Best Mistake
Main Cast : Kwon Soon Young ; Lee Jihoon
Support Cast : Lee Seung Cheol, Lee Seok Min, Chwe Hansol, Kim Mingyu, Jeon Wonwoo, another Seventeen's member.
Rate : T - M
Genre : Drama, Romance
Words :
Disclaimer : Tokoh bukan milik saya, tapi karakter dan cerita ini murni dari otak saya.
Warning : Yaoi. AU. Typo. sesuai EYD. Bahasa slang. Dll/?
Summary : Soonyoung yang mabuk, bertemu dengan Jihoon yang juga mabuk. Jadi nya? Ya seperti itu. SEVENTEEN FF! SoonHoon / HoZi couple! Slight SeungHoon couple! Meanie couple! Seokhan / VerDK couple! SeungHan couple! Another SEVENTEEN's Couple!
.
.
.
.
.
.
.HoZi.
.Enjoy.
.
.
.
.
.
Angin berhembus lembut. Matahari diluar sana mulai menampakkan diri. Tanda kalau aktifitas hari ini dimulai.
07:44 AM
Soonyoung sedang sibuk didapurnya. Menyiapkan sarapan mengingat dia sedang kedatangan tamu sejak kemarin.
Benar.
Lee Jihoon. Pemuda mungil yang dari kemarin sore hingga hari ini belum juga terbangun dari tidurnya.
Oke, Soonyoung tahu kalau Jihoon sangat sulit bangun. Tapi, dari kemarin sore?! Apa Jihoon koma? Atau bagaimana? Soonyoung tidak habis pikir.
Lelaki tampan itu mengangkat sosis panggangnya dan meletakkannya dipiring. Bersama telur mata sapi dan roti. Juga segelas susu hangat.
Mata sipitnya melengkung bersama bibirnya yang tersenyum. Mengangguk pelan dan melepas apronnya. Beranjak kekamarnya sendiri untuk membangunkan Jihoon.
"Hey.. bangun sekarang."
Pemuda Kwon itu memencet pelan hidung Jihoon. Membuat sang empunya menggilat tidak nyaman dan membuka matanya. Dengan malas, Jihoon mendudukkan dirinya. Mengusap matanya yang terasa lengket dan berat.
Soonyoung tersenyum. Tangannya, mengusak surai senja Jihoon.
"Ini.. coffee latte.."
Lelaki tampan bermata sipit itu menunjuk segelas coffee yang ditaruhnya diatas meja nakas. Jihoon mengangguk pelan dan meminumnya.
"Sudah baikan?"
Jihoon melirikkan matanya. Menatap lurus pada Soonyoung yang tersenyum kearahnya.
"Kau bisa menceritakan semua nya kalau kau mau. Aku akan mendengarkan."
Pemuda mungil itu menghela napasnya berat dan menaruh kembali gelasnya. Memainkan jarinya dibalik selimut, ragu.
"A-aku.."
Soonyoung menangguk kecil. Tangannya menepuk lembut puncak kepala Jihoon yang mulai berkaca.
"Aku.."
..
"Kemarin, sebenarnya, adalah hari jadi ku yang ketiga tahun. Aku.. aku bahkan nyaris lupa hari itu karena kesibukan ku dan aku merasa sangat bersalah. Aku tidak punya banyak waktu untuk membuat hadiah, maka dari itu aku meminta bantuan mu. Maafkan aku, Soonyoung. Aku membohongi mu.."
..
"Kemarin.. saat aku mau menemuinya dikantornya, aku tidak sengaja bertemu dengannya dijalan. Dan dia.. d-dia.. dia melamar orang lain disana."
Jihoon tertawa kecil. Dengan pipi nya yang mulai basah.
"Aku tahu aku buruk. Orang itu jauh lebih baik dari ku. Wajahnya pun cantik. Dan senyum nya sangat menawan. Aku tahu aku tidak apa-apa dibanding dengannya.. tapi.. kenapa dia tidak bilang dari dulu kalau dia sudah punya orang lain yang dicintai nya? Dia membuatku berharap terlalu jauh.."
..
