Life is simple. You make a choice, and you don't look back.
(*Han-Tokyo Drift)
.
Sasuke melangkah menuju peternakan milik keluarga Uchiha. Merenungi semua yang terjadi. Semua informasi dari Shikamaru berkeliaran di otaknya.
'bagaimana jika kau bukan saudara kandung Itachi?'
Nyaris saja Sasuke ingin menyangkal semua omong kosong Shikamaru jika saja ia memiliki cukup kepercayaan diri.
Semua yang terjadi justru membuat kepalanya pening. Sekelebat ingatan mengantarnya pada masa lalu
.
Sasuke menatap takjup ayahnya. Yang menyeret hakama tebal berwarna hitam dengan kamon kipas berlainan warna. Disulam dengan baik dengan benang perak membetuk simbol klan.
Seseorang mengetuk pintu, ada pemuda yang begitu menawan dan dewasa, yaitu Madara muda yang tampak gagah dengan hakama yang serupa dengan ayahnya berdiri di ambang pintu. Pemuda itu memandangnya penuh kasih sayang, lalu masuk perlahan ke dalam ruangan, setelah membungkuk hormat pada ayahnya, ia lalu mengulurkan tangan, mencoba meraih Sasuke kecil yang menatapnya dengan pandangan berbinar-binar.
Sasuke didekap erat oleh Madara yang kala itu memasuki umur keemasannya. Sedangkan sang adik baru balita.
"Dia adikmu."
Madara tersenyum, ia tahu betul kemana arah pembicaraan ayahnya. "Saya mengerti."
"Bukan dari Haruna. Tapi dari ibumu, Haruka."
Senyum Madara menghilang.
.
.
Angel/Bitch
By: PORORO90
Disclaimers: Allways belong to Masashi Kishimoto
Warning: AU, OOC, Typo, Gaje, dan segala hal yang mungkin anda tidak sukai.
Don t like don t read.
Rate: T semi M (for another scene)
.
Chapter 8: A serenade for Requiem
.
Information of ages:
Uchiha Madara 40 thn
U. Itachi/H. Kakashi/Konan 29 thn
Sasuke/Sai/Neji 25 thn
Hinata Hyuuga 21 thn
Uchiha Eiji 3 thn
.
.
A present by poo-
Enjoy...
.
.
Madara melihat jam tangannya kembali. Menghela napasnya yang berat. Ia melempar pandangan ke arah pepohonan. Ada yang mengusik hatinya. Ada sesuatu yang salah. Dan ia tahu itu dari intuisinya.
Ia yakin bahwa ia terlahir dengan keberanian. Tak ada rasa takut. Bahkan pada kematian. Tapi kenapa? Semakin ia bertindak sesuai dengan rencana awalnya semakin ia merasa kosong. Merasa takut.
Ia takut terhadap waktu. Ia sadar, bahwa alasannya untuk hidup adalah melindungi generasi selanjutnya dari tangan dingin ibunya. Masa depan Eiji bahkan masa depan Klan Hyuuga kini juga menjadi tanggungannya.
Pria itu yakin, sebentar lagi ia akan terbebas dari belenggu kekuasaan jika ia berhasil membuat Sasuke mau memihaknya. Jujur saja ia lelah menjalani hidup dengan kepura-puraan.
Ia lelah bersikap buruk pada Hinata demi keselamatan wanita itu. Ia lelah harus berjauhan dengan Eiji.
Tapi waktu adalah seorang yang kejam. Dia takkan menunggu kita siap. Ia tak segan meningglkan kita di belakang tanpa sempat bisa mengulangnya kembali.
"Yang Mulia."
Madara berbalik, menatap kehadiran Kakashi di depan pintu kamarnya yang telah terbuka. Kapan Kakashi masuk, ia tak ingat dan tak butuh mengingatnya.
"Mobilnya sudah siap."
Madara mengangguk. Sudah tidak ada waktu. Pikirnya. "Eiji?"
Kakashi terlihat tersenyum di dalam maskernya, matanya melengkung. "Sudah menunggu Yang Mulia di luar. Akan tetapi Nona Hinata masih menolak untuk satu mobil dengan Anda."
"Biarkan ia bersama Sasuke."
"Baik, Yang Mulia."
.
Madara mendesah. Jika ia bisa membeli waktu. Waktu. Adalah musuh terbesarnya sekarang.
Langkahnya yang mantap menapaki seluruh lorong. Menyimpan setiap memori dan luka di ruangan ini. Ruangan di mana kenangan kebahagiaan dan kesedihannya di masa lalu.
Ia pernah merasakan kenangan kebahagiaan justru dengan ibu tiri dan juga ayahnya. Serta dengan dua saudara tiri yang ia sayangi.
Hal yang tak pernah didapat dari ibu kandung yang lebih memilih jalan yang sersebrangan untuknya. Jalan yang membuat ia terpaksa memasang kamuflase.
