai by Aizen
Warnings: Kemungkinan OOC. Bahasa Hollow Ichigo yang penuh warna dan warni dan wirni.
oxoxoxoxoxoxo
A Living Fear
The Ancient Hollow Arc
Chapter 8: "Kōtotsu"
oxoxoxoxoxoxo
Setahun.
Lima menit.
Dua puluh abad.
Tiga jam.
Lima hari.
Empat detik.
Satu dasawarsa.
Ia sama sekali tak dapat membedakan waktu yang mengalir di antara serabut-serabut halus Kōryu.
Lagipula, apa faedahnya menghitung waktu? Waktu dan ruang adalah satu di sini. Satu bentuk, satu kesatuan, satu jalinan yang tak terpisahkan; terajut di antara lapisan Kōryu yang selalu mengalir. Masa depan, masa kini, dan masa lalu bercampur baur menjadi suatu keadaan yang tak dapat dipikirkan dengan akal maupun logika.
Akal.
Logika.
Tanpa kehadiran Hōgyoku, pikirannya perlahan berubah. Bermutasi. Perlahan, keinginannya untuk membunuh melepaskan diri. Begitu juga instingnya. Begitu juga kekuatan Hollow miliknya.
Dengan segera, ia kembali tersadar sebagai Kurosaki Ichigo.
Dengan segera, ia kembali tersadar akan perbuatan apa yang telah dilakukannya terhadap teman-temannya.
Dengan segera, pita suaranya bergetar hebat ketika Ichigo menjerit sekuat yang ia bisa, meratapi segala-galanya.
Ia seakan dapat melihat lagi pemandangan paling menyakitkan itu.
Mata Inoue.
Mata Chad.
Mata Ganju.
Ia terisak. Refleksi dirinya, monster, terpantul di bola mata mereka selagi ia mencabik kulit dan tulang leher mereka dengan tangannya sendiri.
Monster. Ia telah menjadi monster. Tak ada yang bisa merubah fakta itu...
Bahunya bergerak naik turun perlahan—ia tertawa pelan. Dengan segera tawa itu berubah menjadi tawa melengking tinggi, menyerupai jeritan.
Jeritan pilu.
Ichigo mengeluarkan segala perasaannya, segala keputusasaannya, segala kemarahan, frustasi, rasa bersalah, dan rasa ketiadaan yang semakin memuncak. Ia kembali menjerit, meraung, melolong, menangis—suaranya melengking tinggi di antara keheningan abadi di Dangai.
Ia sama sekali tak mempedulikan kehadiran Kōtotsu yang melaju ke tempatnya berada dengan kecepatan tinggi. Kereta api itu segera menelan Ichigo selagi dia masih terus menumpahkan segala emosinya.
Jauh di sudut jiwanya, seseorang berdiri di atas salah satu jendela gedung dengan gravitasi menyamping. Ia memandangi badai terhebat yang pernah terjadi di jiwa Ichigo dengan pandangan matanya yang semakin menyipit. Kulitnya basah, pakaiannya basah, rambutnya basah, wajahnya basah, segalanya yang menempel padanya menjadi basah, namun ia tak peduli. Wajahnya terlihat serius, sangat kontras dengan seringai yang tak pernah lepas dari mulutnya bak perangko.
"Raja bodo'."
o*o*o*o
Ichigo menemukan dirinya terbaring di gedung menyamping di sudut jiwanya.
Ia dapat merasakan tajamnya titik-titik air yang masih terus membasahi segalanya. Hujan. Banjir. Badai. Semuanya menjadi satu.
"HOI, KING GUOBLOG!"
Ichigo hanya diam saja dengan panggilan itu.
Jengkel karena dikacangi, Hollow Ichigo kemudian muncul mendadak, entah dari mana. Ia segera mendatangi Ichigo.
"Gue manggil loe!"
Ichigo masih terdiam.
Hollow Ichigo menendang Ichigo yang sama sekali tak bereaksi terhadap kelakuan agresifnya.
"Menyedihkan banget loe, Ichigo!" sembur Hollow itu marah. Dengan segera ia mematerialisasikan Zangetsu putih di tangannya, dan menekankan sisi tajam Zangetsu putih itu ke leher Ichigo. Ia sama sekali tidak menghiraukan aliran darah kecil yang muncul dari kulit Ichigo yang tergores. "Loe bahkan nggak pantes gue panggil 'King' lagi!"
Kali ini Ichigo merespon perkataannya. "Memangnya aku memaksamu untuk memanggilku dengan sebutan 'King'? Aku bukan rajamu. Ya, bunuh saja aku. Lakukan. Bukankah itu yang kau inginkan—mengambil alih tubuhku?" tanya Ichigo pahit. "Hidupku sudah tak ada gunanya lagi tanpa teman-temanku, nakamaku. Seharusnya aku melindungi mereka, tapi ternyata... aku malah membunuh mereka." Dengusan getir menyelinap keluar dari mulutnya, ia tampak begitu menderita.