"A-aku.. aku tidak marah pada nya. Tidak pada mereka. Hanya saja.. kalau saja mereka jujur.. aku tidak akan seburuk ini.. aku tidak akan sehancur ini.. a-aku.. aku hanya terlalu kecewa Soonyoung-ah.."
..
"Kenapa? Kenapa mereka melakukan ini padaku?! A-aku.. aku bahkan tidak tahu apa salah ku hingga mereka tega.. a-aku.. aku.. sakit Soonyoung-ah.. aku tidak tahu kalau cinta akan sesakit ini.."
Soonyoung terdiam. Hanya tubuhnya yang menenangkan Jihoon yang terisak hebat dibahunya. Memeluk erat pemuda mungil yang tengah rapuh itu dalam dekapannya.
Jihoon butuh tempat bersandar. Dan Soonyoung akan selalu ada untuknya. Soonyoung janji itu.
Lelaki tampan itu mengusap kembali helaian Jihoon dan membawa tubuhnya menjauh. Menghapus air mata yang membanjiri pipi chubby itu. Tersenyum kecil menenangkan.
"Mereka punya alasan Jihoon-ah.. tenangkan diri mu dulu, mereka pasti akan menemui untuk membicarakan semuanya. Dan aku, aku akan selalu disamping mu. Menemani mu apapun yang terjadi. Percaya lah pada ku.. karena kini, dihati ini hanya ada dirimu. Jantung ini, hanya berdetak untuk mu."
Pemuda mungil itu menggigit kuat bibir bawahnya. Bukan apa-apa, hanya saja..
Debaran Soonyoung, terlalu menggetarkan untuk telapak mungilnya.
"Aku tidak memaksa mu untuk percaya pada ku. Tapi aku, bersungguh-sungguh untuk selalu menjaga mu, bersama mu, disamping mu, untuk selalu mencintai mu. Hanya diri mu, Lee Jihoon."
Cup
Jihoon terdiam. Tidak tahu harus berbuat apa dan berreaksi bagaimana.
Pemuda mungil itu tahu. Sangat tahu kalau Soonyoung benar-benar tulus mengatakannya. Bahkan, dari cara Soonyoung menciumnya. Begitu lembut.
Perlahan, kedua kelopak matanya tertutup. Menerima kecupan dibibirnya. Dengan tangan yang mengalungi bahu tegap Soonyoung yang mulai melumat bibirnya.
Membiarkan dirinya melupakan sejenak semua permasalahan diantara mereka.
.
.
Soonyoung merapihkan sedikit baju nya yang berantakan. Mengenakan jas yang sebelumnya dia sudah dia ambil dari lemari. Menata sedikit rambutnya dan berjalan kearah Jihoon yang masih meringkuk dikasurnya.
"Jihoon-ah, aku berangkat sekarang. Aku sudah menyiapkan sarapan juga, kau bisa makan sesudah kau man-"
"Aku mau tidur lagi."
Soonyoung terkekeh kecil dan mengusak surai Jihoon.
"Baiklah-baiklah, terserah pada mu. Anggap saja dirumah mu sendiri dan lakukan sesuka mu."
"Hm.."
Lelaki tampan itu tersenyum kecil dan segera keluar dari sana. Meninggalkan Jihoon yang masih terdiam dalam baring nya.
Lelaki mungil itu memeluk dirinya sendiri. Kembali bibirnya menjadi pelampiasan keraguannya.
Mata nya terpejam.
'Maafkan aku..'
Mencoba menggapai alam mimpinya.
'Soonyoung-a..'
Dan..
..
..
'Kwon Soonyoung..'
..tertidur pulas.
.
.
Soonyoung berjalan santai menuju mobilnya. Tapi baru saja dia keluar dari gedung besar apartmentnya. Mobil Seokmin dan pemiliknya sudah menghadang nya disana.
Soonyoung menyergit. Menghampiri pemuda tinggi yang kini mulai bangkit dari bersandarnya.
"Ada apa Seokmin-ah?"
Si tinggi tampan itu terdiam. Hanya mengangkat acuh bahunya dan memasuki mobil. Soonyoung memasang wajah herannya dan ikut masuk setelah diisyaratkan Seokmin untuk ikut bersamanya.
