ONE LAST TIME

DISCLAIMER BELONGS TO KAGAMI TAKAYA

STORY IS MINE

WARNINGS: TYPO(S), OOC, ALUR BERANTAKAN, ABAL, GAJE AND OTHERS.

STOOOP!

SAYA PENGANUT DLDR!

(DON'T LIKE DON'T READ~)

.

.

Sekarang Shinya hanya berdua dengan Guren di dalam ruang tahanan Guren. Dia sudah mencoba berkali-kali untuk menyadarkan Guren dari Mahiru, tapi hasilnya NIHIL, tidak ada cara yang berhasil.

"Hei, Guren. Kau masih tidak mengingatku?" Tanya Shinya tanpa melepaskan pandangannya dari mata Guren.

"Hh, yang kutahu kau adalah orang yang sangat kurang kerjaan datang kesini hanya untuk menemaniku, Mayor Jendral…Hiragi..Ah, aku tidak tau lanjutannya." Jawab Guren sambil membalas tatapan Shinya.

"Ahaha~ dulu kau juga sering bilang begitu. Ahh satu lagi.." Sahut Shinya.

"Apa?" Tanya Guren ingin tau kelanjutannya.

"Panggil aku Shinya, Guren." Jawab Shinya sambil menyentuh pipi Guren.

Guren yang diperlakukan begitu oleh Shinya tidak melawan. Dia malah merasa ada getaran aneh dihatinya saat Shinya menyentuh pipinya. Belakangan ini dia juga agak kesepian, tapi hanya Shinya yang selalu datang dan masuk kedalam ruang tahanannya hanya untuk sekedar menemaninya.

"S-shinya.." Panggil Guren.

"Hm?" Sahut Shinya.

"Ah..tidak ada." Balas Guren.

"Hh, dasar. Hei, Guren. Apa tidak ada hal yang bisa membuatmu bebas dari iblis itu?" Tanya Shinya.

"Ha? Apa maksudmu?" Jawab Guren sambil menaikkan sebelah alisnya.

Shiya tidak menjawab. Dia hanya tersenyum lembut kearah Guren, ingin rasanya dirinya mengecup dahi Guren lalu memeluknya seerat mungkin.

"Jadi sekarang, tujuanmu semakin jelas ya Guren? Kau tidak lagi berjalan tanpa tujuan. Eh, tunggu dulu…tujuan?" Batin Shinya mencelos.

"Hei, Guren. Kau ingat sesuatu tentang tujuan?" Tanya Shinya.

Guren hanya menggelengkan kepalanya tanda ia tidak ingat dan tidak tau, tapi ntah kenapa dia seperti mengingat sesuatu, tapi ingatan itu hanya samar-samar.

"Hei, Guren. Mau keluar dari sini dan berkeliling?" Shinya bangkit dari acara duduknya kemudian melemparkan pandangan kearah Guren.

"Jujur saja aku sangat bosan disini." Jawab Guren.

"Makanya aku mau mengajakmu keluar dan berkeliling. Kau mau?" Tanya Shinya lagi.

"Memangnya boleh?" Bukannya menjawab, Guren malah bertanya balik.

"Asalkan kau tidak mengamuk seperti waktu itu, kau juga tidak boleh jauh dariku. Bagaimana?" Shinya tersenyum tipis kemudian mengulurkan tangannya pada Guren.

"Hh, baiklah." Guren menerima uluran tangan Shinya dan bangkit dari acara duduknya.

"Janji tidak akan lepas kendali seperti waktu itu lagi?" Shinya memastikan.

"Hm" Guren mengangguk.

"Kalau begitu, ayo pergi~" Shinya berjalan kearah pintu kemudian membuka kunci pintunya lalu keluar dari sana. Dia cukup senang, setidaknya Guren mau bersamanya.

Diperjalan saat mereka berkeliling banyak orang yang memperhatikan mereka.

"Hei, bukankah itu Letkol Ichinose?"

"Kudengar waktu itu dia ditahan karena dia sempat mengamuk."