Wajah Hollow itu semakin tertekuk tak senang melihat 'King'nya terlihat begitu lemah.
"Gue ga bakalan ngebunuh loe, Ichigo!" seru Hollow itu, nadanya lebih dari sekedar marah. Ia murka. "Gue bakalan ngebiarin loe hidup dengan penderitaan loe yang menyedihkan itu!"
Zangetsu mendadak muncul. Segala yang menempel di tubuhnya pun terlihat basah. "Hollow," panggilnya.
"Urusai, Ossan!"Hollow itu menukas dengan nada jengkel, tatapan matanya masih tertancap di sosok menyedihkan Ichigo.
"Hollow!" Zangetsu tetap memanggilnya, nada suaranya menjadi lebih serius... lebih serius daripada suaranya yang biasa, yang biasanya sudah selalu serius. "Ada beberapa Adjuchas mendekat. Meskipun kau hanya bisa menggerakkan insting semata, tapi setidaknya kau bisa mengendalikan tubuh ini!"
"Cheh!" Dengan terpaksa ia menarik kembali pedangnya. "Pathetic King!" semburnya, kemudian menghilang, kembali tersadar ke dunia nyata—atau, lebih tepatnya, kembali tersadar di dalam Kōtotsu untuk memerangi segala Hollow yang telah ditelan oleh kereta api tersebut.
"Aku... memang menyedihkan, tidakkah begitu, Zangetsu?" tanya Ichigo lemah, disusul tawa miris. Zangetsu memandangnya dengan sedih dari balik kacamata hitam yang selalu dikenakannya.
Jiwa zanpakutō itu berkata, "Mengapa kamu berpikir seperti itu?"
"Aku membunuh mereka. Dengan tanganku sendiri," Ichigo berkata dengan pahit.
Zangetsu berhenti sesaat sebelum bertanya, "Jika kamu tidak membunuh mereka, apa yang akan terjadi?"
"Mereka..." Ichigo terlihat tidak yakin. "Mereka akan dihukum mati karena kejahatan yang tidak mereka lakukan. Dan... mereka juga akan disiksa."
"Tidakkah kau ingin menyelamatkan mereka dari takdir yang mengerikan itu?" tanya Zangetsu.
Ichigo memalingkan muka. "Sejujurnya, ya."
"Berarti kau memang telah menyelamatkan mereka," Zangetsu mengangguk pelan. "Jangan pernah menyesali apa yang telah kau perbuat jika kau melakukannya dengan penuh keyakinan, Ichigo. Hanya sesali apa yang kauperbuat dengan penuh keraguan. Keragu-raguan berarti kau tahu bahwa apa yang kau lakukan adalah salah."
"Jadi, menurutmu aku melakukan tindakan yang benar dengan membunuh mereka?" tanya Ichigo, memandang Zangetsu lurus-lurus.
Jiwa zanpakutō itu terdiam sejenak. "Bukan aku yang memutuskan apakah tindakanmu benar atau salah, tetapi dirimu sendiri. Tanyakan hatimu. Jernihkan pikiranmu. Gunakan logika, realita, namun yang terpenting, gunakan nuranimu sendiri... Ichigo."
o*o*o*o
| A few days later. Or maybe an hour later. Or maybe a year later. Or maybe... yesterday? Gah, this is Kōtotsu, there's no way I know the time here, dammit! |
Ia peduli pada King.
... B-BAH!
Hollow itu merasa malu sendiri. Tapi, hal itu memang tak dapat ia pungkiri. Ia peduli pada King. Kepedulian itu tidak hanya didasari pada pengetahuan bahwa jika King-nya mati maka ia pun mati. Ya, bukan hanya itu. Kepeduliannya didasari pada sesuatu yang lebih dalam, lebih kompleks, lebih membingungkan daripada hanya sekedar insting bertahan hidup semata.
Entah apa yang mendasarinya. Hollow itu tak peduli. Yang ia pedulikan, sekali lagi, hanyalah King.
Ia selalu menggunakan segala kesempatan yang ada untuk meleburkan diri kembali ke jiwanya, hanya untuk mengecek keadaan King.
Sekarang, hujan itu telah berhenti. Namun mendung masih mengangkasa bebas. Ia mengerling ke sana-sini. Disana rupanya si King rambut oranye itu. Tapi... meh. Masih menyedihkan. Si kepala stroberi itu sedang tidur melintang, menghadap langit dengan wajahnya yang biasa: alis bertautan dan tanpa kehadiran senyuman. Heh. Tidur atau bangun sama saja, tampangnya sama-sama depresi. Ia melangkah mendekati King-nya itu, memandanginya dengan mata yang menyipit.