Kini mereka tengah berada diperjalanan menuju kantornya. Kebetulan, dia ada rapat bisnis dengan lelaki mesum disampingnya ini.
"Jadi, ada apa?"
Seokmin melirik melalui kaca spion tengahnya. Kembali mengangkat bahu nya acuh.
"Junghan hyung resign."
"APA?! KEN-"
"Kau yakin butuh alasan?"
Soonyoung terdiam.
Benar. Tanpa bertanya pun dia tahu alasannya.
Lelaki tampan bermata sipit bermarga Kwon itu memijat pelan pangkal hidungnya. Pening langsung mendera kepalanya.
Seokmin, kembali melirik.
"Aku akan carikan yang baru. Tenang saja, untuk saat ini asisten ku yang mengurus jadwalmu. Ingat kan aku untuk meminta bayarannya pada mu."
Ganti, Soonyoung yang melirik. Memandang jijik Seokmin yang menaik-turunkan alisnya dengan senyum 'ptpt'.
"Transfer sendiri. Kau pegang satu kartu ku kan?"
Seokmin tertawa senang. Selain posesif dan mesum, lelaki ini mata duitan juga ternyata.
Soonyoung mendengus. Namun, senyum nya tumbuh juga.
"Kita sudah lama tidak gila-gilaan lagi Seokmin-ah."
Lelaki tinggi itu tersenyum lebar.
Menatap Soonyoung yang sudah menatapnya sedari tadi dengan senyuman gila yang sama.
"Hehehe.."
"Hehehe.."
"Hehehe.."
"WAHAHAHAHA.."
Mereka... baik-baik saja kan?
.
.
Soonyoung menidurkan dirinya dirumput. Begitu juga dengan Seokmin disampingnya. Mereka kelelahan bermain seharian ini. Membolos ke kantor dan malah terdampar di taman bermain, pantai, dan kini mereka tengah berada ditaman kota. Hari juga sudah gelap.
Seharian ini mereka benar-benar melepaskan beban. Bermain layaknya anak kecil. Melupakan umur dan status mereka. Lagipula, sudah lama sekali sejak mereka terakhir seperti ini. Mungkin dua atau empat tahun yang lalu. Haahh.. Soonyoung benar-benar merindukan masa dimana dia bisa bergerak dengan bebas. Kini, untuk bernapas pun sulit. Terbelit dengan berbagai urusan kantor yang selalu mencekiknya.
Lelaki itu menatap langit.
"Aku merindukan masa kita dulu.."
"Aku merindukan Hansol."
JTIK
Soonyoung menatap tajam pada Seokmin disampingnya yang tengah sibuk dengan ponsel hitam lelaki itu. Persimpangan jalan, berkedut didahinya.
Hebatnya, Seokmin sama sekali tidak peka.
"Hahh.. aku belum menghubungi nya seharian ini. Apa dia akan marah? Kalau marah, ya baikan aja.."
Soonyoung membuang napasnya dengan kesal.
Perlukah dia juga merindukan masa dimana Seokmin belum punya kekasih? Itu lebih bagus karena pemuda kemancungan disampingnya ini tidak pernah memikirkan apapun setiap kali mereka bermain. Bahkan tidak pulang sekalipun bukan masalah untuknya. Sekarang?
"Yak! Seokmin-ah! Aku bicara padamu!"
Seokmin menyingkirkan tangan Soonyoung yang mengguncang tubuhnya."
"Aish! Apasih hyung?! Cari pacar sana!"
Soonyoung merenggut. Seokmin kejam.
"Sebentar lagi juga punya!"
Seokmin mengangkat sebelah alisnya. Dengan senyum mengejek dia menatap Soonyoung disampingnya.
"Maksud mu Jihoon? Kau yakin?"
"YAK!"
Seokmin segera bangkit saat Soonyoung mengambil satu batu disamping kepala mereka. Dengan segera melarikan diri dari Soonyoung yang mulai mengamuk.
"Aku kan hanya tanya hyung!"
Soonyoung mengejar.
"Kau meremehkan ku bodoooh! Aku membenci mu!"