Tersenyum perih melihat anaknya yang cemberut di dalam mobil sedan mewah yang akan membawanya ke bandara. Madara hanya berharap, kali ini ia akan memiliki kesempatan lagi.
.
.
Handphone di saku overcoatnya bergetar. Nama Sai berkedip-kedip di layarnya. Setelah menggeser tombol ia mendekatkan benda pipih itu ke telinga.
.
"Madara." Jawab Madara cepat.
"..."
"Ya."
"..."
"Aku sudah tahu."
"..."
"Siapkan semuanya. Aku percaya paamu, Sai." Kata Madara sebelum akhirnya mengakhiri panggilan.
.
Setelah mengantongi ponselnya ke dalam kantong overcoatnya, Madara mendesah. Memandang ke arah langit mendung. Ia sudah bertekad, hidup lebih lama lagi untuk masa depan semua orang, untuk masa depannya.
.
.
"Daddy!"
Madara melukiskan senyum hangatnya, memandang Eiji yang melambaikan tangan. Anaknya tampak ceria, berbanding terbalik dengan keadaannya tadi. Dalam hati Madara mengumpat, berandai-andai jikalau ia harus kehilangan semuanya.
.
Ia tak bisa. Membiarkan kedua orang itu pergi. Ia tak bisa melihat Hinata menghilang. Begitu pun Eiji. Ia masihlah manusia. Lelaki lemah yang berpura-pura untuk menjadi penguasa.
.
.
Kakashi membungkukkan badan ketika majikannya akan memasuki sedan mewah itu.
.
"Bereskan Kakashi. Aku tidak mau Danzo tetap berada dalam dewan."
"Bereskan?"
"Lenyapkan tangan kanan ibuku."
.
"Tapi Yang Mulia itu berarti anda memulai perang ini."
"Aku tak peduli." Madara mendesis. "Ibuku menginginkan kematian Eiji? Apa dia sudah gila? Kau pikir aku tak tahu apa yang direncanakan dewan?"
.
Kakashi diam.
.
"Aku tidak akan mempertaruhkan masa depan seluruh klan di tangan lelaki yang berselingkuh dengan ibuku. Aku mau Danzo mati!"
.
Kakashi masih bergeming tapi kemudian ia mengguk pelan.
"Aku mempercayaimu. Jangan buat aku menyesal."
.
Kakashi membungkuk, "Baik Yang Mulia."
.
.
Setelah mendapat jawaban Kakashi, Madara segera memasuki mobil itu dan duduk di sebelah putra mahkota.
.
Tak seberapa lama kemudian mobil sudah pergi. Meninggalkan Kakashi dengan tugas besar membereskan para parasit dalam klannya.
.
.
.
Sasuke menatap punggung Hinata yang masih tegak berdiri di depannya. Hinata selalu memunggunginya. Ada sesuatu yang berdesir setiap kali memandang Hinata yang seperti itu.
.
Punggung kecil itu tampak merayunya untuk mendekapnya, melindungi kerapuhannya. Seperti jalang berengsek yang menjelma menjadi malaikat yang terluka.
.
Hinata kini menatap langit di kejauhan melalui jendela kaca besar sambil memegangi pinggiran kelambu.
.
Ada sesak, ada benci tapi ada satu rasa yang begitu aneh yang ia rasakan ketika melihat punggung ringkih itu. Perasaan ingin melindungi.
.
Seperti Itachi yang melindungi Hinata, dan seperti Madara yang diam-diam juga melakukan hal yang sama.
.
Ini adalah takdir menggelikan. Dan ia tahu bahwa Hinata seperti malaikat yang terjatuh dari khayangan, sayap malaikat itu patah sehingga orang-orang selalu dirasuki kekuatan magis untuk melindunginya dari mara bahaya. Pun demikian dengan Sasuke sendiri.
.
Tapi Hinata juga seorang jalang yang wajib diwaspadai. Bagaimana dengan kelemahannya yang begitu besar ia justru berbalik menyerang dengan cara yang paling sadis, mengemis cintanya sampai mati.
.
Ia tak ingin seperti itu. Ia tak ingin berakhir seperti Madara ataupun Itachi.
"Kalau kau masih di sini, mereka akan meninggalkanmu." Sasuke berbicara tanpa memandang wanita itu. Lelaki itu menyender kusen pintu.
Hinata berbalik untuk menatap mata sehitam jelaga itu dengan berani. Memberikan wajah datar dan tak terintimidasi.
"Kau tak berhak ikut campur." Sinis Hinata.
.
Sasuke menghembuskan napasnya. Merasa muak atas segala penolakan Hinata yang terkesan tak masuk akal. Jadi dengan langkah lebarnya ia dengan kasar menarik pundak Hinata hingga tubuh mereka bertemu. Tangan Sasuke telah merambat ke leher cantik milik sang calon permaisuri. Matanya yang gelap menatap Hinata penuh dengan kebencian.
.
"Kau. Adalah keindahan yang menakutkan. Sebuah bom yang dikelilingi pita merah."
.