Ia ingin sekali menusuknya dengan Zangetsu agar dia kembali memiliki semangat hidupnya. Ia ingin sekali menebasnya dengan Zangetsu agar dia kembali memiliki kekuatan untuk dapat bangkit dari kesedihannya. Tapi... sekarang, ia sudah terlalu lemah, bahkan hanya untuk mempertahankan kehidupannya. Hanya gara-gara beberapa gelintir orang yang ia sebut sebagai 'teman'.
Tanpa sadar ia bergumam kecil, "Kau adalah satu. Kita adalah satu. Apa yang kau takutkan? Tinggalkan ketakutanmu. Lihatlah ke depan."
Namun, Hollow itu dikejutkan oleh suara Ichigo yang mendadak menyambung kalimatnya yang terputus itu. "Teruslah maju dan jangan berhenti. Kau akan menua jika kau mundur. Kau akan mati jika kau ragu."
Ia mengerlingkan iris matanya yang kekuningan ke arah Ichigo, yang rupanya sudah terbangun. "Heh. Masih punya harapan juga loe."
Senyum yang mencapai wajah Ichigo terlihat sangat pahit. "Yah, setidaknya aku tidak terlalu parah seperti kemarin-kemarin."
Hollow itu mendesah kesal. "Kalo loe lebih suka nenggelamin diri loe dalam kesedihan, silakan deh. Gue ga ngelarang. Tapi jangan ajak gue juga."
Ichigo berkontemplasi akan hal tersebut. Ia pun berkontemplasi akan seluruh hal yang sekarang terjadi. Ichigo tak begitu menyadarinya pada saat pertama kali Hollow-nya menendang dirinya, namun ia sadar bahwa sekarang Hollow miliknya itu ternyata tidak sedang berusaha untuk membunuhnya seperti yang pernah ia lakukan dahulu di tengah pertarungannya dengan Kenpachi. Ada apakah gerangan? Apakah Hollow itu berusaha mengelabuinya? Atau... jangan-jangan... apakah inilah sifat asli Hollow-nya: kelakuan saja yang bejat, tapi sebenarnya hatinya baik?
Ia memutuskan untuk mengetes Hollow-nya itu. "Hoi, Hollow. Kenapa kamu membantuku?"
"Bantu apaan?"
"Kenapa kau... berusaha menghiburku?" Ichigo bertanya, merasa sedikit blak-blakan.
Hollow itu cuma mendengus, menjawab pertanyaan Ichigo dengan jawaban yang sama blak-blakannya. "Gue ga bantu loe. Gue cuma benci punya King yang Emo. Kliatan lemah banget. Masa gue harus tunduk sama King yang lemah? Nggak punya tujuan hidup lagi."
Jadi, memang benar. Ichigo sekarang percaya bahwa Hollow itu memang tidak berniat buruk. Ichigo kemudian melayangkan kedua hazel miliknya ke kejauhan, dan memutar pembicaraan ke arah yang lain sama sekali. "Pernahkah kamu merasa sedih, Hollow?"
Iris keemasan itu memandangi Ichigo dalam tatapan kosong sementara Hollow itu mengingat-ingat kejadian demi kejadian yang membuat kebahagiaannya menguap. Dan selalu, selalu, kejadian itu pasti berhubungan dengan Ichigo yang sedang meregang nyawa. Kenapa harus selalu dia, sih?
Dengan enggan Hollow itu menjawab, "Pernah. Dan itu adalah pengalaman paling nggak enak. Gue nggak habis pikir loe masih mau aja ditelen hidup-hidup ama kesedihan loe."
Sinar mata Ichigo mulai meredup kembali. "Teman-temanku..."
Kejengkelan kembali menguasainya. "Woi! Lama-lama gue jadi nyesel ga ngebunuh mereka dari dulu sebelum mereka bikin loe menyedihkan kayak gini! Sekali lagi, kematian mereka itu. Bukan. Kesalahan. Loe! Loe ngelakuin ini semua supaya mereka nggak lebih menderita lagi, kan?"
"..." Ichigo hanya terdiam.
Hollow itu menggeleng frustasi. "Loe nyadar ga sih kalo loe tuh nggak bener-bener ditinggal sama mereka?"
"... hah?"
"D'oh, keidiotan loe tuh bener-bener unbelievable. Selama loe bisa inget mereka, King... loe cuma perlu inget doang. Inget mereka, dan mereka pun bakalan hidup terus di hati loe. Ngapain sedih kalo mereka emang ngedampingin kita terus, meski mereka udah ga ada di sini? Mereka kan masih berada di hati loe?"