Seokmin tertawa kencang. Sekencang dia mempercepat langkah kakinya.
"Kau seperti perempuan yang sedang merajuk hyuung!"
Soonyoung murka.
"YAAAAAKKK!"
"WAHAHAHAHAHA.."
.
.
Jihoon menggilat kecil. Dengan cepat menarik dirinya bangun dan menguap lebar. Matanya mengerjap sebentar dan menatap keluar jendela.
'A-Apa?! Sudah malam lagi?!'
Jihoon membulatkan matanya.
"Apa aku benar-benar tidur seharian?"
Kepalanya miring kekanan. Dengan wajah berpikirnya.
Seandainya Soonyoung melihat. Mungkin darah segar akan mengucur bebas dari hidungnya.
"Hah, setidaknya aku sudah merasa baikkan. Tidak tidur empat hari cukup terbayar hari ini.."
Pemuda mungil itu menyenderkan tubuhnya. Menatap kesekelilingnya.
'Ini.. masih di kamar Soonyoung..'
KREUUNG~
Matanya sayu. Dia lapar.
Pemuda mungil itu memutuskan bangun dan keluar kamar Soonyoung. Menyalakan lampu diruang tengah yang gelap.
'Soonyoung belum pulang..'
KREUUNG~
"Haahh~ aku lapaa~r"
Jihoon menuju dapur. Matanya sedikit membulat melihat baju nya yang terlipat rapih diatas meja makan dengan sebuah note disana. Dengan mendudukkan dirinya dia membaca note itu.
Maafkan aku karena mencium mu sembarangan tadi.
Aku sudah siapkan sarapan tadi. Dan baju mu juga sudah selesai aku cuci.
Buat dirimu se-nyaman mungkin disini.
-Kwon Soonyoung-
Jihoon mengerjap. Ini note tadi pagi.
Matanya beralih menatap makanan disebrangnya dan tersenyum kecil.
Menghangatkannya sebentar, dan mulai memakannya.
Jihoon tersenyum senang.
'Enaa~kk'
Matanya redup.
Ingatannya mengulang setiap kejadian yang pernah dilaluinya bersama Soonyoung.
'Kwon Soonyoung..'
Dimana Soonyoung memeluknya begitu erat kemarin.
Bagaimana lelaki itu memberikan bahunya untuk dia bersandar, menceritakan seluruh keluh kesahnya.
Bagaimana Soonyoung menunjukkan cinta nya.
Menciumnya..
Dan yang Jihoon lakukan hanyalah...
Memberinya sebuah harapan kosong.
Pemuda mungil ini menggigit bibirnya. Menahan kristal bening yang siap melencur ke pipinya. Dengan mencengkram kuat meja makan, dia bangkit.
'Aku harus melakukan sesuatu untuknya. Harus!'
Jihoon mengangguk mantap. Baru saja dia akan melangkah dari sana,
"A-ah! Makanannya belum habis!"
.
.
"Fyuuhh~"
Jihoon menyeka keringatnya. Dengan senyum manis dia melihat hasil kerjanya.
Kasur Soonyoung yang sudah rapih dengan seprai baru. Dapur yang besih dengan segala perabotan yang mengkilat. Dan baju Soonyoung yang terlipat rapih diatas meja makan dengan note.
Sempurna.
"Jihoon-ah!"
Jihoon tersentak. Dia membalikkan badannya dan menemukan Soonyoung yang tersenyum lebar tengah mendekat kearahnya. Kapan orang ini masuk?! Jihoon bahkan tidak mendengar suara pintu yang terbuka.
"Jihoon-ah, untunglah kau belum pulang.."
Pemuda pendek ini menyergit.
"Ini.."
Jihoon mengambil bingkisan yang diserahkan Soonyoung. Masih dengan wajah bingungnya.
"Apa ini?"
"Kue. Aku tahu kau suka makanan manis."
Jihoon tersipu. Dengan senyum kecil dia berterima kasih.
"Kau mau pulang sekarang?"
Jihoon mengangguk.
Soonyoung tersenyum lebar.
"Biar aku antar."
.
.