Tubuh Hinata bergetar, ada tawa sumbang yang meledak di udara. Sebuah tawa ironi yang memasuki gendang telinga Sasuke Uchiha.
.
Tangan Sasuke masih mencekik pelan leher sang calon ratu, tapi tak ada kilasan rasa takut di dalam mata orang yang telah melahirkan Eiji Uchiha.
.
"Ketika kau berhasil mematahkan leherku, maka kau telah menjemput ajalmu sendiri, sialan." Suara rendah Hinata membuat Sasuke semakin merapatkan tangannya.
Berusaha memutus segala asupan udara yang menyuplai jantung si Hyuuga keparat. Sayangnya Sasuke hanya melihat wanita jalang itu tersenyum jumawa. Tidak! Sasuke takkan memberikan Hinata kematian semudah itu.
Tidak setelah apa yang dilakukan perempuan itu membuat kekaisaran goyah.
.
Tangan Sasuke menyentakkan Hinata. Melepaskan cekikan kuat itu dan membuat Hinata terhuyung dan meraih pinggiran buffet. Bertopang di sana, Hinata terbatuk-batuk. Namun wajahnya begitu senang akibat bermain-main dengan Sasuke.
.
"Bersiaplah. Kutunggu kau setengah jam lagi. Kalau kau enggan. Aku bersumpah akan menjambak rambutmu dan menyeretnya sampai Jepang."
.
Dan Hinata terkekeh-kekeh yang membuat Sasuke begitu ingin meninju dinding. Pria itu langsung berjalan dengan tak sabar ke pintu dan langsung menutupnya dengan kasar. Dan membiarkan tawa Hinata memenangkan pagi ini.
.
.
Kakashi tersenyum di balik maskernya, dengan tenang ia menuju ke ruangan utama, tempat The Highness Lady Haruka Uchiha duduk di kursi utama.
.
.
Kakashi membungkuk sebentar, lalu berdiri sempurna dengan menundukkan kepala. "Selamat pagi Yang Mulia Ibu Suri Haruka."
.
"Apa dia sudah pergi?" Haruka bertanya dingin tak merespon ucapan salam anak buahnya. Wanita tertinggi dalam kasta itu menolak berbasa-basi. Dan memilih mengabaikan semua protokoler serta tak mengindahkan semua salam yang mampir dalam gendang telinganya.
.
Kakashi menarik napas, lalu menganggkat kepalanya, tersenyum di balik maskernya. "Yang Mulia sudah pergi."
.
.
Wanita itu bergumam tidak jelas, mengkode pelayan di ujung ruangan yang membawakan wanita itu anggur supaya mendekat.
.
Si pelayan menyerahkan gelas kristal bertungkai panjang itu ke hadapan sang Ibu Suri lalu mundur ke belakang dengan hormat.
.
Sementara itu Kakashi menebak-nebak apa yang akan diperintahkan oleh bos aslinya ini.
.
"Dia memerintahkan apa?" Haruka bertanya sebelum menyesap red winenya dengan keanggunan khas bangsawan.
.
.
Kakashi mengatur napas, dengan tenang dia berbicara. "Membersihkan kabinet."
.
Ada geraman tertahan, mata Haruka menyipit, "Semua?"
.
Kakashi membungkuk penuh permohonan maaf, "Khususnya Tuan Danzo." Jawabnya dengan intonasi yang menggambarkan penyesalan.
.
"Tch!" Haruka berdecih, "Dia sudah mulai menggigit tanganku rupanya. Lagipula dia sudah tak lagi berguna. Dan akan segera mati perlahan. Aku tak perlu menunggu lama lagi." Wanita itu terkekeh, lalu menyesap lagi rasa anggur yang begitu memabukkan dan memanjakan lidahnya.
.
Kakashi berdehem, "Mohon maaf yang Mulia Ibu Suri. Dokter utama telah menemukan ginjal yang cocok bagi Yang Mulia Madara." Informasi penting itu akhirnya disampaikan Kakashi dengan satu tarikan napas.
.
Pelatuknya telah dilepaskan. Tak lama lagi, Haruka akan mengamuk. Dan benar saja. Wanita berumur enam puluh lima tahun itu begitu emosi hanya mendengar anaknya sendiri bisa lolos dari malaikat maut.
.
Haruka meremas gelas di tangannya dengan amarah yang berkecamuk. Lalu melemparnya di depan mata-mata yang menjadi kepercayaan anaknya sendiri.
"Bangsat Madara! Bocah keparat itu tidak mau menyerah rupanya!" Rutuknya murka.
.
Kakashi menundukkan kepalanya, merasa menyesal membawakan kabar buruk itu kehaapan sang junjungan. "Operasi akan dilakukan setelah Yang Mulia tiba di Jepang."
.
Haruka menggertakkan gigi. Begitu marah karena mendengar si rayap itu menggerogoti kekuasaannya. "Bunuh dia. Aku tidak ingin dia lebih lama hidup." Ada nada dingin keluar dari mulut Haruka.