"Yang kudengar dia belum lepas dari iblis yang merasukinya."

"Eh? Jadi dia masih dikuasai oleh iblis miliknya?"

"Tapi kelihatannya Letkol Ichinose baik-baik saja."

"Eh?! Yang berpegangan tangan dengan Mayjen Shinya itu Letkol Guren?!"

Yah, begitulah bisik-bisik tetangga—eh maksudnya bisik-bisik orang yang melihat mereka. Shinya tidak peduli dengan bisik-bisik itu. Dia dengan santainya tetap berjalan berdampingan dengan Guren sambil berpegangan tangan dengannya.

"Araa~ konnichiwa, Nii-san, ettoo…Letkol Guren?" Sapa Shinoa saat melihat Shinya melewatinya.

"Konnichiwa, Shinoa-chan." Balas Shinya sambil tersenyum kearah Shinoa.

"Nee, Nii-san. Memangnya…Letkol Guren sudah diperbolehkan untuk keluar?" Kali ini Shinoa menatap Guren, tapi yang ditatap tidak peduli.

"Aku hanya ingin mengajaknya jalan-jalan. Pasti tidak enak kan berada disana terus-terusan." Jawab Shinya.

"Ahaha~ itu benar, kalau begitu kalian bisa melanjutkan kencan kalian, aku permisi dulu, Nii-san!" Shinoa melambaikan tangannya sekilas kemudian pergi dari hadapan Shinya.

"Dasar bocah.." Celetuk Guren.

Shinya tidak menyahuti celetukan Guren. Dia lebih memilih melanjutkan perjalanan mereka.

"Sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Guren yang sepertinya mulai capek karena dari tadi mereka belum sampai ke tujuan.

"Tunggu saja, Guren." Jawab Shinya sambil mengeratkan pegangannya.

Guren tak membalas jawaban Shinya, dia lebih memilih untuk melihat tangannya yang digenggam Shinya.

"Sudah sampai~" Sahut Shinya.

"Kenapa kita kesini?" Guren menatap sekelilingnya.

"Disini cukup nyaman kan? Untungnya sedang tidak ada orang." Celetuk Shinya.

Sekarang mereka ada di lapangan berumput yang cukup luas dan Shinya sudah duduk terlebih dahulu.

"Ck, duduklah, Guren." Shinya menarik Guren agar duduk dan Guren mau tak mau ikut duduk.

Shinya tersenyum tipis saat melihat Guren duduk disebelahnya.

"Ahh, aku jadi ingat saat kita SMA dulu." Ucap Shinya.

"…." Guren diam tak menjawab. Dia lebih memilih untuk menatap lurus ke depan.

"Kau sudah punya tujuan ya, Guren?" Shinya menyenderkan kepalanya di bahu Guren. Sementara Guren yang bahunya dijadikan tempat senderan tak keberatan sama sekali.

Sedetik kemudian Shinya terpikir untuk melakukan sesuatu.

"Hei, Guren." Panggil Shinya.

Guren tak menjawab. Dia hanya melirik Shinya dengan ekor matanya.

"Aku ingin melakukan sesuatu…mungkin ada kaitannya dengan tujuan." Lanjut Shinya.

Shinya menghela nafas perlahan kemudian dia menggenggam tangan Guren.

(Etdahhhh, Shinya mau nyanyi lagi! Kira-kira nyanyi apa ya? Kira-kira Guren bakal sadar karena nyanyian Shinya ga ya? Coba aja Shinya beneran nyanyi. Aaaa! Ga kebayang! Btw, author suka sedih sendiri kalo denger ini lagu)

Feeling like I'm breathing my last breath

Feeling like I'm walking my last steps

Look at all of these tears I've wept

Look at all the promises that I've kept

I put my heart into your hands

Here's my soul to keep

I let you in with all that I can

You're not hard to reach

And you bless me with the best gift

That I've ever known

You give me purpose

Thingking my journey's come to an end

Sending out a farewell to my friends, for inner peace

Ask you to forgive me for my sins, oh would you please?