Jihoon membuka pintu apartmentnya dalam diam. Soonyoung masih berdiri dengan setia disampingnya.
"Nah, kau masuklah. Aku akan pulang."
Soonyoung baru saja akan berbalik tapi tangan mungil Jihoon menahannya disana.
"Ada apa, Jihoonie?"
Jihoon mengatupkan bibirnya ragu.
"Eum.. terima kasih, Soonyoung-ah.."
Soonyoung tertawa. Dengan gemas, diacaknya rambut Jihoon.
"Tidak perlu berterima kasih.."
Jihoon menatap dalam mata itu. Bibirnya melengkungkan senyum tipis.
"Tidak. Aku benar-benar berterima kasih. Kau sudah seperti hyung ku."
Soonyoung terdiam. Seketika tawanya musnah.
Dengan senyum kecil, tangannya membawa wajah Jihoon mendekat.
"Aku bukan hyung mu.."
Kembali, matanya terpejam.
"Karena aku.. mencintaimu Jihoonie.."
CUP
Dan memulai kembali ciuman keduanya dihari ini.
.
.
.
.
.
Wonwoo menghirup udara pagi hari ini dengan perasaan senang. Hari ini dia libur dan rasanya, sangat menyenangkan.
Niat awalnya dia ingin tidur seharian. Tapi dia baru ingat kalau dia ada urusan sedikit dengan Jihoon. Jadilah, dia berniat mengunjungi sahabat mungilnya itu.
Dan yah.. ternyata biasa berjalan berdua dengan Mingyu, kini dia sedikit risih kalau harus berjalan sendiri. Tiga tahun bersama Mingyu membuatnya terbiasa dilindungi tubuh besar kekasihnya itu.
Wonwoo sedikit memeluk tubuhnya sendiri. Dia berjalan dengan sedikit lebih cepat.
Entah kenapa, tapi rasanya dia ingin cepat-cepat bertemu Jihoon.
.
.
.
.
.
"Aku akan selalu disamping mu. Menemani mu apapun yang terjadi. Percaya lah pada ku.. karena kini, dihati ini hanya ada dirimu. Jantung ini, hanya berdetak untuk mu."
"Aku bukan hyung mu.."
"Karena aku.. mencintaimu Jihoonie.."
"...dihati ini hanya ada dirimu."
"Jantung ini, hanya berdetak untuk mu."
"Aku mencintaimu Jihoonie.."
"Aku mencintaimu Jihoonie.."
"Aku mencintaimu Jihoonie.."
"AARRGHHH! MEMALUKAAAAAANNN!"
Jihoon menggulingkan tubuhnya kekanan kekiri. Rambutnya berantakan. Kasurnya jauh lebih berantakan. Dan wajahnya, sangat-sangat berantakan.
Kata-kata Soonyoung terus menghantuinya.
Jihoon ragu. Bair bagaimanapun, Jihoon baru saja putus cinta. Dia tidak mau Soonyung menganggapnya hanya mencari sebuah pelampiasan. Tidak. Jihoon, tidak mau Soonyoung menganggapnya seburuk itu.
"Salah sendiri dia jago ngebaperin/?"
Jihoon mempoutkan bibirnya. Dia telentang dengan kedua tangan dan kaki yang terbuka lebar. Memandang langit-langit kamar nya yang entah sejak kapan, jadi ada lukisan wajah Soonyoung disana.
"Aku salah menilainya dulu. Ternyata.. dia jauh lebih baik dari dugaan ku.."
Jihoon memiringkan tubuhnya. Memeluk lututnya dengan begitu erat.
Memikirkan kembali perasaannya.
Pertanyaan yang berputar dikepala Jihoon, hanya satu.
Benarkah dia selama ini.. mencintai Seungcheol?
Jihoon sendiri tidak tahu jawabannya.
Iya. Karena dia berdebar didekat Seungcheol. Karena dia selalu merasa senang kalau bersamanya. Dan Jihoon cemburu setiap kali melihatnya berdekatan dengan orang lain.