"Tapi-"
"Bunuh! Aku tidak ingin dia merusak usahku. Dia sudah tidak berguna lagi. Singa yang tidak menuruti tuannya hanya akan merepotkan." Haruka memberikan perontahnya dengan nada tegas serta sarat akan kemarahan. Tak ada keraguan dalam kalimat itu. Dan Kalashi tahu, wanita tua itu begitu ambisius bahkan rela mengorbankan apapun untuk tujuannya.
.
Kakashi menarik napas, "Baik Yang Mulia Ibu Suri." Dia menundukkan sedikit badannya, sebagai tanda penghormatan.
Kakashi membungkuk dan mundur ke belakang. Namun belum sampai ia berbalik punggung Haruka Uchiha memanggilnya,
.
"Bunuh Sasuke sekalian. Sisakan Eiji." Suara Haruka masih dingin. Bahkan terkesan kejam dan tak manusiawi.
.
Kakashi masih diam. Tapi ia tahu, jikalau sang bos besar itu percaya bahwa ia telah setuju.
.
"Adalah kenaifan menganggap darah daging kita adalah sebuah reinkarnasi masa depan. Meski aku membesarkannya sendiri, jika pohon itu tak berbuah semanis yang kuinginkan maka cara terbaiknya adalah menebangnya. Menumpasnya! Sampai tak bersisa."
Kakashi membiarkan wanita yang tak pernah tua itu berceloteh,
.
"Mencabut hingga akar, lalu menyemai bibit baru. Aku akan membuat Eiji menjadi kekuatanku yang baru. Toh Hinata juga tidak menyukai Madara. Akan lebih meudah untuk menyetir mereka nantinya." Gumaman Haruka mengantarkan sebuah perintah mutlak pada Kakashi.
.
.
.
.
"Menurutmu jika dia menghilang apa kau bahagia?"
.
Suara serak Sasuke membuat Hinata membeku sedetik. Masih menatap matahari dari jendela di sebelahnya, Hinata menarik napas. Hinata tak mempunyai jawaban itu. Pun setelah beberapa tahun ini pertanyaan itu terlintas.
.
Diamnya Hinata mengusik Sasuke. "Kau kan selalu ingin dia mati. Jadi setelah dia mati. Kau mau apa?"
.
Hinata menarik napas tergesa. Rasanya seperti sebuah cekikan di lehernya.
Mau apa?
.
Pertanyaan itu tak pernah membuat Hinata menemukan jawabannya. Bahkan setelah bertahun-tahun.
.
Hinata sendiri tahu bahwa ia tak pernah bisa memahami perasaannya sendiri. Kenapa ia harus membenci dan mencintai pria bernama Madara.
.
Kenapa ia harus bertemu Itachi. Dan membuat ayahnya memaksanya menyerah pada takdir kejam bersama Madara.
.
"Kau harus bersiap jika dia pergi." Lanjut Sasuke.
.
.
Hinata diam-diam mencengkeram erat long overcoatnya. Tak pernah dalam pikirannya orang nomor satu dalam daftar musuhnya itu tiba-tiba menghilang atau mati. Tidak juga meninggalkannya terpuruk.
.
Sasuke menarik napas berat. Ada rasa sakit dalam hembusannya, "Dia kakakku." Desahnya sedih.
.
Hinata terdiam. Dan Sasuke melanjutkan.
.
"Menurutmu apa yang sanggup kulakukan demi melindungi keluargaku?" Racaunya lagi.
.
Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir tipis Sasuke seperti sebuah uap yang menempel di dinding kaca. Menempel sebentar tapi kemudian menghilang
.
Hinata menoleh dan mendapati Sasuke yang menerawang jauh melalui kaca jendela yang bersebrangan dengan milik Hinata.
"Madara-nii." Dan Sasuke tertawa pahit, jenis sarkasme singkat seperti mengangkat bibir dengan dengusan penuh rasa sakit, "Itachi-nii."
.
Dan Hinata bisa merasakan dadanya dicabik.
.
Bukan karena ia mencintai Itachi tapi karena rasa menyesalnya, rasa bersalahnya pada pemuda itu.
.
.
"Kau lah yang membunuh mereka." Mata Sasuke menyipit. Ada geraman tertahan. Dan Hinata bisa melihat tangan Sasuke yang terkepal kuat di kaca jendela itu.
.
"Saat umurmu 21th. Madara tak bisa melindungimu. Takkan pernah bisa. Karena kaulah yang menolak membuka matamu dan melihat kebenaran. Hatimu ternoda. Kau takkan bisa menjadi malaikat lagi. Kau.. hanyalah jalang beruntung yang memiliki anak kakakku. Dan orang yang dicintai oleh kakakku"
.
Hinata tersenyum perih. Dua orang pria nomor satu dan dua, mati karena dirinya. Dan Hinata tahu akan kebenaran itu.
.
"Kalau aku tak mengindahkan Madara, kau sudah kucekik sampai mati sekarang." Sasuke memalingkan muka. Menatap lurus manik mata ametys Hinata yang mengoloknya.