Ichigo masih terdiam.
"Ato apa loe bener-bener percaya kalo mereka pasti ninggalin loe? Wah, kalo gitu gue ga yakin apa mereka tuh beneran 'nakama' loe, deh," ucapnya panjang lebar sembari bersidekap.
Menyadari kebenaran dari kata-kata Hollow yang (tidak seperti biasanya) benar-benar bijaksana, Ichigo kehilangan napasnya sesaat. "Kau... benar, sepertinya."
Hollow itu bisa merasakan kepalanya membesar karena kesombongannya. "Ha! Gue emang pasti bener lah!"
Akhirnya setitik senyuman mampu mencapai sudut bibir Ichigo. "Aku masih tetap ingin tahu siapa namamu..."
"Gue ga punya nama, King. Inget ga sih?"
"Iya juga sih," gumam Ichigo, teringat pertarungannya dengan Byakuya. "Hei. Kenapa kau suka memanggilku sebagai 'King'?"
Pertanyaan Ichigo membuat seringai Hollow itu melebar, kalau memang bisa lebih lebar daripada sekarang. "Apa loe nggak nyadar? Loe kan yang biasanya ngendaliin tubuh ini. Loe juga ngerajain tempat ini. Gue sebagai 'kuda' yang jadi bawahan cuma bisa pasrah aja punya 'joki' yang dudut, tolol, dan lemah kayak loe."
"Kau senang sekali mengejekku, ya?" Ichigo menjadi kesal.
"Ini bukan ejekan. Ini mah kenyataan."
"Mau kubuktikan bahwa aku tidak lemah?" Perlahan Ichigo memanggil Zangetsu yang mendadak muncul di tangannya.
"Sia-sia, King. Loe ga bakal bisa menang ngelawan 'kuda'mu ini!" Berlawanan dengan perkataan yang diserukannya, Hollow itu langsung mematerialisasikan Zangetsu dengan warna terbalik di tangannya. Ichigo menautkan alisnya.
"Katanya sia-sia, tapi kau tetap memunculkan Zangetsu aneh itu..."
Hollow itu bergumam di belakang Ichigo, "Loe banyak ngomong juga ya."
TRANG!
Ichigo langsung menahan serangan dari Hollow-nya itu. "Ooh, hebat juga loe, King," puji Hollow itu dengan senyuman sadis.
Ichigo mendengus. "Sori ya. Aku memang keren."
"Pffft. Kita liat aja, sapa yang lebih keren... loe ato gue?!" Ia berteriak, kembali menebaskan Zangetsu yang berwarna terbalik itu ke arah Ichigo.
Dengan segera, mereka tenggelam dalam pertarungan. Serangan demi serangan diberikan, tebasan demi tebasan dilayangkan, hujatan demi hujatan dilontarkan—dalam kasus Hollow Ichigo, tentu. Entah berapa lama mereka terlarut dalam melodi indah pertarungan mereka. Hollow itu seakan mabuk, pertarungan mereka bagaikan ekstasi terhebat yang pernah ia rasakan.
Pedang dengan pedang.
Darah dengan darah.
Nafas dengan nafas.
Kemudian, sekali lagi bertemulah pedang dengan pedang.
Ya, Hollow itu tak peduli dengan lamanya waktu yang ia lewatkan bersama dengan King-nya dalam pertarungan surgawi ini. Hanya ada dia dan King. Cuma itu yang berarti sekarang.
Ichigo pun menemukan dirinya menikmati pertarungan dengan Hollow-nya. Padahal, dulu ia melawannya dengan penuh ketakutan. Ya, dirinya yang dulu benar-benar menyedihkan. Ia diam-diam setuju dengan pandangan Hollow itu tentang dirinya. Ia memang lemah.
Ia ingin jadi kuat.
Ia sangat ingin menjadi kuat.
Agar ia tak perlu mengulang peristiwa mengerikan itu lagi.
Ia memejamkan mata, berusaha menyingkirkan pemikiran itu dari otaknya. Sekarang bukan waktunya untuk itu. Sekarang adalah waktunya untuk memuntahkan seluruh rasa frustasi, depresi, dan kesedihannya dalam bentuk ayunan tajam pedang Zangetsu...
oxoxoxoxoxoxo
Author's Notes:
1. Setidaknya, adjuchas yang dimakan Kōtotsu di sini berhasil bertahan hidup laah.
2. Nulis 'tajamnya titik-titik air' membuatku teringat akan pengalaman sepeda motoran di antara hujan deres tanpa penutup helm... AKU DITAMPAR-TAMPAR OLEH AIR HUJAN D: *curcol ga penting*
Never forget to review, please. Hehe. Arigatō gozaimasu m(_ _)m