Tidak. Karena setelah kejadian kemarin. Dia baik-baik saja. Bukankah kalau dia mencintai Seungcheol, Jihoon akan menangis meraung-raung. Atau setidaknya sakit hati hingga berbulan-bulan. Atau paling parah, dia mencoba membalas dendam pada si perebut Seungcheol.
Begitukan?
Seharusnya begitu kan?
Tapi Jihoon merasa dia baik-baik saja.
Dia menangis karena.. dia hanya kecewa.
Kecewa pada sikap Seungcheol yang benar-benar menghancurkannya.
Kecewa pada semua kebohongannya.
Jihoon sedang berada dilangit paling tinggi yang sudah dengan susah payah dia capai, dan Seungcheol menjatuhkannya hanya dengan satu pukulan telak.
Tentu saja Jihoon tidak bisa berbuat apa-apa.
Hanya terdiam dan menyaksikan dirinya sendiri terjun bebas.
'Dan Soonyoung datang menyelamatkan ku..'
Begitu kah?
Lalu.. apa arti hubungannya dengan Seungcheol selama ini?
Jihoon tidak tahu.
Mungkin benar, dia mencintai Seungcheol.
Dulu...
Dan Soonyoung datang merubah semuanya.
Cintanya, hatinya, pikirannya, jiwa nya.
Entahlah..
Kini yang Jihoon tahu, dikepalanya hanya berisi Soonyoung.
Hanya Soonyoung.
Soonyoung.
Kwon Soonyoung.
"TIDAAAKKK!"
Pemuda mungil itu kembali mengacak rambutnya.
BRRRRR
Ponselnya bergetar.
Dengan malas, dia bangun dan mengambil ponselnya yang entah bagaimana caranya bisa ada dibawah kasur.
Pesan dari Soonyoung.
Pagi Jihoonie..
"Kyuuuuuu!"
Eh?
"Apa maksudnya kyuu tadi?!"
Jihoon melempar ponselnya dengan horror.
"Tidaaakk! Tidak! Tidak! Tidaaaakkk! Kau pasti bercanda Tuhaaaannnn!"
"JIHOONIE?! KAU BAIK-BAIK SAJA?!"
Suara Wonwoo.
Dengan niat tidak niat, dia berjalan menuju pintu nya. Membuka sedikit dan langsung disambut wajah panik Wonwoo.
"Jihoonie! Kau tidak apa-apa?! Apa kau sakit?! Astaga.. kau lebih kacau dari Mingyu!"
Jihoon cemberut.
Dengan kesal. Dibantingnya pintu dan berjalan masuk kembali kekamarnya.
Beruntung Wonwoo sudah masuk kedalam.
Dengan mengangkat bahu, pemuda emo itu mengekor Jihoon. Dan matanya, langsung membulat sempurna.
"ASTAGA JIHOONIE! KAMAR MU LUAR BIASA!"
Jihoon semakin cemberut. Dengan membanting tubuhnya, dia kembali telentang dikasur.
Wonwoo, menatap ngeri isi kamar Jihoon dan melangkah dengan perlahan menuju kasur.
"Kau sedang stres atau kau sedang depresi?"
"Apa bedanya?"
"Aku tidak tahu."
"Untuk apa bertanya."
"Hanya tanya."
"Pertanyaan mu tidak penting."
"Yasudah tidak usah dijawab."
"Memang aku tidak menjawab."
"Lalu percakapan ini apa?"
"Entah."
Ganti, Wonwoo yang cemberut.
Kekasih Kim Mingyu itu mengambil satu boneka Jihoon dan memeluknya. Menatap pada ponsel Jihoon disampingnya. Membaca sedikit pada layar yang masih menampilkan pesan dari Soonyoung.
"My King Soonyoungie? Siapa? Selingkuhan mu Jihoon-ah?"
Jihoon mengangkat satu sudut bibirnya tidak terima. Bagus sekali. Dia lupa mengganti nama kontak Soonyoung diponselnya.
Dan bagaimana bisa Wonwoo berucap dengan begitu datarnya?
"Bukan. Dan aku bukan tukang selingkuh."
Wonwoo mengangkat bahunya acuh.
"Mau selingkuh juga tidak apa-apa. Seungcheol bahkan sudah melamar selingkuhannya. Jangan mau kalah Jihoonie."