"Wahai jalang beruntung. Kau dilindungi dua orang lelaki yang kukasihi." Ada nada satir dalam perkataan Sasuke.
.
Tapi Hinata yang sekarang berbeda dengan yang dulu yang naif, kini ia adalah ibu dari putra mahkota. Dan Sasuke tak berhak mendiktenya.
.
.
Hinata menampilkan senyum yang mengejek ego Sasuke. Senyum culas yang didapatnya dengan mengamati ibu mertuanya si ibu suri keparat.
.
"Kau takkan bisa membunuhku, Sasuke. Bukan kau yang akan membunuhku..." ujar Hinata dengan tawa kecil yang begitu menjengkelkan.
.
.
Sasuke mendecih, bersiaga jika ia bersiap untuk mematahkan leher cantik Hinata.
"Madara akan membunuhku. Kami akan saling bunuh. Itu akan menjadi ending kisah ini..."
.
.
Ganti Sasuke yang terkekeh, "Kau takkan sanggup membunuh suami yang kau cintai."
.
"Dia bukan suamiku!"
.
Sasuke mendengus di sela tawa kecilnya, "Tapi hatimu bersorak ketika kau disebut istri sang kaisar. Toh tak ada bedanya kau menikah atau tidak dengannya. Madara masihlah ayah dari Eiji. Dan kau menang atas kenyataan itu."
.
.
Bibibib.
Bibibibiiiibbb...
.
Sasuke menyambar hape yang dikantonginya.
Lalu medekatkan benda pipih itu ke telinganya yang tak bertindik.
.
"Sasuke." Sahutnya dingin untuk siapapun yang berada di ujung line tepon yang digunakannya.
"..."
.
Hinata melihat mata Sasuke yang melebar. Lelaki itu menarik napas cepat. Tangannya mengepal.
Hinata merasa jantungnya berdetak liar.
Ada apa?
Batin Hinata berkecamuk.
.
Sasuke mengantongi benda persegi itu ke balik jasnya. Lalu menyuruh sopir menepi.
.
"Dengarkan aku, jalang. Kau harus kembali ke Jepang sendirian."
.
Hinata hendak membuka mulut saat Sasuke dengan tak sabaran memotongnya? "Madara hilang radar. Kau mengerti?! Kau harus menyelamatkan dirimu. Aku akan mengecek tua bangka itu."
.
Hinata merasakan perutnya ditonjok, dia menatap Sasuke ngeri dan mendapati ia marasa dunianya gelap.
.
.
.
Kakashi menekan kombinasi angka yang dihapalnya di luar kepala. Mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
.
Nada sambung di ujung sana membuatnya kesal namun begitu senyumnya mengembang di balik maskernya ketika panggilannya tersambun, "Kakuzu-san..." panggilnya dengan nada sok akrab, "Sudah waktunya bagimu bertindak."
.
.
Lelaki di ujung line telepon tertawa bahagia. Tawanya yang ringan membuat nadanya tampak riang, "Kau ingin aku meretas satelit mana?"
.
Kakashi ikut terkekeh, "Kau bisa menyusup ke Cronous kan?"
.
Ada hening di ujung sana, "Cronous, hm? Milik si rusa itu?"
.
"Ya benar." Kakashi membenarkan, "Kau harus membuatnya sibuk dan melupakan standar keamanan kerajaan."
.
Ada tawa nyaring di ujung sana. "Pekerjaan mudah." Jawab lelaki itu enteng.
.
"Baiklah. Kau bisa melakukannya sekarang Kakuzu san. Kalau begitu, ganbatte kudasai." Ujar Kakashi sambil mematikan telepon kemudian.
.
Kakashi tersenyum lalu mengetikkan perintah kepada Hidan yang menunggu kesempatan untuk membunuh orang nomor satu dalam kekaisaran Uchiha.
.
.
Madara menepuk-nepuk punggung anaknya pelan. Mengirimkan kenyamanan yang selalu menjadi milik Eiji yang kini tertidur di pahanya.
.
Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu ganjalan yang nyata. Namun ia masih berusaha tenang. Tidak ingin panik berlebihan.
.
Tapi semua ketenangan ini justru mengirimkan simpul kematian dalam otaknya. Terutama saat mobil yang disopiri oleh sopir utama kerajaan tiba-tiba saja berbelok arah dan menghindati jalan utama ke bandara.
.
Madara tidak pernah takut. Namun kecemasan membuatnya begitu mawas diri. Terutama jika Eiji yang jadi taruhannya.
.
Mobil mereka terus melaju, dan Madara berusaha meraih hapenya di saku jasnya.
Madara berdecih saat tak ada tanda-tanda sinyal mampir dalam ponsel pintarnya. Bahkan ketika ia mengaktifkan mode Cronous.
.
Sial.
.
Madara tak berani membayangkan jika ibunya akan bertindak secepat ini. Dan juga seceroboh ini.
.
Demi Kamisama!