I'm more than grateful for the time we spent

My spirit's at ease

I put my heart into your hands

Learn the lessons you teach

N -

Yah, lagi-lagi nyanyian Shinya dipotong. Kira-kira siapa yang motong? Yah siapa lagi kalau bukan Guren.

No matter when, wherever I am

You're not hard to reach

And you given me the best gift

That I've ever known

You give me purpose everyday

You give me purpose in every way

Dan lagi-lagi lagu ditutup oleh Guren.

"Eh?" Shinya langsung menatap Guren.

Bisa Shinya lihat air mata sudah membasahi pipi Guren.

"Guren? Kau baik-baik saja?" Tanya Shinya hati-hati.

"Shinya…" Panggil Guren dengan suara yang serak.

"Guren? Kau sudah mengingatku?" Balas Shinya.

Guren mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya ke Shinya.

"Guren tatap aku!" Shinya menaikkan volume suaranya.

Dengan perlahan tapi pasti(eaaa) Guren menatap Shinya. Shinya terkejut tapi jujur saja, dia tidak bisa mengelak dari perasaan senang yang menyusup di relung hatinya.

"Guren..kau kembali!" Shinya benar-benar senang kemudian dia menghapus air mata Guren.

Guren langsung memeluk Shinya. Dia mengeratkan pelukannya pada KEKASIHNYA. Dia tak mau menyakiti Shinya lagi. Dia sunggu menyesal, seharusnya dia melawan Mahiru lebih kuat lagi waktu itu agar dia tidak melukai Shinya dan orang lain.

"Guren…kau baik-baik saja?" Shinya membalas pelukan Guren kemudian mengelus punggung Guren.

"Hei, Shinya…apa aku melukaimu?" Bukannya menjawab, Guren malah balik bertanya.

"…." Shinya tak mau menjawab. Lebih baik dia tidak memberi tahu Guren tentang luka diperutnya.

"Shinya?" Guren melepaskan pelukannya dan menatap Shinya.

"Seperti yang kau lihat, aku tidak terluka sedikitpun, jadi intinya kau tidak melukaiku." Jawab Shinya sambil memberikan senyuman tipis pada Guren.

"Syukurlah.." Balas Guren sambil menghembuskan nafas lega.

Guren mendekatkan wajahnya pada Shinya dan mengecup bibir pria itu. Hanya kecupan ringan yang tidak menuntut.

"Eh?" Shinya agak heran dengan yang barusan dilakukan Guren.

"Kenapa? Kau mau lebih?" Ejek Guren.

"Apa-apan itu?!" Shinya memukul pelan lengan Guren.

Guren yang mendengar itu malah cekikikan. Tiba-tiba saja dia merasa ada seseorang yang mendekati mereka.

"Nii-san.." Panggil seseorang dari belakang Shinya.

Shinya tau kalau yang memanggilnya tadi itu Shinoa. Setelah itu dia langsung berbalik menghadap Shinoa.

"Shinoa? Ada apa?" Tanya Shinya.

"E-etto..kau dipanggil Ay—maksudku Jendral, Hiragi Tenri." Jawab Shinoa dengan ekspresi khawatir.

"Baiklah kalau begitu. Hei, Guren..aku pergi sebentar." Ucap Shinya sambil menatap Guren sekilas.

Guren tak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan, tapi dia mendapat firasat yang tidak enak kali ini. Dia yakin Shinya juga merasakan hal yang sama. Belum lagi eksrpesi Shinoa saat memanggil Shinya tadi. Ekspresi khawatir, cemas, takut dan sebagainya.

"Apa perlu ku—" Omongan Shinoa terpotong.

"Tidak perlu. Aku sendirian saja, tidak apa-apa. Kau temani Guren saja ya, Shinoa?" Lanjut Shinya.

"Ba-baiklah.." Shinoa tak bisa membantah perkataan Kakak angkatnya yang satu ini.

Shinya kemudian pergi ke tempat sang Ayah. Dia yakin kali ini sang Ayah akan marah besar padanya.