Jihoon melongo.
"Kau gila ya?"
"Kau yang gila. Diselingkuhi tepat didepan mata mu, malah menangis. Harusnya kau bunuh saja makhluk seperti itu."
Jihoon merebahkan kepala nya dikasur.
"Aku shock. Wajar aku menangis."
"Huh! Kalau saja Mingyu tidak menahan ku kemarin. Aku pastikan. Wajah si Choi brengsek itu sudah menyatu dengan aspal."
Jihoon tertawa. Wajah penuh dendam Wonwoo entah kenapa terlihat begitu lucu dimatanya.
Wonwoo pout.
"Kenapa kau tertawa?!"
Jihoon semakin tergelak.
"Kau lucu.. aku bahkan tidak berpikir kesana."
Wonwoo menyergit bingung.
"Kau.. tidak sakit hati Jihoonie?"
Jihoon terdiam. Ini dia masalahnya.
"Itu dia Wonwoo-ya.. aku tidak tahu. Aku akui aku kecewa, tapi entah kenapa aku merasa biasa saja. Bahkan setelah dipikir-pikir, aku mau menemui Seungcheol dan orang itu untuk mengucapkan selamat."
Kini, Wonwoo yang melongo.
"Kau gila ya?"
"Kau yang gila. Aku serius tahu!"
Wonwoo menggeleng heran.
"Bagaimana bisa begitu? Lalu?"
"Lalu apanya?"
Wonwoo terdiam. Benar. Lalu apanya?
"Tidak tahu."
Jihoon berdecak. Dia mengambil ponselnya dan memutuskan membalas pesan Soonyoung.
Benar. Kenapa tidak tanya kan pada Wonwoo?
"Eum.. Wonwoo-ya.."
Wonwoo mengangkat dagu nya sekilas. Mewakili sebagai apa versi dirinya.
"Jatuh cinta itu... bagaimana?"
Wonwoo menyergit bingung. "Untuk apa bertanya? Kau kan sudah pernah merasakannya."
Jihoon cemberut. "Tapi aku masih bingung!"
Pemuda emo itu memainkan bibirnya. Berpikir.
"Kalau aku didekat Mingyu aku senang dan aku nyaman. Aku juga berdebar setiap bersamanya. Aku senang melihatnya tersenyum dan aku juga senang melihatnya menangis. Dia terlihat lucu."
Jihoon berdecak. Dia juga tahu kalau yang itu.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau kau jatuh cinta padanya?"
"Aku selalu memikirkannya. Selalu takut dia terpikat dengan orang lain saat dia tidak sedang bersama ku. Aku selalu khawatir setiap dia tidak menghubungi ku. Pokoknya yang ada diotak ku hanya dia. Kim Mingyu. Kim Mingyu. Dan hubungan kami."
Jihoon memiringkan kepalanya.
Yang itu dia juga tahu.
"Ah! Satu lagi, kau pasti ingin selalu disentuh olehnya. Entahlah, tapi saat aku menyadari kalau aku mencintai Mingyu, sejak dia menciumku. Mungkin ciuman dapat menularkan cinta. Aku tidak tahu. Tapi sejak saat itu, aku selalu memikirkannya. Cinta itu ajaib. Dalam satu hari, rasa benci mu bisa berubah menjadi cinta. Dari kau ingin dia pergi jauh-jauh dari mu. Hingga dia menjadi orang yang paling kau butuhkan. Waahh.. hebat sekali.."
Jihoon terdiam.
"Eum.. Wonwoo-ya.. kau.. sering melakukan 'itu' dengan Mingyu?"
Blush~
Wajah Wonwoo memerah.
"Ke-kenapa kau menanyakan itu?!"
"A-aku hanya tanya!"
"Itu pribadi! Kau gila ya?"
"Kau yang gila."
Wonwoo benar-benar memerah. Mengingat Mingyu yang masih bergelung dalam selimut. Dan kegiatan keduanya tadi malam.
"A-Apa.. rasanya.. sakit?"
Wonwoo memiringkan kepalanya dengan mata membulat. Darimana Jihoon mendapat hidayah bertanya tentang ini padanya?!