Bahkan Eiji masih dalam dekapannya sekarang! Di mana otak ibunya jika tahu bahwa pangeran mahkota juga ikut dalam mobilnya.
.
Hatinya tercubit begitu keras.
.
Mungkinkah?
Mungkinkah anak buahnya berkhianat? Bahkan setelah mereka telah disumpah setia?
.
Pertanyaaan itu terasa menyesakkan sekarang. Terutama saat tiba-tiba suara letusan terdengar dari atas bukit dan tiba-tiba saja mobil tak terkendali.
Madara meraih Eiji dalam pelukannya, saat ia menyadari Tangan Izumo tak berada di roda kemudi. Dan cairan merah merembes turun ke lantai mobil.
.
Tak seberapa lama kemudian, grafitasi merenggut mobil itu. Tabrakan tak terhindarkan.
Suara memekakkan telinga terdengar.
.
BRUAKKK!
CRASSSSSS!
SREEEEEKKKKKK-
.
Mobil menabrak pohon dengan kecang, mengakibatkan mobil terguling beberapa kali sebelum terbalik dan terseret kembali ke tengah jalan.
Madara melindungi anaknya. Meski kepalanya berdentam menyakitkan.
.
.
Mobil Sasuke melaju kesetanan. Ia tahu jika ia telah kehabisan waktu. Tak ada waktu untuk berpikir jernih saat ia menangkap pergerakan mobil Madara yang ternyata keluar dari jalan utama.
.
Sialan.! Bangsat! Keparat,!
.
Pria tua itu pasti dalam bahaya!
.
Si burung elang muda itu makin tancap gas. Ia tak ingin kehilangan jejak sang Paduka.
.
Namun perasaannya bagai tersayat sempurna saat tiba-tiba ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jikalau mobil sang Kaisar oleng ke kanan, lalu menubruk pohon dengan buas.
.
Mobil bahkan tidak berhenti karena justru menghantam lagi bahu jalan sebelum terguling-guling dan terseret lagi dan kembali ke jalanan.
Mobil itu berhenti setelah remuk. Dan mengeluarkan asap putih yang membuat jantung Sasuke teremas hebat.
.
Lelaki itu meningkatkan kecepatan dan segera berhenti beberapa meter di samping mobil kekaisaran.
.
.
Sasuke tiba di tempat mobil Madara yang terguling, pria itu tak menyadari bahaya yang mengintainya. Ia segera melompat keluar dari mobil yang ditumpanginya dan berlari ke arah mobil ringsek yang terbalik.
.
Ia meremas rambutnya kasar, lalu merogoh hapenya dan mengirimkan sinyal bantuan. Sebelum sempat ia menunduk. Ia merasakan sengatan menyakitkan di dadanya. Ada rasa terbakar, yang tak bisa ditahannya.
Kemeja putihnya basah oleh warna merah yang merembes deras melalui luka sengatan itu.
.
.
Sasuke mengernyit menyadari bahwa ia tertembak. Tepat di dada kirinya.
.
Mengoyak jantungnya.
.
Dan perlahan menumbangkan tubuh tegapnya ke tanah.
.
.
Rasa kebas menyelimutinya, ia beberapa kali mengalami kejang, tapi ia masih berusaha membuka matanya. Di seberangnya ada Madara yang memeluk Eiji dengan posisi terbalik. Dan ia tak dapat menekan rasa sedih di dalam hatinya.
.
Ia tak ingin melihat kakaknya mati. Tidak setelah ia tahu kebenaran yang terasa menyayat hati.
.
Tangannya berusaha terulur. Sayangnya rasa sakit menerbangkan kesadarannya.
Angin berdesau lirih, menyenandungkan lara dua pangeran yang tumbang.
.
.
.
Shikamaru mengumpat-ngumpat. Dia ingin menabrakkan dirinya ke Shinkanzen sekarang. Seharusnya ia sadar jika ini hanya sebagai pengalih perhatiannya.
.
Terlambat, kini dia kehilangan sang Kaisar. Bagaimana mungkin ia justru mengabaikan sang junjungan dan lebih mementingkan satelitnya? Toh dengan kemampuannya ia bisa take over kembali. Sekarang bahkan satu tanda pun tak ada yang menyala. Sinyal mobil dan juga sinyal ponsel dari sang Kaisar.
.
Ia mengerang beberapa kali, dan membenturkan kepalanya ke keyboard dihadapannya.
.
Tapi kegiatan konyol itu terhenti saat kode merah menyala. Kode dari Sasuke Uchiha.
.
Dadanya serasa ditonjok dengan upper cut mematikan. Ia segera menyambar keyboard dan menginstruksikan ambulan beserta beberapa para pengawal kerajaan.
.
.
Ada yang tidak beres.
.
Dan ia merasa begitu takut akan prediksi dari sang Kaisar sendiri.
.
Kaisar telah meramalkan tentang situasi ini. Namun begitu Shikamaru tak pernah menyangka akan datangnya yang begitu cepat.
.