"Oi, Shinoa." Panggil Guren.

"Y-ya? Eh? Letkol Guren? Anda sudah..sadar?" Tanya Shinoa.

"Hm." Guren hanya mengangguk.

"Haaahh, yokatta…dengan begini Nii-san tidak akan kepikiran terus." Shinoa tersenyum lega.

"Ah iya, kenapa tiba-tiba Shinya dipanggil oleh Hiragi Tenri?" Kali ini Guren cukup kepo.

"I-itu.." Jawab Shinoa. Sebenarnya dia takut untuk menjawabnya.

"Jujur Shinoa.." Guren menatap Shinoa denngan tatapan serius.

"Sebelum aku kesini, aku sudah lebih dahulu ditanya oleh Ayah. Dia menanyakan hubungan Nii-san dengan Letkol Guren, tapi aku tidak memberitahu yang sebenarnya. Aku sudah diancam berkali-kali tapi aku tidak peduli. Aku tetap tidak akan memberitahukannya pada mereka. Dan karena aku tidak mau memberitahukannya…Ayah jadi menyuruhku untuk memanggil Nii-san dan aku yakin kalau dia pasti akan dimarahi, mungkin saja dia juga akan dipukul." Jelas Shinoa panjang x lebar(sama dengan Luas*dijitak*)

"Kalau begitu kita harus menyusulnya." Guren bangkit dari duduknya dengan perasaan khawatir

"T-tapi.." Sebenarnya Shinoa juga khawatir tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Oh ayolah Shinoa, kita harus kesana sebelum mereka membunuhnya." Guren menatap Shinoa.

Shinoa balas menatap Guren dan kemudian dia mengangguk mantap.

"Kalau begitu ayo!" Guren mulai berlari degan Shinoa di sampingnya. Dia takut kalau mereka akan melakukan hal yang buruk pada Shinya.

"Oi oi! Itu Letkol Guren!"

"Itu Letkol Guren! Eh? Dia bersama…Hiragi Shinoa?"

"Ha? Bukannya tadi Letkol Ichinose bersama Mayjen Shinya?"

"Tadi kalau tidak salah, Mayjen Shinya dipanggil Jendral Hiragi Tenri-sama."

Guren dan Shinoa tidak mementingkan perkataan barusan. Mereka terus berlari. Mereka HARUS menyelamatkan Shinya saat ini.

"Letkol Guren, apa menurut anda Mayjen Shinya baik-baik saja?" Ucap Shinoa.

"Entahlah, aku tidak tau. Yang jelas aku harus memastikannya." Balas Guren.

Dan disinilah mereka, di depan ruangan Jendral Hiragi Tenri. Baru saja Guren akan menyentuh gagang pintu, tiba-tiba saja dia mendengar suara pukulan.

BUGHH

Guren yang mendengarnya jadi ngeri sendiri. Sementara Shinoa, dia memilih untuk mengintip dari lubang kunci pintu tersebut.

BUGHH

Shinoa langsung menjauh dari pintu. Dia benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya barusan. Dia ingin menangis rasanya. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan perlahan dia terduduk di lantai.

"Kuso!" Batin Guren mulai emosi. Dia tau pasti yang dilihat Shinoa barusan sangat buruk dan dia yakin itu ada hubungannya dengan Shinya.

BUGHH

BUGHH

BUGHH

"Habis sudah kesabaranku." Batin Guren.

BRAAKKK

Guren membuka pintu dengan kasar dan dia membulatkan matanya ketika dia melihat pemandangan di hadapannya. .tak sadarkan . . .

"Shinya!" Guren langsung berlari kearah Shinya yang sudah terkapar di lantai.

Sementara Jendral, Hiragi Tenri cukup terkejut dengan kedatangan Guren yang tiba-tiba.

"Oi Shinya! Shinya! Bertahanlah, Shinya!" Guren mengguncang tubuh Shinya.

"Hoo, ternyata kau, Ichinose Guren." Ucap Hiragi Tenri dengan senyum mengejek.