"Kau gila ya?"
"Kau yang gila. Sudahlah~ ayo jawab sajaa~"
Wonwoo memainkan tangan boneka yang dipeluknya.
"Untuk yang pertama tentu saja sakit.."
..
"Tapi setelah terbiasa, akan baik-baik saja."
Wonwoo membulatkan matanya.
"Kau mau melakukan 'itu' dengan siapa?! Si My King Soonyoungie ini?!"
Bruk!
"J-jangan sembarang! Kau gila ya?"
Wonwoo mengusap kepalanya yang terkena lemparan bantal.
"Kau yang gila. Aku kan cuma tanya."
Jihoon menenggelamkan kepalanya kedalam bantal.
Entah kenapa, dia kini benar-benar membutuhkan Soonyoung.
Dia ingin melihat wajah itu.
Menyentuhnya.
Jihoon.. merindukan Soonyoung.
Lagipula, sudah seminggu mereka tidak bertemu.
"Jihoonie.. aku lupa tujuan ku kesini untuk apa.."
Jihoon memutar matanya malas.
"Dasar. Harusnya kau menelpon ku saja."
"Aku malas."
"Dan kau rajin sekali datang kesini. Kau gila ya?"
"Kau yang gila. Sudah, aku pulang sekarang. Mendadak kangen Mingyu."
"Cih.."
Wonwoo tersenyum senang.
"Cie yang sekarang jomblo. Dadaa~h"
Kalau saja Wonwoo belum kabur. Bisa dipastikan, vas bunga diujung sana akan mampir kekepalanya. Jangan salah, Jihoon bisa jadi makhluk paling menyeramkan disamping keimutannya.
Pemuda mungil itu terdiam. Mengambil ponselnya dan manatap kontak Soonyoung disana.
Telpon atau tidak?
Baiklah.
Tuuutt tuuutt tuuu-
"Halo? Jihoonie?"
Tut Tut Tut Tut
Jihoon memejamkan matanya.
Menenggelamkan ponselnya kebawah bantal. Dan mencoba menjernihkan pikirannya.
Mungkin tidur, pilihan terbaik. Lagi pula, suara Soonyoung tadi, sudah cukup.
'Soonyoung-ah..'
.
.
.
.
.
-TBC-
jejejeju boy : maap ya mbak mas atau siapapun anda. Saya bukannya gak bertanggung jawab. Cuma aja, masa iya saya bongkar semuanya. Disni yang punya konflik kan SeungHanHoZi. Bukannya saya sebodo amat, saya sengaja jawab kaya gitu karena setiap pertanyaan tentang SeungHan udah saya siapin dichap selanjutnya. Maaf ya, saya terima kritikan tapi saya gak terima dibilang gak bertanggung jawab. Kalau saya gak bertanggung jawab, udah saya tinggalin ini ff dari awal. Gak mungkin saya bikin sampe end. Sampe saya kurang tidur Cuma buat mikirin ini ff. Maaf kalau saya kesannya kasar. Tapi jujur aja, saya gak suka saya dibilang gak bertanggung jawab. Saya muter otak ya bikin ff ini bikin semuanya buat happy ending. Lebih baik anda evaluasi secara menyeluruh deh. Anda juga belum baca part 7 nya kan? Disana saya udh nyatuin SeungHan dan disini, Jihoon nya juga fine aja sama mereka. Mereka udah dapet kebahagian mereka masing-masing. Tenang aja, saya tahu ff ini jelek gak bermutu, tapi saya berusaha sebisa saya untuk buat ff ini jadi menarik. Sekali lagi maaf dan terima kasih atas kritikannya. /Deep bow/
.
.
Chap 8A done! Semoga suka. Maaf bagian end nya harus gue bagi. Gue lagi unmood dan moga aja, dua hari kedepan gak ngaret. Makasih buat yang udah review. Maaf gak bisa dibalesin. /Deep bow/
Maaf kalau chap ini gak memuaskan. Maaf banget ya.. /deep bow/ maaf juga gak bisa nepatin janji kalau minggu ini ff ini udah selesai /deep bow/. And..
Review please?