Jadi ia memberikan informasi kepada Sai untuk turut serta membantu evakuasi Madara dan Eiji, serta Sasuke kemungkinan besar telah terlibat dalam insiden ini.
.
.
.
.
Ketika Madata sadar, duanianya terasa terbalik. Kepalanya terbentur keras saat momen itu terjadi. Yang ia lakukan hanya mendekap Eiji erat-erat. Mendekap masa depan yang ia perjuangkan.
.
Madara bernapas lemah, wajahnya berusaha datar namun ada senyum yang begitu tulus tergambar di matanya. Ia berhasil menyelamatkan Eiji. Meski begitu ia tak dapat menggerakkan separuh tubuhnya.
.
Kepalanya terasa menyakitkan. Seperti baru saja dipukul sekuat tenaga. Ada yang meleleh, lengket, basah.
.
Bau anyir membuatnya yakin jika kepalanya terluka parah.
.
Ia pusing bukan main, pandangannya pun buram. Telinganya berdenging menyakitkan.
.
Madara masih mendekap Eiji yang terlihat ketakutan. Dengan sekuat tenanga membisikkan;
"Semua baik-baik saja."
.
Suaranya sendiri bergetar, serak, dan seperti tercekik. Madara merasa ada rasa dingin yang sangat, yang kini merembet dari kaki hingga punggungnya.
.
Dan dadanya terasa begitu nyeri tak tertahankan. Napasnya tersengal. Ia mengejang sebentar, sebelum merasakan tubuhnya kebas, dam kesulitan bernapas.
.
Seperti ditenggelamkan dalam air, namun airnya bukan air dingin. Melainkan air mendidih. Ia merasa perutnya terbakar, dan ia merasakan lambungnya bergejolak, ia ingin muntah.
.
Akan tetapi ia menahannya, namun begitu darah itu merembes dengan sendirinya melalui perut celah mulutnya.
.
Dalam kesakitan itu ia menahan matanya tetap terbuka dan pikirannya tetap terjaga.
.
Dan harapan yang terus tumbuh akan seseorang yang menyelamatkannya. Seorang lelaki yang akan melindunginya tanpa berpikir.
Lelaki itu Sai.
...
..
.
Uchiha Sai sungguh terkejut ketika menatap tubuh tuannya yang berlumuran darah.
.
Matanya memanas air mata meleleh turun di kulitnya yang pucat. Matanya menyiratkan rasa sakit. Tapi tak satupun isakan yang keluar dari bibirnya. Dia menggigit lidahnya supaya tidak memperlihatkan kelemahan hati di hadapan sang Kaisar.
.
Sebagai gantinya ia bermuka datar, menunjukkan bahwa ia masih berpikiran dingin di dalam kemelut ini. Tapi matanya jelas menyiratkan luka.
.
Dengan sigap ia menuju mobil yang terguling itu. Ia bersama rekan-rekannya berusaha mengevakuasi sang Kaisar dan putra mahkota.
.
Jantungnya berdentam kuat, berpacu antara rasa cemas serta amarah. Ia bersumpah, jika kali ini Madara sampai mengalami luka serius maka ia akan membalas dendam kepada siapapun yang terlibat pun jika itu Hinata sekalipun.
.
Namun ia merasa jantungnya ngilu saat ia melihat mata Madara yang mulai redup.
.
Bagi Sai, Madara adalah seseorang yang ia anggap sebagai ayah. Karena lelaki itulah yang memungutnya di jalan. Menghadiahkan status sosial yang tak pernah ia bayangkan.
.
.
Ia menyayangi Madara seperti seorang anak lelaki terhadap seorang ayah yang merupakan pahlawannya. Ia merasa dirinya adalah kakak sempurna untuk Eiji.
.
Karena itu begitu ia menemukan kendaraan yang digunakan Yang Mulia, ia segera mencari keberadaan Eiji yang bersembunyi di pelukan Madara yang telah kehilangan kesadaran.
.
.
Ia mengulurkan tangannya, "Ei-chan berikan tanganmu. Ini kakak sudah datang..."
Eiji melirik takut-takut dari tubuh Ayahnya. Dan ketika melihat Sai ia justru terisak-isak. Namun begitu tangannya terulur. Dan Sai memegangnya dengan kuat lalu menariknya Hingga sang putra mahkota yang berlumur darah sang Kaisar aman di dalam pelukannya.
.
Sedangkan beberapa teman lain mencoba mengeluarkan Madara. Dan mulai mengevakuasinya ke dalam ambulance yang ikut bersama mereka.
.
.
Ei masih menangis pilu. Meraung-raung penuh rasa sakit yang membuat Sai memejamkan mata. Hatinya terkoyak sadis. Tanpa menyisakan ia ruang untuk bernapas. Ia tahu. Madara telah sampai pada ajalnya.
.
.
Ei-no-miya mengulurlan tangan untuk menjangkau tubuh sang ayah yang semakin jauh darinya. Ia berteriak di sela isakkan yang memilukan.
.
"Daddy."
"Daddy..."