"Apa yang sudah anda lakukan padanya?!" Bentak Guren.

"Hanya memberinya pelajaran karena sudah berhubungan dengan sampah seperti kau." Jawab Hiragi Tenri.

"Oi! Shinya! Kau bisa mendengarku?! Shinya!" Guren kembali mengguncang tubuh Shinya.

"G-guren?" Perlahan tapi pasti Shinya membuka matanya dan memanggil Guren.

"Shinya?!" Guren tersentak ketika namanya disebut.

"Ba-baka.. kenapa kau kesini?" Disaat seperti ini Shinya masih bisa memasang senyumnya.

"Bodoh! Sudah pasti karena aku khawatir!" Guren langsung memeluk Shinya. Dia takut akan kehilangan Shinya.

"Maaf, sudah membuatmu khawatir." Balas Shinya.

"N-ni-nii-san?" Panggil Shinoa yang sudah berdiri di depan pintu.

Seketika semua mata mengarah pada Shinoa. Saat ini air mata sudah menggenang di pelupuk mata Shinoa. Shinoa menangis. Dia ingin menghampiri sang kakak tapi dia tau bahwa sang ayah pasti tak akan mengizinkannya, jadi dia lebih memilih untuk diam di tempatnya.

"…." Shinya tak menjawab. Dia hanya melempar senyuman pada Shinoa.

"Jadi, kuulangi sekali. Sebenarnya apa hubunganmu dengan Ichinose Guren, Hiragi Shinya?" Tanya sang Jendral.

"Hu-hubunganku dengan Ichinose Guren…" Shinya menatap Guren. Seperti mengatakan 'Aku akan memberitahukannya'. Sementara yang ditatap membalas tatapannya, seperti mengatakan 'Kau yakin?'.

Shinya tersenyum tipis dan masih menatap Guren.

"Lebih dari sekedar teman dan sahabat." Ucap Shinya.

"Shinya, kau benar-benar gila!" Batin Guren.

"Dengan kata lain…dia kekasihku." Sambung Guren.

"Eh?" Batin Shinya mencelos.

"Sudah Kuduga." Sang Jendral mengambil ancang-ancang untuk memukul Guren dari belakang.

"Guren.." Shinya mencoba memperingati Guren.

Dan saat pukulan sang jenral sudah melayang kearah Guren. Dengan mudahnya dia menahan pukulan tersebut tanpa berbalik melihat sang Jendral. Jujur saja, saat ini Guren sedang dikuasai amarahnya. Dan entah iblis darimana Guren bisa memutar lengan sang Jendral, sehingga sang Jendral kesakitan dan itu adalah waktu yang pas untuk Guren.

"Letkol! Ayo cepat!" Teriak Shinoa.

Guren langsung menggendong Shinya ala bridal(Azeekkk, gimana ya kira-kira?) dan berlari keluar dari ruangan sang Jendral bersama Shinoa.

"Kita harus membawa Nii-san ke rumah sakit!" Shinoa benar-benar takut sekarang setelah melihat keadaan Shinya.

Guren hanya mengangguk dan dia menambah kecepatan larinya menuju rumah sakit.

.

.

.

.

Apakah yang akan terjadi dengan pada Shinya? Apa dia akan selamat? Atau sebaliknya?

.

.

TO BE CONTINUED

Author's Note : ALOOOHAAAA! *dadah dadah gaje* Gimana kabarnya? Semoga selalu baik! Yee! Amika udah update kilat kan? Ah iya, Amika ga bisa buat scene fight anatara Guren dan Shinya. Kokoro ku ga kuat ngeliat mereka harus berantem! Ahhh iya! ngomong-ngomong Author lagi buat fict baru, pair-nya masih GurenShin kok. nanti kalo udah slesai aku kasih tau deh~ Oke kita sudahi dulu acara alay-alayan author. Jadi? Gimana? Jelek? Gaje? Abal? Aneh? Ahhh, pendapat kalian ditunggu di review yaaa~

Mind to review~?