"Daddddyyyyyy!" Tapi Madara takkan menjawabnya penuh kasih sayang.
.
.
Madara takkan mampu lagi menjawab panggilan sang anak.
Ia telah pergi.
.
.
Tak ada sahutan. Hanya pelukan Sai yang mengerat. Menjauhkan anak berusia tiga tahun yang tak mengerti apa arti kata sekarat ataupun kematian. Dalam diam Sai terisak. Membayangkan Eiji tanpa kehadiran Madara, sang ayah, sang pelindung, sang Kaisar.
.
Dalam sepi ia berdo'a.
Jika waktu mau berbaik hati memberikan kesempatan.
.
Tapi hatinya tersayat dengan kenyataan yang terjadi. Ia sadar, jika Madara sudah pergi sebelum sampai di rumah sakit.
.
Pun jika ada ginjal yang cocok untuk dicangkokkan ke tubuhnya. Nyawa sang raja sudah terbang ke alam baka. Tak pernah ada masa depan untuk Madara...
.
They said, live begins at fourty. But, Madara's Life ending at fourty.
.
Sai memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir bersama do'a yang tak pernah putus ia panjatkan ke langit.
Selalu ada tempat untuk Madara. Madaranya. Kaisarnya, ayahnya...
.
***tbc***
.
.
A/n:
.
Hai *lambaikan tangan.
Take breath.
Lama banget saya nggak nyentuh folder ini.
.
Pertama karena saya cuma mengetik lewat HP. Dengan layar cuma empat inchi lebih dikit, saya berjuang mengatasi mata saya yang minus enam.
Kedua. Ada yang review kalo saya kehabisan ide. Yup, maybe he is true.
Cerita ini berat. Perlu pemikiran dan juga riset. Nggak langsung tulis jadi. Semakin tinggi kadar presepsi, maka semakin banyak plot hole. Saya nggak mau ada pertanyaan tentang alur.
Ini bukan cerita humor yang asal gaje maka bakalan dapet tumb up. Dan juga bukan cerita mystery/trhiller. Yang nebak trus dapet jackpot.
Dan saya kayaknya ngrasain beban mental itu ketika mengetik cerita ini. Saya ikut pusing, ikutan sakit hati, ikutan benci sama satu sosok. Bahkan saya ikutan depresi ketika memutuskan untuk melanjutkan. And then i was involve my passionate in.
Banyak fict bagus dengan rating tinggi justru discontinued. Sebut saja fict kesukaan saya sepanjang sejarah, judulnya Yellow Christantenum milik Ayuzawa Shia. Terpaksa discontiued. Saya dulu nggak tahu kenapa Nutnut men-discontinu. Padahal crita itu magnetic banget. Saya nggak bisa bayangkan, dengan atensi, dengan review yang banyak dan dia menyerah.
Trus akhirnya saya sadar. Membuat fict seperti melahirkan anak. We grow with it. Kita tumbuh dan berkembang bersama fict yang kita bangun.
Dan itu bukan pekerjaan main-main. And I love this job.
.
Mungkin yang baca bisa aja nge push buat cepet update. Bukan soal jumlah review. Tapi komitmen buat nulis yang terbaik. Aku nggak mau nulis kalau cuma asal nulis, alurnya berantakan, nggak sinkron.
Karena aku nggak mau mengacaukan apa yang udah kubuat. Tergesa-gesa kayak dikejar dept collector malah bikin nggak puas. Jadi, be patient oke.
Awalnya aku mau membuat fict ini dua puluh chapter. Tapi melihat psikologisku sendiri yang carut marut tenggelam dalam fict ini membuatku yakin bahwa aku tidak cocok dengan long multy chapter. Rekorku membuat G-project (itu juga tiga belas chap) dan itu membuatku tersiksa.
Makanya aku meng-cut hal yang tidak perlu. Dan memangkas semua anganku dan bilang kalau A or B (A/B) hanya 10 chapter.
Aku nggak mau klimaksnya nggak oke. Aku mau buat yang memorable.
Sorry..
.
Ketahuan banget ya saya kerjanya cuma curhat melulu.
Hahahaa..
Just forget that.
.
Thanks to:
Fatma, Miss lyly lavender, Hyuuga hime chan RJN, fetry, Mibo genie, yuka, Guest, Ade854, Guest, Guest, RinZiTao, little lyly, Renita Nee-Chan, Opung, Guest, Hinatauchiha69, NindaK98, Virgo Shaka Mia, Anne990401, Guest, namika ashara, arisankjm, re, Uzumaki NaMa, leinalvin775, .777, maharani, Dark side, Vampire Uchiha, chi-chan, eri, seman99i, , hiru nesaan, Fleur Choi, Blackpaper, isna chan, sushimakipark, kumbangbimbang, , ade, Hee -chan, Me Yuki Hina.
.
Thanks for waiting. *ojigi
.
Can you give me a spirit?
May be a review once? *nyengir gaje.
.
Thanks for reading.
Ojigi.
Regrads.
Poochan. (^_^) v
